<?xml version="1.0"?>
<?xml-stylesheet type="text/css" href="http://en.gospeltranslations.org/w/skins/common/feed.css?239"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xml:lang="en">
		<id>http://en.gospeltranslations.org/w/index.php?feed=atom&amp;target=Sukartay&amp;title=Special%3AContributions%2FSukartay</id>
		<title>Gospel Translations - User contributions [en]</title>
		<link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://en.gospeltranslations.org/w/index.php?feed=atom&amp;target=Sukartay&amp;title=Special%3AContributions%2FSukartay"/>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/Special:Contributions/Sukartay"/>
		<updated>2026-05-02T11:51:39Z</updated>
		<subtitle>From Gospel Translations</subtitle>
		<generator>MediaWiki 1.16alpha</generator>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/The_Fruits_of_Justification_(I)/id</id>
		<title>This Great Salvation/The Fruits of Justification (I)/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/The_Fruits_of_Justification_(I)/id"/>
				<updated>2008-01-11T03:05:08Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Sukartay: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;= Buah-Buah Pembenaran (I) =&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah Anda pernah memperhatikan betapa sedikitnya buku-buku Kristen yang memiliki cover menarik? Oh, ada beberapa, tentu – seperti buku Franky Schaeffer ''A Time for Anger'', dengan lukisan dari Pieter Brueghel “Orang Buta Menuntun Orang Buta.” Lukisan itu begitu menggugah saya sehingga saya mencari kopinya dan membingkainya untuk kantor saya. Dan ada juga gambar-gambar mengagumkan di sampul ''Chronicles of Narnia'' milik C.S. Lewis yang ''siap membawa Anda ke sana''. Salah satu sampul buku yang paling menarik yang pernah saya lihat tampak di sebuah seri pamflet. Illustrasinya menunjukkan seorang pria sedih dan kesepian yang sedang memandang kosong keluar jendela sebuah sel penjara. Saat Anda melihat, Anda menjadi sadar bahwa pintu selnya terbuka di belakangnya. Tetapi ia tidak memperhatikannya. Kalau saja ia menoleh ia akan melihat bahwa ia dapat berjalan keluar seperti orang bebas. Tetapi ia tetap terpenjara karena ketidaktahuannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Renungkan Lukas 4:18-19.''' Apakah Anda menyadari “Proklamasi Emansipasi” ini diberikan kepada Anda?}}Intinya cukup jelas. Banyak orang Kristen – bukan, kebanyakan orang Kristen – adalah seperti pria ini. Secara tragis mereka tidak menyadari kebebasan dan hak-hak lebih yang adalah milik mereka melalui injil Yesus Kristus. Mereka adalah orang-orang kudus yang tidak perlu terpenjara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Ketika Allah mengampuni, Ia mengampuni semua dosa, dosa asal dan dosa sekarang, dosa karena kita melakukan dan dosa karena kita tidak melakukan, dosa rahasia dan dosa terbuka, dosa dalam pikiran, perkataan dan perbuatan… Pengampunan penuh, atau tidak sama sekali, adalah yang Allah ciptakan untuk berikan. Hal ini sesuai dengan kebutuhan manusia. Pemberian ini tidak pernah diambil kembali oleh Allah. Ketika Ia mengampuni, Ia mengampuni selamanya&amp;lt;ref&amp;gt;William S. Plumer, ''The Grace of Christ'' (Philadelphia, PA: Presbyterian Board of Publication, 1853), pp. 201–02.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; — William S. Plumer &amp;quot;Saya harus memperhatikan apa yang saya katakan: tetapi rasul itu berkata, “Allah membuat Dia yang tidak mengenal dosa, menjadi berdosa karena kita, sehingga kita dapat dibenarkan oleh Allah di dalam Dia.” Begitulah kita di mata Allah Bapa, sama seperti Anak Allah sendiri. Biarlah hal itu dianggap bodoh atau emosi, atau luapan perasaan, apa pun, itu adalah penghiburan kita dan hikmad kita; kita tidak peduli pengetahuan lain di dunia selain ini, bahwa manusia telah berdosa dan Allah telah menderita; bahwa Allah telah membuat dirinya sendiri Anak manusia, dan bahwa manusia dibuat kebenaran Allah.”&amp;lt;ref&amp;gt;Ibid., p. 230. &lt;br /&gt;
&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; — Richard Hooker}}Merubah gambaran ini sedikit saja, sejumlah budak terus hidup seperti sebelumnya bahkan setelah Proklamasi Emansipasi. Sebagian mereka tetap berada di kegelapan tentang dimana mereka sekarang berdiri. Sebagian lain, walaupun menyadari kebebasan mereka, tidak pernah berjalan keluar tempat perbudakan karena takut. Kebebasan menuntut keberanian dan membawa bersamanya tanggung jawab yang besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya injil hanya membuat perbedaan kecil dalam hidup orang Kristen yang tak terhitung jumlahnya. Meskipun mereka telah sungguh dibenarkan dan penghukuman telah dibatalkan, masalah yang sama sepertinya mengganggu mereka. Ketakutan, kebiasaan, dan keraguan yang sama yang mengkarakterisasi hidup mereka sebelum mereka percaya Kristus masih tetap memegang kendali. Mengapa? Menurut saya satu alasan terbesar adalah ketidaktahuan. Bagi tidak sedikit orang Kristen, Alkitab masih menjadi buku tertutup. Fakta bahwa warisan besar telah disediakan bagi mereka yang dibenarkan oleh Allah seperti belum menjadi jelas buat mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengetahuan akan Firman Tuhan yang terus bertumbuh adalah sangat vital. Di saat Anda membaca, menghafal dan merenungkan Firman Tuhan, Anda akan mulai merasakan penyediaan yang mengagumkan yang diberikan Allah. Dua bab terakhir dari buku ini akan mengekplorasi buah-buah dari pembenaran kita, warisan kita di dalam Kristus. Sisa keraguan yang masih ada di pikiran kita mengenai tujuan dan takdir Tuhan harus dijelaskan saat kita menginventori keuntungan-keuntungan dari keselamatan yang agung ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Turun dari Kursi Kayu ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gambaran sekitar doktrin pembenaran datang langsung dari pengadilan hukum, seperti yang kita pelajari di bab sebelumnya. Allah, Pemberi hukum dan Hakim dari seluruh bumi, telah mengeluarkan sebuah deklarasi yang membebaskan orang berdosa yang terhukum dari semua kesalahan. Pembenaran memberi kita status baru di hadapan Allah dan mengampuni kita dari semua dosa dan hukumannya. Walaupun kita adalah orang-orang kriminal tertuduh yang sedang menunggu dalam barisan Hukuman Mati yang tidak bisa dihindari, Sang Hakim mengampuni kita dan menghancurkan catatan-catatan kriminal kita. Betapapun mengagumkannya hal ini, ada aspek pembenaran yang bahkan lebih mengagumkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya pernah berada di ruang sidang, dan itu bukanlah tempat yang penuh keceriaan. Anda tidak dapat menjadi diri Anda sendiri. Adalah tidak pantas untuk tertawa keras atau mengangkat kaki Anda. Tidak seorang pun berpikir untuk bertemu hakim setelah sidang untuk makan es krim ataupun menonton pertandingan bola basket. Ada peraturan perilaku tertentu yang harus dipertahankan, formal dan mengintimidasi – dan memang dimaksudkan begitu. Hal ini tidak kurang benar di hadirat Hakim yang berdaulat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|Buka hampir di bagian mana saja dari Alkitab Anda dan Anda akan menemukan janji-janji menakjubkan dari Tuhan. Tandai satu dari yang di bahwa ini yang paling berarti buat Anda saat ini. * “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau” (Ibr 13:5). * “Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu” (1Kor 10:13) * “Barangsiapa percaya kepada-Ku akan melakukan pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa” (Yoh 14:12) * “Ia yang memulai pekerjaan yang baik diantara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus” (Flp 1:6) * “Kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris” (Gal 4:7).}}Tetapi ada perbedaan yang sangat besar antara pengadilan di surga dan di bumi. Setelah menyatakan kita bebas dari segala tuduhan dan penghakiman, Tuhan memilih untuk ''tidak'' pergi ke ruangan-Nya, seperti yang dikira. Tetapi, Ia mendobrak semua standard dengan turun dari bangku kayu, mengumpulkan kita di tangan-Nya, dan lalu menggendong kita dari ruang sidang ke ruang keluarga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memiliki Allah sebagai Bapa kita adalah sungguh mengagumkan. Firman Tuhan telah menjelaskan bahwa kita berhubungan dengan Tuhan dengan intim dan secara legal. Bukan itu saja, tetapi untuk menjadi anak-anak-Nya mendatangkan hak-hak khusus. Paulus mendeskripsikannya seperti ini: “Roh itu bersaksi bersam-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah. Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris – orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus” (Rom 8:17).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara pembenaran bagi kita adalah pemberian gratis, pembenaran itu dibayar Allah dengan Anak-Nya. Pembenaran itu dibayar oleh nyawa Anak-Nya. Dan pembenaran itu dibayar oleh keangkuhan kita, karena satu-satunya cara untuk menerima pemberian ini adalah dengan datang kepada Tuhan dalam kerendahan hati dan pertobatatan iman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Apa Semua Ini ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' “Kekayaan” apakah yang Paulus deskripsikan di Kolose 2:2-3? Dimanakah “harta“ itu berada? Apakah Anda telah sepenuhnya mengambil keuntungan dari warisan ini?}}Anak Allah, Ahli Waris Allah, Ahli Waris bersama Kristus. Apa arti semua itu? Mari kita bangun satu fakta penting. Yesus Kristus, Anak tunggal Allah, adalah ahli waris Bapa yang sah dan sebenarnya. Kalau ada warisan yang kita miliki itu hanya karena kita berada di “dalam Kristus” (Ef 2:7). Apalagi, Kristus sendiri adalah warisan ini. Dia adalah damai kita, Dia adalah kebenaran kita, pengharapan kita, penyucian dan penebusan kita. Di dalam Dia tersembunyi semua harta hikmad dan pengetahuan. Dialah kebangkitan dan hidup. Hal terbesar yang kita akan pernah terima dari Allah adalah Yesus sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adalah juga penting untuk memahami bahwa keselamatan datang bukan melalui sebuah doktrin melainkan melalui sebuah Individu. Kita tidak diselamatkan oleh pembenaran, tetapi oleh Yesus. Waktu kita mengambil waktu untuk mempelajari Firman Tuhan kita menghadapi resiko menjadi seorang ahli doktrin tetapi tidak kompeten dalam pengetahuan sejati akan Tuhan kita. Dan mengenal Tuhan adalah segalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Bagaimana seseorang yang hidup melalui pengalaman tercatat di 2 Korintus 11:23-33 bisa menulis Roma 15:13??}}Seorang kawan saya mengatakan pada saya cerita berikut ini tentang Scott McGregor, orang Kristen berdedikasi dan seorang pelempar bola baseball kidal yang terkenal untuk Baltimore Orioles di tahun 70 dan 80an. Suatu ketika, di satu momen genting di dalam permainan, Scott menemukan dirinya berhadapan dengan seorang pemukul bola berbahaya dengan orang-orang pencetak angka. Ia mengambil waktu cukup untuk mempelajari situasi ketika seorang wanita tidak sabar di kotak tempat duduk di belakang kandang pemain Orioles berteriak, “Yesus Kristus! Lempar bolanya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Baca Matius 7:21-23 dan jawab pertanyaan-pertanyaan berikut: * Hal-hal terpuji apakah yang orang-orang ini capai? * Apakah empat kata penilaian Tuhan terhadap mereka? * Dalam satu kalimat, bagaimana Anda akan merangkum kesalahan fatal mereka?}}Bukan tidak umum untuk mendengar nama Tuhan digunakan sembarangan di permainan bola. Tetapi dalam peristiwa ini McGregor begitu tersentak sehingga ia hampir kehilangan konsentrasi. Setelah mengembalikan dirinya sendiri, ia dapat melempar dengan benar dan pemukulan bola berakhir. Lalu ia melakukan sesuatu yang sangat berbeda, sesuatu yang seharusnya tidak boleh dilakukan oleh pemain. Ketika ia berjalan kembali ke kandang pemain ia menatap langsung ke wanita tadi dan bicara dengannya. Dalam nada yang terganggu namun lembut, penuh keprihatinan terhadap wanita itu dan Tuhannya, ia berkata, “Ibu, kalau kamu sungguh mengenal Dia, kamu tidak akan pernah menyebut nama-Nya seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
McGregor mendemonstrasikan bahwa Kekristenan adalah lebih dari sekedar sebuah kebenaran untuk dipercayai. Kekristenan adalah sebuah kehidupan untuk dijalani dan, di atas segalanya, satu Tuhan untuk dicintai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu memikirkan sesuatu seluas, seajaib warisan yang kita miliki di dalam Kristus, digambarkan Paulus sebagai “kekayaan kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah” (Ef 2:7), sangat sulit untuk mengetahui dimana harus mulai. Menariknya, Paulus juga memiliki masalah yang sama. Di dalam suratnya kepada jemaat di Efesus, ia begitu terbawa oleh implikasi pembenaran yang begitu besar. Saat ia berusaha menghubungkan semua yang Tuhan telah lakukan dan sedang lakukan di pasal pertama, ia mulai dengan kalimat di ayat tiga yang berakhir sampai sebelas ayat kemudian. Secara tata bahasa memang tidak cantik, namun hatinya yang penuh mengalir memberi kesaksian akan anugerah Tuhan yang tidak terselami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perikop berikut dari surat Paulus kepada jemaat di Roma menyediakan titik mula yang sangat bagus “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus. Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah” (Rom 5:1-2). John Stott menjelaskan pentingnya perikop ini:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Pasal-pasal awal dari [kitab Roma] didedikasikan untuk kebutuhan dan jalan pembenaran. Semua itu bertujuan menjelaskan bahwa semua manusia adalah berdosa di bawah penghakiman Allah yang adil, dan dapat dibenarkan hanya melalui penebusan yang di dalam Yesus Kristus – melalui anugerah semata, melalui iman saja. Di poin ini, setelah membeberkan kebutuhan dan penjelasan jalan pembenaran, Paulus meneruskan dengan menggambarkan buah-buahnya, hasil dari pembenaran dalam hidup sebagai anak dan ketaatan di dunia dan kehidupan lanjut yang penuh kemuliaan di surga (penekanan ditambahkan).&amp;lt;ref&amp;gt;John R.W. Stott, ''Men Made New'' (Grand Rapids, MI: Baker Book House, 1966, 1991), pp. 9–10.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bab ini akan melihat tiga buah dari pembenaran: damai dengan Allah, pengampunan dosa, dan proses penyucian. Di bab terakhir buku ini kita akan mengkaji pengadopsian kita di dalam Kristus serta pengharapan kita akan kemuliaan di masa depan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Damai dengan Allah ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perdamaian dengan Allah menggarisbawahi semua yang lain yang kita terima dalam Kristus. Perdamaian ini adalah hadiah yang menaruh berkat-berkat lain dalam perspektif. “Urusan utama dari injil Kristen adalah bukan untuk memberi kita berkat,” tulis D. Martyn Lloyd-Jones. “Tujuan utamanya adalah untuk mendamaikan kita dengan Allah.”&amp;lt;ref&amp;gt;D. Martyn Lloyd-Jones, ''Romans: Assurance, Chapter Five'' (Grand Rapids, MI: Zondervan Publishing House, 1971), p. 10.&amp;lt;/ref&amp;gt; Berdamai dengan Allah berarti kita berada di posisi perujukan dengan-Nya. Pernyataan pembenaran telah menjauhkan semua halangan antara Allah dan manusia. Walau tentu saja ada yang namanya damai ''dari'' Allah yang subyektif (yang bisa dirasakan), apa yang ada di benak Paulus dalam Roma 5:1 adalah fakta ''obyektif'' bahwa injil telah menghapuskan segala sesuatu yang memisahkan kita dari Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Renungkan Efesus 2:11-20.''' Apa yang Yesus lakukan terhadap penghalang permusuhan yang berdiri diantara diri-Nya dan kita?}}Untuk mendamaikan berarti menyatukan apa yang telah terpisah karena pemusuhan. Contoh utama dari arti ini ditemukan di kotbah Stefen kepada Sanhedrin ketika ia menceritakan kembali peristiwa kehidupan Musa: “Pada keesokan harinya ia muncul pula ketika dua orang Israel sedang berkelahi, lalu ia berusaha ''mendamaikan'' mereka, katanya: Saudara-saudara! Bukankah kamu ini bersaudara? Mengapakah kamu saling menganiaya?” (Kis 7:26). Versi Alkitab King James menerjemahkan “mendamaikan” di konteks ini menjadi “membuat mereka satu kembali.” Kata Yunani yang dipakai adalah bentuk kata kerja dari kata yang biasa diterjemahkan “damai.” Apa yang penting bagi kita untuk diingat adalah bahwa sekarang, dari titik pandang Allah, tidak ada lagi permusuhan antara Allah dan mereka yang telah dibenarkan. Amarah dan murka-Nya terhadap dosa telah diekspresikan dengan adil dan dipuaskan penuh di Salib. Perseteruan telah berakhir. Perdamaian telah dibuat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak hanya konflik telah diselesaikan, tetapi semua masalah hukum yang berasal dari permusuhan sebelumnya telah dihapuskan, tidak pernah muncul lagi: “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi merkea yang ada di dalam Kristus Yesus…Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Allah, yang membenarkan mereka?” (Rom 8:1,33). Kalau pengadilan tertinggi di jagad raya ini telah menyatakan kita benar, tidak ada gugatan yang bisa menempel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Ketika perang suci kita dengan Allah berakhir, ketika kita seperti Luther berjalan melalui pintu-pintu Surga, ketika kita dibenarkan oleh iman, perang itu berakhir untuk selamanya. Dengan pembersihan dari dosa dan pernyataan pengampunan ilahi kita memasuki perjanjian damai dengan Allah yang kekal. Buah sulung dari pembenaran kita adalah damai dengan Allah. Damai ini adalah damai yang kudus, damai yang tidak bercacat dan agung. Damai ini adalah damai yang tidak bisa dihancurkan.&amp;lt;ref&amp;gt;R.C. Sproul, ''The Holiness of God'' (Wheaton, IL: Tyndale House Publishers, 1985), p. 193.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; — R.C. Sproul}}Berhati-hatilah bahwa frase “tidak ada penghukuman” ''tidak'' berarti “tidak ada tuduhan.” Kita telah menyinggungnya di bab pertama. Musuh jiwa kita meneruskan pekerjaan kotornya menyebarkan kata-kata yang melecehkan dan menembakan anak panah api, dan sering terjadi kita salah mengira pembetulan dan teguran Tuhan sebagai suara tuduhan iblis. Tetapi kenyataan bahwa Yesus telah mengambil tempat kita berarti kita tidak akan pernah harus berhadapan dengan penghukuman di penghakiman akhir. “Siapakah yang akan menghukum mereka? Kristus Yesus, yang telah mati? Bahkan lebih lagi: yang telah bangkit, yang juga duduk di sebelah kanan Allah, yang malah menjadi Pembela bagi kita?” (Rom 8:34). Dia yang satu-satunya memiliki otoritas untuk menghukum untuk selamanya telah memihak pada kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|Bayangkan Anda sendiri memerintah sebuah bangsa berjumlah lima milyar orang. Sebuah berita mengatakan bahwa ada seorang warga yang mengadakan pemberontakan dan sedang membuat kekacauan di istana. Bukannya mengirim divisi tank bersenjata untuk menghentikan orang gila itu, Anda mengirim Pangeran. Dalam usaha menggapai si pemberontak, sang Pangeran terbunuh. Bagaimana Anda akan memperlakukan warga ini setelah ia ditangkap? * Musnahkan ia selamanya dari kerajaan * Membakar ia perlahan-lahan di atas api menyala * Menggantungnya dari pohon tertinggi di kota * Hukum dia dengan hidup dalam isolasi * Menjadikannya makanan bagi ular piton kerajaan * Mengampuninya, menerimanya, dan mengadopsinya menjadi anak Anda.}}Mengetahui kita telah didamaikan dengan Allah membawa ketenangan bagi pikiran kita. Ini memampukan kita untuk mengalahkan rasa kuatir dan takut. Bahkan bila seluruh dunia melawan kita, kita tetap aman dalam Kristus. “Janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi,” Yesus menjelaskan kepada murid-murid-Nya, yang telah ditetapkan untuk menghadapi perlawanan hebat. “Aku akan menunjukkan kepadamu siapakah yang harus kamu takuti. Takutilah Dia, yang setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka” (Luk 12:4, 5). Allah, satu-satunya yang berharga untuk kita takuti, telah berinisiatif mengadakan perjanjian damai kekal dengan kita. Untuk orang Kristen yang dibangun di dalam kebenaran ini, bahkan ketakutan akan maut dikalahkan karena ancaman penghukuman tidak lagi eksis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Pengampunan Dosa-Dosa ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Renungkan Keluaran 34:5-7.''' Dalam kesadaran akan semua kualitas karakter Allah, apakah Anda menganggap penting bahwa Ia memilih untuk menekankan sifat-sifat ini ketika Ia menyatakan diri kepada Musa?}}Berhubungan erat dengan perujukan dan damai dengan Allah adalah pengampunan dosa. Saya mungkin berlebihan, tetapi kelihatannya bagi saya kebenaran berharga ini berada dalam bahaya untuk dibenci. Ketika orang meratap. “Saya tahu saya telah diampuni, tetapi…,” saya tidak tahan untuk berpikir, ''Kamu tidak tahu bahwa kamu telah diampuni! Kalau kamu sungguh mengerti pengampunan masalahmu tidak akan terlihat seburuk itu.'' Seperti Lloyd-Jones implikasikan di dalam pernyatannya di halaman 63, kebutuhan terbesar manusia adalah pengampunan. Dan kalau Tuhan sudah mengampuni kita, masalah lain apapun yang kita punya pasti menjadi lebih kecil kalau dibandingkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang ini jarang terdengar orang-orang Kristen bersukacita karena diampuni Allah. Hal ini dapat dipahami di kultur yang memandang nilai diri yang rendah sebagai masalah yang lebih besar daripada diasingkan dari Allah. Namun kepekaan kita akan pengampunan secara langsung mempengaruhi kasih kita terhadap Allah. Itulah inti dari respon Tuhan terhadap Simon orang Farisi yang merasa diri benar. “Orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih,” kata Yesus padanya (Luk 7:47). Sebaliknya, mereka yang telah diampuni banyak – atau setidaknya menyadari betapa banyak mereka telah diampuni – banyak berbuat kasih. Setiap dari kita harus berada di kategori itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Apakah keraguan-keraguan ini menyebabkan Anda mempertanyakan pengampunan Allah? (tandai semua yang cocok) &lt;br /&gt;
* Tuhan tidak dapat terus menerus mengampuni saya untuk dosa yang sama. &lt;br /&gt;
* Saya mungkin telah diampuni, tetapi Tuhan belum melupakan. &lt;br /&gt;
* Tidak ada yang gratis di dalam hidup – Tuhan pasti mengharapkan sesuatu bentuk pembayaran. &lt;br /&gt;
* Saya bersalah atas dosa yang tidak dapat diampuni. &lt;br /&gt;
* Setelah dosa nomor 491 Tuhan akan menolak saya (lihat Mat 18:22).}}Pertimbangkan berikut ini:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Pengampunan dosa datang kepada kita hanya atas dasar darah Yesus Kristus yang tercurah. “Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya” (Ef 1:7).&lt;br /&gt;
* Motif Tuhan mengampuni kita adalah kasih-Nya yang besar. Pengampunan-Nya adalah pekerjaan belas kasih dan cuma-cuma. “Dialah yang telah ditinggikan oleh Allah dengan tangan kanan-Nya menjadi Pemimpin dan Juruselamat, supaya Israel dapat bertobat dan menerima pengampunan dosa” (Kis 5:31)—dan orang bukan Israel juga.&lt;br /&gt;
* Pengampunan dosa membawa kepada pengetahuan keselamatan. Yesus datang “untuk memberikan kepada umat-Nya pengertian akan keselamatan yang berdasarkan pengampunan dosa-dosa mereka” (Luk 1:77).&lt;br /&gt;
* Memahami pengampunan membawa kepada rasa takut yang benar akan Allah. “Jika Engkau, ya Tuhan, mengingat-ingat kesalahan-kesalahan, Tuhan, siapakah yang dapat tahan? Tetapi pada-Mu ada pengampunan, supaya Engkau ditakuti orang” (Mzm 130:3-4).&lt;br /&gt;
* Pengampunan Tuhan adalah menyeluruh. “Aku, Akulah Dia yang menghapus dosa pemberontakanmu oleh karena Aku sendiri, dan Aku tidak mengingat-ingat dosamu” (Yes 43:25).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cerita berikut ini, diceritakan oleh Becky Pippert di dalam bukunya Hope Has Its Reasons, menunjukkan kekuatan pengampunan di dalam hidup seorang wanita. Berharga untuk dikutip secara panjang:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Beberapa tahun yang lalu setelah saya selesai berbicara di sebuah konferensi, seorang wanita cantik datang ke podium. Ia tentu saja ingin bicara pada saya dan di saat saya berbalik menghadapnya, air mata keluar dari matanya. Kami pindah ke ruang dimana kami bisa bicara secara pribadi. Sangat jelas dari melihatnya bahwa ia sensitif tapi menderita. Ia menangis selagi ia mengatakan pada saya cerita berikut ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Dalam hubungan terhadap dosa dan terhadap Tuhan, faktor penentu dari eksistansi saya bukanlah lagi masa lalu saya. Melainkan masa lalu Kristus.&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''Christian Spirituality (Reformed View)'', Donald Alexander, ed. (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1988), p. 57.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; — Sinclair Ferguson}}“Bertahun-tahun sebelumnya, ia dan tunangannya (yang sekarang ia nikahi) merupakan pekerja remaja di sebuah gereja konservatif besar. Mereka adalah pasangan yang cukup dikenal dan memiliki pengaruh yang luar biasa terhadap anak-anak muda. Semua orang menghormati mereka dan sangat mengagumi mereka. Beberapa bulan sebelum mereka menikah mereka mulai melakukan hubungan seks. Hal itu membebankan mereka dengan rasa bersalah dan kemunafikan. Tapi lalu ia menemukan dirinya hamil. ‘Anda tidak dapat membayangkan apa implikasi dari mengakui hal ini kepada gereja,’ katanya. ‘Mengaku bahwa kami mengajarkan satu hal dan menjalani hal yang lain adalah tidak bisa ditoleransi. Jemaat ini sangat konservatif dan tidak pernah disentuh oleh skandal apapun. Kami merasa mereka tidak akan dapat menangani keadaan bila mengetahui situasi kami. Kamipun tidak akan dapat menanggung rasa malu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Baca Yesaya 59. Bagaimana Tuhan berespon terhadap kekurangan kita akan kekudusan yang begitu besar? (lihat ayat 16 dan 20)}}‘Lalu kami membuat keputusan yang paling mengerikan yang saya pernah buat. Saya menggugurkan kandungan. Hari pernikahan saya adalah hari terburuk dalam seluruh hidup saya. Setiap orang di gereja tersenyum pada saya, berpikir saya adalah pengantin perempuan bersinar dalam kepolosan. Tetapi tahukah Anda apa yang berada di kepala saya di saat saya berjalan di menuju altar? Yang dapat saya katakan pada diri saya adalah, ‘Kamu adalah seorang pembunuh. Kamu terlalu sombong sehingga tidak dapat menanggung rasa malu dan penghinaan bila kamu membuka siapa dirimu. Tetapi saya tahu siapa kamu dan Tuhan juga. Kamu telah membunuh bayi yang tidak bersalah.’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ia menangis begitu dalam sehingga ia tidak dapat berbicara. Saat saya memeluknya sebuah pemikiran datang pada saya dengan sangat kuat. Tapi saya merasa takut untuk mengatakannya. Saya tahu kalau ini bukan dari Tuhan bahwa ini dapat sangat menghancurkan. Maka saya berdoa dalam hati untuk hikmad untuk menolongnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ia melanjutkan. ‘Saya tidak percaya bahwa saya melakukan sesuatu yang begitu mengerikan. Bagaimana bisa saya membunuh nyawa yang tidak bersalah? Bagaimana mungkin saya bisa melakukan hal seperti itu? Saya mencintai suami saya, kami memiliki empat anak yang manis. Saya tahu Alkitab mengatakan bahwa Tuhan mengampuni semua dosa-dosa kita. Tapi saya tidak dapat mengampuni diri saya sendiri! Saya telah mengaku dosa ini beribu kali dan saya masih merasakan rasa malu dan menderita itu. Pikiran yang paling menghantui saya adalah ''bagaimana'' saya dapat membunuh nyawa yang tidak bersalah?’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya mengambil nafas dalam dan mengatakan apa yang telah saya pikirkan. ‘Saya tidak tahu mengapa kamu begitu terkejut. Ini bukan pertama kali dosamu membawa kematian, ini adalah yang kedua.’ Ia melihat saya dengan penuh kebingungan. ‘Temanku sayang,’ saya melanjutkan, ‘ketika kamu melihat Salib, semua dari kita datang sebagai penyalib. Beragama atau tidak beragama, baik atau buruk, penggugur kandungan atau bukan penggugur kandungan – semua dari kita bertanggung jawab atas kematian dari satu-satunya orang tak bersalah yang pernah hidup. Yesus mati untuk dosa-dosa kita – masa lalu, sekarang, dan masa depan. Kamu pikir ada dosa-dosamu yang Yesus tidak perlu mati untuknya? Dosa kesombongan itu yang menyebabkan kamu menghancurkan anakmu adalah yang membunuh Kristus juga. Tidak peduli kamu tidak berada di sana dua ribu tahun yang lalu. Kita semua mengirim-Nya ke sana. Luther berkata bahwa kita membawa paku-paku-Nya itu di saku kita. Jadi kalau kamu telah melakukannya sebelumnya, lalu mengapa kamu tidak bisa melakukannya lagi?’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Renungkan Mazmur 32:1-5.''' Apa yang terjadi waktu kita menyimpan dosa-dosa kita? Apa yang terjadi waktu kita mengakuinya?}}“Ia berhenti menangis. Ia melihat saya tepat di mata dan berkata, ‘Kamu sangat benar. Saya telah melakukan yang lebih buruk daripada membunuh bayi saya sendiri. Dosa sayalah yang telah membawa Yesus ke kayu Salib. Tidak peduli saya tidak berada di sana menancapkan paku, saya tetap bertanggung jawab atas kematian-Nya. Sadarkah Anda pentingnya ucapan yang Anda katakan pada saya, Becky? Saya datang pada Anda mengatakan saya telah melakukan hal terburuk yang bisa dibayangkan. Dan Anda mengatakan pada saya bahwa saya telah melakukan lebih buruk dari itu.’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|Apakah Anda menemukan diri Anda dibebani oleh rasa bersalah ketika Anda mengingat sebuah dosa (atau dosa-dosa) spesifik dari masa lalu? Kalau begitu, carilah seorang Kristen yang dewasa yang kepadanya Anda dapat mengaku dan yang darinya Anda dapat menerima penguatan tentang besarnya pengampunan Tuhan. Tulislah keinginan Anda itu: “Percaya bahwa Tuhan ingin saya untuk melepaskan saya dari rasa bersalah, saya akan berbicara kepada __________________ tentang area dosa ini tidak lebih dari ______ ___________.”}}“Saya menyeringai karena saya tahu itu adalah benar. (Saya tidak yakin bahwa pendekatan saya akan menjadi salah satu teknik konseling yang hebat!) Lalu ia berkata, ‘Tapi Becky, kalau Salib menunjukkan saya bahwa saya adalah lebih buruk daripada yang saya pernah bayangkan, Salib itu juga menunjukkan bahwa kejahatan saya telah diserap dan diampuni. Kalau hal terburuk yang manusia dapat lakukan adalah membunuh Anak Allah, dan itu dapat diampuni, lalu bagaimana bisa hal lain – bahkan aborsi – tidak diampuni?’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya tidak akan pernah lupa rupa di matanya ketika ia duduk kembali dalam kekaguman dan dengan tenang berkata, ‘Bicara tentang anugerah yang besar.’ Kali ini ia menangis bukan karena penderitaan tapi karena rasa lega dan syukur. Saya melihat wanita yang sepenuhnya telah ditransform oleh pengertian yang benar akan Salib.”&amp;lt;ref&amp;gt;Rebecca Pippert, ''Hope Has Its Reasons'' (New York: HarperCollins Publishers, Inc., 1989), pp. 102–104.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengampunan dosa adalah isu yang sangat penting. Ahli teologi English Puritan, John Owen, menulis sebuah essay tentang topik yang masih dianggap sebuah klasik. Eksposisi dari Mazmur 130 ini panjangnya lebih dari tiga ratus halaman, meskipun mazmur itu sendiri hanya terdiri dari delapan ayat. Pendahuluan dari editor memberikan beberapa masukan mengenai keadaan sekitar penulisan eksposisi itu. Sepertinya sebagai seorang pemuda Owen hanya memiliki pemahaman yang dangkal akan pengampunan Tuhan, “sampai Tuhan berkenan menengok saya dengan kesulitan yang menyakitkan, dimana saya dibawa ke mulut kubur, dan dimana jiwa saya tertekan oleh rasa ketakutan dan kegelapan; tapi Tuhan dengan murah hati membebaskan roh saya oleh aplikasi penuh kuasa dari Mazmur 130:4 yang darinya saya peroleh ajaran khusus, kedamaian dan penghiburan, dalam mendekat kepada Tuhan melalui Mediator, dan mengkotbahkannya langsung setelah saya sembuh.”&amp;lt;ref&amp;gt;John Owen, ''Works, Vol. VI'' (Carlisle, PA: The Banner of Truth Trust, 1967), p. 324.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Ketika kamu menyadari semua yang dibayar Tuhan untuk mengampunimu, kamu akan dipegang seperti seorang sahabat, dibatasi oleh kasih Allah.&amp;lt;ref&amp;gt;Oswald Chambers, My Utmost for His Highest (New York: Dodd, Mead &amp;amp; Company, 1963), p. 325.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot;}}Mazmur 130:4, seperti kita lihat di atas, menunjukkan bahwa takut akan Tuhan adalah pertumbuhan natural dari penerimaan akan pengampunan-Nya. Pada saat kita muda dan sehat masalah lain dapat terlihat begitu lebih penting. Tapi saat mata kita terbuka pada hal-hal yang bersifat kekal, mengetahui apakah kita sungguh diampuni akan membuat masalah-masalah lain menjadi tidak penting.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Penyucian melalui Kristus ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pembenaran memulai proses yang disebut penyucian, dimana kita makin menjadi serupa dengan Yesus. Sementara pembenaran membuat kita diampuni dan dikasihi, pembenaran tidak berbuat apa-apa terhadap karakter kita. Kita tetap orang pemberontak yang sama sebelum Tuhan menyelamatkan kita. Akan tragis jadinya jika Tuhan membiarkan kita sendiri. Kita tidak akan pernah bertumbuh, tidak pernah berubah, tidak pernah meningkat. Untungnya, meskipun Tuhan mengasihi kita apa adanya, Ia terlalu mengasihi kita untuk meninggalkan kita di sana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pusat doktrin penyucian adalah kebenaran bahwa kita disatukan dengan Yesus Kristus. Di dalam bukunya ''Men Made New'', John Stott membuat pengamatan berikut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:“Tema besar Roma 6, dan khususnya ayat 1-11, adalah bahwa kematian dan kebangkitan Yesus Kristus bukanlah hanya fakta sejarah dan doktrin penting, melainkan pengalaman pribadi orang Kristen yang percaya. Pengalaman-pengalaman tersebut adalah peristiwa-peristiwa yang kita sendiri alami. Semua orang Kristen telah disatukan dengan Kristus di dalam kematian dan kebangkitan-Nya. Selanjutnya, kalau ini benar, jika kita telah mati dengan Kristus dan dibangkitkan dengan Kristus, adalah tidak terbayangkan bahwa kita terus hidup dalam dosa.”&amp;lt;ref&amp;gt;John R.W. Stott, ''Men Made New'', p. 30.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin Anda berpikir ulang saat Anda melihat kata “tidak terbayangkan.” Kebanyakan kita menemukan tidak terbayangkan kalau kita dapat mungkin terus hidup ''diluar'' dosa! Apakah kemenangan atas dosa sebenarnnya mungkin?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut: Baca 1 Korintus 15:51-58.''' Meskipun perikop ini mengacu pada masa yang akan datang, bagaimana kebenaran ini dapat menguatkan Anda dalam pergumulan Anda melawan dosa?}}Inilah dua jawaban yang umum. Sebagian mengatakan orang Kristen dapat mengharapkan hidup kemenangan di dunia akan datang, tetapi harus memasang penglihatan lebih rendah di dunia ini sekarang. Sebagian lagi telah mengalami pelepasan secara dramatis dari dosa yang menjijikan sehingga mereka merasa diri mereka imun terhadapnya. Kedua ekstrim ini berada di luar target. Walau aplikasi pelajaran membutuhkan usaha rohani, kita memiliki di bab enam kitab Roma semua ajaran yang kita butuhkan untuk meluruskan kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika demikian apa yang hendak kita katakan?” tanya Paulus (ay.1). “Bolehkan kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu?” Ia mengantisipasi pertanyaan ini karena beberapa ayat sebelumnya ia berkata, “Dimana dosa bertambah banyak, disana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah” (Rom 5:20). Ia tahu bahwa pernyataan itu akan membawa sebagian orang untuk berpikir: “Kalau Tuhan dimuliakan dalam mengampuni dosa dan kalau kasih karunia bertambah dalam proporsi terhadap dosa, mengapa tidak membuat dosa lebih banyak lagi? Dengan begitu akan ada kasih karunia lebih dan Tuhan akan menerima lebih banyak kemuliaan!” Betapa kesimpulan yang bengkok dan melayani diri sendiri. Bahwa Paulus bahkan menyatakan masalah ini dengan cara ini mengindikasikan bahwa injilnya telah menjadi subyek penyelewengan. Namun berharga untuk dicatat, bahwa Paulus tidak mengambil kembali atau menulis ulang doktrin itu. Bila injil diberitakan dengan benar ia akan selalu menjadi rawan terhadap penafsiran salah ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Dalam pembenaran pekerjaan kita sendiri tidak memiliki tempat sama sekali dan iman yang sederhana dalam Kristus adalah satu-satunya yang diperlukan. Dalam penyucian pekerjaan kita sendiri adalah sangat penting, dan Tuhan meminta kita bertarung dan berjaga-jaga dan berdoa dan bertahan dan menanggung sakit dan bekerja keras.&amp;lt;ref&amp;gt;J.C. Ryle, Holiness (Hertfordshire, England: Evangelical Press, 1879, 1979), p. 29.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; — J.C. Ryle}}Paulus dengan keras membantah idenya sendiri bahwa kasih karunia memimpin pada dosa yang lebih jauh: “Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya?” (Rom 6:2). Kematian kita terhadap dosa, seperti Paulus jelaskan di ayat-ayat selanjutnya, terbungkus dalam kesatuan kita dengan Kristus yang tersalib. Waktu kita percaya pada Yesus, kita disatukan dengan-Nya. Transaksi iman terjadi dimana kita selamanya dianggap berada di “dalam Kristus,” yaitu, secara spiritual disatukan dengan-Nya. Kesatuan ini dilambangkan dengan baptisan. Seperti Yesus mati, dimakamkan dan bangkit dalam hidup teguh, baru, begitu pula kita mati bersama-Nya, dimakamkan bersama-Nya oleh baptisan, dan dibangkitkan untuk menjalani hidup baru di jalan yang baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|Setelah membaca bab ini, seorang Kristen muda tapi tulus datang kepada Anda untuk meminta tolong. “Paulus mengatakan diri saya yang lama telah mati dan dikuburkan bersama Kristus,” katanya. “Jadi mengapa saya mereka begitu hidup setiap kali bekas pacar saya mampir?” Bagaimana Anda menjawab? &lt;br /&gt;
* “Kamu pasti mempunyai iblis—mari mengusirnya keluar!” &lt;br /&gt;
* “Saya rasa kamu belum benar-benar diselamatkan.” &lt;br /&gt;
* “Dimana imanmu, saudariku?” &lt;br /&gt;
* “Mungkin diri lamamu sedang berada dalam koma sementara.” &lt;br /&gt;
* “Mari kita lihat pasal enam dan tujuh dari kitab Roma…”}}Analogi alami terdekat dari kesatuan ini adalah pernikahan. Istri saya Clara dan saya memiliki identitas bersama (kami berdua memiliki nama belakang yang sama) dan kami disatukan dalam hati, pikiran, dan tubuh. Kami berbagi sumber-sumber – semua yang saya miliki adalah miliknya, dan sebaliknya. Sebagai hasilnya kami berdua diperkaya (meskipun disinilah analogi ini lemah – kita mendapatkan keuntungan satu sisi dari kesatuan kita dengan Kristus). Clara dan saya memakai cincin yang melambangkan kebenaran yang lebih dalam dari kesatuan kami. Tapi seperti cincin saya tidak membuat saya menikah, begitu juga baptisan tidak membuat saya seorang Kristen. Hal ini datang setelah fakta transaksi iman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Renungkan Roma 6:17-18.''' Kita bukan lagi hamba dosa, tetapi kita adalah masih hamba. Kepada apakah tuan baru Anda memanggil Anda?}}Apa tepatnya arti dari mati terhadap dosa? Saya mati terhadap dosa dalam pengertian bahwa rasa bersalah dan penghukuman yang menyatu dengan dosa (maut) tidak lagi bergelantungan pada saya. Tetapi lebih dari itu, hubungan saya terhadap dosa telah dirubah secara radikal. Sebelum saya dibenarkan, saya tidak tahan tidak berbuat dosa. Sekarang saya tidak lagi di bawah kuasa dosa. ''Hubungan tuan-hamba'' yang sebelumnya ada telah diakhiri selamanya. ''Perhatikan'' bahasa yang dipakai di Roma 6:12-14: “Hendaklah dosa jangan berkuasa lagi…Janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa…Kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa.” Ini adalah bahasa perbudakan dan Paulus berkata hal ini tidak lagi berlaku. Kewajiban kita terhadap dosa telah diakhiri – oleh kematian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kematian kita terhadap dosa melalui penyatuan kita dengan Kristus memiliki implikasi yang jauh. Masalah atau kebiasaan atau ingatan atau rahasia apa pun yang sekarang mempengaruhi pikiran dan perilaku Anda tidak perlu lagi melakukan itu. Mereka dapat berhasil ditolak. Orang yang sebelumnya dikuasai semua itu – diri Anda yang lama – telah mati. Dorongan berbuat dosa ini sekarang bukan lagi majikan Anda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Bukan saya tidak dapat berdosa, tetapi saya dapat tidak berdosa.&amp;quot; — Arthur Wallis}}Lama sebelum ada orang yang mempopulerkan klaim bahwa hanya ada dua jenis orang di dunia ini (contohnya mereka yang tinggal di Oshkosh, Wisconsin dan mereka yang ''berharap'' mereka tinggal di sana), John Owen membuat kasifikasinya sendiri. Ia membedakan antara mereka yang di bawah kuasa dosa dan mereka yang ''mengira'' mereka berada di bawah kuasa dosa. Karena itu seorang pastor mempunyai dua tanggung jawab utama, seperti Owen ungkapkan dalam bahasa di jamannya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# Untuk meyakinkan mereka yang di dalamnya dosa secara nyata menguasai bahwa sungguh itulah posisi dan keadaan mereka.&lt;br /&gt;
# Untuk memuaskan sebagian bahwa dosa tidak memiliki kuasa atas mereka, walaupun dosa itu terus gelisah di dalam mereka dan berperang melawan jiwa mereka; tapi kalau ini tidak bisa dilakukan, adalah tidak mungkin mereka dapat menikmati damai yang solid dan kenyamanan dalam hidup ini.&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''Christian Spirituality ''(Reformed View), p. 58.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Telah menjadi kehormatan bagi saya untuk melihat lebih dari sekali orang-orang mengatasi masalah kebiasaan-kebiasaan buruk dan berkepanjangan melalui pelajaran yang tekun serta aplikasi dari Roma 6. Kita tidak perlu terus menjadi orang-orang kudus yang terpenjara lagi. Sekali kita menyadari bahwa kita telah disatukan dengan Kristus dalam kematian dan kebangkitan-Nya, kita akan melihat Ia telah membuka pintu pelepasan kita lebar-lebar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Diskusi Kelompok ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# Pikirkan kembali ke ilustrasi pembuka tentang orang kudus yang terpenjara. Melambangkan apakah penjara itu? Apakah kuncinya?&lt;br /&gt;
# Konflik batin apa yang mungkin menahan seorang budak untuk berespon pada Proklamasi Emansipasi dicetuskan oleh Lincoln itu? Apa yang dapat menahan orang Kristen dari mengambil kebebasan dalam Kristus?&lt;br /&gt;
# Hal terbesar apakah yang akan kita terima dari Tuhan? (Halaman 61)&lt;br /&gt;
# Perasaan apakah yang Anda pikir orang Amerika alami saat perdamaian diumumkan di akhir Perang Dunia kedua? Apakah perdamaian Anda dengan Allah menimbukan perasaan yang sama di dalam Anda?&lt;br /&gt;
# Menurut si penulis, apakah kebutuhan terbesar manusia?&lt;br /&gt;
# Bacalah cerita Simon orang Farisi dan perempuan berdosa di Lukas 7:36-50. Apakah perbedaan utama dari keduanya? Dengan yang mana Anda mengidentifikasikan sikap Anda terhadap Kristus? &lt;br /&gt;
# Apakah Anda tersentuh oleh cerita wanita yang melakukan aborsi? Bagaimana? &lt;br /&gt;
# Apakah sikap dan perbuatan dapat menunjukkan seseorang memiliki kesadaran yang dangkal akan pengampunan?&lt;br /&gt;
# Apa maskudnya disatukan dengan Kristus dalam kematian-Nya? Apakah implikasinya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bacaan yang Direkomendasikan ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Men Made New'' by John R.W. Stott (Grand Rapids, MI: Baker Book House, 1966)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Atonement'' by Leon Morris (Downwers Grove, IL: InterVarsity Press, 1984)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Glory of Christ'' by Peter Lewis (Chicago, IL: Moody Press, 1997)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Catatan ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Sukartay</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/The_Fruits_of_Justification_(I)/id</id>
		<title>This Great Salvation/The Fruits of Justification (I)/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/The_Fruits_of_Justification_(I)/id"/>
				<updated>2008-01-11T03:00:56Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Sukartay: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;= Buah-Buah Pembenaran (I) =&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah Anda pernah memperhatikan betapa sedikitnya buku-buku Kristen yang memiliki cover menarik? Oh, ada beberapa, tentu – seperti buku Franky Schaeffer ''A Time for Anger'', dengan lukisan dari Pieter Brueghel “Orang Buta Menuntun Orang Buta.” Lukisan itu begitu menggugah saya sehingga saya mencari kopinya dan membingkainya untuk kantor saya. Dan ada juga gambar-gambar mengagumkan di sampul ''Chronicles of Narnia'' milik C.S. Lewis yang ''siap membawa Anda ke sana''. Salah satu sampul buku yang paling menarik yang pernah saya lihat tampak di sebuah seri pamflet. Illustrasinya menunjukkan seorang pria sedih dan kesepian yang sedang memandang kosong keluar jendela sebuah sel penjara. Saat Anda melihat, Anda menjadi sadar bahwa pintu selnya terbuka di belakangnya. Tetapi ia tidak memperhatikannya. Kalau saja ia menoleh ia akan melihat bahwa ia dapat berjalan keluar seperti orang bebas. Tetapi ia tetap terpenjara karena ketidaktahuannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Renungkan Lukas 4:18-19.''' Apakah Anda menyadari “Proklamasi Emansipasi” ini diberikan kepada Anda?}}Intinya cukup jelas. Banyak orang Kristen – bukan, kebanyakan orang Kristen – adalah seperti pria ini. Secara tragis mereka tidak menyadari kebebasan dan hak-hak lebih yang adalah milik mereka melalui injil Yesus Kristus. Mereka adalah orang-orang kudus yang tidak perlu terpenjara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Ketika Allah mengampuni, Ia mengampuni semua dosa, dosa asal dan dosa sekarang, dosa karena kita melakukan dan dosa karena kita tidak melakukan, dosa rahasia dan dosa terbuka, dosa dalam pikiran, perkataan dan perbuatan… Pengampunan penuh, atau tidak sama sekali, adalah yang Allah ciptakan untuk berikan. Hal ini sesuai dengan kebutuhan manusia. Pemberian ini tidak pernah diambil kembali oleh Allah. Ketika Ia mengampuni, Ia mengampuni selamanya&amp;lt;ref&amp;gt;William S. Plumer, ''The Grace of Christ'' (Philadelphia, PA: Presbyterian Board of Publication, 1853), pp. 201–02.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; — William S. Plumer &amp;quot;Saya harus memperhatikan apa yang saya katakan: tetapi rasul itu berkata, “Allah membuat Dia yang tidak mengenal dosa, menjadi berdosa karena kita, sehingga kita dapat dibenarkan oleh Allah di dalam Dia.” Begitulah kita di mata Allah Bapa, sama seperti Anak Allah sendiri. Biarlah hal itu dianggap bodoh atau emosi, atau luapan perasaan, apa pun, itu adalah penghiburan kita dan hikmad kita; kita tidak peduli pengetahuan lain di dunia selain ini, bahwa manusia telah berdosa dan Allah telah menderita; bahwa Allah telah membuat dirinya sendiri Anak manusia, dan bahwa manusia dibuat kebenaran Allah.”&amp;lt;ref&amp;gt;Ibid., p. 230. &lt;br /&gt;
&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; — Richard Hooker}}Merubah gambaran ini sedikit saja, sejumlah budak terus hidup seperti sebelumnya bahkan setelah Proklamasi Emansipasi. Sebagian mereka tetap berada di kegelapan tentang dimana mereka sekarang berdiri. Sebagian lain, walaupun menyadari kebebasan mereka, tidak pernah berjalan keluar tempat perbudakan karena takut. Kebebasan menuntut keberanian dan membawa bersamanya tanggung jawab yang besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya injil hanya membuat perbedaan kecil dalam hidup orang Kristen yang tak terhitung jumlahnya. Meskipun mereka telah sungguh dibenarkan dan penghukuman telah dibatalkan, masalah yang sama sepertinya mengganggu mereka. Ketakutan, kebiasaan, dan keraguan yang sama yang mengkarakterisasi hidup mereka sebelum mereka percaya Kristus masih tetap memegang kendali. Mengapa? Menurut saya satu alasan terbesar adalah ketidaktahuan. Bagi tidak sedikit orang Kristen, Alkitab masih menjadi buku tertutup. Fakta bahwa warisan besar telah disediakan bagi mereka yang dibenarkan oleh Allah seperti belum menjadi jelas buat mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengetahuan akan Firman Tuhan yang terus bertumbuh adalah sangat vital. Di saat Anda membaca, menghafal dan merenungkan Firman Tuhan, Anda akan mulai merasakan penyediaan yang mengagumkan yang diberikan Allah. Dua bab terakhir dari buku ini akan mengekplorasi buah-buah dari pembenaran kita, warisan kita di dalam Kristus. Sisa keraguan yang masih ada di pikiran kita mengenai tujuan dan takdir Tuhan harus dijelaskan saat kita menginventori keuntungan-keuntungan dari keselamatan yang agung ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Turun dari Kursi Kayu ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gambaran sekitar doktrin pembenaran datang langsung dari pengadilan hukum, seperti yang kita pelajari di bab sebelumnya. Allah, Pemberi hukum dan Hakim dari seluruh bumi, telah mengeluarkan sebuah deklarasi yang membebaskan orang berdosa yang terhukum dari semua kesalahan. Pembenaran memberi kita status baru di hadapan Allah dan mengampuni kita dari semua dosa dan hukumannya. Walaupun kita adalah orang-orang kriminal tertuduh yang sedang menunggu dalam barisan Hukuman Mati yang tidak bisa dihindari, Sang Hakim mengampuni kita dan menghancurkan catatan-catatan kriminal kita. Betapapun mengagumkannya hal ini, ada aspek pembenaran yang bahkan lebih mengagumkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya pernah berada di ruang sidang, dan itu bukanlah tempat yang penuh keceriaan. Anda tidak dapat menjadi diri Anda sendiri. Adalah tidak pantas untuk tertawa keras atau mengangkat kaki Anda. Tidak seorang pun berpikir untuk bertemu hakim setelah sidang untuk makan es krim ataupun menonton pertandingan bola basket. Ada peraturan perilaku tertentu yang harus dipertahankan, formal dan mengintimidasi – dan memang dimaksudkan begitu. Hal ini tidak kurang benar di hadirat Hakim yang berdaulat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|Buka hampir di bagian mana saja dari Alkitab Anda dan Anda akan menemukan janji-janji menakjubkan dari Tuhan. Tandai satu dari yang di bahwa ini yang paling berarti buat Anda saat ini. * “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau” (Ibr 13:5). * “Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu” (1Kor 10:13) * “Barangsiapa percaya kepada-Ku akan melakukan pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa” (Yoh 14:12) * “Ia yang memulai pekerjaan yang baik diantara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus” (Flp 1:6) * “Kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris” (Gal 4:7).}}Tetapi ada perbedaan yang sangat besar antara pengadilan di surga dan di bumi. Setelah menyatakan kita bebas dari segala tuduhan dan penghakiman, Tuhan memilih untuk ''tidak'' pergi ke ruangan-Nya, seperti yang dikira. Tetapi, Ia mendobrak semua standard dengan turun dari bangku kayu, mengumpulkan kita di tangan-Nya, dan lalu menggendong kita dari ruang sidang ke ruang keluarga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memiliki Allah sebagai Bapa kita adalah sungguh mengagumkan. Firman Tuhan telah menjelaskan bahwa kita berhubungan dengan Tuhan dengan intim dan secara legal. Bukan itu saja, tetapi untuk menjadi anak-anak-Nya mendatangkan hak-hak khusus. Paulus mendeskripsikannya seperti ini: “Roh itu bersaksi bersam-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah. Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris – orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus” (Rom 8:17).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara pembenaran bagi kita adalah pemberian gratis, pembenaran itu dibayar Allah dengan Anak-Nya. Pembenaran itu dibayar oleh nyawa Anak-Nya. Dan pembenaran itu dibayar oleh keangkuhan kita, karena satu-satunya cara untuk menerima pemberian ini adalah dengan datang kepada Tuhan dalam kerendahan hati dan pertobatatan iman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Apa Semua Ini ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' “Kekayaan” apakah yang Paulus deskripsikan di Kolose 2:2-3? Dimanakah “harta“ itu berada? Apakah Anda telah sepenuhnya mengambil keuntungan dari warisan ini?}}Anak Allah, Ahli Waris Allah, Ahli Waris bersama Kristus. Apa arti semua itu? Mari kita bangun satu fakta penting. Yesus Kristus, Anak tunggal Allah, adalah ahli waris Bapa yang sah dan sebenarnya. Kalau ada warisan yang kita miliki itu hanya karena kita berada di “dalam Kristus” (Ef 2:7). Apalagi, Kristus sendiri adalah warisan ini. Dia adalah damai kita, Dia adalah kebenaran kita, pengharapan kita, penyucian dan penebusan kita. Di dalam Dia tersembunyi semua harta hikmad dan pengetahuan. Dialah kebangkitan dan hidup. Hal terbesar yang kita akan pernah terima dari Allah adalah Yesus sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adalah juga penting untuk memahami bahwa keselamatan datang bukan melalui sebuah doktrin melainkan melalui sebuah Individu. Kita tidak diselamatkan oleh pembenaran, tetapi oleh Yesus. Waktu kita mengambil waktu untuk mempelajari Firman Tuhan kita menghadapi resiko menjadi seorang ahli doktrin tetapi tidak kompeten dalam pengetahuan sejati akan Tuhan kita. Dan mengenal Tuhan adalah segalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Bagaimana seseorang yang hidup melalui pengalaman tercatat di 2 Korintus 11:23-33 bisa menulis Roma 15:13??}}Seorang kawan saya mengatakan pada saya cerita berikut ini tentang Scott McGregor, orang Kristen berdedikasi dan seorang pelempar bola baseball kidal yang terkenal untuk Baltimore Orioles di tahun 70 dan 80an. Suatu ketika, di satu momen genting di dalam permainan, Scott menemukan dirinya berhadapan dengan seorang pemukul bola berbahaya dengan orang-orang pencetak angka. Ia mengambil waktu cukup untuk mempelajari situasi ketika seorang wanita tidak sabar di kotak tempat duduk di belakang kandang pemain Orioles berteriak, “Yesus Kristus! Lempar bolanya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Baca Matius 7:21-23 dan jawab pertanyaan-pertanyaan berikut: * Hal-hal terpuji apakah yang orang-orang ini capai? * Apakah empat kata penilaian Tuhan terhadap mereka? * Dalam satu kalimat, bagaimana Anda akan merangkum kesalahan fatal mereka?}}Bukan tidak umum untuk mendengar nama Tuhan digunakan sembarangan di permainan bola. Tetapi dalam peristiwa ini McGregor begitu tersentak sehingga ia hampir kehilangan konsentrasi. Setelah mengembalikan dirinya sendiri, ia dapat melempar dengan benar dan pemukulan bola berakhir. Lalu ia melakukan sesuatu yang sangat berbeda, sesuatu yang seharusnya tidak boleh dilakukan oleh pemain. Ketika ia berjalan kembali ke kandang pemain ia menatap langsung ke wanita tadi dan bicara dengannya. Dalam nada yang terganggu namun lembut, penuh keprihatinan terhadap wanita itu dan Tuhannya, ia berkata, “Ibu, kalau kamu sungguh mengenal Dia, kamu tidak akan pernah menyebut nama-Nya seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
McGregor mendemonstrasikan bahwa Kekristenan adalah lebih dari sekedar sebuah kebenaran untuk dipercayai. Kekristenan adalah sebuah kehidupan untuk dijalani dan, di atas segalanya, satu Tuhan untuk dicintai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu memikirkan sesuatu seluas, seajaib warisan yang kita miliki di dalam Kristus, digambarkan Paulus sebagai “kekayaan kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah” (Ef 2:7), sangat sulit untuk mengetahui dimana harus mulai. Menariknya, Paulus juga memiliki masalah yang sama. Di dalam suratnya kepada jemaat di Efesus, ia begitu terbawa oleh implikasi pembenaran yang begitu besar. Saat ia berusaha menghubungkan semua yang Tuhan telah lakukan dan sedang lakukan di pasal pertama, ia mulai dengan kalimat di ayat tiga yang berakhir sampai sebelas ayat kemudian. Secara tata bahasa memang tidak cantik, namun hatinya yang penuh mengalir memberi kesaksian akan anugerah Tuhan yang tidak terselami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perikop berikut dari surat Paulus kepada jemaat di Roma menyediakan titik mula yang sangat bagus “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus. Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah” (Rom 5:1-2). John Stott menjelaskan pentingnya perikop ini:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Pasal-pasal awal dari [kitab Roma] didedikasikan untuk kebutuhan dan jalan pembenaran. Semua itu bertujuan menjelaskan bahwa semua manusia adalah berdosa di bawah penghakiman Allah yang adil, dan dapat dibenarkan hanya melalui penebusan yang di dalam Yesus Kristus – melalui anugerah semata, melalui iman saja. Di poin ini, setelah membeberkan kebutuhan dan penjelasan jalan pembenaran, Paulus meneruskan dengan menggambarkan buah-buahnya, hasil dari pembenaran dalam hidup sebagai anak dan ketaatan di dunia dan kehidupan lanjut yang penuh kemuliaan di surga (penekanan ditambahkan).&amp;lt;ref&amp;gt;John R.W. Stott, ''Men Made New'' (Grand Rapids, MI: Baker Book House, 1966, 1991), pp. 9–10.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bab ini akan melihat tiga buah dari pembenaran: damai dengan Allah, pengampunan dosa, dan proses penyucian. Di bab terakhir buku ini kita akan mengkaji pengadopsian kita di dalam Kristus serta pengharapan kita akan kemuliaan di masa depan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Damai dengan Allah ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perdamaian dengan Allah menggarisbawahi semua yang lain yang kita terima dalam Kristus. Perdamaian ini adalah hadiah yang menaruh berkat-berkat lain dalam perspektif. “Urusan utama dari injil Kristen adalah bukan untuk memberi kita berkat,” tulis D. Martyn Lloyd-Jones. “Tujuan utamanya adalah untuk mendamaikan kita dengan Allah.”&amp;lt;ref&amp;gt;D. Martyn Lloyd-Jones, ''Romans: Assurance, Chapter Five'' (Grand Rapids, MI: Zondervan Publishing House, 1971), p. 10.&amp;lt;/ref&amp;gt; Berdamai dengan Allah berarti kita berada di posisi perujukan dengan-Nya. Pernyataan pembenaran telah menjauhkan semua halangan antara Allah dan manusia. Walau tentu saja ada yang namanya damai ''dari'' Allah yang subyektif (yang bisa dirasakan), apa yang ada di benak Paulus dalam Roma 5:1 adalah fakta ''obyektif'' bahwa injil telah menghapuskan segala sesuatu yang memisahkan kita dari Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Renungkan Efesus 2:11-20.''' Apa yang Yesus lakukan terhadap penghalang permusuhan yang berdiri diantara diri-Nya dan kita?}}Untuk mendamaikan berarti menyatukan apa yang telah terpisah karena pemusuhan. Contoh utama dari arti ini ditemukan di kotbah Stefen kepada Sanhedrin ketika ia menceritakan kembali peristiwa kehidupan Musa: “Pada keesokan harinya ia muncul pula ketika dua orang Israel sedang berkelahi, lalu ia berusaha ''mendamaikan'' mereka, katanya: Saudara-saudara! Bukankah kamu ini bersaudara? Mengapakah kamu saling menganiaya?” (Kis 7:26). Versi Alkitab King James menerjemahkan “mendamaikan” di konteks ini menjadi “membuat mereka satu kembali.” Kata Yunani yang dipakai adalah bentuk kata kerja dari kata yang biasa diterjemahkan “damai.” Apa yang penting bagi kita untuk diingat adalah bahwa sekarang, dari titik pandang Allah, tidak ada lagi permusuhan antara Allah dan mereka yang telah dibenarkan. Amarah dan murka-Nya terhadap dosa telah diekspresikan dengan adil dan dipuaskan penuh di Salib. Perseteruan telah berakhir. Perdamaian telah dibuat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak hanya konflik telah diselesaikan, tetapi semua masalah hukum yang berasal dari permusuhan sebelumnya telah dihapuskan, tidak pernah muncul lagi: “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi merkea yang ada di dalam Kristus Yesus…Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Allah, yang membenarkan mereka?” (Rom 8:1,33). Kalau pengadilan tertinggi di jagad raya ini telah menyatakan kita benar, tidak ada gugatan yang bisa menempel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Ketika perang suci kita dengan Allah berakhir, ketika kita seperti Luther berjalan melalui pintu-pintu Surga, ketika kita dibenarkan oleh iman, perang itu berakhir untuk selamanya. Dengan pembersihan dari dosa dan pernyataan pengampunan ilahi kita memasuki perjanjian damai dengan Allah yang kekal. Buah sulung dari pembenaran kita adalah damai dengan Allah. Damai ini adalah damai yang kudus, damai yang tidak bercacat dan agung. Damai ini adalah damai yang tidak bisa dihancurkan.&amp;lt;ref&amp;gt;R.C. Sproul, ''The Holiness of God'' (Wheaton, IL: Tyndale House Publishers, 1985), p. 193.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; — R.C. Sproul}}Berhati-hatilah bahwa frase “tidak ada penghukuman” ''tidak'' berarti “tidak ada tuduhan.” Kita telah menyinggungnya di bab pertama. Musuh jiwa kita meneruskan pekerjaan kotornya menyebarkan kata-kata yang melecehkan dan menembakan anak panah api, dan sering terjadi kita salah mengira pembetulan dan teguran Tuhan sebagai suara tuduhan iblis. Tetapi kenyataan bahwa Yesus telah mengambil tempat kita berarti kita tidak akan pernah harus berhadapan dengan penghukuman di penghakiman akhir. “Siapakah yang akan menghukum mereka? Kristus Yesus, yang telah mati? Bahkan lebih lagi: yang telah bangkit, yang juga duduk di sebelah kanan Allah, yang malah menjadi Pembela bagi kita?” (Rom 8:34). Dia yang satu-satunya memiliki otoritas untuk menghukum untuk selamanya telah memihak pada kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|Bayangkan Anda sendiri memerintah sebuah bangsa berjumlah lima milyar orang. Sebuah berita mengatakan bahwa ada seorang warga yang mengadakan pemberontakan dan sedang membuat kekacauan di istana. Bukannya mengirim divisi tank bersenjata untuk menghentikan orang gila itu, Anda mengirim Pangeran. Dalam usaha menggapai si pemberontak, sang Pangeran terbunuh. Bagaimana Anda akan memperlakukan warga ini setelah ia ditangkap? * Musnahkan ia selamanya dari kerajaan * Membakar ia perlahan-lahan di atas api menyala * Menggantungnya dari pohon tertinggi di kota * Hukum dia dengan hidup dalam isolasi * Menjadikannya makanan bagi ular piton kerajaan * Mengampuninya, menerimanya, dan mengadopsinya menjadi anak Anda.}}Mengetahui kita telah didamaikan dengan Allah membawa ketenangan bagi pikiran kita. Ini memampukan kita untuk mengalahkan rasa kuatir dan takut. Bahkan bila seluruh dunia melawan kita, kita tetap aman dalam Kristus. “Janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi,” Yesus menjelaskan kepada murid-murid-Nya, yang telah ditetapkan untuk menghadapi perlawanan hebat. “Aku akan menunjukkan kepadamu siapakah yang harus kamu takuti. Takutilah Dia, yang setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka” (Luk 12:4, 5). Allah, satu-satunya yang berharga untuk kita takuti, telah berinisiatif mengadakan perjanjian damai kekal dengan kita. Untuk orang Kristen yang dibangun di dalam kebenaran ini, bahkan ketakutan akan maut dikalahkan karena ancaman penghukuman tidak lagi eksis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Pengampunan Dosa-Dosa ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Renungkan Keluaran 34:5-7.''' Dalam kesadaran akan semua kualitas karakter Allah, apakah Anda menganggap penting bahwa Ia memilih untuk menekankan sifat-sifat ini ketika Ia menyatakan diri kepada Musa?}}Berhubungan erat dengan perujukan dan damai dengan Allah adalah pengampunan dosa. Saya mungkin berlebihan, tetapi kelihatannya bagi saya kebenaran berharga ini berada dalam bahaya untuk dibenci. Ketika orang meratap. “Saya tahu saya telah diampuni, tetapi…,” saya tidak tahan untuk berpikir, ''Kamu tidak tahu bahwa kamu telah diampuni! Kalau kamu sungguh mengerti pengampunan masalahmu tidak akan terlihat seburuk itu.'' Seperti Lloyd-Jones implikasikan di dalam pernyatannya di halaman 63, kebutuhan terbesar manusia adalah pengampunan. Dan kalau Tuhan sudah mengampuni kita, masalah lain apapun yang kita punya pasti menjadi lebih kecil kalau dibandingkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang ini jarang terdengar orang-orang Kristen bersukacita karena diampuni Allah. Hal ini dapat dipahami di kultur yang memandang nilai diri yang rendah sebagai masalah yang lebih besar daripada diasingkan dari Allah. Namun kepekaan kita akan pengampunan secara langsung mempengaruhi kasih kita terhadap Allah. Itulah inti dari respon Tuhan terhadap Simon orang Farisi yang merasa diri benar. “Orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih,” kata Yesus padanya (Luk 7:47). Sebaliknya, mereka yang telah diampuni banyak – atau setidaknya menyadari betapa banyak mereka telah diampuni – banyak berbuat kasih. Setiap dari kita harus berada di kategori itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Apakah keraguan-keraguan ini menyebabkan Anda mempertanyakan pengampunan Allah? (tandai semua yang cocok) &lt;br /&gt;
* Tuhan tidak dapat terus menerus mengampuni saya untuk dosa yang sama. &lt;br /&gt;
* Saya mungkin telah diampuni, tetapi Tuhan belum melupakan. &lt;br /&gt;
* Tidak ada yang gratis di dalam hidup – Tuhan pasti mengharapkan sesuatu bentuk pembayaran. &lt;br /&gt;
* Saya bersalah atas dosa yang tidak dapat diampuni. &lt;br /&gt;
* Setelah dosa nomor 491 Tuhan akan menolak saya (lihat Mat 18:22).}}Pertimbangkan berikut ini:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Pengampunan dosa datang kepada kita hanya atas dasar darah Yesus Kristus yang tercurah. “Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya” (Ef 1:7).&lt;br /&gt;
* Motif Tuhan mengampuni kita adalah kasih-Nya yang besar. Pengampunan-Nya adalah pekerjaan belas kasih dan cuma-cuma. “Dialah yang telah ditinggikan oleh Allah dengan tangan kanan-Nya menjadi Pemimpin dan Juruselamat, supaya Israel dapat bertobat dan menerima pengampunan dosa” (Kis 5:31)—dan orang bukan Israel juga.&lt;br /&gt;
* Pengampunan dosa membawa kepada pengetahuan keselamatan. Yesus datang “untuk memberikan kepada umat-Nya pengertian akan keselamatan yang berdasarkan pengampunan dosa-dosa mereka” (Luk 1:77).&lt;br /&gt;
* Memahami pengampunan membawa kepada rasa takut yang benar akan Allah. “Jika Engkau, ya Tuhan, mengingat-ingat kesalahan-kesalahan, Tuhan, siapakah yang dapat tahan? Tetapi pada-Mu ada pengampunan, supaya Engkau ditakuti orang” (Mzm 130:3-4).&lt;br /&gt;
* Pengampunan Tuhan adalah menyeluruh. “Aku, Akulah Dia yang menghapus dosa pemberontakanmu oleh karena Aku sendiri, dan Aku tidak mengingat-ingat dosamu” (Yes 43:25).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cerita berikut ini, diceritakan oleh Becky Pippert di dalam bukunya Hope Has Its Reasons, menunjukkan kekuatan pengampunan di dalam hidup seorang wanita. Berharga untuk dikutip secara panjang:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Beberapa tahun yang lalu setelah saya selesai berbicara di sebuah konferensi, seorang wanita cantik datang ke podium. Ia tentu saja ingin bicara pada saya dan di saat saya berbalik menghadapnya, air mata keluar dari matanya. Kami pindah ke ruang dimana kami bisa bicara secara pribadi. Sangat jelas dari melihatnya bahwa ia sensitif tapi menderita. Ia menangis selagi ia mengatakan pada saya cerita berikut ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Dalam hubungan terhadap dosa dan terhadap Tuhan, faktor penentu dari eksistansi saya bukanlah lagi masa lalu saya. Melainkan masa lalu Kristus.&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''Christian Spirituality (Reformed View)'', Donald Alexander, ed. (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1988), p. 57.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; — Sinclair Ferguson}}“Bertahun-tahun sebelumnya, ia dan tunangannya (yang sekarang ia nikahi) merupakan pekerja remaja di sebuah gereja konservatif besar. Mereka adalah pasangan yang cukup dikenal dan memiliki pengaruh yang luar biasa terhadap anak-anak muda. Semua orang menghormati mereka dan sangat mengagumi mereka. Beberapa bulan sebelum mereka menikah mereka mulai melakukan hubungan seks. Hal itu membebankan mereka dengan rasa bersalah dan kemunafikan. Tapi lalu ia menemukan dirinya hamil. ‘Anda tidak dapat membayangkan apa implikasi dari mengakui hal ini kepada gereja,’ katanya. ‘Mengaku bahwa kami mengajarkan satu hal dan menjalani hal yang lain adalah tidak bisa ditoleransi. Jemaat ini sangat konservatif dan tidak pernah disentuh oleh skandal apapun. Kami merasa mereka tidak akan dapat menangani keadaan bila mengetahui situasi kami. Kamipun tidak akan dapat menanggung rasa malu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Baca Yesaya 59. Bagaimana Tuhan berespon terhadap kekurangan kita akan kekudusan yang begitu besar? (lihat ayat 16 dan 20)}}‘Lalu kami membuat keputusan yang paling mengerikan yang saya pernah buat. Saya menggugurkan kandungan. Hari pernikahan saya adalah hari terburuk dalam seluruh hidup saya. Setiap orang di gereja tersenyum pada saya, berpikir saya adalah pengantin perempuan bersinar dalam kepolosan. Tetapi tahukah Anda apa yang berada di kepala saya di saat saya berjalan di menuju altar? Yang dapat saya katakan pada diri saya adalah, ‘Kamu adalah seorang pembunuh. Kamu terlalu sombong sehingga tidak dapat menanggung rasa malu dan penghinaan bila kamu membuka siapa dirimu. Tetapi saya tahu siapa kamu dan Tuhan juga. Kamu telah membunuh bayi yang tidak bersalah.’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ia menangis begitu dalam sehingga ia tidak dapat berbicara. Saat saya memeluknya sebuah pemikiran datang pada saya dengan sangat kuat. Tapi saya merasa takut untuk mengatakannya. Saya tahu kalau ini bukan dari Tuhan bahwa ini dapat sangat menghancurkan. Maka saya berdoa dalam hati untuk hikmad untuk menolongnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ia melanjutkan. ‘Saya tidak percaya bahwa saya melakukan sesuatu yang begitu mengerikan. Bagaimana bisa saya membunuh nyawa yang tidak bersalah? Bagaimana mungkin saya bisa melakukan hal seperti itu? Saya mencintai suami saya, kami memiliki empat anak yang manis. Saya tahu Alkitab mengatakan bahwa Tuhan mengampuni semua dosa-dosa kita. Tapi saya tidak dapat mengampuni diri saya sendiri! Saya telah mengaku dosa ini beribu kali dan saya masih merasakan rasa malu dan menderita itu. Pikiran yang paling menghantui saya adalah ''bagaimana'' saya dapat membunuh nyawa yang tidak bersalah?’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya mengambil nafas dalam dan mengatakan apa yang telah saya pikirkan. ‘Saya tidak tahu mengapa kamu begitu terkejut. Ini bukan pertama kali dosamu membawa kematian, ini adalah yang kedua.’ Ia melihat saya dengan penuh kebingungan. ‘Temanku sayang,’ saya melanjutkan, ‘ketika kamu melihat Salib, semua dari kita datang sebagai penyalib. Beragama atau tidak beragama, baik atau buruk, penggugur kandungan atau bukan penggugur kandungan – semua dari kita bertanggung jawab atas kematian dari satu-satunya orang tak bersalah yang pernah hidup. Yesus mati untuk dosa-dosa kita – masa lalu, sekarang, dan masa depan. Kamu pikir ada dosa-dosamu yang Yesus tidak perlu mati untuknya? Dosa kesombongan itu yang menyebabkan kamu menghancurkan anakmu adalah yang membunuh Kristus juga. Tidak peduli kamu tidak berada di sana dua ribu tahun yang lalu. Kita semua mengirim-Nya ke sana. Luther berkata bahwa kita membawa paku-paku-Nya itu di saku kita. Jadi kalau kamu telah melakukannya sebelumnya, lalu mengapa kamu tidak bisa melakukannya lagi?’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Renungkan Mazmur 32:1-5.''' Apa yang terjadi waktu kita menyimpan dosa-dosa kita? Apa yang terjadi waktu kita mengakuinya?}}“Ia berhenti menangis. Ia melihat saya tepat di mata dan berkata, ‘Kamu sangat benar. Saya telah melakukan yang lebih buruk daripada membunuh bayi saya sendiri. Dosa sayalah yang telah membawa Yesus ke kayu Salib. Tidak peduli saya tidak berada di sana menancapkan paku, saya tetap bertanggung jawab atas kematian-Nya. Sadarkah Anda pentingnya ucapan yang Anda katakan pada saya, Becky? Saya datang pada Anda mengatakan saya telah melakukan hal terburuk yang bisa dibayangkan. Dan Anda mengatakan pada saya bahwa saya telah melakukan lebih buruk dari itu.’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|Apakah Anda menemukan diri Anda dibebani oleh rasa bersalah ketika Anda mengingat sebuah dosa (atau dosa-dosa) spesifik dari masa lalu? Kalau begitu, carilah seorang Kristen yang dewasa yang kepadanya Anda dapat mengaku dan yang darinya Anda dapat menerima penguatan tentang besarnya pengampunan Tuhan. Tulislah keinginan Anda itu: “Percaya bahwa Tuhan ingin saya untuk melepaskan saya dari rasa bersalah, saya akan berbicara kepada __________________ tentang area dosa ini tidak lebih dari ______ ___________.”}}“Saya menyeringai karena saya tahu itu adalah benar. (Saya tidak yakin bahwa pendekatan saya akan menjadi salah satu teknik konseling yang hebat!) Lalu ia berkata, ‘Tapi Becky, kalau Salib menunjukkan saya bahwa saya adalah lebih buruk daripada yang saya pernah bayangkan, Salib itu juga menunjukkan bahwa kejahatan saya telah diserap dan diampuni. Kalau hal terburuk yang manusia dapat lakukan adalah membunuh Anak Allah, dan itu dapat diampuni, lalu bagaimana bisa hal lain – bahkan aborsi – tidak diampuni?’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya tidak akan pernah lupa rupa di matanya ketika ia duduk kembali dalam kekaguman dan dengan tenang berkata, ‘Bicara tentang anugerah yang besar.’ Kali ini ia menangis bukan karena penderitaan tapi karena rasa lega dan syukur. Saya melihat wanita yang sepenuhnya telah ditransform oleh pengertian yang benar akan Salib.”&amp;lt;ref&amp;gt;Rebecca Pippert, ''Hope Has Its Reasons'' (New York: HarperCollins Publishers, Inc., 1989), pp. 102–104.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengampunan dosa adalah isu yang sangat penting. Ahli teologi English Puritan, John Owen, menulis sebuah essay tentang topik yang masih dianggap sebuah klasik. Eksposisi dari Mazmur 130 ini panjangnya lebih dari tiga ratus halaman, meskipun mazmur itu sendiri hanya terdiri dari delapan ayat. Pendahuluan dari editor memberikan beberapa masukan mengenai keadaan sekitar penulisan eksposisi itu. Sepertinya sebagai seorang pemuda Owen hanya memiliki pemahaman yang dangkal akan pengampunan Tuhan, “sampai Tuhan berkenan menengok saya dengan kesulitan yang menyakitkan, dimana saya dibawa ke mulut kubur, dan dimana jiwa saya tertekan oleh rasa ketakutan dan kegelapan; tapi Tuhan dengan murah hati membebaskan roh saya oleh aplikasi penuh kuasa dari Mazmur 130:4 yang darinya saya peroleh ajaran khusus, kedamaian dan penghiburan, dalam mendekat kepada Tuhan melalui Mediator, dan mengkotbahkannya langsung setelah saya sembuh.”&amp;lt;ref&amp;gt;John Owen, ''Works, Vol. VI'' (Carlisle, PA: The Banner of Truth Trust, 1967), p. 324.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Ketika kamu menyadari semua yang dibayar Tuhan untuk mengampunimu, kamu akan dipegang seperti seorang sahabat, dibatasi oleh kasih Allah.&amp;lt;ref&amp;gt;Oswald Chambers, My Utmost for His Highest (New York: Dodd, Mead &amp;amp; Company, 1963), p. 325.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot;}}Mazmur 130:4, seperti kita lihat di atas, menunjukkan bahwa takut akan Tuhan adalah pertumbuhan natural dari penerimaan akan pengampunan-Nya. Pada saat kita muda dan sehat masalah lain dapat terlihat begitu lebih penting. Tapi saat mata kita terbuka pada hal-hal yang bersifat kekal, mengetahui apakah kita sungguh diampuni akan membuat masalah-masalah lain menjadi tidak penting.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Penyucian melalui Kristus ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pembenaran memulai proses yang disebut penyucian, dimana kita makin menjadi serupa dengan Yesus. Sementara pembenaran membuat kita diampuni dan dikasihi, pembenaran tidak berbuat apa-apa terhadap karakter kita. Kita tetap orang pemberontak yang sama sebelum Tuhan menyelamatkan kita. Akan tragis jadinya jika Tuhan membiarkan kita sendiri. Kita tidak akan pernah bertumbuh, tidak pernah berubah, tidak pernah meningkat. Untungnya, meskipun Tuhan mengasihi kita apa adanya, Ia terlalu mengasihi kita untuk meninggalkan kita di sana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pusat doktrin penyucian adalah kebenaran bahwa kita disatukan dengan Yesus Kristus. Di dalam bukunya ''Men Made New'', John Stott membuat pengamatan berikut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:“Tema besar Roma 6, dan khususnya ayat 1-11, adalah bahwa kematian dan kebangkitan Yesus Kristus bukanlah hanya fakta sejarah dan doktrin penting, melainkan pengalaman pribadi orang Kristen yang percaya. Pengalaman-pengalaman tersebut adalah peristiwa-peristiwa yang kita sendiri alami. Semua orang Kristen telah disatukan dengan Kristus di dalam kematian dan kebangkitan-Nya. Selanjutnya, kalau ini benar, jika kita telah mati dengan Kristus dan dibangkitkan dengan Kristus, adalah tidak terbayangkan bahwa kita terus hidup dalam dosa.”&amp;lt;ref&amp;gt;John R.W. Stott, ''Men Made New'', p. 30.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin Anda berpikir ulang saat Anda melihat kata “tidak terbayangkan.” Kebanyakan kita menemukan tidak terbayangkan kalau kita dapat mungkin terus hidup ''diluar'' dosa! Apakah kemenangan atas dosa sebenarnnya mungkin?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut: Baca 1 Korintus 15:51-58.''' Meskipun perikop ini mengacu pada masa yang akan datang, bagaimana kebenaran ini dapat menguatkan Anda dalam pergumulan Anda melawan dosa?}}Inilah dua jawaban yang umum. Sebagian mengatakan orang Kristen dapat mengharapkan hidup kemenangan di dunia akan datang, tetapi harus memasang penglihatan lebih rendah di dunia ini sekarang. Sebagian lagi telah mengalami pelepasan secara dramatis dari dosa yang menjijikan sehingga mereka merasa diri mereka imun terhadapnya. Kedua ekstrim ini berada di luar target. Walau aplikasi pelajaran membutuhkan usaha rohani, kita memiliki di bab enam kitab Roma semua ajaran yang kita butuhkan untuk meluruskan kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika demikian apa yang hendak kita katakan?” tanya Paulus (ay.1). “Bolehkan kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu?” Ia mengantisipasi pertanyaan ini karena beberapa ayat sebelumnya ia berkata, “Dimana dosa bertambah banyak, disana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah” (Rom 5:20). Ia tahu bahwa pernyataan itu akan membawa sebagian orang untuk berpikir: “Kalau Tuhan dimuliakan dalam mengampuni dosa dan kalau kasih karunia bertambah dalam proporsi terhadap dosa, mengapa tidak membuat dosa lebih banyak lagi? Dengan begitu akan ada kasih karunia lebih dan Tuhan akan menerima lebih banyak kemuliaan!” Betapa kesimpulan yang bengkok dan melayani diri sendiri. Bahwa Paulus bahkan menyatakan masalah ini dengan cara ini mengindikasikan bahwa injilnya telah menjadi subyek penyelewengan. Namun berharga untuk dicatat, bahwa Paulus tidak mengambil kembali atau menulis ulang doktrin itu. Bila injil diberitakan dengan benar ia akan selalu menjadi rawan terhadap penafsiran salah ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Dalam pembenaran pekerjaan kita sendiri tidak memiliki tempat sama sekali dan iman yang sederhana dalam Kristus adalah satu-satunya yang diperlukan. Dalam penyucian pekerjaan kita sendiri adalah sangat penting, dan Tuhan meminta kita bertarung dan berjaga-jaga dan berdoa dan bertahan dan menanggung sakit dan bekerja keras.&amp;lt;ref&amp;gt;J.C. Ryle, Holiness (Hertfordshire, England: Evangelical Press, 1879, 1979), p. 29.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; — J.C. Ryle}}Paulus dengan keras membantah idenya sendiri bahwa kasih karunia memimpin pada dosa yang lebih jauh: “Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya?” (Rom 6:2). Kematian kita terhadap dosa, seperti Paulus jelaskan di ayat-ayat selanjutnya, terbungkus dalam kesatuan kita dengan Kristus yang tersalib. Waktu kita percaya pada Yesus, kita disatukan dengan-Nya. Transaksi iman terjadi dimana kita selamanya dianggap berada di “dalam Kristus,” yaitu, secara spiritual disatukan dengan-Nya. Kesatuan ini dilambangkan dengan baptisan. Seperti Yesus mati, dimakamkan dan bangkit dalam hidup teguh, baru, begitu pula kita mati bersama-Nya, dimakamkan bersama-Nya oleh baptisan, dan dibangkitkan untuk menjalani hidup baru di jalan yang baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|Setelah membaca bab ini, seorang Kristen muda tapi tulus datang kepada Anda untuk meminta tolong. “Paulus mengatakan diri saya yang lama telah mati dan dikuburkan bersama Kristus,” katanya. “Jadi mengapa saya mereka begitu hidup setiap kali bekas pacar saya mampir?” Bagaimana Anda menjawab? &lt;br /&gt;
* “Kamu pasti mempunyai iblis—mari mengusirnya keluar!” &lt;br /&gt;
* “Saya rasa kamu belum benar-benar diselamatkan.” &lt;br /&gt;
* “Dimana imanmu, saudariku?” &lt;br /&gt;
* “Mungkin diri lamamu sedang berada dalam koma sementara.” &lt;br /&gt;
* “Mari kita lihat pasal enam dan tujuh dari kitab Roma…”}}Analogi alami terdekat dari kesatuan ini adalah pernikahan. Istri saya Clara dan saya memiliki identitas bersama (kami berdua memiliki nama belakang yang sama) dan kami disatukan dalam hati, pikiran, dan tubuh. Kami berbagi sumber-sumber – semua yang saya miliki adalah miliknya, dan sebaliknya. Sebagai hasilnya kami berdua diperkaya (meskipun disinilah analogi ini lemah – kita mendapatkan keuntungan satu sisi dari kesatuan kita dengan Kristus). Clara dan saya memakai cincin yang melambangkan kebenaran yang lebih dalam dari kesatuan kami. Tapi seperti cincin saya tidak membuat saya menikah, begitu juga baptisan tidak membuat saya seorang Kristen. Hal ini datang setelah fakta transaksi iman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Renungkan Roma 6:17-18.''' Kita bukan lagi hamba dosa, tetapi kita adalah masih hamba. Kepada apakah tuan baru Anda memanggil Anda?}}Apa tepatnya arti dari mati terhadap dosa? Saya mati terhadap dosa dalam pengertian bahwa rasa bersalah dan penghukuman yang menyatu dengan dosa (maut) tidak lagi bergelantungan pada saya. Tetapi lebih dari itu, hubungan saya terhadap dosa telah dirubah secara radikal. Sebelum saya dibenarkan, saya tidak tahan tidak berbuat dosa. Sekarang saya tidak lagi di bawah kuasa dosa. ''Hubungan tuan-hamba'' yang sebelumnya ada telah diakhiri selamanya. ''Perhatikan'' bahasa yang dipakai di Roma 6:12-14: “Hendaklah dosa jangan berkuasa lagi…Janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa…Kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa.” Ini adalah bahasa perbudakan dan Paulus berkata hal ini tidak lagi berlaku. Kewajiban kita terhadap dosa telah diakhiri – oleh kematian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kematian kita terhadap dosa melalui penyatuan kita dengan Kristus memiliki implikasi yang jauh. Masalah atau kebiasaan atau ingatan atau rahasia apa pun yang sekarang mempengaruhi pikiran dan perilaku Anda tidak perlu lagi melakukan itu. Mereka dapat berhasil ditolak. Orang yang sebelumnya dikuasai semua itu – diri Anda yang lama – telah mati. Dorongan berbuat dosa ini sekarang bukan lagi majikan Anda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Bukan saya tidak dapat berdosa, tetapi saya dapat tidak berdosa.&amp;quot; — Arthur Wallis}}Lama sebelum ada orang yang mempopulerkan klaim bahwa hanya ada dua jenis orang di dunia ini (contohnya mereka yang tinggal di Oshkosh, Wisconsin dan mereka yang ''berharap'' mereka tinggal di sana), John Owen membuat kasifikasinya sendiri. Ia membedakan antara mereka yang di bawah kuasa dosa dan mereka yang ''mengira'' mereka berada di bawah kuasa dosa. Karena itu seorang pastor mempunyai dua tanggung jawab utama, seperti Owen ungkapkan dalam bahasa di jamannya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# Untuk meyakinkan mereka yang di dalamnya dosa secara nyata menguasai bahwa sungguh itulah posisi dan keadaan mereka.&lt;br /&gt;
# Untuk memuaskan sebagian bahwa dosa tidak memiliki kuasa atas mereka, walaupun dosa itu terus gelisah di dalam mereka dan berperang melawan jiwa mereka; tapi kalau ini tidak bisa dilakukan, adalah tidak mungkin mereka dapat menikmati damai yang solid dan kenyamanan dalam hidup ini.&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''Christian Spirituality ''(Reformed View), p. 58.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Telah menjadi kehormatan bagi saya untuk melihat lebih dari sekali orang-orang mengatasi masalah kebiasaan-kebiasaan buruk dan berkepanjangan melalui pelajaran yang tekun serta aplikasi dari Roma 6. Kita tidak perlu terus menjadi orang-orang kudus yang terpenjara lagi. Sekali kita menyadari bahwa kita telah disatukan dengan Kristus dalam kematian dan kebangkitan-Nya, kita akan melihat Ia telah membuka pintu pelepasan kita lebar-lebar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Diskusi Kelompok ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# Pikirkan kembali ke ilustrasi pembuka tentang orang kudus yang terpenjara. Melambangkan apakah penjara itu? Apakah kuncinya?&lt;br /&gt;
# Konflik batin apa yang mungkin menahan seorang budak untuk berespon pada Proklamasi Emansipasi dicetuskan oleh Lincoln itu? Apa yang dapat menahan orang Kristen dari mengambil kebebasan dalam Kristus?&lt;br /&gt;
# Hal terbesar apakah yang akan kita terima dari Tuhan? (Halaman 61)&lt;br /&gt;
# Perasaan apakah yang Anda pikir orang Amerika alami saat perdamaian diumumkan di akhir Perang Dunia kedua? Apakah perdamaian Anda dengan Allah menimbukan perasaan yang sama di dalam Anda?&lt;br /&gt;
# &lt;br /&gt;
# Menurut s&lt;br /&gt;
# i penulis, apakah kebutuhan terbesar manusia?&lt;br /&gt;
# Bacalah cerita Simon orang Farisi dan perempuan berdosa di Lukas 7:36-50. Apakah perbedaan utama dari keduanya? Dengan yang mana Anda mengidentifikasikan sikap Anda terhadap Kristus?&lt;br /&gt;
# Apakah Anda tersentuh oleh cerita wanita yang melakukan aborsi? Bagaimana?&lt;br /&gt;
# Apakah sikap dan perbuatan dapat menunjukkan seseorang memiliki kesadaran yang dangkal akan pengampunan?&lt;br /&gt;
# Apa maskudnya disatukan dengan Kristus dalam kematian-Nya? Apakah implikasinya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bacaan yang Direkomendasikan ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Men Made New'' by John R.W. Stott (Grand Rapids, MI: Baker Book House, 1966)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Atonement'' by Leon Morris (Downwers Grove, IL: InterVarsity Press, 1984)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Glory of Christ'' by Peter Lewis (Chicago, IL: Moody Press, 1997)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Catatan ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Sukartay</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/The_Fruits_of_Justification_(I)/id</id>
		<title>This Great Salvation/The Fruits of Justification (I)/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/The_Fruits_of_Justification_(I)/id"/>
				<updated>2008-01-11T02:58:31Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Sukartay: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;= Buah-Buah Pembenaran (I) =&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah Anda pernah memperhatikan betapa sedikitnya buku-buku Kristen yang memiliki cover menarik? Oh, ada beberapa, tentu – seperti buku Franky Schaeffer ''A Time for Anger'', dengan lukisan dari Pieter Brueghel “Orang Buta Menuntun Orang Buta.” Lukisan itu begitu menggugah saya sehingga saya mencari kopinya dan membingkainya untuk kantor saya. Dan ada juga gambar-gambar mengagumkan di sampul ''Chronicles of Narnia'' milik C.S. Lewis yang ''siap membawa Anda ke sana''. Salah satu sampul buku yang paling menarik yang pernah saya lihat tampak di sebuah seri pamflet. Illustrasinya menunjukkan seorang pria sedih dan kesepian yang sedang memandang kosong keluar jendela sebuah sel penjara. Saat Anda melihat, Anda menjadi sadar bahwa pintu selnya terbuka di belakangnya. Tetapi ia tidak memperhatikannya. Kalau saja ia menoleh ia akan melihat bahwa ia dapat berjalan keluar seperti orang bebas. Tetapi ia tetap terpenjara karena ketidaktahuannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Renungkan Lukas 4:18-19.''' Apakah Anda menyadari “Proklamasi Emansipasi” ini diberikan kepada Anda?}}Intinya cukup jelas. Banyak orang Kristen – bukan, kebanyakan orang Kristen – adalah seperti pria ini. Secara tragis mereka tidak menyadari kebebasan dan hak-hak lebih yang adalah milik mereka melalui injil Yesus Kristus. Mereka adalah orang-orang kudus yang tidak perlu terpenjara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Ketika Allah mengampuni, Ia mengampuni semua dosa, dosa asal dan dosa sekarang, dosa karena kita melakukan dan dosa karena kita tidak melakukan, dosa rahasia dan dosa terbuka, dosa dalam pikiran, perkataan dan perbuatan… Pengampunan penuh, atau tidak sama sekali, adalah yang Allah ciptakan untuk berikan. Hal ini sesuai dengan kebutuhan manusia. Pemberian ini tidak pernah diambil kembali oleh Allah. Ketika Ia mengampuni, Ia mengampuni selamanya&amp;lt;ref&amp;gt;William S. Plumer, ''The Grace of Christ'' (Philadelphia, PA: Presbyterian Board of Publication, 1853), pp. 201–02.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; — William S. Plumer &amp;quot;Saya harus memperhatikan apa yang saya katakan: tetapi rasul itu berkata, “Allah membuat Dia yang tidak mengenal dosa, menjadi berdosa karena kita, sehingga kita dapat dibenarkan oleh Allah di dalam Dia.” Begitulah kita di mata Allah Bapa, sama seperti Anak Allah sendiri. Biarlah hal itu dianggap bodoh atau emosi, atau luapan perasaan, apa pun, itu adalah penghiburan kita dan hikmad kita; kita tidak peduli pengetahuan lain di dunia selain ini, bahwa manusia telah berdosa dan Allah telah menderita; bahwa Allah telah membuat dirinya sendiri Anak manusia, dan bahwa manusia dibuat kebenaran Allah.”&amp;lt;ref&amp;gt;Ibid., p. 230. &lt;br /&gt;
&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; — Richard Hooker}}Merubah gambaran ini sedikit saja, sejumlah budak terus hidup seperti sebelumnya bahkan setelah Proklamasi Emansipasi. Sebagian mereka tetap berada di kegelapan tentang dimana mereka sekarang berdiri. Sebagian lain, walaupun menyadari kebebasan mereka, tidak pernah berjalan keluar tempat perbudakan karena takut. Kebebasan menuntut keberanian dan membawa bersamanya tanggung jawab yang besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya injil hanya membuat perbedaan kecil dalam hidup orang Kristen yang tak terhitung jumlahnya. Meskipun mereka telah sungguh dibenarkan dan penghukuman telah dibatalkan, masalah yang sama sepertinya mengganggu mereka. Ketakutan, kebiasaan, dan keraguan yang sama yang mengkarakterisasi hidup mereka sebelum mereka percaya Kristus masih tetap memegang kendali. Mengapa? Menurut saya satu alasan terbesar adalah ketidaktahuan. Bagi tidak sedikit orang Kristen, Alkitab masih menjadi buku tertutup. Fakta bahwa warisan besar telah disediakan bagi mereka yang dibenarkan oleh Allah seperti belum menjadi jelas buat mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengetahuan akan Firman Tuhan yang terus bertumbuh adalah sangat vital. Di saat Anda membaca, menghafal dan merenungkan Firman Tuhan, Anda akan mulai merasakan penyediaan yang mengagumkan yang diberikan Allah. Dua bab terakhir dari buku ini akan mengekplorasi buah-buah dari pembenaran kita, warisan kita di dalam Kristus. Sisa keraguan yang masih ada di pikiran kita mengenai tujuan dan takdir Tuhan harus dijelaskan saat kita menginventori keuntungan-keuntungan dari keselamatan yang agung ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Turun dari Kursi Kayu ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gambaran sekitar doktrin pembenaran datang langsung dari pengadilan hukum, seperti yang kita pelajari di bab sebelumnya. Allah, Pemberi hukum dan Hakim dari seluruh bumi, telah mengeluarkan sebuah deklarasi yang membebaskan orang berdosa yang terhukum dari semua kesalahan. Pembenaran memberi kita status baru di hadapan Allah dan mengampuni kita dari semua dosa dan hukumannya. Walaupun kita adalah orang-orang kriminal tertuduh yang sedang menunggu dalam barisan Hukuman Mati yang tidak bisa dihindari, Sang Hakim mengampuni kita dan menghancurkan catatan-catatan kriminal kita. Betapapun mengagumkannya hal ini, ada aspek pembenaran yang bahkan lebih mengagumkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya pernah berada di ruang sidang, dan itu bukanlah tempat yang penuh keceriaan. Anda tidak dapat menjadi diri Anda sendiri. Adalah tidak pantas untuk tertawa keras atau mengangkat kaki Anda. Tidak seorang pun berpikir untuk bertemu hakim setelah sidang untuk makan es krim ataupun menonton pertandingan bola basket. Ada peraturan perilaku tertentu yang harus dipertahankan, formal dan mengintimidasi – dan memang dimaksudkan begitu. Hal ini tidak kurang benar di hadirat Hakim yang berdaulat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|Buka hampir di bagian mana saja dari Alkitab Anda dan Anda akan menemukan janji-janji menakjubkan dari Tuhan. Tandai satu dari yang di bahwa ini yang paling berarti buat Anda saat ini. * “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau” (Ibr 13:5). * “Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu” (1Kor 10:13) * “Barangsiapa percaya kepada-Ku akan melakukan pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa” (Yoh 14:12) * “Ia yang memulai pekerjaan yang baik diantara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus” (Flp 1:6) * “Kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris” (Gal 4:7).}}Tetapi ada perbedaan yang sangat besar antara pengadilan di surga dan di bumi. Setelah menyatakan kita bebas dari segala tuduhan dan penghakiman, Tuhan memilih untuk ''tidak'' pergi ke ruangan-Nya, seperti yang dikira. Tetapi, Ia mendobrak semua standard dengan turun dari bangku kayu, mengumpulkan kita di tangan-Nya, dan lalu menggendong kita dari ruang sidang ke ruang keluarga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memiliki Allah sebagai Bapa kita adalah sungguh mengagumkan. Firman Tuhan telah menjelaskan bahwa kita berhubungan dengan Tuhan dengan intim dan secara legal. Bukan itu saja, tetapi untuk menjadi anak-anak-Nya mendatangkan hak-hak khusus. Paulus mendeskripsikannya seperti ini: “Roh itu bersaksi bersam-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah. Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris – orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus” (Rom 8:17).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara pembenaran bagi kita adalah pemberian gratis, pembenaran itu dibayar Allah dengan Anak-Nya. Pembenaran itu dibayar oleh nyawa Anak-Nya. Dan pembenaran itu dibayar oleh keangkuhan kita, karena satu-satunya cara untuk menerima pemberian ini adalah dengan datang kepada Tuhan dalam kerendahan hati dan pertobatatan iman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Apa Semua Ini ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' “Kekayaan” apakah yang Paulus deskripsikan di Kolose 2:2-3? Dimanakah “harta“ itu berada? Apakah Anda telah sepenuhnya mengambil keuntungan dari warisan ini?}}Anak Allah, Ahli Waris Allah, Ahli Waris bersama Kristus. Apa arti semua itu? Mari kita bangun satu fakta penting. Yesus Kristus, Anak tunggal Allah, adalah ahli waris Bapa yang sah dan sebenarnya. Kalau ada warisan yang kita miliki itu hanya karena kita berada di “dalam Kristus” (Ef 2:7). Apalagi, Kristus sendiri adalah warisan ini. Dia adalah damai kita, Dia adalah kebenaran kita, pengharapan kita, penyucian dan penebusan kita. Di dalam Dia tersembunyi semua harta hikmad dan pengetahuan. Dialah kebangkitan dan hidup. Hal terbesar yang kita akan pernah terima dari Allah adalah Yesus sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adalah juga penting untuk memahami bahwa keselamatan datang bukan melalui sebuah doktrin melainkan melalui sebuah Individu. Kita tidak diselamatkan oleh pembenaran, tetapi oleh Yesus. Waktu kita mengambil waktu untuk mempelajari Firman Tuhan kita menghadapi resiko menjadi seorang ahli doktrin tetapi tidak kompeten dalam pengetahuan sejati akan Tuhan kita. Dan mengenal Tuhan adalah segalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Bagaimana seseorang yang hidup melalui pengalaman tercatat di 2 Korintus 11:23-33 bisa menulis Roma 15:13??}}Seorang kawan saya mengatakan pada saya cerita berikut ini tentang Scott McGregor, orang Kristen berdedikasi dan seorang pelempar bola baseball kidal yang terkenal untuk Baltimore Orioles di tahun 70 dan 80an. Suatu ketika, di satu momen genting di dalam permainan, Scott menemukan dirinya berhadapan dengan seorang pemukul bola berbahaya dengan orang-orang pencetak angka. Ia mengambil waktu cukup untuk mempelajari situasi ketika seorang wanita tidak sabar di kotak tempat duduk di belakang kandang pemain Orioles berteriak, “Yesus Kristus! Lempar bolanya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Baca Matius 7:21-23 dan jawab pertanyaan-pertanyaan berikut: * Hal-hal terpuji apakah yang orang-orang ini capai? * Apakah empat kata penilaian Tuhan terhadap mereka? * Dalam satu kalimat, bagaimana Anda akan merangkum kesalahan fatal mereka?}}Bukan tidak umum untuk mendengar nama Tuhan digunakan sembarangan di permainan bola. Tetapi dalam peristiwa ini McGregor begitu tersentak sehingga ia hampir kehilangan konsentrasi. Setelah mengembalikan dirinya sendiri, ia dapat melempar dengan benar dan pemukulan bola berakhir. Lalu ia melakukan sesuatu yang sangat berbeda, sesuatu yang seharusnya tidak boleh dilakukan oleh pemain. Ketika ia berjalan kembali ke kandang pemain ia menatap langsung ke wanita tadi dan bicara dengannya. Dalam nada yang terganggu namun lembut, penuh keprihatinan terhadap wanita itu dan Tuhannya, ia berkata, “Ibu, kalau kamu sungguh mengenal Dia, kamu tidak akan pernah menyebut nama-Nya seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
McGregor mendemonstrasikan bahwa Kekristenan adalah lebih dari sekedar sebuah kebenaran untuk dipercayai. Kekristenan adalah sebuah kehidupan untuk dijalani dan, di atas segalanya, satu Tuhan untuk dicintai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu memikirkan sesuatu seluas, seajaib warisan yang kita miliki di dalam Kristus, digambarkan Paulus sebagai “kekayaan kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah” (Ef 2:7), sangat sulit untuk mengetahui dimana harus mulai. Menariknya, Paulus juga memiliki masalah yang sama. Di dalam suratnya kepada jemaat di Efesus, ia begitu terbawa oleh implikasi pembenaran yang begitu besar. Saat ia berusaha menghubungkan semua yang Tuhan telah lakukan dan sedang lakukan di pasal pertama, ia mulai dengan kalimat di ayat tiga yang berakhir sampai sebelas ayat kemudian. Secara tata bahasa memang tidak cantik, namun hatinya yang penuh mengalir memberi kesaksian akan anugerah Tuhan yang tidak terselami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perikop berikut dari surat Paulus kepada jemaat di Roma menyediakan titik mula yang sangat bagus “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus. Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah” (Rom 5:1-2). John Stott menjelaskan pentingnya perikop ini:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Pasal-pasal awal dari [kitab Roma] didedikasikan untuk kebutuhan dan jalan pembenaran. Semua itu bertujuan menjelaskan bahwa semua manusia adalah berdosa di bawah penghakiman Allah yang adil, dan dapat dibenarkan hanya melalui penebusan yang di dalam Yesus Kristus – melalui anugerah semata, melalui iman saja. Di poin ini, setelah membeberkan kebutuhan dan penjelasan jalan pembenaran, Paulus meneruskan dengan menggambarkan buah-buahnya, hasil dari pembenaran dalam hidup sebagai anak dan ketaatan di dunia dan kehidupan lanjut yang penuh kemuliaan di surga (penekanan ditambahkan).&amp;lt;ref&amp;gt;John R.W. Stott, ''Men Made New'' (Grand Rapids, MI: Baker Book House, 1966, 1991), pp. 9–10.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bab ini akan melihat tiga buah dari pembenaran: damai dengan Allah, pengampunan dosa, dan proses penyucian. Di bab terakhir buku ini kita akan mengkaji pengadopsian kita di dalam Kristus serta pengharapan kita akan kemuliaan di masa depan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Damai dengan Allah ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perdamaian dengan Allah menggarisbawahi semua yang lain yang kita terima dalam Kristus. Perdamaian ini adalah hadiah yang menaruh berkat-berkat lain dalam perspektif. “Urusan utama dari injil Kristen adalah bukan untuk memberi kita berkat,” tulis D. Martyn Lloyd-Jones. “Tujuan utamanya adalah untuk mendamaikan kita dengan Allah.”&amp;lt;ref&amp;gt;D. Martyn Lloyd-Jones, ''Romans: Assurance, Chapter Five'' (Grand Rapids, MI: Zondervan Publishing House, 1971), p. 10.&amp;lt;/ref&amp;gt; Berdamai dengan Allah berarti kita berada di posisi perujukan dengan-Nya. Pernyataan pembenaran telah menjauhkan semua halangan antara Allah dan manusia. Walau tentu saja ada yang namanya damai ''dari'' Allah yang subyektif (yang bisa dirasakan), apa yang ada di benak Paulus dalam Roma 5:1 adalah fakta ''obyektif'' bahwa injil telah menghapuskan segala sesuatu yang memisahkan kita dari Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Renungkan Efesus 2:11-20.''' Apa yang Yesus lakukan terhadap penghalang permusuhan yang berdiri diantara diri-Nya dan kita?}}Untuk mendamaikan berarti menyatukan apa yang telah terpisah karena pemusuhan. Contoh utama dari arti ini ditemukan di kotbah Stefen kepada Sanhedrin ketika ia menceritakan kembali peristiwa kehidupan Musa: “Pada keesokan harinya ia muncul pula ketika dua orang Israel sedang berkelahi, lalu ia berusaha ''mendamaikan'' mereka, katanya: Saudara-saudara! Bukankah kamu ini bersaudara? Mengapakah kamu saling menganiaya?” (Kis 7:26). Versi Alkitab King James menerjemahkan “mendamaikan” di konteks ini menjadi “membuat mereka satu kembali.” Kata Yunani yang dipakai adalah bentuk kata kerja dari kata yang biasa diterjemahkan “damai.” Apa yang penting bagi kita untuk diingat adalah bahwa sekarang, dari titik pandang Allah, tidak ada lagi permusuhan antara Allah dan mereka yang telah dibenarkan. Amarah dan murka-Nya terhadap dosa telah diekspresikan dengan adil dan dipuaskan penuh di Salib. Perseteruan telah berakhir. Perdamaian telah dibuat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak hanya konflik telah diselesaikan, tetapi semua masalah hukum yang berasal dari permusuhan sebelumnya telah dihapuskan, tidak pernah muncul lagi: “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi merkea yang ada di dalam Kristus Yesus…Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Allah, yang membenarkan mereka?” (Rom 8:1,33). Kalau pengadilan tertinggi di jagad raya ini telah menyatakan kita benar, tidak ada gugatan yang bisa menempel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Ketika perang suci kita dengan Allah berakhir, ketika kita seperti Luther berjalan melalui pintu-pintu Surga, ketika kita dibenarkan oleh iman, perang itu berakhir untuk selamanya. Dengan pembersihan dari dosa dan pernyataan pengampunan ilahi kita memasuki perjanjian damai dengan Allah yang kekal. Buah sulung dari pembenaran kita adalah damai dengan Allah. Damai ini adalah damai yang kudus, damai yang tidak bercacat dan agung. Damai ini adalah damai yang tidak bisa dihancurkan.&amp;lt;ref&amp;gt;R.C. Sproul, ''The Holiness of God'' (Wheaton, IL: Tyndale House Publishers, 1985), p. 193.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; — R.C. Sproul}}Berhati-hatilah bahwa frase “tidak ada penghukuman” ''tidak'' berarti “tidak ada tuduhan.” Kita telah menyinggungnya di bab pertama. Musuh jiwa kita meneruskan pekerjaan kotornya menyebarkan kata-kata yang melecehkan dan menembakan anak panah api, dan sering terjadi kita salah mengira pembetulan dan teguran Tuhan sebagai suara tuduhan iblis. Tetapi kenyataan bahwa Yesus telah mengambil tempat kita berarti kita tidak akan pernah harus berhadapan dengan penghukuman di penghakiman akhir. “Siapakah yang akan menghukum mereka? Kristus Yesus, yang telah mati? Bahkan lebih lagi: yang telah bangkit, yang juga duduk di sebelah kanan Allah, yang malah menjadi Pembela bagi kita?” (Rom 8:34). Dia yang satu-satunya memiliki otoritas untuk menghukum untuk selamanya telah memihak pada kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|Bayangkan Anda sendiri memerintah sebuah bangsa berjumlah lima milyar orang. Sebuah berita mengatakan bahwa ada seorang warga yang mengadakan pemberontakan dan sedang membuat kekacauan di istana. Bukannya mengirim divisi tank bersenjata untuk menghentikan orang gila itu, Anda mengirim Pangeran. Dalam usaha menggapai si pemberontak, sang Pangeran terbunuh. Bagaimana Anda akan memperlakukan warga ini setelah ia ditangkap? * Musnahkan ia selamanya dari kerajaan * Membakar ia perlahan-lahan di atas api menyala * Menggantungnya dari pohon tertinggi di kota * Hukum dia dengan hidup dalam isolasi * Menjadikannya makanan bagi ular piton kerajaan * Mengampuninya, menerimanya, dan mengadopsinya menjadi anak Anda.}}Mengetahui kita telah didamaikan dengan Allah membawa ketenangan bagi pikiran kita. Ini memampukan kita untuk mengalahkan rasa kuatir dan takut. Bahkan bila seluruh dunia melawan kita, kita tetap aman dalam Kristus. “Janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi,” Yesus menjelaskan kepada murid-murid-Nya, yang telah ditetapkan untuk menghadapi perlawanan hebat. “Aku akan menunjukkan kepadamu siapakah yang harus kamu takuti. Takutilah Dia, yang setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka” (Luk 12:4, 5). Allah, satu-satunya yang berharga untuk kita takuti, telah berinisiatif mengadakan perjanjian damai kekal dengan kita. Untuk orang Kristen yang dibangun di dalam kebenaran ini, bahkan ketakutan akan maut dikalahkan karena ancaman penghukuman tidak lagi eksis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Pengampunan Dosa-Dosa ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Renungkan Keluaran 34:5-7.''' Dalam kesadaran akan semua kualitas karakter Allah, apakah Anda menganggap penting bahwa Ia memilih untuk menekankan sifat-sifat ini ketika Ia menyatakan diri kepada Musa?}}Berhubungan erat dengan perujukan dan damai dengan Allah adalah pengampunan dosa. Saya mungkin berlebihan, tetapi kelihatannya bagi saya kebenaran berharga ini berada dalam bahaya untuk dibenci. Ketika orang meratap. “Saya tahu saya telah diampuni, tetapi…,” saya tidak tahan untuk berpikir, ''Kamu tidak tahu bahwa kamu telah diampuni! Kalau kamu sungguh mengerti pengampunan masalahmu tidak akan terlihat seburuk itu.'' Seperti Lloyd-Jones implikasikan di dalam pernyatannya di halaman 63, kebutuhan terbesar manusia adalah pengampunan. Dan kalau Tuhan sudah mengampuni kita, masalah lain apapun yang kita punya pasti menjadi lebih kecil kalau dibandingkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang ini jarang terdengar orang-orang Kristen bersukacita karena diampuni Allah. Hal ini dapat dipahami di kultur yang memandang nilai diri yang rendah sebagai masalah yang lebih besar daripada diasingkan dari Allah. Namun kepekaan kita akan pengampunan secara langsung mempengaruhi kasih kita terhadap Allah. Itulah inti dari respon Tuhan terhadap Simon orang Farisi yang merasa diri benar. “Orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih,” kata Yesus padanya (Luk 7:47). Sebaliknya, mereka yang telah diampuni banyak – atau setidaknya menyadari betapa banyak mereka telah diampuni – banyak berbuat kasih. Setiap dari kita harus berada di kategori itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Apakah keraguan-keraguan ini menyebabkan Anda mempertanyakan pengampunan Allah? (tandai semua yang cocok) &lt;br /&gt;
* Tuhan tidak dapat terus menerus mengampuni saya untuk dosa yang sama. &lt;br /&gt;
* Saya mungkin telah diampuni, tetapi Tuhan belum melupakan. &lt;br /&gt;
* Tidak ada yang gratis di dalam hidup – Tuhan pasti mengharapkan sesuatu bentuk pembayaran. &lt;br /&gt;
* Saya bersalah atas dosa yang tidak dapat diampuni. &lt;br /&gt;
* Setelah dosa nomor 491 Tuhan akan menolak saya (lihat Mat 18:22).}}Pertimbangkan berikut ini:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Pengampunan dosa datang kepada kita hanya atas dasar darah Yesus Kristus yang tercurah. “Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya” (Ef 1:7).&lt;br /&gt;
* Motif Tuhan mengampuni kita adalah kasih-Nya yang besar. Pengampunan-Nya adalah pekerjaan belas kasih dan cuma-cuma. “Dialah yang telah ditinggikan oleh Allah dengan tangan kanan-Nya menjadi Pemimpin dan Juruselamat, supaya Israel dapat bertobat dan menerima pengampunan dosa” (Kis 5:31)—dan orang bukan Israel juga.&lt;br /&gt;
* Pengampunan dosa membawa kepada pengetahuan keselamatan. Yesus datang “untuk memberikan kepada umat-Nya pengertian akan keselamatan yang berdasarkan pengampunan dosa-dosa mereka” (Luk 1:77).&lt;br /&gt;
* Memahami pengampunan membawa kepada rasa takut yang benar akan Allah. “Jika Engkau, ya Tuhan, mengingat-ingat kesalahan-kesalahan, Tuhan, siapakah yang dapat tahan? Tetapi pada-Mu ada pengampunan, supaya Engkau ditakuti orang” (Mzm 130:3-4).&lt;br /&gt;
* Pengampunan Tuhan adalah menyeluruh. “Aku, Akulah Dia yang menghapus dosa pemberontakanmu oleh karena Aku sendiri, dan Aku tidak mengingat-ingat dosamu” (Yes 43:25).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cerita berikut ini, diceritakan oleh Becky Pippert di dalam bukunya Hope Has Its Reasons, menunjukkan kekuatan pengampunan di dalam hidup seorang wanita. Berharga untuk dikutip secara panjang:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Beberapa tahun yang lalu setelah saya selesai berbicara di sebuah konferensi, seorang wanita cantik datang ke podium. Ia tentu saja ingin bicara pada saya dan di saat saya berbalik menghadapnya, air mata keluar dari matanya. Kami pindah ke ruang dimana kami bisa bicara secara pribadi. Sangat jelas dari melihatnya bahwa ia sensitif tapi menderita. Ia menangis selagi ia mengatakan pada saya cerita berikut ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Dalam hubungan terhadap dosa dan terhadap Tuhan, faktor penentu dari eksistansi saya bukanlah lagi masa lalu saya. Melainkan masa lalu Kristus.&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''Christian Spirituality (Reformed View)'', Donald Alexander, ed. (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1988), p. 57.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; — Sinclair Ferguson}}“Bertahun-tahun sebelumnya, ia dan tunangannya (yang sekarang ia nikahi) merupakan pekerja remaja di sebuah gereja konservatif besar. Mereka adalah pasangan yang cukup dikenal dan memiliki pengaruh yang luar biasa terhadap anak-anak muda. Semua orang menghormati mereka dan sangat mengagumi mereka. Beberapa bulan sebelum mereka menikah mereka mulai melakukan hubungan seks. Hal itu membebankan mereka dengan rasa bersalah dan kemunafikan. Tapi lalu ia menemukan dirinya hamil. ‘Anda tidak dapat membayangkan apa implikasi dari mengakui hal ini kepada gereja,’ katanya. ‘Mengaku bahwa kami mengajarkan satu hal dan menjalani hal yang lain adalah tidak bisa ditoleransi. Jemaat ini sangat konservatif dan tidak pernah disentuh oleh skandal apapun. Kami merasa mereka tidak akan dapat menangani keadaan bila mengetahui situasi kami. Kamipun tidak akan dapat menanggung rasa malu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Baca Yesaya 59. Bagaimana Tuhan berespon terhadap kekurangan kita akan kekudusan yang begitu besar? (lihat ayat 16 dan 20)}}‘Lalu kami membuat keputusan yang paling mengerikan yang saya pernah buat. Saya menggugurkan kandungan. Hari pernikahan saya adalah hari terburuk dalam seluruh hidup saya. Setiap orang di gereja tersenyum pada saya, berpikir saya adalah pengantin perempuan bersinar dalam kepolosan. Tetapi tahukah Anda apa yang berada di kepala saya di saat saya berjalan di menuju altar? Yang dapat saya katakan pada diri saya adalah, ‘Kamu adalah seorang pembunuh. Kamu terlalu sombong sehingga tidak dapat menanggung rasa malu dan penghinaan bila kamu membuka siapa dirimu. Tetapi saya tahu siapa kamu dan Tuhan juga. Kamu telah membunuh bayi yang tidak bersalah.’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ia menangis begitu dalam sehingga ia tidak dapat berbicara. Saat saya memeluknya sebuah pemikiran datang pada saya dengan sangat kuat. Tapi saya merasa takut untuk mengatakannya. Saya tahu kalau ini bukan dari Tuhan bahwa ini dapat sangat menghancurkan. Maka saya berdoa dalam hati untuk hikmad untuk menolongnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ia melanjutkan. ‘Saya tidak percaya bahwa saya melakukan sesuatu yang begitu mengerikan. Bagaimana bisa saya membunuh nyawa yang tidak bersalah? Bagaimana mungkin saya bisa melakukan hal seperti itu? Saya mencintai suami saya, kami memiliki empat anak yang manis. Saya tahu Alkitab mengatakan bahwa Tuhan mengampuni semua dosa-dosa kita. Tapi saya tidak dapat mengampuni diri saya sendiri! Saya telah mengaku dosa ini beribu kali dan saya masih merasakan rasa malu dan menderita itu. Pikiran yang paling menghantui saya adalah ''bagaimana'' saya dapat membunuh nyawa yang tidak bersalah?’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya mengambil nafas dalam dan mengatakan apa yang telah saya pikirkan. ‘Saya tidak tahu mengapa kamu begitu terkejut. Ini bukan pertama kali dosamu membawa kematian, ini adalah yang kedua.’ Ia melihat saya dengan penuh kebingungan. ‘Temanku sayang,’ saya melanjutkan, ‘ketika kamu melihat Salib, semua dari kita datang sebagai penyalib. Beragama atau tidak beragama, baik atau buruk, penggugur kandungan atau bukan penggugur kandungan – semua dari kita bertanggung jawab atas kematian dari satu-satunya orang tak bersalah yang pernah hidup. Yesus mati untuk dosa-dosa kita – masa lalu, sekarang, dan masa depan. Kamu pikir ada dosa-dosamu yang Yesus tidak perlu mati untuknya? Dosa kesombongan itu yang menyebabkan kamu menghancurkan anakmu adalah yang membunuh Kristus juga. Tidak peduli kamu tidak berada di sana dua ribu tahun yang lalu. Kita semua mengirim-Nya ke sana. Luther berkata bahwa kita membawa paku-paku-Nya itu di saku kita. Jadi kalau kamu telah melakukannya sebelumnya, lalu mengapa kamu tidak bisa melakukannya lagi?’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Renungkan Mazmur 32:1-5.''' Apa yang terjadi waktu kita menyimpan dosa-dosa kita? Apa yang terjadi waktu kita mengakuinya?}}“Ia berhenti menangis. Ia melihat saya tepat di mata dan berkata, ‘Kamu sangat benar. Saya telah melakukan yang lebih buruk daripada membunuh bayi saya sendiri. Dosa sayalah yang telah membawa Yesus ke kayu Salib. Tidak peduli saya tidak berada di sana menancapkan paku, saya tetap bertanggung jawab atas kematian-Nya. Sadarkah Anda pentingnya ucapan yang Anda katakan pada saya, Becky? Saya datang pada Anda mengatakan saya telah melakukan hal terburuk yang bisa dibayangkan. Dan Anda mengatakan pada saya bahwa saya telah melakukan lebih buruk dari itu.’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|Apakah Anda menemukan diri Anda dibebani oleh rasa bersalah ketika Anda mengingat sebuah dosa (atau dosa-dosa) spesifik dari masa lalu? Kalau begitu, carilah seorang Kristen yang dewasa yang kepadanya Anda dapat mengaku dan yang darinya Anda dapat menerima penguatan tentang besarnya pengampunan Tuhan. Tulislah keinginan Anda itu: “Percaya bahwa Tuhan ingin saya untuk melepaskan saya dari rasa bersalah, saya akan berbicara kepada __________________ tentang area dosa ini tidak lebih dari ______ ___________.”}}“Saya menyeringai karena saya tahu itu adalah benar. (Saya tidak yakin bahwa pendekatan saya akan menjadi salah satu teknik konseling yang hebat!) Lalu ia berkata, ‘Tapi Becky, kalau Salib menunjukkan saya bahwa saya adalah lebih buruk daripada yang saya pernah bayangkan, Salib itu juga menunjukkan bahwa kejahatan saya telah diserap dan diampuni. Kalau hal terburuk yang manusia dapat lakukan adalah membunuh Anak Allah, dan itu dapat diampuni, lalu bagaimana bisa hal lain – bahkan aborsi – tidak diampuni?’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya tidak akan pernah lupa rupa di matanya ketika ia duduk kembali dalam kekaguman dan dengan tenang berkata, ‘Bicara tentang anugerah yang besar.’ Kali ini ia menangis bukan karena penderitaan tapi karena rasa lega dan syukur. Saya melihat wanita yang sepenuhnya telah ditransform oleh pengertian yang benar akan Salib.”&amp;lt;ref&amp;gt;Rebecca Pippert, ''Hope Has Its Reasons'' (New York: HarperCollins Publishers, Inc., 1989), pp. 102–104.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengampunan dosa adalah isu yang sangat penting. Ahli teologi English Puritan, John Owen, menulis sebuah essay tentang topik yang masih dianggap sebuah klasik. Eksposisi dari Mazmur 130 ini panjangnya lebih dari tiga ratus halaman, meskipun mazmur itu sendiri hanya terdiri dari delapan ayat. Pendahuluan dari editor memberikan beberapa masukan mengenai keadaan sekitar penulisan eksposisi itu. Sepertinya sebagai seorang pemuda Owen hanya memiliki pemahaman yang dangkal akan pengampunan Tuhan, “sampai Tuhan berkenan menengok saya dengan kesulitan yang menyakitkan, dimana saya dibawa ke mulut kubur, dan dimana jiwa saya tertekan oleh rasa ketakutan dan kegelapan; tapi Tuhan dengan murah hati membebaskan roh saya oleh aplikasi penuh kuasa dari Mazmur 130:4 yang darinya saya peroleh ajaran khusus, kedamaian dan penghiburan, dalam mendekat kepada Tuhan melalui Mediator, dan mengkotbahkannya langsung setelah saya sembuh.”&amp;lt;ref&amp;gt;John Owen, ''Works, Vol. VI'' (Carlisle, PA: The Banner of Truth Trust, 1967), p. 324.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Ketika kamu menyadari semua yang dibayar Tuhan untuk mengampunimu, kamu akan dipegang seperti seorang sahabat, dibatasi oleh kasih Allah.&amp;lt;ref&amp;gt;Oswald Chambers, My Utmost for His Highest (New York: Dodd, Mead &amp;amp; Company, 1963), p. 325.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot;}}Mazmur 130:4, seperti kita lihat di atas, menunjukkan bahwa takut akan Tuhan adalah pertumbuhan natural dari penerimaan akan pengampunan-Nya. Pada saat kita muda dan sehat masalah lain dapat terlihat begitu lebih penting. Tapi saat mata kita terbuka pada hal-hal yang bersifat kekal, mengetahui apakah kita sungguh diampuni akan membuat masalah-masalah lain menjadi tidak penting.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Penyucian melalui Kristus ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pembenaran memulai proses yang disebut penyucian, dimana kita makin menjadi serupa dengan Yesus. Sementara pembenaran membuat kita diampuni dan dikasihi, pembenaran tidak berbuat apa-apa terhadap karakter kita. Kita tetap orang pemberontak yang sama sebelum Tuhan menyelamatkan kita. Akan tragis jadinya jika Tuhan membiarkan kita sendiri. Kita tidak akan pernah bertumbuh, tidak pernah berubah, tidak pernah meningkat. Untungnya, meskipun Tuhan mengasihi kita apa adanya, Ia terlalu mengasihi kita untuk meninggalkan kita di sana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pusat doktrin penyucian adalah kebenaran bahwa kita disatukan dengan Yesus Kristus. Di dalam bukunya ''Men Made New'', John Stott membuat pengamatan berikut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:“Tema besar Roma 6, dan khususnya ayat 1-11, adalah bahwa kematian dan kebangkitan Yesus Kristus bukanlah hanya fakta sejarah dan doktrin penting, melainkan pengalaman pribadi orang Kristen yang percaya. Pengalaman-pengalaman tersebut adalah peristiwa-peristiwa yang kita sendiri alami. Semua orang Kristen telah disatukan dengan Kristus di dalam kematian dan kebangkitan-Nya. Selanjutnya, kalau ini benar, jika kita telah mati dengan Kristus dan dibangkitkan dengan Kristus, adalah tidak terbayangkan bahwa kita terus hidup dalam dosa.”&amp;lt;ref&amp;gt;John R.W. Stott, ''Men Made New'', p. 30.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin Anda berpikir ulang saat Anda melihat kata “tidak terbayangkan.” Kebanyakan kita menemukan tidak terbayangkan kalau kita dapat mungkin terus hidup ''diluar'' dosa! Apakah kemenangan atas dosa sebenarnnya mungkin?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut: Baca 1 Korintus 15:51-58.''' Meskipun perikop ini mengacu pada masa yang akan datang, bagaimana kebenaran ini dapat menguatkan Anda dalam pergumulan Anda melawan dosa?}}Inilah dua jawaban yang umum. Sebagian mengatakan orang Kristen dapat mengharapkan hidup kemenangan di dunia akan datang, tetapi harus memasang penglihatan lebih rendah di dunia ini sekarang. Sebagian lagi telah mengalami pelepasan secara dramatis dari dosa yang menjijikan sehingga mereka merasa diri mereka imun terhadapnya. Kedua ekstrim ini berada di luar target. Walau aplikasi pelajaran membutuhkan usaha rohani, kita memiliki di bab enam kitab Roma semua ajaran yang kita butuhkan untuk meluruskan kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika demikian apa yang hendak kita katakan?” tanya Paulus (ay.1). “Bolehkan kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu?” Ia mengantisipasi pertanyaan ini karena beberapa ayat sebelumnya ia berkata, “Dimana dosa bertambah banyak, disana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah” (Rom 5:20). Ia tahu bahwa pernyataan itu akan membawa sebagian orang untuk berpikir: “Kalau Tuhan dimuliakan dalam mengampuni dosa dan kalau kasih karunia bertambah dalam proporsi terhadap dosa, mengapa tidak membuat dosa lebih banyak lagi? Dengan begitu akan ada kasih karunia lebih dan Tuhan akan menerima lebih banyak kemuliaan!” Betapa kesimpulan yang bengkok dan melayani diri sendiri. Bahwa Paulus bahkan menyatakan masalah ini dengan cara ini mengindikasikan bahwa injilnya telah menjadi subyek penyelewengan. Namun berharga untuk dicatat, bahwa Paulus tidak mengambil kembali atau menulis ulang doktrin itu. Bila injil diberitakan dengan benar ia akan selalu menjadi rawan terhadap penafsiran salah ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Dalam pembenaran pekerjaan kita sendiri tidak memiliki tempat sama sekali dan iman yang sederhana dalam Kristus adalah satu-satunya yang diperlukan. Dalam penyucian pekerjaan kita sendiri adalah sangat penting, dan Tuhan meminta kita bertarung dan berjaga-jaga dan berdoa dan bertahan dan menanggung sakit dan bekerja keras.&amp;lt;ref&amp;gt;J.C. Ryle, Holiness (Hertfordshire, England: Evangelical Press, 1879, 1979), p. 29.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; — J.C. Ryle}}Paulus dengan keras membantah idenya sendiri bahwa kasih karunia memimpin pada dosa yang lebih jauh: “Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya?” (Rom 6:2). Kematian kita terhadap dosa, seperti Paulus jelaskan di ayat-ayat selanjutnya, terbungkus dalam kesatuan kita dengan Kristus yang tersalib. Waktu kita percaya pada Yesus, kita disatukan dengan-Nya. Transaksi iman terjadi dimana kita selamanya dianggap berada di “dalam Kristus,” yaitu, secara spiritual disatukan dengan-Nya. Kesatuan ini dilambangkan dengan baptisan. Seperti Yesus mati, dimakamkan dan bangkit dalam hidup teguh, baru, begitu pula kita mati bersama-Nya, dimakamkan bersama-Nya oleh baptisan, dan dibangkitkan untuk menjalani hidup baru di jalan yang baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|Setelah membaca bab ini, seorang Kristen muda tapi tulus datang kepada Anda untuk meminta tolong. “Paulus mengatakan diri saya yang lama telah mati dan dikuburkan bersama Kristus,” katanya. “Jadi mengapa saya mereka begitu hidup setiap kali bekas pacar saya mampir?” Bagaimana Anda menjawab? &lt;br /&gt;
* “Kamu pasti mempunyai iblis—mari mengusirnya keluar!” &lt;br /&gt;
* “Saya rasa kamu belum benar-benar diselamatkan.” &lt;br /&gt;
* “Dimana imanmu, saudariku?” &lt;br /&gt;
* “Mungkin diri lamamu sedang berada dalam koma sementara.” &lt;br /&gt;
* “Mari kita lihat pasal enam dan tujuh dari kitab Roma…”}}Analogi alami terdekat dari kesatuan ini adalah pernikahan. Istri saya Clara dan saya memiliki identitas bersama (kami berdua memiliki nama belakang yang sama) dan kami disatukan dalam hati, pikiran, dan tubuh. Kami berbagi sumber-sumber – semua yang saya miliki adalah miliknya, dan sebaliknya. Sebagai hasilnya kami berdua diperkaya (meskipun disinilah analogi ini lemah – kita mendapatkan keuntungan satu sisi dari kesatuan kita dengan Kristus). Clara dan saya memakai cincin yang melambangkan kebenaran yang lebih dalam dari kesatuan kami. Tapi seperti cincin saya tidak membuat saya menikah, begitu juga baptisan tidak membuat saya seorang Kristen. Hal ini datang setelah fakta transaksi iman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Renungkan Roma 6:17-18.''' Kita bukan lagi hamba dosa, tetapi kita adalah masih hamba. Kepada apakah tuan baru Anda memanggil Anda?}}Apa tepatnya arti dari mati terhadap dosa? Saya mati terhadap dosa dalam pengertian bahwa rasa bersalah dan penghukuman yang menyatu dengan dosa (maut) tidak lagi bergelantungan pada saya. Tetapi lebih dari itu, hubungan saya terhadap dosa telah dirubah secara radikal. Sebelum saya dibenarkan, saya tidak tahan tidak berbuat dosa. Sekarang saya tidak lagi di bawah kuasa dosa. ''Hubungan tuan-hamba'' yang sebelumnya ada telah diakhiri selamanya. ''Perhatikan'' bahasa yang dipakai di Roma 6:12-14: “Hendaklah dosa jangan berkuasa lagi…Janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa…Kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa.” Ini adalah bahasa perbudakan dan Paulus berkata hal ini tidak lagi berlaku. Kewajiban kita terhadap dosa telah diakhiri – oleh kematian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kematian kita terhadap dosa melalui penyatuan kita dengan Kristus memiliki implikasi yang jauh. Masalah atau kebiasaan atau ingatan atau rahasia apa pun yang sekarang mempengaruhi pikiran dan perilaku Anda tidak perlu lagi melakukan itu. Mereka dapat berhasil ditolak. Orang yang sebelumnya dikuasai semua itu – diri Anda yang lama – telah mati. Dorongan berbuat dosa ini sekarang bukan lagi majikan Anda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Bukan saya tidak dapat berdosa, tetapi saya dapat tidak berdosa.&amp;quot; — Arthur Wallis}}Lama sebelum ada orang yang mempopulerkan klaim bahwa hanya ada dua jenis orang di dunia ini (contohnya mereka yang tinggal di Oshkosh, Wisconsin dan mereka yang ''berharap'' mereka tinggal di sana), John Owen membuat kasifikasinya sendiri. Ia membedakan antara mereka yang di bawah kuasa dosa dan mereka yang ''mengira'' mereka berada di bawah kuasa dosa. Karena itu seorang pastor mempunyai dua tanggung jawab utama, seperti Owen ungkapkan dalam bahasa di jamannya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# Untuk meyakinkan mereka yang di dalamnya dosa secara nyata menguasai bahwa sungguh itulah posisi dan keadaan mereka.&lt;br /&gt;
# Untuk memuaskan sebagian bahwa dosa tidak memiliki kuasa atas mereka, walaupun dosa itu terus gelisah di dalam mereka dan berperang melawan jiwa mereka; tapi kalau ini tidak bisa dilakukan, adalah tidak mungkin mereka dapat menikmati damai yang solid dan kenyamanan dalam hidup ini.&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''Christian Spirituality ''(Reformed View), p. 58.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Telah menjadi kehormatan bagi saya untuk melihat lebih dari sekali orang-orang mengatasi masalah kebiasaan-kebiasaan buruk dan berkepanjangan melalui pelajaran yang tekun serta aplikasi dari Roma 6. Kita tidak perlu terus menjadi orang-orang kudus yang terpenjara lagi. Sekali kita menyadari bahwa kita telah disatukan dengan Kristus dalam kematian dan kebangkitan-Nya, kita akan melihat Ia telah membuka pintu pelepasan kita lebar-lebar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Diskusi Kelompok ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# Pikirkan kembali ke ilustrasi pembuka tentang orang kudus yang terpenjara. Melambangkan apakah penjara itu? Apakah kuncinya?&lt;br /&gt;
# Konflik batin apa yang mungkin menahan seorang budak untuk berespon pada Proklamasi Emansipasi dicetuskan oleh Lincoln itu? Apa yang dapat menahan orang Kristen dari mengambil kebebasan dalam Kristus? &lt;br /&gt;
# Hal terbesar apakah yang akan kita terima dari Tuhan? (Halaman 61)&lt;br /&gt;
# Perasaan apakah yang Anda pikir orang Amerika alami saat perdamaian diumumkan di akhir Perang Dunia kedua? Apakah perdamaian Anda dengan Allah menimbukan perasaan yang sama di dalam Anda?&lt;br /&gt;
# Menurut di penulis, apakah kebutuhan terbesar manusia?&lt;br /&gt;
# Bacalah cerita Simon orang Farisi dan perempuan berdosa di Lukas 7:36-50. Apakah perbedaan utama dari keduanya? Dengan yang mana Anda mengidentifikasikan sikap Anda terhadap Kristus? &lt;br /&gt;
# Apakah Anda tersentuh oleh cerita wanita yang melakukan aborsi? Bagaimana? &lt;br /&gt;
# Apakah sikap dan perbuatan dapat menunjukkan seseorang memiliki kesadaran yang dangkal akan pengampunan?&lt;br /&gt;
# Apa maskudnya disatukan dengan Kristus dalam kematian-Nya? Apakah implikasinya? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bacaan yang Direkomendasikan ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Men Made New'' by John R.W. Stott (Grand Rapids, MI: Baker Book House, 1966)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Atonement'' by Leon Morris (Downwers Grove, IL: InterVarsity Press, 1984)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Glory of Christ'' by Peter Lewis (Chicago, IL: Moody Press, 1997)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Catatan ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Sukartay</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/The_Fruits_of_Justification_(I)/id</id>
		<title>This Great Salvation/The Fruits of Justification (I)/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/The_Fruits_of_Justification_(I)/id"/>
				<updated>2008-01-10T07:36:20Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Sukartay: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;= Buah-Buah Pembenaran (I) =&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah Anda pernah memperhatikan betapa sedikitnya buku-buku Kristen yang memiliki cover menarik? Oh, ada beberapa, tentu – seperti buku Franky Schaeffer ''A Time for Anger'', dengan lukisan dari Pieter Brueghel “Orang Buta Menuntun Orang Buta.” Lukisan itu begitu menggugah saya sehingga saya mencari kopinya dan membingkainya untuk kantor saya. Dan ada juga gambar-gambar mengagumkan di sampul ''Chronicles of Narnia'' milik C.S. Lewis yang ''siap membawa Anda ke sana''. Salah satu sampul buku yang paling menarik yang pernah saya lihat tampak di sebuah seri pamflet. Illustrasinya menunjukkan seorang pria sedih dan kesepian yang sedang memandang kosong keluar jendela sebuah sel penjara. Saat Anda melihat, Anda menjadi sadar bahwa pintu selnya terbuka di belakangnya. Tetapi ia tidak memperhatikannya. Kalau saja ia menoleh ia akan melihat bahwa ia dapat berjalan keluar seperti orang bebas. Tetapi ia tetap terpenjara karena ketidaktahuannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Renungkan Lukas 4:18-19.''' Apakah Anda menyadari “Proklamasi Emansipasi” ini diberikan kepada Anda?}}Intinya cukup jelas. Banyak orang Kristen – bukan, kebanyakan orang Kristen – adalah seperti pria ini. Secara tragis mereka tidak menyadari kebebasan dan hak-hak lebih yang adalah milik mereka melalui injil Yesus Kristus. Mereka adalah orang-orang kudus yang tidak perlu terpenjara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Ketika Allah mengampuni, Ia mengampuni semua dosa, dosa asal dan dosa sekarang, dosa karena kita melakukan dan dosa karena kita tidak melakukan, dosa rahasia dan dosa terbuka, dosa dalam pikiran, perkataan dan perbuatan… Pengampunan penuh, atau tidak sama sekali, adalah yang Allah ciptakan untuk berikan. Hal ini sesuai dengan kebutuhan manusia. Pemberian ini tidak pernah diambil kembali oleh Allah. Ketika Ia mengampuni, Ia mengampuni selamanya&amp;lt;ref&amp;gt;William S. Plumer, ''The Grace of Christ'' (Philadelphia, PA: Presbyterian Board of Publication, 1853), pp. 201–02.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; — William S. Plumer &amp;quot;Saya harus memperhatikan apa yang saya katakan: tetapi rasul itu berkata, “Allah membuat Dia yang tidak mengenal dosa, menjadi berdosa karena kita, sehingga kita dapat dibenarkan oleh Allah di dalam Dia.” Begitulah kita di mata Allah Bapa, sama seperti Anak Allah sendiri. Biarlah hal itu dianggap bodoh atau emosi, atau luapan perasaan, apa pun, itu adalah penghiburan kita dan hikmad kita; kita tidak peduli pengetahuan lain di dunia selain ini, bahwa manusia telah berdosa dan Allah telah menderita; bahwa Allah telah membuat dirinya sendiri Anak manusia, dan bahwa manusia dibuat kebenaran Allah.”&amp;lt;ref&amp;gt;Ibid., p. 230. &lt;br /&gt;
&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; — Richard Hooker}}Merubah gambaran ini sedikit saja, sejumlah budak terus hidup seperti sebelumnya bahkan setelah Proklamasi Emansipasi. Sebagian mereka tetap berada di kegelapan tentang dimana mereka sekarang berdiri. Sebagian lain, walaupun menyadari kebebasan mereka, tidak pernah berjalan keluar tempat perbudakan karena takut. Kebebasan menuntut keberanian dan membawa bersamanya tanggung jawab yang besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya injil hanya membuat perbedaan kecil dalam hidup orang Kristen yang tak terhitung jumlahnya. Meskipun mereka telah sungguh dibenarkan dan penghukuman telah dibatalkan, masalah yang sama sepertinya mengganggu mereka. Ketakutan, kebiasaan, dan keraguan yang sama yang mengkarakterisasi hidup mereka sebelum mereka percaya Kristus masih tetap memegang kendali. Mengapa? Menurut saya satu alasan terbesar adalah ketidaktahuan. Bagi tidak sedikit orang Kristen, Alkitab masih menjadi buku tertutup. Fakta bahwa warisan besar telah disediakan bagi mereka yang dibenarkan oleh Allah seperti belum menjadi jelas buat mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengetahuan akan Firman Tuhan yang terus bertumbuh adalah sangat vital. Di saat Anda membaca, menghafal dan merenungkan Firman Tuhan, Anda akan mulai merasakan penyediaan yang mengagumkan yang diberikan Allah. Dua bab terakhir dari buku ini akan mengekplorasi buah-buah dari pembenaran kita, warisan kita di dalam Kristus. Sisa keraguan yang masih ada di pikiran kita mengenai tujuan dan takdir Tuhan harus dijelaskan saat kita menginventori keuntungan-keuntungan dari keselamatan yang agung ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Turun dari Kursi Kayu ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gambaran sekitar doktrin pembenaran datang langsung dari pengadilan hukum, seperti yang kita pelajari di bab sebelumnya. Allah, Pemberi hukum dan Hakim dari seluruh bumi, telah mengeluarkan sebuah deklarasi yang membebaskan orang berdosa yang terhukum dari semua kesalahan. Pembenaran memberi kita status baru di hadapan Allah dan mengampuni kita dari semua dosa dan hukumannya. Walaupun kita adalah orang-orang kriminal tertuduh yang sedang menunggu dalam barisan Hukuman Mati yang tidak bisa dihindari, Sang Hakim mengampuni kita dan menghancurkan catatan-catatan kriminal kita. Betapapun mengagumkannya hal ini, ada aspek pembenaran yang bahkan lebih mengagumkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya pernah berada di ruang sidang, dan itu bukanlah tempat yang penuh keceriaan. Anda tidak dapat menjadi diri Anda sendiri. Adalah tidak pantas untuk tertawa keras atau mengangkat kaki Anda. Tidak seorang pun berpikir untuk bertemu hakim setelah sidang untuk makan es krim ataupun menonton pertandingan bola basket. Ada peraturan perilaku tertentu yang harus dipertahankan, formal dan mengintimidasi – dan memang dimaksudkan begitu. Hal ini tidak kurang benar di hadirat Hakim yang berdaulat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|Buka hampir di bagian mana saja dari Alkitab Anda dan Anda akan menemukan janji-janji menakjubkan dari Tuhan. Tandai satu dari yang di bahwa ini yang paling berarti buat Anda saat ini. * “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau” (Ibr 13:5). * “Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu” (1Kor 10:13) * “Barangsiapa percaya kepada-Ku akan melakukan pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa” (Yoh 14:12) * “Ia yang memulai pekerjaan yang baik diantara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus” (Flp 1:6) * “Kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris” (Gal 4:7).}}Tetapi ada perbedaan yang sangat besar antara pengadilan di surga dan di bumi. Setelah menyatakan kita bebas dari segala tuduhan dan penghakiman, Tuhan memilih untuk ''tidak'' pergi ke ruangan-Nya, seperti yang dikira. Tetapi, Ia mendobrak semua standard dengan turun dari bangku kayu, mengumpulkan kita di tangan-Nya, dan lalu menggendong kita dari ruang sidang ke ruang keluarga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memiliki Allah sebagai Bapa kita adalah sungguh mengagumkan. Firman Tuhan telah menjelaskan bahwa kita berhubungan dengan Tuhan dengan intim dan secara legal. Bukan itu saja, tetapi untuk menjadi anak-anak-Nya mendatangkan hak-hak khusus. Paulus mendeskripsikannya seperti ini: “Roh itu bersaksi bersam-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah. Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris – orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus” (Rom 8:17).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara pembenaran bagi kita adalah pemberian gratis, pembenaran itu dibayar Allah dengan Anak-Nya. Pembenaran itu dibayar oleh nyawa Anak-Nya. Dan pembenaran itu dibayar oleh keangkuhan kita, karena satu-satunya cara untuk menerima pemberian ini adalah dengan datang kepada Tuhan dalam kerendahan hati dan pertobatatan iman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Apa Semua Ini ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' “Kekayaan” apakah yang Paulus deskripsikan di Kolose 2:2-3? Dimanakah “harta“ itu berada? Apakah Anda telah sepenuhnya mengambil keuntungan dari warisan ini?}}Anak Allah, Ahli Waris Allah, Ahli Waris bersama Kristus. Apa arti semua itu? Mari kita bangun satu fakta penting. Yesus Kristus, Anak tunggal Allah, adalah ahli waris Bapa yang sah dan sebenarnya. Kalau ada warisan yang kita miliki itu hanya karena kita berada di “dalam Kristus” (Ef 2:7). Apalagi, Kristus sendiri adalah warisan ini. Dia adalah damai kita, Dia adalah kebenaran kita, pengharapan kita, penyucian dan penebusan kita. Di dalam Dia tersembunyi semua harta hikmad dan pengetahuan. Dialah kebangkitan dan hidup. Hal terbesar yang kita akan pernah terima dari Allah adalah Yesus sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adalah juga penting untuk memahami bahwa keselamatan datang bukan melalui sebuah doktrin melainkan melalui sebuah Individu. Kita tidak diselamatkan oleh pembenaran, tetapi oleh Yesus. Waktu kita mengambil waktu untuk mempelajari Firman Tuhan kita menghadapi resiko menjadi seorang ahli doktrin tetapi tidak kompeten dalam pengetahuan sejati akan Tuhan kita. Dan mengenal Tuhan adalah segalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Bagaimana seseorang yang hidup melalui pengalaman tercatat di 2 Korintus 11:23-33 bisa menulis Roma 15:13??}}Seorang kawan saya mengatakan pada saya cerita berikut ini tentang Scott McGregor, orang Kristen berdedikasi dan seorang pelempar bola baseball kidal yang terkenal untuk Baltimore Orioles di tahun 70 dan 80an. Suatu ketika, di satu momen genting di dalam permainan, Scott menemukan dirinya berhadapan dengan seorang pemukul bola berbahaya dengan orang-orang pencetak angka. Ia mengambil waktu cukup untuk mempelajari situasi ketika seorang wanita tidak sabar di kotak tempat duduk di belakang kandang pemain Orioles berteriak, “Yesus Kristus! Lempar bolanya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Baca Matius 7:21-23 dan jawab pertanyaan-pertanyaan berikut: * Hal-hal terpuji apakah yang orang-orang ini capai? * Apakah empat kata penilaian Tuhan terhadap mereka? * Dalam satu kalimat, bagaimana Anda akan merangkum kesalahan fatal mereka?}}Bukan tidak umum untuk mendengar nama Tuhan digunakan sembarangan di permainan bola. Tetapi dalam peristiwa ini McGregor begitu tersentak sehingga ia hampir kehilangan konsentrasi. Setelah mengembalikan dirinya sendiri, ia dapat melempar dengan benar dan pemukulan bola berakhir. Lalu ia melakukan sesuatu yang sangat berbeda, sesuatu yang seharusnya tidak boleh dilakukan oleh pemain. Ketika ia berjalan kembali ke kandang pemain ia menatap langsung ke wanita tadi dan bicara dengannya. Dalam nada yang terganggu namun lembut, penuh keprihatinan terhadap wanita itu dan Tuhannya, ia berkata, “Ibu, kalau kamu sungguh mengenal Dia, kamu tidak akan pernah menyebut nama-Nya seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
McGregor mendemonstrasikan bahwa Kekristenan adalah lebih dari sekedar sebuah kebenaran untuk dipercayai. Kekristenan adalah sebuah kehidupan untuk dijalani dan, di atas segalanya, satu Tuhan untuk dicintai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu memikirkan sesuatu seluas, seajaib warisan yang kita miliki di dalam Kristus, digambarkan Paulus sebagai “kekayaan kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah” (Ef 2:7), sangat sulit untuk mengetahui dimana harus mulai. Menariknya, Paulus juga memiliki masalah yang sama. Di dalam suratnya kepada jemaat di Efesus, ia begitu terbawa oleh implikasi pembenaran yang begitu besar. Saat ia berusaha menghubungkan semua yang Tuhan telah lakukan dan sedang lakukan di pasal pertama, ia mulai dengan kalimat di ayat tiga yang berakhir sampai sebelas ayat kemudian. Secara tata bahasa memang tidak cantik, namun hatinya yang penuh mengalir memberi kesaksian akan anugerah Tuhan yang tidak terselami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perikop berikut dari surat Paulus kepada jemaat di Roma menyediakan titik mula yang sangat bagus “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus. Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah” (Rom 5:1-2). John Stott menjelaskan pentingnya perikop ini:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Pasal-pasal awal dari [kitab Roma] didedikasikan untuk kebutuhan dan jalan pembenaran. Semua itu bertujuan menjelaskan bahwa semua manusia adalah berdosa di bawah penghakiman Allah yang adil, dan dapat dibenarkan hanya melalui penebusan yang di dalam Yesus Kristus – melalui anugerah semata, melalui iman saja. Di poin ini, setelah membeberkan kebutuhan dan penjelasan jalan pembenaran, Paulus meneruskan dengan menggambarkan buah-buahnya, hasil dari pembenaran dalam hidup sebagai anak dan ketaatan di dunia dan kehidupan lanjut yang penuh kemuliaan di surga (penekanan ditambahkan).&amp;lt;ref&amp;gt;John R.W. Stott, ''Men Made New'' (Grand Rapids, MI: Baker Book House, 1966, 1991), pp. 9–10.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bab ini akan melihat tiga buah dari pembenaran: damai dengan Allah, pengampunan dosa, dan proses penyucian. Di bab terakhir buku ini kita akan mengkaji pengadopsian kita di dalam Kristus serta pengharapan kita akan kemuliaan di masa depan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Damai dengan Allah ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perdamaian dengan Allah menggarisbawahi semua yang lain yang kita terima dalam Kristus. Perdamaian ini adalah hadiah yang menaruh berkat-berkat lain dalam perspektif. “Urusan utama dari injil Kristen adalah bukan untuk memberi kita berkat,” tulis D. Martyn Lloyd-Jones. “Tujuan utamanya adalah untuk mendamaikan kita dengan Allah.”&amp;lt;ref&amp;gt;D. Martyn Lloyd-Jones, ''Romans: Assurance, Chapter Five'' (Grand Rapids, MI: Zondervan Publishing House, 1971), p. 10.&amp;lt;/ref&amp;gt; Berdamai dengan Allah berarti kita berada di posisi perujukan dengan-Nya. Pernyataan pembenaran telah menjauhkan semua halangan antara Allah dan manusia. Walau tentu saja ada yang namanya damai ''dari'' Allah yang subyektif (yang bisa dirasakan), apa yang ada di benak Paulus dalam Roma 5:1 adalah fakta ''obyektif'' bahwa injil telah menghapuskan segala sesuatu yang memisahkan kita dari Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Renungkan Efesus 2:11-20.''' Apa yang Yesus lakukan terhadap penghalang permusuhan yang berdiri diantara diri-Nya dan kita?}}Untuk mendamaikan berarti menyatukan apa yang telah terpisah karena pemusuhan. Contoh utama dari arti ini ditemukan di kotbah Stefen kepada Sanhedrin ketika ia menceritakan kembali peristiwa kehidupan Musa: “Pada keesokan harinya ia muncul pula ketika dua orang Israel sedang berkelahi, lalu ia berusaha ''mendamaikan'' mereka, katanya: Saudara-saudara! Bukankah kamu ini bersaudara? Mengapakah kamu saling menganiaya?” (Kis 7:26). Versi Alkitab King James menerjemahkan “mendamaikan” di konteks ini menjadi “membuat mereka satu kembali.” Kata Yunani yang dipakai adalah bentuk kata kerja dari kata yang biasa diterjemahkan “damai.” Apa yang penting bagi kita untuk diingat adalah bahwa sekarang, dari titik pandang Allah, tidak ada lagi permusuhan antara Allah dan mereka yang telah dibenarkan. Amarah dan murka-Nya terhadap dosa telah diekspresikan dengan adil dan dipuaskan penuh di Salib. Perseteruan telah berakhir. Perdamaian telah dibuat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak hanya konflik telah diselesaikan, tetapi semua masalah hukum yang berasal dari permusuhan sebelumnya telah dihapuskan, tidak pernah muncul lagi: “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi merkea yang ada di dalam Kristus Yesus…Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Allah, yang membenarkan mereka?” (Rom 8:1,33). Kalau pengadilan tertinggi di jagad raya ini telah menyatakan kita benar, tidak ada gugatan yang bisa menempel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Ketika perang suci kita dengan Allah berakhir, ketika kita seperti Luther berjalan melalui pintu-pintu Surga, ketika kita dibenarkan oleh iman, perang itu berakhir untuk selamanya. Dengan pembersihan dari dosa dan pernyataan pengampunan ilahi kita memasuki perjanjian damai dengan Allah yang kekal. Buah sulung dari pembenaran kita adalah damai dengan Allah. Damai ini adalah damai yang kudus, damai yang tidak bercacat dan agung. Damai ini adalah damai yang tidak bisa dihancurkan.&amp;lt;ref&amp;gt;R.C. Sproul, ''The Holiness of God'' (Wheaton, IL: Tyndale House Publishers, 1985), p. 193.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; — R.C. Sproul}}Berhati-hatilah bahwa frase “tidak ada penghukuman” ''tidak'' berarti “tidak ada tuduhan.” Kita telah menyinggungnya di bab pertama. Musuh jiwa kita meneruskan pekerjaan kotornya menyebarkan kata-kata yang melecehkan dan menembakan anak panah api, dan sering terjadi kita salah mengira pembetulan dan teguran Tuhan sebagai suara tuduhan iblis. Tetapi kenyataan bahwa Yesus telah mengambil tempat kita berarti kita tidak akan pernah harus berhadapan dengan penghukuman di penghakiman akhir. “Siapakah yang akan menghukum mereka? Kristus Yesus, yang telah mati? Bahkan lebih lagi: yang telah bangkit, yang juga duduk di sebelah kanan Allah, yang malah menjadi Pembela bagi kita?” (Rom 8:34). Dia yang satu-satunya memiliki otoritas untuk menghukum untuk selamanya telah memihak pada kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|Bayangkan Anda sendiri memerintah sebuah bangsa berjumlah lima milyar orang. Sebuah berita mengatakan bahwa ada seorang warga yang mengadakan pemberontakan dan sedang membuat kekacauan di istana. Bukannya mengirim divisi tank bersenjata untuk menghentikan orang gila itu, Anda mengirim Pangeran. Dalam usaha menggapai si pemberontak, sang Pangeran terbunuh. Bagaimana Anda akan memperlakukan warga ini setelah ia ditangkap? * Musnahkan ia selamanya dari kerajaan * Membakar ia perlahan-lahan di atas api menyala * Menggantungnya dari pohon tertinggi di kota * Hukum dia dengan hidup dalam isolasi * Menjadikannya makanan bagi ular piton kerajaan * Mengampuninya, menerimanya, dan mengadopsinya menjadi anak Anda.}}Mengetahui kita telah didamaikan dengan Allah membawa ketenangan bagi pikiran kita. Ini memampukan kita untuk mengalahkan rasa kuatir dan takut. Bahkan bila seluruh dunia melawan kita, kita tetap aman dalam Kristus. “Janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi,” Yesus menjelaskan kepada murid-murid-Nya, yang telah ditetapkan untuk menghadapi perlawanan hebat. “Aku akan menunjukkan kepadamu siapakah yang harus kamu takuti. Takutilah Dia, yang setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka” (Luk 12:4, 5). Allah, satu-satunya yang berharga untuk kita takuti, telah berinisiatif mengadakan perjanjian damai kekal dengan kita. Untuk orang Kristen yang dibangun di dalam kebenaran ini, bahkan ketakutan akan maut dikalahkan karena ancaman penghukuman tidak lagi eksis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Pengampunan Dosa-Dosa ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Renungkan Keluaran 34:5-7.''' Dalam kesadaran akan semua kualitas karakter Allah, apakah Anda menganggap penting bahwa Ia memilih untuk menekankan sifat-sifat ini ketika Ia menyatakan diri kepada Musa?}}Berhubungan erat dengan perujukan dan damai dengan Allah adalah pengampunan dosa. Saya mungkin berlebihan, tetapi kelihatannya bagi saya kebenaran berharga ini berada dalam bahaya untuk dibenci. Ketika orang meratap. “Saya tahu saya telah diampuni, tetapi…,” saya tidak tahan untuk berpikir, ''Kamu tidak tahu bahwa kamu telah diampuni! Kalau kamu sungguh mengerti pengampunan masalahmu tidak akan terlihat seburuk itu.'' Seperti Lloyd-Jones implikasikan di dalam pernyatannya di halaman 63, kebutuhan terbesar manusia adalah pengampunan. Dan kalau Tuhan sudah mengampuni kita, masalah lain apapun yang kita punya pasti menjadi lebih kecil kalau dibandingkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang ini jarang terdengar orang-orang Kristen bersukacita karena diampuni Allah. Hal ini dapat dipahami di kultur yang memandang nilai diri yang rendah sebagai masalah yang lebih besar daripada diasingkan dari Allah. Namun kepekaan kita akan pengampunan secara langsung mempengaruhi kasih kita terhadap Allah. Itulah inti dari respon Tuhan terhadap Simon orang Farisi yang merasa diri benar. “Orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih,” kata Yesus padanya (Luk 7:47). Sebaliknya, mereka yang telah diampuni banyak – atau setidaknya menyadari betapa banyak mereka telah diampuni – banyak berbuat kasih. Setiap dari kita harus berada di kategori itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Apakah keraguan-keraguan ini menyebabkan Anda mempertanyakan pengampunan Allah? (tandai semua yang cocok) &lt;br /&gt;
* Tuhan tidak dapat terus menerus mengampuni saya untuk dosa yang sama. &lt;br /&gt;
* Saya mungkin telah diampuni, tetapi Tuhan belum melupakan. &lt;br /&gt;
* Tidak ada yang gratis di dalam hidup – Tuhan pasti mengharapkan sesuatu bentuk pembayaran. &lt;br /&gt;
* Saya bersalah atas dosa yang tidak dapat diampuni. &lt;br /&gt;
* Setelah dosa nomor 491 Tuhan akan menolak saya (lihat Mat 18:22).}}Pertimbangkan berikut ini:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Pengampunan dosa datang kepada kita hanya atas dasar darah Yesus Kristus yang tercurah. “Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya” (Ef 1:7).&lt;br /&gt;
* Motif Tuhan mengampuni kita adalah kasih-Nya yang besar. Pengampunan-Nya adalah pekerjaan belas kasih dan cuma-cuma. “Dialah yang telah ditinggikan oleh Allah dengan tangan kanan-Nya menjadi Pemimpin dan Juruselamat, supaya Israel dapat bertobat dan menerima pengampunan dosa” (Kis 5:31)—dan orang bukan Israel juga.&lt;br /&gt;
* Pengampunan dosa membawa kepada pengetahuan keselamatan. Yesus datang “untuk memberikan kepada umat-Nya pengertian akan keselamatan yang berdasarkan pengampunan dosa-dosa mereka” (Luk 1:77).&lt;br /&gt;
* Memahami pengampunan membawa kepada rasa takut yang benar akan Allah. “Jika Engkau, ya Tuhan, mengingat-ingat kesalahan-kesalahan, Tuhan, siapakah yang dapat tahan? Tetapi pada-Mu ada pengampunan, supaya Engkau ditakuti orang” (Mzm 130:3-4).&lt;br /&gt;
* Pengampunan Tuhan adalah menyeluruh. “Aku, Akulah Dia yang menghapus dosa pemberontakanmu oleh karena Aku sendiri, dan Aku tidak mengingat-ingat dosamu” (Yes 43:25).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cerita berikut ini, diceritakan oleh Becky Pippert di dalam bukunya Hope Has Its Reasons, menunjukkan kekuatan pengampunan di dalam hidup seorang wanita. Berharga untuk dikutip secara panjang:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Beberapa tahun yang lalu setelah saya selesai berbicara di sebuah konferensi, seorang wanita cantik datang ke podium. Ia tentu saja ingin bicara pada saya dan di saat saya berbalik menghadapnya, air mata keluar dari matanya. Kami pindah ke ruang dimana kami bisa bicara secara pribadi. Sangat jelas dari melihatnya bahwa ia sensitif tapi menderita. Ia menangis selagi ia mengatakan pada saya cerita berikut ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Dalam hubungan terhadap dosa dan terhadap Tuhan, faktor penentu dari eksistansi saya bukanlah lagi masa lalu saya. Melainkan masa lalu Kristus.&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''Christian Spirituality (Reformed View)'', Donald Alexander, ed. (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1988), p. 57.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; — Sinclair Ferguson}}“Bertahun-tahun sebelumnya, ia dan tunangannya (yang sekarang ia nikahi) merupakan pekerja remaja di sebuah gereja konservatif besar. Mereka adalah pasangan yang cukup dikenal dan memiliki pengaruh yang luar biasa terhadap anak-anak muda. Semua orang menghormati mereka dan sangat mengagumi mereka. Beberapa bulan sebelum mereka menikah mereka mulai melakukan hubungan seks. Hal itu membebankan mereka dengan rasa bersalah dan kemunafikan. Tapi lalu ia menemukan dirinya hamil. ‘Anda tidak dapat membayangkan apa implikasi dari mengakui hal ini kepada gereja,’ katanya. ‘Mengaku bahwa kami mengajarkan satu hal dan menjalani hal yang lain adalah tidak bisa ditoleransi. Jemaat ini sangat konservatif dan tidak pernah disentuh oleh skandal apapun. Kami merasa mereka tidak akan dapat menangani keadaan bila mengetahui situasi kami. Kamipun tidak akan dapat menanggung rasa malu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Baca Yesaya 59. Bagaimana Tuhan berespon terhadap kekurangan kita akan kekudusan yang begitu besar? (lihat ayat 16 dan 20)}}‘Lalu kami membuat keputusan yang paling mengerikan yang saya pernah buat. Saya menggugurkan kandungan. Hari pernikahan saya adalah hari terburuk dalam seluruh hidup saya. Setiap orang di gereja tersenyum pada saya, berpikir saya adalah pengantin perempuan bersinar dalam kepolosan. Tetapi tahukah Anda apa yang berada di kepala saya di saat saya berjalan di menuju altar? Yang dapat saya katakan pada diri saya adalah, ‘Kamu adalah seorang pembunuh. Kamu terlalu sombong sehingga tidak dapat menanggung rasa malu dan penghinaan bila kamu membuka siapa dirimu. Tetapi saya tahu siapa kamu dan Tuhan juga. Kamu telah membunuh bayi yang tidak bersalah.’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ia menangis begitu dalam sehingga ia tidak dapat berbicara. Saat saya memeluknya sebuah pemikiran datang pada saya dengan sangat kuat. Tapi saya merasa takut untuk mengatakannya. Saya tahu kalau ini bukan dari Tuhan bahwa ini dapat sangat menghancurkan. Maka saya berdoa dalam hati untuk hikmad untuk menolongnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ia melanjutkan. ‘Saya tidak percaya bahwa saya melakukan sesuatu yang begitu mengerikan. Bagaimana bisa saya membunuh nyawa yang tidak bersalah? Bagaimana mungkin saya bisa melakukan hal seperti itu? Saya mencintai suami saya, kami memiliki empat anak yang manis. Saya tahu Alkitab mengatakan bahwa Tuhan mengampuni semua dosa-dosa kita. Tapi saya tidak dapat mengampuni diri saya sendiri! Saya telah mengaku dosa ini beribu kali dan saya masih merasakan rasa malu dan menderita itu. Pikiran yang paling menghantui saya adalah ''bagaimana'' saya dapat membunuh nyawa yang tidak bersalah?’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya mengambil nafas dalam dan mengatakan apa yang telah saya pikirkan. ‘Saya tidak tahu mengapa kamu begitu terkejut. Ini bukan pertama kali dosamu membawa kematian, ini adalah yang kedua.’ Ia melihat saya dengan penuh kebingungan. ‘Temanku sayang,’ saya melanjutkan, ‘ketika kamu melihat Salib, semua dari kita datang sebagai penyalib. Beragama atau tidak beragama, baik atau buruk, penggugur kandungan atau bukan penggugur kandungan – semua dari kita bertanggung jawab atas kematian dari satu-satunya orang tak bersalah yang pernah hidup. Yesus mati untuk dosa-dosa kita – masa lalu, sekarang, dan masa depan. Kamu pikir ada dosa-dosamu yang Yesus tidak perlu mati untuknya? Dosa kesombongan itu yang menyebabkan kamu menghancurkan anakmu adalah yang membunuh Kristus juga. Tidak peduli kamu tidak berada di sana dua ribu tahun yang lalu. Kita semua mengirim-Nya ke sana. Luther berkata bahwa kita membawa paku-paku-Nya itu di saku kita. Jadi kalau kamu telah melakukannya sebelumnya, lalu mengapa kamu tidak bisa melakukannya lagi?’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Renungkan Mazmur 32:1-5.''' Apa yang terjadi waktu kita menyimpan dosa-dosa kita? Apa yang terjadi waktu kita mengakuinya?}}“Ia berhenti menangis. Ia melihat saya tepat di mata dan berkata, ‘Kamu sangat benar. Saya telah melakukan yang lebih buruk daripada membunuh bayi saya sendiri. Dosa sayalah yang telah membawa Yesus ke kayu Salib. Tidak peduli saya tidak berada di sana menancapkan paku, saya tetap bertanggung jawab atas kematian-Nya. Sadarkah Anda pentingnya ucapan yang Anda katakan pada saya, Becky? Saya datang pada Anda mengatakan saya telah melakukan hal terburuk yang bisa dibayangkan. Dan Anda mengatakan pada saya bahwa saya telah melakukan lebih buruk dari itu.’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|Apakah Anda menemukan diri Anda dibebani oleh rasa bersalah ketika Anda mengingat sebuah dosa (atau dosa-dosa) spesifik dari masa lalu? Kalau begitu, carilah seorang Kristen yang dewasa yang kepadanya Anda dapat mengaku dan yang darinya Anda dapat menerima penguatan tentang besarnya pengampunan Tuhan. Tulislah keinginan Anda itu: “Percaya bahwa Tuhan ingin saya untuk melepaskan saya dari rasa bersalah, saya akan berbicara kepada __________________ tentang area dosa ini tidak lebih dari ______ ___________.”}}“Saya menyeringai karena saya tahu itu adalah benar. (Saya tidak yakin bahwa pendekatan saya akan menjadi salah satu teknik konseling yang hebat!) Lalu ia berkata, ‘Tapi Becky, kalau Salib menunjukkan saya bahwa saya adalah lebih buruk daripada yang saya pernah bayangkan, Salib itu juga menunjukkan bahwa kejahatan saya telah diserap dan diampuni. Kalau hal terburuk yang manusia dapat lakukan adalah membunuh Anak Allah, dan itu dapat diampuni, lalu bagaimana bisa hal lain – bahkan aborsi – tidak diampuni?’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya tidak akan pernah lupa rupa di matanya ketika ia duduk kembali dalam kekaguman dan dengan tenang berkata, ‘Bicara tentang anugerah yang besar.’ Kali ini ia menangis bukan karena penderitaan tapi karena rasa lega dan syukur. Saya melihat wanita yang sepenuhnya telah ditransform oleh pengertian yang benar akan Salib.”&amp;lt;ref&amp;gt;Rebecca Pippert, ''Hope Has Its Reasons'' (New York: HarperCollins Publishers, Inc., 1989), pp. 102–104.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengampunan dosa adalah isu yang sangat penting. Ahli teologi English Puritan, John Owen, menulis sebuah essay tentang topik yang masih dianggap sebuah klasik. Eksposisi dari Mazmur 130 ini panjangnya lebih dari tiga ratus halaman, meskipun mazmur itu sendiri hanya terdiri dari delapan ayat. Pendahuluan dari editor memberikan beberapa masukan mengenai keadaan sekitar penulisan eksposisi itu. Sepertinya sebagai seorang pemuda Owen hanya memiliki pemahaman yang dangkal akan pengampunan Tuhan, “sampai Tuhan berkenan menengok saya dengan kesulitan yang menyakitkan, dimana saya dibawa ke mulut kubur, dan dimana jiwa saya tertekan oleh rasa ketakutan dan kegelapan; tapi Tuhan dengan murah hati membebaskan roh saya oleh aplikasi penuh kuasa dari Mazmur 130:4 yang darinya saya peroleh ajaran khusus, kedamaian dan penghiburan, dalam mendekat kepada Tuhan melalui Mediator, dan mengkotbahkannya langsung setelah saya sembuh.”&amp;lt;ref&amp;gt;John Owen, ''Works, Vol. VI'' (Carlisle, PA: The Banner of Truth Trust, 1967), p. 324.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Ketika kamu menyadari semua yang dibayar Tuhan untuk mengampunimu, kamu akan dipegang seperti seorang sahabat, dibatasi oleh kasih Allah.&amp;lt;ref&amp;gt;Oswald Chambers, My Utmost for His Highest (New York: Dodd, Mead &amp;amp; Company, 1963), p. 325.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot;}}Mazmur 130:4, seperti kita lihat di atas, menunjukkan bahwa takut akan Tuhan adalah pertumbuhan natural dari penerimaan akan pengampunan-Nya. Pada saat kita muda dan sehat masalah lain dapat terlihat begitu lebih penting. Tapi saat mata kita terbuka pada hal-hal yang bersifat kekal, mengetahui apakah kita sungguh diampuni akan membuat masalah-masalah lain menjadi tidak penting.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Penyucian melalui Kristus ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pembenaran memulai proses yang disebut penyucian, dimana kita makin menjadi serupa dengan Yesus. Sementara pembenaran membuat kita diampuni dan dikasihi, pembenaran tidak berbuat apa-apa terhadap karakter kita. Kita tetap orang pemberontak yang sama sebelum Tuhan menyelamatkan kita. Akan tragis jadinya jika Tuhan membiarkan kita sendiri. Kita tidak akan pernah bertumbuh, tidak pernah berubah, tidak pernah meningkat. Untungnya, meskipun Tuhan mengasihi kita apa adanya, Ia terlalu mengasihi kita untuk meninggalkan kita di sana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pusat doktrin penyucian adalah kebenaran bahwa kita disatukan dengan Yesus Kristus. Di dalam bukunya ''Men Made New'', John Stott membuat pengamatan berikut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:“Tema besar Roma 6, dan khususnya ayat 1-11, adalah bahwa kematian dan kebangkitan Yesus Kristus bukanlah hanya fakta sejarah dan doktrin penting, melainkan pengalaman pribadi orang Kristen yang percaya. Pengalaman-pengalaman tersebut adalah peristiwa-peristiwa yang kita sendiri alami. Semua orang Kristen telah disatukan dengan Kristus di dalam kematian dan kebangkitan-Nya. Selanjutnya, kalau ini benar, jika kita telah mati dengan Kristus dan dibangkitkan dengan Kristus, adalah tidak terbayangkan bahwa kita terus hidup dalam dosa.”&amp;lt;ref&amp;gt;John R.W. Stott, ''Men Made New'', p. 30.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin Anda berpikir ulang saat Anda melihat kata “tidak terbayangkan.” Kebanyakan kita menemukan tidak terbayangkan kalau kita dapat mungkin terus hidup ''diluar'' dosa! Apakah kemenangan atas dosa sebenarnnya mungkin?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut: Baca 1 Korintus 15:51-58.''' Meskipun perikop ini mengacu pada masa yang akan datang, bagaimana kebenaran ini dapat menguatkan Anda dalam pergumulan Anda melawan dosa?}}Inilah dua jawaban yang umum. Sebagian mengatakan orang Kristen dapat mengharapkan hidup kemenangan di dunia akan datang, tetapi harus memasang penglihatan lebih rendah di dunia ini sekarang. Sebagian lagi telah mengalami pelepasan secara dramatis dari dosa yang menjijikan sehingga mereka merasa diri mereka imun terhadapnya. Kedua ekstrim ini berada di luar target. Walau aplikasi pelajaran membutuhkan usaha rohani, kita memiliki di bab enam kitab Roma semua ajaran yang kita butuhkan untuk meluruskan kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika demikian apa yang hendak kita katakan?” tanya Paulus (ay.1). “Bolehkan kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu?” Ia mengantisipasi pertanyaan ini karena beberapa ayat sebelumnya ia berkata, “Dimana dosa bertambah banyak, disana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah” (Rom 5:20). Ia tahu bahwa pernyataan itu akan membawa sebagian orang untuk berpikir: “Kalau Tuhan dimuliakan dalam mengampuni dosa dan kalau kasih karunia bertambah dalam proporsi terhadap dosa, mengapa tidak membuat dosa lebih banyak lagi? Dengan begitu akan ada kasih karunia lebih dan Tuhan akan menerima lebih banyak kemuliaan!” Betapa kesimpulan yang bengkok dan melayani diri sendiri. Bahwa Paulus bahkan menyatakan masalah ini dengan cara ini mengindikasikan bahwa injilnya telah menjadi subyek penyelewengan. Namun berharga untuk dicatat, bahwa Paulus tidak mengambil kembali atau menulis ulang doktrin itu. Bila injil diberitakan dengan benar ia akan selalu menjadi rawan terhadap penafsiran salah ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Dalam pembenaran pekerjaan kita sendiri tidak memiliki tempat sama sekali dan iman yang sederhana dalam Kristus adalah satu-satunya yang diperlukan. Dalam penyucian pekerjaan kita sendiri adalah sangat penting, dan Tuhan meminta kita bertarung dan berjaga-jaga dan berdoa dan bertahan dan menanggung sakit dan bekerja keras.&amp;lt;ref&amp;gt;J.C. Ryle, Holiness (Hertfordshire, England: Evangelical Press, 1879, 1979), p. 29.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; — J.C. Ryle}}Paulus dengan keras membantah idenya sendiri bahwa kasih karunia memimpin pada dosa yang lebih jauh: “Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya?” (Rom 6:2). Kematian kita terhadap dosa, seperti Paulus jelaskan di ayat-ayat selanjutnya, terbungkus dalam kesatuan kita dengan Kristus yang tersalib. Waktu kita percaya pada Yesus, kita disatukan dengan-Nya. Transaksi iman terjadi dimana kita selamanya dianggap berada di “dalam Kristus,” yaitu, secara spiritual disatukan dengan-Nya. Kesatuan ini dilambangkan dengan baptisan. Seperti Yesus mati, dimakamkan dan bangkit dalam hidup teguh, baru, begitu pula kita mati bersama-Nya, dimakamkan bersama-Nya oleh baptisan, dan dibangkitkan untuk menjalani hidup baru di jalan yang baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|Setelah membaca bab ini, seorang Kristen muda tapi tulus datang kepada Anda untuk meminta tolong. “Paulus mengatakan diri saya yang lama telah mati dan dikuburkan bersama Kristus,” katanya. “Jadi mengapa saya mereka begitu hidup setiap kali bekas pacar saya mampir?” Bagaimana Anda menjawab? &lt;br /&gt;
* “Kamu pasti mempunyai iblis—mari mengusirnya keluar!” &lt;br /&gt;
* “Saya rasa kamu belum benar-benar diselamatkan.” &lt;br /&gt;
* “Dimana imanmu, saudariku?” &lt;br /&gt;
* “Mungkin diri lamamu sedang berada dalam koma sementara.” &lt;br /&gt;
* “Mari kita lihat pasal enam dan tujuh dari kitab Roma…”}}Analogi alami terdekat dari kesatuan ini adalah pernikahan. Istri saya Clara dan saya memiliki identitas bersama (kami berdua memiliki nama belakang yang sama) dan kami disatukan dalam hati, pikiran, dan tubuh. Kami berbagi sumber-sumber – semua yang saya miliki adalah miliknya, dan sebaliknya. Sebagai hasilnya kami berdua diperkaya (meskipun disinilah analogi ini lemah – kita mendapatkan keuntungan satu sisi dari kesatuan kita dengan Kristus). Clara dan saya memakai cincin yang melambangkan kebenaran yang lebih dalam dari kesatuan kami. Tapi seperti cincin saya tidak membuat saya menikah, begitu juga baptisan tidak membuat saya seorang Kristen. Hal ini datang setelah fakta transaksi iman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Renungkan Roma 6:17-18.''' Kita bukan lagi hamba dosa, tetapi kita adalah masih hamba. Kepada apakah tuan baru Anda memanggil Anda?}}Apa tepatnya arti dari mati terhadap dosa? Saya mati terhadap dosa dalam pengertian bahwa rasa bersalah dan penghukuman yang menyatu dengan dosa (maut) tidak lagi bergelantungan pada saya. Tetapi lebih dari itu, hubungan saya terhadap dosa telah dirubah secara radikal. Sebelum saya dibenarkan, saya tidak tahan tidak berbuat dosa. Sekarang saya tidak lagi di bawah kuasa dosa. ''Hubungan tuan-hamba'' yang sebelumnya ada telah diakhiri selamanya. ''Perhatikan'' bahasa yang dipakai di Roma 6:12-14: “Hendaklah dosa jangan berkuasa lagi…Janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa…Kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa.” Ini adalah bahasa perbudakan dan Paulus berkata hal ini tidak lagi berlaku. Kewajiban kita terhadap dosa telah diakhiri – oleh kematian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kematian kita terhadap dosa melalui penyatuan kita dengan Kristus memiliki implikasi yang jauh. Masalah atau kebiasaan atau ingatan atau rahasia apa pun yang sekarang mempengaruhi pikiran dan perilaku Anda tidak perlu lagi melakukan itu. Mereka dapat berhasil ditolak. Orang yang sebelumnya dikuasai semua itu – diri Anda yang lama – telah mati. Dorongan berbuat dosa ini sekarang bukan lagi majikan Anda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Bukan saya tidak dapat berdosa, tetapi saya dapat tidak berdosa.&amp;quot; — Arthur Wallis}}Lama sebelum ada orang yang mempopulerkan klaim bahwa hanya ada dua jenis orang di dunia ini (contohnya mereka yang tinggal di Oshkosh, Wisconsin dan mereka yang ''berharap'' mereka tinggal di sana), John Owen membuat kasifikasinya sendiri. Ia membedakan antara mereka yang di bawah kuasa dosa dan mereka yang ''mengira'' mereka berada di bawah kuasa dosa. Karena itu seorang pastor mempunyai dua tanggung jawab utama, seperti Owen ungkapkan dalam bahasa di jamannya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# Untuk meyakinkan mereka yang di dalamnya dosa secara nyata menguasai bahwa sungguh itulah posisi dan keadaan mereka.&lt;br /&gt;
# Untuk memuaskan sebagian bahwa dosa tidak memiliki kuasa atas mereka, walaupun dosa itu terus gelisah di dalam mereka dan berperang melawan jiwa mereka; tapi kalau ini tidak bisa dilakukan, adalah tidak mungkin mereka dapat menikmati damai yang solid dan kenyamanan dalam hidup ini.&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''Christian Spirituality ''(Reformed View), p. 58.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Telah menjadi kehormatan bagi saya untuk melihat lebih dari sekali orang-orang mengatasi masalah kebiasaan-kebiasaan buruk dan berkepanjangan melalui pelajaran yang tekun serta aplikasi dari Roma 6. Kita tidak perlu terus menjadi orang-orang kudus yang terpenjara lagi. Sekali kita menyadari bahwa kita telah disatukan dengan Kristus dalam kematian dan kebangkitan-Nya, kita akan melihat Ia telah membuka pintu pelepasan kita lebar-lebar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Group Discussion ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# Think back to the opening illustration of the imprisoned saint. What does the jail symbolize? What is the key?&lt;br /&gt;
# What inner conflict could have possibly held a slave back from responding to Lincoln’s Emancipation Proclamation? What could hold back a Christian from seizing his liberty in Christ?&lt;br /&gt;
# What’s the greatest thing we will ever receive from God? (Page 61)&lt;br /&gt;
# What emotions do you think Americans experienced when peace was announced at the end of World War II? Does your peace with God evoke similar emotions in you?&lt;br /&gt;
# According to the author, what is man’s greatest need?&lt;br /&gt;
# Read the story of Simon the Pharisee and the sinful woman in Luke 7:36-50. What’s the main difference between these two? With which of them do you identify most in your attitude toward Jesus?&lt;br /&gt;
# Were you affected by the story about the woman who had an abortion? How?&lt;br /&gt;
# What attitudes or actions might indicate that someone has a superficial awareness of forgiveness?&lt;br /&gt;
# What does it mean to be united with Christ in his death? What are the implications?&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Sukartay</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/The_Fruits_of_Justification_(I)/id</id>
		<title>This Great Salvation/The Fruits of Justification (I)/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/The_Fruits_of_Justification_(I)/id"/>
				<updated>2008-01-10T07:30:01Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Sukartay: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;= Buah-Buah Pembenaran (I) =&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah Anda pernah memperhatikan betapa sedikitnya buku-buku Kristen yang memiliki cover menarik? Oh, ada beberapa, tentu – seperti buku Franky Schaeffer ''A Time for Anger'', dengan lukisan dari Pieter Brueghel “Orang Buta Menuntun Orang Buta.” Lukisan itu begitu menggugah saya sehingga saya mencari kopinya dan membingkainya untuk kantor saya. Dan ada juga gambar-gambar mengagumkan di sampul ''Chronicles of Narnia'' milik C.S. Lewis yang ''siap membawa Anda ke sana''. Salah satu sampul buku yang paling menarik yang pernah saya lihat tampak di sebuah seri pamflet. Illustrasinya menunjukkan seorang pria sedih dan kesepian yang sedang memandang kosong keluar jendela sebuah sel penjara. Saat Anda melihat, Anda menjadi sadar bahwa pintu selnya terbuka di belakangnya. Tetapi ia tidak memperhatikannya. Kalau saja ia menoleh ia akan melihat bahwa ia dapat berjalan keluar seperti orang bebas. Tetapi ia tetap terpenjara karena ketidaktahuannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Renungkan Lukas 4:18-19.''' Apakah Anda menyadari “Proklamasi Emansipasi” ini diberikan kepada Anda?}}Intinya cukup jelas. Banyak orang Kristen – bukan, kebanyakan orang Kristen – adalah seperti pria ini. Secara tragis mereka tidak menyadari kebebasan dan hak-hak lebih yang adalah milik mereka melalui injil Yesus Kristus. Mereka adalah orang-orang kudus yang tidak perlu terpenjara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Ketika Allah mengampuni, Ia mengampuni semua dosa, dosa asal dan dosa sekarang, dosa karena kita melakukan dan dosa karena kita tidak melakukan, dosa rahasia dan dosa terbuka, dosa dalam pikiran, perkataan dan perbuatan… Pengampunan penuh, atau tidak sama sekali, adalah yang Allah ciptakan untuk berikan. Hal ini sesuai dengan kebutuhan manusia. Pemberian ini tidak pernah diambil kembali oleh Allah. Ketika Ia mengampuni, Ia mengampuni selamanya&amp;lt;ref&amp;gt;William S. Plumer, ''The Grace of Christ'' (Philadelphia, PA: Presbyterian Board of Publication, 1853), pp. 201–02.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; — William S. Plumer &amp;quot;Saya harus memperhatikan apa yang saya katakan: tetapi rasul itu berkata, “Allah membuat Dia yang tidak mengenal dosa, menjadi berdosa karena kita, sehingga kita dapat dibenarkan oleh Allah di dalam Dia.” Begitulah kita di mata Allah Bapa, sama seperti Anak Allah sendiri. Biarlah hal itu dianggap bodoh atau emosi, atau luapan perasaan, apa pun, itu adalah penghiburan kita dan hikmad kita; kita tidak peduli pengetahuan lain di dunia selain ini, bahwa manusia telah berdosa dan Allah telah menderita; bahwa Allah telah membuat dirinya sendiri Anak manusia, dan bahwa manusia dibuat kebenaran Allah.”&amp;lt;ref&amp;gt;Ibid., p. 230. &lt;br /&gt;
&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; — Richard Hooker}}Merubah gambaran ini sedikit saja, sejumlah budak terus hidup seperti sebelumnya bahkan setelah Proklamasi Emansipasi. Sebagian mereka tetap berada di kegelapan tentang dimana mereka sekarang berdiri. Sebagian lain, walaupun menyadari kebebasan mereka, tidak pernah berjalan keluar tempat perbudakan karena takut. Kebebasan menuntut keberanian dan membawa bersamanya tanggung jawab yang besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya injil hanya membuat perbedaan kecil dalam hidup orang Kristen yang tak terhitung jumlahnya. Meskipun mereka telah sungguh dibenarkan dan penghukuman telah dibatalkan, masalah yang sama sepertinya mengganggu mereka. Ketakutan, kebiasaan, dan keraguan yang sama yang mengkarakterisasi hidup mereka sebelum mereka percaya Kristus masih tetap memegang kendali. Mengapa? Menurut saya satu alasan terbesar adalah ketidaktahuan. Bagi tidak sedikit orang Kristen, Alkitab masih menjadi buku tertutup. Fakta bahwa warisan besar telah disediakan bagi mereka yang dibenarkan oleh Allah seperti belum menjadi jelas buat mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengetahuan akan Firman Tuhan yang terus bertumbuh adalah sangat vital. Di saat Anda membaca, menghafal dan merenungkan Firman Tuhan, Anda akan mulai merasakan penyediaan yang mengagumkan yang diberikan Allah. Dua bab terakhir dari buku ini akan mengekplorasi buah-buah dari pembenaran kita, warisan kita di dalam Kristus. Sisa keraguan yang masih ada di pikiran kita mengenai tujuan dan takdir Tuhan harus dijelaskan saat kita menginventori keuntungan-keuntungan dari keselamatan yang agung ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Turun dari Kursi Kayu ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gambaran sekitar doktrin pembenaran datang langsung dari pengadilan hukum, seperti yang kita pelajari di bab sebelumnya. Allah, Pemberi hukum dan Hakim dari seluruh bumi, telah mengeluarkan sebuah deklarasi yang membebaskan orang berdosa yang terhukum dari semua kesalahan. Pembenaran memberi kita status baru di hadapan Allah dan mengampuni kita dari semua dosa dan hukumannya. Walaupun kita adalah orang-orang kriminal tertuduh yang sedang menunggu dalam barisan Hukuman Mati yang tidak bisa dihindari, Sang Hakim mengampuni kita dan menghancurkan catatan-catatan kriminal kita. Betapapun mengagumkannya hal ini, ada aspek pembenaran yang bahkan lebih mengagumkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya pernah berada di ruang sidang, dan itu bukanlah tempat yang penuh keceriaan. Anda tidak dapat menjadi diri Anda sendiri. Adalah tidak pantas untuk tertawa keras atau mengangkat kaki Anda. Tidak seorang pun berpikir untuk bertemu hakim setelah sidang untuk makan es krim ataupun menonton pertandingan bola basket. Ada peraturan perilaku tertentu yang harus dipertahankan, formal dan mengintimidasi – dan memang dimaksudkan begitu. Hal ini tidak kurang benar di hadirat Hakim yang berdaulat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|Buka hampir di bagian mana saja dari Alkitab Anda dan Anda akan menemukan janji-janji menakjubkan dari Tuhan. Tandai satu dari yang di bahwa ini yang paling berarti buat Anda saat ini. * “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau” (Ibr 13:5). * “Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu” (1Kor 10:13) * “Barangsiapa percaya kepada-Ku akan melakukan pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa” (Yoh 14:12) * “Ia yang memulai pekerjaan yang baik diantara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus” (Flp 1:6) * “Kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris” (Gal 4:7).}}Tetapi ada perbedaan yang sangat besar antara pengadilan di surga dan di bumi. Setelah menyatakan kita bebas dari segala tuduhan dan penghakiman, Tuhan memilih untuk ''tidak'' pergi ke ruangan-Nya, seperti yang dikira. Tetapi, Ia mendobrak semua standard dengan turun dari bangku kayu, mengumpulkan kita di tangan-Nya, dan lalu menggendong kita dari ruang sidang ke ruang keluarga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memiliki Allah sebagai Bapa kita adalah sungguh mengagumkan. Firman Tuhan telah menjelaskan bahwa kita berhubungan dengan Tuhan dengan intim dan secara legal. Bukan itu saja, tetapi untuk menjadi anak-anak-Nya mendatangkan hak-hak khusus. Paulus mendeskripsikannya seperti ini: “Roh itu bersaksi bersam-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah. Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris – orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus” (Rom 8:17).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara pembenaran bagi kita adalah pemberian gratis, pembenaran itu dibayar Allah dengan Anak-Nya. Pembenaran itu dibayar oleh nyawa Anak-Nya. Dan pembenaran itu dibayar oleh keangkuhan kita, karena satu-satunya cara untuk menerima pemberian ini adalah dengan datang kepada Tuhan dalam kerendahan hati dan pertobatatan iman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Apa Semua Ini ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' “Kekayaan” apakah yang Paulus deskripsikan di Kolose 2:2-3? Dimanakah “harta“ itu berada? Apakah Anda telah sepenuhnya mengambil keuntungan dari warisan ini?}}Anak Allah, Ahli Waris Allah, Ahli Waris bersama Kristus. Apa arti semua itu? Mari kita bangun satu fakta penting. Yesus Kristus, Anak tunggal Allah, adalah ahli waris Bapa yang sah dan sebenarnya. Kalau ada warisan yang kita miliki itu hanya karena kita berada di “dalam Kristus” (Ef 2:7). Apalagi, Kristus sendiri adalah warisan ini. Dia adalah damai kita, Dia adalah kebenaran kita, pengharapan kita, penyucian dan penebusan kita. Di dalam Dia tersembunyi semua harta hikmad dan pengetahuan. Dialah kebangkitan dan hidup. Hal terbesar yang kita akan pernah terima dari Allah adalah Yesus sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adalah juga penting untuk memahami bahwa keselamatan datang bukan melalui sebuah doktrin melainkan melalui sebuah Individu. Kita tidak diselamatkan oleh pembenaran, tetapi oleh Yesus. Waktu kita mengambil waktu untuk mempelajari Firman Tuhan kita menghadapi resiko menjadi seorang ahli doktrin tetapi tidak kompeten dalam pengetahuan sejati akan Tuhan kita. Dan mengenal Tuhan adalah segalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Bagaimana seseorang yang hidup melalui pengalaman tercatat di 2 Korintus 11:23-33 bisa menulis Roma 15:13??}}Seorang kawan saya mengatakan pada saya cerita berikut ini tentang Scott McGregor, orang Kristen berdedikasi dan seorang pelempar bola baseball kidal yang terkenal untuk Baltimore Orioles di tahun 70 dan 80an. Suatu ketika, di satu momen genting di dalam permainan, Scott menemukan dirinya berhadapan dengan seorang pemukul bola berbahaya dengan orang-orang pencetak angka. Ia mengambil waktu cukup untuk mempelajari situasi ketika seorang wanita tidak sabar di kotak tempat duduk di belakang kandang pemain Orioles berteriak, “Yesus Kristus! Lempar bolanya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Baca Matius 7:21-23 dan jawab pertanyaan-pertanyaan berikut: * Hal-hal terpuji apakah yang orang-orang ini capai? * Apakah empat kata penilaian Tuhan terhadap mereka? * Dalam satu kalimat, bagaimana Anda akan merangkum kesalahan fatal mereka?}}Bukan tidak umum untuk mendengar nama Tuhan digunakan sembarangan di permainan bola. Tetapi dalam peristiwa ini McGregor begitu tersentak sehingga ia hampir kehilangan konsentrasi. Setelah mengembalikan dirinya sendiri, ia dapat melempar dengan benar dan pemukulan bola berakhir. Lalu ia melakukan sesuatu yang sangat berbeda, sesuatu yang seharusnya tidak boleh dilakukan oleh pemain. Ketika ia berjalan kembali ke kandang pemain ia menatap langsung ke wanita tadi dan bicara dengannya. Dalam nada yang terganggu namun lembut, penuh keprihatinan terhadap wanita itu dan Tuhannya, ia berkata, “Ibu, kalau kamu sungguh mengenal Dia, kamu tidak akan pernah menyebut nama-Nya seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
McGregor mendemonstrasikan bahwa Kekristenan adalah lebih dari sekedar sebuah kebenaran untuk dipercayai. Kekristenan adalah sebuah kehidupan untuk dijalani dan, di atas segalanya, satu Tuhan untuk dicintai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu memikirkan sesuatu seluas, seajaib warisan yang kita miliki di dalam Kristus, digambarkan Paulus sebagai “kekayaan kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah” (Ef 2:7), sangat sulit untuk mengetahui dimana harus mulai. Menariknya, Paulus juga memiliki masalah yang sama. Di dalam suratnya kepada jemaat di Efesus, ia begitu terbawa oleh implikasi pembenaran yang begitu besar. Saat ia berusaha menghubungkan semua yang Tuhan telah lakukan dan sedang lakukan di pasal pertama, ia mulai dengan kalimat di ayat tiga yang berakhir sampai sebelas ayat kemudian. Secara tata bahasa memang tidak cantik, namun hatinya yang penuh mengalir memberi kesaksian akan anugerah Tuhan yang tidak terselami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perikop berikut dari surat Paulus kepada jemaat di Roma menyediakan titik mula yang sangat bagus “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus. Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah” (Rom 5:1-2). John Stott menjelaskan pentingnya perikop ini:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Pasal-pasal awal dari [kitab Roma] didedikasikan untuk kebutuhan dan jalan pembenaran. Semua itu bertujuan menjelaskan bahwa semua manusia adalah berdosa di bawah penghakiman Allah yang adil, dan dapat dibenarkan hanya melalui penebusan yang di dalam Yesus Kristus – melalui anugerah semata, melalui iman saja. Di poin ini, setelah membeberkan kebutuhan dan penjelasan jalan pembenaran, Paulus meneruskan dengan menggambarkan buah-buahnya, hasil dari pembenaran dalam hidup sebagai anak dan ketaatan di dunia dan kehidupan lanjut yang penuh kemuliaan di surga (penekanan ditambahkan).&amp;lt;ref&amp;gt;John R.W. Stott, ''Men Made New'' (Grand Rapids, MI: Baker Book House, 1966, 1991), pp. 9–10.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bab ini akan melihat tiga buah dari pembenaran: damai dengan Allah, pengampunan dosa, dan proses penyucian. Di bab terakhir buku ini kita akan mengkaji pengadopsian kita di dalam Kristus serta pengharapan kita akan kemuliaan di masa depan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Damai dengan Allah ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perdamaian dengan Allah menggarisbawahi semua yang lain yang kita terima dalam Kristus. Perdamaian ini adalah hadiah yang menaruh berkat-berkat lain dalam perspektif. “Urusan utama dari injil Kristen adalah bukan untuk memberi kita berkat,” tulis D. Martyn Lloyd-Jones. “Tujuan utamanya adalah untuk mendamaikan kita dengan Allah.”&amp;lt;ref&amp;gt;D. Martyn Lloyd-Jones, ''Romans: Assurance, Chapter Five'' (Grand Rapids, MI: Zondervan Publishing House, 1971), p. 10.&amp;lt;/ref&amp;gt; Berdamai dengan Allah berarti kita berada di posisi perujukan dengan-Nya. Pernyataan pembenaran telah menjauhkan semua halangan antara Allah dan manusia. Walau tentu saja ada yang namanya damai ''dari'' Allah yang subyektif (yang bisa dirasakan), apa yang ada di benak Paulus dalam Roma 5:1 adalah fakta ''obyektif'' bahwa injil telah menghapuskan segala sesuatu yang memisahkan kita dari Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Renungkan Efesus 2:11-20.''' Apa yang Yesus lakukan terhadap penghalang permusuhan yang berdiri diantara diri-Nya dan kita?}}Untuk mendamaikan berarti menyatukan apa yang telah terpisah karena pemusuhan. Contoh utama dari arti ini ditemukan di kotbah Stefen kepada Sanhedrin ketika ia menceritakan kembali peristiwa kehidupan Musa: “Pada keesokan harinya ia muncul pula ketika dua orang Israel sedang berkelahi, lalu ia berusaha ''mendamaikan'' mereka, katanya: Saudara-saudara! Bukankah kamu ini bersaudara? Mengapakah kamu saling menganiaya?” (Kis 7:26). Versi Alkitab King James menerjemahkan “mendamaikan” di konteks ini menjadi “membuat mereka satu kembali.” Kata Yunani yang dipakai adalah bentuk kata kerja dari kata yang biasa diterjemahkan “damai.” Apa yang penting bagi kita untuk diingat adalah bahwa sekarang, dari titik pandang Allah, tidak ada lagi permusuhan antara Allah dan mereka yang telah dibenarkan. Amarah dan murka-Nya terhadap dosa telah diekspresikan dengan adil dan dipuaskan penuh di Salib. Perseteruan telah berakhir. Perdamaian telah dibuat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak hanya konflik telah diselesaikan, tetapi semua masalah hukum yang berasal dari permusuhan sebelumnya telah dihapuskan, tidak pernah muncul lagi: “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi merkea yang ada di dalam Kristus Yesus…Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Allah, yang membenarkan mereka?” (Rom 8:1,33). Kalau pengadilan tertinggi di jagad raya ini telah menyatakan kita benar, tidak ada gugatan yang bisa menempel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Ketika perang suci kita dengan Allah berakhir, ketika kita seperti Luther berjalan melalui pintu-pintu Surga, ketika kita dibenarkan oleh iman, perang itu berakhir untuk selamanya. Dengan pembersihan dari dosa dan pernyataan pengampunan ilahi kita memasuki perjanjian damai dengan Allah yang kekal. Buah sulung dari pembenaran kita adalah damai dengan Allah. Damai ini adalah damai yang kudus, damai yang tidak bercacat dan agung. Damai ini adalah damai yang tidak bisa dihancurkan.&amp;lt;ref&amp;gt;R.C. Sproul, ''The Holiness of God'' (Wheaton, IL: Tyndale House Publishers, 1985), p. 193.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; — R.C. Sproul}}Berhati-hatilah bahwa frase “tidak ada penghukuman” ''tidak'' berarti “tidak ada tuduhan.” Kita telah menyinggungnya di bab pertama. Musuh jiwa kita meneruskan pekerjaan kotornya menyebarkan kata-kata yang melecehkan dan menembakan anak panah api, dan sering terjadi kita salah mengira pembetulan dan teguran Tuhan sebagai suara tuduhan iblis. Tetapi kenyataan bahwa Yesus telah mengambil tempat kita berarti kita tidak akan pernah harus berhadapan dengan penghukuman di penghakiman akhir. “Siapakah yang akan menghukum mereka? Kristus Yesus, yang telah mati? Bahkan lebih lagi: yang telah bangkit, yang juga duduk di sebelah kanan Allah, yang malah menjadi Pembela bagi kita?” (Rom 8:34). Dia yang satu-satunya memiliki otoritas untuk menghukum untuk selamanya telah memihak pada kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|Bayangkan Anda sendiri memerintah sebuah bangsa berjumlah lima milyar orang. Sebuah berita mengatakan bahwa ada seorang warga yang mengadakan pemberontakan dan sedang membuat kekacauan di istana. Bukannya mengirim divisi tank bersenjata untuk menghentikan orang gila itu, Anda mengirim Pangeran. Dalam usaha menggapai si pemberontak, sang Pangeran terbunuh. Bagaimana Anda akan memperlakukan warga ini setelah ia ditangkap? * Musnahkan ia selamanya dari kerajaan * Membakar ia perlahan-lahan di atas api menyala * Menggantungnya dari pohon tertinggi di kota * Hukum dia dengan hidup dalam isolasi * Menjadikannya makanan bagi ular piton kerajaan * Mengampuninya, menerimanya, dan mengadopsinya menjadi anak Anda.}}Mengetahui kita telah didamaikan dengan Allah membawa ketenangan bagi pikiran kita. Ini memampukan kita untuk mengalahkan rasa kuatir dan takut. Bahkan bila seluruh dunia melawan kita, kita tetap aman dalam Kristus. “Janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi,” Yesus menjelaskan kepada murid-murid-Nya, yang telah ditetapkan untuk menghadapi perlawanan hebat. “Aku akan menunjukkan kepadamu siapakah yang harus kamu takuti. Takutilah Dia, yang setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka” (Luk 12:4, 5). Allah, satu-satunya yang berharga untuk kita takuti, telah berinisiatif mengadakan perjanjian damai kekal dengan kita. Untuk orang Kristen yang dibangun di dalam kebenaran ini, bahkan ketakutan akan maut dikalahkan karena ancaman penghukuman tidak lagi eksis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Pengampunan Dosa-Dosa ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Renungkan Keluaran 34:5-7.''' Dalam kesadaran akan semua kualitas karakter Allah, apakah Anda menganggap penting bahwa Ia memilih untuk menekankan sifat-sifat ini ketika Ia menyatakan diri kepada Musa?}}Berhubungan erat dengan perujukan dan damai dengan Allah adalah pengampunan dosa. Saya mungkin berlebihan, tetapi kelihatannya bagi saya kebenaran berharga ini berada dalam bahaya untuk dibenci. Ketika orang meratap. “Saya tahu saya telah diampuni, tetapi…,” saya tidak tahan untuk berpikir, ''Kamu tidak tahu bahwa kamu telah diampuni! Kalau kamu sungguh mengerti pengampunan masalahmu tidak akan terlihat seburuk itu.'' Seperti Lloyd-Jones implikasikan di dalam pernyatannya di halaman 63, kebutuhan terbesar manusia adalah pengampunan. Dan kalau Tuhan sudah mengampuni kita, masalah lain apapun yang kita punya pasti menjadi lebih kecil kalau dibandingkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang ini jarang terdengar orang-orang Kristen bersukacita karena diampuni Allah. Hal ini dapat dipahami di kultur yang memandang nilai diri yang rendah sebagai masalah yang lebih besar daripada diasingkan dari Allah. Namun kepekaan kita akan pengampunan secara langsung mempengaruhi kasih kita terhadap Allah. Itulah inti dari respon Tuhan terhadap Simon orang Farisi yang merasa diri benar. “Orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih,” kata Yesus padanya (Luk 7:47). Sebaliknya, mereka yang telah diampuni banyak – atau setidaknya menyadari betapa banyak mereka telah diampuni – banyak berbuat kasih. Setiap dari kita harus berada di kategori itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Apakah keraguan-keraguan ini menyebabkan Anda mempertanyakan pengampunan Allah? (tandai semua yang cocok) &lt;br /&gt;
* Tuhan tidak dapat terus menerus mengampuni saya untuk dosa yang sama. &lt;br /&gt;
* Saya mungkin telah diampuni, tetapi Tuhan belum melupakan. &lt;br /&gt;
* Tidak ada yang gratis di dalam hidup – Tuhan pasti mengharapkan sesuatu bentuk pembayaran. &lt;br /&gt;
* Saya bersalah atas dosa yang tidak dapat diampuni. &lt;br /&gt;
* Setelah dosa nomor 491 Tuhan akan menolak saya (lihat Mat 18:22).}}Pertimbangkan berikut ini:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Pengampunan dosa datang kepada kita hanya atas dasar darah Yesus Kristus yang tercurah. “Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya” (Ef 1:7).&lt;br /&gt;
* Motif Tuhan mengampuni kita adalah kasih-Nya yang besar. Pengampunan-Nya adalah pekerjaan belas kasih dan cuma-cuma. “Dialah yang telah ditinggikan oleh Allah dengan tangan kanan-Nya menjadi Pemimpin dan Juruselamat, supaya Israel dapat bertobat dan menerima pengampunan dosa” (Kis 5:31)—dan orang bukan Israel juga.&lt;br /&gt;
* Pengampunan dosa membawa kepada pengetahuan keselamatan. Yesus datang “untuk memberikan kepada umat-Nya pengertian akan keselamatan yang berdasarkan pengampunan dosa-dosa mereka” (Luk 1:77).&lt;br /&gt;
* Memahami pengampunan membawa kepada rasa takut yang benar akan Allah. “Jika Engkau, ya Tuhan, mengingat-ingat kesalahan-kesalahan, Tuhan, siapakah yang dapat tahan? Tetapi pada-Mu ada pengampunan, supaya Engkau ditakuti orang” (Mzm 130:3-4).&lt;br /&gt;
* Pengampunan Tuhan adalah menyeluruh. “Aku, Akulah Dia yang menghapus dosa pemberontakanmu oleh karena Aku sendiri, dan Aku tidak mengingat-ingat dosamu” (Yes 43:25).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cerita berikut ini, diceritakan oleh Becky Pippert di dalam bukunya Hope Has Its Reasons, menunjukkan kekuatan pengampunan di dalam hidup seorang wanita. Berharga untuk dikutip secara panjang:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Beberapa tahun yang lalu setelah saya selesai berbicara di sebuah konferensi, seorang wanita cantik datang ke podium. Ia tentu saja ingin bicara pada saya dan di saat saya berbalik menghadapnya, air mata keluar dari matanya. Kami pindah ke ruang dimana kami bisa bicara secara pribadi. Sangat jelas dari melihatnya bahwa ia sensitif tapi menderita. Ia menangis selagi ia mengatakan pada saya cerita berikut ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Dalam hubungan terhadap dosa dan terhadap Tuhan, faktor penentu dari eksistansi saya bukanlah lagi masa lalu saya. Melainkan masa lalu Kristus.&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''Christian Spirituality (Reformed View)'', Donald Alexander, ed. (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1988), p. 57.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; — Sinclair Ferguson}}“Bertahun-tahun sebelumnya, ia dan tunangannya (yang sekarang ia nikahi) merupakan pekerja remaja di sebuah gereja konservatif besar. Mereka adalah pasangan yang cukup dikenal dan memiliki pengaruh yang luar biasa terhadap anak-anak muda. Semua orang menghormati mereka dan sangat mengagumi mereka. Beberapa bulan sebelum mereka menikah mereka mulai melakukan hubungan seks. Hal itu membebankan mereka dengan rasa bersalah dan kemunafikan. Tapi lalu ia menemukan dirinya hamil. ‘Anda tidak dapat membayangkan apa implikasi dari mengakui hal ini kepada gereja,’ katanya. ‘Mengaku bahwa kami mengajarkan satu hal dan menjalani hal yang lain adalah tidak bisa ditoleransi. Jemaat ini sangat konservatif dan tidak pernah disentuh oleh skandal apapun. Kami merasa mereka tidak akan dapat menangani keadaan bila mengetahui situasi kami. Kamipun tidak akan dapat menanggung rasa malu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Baca Yesaya 59. Bagaimana Tuhan berespon terhadap kekurangan kita akan kekudusan yang begitu besar? (lihat ayat 16 dan 20)}}‘Lalu kami membuat keputusan yang paling mengerikan yang saya pernah buat. Saya menggugurkan kandungan. Hari pernikahan saya adalah hari terburuk dalam seluruh hidup saya. Setiap orang di gereja tersenyum pada saya, berpikir saya adalah pengantin perempuan bersinar dalam kepolosan. Tetapi tahukah Anda apa yang berada di kepala saya di saat saya berjalan di menuju altar? Yang dapat saya katakan pada diri saya adalah, ‘Kamu adalah seorang pembunuh. Kamu terlalu sombong sehingga tidak dapat menanggung rasa malu dan penghinaan bila kamu membuka siapa dirimu. Tetapi saya tahu siapa kamu dan Tuhan juga. Kamu telah membunuh bayi yang tidak bersalah.’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ia menangis begitu dalam sehingga ia tidak dapat berbicara. Saat saya memeluknya sebuah pemikiran datang pada saya dengan sangat kuat. Tapi saya merasa takut untuk mengatakannya. Saya tahu kalau ini bukan dari Tuhan bahwa ini dapat sangat menghancurkan. Maka saya berdoa dalam hati untuk hikmad untuk menolongnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ia melanjutkan. ‘Saya tidak percaya bahwa saya melakukan sesuatu yang begitu mengerikan. Bagaimana bisa saya membunuh nyawa yang tidak bersalah? Bagaimana mungkin saya bisa melakukan hal seperti itu? Saya mencintai suami saya, kami memiliki empat anak yang manis. Saya tahu Alkitab mengatakan bahwa Tuhan mengampuni semua dosa-dosa kita. Tapi saya tidak dapat mengampuni diri saya sendiri! Saya telah mengaku dosa ini beribu kali dan saya masih merasakan rasa malu dan menderita itu. Pikiran yang paling menghantui saya adalah ''bagaimana'' saya dapat membunuh nyawa yang tidak bersalah?’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya mengambil nafas dalam dan mengatakan apa yang telah saya pikirkan. ‘Saya tidak tahu mengapa kamu begitu terkejut. Ini bukan pertama kali dosamu membawa kematian, ini adalah yang kedua.’ Ia melihat saya dengan penuh kebingungan. ‘Temanku sayang,’ saya melanjutkan, ‘ketika kamu melihat Salib, semua dari kita datang sebagai penyalib. Beragama atau tidak beragama, baik atau buruk, penggugur kandungan atau bukan penggugur kandungan – semua dari kita bertanggung jawab atas kematian dari satu-satunya orang tak bersalah yang pernah hidup. Yesus mati untuk dosa-dosa kita – masa lalu, sekarang, dan masa depan. Kamu pikir ada dosa-dosamu yang Yesus tidak perlu mati untuknya? Dosa kesombongan itu yang menyebabkan kamu menghancurkan anakmu adalah yang membunuh Kristus juga. Tidak peduli kamu tidak berada di sana dua ribu tahun yang lalu. Kita semua mengirim-Nya ke sana. Luther berkata bahwa kita membawa paku-paku-Nya itu di saku kita. Jadi kalau kamu telah melakukannya sebelumnya, lalu mengapa kamu tidak bisa melakukannya lagi?’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Renungkan Mazmur 32:1-5.''' Apa yang terjadi waktu kita menyimpan dosa-dosa kita? Apa yang terjadi waktu kita mengakuinya?}}“Ia berhenti menangis. Ia melihat saya tepat di mata dan berkata, ‘Kamu sangat benar. Saya telah melakukan yang lebih buruk daripada membunuh bayi saya sendiri. Dosa sayalah yang telah membawa Yesus ke kayu Salib. Tidak peduli saya tidak berada di sana menancapkan paku, saya tetap bertanggung jawab atas kematian-Nya. Sadarkah Anda pentingnya ucapan yang Anda katakan pada saya, Becky? Saya datang pada Anda mengatakan saya telah melakukan hal terburuk yang bisa dibayangkan. Dan Anda mengatakan pada saya bahwa saya telah melakukan lebih buruk dari itu.’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|Apakah Anda menemukan diri Anda dibebani oleh rasa bersalah ketika Anda mengingat sebuah dosa (atau dosa-dosa) spesifik dari masa lalu? Kalau begitu, carilah seorang Kristen yang dewasa yang kepadanya Anda dapat mengaku dan yang darinya Anda dapat menerima penguatan tentang besarnya pengampunan Tuhan. Tulislah keinginan Anda itu: “Percaya bahwa Tuhan ingin saya untuk melepaskan saya dari rasa bersalah, saya akan berbicara kepada __________________ tentang area dosa ini tidak lebih dari ______ ___________.”}}“Saya menyeringai karena saya tahu itu adalah benar. (Saya tidak yakin bahwa pendekatan saya akan menjadi salah satu teknik konseling yang hebat!) Lalu ia berkata, ‘Tapi Becky, kalau Salib menunjukkan saya bahwa saya adalah lebih buruk daripada yang saya pernah bayangkan, Salib itu juga menunjukkan bahwa kejahatan saya telah diserap dan diampuni. Kalau hal terburuk yang manusia dapat lakukan adalah membunuh Anak Allah, dan itu dapat diampuni, lalu bagaimana bisa hal lain – bahkan aborsi – tidak diampuni?’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya tidak akan pernah lupa rupa di matanya ketika ia duduk kembali dalam kekaguman dan dengan tenang berkata, ‘Bicara tentang anugerah yang besar.’ Kali ini ia menangis bukan karena penderitaan tapi karena rasa lega dan syukur. Saya melihat wanita yang sepenuhnya telah ditransform oleh pengertian yang benar akan Salib.”&amp;lt;ref&amp;gt;Rebecca Pippert, ''Hope Has Its Reasons'' (New York: HarperCollins Publishers, Inc., 1989), pp. 102–104.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengampunan dosa adalah isu yang sangat penting. Ahli teologi English Puritan, John Owen, menulis sebuah essay tentang topik yang masih dianggap sebuah klasik. Eksposisi dari Mazmur 130 ini panjangnya lebih dari tiga ratus halaman, meskipun mazmur itu sendiri hanya terdiri dari delapan ayat. Pendahuluan dari editor memberikan beberapa masukan mengenai keadaan sekitar penulisan eksposisi itu. Sepertinya sebagai seorang pemuda Owen hanya memiliki pemahaman yang dangkal akan pengampunan Tuhan, “sampai Tuhan berkenan menengok saya dengan kesulitan yang menyakitkan, dimana saya dibawa ke mulut kubur, dan dimana jiwa saya tertekan oleh rasa ketakutan dan kegelapan; tapi Tuhan dengan murah hati membebaskan roh saya oleh aplikasi penuh kuasa dari Mazmur 130:4 yang darinya saya peroleh ajaran khusus, kedamaian dan penghiburan, dalam mendekat kepada Tuhan melalui Mediator, dan mengkotbahkannya langsung setelah saya sembuh.”&amp;lt;ref&amp;gt;John Owen, ''Works, Vol. VI'' (Carlisle, PA: The Banner of Truth Trust, 1967), p. 324.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Ketika kamu menyadari semua yang dibayar Tuhan untuk mengampunimu, kamu akan dipegang seperti seorang sahabat, dibatasi oleh kasih Allah.&amp;lt;ref&amp;gt;Oswald Chambers, My Utmost for His Highest (New York: Dodd, Mead &amp;amp; Company, 1963), p. 325.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot;}}Mazmur 130:4, seperti kita lihat di atas, menunjukkan bahwa takut akan Tuhan adalah pertumbuhan natural dari penerimaan akan pengampunan-Nya. Pada saat kita muda dan sehat masalah lain dapat terlihat begitu lebih penting. Tapi saat mata kita terbuka pada hal-hal yang bersifat kekal, mengetahui apakah kita sungguh diampuni akan membuat masalah-masalah lain menjadi tidak penting.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Penyucian melalui Kristus ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pembenaran memulai proses yang disebut penyucian, dimana kita makin menjadi serupa dengan Yesus. Sementara pembenaran membuat kita diampuni dan dikasihi, pembenaran tidak berbuat apa-apa terhadap karakter kita. Kita tetap orang pemberontak yang sama sebelum Tuhan menyelamatkan kita. Akan tragis jadinya jika Tuhan membiarkan kita sendiri. Kita tidak akan pernah bertumbuh, tidak pernah berubah, tidak pernah meningkat. Untungnya, meskipun Tuhan mengasihi kita apa adanya, Ia terlalu mengasihi kita untuk meninggalkan kita di sana. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pusat doktrin penyucian adalah kebenaran bahwa kita disatukan dengan Yesus Kristus. Di dalam bukunya ''Men Made New'', John Stott membuat pengamatan berikut: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:“Tema besar Roma 6, dan khususnya ayat 1-11, adalah bahwa kematian dan kebangkitan Yesus Kristus bukanlah hanya fakta sejarah dan doktrin penting, melainkan pengalaman pribadi orang Kristen yang percaya. Pengalaman-pengalaman tersebut adalah peristiwa-peristiwa yang kita sendiri alami. Semua orang Kristen telah disatukan dengan Kristus di dalam kematian dan kebangkitan-Nya. Selanjutnya, kalau ini benar, jika kita telah mati dengan Kristus dan dibangkitkan dengan Kristus, adalah tidak terbayangkan bahwa kita terus hidup dalam dosa.”&amp;lt;ref&amp;gt;John R.W. Stott, ''Men Made New'', p. 30.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin Anda berpikir ulang saat Anda melihat kata “tidak terbayangkan.” Kebanyakan kita menemukan tidak terbayangkan kalau kita dapat mungkin terus hidup ''diluar'' dosa! Apakah kemenangan atas dosa sebenarnnya mungkin?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut: Baca 1 Korintus 15:51-58.''' Meskipun perikop ini mengacu pada masa yang akan datang, bagaimana kebenaran ini dapat menguatkan Anda dalam pergumulan Anda melawan dosa?}}Inilah dua jawaban yang umum. Sebagian mengatakan orang Kristen dapat mengharapkan hidup kemenangan di dunia akan datang, tetapi harus memasang penglihatan lebih rendah di dunia ini sekarang. Sebagian lagi telah mengalami pelepasan secara dramatis dari dosa yang menjijikan sehingga mereka merasa diri mereka imun terhadapnya. Kedua ekstrim ini berada di luar target. Walau aplikasi pelajaran membutuhkan usaha rohani, kita memiliki di bab enam kitab Roma semua ajaran yang kita butuhkan untuk meluruskan kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika demikian apa yang hendak kita katakan?” tanya Paulus (ay.1). “Bolehkan kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu?” Ia mengantisipasi pertanyaan ini karena beberapa ayat sebelumnya ia berkata, “Dimana dosa bertambah banyak, disana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah” (Rom 5:20). Ia tahu bahwa pernyataan itu akan membawa sebagian orang untuk berpikir: “Kalau Tuhan dimuliakan dalam mengampuni dosa dan kalau kasih karunia bertambah dalam proporsi terhadap dosa, mengapa tidak membuat dosa lebih banyak lagi? Dengan begitu akan ada kasih karunia lebih dan Tuhan akan menerima lebih banyak kemuliaan!” Betapa kesimpulan yang bengkok dan melayani diri sendiri. Bahwa Paulus bahkan menyatakan masalah ini dengan cara ini mengindikasikan bahwa injilnya telah menjadi subyek penyelewengan. Namun berharga untuk dicatat, bahwa Paulus tidak mengambil kembali atau menulis ulang doktrin itu. Bila injil diberitakan dengan benar ia akan selalu menjadi rawan terhadap penafsiran salah ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Dalam pembenaran pekerjaan kita sendiri tidak memiliki tempat sama sekali dan iman yang sederhana dalam Kristus adalah satu-satunya yang diperlukan. Dalam penyucian pekerjaan kita sendiri adalah sangat penting, dan Tuhan meminta kita bertarung dan berjaga-jaga dan berdoa dan bertahan dan menanggung sakit dan bekerja keras.&amp;lt;ref&amp;gt;J.C. Ryle, ''Holiness'' (Hertfordshire, England: Evangelical Press, 1879, 1979), p. 29.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; — J.C. Ryle}}Paulus dengan keras membantah idenya sendiri bahwa kasih karunia memimpin pada dosa yang lebih jauh: “Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya?” (Rom 6:2). Kematian kita terhadap dosa, seperti Paulus jelaskan di ayat-ayat selanjutnya, terbungkus dalam kesatuan kita dengan Kristus yang tersalib. Waktu kita percaya pada Yesus, kita disatukan dengan-Nya. Transaksi iman terjadi dimana kita selamanya dianggap berada di “dalam Kristus,” yaitu, secara spiritual disatukan dengan-Nya. Kesatuan ini dilambangkan dengan baptisan. Seperti Yesus mati, dimakamkan dan bangkit dalam hidup teguh, baru, begitu pula kita mati bersama-Nya, dimakamkan bersama-Nya oleh baptisan, dan dibangkitkan untuk menjalani hidup baru di jalan yang baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|Setelah membaca bab ini, seorang Kristen muda tapi tulus datang kepada Anda untuk meminta tolong. “Paulus mengatakan diri saya yang lama telah mati dan dikuburkan bersama Kristus,” katanya. “Jadi mengapa saya mereka begitu hidup setiap kali bekas pacar saya mampir?” Bagaimana Anda menjawab? &lt;br /&gt;
* “Kamu pasti mempunyai iblis—mari mengusirnya keluar!”&lt;br /&gt;
* “Saya rasa kamu belum benar-benar diselamatkan.”&lt;br /&gt;
* “Dimana imanmu, saudariku?”&lt;br /&gt;
* “Mungkin diri lamamu sedang berada dalam koma sementara.”&lt;br /&gt;
* “Mari kita lihat pasal enam dan tujuh dari kitab Roma…”}}Analogi alami terdekat dari kesatuan ini adalah pernikahan. Istri saya Clara dan saya memiliki identitas bersama (kami berdua memiliki nama belakang yang sama) dan kami disatukan dalam hati, pikiran, dan tubuh. Kami berbagi sumber-sumber – semua yang saya miliki adalah miliknya, dan sebaliknya. Sebagai hasilnya kami berdua diperkaya (meskipun disinilah analogi ini lemah – kita mendapatkan keuntungan satu sisi dari kesatuan kita dengan Kristus). Clara dan saya memakai cincin yang melambangkan kebenaran yang lebih dalam dari kesatuan kami. Tapi seperti cincin saya tidak membuat saya menikah, begitu juga baptisan tidak membuat saya seorang Kristen. Hal ini datang setelah fakta transaksi iman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Renungkan Roma 6:17-18.''' Kita bukan lagi hamba dosa, tetapi kita adalah masih hamba. Kepada apakah tuan baru Anda memanggil Anda?}}Apa tepatnya arti dari mati terhadap dosa? Saya mati terhadap dosa dalam pengertian bahwa rasa bersalah dan penghukuman yang menyatu dengan dosa (maut) tidak lagi bergelantungan pada saya. Tetapi lebih dari itu, hubungan saya terhadap dosa telah dirubah secara radikal. Sebelum saya dibenarkan, saya tidak tahan tidak berbuat dosa. Sekarang saya tidak lagi di bawah kuasa dosa. ''Hubungan tuan-hamba'' yang sebelumnya ada telah diakhiri selamanya. ''Perhatikan'' bahasa yang dipakai di Roma 6:12-14: “Hendaklah dosa jangan berkuasa lagi…Janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa…Kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa.” Ini adalah bahasa perbudakan dan Paulus berkata hal ini tidak lagi berlaku. Kewajiban kita terhadap dosa telah diakhiri – oleh kematian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kematian kita terhadap dosa melalui penyatuan kita dengan Kristus memiliki implikasi yang jauh.&lt;br /&gt;
Masalah atau kebiasaan atau ingatan atau rahasia apa pun yang sekarang mempengaruhi pikiran dan perilaku Anda tidak perlu lagi melakukan itu. Mereka dapat berhasil ditolak. Orang yang sebelumnya dikuasai semua itu – diri Anda yang lama – telah mati. Dorongan berbuat dosa ini sekarang bukan lagi majikan Anda. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Bukan saya tidak dapat berdosa, tetapi saya dapat tidak berdosa.&amp;quot; — Arthur Wallis}} Lama sebelum ada orang yang mempopulerkan klaim bahwa hanya ada dua jenis orang di dunia ini (contohnya mereka yang tinggal di Oshkosh, Wisconsin dan mereka yang ''berharap'' mereka tinggal di sana), John Owen membuat kasifikasinya sendiri. Ia membedakan antara mereka yang di bawah kuasa dosa dan mereka yang ''mengira'' mereka berada di bawah kuasa dosa. Karena itu seorang pastor mempunyai dua tanggung jawab utama, seperti Owen ungkapkan dalam bahasa di jamannya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# Untuk meyakinkan mereka yang di dalamnya dosa secara nyata menguasai bahwa sungguh itulah posisi dan keadaan mereka.&lt;br /&gt;
# Untuk memuaskan sebagian bahwa dosa tidak memiliki kuasa atas mereka, walaupun dosa itu terus gelisah di dalam mereka dan berperang melawan jiwa mereka; tapi kalau ini tidak bisa dilakukan, adalah tidak mungkin mereka dapat menikmati damai yang solid dan kenyamanan dalam hidup ini.&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''Christian Spirituality ''(Reformed View), p. 58.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Telah menjadi kehormatan bagi saya untuk melihat lebih dari sekali orang-orang mengatasi masalah kebiasaan-kebiasaan buruk dan berkepanjangan melalui pelajaran yang tekun serta aplikasi dari Roma 6. Kita tidak perlu terus menjadi orang-orang kudus yang terpenjara lagi. Sekali kita menyadari bahwa kita telah disatukan dengan Kristus dalam kematian dan kebangkitan-Nya, kita akan melihat Ia telah membuka pintu pelepasan kita lebar-lebar. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Group Discussion ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# Think back to the opening illustration of the imprisoned saint. What does the jail symbolize? What is the key?&lt;br /&gt;
# What inner conflict could have possibly held a slave back from responding to Lincoln’s Emancipation Proclamation? What could hold back a Christian from seizing his liberty in Christ?&lt;br /&gt;
# What’s the greatest thing we will ever receive from God? (Page 61)&lt;br /&gt;
# What emotions do you think Americans experienced when peace was announced at the end of World War II? Does your peace with God evoke similar emotions in you?&lt;br /&gt;
# According to the author, what is man’s greatest need?&lt;br /&gt;
# Read the story of Simon the Pharisee and the sinful woman in Luke 7:36-50. What’s the main difference between these two? With which of them do you identify most in your attitude toward Jesus?&lt;br /&gt;
# Were you affected by the story about the woman who had an abortion? How?&lt;br /&gt;
# What attitudes or actions might indicate that someone has a superficial awareness of forgiveness?&lt;br /&gt;
# What does it mean to be united with Christ in his death? What are the implications?&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Sukartay</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/The_Fruits_of_Justification_(I)/id</id>
		<title>This Great Salvation/The Fruits of Justification (I)/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/The_Fruits_of_Justification_(I)/id"/>
				<updated>2008-01-10T07:12:59Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Sukartay: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;= Buah-Buah Pembenaran (I) =&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah Anda pernah memperhatikan betapa sedikitnya buku-buku Kristen yang memiliki cover menarik? Oh, ada beberapa, tentu – seperti buku Franky Schaeffer ''A Time for Anger'', dengan lukisan dari Pieter Brueghel “Orang Buta Menuntun Orang Buta.” Lukisan itu begitu menggugah saya sehingga saya mencari kopinya dan membingkainya untuk kantor saya. Dan ada juga gambar-gambar mengagumkan di sampul ''Chronicles of Narnia'' milik C.S. Lewis yang ''siap membawa Anda ke sana''. Salah satu sampul buku yang paling menarik yang pernah saya lihat tampak di sebuah seri pamflet. Illustrasinya menunjukkan seorang pria sedih dan kesepian yang sedang memandang kosong keluar jendela sebuah sel penjara. Saat Anda melihat, Anda menjadi sadar bahwa pintu selnya terbuka di belakangnya. Tetapi ia tidak memperhatikannya. Kalau saja ia menoleh ia akan melihat bahwa ia dapat berjalan keluar seperti orang bebas. Tetapi ia tetap terpenjara karena ketidaktahuannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Renungkan Lukas 4:18-19.''' Apakah Anda menyadari “Proklamasi Emansipasi” ini diberikan kepada Anda?}}Intinya cukup jelas. Banyak orang Kristen – bukan, kebanyakan orang Kristen – adalah seperti pria ini. Secara tragis mereka tidak menyadari kebebasan dan hak-hak lebih yang adalah milik mereka melalui injil Yesus Kristus. Mereka adalah orang-orang kudus yang tidak perlu terpenjara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Ketika Allah mengampuni, Ia mengampuni semua dosa, dosa asal dan dosa sekarang, dosa karena kita melakukan dan dosa karena kita tidak melakukan, dosa rahasia dan dosa terbuka, dosa dalam pikiran, perkataan dan perbuatan… Pengampunan penuh, atau tidak sama sekali, adalah yang Allah ciptakan untuk berikan. Hal ini sesuai dengan kebutuhan manusia. Pemberian ini tidak pernah diambil kembali oleh Allah. Ketika Ia mengampuni, Ia mengampuni selamanya&amp;lt;ref&amp;gt;William S. Plumer, ''The Grace of Christ'' (Philadelphia, PA: Presbyterian Board of Publication, 1853), pp. 201–02.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; — William S. Plumer &amp;quot;Saya harus memperhatikan apa yang saya katakan: tetapi rasul itu berkata, “Allah membuat Dia yang tidak mengenal dosa, menjadi berdosa karena kita, sehingga kita dapat dibenarkan oleh Allah di dalam Dia.” Begitulah kita di mata Allah Bapa, sama seperti Anak Allah sendiri. Biarlah hal itu dianggap bodoh atau emosi, atau luapan perasaan, apa pun, itu adalah penghiburan kita dan hikmad kita; kita tidak peduli pengetahuan lain di dunia selain ini, bahwa manusia telah berdosa dan Allah telah menderita; bahwa Allah telah membuat dirinya sendiri Anak manusia, dan bahwa manusia dibuat kebenaran Allah.”&amp;lt;ref&amp;gt;Ibid., p. 230. &lt;br /&gt;
&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; — Richard Hooker}}Merubah gambaran ini sedikit saja, sejumlah budak terus hidup seperti sebelumnya bahkan setelah Proklamasi Emansipasi. Sebagian mereka tetap berada di kegelapan tentang dimana mereka sekarang berdiri. Sebagian lain, walaupun menyadari kebebasan mereka, tidak pernah berjalan keluar tempat perbudakan karena takut. Kebebasan menuntut keberanian dan membawa bersamanya tanggung jawab yang besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya injil hanya membuat perbedaan kecil dalam hidup orang Kristen yang tak terhitung jumlahnya. Meskipun mereka telah sungguh dibenarkan dan penghukuman telah dibatalkan, masalah yang sama sepertinya mengganggu mereka. Ketakutan, kebiasaan, dan keraguan yang sama yang mengkarakterisasi hidup mereka sebelum mereka percaya Kristus masih tetap memegang kendali. Mengapa? Menurut saya satu alasan terbesar adalah ketidaktahuan. Bagi tidak sedikit orang Kristen, Alkitab masih menjadi buku tertutup. Fakta bahwa warisan besar telah disediakan bagi mereka yang dibenarkan oleh Allah seperti belum menjadi jelas buat mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengetahuan akan Firman Tuhan yang terus bertumbuh adalah sangat vital. Di saat Anda membaca, menghafal dan merenungkan Firman Tuhan, Anda akan mulai merasakan penyediaan yang mengagumkan yang diberikan Allah. Dua bab terakhir dari buku ini akan mengekplorasi buah-buah dari pembenaran kita, warisan kita di dalam Kristus. Sisa keraguan yang masih ada di pikiran kita mengenai tujuan dan takdir Tuhan harus dijelaskan saat kita menginventori keuntungan-keuntungan dari keselamatan yang agung ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Turun dari Kursi Kayu ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gambaran sekitar doktrin pembenaran datang langsung dari pengadilan hukum, seperti yang kita pelajari di bab sebelumnya. Allah, Pemberi hukum dan Hakim dari seluruh bumi, telah mengeluarkan sebuah deklarasi yang membebaskan orang berdosa yang terhukum dari semua kesalahan. Pembenaran memberi kita status baru di hadapan Allah dan mengampuni kita dari semua dosa dan hukumannya. Walaupun kita adalah orang-orang kriminal tertuduh yang sedang menunggu dalam barisan Hukuman Mati yang tidak bisa dihindari, Sang Hakim mengampuni kita dan menghancurkan catatan-catatan kriminal kita. Betapapun mengagumkannya hal ini, ada aspek pembenaran yang bahkan lebih mengagumkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya pernah berada di ruang sidang, dan itu bukanlah tempat yang penuh keceriaan. Anda tidak dapat menjadi diri Anda sendiri. Adalah tidak pantas untuk tertawa keras atau mengangkat kaki Anda. Tidak seorang pun berpikir untuk bertemu hakim setelah sidang untuk makan es krim ataupun menonton pertandingan bola basket. Ada peraturan perilaku tertentu yang harus dipertahankan, formal dan mengintimidasi – dan memang dimaksudkan begitu. Hal ini tidak kurang benar di hadirat Hakim yang berdaulat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|Buka hampir di bagian mana saja dari Alkitab Anda dan Anda akan menemukan janji-janji menakjubkan dari Tuhan. Tandai satu dari yang di bahwa ini yang paling berarti buat Anda saat ini. * “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau” (Ibr 13:5). * “Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu” (1Kor 10:13) * “Barangsiapa percaya kepada-Ku akan melakukan pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa” (Yoh 14:12) * “Ia yang memulai pekerjaan yang baik diantara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus” (Flp 1:6) * “Kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris” (Gal 4:7).}}Tetapi ada perbedaan yang sangat besar antara pengadilan di surga dan di bumi. Setelah menyatakan kita bebas dari segala tuduhan dan penghakiman, Tuhan memilih untuk ''tidak'' pergi ke ruangan-Nya, seperti yang dikira. Tetapi, Ia mendobrak semua standard dengan turun dari bangku kayu, mengumpulkan kita di tangan-Nya, dan lalu menggendong kita dari ruang sidang ke ruang keluarga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memiliki Allah sebagai Bapa kita adalah sungguh mengagumkan. Firman Tuhan telah menjelaskan bahwa kita berhubungan dengan Tuhan dengan intim dan secara legal. Bukan itu saja, tetapi untuk menjadi anak-anak-Nya mendatangkan hak-hak khusus. Paulus mendeskripsikannya seperti ini: “Roh itu bersaksi bersam-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah. Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris – orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus” (Rom 8:17).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara pembenaran bagi kita adalah pemberian gratis, pembenaran itu dibayar Allah dengan Anak-Nya. Pembenaran itu dibayar oleh nyawa Anak-Nya. Dan pembenaran itu dibayar oleh keangkuhan kita, karena satu-satunya cara untuk menerima pemberian ini adalah dengan datang kepada Tuhan dalam kerendahan hati dan pertobatatan iman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Apa Semua Ini ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' “Kekayaan” apakah yang Paulus deskripsikan di Kolose 2:2-3? Dimanakah “harta“ itu berada? Apakah Anda telah sepenuhnya mengambil keuntungan dari warisan ini?}}Anak Allah, Ahli Waris Allah, Ahli Waris bersama Kristus. Apa arti semua itu? Mari kita bangun satu fakta penting. Yesus Kristus, Anak tunggal Allah, adalah ahli waris Bapa yang sah dan sebenarnya. Kalau ada warisan yang kita miliki itu hanya karena kita berada di “dalam Kristus” (Ef 2:7). Apalagi, Kristus sendiri adalah warisan ini. Dia adalah damai kita, Dia adalah kebenaran kita, pengharapan kita, penyucian dan penebusan kita. Di dalam Dia tersembunyi semua harta hikmad dan pengetahuan. Dialah kebangkitan dan hidup. Hal terbesar yang kita akan pernah terima dari Allah adalah Yesus sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adalah juga penting untuk memahami bahwa keselamatan datang bukan melalui sebuah doktrin melainkan melalui sebuah Individu. Kita tidak diselamatkan oleh pembenaran, tetapi oleh Yesus. Waktu kita mengambil waktu untuk mempelajari Firman Tuhan kita menghadapi resiko menjadi seorang ahli doktrin tetapi tidak kompeten dalam pengetahuan sejati akan Tuhan kita. Dan mengenal Tuhan adalah segalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Bagaimana seseorang yang hidup melalui pengalaman tercatat di 2 Korintus 11:23-33 bisa menulis Roma 15:13??}}Seorang kawan saya mengatakan pada saya cerita berikut ini tentang Scott McGregor, orang Kristen berdedikasi dan seorang pelempar bola baseball kidal yang terkenal untuk Baltimore Orioles di tahun 70 dan 80an. Suatu ketika, di satu momen genting di dalam permainan, Scott menemukan dirinya berhadapan dengan seorang pemukul bola berbahaya dengan orang-orang pencetak angka. Ia mengambil waktu cukup untuk mempelajari situasi ketika seorang wanita tidak sabar di kotak tempat duduk di belakang kandang pemain Orioles berteriak, “Yesus Kristus! Lempar bolanya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Baca Matius 7:21-23 dan jawab pertanyaan-pertanyaan berikut: * Hal-hal terpuji apakah yang orang-orang ini capai? * Apakah empat kata penilaian Tuhan terhadap mereka? * Dalam satu kalimat, bagaimana Anda akan merangkum kesalahan fatal mereka?}}Bukan tidak umum untuk mendengar nama Tuhan digunakan sembarangan di permainan bola. Tetapi dalam peristiwa ini McGregor begitu tersentak sehingga ia hampir kehilangan konsentrasi. Setelah mengembalikan dirinya sendiri, ia dapat melempar dengan benar dan pemukulan bola berakhir. Lalu ia melakukan sesuatu yang sangat berbeda, sesuatu yang seharusnya tidak boleh dilakukan oleh pemain. Ketika ia berjalan kembali ke kandang pemain ia menatap langsung ke wanita tadi dan bicara dengannya. Dalam nada yang terganggu namun lembut, penuh keprihatinan terhadap wanita itu dan Tuhannya, ia berkata, “Ibu, kalau kamu sungguh mengenal Dia, kamu tidak akan pernah menyebut nama-Nya seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
McGregor mendemonstrasikan bahwa Kekristenan adalah lebih dari sekedar sebuah kebenaran untuk dipercayai. Kekristenan adalah sebuah kehidupan untuk dijalani dan, di atas segalanya, satu Tuhan untuk dicintai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu memikirkan sesuatu seluas, seajaib warisan yang kita miliki di dalam Kristus, digambarkan Paulus sebagai “kekayaan kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah” (Ef 2:7), sangat sulit untuk mengetahui dimana harus mulai. Menariknya, Paulus juga memiliki masalah yang sama. Di dalam suratnya kepada jemaat di Efesus, ia begitu terbawa oleh implikasi pembenaran yang begitu besar. Saat ia berusaha menghubungkan semua yang Tuhan telah lakukan dan sedang lakukan di pasal pertama, ia mulai dengan kalimat di ayat tiga yang berakhir sampai sebelas ayat kemudian. Secara tata bahasa memang tidak cantik, namun hatinya yang penuh mengalir memberi kesaksian akan anugerah Tuhan yang tidak terselami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perikop berikut dari surat Paulus kepada jemaat di Roma menyediakan titik mula yang sangat bagus “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus. Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah” (Rom 5:1-2). John Stott menjelaskan pentingnya perikop ini:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Pasal-pasal awal dari [kitab Roma] didedikasikan untuk kebutuhan dan jalan pembenaran. Semua itu bertujuan menjelaskan bahwa semua manusia adalah berdosa di bawah penghakiman Allah yang adil, dan dapat dibenarkan hanya melalui penebusan yang di dalam Yesus Kristus – melalui anugerah semata, melalui iman saja. Di poin ini, setelah membeberkan kebutuhan dan penjelasan jalan pembenaran, Paulus meneruskan dengan menggambarkan buah-buahnya, hasil dari pembenaran dalam hidup sebagai anak dan ketaatan di dunia dan kehidupan lanjut yang penuh kemuliaan di surga (penekanan ditambahkan).&amp;lt;ref&amp;gt;John R.W. Stott, ''Men Made New'' (Grand Rapids, MI: Baker Book House, 1966, 1991), pp. 9–10.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bab ini akan melihat tiga buah dari pembenaran: damai dengan Allah, pengampunan dosa, dan proses penyucian. Di bab terakhir buku ini kita akan mengkaji pengadopsian kita di dalam Kristus serta pengharapan kita akan kemuliaan di masa depan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Damai dengan Allah ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perdamaian dengan Allah menggarisbawahi semua yang lain yang kita terima dalam Kristus. Perdamaian ini adalah hadiah yang menaruh berkat-berkat lain dalam perspektif. “Urusan utama dari injil Kristen adalah bukan untuk memberi kita berkat,” tulis D. Martyn Lloyd-Jones. “Tujuan utamanya adalah untuk mendamaikan kita dengan Allah.”&amp;lt;ref&amp;gt;D. Martyn Lloyd-Jones, ''Romans: Assurance, Chapter Five'' (Grand Rapids, MI: Zondervan Publishing House, 1971), p. 10.&amp;lt;/ref&amp;gt; Berdamai dengan Allah berarti kita berada di posisi perujukan dengan-Nya. Pernyataan pembenaran telah menjauhkan semua halangan antara Allah dan manusia. Walau tentu saja ada yang namanya damai ''dari'' Allah yang subyektif (yang bisa dirasakan), apa yang ada di benak Paulus dalam Roma 5:1 adalah fakta ''obyektif'' bahwa injil telah menghapuskan segala sesuatu yang memisahkan kita dari Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Renungkan Efesus 2:11-20.''' Apa yang Yesus lakukan terhadap penghalang permusuhan yang berdiri diantara diri-Nya dan kita?}}Untuk mendamaikan berarti menyatukan apa yang telah terpisah karena pemusuhan. Contoh utama dari arti ini ditemukan di kotbah Stefen kepada Sanhedrin ketika ia menceritakan kembali peristiwa kehidupan Musa: “Pada keesokan harinya ia muncul pula ketika dua orang Israel sedang berkelahi, lalu ia berusaha ''mendamaikan'' mereka, katanya: Saudara-saudara! Bukankah kamu ini bersaudara? Mengapakah kamu saling menganiaya?” (Kis 7:26). Versi Alkitab King James menerjemahkan “mendamaikan” di konteks ini menjadi “membuat mereka satu kembali.” Kata Yunani yang dipakai adalah bentuk kata kerja dari kata yang biasa diterjemahkan “damai.” Apa yang penting bagi kita untuk diingat adalah bahwa sekarang, dari titik pandang Allah, tidak ada lagi permusuhan antara Allah dan mereka yang telah dibenarkan. Amarah dan murka-Nya terhadap dosa telah diekspresikan dengan adil dan dipuaskan penuh di Salib. Perseteruan telah berakhir. Perdamaian telah dibuat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak hanya konflik telah diselesaikan, tetapi semua masalah hukum yang berasal dari permusuhan sebelumnya telah dihapuskan, tidak pernah muncul lagi: “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi merkea yang ada di dalam Kristus Yesus…Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Allah, yang membenarkan mereka?” (Rom 8:1,33). Kalau pengadilan tertinggi di jagad raya ini telah menyatakan kita benar, tidak ada gugatan yang bisa menempel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Ketika perang suci kita dengan Allah berakhir, ketika kita seperti Luther berjalan melalui pintu-pintu Surga, ketika kita dibenarkan oleh iman, perang itu berakhir untuk selamanya. Dengan pembersihan dari dosa dan pernyataan pengampunan ilahi kita memasuki perjanjian damai dengan Allah yang kekal. Buah sulung dari pembenaran kita adalah damai dengan Allah. Damai ini adalah damai yang kudus, damai yang tidak bercacat dan agung. Damai ini adalah damai yang tidak bisa dihancurkan.&amp;lt;ref&amp;gt;R.C. Sproul, ''The Holiness of God'' (Wheaton, IL: Tyndale House Publishers, 1985), p. 193.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; — R.C. Sproul}}Berhati-hatilah bahwa frase “tidak ada penghukuman” ''tidak'' berarti “tidak ada tuduhan.” Kita telah menyinggungnya di bab pertama. Musuh jiwa kita meneruskan pekerjaan kotornya menyebarkan kata-kata yang melecehkan dan menembakan anak panah api, dan sering terjadi kita salah mengira pembetulan dan teguran Tuhan sebagai suara tuduhan iblis. Tetapi kenyataan bahwa Yesus telah mengambil tempat kita berarti kita tidak akan pernah harus berhadapan dengan penghukuman di penghakiman akhir. “Siapakah yang akan menghukum mereka? Kristus Yesus, yang telah mati? Bahkan lebih lagi: yang telah bangkit, yang juga duduk di sebelah kanan Allah, yang malah menjadi Pembela bagi kita?” (Rom 8:34). Dia yang satu-satunya memiliki otoritas untuk menghukum untuk selamanya telah memihak pada kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|Bayangkan Anda sendiri memerintah sebuah bangsa berjumlah lima milyar orang. Sebuah berita mengatakan bahwa ada seorang warga yang mengadakan pemberontakan dan sedang membuat kekacauan di istana. Bukannya mengirim divisi tank bersenjata untuk menghentikan orang gila itu, Anda mengirim Pangeran. Dalam usaha menggapai si pemberontak, sang Pangeran terbunuh. Bagaimana Anda akan memperlakukan warga ini setelah ia ditangkap? * Musnahkan ia selamanya dari kerajaan * Membakar ia perlahan-lahan di atas api menyala * Menggantungnya dari pohon tertinggi di kota * Hukum dia dengan hidup dalam isolasi * Menjadikannya makanan bagi ular piton kerajaan * Mengampuninya, menerimanya, dan mengadopsinya menjadi anak Anda.}}Mengetahui kita telah didamaikan dengan Allah membawa ketenangan bagi pikiran kita. Ini memampukan kita untuk mengalahkan rasa kuatir dan takut. Bahkan bila seluruh dunia melawan kita, kita tetap aman dalam Kristus. “Janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi,” Yesus menjelaskan kepada murid-murid-Nya, yang telah ditetapkan untuk menghadapi perlawanan hebat. “Aku akan menunjukkan kepadamu siapakah yang harus kamu takuti. Takutilah Dia, yang setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka” (Luk 12:4, 5). Allah, satu-satunya yang berharga untuk kita takuti, telah berinisiatif mengadakan perjanjian damai kekal dengan kita. Untuk orang Kristen yang dibangun di dalam kebenaran ini, bahkan ketakutan akan maut dikalahkan karena ancaman penghukuman tidak lagi eksis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Pengampunan Dosa-Dosa ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Renungkan Keluaran 34:5-7.''' Dalam kesadaran akan semua kualitas karakter Allah, apakah Anda menganggap penting bahwa Ia memilih untuk menekankan sifat-sifat ini ketika Ia menyatakan diri kepada Musa?}}Berhubungan erat dengan perujukan dan damai dengan Allah adalah pengampunan dosa. Saya mungkin berlebihan, tetapi kelihatannya bagi saya kebenaran berharga ini berada dalam bahaya untuk dibenci. Ketika orang meratap. “Saya tahu saya telah diampuni, tetapi…,” saya tidak tahan untuk berpikir, ''Kamu tidak tahu bahwa kamu telah diampuni! Kalau kamu sungguh mengerti pengampunan masalahmu tidak akan terlihat seburuk itu.'' Seperti Lloyd-Jones implikasikan di dalam pernyatannya di halaman 63, kebutuhan terbesar manusia adalah pengampunan. Dan kalau Tuhan sudah mengampuni kita, masalah lain apapun yang kita punya pasti menjadi lebih kecil kalau dibandingkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang ini jarang terdengar orang-orang Kristen bersukacita karena diampuni Allah. Hal ini dapat dipahami di kultur yang memandang nilai diri yang rendah sebagai masalah yang lebih besar daripada diasingkan dari Allah. Namun kepekaan kita akan pengampunan secara langsung mempengaruhi kasih kita terhadap Allah. Itulah inti dari respon Tuhan terhadap Simon orang Farisi yang merasa diri benar. “Orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih,” kata Yesus padanya (Luk 7:47). Sebaliknya, mereka yang telah diampuni banyak – atau setidaknya menyadari betapa banyak mereka telah diampuni – banyak berbuat kasih. Setiap dari kita harus berada di kategori itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Apakah keraguan-keraguan ini menyebabkan Anda mempertanyakan pengampunan Allah? (tandai semua yang cocok) &lt;br /&gt;
* Tuhan tidak dapat terus menerus mengampuni saya untuk dosa yang sama. &lt;br /&gt;
* Saya mungkin telah diampuni, tetapi Tuhan belum melupakan. &lt;br /&gt;
* Tidak ada yang gratis di dalam hidup – Tuhan pasti mengharapkan sesuatu bentuk pembayaran. &lt;br /&gt;
* Saya bersalah atas dosa yang tidak dapat diampuni. &lt;br /&gt;
* Setelah dosa nomor 491 Tuhan akan menolak saya (lihat Mat 18:22).}}Pertimbangkan berikut ini:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Pengampunan dosa datang kepada kita hanya atas dasar darah Yesus Kristus yang tercurah. “Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya” (Ef 1:7).&lt;br /&gt;
* Motif Tuhan mengampuni kita adalah kasih-Nya yang besar. Pengampunan-Nya adalah pekerjaan belas kasih dan cuma-cuma. “Dialah yang telah ditinggikan oleh Allah dengan tangan kanan-Nya menjadi Pemimpin dan Juruselamat, supaya Israel dapat bertobat dan menerima pengampunan dosa” (Kis 5:31)—dan orang bukan Israel juga.&lt;br /&gt;
* Pengampunan dosa membawa kepada pengetahuan keselamatan. Yesus datang “untuk memberikan kepada umat-Nya pengertian akan keselamatan yang berdasarkan pengampunan dosa-dosa mereka” (Luk 1:77).&lt;br /&gt;
* Memahami pengampunan membawa kepada rasa takut yang benar akan Allah. “Jika Engkau, ya Tuhan, mengingat-ingat kesalahan-kesalahan, Tuhan, siapakah yang dapat tahan? Tetapi pada-Mu ada pengampunan, supaya Engkau ditakuti orang” (Mzm 130:3-4).&lt;br /&gt;
* Pengampunan Tuhan adalah menyeluruh. “Aku, Akulah Dia yang menghapus dosa pemberontakanmu oleh karena Aku sendiri, dan Aku tidak mengingat-ingat dosamu” (Yes 43:25).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cerita berikut ini, diceritakan oleh Becky Pippert di dalam bukunya Hope Has Its Reasons, menunjukkan kekuatan pengampunan di dalam hidup seorang wanita. Berharga untuk dikutip secara panjang:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Beberapa tahun yang lalu setelah saya selesai berbicara di sebuah konferensi, seorang wanita cantik datang ke podium. Ia tentu saja ingin bicara pada saya dan di saat saya berbalik menghadapnya, air mata keluar dari matanya. Kami pindah ke ruang dimana kami bisa bicara secara pribadi. Sangat jelas dari melihatnya bahwa ia sensitif tapi menderita. Ia menangis selagi ia mengatakan pada saya cerita berikut ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Dalam hubungan terhadap dosa dan terhadap Tuhan, faktor penentu dari eksistansi saya bukanlah lagi masa lalu saya. Melainkan masa lalu Kristus.&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''Christian Spirituality (Reformed View)'', Donald Alexander, ed. (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1988), p. 57.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; — Sinclair Ferguson}}“Bertahun-tahun sebelumnya, ia dan tunangannya (yang sekarang ia nikahi) merupakan pekerja remaja di sebuah gereja konservatif besar. Mereka adalah pasangan yang cukup dikenal dan memiliki pengaruh yang luar biasa terhadap anak-anak muda. Semua orang menghormati mereka dan sangat mengagumi mereka. Beberapa bulan sebelum mereka menikah mereka mulai melakukan hubungan seks. Hal itu membebankan mereka dengan rasa bersalah dan kemunafikan. Tapi lalu ia menemukan dirinya hamil. ‘Anda tidak dapat membayangkan apa implikasi dari mengakui hal ini kepada gereja,’ katanya. ‘Mengaku bahwa kami mengajarkan satu hal dan menjalani hal yang lain adalah tidak bisa ditoleransi. Jemaat ini sangat konservatif dan tidak pernah disentuh oleh skandal apapun. Kami merasa mereka tidak akan dapat menangani keadaan bila mengetahui situasi kami. Kamipun tidak akan dapat menanggung rasa malu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Baca Yesaya 59. Bagaimana Tuhan berespon terhadap kekurangan kita akan kekudusan yang begitu besar? (lihat ayat 16 dan 20)}}‘Lalu kami membuat keputusan yang paling mengerikan yang saya pernah buat. Saya menggugurkan kandungan. Hari pernikahan saya adalah hari terburuk dalam seluruh hidup saya. Setiap orang di gereja tersenyum pada saya, berpikir saya adalah pengantin perempuan bersinar dalam kepolosan. Tetapi tahukah Anda apa yang berada di kepala saya di saat saya berjalan di menuju altar? Yang dapat saya katakan pada diri saya adalah, ‘Kamu adalah seorang pembunuh. Kamu terlalu sombong sehingga tidak dapat menanggung rasa malu dan penghinaan bila kamu membuka siapa dirimu. Tetapi saya tahu siapa kamu dan Tuhan juga. Kamu telah membunuh bayi yang tidak bersalah.’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ia menangis begitu dalam sehingga ia tidak dapat berbicara. Saat saya memeluknya sebuah pemikiran datang pada saya dengan sangat kuat. Tapi saya merasa takut untuk mengatakannya. Saya tahu kalau ini bukan dari Tuhan bahwa ini dapat sangat menghancurkan. Maka saya berdoa dalam hati untuk hikmad untuk menolongnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ia melanjutkan. ‘Saya tidak percaya bahwa saya melakukan sesuatu yang begitu mengerikan. Bagaimana bisa saya membunuh nyawa yang tidak bersalah? Bagaimana mungkin saya bisa melakukan hal seperti itu? Saya mencintai suami saya, kami memiliki empat anak yang manis. Saya tahu Alkitab mengatakan bahwa Tuhan mengampuni semua dosa-dosa kita. Tapi saya tidak dapat mengampuni diri saya sendiri! Saya telah mengaku dosa ini beribu kali dan saya masih merasakan rasa malu dan menderita itu. Pikiran yang paling menghantui saya adalah ''bagaimana'' saya dapat membunuh nyawa yang tidak bersalah?’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya mengambil nafas dalam dan mengatakan apa yang telah saya pikirkan. ‘Saya tidak tahu mengapa kamu begitu terkejut. Ini bukan pertama kali dosamu membawa kematian, ini adalah yang kedua.’ Ia melihat saya dengan penuh kebingungan. ‘Temanku sayang,’ saya melanjutkan, ‘ketika kamu melihat Salib, semua dari kita datang sebagai penyalib. Beragama atau tidak beragama, baik atau buruk, penggugur kandungan atau bukan penggugur kandungan – semua dari kita bertanggung jawab atas kematian dari satu-satunya orang tak bersalah yang pernah hidup. Yesus mati untuk dosa-dosa kita – masa lalu, sekarang, dan masa depan. Kamu pikir ada dosa-dosamu yang Yesus tidak perlu mati untuknya? Dosa kesombongan itu yang menyebabkan kamu menghancurkan anakmu adalah yang membunuh Kristus juga. Tidak peduli kamu tidak berada di sana dua ribu tahun yang lalu. Kita semua mengirim-Nya ke sana. Luther berkata bahwa kita membawa paku-paku-Nya itu di saku kita. Jadi kalau kamu telah melakukannya sebelumnya, lalu mengapa kamu tidak bisa melakukannya lagi?’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Renungkan Mazmur 32:1-5.''' Apa yang terjadi waktu kita menyimpan dosa-dosa kita? Apa yang terjadi waktu kita mengakuinya?}}“Ia berhenti menangis. Ia melihat saya tepat di mata dan berkata, ‘Kamu sangat benar. Saya telah melakukan yang lebih buruk daripada membunuh bayi saya sendiri. Dosa sayalah yang telah membawa Yesus ke kayu Salib. Tidak peduli saya tidak berada di sana menancapkan paku, saya tetap bertanggung jawab atas kematian-Nya. Sadarkah Anda pentingnya ucapan yang Anda katakan pada saya, Becky? Saya datang pada Anda mengatakan saya telah melakukan hal terburuk yang bisa dibayangkan. Dan Anda mengatakan pada saya bahwa saya telah melakukan lebih buruk dari itu.’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|Apakah Anda menemukan diri Anda dibebani oleh rasa bersalah ketika Anda mengingat sebuah dosa (atau dosa-dosa) spesifik dari masa lalu? Kalau begitu, carilah seorang Kristen yang dewasa yang kepadanya Anda dapat mengaku dan yang darinya Anda dapat menerima penguatan tentang besarnya pengampunan Tuhan. Tulislah keinginan Anda itu: “Percaya bahwa Tuhan ingin saya untuk melepaskan saya dari rasa bersalah, saya akan berbicara kepada __________________ tentang area dosa ini tidak lebih dari ______ ___________.”}}“Saya menyeringai karena saya tahu itu adalah benar. (Saya tidak yakin bahwa pendekatan saya akan menjadi salah satu teknik konseling yang hebat!) Lalu ia berkata, ‘Tapi Becky, kalau Salib menunjukkan saya bahwa saya adalah lebih buruk daripada yang saya pernah bayangkan, Salib itu juga menunjukkan bahwa kejahatan saya telah diserap dan diampuni. Kalau hal terburuk yang manusia dapat lakukan adalah membunuh Anak Allah, dan itu dapat diampuni, lalu bagaimana bisa hal lain – bahkan aborsi – tidak diampuni?’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya tidak akan pernah lupa rupa di matanya ketika ia duduk kembali dalam kekaguman dan dengan tenang berkata, ‘Bicara tentang anugerah yang besar.’ Kali ini ia menangis bukan karena penderitaan tapi karena rasa lega dan syukur. Saya melihat wanita yang sepenuhnya telah ditransform oleh pengertian yang benar akan Salib.”&amp;lt;ref&amp;gt;Rebecca Pippert, ''Hope Has Its Reasons'' (New York: HarperCollins Publishers, Inc., 1989), pp. 102–104.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengampunan dosa adalah isu yang sangat penting. Ahli teologi English Puritan, John Owen, menulis sebuah essay tentang topik yang masih dianggap sebuah klasik. Eksposisi dari Mazmur 130 ini panjangnya lebih dari tiga ratus halaman, meskipun mazmur itu sendiri hanya terdiri dari delapan ayat. Pendahuluan dari editor memberikan beberapa masukan mengenai keadaan sekitar penulisan eksposisi itu. Sepertinya sebagai seorang pemuda Owen hanya memiliki pemahaman yang dangkal akan pengampunan Tuhan, “sampai Tuhan berkenan menengok saya dengan kesulitan yang menyakitkan, dimana saya dibawa ke mulut kubur, dan dimana jiwa saya tertekan oleh rasa ketakutan dan kegelapan; tapi Tuhan dengan murah hati membebaskan roh saya oleh aplikasi penuh kuasa dari Mazmur 130:4 yang darinya saya peroleh ajaran khusus, kedamaian dan penghiburan, dalam mendekat kepada Tuhan melalui Mediator, dan mengkotbahkannya langsung setelah saya sembuh.”&amp;lt;ref&amp;gt;John Owen, ''Works, Vol. VI'' (Carlisle, PA: The Banner of Truth Trust, 1967), p. 324.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Ketika kamu menyadari semua yang dibayar Tuhan untuk mengampunimu, kamu akan dipegang seperti seorang sahabat, dibatasi oleh kasih Allah.&amp;lt;ref&amp;gt;Oswald Chambers, My Utmost for His Highest (New York: Dodd, Mead &amp;amp; Company, 1963), p. 325.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot;}}Mazmur 130:4, seperti kita lihat di atas, menunjukkan bahwa takut akan Tuhan adalah pertumbuhan natural dari penerimaan akan pengampunan-Nya. Pada saat kita muda dan sehat masalah lain dapat terlihat begitu lebih penting. Tapi saat mata kita terbuka pada hal-hal yang bersifat kekal, mengetahui apakah kita sungguh diampuni akan membuat masalah-masalah lain menjadi tidak penting.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Sanctification through Christ ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Justification sets in motion the process called sanctification, by which we become more and more like Jesus. While justification leaves us forgiven and loved, it does nothing for our character. We’re still the same rascals we were before God saved us. It would be tragic if God were to leave us to ourselves. We would never grow, never change, never improve. Fortunately, although God loves us as we are, he loves us too much to leave us there.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Central to the doctrine of sanctification is the truth that we are united with Jesus Christ. In his book ''Men Made New'', John Stott makes the following observation:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:The great theme of Romans 6, and in particular of verses 1-11, is that the death and resurrection of Jesus Christ are not only historical facts and significant doctrines, but personal experiences of the Christian believer. They are events in which we ourselves have come to share. All Christians have been united to Christ in his death and resurrection. Further, if this is true, if we have died with Christ and risen with Christ, it is inconceivable that we should go on living in sin.”&amp;lt;ref&amp;gt;John R.W. Stott, ''Men Made New'', p. 30.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perhaps you did a double-take when you hit that word “inconceivable.” Most of us find it inconceivable that we could possibly go on living ''outside'' of sin! Is victory over sin actually possible?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''For Further Study: Read 1 Corinthians 15:51-58.''' Though this passage refers to the future, how can this truth strengthen you in your present battle against sin?}} Here are two common answers. Some say Christians can expect a life of victory in the hereafter, but should set their sights low in the here and now. Others have had such dramatic deliverances from gross sin that they consider themselves practically immune to it. Both these extremes are way off target. While applying the lesson will require some spiritual effort, we have in the sixth chapter of Romans all the teaching we need to set us straight.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“What shall we say, then?” Paul asks (v.1). “Shall we go on sinning so that grace may increase?” He anticipates this question because a few verses earlier he said, “But where sin increased, grace increased all the more” (Ro 5:20). He knew that statement would lead some to reason as follows: “If God is glorified in forgiving sin and if grace increases in proportion to sin, why not sin all the more? Then there will be more grace and God will receive more glory!” What a self-serving and warped inference. That Paul even stated the matter this way indicates that his gospel had been subject to abuse. It’s worth noting, however, that Paul did not retract or reword the doctrine. If the gospel is rightly preached it will always be vulnerable to this misinterpretation.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;In justification our own works have no place at all and simple faith in Christ is the one thing needful. In sanctification our own works are of vast importance, and God bids us fight and watch and pray and strive and take pains and labour.�UNIQ407244ce6d8efe4d-ref-0000000F-QINU&amp;quot; — J.C. Ryle}} Paul powerfully refutes his own suggestion that grace leads to further sin: “May it never be! Seeing that we have died to sin, how shall we still live in it?” (Ro 6:2, Cranfield’s translation). Our death to sin, as Paul explains in the following verses, is wrapped up in our union with a crucified Christ. When we believed on Jesus, we became united with him. A faith transaction occurred in which we were forever to be counted as “in Christ,” that is, spiritually joined to him. This union is symbolized by baptism. As Jesus died, was buried, and rose to live a new, empowered life, so we also died with him, were buried with him by baptism, and are raised up to live a new life in a new way.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|After reading this chapter, a young but sincere Christian comes to you for help. “Paul says my old self has died and is buried with Christ,” she says. “So why does it feel so alive every time my exboyfriend drops by?” How would you answer? * “You must have a demon—let’s cast it out!” * “I guess you weren’t really saved after all.” * “Where’s your faith, sister?” * “Maybe your old self was just in a temporary coma.” * “Let’s look at the sixth and seventh chapters of Romans…”}} The closest natural analogy of this union is marriage. My wife Clara and I have a shared identity (we both have the same last name) and are united in heart, mind, and body. We share our resources—everything I have is hers, and vice versa. As a result we are both enriched (though here’s where the analogy is weak—we gain a one-sided benefit in our union with Christ). Clara and I wear rings that symbolize the deeper truth of our oneness. But just as my ring doesn’t make me married, so baptism doesn’t make me a Christian. It comes after the fact of the faith transaction.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Meditate on Romans 6:17-18.''' We’re no longer slaves to sin, but we’re still slaves. To what has your new master called you?}} What exactly does it mean to be dead to sin? I’m dead to sin in the sense that the guilt and penalty attached to sin (death) are no longer hanging over me. But beyond that, my relationship with sin has been radically changed. Before I was justified, I couldn’t help sinning. Now I am no longer under sin’s dominion. ''The master-slave relationship'' that once existed has been forever ended.''Notice'' the language employed in Romans 6:12-14: “Do not let sin reign…Do not offer the parts of your body to sin…Sin shall not be your master.” This is the language of slavery and Paul says it no longer applies. Our obligation to sin has been ended—by death.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Our death to sin through our union with Christ has far-reaching implications. Any problems or habits or memories or hang-ups that currently influence your thoughts and behavior need not do so any longer. They can be successfully resisted. The person who was once dominated by them—your old self—has died. These sinful impulses are no longer your master.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;It’s not that I’m not able to sin, but that I’m able not to sin.&amp;quot; — Arthur Wallis}} Long before anyone popularized the claim that there are only two kinds of people in the world (for example, those who live in Oshkosh, Wisconsin and those who ''wish'' they lived there), John Owen made his own classification. He distinguished between those who were under the dominion of sin and those who ''thought'' they were under its dominion. A pastor consequently had two primary responsibilities, as Owen expressed it in the language of his day:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# To convince those in whom sin evidently hath the dominion that such indeed is their state and condition.&lt;br /&gt;
# To satisfy some that sin hath not the dominion over them, notwithstanding its restless acting itself in them and warring against their souls; yet unless this can be done, it is impossible they should enjoy solid peace and comfort in this life.&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''Christian Spirituality ''(Reformed View), p. 58.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
It has been my privilege more than once to see people overcome longstanding problems and defiling habits through the diligent study and application of Romans 6. We need not remain imprisoned saints any longer. Once we become aware that we have been united with Christ in his death and resurrection, we’ll see he has opened wide the door of our deliverance.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Sukartay</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/The_Fruits_of_Justification_(I)/id</id>
		<title>This Great Salvation/The Fruits of Justification (I)/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/The_Fruits_of_Justification_(I)/id"/>
				<updated>2008-01-10T07:06:28Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Sukartay: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;= Buah-Buah Pembenaran (I) =&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah Anda pernah memperhatikan betapa sedikitnya buku-buku Kristen yang memiliki cover menarik? Oh, ada beberapa, tentu – seperti buku Franky Schaeffer ''A Time for Anger'', dengan lukisan dari Pieter Brueghel “Orang Buta Menuntun Orang Buta.” Lukisan itu begitu menggugah saya sehingga saya mencari kopinya dan membingkainya untuk kantor saya. Dan ada juga gambar-gambar mengagumkan di sampul ''Chronicles of Narnia'' milik C.S. Lewis yang ''siap membawa Anda ke sana''. Salah satu sampul buku yang paling menarik yang pernah saya lihat tampak di sebuah seri pamflet. Illustrasinya menunjukkan seorang pria sedih dan kesepian yang sedang memandang kosong keluar jendela sebuah sel penjara. Saat Anda melihat, Anda menjadi sadar bahwa pintu selnya terbuka di belakangnya. Tetapi ia tidak memperhatikannya. Kalau saja ia menoleh ia akan melihat bahwa ia dapat berjalan keluar seperti orang bebas. Tetapi ia tetap terpenjara karena ketidaktahuannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Renungkan Lukas 4:18-19.''' Apakah Anda menyadari “Proklamasi Emansipasi” ini diberikan kepada Anda?}}Intinya cukup jelas. Banyak orang Kristen – bukan, kebanyakan orang Kristen – adalah seperti pria ini. Secara tragis mereka tidak menyadari kebebasan dan hak-hak lebih yang adalah milik mereka melalui injil Yesus Kristus. Mereka adalah orang-orang kudus yang tidak perlu terpenjara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Ketika Allah mengampuni, Ia mengampuni semua dosa, dosa asal dan dosa sekarang, dosa karena kita melakukan dan dosa karena kita tidak melakukan, dosa rahasia dan dosa terbuka, dosa dalam pikiran, perkataan dan perbuatan… Pengampunan penuh, atau tidak sama sekali, adalah yang Allah ciptakan untuk berikan. Hal ini sesuai dengan kebutuhan manusia. Pemberian ini tidak pernah diambil kembali oleh Allah. Ketika Ia mengampuni, Ia mengampuni selamanya&amp;lt;ref&amp;gt;William S. Plumer, ''The Grace of Christ'' (Philadelphia, PA: Presbyterian Board of Publication, 1853), pp. 201–02.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; — William S. Plumer &amp;quot;Saya harus memperhatikan apa yang saya katakan: tetapi rasul itu berkata, “Allah membuat Dia yang tidak mengenal dosa, menjadi berdosa karena kita, sehingga kita dapat dibenarkan oleh Allah di dalam Dia.” Begitulah kita di mata Allah Bapa, sama seperti Anak Allah sendiri. Biarlah hal itu dianggap bodoh atau emosi, atau luapan perasaan, apa pun, itu adalah penghiburan kita dan hikmad kita; kita tidak peduli pengetahuan lain di dunia selain ini, bahwa manusia telah berdosa dan Allah telah menderita; bahwa Allah telah membuat dirinya sendiri Anak manusia, dan bahwa manusia dibuat kebenaran Allah.”&amp;lt;ref&amp;gt;Ibid., p. 230. &lt;br /&gt;
&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; — Richard Hooker}}Merubah gambaran ini sedikit saja, sejumlah budak terus hidup seperti sebelumnya bahkan setelah Proklamasi Emansipasi. Sebagian mereka tetap berada di kegelapan tentang dimana mereka sekarang berdiri. Sebagian lain, walaupun menyadari kebebasan mereka, tidak pernah berjalan keluar tempat perbudakan karena takut. Kebebasan menuntut keberanian dan membawa bersamanya tanggung jawab yang besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya injil hanya membuat perbedaan kecil dalam hidup orang Kristen yang tak terhitung jumlahnya. Meskipun mereka telah sungguh dibenarkan dan penghukuman telah dibatalkan, masalah yang sama sepertinya mengganggu mereka. Ketakutan, kebiasaan, dan keraguan yang sama yang mengkarakterisasi hidup mereka sebelum mereka percaya Kristus masih tetap memegang kendali. Mengapa? Menurut saya satu alasan terbesar adalah ketidaktahuan. Bagi tidak sedikit orang Kristen, Alkitab masih menjadi buku tertutup. Fakta bahwa warisan besar telah disediakan bagi mereka yang dibenarkan oleh Allah seperti belum menjadi jelas buat mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengetahuan akan Firman Tuhan yang terus bertumbuh adalah sangat vital. Di saat Anda membaca, menghafal dan merenungkan Firman Tuhan, Anda akan mulai merasakan penyediaan yang mengagumkan yang diberikan Allah. Dua bab terakhir dari buku ini akan mengekplorasi buah-buah dari pembenaran kita, warisan kita di dalam Kristus. Sisa keraguan yang masih ada di pikiran kita mengenai tujuan dan takdir Tuhan harus dijelaskan saat kita menginventori keuntungan-keuntungan dari keselamatan yang agung ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Turun dari Kursi Kayu ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gambaran sekitar doktrin pembenaran datang langsung dari pengadilan hukum, seperti yang kita pelajari di bab sebelumnya. Allah, Pemberi hukum dan Hakim dari seluruh bumi, telah mengeluarkan sebuah deklarasi yang membebaskan orang berdosa yang terhukum dari semua kesalahan. Pembenaran memberi kita status baru di hadapan Allah dan mengampuni kita dari semua dosa dan hukumannya. Walaupun kita adalah orang-orang kriminal tertuduh yang sedang menunggu dalam barisan Hukuman Mati yang tidak bisa dihindari, Sang Hakim mengampuni kita dan menghancurkan catatan-catatan kriminal kita. Betapapun mengagumkannya hal ini, ada aspek pembenaran yang bahkan lebih mengagumkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya pernah berada di ruang sidang, dan itu bukanlah tempat yang penuh keceriaan. Anda tidak dapat menjadi diri Anda sendiri. Adalah tidak pantas untuk tertawa keras atau mengangkat kaki Anda. Tidak seorang pun berpikir untuk bertemu hakim setelah sidang untuk makan es krim ataupun menonton pertandingan bola basket. Ada peraturan perilaku tertentu yang harus dipertahankan, formal dan mengintimidasi – dan memang dimaksudkan begitu. Hal ini tidak kurang benar di hadirat Hakim yang berdaulat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|Buka hampir di bagian mana saja dari Alkitab Anda dan Anda akan menemukan janji-janji menakjubkan dari Tuhan. Tandai satu dari yang di bahwa ini yang paling berarti buat Anda saat ini. * “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau” (Ibr 13:5). * “Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu” (1Kor 10:13) * “Barangsiapa percaya kepada-Ku akan melakukan pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa” (Yoh 14:12) * “Ia yang memulai pekerjaan yang baik diantara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus” (Flp 1:6) * “Kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris” (Gal 4:7).}}Tetapi ada perbedaan yang sangat besar antara pengadilan di surga dan di bumi. Setelah menyatakan kita bebas dari segala tuduhan dan penghakiman, Tuhan memilih untuk ''tidak'' pergi ke ruangan-Nya, seperti yang dikira. Tetapi, Ia mendobrak semua standard dengan turun dari bangku kayu, mengumpulkan kita di tangan-Nya, dan lalu menggendong kita dari ruang sidang ke ruang keluarga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memiliki Allah sebagai Bapa kita adalah sungguh mengagumkan. Firman Tuhan telah menjelaskan bahwa kita berhubungan dengan Tuhan dengan intim dan secara legal. Bukan itu saja, tetapi untuk menjadi anak-anak-Nya mendatangkan hak-hak khusus. Paulus mendeskripsikannya seperti ini: “Roh itu bersaksi bersam-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah. Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris – orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus” (Rom 8:17).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara pembenaran bagi kita adalah pemberian gratis, pembenaran itu dibayar Allah dengan Anak-Nya. Pembenaran itu dibayar oleh nyawa Anak-Nya. Dan pembenaran itu dibayar oleh keangkuhan kita, karena satu-satunya cara untuk menerima pemberian ini adalah dengan datang kepada Tuhan dalam kerendahan hati dan pertobatatan iman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Apa Semua Ini ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' “Kekayaan” apakah yang Paulus deskripsikan di Kolose 2:2-3? Dimanakah “harta“ itu berada? Apakah Anda telah sepenuhnya mengambil keuntungan dari warisan ini?}}Anak Allah, Ahli Waris Allah, Ahli Waris bersama Kristus. Apa arti semua itu? Mari kita bangun satu fakta penting. Yesus Kristus, Anak tunggal Allah, adalah ahli waris Bapa yang sah dan sebenarnya. Kalau ada warisan yang kita miliki itu hanya karena kita berada di “dalam Kristus” (Ef 2:7). Apalagi, Kristus sendiri adalah warisan ini. Dia adalah damai kita, Dia adalah kebenaran kita, pengharapan kita, penyucian dan penebusan kita. Di dalam Dia tersembunyi semua harta hikmad dan pengetahuan. Dialah kebangkitan dan hidup. Hal terbesar yang kita akan pernah terima dari Allah adalah Yesus sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adalah juga penting untuk memahami bahwa keselamatan datang bukan melalui sebuah doktrin melainkan melalui sebuah Individu. Kita tidak diselamatkan oleh pembenaran, tetapi oleh Yesus. Waktu kita mengambil waktu untuk mempelajari Firman Tuhan kita menghadapi resiko menjadi seorang ahli doktrin tetapi tidak kompeten dalam pengetahuan sejati akan Tuhan kita. Dan mengenal Tuhan adalah segalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Bagaimana seseorang yang hidup melalui pengalaman tercatat di 2 Korintus 11:23-33 bisa menulis Roma 15:13??}}Seorang kawan saya mengatakan pada saya cerita berikut ini tentang Scott McGregor, orang Kristen berdedikasi dan seorang pelempar bola baseball kidal yang terkenal untuk Baltimore Orioles di tahun 70 dan 80an. Suatu ketika, di satu momen genting di dalam permainan, Scott menemukan dirinya berhadapan dengan seorang pemukul bola berbahaya dengan orang-orang pencetak angka. Ia mengambil waktu cukup untuk mempelajari situasi ketika seorang wanita tidak sabar di kotak tempat duduk di belakang kandang pemain Orioles berteriak, “Yesus Kristus! Lempar bolanya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Baca Matius 7:21-23 dan jawab pertanyaan-pertanyaan berikut: * Hal-hal terpuji apakah yang orang-orang ini capai? * Apakah empat kata penilaian Tuhan terhadap mereka? * Dalam satu kalimat, bagaimana Anda akan merangkum kesalahan fatal mereka?}}Bukan tidak umum untuk mendengar nama Tuhan digunakan sembarangan di permainan bola. Tetapi dalam peristiwa ini McGregor begitu tersentak sehingga ia hampir kehilangan konsentrasi. Setelah mengembalikan dirinya sendiri, ia dapat melempar dengan benar dan pemukulan bola berakhir. Lalu ia melakukan sesuatu yang sangat berbeda, sesuatu yang seharusnya tidak boleh dilakukan oleh pemain. Ketika ia berjalan kembali ke kandang pemain ia menatap langsung ke wanita tadi dan bicara dengannya. Dalam nada yang terganggu namun lembut, penuh keprihatinan terhadap wanita itu dan Tuhannya, ia berkata, “Ibu, kalau kamu sungguh mengenal Dia, kamu tidak akan pernah menyebut nama-Nya seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
McGregor mendemonstrasikan bahwa Kekristenan adalah lebih dari sekedar sebuah kebenaran untuk dipercayai. Kekristenan adalah sebuah kehidupan untuk dijalani dan, di atas segalanya, satu Tuhan untuk dicintai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu memikirkan sesuatu seluas, seajaib warisan yang kita miliki di dalam Kristus, digambarkan Paulus sebagai “kekayaan kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah” (Ef 2:7), sangat sulit untuk mengetahui dimana harus mulai. Menariknya, Paulus juga memiliki masalah yang sama. Di dalam suratnya kepada jemaat di Efesus, ia begitu terbawa oleh implikasi pembenaran yang begitu besar. Saat ia berusaha menghubungkan semua yang Tuhan telah lakukan dan sedang lakukan di pasal pertama, ia mulai dengan kalimat di ayat tiga yang berakhir sampai sebelas ayat kemudian. Secara tata bahasa memang tidak cantik, namun hatinya yang penuh mengalir memberi kesaksian akan anugerah Tuhan yang tidak terselami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perikop berikut dari surat Paulus kepada jemaat di Roma menyediakan titik mula yang sangat bagus “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus. Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah” (Rom 5:1-2). John Stott menjelaskan pentingnya perikop ini:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Pasal-pasal awal dari [kitab Roma] didedikasikan untuk kebutuhan dan jalan pembenaran. Semua itu bertujuan menjelaskan bahwa semua manusia adalah berdosa di bawah penghakiman Allah yang adil, dan dapat dibenarkan hanya melalui penebusan yang di dalam Yesus Kristus – melalui anugerah semata, melalui iman saja. Di poin ini, setelah membeberkan kebutuhan dan penjelasan jalan pembenaran, Paulus meneruskan dengan menggambarkan buah-buahnya, hasil dari pembenaran dalam hidup sebagai anak dan ketaatan di dunia dan kehidupan lanjut yang penuh kemuliaan di surga (penekanan ditambahkan).&amp;lt;ref&amp;gt;John R.W. Stott, ''Men Made New'' (Grand Rapids, MI: Baker Book House, 1966, 1991), pp. 9–10.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bab ini akan melihat tiga buah dari pembenaran: damai dengan Allah, pengampunan dosa, dan proses penyucian. Di bab terakhir buku ini kita akan mengkaji pengadopsian kita di dalam Kristus serta pengharapan kita akan kemuliaan di masa depan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Damai dengan Allah ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perdamaian dengan Allah menggarisbawahi semua yang lain yang kita terima dalam Kristus. Perdamaian ini adalah hadiah yang menaruh berkat-berkat lain dalam perspektif. “Urusan utama dari injil Kristen adalah bukan untuk memberi kita berkat,” tulis D. Martyn Lloyd-Jones. “Tujuan utamanya adalah untuk mendamaikan kita dengan Allah.”&amp;lt;ref&amp;gt;D. Martyn Lloyd-Jones, ''Romans: Assurance, Chapter Five'' (Grand Rapids, MI: Zondervan Publishing House, 1971), p. 10.&amp;lt;/ref&amp;gt; Berdamai dengan Allah berarti kita berada di posisi perujukan dengan-Nya. Pernyataan pembenaran telah menjauhkan semua halangan antara Allah dan manusia. Walau tentu saja ada yang namanya damai ''dari'' Allah yang subyektif (yang bisa dirasakan), apa yang ada di benak Paulus dalam Roma 5:1 adalah fakta ''obyektif'' bahwa injil telah menghapuskan segala sesuatu yang memisahkan kita dari Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Renungkan Efesus 2:11-20.''' Apa yang Yesus lakukan terhadap penghalang permusuhan yang berdiri diantara diri-Nya dan kita?}}Untuk mendamaikan berarti menyatukan apa yang telah terpisah karena pemusuhan. Contoh utama dari arti ini ditemukan di kotbah Stefen kepada Sanhedrin ketika ia menceritakan kembali peristiwa kehidupan Musa: “Pada keesokan harinya ia muncul pula ketika dua orang Israel sedang berkelahi, lalu ia berusaha ''mendamaikan'' mereka, katanya: Saudara-saudara! Bukankah kamu ini bersaudara? Mengapakah kamu saling menganiaya?” (Kis 7:26). Versi Alkitab King James menerjemahkan “mendamaikan” di konteks ini menjadi “membuat mereka satu kembali.” Kata Yunani yang dipakai adalah bentuk kata kerja dari kata yang biasa diterjemahkan “damai.” Apa yang penting bagi kita untuk diingat adalah bahwa sekarang, dari titik pandang Allah, tidak ada lagi permusuhan antara Allah dan mereka yang telah dibenarkan. Amarah dan murka-Nya terhadap dosa telah diekspresikan dengan adil dan dipuaskan penuh di Salib. Perseteruan telah berakhir. Perdamaian telah dibuat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak hanya konflik telah diselesaikan, tetapi semua masalah hukum yang berasal dari permusuhan sebelumnya telah dihapuskan, tidak pernah muncul lagi: “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi merkea yang ada di dalam Kristus Yesus…Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Allah, yang membenarkan mereka?” (Rom 8:1,33). Kalau pengadilan tertinggi di jagad raya ini telah menyatakan kita benar, tidak ada gugatan yang bisa menempel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Ketika perang suci kita dengan Allah berakhir, ketika kita seperti Luther berjalan melalui pintu-pintu Surga, ketika kita dibenarkan oleh iman, perang itu berakhir untuk selamanya. Dengan pembersihan dari dosa dan pernyataan pengampunan ilahi kita memasuki perjanjian damai dengan Allah yang kekal. Buah sulung dari pembenaran kita adalah damai dengan Allah. Damai ini adalah damai yang kudus, damai yang tidak bercacat dan agung. Damai ini adalah damai yang tidak bisa dihancurkan.&amp;lt;ref&amp;gt;R.C. Sproul, ''The Holiness of God'' (Wheaton, IL: Tyndale House Publishers, 1985), p. 193.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; — R.C. Sproul}}Berhati-hatilah bahwa frase “tidak ada penghukuman” ''tidak'' berarti “tidak ada tuduhan.” Kita telah menyinggungnya di bab pertama. Musuh jiwa kita meneruskan pekerjaan kotornya menyebarkan kata-kata yang melecehkan dan menembakan anak panah api, dan sering terjadi kita salah mengira pembetulan dan teguran Tuhan sebagai suara tuduhan iblis. Tetapi kenyataan bahwa Yesus telah mengambil tempat kita berarti kita tidak akan pernah harus berhadapan dengan penghukuman di penghakiman akhir. “Siapakah yang akan menghukum mereka? Kristus Yesus, yang telah mati? Bahkan lebih lagi: yang telah bangkit, yang juga duduk di sebelah kanan Allah, yang malah menjadi Pembela bagi kita?” (Rom 8:34). Dia yang satu-satunya memiliki otoritas untuk menghukum untuk selamanya telah memihak pada kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|Bayangkan Anda sendiri memerintah sebuah bangsa berjumlah lima milyar orang. Sebuah berita mengatakan bahwa ada seorang warga yang mengadakan pemberontakan dan sedang membuat kekacauan di istana. Bukannya mengirim divisi tank bersenjata untuk menghentikan orang gila itu, Anda mengirim Pangeran. Dalam usaha menggapai si pemberontak, sang Pangeran terbunuh. Bagaimana Anda akan memperlakukan warga ini setelah ia ditangkap? * Musnahkan ia selamanya dari kerajaan * Membakar ia perlahan-lahan di atas api menyala * Menggantungnya dari pohon tertinggi di kota * Hukum dia dengan hidup dalam isolasi * Menjadikannya makanan bagi ular piton kerajaan * Mengampuninya, menerimanya, dan mengadopsinya menjadi anak Anda.}}Mengetahui kita telah didamaikan dengan Allah membawa ketenangan bagi pikiran kita. Ini memampukan kita untuk mengalahkan rasa kuatir dan takut. Bahkan bila seluruh dunia melawan kita, kita tetap aman dalam Kristus. “Janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi,” Yesus menjelaskan kepada murid-murid-Nya, yang telah ditetapkan untuk menghadapi perlawanan hebat. “Aku akan menunjukkan kepadamu siapakah yang harus kamu takuti. Takutilah Dia, yang setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka” (Luk 12:4, 5). Allah, satu-satunya yang berharga untuk kita takuti, telah berinisiatif mengadakan perjanjian damai kekal dengan kita. Untuk orang Kristen yang dibangun di dalam kebenaran ini, bahkan ketakutan akan maut dikalahkan karena ancaman penghukuman tidak lagi eksis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Pengampunan Dosa-Dosa ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Renungkan Keluaran 34:5-7.''' Dalam kesadaran akan semua kualitas karakter Allah, apakah Anda menganggap penting bahwa Ia memilih untuk menekankan sifat-sifat ini ketika Ia menyatakan diri kepada Musa?}}Berhubungan erat dengan perujukan dan damai dengan Allah adalah pengampunan dosa. Saya mungkin berlebihan, tetapi kelihatannya bagi saya kebenaran berharga ini berada dalam bahaya untuk dibenci. Ketika orang meratap. “Saya tahu saya telah diampuni, tetapi…,” saya tidak tahan untuk berpikir, ''Kamu tidak tahu bahwa kamu telah diampuni! Kalau kamu sungguh mengerti pengampunan masalahmu tidak akan terlihat seburuk itu.'' Seperti Lloyd-Jones implikasikan di dalam pernyatannya di halaman 63, kebutuhan terbesar manusia adalah pengampunan. Dan kalau Tuhan sudah mengampuni kita, masalah lain apapun yang kita punya pasti menjadi lebih kecil kalau dibandingkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang ini jarang terdengar orang-orang Kristen bersukacita karena diampuni Allah. Hal ini dapat dipahami di kultur yang memandang nilai diri yang rendah sebagai masalah yang lebih besar daripada diasingkan dari Allah. Namun kepekaan kita akan pengampunan secara langsung mempengaruhi kasih kita terhadap Allah. Itulah inti dari respon Tuhan terhadap Simon orang Farisi yang merasa diri benar. “Orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih,” kata Yesus padanya (Luk 7:47). Sebaliknya, mereka yang telah diampuni banyak – atau setidaknya menyadari betapa banyak mereka telah diampuni – banyak berbuat kasih. Setiap dari kita harus berada di kategori itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Apakah keraguan-keraguan ini menyebabkan Anda mempertanyakan pengampunan Allah? (tandai semua yang cocok)  &lt;br /&gt;
* Tuhan tidak dapat terus menerus mengampuni saya untuk dosa yang sama.&lt;br /&gt;
* Saya mungkin telah diampuni, tetapi Tuhan belum melupakan.&lt;br /&gt;
* Tidak ada yang gratis di dalam hidup – Tuhan pasti mengharapkan sesuatu bentuk pembayaran.&lt;br /&gt;
* Saya bersalah atas dosa yang tidak dapat diampuni.&lt;br /&gt;
* Setelah dosa nomor 491 Tuhan akan menolak saya (lihat Mat 18:22).}}Pertimbangkan berikut ini: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Pengampunan dosa datang kepada kita hanya atas dasar darah Yesus Kristus yang tercurah. “Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya” (Ef 1:7).&lt;br /&gt;
* Motif Tuhan mengampuni kita adalah kasih-Nya yang besar. Pengampunan-Nya adalah pekerjaan belas kasih dan cuma-cuma. “Dialah yang telah ditinggikan oleh Allah dengan tangan kanan-Nya menjadi Pemimpin dan Juruselamat, supaya Israel dapat bertobat dan menerima pengampunan dosa” (Kis 5:31)—dan orang bukan Israel juga.&lt;br /&gt;
* Pengampunan dosa membawa kepada pengetahuan keselamatan. Yesus datang “untuk memberikan kepada umat-Nya pengertian akan keselamatan yang berdasarkan pengampunan dosa-dosa mereka” (Luk 1:77).&lt;br /&gt;
* Memahami pengampunan membawa kepada rasa takut yang benar akan Allah. “Jika Engkau, ya Tuhan, mengingat-ingat kesalahan-kesalahan, Tuhan, siapakah yang dapat tahan? Tetapi pada-Mu ada pengampunan, supaya Engkau ditakuti orang” (Mzm 130:3-4).&lt;br /&gt;
* Pengampunan Tuhan adalah menyeluruh. “Aku, Akulah Dia yang menghapus dosa pemberontakanmu oleh karena Aku sendiri, dan Aku tidak mengingat-ingat dosamu” (Yes 43:25).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cerita berikut ini, diceritakan oleh Becky Pippert di dalam bukunya Hope Has Its Reasons, menunjukkan kekuatan pengampunan di dalam hidup seorang wanita. Berharga untuk dikutip secara panjang: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Beberapa tahun yang lalu setelah saya selesai berbicara di sebuah konferensi, seorang wanita cantik datang ke podium. Ia tentu saja ingin bicara pada saya dan di saat saya berbalik menghadapnya, air mata keluar dari matanya. Kami pindah ke ruang dimana kami bisa bicara secara pribadi. Sangat jelas dari melihatnya bahwa ia sensitif tapi menderita. Ia menangis selagi ia mengatakan pada saya cerita berikut ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Dalam hubungan terhadap dosa dan terhadap Tuhan, faktor penentu dari eksistansi saya bukanlah lagi masa lalu saya. Melainkan masa lalu Kristus.&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''Christian Spirituality'' (Reformed View), Donald Alexander, ed. (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1988), p. 57.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; — Sinclair Ferguson}}“Bertahun-tahun sebelumnya, ia dan tunangannya (yang sekarang ia nikahi) merupakan pekerja remaja di sebuah gereja konservatif besar. Mereka adalah pasangan yang cukup dikenal dan memiliki pengaruh yang luar biasa terhadap anak-anak muda. Semua orang menghormati mereka dan sangat mengagumi mereka. Beberapa bulan sebelum mereka menikah mereka mulai melakukan hubungan seks. Hal itu membebankan mereka dengan rasa bersalah dan kemunafikan. Tapi lalu ia menemukan dirinya hamil. ‘Anda tidak dapat membayangkan apa implikasi dari mengakui hal ini kepada gereja,’ katanya. ‘Mengaku bahwa kami mengajarkan satu hal dan menjalani hal yang lain adalah tidak bisa ditoleransi. Jemaat ini sangat konservatif dan tidak pernah disentuh oleh skandal apapun. Kami merasa mereka tidak akan dapat menangani keadaan bila mengetahui situasi kami. Kamipun tidak akan dapat menanggung rasa malu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' &lt;br /&gt;
Baca Yesaya 59. Bagaimana Tuhan berespon terhadap kekurangan kita akan kekudusan yang begitu besar? (lihat ayat 16 dan 20)}}‘Lalu kami membuat keputusan yang paling mengerikan yang saya pernah buat. Saya menggugurkan kandungan. Hari pernikahan saya adalah hari terburuk dalam seluruh hidup saya. Setiap orang di gereja tersenyum pada saya, berpikir saya adalah pengantin perempuan bersinar dalam kepolosan. Tetapi tahukah Anda apa yang berada di kepala saya di saat saya berjalan di menuju altar? Yang dapat saya katakan pada diri saya adalah, ‘Kamu adalah seorang pembunuh. Kamu terlalu sombong sehingga tidak dapat menanggung rasa malu dan penghinaan bila kamu membuka siapa dirimu. Tetapi saya tahu siapa kamu dan Tuhan juga. Kamu telah membunuh bayi yang tidak bersalah.’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ia menangis begitu dalam sehingga ia tidak dapat berbicara. Saat saya memeluknya sebuah pemikiran datang pada saya dengan sangat kuat. Tapi saya merasa takut untuk mengatakannya. Saya tahu kalau ini bukan dari Tuhan bahwa ini dapat sangat menghancurkan. Maka saya berdoa dalam hati untuk hikmad untuk menolongnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ia melanjutkan. ‘Saya tidak percaya bahwa saya melakukan sesuatu yang begitu mengerikan. Bagaimana bisa saya membunuh nyawa yang tidak bersalah? Bagaimana mungkin saya bisa melakukan hal seperti itu? Saya mencintai suami saya, kami memiliki empat anak yang manis. Saya tahu Alkitab mengatakan bahwa Tuhan mengampuni semua dosa-dosa kita. Tapi saya tidak dapat mengampuni diri saya sendiri! Saya telah mengaku dosa ini beribu kali dan saya masih merasakan rasa malu dan menderita itu. Pikiran yang paling menghantui saya adalah ''bagaimana'' saya dapat membunuh nyawa yang tidak bersalah?’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya mengambil nafas dalam dan mengatakan apa yang telah saya pikirkan. ‘Saya tidak tahu mengapa kamu begitu terkejut. Ini bukan pertama kali dosamu membawa kematian, ini adalah yang kedua.’ Ia melihat saya dengan penuh kebingungan. ‘Temanku sayang,’ saya melanjutkan, ‘ketika kamu melihat Salib, semua dari kita datang sebagai penyalib. Beragama atau tidak beragama, baik atau buruk, penggugur kandungan atau bukan penggugur kandungan – semua dari kita bertanggung jawab atas kematian dari satu-satunya orang tak bersalah yang pernah hidup. Yesus mati untuk dosa-dosa kita – masa lalu, sekarang, dan masa depan. Kamu pikir ada dosa-dosamu yang Yesus tidak perlu mati untuknya? Dosa kesombongan itu yang menyebabkan kamu menghancurkan anakmu adalah yang membunuh Kristus juga. Tidak peduli kamu tidak berada di sana dua ribu tahun yang lalu. Kita semua mengirim-Nya ke sana. Luther berkata bahwa kita membawa paku-paku-Nya itu di saku kita. Jadi kalau kamu telah melakukannya sebelumnya, lalu mengapa kamu tidak bisa melakukannya lagi?’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Renungkan Mazmur 32:1-5.''' Apa yang terjadi waktu kita menyimpan dosa-dosa kita? Apa yang terjadi waktu kita mengakuinya?}}“Ia berhenti menangis. Ia melihat saya tepat di mata dan berkata, ‘Kamu sangat benar. Saya telah melakukan yang lebih buruk daripada membunuh bayi saya sendiri. Dosa sayalah yang telah membawa Yesus ke kayu Salib. Tidak peduli saya tidak berada di sana menancapkan paku, saya tetap bertanggung jawab atas kematian-Nya. Sadarkah Anda pentingnya ucapan yang Anda katakan pada saya, Becky? Saya datang pada Anda mengatakan saya telah melakukan hal terburuk yang bisa dibayangkan. Dan Anda mengatakan pada saya bahwa saya telah melakukan lebih buruk dari itu.’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|Apakah Anda menemukan diri Anda dibebani oleh rasa bersalah ketika Anda mengingat sebuah dosa (atau dosa-dosa) spesifik dari masa lalu? Kalau begitu, carilah seorang Kristen yang dewasa yang kepadanya Anda dapat mengaku dan yang darinya Anda dapat menerima penguatan tentang besarnya pengampunan Tuhan. Tulislah keinginan Anda itu:&lt;br /&gt;
“Percaya bahwa Tuhan ingin saya untuk melepaskan saya dari rasa bersalah, saya akan berbicara kepada __________________ tentang area dosa ini tidak lebih dari ______ ___________.”}}“Saya menyeringai karena saya tahu itu adalah benar. (Saya tidak yakin bahwa pendekatan saya akan menjadi salah satu teknik konseling yang hebat!) Lalu ia berkata, ‘Tapi Becky, kalau Salib menunjukkan saya bahwa saya adalah lebih buruk daripada yang saya pernah bayangkan, Salib itu juga menunjukkan bahwa kejahatan saya telah diserap dan diampuni. Kalau hal terburuk yang manusia dapat lakukan adalah membunuh Anak Allah, dan itu dapat diampuni, lalu bagaimana bisa hal lain – bahkan aborsi – tidak diampuni?’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya tidak akan pernah lupa rupa di matanya ketika ia duduk kembali dalam kekaguman dan dengan tenang berkata, ‘Bicara tentang anugerah yang besar.’ Kali ini ia menangis bukan karena penderitaan tapi karena rasa lega dan syukur. Saya melihat wanita yang sepenuhnya telah ditransform oleh pengertian yang benar akan Salib.”&amp;lt;ref&amp;gt;Rebecca Pippert, ''Hope Has Its Reasons'' (New York: HarperCollins Publishers, Inc., 1989), pp. 102–104.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengampunan dosa adalah isu yang sangat penting. Ahli teologi English Puritan, John Owen, menulis sebuah essay tentang topik yang masih dianggap sebuah klasik. Eksposisi dari Mazmur 130 ini panjangnya lebih dari tiga ratus halaman, meskipun mazmur itu sendiri hanya terdiri dari delapan ayat. Pendahuluan dari editor memberikan beberapa masukan mengenai keadaan sekitar penulisan eksposisi itu. Sepertinya sebagai seorang pemuda Owen hanya memiliki pemahaman yang dangkal akan pengampunan Tuhan, “sampai Tuhan berkenan menengok saya dengan kesulitan yang menyakitkan, dimana saya dibawa ke mulut kubur, dan dimana jiwa saya tertekan oleh rasa ketakutan dan kegelapan; tapi Tuhan dengan murah hati membebaskan roh saya oleh aplikasi penuh kuasa dari Mazmur 130:4 yang darinya saya peroleh ajaran khusus, kedamaian dan penghiburan, dalam mendekat kepada Tuhan melalui Mediator, dan mengkotbahkannya langsung setelah saya sembuh.”&amp;lt;ref&amp;gt;John Owen, ''Works, Vol. VI'' (Carlisle, PA: The Banner of Truth Trust, 1967), p. 324.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Ketika kamu menyadari semua yang dibayar Tuhan untuk mengampunimu, kamu akan dipegang seperti seorang sahabat, dibatasi oleh kasih Allah.&amp;lt;ref&amp;gt;Oswald Chambers, ''My Utmost for His Highest'' (New York: Dodd, Mead &amp;amp; Company, 1963), p. 325.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot;}}Mazmur 130:4, seperti kita lihat di atas, menunjukkan bahwa takut akan Tuhan adalah pertumbuhan natural dari penerimaan akan pengampunan-Nya. Pada saat kita muda dan sehat masalah lain dapat terlihat begitu lebih penting. Tapi saat mata kita terbuka pada hal-hal yang bersifat kekal, mengetahui apakah kita sungguh diampuni akan membuat masalah-masalah lain menjadi tidak penting.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Sukartay</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/The_Fruits_of_Justification_(I)/id</id>
		<title>This Great Salvation/The Fruits of Justification (I)/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/The_Fruits_of_Justification_(I)/id"/>
				<updated>2008-01-10T06:48:06Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Sukartay: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;= Buah-Buah Pembenaran (I) =&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah Anda pernah memperhatikan betapa sedikitnya buku-buku Kristen yang memiliki cover menarik? Oh, ada beberapa, tentu – seperti buku Franky Schaeffer ''A Time for Anger'', dengan lukisan dari Pieter Brueghel “Orang Buta Menuntun Orang Buta.” Lukisan itu begitu menggugah saya sehingga saya mencari kopinya dan membingkainya untuk kantor saya. Dan ada juga gambar-gambar mengagumkan di sampul ''Chronicles of Narnia'' milik C.S. Lewis yang ''siap membawa Anda ke sana''. Salah satu sampul buku yang paling menarik yang pernah saya lihat tampak di sebuah seri pamflet. Illustrasinya menunjukkan seorang pria sedih dan kesepian yang sedang memandang kosong keluar jendela sebuah sel penjara. Saat Anda melihat, Anda menjadi sadar bahwa pintu selnya terbuka di belakangnya. Tetapi ia tidak memperhatikannya. Kalau saja ia menoleh ia akan melihat bahwa ia dapat berjalan keluar seperti orang bebas. Tetapi ia tetap terpenjara karena ketidaktahuannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Renungkan Lukas 4:18-19.''' Apakah Anda menyadari “Proklamasi Emansipasi” ini diberikan kepada Anda?}}Intinya cukup jelas. Banyak orang Kristen – bukan, kebanyakan orang Kristen – adalah seperti pria ini. Secara tragis mereka tidak menyadari kebebasan dan hak-hak lebih yang adalah milik mereka melalui injil Yesus Kristus. Mereka adalah orang-orang kudus yang tidak perlu terpenjara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Ketika Allah mengampuni, Ia mengampuni semua dosa, dosa asal dan dosa sekarang, dosa karena kita melakukan dan dosa karena kita tidak melakukan, dosa rahasia dan dosa terbuka, dosa dalam pikiran, perkataan dan perbuatan… Pengampunan penuh, atau tidak sama sekali, adalah yang Allah ciptakan untuk berikan. Hal ini sesuai dengan kebutuhan manusia. Pemberian ini tidak pernah diambil kembali oleh Allah. Ketika Ia mengampuni, Ia mengampuni selamanya&amp;lt;ref&amp;gt;William S. Plumer, ''The Grace of Christ'' (Philadelphia, PA: Presbyterian Board of Publication, 1853), pp. 201–02.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; — William S. Plumer &amp;quot;Saya harus memperhatikan apa yang saya katakan: tetapi rasul itu berkata, “Allah membuat Dia yang tidak mengenal dosa, menjadi berdosa karena kita, sehingga kita dapat dibenarkan oleh Allah di dalam Dia.” Begitulah kita di mata Allah Bapa, sama seperti Anak Allah sendiri. Biarlah hal itu dianggap bodoh atau emosi, atau luapan perasaan, apa pun, itu adalah penghiburan kita dan hikmad kita; kita tidak peduli pengetahuan lain di dunia selain ini, bahwa manusia telah berdosa dan Allah telah menderita; bahwa Allah telah membuat dirinya sendiri Anak manusia, dan bahwa manusia dibuat kebenaran Allah.”&amp;lt;ref&amp;gt;Ibid., p. 230. &lt;br /&gt;
&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; — Richard Hooker}}Merubah gambaran ini sedikit saja, sejumlah budak terus hidup seperti sebelumnya bahkan setelah Proklamasi Emansipasi. Sebagian mereka tetap berada di kegelapan tentang dimana mereka sekarang berdiri. Sebagian lain, walaupun menyadari kebebasan mereka, tidak pernah berjalan keluar tempat perbudakan karena takut. Kebebasan menuntut keberanian dan membawa bersamanya tanggung jawab yang besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya injil hanya membuat perbedaan kecil dalam hidup orang Kristen yang tak terhitung jumlahnya. Meskipun mereka telah sungguh dibenarkan dan penghukuman telah dibatalkan, masalah yang sama sepertinya mengganggu mereka. Ketakutan, kebiasaan, dan keraguan yang sama yang mengkarakterisasi hidup mereka sebelum mereka percaya Kristus masih tetap memegang kendali. Mengapa? Menurut saya satu alasan terbesar adalah ketidaktahuan. Bagi tidak sedikit orang Kristen, Alkitab masih menjadi buku tertutup. Fakta bahwa warisan besar telah disediakan bagi mereka yang dibenarkan oleh Allah seperti belum menjadi jelas buat mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengetahuan akan Firman Tuhan yang terus bertumbuh adalah sangat vital. Di saat Anda membaca, menghafal dan merenungkan Firman Tuhan, Anda akan mulai merasakan penyediaan yang mengagumkan yang diberikan Allah. Dua bab terakhir dari buku ini akan mengekplorasi buah-buah dari pembenaran kita, warisan kita di dalam Kristus. Sisa keraguan yang masih ada di pikiran kita mengenai tujuan dan takdir Tuhan harus dijelaskan saat kita menginventori keuntungan-keuntungan dari keselamatan yang agung ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Turun dari Kursi Kayu ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gambaran sekitar doktrin pembenaran datang langsung dari pengadilan hukum, seperti yang kita pelajari di bab sebelumnya. Allah, Pemberi hukum dan Hakim dari seluruh bumi, telah mengeluarkan sebuah deklarasi yang membebaskan orang berdosa yang terhukum dari semua kesalahan. Pembenaran memberi kita status baru di hadapan Allah dan mengampuni kita dari semua dosa dan hukumannya. Walaupun kita adalah orang-orang kriminal tertuduh yang sedang menunggu dalam barisan Hukuman Mati yang tidak bisa dihindari, Sang Hakim mengampuni kita dan menghancurkan catatan-catatan kriminal kita. Betapapun mengagumkannya hal ini, ada aspek pembenaran yang bahkan lebih mengagumkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya pernah berada di ruang sidang, dan itu bukanlah tempat yang penuh keceriaan. Anda tidak dapat menjadi diri Anda sendiri. Adalah tidak pantas untuk tertawa keras atau mengangkat kaki Anda. Tidak seorang pun berpikir untuk bertemu hakim setelah sidang untuk makan es krim ataupun menonton pertandingan bola basket. Ada peraturan perilaku tertentu yang harus dipertahankan, formal dan mengintimidasi – dan memang dimaksudkan begitu. Hal ini tidak kurang benar di hadirat Hakim yang berdaulat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|Buka hampir di bagian mana saja dari Alkitab Anda dan Anda akan menemukan janji-janji menakjubkan dari Tuhan. Tandai satu dari yang di bahwa ini yang paling berarti buat Anda saat ini. * “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau” (Ibr 13:5). * “Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu” (1Kor 10:13) * “Barangsiapa percaya kepada-Ku akan melakukan pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa” (Yoh 14:12) * “Ia yang memulai pekerjaan yang baik diantara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus” (Flp 1:6) * “Kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris” (Gal 4:7).}}Tetapi ada perbedaan yang sangat besar antara pengadilan di surga dan di bumi. Setelah menyatakan kita bebas dari segala tuduhan dan penghakiman, Tuhan memilih untuk ''tidak'' pergi ke ruangan-Nya, seperti yang dikira. Tetapi, Ia mendobrak semua standard dengan turun dari bangku kayu, mengumpulkan kita di tangan-Nya, dan lalu menggendong kita dari ruang sidang ke ruang keluarga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memiliki Allah sebagai Bapa kita adalah sungguh mengagumkan. Firman Tuhan telah menjelaskan bahwa kita berhubungan dengan Tuhan dengan intim dan secara legal. Bukan itu saja, tetapi untuk menjadi anak-anak-Nya mendatangkan hak-hak khusus. Paulus mendeskripsikannya seperti ini: “Roh itu bersaksi bersam-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah. Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris – orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus” (Rom 8:17).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara pembenaran bagi kita adalah pemberian gratis, pembenaran itu dibayar Allah dengan Anak-Nya. Pembenaran itu dibayar oleh nyawa Anak-Nya. Dan pembenaran itu dibayar oleh keangkuhan kita, karena satu-satunya cara untuk menerima pemberian ini adalah dengan datang kepada Tuhan dalam kerendahan hati dan pertobatatan iman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Apa Semua Ini ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' “Kekayaan” apakah yang Paulus deskripsikan di Kolose 2:2-3? Dimanakah “harta“ itu berada? Apakah Anda telah sepenuhnya mengambil keuntungan dari warisan ini?}}Anak Allah, Ahli Waris Allah, Ahli Waris bersama Kristus. Apa arti semua itu? Mari kita bangun satu fakta penting. Yesus Kristus, Anak tunggal Allah, adalah ahli waris Bapa yang sah dan sebenarnya. Kalau ada warisan yang kita miliki itu hanya karena kita berada di “dalam Kristus” (Ef 2:7). Apalagi, Kristus sendiri adalah warisan ini. Dia adalah damai kita, Dia adalah kebenaran kita, pengharapan kita, penyucian dan penebusan kita. Di dalam Dia tersembunyi semua harta hikmad dan pengetahuan. Dialah kebangkitan dan hidup. Hal terbesar yang kita akan pernah terima dari Allah adalah Yesus sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adalah juga penting untuk memahami bahwa keselamatan datang bukan melalui sebuah doktrin melainkan melalui sebuah Individu. Kita tidak diselamatkan oleh pembenaran, tetapi oleh Yesus. Waktu kita mengambil waktu untuk mempelajari Firman Tuhan kita menghadapi resiko menjadi seorang ahli doktrin tetapi tidak kompeten dalam pengetahuan sejati akan Tuhan kita. Dan mengenal Tuhan adalah segalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Bagaimana seseorang yang hidup melalui pengalaman tercatat di 2 Korintus 11:23-33 bisa menulis Roma 15:13??}}Seorang kawan saya mengatakan pada saya cerita berikut ini tentang Scott McGregor, orang Kristen berdedikasi dan seorang pelempar bola baseball kidal yang terkenal untuk Baltimore Orioles di tahun 70 dan 80an. Suatu ketika, di satu momen genting di dalam permainan, Scott menemukan dirinya berhadapan dengan seorang pemukul bola berbahaya dengan orang-orang pencetak angka. Ia mengambil waktu cukup untuk mempelajari situasi ketika seorang wanita tidak sabar di kotak tempat duduk di belakang kandang pemain Orioles berteriak, “Yesus Kristus! Lempar bolanya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Baca Matius 7:21-23 dan jawab pertanyaan-pertanyaan berikut: * Hal-hal terpuji apakah yang orang-orang ini capai? * Apakah empat kata penilaian Tuhan terhadap mereka? * Dalam satu kalimat, bagaimana Anda akan merangkum kesalahan fatal mereka?}}Bukan tidak umum untuk mendengar nama Tuhan digunakan sembarangan di permainan bola. Tetapi dalam peristiwa ini McGregor begitu tersentak sehingga ia hampir kehilangan konsentrasi. Setelah mengembalikan dirinya sendiri, ia dapat melempar dengan benar dan pemukulan bola berakhir. Lalu ia melakukan sesuatu yang sangat berbeda, sesuatu yang seharusnya tidak boleh dilakukan oleh pemain. Ketika ia berjalan kembali ke kandang pemain ia menatap langsung ke wanita tadi dan bicara dengannya. Dalam nada yang terganggu namun lembut, penuh keprihatinan terhadap wanita itu dan Tuhannya, ia berkata, “Ibu, kalau kamu sungguh mengenal Dia, kamu tidak akan pernah menyebut nama-Nya seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
McGregor mendemonstrasikan bahwa Kekristenan adalah lebih dari sekedar sebuah kebenaran untuk dipercayai. Kekristenan adalah sebuah kehidupan untuk dijalani dan, di atas segalanya, satu Tuhan untuk dicintai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu memikirkan sesuatu seluas, seajaib warisan yang kita miliki di dalam Kristus, digambarkan Paulus sebagai “kekayaan kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah” (Ef 2:7), sangat sulit untuk mengetahui dimana harus mulai. Menariknya, Paulus juga memiliki masalah yang sama. Di dalam suratnya kepada jemaat di Efesus, ia begitu terbawa oleh implikasi pembenaran yang begitu besar. Saat ia berusaha menghubungkan semua yang Tuhan telah lakukan dan sedang lakukan di pasal pertama, ia mulai dengan kalimat di ayat tiga yang berakhir sampai sebelas ayat kemudian. Secara tata bahasa memang tidak cantik, namun hatinya yang penuh mengalir memberi kesaksian akan anugerah Tuhan yang tidak terselami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perikop berikut dari surat Paulus kepada jemaat di Roma menyediakan titik mula yang sangat bagus “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus. Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah” (Rom 5:1-2). John Stott menjelaskan pentingnya perikop ini:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Pasal-pasal awal dari [kitab Roma] didedikasikan untuk kebutuhan dan jalan pembenaran. Semua itu bertujuan menjelaskan bahwa semua manusia adalah berdosa di bawah penghakiman Allah yang adil, dan dapat dibenarkan hanya melalui penebusan yang di dalam Yesus Kristus – melalui anugerah semata, melalui iman saja. Di poin ini, setelah membeberkan kebutuhan dan penjelasan jalan pembenaran, Paulus meneruskan dengan menggambarkan buah-buahnya, hasil dari pembenaran dalam hidup sebagai anak dan ketaatan di dunia dan kehidupan lanjut yang penuh kemuliaan di surga (penekanan ditambahkan).&amp;lt;ref&amp;gt;John R.W. Stott, ''Men Made New'' (Grand Rapids, MI: Baker Book House, 1966, 1991), pp. 9–10.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bab ini akan melihat tiga buah dari pembenaran: damai dengan Allah, pengampunan dosa, dan proses penyucian. Di bab terakhir buku ini kita akan mengkaji pengadopsian kita di dalam Kristus serta pengharapan kita akan kemuliaan di masa depan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Damai dengan Allah ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perdamaian dengan Allah menggarisbawahi semua yang lain yang kita terima dalam Kristus. Perdamaian ini adalah hadiah yang menaruh berkat-berkat lain dalam perspektif. “Urusan utama dari injil Kristen adalah bukan untuk memberi kita berkat,” tulis D. Martyn Lloyd-Jones. “Tujuan utamanya adalah untuk mendamaikan kita dengan Allah.”&amp;lt;ref&amp;gt;D. Martyn Lloyd-Jones, ''Romans: Assurance, Chapter Five'' (Grand Rapids, MI: Zondervan Publishing House, 1971), p. 10.&amp;lt;/ref&amp;gt; Berdamai dengan Allah berarti kita berada di posisi perujukan dengan-Nya. Pernyataan pembenaran telah menjauhkan semua halangan antara Allah dan manusia. Walau tentu saja ada yang namanya damai ''dari'' Allah yang subyektif (yang bisa dirasakan), apa yang ada di benak Paulus dalam Roma 5:1 adalah fakta ''obyektif'' bahwa injil telah menghapuskan segala sesuatu yang memisahkan kita dari Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Renungkan Efesus 2:11-20.''' Apa yang Yesus lakukan terhadap penghalang permusuhan yang berdiri diantara diri-Nya dan kita?}}Untuk mendamaikan berarti menyatukan apa yang telah terpisah karena pemusuhan. Contoh utama dari arti ini ditemukan di kotbah Stefen kepada Sanhedrin ketika ia menceritakan kembali peristiwa kehidupan Musa: “Pada keesokan harinya ia muncul pula ketika dua orang Israel sedang berkelahi, lalu ia berusaha ''mendamaikan'' mereka, katanya: Saudara-saudara! Bukankah kamu ini bersaudara? Mengapakah kamu saling menganiaya?” (Kis 7:26). Versi Alkitab King James menerjemahkan “mendamaikan” di konteks ini menjadi “membuat mereka satu kembali.” Kata Yunani yang dipakai adalah bentuk kata kerja dari kata yang biasa diterjemahkan “damai.” Apa yang penting bagi kita untuk diingat adalah bahwa sekarang, dari titik pandang Allah, tidak ada lagi permusuhan antara Allah dan mereka yang telah dibenarkan. Amarah dan murka-Nya terhadap dosa telah diekspresikan dengan adil dan dipuaskan penuh di Salib. Perseteruan telah berakhir. Perdamaian telah dibuat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak hanya konflik telah diselesaikan, tetapi semua masalah hukum yang berasal dari permusuhan sebelumnya telah dihapuskan, tidak pernah muncul lagi: “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi merkea yang ada di dalam Kristus Yesus…Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Allah, yang membenarkan mereka?” (Rom 8:1,33). Kalau pengadilan tertinggi di jagad raya ini telah menyatakan kita benar, tidak ada gugatan yang bisa menempel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Ketika perang suci kita dengan Allah berakhir, ketika kita seperti Luther berjalan melalui pintu-pintu Surga, ketika kita dibenarkan oleh iman, perang itu berakhir untuk selamanya. Dengan pembersihan dari dosa dan pernyataan pengampunan ilahi kita memasuki perjanjian damai dengan Allah yang kekal. Buah sulung dari pembenaran kita adalah damai dengan Allah. Damai ini adalah damai yang kudus, damai yang tidak bercacat dan agung. Damai ini adalah damai yang tidak bisa dihancurkan.&amp;lt;ref&amp;gt;R.C. Sproul, ''The Holiness of God'' (Wheaton, IL: Tyndale House Publishers, 1985), p. 193.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; — R.C. Sproul}}Berhati-hatilah bahwa frase “tidak ada penghukuman” ''tidak'' berarti “tidak ada tuduhan.” Kita telah menyinggungnya di bab pertama. Musuh jiwa kita meneruskan pekerjaan kotornya menyebarkan kata-kata yang melecehkan dan menembakan anak panah api, dan sering terjadi kita salah mengira pembetulan dan teguran Tuhan sebagai suara tuduhan iblis. Tetapi kenyataan bahwa Yesus telah mengambil tempat kita berarti kita tidak akan pernah harus berhadapan dengan penghukuman di penghakiman akhir. “Siapakah yang akan menghukum mereka? Kristus Yesus, yang telah mati? Bahkan lebih lagi: yang telah bangkit, yang juga duduk di sebelah kanan Allah, yang malah menjadi Pembela bagi kita?” (Rom 8:34). Dia yang satu-satunya memiliki otoritas untuk menghukum untuk selamanya telah memihak pada kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|Bayangkan Anda sendiri memerintah sebuah bangsa berjumlah lima milyar orang. Sebuah berita mengatakan bahwa ada seorang warga yang mengadakan pemberontakan dan sedang membuat kekacauan di istana. Bukannya mengirim divisi tank bersenjata untuk menghentikan orang gila itu, Anda mengirim Pangeran. Dalam usaha menggapai si pemberontak, sang Pangeran terbunuh. Bagaimana Anda akan memperlakukan warga ini setelah ia ditangkap? * Musnahkan ia selamanya dari kerajaan * Membakar ia perlahan-lahan di atas api menyala * Menggantungnya dari pohon tertinggi di kota * Hukum dia dengan hidup dalam isolasi * Menjadikannya makanan bagi ular piton kerajaan * Mengampuninya, menerimanya, dan mengadopsinya menjadi anak Anda.}}Mengetahui kita telah didamaikan dengan Allah membawa ketenangan bagi pikiran kita. Ini memampukan kita untuk mengalahkan rasa kuatir dan takut. Bahkan bila seluruh dunia melawan kita, kita tetap aman dalam Kristus. “Janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi,” Yesus menjelaskan kepada murid-murid-Nya, yang telah ditetapkan untuk menghadapi perlawanan hebat. “Aku akan menunjukkan kepadamu siapakah yang harus kamu takuti. Takutilah Dia, yang setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka” (Luk 12:4, 5). Allah, satu-satunya yang berharga untuk kita takuti, telah berinisiatif mengadakan perjanjian damai kekal dengan kita. Untuk orang Kristen yang dibangun di dalam kebenaran ini, bahkan ketakutan akan maut dikalahkan karena ancaman penghukuman tidak lagi eksis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Forgiveness of Sins ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Meditate on Exodus 34:5-7.''' In light of all God’s character qualities, do you find it significant that he chose to emphasize these traits when revealing himself to Moses?}} Closely related to reconciliation and peace with God is the forgiveness of sins. I may be overreacting, but it seems to me this precious truth is in danger of being despised. When people lament, “I know I’m forgiven, but…,” I can’t help thinking, ''You do'' not ''know you’re forgiven! If you'' really understood forgiveness your problem wouldn’t seem anywhere near as bad''. As Lloyd-Jones implies in his'' statement on page 63, man’s greatest need is forgiveness. And if God has forgiven us, any other problem we have must be minor by comparison.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
It is rare today to hear Christians rejoice in being forgiven by God. This is understandable in a culture that views low self-esteem as a greater problem than alienation from God. Yet our awareness of forgiveness directly affects our affection for God. That was the gist of our Lord’s response to self-righteous Simon the Pharisee. “He who has been forgiven little loves little,” Jesus told him (Lk 7:47). Conversely, those who have been forgiven much— or at least realize how much they have been forgiven— love much. Every one of us should be in that category.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Do any of these nagging doubts cause you to question God’s forgiveness? (Check all that apply) * God can’t keep forgiving me over and over for the same sin. * I may be forgiven, but God hasn’t forgotten. * Nothing is free in life—God must expect some type of repayment. * I’m guilty of the unforgivable sin. * After sin #491 God will reject me (see Mt 18:22).}} Consider the following:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Pardon for sin comes to us only on the basis of the shed blood of Jesus Christ. “In him we have redemption through his blood, the forgiveness of sins, in accordance with the riches of God’s grace” (Eph 1:7).&lt;br /&gt;
* God’s motive for forgiveness is his great love. His forgiveness is a free and merciful work. “God exalted him to his own right hand as Prince and Savior that he might give repentance and forgiveness of sins to Israel” (Ac 5:31)—and to Gentiles as well.&lt;br /&gt;
* Forgiveness of sins leads to a knowledge of salvation. Jesus came “to give his people the knowledge of salvation through the forgiveness of their sins” (Lk 1:77).&lt;br /&gt;
* Understanding forgiveness leads to a right fear of God. “If you, O Lord, kept a record of sins, O Lord, who could stand? But with you there is forgiveness; therefore you are feared” (Ps 130:3-4).&lt;br /&gt;
* God’s forgiveness is thorough. “I, even I, am he who blots out your transgressions, for my own sake, and remembers your sins no more” (Isa 43:25).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The following story, recounted by Becky Pippert in her book ''Hope Has Its Reasons'', shows the power of forgiveness in one woman’s life. It’s worth quoting at length:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Several years ago after I had finished speaking at a conference, a lovely woman came to the platform. She obviously wanted to speak to me and the moment I turned to her, tears welled up in her eyes. We made our way to a room where we could talk privately. It was clear from looking at her that she was sensitive but tortured. She sobbed as she told me the following story.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;In relationship both to sin and to God, the determining factor of my existence is no longer my past. It is Christ’s past.�UNIQ56eae5512144de4c-ref-0000000E-QINU&amp;quot; — Sinclair Ferguson}} “Years before, she and her fiance (to whom she was now married) had been the youth workers at a large conservative church. They were a well-known couple and had an extraordinary impact on the young people. Everyone looked up to them and admired them tremendously. A few months before they were to be married they began having sexual relations. That left them burdened enough with a sense of guilt and hypocrisy. But then she discovered she was pregnant. ‘You can’t imagine what the implications would have been of admitting this to our church,’ she said. ‘To confess that we were preaching one thing and living another would have been intolerable. The congregation was so conservative and had never been touched by any scandal. We felt they wouldn’t be able to handle knowing about our situation. Nor could we bear the humiliation.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''For Further Study:''' Read Isaiah 59. How does God respond to our appalling lack of righteousness? (See verses 16 and 20)}} ‘So we made the most excruciating decision I have ever made. I had an abortion. My wedding day was the worst day of my entire life. Everyone in the church was smiling at me, thinking me a bride beaming in innocence. But do you know what was going through my head as I walked down the aisle? All I could think to myself was, ‘You’re a murderer. You were so proud that you couldn’t bear the shame and humiliation of being exposed for what you are. But I know what you are and so does God. You have murdered an innocent baby.’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“She was sobbing so deeply that she could not speak. As I put my arms around her a thought came to me very strongly. But I was afraid to say it. I knew if it was not from God that it could be very destructive. So I prayed silently for the wisdom to help her.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“She continued. ‘I just can’t believe that I could do something so horrible. How could I have murdered an innocent life? How is it possible I could do such a thing? I love my husband, we have four beautiful children. I know the Bible says that God forgives all of our sins. But I can’t forgive myself! I’ve confessed this sin a thousand times and I still feel such shame and sorrow. The thought that haunts me the most is ''how'' could I murder an innocent life?’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“I took a deep breath and said what I had been thinking. ‘I don’t know why you are so surprised. This isn’t the first time your sin has led to death, it’s the second.’ She looked at me in utter amazement. ‘My dear friend,’ I continued, ‘when you look at the Cross, all of us show up as crucifiers. Religious or nonreligious, good or bad, aborters or nonaborters—all of us are responsible for the death of the only innocent who ever lived. Jesus died for all of our sins—past, present, and future. Do you think there are any sins of yours that Jesus didn’t have to die for? The very sin of pride that caused you to destroy your child is what killed Christ as well. It does not matter that you weren’t there two thousand years ago. We all sent him there. Luther said that we carry his very nails in our pockets. So if you have done it before, then why couldn’t you do it again?’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Meditate on Psalm 32:1-5.''' What happens when we keep our sins hidden? What happens when we confess them?}} “She stopped crying. She looked me straight in the eyes and said, ‘You’re absolutely right. I have done something even worse than killing my baby. My sin is what drove Jesus to the Cross. It doesn’t matter that I wasn’t there pounding in the nails, I’m still responsible for his death. Do you realize the significance of what you are telling me, Becky? I came to you saying I had done the worst thing imaginable. And you tell me I have done something even worse than that.’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|Do you find yourself burdened by guilt when you remember a specific sin (or sins) from the past? If so, seek out a mature Christian to whom you can confess and from whom you can receive encouragement about the extent of God’s forgiveness. Put your intention in writing: “Believing that God wants to release me from guilt, I will talk to__________________ about this area of sin no later than ______ ___________.”}} “I grimaced because I knew this was true. (I am not sure that my approach would qualify as one of the great counseling techniques!) Then she said, ‘But, Becky, if the Cross shows me that I am far worse than I had ever imagined, it also shows me that my evil has been absorbed and forgiven. If the worst thing any human can do is to kill God’s son, and ''that'' can be forgiven, then how can anything else—even my abortion—not be forgiven?’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“I will never forget the look in her eyes as she sat back in awe and quietly said, ‘Talk about amazing grace.’ This time she wept not out of sorrow but from relief and gratitude. I saw a woman literally transformed by a proper understanding of the Cross.”&amp;lt;ref&amp;gt;Rebecca Pippert, ''Hope Has Its Reasons'' (New York: HarperCollins Publishers, Inc., 1989), pp. 102–104.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Forgiveness of sins is a critical concern. The greatest of the English Puritan theologians, John Owen, wrote a treatise on the subject that still stands as a classic. This exposition of Psalm 130 is over three hundred pages long, although the psalm itself has only eight verses. The editor’s preface yields some insight into the circumstances surrounding the work. It seems that as a young man Owen had only a superficial awareness of God’s forgiveness, “until the Lord was pleased to visit me with a sore affliction, whereby I was brought to the mouth of the grave, and under which my soul was oppressed with horror and darkness; but God graciously relieved my spirit by a powerful application of Psalm 130:4 from whence I received special instruction, peace and comfort, in drawing near to God through the Mediator, and preached thereupon immediately after my recovery.”&amp;lt;ref&amp;gt;John Owen, ''Works, Vol. VI'' (Carlisle, PA: The Banner of Truth Trust, 1967), p. 324.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;When once you realize all that it cost God to forgive you, you will be held as in a vice, constrained by the love of God.�UNIQ56eae5512144de4c-ref-00000011-QINU&amp;quot; — Oswald Chambers}} Psalm 130:4, as we saw above, shows that fearing the Lord is the natural outgrowth of embracing his forgiveness. While we’re young and healthy other problems can seem so much more important. But when our eyes are opened to the affairs of eternity, knowing whether or not we are truly forgiven will make all other matters pale into insignificance.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Sukartay</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/The_Fruits_of_Justification_(I)/id</id>
		<title>This Great Salvation/The Fruits of Justification (I)/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/The_Fruits_of_Justification_(I)/id"/>
				<updated>2008-01-10T06:43:58Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Sukartay: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;= Buah-Buah Pembenaran (I) =&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah Anda pernah memperhatikan betapa sedikitnya buku-buku Kristen yang memiliki cover menarik? Oh, ada beberapa, tentu – seperti buku Franky Schaeffer ''A Time for Anger'', dengan lukisan dari Pieter Brueghel “Orang Buta Menuntun Orang Buta.” Lukisan itu begitu menggugah saya sehingga saya mencari kopinya dan membingkainya untuk kantor saya. Dan ada juga gambar-gambar mengagumkan di sampul ''Chronicles of Narnia'' milik C.S. Lewis yang ''siap membawa Anda ke sana''. Salah satu sampul buku yang paling menarik yang pernah saya lihat tampak di sebuah seri pamflet. Illustrasinya menunjukkan seorang pria sedih dan kesepian yang sedang memandang kosong keluar jendela sebuah sel penjara. Saat Anda melihat, Anda menjadi sadar bahwa pintu selnya terbuka di belakangnya. Tetapi ia tidak memperhatikannya. Kalau saja ia menoleh ia akan melihat bahwa ia dapat berjalan keluar seperti orang bebas. Tetapi ia tetap terpenjara karena ketidaktahuannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Renungkan Lukas 4:18-19.''' Apakah Anda menyadari “Proklamasi Emansipasi” ini diberikan kepada Anda?}}Intinya cukup jelas. Banyak orang Kristen – bukan, kebanyakan orang Kristen – adalah seperti pria ini. Secara tragis mereka tidak menyadari kebebasan dan hak-hak lebih yang adalah milik mereka melalui injil Yesus Kristus. Mereka adalah orang-orang kudus yang tidak perlu terpenjara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Ketika Allah mengampuni, Ia mengampuni semua dosa, dosa asal dan dosa sekarang, dosa karena kita melakukan dan dosa karena kita tidak melakukan, dosa rahasia dan dosa terbuka, dosa dalam pikiran, perkataan dan perbuatan… Pengampunan penuh, atau tidak sama sekali, adalah yang Allah ciptakan untuk berikan. Hal ini sesuai dengan kebutuhan manusia. Pemberian ini tidak pernah diambil kembali oleh Allah. Ketika Ia mengampuni, Ia mengampuni selamanya&amp;lt;ref&amp;gt;William S. Plumer, ''The Grace of Christ'' (Philadelphia, PA: Presbyterian Board of Publication, 1853), pp. 201–02.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; — William S. Plumer &amp;quot;Saya harus memperhatikan apa yang saya katakan: tetapi rasul itu berkata, “Allah membuat Dia yang tidak mengenal dosa, menjadi berdosa karena kita, sehingga kita dapat dibenarkan oleh Allah di dalam Dia.” Begitulah kita di mata Allah Bapa, sama seperti Anak Allah sendiri. Biarlah hal itu dianggap bodoh atau emosi, atau luapan perasaan, apa pun, itu adalah penghiburan kita dan hikmad kita; kita tidak peduli pengetahuan lain di dunia selain ini, bahwa manusia telah berdosa dan Allah telah menderita; bahwa Allah telah membuat dirinya sendiri Anak manusia, dan bahwa manusia dibuat kebenaran Allah.”&amp;lt;ref&amp;gt;Ibid., p. 230. &lt;br /&gt;
&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; — Richard Hooker}}Merubah gambaran ini sedikit saja, sejumlah budak terus hidup seperti sebelumnya bahkan setelah Proklamasi Emansipasi. Sebagian mereka tetap berada di kegelapan tentang dimana mereka sekarang berdiri. Sebagian lain, walaupun menyadari kebebasan mereka, tidak pernah berjalan keluar tempat perbudakan karena takut. Kebebasan menuntut keberanian dan membawa bersamanya tanggung jawab yang besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya injil hanya membuat perbedaan kecil dalam hidup orang Kristen yang tak terhitung jumlahnya. Meskipun mereka telah sungguh dibenarkan dan penghukuman telah dibatalkan, masalah yang sama sepertinya mengganggu mereka. Ketakutan, kebiasaan, dan keraguan yang sama yang mengkarakterisasi hidup mereka sebelum mereka percaya Kristus masih tetap memegang kendali. Mengapa? Menurut saya satu alasan terbesar adalah ketidaktahuan. Bagi tidak sedikit orang Kristen, Alkitab masih menjadi buku tertutup. Fakta bahwa warisan besar telah disediakan bagi mereka yang dibenarkan oleh Allah seperti belum menjadi jelas buat mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengetahuan akan Firman Tuhan yang terus bertumbuh adalah sangat vital. Di saat Anda membaca, menghafal dan merenungkan Firman Tuhan, Anda akan mulai merasakan penyediaan yang mengagumkan yang diberikan Allah. Dua bab terakhir dari buku ini akan mengekplorasi buah-buah dari pembenaran kita, warisan kita di dalam Kristus. Sisa keraguan yang masih ada di pikiran kita mengenai tujuan dan takdir Tuhan harus dijelaskan saat kita menginventori keuntungan-keuntungan dari keselamatan yang agung ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Turun dari Kursi Kayu ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gambaran sekitar doktrin pembenaran datang langsung dari pengadilan hukum, seperti yang kita pelajari di bab sebelumnya. Allah, Pemberi hukum dan Hakim dari seluruh bumi, telah mengeluarkan sebuah deklarasi yang membebaskan orang berdosa yang terhukum dari semua kesalahan. Pembenaran memberi kita status baru di hadapan Allah dan mengampuni kita dari semua dosa dan hukumannya. Walaupun kita adalah orang-orang kriminal tertuduh yang sedang menunggu dalam barisan Hukuman Mati yang tidak bisa dihindari, Sang Hakim mengampuni kita dan menghancurkan catatan-catatan kriminal kita. Betapapun mengagumkannya hal ini, ada aspek pembenaran yang bahkan lebih mengagumkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya pernah berada di ruang sidang, dan itu bukanlah tempat yang penuh keceriaan. Anda tidak dapat menjadi diri Anda sendiri. Adalah tidak pantas untuk tertawa keras atau mengangkat kaki Anda. Tidak seorang pun berpikir untuk bertemu hakim setelah sidang untuk makan es krim ataupun menonton pertandingan bola basket. Ada peraturan perilaku tertentu yang harus dipertahankan, formal dan mengintimidasi – dan memang dimaksudkan begitu. Hal ini tidak kurang benar di hadirat Hakim yang berdaulat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|Buka hampir di bagian mana saja dari Alkitab Anda dan Anda akan menemukan janji-janji menakjubkan dari Tuhan. Tandai satu dari yang di bahwa ini yang paling berarti buat Anda saat ini. * “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau” (Ibr 13:5). * “Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu” (1Kor 10:13) * “Barangsiapa percaya kepada-Ku akan melakukan pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa” (Yoh 14:12) * “Ia yang memulai pekerjaan yang baik diantara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus” (Flp 1:6) * “Kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris” (Gal 4:7).}}Tetapi ada perbedaan yang sangat besar antara pengadilan di surga dan di bumi. Setelah menyatakan kita bebas dari segala tuduhan dan penghakiman, Tuhan memilih untuk ''tidak'' pergi ke ruangan-Nya, seperti yang dikira. Tetapi, Ia mendobrak semua standard dengan turun dari bangku kayu, mengumpulkan kita di tangan-Nya, dan lalu menggendong kita dari ruang sidang ke ruang keluarga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memiliki Allah sebagai Bapa kita adalah sungguh mengagumkan. Firman Tuhan telah menjelaskan bahwa kita berhubungan dengan Tuhan dengan intim dan secara legal. Bukan itu saja, tetapi untuk menjadi anak-anak-Nya mendatangkan hak-hak khusus. Paulus mendeskripsikannya seperti ini: “Roh itu bersaksi bersam-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah. Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris – orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus” (Rom 8:17).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara pembenaran bagi kita adalah pemberian gratis, pembenaran itu dibayar Allah dengan Anak-Nya. Pembenaran itu dibayar oleh nyawa Anak-Nya. Dan pembenaran itu dibayar oleh keangkuhan kita, karena satu-satunya cara untuk menerima pemberian ini adalah dengan datang kepada Tuhan dalam kerendahan hati dan pertobatatan iman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Apa Semua Ini ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' “Kekayaan” apakah yang Paulus deskripsikan di Kolose 2:2-3? Dimanakah “harta“ itu berada? Apakah Anda telah sepenuhnya mengambil keuntungan dari warisan ini?}}Anak Allah, Ahli Waris Allah, Ahli Waris bersama Kristus. Apa arti semua itu? Mari kita bangun satu fakta penting. Yesus Kristus, Anak tunggal Allah, adalah ahli waris Bapa yang sah dan sebenarnya. Kalau ada warisan yang kita miliki itu hanya karena kita berada di “dalam Kristus” (Ef 2:7). Apalagi, Kristus sendiri adalah warisan ini. Dia adalah damai kita, Dia adalah kebenaran kita, pengharapan kita, penyucian dan penebusan kita. Di dalam Dia tersembunyi semua harta hikmad dan pengetahuan. Dialah kebangkitan dan hidup. Hal terbesar yang kita akan pernah terima dari Allah adalah Yesus sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adalah juga penting untuk memahami bahwa keselamatan datang bukan melalui sebuah doktrin melainkan melalui sebuah Individu. Kita tidak diselamatkan oleh pembenaran, tetapi oleh Yesus. Waktu kita mengambil waktu untuk mempelajari Firman Tuhan kita menghadapi resiko menjadi seorang ahli doktrin tetapi tidak kompeten dalam pengetahuan sejati akan Tuhan kita. Dan mengenal Tuhan adalah segalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Bagaimana seseorang yang hidup melalui pengalaman tercatat di 2 Korintus 11:23-33 bisa menulis Roma 15:13??}}Seorang kawan saya mengatakan pada saya cerita berikut ini tentang Scott McGregor, orang Kristen berdedikasi dan seorang pelempar bola baseball kidal yang terkenal untuk Baltimore Orioles di tahun 70 dan 80an. Suatu ketika, di satu momen genting di dalam permainan, Scott menemukan dirinya berhadapan dengan seorang pemukul bola berbahaya dengan orang-orang pencetak angka. Ia mengambil waktu cukup untuk mempelajari situasi ketika seorang wanita tidak sabar di kotak tempat duduk di belakang kandang pemain Orioles berteriak, “Yesus Kristus! Lempar bolanya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Baca Matius 7:21-23 dan jawab pertanyaan-pertanyaan berikut: * Hal-hal terpuji apakah yang orang-orang ini capai? * Apakah empat kata penilaian Tuhan terhadap mereka? * Dalam satu kalimat, bagaimana Anda akan merangkum kesalahan fatal mereka?}}Bukan tidak umum untuk mendengar nama Tuhan digunakan sembarangan di permainan bola. Tetapi dalam peristiwa ini McGregor begitu tersentak sehingga ia hampir kehilangan konsentrasi. Setelah mengembalikan dirinya sendiri, ia dapat melempar dengan benar dan pemukulan bola berakhir. Lalu ia melakukan sesuatu yang sangat berbeda, sesuatu yang seharusnya tidak boleh dilakukan oleh pemain. Ketika ia berjalan kembali ke kandang pemain ia menatap langsung ke wanita tadi dan bicara dengannya. Dalam nada yang terganggu namun lembut, penuh keprihatinan terhadap wanita itu dan Tuhannya, ia berkata, “Ibu, kalau kamu sungguh mengenal Dia, kamu tidak akan pernah menyebut nama-Nya seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
McGregor mendemonstrasikan bahwa Kekristenan adalah lebih dari sekedar sebuah kebenaran untuk dipercayai. Kekristenan adalah sebuah kehidupan untuk dijalani dan, di atas segalanya, satu Tuhan untuk dicintai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu memikirkan sesuatu seluas, seajaib warisan yang kita miliki di dalam Kristus, digambarkan Paulus sebagai “kekayaan kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah” (Ef 2:7), sangat sulit untuk mengetahui dimana harus mulai. Menariknya, Paulus juga memiliki masalah yang sama. Di dalam suratnya kepada jemaat di Efesus, ia begitu terbawa oleh implikasi pembenaran yang begitu besar. Saat ia berusaha menghubungkan semua yang Tuhan telah lakukan dan sedang lakukan di pasal pertama, ia mulai dengan kalimat di ayat tiga yang berakhir sampai sebelas ayat kemudian. Secara tata bahasa memang tidak cantik, namun hatinya yang penuh mengalir memberi kesaksian akan anugerah Tuhan yang tidak terselami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perikop berikut dari surat Paulus kepada jemaat di Roma menyediakan titik mula yang sangat bagus “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus. Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah” (Rom 5:1-2). John Stott menjelaskan pentingnya perikop ini:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Pasal-pasal awal dari [kitab Roma] didedikasikan untuk kebutuhan dan jalan pembenaran. Semua itu bertujuan menjelaskan bahwa semua manusia adalah berdosa di bawah penghakiman Allah yang adil, dan dapat dibenarkan hanya melalui penebusan yang di dalam Yesus Kristus – melalui anugerah semata, melalui iman saja. Di poin ini, setelah membeberkan kebutuhan dan penjelasan jalan pembenaran, Paulus meneruskan dengan menggambarkan buah-buahnya, hasil dari pembenaran dalam hidup sebagai anak dan ketaatan di dunia dan kehidupan lanjut yang penuh kemuliaan di surga (penekanan ditambahkan).&amp;lt;ref&amp;gt;John R.W. Stott, ''Men Made New'' (Grand Rapids, MI: Baker Book House, 1966, 1991), pp. 9–10.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bab ini akan melihat tiga buah dari pembenaran: damai dengan Allah, pengampunan dosa, dan proses penyucian. Di bab terakhir buku ini kita akan mengkaji pengadopsian kita di dalam Kristus serta pengharapan kita akan kemuliaan di masa depan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Damai dengan Allah ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perdamaian dengan Allah menggarisbawahi semua yang lain yang kita terima dalam Kristus. Perdamaian ini adalah hadiah yang menaruh berkat-berkat lain dalam perspektif. “Urusan utama dari injil Kristen adalah bukan untuk memberi kita berkat,” tulis D. Martyn Lloyd-Jones. “Tujuan utamanya adalah untuk mendamaikan kita dengan Allah.”&amp;lt;ref&amp;gt;D. Martyn Lloyd-Jones, ''Romans: Assurance, Chapter Five'' (Grand Rapids, MI: Zondervan Publishing House, 1971), p. 10.&amp;lt;/ref&amp;gt; Berdamai dengan Allah berarti kita berada di posisi perujukan dengan-Nya. Pernyataan pembenaran telah menjauhkan semua halangan antara Allah dan manusia. Walau tentu saja ada yang namanya damai ''dari'' Allah yang subyektif (yang bisa dirasakan), apa yang ada di benak Paulus dalam Roma 5:1 adalah fakta ''obyektif'' bahwa injil telah menghapuskan segala sesuatu yang memisahkan kita dari Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Renungkan Efesus 2:11-20.''' Apa yang Yesus lakukan terhadap penghalang permusuhan yang berdiri diantara diri-Nya dan kita?}}Untuk mendamaikan berarti menyatukan apa yang telah terpisah karena pemusuhan. Contoh utama dari arti ini ditemukan di kotbah Stefen kepada Sanhedrin ketika ia menceritakan kembali peristiwa kehidupan Musa: “Pada keesokan harinya ia muncul pula ketika dua orang Israel sedang berkelahi, lalu ia berusaha ''mendamaikan'' mereka, katanya: Saudara-saudara! Bukankah kamu ini bersaudara? Mengapakah kamu saling menganiaya?” (Kis 7:26). Versi Alkitab King James menerjemahkan “mendamaikan” di konteks ini menjadi “membuat mereka satu kembali.” Kata Yunani yang dipakai adalah bentuk kata kerja dari kata yang biasa diterjemahkan “damai.” Apa yang penting bagi kita untuk diingat adalah bahwa sekarang, dari titik pandang Allah, tidak ada lagi permusuhan antara Allah dan mereka yang telah dibenarkan. Amarah dan murka-Nya terhadap dosa telah diekspresikan dengan adil dan dipuaskan penuh di Salib. Perseteruan telah berakhir. Perdamaian telah dibuat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak hanya konflik telah diselesaikan, tetapi semua masalah hukum yang berasal dari permusuhan sebelumnya telah dihapuskan, tidak pernah muncul lagi: “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi merkea yang ada di dalam Kristus Yesus…Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Allah, yang membenarkan mereka?” (Rom 8:1,33). Kalau pengadilan tertinggi di jagad raya ini telah menyatakan kita benar, tidak ada gugatan yang bisa menempel. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Ketika perang suci kita dengan Allah berakhir, ketika kita seperti Luther berjalan melalui pintu-pintu Surga, ketika kita dibenarkan oleh iman, perang itu berakhir untuk selamanya. Dengan pembersihan dari dosa dan pernyataan pengampunan ilahi kita memasuki perjanjian damai dengan Allah yang kekal. Buah sulung dari pembenaran kita adalah damai dengan Allah. Damai ini adalah damai yang kudus, damai yang tidak bercacat dan agung. Damai ini adalah damai yang tidak bisa dihancurkan.&amp;lt;ref&amp;gt;R.C. Sproul, ''The Holiness of God'' (Wheaton, IL: Tyndale House Publishers, 1985), p. 193.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; — R.C. Sproul}}Berhati-hatilah bahwa frase “tidak ada penghukuman” ''tidak'' berarti “tidak ada tuduhan.” Kita telah menyinggungnya di bab pertama. Musuh jiwa kita meneruskan pekerjaan kotornya menyebarkan kata-kata yang melecehkan dan menembakan anak panah api, dan sering terjadi kita salah mengira pembetulan dan teguran Tuhan sebagai suara tuduhan iblis. Tetapi kenyataan bahwa Yesus telah mengambil tempat kita berarti kita tidak akan pernah harus berhadapan dengan penghukuman di penghakiman akhir. “Siapakah yang akan menghukum mereka? Kristus Yesus, yang telah mati? Bahkan lebih lagi: yang telah bangkit, yang juga duduk di sebelah kanan Allah, yang malah menjadi Pembela bagi kita?” (Rom 8:34). Dia yang satu-satunya memiliki otoritas untuk menghukum untuk selamanya telah memihak pada kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|Bayangkan Anda sendiri memerintah sebuah bangsa berjumlah lima milyar orang. Sebuah berita mengatakan bahwa ada seorang warga yang mengadakan pemberontakan dan sedang membuat kekacauan di istana. Bukannya mengirim divisi tank bersenjata untuk menghentikan orang gila itu, Anda mengirim Pangeran. Dalam usaha menggapai si pemberontak, sang Pangeran terbunuh. Bagaimana Anda akan memperlakukan warga ini setelah ia ditangkap? &lt;br /&gt;
* Musnahkan ia selamanya dari kerajaan&lt;br /&gt;
* Membakar ia perlahan-lahan di atas api menyala&lt;br /&gt;
* Menggantungnya dari pohon tertinggi di kota&lt;br /&gt;
* Hukum dia dengan hidup dalam isolasi&lt;br /&gt;
* Menjadikannya makanan bagi ular piton kerajaan&lt;br /&gt;
* Mengampuninya, menerimanya, dan mengadopsinya menjadi anak Anda.}}Mengetahui kita telah didamaikan dengan Allah membawa ketenangan bagi pikiran kita. Ini memampukan kita untuk mengalahkan rasa kuatir dan takut. Bahkan bila seluruh dunia melawan kita, kita tetap aman dalam Kristus. “Janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi,” Yesus menjelaskan kepada murid-murid-Nya, yang telah ditetapkan untuk menghadapi perlawanan hebat. “Aku akan menunjukkan kepadamu siapakah yang harus kamu takuti. Takutilah Dia, yang setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka” (Luk 12:4, 5). Allah, satu-satunya yang berharga untuk kita takuti, telah berinisiatif mengadakan perjanjian damai kekal dengan kita. Untuk orang Kristen yang dibangun di dalam kebenaran ini, bahkan ketakutan akan maut dikalahkan karena ancaman penghukuman tidak lagi eksis.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Sukartay</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/The_Fruits_of_Justification_(I)/id</id>
		<title>This Great Salvation/The Fruits of Justification (I)/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/The_Fruits_of_Justification_(I)/id"/>
				<updated>2008-01-10T06:33:38Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Sukartay: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;= Buah-Buah Pembenaran (I) =&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah Anda pernah memperhatikan betapa sedikitnya buku-buku Kristen yang memiliki cover menarik? Oh, ada beberapa, tentu – seperti buku Franky Schaeffer ''A Time for Anger'', dengan lukisan dari Pieter Brueghel “Orang Buta Menuntun Orang Buta.” Lukisan itu begitu menggugah saya sehingga saya mencari kopinya dan membingkainya untuk kantor saya. Dan ada juga gambar-gambar mengagumkan di sampul ''Chronicles of Narnia'' milik C.S. Lewis yang ''siap membawa Anda ke sana''. Salah satu sampul buku yang paling menarik yang pernah saya lihat tampak di sebuah seri pamflet. Illustrasinya menunjukkan seorang pria sedih dan kesepian yang sedang memandang kosong keluar jendela sebuah sel penjara. Saat Anda melihat, Anda menjadi sadar bahwa pintu selnya terbuka di belakangnya. Tetapi ia tidak memperhatikannya. Kalau saja ia menoleh ia akan melihat bahwa ia dapat berjalan keluar seperti orang bebas. Tetapi ia tetap terpenjara karena ketidaktahuannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Renungkan Lukas 4:18-19.''' Apakah Anda menyadari “Proklamasi Emansipasi” ini diberikan kepada Anda?}}Intinya cukup jelas. Banyak orang Kristen – bukan, kebanyakan orang Kristen – adalah seperti pria ini. Secara tragis mereka tidak menyadari kebebasan dan hak-hak lebih yang adalah milik mereka melalui injil Yesus Kristus. Mereka adalah orang-orang kudus yang tidak perlu terpenjara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Ketika Allah mengampuni, Ia mengampuni semua dosa, dosa asal dan dosa sekarang, dosa karena kita melakukan dan dosa karena kita tidak melakukan, dosa rahasia dan dosa terbuka, dosa dalam pikiran, perkataan dan perbuatan… Pengampunan penuh, atau tidak sama sekali, adalah yang Allah ciptakan untuk berikan. Hal ini sesuai dengan kebutuhan manusia. Pemberian ini tidak pernah diambil kembali oleh Allah. Ketika Ia mengampuni, Ia mengampuni selamanya&amp;lt;ref&amp;gt;William S. Plumer, ''The Grace of Christ'' (Philadelphia, PA: Presbyterian Board of Publication, 1853), pp. 201–02.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; — William S. Plumer &amp;quot;Saya harus memperhatikan apa yang saya katakan: tetapi rasul itu berkata, “Allah membuat Dia yang tidak mengenal dosa, menjadi berdosa karena kita, sehingga kita dapat dibenarkan oleh Allah di dalam Dia.” Begitulah kita di mata Allah Bapa, sama seperti Anak Allah sendiri. Biarlah hal itu dianggap bodoh atau emosi, atau luapan perasaan, apa pun, itu adalah penghiburan kita dan hikmad kita; kita tidak peduli pengetahuan lain di dunia selain ini, bahwa manusia telah berdosa dan Allah telah menderita; bahwa Allah telah membuat dirinya sendiri Anak manusia, dan bahwa manusia dibuat kebenaran Allah.”&amp;lt;ref&amp;gt;Ibid., p. 230. &lt;br /&gt;
&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; — Richard Hooker}}Merubah gambaran ini sedikit saja, sejumlah budak terus hidup seperti sebelumnya bahkan setelah Proklamasi Emansipasi. Sebagian mereka tetap berada di kegelapan tentang dimana mereka sekarang berdiri. Sebagian lain, walaupun menyadari kebebasan mereka, tidak pernah berjalan keluar tempat perbudakan karena takut. Kebebasan menuntut keberanian dan membawa bersamanya tanggung jawab yang besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya injil hanya membuat perbedaan kecil dalam hidup orang Kristen yang tak terhitung jumlahnya. Meskipun mereka telah sungguh dibenarkan dan penghukuman telah dibatalkan, masalah yang sama sepertinya mengganggu mereka. Ketakutan, kebiasaan, dan keraguan yang sama yang mengkarakterisasi hidup mereka sebelum mereka percaya Kristus masih tetap memegang kendali. Mengapa? Menurut saya satu alasan terbesar adalah ketidaktahuan. Bagi tidak sedikit orang Kristen, Alkitab masih menjadi buku tertutup. Fakta bahwa warisan besar telah disediakan bagi mereka yang dibenarkan oleh Allah seperti belum menjadi jelas buat mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengetahuan akan Firman Tuhan yang terus bertumbuh adalah sangat vital. Di saat Anda membaca, menghafal dan merenungkan Firman Tuhan, Anda akan mulai merasakan penyediaan yang mengagumkan yang diberikan Allah. Dua bab terakhir dari buku ini akan mengekplorasi buah-buah dari pembenaran kita, warisan kita di dalam Kristus. Sisa keraguan yang masih ada di pikiran kita mengenai tujuan dan takdir Tuhan harus dijelaskan saat kita menginventori keuntungan-keuntungan dari keselamatan yang agung ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Turun dari Kursi Kayu ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gambaran sekitar doktrin pembenaran datang langsung dari pengadilan hukum, seperti yang kita pelajari di bab sebelumnya. Allah, Pemberi hukum dan Hakim dari seluruh bumi, telah mengeluarkan sebuah deklarasi yang membebaskan orang berdosa yang terhukum dari semua kesalahan. Pembenaran memberi kita status baru di hadapan Allah dan mengampuni kita dari semua dosa dan hukumannya. Walaupun kita adalah orang-orang kriminal tertuduh yang sedang menunggu dalam barisan Hukuman Mati yang tidak bisa dihindari, Sang Hakim mengampuni kita dan menghancurkan catatan-catatan kriminal kita. Betapapun mengagumkannya hal ini, ada aspek pembenaran yang bahkan lebih mengagumkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya pernah berada di ruang sidang, dan itu bukanlah tempat yang penuh keceriaan. Anda tidak dapat menjadi diri Anda sendiri. Adalah tidak pantas untuk tertawa keras atau mengangkat kaki Anda. Tidak seorang pun berpikir untuk bertemu hakim setelah sidang untuk makan es krim ataupun menonton pertandingan bola basket. Ada peraturan perilaku tertentu yang harus dipertahankan, formal dan mengintimidasi – dan memang dimaksudkan begitu. Hal ini tidak kurang benar di hadirat Hakim yang berdaulat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|Buka hampir di bagian mana saja dari Alkitab Anda dan Anda akan menemukan janji-janji menakjubkan dari Tuhan. Tandai satu dari yang di bahwa ini yang paling berarti buat Anda saat ini. * “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau” (Ibr 13:5). * “Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu” (1Kor 10:13) * “Barangsiapa percaya kepada-Ku akan melakukan pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa” (Yoh 14:12) * “Ia yang memulai pekerjaan yang baik diantara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus” (Flp 1:6) * “Kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris” (Gal 4:7).}}Tetapi ada perbedaan yang sangat besar antara pengadilan di surga dan di bumi. Setelah menyatakan kita bebas dari segala tuduhan dan penghakiman, Tuhan memilih untuk ''tidak'' pergi ke ruangan-Nya, seperti yang dikira. Tetapi, Ia mendobrak semua standard dengan turun dari bangku kayu, mengumpulkan kita di tangan-Nya, dan lalu menggendong kita dari ruang sidang ke ruang keluarga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memiliki Allah sebagai Bapa kita adalah sungguh mengagumkan. Firman Tuhan telah menjelaskan bahwa kita berhubungan dengan Tuhan dengan intim dan secara legal. Bukan itu saja, tetapi untuk menjadi anak-anak-Nya mendatangkan hak-hak khusus. Paulus mendeskripsikannya seperti ini: “Roh itu bersaksi bersam-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah. Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris – orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus” (Rom 8:17).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara pembenaran bagi kita adalah pemberian gratis, pembenaran itu dibayar Allah dengan Anak-Nya. Pembenaran itu dibayar oleh nyawa Anak-Nya. Dan pembenaran itu dibayar oleh keangkuhan kita, karena satu-satunya cara untuk menerima pemberian ini adalah dengan datang kepada Tuhan dalam kerendahan hati dan pertobatatan iman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Apa Semua Ini ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' “Kekayaan” apakah yang Paulus deskripsikan di Kolose 2:2-3? Dimanakah “harta“ itu berada? Apakah Anda telah sepenuhnya mengambil keuntungan dari warisan ini?}}Anak Allah, Ahli Waris Allah, Ahli Waris bersama Kristus. Apa arti semua itu? Mari kita bangun satu fakta penting. Yesus Kristus, Anak tunggal Allah, adalah ahli waris Bapa yang sah dan sebenarnya. Kalau ada warisan yang kita miliki itu hanya karena kita berada di “dalam Kristus” (Ef 2:7). Apalagi, Kristus sendiri adalah warisan ini. Dia adalah damai kita, Dia adalah kebenaran kita, pengharapan kita, penyucian dan penebusan kita. Di dalam Dia tersembunyi semua harta hikmad dan pengetahuan. Dialah kebangkitan dan hidup. Hal terbesar yang kita akan pernah terima dari Allah adalah Yesus sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adalah juga penting untuk memahami bahwa keselamatan datang bukan melalui sebuah doktrin melainkan melalui sebuah Individu. Kita tidak diselamatkan oleh pembenaran, tetapi oleh Yesus. Waktu kita mengambil waktu untuk mempelajari Firman Tuhan kita menghadapi resiko menjadi seorang ahli doktrin tetapi tidak kompeten dalam pengetahuan sejati akan Tuhan kita. Dan mengenal Tuhan adalah segalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Bagaimana seseorang yang hidup melalui pengalaman tercatat di 2 Korintus 11:23-33 bisa menulis Roma 15:13??}}Seorang kawan saya mengatakan pada saya cerita berikut ini tentang Scott McGregor, orang Kristen berdedikasi dan seorang pelempar bola baseball kidal yang terkenal untuk Baltimore Orioles di tahun 70 dan 80an. Suatu ketika, di satu momen genting di dalam permainan, Scott menemukan dirinya berhadapan dengan seorang pemukul bola berbahaya dengan orang-orang pencetak angka. Ia mengambil waktu cukup untuk mempelajari situasi ketika seorang wanita tidak sabar di kotak tempat duduk di belakang kandang pemain Orioles berteriak, “Yesus Kristus! Lempar bolanya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Baca Matius 7:21-23 dan jawab pertanyaan-pertanyaan berikut: * Hal-hal terpuji apakah yang orang-orang ini capai? * Apakah empat kata penilaian Tuhan terhadap mereka? * Dalam satu kalimat, bagaimana Anda akan merangkum kesalahan fatal mereka?}}Bukan tidak umum untuk mendengar nama Tuhan digunakan sembarangan di permainan bola. Tetapi dalam peristiwa ini McGregor begitu tersentak sehingga ia hampir kehilangan konsentrasi. Setelah mengembalikan dirinya sendiri, ia dapat melempar dengan benar dan pemukulan bola berakhir. Lalu ia melakukan sesuatu yang sangat berbeda, sesuatu yang seharusnya tidak boleh dilakukan oleh pemain. Ketika ia berjalan kembali ke kandang pemain ia menatap langsung ke wanita tadi dan bicara dengannya. Dalam nada yang terganggu namun lembut, penuh keprihatinan terhadap wanita itu dan Tuhannya, ia berkata, “Ibu, kalau kamu sungguh mengenal Dia, kamu tidak akan pernah menyebut nama-Nya seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
McGregor mendemonstrasikan bahwa Kekristenan adalah lebih dari sekedar sebuah kebenaran untuk dipercayai. Kekristenan adalah sebuah kehidupan untuk dijalani dan, di atas segalanya, satu Tuhan untuk dicintai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu memikirkan sesuatu seluas, seajaib warisan yang kita miliki di dalam Kristus, digambarkan Paulus sebagai “kekayaan kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah” (Ef 2:7), sangat sulit untuk mengetahui dimana harus mulai. Menariknya, Paulus juga memiliki masalah yang sama. Di dalam suratnya kepada jemaat di Efesus, ia begitu terbawa oleh implikasi pembenaran yang begitu besar. Saat ia berusaha menghubungkan semua yang Tuhan telah lakukan dan sedang lakukan di pasal pertama, ia mulai dengan kalimat di ayat tiga yang berakhir sampai sebelas ayat kemudian. Secara tata bahasa memang tidak cantik, namun hatinya yang penuh mengalir memberi kesaksian akan anugerah Tuhan yang tidak terselami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perikop berikut dari surat Paulus kepada jemaat di Roma menyediakan titik mula yang sangat bagus “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus. Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah” (Rom 5:1-2). John Stott menjelaskan pentingnya perikop ini:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Pasal-pasal awal dari [kitab Roma] didedikasikan untuk kebutuhan dan jalan pembenaran. Semua itu bertujuan menjelaskan bahwa semua manusia adalah berdosa di bawah penghakiman Allah yang adil, dan dapat dibenarkan hanya melalui penebusan yang di dalam Yesus Kristus – melalui anugerah semata, melalui iman saja. Di poin ini, setelah membeberkan kebutuhan dan penjelasan jalan pembenaran, Paulus meneruskan dengan menggambarkan buah-buahnya, hasil dari pembenaran dalam hidup sebagai anak dan ketaatan di dunia dan kehidupan lanjut yang penuh kemuliaan di surga (penekanan ditambahkan).&amp;lt;ref&amp;gt;John R.W. Stott, ''Men Made New'' (Grand Rapids, MI: Baker Book House, 1966, 1991), pp. 9–10.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bab ini akan melihat tiga buah dari pembenaran: damai dengan Allah, pengampunan dosa, dan proses penyucian. Di bab terakhir buku ini kita akan mengkaji pengadopsian kita di dalam Kristus serta pengharapan kita akan kemuliaan di masa depan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Peace with God ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peace with God underlies everything else we receive in Christ. It is the gift that puts all other blessings in perspective. “The primary business of the Christian gospel is not to give us blessings,” writes D. Martyn Lloyd-Jones. “Its primary purpose is to reconcile us to God.”&amp;lt;ref&amp;gt;D. Martyn Lloyd-Jones, ''Romans: Assurance, Chapter Five'' (Grand Rapids, MI: Zondervan Publishing House, 1971), p. 10.&amp;lt;/ref&amp;gt; Having peace with God means we are in a state of reconciliation with him. The declaration of justification has removed all obstacles between God and man. While there is certainly a subjective peace ''of'' God (that is, one that can be felt), what Paul has in mind in Romans 5:1 is the ''objective'' fact that the gospel has removed everything that divided us from God.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Meditate on Ephesians 2:11-20.''' What did Jesus do to the barrier of hostility that stood between himself and us?}} To reconcile means to bring together those who had been separated because of hostility. A prime example of this meaning is found in Stephen’s speech to the Sanhedrin when he recounts an incident from the life of Moses: “The next day Moses came upon two Israelites who were fighting. He tried to ''reconcile'' them by saying, ‘Men, you are brothers; why do you want to hurt each other?’” (Ac 7:26). The King James version of the Bible translates “reconcile” in this context as “set them at one again.” The Greek word used is the verb form of the word normally translated “peace.” What’s important for us to keep in mind is that now, from God’s point of view, there is no more hostility between God and those who are justified. His anger and wrath against sin were justly expressed and fully satisfied at the Cross. The battle is over. Peace has been made.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Not only has the conflict been resolved, but any legal problems resulting from former hostilities have been erased, never to reappear: “Therefore, there is now no condemnation for those who are in Christ Jesus…Who will bring any charge against those whom God has chosen? It is God who justifies” (Ro 8:1,33). If the highest tribunal in the universe has declared us justified, there is not a charge that can stick.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;When our holy war with God ceases, when we like Luther walk through the doors of Paradise, when we are justified by faith, the war ends forever. With the cleansing from sin and the declaration of divine forgiveness we enter into a peace treaty with God that is eternal. The firstfruit of our justification is peace with God. This peace is a holy peace, a peace unblemished and transcendent. It is a peace that cannot be destroyed.�UNIQ2a6d806271af981b-ref-0000000F-QINU&amp;quot; — R.C. Sproul}} Be aware that the phrase “no condemnation” does ''not'' mean “no accusation.” We touched on that in the first chapter. The enemy of our souls continues his dirty work of casting aspersions and shooting fiery darts, and it often happens that we mistake God’s gifts of conviction and correction for the devil’s denunciation. But the fact that Jesus has taken our place means we shall never have to face the condemnation of final judgment. “Who is he that condemns? Christ Jesus, who died—more than that, who was raised to life—is at the right hand of God and is also interceding for us” (Ro 8:34). The only One authorized to condemn for eternity has instead ruled in our favor.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|Imagine yourself ruling over a nation of five billion people. Word reaches you that a citizen has staged a one-man coup and is rampaging across the palace grounds. Instead of sending your armored tank division to stop the madman, you send the Prince. In the act of reaching out to the rebel, the Prince is murdered. How would you treat this citizen once he is captured? * Banish him forever from your kingdom * Roast him slowly over an open fire * Hang him from the highest tree in the city * Sentence him to life in solitary confinement * Feed him to the royal boa constrictor * Forgive him, embrace him, and adopt him as your son}} Knowing that we have peace with God puts our minds at rest. It enables us to overcome worries and fears. Even if the entire world were to oppose us, we are secure in Christ. “Do not be afraid of those who kill the body and after that can do no more,” Jesus explained to his disciples, who were destined to face great opposition. “But I will show you whom you should fear: Fear him who, after the killing of the body, has power to throw you into hell” (Lk 12:4,5). God, the One worthy of our fear, has initiated an eternal pact of peace with us. For the Christian who is established in this truth, even the fear of death is vanquished because the threat of judgment no longer exists.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Sukartay</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/The_Fruits_of_Justification_(I)/id</id>
		<title>This Great Salvation/The Fruits of Justification (I)/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/The_Fruits_of_Justification_(I)/id"/>
				<updated>2008-01-10T06:30:43Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Sukartay: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;= Buah-Buah Pembenaran (I) =&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah Anda pernah memperhatikan betapa sedikitnya buku-buku Kristen yang memiliki cover menarik? Oh, ada beberapa, tentu – seperti buku Franky Schaeffer ''A Time for Anger'', dengan lukisan dari Pieter Brueghel “Orang Buta Menuntun Orang Buta.” Lukisan itu begitu menggugah saya sehingga saya mencari kopinya dan membingkainya untuk kantor saya. Dan ada juga gambar-gambar mengagumkan di sampul ''Chronicles of Narnia'' milik C.S. Lewis yang ''siap membawa Anda ke sana''. Salah satu sampul buku yang paling menarik yang pernah saya lihat tampak di sebuah seri pamflet. Illustrasinya menunjukkan seorang pria sedih dan kesepian yang sedang memandang kosong keluar jendela sebuah sel penjara. Saat Anda melihat, Anda menjadi sadar bahwa pintu selnya terbuka di belakangnya. Tetapi ia tidak memperhatikannya. Kalau saja ia menoleh ia akan melihat bahwa ia dapat berjalan keluar seperti orang bebas. Tetapi ia tetap terpenjara karena ketidaktahuannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Renungkan Lukas 4:18-19.''' Apakah Anda menyadari “Proklamasi Emansipasi” ini diberikan kepada Anda?}}Intinya cukup jelas. Banyak orang Kristen – bukan, kebanyakan orang Kristen – adalah seperti pria ini. Secara tragis mereka tidak menyadari kebebasan dan hak-hak lebih yang adalah milik mereka melalui injil Yesus Kristus. Mereka adalah orang-orang kudus yang tidak perlu terpenjara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Ketika Allah mengampuni, Ia mengampuni semua dosa, dosa asal dan dosa sekarang, dosa karena kita melakukan dan dosa karena kita tidak melakukan, dosa rahasia dan dosa terbuka, dosa dalam pikiran, perkataan dan perbuatan… Pengampunan penuh, atau tidak sama sekali, adalah yang Allah ciptakan untuk berikan. Hal ini sesuai dengan kebutuhan manusia. Pemberian ini tidak pernah diambil kembali oleh Allah. Ketika Ia mengampuni, Ia mengampuni selamanya&amp;lt;ref&amp;gt;William S. Plumer, ''The Grace of Christ'' (Philadelphia, PA: Presbyterian Board of Publication, 1853), pp. 201–02.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; — William S. Plumer &amp;quot;Saya harus memperhatikan apa yang saya katakan: tetapi rasul itu berkata, “Allah membuat Dia yang tidak mengenal dosa, menjadi berdosa karena kita, sehingga kita dapat dibenarkan oleh Allah di dalam Dia.” Begitulah kita di mata Allah Bapa, sama seperti Anak Allah sendiri. Biarlah hal itu dianggap bodoh atau emosi, atau luapan perasaan, apa pun, itu adalah penghiburan kita dan hikmad kita; kita tidak peduli pengetahuan lain di dunia selain ini, bahwa manusia telah berdosa dan Allah telah menderita; bahwa Allah telah membuat dirinya sendiri Anak manusia, dan bahwa manusia dibuat kebenaran Allah.”&amp;lt;ref&amp;gt;Ibid., p. 230. &lt;br /&gt;
&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; — Richard Hooker}}Merubah gambaran ini sedikit saja, sejumlah budak terus hidup seperti sebelumnya bahkan setelah Proklamasi Emansipasi. Sebagian mereka tetap berada di kegelapan tentang dimana mereka sekarang berdiri. Sebagian lain, walaupun menyadari kebebasan mereka, tidak pernah berjalan keluar tempat perbudakan karena takut. Kebebasan menuntut keberanian dan membawa bersamanya tanggung jawab yang besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya injil hanya membuat perbedaan kecil dalam hidup orang Kristen yang tak terhitung jumlahnya. Meskipun mereka telah sungguh dibenarkan dan penghukuman telah dibatalkan, masalah yang sama sepertinya mengganggu mereka. Ketakutan, kebiasaan, dan keraguan yang sama yang mengkarakterisasi hidup mereka sebelum mereka percaya Kristus masih tetap memegang kendali. Mengapa? Menurut saya satu alasan terbesar adalah ketidaktahuan. Bagi tidak sedikit orang Kristen, Alkitab masih menjadi buku tertutup. Fakta bahwa warisan besar telah disediakan bagi mereka yang dibenarkan oleh Allah seperti belum menjadi jelas buat mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengetahuan akan Firman Tuhan yang terus bertumbuh adalah sangat vital. Di saat Anda membaca, menghafal dan merenungkan Firman Tuhan, Anda akan mulai merasakan penyediaan yang mengagumkan yang diberikan Allah. Dua bab terakhir dari buku ini akan mengekplorasi buah-buah dari pembenaran kita, warisan kita di dalam Kristus. Sisa keraguan yang masih ada di pikiran kita mengenai tujuan dan takdir Tuhan harus dijelaskan saat kita menginventori keuntungan-keuntungan dari keselamatan yang agung ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Turun dari Kursi Kayu ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gambaran sekitar doktrin pembenaran datang langsung dari pengadilan hukum, seperti yang kita pelajari di bab sebelumnya. Allah, Pemberi hukum dan Hakim dari seluruh bumi, telah mengeluarkan sebuah deklarasi yang membebaskan orang berdosa yang terhukum dari semua kesalahan. Pembenaran memberi kita status baru di hadapan Allah dan mengampuni kita dari semua dosa dan hukumannya. Walaupun kita adalah orang-orang kriminal tertuduh yang sedang menunggu dalam barisan Hukuman Mati yang tidak bisa dihindari, Sang Hakim mengampuni kita dan menghancurkan catatan-catatan kriminal kita. Betapapun mengagumkannya hal ini, ada aspek pembenaran yang bahkan lebih mengagumkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya pernah berada di ruang sidang, dan itu bukanlah tempat yang penuh keceriaan. Anda tidak dapat menjadi diri Anda sendiri. Adalah tidak pantas untuk tertawa keras atau mengangkat kaki Anda. Tidak seorang pun berpikir untuk bertemu hakim setelah sidang untuk makan es krim ataupun menonton pertandingan bola basket. Ada peraturan perilaku tertentu yang harus dipertahankan, formal dan mengintimidasi – dan memang dimaksudkan begitu. Hal ini tidak kurang benar di hadirat Hakim yang berdaulat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|Buka hampir di bagian mana saja dari Alkitab Anda dan Anda akan menemukan janji-janji menakjubkan dari Tuhan. Tandai satu dari yang di bahwa ini yang paling berarti buat Anda saat ini. * “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau” (Ibr 13:5). * “Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu” (1Kor 10:13) * “Barangsiapa percaya kepada-Ku akan melakukan pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa” (Yoh 14:12) * “Ia yang memulai pekerjaan yang baik diantara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus” (Flp 1:6) * “Kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris” (Gal 4:7).}}Tetapi ada perbedaan yang sangat besar antara pengadilan di surga dan di bumi. Setelah menyatakan kita bebas dari segala tuduhan dan penghakiman, Tuhan memilih untuk ''tidak'' pergi ke ruangan-Nya, seperti yang dikira. Tetapi, Ia mendobrak semua standard dengan turun dari bangku kayu, mengumpulkan kita di tangan-Nya, dan lalu menggendong kita dari ruang sidang ke ruang keluarga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memiliki Allah sebagai Bapa kita adalah sungguh mengagumkan. Firman Tuhan telah menjelaskan bahwa kita berhubungan dengan Tuhan dengan intim dan secara legal. Bukan itu saja, tetapi untuk menjadi anak-anak-Nya mendatangkan hak-hak khusus. Paulus mendeskripsikannya seperti ini: “Roh itu bersaksi bersam-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah. Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris – orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus” (Rom 8:17).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara pembenaran bagi kita adalah pemberian gratis, pembenaran itu dibayar Allah dengan Anak-Nya. Pembenaran itu dibayar oleh nyawa Anak-Nya. Dan pembenaran itu dibayar oleh keangkuhan kita, karena satu-satunya cara untuk menerima pemberian ini adalah dengan datang kepada Tuhan dalam kerendahan hati dan pertobatatan iman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Apa Semua Ini ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' “Kekayaan” apakah yang Paulus deskripsikan di Kolose 2:2-3? Dimanakah “harta“ itu berada? Apakah Anda telah sepenuhnya mengambil keuntungan dari warisan ini?}}Anak Allah, Ahli Waris Allah, Ahli Waris bersama Kristus. Apa arti semua itu? Mari kita bangun satu fakta penting. Yesus Kristus, Anak tunggal Allah, adalah ahli waris Bapa yang sah dan sebenarnya. Kalau ada warisan yang kita miliki itu hanya karena kita berada di “dalam Kristus” (Ef 2:7). Apalagi, Kristus sendiri adalah warisan ini. Dia adalah damai kita, Dia adalah kebenaran kita, pengharapan kita, penyucian dan penebusan kita. Di dalam Dia tersembunyi semua harta hikmad dan pengetahuan. Dialah kebangkitan dan hidup. Hal terbesar yang kita akan pernah terima dari Allah adalah Yesus sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adalah juga penting untuk memahami bahwa keselamatan datang bukan melalui sebuah doktrin melainkan melalui sebuah Individu. Kita tidak diselamatkan oleh pembenaran, tetapi oleh Yesus. Waktu kita mengambil waktu untuk mempelajari Firman Tuhan kita menghadapi resiko menjadi seorang ahli doktrin tetapi tidak kompeten dalam pengetahuan sejati akan Tuhan kita. Dan mengenal Tuhan adalah segalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Bagaimana seseorang yang hidup melalui pengalaman tercatat di 2 Korintus 11:23-33 bisa menulis Roma 15:13??}}Seorang kawan saya mengatakan pada saya cerita berikut ini tentang Scott McGregor, orang Kristen berdedikasi dan seorang pelempar bola baseball kidal yang terkenal untuk Baltimore Orioles di tahun 70 dan 80an. Suatu ketika, di satu momen genting di dalam permainan, Scott menemukan dirinya berhadapan dengan seorang pemukul bola berbahaya dengan orang-orang pencetak angka. Ia mengambil waktu cukup untuk mempelajari situasi ketika seorang wanita tidak sabar di kotak tempat duduk di belakang kandang pemain Orioles berteriak, “Yesus Kristus! Lempar bolanya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Baca Matius 7:21-23 dan jawab pertanyaan-pertanyaan berikut: * Hal-hal terpuji apakah yang orang-orang ini capai? * Apakah empat kata penilaian Tuhan terhadap mereka? * Dalam satu kalimat, bagaimana Anda akan merangkum kesalahan fatal mereka?}}Bukan tidak umum untuk mendengar nama Tuhan digunakan sembarangan di permainan bola. Tetapi dalam peristiwa ini McGregor begitu tersentak sehingga ia hampir kehilangan konsentrasi. Setelah mengembalikan dirinya sendiri, ia dapat melempar dengan benar dan pemukulan bola berakhir. Lalu ia melakukan sesuatu yang sangat berbeda, sesuatu yang seharusnya tidak boleh dilakukan oleh pemain. Ketika ia berjalan kembali ke kandang pemain ia menatap langsung ke wanita tadi dan bicara dengannya. Dalam nada yang terganggu namun lembut, penuh keprihatinan terhadap wanita itu dan Tuhannya, ia berkata, “Ibu, kalau kamu sungguh mengenal Dia, kamu tidak akan pernah menyebut nama-Nya seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
McGregor mendemonstrasikan bahwa Kekristenan adalah lebih dari sekedar sebuah kebenaran untuk dipercayai. Kekristenan adalah sebuah kehidupan untuk dijalani dan, di atas segalanya, satu Tuhan untuk dicintai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu memikirkan sesuatu seluas, seajaib warisan yang kita miliki di dalam Kristus, digambarkan Paulus sebagai “kekayaan kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah” (Ef 2:7), sangat sulit untuk mengetahui dimana harus mulai. Menariknya, Paulus juga memiliki masalah yang sama. Di dalam suratnya kepada jemaat di Efesus, ia begitu terbawa oleh implikasi pembenaran yang begitu besar. Saat ia berusaha menghubungkan semua yang Tuhan telah lakukan dan sedang lakukan di pasal pertama, ia mulai dengan kalimat di ayat tiga yang berakhir sampai sebelas ayat kemudian. Secara tata bahasa memang tidak cantik, namun hatinya yang penuh mengalir memberi kesaksian akan anugerah Tuhan yang tidak terselami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perikop berikut dari surat Paulus kepada jemaat di Roma menyediakan titik mula yang sangat bagus “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus. Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah” (Rom 5:1-2). John Stott menjelaskan pentingnya perikop ini:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Pasal-pasal awal dari [kitab Roma] didedikasikan untuk kebutuhan dan jalan pembenaran. Semua itu bertujuan menjelaskan bahwa semua manusia adalah berdosa di bawah penghakiman Allah yang adil, dan dapat dibenarkan hanya melalui penebusan yang di dalam Yesus Kristus – melalui anugerah semata, melalui iman saja. Di poin ini, setelah membeberkan kebutuhan dan penjelasan jalan pembenaran, Paulus meneruskan dengan menggambarkan buah-buahnya, hasil dari pembenaran dalam hidup sebagai anak dan ketaatan di dunia dan kehidupan lanjut yang penuh kemuliaan di surga (penekanan ditambahkan).&amp;lt;ref&amp;gt;John R.W. Stott, ''Men Made New'' (Grand Rapids, MI: Baker Book House, 1966, 1991), pp. 9–10.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bab ini akan melihat tiga buah dari pembenaran: damai dengan Allah, pengampunan dosa, dan proses penyucian. Di bab terakhir buku ini kita akan mengkaji pengadopsian kita di dalam Kristus serta pengharapan kita akan kemuliaan di masa depan.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Sukartay</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/The_Fruits_of_Justification_(I)/id</id>
		<title>This Great Salvation/The Fruits of Justification (I)/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/The_Fruits_of_Justification_(I)/id"/>
				<updated>2008-01-10T06:28:40Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Sukartay: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;= Buah-Buah Pembenaran (I) =&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah Anda pernah memperhatikan betapa sedikitnya buku-buku Kristen yang memiliki cover menarik? Oh, ada beberapa, tentu – seperti buku Franky Schaeffer ''A Time for Anger'', dengan lukisan dari Pieter Brueghel “Orang Buta Menuntun Orang Buta.” Lukisan itu begitu menggugah saya sehingga saya mencari kopinya dan membingkainya untuk kantor saya. Dan ada juga gambar-gambar mengagumkan di sampul ''Chronicles of Narnia'' milik C.S. Lewis yang ''siap membawa Anda ke sana''. Salah satu sampul buku yang paling menarik yang pernah saya lihat tampak di sebuah seri pamflet. Illustrasinya menunjukkan seorang pria sedih dan kesepian yang sedang memandang kosong keluar jendela sebuah sel penjara. Saat Anda melihat, Anda menjadi sadar bahwa pintu selnya terbuka di belakangnya. Tetapi ia tidak memperhatikannya. Kalau saja ia menoleh ia akan melihat bahwa ia dapat berjalan keluar seperti orang bebas. Tetapi ia tetap terpenjara karena ketidaktahuannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Renungkan Lukas 4:18-19.''' Apakah Anda menyadari “Proklamasi Emansipasi” ini diberikan kepada Anda?}}Intinya cukup jelas. Banyak orang Kristen – bukan, kebanyakan orang Kristen – adalah seperti pria ini. Secara tragis mereka tidak menyadari kebebasan dan hak-hak lebih yang adalah milik mereka melalui injil Yesus Kristus. Mereka adalah orang-orang kudus yang tidak perlu terpenjara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Ketika Allah mengampuni, Ia mengampuni semua dosa, dosa asal dan dosa sekarang, dosa karena kita melakukan dan dosa karena kita tidak melakukan, dosa rahasia dan dosa terbuka, dosa dalam pikiran, perkataan dan perbuatan… Pengampunan penuh, atau tidak sama sekali, adalah yang Allah ciptakan untuk berikan. Hal ini sesuai dengan kebutuhan manusia. Pemberian ini tidak pernah diambil kembali oleh Allah. Ketika Ia mengampuni, Ia mengampuni selamanya�NIQ6022a9545e1eb7fc-ref-0000000E-QINU&amp;quot; — William S. Plumer &amp;quot;Saya harus memperhatikan apa yang saya katakan: tetapi rasul itu berkata, “Allah membuat Dia yang tidak mengenal dosa, menjadi berdosa karena kita, sehingga kita dapat dibenarkan oleh Allah di dalam Dia.” Begitulah kita di mata Allah Bapa, sama seperti Anak Allah sendiri. Biarlah hal itu dianggap bodoh atau emosi, atau luapan perasaan, apa pun, itu adalah penghiburan kita dan hikmad kita; kita tidak peduli pengetahuan lain di dunia selain ini, bahwa manusia telah berdosa dan Allah telah menderita; bahwa Allah telah membuat dirinya sendiri Anak manusia, dan bahwa manusia dibuat kebenaran Allah.”�UNIQ6022a9545e1eb7fc-ref-0000000F-QINU&amp;quot; — Richard Hooker}}Merubah gambaran ini sedikit saja, sejumlah budak terus hidup seperti sebelumnya bahkan setelah Proklamasi Emansipasi. Sebagian mereka tetap berada di kegelapan tentang dimana mereka sekarang berdiri. Sebagian lain, walaupun menyadari kebebasan mereka, tidak pernah berjalan keluar tempat perbudakan karena takut. Kebebasan menuntut keberanian dan membawa bersamanya tanggung jawab yang besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya injil hanya membuat perbedaan kecil dalam hidup orang Kristen yang tak terhitung jumlahnya. Meskipun mereka telah sungguh dibenarkan dan penghukuman telah dibatalkan, masalah yang sama sepertinya mengganggu mereka. Ketakutan, kebiasaan, dan keraguan yang sama yang mengkarakterisasi hidup mereka sebelum mereka percaya Kristus masih tetap memegang kendali. Mengapa? Menurut saya satu alasan terbesar adalah ketidaktahuan. Bagi tidak sedikit orang Kristen, Alkitab masih menjadi buku tertutup. Fakta bahwa warisan besar telah disediakan bagi mereka yang dibenarkan oleh Allah seperti belum menjadi jelas buat mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengetahuan akan Firman Tuhan yang terus bertumbuh adalah sangat vital. Di saat Anda membaca, menghafal dan merenungkan Firman Tuhan, Anda akan mulai merasakan penyediaan yang mengagumkan yang diberikan Allah. Dua bab terakhir dari buku ini akan mengekplorasi buah-buah dari pembenaran kita, warisan kita di dalam Kristus. Sisa keraguan yang masih ada di pikiran kita mengenai tujuan dan takdir Tuhan harus dijelaskan saat kita menginventori keuntungan-keuntungan dari keselamatan yang agung ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Turun dari Kursi Kayu ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gambaran sekitar doktrin pembenaran datang langsung dari pengadilan hukum, seperti yang kita pelajari di bab sebelumnya. Allah, Pemberi hukum dan Hakim dari seluruh bumi, telah mengeluarkan sebuah deklarasi yang membebaskan orang berdosa yang terhukum dari semua kesalahan. Pembenaran memberi kita status baru di hadapan Allah dan mengampuni kita dari semua dosa dan hukumannya. Walaupun kita adalah orang-orang kriminal tertuduh yang sedang menunggu dalam barisan Hukuman Mati yang tidak bisa dihindari, Sang Hakim mengampuni kita dan menghancurkan catatan-catatan kriminal kita. Betapapun mengagumkannya hal ini, ada aspek pembenaran yang bahkan lebih mengagumkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya pernah berada di ruang sidang, dan itu bukanlah tempat yang penuh keceriaan. Anda tidak dapat menjadi diri Anda sendiri. Adalah tidak pantas untuk tertawa keras atau mengangkat kaki Anda. Tidak seorang pun berpikir untuk bertemu hakim setelah sidang untuk makan es krim ataupun menonton pertandingan bola basket. Ada peraturan perilaku tertentu yang harus dipertahankan, formal dan mengintimidasi – dan memang dimaksudkan begitu. Hal ini tidak kurang benar di hadirat Hakim yang berdaulat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|Buka hampir di bagian mana saja dari Alkitab Anda dan Anda akan menemukan janji-janji menakjubkan dari Tuhan. Tandai satu dari yang di bahwa ini yang paling berarti buat Anda saat ini. * “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau” (Ibr 13:5). * “Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu” (1Kor 10:13) * “Barangsiapa percaya kepada-Ku akan melakukan pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa” (Yoh 14:12) * “Ia yang memulai pekerjaan yang baik diantara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus” (Flp 1:6) * “Kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris” (Gal 4:7).}}Tetapi ada perbedaan yang sangat besar antara pengadilan di surga dan di bumi. Setelah menyatakan kita bebas dari segala tuduhan dan penghakiman, Tuhan memilih untuk ''tidak'' pergi ke ruangan-Nya, seperti yang dikira. Tetapi, Ia mendobrak semua standard dengan turun dari bangku kayu, mengumpulkan kita di tangan-Nya, dan lalu menggendong kita dari ruang sidang ke ruang keluarga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memiliki Allah sebagai Bapa kita adalah sungguh mengagumkan. Firman Tuhan telah menjelaskan bahwa kita berhubungan dengan Tuhan dengan intim dan secara legal. Bukan itu saja, tetapi untuk menjadi anak-anak-Nya mendatangkan hak-hak khusus. Paulus mendeskripsikannya seperti ini: “Roh itu bersaksi bersam-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah. Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris – orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus” (Rom 8:17).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara pembenaran bagi kita adalah pemberian gratis, pembenaran itu dibayar Allah dengan Anak-Nya. Pembenaran itu dibayar oleh nyawa Anak-Nya. Dan pembenaran itu dibayar oleh keangkuhan kita, karena satu-satunya cara untuk menerima pemberian ini adalah dengan datang kepada Tuhan dalam kerendahan hati dan pertobatatan iman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Apa Semua Ini ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' “Kekayaan” apakah yang Paulus deskripsikan di Kolose 2:2-3? Dimanakah “harta“ itu berada? Apakah Anda telah sepenuhnya mengambil keuntungan dari warisan ini?}}Anak Allah, Ahli Waris Allah, Ahli Waris bersama Kristus. Apa arti semua itu? Mari kita bangun satu fakta penting. Yesus Kristus, Anak tunggal Allah, adalah ahli waris Bapa yang sah dan sebenarnya. Kalau ada warisan yang kita miliki itu hanya karena kita berada di “dalam Kristus” (Ef 2:7). Apalagi, Kristus sendiri adalah warisan ini. Dia adalah damai kita, Dia adalah kebenaran kita, pengharapan kita, penyucian dan penebusan kita. Di dalam Dia tersembunyi semua harta hikmad dan pengetahuan. Dialah kebangkitan dan hidup. Hal terbesar yang kita akan pernah terima dari Allah adalah Yesus sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adalah juga penting untuk memahami bahwa keselamatan datang bukan melalui sebuah doktrin melainkan melalui sebuah Individu. Kita tidak diselamatkan oleh pembenaran, tetapi oleh Yesus. Waktu kita mengambil waktu untuk mempelajari Firman Tuhan kita menghadapi resiko menjadi seorang ahli doktrin tetapi tidak kompeten dalam pengetahuan sejati akan Tuhan kita. Dan mengenal Tuhan adalah segalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Bagaimana seseorang yang hidup melalui pengalaman tercatat di 2 Korintus 11:23-33 bisa menulis Roma 15:13??}}Seorang kawan saya mengatakan pada saya cerita berikut ini tentang Scott McGregor, orang Kristen berdedikasi dan seorang pelempar bola baseball kidal yang terkenal untuk Baltimore Orioles di tahun 70 dan 80an. Suatu ketika, di satu momen genting di dalam permainan, Scott menemukan dirinya berhadapan dengan seorang pemukul bola berbahaya dengan orang-orang pencetak angka. Ia mengambil waktu cukup untuk mempelajari situasi ketika seorang wanita tidak sabar di kotak tempat duduk di belakang kandang pemain Orioles berteriak, “Yesus Kristus! Lempar bolanya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Baca Matius 7:21-23 dan jawab pertanyaan-pertanyaan berikut: * Hal-hal terpuji apakah yang orang-orang ini capai? * Apakah empat kata penilaian Tuhan terhadap mereka? * Dalam satu kalimat, bagaimana Anda akan merangkum kesalahan fatal mereka?}}Bukan tidak umum untuk mendengar nama Tuhan digunakan sembarangan di permainan bola. Tetapi dalam peristiwa ini McGregor begitu tersentak sehingga ia hampir kehilangan konsentrasi. Setelah mengembalikan dirinya sendiri, ia dapat melempar dengan benar dan pemukulan bola berakhir. Lalu ia melakukan sesuatu yang sangat berbeda, sesuatu yang seharusnya tidak boleh dilakukan oleh pemain. Ketika ia berjalan kembali ke kandang pemain ia menatap langsung ke wanita tadi dan bicara dengannya. Dalam nada yang terganggu namun lembut, penuh keprihatinan terhadap wanita itu dan Tuhannya, ia berkata, “Ibu, kalau kamu sungguh mengenal Dia, kamu tidak akan pernah menyebut nama-Nya seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
McGregor mendemonstrasikan bahwa Kekristenan adalah lebih dari sekedar sebuah kebenaran untuk dipercayai. Kekristenan adalah sebuah kehidupan untuk dijalani dan, di atas segalanya, satu Tuhan untuk dicintai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu memikirkan sesuatu seluas, seajaib warisan yang kita miliki di dalam Kristus, digambarkan Paulus sebagai “kekayaan kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah” (Ef 2:7), sangat sulit untuk mengetahui dimana harus mulai. Menariknya, Paulus juga memiliki masalah yang sama. Di dalam suratnya kepada jemaat di Efesus, ia begitu terbawa oleh implikasi pembenaran yang begitu besar. Saat ia berusaha menghubungkan semua yang Tuhan telah lakukan dan sedang lakukan di pasal pertama, ia mulai dengan kalimat di ayat tiga yang berakhir sampai sebelas ayat kemudian. Secara tata bahasa memang tidak cantik, namun hatinya yang penuh mengalir memberi kesaksian akan anugerah Tuhan yang tidak terselami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perikop berikut dari surat Paulus kepada jemaat di Roma menyediakan titik mula yang sangat bagus “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus. Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah” (Rom 5:1-2). John Stott menjelaskan pentingnya perikop ini:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Pasal-pasal awal dari [kitab Roma] didedikasikan untuk kebutuhan dan jalan pembenaran. Semua itu bertujuan menjelaskan bahwa semua manusia adalah berdosa di bawah penghakiman Allah yang adil, dan dapat dibenarkan hanya melalui penebusan yang di dalam Yesus Kristus – melalui anugerah semata, melalui iman saja. Di poin ini, setelah membeberkan kebutuhan dan penjelasan jalan pembenaran, Paulus meneruskan dengan menggambarkan buah-buahnya, hasil dari pembenaran dalam hidup sebagai anak dan ketaatan di dunia dan kehidupan lanjut yang penuh kemuliaan di surga (penekanan ditambahkan).&amp;lt;ref&amp;gt;John R.W. Stott, ''Men Made New'' (Grand Rapids, MI: Baker Book House, 1966, 1991), pp. 9–10.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bab ini akan melihat tiga buah dari pembenaran: damai dengan Allah, pengampunan dosa, dan proses penyucian. Di bab terakhir buku ini kita akan mengkaji pengadopsian kita di dalam Kristus serta pengharapan kita akan kemuliaan di masa depan.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Sukartay</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/The_Fruits_of_Justification_(I)/id</id>
		<title>This Great Salvation/The Fruits of Justification (I)/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/The_Fruits_of_Justification_(I)/id"/>
				<updated>2008-01-10T06:23:26Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Sukartay: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;= Buah-Buah Pembenaran (I) =&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah Anda pernah memperhatikan betapa sedikitnya buku-buku Kristen yang memiliki cover menarik? Oh, ada beberapa, tentu – seperti buku Franky Schaeffer ''A Time for Anger'', dengan lukisan dari Pieter Brueghel “Orang Buta Menuntun Orang Buta.” Lukisan itu begitu menggugah saya sehingga saya mencari kopinya dan membingkainya untuk kantor saya. Dan ada juga gambar-gambar mengagumkan di sampul ''Chronicles of Narnia'' milik C.S. Lewis yang ''siap membawa Anda ke sana''. Salah satu sampul buku yang paling menarik yang pernah saya lihat tampak di sebuah seri pamflet. Illustrasinya menunjukkan seorang pria sedih dan kesepian yang sedang memandang kosong keluar jendela sebuah sel penjara. Saat Anda melihat, Anda menjadi sadar bahwa pintu selnya terbuka di belakangnya. Tetapi ia tidak memperhatikannya. Kalau saja ia menoleh ia akan melihat bahwa ia dapat berjalan keluar seperti orang bebas. Tetapi ia tetap terpenjara karena ketidaktahuannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Renungkan Lukas 4:18-19.''' Apakah Anda menyadari “Proklamasi Emansipasi” ini diberikan kepada Anda?}}Intinya cukup jelas. Banyak orang Kristen – bukan, kebanyakan orang Kristen – adalah seperti pria ini. Secara tragis mereka tidak menyadari kebebasan dan hak-hak lebih yang adalah milik mereka melalui injil Yesus Kristus. Mereka adalah orang-orang kudus yang tidak perlu terpenjara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Ketika Allah mengampuni, Ia mengampuni semua dosa, dosa asal dan dosa sekarang, dosa karena kita melakukan dan dosa karena kita tidak melakukan, dosa rahasia dan dosa terbuka, dosa dalam pikiran, perkataan dan perbuatan… Pengampunan penuh, atau tidak sama sekali, adalah yang Allah ciptakan untuk berikan. Hal ini sesuai dengan kebutuhan manusia. Pemberian ini tidak pernah diambil kembali oleh Allah. Ketika Ia mengampuni, Ia mengampuni selamanya�NIQ6022a9545e1eb7fc-ref-0000000E-QINU&amp;quot; — William S. Plumer &amp;quot;Saya harus memperhatikan apa yang saya katakan: tetapi rasul itu berkata, “Allah membuat Dia yang tidak mengenal dosa, menjadi berdosa karena kita, sehingga kita dapat dibenarkan oleh Allah di dalam Dia.” Begitulah kita di mata Allah Bapa, sama seperti Anak Allah sendiri. Biarlah hal itu dianggap bodoh atau emosi, atau luapan perasaan, apa pun, itu adalah penghiburan kita dan hikmad kita; kita tidak peduli pengetahuan lain di dunia selain ini, bahwa manusia telah berdosa dan Allah telah menderita; bahwa Allah telah membuat dirinya sendiri Anak manusia, dan bahwa manusia dibuat kebenaran Allah.”�UNIQ6022a9545e1eb7fc-ref-0000000F-QINU&amp;quot; — Richard Hooker}}Merubah gambaran ini sedikit saja, sejumlah budak terus hidup seperti sebelumnya bahkan setelah Proklamasi Emansipasi. Sebagian mereka tetap berada di kegelapan tentang dimana mereka sekarang berdiri. Sebagian lain, walaupun menyadari kebebasan mereka, tidak pernah berjalan keluar tempat perbudakan karena takut. Kebebasan menuntut keberanian dan membawa bersamanya tanggung jawab yang besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya injil hanya membuat perbedaan kecil dalam hidup orang Kristen yang tak terhitung jumlahnya. Meskipun mereka telah sungguh dibenarkan dan penghukuman telah dibatalkan, masalah yang sama sepertinya mengganggu mereka. Ketakutan, kebiasaan, dan keraguan yang sama yang mengkarakterisasi hidup mereka sebelum mereka percaya Kristus masih tetap memegang kendali. Mengapa? Menurut saya satu alasan terbesar adalah ketidaktahuan. Bagi tidak sedikit orang Kristen, Alkitab masih menjadi buku tertutup. Fakta bahwa warisan besar telah disediakan bagi mereka yang dibenarkan oleh Allah seperti belum menjadi jelas buat mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengetahuan akan Firman Tuhan yang terus bertumbuh adalah sangat vital. Di saat Anda membaca, menghafal dan merenungkan Firman Tuhan, Anda akan mulai merasakan penyediaan yang mengagumkan yang diberikan Allah. Dua bab terakhir dari buku ini akan mengekplorasi buah-buah dari pembenaran kita, warisan kita di dalam Kristus. Sisa keraguan yang masih ada di pikiran kita mengenai tujuan dan takdir Tuhan harus dijelaskan saat kita menginventori keuntungan-keuntungan dari keselamatan yang agung ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Turun dari Kursi Kayu ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gambaran sekitar doktrin pembenaran datang langsung dari pengadilan hukum, seperti yang kita pelajari di bab sebelumnya. Allah, Pemberi hukum dan Hakim dari seluruh bumi, telah mengeluarkan sebuah deklarasi yang membebaskan orang berdosa yang terhukum dari semua kesalahan. Pembenaran memberi kita status baru di hadapan Allah dan mengampuni kita dari semua dosa dan hukumannya. Walaupun kita adalah orang-orang kriminal tertuduh yang sedang menunggu dalam barisan Hukuman Mati yang tidak bisa dihindari, Sang Hakim mengampuni kita dan menghancurkan catatan-catatan kriminal kita. Betapapun mengagumkannya hal ini, ada aspek pembenaran yang bahkan lebih mengagumkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya pernah berada di ruang sidang, dan itu bukanlah tempat yang penuh keceriaan. Anda tidak dapat menjadi diri Anda sendiri. Adalah tidak pantas untuk tertawa keras atau mengangkat kaki Anda. Tidak seorang pun berpikir untuk bertemu hakim setelah sidang untuk makan es krim ataupun menonton pertandingan bola basket. Ada peraturan perilaku tertentu yang harus dipertahankan, formal dan mengintimidasi – dan memang dimaksudkan begitu. Hal ini tidak kurang benar di hadirat Hakim yang berdaulat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|Buka hampir di bagian mana saja dari Alkitab Anda dan Anda akan menemukan janji-janji menakjubkan dari Tuhan. Tandai satu dari yang di bahwa ini yang paling berarti buat Anda saat ini. &lt;br /&gt;
* “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau” (Ibr 13:5). &lt;br /&gt;
* “Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu” (1Kor 10:13) &lt;br /&gt;
* “Barangsiapa percaya kepada-Ku akan melakukan pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa” (Yoh 14:12) &lt;br /&gt;
* “Ia yang memulai pekerjaan yang baik diantara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus” (Flp 1:6) &lt;br /&gt;
* “Kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris” (Gal 4:7).}}Tetapi ada perbedaan yang sangat besar antara pengadilan di surga dan di bumi. Setelah menyatakan kita bebas dari segala tuduhan dan penghakiman, Tuhan memilih untuk ''tidak'' pergi ke ruangan-Nya, seperti yang dikira. Tetapi, Ia mendobrak semua standard dengan turun dari bangku kayu, mengumpulkan kita di tangan-Nya, dan lalu menggendong kita dari ruang sidang ke ruang keluarga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memiliki Allah sebagai Bapa kita adalah sungguh mengagumkan. Firman Tuhan telah menjelaskan bahwa kita berhubungan dengan Tuhan dengan intim dan secara legal. Bukan itu saja, tetapi untuk menjadi anak-anak-Nya mendatangkan hak-hak khusus. Paulus mendeskripsikannya seperti ini: “Roh itu bersaksi bersam-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah. Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris – orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus” (Rom 8:17).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara pembenaran bagi kita adalah pemberian gratis, pembenaran itu dibayar Allah dengan Anak-Nya. Pembenaran itu dibayar oleh nyawa Anak-Nya. Dan pembenaran itu dibayar oleh keangkuhan kita, karena satu-satunya cara untuk menerima pemberian ini adalah dengan datang kepada Tuhan dalam kerendahan hati dan pertobatatan iman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Apa Semua Ini ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' “Kekayaan” apakah yang Paulus deskripsikan di Kolose 2:2-3? Dimanakah “harta“ itu berada? Apakah Anda telah sepenuhnya mengambil keuntungan dari warisan ini?}}Anak Allah, Ahli Waris Allah, Ahli Waris bersama Kristus. Apa arti semua itu? Mari kita bangun satu fakta penting. Yesus Kristus, Anak tunggal Allah, adalah ahli waris Bapa yang sah dan sebenarnya. Kalau ada warisan yang kita miliki itu hanya karena kita berada di “dalam Kristus” (Ef 2:7). Apalagi, Kristus sendiri adalah warisan ini. Dia adalah damai kita, Dia adalah kebenaran kita, pengharapan kita, penyucian dan penebusan kita. Di dalam Dia tersembunyi semua harta hikmad dan pengetahuan. Dialah kebangkitan dan hidup. Hal terbesar yang kita akan pernah terima dari Allah adalah Yesus sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adalah juga penting untuk memahami bahwa keselamatan datang bukan melalui sebuah doktrin melainkan melalui sebuah Individu. Kita tidak diselamatkan oleh pembenaran, tetapi oleh Yesus. Waktu kita mengambil waktu untuk mempelajari Firman Tuhan kita menghadapi resiko menjadi seorang ahli doktrin tetapi tidak kompeten dalam pengetahuan sejati akan Tuhan kita. Dan mengenal Tuhan adalah segalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Bagaimana seseorang yang hidup melalui pengalaman tercatat di 2 Korintus 11:23-33 bisa menulis Roma 15:13??}}Seorang kawan saya mengatakan pada saya cerita berikut ini tentang Scott McGregor, orang Kristen berdedikasi dan seorang pelempar bola baseball kidal yang terkenal untuk Baltimore Orioles di tahun 70 dan 80an. Suatu ketika, di satu momen genting di dalam permainan, Scott menemukan dirinya berhadapan dengan seorang pemukul bola berbahaya dengan orang-orang pencetak angka. Ia mengambil waktu cukup untuk mempelajari situasi ketika seorang wanita tidak sabar di kotak tempat duduk di belakang kandang pemain Orioles berteriak, “Yesus Kristus! Lempar bolanya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Baca Matius 7:21-23 dan jawab pertanyaan-pertanyaan berikut:&lt;br /&gt;
* Hal-hal terpuji apakah yang orang-orang ini capai?&lt;br /&gt;
* Apakah empat kata penilaian Tuhan terhadap mereka? &lt;br /&gt;
* Dalam satu kalimat, bagaimana Anda akan merangkum kesalahan fatal mereka?}}Bukan tidak umum untuk mendengar nama Tuhan digunakan sembarangan di permainan bola. Tetapi dalam peristiwa ini McGregor begitu tersentak sehingga ia hampir kehilangan konsentrasi. Setelah mengembalikan dirinya sendiri, ia dapat melempar dengan benar dan pemukulan bola berakhir. Lalu ia melakukan sesuatu yang sangat berbeda, sesuatu yang seharusnya tidak boleh dilakukan oleh pemain. Ketika ia berjalan kembali ke kandang pemain ia menatap langsung ke wanita tadi dan bicara dengannya. Dalam nada yang terganggu namun lembut, penuh keprihatinan terhadap wanita itu dan Tuhannya, ia berkata, “Ibu, kalau kamu sungguh mengenal Dia, kamu tidak akan pernah menyebut nama-Nya seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
McGregor mendemonstrasikan bahwa Kekristenan adalah lebih dari sekedar sebuah kebenaran untuk dipercayai. Kekristenan adalah sebuah kehidupan untuk dijalani dan, di atas segalanya, satu Tuhan untuk dicintai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu memikirkan sesuatu seluas, seajaib warisan yang kita miliki di dalam Kristus, digambarkan Paulus sebagai “kekayaan kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah” (Ef 2:7), sangat sulit untuk mengetahui dimana harus mulai. Menariknya, Paulus juga memiliki masalah yang sama. Di dalam suratnya kepada jemaat di Efesus, ia begitu terbawa oleh implikasi pembenaran yang begitu besar. Saat ia berusaha menghubungkan semua yang Tuhan telah lakukan dan sedang lakukan di pasal pertama, ia mulai dengan kalimat di ayat tiga yang berakhir sampai sebelas ayat kemudian. Secara tata bahasa memang tidak cantik, namun hatinya yang penuh mengalir memberi kesaksian akan anugerah Tuhan yang tidak terselami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perikop berikut dari surat Paulus kepada jemaat di Roma menyediakan titik mula yang sangat bagus “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus. Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah” (Rom 5:1-2). John Stott menjelaskan pentingnya perikop ini:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Pasal-pasal awal dari [kitab Roma] didedikasikan untuk kebutuhan dan jalan pembenaran. Semua itu bertujuan menjelaskan bahwa semua manusia adalah berdosa di bawah penghakiman Allah yang adil, dan dapat dibenarkan hanya melalui penebusan yang di dalam Yesus Kristus – melalui anugerah semata, melalui iman saja. Di poin ini, setelah membeberkan kebutuhan dan penjelasan jalan pembenaran, Paulus meneruskan dengan menggambarkan buah-buahnya, hasil dari pembenaran dalam hidup sebagai anak dan ketaatan di dunia dan kehidupan lanjut yang penuh kemuliaan di surga (penekanan ditambahkan).&amp;lt;ref&amp;gt;John R.W. Stott, ''Men Made New'' (Grand Rapids, MI: Baker Book House, 1966, 1991), pp. 9–10.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bab ini akan melihat tiga buah dari pembenaran: damai dengan Allah, pengampunan dosa, dan proses penyucian. Di bab terakhir buku ini kita akan mengkaji pengadopsian kita di dalam Kristus serta pengharapan kita akan kemuliaan di masa depan.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Sukartay</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/The_Fruits_of_Justification_(I)/id</id>
		<title>This Great Salvation/The Fruits of Justification (I)/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/The_Fruits_of_Justification_(I)/id"/>
				<updated>2008-01-10T06:22:34Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Sukartay: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;= Buah-Buah Pembenaran (I) =&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah Anda pernah memperhatikan betapa sedikitnya buku-buku Kristen yang memiliki cover menarik? Oh, ada beberapa, tentu – seperti buku Franky Schaeffer ''A Time for Anger'', dengan lukisan dari Pieter Brueghel “Orang Buta Menuntun Orang Buta.” Lukisan itu begitu menggugah saya sehingga saya mencari kopinya dan membingkainya untuk kantor saya. Dan ada juga gambar-gambar mengagumkan di sampul ''Chronicles of Narnia'' milik C.S. Lewis yang ''siap membawa Anda ke sana''. Salah satu sampul buku yang paling menarik yang pernah saya lihat tampak di sebuah seri pamflet. Illustrasinya menunjukkan seorang pria sedih dan kesepian yang sedang memandang kosong keluar jendela sebuah sel penjara. Saat Anda melihat, Anda menjadi sadar bahwa pintu selnya terbuka di belakangnya. Tetapi ia tidak memperhatikannya. Kalau saja ia menoleh ia akan melihat bahwa ia dapat berjalan keluar seperti orang bebas. Tetapi ia tetap terpenjara karena ketidaktahuannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Renungkan Lukas 4:18-19.''' Apakah Anda menyadari “Proklamasi Emansipasi” ini diberikan kepada Anda?}}Intinya cukup jelas. Banyak orang Kristen – bukan, kebanyakan orang Kristen – adalah seperti pria ini. Secara tragis mereka tidak menyadari kebebasan dan hak-hak lebih yang adalah milik mereka melalui injil Yesus Kristus. Mereka adalah orang-orang kudus yang tidak perlu terpenjara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Ketika Allah mengampuni, Ia mengampuni semua dosa, dosa asal dan dosa sekarang, dosa karena kita melakukan dan dosa karena kita tidak melakukan, dosa rahasia dan dosa terbuka, dosa dalam pikiran, perkataan dan perbuatan… Pengampunan penuh, atau tidak sama sekali, adalah yang Allah ciptakan untuk berikan. Hal ini sesuai dengan kebutuhan manusia. Pemberian ini tidak pernah diambil kembali oleh Allah. Ketika Ia mengampuni, Ia mengampuni selamanya�NIQ6022a9545e1eb7fc-ref-0000000E-QINU&amp;quot; — William S. Plumer &amp;quot;Saya harus memperhatikan apa yang saya katakan: tetapi rasul itu berkata, “Allah membuat Dia yang tidak mengenal dosa, menjadi berdosa karena kita, sehingga kita dapat dibenarkan oleh Allah di dalam Dia.” Begitulah kita di mata Allah Bapa, sama seperti Anak Allah sendiri. Biarlah hal itu dianggap bodoh atau emosi, atau luapan perasaan, apa pun, itu adalah penghiburan kita dan hikmad kita; kita tidak peduli pengetahuan lain di dunia selain ini, bahwa manusia telah berdosa dan Allah telah menderita; bahwa Allah telah membuat dirinya sendiri Anak manusia, dan bahwa manusia dibuat kebenaran Allah.”�UNIQ6022a9545e1eb7fc-ref-0000000F-QINU&amp;quot; — Richard Hooker}}Merubah gambaran ini sedikit saja, sejumlah budak terus hidup seperti sebelumnya bahkan setelah Proklamasi Emansipasi. Sebagian mereka tetap berada di kegelapan tentang dimana mereka sekarang berdiri. Sebagian lain, walaupun menyadari kebebasan mereka, tidak pernah berjalan keluar tempat perbudakan karena takut. Kebebasan menuntut keberanian dan membawa bersamanya tanggung jawab yang besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya injil hanya membuat perbedaan kecil dalam hidup orang Kristen yang tak terhitung jumlahnya. Meskipun mereka telah sungguh dibenarkan dan penghukuman telah dibatalkan, masalah yang sama sepertinya mengganggu mereka. Ketakutan, kebiasaan, dan keraguan yang sama yang mengkarakterisasi hidup mereka sebelum mereka percaya Kristus masih tetap memegang kendali. Mengapa? Menurut saya satu alasan terbesar adalah ketidaktahuan. Bagi tidak sedikit orang Kristen, Alkitab masih menjadi buku tertutup. Fakta bahwa warisan besar telah disediakan bagi mereka yang dibenarkan oleh Allah seperti belum menjadi jelas buat mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengetahuan akan Firman Tuhan yang terus bertumbuh adalah sangat vital. Di saat Anda membaca, menghafal dan merenungkan Firman Tuhan, Anda akan mulai merasakan penyediaan yang mengagumkan yang diberikan Allah. Dua bab terakhir dari buku ini akan mengekplorasi buah-buah dari pembenaran kita, warisan kita di dalam Kristus. Sisa keraguan yang masih ada di pikiran kita mengenai tujuan dan takdir Tuhan harus dijelaskan saat kita menginventori keuntungan-keuntungan dari keselamatan yang agung ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Turun dari Kursi Kayu ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gambaran sekitar doktrin pembenaran datang langsung dari pengadilan hukum, seperti yang kita pelajari di bab sebelumnya. Allah, Pemberi hukum dan Hakim dari seluruh bumi, telah mengeluarkan sebuah deklarasi yang membebaskan orang berdosa yang terhukum dari semua kesalahan. Pembenaran memberi kita status baru di hadapan Allah dan mengampuni kita dari semua dosa dan hukumannya. Walaupun kita adalah orang-orang kriminal tertuduh yang sedang menunggu dalam barisan Hukuman Mati yang tidak bisa dihindari, Sang Hakim mengampuni kita dan menghancurkan catatan-catatan kriminal kita. Betapapun mengagumkannya hal ini, ada aspek pembenaran yang bahkan lebih mengagumkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya pernah berada di ruang sidang, dan itu bukanlah tempat yang penuh keceriaan. Anda tidak dapat menjadi diri Anda sendiri. Adalah tidak pantas untuk tertawa keras atau mengangkat kaki Anda. Tidak seorang pun berpikir untuk bertemu hakim setelah sidang untuk makan es krim ataupun menonton pertandingan bola basket. Ada peraturan perilaku tertentu yang harus dipertahankan, formal dan mengintimidasi – dan memang dimaksudkan begitu. Hal ini tidak kurang benar di hadirat Hakim yang berdaulat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|Buka hampir di bagian mana saja dari Alkitab Anda dan Anda akan menemukan janji-janji menakjubkan dari Tuhan. Tandai satu dari yang di bahwa ini yang paling berarti buat Anda saat ini. &lt;br /&gt;
* “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau” (Ibr 13:5). &lt;br /&gt;
* “Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu” (1Kor 10:13) &lt;br /&gt;
* “Barangsiapa percaya kepada-Ku akan melakukan pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa” (Yoh 14:12) * “Ia yang memulai pekerjaan yang baik diantara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus” (Flp 1:6) &lt;br /&gt;
* “Kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris” (Gal 4:7).}}Tetapi ada perbedaan yang sangat besar antara pengadilan di surga dan di bumi. Setelah menyatakan kita bebas dari segala tuduhan dan penghakiman, Tuhan memilih untuk ''tidak'' pergi ke ruangan-Nya, seperti yang dikira. Tetapi, Ia mendobrak semua standard dengan turun dari bangku kayu, mengumpulkan kita di tangan-Nya, dan lalu menggendong kita dari ruang sidang ke ruang keluarga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memiliki Allah sebagai Bapa kita adalah sungguh mengagumkan. Firman Tuhan telah menjelaskan bahwa kita berhubungan dengan Tuhan dengan intim dan secara legal. Bukan itu saja, tetapi untuk menjadi anak-anak-Nya mendatangkan hak-hak khusus. Paulus mendeskripsikannya seperti ini: “Roh itu bersaksi bersam-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah. Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris – orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus” (Rom 8:17).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara pembenaran bagi kita adalah pemberian gratis, pembenaran itu dibayar Allah dengan Anak-Nya. Pembenaran itu dibayar oleh nyawa Anak-Nya. Dan pembenaran itu dibayar oleh keangkuhan kita, karena satu-satunya cara untuk menerima pemberian ini adalah dengan datang kepada Tuhan dalam kerendahan hati dan pertobatatan iman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Apa Semua Ini ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' “Kekayaan” apakah yang Paulus deskripsikan di Kolose 2:2-3? Dimanakah “harta“ itu berada? Apakah Anda telah sepenuhnya mengambil keuntungan dari warisan ini?}}Anak Allah, Ahli Waris Allah, Ahli Waris bersama Kristus. Apa arti semua itu? Mari kita bangun satu fakta penting. Yesus Kristus, Anak tunggal Allah, adalah ahli waris Bapa yang sah dan sebenarnya. Kalau ada warisan yang kita miliki itu hanya karena kita berada di “dalam Kristus” (Ef 2:7). Apalagi, Kristus sendiri adalah warisan ini. Dia adalah damai kita, Dia adalah kebenaran kita, pengharapan kita, penyucian dan penebusan kita. Di dalam Dia tersembunyi semua harta hikmad dan pengetahuan. Dialah kebangkitan dan hidup. Hal terbesar yang kita akan pernah terima dari Allah adalah Yesus sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adalah juga penting untuk memahami bahwa keselamatan datang bukan melalui sebuah doktrin melainkan melalui sebuah Individu. Kita tidak diselamatkan oleh pembenaran, tetapi oleh Yesus. Waktu kita mengambil waktu untuk mempelajari Firman Tuhan kita menghadapi resiko menjadi seorang ahli doktrin tetapi tidak kompeten dalam pengetahuan sejati akan Tuhan kita. Dan mengenal Tuhan adalah segalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Bagaimana seseorang yang hidup melalui pengalaman tercatat di 2 Korintus 11:23-33 bisa menulis Roma 15:13??}}Seorang kawan saya mengatakan pada saya cerita berikut ini tentang Scott McGregor, orang Kristen berdedikasi dan seorang pelempar bola baseball kidal yang terkenal untuk Baltimore Orioles di tahun 70 dan 80an. Suatu ketika, di satu momen genting di dalam permainan, Scott menemukan dirinya berhadapan dengan seorang pemukul bola berbahaya dengan orang-orang pencetak angka. Ia mengambil waktu cukup untuk mempelajari situasi ketika seorang wanita tidak sabar di kotak tempat duduk di belakang kandang pemain Orioles berteriak, “Yesus Kristus! Lempar bolanya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Baca Matius 7:21-23 dan jawab pertanyaan-pertanyaan berikut:&lt;br /&gt;
* Hal-hal terpuji apakah yang orang-orang ini capai?&lt;br /&gt;
* Apakah empat kata penilaian Tuhan terhadap mereka? &lt;br /&gt;
* Dalam satu kalimat, bagaimana Anda akan merangkum kesalahan fatal mereka?}}Bukan tidak umum untuk mendengar nama Tuhan digunakan sembarangan di permainan bola. Tetapi dalam peristiwa ini McGregor begitu tersentak sehingga ia hampir kehilangan konsentrasi. Setelah mengembalikan dirinya sendiri, ia dapat melempar dengan benar dan pemukulan bola berakhir. Lalu ia melakukan sesuatu yang sangat berbeda, sesuatu yang seharusnya tidak boleh dilakukan oleh pemain. Ketika ia berjalan kembali ke kandang pemain ia menatap langsung ke wanita tadi dan bicara dengannya. Dalam nada yang terganggu namun lembut, penuh keprihatinan terhadap wanita itu dan Tuhannya, ia berkata, “Ibu, kalau kamu sungguh mengenal Dia, kamu tidak akan pernah menyebut nama-Nya seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
McGregor mendemonstrasikan bahwa Kekristenan adalah lebih dari sekedar sebuah kebenaran untuk dipercayai. Kekristenan adalah sebuah kehidupan untuk dijalani dan, di atas segalanya, satu Tuhan untuk dicintai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu memikirkan sesuatu seluas, seajaib warisan yang kita miliki di dalam Kristus, digambarkan Paulus sebagai “kekayaan kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah” (Ef 2:7), sangat sulit untuk mengetahui dimana harus mulai. Menariknya, Paulus juga memiliki masalah yang sama. Di dalam suratnya kepada jemaat di Efesus, ia begitu terbawa oleh implikasi pembenaran yang begitu besar. Saat ia berusaha menghubungkan semua yang Tuhan telah lakukan dan sedang lakukan di pasal pertama, ia mulai dengan kalimat di ayat tiga yang berakhir sampai sebelas ayat kemudian. Secara tata bahasa memang tidak cantik, namun hatinya yang penuh mengalir memberi kesaksian akan anugerah Tuhan yang tidak terselami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perikop berikut dari surat Paulus kepada jemaat di Roma menyediakan titik mula yang sangat bagus “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus. Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah” (Rom 5:1-2). John Stott menjelaskan pentingnya perikop ini:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Pasal-pasal awal dari [kitab Roma] didedikasikan untuk kebutuhan dan jalan pembenaran. Semua itu bertujuan menjelaskan bahwa semua manusia adalah berdosa di bawah penghakiman Allah yang adil, dan dapat dibenarkan hanya melalui penebusan yang di dalam Yesus Kristus – melalui anugerah semata, melalui iman saja. Di poin ini, setelah membeberkan kebutuhan dan penjelasan jalan pembenaran, Paulus meneruskan dengan menggambarkan buah-buahnya, hasil dari pembenaran dalam hidup sebagai anak dan ketaatan di dunia dan kehidupan lanjut yang penuh kemuliaan di surga (penekanan ditambahkan).&amp;lt;ref&amp;gt;John R.W. Stott, ''Men Made New'' (Grand Rapids, MI: Baker Book House, 1966, 1991), pp. 9–10.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bab ini akan melihat tiga buah dari pembenaran: damai dengan Allah, pengampunan dosa, dan proses penyucian. Di bab terakhir buku ini kita akan mengkaji pengadopsian kita di dalam Kristus serta pengharapan kita akan kemuliaan di masa depan.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Sukartay</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/The_Fruits_of_Justification_(I)/id</id>
		<title>This Great Salvation/The Fruits of Justification (I)/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/The_Fruits_of_Justification_(I)/id"/>
				<updated>2008-01-10T06:21:40Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Sukartay: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;= Buah-Buah Pembenaran (I) =&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah Anda pernah memperhatikan betapa sedikitnya buku-buku Kristen yang memiliki cover menarik? Oh, ada beberapa, tentu – seperti buku Franky Schaeffer ''A Time for Anger'', dengan lukisan dari Pieter Brueghel “Orang Buta Menuntun Orang Buta.” Lukisan itu begitu menggugah saya sehingga saya mencari kopinya dan membingkainya untuk kantor saya. Dan ada juga gambar-gambar mengagumkan di sampul ''Chronicles of Narnia'' milik C.S. Lewis yang ''siap membawa Anda ke sana''. Salah satu sampul buku yang paling menarik yang pernah saya lihat tampak di sebuah seri pamflet. Illustrasinya menunjukkan seorang pria sedih dan kesepian yang sedang memandang kosong keluar jendela sebuah sel penjara. Saat Anda melihat, Anda menjadi sadar bahwa pintu selnya terbuka di belakangnya. Tetapi ia tidak memperhatikannya. Kalau saja ia menoleh ia akan melihat bahwa ia dapat berjalan keluar seperti orang bebas. Tetapi ia tetap terpenjara karena ketidaktahuannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Renungkan Lukas 4:18-19.''' Apakah Anda menyadari “Proklamasi Emansipasi” ini diberikan kepada Anda?}}Intinya cukup jelas. Banyak orang Kristen – bukan, kebanyakan orang Kristen – adalah seperti pria ini. Secara tragis mereka tidak menyadari kebebasan dan hak-hak lebih yang adalah milik mereka melalui injil Yesus Kristus. Mereka adalah orang-orang kudus yang tidak perlu terpenjara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Ketika Allah mengampuni, Ia mengampuni semua dosa, dosa asal dan dosa sekarang, dosa karena kita melakukan dan dosa karena kita tidak melakukan, dosa rahasia dan dosa terbuka, dosa dalam pikiran, perkataan dan perbuatan… Pengampunan penuh, atau tidak sama sekali, adalah yang Allah ciptakan untuk berikan. Hal ini sesuai dengan kebutuhan manusia. Pemberian ini tidak pernah diambil kembali oleh Allah. Ketika Ia mengampuni, Ia mengampuni selamanya�NIQ6022a9545e1eb7fc-ref-0000000E-QINU&amp;quot; — William S. Plumer &amp;quot;Saya harus memperhatikan apa yang saya katakan: tetapi rasul itu berkata, “Allah membuat Dia yang tidak mengenal dosa, menjadi berdosa karena kita, sehingga kita dapat dibenarkan oleh Allah di dalam Dia.” Begitulah kita di mata Allah Bapa, sama seperti Anak Allah sendiri. Biarlah hal itu dianggap bodoh atau emosi, atau luapan perasaan, apa pun, itu adalah penghiburan kita dan hikmad kita; kita tidak peduli pengetahuan lain di dunia selain ini, bahwa manusia telah berdosa dan Allah telah menderita; bahwa Allah telah membuat dirinya sendiri Anak manusia, dan bahwa manusia dibuat kebenaran Allah.”�UNIQ6022a9545e1eb7fc-ref-0000000F-QINU&amp;quot; — Richard Hooker}}Merubah gambaran ini sedikit saja, sejumlah budak terus hidup seperti sebelumnya bahkan setelah Proklamasi Emansipasi. Sebagian mereka tetap berada di kegelapan tentang dimana mereka sekarang berdiri. Sebagian lain, walaupun menyadari kebebasan mereka, tidak pernah berjalan keluar tempat perbudakan karena takut. Kebebasan menuntut keberanian dan membawa bersamanya tanggung jawab yang besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya injil hanya membuat perbedaan kecil dalam hidup orang Kristen yang tak terhitung jumlahnya. Meskipun mereka telah sungguh dibenarkan dan penghukuman telah dibatalkan, masalah yang sama sepertinya mengganggu mereka. Ketakutan, kebiasaan, dan keraguan yang sama yang mengkarakterisasi hidup mereka sebelum mereka percaya Kristus masih tetap memegang kendali. Mengapa? Menurut saya satu alasan terbesar adalah ketidaktahuan. Bagi tidak sedikit orang Kristen, Alkitab masih menjadi buku tertutup. Fakta bahwa warisan besar telah disediakan bagi mereka yang dibenarkan oleh Allah seperti belum menjadi jelas buat mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengetahuan akan Firman Tuhan yang terus bertumbuh adalah sangat vital. Di saat Anda membaca, menghafal dan merenungkan Firman Tuhan, Anda akan mulai merasakan penyediaan yang mengagumkan yang diberikan Allah. Dua bab terakhir dari buku ini akan mengekplorasi buah-buah dari pembenaran kita, warisan kita di dalam Kristus. Sisa keraguan yang masih ada di pikiran kita mengenai tujuan dan takdir Tuhan harus dijelaskan saat kita menginventori keuntungan-keuntungan dari keselamatan yang agung ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Turun dari Kursi Kayu ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gambaran sekitar doktrin pembenaran datang langsung dari pengadilan hukum, seperti yang kita pelajari di bab sebelumnya. Allah, Pemberi hukum dan Hakim dari seluruh bumi, telah mengeluarkan sebuah deklarasi yang membebaskan orang berdosa yang terhukum dari semua kesalahan. Pembenaran memberi kita status baru di hadapan Allah dan mengampuni kita dari semua dosa dan hukumannya. Walaupun kita adalah orang-orang kriminal tertuduh yang sedang menunggu dalam barisan Hukuman Mati yang tidak bisa dihindari, Sang Hakim mengampuni kita dan menghancurkan catatan-catatan kriminal kita. Betapapun mengagumkannya hal ini, ada aspek pembenaran yang bahkan lebih mengagumkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya pernah berada di ruang sidang, dan itu bukanlah tempat yang penuh keceriaan. Anda tidak dapat menjadi diri Anda sendiri. Adalah tidak pantas untuk tertawa keras atau mengangkat kaki Anda. Tidak seorang pun berpikir untuk bertemu hakim setelah sidang untuk makan es krim ataupun menonton pertandingan bola basket. Ada peraturan perilaku tertentu yang harus dipertahankan, formal dan mengintimidasi – dan memang dimaksudkan begitu. Hal ini tidak kurang benar di hadirat Hakim yang berdaulat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|Buka hampir di bagian mana saja dari Alkitab Anda dan Anda akan menemukan janji-janji menakjubkan dari Tuhan. Tandai satu dari yang di bahwa ini yang paling berarti buat Anda saat ini. * “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau” (Ibr 13:5). * “Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu” (1Kor 10:13) * “Barangsiapa percaya kepada-Ku akan melakukan pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa” (Yoh 14:12) * “Ia yang memulai pekerjaan yang baik diantara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus” (Flp 1:6) * “Kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris” (Gal 4:7).}}Tetapi ada perbedaan yang sangat besar antara pengadilan di surga dan di bumi. Setelah menyatakan kita bebas dari segala tuduhan dan penghakiman, Tuhan memilih untuk ''tidak'' pergi ke ruangan-Nya, seperti yang dikira. Tetapi, Ia mendobrak semua standard dengan turun dari bangku kayu, mengumpulkan kita di tangan-Nya, dan lalu menggendong kita dari ruang sidang ke ruang keluarga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memiliki Allah sebagai Bapa kita adalah sungguh mengagumkan. Firman Tuhan telah menjelaskan bahwa kita berhubungan dengan Tuhan dengan intim dan secara legal. Bukan itu saja, tetapi untuk menjadi anak-anak-Nya mendatangkan hak-hak khusus. Paulus mendeskripsikannya seperti ini: “Roh itu bersaksi bersam-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah. Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris – orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus” (Rom 8:17).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara pembenaran bagi kita adalah pemberian gratis, pembenaran itu dibayar Allah dengan Anak-Nya. Pembenaran itu dibayar oleh nyawa Anak-Nya. Dan pembenaran itu dibayar oleh keangkuhan kita, karena satu-satunya cara untuk menerima pemberian ini adalah dengan datang kepada Tuhan dalam kerendahan hati dan pertobatatan iman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Apa Semua Ini ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' “Kekayaan” apakah yang Paulus deskripsikan di Kolose 2:2-3? Dimanakah “harta“ itu berada? Apakah Anda telah sepenuhnya mengambil keuntungan dari warisan ini?}}Anak Allah, Ahli Waris Allah, Ahli Waris bersama Kristus. Apa arti semua itu? Mari kita bangun satu fakta penting. Yesus Kristus, Anak tunggal Allah, adalah ahli waris Bapa yang sah dan sebenarnya. Kalau ada warisan yang kita miliki itu hanya karena kita berada di “dalam Kristus” (Ef 2:7). Apalagi, Kristus sendiri adalah warisan ini. Dia adalah damai kita, Dia adalah kebenaran kita, pengharapan kita, penyucian dan penebusan kita. Di dalam Dia tersembunyi semua harta hikmad dan pengetahuan. Dialah kebangkitan dan hidup. Hal terbesar yang kita akan pernah terima dari Allah adalah Yesus sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adalah juga penting untuk memahami bahwa keselamatan datang bukan melalui sebuah doktrin melainkan melalui sebuah Individu. Kita tidak diselamatkan oleh pembenaran, tetapi oleh Yesus. Waktu kita mengambil waktu untuk mempelajari Firman Tuhan kita menghadapi resiko menjadi seorang ahli doktrin tetapi tidak kompeten dalam pengetahuan sejati akan Tuhan kita. Dan mengenal Tuhan adalah segalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Bagaimana seseorang yang hidup melalui pengalaman tercatat di 2 Korintus 11:23-33 bisa menulis Roma 15:13??}}Seorang kawan saya mengatakan pada saya cerita berikut ini tentang Scott McGregor, orang Kristen berdedikasi dan seorang pelempar bola baseball kidal yang terkenal untuk Baltimore Orioles di tahun 70 dan 80an. Suatu ketika, di satu momen genting di dalam permainan, Scott menemukan dirinya berhadapan dengan seorang pemukul bola berbahaya dengan orang-orang pencetak angka. Ia mengambil waktu cukup untuk mempelajari situasi ketika seorang wanita tidak sabar di kotak tempat duduk di belakang kandang pemain Orioles berteriak, “Yesus Kristus! Lempar bolanya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Baca Matius 7:21-23 dan jawab pertanyaan-pertanyaan berikut:&lt;br /&gt;
* Hal-hal terpuji apakah yang orang-orang ini capai?&lt;br /&gt;
* Apakah empat kata penilaian Tuhan terhadap mereka? &lt;br /&gt;
* Dalam satu kalimat, bagaimana Anda akan merangkum kesalahan fatal mereka?}}Bukan tidak umum untuk mendengar nama Tuhan digunakan sembarangan di permainan bola. Tetapi dalam peristiwa ini McGregor begitu tersentak sehingga ia hampir kehilangan konsentrasi. Setelah mengembalikan dirinya sendiri, ia dapat melempar dengan benar dan pemukulan bola berakhir. Lalu ia melakukan sesuatu yang sangat berbeda, sesuatu yang seharusnya tidak boleh dilakukan oleh pemain. Ketika ia berjalan kembali ke kandang pemain ia menatap langsung ke wanita tadi dan bicara dengannya. Dalam nada yang terganggu namun lembut, penuh keprihatinan terhadap wanita itu dan Tuhannya, ia berkata, “Ibu, kalau kamu sungguh mengenal Dia, kamu tidak akan pernah menyebut nama-Nya seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
McGregor mendemonstrasikan bahwa Kekristenan adalah lebih dari sekedar sebuah kebenaran untuk dipercayai. Kekristenan adalah sebuah kehidupan untuk dijalani dan, di atas segalanya, satu Tuhan untuk dicintai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu memikirkan sesuatu seluas, seajaib warisan yang kita miliki di dalam Kristus, digambarkan Paulus sebagai “kekayaan kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah” (Ef 2:7), sangat sulit untuk mengetahui dimana harus mulai. Menariknya, Paulus juga memiliki masalah yang sama. Di dalam suratnya kepada jemaat di Efesus, ia begitu terbawa oleh implikasi pembenaran yang begitu besar. Saat ia berusaha menghubungkan semua yang Tuhan telah lakukan dan sedang lakukan di pasal pertama, ia mulai dengan kalimat di ayat tiga yang berakhir sampai sebelas ayat kemudian. Secara tata bahasa memang tidak cantik, namun hatinya yang penuh mengalir memberi kesaksian akan anugerah Tuhan yang tidak terselami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perikop berikut dari surat Paulus kepada jemaat di Roma menyediakan titik mula yang sangat bagus “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus. Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah” (Rom 5:1-2). John Stott menjelaskan pentingnya perikop ini:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Pasal-pasal awal dari [kitab Roma] didedikasikan untuk kebutuhan dan jalan pembenaran. Semua itu bertujuan menjelaskan bahwa semua manusia adalah berdosa di bawah penghakiman Allah yang adil, dan dapat dibenarkan hanya melalui penebusan yang di dalam Yesus Kristus – melalui anugerah semata, melalui iman saja. Di poin ini, setelah membeberkan kebutuhan dan penjelasan jalan pembenaran, Paulus meneruskan dengan menggambarkan buah-buahnya, hasil dari pembenaran dalam hidup sebagai anak dan ketaatan di dunia dan kehidupan lanjut yang penuh kemuliaan di surga (penekanan ditambahkan).&amp;lt;ref&amp;gt;John R.W. Stott, ''Men Made New'' (Grand Rapids, MI: Baker Book House, 1966, 1991), pp. 9–10.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bab ini akan melihat tiga buah dari pembenaran: damai dengan Allah, pengampunan dosa, dan proses penyucian. Di bab terakhir buku ini kita akan mengkaji pengadopsian kita di dalam Kristus serta pengharapan kita akan kemuliaan di masa depan.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Sukartay</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/The_Fruits_of_Justification_(I)/id</id>
		<title>This Great Salvation/The Fruits of Justification (I)/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/The_Fruits_of_Justification_(I)/id"/>
				<updated>2008-01-10T06:19:10Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Sukartay: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;= Buah-Buah Pembenaran (I) =&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah Anda pernah memperhatikan betapa sedikitnya buku-buku Kristen yang memiliki cover menarik? Oh, ada beberapa, tentu – seperti buku Franky Schaeffer ''A Time for Anger'', dengan lukisan dari Pieter Brueghel “Orang Buta Menuntun Orang Buta.” Lukisan itu begitu menggugah saya sehingga saya mencari kopinya dan membingkainya untuk kantor saya. Dan ada juga gambar-gambar mengagumkan di sampul ''Chronicles of Narnia'' milik C.S. Lewis yang ''siap membawa Anda ke sana''. Salah satu sampul buku yang paling menarik yang pernah saya lihat tampak di sebuah seri pamflet. Illustrasinya menunjukkan seorang pria sedih dan kesepian yang sedang memandang kosong keluar jendela sebuah sel penjara. Saat Anda melihat, Anda menjadi sadar bahwa pintu selnya terbuka di belakangnya. Tetapi ia tidak memperhatikannya. Kalau saja ia menoleh ia akan melihat bahwa ia dapat berjalan keluar seperti orang bebas. Tetapi ia tetap terpenjara karena ketidaktahuannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Renungkan Lukas 4:18-19.''' Apakah Anda menyadari “Proklamasi Emansipasi” ini diberikan kepada Anda?}}Intinya cukup jelas. Banyak orang Kristen – bukan, kebanyakan orang Kristen – adalah seperti pria ini. Secara tragis mereka tidak menyadari kebebasan dan hak-hak lebih yang adalah milik mereka melalui injil Yesus Kristus. Mereka adalah orang-orang kudus yang tidak perlu terpenjara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Ketika Allah mengampuni, Ia mengampuni semua dosa, dosa asal dan dosa sekarang, dosa karena kita melakukan dan dosa karena kita tidak melakukan, dosa rahasia dan dosa terbuka, dosa dalam pikiran, perkataan dan perbuatan… Pengampunan penuh, atau tidak sama sekali, adalah yang Allah ciptakan untuk berikan. Hal ini sesuai dengan kebutuhan manusia. Pemberian ini tidak pernah diambil kembali oleh Allah. Ketika Ia mengampuni, Ia mengampuni selamanya�NIQ6022a9545e1eb7fc-ref-0000000E-QINU&amp;quot; — William S. Plumer &amp;quot;Saya harus memperhatikan apa yang saya katakan: tetapi rasul itu berkata, “Allah membuat Dia yang tidak mengenal dosa, menjadi berdosa karena kita, sehingga kita dapat dibenarkan oleh Allah di dalam Dia.” Begitulah kita di mata Allah Bapa, sama seperti Anak Allah sendiri. Biarlah hal itu dianggap bodoh atau emosi, atau luapan perasaan, apa pun, itu adalah penghiburan kita dan hikmad kita; kita tidak peduli pengetahuan lain di dunia selain ini, bahwa manusia telah berdosa dan Allah telah menderita; bahwa Allah telah membuat dirinya sendiri Anak manusia, dan bahwa manusia dibuat kebenaran Allah.”�UNIQ6022a9545e1eb7fc-ref-0000000F-QINU&amp;quot; — Richard Hooker}}Merubah gambaran ini sedikit saja, sejumlah budak terus hidup seperti sebelumnya bahkan setelah Proklamasi Emansipasi. Sebagian mereka tetap berada di kegelapan tentang dimana mereka sekarang berdiri. Sebagian lain, walaupun menyadari kebebasan mereka, tidak pernah berjalan keluar tempat perbudakan karena takut. Kebebasan menuntut keberanian dan membawa bersamanya tanggung jawab yang besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya injil hanya membuat perbedaan kecil dalam hidup orang Kristen yang tak terhitung jumlahnya. Meskipun mereka telah sungguh dibenarkan dan penghukuman telah dibatalkan, masalah yang sama sepertinya mengganggu mereka. Ketakutan, kebiasaan, dan keraguan yang sama yang mengkarakterisasi hidup mereka sebelum mereka percaya Kristus masih tetap memegang kendali. Mengapa? Menurut saya satu alasan terbesar adalah ketidaktahuan. Bagi tidak sedikit orang Kristen, Alkitab masih menjadi buku tertutup. Fakta bahwa warisan besar telah disediakan bagi mereka yang dibenarkan oleh Allah seperti belum menjadi jelas buat mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengetahuan akan Firman Tuhan yang terus bertumbuh adalah sangat vital. Di saat Anda membaca, menghafal dan merenungkan Firman Tuhan, Anda akan mulai merasakan penyediaan yang mengagumkan yang diberikan Allah. Dua bab terakhir dari buku ini akan mengekplorasi buah-buah dari pembenaran kita, warisan kita di dalam Kristus. Sisa keraguan yang masih ada di pikiran kita mengenai tujuan dan takdir Tuhan harus dijelaskan saat kita menginventori keuntungan-keuntungan dari keselamatan yang agung ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Turun dari Kursi Kayu ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gambaran sekitar doktrin pembenaran datang langsung dari pengadilan hukum, seperti yang kita pelajari di bab sebelumnya. Allah, Pemberi hukum dan Hakim dari seluruh bumi, telah mengeluarkan sebuah deklarasi yang membebaskan orang berdosa yang terhukum dari semua kesalahan. Pembenaran memberi kita status baru di hadapan Allah dan mengampuni kita dari semua dosa dan hukumannya. Walaupun kita adalah orang-orang kriminal tertuduh yang sedang menunggu dalam barisan Hukuman Mati yang tidak bisa dihindari, Sang Hakim mengampuni kita dan menghancurkan catatan-catatan kriminal kita. Betapapun mengagumkannya hal ini, ada aspek pembenaran yang bahkan lebih mengagumkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya pernah berada di ruang sidang, dan itu bukanlah tempat yang penuh keceriaan. Anda tidak dapat menjadi diri Anda sendiri. Adalah tidak pantas untuk tertawa keras atau mengangkat kaki Anda. Tidak seorang pun berpikir untuk bertemu hakim setelah sidang untuk makan es krim ataupun menonton pertandingan bola basket. Ada peraturan perilaku tertentu yang harus dipertahankan, formal dan mengintimidasi – dan memang dimaksudkan begitu. Hal ini tidak kurang benar di hadirat Hakim yang berdaulat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|Buka hampir di bagian mana saja dari Alkitab Anda dan Anda akan menemukan janji-janji menakjubkan dari Tuhan. Tandai satu dari yang di bahwa ini yang paling berarti buat Anda saat ini. * “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau” (Ibr 13:5). * “Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu” (1Kor 10:13) * “Barangsiapa percaya kepada-Ku akan melakukan pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa” (Yoh 14:12) * “Ia yang memulai pekerjaan yang baik diantara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus” (Flp 1:6) * “Kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris” (Gal 4:7).}}Tetapi ada perbedaan yang sangat besar antara pengadilan di surga dan di bumi. Setelah menyatakan kita bebas dari segala tuduhan dan penghakiman, Tuhan memilih untuk ''tidak'' pergi ke ruangan-Nya, seperti yang dikira. Tetapi, Ia mendobrak semua standard dengan turun dari bangku kayu, mengumpulkan kita di tangan-Nya, dan lalu menggendong kita dari ruang sidang ke ruang keluarga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memiliki Allah sebagai Bapa kita adalah sungguh mengagumkan. Firman Tuhan telah menjelaskan bahwa kita berhubungan dengan Tuhan dengan intim dan secara legal. Bukan itu saja, tetapi untuk menjadi anak-anak-Nya mendatangkan hak-hak khusus. Paulus mendeskripsikannya seperti ini: “Roh itu bersaksi bersam-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah. Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris – orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus” (Rom 8:17).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara pembenaran bagi kita adalah pemberian gratis, pembenaran itu dibayar Allah dengan Anak-Nya. Pembenaran itu dibayar oleh nyawa Anak-Nya. Dan pembenaran itu dibayar oleh keangkuhan kita, karena satu-satunya cara untuk menerima pemberian ini adalah dengan datang kepada Tuhan dalam kerendahan hati dan pertobatatan iman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Apa Semua Ini ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' “Kekayaan” apakah yang Paulus deskripsikan di Kolose 2:2-3? Dimanakah “harta“ itu berada? Apakah Anda telah sepenuhnya mengambil keuntungan dari warisan ini?}}Anak Allah, Ahli Waris Allah, Ahli Waris bersama Kristus. Apa arti semua itu? Mari kita bangun satu fakta penting. Yesus Kristus, Anak tunggal Allah, adalah ahli waris Bapa yang sah dan sebenarnya. Kalau ada warisan yang kita miliki itu hanya karena kita berada di “dalam Kristus” (Ef 2:7). Apalagi, Kristus sendiri adalah warisan ini. Dia adalah damai kita, Dia adalah kebenaran kita, pengharapan kita, penyucian dan penebusan kita. Di dalam Dia tersembunyi semua harta hikmad dan pengetahuan. Dialah kebangkitan dan hidup. Hal terbesar yang kita akan pernah terima dari Allah adalah Yesus sendiri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adalah juga penting untuk memahami bahwa keselamatan datang bukan melalui sebuah doktrin melainkan melalui sebuah Individu. Kita tidak diselamatkan oleh pembenaran, tetapi oleh Yesus. Waktu kita mengambil waktu untuk mempelajari Firman Tuhan kita menghadapi resiko menjadi seorang ahli doktrin tetapi tidak kompeten dalam pengetahuan sejati akan Tuhan kita. Dan mengenal Tuhan adalah segalanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Bagaimana seseorang yang hidup melalui pengalaman tercatat di 2 Korintus 11:23-33 bisa menulis Roma 15:13??}}Seorang kawan saya mengatakan pada saya cerita berikut ini tentang Scott McGregor, orang Kristen berdedikasi dan seorang pelempar bola baseball kidal yang terkenal untuk Baltimore Orioles di tahun 70 dan 80an. Suatu ketika, di satu momen genting di dalam permainan, Scott menemukan dirinya berhadapan dengan seorang pemukul bola berbahaya dengan orang-orang pencetak angka. Ia mengambil waktu cukup untuk mempelajari situasi ketika seorang wanita tidak sabar di kotak tempat duduk di belakang kandang pemain Orioles berteriak, “Yesus Kristus! Lempar bolanya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Read Matthew 7:21-23 and then answer the following questions: * What praiseworthy things did these individuals accomplish? * What is God’s four-word assessment of them? * In one sentence, how would you sum up their fatal mistake?}} Now it’s not uncommon to hear the Lord’s name used in vain at a ball game. On this occasion, however, McGregor was so taken aback that he nearly lost concentration. Recovering himself, he managed to make the right pitch and the inning was over. Then he did something totally uncharacteristic, something players are not supposed to do. As he walked back to the dugout he looked directly at the lady and spoke to her. In a distressed but caring tone, full of concern for her and his Lord, he said, “Lady, if you really knew Him, you’d never say his name like that.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
McGregor mendemonstrasikan bahwa Kekristenan adalah lebih dari sekedar sebuah kebenaran untuk dipercayai. Kekristenan adalah sebuah kehidupan untuk dijalani dan, di atas segalanya, satu Tuhan untuk dicintai.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu memikirkan sesuatu seluas, seajaib warisan yang kita miliki di dalam Kristus, digambarkan Paulus sebagai “kekayaan kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah” (Ef 2:7), sangat sulit untuk mengetahui dimana harus mulai. Menariknya, Paulus juga memiliki masalah yang sama. Di dalam suratnya kepada jemaat di Efesus, ia begitu terbawa oleh implikasi pembenaran yang begitu besar. Saat ia berusaha menghubungkan semua yang Tuhan telah lakukan dan sedang lakukan di pasal pertama, ia mulai dengan kalimat di ayat tiga yang berakhir sampai sebelas ayat kemudian. Secara tata bahasa memang tidak cantik, namun hatinya yang penuh mengalir memberi kesaksian akan anugerah Tuhan yang tidak terselami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perikop berikut dari surat Paulus kepada jemaat di Roma menyediakan titik mula yang sangat bagus “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus. Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah” (Rom 5:1-2). John Stott menjelaskan pentingnya perikop ini:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Pasal-pasal awal dari [kitab Roma] didedikasikan untuk kebutuhan dan jalan pembenaran. Semua itu bertujuan menjelaskan bahwa semua manusia adalah berdosa di bawah penghakiman Allah yang adil, dan dapat dibenarkan hanya melalui penebusan yang di dalam Yesus Kristus – melalui anugerah semata, melalui iman saja. Di poin ini, setelah membeberkan kebutuhan dan penjelasan jalan pembenaran, Paulus meneruskan dengan menggambarkan buah-buahnya, hasil dari pembenaran dalam hidup sebagai anak dan ketaatan di dunia dan kehidupan lanjut yang penuh kemuliaan di surga (penekanan ditambahkan).&amp;lt;ref&amp;gt;John R.W. Stott, ''Men Made New'' (Grand Rapids, MI: Baker Book House, 1966, 1991), pp. 9–10.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
This chapter will look at three of justification’s fruits: peace with God (reconciliation), forgiveness of sins, and the process of sanctification. In the final chapter of this book we will examine our adoption in Christ as well as our hope of future glory.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Sukartay</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/The_Fruits_of_Justification_(I)/id</id>
		<title>This Great Salvation/The Fruits of Justification (I)/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/The_Fruits_of_Justification_(I)/id"/>
				<updated>2008-01-10T06:11:53Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Sukartay: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;= Buah-Buah Pembenaran (I) =&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah Anda pernah memperhatikan betapa sedikitnya buku-buku Kristen yang memiliki cover menarik? Oh, ada beberapa, tentu – seperti buku Franky Schaeffer ''A Time for Anger'', dengan lukisan dari Pieter Brueghel “Orang Buta Menuntun Orang Buta.” Lukisan itu begitu menggugah saya sehingga saya mencari kopinya dan membingkainya untuk kantor saya. Dan ada juga gambar-gambar mengagumkan di sampul ''Chronicles of Narnia'' milik C.S. Lewis yang ''siap membawa Anda ke sana''. Salah satu sampul buku yang paling menarik yang pernah saya lihat tampak di sebuah seri pamflet. Illustrasinya menunjukkan seorang pria sedih dan kesepian yang sedang memandang kosong keluar jendela sebuah sel penjara. Saat Anda melihat, Anda menjadi sadar bahwa pintu selnya terbuka di belakangnya. Tetapi ia tidak memperhatikannya. Kalau saja ia menoleh ia akan melihat bahwa ia dapat berjalan keluar seperti orang bebas. Tetapi ia tetap terpenjara karena ketidaktahuannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Renungkan Lukas 4:18-19.''' Apakah Anda menyadari “Proklamasi Emansipasi” ini diberikan kepada Anda?}}Intinya cukup jelas. Banyak orang Kristen – bukan, kebanyakan orang Kristen – adalah seperti pria ini. Secara tragis mereka tidak menyadari kebebasan dan hak-hak lebih yang adalah milik mereka melalui injil Yesus Kristus. Mereka adalah orang-orang kudus yang tidak perlu terpenjara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Ketika Allah mengampuni, Ia mengampuni semua dosa, dosa asal dan dosa sekarang, dosa karena kita melakukan dan dosa karena kita tidak melakukan, dosa rahasia dan dosa terbuka, dosa dalam pikiran, perkataan dan perbuatan… Pengampunan penuh, atau tidak sama sekali, adalah yang Allah ciptakan untuk berikan. Hal ini sesuai dengan kebutuhan manusia. Pemberian ini tidak pernah diambil kembali oleh Allah. Ketika Ia mengampuni, Ia mengampuni selamanya�NIQ6022a9545e1eb7fc-ref-0000000E-QINU&amp;quot; — William S. Plumer &amp;quot;Saya harus memperhatikan apa yang saya katakan: tetapi rasul itu berkata, “Allah membuat Dia yang tidak mengenal dosa, menjadi berdosa karena kita, sehingga kita dapat dibenarkan oleh Allah di dalam Dia.” Begitulah kita di mata Allah Bapa, sama seperti Anak Allah sendiri. Biarlah hal itu dianggap bodoh atau emosi, atau luapan perasaan, apa pun, itu adalah penghiburan kita dan hikmad kita; kita tidak peduli pengetahuan lain di dunia selain ini, bahwa manusia telah berdosa dan Allah telah menderita; bahwa Allah telah membuat dirinya sendiri Anak manusia, dan bahwa manusia dibuat kebenaran Allah.”�UNIQ6022a9545e1eb7fc-ref-0000000F-QINU&amp;quot; — Richard Hooker}}Merubah gambaran ini sedikit saja, sejumlah budak terus hidup seperti sebelumnya bahkan setelah Proklamasi Emansipasi. Sebagian mereka tetap berada di kegelapan tentang dimana mereka sekarang berdiri. Sebagian lain, walaupun menyadari kebebasan mereka, tidak pernah berjalan keluar tempat perbudakan karena takut. Kebebasan menuntut keberanian dan membawa bersamanya tanggung jawab yang besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya injil hanya membuat perbedaan kecil dalam hidup orang Kristen yang tak terhitung jumlahnya. Meskipun mereka telah sungguh dibenarkan dan penghukuman telah dibatalkan, masalah yang sama sepertinya mengganggu mereka. Ketakutan, kebiasaan, dan keraguan yang sama yang mengkarakterisasi hidup mereka sebelum mereka percaya Kristus masih tetap memegang kendali. Mengapa? Menurut saya satu alasan terbesar adalah ketidaktahuan. Bagi tidak sedikit orang Kristen, Alkitab masih menjadi buku tertutup. Fakta bahwa warisan besar telah disediakan bagi mereka yang dibenarkan oleh Allah seperti belum menjadi jelas buat mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengetahuan akan Firman Tuhan yang terus bertumbuh adalah sangat vital. Di saat Anda membaca, menghafal dan merenungkan Firman Tuhan, Anda akan mulai merasakan penyediaan yang mengagumkan yang diberikan Allah. Dua bab terakhir dari buku ini akan mengekplorasi buah-buah dari pembenaran kita, warisan kita di dalam Kristus. Sisa keraguan yang masih ada di pikiran kita mengenai tujuan dan takdir Tuhan harus dijelaskan saat kita menginventori keuntungan-keuntungan dari keselamatan yang agung ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Turun dari Kursi Kayu ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gambaran sekitar doktrin pembenaran datang langsung dari pengadilan hukum, seperti yang kita pelajari di bab sebelumnya. Allah, Pemberi hukum dan Hakim dari seluruh bumi, telah mengeluarkan sebuah deklarasi yang membebaskan orang berdosa yang terhukum dari semua kesalahan. Pembenaran memberi kita status baru di hadapan Allah dan mengampuni kita dari semua dosa dan hukumannya. Walaupun kita adalah orang-orang kriminal tertuduh yang sedang menunggu dalam barisan Hukuman Mati yang tidak bisa dihindari, Sang Hakim mengampuni kita dan menghancurkan catatan-catatan kriminal kita. Betapapun mengagumkannya hal ini, ada aspek pembenaran yang bahkan lebih mengagumkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya pernah berada di ruang sidang, dan itu bukanlah tempat yang penuh keceriaan. Anda tidak dapat menjadi diri Anda sendiri. Adalah tidak pantas untuk tertawa keras atau mengangkat kaki Anda. Tidak seorang pun berpikir untuk bertemu hakim setelah sidang untuk makan es krim ataupun menonton pertandingan bola basket. Ada peraturan perilaku tertentu yang harus dipertahankan, formal dan mengintimidasi – dan memang dimaksudkan begitu. Hal ini tidak kurang benar di hadirat Hakim yang berdaulat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|Buka hampir di bagian mana saja dari Alkitab Anda dan Anda akan menemukan janji-janji menakjubkan dari Tuhan. Tandai satu dari yang di bahwa ini yang paling berarti buat Anda saat ini. * “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau” (Ibr 13:5). * “Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu” (1Kor 10:13) * “Barangsiapa percaya kepada-Ku akan melakukan pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa” (Yoh 14:12) * “Ia yang memulai pekerjaan yang baik diantara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus” (Flp 1:6) * “Kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris” (Gal 4:7).}}Tetapi ada perbedaan yang sangat besar antara pengadilan di surga dan di bumi. Setelah menyatakan kita bebas dari segala tuduhan dan penghakiman, Tuhan memilih untuk ''tidak'' pergi ke ruangan-Nya, seperti yang dikira. Tetapi, Ia mendobrak semua standard dengan turun dari bangku kayu, mengumpulkan kita di tangan-Nya, dan lalu menggendong kita dari ruang sidang ke ruang keluarga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memiliki Allah sebagai Bapa kita adalah sungguh mengagumkan. Firman Tuhan telah menjelaskan bahwa kita berhubungan dengan Tuhan dengan intim dan secara legal. Bukan itu saja, tetapi untuk menjadi anak-anak-Nya mendatangkan hak-hak khusus. Paulus mendeskripsikannya seperti ini: “Roh itu bersaksi bersam-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah. Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris – orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus” (Rom 8:17).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara pembenaran bagi kita adalah pemberian gratis, pembenaran itu dibayar Allah dengan Anak-Nya. Pembenaran itu dibayar oleh nyawa Anak-Nya. Dan pembenaran itu dibayar oleh keangkuhan kita, karena satu-satunya cara untuk menerima pemberian ini adalah dengan datang kepada Tuhan dalam kerendahan hati dan pertobatatan iman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== What It’s All About ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''For Further Study:''' What are the “riches” Paul describes in Colossians 2:2-3? Where do the “treasures” reside? Have you taken full advantage of this inheritance?}} Children of God. Heirs of God. Co-heirs with Christ. What does it all mean? Let’s first establish one crucial fact. Jesus Christ, God’s only Son, is the Father’s true and rightful heir. Any inheritance we have is ours only because we are “in Christ” (Eph 2:7). Furthermore, Christ himself embodies this inheritance. ''He'' is our peace, ''he'' is our righteousness, our hope, our sanctification and redemption. In ''him'' are hidden all the treasures of wisdom and knowledge. ''He'' is the resurrection and the life. The greatest thing we will ever receive from God is Jesus himself.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
It’s also important to understand that salvation comes not through a doctrine but through a Person. We’re not saved by justification, but by Jesus. When we take time to study God’s Word we run the risk of becoming expert in doctrine yet inept in the true knowledge of our Lord. And knowing him is what it’s all about.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''For Further Study:''' How could the man who lived through the experiences recorded in 2 Corinthians 11:23-33 write Romans 15:13?}} A friend of mine told me the following story about Scott McGregor, a dedicated Christian and an outstanding left-handed pitcher for the Baltimore Orioles in the ’70s and ’80s. Once, at a crucial point in a game, Scott found himself facing a dangerous hitter with men in scoring position. He was taking a good bit of time to survey the situation when an impatient woman in the box seats behind the Orioles dugout screamed out, “Jesus Christ! Pitch the ball!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Read Matthew 7:21-23 and then answer the following questions: * What praiseworthy things did these individuals accomplish? * What is God’s four-word assessment of them? * In one sentence, how would you sum up their fatal mistake?}} Now it’s not uncommon to hear the Lord’s name used in vain at a ball game. On this occasion, however, McGregor was so taken aback that he nearly lost concentration. Recovering himself, he managed to make the right pitch and the inning was over. Then he did something totally uncharacteristic, something players are not supposed to do. As he walked back to the dugout he looked directly at the lady and spoke to her. In a distressed but caring tone, full of concern for her and his Lord, he said, “Lady, if you really knew Him, you’d never say his name like that.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
McGregor demonstrated that Christianity is more than a truth to be believed. It’s a life to be lived and, most of all, a Lord to be loved.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
When considering something as vast and wonderful as the inheritance we have in Christ, described by Paul as “the incomparable riches of his grace” (Eph 2:7), it’s hard to know where to begin. Interestingly, Paul had a similar problem. In his letter to the Ephesians, he gets carried away with the overwhelming implications of justification. As he attempts in the first chapter to relate all that God has done and is doing, he begins a sentence in verse three that doesn’t end until eleven verses later. It may not be grammatically pretty, but his overflowing heart bears testimony to the unfathomable grace of God.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The following passage from Paul’s epistle to the Romans provides an excellent starting point: “Therefore, since we have been justified through faith, we have peace with God through our Lord Jesus Christ, through whom we have gained access by faith into this grace in which we now stand. And we rejoice in the hope of the glory of God” (Ro 5:1-2). John Stott explains the significance of this passage:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:The earlier chapters of [Romans] are devoted to the need and the way of justification. They are concerned to make it plain that all men are sinners under the just judgment of God, and can be justified solely through the redemption which is in Christ Jesus—by grace alone, through faith alone. Now, at this point, having set forth the need and explained the way of justification, Paul goes on to describe its ''fruits'', the ''results of justification'' in a life of sonship and obedience on earth and a glorious hereafter in heaven (emphasis added).&amp;lt;ref&amp;gt;John R.W. Stott, ''Men Made New'' (Grand Rapids, MI: Baker Book House, 1966, 1991), pp. 9–10.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
This chapter will look at three of justification’s fruits: peace with God (reconciliation), forgiveness of sins, and the process of sanctification. In the final chapter of this book we will examine our adoption in Christ as well as our hope of future glory.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Sukartay</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/The_Fruits_of_Justification_(I)/id</id>
		<title>This Great Salvation/The Fruits of Justification (I)/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/The_Fruits_of_Justification_(I)/id"/>
				<updated>2008-01-10T06:07:26Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Sukartay: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;= Buah-Buah Pembenaran (I) =&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah Anda pernah memperhatikan betapa sedikitnya buku-buku Kristen yang memiliki cover menarik? Oh, ada beberapa, tentu – seperti buku Franky Schaeffer ''A Time for Anger'', dengan lukisan dari Pieter Brueghel “Orang Buta Menuntun Orang Buta.” Lukisan itu begitu menggugah saya sehingga saya mencari kopinya dan membingkainya untuk kantor saya. Dan ada juga gambar-gambar mengagumkan di sampul ''Chronicles of Narnia'' milik C.S. Lewis yang ''siap membawa Anda ke sana''. Salah satu sampul buku yang paling menarik yang pernah saya lihat tampak di sebuah seri pamflet. Illustrasinya menunjukkan seorang pria sedih dan kesepian yang sedang memandang kosong keluar jendela sebuah sel penjara. Saat Anda melihat, Anda menjadi sadar bahwa pintu selnya terbuka di belakangnya. Tetapi ia tidak memperhatikannya. Kalau saja ia menoleh ia akan melihat bahwa ia dapat berjalan keluar seperti orang bebas. Tetapi ia tetap terpenjara karena ketidaktahuannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Renungkan Lukas 4:18-19.''' Apakah Anda menyadari “Proklamasi Emansipasi” ini diberikan kepada Anda?}}Intinya cukup jelas. Banyak orang Kristen – bukan, kebanyakan orang Kristen – adalah seperti pria ini. Secara tragis mereka tidak menyadari kebebasan dan hak-hak lebih yang adalah milik mereka melalui injil Yesus Kristus. Mereka adalah orang-orang kudus yang tidak perlu terpenjara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Ketika Allah mengampuni, Ia mengampuni semua dosa, dosa asal dan dosa sekarang, dosa karena kita melakukan dan dosa karena kita tidak melakukan, dosa rahasia dan dosa terbuka, dosa dalam pikiran, perkataan dan perbuatan… Pengampunan penuh, atau tidak sama sekali, adalah yang Allah ciptakan untuk berikan. Hal ini sesuai dengan kebutuhan manusia. Pemberian ini tidak pernah diambil kembali oleh Allah. Ketika Ia mengampuni, Ia mengampuni selamanya�NIQ6022a9545e1eb7fc-ref-0000000E-QINU&amp;quot; — William S. Plumer &amp;quot;Saya harus memperhatikan apa yang saya katakan: tetapi rasul itu berkata, “Allah membuat Dia yang tidak mengenal dosa, menjadi berdosa karena kita, sehingga kita dapat dibenarkan oleh Allah di dalam Dia.” Begitulah kita di mata Allah Bapa, sama seperti Anak Allah sendiri. Biarlah hal itu dianggap bodoh atau emosi, atau luapan perasaan, apa pun, itu adalah penghiburan kita dan hikmad kita; kita tidak peduli pengetahuan lain di dunia selain ini, bahwa manusia telah berdosa dan Allah telah menderita; bahwa Allah telah membuat dirinya sendiri Anak manusia, dan bahwa manusia dibuat kebenaran Allah.”�UNIQ6022a9545e1eb7fc-ref-0000000F-QINU&amp;quot; — Richard Hooker}}Merubah gambaran ini sedikit saja, sejumlah budak terus hidup seperti sebelumnya bahkan setelah Proklamasi Emansipasi. Sebagian mereka tetap berada di kegelapan tentang dimana mereka sekarang berdiri. Sebagian lain, walaupun menyadari kebebasan mereka, tidak pernah berjalan keluar tempat perbudakan karena takut. Kebebasan menuntut keberanian dan membawa bersamanya tanggung jawab yang besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya injil hanya membuat perbedaan kecil dalam hidup orang Kristen yang tak terhitung jumlahnya. Meskipun mereka telah sungguh dibenarkan dan penghukuman telah dibatalkan, masalah yang sama sepertinya mengganggu mereka. Ketakutan, kebiasaan, dan keraguan yang sama yang mengkarakterisasi hidup mereka sebelum mereka percaya Kristus masih tetap memegang kendali. Mengapa? Menurut saya satu alasan terbesar adalah ketidaktahuan. Bagi tidak sedikit orang Kristen, Alkitab masih menjadi buku tertutup. Fakta bahwa warisan besar telah disediakan bagi mereka yang dibenarkan oleh Allah seperti belum menjadi jelas buat mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengetahuan akan Firman Tuhan yang terus bertumbuh adalah sangat vital. Di saat Anda membaca, menghafal dan merenungkan Firman Tuhan, Anda akan mulai merasakan penyediaan yang mengagumkan yang diberikan Allah. Dua bab terakhir dari buku ini akan mengekplorasi buah-buah dari pembenaran kita, warisan kita di dalam Kristus. Sisa keraguan yang masih ada di pikiran kita mengenai tujuan dan takdir Tuhan harus dijelaskan saat kita menginventori keuntungan-keuntungan dari keselamatan yang agung ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Turun dari Kursi Kayu ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gambaran sekitar doktrin pembenaran datang langsung dari pengadilan hukum, seperti yang kita pelajari di bab sebelumnya. Allah, Pemberi hukum dan Hakim dari seluruh bumi, telah mengeluarkan sebuah deklarasi yang membebaskan orang berdosa yang terhukum dari semua kesalahan. Pembenaran memberi kita status baru di hadapan Allah dan mengampuni kita dari semua dosa dan hukumannya. Walaupun kita adalah orang-orang kriminal tertuduh yang sedang menunggu dalam barisan Hukuman Mati yang tidak bisa dihindari, Sang Hakim mengampuni kita dan menghancurkan catatan-catatan kriminal kita. Betapapun mengagumkannya hal ini, ada aspek pembenaran yang bahkan lebih mengagumkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya pernah berada di ruang sidang, dan itu bukanlah tempat yang penuh keceriaan. Anda tidak dapat menjadi diri Anda sendiri. Adalah tidak pantas untuk tertawa keras atau mengangkat kaki Anda. Tidak seorang pun berpikir untuk bertemu hakim setelah sidang untuk makan es krim ataupun menonton pertandingan bola basket. Ada peraturan perilaku tertentu yang harus dipertahankan, formal dan mengintimidasi – dan memang dimaksudkan begitu. Hal ini tidak kurang benar di hadirat Hakim yang berdaulat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|Buka hampir di bagian mana saja dari Alkitab Anda dan Anda akan menemukan janji-janji menakjubkan dari Tuhan. Tandai satu dari yang di bahwa ini yang paling berarti buat Anda saat ini. * “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau” (Ibr 13:5). * “Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu” (1Kor 10:13) * “Barangsiapa percaya kepada-Ku akan melakukan pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa” (Yoh 14:12) * “Ia yang memulai pekerjaan yang baik diantara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus” (Flp 1:6) * “Kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris” (Gal 4:7).}}Tetapi ada perbedaan yang sangat besar antara pengadilan di surga dan di bumi. Setelah menyatakan kita bebas dari segala tuduhan dan penghakiman, Tuhan memilih untuk ''tidak'' pergi ke ruangan-Nya, seperti yang dikira. Tetapi, Ia mendobrak semua standard dengan turun dari bangku kayu, mengumpulkan kita di tangan-Nya, dan lalu menggendong kita dari ruang sidang ke ruang keluarga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memiliki Allah sebagai Bapa kita adalah sungguh mengagumkan. Firman Tuhan telah menjelaskan bahwa kita berhubungan dengan Tuhan dengan intim dan secara legal. Bukan itu saja, tetapi untuk menjadi anak-anak-Nya mendatangkan hak-hak khusus. Paulus mendeskripsikannya seperti ini: “Roh itu bersaksi bersam-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah. Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris – orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus” (Rom 8:17).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara pembenaran bagi kita adalah pemberian gratis, pembenaran itu dibayar Allah dengan Anak-Nya. Pembenaran itu dibayar oleh nyawa Anak-Nya. Dan pembenaran itu dibayar oleh keangkuhan kita, karena satu-satunya cara untuk menerima pemberian ini adalah dengan datang kepada Tuhan dalam kerendahan hati dan pertobatatan iman.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Sukartay</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/The_Fruits_of_Justification_(I)/id</id>
		<title>This Great Salvation/The Fruits of Justification (I)/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/The_Fruits_of_Justification_(I)/id"/>
				<updated>2008-01-10T06:00:07Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Sukartay: New page: = Buah-Buah Pembenaran (I) =    Apakah Anda pernah memperhatikan betapa sedikitnya buku-buku Kristen yang memiliki cover menarik? Oh, ada beberapa, tentu – seperti buku Franky Schaeffer ...&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;= Buah-Buah Pembenaran (I) =&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah Anda pernah memperhatikan betapa sedikitnya buku-buku Kristen yang memiliki cover menarik? Oh, ada beberapa, tentu – seperti buku Franky Schaeffer ''A Time for Anger'', dengan lukisan dari Pieter Brueghel “Orang Buta Menuntun Orang Buta.” Lukisan itu begitu menggugah saya sehingga saya mencari kopinya dan membingkainya untuk kantor saya. Dan ada juga gambar-gambar mengagumkan di sampul ''Chronicles of Narnia'' milik C.S. Lewis yang siap membawa Anda ke sana. Salah satu sampul buku yang paling menarik yang pernah saya lihat tampak di sebuah seri pamflet. Illustrasinya menunjukkan seorang pria sedih dan kesepian yang sedang memandang kosong keluar jendela sebuah sel penjara. Saat Anda melihat, Anda menjadi sadar bahwa pintu selnya terbuka di belakangnya. Tetapi ia tidak memperhatikannya. Kalau saja ia menoleh ia akan melihat bahwa ia dapat berjalan keluar seperti orang bebas. Tetapi ia tetap terpenjara karena ketidaktahuannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Renungkan Lukas 4:18-19.''' Apakah Anda menyadari “Proklamasi Emansipasi” ini diberikan kepada Anda?}}Intinya cukup jelas. Banyak orang Kristen – bukan, kebanyakan orang Kristen – adalah seperti pria ini. Secara tragis mereka tidak menyadari kebebasan dan hak-hak lebih yang adalah milik mereka melalui injil Yesus Kristus. Mereka adalah orang-orang kudus yang tidak perlu terpenjara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Ketika Allah mengampuni, Ia mengampuni semua dosa, dosa asal dan dosa sekarang, dosa karena kita melakukan dan dosa karena kita tidak melakukan, dosa rahasia dan dosa terbuka, dosa dalam pikiran, perkataan dan perbuatan… Pengampunan penuh, atau tidak sama sekali, adalah yang Allah ciptakan untuk berikan. Hal ini sesuai dengan kebutuhan manusia. Pemberian ini tidak pernah diambil kembali oleh Allah. Ketika Ia mengampuni, Ia mengampuni selamanya.�UNIQ6022a9545e1eb7fc-ref-0000000E-QINU&amp;quot; — William S. Plumer &amp;quot;Saya harus memperhatikan apa yang saya katakan: tetapi rasul itu berkata, “Allah membuat Dia yang tidak mengenal dosa, menjadi berdosa karena kita, sehingga kita dapat dibenarkan oleh Allah di dalam Dia.” Begitulah kita di mata Allah Bapa, sama seperti Anak Allah sendiri. Biarlah hal itu dianggap bodoh atau emosi, atau luapan perasaan, apa pun, itu adalah penghiburan kita dan hikmad kita; kita tidak peduli pengetahuan lain di dunia selain ini, bahwa manusia telah berdosa dan Allah telah menderita; bahwa Allah telah membuat dirinya sendiri Anak manusia, dan bahwa manusia dibuat kebenaran Allah.”�UNIQ6022a9545e1eb7fc-ref-0000000F-QINU&amp;quot; — Richard Hooker}}Merubah gambaran ini sedikit saja, sejumlah budak terus hidup seperti sebelumnya bahkan setelah Proklamasi Emansipasi. Sebagian mereka tetap berada di kegelapan tentang dimana mereka sekarang berdiri. Sebagian lain, walaupun menyadari kebebasan mereka, tidak pernah berjalan keluar tempat perbudakan karena takut. Kebebasan menuntut keberanian dan membawa bersamanya tanggung jawab yang besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya injil hanya membuat perbedaan kecil dalam hidup orang Kristen yang tak terhitung jumlahnya. Meskipun mereka telah sungguh dibenarkan dan penghukuman telah dibatalkan, masalah yang sama sepertinya mengganggu mereka. Ketakutan, kebiasaan, dan keraguan yang sama yang mengkarakterisasi hidup mereka sebelum mereka percaya Kristus masih tetap memegang kendali. Mengapa? Menurut saya satu alasan terbesar adalah ketidaktahuan. Bagi tidak sedikit orang Kristen, Alkitab masih menjadi buku tertutup. Fakta bahwa warisan besar telah disediakan bagi mereka yang dibenarkan oleh Allah seperti belum menjadi jelas buat mereka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengetahuan akan Firman Tuhan yang terus bertumbuh adalah sangat vital. Di saat Anda membaca, menghafal dan merenungkan Firman Tuhan, Anda akan mulai merasakan penyediaan yang mengagumkan yang diberikan Allah. Dua bab terakhir dari buku ini akan mengekplorasi buah-buah dari pembenaran kita, warisan kita di dalam Kristus. Sisa keraguan yang masih ada di pikiran kita mengenai tujuan dan takdir Tuhan harus dijelaskan saat kita menginventori keuntungan-keuntungan dari keselamatan yang agung ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Turun dari Kursi Kayu ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gambaran sekitar doktrin pembenaran datang langsung dari pengadilan hukum, seperti yang kita pelajari di bab sebelumnya. Allah, Pemberi hukum dan Hakim dari seluruh bumi, telah mengeluarkan sebuah deklarasi yang membebaskan orang berdosa yang terhukum dari semua kesalahan. Pembenaran memberi kita status baru di hadapan Allah dan mengampuni kita dari semua dosa dan hukumannya. Walaupun kita adalah orang-orang kriminal tertuduh yang sedang menunggu dalam barisan Hukuman Mati yang tidak bisa dihindari, Sang Hakim mengampuni kita dan menghancurkan catatan-catatan kriminal kita. Betapapun mengagumkannya hal ini, ada aspek pembenaran yang bahkan lebih mengagumkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya pernah berada di ruang sidang, dan itu bukanlah tempat yang penuh keceriaan. Anda tidak dapat menjadi diri Anda sendiri. Adalah tidak pantas untuk tertawa keras atau mengangkat kaki Anda. Tidak seorang pun berpikir untuk bertemu hakim setelah sidang untuk makan es krim ataupun menonton pertandingan bola basket. Ada peraturan perilaku tertentu yang harus dipertahankan, formal dan mengintimidasi – dan memang dimaksudkan begitu. Hal ini tidak kurang benar di hadirat Hakim yang berdaulat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|Buka hampir di bagian mana saja dari Alkitab Anda dan Anda akan menemukan janji-janji menakjubkan dari Tuhan. Tandai satu dari yang di bahwa ini yang paling berarti buat Anda saat ini. * “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau” (Ibr 13:5). * “Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu” (1Kor 10:13) * “Barangsiapa percaya kepada-Ku akan melakukan pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa” (Yoh 14:12) * “Ia yang memulai pekerjaan yang baik diantara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus” (Flp 1:6) * “Kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris” (Gal 4:7).}}Tetapi ada perbedaan yang sangat besar antara pengadilan di surga dan di bumi. Setelah menyatakan kita bebas dari segala tuduhan dan penghakiman, Tuhan memilih untuk ''tidak'' pergi ke ruangan-Nya, seperti yang dikira. Tetapi, Ia mendobrak semua standard dengan turun dari bangku kayu, mengumpulkan kita di tangan-Nya, dan lalu menggendong kita dari ruang sidang ke ruang keluarga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memiliki Allah sebagai Bapa kita adalah sungguh mengagumkan. Firman Tuhan telah menjelaskan bahwa kita berhubungan dengan Tuhan dengan intim dan secara legal. Bukan itu saja, tetapi untuk menjadi anak-anak-Nya mendatangkan hak-hak khusus. Paulus mendeskripsikannya seperti ini: “Roh itu bersaksi bersam-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah. Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris – orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus” (Rom 8:17).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara pembenaran bagi kita adalah pemberian gratis, pembenaran itu dibayar Allah dengan Anak-Nya.  Pembenaran itu dibayar oleh nyawa Anak-Nya. Dan pembenaran itu dibayar oleh keangkuhan kita, karena satu-satunya cara untuk menerima pemberian ini adalah dengan datang kepada Tuhan dalam kerendahan hati dan pertobatatan iman.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Sukartay</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/Justified_by_Christ/id</id>
		<title>This Great Salvation/Justified by Christ/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/Justified_by_Christ/id"/>
				<updated>2007-12-28T13:14:52Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Sukartay: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;= Dibenarkan Oleh Yesus =&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum Martin Luther menjadi terkenal karena peran pentingnya dalam Reformasi, ia dikenal seluruh Eropa sebagai seorang pelajar hukum yang brilian. Yang paling banyak mempengaruhi pendeta pengikut Agustinus ini adalah pembelajarannya akan hukum Allah di dalam Firman Tuhan. Saat ia merenungkan perintah-perintah Allah, ia menjadi sangat menyadari murka Allah. Setiap kali ia mempelajari pribadi dan pekerjaan Yesus Kristus ia mengenal inilah Yang benar yang pada akhirnya akan menghakiminya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesadaran yang terus menerus itu merongrong Luther dengan perasaan bersalah yang tak terbendung. Sementara rekan-rekannya menghabiskan beberapa menit untuk mengaku dosa, ia menghabiskan berjam-jam. Sebagian orang mengira bahwa mentalnya tidak stabil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teolog Anthony Hoekema menggambarkan kesedihan mental itu membawa pada penemuan teologi besar Luther:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Martin Luther telah mencoba segalanya: tidur di atas lantai yang keras, tidak makan, bahkan menaiki sebuah tangga di Roma dengan tangan dan lututnya – tapi tidak berhasil. Para gurunya di biara memberitahunya bahwa ia telah melakukan cukup untuk mendapatkan kedamaian jiwa. Tapi ia tidak memiliki damai. Kesadarannya akan dosa terlalu dalam.&lt;br /&gt;
:Ia telah mempelajari kitab Mazmur. Kitab ini sering menyebut “kebenaran Tuhan.” Tapi istilah ini mengganggunya. Ia mengira itu berarti kebenaran Tuhan yang menghukum, dimana Ia menghukum orang berdosa. Dan Luther mengetahui ia adalah orang berdosa. Jadi manakala ia melihat kata kebenaran di dalam Alkitab, ia melihat merah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Pembenaran adalah memang jawaban Allah bagi semua pertanyaan manusia yang paling penting: Bagaimana seorang pria atau wanita dibenarkan dengan Tuhan? Kita tidak dibenarkan dengan Tuhan dengan sendirinya. Kita berada di bahwa murka Allah. Pembenaran adalah sangat penting, karena kita harus dibenarkan dengan Allah atau kita binasa selamanya… Kesulitannya adalah mayoritas orang saat ini tidak merasakan kebutuhan di area ini. Martin Luther telah merasakannya; hal itu menghantuinya. Ia tahu bahwa ia tidak benar dengan Allah, dan ia mengantisipasi konfrontasi dengan Allah yang murka di penghakiman terakhir. Allah menunjukkan kepadanya bahwa ia bisa mengalami hubungan yang benar dengan Allah melalui pekerjaan Yesus Kristus. Tetapi di jaman ini siapa yang merasakan intensitas kepedihan Luther?&amp;lt;ref&amp;gt;James Montgomery Boice, ''Romans, Vol. I'' (Grand Rapids, MI: Baker Book House, 1991), p. 380, 447&amp;lt;/ref&amp;gt;}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Pada suatu hari ia membuka kitab Roma. Di sana ia membaca tentang injil Kristus yang adalah kekuatan Allah untuk keselamatan (1:16). Ini adalah sebuah kabar baik! Tetapi ayat selanjutnya berkata, “Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah“- ada kata buruk ''kebenaran'' itu lagi! Dan depresi Luther kembali lagi. Hal itu menjadi lebih buruk ketika ia meneruskan membaca tentang murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia (ayat 18).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka Luther kembali ke ayat 17 lagi. Bagaimana bisa Paulus menuliskan kata-kata mengerikan seperti itu?...Tiba-tiba pencerahan datang padanya. “Kebenaran Tuhan” yang Paulus maksud di sini bukanlah keadilan Tuhan yang bersifat menghukum yang membuatNya menghukum orang berdosa, melainkan kebenaran yang Tuhan ''berikan'' kepada orang berdosa yang membutuhkan, dan yang orang berdosa itu terima dengan ''iman''. Ini adalah kebenaran yang sempurna dan tidak bercacat, didapatkan oleh Kristus, yang dengan kemurahan Tuhan berikan pada semua yang percaya. Luther tidak perlu lagi mencari dasar untuk kedamaian jiwa di dalam dirinya, di dalam perbuatan baiknya sendiri. Sekarang ia dapat melihat lepas dari dirinya sendiri dan melihat kepada Kristus, hidup dengan iman daripada bersembunyi dalam ketakutan. Pada saat itulah Reformasi Protestan lahir.&amp;lt;ref&amp;gt;Anthony Hoekema, ''Saved by Grace'' (Grand Rapids, MI: Wm. B. Eerdmans Co., 1989), p. 152. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Renungkan Roma 1:17.''' Frase kunci apa di ayat ini yang merevolusi pengertian Martin Luther tentang keselamatan? Bagaimana pengaruhnya bagi Anda?}}Luther melanjutkan dengan berkata bahwa doktrin pembenaran adalah doktrin yang olehnya Gereja berdiri atau jatuh. “Doktrin ini merupakan kepala dan batu penjuru Gereja yang melahirkan, memelihara, membangun dan melindungi Gereja. Tanpanya gereja Tuhan tidak dapat bertahan hidup untuk satu jam.”&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''The Christian Life: A Doctrinal Introduction'' (Carlisle, PA: The Banner of Truth Trust, 1989), p. 80. &amp;lt;/ref&amp;gt;Di poin yang lain ia menambahkan, “Bila doktrin pembenaran ini hilang, maka semua doktrin kekristenan yang benar hilang.”&amp;lt;ref&amp;gt;John R.W. Stott, ''Only One Way: The Message of Galatians'' (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1968), p. 60. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketakutan Luther akan murka Allah telah dibenarkan, seperti kita pelajari di bab sebelumnya. Semua orang Kristen harus mengingat siapa dan apa mereka sebelumnya: jahat dalam perilaku mereka, musuh Allah, sepenuhnya terasing dari-Nya, dan sasaran kemarahan-Nya. Tetapi mengenali masa lalu hanya memiliki nilai sejauh hal itu membuat kita menyadari dan mengagumi akan posisi kita sekarang di dalam Kristus. Kita harus mengenali siapa ''kita sekarang'' karena hadiah kemurahan Tuhan akan pembenaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka yang telah menerima pekerjaan pembenaran Kristus mengalami sebuah perubahan yang dramatis dan luar biasa. Kita telah dibenarkan karena iman melalui anugerah yang besar dari Allah yang Maha Kuasa. Tanpa pengetahuan yang akurat dan pengetahuan yang datang dari pengalaman tentang pembenaran Gereja “tidak dapat bertahan hidup untuk satu jam”…sedikitnya tidak dengan keotentikan. Kita pun juga tidak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Posisi atau Proses? ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Pada saat Yesus mati di kayu salib, tirai bait suci yang memisahkan tempat suci dengan tempat paling suci secara supernatural robek menjadi dua. Untuk mengerti pentingnya peristiwa itu, bacalah Ibrani 9:1-14.}}Pembenaran adalah istilah resmi yang berarti “mendeklarasikan benar.” Hoekema mendefinisikan pembenaran sebagai “perubahan permanen dalam hubungan yuridis kita dengan Tuhan dimana kita diampuni dari tuduhan bersalah, dan dimana Tuhan mengampuni semua dosa-dosa kita di atas dasar pekerjaan Yesus Kristus yang telah tergenapi.”&amp;lt;ref&amp;gt;Anthony Hoekema, ''Saved by Grace'', p. 178. &amp;lt;/ref&amp;gt;Walaupun kita bersalah di hadapan Hakim semesta yang kudus, setelah melanggar hukum-Nya dan layak menerima murka-Nya, Ia telah mendeklarasikan kita sebagai benar. Bagaimana? Atas dasar apa yang Yesus Kristus telah capai di Kayu Salib. Hanya Salib dapat membuat kita dapat diterima di hadapan Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pembenaran adalah sebuah hadiah yang kita terima dari Tuhan, bukan sesuatu yang kita peroleh atau capai. Kita tidak bertanggung jawan ataupun mampu untuk menyumbang bagi pembenaran kita di hadapan Tuhan. Status benar ini tidak bisa dicapai atau dilayakan, hanya diterima dan dihargai. Kita menerima apa yang Kristus dan Kristus sendiri capai untuk kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk dapat sepenuhnya mengerti akan kebenaran yang ajaib ini, adalah esensial kita membedakan pembenaran (justification) dan penyucian (sanctification). Walaupun kedua doktrin ini tidak dapat dipisahkan, kita harus membedakan antara perannya masing-masing di dalam kehidupan iman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Tiada seorangpun yang mengerti kekristenan yang tidak memahami kata ini. Yaitu kata ''dibenarkan.''&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;John R.W. Stott, ''Only One Way'', p. 59.&amp;lt;/ref&amp;gt; — John Stott}}Pembenaran berarti kita ''dinyatakan'' benar. Penyucian berarti kita sedang ''dibuat'' benar. (Pahami perbedaan itu saja dan hidup Anda tidak akan pernah sama lagi!) Pembenaran adalah ''hadiah'' kekudusan; penyucian adalah ''pelatihan'' kekudusan. Mungkin yang paling kritikal, pembenaran adalah sebuah ''posisi'' – yang dibuat segera dan secara komplit setelah pertobatan – sedangkan penyucian adalah sebuah proses dari perubahan internal dan pengembangan karakter yang dimulai pada saat regenerasi dan terus berlanjut selama kita hidup. “Di dalam Firman Ruhan,” tulis Sinclair Ferguson, “membenarkan bukan berarti membuat benar seperti merubah karakter seseorang. Membenarkan artinya menjadikan benar dengan cara mendeklarasikan.”&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''The Christian Life'', p. 72. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Pembenaran adalah sebuah PERBUATAN. Pembenaran bukanlah pekerjaan, atau satu seri perbuatan. Pembenaran tidak progresif. Orang percaya yang paling lemah dan orang kudus yang paling kuat adalah serupa dan dibenarkan secara sama. Pembenaran tidak mengakui adanya tingkatan. Seseorang, hanya bisa seluruhnya dibenarkan atau seluruhnya dikutuk di hadapan Allah.&amp;lt;ref&amp;gt;William S. Plumer, ''The Grace of Christ'' (Philadelphia, PA: Presbyterian Board of Publication, 1853), p. 195.&amp;lt;/ref&amp;gt; — William S. Plumer}}Pembenaran bukanlah sebuah proses. Pembenaran adalah sebuah deklarasi, sebuah pernyataan ilahi yang tidak dapat ditantang, dirubah ataupun dinaikbanding. Paulus secara empati berkata, “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus” (Rom 5:1). Transformasi mulia ini tidak terjadi sedikit demi sedikit, dan juga tidak berubah-ubah. Anda tidak lebih dibenarkan selama jangka waktu tertentu daripada jangka waktu lainnya. Hal ini perlu ditegaskan kembali: ''Anda tidak akan pernah lebih dibenarkan daripada keadaan Anda saat ini.'' Di atas itu semua, tidak seorangpun dalam sejarah pernah lebih dibenarkan daripada Anda sekarang. Martin Luther tidak, Paulus tidak – seorang pun tidak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Apakah Anda pernah dirampas dari buah-buah keselamatan Anda yang agung? Jawablah kuis Benar/Salah berikut ini untuk memastikan Anda mengerti perbedaan antara pembenaran dan penyucian. (Jawaban ada di catatan kaki.&amp;lt;ref&amp;gt;S, B, S, B, S, B&amp;lt;/ref&amp;gt; * Pembenaran adalah hasil dari penyucian. '''B S''' * Penyucian adalah proses sepanjang hidup. '''B S''' * Kasih Allah untuk kita bertumbuh sesuai dengan kedewasaan kita. '''B S''' * Pembenaran mengacu kepada posisi kita di dalam Kristus, penyucian mengacu pada proses. '''B S''' * Merubah kebiasaan-kebiasaan berdosa membuat kita lebih benar. '''B S''' * Pertumbuhan rohani adalah bukti yang baik bahwa kita telah dibenarkan. '''B S'''}}Banyak orang Kristen yang bingung tentang doktrin pembenaran dan penyucian dan oleh karenanya tidak bisa merasakan sepenuhnya berkat-berkat yang keselamatan agung ini hasilkan. Adalah sangat penting kita mengerti perbedaan antara posisi kita (pembenaran) dan pelatihan kita (penyucian). Sementara penyucian adalah bukti dan tujuan dari pembenaran, penyucian tidak boleh dipandang sebagai dasar dari pembenaran di hadapan Tuhan, tidak peduli betapa menjadi dewasanya kita. Kita tidak mampu menambahkan apa yang Kristus telah raih. Seperti Alister McGrath katakan, “Satu-satunya hal yang bisa dibilang kita kontribusikan dalam pembenaran kita adalah dosa yang telah Tuhan ampuni dengan kemurahan.” Kita dibenarkan hanya karena anugerah semata.&amp;lt;ref&amp;gt;Alister McGrath, ''Justification by Faith'' (Grand Rapids, MI: Zondervan Publishing House, 1988), p. 132. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Membuat Frustrasi dan Sia-Sia ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Doktrin pembenaran perlu dijalankan dan ditengok secara terus menerus, seperti yang Martin Luther sadari betul. Nasihat Martin Luther yang biasa terus terang? “Tempelkan itu ke kepala mereka terus menerus.”&amp;lt;ref&amp;gt;John R.W. Stott, ''Only One Way'', p. 59. &amp;lt;/ref&amp;gt;Sebagai tambahan bagi pengulangan ulet dari para pemimpin kita, kita perlu mempraktekan dan menghargai kebenaran dari pembenaran di dalam hidup kita sehari-hari. Kalau tidak, kita akan menemukan diri kita mudah jatuh dalam salah satu musuh Gereja yang paling serius dan tidak kentara: legalisme.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Kemuliaan Injil adalah bahwa Allah menyatakan orang Kristen memiliki hubungan yang benar dengan-Nya meskipun adanya dosa-dosa mereka. Tetapi pencobaan dan kesalahan terbesar kita adalah berusaha menyusupkan karakter ke dalam pekerjaan kasih karunia-Nya. Betapa mudahnya kita jatuh ke dalam jebakan anggapan bahwa kita hanya tetap dibenarkan selama ada dasarnya pada karakter kita untuk pembenaran itu. Tetapi ajaran Paulus adalah tidak ada yang dapat kita perbuat untuk menyumbang bagi pembenaran kita.&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''The Christian Life'', p. 82–83.&amp;lt;/ref&amp;gt; — Sinclair Ferguson}}Legalisme melibatkan usaha untuk memperoleh penerimaan dari Tuhan melalui ketaatan kita sendiri. Kita hanya memiliki dua pilihan: menerima kekudusan sebagai pemberian Tuhan atau mencoba untuk melahirkan kekudusan kita sendiri. Legalisme adalah usaha untuk dibenarkan melalui sumber yang lain daripada Yesus Kristus dan pekerjaan-Nya yang telah genap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berpegang pada legalisme berarti percaya bahwa Salib itu tidak perlu atau tidak cukup (Gal 2:21, 5:2). Itu merupakan penafsiran yang tepat akan motif dan perbuatan Anda, walaupun Anda masih secara mental mengakui kebutuhan akan pengorbanan Kristus. Dalam usaha kita mengejar ketaatan dan kedewasaan, legalisme secara perlahan dan samar menguasai kita dan kita mulai mengganti pekerjaan kita untuk pekerjaan genap Kristus. Hasilnya adalah keangkuhan atau penghakiman. Bukannya bertumbuh dalam kasih karunia kita meninggalkan kasih karunia. Itulah penilaian Paulus terhadap gereja di Galatia ketika ia menulis, “Kamu lepas dari Kristus jikalau kamumengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia.” (Gal 5:4).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Untuk menghargai besarnya keprihatinan Paulus tentang legalisme, bacalah Galatia 1:6-9, 2:21, 3:1-4, 3:10, 4:8-11, 4:19-20, 5:2-4, dan 5:7-12.}}Kalau Anda telah berusaha menjalani hidup seperti ini, Anda mungkin sekarang telah belajar bahwa bahwa legalisme itu adalah sia-sia dan membuat frustrasi. Setiap usaha legalisme untuk memperoleh kekudusan akhirnya akan mengalami kegagalan. Selama bertahun-tahun saya telah belajar mengenali beberapa tanda yang sangat jelas dari adanya legalisme. Ini adalah beberapa diantaranya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Anda lebih menyadari akan dosa-dosa masa lalu Anda daripada pribadi dan pekerjaan genap Kristus.&lt;br /&gt;
* Anda hidup berpikir, percaya, dan merasa bahwa Tuhan kecewa terhadap Anda daripada bersukacita dalam Anda. Anda menganggap penerimaan Tuhan bergantung pada ketaatan Anda.&lt;br /&gt;
* Anda kurang sukacita. Ini sering menjadi indikasi pertama dari adanya legalisme. Penghakiman adalah hasil dari merenungkan ketidakcukupan kita; sukacita adalah hasil hari memikirkan kecukupan kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Pernahkan Anda dijerat oleh kehadiran legalisme yang samar? Kalau ya, sadarlah. Legalisme cenderung menyebar daripada tetap terbatasi (Gal 5:9). Legalisme harus dihilangkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Masalah dengan gereja Galatia bukanlah ketaatan pada hukum moral Allah; melainkan, ketergantungan pada hukum moral…untuk keselamatan.&amp;lt;ref&amp;gt;Jerry Bridges, ''Transforming Grace'' (Colorado Springs, CO: NavPress, 1991), p. 98.&amp;lt;/ref&amp;gt; — Jerry Bridges}}Satu-satunya cara efektif untuk mencabut legalisme adalah dengan doktrin pembenaran. Kalau Anda telah menelantarkan atau mengabaikan doktrin ini, maka buatlah tindakan sedramatis apapun yang dibutuhkan untuk berubah. Sediakan waktu setiap hari untuk mengulang, melatih, dan bersukacita atas kebenaran yang agung, objektif dan bersifat posisi ini. Batasi konsumsi spiritual Anda pada pembelajaran tentang pembenaran sampai Anda yakin akan penerimaan Tuhan, merasa aman di dalam kasih-Nya dan bebas dari legalisme dan penghakiman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penyaliban Yesus Kristus merupakan satu peristiwa sejarah yang paling menentukan. Dengan akurat Sinclair Ferguson menyatakan hal berikut: {{RightInsert|'''Renungkan Roma 7:14-25.''' Pada saat kita mengerti betul kebejatan kita sendiri kita akan lebih sulit untuk dicobai oleh legalisme.}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Waktu kita berpikir Kristus mati di kayu salib kita diperlihatkan seberapa panjangnya kasih Tuhan dengan tujuan memenangkan kita kembali kepada-Nya…Ia berkata kepada kita: Aku mengasihi Engkau sebesar ini… Salib adalah jantung Injil. Salib membuat Injil menjadi kabar baik: Kristus mati untuk kira. Ia telah berdiri di tempat kita di hadapan kursi penghakiman Allah. Ia menanggung dosa-dosa kita. Tuhan telah melakukan sesuatu di atas kayu salib yang tidak mungkin kita sendiri pernah dapat lakukan… Alasan kita kurang yakin akan kasih karunia-Nya adalah karena kita gagal untuk fokus kepada tempat itu dimana Ia menyatakannya.&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''Grow in Grace'' (Carlisle, PA: The Banner of Truth Trust, 1989), p. 56, 58–59.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Kemana Anda akan memfokuskan perhatian Anda? Apakah pada dosa-dosa masa lalu Anda, keadaan emosi Anda saat ini, atau area karakter dimana Anda masih perlu bertumbuh? Ataukah Anda akan fokus pada pekerjaan Kristus yang genap? Legalisme tidak perlu memotivasi Anda. Penghakiman tidak perlu menyiksa Anda. Allah telah membenarkan Anda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Dua kategori orang seperti apa yang digambarkan di Yakobus 1:22-25? Kelompok yang mana yang Tuhan janji akan berkati?}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Jangan Berargumentasi dengan Hakim ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengerti doktrin pembenaran secara intelektual dengan sendirinya tidaklah cukup. Tuhan menginginkan kita untuk mengalami transformasi – secara total, murni, dan permanen ditransform oleh kotrin penting ini. J.I. Packer telah menyatakan, “Masalahnya bukan, apakah seseorang dapat menyebutkan doktrin ini dengan keakuratan Firman yang penuh (hal itu, telah kita lihat, adalah pekerjaan yang membutuhlan ketelitian), tetapi, apakah seseorang tahu realitasnya dalam pengalaman.”&amp;lt;ref&amp;gt;J.I. Packer, ''God’s Words: Studies of Key Bible Themes'' (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1981), p. 147. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Kolose 2:13-15 menyatakan hutang kita yang sangat besar kepada Tuhan. Apa yang Yesus lakukan dengan surat tagihan hutang? }}Tujuan kami menulis buku ini bukan pada dasarnya Anda belajar bagaimana mengartikulasi doktrin agung ini tetapi Anda dirubah olehnya, bahwa pengertian Anda akan berbuah pada kebebasan pribadi dari legalisme dan penghakiman serta kasih dan semangat yang bertambah-tambah kepada Yesus Kristus. Adalah mungkin menyadari pembenaran oleh kasih karunia tanpa terpengaruh secara pribadi. Kita perlu menghargai dan mempraktekan kebenaran besar ini setiap hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cerita yang akan saya bagikan merupakan sebuah pelajaran penuh kuasa bagi saya setelah saya mempejalari benar doktrin pembenaran. Selama hari-hari sebelum pertobatan saya sebagai mahasiswa tahun pertama, saya ditangkap karena kepemilikan mariyuana. Detail peristiwa tersebut masih sangat jelas di benak saya. Saat saya duduk di ruang sidang menghadapi hakin, saya mencoba sebisa saya untuk terlihat tulus dan tersiksa, tetapi saya hanya bisa ketakutan. Saya tahu ada kesempatan besar saya akan dijatuhi hukuman dan dituduh dengan pelanggaran tambahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Adalah tidak cukup untuk hanya mengetahui bahwa Yesus telah mati, atau bahkan mengapa Ia mati. Pengetahuan tersebut merupakan hasil dari “iman yang hanya bersifat sejarah” yang tidak dapat menyelamatkan… Hanya pada waktu kita menyadari bahwa Kristus diberi pro me, pro nobis (“untuk aku,” “untuk kita”) kita telah membedakan pentingnya pencapaian Kristus. &amp;lt;ref&amp;gt;Timothy George, ''Theology of the Reformers'' (Nashville, TN: Broadman Press, 1988), p. 59.&amp;lt;/ref&amp;gt; — Timothy George}}Ternyata, kasus saya tidak pernah mengalami kemajuan setelah saksi pertama. Karena polisi menggeledah kamar saya tanpa surat resmi yang dibutuhkan, bantah pengacaran saya, pengadilan harus mencabut gugatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hakim duduk mendengarkan dengan sabar saat jaksa mengajukan keberatan dan mengulang kembali bukti-bukti yang memberatkan saya. Akhirnya, ia melihat ke arah saya. Pria itu jelas terlihat frustasi. Tidak berkuasa untuk memberi lebih dari teguran, ia menguliahi saya dengan kata-kata yang sekeras-kerasnya. Saya mencoba untuk kelihatan menyesal. Saya menganggukan kepada saya atas setiap penyataan. Tapi saya tidak ingat apapun yang ia katakan – saya terlalu gembira karena kenyataan bahwa ia akan melepas saya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika saya disidang saya tahu bahwa saya bersalah. Saya kira semua orang mengetahui itu. Tetapi pada waktu hakim membebaskan saya, saya tidak berargumentasi dengannya. Saya tidak meminta dan memohon kepada hakim untuk melanjutkan kasus itu. Saya tidak memintanya untuk mengabaikan teknis legalitas dan mengijinkan jaksa untuk terus maju. Hanya kali ini saya dengan gembira tunduk kepada seseorang yang memiliki otoritas lebih besar. Bila sang hakim ingin melepaskan pelanggaran itu, saya akan dengan senang hati menerima keputusannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Renungkan Ulangan 31:8.''' Daripada melanggar janji-Nya yang indah kepada kita (meskipun kita tidak pernah layak diberi janji seperti itu), Tuhan meninggalkan Putra-Nya sendiri.}}Setiap dari kita berdiri bersalah di hadapan Hakim dari segalanya. Tetapi kejahatan kita menentang-Nya berada di tingkat yang secara total berbeda dengan kesalahan saya. Dan walaupun saya diloloskan karena hal teknis, kita telah dinyatakan benar atas dasar pengorbanan Kristus yang telah direncanakan dan bersifat menggantikan kita itu. Yesus Kristus secara suka rela dan sengaja memberikan hidup-Nya sepaya Allah dapat tetap adil saat membenarkan yang bersalah – Anda dan saya. Allah telah menyatakan kita benar. Yang tertinggal hanyalah masalah apakah kita akan menerima pernyataan ini. Pilihan untuk menerima atau tidak berada di hadapan kita setiap hari, sering berkali-kali dalam satu hari: Akankah kita menerima pembenaran karena iman karena pernyataan oleh Tuhan, atau akankah kita mengijinkan penghakiman dan legalisme untu menguasai kita saat kita bergantung pada perasaan dan ketaatan kita?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Kehidupan Kristen melibatkan bukan saja percaya sesuatu tentang Kristus tetapi juga percaya sesuatu tentang diri kita sendiri… Iman kita di dalam Kristus harus mencakup percaya bahwa kita adalah apa yang Alkitab katakan tentang kita.&amp;quot; — Anthony Hoekema}}Tentukanlah bahwa emosi Anda yang tidak stabil dan tidak terprediksi tidak akan medikte atau menipu Anda. Jangan ijinkan emosi-emosi itu untuk menjadi otoritas terakhir di dalam hidup Anda. Percayalah apa yang Tuhan katakan tentang Anda. Kalau Anda bijaksana Anda akan mengikuti teladan saya: Jangan berargumentasi dengan Hakim.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Ditinggalkan Demi Pengampunan Kita ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah yang menciptakan Anda menerima Anda. Anak-Nya secara suka rela menghadapi kengerian Salib yang tidak terbayangkan, ditinggalkan Allah Bapa dan manusia, demi untuk membenarkan Anda. Ia dibuang supaya kita bisa diampuni. Ia mengalami perpisahan supaya kita dapat selamanya aman dalam kasih Allah. Ia menanggung murka Allah sehingga kita tidak pernah perlu melakukannya. “Yesus yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitakan karena pembenaran kita” (Rom 4:25). Anda telah dibenarkan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah mengherankan Reformasi merubah sejarah Gereja? Tidak ada cara apapun untuk mengekang doktrin ini. Sekali doktrin ini dilepas ia akan merubah hidup setiap orang yang disentuhnya – termasuk Anda sendiri. &amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Diskusi Kelompok ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# Di halaman 52 pengarang menulis, “Anda tidak akan pernah lebih dibenarkan daripada Anda saat ini.” Bagaimana kalimat ini mempengaruhi usaha-usaha Anda untuk menjalani hidup yang menyenangkan Tuhan?&lt;br /&gt;
# Renungkan dengan tenang untuk satu atau dua menit tentang Salib. Menurut Anda apakah yang Yesus rasakan waktu ia menyaradari Allah telah meninggalkan-Nya?&lt;br /&gt;
# Apakah mungkin untuk terlalu fokus pada menjadi serupa dengan teladan Kristus?&lt;br /&gt;
# Apa yang membuat legalisme menjadi sebuah penyimpangan sesat yang tak disadari?&lt;br /&gt;
# Bagaimana kita mengimbangi doktrin pembenaran dan penyucian tanpa oleng kepada legalisme ataupun ijin?&lt;br /&gt;
# Satu hal apa yang dapat kontribusi bagi pembenaran kita?(Petunjuk: Tidak ada yang perlu disombongkan!)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bacaan yang Direkomendasikan ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Cross of Christ'' by John R. W. Stott (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1986)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Discipline of Grace'' by Jerry Bridges (Colorado Springs, CO: NavPress, 1994)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Atonement'' by Leon Morris (Downwers Grove, IL: InterVarsity Press, 1984)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Catatan ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Sukartay</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/Justified_by_Christ/id</id>
		<title>This Great Salvation/Justified by Christ/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/Justified_by_Christ/id"/>
				<updated>2007-12-28T13:11:58Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Sukartay: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;= Dibenarkan Oleh Yesus =&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum Martin Luther menjadi terkenal karena peran pentingnya dalam Reformasi, ia dikenal seluruh Eropa sebagai seorang pelajar hukum yang brilian. Yang paling banyak mempengaruhi pendeta pengikut Agustinus ini adalah pembelajarannya akan hukum Allah di dalam Firman Tuhan. Saat ia merenungkan perintah-perintah Allah, ia menjadi sangat menyadari murka Allah. Setiap kali ia mempelajari pribadi dan pekerjaan Yesus Kristus ia mengenal inilah Yang benar yang pada akhirnya akan menghakiminya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesadaran yang terus menerus itu merongrong Luther dengan perasaan bersalah yang tak terbendung. Sementara rekan-rekannya menghabiskan beberapa menit untuk mengaku dosa, ia menghabiskan berjam-jam. Sebagian orang mengira bahwa mentalnya tidak stabil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teolog Anthony Hoekema menggambarkan kesedihan mental itu membawa pada penemuan teologi besar Luther:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Martin Luther telah mencoba segalanya: tidur di atas lantai yang keras, tidak makan, bahkan menaiki sebuah tangga di Roma dengan tangan dan lututnya – tapi tidak berhasil. Para gurunya di biara memberitahunya bahwa ia telah melakukan cukup untuk mendapatkan kedamaian jiwa. Tapi ia tidak memiliki damai. Kesadarannya akan dosa terlalu dalam.&lt;br /&gt;
:Ia telah mempelajari kitab Mazmur. Kitab ini sering menyebut “kebenaran Tuhan.” Tapi istilah ini mengganggunya. Ia mengira itu berarti kebenaran Tuhan yang menghukum, dimana Ia menghukum orang berdosa. Dan Luther mengetahui ia adalah orang berdosa. Jadi manakala ia melihat kata kebenaran di dalam Alkitab, ia melihat merah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Pembenaran adalah memang jawaban Allah bagi semua pertanyaan manusia yang paling penting: Bagaimana seorang pria atau wanita dibenarkan dengan Tuhan? Kita tidak dibenarkan dengan Tuhan dengan sendirinya. Kita berada di bahwa murka Allah. Pembenaran adalah sangat penting, karena kita harus dibenarkan dengan Allah atau kita binasa selamanya… Kesulitannya adalah mayoritas orang saat ini tidak merasakan kebutuhan di area ini. Martin Luther telah merasakannya; hal itu menghantuinya. Ia tahu bahwa ia tidak benar dengan Allah, dan ia mengantisipasi konfrontasi dengan Allah yang murka di penghakiman terakhir. Allah menunjukkan kepadanya bahwa ia bisa mengalami hubungan yang benar dengan Allah melalui pekerjaan Yesus Kristus. Tetapi di jaman ini siapa yang merasakan intensitas kepedihan Luther?&amp;lt;ref&amp;gt;James Montgomery Boice, ''Romans, Vol. I'' (Grand Rapids, MI: Baker Book House, 1991), p. 380, 447&amp;lt;/ref&amp;gt;}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Pada suatu hari ia membuka kitab Roma. Di sana ia membaca tentang injil Kristus yang adalah kekuatan Allah untuk keselamatan (1:16). Ini adalah sebuah kabar baik! Tetapi ayat selanjutnya berkata, “Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah“- ada kata buruk ''kebenaran'' itu lagi! Dan depresi Luther kembali lagi. Hal itu menjadi lebih buruk ketika ia meneruskan membaca tentang murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia (ayat 18).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka Luther kembali ke ayat 17 lagi. Bagaimana bisa Paulus menuliskan kata-kata mengerikan seperti itu?...Tiba-tiba pencerahan datang padanya. “Kebenaran Tuhan” yang Paulus maksud di sini bukanlah keadilan Tuhan yang bersifat menghukum yang membuatNya menghukum orang berdosa, melainkan kebenaran yang Tuhan ''berikan'' kepada orang berdosa yang membutuhkan, dan yang orang berdosa itu terima dengan ''iman''. Ini adalah kebenaran yang sempurna dan tidak bercacat, didapatkan oleh Kristus, yang dengan kemurahan Tuhan berikan pada semua yang percaya. Luther tidak perlu lagi mencari dasar untuk kedamaian jiwa di dalam dirinya, di dalam perbuatan baiknya sendiri. Sekarang ia dapat melihat lepas dari dirinya sendiri dan melihat kepada Kristus, hidup dengan iman daripada bersembunyi dalam ketakutan. Pada saat itulah Reformasi Protestan lahir.&amp;lt;ref&amp;gt;Anthony Hoekema, ''Saved by Grace'' (Grand Rapids, MI: Wm. B. Eerdmans Co., 1989), p. 152. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Renungkan Roma 1:17.''' Frase kunci apa di ayat ini yang merevolusi pengertian Martin Luther tentang keselamatan? Bagaimana pengaruhnya bagi Anda?}}Luther melanjutkan dengan berkata bahwa doktrin pembenaran adalah doktrin yang olehnya Gereja berdiri atau jatuh. “Doktrin ini merupakan kepala dan batu penjuru Gereja yang melahirkan, memelihara, membangun dan melindungi Gereja. Tanpanya gereja Tuhan tidak dapat bertahan hidup untuk satu jam.”&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''The Christian Life: A Doctrinal Introduction'' (Carlisle, PA: The Banner of Truth Trust, 1989), p. 80. &amp;lt;/ref&amp;gt;Di poin yang lain ia menambahkan, “Bila doktrin pembenaran ini hilang, maka semua doktrin kekristenan yang benar hilang.”&amp;lt;ref&amp;gt;John R.W. Stott, ''Only One Way: The Message of Galatians'' (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1968), p. 60. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketakutan Luther akan murka Allah telah dibenarkan, seperti kita pelajari di bab sebelumnya. Semua orang Kristen harus mengingat siapa dan apa mereka sebelumnya: jahat dalam perilaku mereka, musuh Allah, sepenuhnya terasing dari-Nya, dan sasaran kemarahan-Nya. Tetapi mengenali masa lalu hanya memiliki nilai sejauh hal itu membuat kita menyadari dan mengagumi akan posisi kita sekarang di dalam Kristus. Kita harus mengenali siapa ''kita sekarang'' karena hadiah kemurahan Tuhan akan pembenaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka yang telah menerima pekerjaan pembenaran Kristus mengalami sebuah perubahan yang dramatis dan luar biasa. Kita telah dibenarkan karena iman melalui anugerah yang besar dari Allah yang Maha Kuasa. Tanpa pengetahuan yang akurat dan pengetahuan yang datang dari pengalaman tentang pembenaran Gereja “tidak dapat bertahan hidup untuk satu jam”…sedikitnya tidak dengan keotentikan. Kita pun juga tidak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Posisi atau Proses? ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Pada saat Yesus mati di kayu salib, tirai bait suci yang memisahkan tempat suci dengan tempat paling suci secara supernatural robek menjadi dua. Untuk mengerti pentingnya peristiwa itu, bacalah Ibrani 9:1-14.}}Pembenaran adalah istilah resmi yang berarti “mendeklarasikan benar.” Hoekema mendefinisikan pembenaran sebagai “perubahan permanen dalam hubungan yuridis kita dengan Tuhan dimana kita diampuni dari tuduhan bersalah, dan dimana Tuhan mengampuni semua dosa-dosa kita di atas dasar pekerjaan Yesus Kristus yang telah tergenapi.”&amp;lt;ref&amp;gt;Anthony Hoekema, ''Saved by Grace'', p. 178. &amp;lt;/ref&amp;gt;Walaupun kita bersalah di hadapan Hakim semesta yang kudus, setelah melanggar hukum-Nya dan layak menerima murka-Nya, Ia telah mendeklarasikan kita sebagai benar. Bagaimana? Atas dasar apa yang Yesus Kristus telah capai di Kayu Salib. Hanya Salib dapat membuat kita dapat diterima di hadapan Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pembenaran adalah sebuah hadiah yang kita terima dari Tuhan, bukan sesuatu yang kita peroleh atau capai. Kita tidak bertanggung jawan ataupun mampu untuk menyumbang bagi pembenaran kita di hadapan Tuhan. Status benar ini tidak bisa dicapai atau dilayakan, hanya diterima dan dihargai. Kita menerima apa yang Kristus dan Kristus sendiri capai untuk kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk dapat sepenuhnya mengerti akan kebenaran yang ajaib ini, adalah esensial kita membedakan pembenaran (justification) dan penyucian (sanctification). Walaupun kedua doktrin ini tidak dapat dipisahkan, kita harus membedakan antara perannya masing-masing di dalam kehidupan iman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Tiada seorangpun yang mengerti kekristenan yang tidak memahami kata ini. Yaitu kata ''dibenarkan.''&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;John R.W. Stott, ''Only One Way'', p. 59.&amp;lt;/ref&amp;gt; — John Stott}}Pembenaran berarti kita ''dinyatakan'' benar. Penyucian berarti kita sedang ''dibuat'' benar. (Pahami perbedaan itu saja dan hidup Anda tidak akan pernah sama lagi!) Pembenaran adalah ''hadiah'' kekudusan; penyucian adalah ''pelatihan'' kekudusan. Mungkin yang paling kritikal, pembenaran adalah sebuah ''posisi'' – yang dibuat segera dan secara komplit setelah pertobatan – sedangkan penyucian adalah sebuah proses dari perubahan internal dan pengembangan karakter yang dimulai pada saat regenerasi dan terus berlanjut selama kita hidup. “Di dalam Firman Ruhan,” tulis Sinclair Ferguson, “membenarkan bukan berarti membuat benar seperti merubah karakter seseorang. Membenarkan artinya menjadikan benar dengan cara mendeklarasikan.”&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''The Christian Life'', p. 72. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Pembenaran adalah sebuah PERBUATAN. Pembenaran bukanlah pekerjaan, atau satu seri perbuatan. Pembenaran tidak progresif. Orang percaya yang paling lemah dan orang kudus yang paling kuat adalah serupa dan dibenarkan secara sama. Pembenaran tidak mengakui adanya tingkatan. Seseorang, hanya bisa seluruhnya dibenarkan atau seluruhnya dikutuk di hadapan Allah.&amp;lt;ref&amp;gt;William S. Plumer, ''The Grace of Christ'' (Philadelphia, PA: Presbyterian Board of Publication, 1853), p. 195.&amp;lt;/ref&amp;gt; — William S. Plumer}}Pembenaran bukanlah sebuah proses. Pembenaran adalah sebuah deklarasi, sebuah pernyataan ilahi yang tidak dapat ditantang, dirubah ataupun dinaikbanding. Paulus secara empati berkata, “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus” (Rom 5:1). Transformasi mulia ini tidak terjadi sedikit demi sedikit, dan juga tidak berubah-ubah. Anda tidak lebih dibenarkan selama jangka waktu tertentu daripada jangka waktu lainnya. Hal ini perlu ditegaskan kembali: ''Anda tidak akan pernah lebih dibenarkan daripada keadaan Anda saat ini.'' Di atas itu semua, tidak seorangpun dalam sejarah pernah lebih dibenarkan daripada Anda sekarang. Martin Luther tidak, Paulus tidak – seorang pun tidak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Apakah Anda pernah dirampas dari buah-buah keselamatan Anda yang agung? Jawablah kuis Benar/Salah berikut ini untuk memastikan Anda mengerti perbedaan antara pembenaran dan penyucian. (Jawaban ada di catatan kaki.&amp;lt;ref&amp;gt;S, B, S, B, S, B&amp;lt;/ref&amp;gt; * Pembenaran adalah hasil dari penyucian. '''B S''' * Penyucian adalah proses sepanjang hidup. '''B S''' * Kasih Allah untuk kita bertumbuh sesuai dengan kedewasaan kita. '''B S''' * Pembenaran mengacu kepada posisi kita di dalam Kristus, penyucian mengacu pada proses. '''B S''' * Merubah kebiasaan-kebiasaan berdosa membuat kita lebih benar. '''B S''' * Pertumbuhan rohani adalah bukti yang baik bahwa kita telah dibenarkan. '''B S'''}}Banyak orang Kristen yang bingung tentang doktrin pembenaran dan penyucian dan oleh karenanya tidak bisa merasakan sepenuhnya berkat-berkat yang keselamatan agung ini hasilkan. Adalah sangat penting kita mengerti perbedaan antara posisi kita (pembenaran) dan pelatihan kita (penyucian). Sementara penyucian adalah bukti dan tujuan dari pembenaran, penyucian tidak boleh dipandang sebagai dasar dari pembenaran di hadapan Tuhan, tidak peduli betapa menjadi dewasanya kita. Kita tidak mampu menambahkan apa yang Kristus telah raih. Seperti Alister McGrath katakan, “Satu-satunya hal yang bisa dibilang kita kontribusikan dalam pembenaran kita adalah dosa yang telah Tuhan ampuni dengan kemurahan.” Kita dibenarkan hanya karena anugerah semata.&amp;lt;ref&amp;gt;Alister McGrath, ''Justification by Faith'' (Grand Rapids, MI: Zondervan Publishing House, 1988), p. 132. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Membuat Frustrasi dan Sia-Sia ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Doktrin pembenaran perlu dijalankan dan ditengok secara terus menerus, seperti yang Martin Luther sadari betul. Nasihat Martin Luther yang biasa terus terang? “Tempelkan itu ke kepala mereka terus menerus.”&amp;lt;ref&amp;gt;John R.W. Stott, ''Only One Way'', p. 59. &amp;lt;/ref&amp;gt;Sebagai tambahan bagi pengulangan ulet dari para pemimpin kita, kita perlu mempraktekan dan menghargai kebenaran dari pembenaran di dalam hidup kita sehari-hari. Kalau tidak, kita akan menemukan diri kita mudah jatuh dalam salah satu musuh Gereja yang paling serius dan tidak kentara: legalisme.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Kemuliaan Injil adalah bahwa Allah menyatakan orang Kristen memiliki hubungan yang benar dengan-Nya meskipun adanya dosa-dosa mereka. Tetapi pencobaan dan kesalahan terbesar kita adalah berusaha menyusupkan karakter ke dalam pekerjaan kasih karunia-Nya. Betapa mudahnya kita jatuh ke dalam jebakan anggapan bahwa kita hanya tetap dibenarkan selama ada dasarnya pada karakter kita untuk pembenaran itu. Tetapi ajaran Paulus adalah tidak ada yang dapat kita perbuat untuk menyumbang bagi pembenaran kita.�UNIQ467c6ddc41135a2a-ref-00000012-QINU — Sinclair Ferguson}}Legalisme melibatkan usaha untuk memperoleh penerimaan dari Tuhan melalui ketaatan kita sendiri. Kita hanya memiliki dua pilihan: menerima kekudusan sebagai pemberian Tuhan atau mencoba untuk melahirkan kekudusan kita sendiri. Legalisme adalah usaha untuk dibenarkan melalui sumber yang lain daripada Yesus Kristus dan pekerjaan-Nya yang telah genap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berpegang pada legalisme berarti percaya bahwa Salib itu tidak perlu atau tidak cukup (Gal 2:21, 5:2). Itu merupakan penafsiran yang tepat akan motif dan perbuatan Anda, walaupun Anda masih secara mental mengakui kebutuhan akan pengorbanan Kristus. Dalam usaha kita mengejar ketaatan dan kedewasaan, legalisme secara perlahan dan samar menguasai kita dan kita mulai mengganti pekerjaan kita untuk pekerjaan genap Kristus. Hasilnya adalah keangkuhan atau penghakiman. Bukannya bertumbuh dalam kasih karunia kita meninggalkan kasih karunia. Itulah penilaian Paulus terhadap gereja di Galatia ketika ia menulis, “Kamu lepas dari Kristus jikalau kamumengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia.” (Gal 5:4).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Untuk menghargai besarnya keprihatinan Paulus tentang legalisme, bacalah Galatia 1:6-9, 2:21, 3:1-4, 3:10, 4:8-11, 4:19-20, 5:2-4, dan 5:7-12.}}Kalau Anda telah berusaha menjalani hidup seperti ini, Anda mungkin sekarang telah belajar bahwa bahwa legalisme itu adalah sia-sia dan membuat frustrasi. Setiap usaha legalisme untuk memperoleh kekudusan akhirnya akan mengalami kegagalan. Selama bertahun-tahun saya telah belajar mengenali beberapa tanda yang sangat jelas dari adanya legalisme. Ini adalah beberapa diantaranya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Anda lebih menyadari akan dosa-dosa masa lalu Anda daripada pribadi dan pekerjaan genap Kristus.&lt;br /&gt;
* Anda hidup berpikir, percaya, dan merasa bahwa Tuhan kecewa terhadap Anda daripada bersukacita dalam Anda. Anda menganggap penerimaan Tuhan bergantung pada ketaatan Anda.&lt;br /&gt;
* Anda kurang sukacita. Ini sering menjadi indikasi pertama dari adanya legalisme. Penghakiman adalah hasil dari merenungkan ketidakcukupan kita; sukacita adalah hasil hari memikirkan kecukupan kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Pernahkan Anda dijerat oleh kehadiran legalisme yang samar? Kalau ya, sadarlah. Legalisme cenderung menyebar daripada tetap terbatasi (Gal 5:9). Legalisme harus dihilangkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Masalah dengan gereja Galatia bukanlah ketaatan pada hukum moral Allah; melainkan, ketergantungan pada hukum moral…untuk keselamatan.&amp;lt;ref&amp;gt;Jerry Bridges, ''Transforming Grace'' (Colorado Springs, CO: NavPress, 1991), p. 98.&amp;lt;/ref&amp;gt; — Jerry Bridges}}Satu-satunya cara efektif untuk mencabut legalisme adalah dengan doktrin pembenaran. Kalau Anda telah menelantarkan atau mengabaikan doktrin ini, maka buatlah tindakan sedramatis apapun yang dibutuhkan untuk berubah. Sediakan waktu setiap hari untuk mengulang, melatih, dan bersukacita atas kebenaran yang agung, objektif dan bersifat posisi ini. Batasi konsumsi spiritual Anda pada pembelajaran tentang pembenaran sampai Anda yakin akan penerimaan Tuhan, merasa aman di dalam kasih-Nya dan bebas dari legalisme dan penghakiman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penyaliban Yesus Kristus merupakan satu peristiwa sejarah yang paling menentukan. Dengan akurat Sinclair Ferguson menyatakan hal berikut: {{RightInsert|'''Renungkan Roma 7:14-25.''' Pada saat kita mengerti betul kebejatan kita sendiri kita akan lebih sulit untuk dicobai oleh legalisme.}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Waktu kita berpikir Kristus mati di kayu salib kita diperlihatkan seberapa panjangnya kasih Tuhan dengan tujuan memenangkan kita kembali kepada-Nya…Ia berkata kepada kita: Aku mengasihi Engkau sebesar ini… Salib adalah jantung Injil. Salib membuat Injil menjadi kabar baik: Kristus mati untuk kira. Ia telah berdiri di tempat kita di hadapan kursi penghakiman Allah. Ia menanggung dosa-dosa kita. Tuhan telah melakukan sesuatu di atas kayu salib yang tidak mungkin kita sendiri pernah dapat lakukan… Alasan kita kurang yakin akan kasih karunia-Nya adalah karena kita gagal untuk fokus kepada tempat itu dimana Ia menyatakannya.&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''Grow in Grace'' (Carlisle, PA: The Banner of Truth Trust, 1989), p. 56, 58–59.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Kemana Anda akan memfokuskan perhatian Anda? Apakah pada dosa-dosa masa lalu Anda, keadaan emosi Anda saat ini, atau area karakter dimana Anda masih perlu bertumbuh? Ataukah Anda akan fokus pada pekerjaan Kristus yang genap? Legalisme tidak perlu memotivasi Anda. Penghakiman tidak perlu menyiksa Anda. Allah telah membenarkan Anda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Dua kategori orang seperti apa yang digambarkan di Yakobus 1:22-25? Kelompok yang mana yang Tuhan janji akan berkati?}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Jangan Berargumentasi dengan Hakim ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengerti doktrin pembenaran secara intelektual dengan sendirinya tidaklah cukup. Tuhan menginginkan kita untuk mengalami transformasi – secara total, murni, dan permanen ditransform oleh kotrin penting ini. J.I. Packer telah menyatakan, “Masalahnya bukan, apakah seseorang dapat menyebutkan doktrin ini dengan keakuratan Firman yang penuh (hal itu, telah kita lihat, adalah pekerjaan yang membutuhlan ketelitian), tetapi, apakah seseorang tahu realitasnya dalam pengalaman.”&amp;lt;ref&amp;gt;J.I. Packer, ''God’s Words: Studies of Key Bible Themes'' (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1981), p. 147. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Kolose 2:13-15 menyatakan hutang kita yang sangat besar kepada Tuhan. Apa yang Yesus lakukan dengan surat tagihan hutang? }}Tujuan kami menulis buku ini bukan pada dasarnya Anda belajar bagaimana mengartikulasi doktrin agung ini tetapi Anda dirubah olehnya, bahwa pengertian Anda akan berbuah pada kebebasan pribadi dari legalisme dan penghakiman serta kasih dan semangat yang bertambah-tambah kepada Yesus Kristus. Adalah mungkin menyadari pembenaran oleh kasih karunia tanpa terpengaruh secara pribadi. Kita perlu menghargai dan mempraktekan kebenaran besar ini setiap hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cerita yang akan saya bagikan merupakan sebuah pelajaran penuh kuasa bagi saya setelah saya mempejalari benar doktrin pembenaran. Selama hari-hari sebelum pertobatan saya sebagai mahasiswa tahun pertama, saya ditangkap karena kepemilikan mariyuana. Detail peristiwa tersebut masih sangat jelas di benak saya. Saat saya duduk di ruang sidang menghadapi hakin, saya mencoba sebisa saya untuk terlihat tulus dan tersiksa, tetapi saya hanya bisa ketakutan. Saya tahu ada kesempatan besar saya akan dijatuhi hukuman dan dituduh dengan pelanggaran tambahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Adalah tidak cukup untuk hanya mengetahui bahwa Yesus telah mati, atau bahkan mengapa Ia mati. Pengetahuan tersebut merupakan hasil dari “iman yang hanya bersifat sejarah” yang tidak dapat menyelamatkan… Hanya pada waktu kita menyadari bahwa Kristus diberi pro me, pro nobis (“untuk aku,” “untuk kita”) kita telah membedakan pentingnya pencapaian Kristus. &amp;lt;ref&amp;gt;Timothy George, ''Theology of the Reformers'' (Nashville, TN: Broadman Press, 1988), p. 59.&amp;lt;/ref&amp;gt; — Timothy George}}Ternyata, kasus saya tidak pernah mengalami kemajuan setelah saksi pertama. Karena polisi menggeledah kamar saya tanpa surat resmi yang dibutuhkan, bantah pengacaran saya, pengadilan harus mencabut gugatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hakim duduk mendengarkan dengan sabar saat jaksa mengajukan keberatan dan mengulang kembali bukti-bukti yang memberatkan saya. Akhirnya, ia melihat ke arah saya. Pria itu jelas terlihat frustasi. Tidak berkuasa untuk memberi lebih dari teguran, ia menguliahi saya dengan kata-kata yang sekeras-kerasnya. Saya mencoba untuk kelihatan menyesal. Saya menganggukan kepada saya atas setiap penyataan. Tapi saya tidak ingat apapun yang ia katakan – saya terlalu gembira karena kenyataan bahwa ia akan melepas saya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika saya disidang saya tahu bahwa saya bersalah. Saya kira semua orang mengetahui itu. Tetapi pada waktu hakim membebaskan saya, saya tidak berargumentasi dengannya. Saya tidak meminta dan memohon kepada hakim untuk melanjutkan kasus itu. Saya tidak memintanya untuk mengabaikan teknis legalitas dan mengijinkan jaksa untuk terus maju. Hanya kali ini saya dengan gembira tunduk kepada seseorang yang memiliki otoritas lebih besar. Bila sang hakim ingin melepaskan pelanggaran itu, saya akan dengan senang hati menerima keputusannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Renungkan Ulangan 31:8.''' Daripada melanggar janji-Nya yang indah kepada kita (meskipun kita tidak pernah layak diberi janji seperti itu), Tuhan meninggalkan Putra-Nya sendiri.}}Setiap dari kita berdiri bersalah di hadapan Hakim dari segalanya. Tetapi kejahatan kita menentang-Nya berada di tingkat yang secara total berbeda dengan kesalahan saya. Dan walaupun saya diloloskan karena hal teknis, kita telah dinyatakan benar atas dasar pengorbanan Kristus yang telah direncanakan dan bersifat menggantikan kita itu. Yesus Kristus secara suka rela dan sengaja memberikan hidup-Nya sepaya Allah dapat tetap adil saat membenarkan yang bersalah – Anda dan saya. Allah telah menyatakan kita benar. Yang tertinggal hanyalah masalah apakah kita akan menerima pernyataan ini. Pilihan untuk menerima atau tidak berada di hadapan kita setiap hari, sering berkali-kali dalam satu hari: Akankah kita menerima pembenaran karena iman karena pernyataan oleh Tuhan, atau akankah kita mengijinkan penghakiman dan legalisme untu menguasai kita saat kita bergantung pada perasaan dan ketaatan kita?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Kehidupan Kristen melibatkan bukan saja percaya sesuatu tentang Kristus tetapi juga percaya sesuatu tentang diri kita sendiri… Iman kita di dalam Kristus harus mencakup percaya bahwa kita adalah apa yang Alkitab katakan tentang kita.&amp;quot; — Anthony Hoekema}}Tentukanlah bahwa emosi Anda yang tidak stabil dan tidak terprediksi tidak akan medikte atau menipu Anda. Jangan ijinkan emosi-emosi itu untuk menjadi otoritas terakhir di dalam hidup Anda. Percayalah apa yang Tuhan katakan tentang Anda. Kalau Anda bijaksana Anda akan mengikuti teladan saya: Jangan berargumentasi dengan Hakim.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Ditinggalkan Demi Pengampunan Kita ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah yang menciptakan Anda menerima Anda. Anak-Nya secara suka rela menghadapi kengerian Salib yang tidak terbayangkan, ditinggalkan Allah Bapa dan manusia, demi untuk membenarkan Anda. Ia dibuang supaya kita bisa diampuni. Ia mengalami perpisahan supaya kita dapat selamanya aman dalam kasih Allah. Ia menanggung murka Allah sehingga kita tidak pernah perlu melakukannya. “Yesus yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitakan karena pembenaran kita” (Rom 4:25). Anda telah dibenarkan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah mengherankan Reformasi merubah sejarah Gereja? Tidak ada cara apapun untuk mengekang doktrin ini. Sekali doktrin ini dilepas ia akan merubah hidup setiap orang yang disentuhnya – termasuk Anda sendiri. &amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Diskusi Kelompok ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# Di halaman 52 pengarang menulis, “Anda tidak akan pernah lebih dibenarkan daripada Anda saat ini.” Bagaimana kalimat ini mempengaruhi usaha-usaha Anda untuk menjalani hidup yang menyenangkan Tuhan?&lt;br /&gt;
# Renungkan dengan tenang untuk satu atau dua menit tentang Salib. Menurut Anda apakah yang Yesus rasakan waktu ia menyaradari Allah telah meninggalkan-Nya?&lt;br /&gt;
# Apakah mungkin untuk terlalu fokus pada menjadi serupa dengan teladan Kristus?&lt;br /&gt;
# Apa yang membuat legalisme menjadi sebuah penyimpangan sesat yang tak disadari?&lt;br /&gt;
# Bagaimana kita mengimbangi doktrin pembenaran dan penyucian tanpa oleng kepada legalisme ataupun ijin?&lt;br /&gt;
# Satu hal apa yang dapat kontribusi bagi pembenaran kita?(Petunjuk: Tidak ada yang perlu disombongkan!)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bacaan yang Direkomendasikan ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Cross of Christ'' by John R. W. Stott (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1986)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Discipline of Grace'' by Jerry Bridges (Colorado Springs, CO: NavPress, 1994)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Atonement'' by Leon Morris (Downwers Grove, IL: InterVarsity Press, 1984)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Catatan ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Sukartay</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/Justified_by_Christ/id</id>
		<title>This Great Salvation/Justified by Christ/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/Justified_by_Christ/id"/>
				<updated>2007-12-28T13:09:54Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Sukartay: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;= Dibenarkan Oleh Yesus =&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum Martin Luther menjadi terkenal karena peran pentingnya dalam Reformasi, ia dikenal seluruh Eropa sebagai seorang pelajar hukum yang brilian. Yang paling banyak mempengaruhi pendeta pengikut Agustinus ini adalah pembelajarannya akan hukum Allah di dalam Firman Tuhan. Saat ia merenungkan perintah-perintah Allah, ia menjadi sangat menyadari murka Allah. Setiap kali ia mempelajari pribadi dan pekerjaan Yesus Kristus ia mengenal inilah Yang benar yang pada akhirnya akan menghakiminya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesadaran yang terus menerus itu merongrong Luther dengan perasaan bersalah yang tak terbendung. Sementara rekan-rekannya menghabiskan beberapa menit untuk mengaku dosa, ia menghabiskan berjam-jam. Sebagian orang mengira bahwa mentalnya tidak stabil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teolog Anthony Hoekema menggambarkan kesedihan mental itu membawa pada penemuan teologi besar Luther:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Martin Luther telah mencoba segalanya: tidur di atas lantai yang keras, tidak makan, bahkan menaiki sebuah tangga di Roma dengan tangan dan lututnya – tapi tidak berhasil. Para gurunya di biara memberitahunya bahwa ia telah melakukan cukup untuk mendapatkan kedamaian jiwa. Tapi ia tidak memiliki damai. Kesadarannya akan dosa terlalu dalam.&lt;br /&gt;
:Ia telah mempelajari kitab Mazmur. Kitab ini sering menyebut “kebenaran Tuhan.” Tapi istilah ini mengganggunya. Ia mengira itu berarti kebenaran Tuhan yang menghukum, dimana Ia menghukum orang berdosa. Dan Luther mengetahui ia adalah orang berdosa. Jadi manakala ia melihat kata kebenaran di dalam Alkitab, ia melihat merah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Pembenaran adalah memang jawaban Allah bagi semua pertanyaan manusia yang paling penting: Bagaimana seorang pria atau wanita dibenarkan dengan Tuhan? Kita tidak dibenarkan dengan Tuhan dengan sendirinya. Kita berada di bahwa murka Allah. Pembenaran adalah sangat penting, karena kita harus dibenarkan dengan Allah atau kita binasa selamanya… Kesulitannya adalah mayoritas orang saat ini tidak merasakan kebutuhan di area ini. Martin Luther telah merasakannya; hal itu menghantuinya. Ia tahu bahwa ia tidak benar dengan Allah, dan ia mengantisipasi konfrontasi dengan Allah yang murka di penghakiman terakhir. Allah menunjukkan kepadanya bahwa ia bisa mengalami hubungan yang benar dengan Allah melalui pekerjaan Yesus Kristus. Tetapi di jaman ini siapa yang merasakan intensitas kepedihan Luther?&amp;lt;ref&amp;gt;James Montgomery Boice, ''Romans, Vol. I'' (Grand Rapids, MI: Baker Book House, 1991), p. 380, 447&amp;lt;/ref&amp;gt;}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Pada suatu hari ia membuka kitab Roma. Di sana ia membaca tentang injil Kristus yang adalah kekuatan Allah untuk keselamatan (1:16). Ini adalah sebuah kabar baik! Tetapi ayat selanjutnya berkata, “Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah“- ada kata buruk ''kebenaran'' itu lagi! Dan depresi Luther kembali lagi. Hal itu menjadi lebih buruk ketika ia meneruskan membaca tentang murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia (ayat 18).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka Luther kembali ke ayat 17 lagi. Bagaimana bisa Paulus menuliskan kata-kata mengerikan seperti itu?...Tiba-tiba pencerahan datang padanya. “Kebenaran Tuhan” yang Paulus maksud di sini bukanlah keadilan Tuhan yang bersifat menghukum yang membuatNya menghukum orang berdosa, melainkan kebenaran yang Tuhan ''berikan'' kepada orang berdosa yang membutuhkan, dan yang orang berdosa itu terima dengan ''iman''. Ini adalah kebenaran yang sempurna dan tidak bercacat, didapatkan oleh Kristus, yang dengan kemurahan Tuhan berikan pada semua yang percaya. Luther tidak perlu lagi mencari dasar untuk kedamaian jiwa di dalam dirinya, di dalam perbuatan baiknya sendiri. Sekarang ia dapat melihat lepas dari dirinya sendiri dan melihat kepada Kristus, hidup dengan iman daripada bersembunyi dalam ketakutan. Pada saat itulah Reformasi Protestan lahir.&amp;lt;ref&amp;gt;Anthony Hoekema, ''Saved by Grace'' (Grand Rapids, MI: Wm. B. Eerdmans Co., 1989), p. 152. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Renungkan Roma 1:17.''' Frase kunci apa di ayat ini yang merevolusi pengertian Martin Luther tentang keselamatan? Bagaimana pengaruhnya bagi Anda?}}Luther melanjutkan dengan berkata bahwa doktrin pembenaran adalah doktrin yang olehnya Gereja berdiri atau jatuh. “Doktrin ini merupakan kepala dan batu penjuru Gereja yang melahirkan, memelihara, membangun dan melindungi Gereja. Tanpanya gereja Tuhan tidak dapat bertahan hidup untuk satu jam.”&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''The Christian Life: A Doctrinal Introduction'' (Carlisle, PA: The Banner of Truth Trust, 1989), p. 80. &amp;lt;/ref&amp;gt;Di poin yang lain ia menambahkan, “Bila doktrin pembenaran ini hilang, maka semua doktrin kekristenan yang benar hilang.”&amp;lt;ref&amp;gt;John R.W. Stott, ''Only One Way: The Message of Galatians'' (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1968), p. 60. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketakutan Luther akan murka Allah telah dibenarkan, seperti kita pelajari di bab sebelumnya. Semua orang Kristen harus mengingat siapa dan apa mereka sebelumnya: jahat dalam perilaku mereka, musuh Allah, sepenuhnya terasing dari-Nya, dan sasaran kemarahan-Nya. Tetapi mengenali masa lalu hanya memiliki nilai sejauh hal itu membuat kita menyadari dan mengagumi akan posisi kita sekarang di dalam Kristus. Kita harus mengenali siapa ''kita sekarang'' karena hadiah kemurahan Tuhan akan pembenaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka yang telah menerima pekerjaan pembenaran Kristus mengalami sebuah perubahan yang dramatis dan luar biasa. Kita telah dibenarkan karena iman melalui anugerah yang besar dari Allah yang Maha Kuasa. Tanpa pengetahuan yang akurat dan pengetahuan yang datang dari pengalaman tentang pembenaran Gereja “tidak dapat bertahan hidup untuk satu jam”…sedikitnya tidak dengan keotentikan. Kita pun juga tidak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Posisi atau Proses? ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Pada saat Yesus mati di kayu salib, tirai bait suci yang memisahkan tempat suci dengan tempat paling suci secara supernatural robek menjadi dua. Untuk mengerti pentingnya peristiwa itu, bacalah Ibrani 9:1-14.}}Pembenaran adalah istilah resmi yang berarti “mendeklarasikan benar.” Hoekema mendefinisikan pembenaran sebagai “perubahan permanen dalam hubungan yuridis kita dengan Tuhan dimana kita diampuni dari tuduhan bersalah, dan dimana Tuhan mengampuni semua dosa-dosa kita di atas dasar pekerjaan Yesus Kristus yang telah tergenapi.”&amp;lt;ref&amp;gt;Anthony Hoekema, ''Saved by Grace'', p. 178. &amp;lt;/ref&amp;gt;Walaupun kita bersalah di hadapan Hakim semesta yang kudus, setelah melanggar hukum-Nya dan layak menerima murka-Nya, Ia telah mendeklarasikan kita sebagai benar. Bagaimana? Atas dasar apa yang Yesus Kristus telah capai di Kayu Salib. Hanya Salib dapat membuat kita dapat diterima di hadapan Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pembenaran adalah sebuah hadiah yang kita terima dari Tuhan, bukan sesuatu yang kita peroleh atau capai. Kita tidak bertanggung jawan ataupun mampu untuk menyumbang bagi pembenaran kita di hadapan Tuhan. Status benar ini tidak bisa dicapai atau dilayakan, hanya diterima dan dihargai. Kita menerima apa yang Kristus dan Kristus sendiri capai untuk kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk dapat sepenuhnya mengerti akan kebenaran yang ajaib ini, adalah esensial kita membedakan pembenaran (justification) dan penyucian (sanctification). Walaupun kedua doktrin ini tidak dapat dipisahkan, kita harus membedakan antara perannya masing-masing di dalam kehidupan iman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Tiada seorangpun yang mengerti kekristenan yang tidak memahami kata ini. Yaitu kata ''dibenarkan.''&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;John R.W. Stott, ''Only One Way'', p. 59.&amp;lt;/ref&amp;gt; — John Stott}}Pembenaran berarti kita ''dinyatakan'' benar. Penyucian berarti kita sedang ''dibuat'' benar. (Pahami perbedaan itu saja dan hidup Anda tidak akan pernah sama lagi!) Pembenaran adalah ''hadiah'' kekudusan; penyucian adalah ''pelatihan'' kekudusan. Mungkin yang paling kritikal, pembenaran adalah sebuah ''posisi'' – yang dibuat segera dan secara komplit setelah pertobatan – sedangkan penyucian adalah sebuah proses dari perubahan internal dan pengembangan karakter yang dimulai pada saat regenerasi dan terus berlanjut selama kita hidup. “Di dalam Firman Ruhan,” tulis Sinclair Ferguson, “membenarkan bukan berarti membuat benar seperti merubah karakter seseorang. Membenarkan artinya menjadikan benar dengan cara mendeklarasikan.”&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''The Christian Life'', p. 72. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Pembenaran adalah sebuah PERBUATAN. Pembenaran bukanlah pekerjaan, atau satu seri perbuatan. Pembenaran tidak progresif. Orang percaya yang paling lemah dan orang kudus yang paling kuat adalah serupa dan dibenarkan secara sama. Pembenaran tidak mengakui adanya tingkatan. Seseorang, hanya bisa seluruhnya dibenarkan atau seluruhnya dikutuk di hadapan Allah.&amp;lt;ref&amp;gt;William S. Plumer, ''The Grace of Christ'' (Philadelphia, PA: Presbyterian Board of Publication, 1853), p. 195.&amp;lt;/ref&amp;gt; — William S. Plumer}}Pembenaran bukanlah sebuah proses. Pembenaran adalah sebuah deklarasi, sebuah pernyataan ilahi yang tidak dapat ditantang, dirubah ataupun dinaikbanding. Paulus secara empati berkata, “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus” (Rom 5:1). Transformasi mulia ini tidak terjadi sedikit demi sedikit, dan juga tidak berubah-ubah. Anda tidak lebih dibenarkan selama jangka waktu tertentu daripada jangka waktu lainnya. Hal ini perlu ditegaskan kembali: ''Anda tidak akan pernah lebih dibenarkan daripada keadaan Anda saat ini.'' Di atas itu semua, tidak seorangpun dalam sejarah pernah lebih dibenarkan daripada Anda sekarang. Martin Luther tidak, Paulus tidak – seorang pun tidak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Apakah Anda pernah dirampas dari buah-buah keselamatan Anda yang agung? Jawablah kuis Benar/Salah berikut ini untuk memastikan Anda mengerti perbedaan antara pembenaran dan penyucian. (Jawaban ada di catatan kaki.&amp;lt;ref&amp;gt;S, B, S, B, S, B&amp;lt;/ref&amp;gt; * Pembenaran adalah hasil dari penyucian. '''B S''' * Penyucian adalah proses sepanjang hidup. '''B S''' * Kasih Allah untuk kita bertumbuh sesuai dengan kedewasaan kita. '''B S''' * Pembenaran mengacu kepada posisi kita di dalam Kristus, penyucian mengacu pada proses. '''B S''' * Merubah kebiasaan-kebiasaan berdosa membuat kita lebih benar. '''B S''' * Pertumbuhan rohani adalah bukti yang baik bahwa kita telah dibenarkan. '''B S'''}}Banyak orang Kristen yang bingung tentang doktrin pembenaran dan penyucian dan oleh karenanya tidak bisa merasakan sepenuhnya berkat-berkat yang keselamatan agung ini hasilkan. Adalah sangat penting kita mengerti perbedaan antara posisi kita (pembenaran) dan pelatihan kita (penyucian). Sementara penyucian adalah bukti dan tujuan dari pembenaran, penyucian tidak boleh dipandang sebagai dasar dari pembenaran di hadapan Tuhan, tidak peduli betapa menjadi dewasanya kita. Kita tidak mampu menambahkan apa yang Kristus telah raih. Seperti Alister McGrath katakan, “Satu-satunya hal yang bisa dibilang kita kontribusikan dalam pembenaran kita adalah dosa yang telah Tuhan ampuni dengan kemurahan.” Kita dibenarkan hanya karena anugerah semata.&amp;lt;ref&amp;gt;Alister McGrath, ''Justification by Faith'' (Grand Rapids, MI: Zondervan Publishing House, 1988), p. 132. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Membuat Frustrasi dan Sia-Sia ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Doktrin pembenaran perlu dijalankan dan ditengok secara terus menerus, seperti yang Martin Luther sadari betul. Nasihat Martin Luther yang biasa terus terang? “Tempelkan itu ke kepala mereka terus menerus.”&amp;lt;ref&amp;gt;John R.W. Stott, ''Only One Way'', p. 59. &amp;lt;/ref&amp;gt;Sebagai tambahan bagi pengulangan ulet dari para pemimpin kita, kita perlu mempraktekan dan menghargai kebenaran dari pembenaran di dalam hidup kita sehari-hari. Kalau tidak, kita akan menemukan diri kita mudah jatuh dalam salah satu musuh Gereja yang paling serius dan tidak kentara: legalisme.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Kemuliaan Injil adalah bahwa Allah menyatakan orang Kristen memiliki hubungan yang benar dengan-Nya meskipun adanya dosa-dosa mereka. Tetapi pencobaan dan kesalahan terbesar kita adalah berusaha menyusupkan karakter ke dalam pekerjaan kasih karunia-Nya. Betapa mudahnya kita jatuh ke dalam jebakan anggapan bahwa kita hanya tetap dibenarkan selama ada dasarnya pada karakter kita untuk pembenaran itu. Tetapi ajaran Paulus adalah tidak ada yang dapat kita perbuat untuk menyumbang bagi pembenaran kita.&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''The Christian Life'', p. 82–83.&amp;lt;/ref&amp;gt; — Sinclair Ferguson}}Legalisme melibatkan usaha untuk memperoleh penerimaan dari Tuhan melalui ketaatan kita sendiri. Kita hanya memiliki dua pilihan: menerima kekudusan sebagai pemberian Tuhan atau mencoba untuk melahirkan kekudusan kita sendiri. Legalisme adalah usaha untuk dibenarkan melalui sumber yang lain daripada Yesus Kristus dan pekerjaan-Nya yang telah genap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berpegang pada legalisme berarti percaya bahwa Salib itu tidak perlu atau tidak cukup (Gal 2:21, 5:2). Itu merupakan penafsiran yang tepat akan motif dan perbuatan Anda, walaupun Anda masih secara mental mengakui kebutuhan akan pengorbanan Kristus. Dalam usaha kita mengejar ketaatan dan kedewasaan, legalisme secara perlahan dan samar menguasai kita dan kita mulai mengganti pekerjaan kita untuk pekerjaan genap Kristus. Hasilnya adalah keangkuhan atau penghakiman. Bukannya bertumbuh dalam kasih karunia kita meninggalkan kasih karunia. Itulah penilaian Paulus terhadap gereja di Galatia ketika ia menulis, “Kamu lepas dari Kristus jikalau kamumengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia.” (Gal 5:4).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Untuk menghargai besarnya keprihatinan Paulus tentang legalisme, bacalah Galatia 1:6-9, 2:21, 3:1-4, 3:10, 4:8-11, 4:19-20, 5:2-4, dan 5:7-12.}}Kalau Anda telah berusaha menjalani hidup seperti ini, Anda mungkin sekarang telah belajar bahwa bahwa legalisme itu adalah sia-sia dan membuat frustrasi. Setiap usaha legalisme untuk memperoleh kekudusan akhirnya akan mengalami kegagalan. Selama bertahun-tahun saya telah belajar mengenali beberapa tanda yang sangat jelas dari adanya legalisme. Ini adalah beberapa diantaranya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Anda lebih menyadari akan dosa-dosa masa lalu Anda daripada pribadi dan pekerjaan genap Kristus.&lt;br /&gt;
* Anda hidup berpikir, percaya, dan merasa bahwa Tuhan kecewa terhadap Anda daripada bersukacita dalam Anda. Anda menganggap penerimaan Tuhan bergantung pada ketaatan Anda.&lt;br /&gt;
* Anda kurang sukacita. Ini sering menjadi indikasi pertama dari adanya legalisme. Penghakiman adalah hasil dari merenungkan ketidakcukupan kita; sukacita adalah hasil hari memikirkan kecukupan kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Pernahkan Anda dijerat oleh kehadiran legalisme yang samar? Kalau ya, sadarlah. Legalisme cenderung menyebar daripada tetap terbatasi (Gal 5:9). Legalisme harus dihilangkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Masalah dengan gereja Galatia bukanlah ketaatan pada hukum moral Allah; melainkan, ketergantungan pada hukum moral…untuk keselamatan.&amp;lt;re&amp;gt;Jerry Bridges, ''Transforming Grace'' (Colorado Springs, CO: NavPress, 1991), p. 98.&amp;lt;/ref&amp;gt; — Jerry Bridges}}Satu-satunya cara efektif untuk mencabut legalisme adalah dengan doktrin pembenaran. Kalau Anda telah menelantarkan atau mengabaikan doktrin ini, maka buatlah tindakan sedramatis apapun yang dibutuhkan untuk berubah. Sediakan waktu setiap hari untuk mengulang, melatih, dan bersukacita atas kebenaran yang agung, objektif dan bersifat posisi ini. Batasi konsumsi spiritual Anda pada pembelajaran tentang pembenaran sampai Anda yakin akan penerimaan Tuhan, merasa aman di dalam kasih-Nya dan bebas dari legalisme dan penghakiman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penyaliban Yesus Kristus merupakan satu peristiwa sejarah yang paling menentukan. Dengan akurat Sinclair Ferguson menyatakan hal berikut: {{RightInsert|'''Renungkan Roma 7:14-25.''' Pada saat kita mengerti betul kebejatan kita sendiri kita akan lebih sulit untuk dicobai oleh legalisme.}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Waktu kita berpikir Kristus mati di kayu salib kita diperlihatkan seberapa panjangnya kasih Tuhan dengan tujuan memenangkan kita kembali kepada-Nya…Ia berkata kepada kita: Aku mengasihi Engkau sebesar ini… Salib adalah jantung Injil. Salib membuat Injil menjadi kabar baik: Kristus mati untuk kira. Ia telah berdiri di tempat kita di hadapan kursi penghakiman Allah. Ia menanggung dosa-dosa kita. Tuhan telah melakukan sesuatu di atas kayu salib yang tidak mungkin kita sendiri pernah dapat lakukan… Alasan kita kurang yakin akan kasih karunia-Nya adalah karena kita gagal untuk fokus kepada tempat itu dimana Ia menyatakannya.&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''Grow in Grace'' (Carlisle, PA: The Banner of Truth Trust, 1989), p. 56, 58–59.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Kemana Anda akan memfokuskan perhatian Anda? Apakah pada dosa-dosa masa lalu Anda, keadaan emosi Anda saat ini, atau area karakter dimana Anda masih perlu bertumbuh? Ataukah Anda akan fokus pada pekerjaan Kristus yang genap? Legalisme tidak perlu memotivasi Anda. Penghakiman tidak perlu menyiksa Anda. Allah telah membenarkan Anda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Dua kategori orang seperti apa yang digambarkan di Yakobus 1:22-25? Kelompok yang mana yang Tuhan janji akan berkati?}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Jangan Berargumentasi dengan Hakim ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengerti doktrin pembenaran secara intelektual dengan sendirinya tidaklah cukup. Tuhan menginginkan kita untuk mengalami transformasi – secara total, murni, dan permanen ditransform oleh kotrin penting ini. J.I. Packer telah menyatakan, “Masalahnya bukan, apakah seseorang dapat menyebutkan doktrin ini dengan keakuratan Firman yang penuh (hal itu, telah kita lihat, adalah pekerjaan yang membutuhlan ketelitian), tetapi, apakah seseorang tahu realitasnya dalam pengalaman.”&amp;lt;ref&amp;gt;J.I. Packer, ''God’s Words: Studies of Key Bible Themes'' (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1981), p. 147. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Kolose 2:13-15 menyatakan hutang kita yang sangat besar kepada Tuhan. Apa yang Yesus lakukan dengan surat tagihan hutang? }}Tujuan kami menulis buku ini bukan pada dasarnya Anda belajar bagaimana mengartikulasi doktrin agung ini tetapi Anda dirubah olehnya, bahwa pengertian Anda akan berbuah pada kebebasan pribadi dari legalisme dan penghakiman serta kasih dan semangat yang bertambah-tambah kepada Yesus Kristus. Adalah mungkin menyadari pembenaran oleh kasih karunia tanpa terpengaruh secara pribadi. Kita perlu menghargai dan mempraktekan kebenaran besar ini setiap hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cerita yang akan saya bagikan merupakan sebuah pelajaran penuh kuasa bagi saya setelah saya mempejalari benar doktrin pembenaran. Selama hari-hari sebelum pertobatan saya sebagai mahasiswa tahun pertama, saya ditangkap karena kepemilikan mariyuana. Detail peristiwa tersebut masih sangat jelas di benak saya. Saat saya duduk di ruang sidang menghadapi hakin, saya mencoba sebisa saya untuk terlihat tulus dan tersiksa, tetapi saya hanya bisa ketakutan. Saya tahu ada kesempatan besar saya akan dijatuhi hukuman dan dituduh dengan pelanggaran tambahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Adalah tidak cukup untuk hanya mengetahui bahwa Yesus telah mati, atau bahkan mengapa Ia mati. Pengetahuan tersebut merupakan hasil dari “iman yang hanya bersifat sejarah” yang tidak dapat menyelamatkan… Hanya pada waktu kita menyadari bahwa Kristus diberi pro me, pro nobis (“untuk aku,” “untuk kita”) kita telah membedakan pentingnya pencapaian Kristus. &amp;lt;ref&amp;gt;Timothy George, ''Theology of the Reformers'' (Nashville, TN: Broadman Press, 1988), p. 59.&amp;lt;/ref&amp;gt; — Timothy George}}Ternyata, kasus saya tidak pernah mengalami kemajuan setelah saksi pertama. Karena polisi menggeledah kamar saya tanpa surat resmi yang dibutuhkan, bantah pengacaran saya, pengadilan harus mencabut gugatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hakim duduk mendengarkan dengan sabar saat jaksa mengajukan keberatan dan mengulang kembali bukti-bukti yang memberatkan saya. Akhirnya, ia melihat ke arah saya. Pria itu jelas terlihat frustasi. Tidak berkuasa untuk memberi lebih dari teguran, ia menguliahi saya dengan kata-kata yang sekeras-kerasnya. Saya mencoba untuk kelihatan menyesal. Saya menganggukan kepada saya atas setiap penyataan. Tapi saya tidak ingat apapun yang ia katakan – saya terlalu gembira karena kenyataan bahwa ia akan melepas saya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika saya disidang saya tahu bahwa saya bersalah. Saya kira semua orang mengetahui itu. Tetapi pada waktu hakim membebaskan saya, saya tidak berargumentasi dengannya. Saya tidak meminta dan memohon kepada hakim untuk melanjutkan kasus itu. Saya tidak memintanya untuk mengabaikan teknis legalitas dan mengijinkan jaksa untuk terus maju. Hanya kali ini saya dengan gembira tunduk kepada seseorang yang memiliki otoritas lebih besar. Bila sang hakim ingin melepaskan pelanggaran itu, saya akan dengan senang hati menerima keputusannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Renungkan Ulangan 31:8.''' Daripada melanggar janji-Nya yang indah kepada kita (meskipun kita tidak pernah layak diberi janji seperti itu), Tuhan meninggalkan Putra-Nya sendiri.}}Setiap dari kita berdiri bersalah di hadapan Hakim dari segalanya. Tetapi kejahatan kita menentang-Nya berada di tingkat yang secara total berbeda dengan kesalahan saya. Dan walaupun saya diloloskan karena hal teknis, kita telah dinyatakan benar atas dasar pengorbanan Kristus yang telah direncanakan dan bersifat menggantikan kita itu. Yesus Kristus secara suka rela dan sengaja memberikan hidup-Nya sepaya Allah dapat tetap adil saat membenarkan yang bersalah – Anda dan saya. Allah telah menyatakan kita benar. Yang tertinggal hanyalah masalah apakah kita akan menerima pernyataan ini. Pilihan untuk menerima atau tidak berada di hadapan kita setiap hari, sering berkali-kali dalam satu hari: Akankah kita menerima pembenaran karena iman karena pernyataan oleh Tuhan, atau akankah kita mengijinkan penghakiman dan legalisme untu menguasai kita saat kita bergantung pada perasaan dan ketaatan kita?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Kehidupan Kristen melibatkan bukan saja percaya sesuatu tentang Kristus tetapi juga percaya sesuatu tentang diri kita sendiri… Iman kita di dalam Kristus harus mencakup percaya bahwa kita adalah apa yang Alkitab katakan tentang kita.&amp;quot; — Anthony Hoekema}}Tentukanlah bahwa emosi Anda yang tidak stabil dan tidak terprediksi tidak akan medikte atau menipu Anda. Jangan ijinkan emosi-emosi itu untuk menjadi otoritas terakhir di dalam hidup Anda. Percayalah apa yang Tuhan katakan tentang Anda. Kalau Anda bijaksana Anda akan mengikuti teladan saya: Jangan berargumentasi dengan Hakim.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Ditinggalkan Demi Pengampunan Kita ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah yang menciptakan Anda menerima Anda. Anak-Nya secara suka rela menghadapi kengerian Salib yang tidak terbayangkan, ditinggalkan Allah Bapa dan manusia, demi untuk membenarkan Anda. Ia dibuang supaya kita bisa diampuni. Ia mengalami perpisahan supaya kita dapat selamanya aman dalam kasih Allah. Ia menanggung murka Allah sehingga kita tidak pernah perlu melakukannya. “Yesus yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitakan karena pembenaran kita” (Rom 4:25). Anda telah dibenarkan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah mengherankan Reformasi merubah sejarah Gereja? Tidak ada cara apapun untuk mengekang doktrin ini. Sekali doktrin ini dilepas ia akan merubah hidup setiap orang yang disentuhnya – termasuk Anda sendiri. &amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Diskusi Kelompok ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# Di halaman 52 pengarang menulis, “Anda tidak akan pernah lebih dibenarkan daripada Anda saat ini.” Bagaimana kalimat ini mempengaruhi usaha-usaha Anda untuk menjalani hidup yang menyenangkan Tuhan?&lt;br /&gt;
# Renungkan dengan tenang untuk satu atau dua menit tentang Salib. Menurut Anda apakah yang Yesus rasakan waktu ia menyaradari Allah telah meninggalkan-Nya?&lt;br /&gt;
# Apakah mungkin untuk terlalu fokus pada menjadi serupa dengan teladan Kristus?&lt;br /&gt;
# Apa yang membuat legalisme menjadi sebuah penyimpangan sesat yang tak disadari?&lt;br /&gt;
# Bagaimana kita mengimbangi doktrin pembenaran dan penyucian tanpa oleng kepada legalisme ataupun ijin?&lt;br /&gt;
# Satu hal apa yang dapat kontribusi bagi pembenaran kita?(Petunjuk: Tidak ada yang perlu disombongkan!)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bacaan yang Direkomendasikan ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Cross of Christ'' by John R. W. Stott (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1986)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Discipline of Grace'' by Jerry Bridges (Colorado Springs, CO: NavPress, 1994)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Atonement'' by Leon Morris (Downwers Grove, IL: InterVarsity Press, 1984)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Catatan ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Sukartay</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/Justified_by_Christ/id</id>
		<title>This Great Salvation/Justified by Christ/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/Justified_by_Christ/id"/>
				<updated>2007-12-28T12:58:33Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Sukartay: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;= Dibenarkan Oleh Yesus =&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum Martin Luther menjadi terkenal karena peran pentingnya dalam Reformasi, ia dikenal seluruh Eropa sebagai seorang pelajar hukum yang brilian. Yang paling banyak mempengaruhi pendeta pengikut Agustinus ini adalah pembelajarannya akan hukum Allah di dalam Firman Tuhan. Saat ia merenungkan perintah-perintah Allah, ia menjadi sangat menyadari murka Allah. Setiap kali ia mempelajari pribadi dan pekerjaan Yesus Kristus ia mengenal inilah Yang benar yang pada akhirnya akan menghakiminya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesadaran yang terus menerus itu merongrong Luther dengan perasaan bersalah yang tak terbendung. Sementara rekan-rekannya menghabiskan beberapa menit untuk mengaku dosa, ia menghabiskan berjam-jam. Sebagian orang mengira bahwa mentalnya tidak stabil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teolog Anthony Hoekema menggambarkan kesedihan mental itu membawa pada penemuan teologi besar Luther:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Martin Luther telah mencoba segalanya: tidur di atas lantai yang keras, tidak makan, bahkan menaiki sebuah tangga di Roma dengan tangan dan lututnya – tapi tidak berhasil. Para gurunya di biara memberitahunya bahwa ia telah melakukan cukup untuk mendapatkan kedamaian jiwa. Tapi ia tidak memiliki damai. Kesadarannya akan dosa terlalu dalam.&lt;br /&gt;
:Ia telah mempelajari kitab Mazmur. Kitab ini sering menyebut “kebenaran Tuhan.” Tapi istilah ini mengganggunya. Ia mengira itu berarti kebenaran Tuhan yang menghukum, dimana Ia menghukum orang berdosa. Dan Luther mengetahui ia adalah orang berdosa. Jadi manakala ia melihat kata kebenaran di dalam Alkitab, ia melihat merah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Pembenaran adalah memang jawaban Allah bagi semua pertanyaan manusia yang paling penting: Bagaimana seorang pria atau wanita dibenarkan dengan Tuhan? Kita tidak dibenarkan dengan Tuhan dengan sendirinya. Kita berada di bahwa murka Allah. Pembenaran adalah sangat penting, karena kita harus dibenarkan dengan Allah atau kita binasa selamanya… Kesulitannya adalah mayoritas orang saat ini tidak merasakan kebutuhan di area ini. Martin Luther telah merasakannya; hal itu menghantuinya. Ia tahu bahwa ia tidak benar dengan Allah, dan ia mengantisipasi konfrontasi dengan Allah yang murka di penghakiman terakhir. Allah menunjukkan kepadanya bahwa ia bisa mengalami hubungan yang benar dengan Allah melalui pekerjaan Yesus Kristus. Tetapi di jaman ini siapa yang merasakan intensitas kepedihan Luther?&amp;lt;ref&amp;gt;James Montgomery Boice, ''Romans, Vol. I'' (Grand Rapids, MI: Baker Book House, 1991), p. 380, 447&amp;lt;/ref&amp;gt;}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Pada suatu hari ia membuka kitab Roma. Di sana ia membaca tentang injil Kristus yang adalah kekuatan Allah untuk keselamatan (1:16). Ini adalah sebuah kabar baik! Tetapi ayat selanjutnya berkata, “Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah“- ada kata buruk ''kebenaran'' itu lagi! Dan depresi Luther kembali lagi. Hal itu menjadi lebih buruk ketika ia meneruskan membaca tentang murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia (ayat 18).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka Luther kembali ke ayat 17 lagi. Bagaimana bisa Paulus menuliskan kata-kata mengerikan seperti itu?...Tiba-tiba pencerahan datang padanya. “Kebenaran Tuhan” yang Paulus maksud di sini bukanlah keadilan Tuhan yang bersifat menghukum yang membuatNya menghukum orang berdosa, melainkan kebenaran yang Tuhan ''berikan'' kepada orang berdosa yang membutuhkan, dan yang orang berdosa itu terima dengan ''iman''. Ini adalah kebenaran yang sempurna dan tidak bercacat, didapatkan oleh Kristus, yang dengan kemurahan Tuhan berikan pada semua yang percaya. Luther tidak perlu lagi mencari dasar untuk kedamaian jiwa di dalam dirinya, di dalam perbuatan baiknya sendiri. Sekarang ia dapat melihat lepas dari dirinya sendiri dan melihat kepada Kristus, hidup dengan iman daripada bersembunyi dalam ketakutan. Pada saat itulah Reformasi Protestan lahir.&amp;lt;ref&amp;gt;Anthony Hoekema, ''Saved by Grace'' (Grand Rapids, MI: Wm. B. Eerdmans Co., 1989), p. 152. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Renungkan Roma 1:17.''' Frase kunci apa di ayat ini yang merevolusi pengertian Martin Luther tentang keselamatan? Bagaimana pengaruhnya bagi Anda?}}Luther melanjutkan dengan berkata bahwa doktrin pembenaran adalah doktrin yang olehnya Gereja berdiri atau jatuh. “Doktrin ini merupakan kepala dan batu penjuru Gereja yang melahirkan, memelihara, membangun dan melindungi Gereja. Tanpanya gereja Tuhan tidak dapat bertahan hidup untuk satu jam.”&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''The Christian Life: A Doctrinal Introduction'' (Carlisle, PA: The Banner of Truth Trust, 1989), p. 80. &amp;lt;/ref&amp;gt;Di poin yang lain ia menambahkan, “Bila doktrin pembenaran ini hilang, maka semua doktrin kekristenan yang benar hilang.”&amp;lt;ref&amp;gt;John R.W. Stott, ''Only One Way: The Message of Galatians'' (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1968), p. 60. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketakutan Luther akan murka Allah telah dibenarkan, seperti kita pelajari di bab sebelumnya. Semua orang Kristen harus mengingat siapa dan apa mereka sebelumnya: jahat dalam perilaku mereka, musuh Allah, sepenuhnya terasing dari-Nya, dan sasaran kemarahan-Nya. Tetapi mengenali masa lalu hanya memiliki nilai sejauh hal itu membuat kita menyadari dan mengagumi akan posisi kita sekarang di dalam Kristus. Kita harus mengenali siapa ''kita sekarang'' karena hadiah kemurahan Tuhan akan pembenaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka yang telah menerima pekerjaan pembenaran Kristus mengalami sebuah perubahan yang dramatis dan luar biasa. Kita telah dibenarkan karena iman melalui anugerah yang besar dari Allah yang Maha Kuasa. Tanpa pengetahuan yang akurat dan pengetahuan yang datang dari pengalaman tentang pembenaran Gereja “tidak dapat bertahan hidup untuk satu jam”…sedikitnya tidak dengan keotentikan. Kita pun juga tidak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Posisi atau Proses? ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Pada saat Yesus mati di kayu salib, tirai bait suci yang memisahkan tempat suci dengan tempat paling suci secara supernatural robek menjadi dua. Untuk mengerti pentingnya peristiwa itu, bacalah Ibrani 9:1-14.}}Pembenaran adalah istilah resmi yang berarti “mendeklarasikan benar.” Hoekema mendefinisikan pembenaran sebagai “perubahan permanen dalam hubungan yuridis kita dengan Tuhan dimana kita diampuni dari tuduhan bersalah, dan dimana Tuhan mengampuni semua dosa-dosa kita di atas dasar pekerjaan Yesus Kristus yang telah tergenapi.”&amp;lt;ref&amp;gt;Anthony Hoekema, ''Saved by Grace'', p. 178. &amp;lt;/ref&amp;gt;Walaupun kita bersalah di hadapan Hakim semesta yang kudus, setelah melanggar hukum-Nya dan layak menerima murka-Nya, Ia telah mendeklarasikan kita sebagai benar. Bagaimana? Atas dasar apa yang Yesus Kristus telah capai di Kayu Salib. Hanya Salib dapat membuat kita dapat diterima di hadapan Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pembenaran adalah sebuah hadiah yang kita terima dari Tuhan, bukan sesuatu yang kita peroleh atau capai. Kita tidak bertanggung jawan ataupun mampu untuk menyumbang bagi pembenaran kita di hadapan Tuhan. Status benar ini tidak bisa dicapai atau dilayakan, hanya diterima dan dihargai. Kita menerima apa yang Kristus dan Kristus sendiri capai untuk kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk dapat sepenuhnya mengerti akan kebenaran yang ajaib ini, adalah esensial kita membedakan pembenaran (justification) dan penyucian (sanctification). Walaupun kedua doktrin ini tidak dapat dipisahkan, kita harus membedakan antara perannya masing-masing di dalam kehidupan iman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Tiada seorangpun yang mengerti kekristenan yang tidak memahami kata ini. Yaitu kata 'dibenarkan.'&amp;quot;�UNIQ5886d59e2158e219-ref-00000015-QINU — John Stott}}Pembenaran berarti kita ''dinyatakan'' benar. Penyucian berarti kita sedang ''dibuat'' benar. (Pahami perbedaan itu saja dan hidup Anda tidak akan pernah sama lagi!) Pembenaran adalah ''hadiah'' kekudusan; penyucian adalah ''pelatihan'' kekudusan. Mungkin yang paling kritikal, pembenaran adalah sebuah ''posisi'' – yang dibuat segera dan secara komplit setelah pertobatan – sedangkan penyucian adalah sebuah proses dari perubahan internal dan pengembangan karakter yang dimulai pada saat regenerasi dan terus berlanjut selama kita hidup. “Di dalam Firman Ruhan,” tulis Sinclair Ferguson, “membenarkan bukan berarti membuat benar seperti merubah karakter seseorang. Membenarkan artinya menjadikan benar dengan cara mendeklarasikan.”&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''The Christian Life'', p. 72. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Pembenaran adalah sebuah PERBUATAN. Pembenaran bukanlah pekerjaan, atau satu seri perbuatan. Pembenaran tidak progresif. Orang percaya yang paling lemah dan orang kudus yang paling kuat adalah serupa dan dibenarkan secara sama. Pembenaran tidak mengakui adanya tingkatan. Seseorang, hanya bisa seluruhnya dibenarkan atau seluruhnya dikutuk di hadapan Allah.�UNIQ5886d59e2158e219-ref-00000017-QINU — William S. Plumer}}Pembenaran bukanlah sebuah proses. Pembenaran adalah sebuah deklarasi, sebuah pernyataan ilahi yang tidak dapat ditantang, dirubah ataupun dinaikbanding. Paulus secara empati berkata, “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus” (Rom 5:1). Transformasi mulia ini tidak terjadi sedikit demi sedikit, dan juga tidak berubah-ubah. Anda tidak lebih dibenarkan selama jangka waktu tertentu daripada jangka waktu lainnya. Hal ini perlu ditegaskan kembali: ''Anda tidak akan pernah lebih dibenarkan daripada keadaan Anda saat ini.'' Di atas itu semua, tidak seorangpun dalam sejarah pernah lebih dibenarkan daripada Anda sekarang. Martin Luther tidak, Paulus tidak – seorang pun tidak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Apakah Anda pernah dirampas dari buah-buah keselamatan Anda yang agung? Jawablah kuis Benar/Salah berikut ini untuk memastikan Anda mengerti perbedaan antara pembenaran dan penyucian. (Jawaban ada di catatan kaki.�UNIQ5886d59e2158e219-ref-00000018-QINU * Pembenaran adalah hasil dari penyucian. '''B S''' * Penyucian adalah proses sepanjang hidup. '''B S''' * Kasih Allah untuk kita bertumbuh sesuai dengan kedewasaan kita. '''B S''' * Pembenaran mengacu kepada posisi kita di dalam Kristus, penyucian mengacu pada proses. '''B S''' * Merubah kebiasaan-kebiasaan berdosa membuat kita lebih benar. '''B S''' * Pertumbuhan rohani adalah bukti yang baik bahwa kita telah dibenarkan. '''B S'''}}Banyak orang Kristen yang bingung tentang doktrin pembenaran dan penyucian dan oleh karenanya tidak bisa merasakan sepenuhnya berkat-berkat yang keselamatan agung ini hasilkan. Adalah sangat penting kita mengerti perbedaan antara posisi kita (pembenaran) dan pelatihan kita (penyucian). Sementara penyucian adalah bukti dan tujuan dari pembenaran, penyucian tidak boleh dipandang sebagai dasar dari pembenaran di hadapan Tuhan, tidak peduli betapa menjadi dewasanya kita. Kita tidak mampu menambahkan apa yang Kristus telah raih. Seperti Alister McGrath katakan, “Satu-satunya hal yang bisa dibilang kita kontribusikan dalam pembenaran kita adalah dosa yang telah Tuhan ampuni dengan kemurahan.” Kita dibenarkan hanya karena anugerah semata.&amp;lt;ref&amp;gt;Alister McGrath, ''Justification by Faith'' (Grand Rapids, MI: Zondervan Publishing House, 1988), p. 132. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Membuat Frustrasi dan Sia-Sia ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Doktrin pembenaran perlu dijalankan dan ditengok secara terus menerus, seperti yang Martin Luther sadari betul. Nasihat Martin Luther yang biasa terus terang? “Tempelkan itu ke kepala mereka terus menerus.”&amp;lt;ref&amp;gt;John R.W. Stott, ''Only One Way'', p. 59. &amp;lt;/ref&amp;gt;Sebagai tambahan bagi pengulangan ulet dari para pemimpin kita, kita perlu mempraktekan dan menghargai kebenaran dari pembenaran di dalam hidup kita sehari-hari. Kalau tidak, kita akan menemukan diri kita mudah jatuh dalam salah satu musuh Gereja yang paling serius dan tidak kentara: legalisme.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Kemuliaan Injil adalah bahwa Allah menyatakan orang Kristen memiliki hubungan yang benar dengan-Nya meskipun adanya dosa-dosa mereka. Tetapi pencobaan dan kesalahan terbesar kita adalah berusaha menyusupkan karakter ke dalam pekerjaan kasih karunia-Nya. Betapa mudahnya kita jatuh ke dalam jebakan anggapan bahwa kita hanya tetap dibenarkan selama ada dasarnya pada karakter kita untuk pembenaran itu. Tetapi ajaran Paulus adalah tidak ada yang dapat kita perbuat untuk menyumbang bagi pembenaran kita.�UNIQ5886d59e2158e219-ref-0000001B-QINU — Sinclair Ferguson}}Legalisme melibatkan usaha untuk memperoleh penerimaan dari Tuhan melalui ketaatan kita sendiri. Kita hanya memiliki dua pilihan: menerima kekudusan sebagai pemberian Tuhan atau mencoba untuk melahirkan kekudusan kita sendiri. Legalisme adalah usaha untuk dibenarkan melalui sumber yang lain daripada Yesus Kristus dan pekerjaan-Nya yang telah genap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berpegang pada legalisme berarti percaya bahwa Salib itu tidak perlu atau tidak cukup (Gal 2:21, 5:2). Itu merupakan penafsiran yang tepat akan motif dan perbuatan Anda, walaupun Anda masih secara mental mengakui kebutuhan akan pengorbanan Kristus. Dalam usaha kita mengejar ketaatan dan kedewasaan, legalisme secara perlahan dan samar menguasai kita dan kita mulai mengganti pekerjaan kita untuk pekerjaan genap Kristus. Hasilnya adalah keangkuhan atau penghakiman. Bukannya bertumbuh dalam kasih karunia kita meninggalkan kasih karunia. Itulah penilaian Paulus terhadap gereja di Galatia ketika ia menulis, “Kamu lepas dari Kristus jikalau kamumengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia.” (Gal 5:4).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Untuk menghargai besarnya keprihatinan Paulus tentang legalisme, bacalah Galatia 1:6-9, 2:21, 3:1-4, 3:10, 4:8-11, 4:19-20, 5:2-4, dan 5:7-12.}}Kalau Anda telah berusaha menjalani hidup seperti ini, Anda mungkin sekarang telah belajar bahwa bahwa legalisme itu adalah sia-sia dan membuat frustrasi. Setiap usaha legalisme untuk memperoleh kekudusan akhirnya akan mengalami kegagalan. Selama bertahun-tahun saya telah belajar mengenali beberapa tanda yang sangat jelas dari adanya legalisme. Ini adalah beberapa diantaranya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Anda lebih menyadari akan dosa-dosa masa lalu Anda daripada pribadi dan pekerjaan genap Kristus.&lt;br /&gt;
* Anda hidup berpikir, percaya, dan merasa bahwa Tuhan kecewa terhadap Anda daripada bersukacita dalam Anda. Anda menganggap penerimaan Tuhan bergantung pada ketaatan Anda.&lt;br /&gt;
* Anda kurang sukacita. Ini sering menjadi indikasi pertama dari adanya legalisme. Penghakiman adalah hasil dari merenungkan ketidakcukupan kita; sukacita adalah hasil hari memikirkan kecukupan kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Pernahkan Anda dijerat oleh kehadiran legalisme yang samar? Kalau ya, sadarlah. Legalisme cenderung menyebar daripada tetap terbatasi (Gal 5:9). Legalisme harus dihilangkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Masalah dengan gereja Galatia bukanlah ketaatan pada hukum moral Allah; melainkan, ketergantungan pada hukum moral…untuk keselamatan.�UNIQ5886d59e2158e219-ref-0000001C-QINU — Jerry Bridges}}Satu-satunya cara efektif untuk mencabut legalisme adalah dengan doktrin pembenaran. Kalau Anda telah menelantarkan atau mengabaikan doktrin ini, maka buatlah tindakan sedramatis apapun yang dibutuhkan untuk berubah. Sediakan waktu setiap hari untuk mengulang, melatih, dan bersukacita atas kebenaran yang agung, objektif dan bersifat posisi ini. Batasi konsumsi spiritual Anda pada pembelajaran tentang pembenaran sampai Anda yakin akan penerimaan Tuhan, merasa aman di dalam kasih-Nya dan bebas dari legalisme dan penghakiman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penyaliban Yesus Kristus merupakan satu peristiwa sejarah yang paling menentukan. Dengan akurat Sinclair Ferguson menyatakan hal berikut: {{RightInsert|'''Renungkan Roma 7:14-25.''' Pada saat kita mengerti betul kebejatan kita sendiri kita akan lebih sulit untuk dicobai oleh legalisme.}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Waktu kita berpikir Kristus mati di kayu salib kita diperlihatkan seberapa panjangnya kasih Tuhan dengan tujuan memenangkan kita kembali kepada-Nya…Ia berkata kepada kita: Aku mengasihi Engkau sebesar ini… Salib adalah jantung Injil. Salib membuat Injil menjadi kabar baik: Kristus mati untuk kira. Ia telah berdiri di tempat kita di hadapan kursi penghakiman Allah. Ia menanggung dosa-dosa kita. Tuhan telah melakukan sesuatu di atas kayu salib yang tidak mungkin kita sendiri pernah dapat lakukan… Alasan kita kurang yakin akan kasih karunia-Nya adalah karena kita gagal untuk fokus kepada tempat itu dimana Ia menyatakannya.&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''Grow in Grace'' (Carlisle, PA: The Banner of Truth Trust, 1989), p. 56, 58–59.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Kemana Anda akan memfokuskan perhatian Anda? Apakah pada dosa-dosa masa lalu Anda, keadaan emosi Anda saat ini, atau area karakter dimana Anda masih perlu bertumbuh? Ataukah Anda akan fokus pada pekerjaan Kristus yang genap? Legalisme tidak perlu memotivasi Anda. Penghakiman tidak perlu menyiksa Anda. Allah telah membenarkan Anda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Dua kategori orang seperti apa yang digambarkan di Yakobus 1:22-25? Kelompok yang mana yang Tuhan janji akan berkati?}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Jangan Berargumentasi dengan Hakim ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengerti doktrin pembenaran secara intelektual dengan sendirinya tidaklah cukup. Tuhan menginginkan kita untuk mengalami transformasi – secara total, murni, dan permanen ditransform oleh kotrin penting ini. J.I. Packer telah menyatakan, “Masalahnya bukan, apakah seseorang dapat menyebutkan doktrin ini dengan keakuratan Firman yang penuh (hal itu, telah kita lihat, adalah pekerjaan yang membutuhlan ketelitian), tetapi, apakah seseorang tahu realitasnya dalam pengalaman.”&amp;lt;ref&amp;gt;J.I. Packer, ''God’s Words: Studies of Key Bible Themes'' (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1981), p. 147. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Kolose 2:13-15 menyatakan hutang kita yang sangat besar kepada Tuhan. Apa yang Yesus lakukan dengan surat tagihan hutang? }}Tujuan kami menulis buku ini bukan pada dasarnya Anda belajar bagaimana mengartikulasi doktrin agung ini tetapi Anda dirubah olehnya, bahwa pengertian Anda akan berbuah pada kebebasan pribadi dari legalisme dan penghakiman serta kasih dan semangat yang bertambah-tambah kepada Yesus Kristus. Adalah mungkin menyadari pembenaran oleh kasih karunia tanpa terpengaruh secara pribadi. Kita perlu menghargai dan mempraktekan kebenaran besar ini setiap hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cerita yang akan saya bagikan merupakan sebuah pelajaran penuh kuasa bagi saya setelah saya mempejalari benar doktrin pembenaran. Selama hari-hari sebelum pertobatan saya sebagai mahasiswa tahun pertama, saya ditangkap karena kepemilikan mariyuana. Detail peristiwa tersebut masih sangat jelas di benak saya. Saat saya duduk di ruang sidang menghadapi hakin, saya mencoba sebisa saya untuk terlihat tulus dan tersiksa, tetapi saya hanya bisa ketakutan. Saya tahu ada kesempatan besar saya akan dijatuhi hukuman dan dituduh dengan pelanggaran tambahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Adalah tidak cukup untuk hanya mengetahui bahwa Yesus telah mati, atau bahkan mengapa Ia mati. Pengetahuan tersebut merupakan hasil dari “iman yang hanya bersifat sejarah” yang tidak dapat menyelamatkan… Hanya pada waktu kita menyadari bahwa Kristus diberi pro me, pro nobis (“untuk aku,” “untuk kita”) kita telah membedakan pentingnya pencapaian Kristus. �UNIQ5886d59e2158e219-ref-0000001F-QINU — Timothy George}}Ternyata, kasus saya tidak pernah mengalami kemajuan setelah saksi pertama. Karena polisi menggeledah kamar saya tanpa surat resmi yang dibutuhkan, bantah pengacaran saya, pengadilan harus mencabut gugatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hakim duduk mendengarkan dengan sabar saat jaksa mengajukan keberatan dan mengulang kembali bukti-bukti yang memberatkan saya. Akhirnya, ia melihat ke arah saya. Pria itu jelas terlihat frustasi. Tidak berkuasa untuk memberi lebih dari teguran, ia menguliahi saya dengan kata-kata yang sekeras-kerasnya. Saya mencoba untuk kelihatan menyesal. Saya menganggukan kepada saya atas setiap penyataan. Tapi saya tidak ingat apapun yang ia katakan – saya terlalu gembira karena kenyataan bahwa ia akan melepas saya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika saya disidang saya tahu bahwa saya bersalah. Saya kira semua orang mengetahui itu. Tetapi pada waktu hakim membebaskan saya, saya tidak berargumentasi dengannya. Saya tidak meminta dan memohon kepada hakim untuk melanjutkan kasus itu. Saya tidak memintanya untuk mengabaikan teknis legalitas dan mengijinkan jaksa untuk terus maju. Hanya kali ini saya dengan gembira tunduk kepada seseorang yang memiliki otoritas lebih besar. Bila sang hakim ingin melepaskan pelanggaran itu, saya akan dengan senang hati menerima keputusannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Renungkan Ulangan 31:8.''' Daripada melanggar janji-Nya yang indah kepada kita (meskipun kita tidak pernah layak diberi janji seperti itu), Tuhan meninggalkan Putra-Nya sendiri.}}Setiap dari kita berdiri bersalah di hadapan Hakim dari segalanya. Tetapi kejahatan kita menentang-Nya berada di tingkat yang secara total berbeda dengan kesalahan saya. Dan walaupun saya diloloskan karena hal teknis, kita telah dinyatakan benar atas dasar pengorbanan Kristus yang telah direncanakan dan bersifat menggantikan kita itu. Yesus Kristus secara suka rela dan sengaja memberikan hidup-Nya sepaya Allah dapat tetap adil saat membenarkan yang bersalah – Anda dan saya. Allah telah menyatakan kita benar. Yang tertinggal hanyalah masalah apakah kita akan menerima pernyataan ini. Pilihan untuk menerima atau tidak berada di hadapan kita setiap hari, sering berkali-kali dalam satu hari: Akankah kita menerima pembenaran karena iman karena pernyataan oleh Tuhan, atau akankah kita mengijinkan penghakiman dan legalisme untu menguasai kita saat kita bergantung pada perasaan dan ketaatan kita?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Kehidupan Kristen melibatkan bukan saja percaya sesuatu tentang Kristus tetapi juga percaya sesuatu tentang diri kita sendiri… Iman kita di dalam Kristus harus mencakup percaya bahwa kita adalah apa yang Alkitab katakan tentang kita.&amp;quot; — Anthony Hoekema}}Tentukanlah bahwa emosi Anda yang tidak stabil dan tidak terprediksi tidak akan medikte atau menipu Anda. Jangan ijinkan emosi-emosi itu untuk menjadi otoritas terakhir di dalam hidup Anda. Percayalah apa yang Tuhan katakan tentang Anda. Kalau Anda bijaksana Anda akan mengikuti teladan saya: Jangan berargumentasi dengan Hakim.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Ditinggalkan Demi Pengampunan Kita ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah yang menciptakan Anda menerima Anda. Anak-Nya secara suka rela menghadapi kengerian Salib yang tidak terbayangkan, ditinggalkan Allah Bapa dan manusia, demi untuk membenarkan Anda. Ia dibuang supaya kita bisa diampuni. Ia mengalami perpisahan supaya kita dapat selamanya aman dalam kasih Allah. Ia menanggung murka Allah sehingga kita tidak pernah perlu melakukannya. “Yesus yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitakan karena pembenaran kita” (Rom 4:25). Anda telah dibenarkan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah mengherankan Reformasi merubah sejarah Gereja? Tidak ada cara apapun untuk mengekang doktrin ini. Sekali doktrin ini dilepas ia akan merubah hidup setiap orang yang disentuhnya – termasuk Anda sendiri. &amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Diskusi Kelompok ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# Di halaman 52 pengarang menulis, “Anda tidak akan pernah lebih dibenarkan daripada Anda saat ini.” Bagaimana kalimat ini mempengaruhi usaha-usaha Anda untuk menjalani hidup yang menyenangkan Tuhan?&lt;br /&gt;
# Renungkan dengan tenang untuk satu atau dua menit tentang Salib. Menurut Anda apakah yang Yesus rasakan waktu ia menyaradari Allah telah meninggalkan-Nya?&lt;br /&gt;
# Apakah mungkin untuk terlalu fokus pada menjadi serupa dengan teladan Kristus?&lt;br /&gt;
# Apa yang membuat legalisme menjadi sebuah penyimpangan sesat yang tak disadari?&lt;br /&gt;
# Bagaimana kita mengimbangi doktrin pembenaran dan penyucian tanpa oleng kepada legalisme ataupun ijin?&lt;br /&gt;
# Satu hal apa yang dapat kontribusi bagi pembenaran kita?(Petunjuk: Tidak ada yang perlu disombongkan!)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bacaan yang Direkomendasikan ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Cross of Christ'' by John R. W. Stott (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1986)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Discipline of Grace'' by Jerry Bridges (Colorado Springs, CO: NavPress, 1994)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Atonement'' by Leon Morris (Downwers Grove, IL: InterVarsity Press, 1984)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Catatan ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Sukartay</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/Justified_by_Christ/id</id>
		<title>This Great Salvation/Justified by Christ/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/Justified_by_Christ/id"/>
				<updated>2007-12-28T12:55:49Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Sukartay: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;= Dibenarkan Oleh Yesus =&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum Martin Luther menjadi terkenal karena peran pentingnya dalam Reformasi, ia dikenal seluruh Eropa sebagai seorang pelajar hukum yang brilian. Yang paling banyak mempengaruhi pendeta pengikut Agustinus ini adalah pembelajarannya akan hukum Allah di dalam Firman Tuhan. Saat ia merenungkan perintah-perintah Allah, ia menjadi sangat menyadari murka Allah. Setiap kali ia mempelajari pribadi dan pekerjaan Yesus Kristus ia mengenal inilah Yang benar yang pada akhirnya akan menghakiminya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesadaran yang terus menerus itu merongrong Luther dengan perasaan bersalah yang tak terbendung. Sementara rekan-rekannya menghabiskan beberapa menit untuk mengaku dosa, ia menghabiskan berjam-jam. Sebagian orang mengira bahwa mentalnya tidak stabil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teolog Anthony Hoekema menggambarkan kesedihan mental itu membawa pada penemuan teologi besar Luther:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Martin Luther telah mencoba segalanya: tidur di atas lantai yang keras, tidak makan, bahkan menaiki sebuah tangga di Roma dengan tangan dan lututnya – tapi tidak berhasil. Para gurunya di biara memberitahunya bahwa ia telah melakukan cukup untuk mendapatkan kedamaian jiwa. Tapi ia tidak memiliki damai. Kesadarannya akan dosa terlalu dalam.&lt;br /&gt;
:Ia telah mempelajari kitab Mazmur. Kitab ini sering menyebut “kebenaran Tuhan.” Tapi istilah ini mengganggunya. Ia mengira itu berarti kebenaran Tuhan yang menghukum, dimana Ia menghukum orang berdosa. Dan Luther mengetahui ia adalah orang berdosa. Jadi manakala ia melihat kata kebenaran di dalam Alkitab, ia melihat merah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Pembenaran adalah memang jawaban Allah bagi semua pertanyaan manusia yang paling penting: Bagaimana seorang pria atau wanita dibenarkan dengan Tuhan? Kita tidak dibenarkan dengan Tuhan dengan sendirinya. Kita berada di bahwa murka Allah. Pembenaran adalah sangat penting, karena kita harus dibenarkan dengan Allah atau kita binasa selamanya… Kesulitannya adalah mayoritas orang saat ini tidak merasakan kebutuhan di area ini. Martin Luther telah merasakannya; hal itu menghantuinya. Ia tahu bahwa ia tidak benar dengan Allah, dan ia mengantisipasi konfrontasi dengan Allah yang murka di penghakiman terakhir. Allah menunjukkan kepadanya bahwa ia bisa mengalami hubungan yang benar dengan Allah melalui pekerjaan Yesus Kristus. Tetapi di jaman ini siapa yang merasakan intensitas kepedihan Luther?�James Montgomery Boice, ''Romans, Vol. I'' (Grand Rapids, MI: Baker Book House, 1991), p. 380, 447}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Pada suatu hari ia membuka kitab Roma. Di sana ia membaca tentang injil Kristus yang adalah kekuatan Allah untuk keselamatan (1:16). Ini adalah sebuah kabar baik! Tetapi ayat selanjutnya berkata, “Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah“- ada kata buruk ''kebenaran'' itu lagi! Dan depresi Luther kembali lagi. Hal itu menjadi lebih buruk ketika ia meneruskan membaca tentang murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia (ayat 18).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka Luther kembali ke ayat 17 lagi. Bagaimana bisa Paulus menuliskan kata-kata mengerikan seperti itu?...Tiba-tiba pencerahan datang padanya. “Kebenaran Tuhan” yang Paulus maksud di sini bukanlah keadilan Tuhan yang bersifat menghukum yang membuatNya menghukum orang berdosa, melainkan kebenaran yang Tuhan ''berikan'' kepada orang berdosa yang membutuhkan, dan yang orang berdosa itu terima dengan ''iman''. Ini adalah kebenaran yang sempurna dan tidak bercacat, didapatkan oleh Kristus, yang dengan kemurahan Tuhan berikan pada semua yang percaya. Luther tidak perlu lagi mencari dasar untuk kedamaian jiwa di dalam dirinya, di dalam perbuatan baiknya sendiri. Sekarang ia dapat melihat lepas dari dirinya sendiri dan melihat kepada Kristus, hidup dengan iman daripada bersembunyi dalam ketakutan. Pada saat itulah Reformasi Protestan lahir.&amp;lt;ref&amp;gt;Anthony Hoekema, ''Saved by Grace'' (Grand Rapids, MI: Wm. B. Eerdmans Co., 1989), p. 152. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Renungkan Roma 1:17.''' Frase kunci apa di ayat ini yang merevolusi pengertian Martin Luther tentang keselamatan? Bagaimana pengaruhnya bagi Anda?}}Luther melanjutkan dengan berkata bahwa doktrin pembenaran adalah doktrin yang olehnya Gereja berdiri atau jatuh. “Doktrin ini merupakan kepala dan batu penjuru Gereja yang melahirkan, memelihara, membangun dan melindungi Gereja. Tanpanya gereja Tuhan tidak dapat bertahan hidup untuk satu jam.”&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''The Christian Life: A Doctrinal Introduction'' (Carlisle, PA: The Banner of Truth Trust, 1989), p. 80. &amp;lt;/ref&amp;gt;Di poin yang lain ia menambahkan, “Bila doktrin pembenaran ini hilang, maka semua doktrin kekristenan yang benar hilang.”&amp;lt;ref&amp;gt;John R.W. Stott, ''Only One Way: The Message of Galatians'' (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1968), p. 60. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketakutan Luther akan murka Allah telah dibenarkan, seperti kita pelajari di bab sebelumnya. Semua orang Kristen harus mengingat siapa dan apa mereka sebelumnya: jahat dalam perilaku mereka, musuh Allah, sepenuhnya terasing dari-Nya, dan sasaran kemarahan-Nya. Tetapi mengenali masa lalu hanya memiliki nilai sejauh hal itu membuat kita menyadari dan mengagumi akan posisi kita sekarang di dalam Kristus. Kita harus mengenali siapa ''kita sekarang'' karena hadiah kemurahan Tuhan akan pembenaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka yang telah menerima pekerjaan pembenaran Kristus mengalami sebuah perubahan yang dramatis dan luar biasa. Kita telah dibenarkan karena iman melalui anugerah yang besar dari Allah yang Maha Kuasa. Tanpa pengetahuan yang akurat dan pengetahuan yang datang dari pengalaman tentang pembenaran Gereja “tidak dapat bertahan hidup untuk satu jam”…sedikitnya tidak dengan keotentikan. Kita pun juga tidak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Posisi atau Proses? ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Pada saat Yesus mati di kayu salib, tirai bait suci yang memisahkan tempat suci dengan tempat paling suci secara supernatural robek menjadi dua. Untuk mengerti pentingnya peristiwa itu, bacalah Ibrani 9:1-14.}}Pembenaran adalah istilah resmi yang berarti “mendeklarasikan benar.” Hoekema mendefinisikan pembenaran sebagai “perubahan permanen dalam hubungan yuridis kita dengan Tuhan dimana kita diampuni dari tuduhan bersalah, dan dimana Tuhan mengampuni semua dosa-dosa kita di atas dasar pekerjaan Yesus Kristus yang telah tergenapi.”&amp;lt;ref&amp;gt;Anthony Hoekema, ''Saved by Grace'', p. 178. &amp;lt;/ref&amp;gt;Walaupun kita bersalah di hadapan Hakim semesta yang kudus, setelah melanggar hukum-Nya dan layak menerima murka-Nya, Ia telah mendeklarasikan kita sebagai benar. Bagaimana? Atas dasar apa yang Yesus Kristus telah capai di Kayu Salib. Hanya Salib dapat membuat kita dapat diterima di hadapan Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pembenaran adalah sebuah hadiah yang kita terima dari Tuhan, bukan sesuatu yang kita peroleh atau capai. Kita tidak bertanggung jawan ataupun mampu untuk menyumbang bagi pembenaran kita di hadapan Tuhan. Status benar ini tidak bisa dicapai atau dilayakan, hanya diterima dan dihargai. Kita menerima apa yang Kristus dan Kristus sendiri capai untuk kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk dapat sepenuhnya mengerti akan kebenaran yang ajaib ini, adalah esensial kita membedakan pembenaran (justification) dan penyucian (sanctification). Walaupun kedua doktrin ini tidak dapat dipisahkan, kita harus membedakan antara perannya masing-masing di dalam kehidupan iman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Tiada seorangpun yang mengerti kekristenan yang tidak memahami kata ini. Yaitu kata 'dibenarkan.'&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;UNIQ40abc13d0c3d96-ref-00000017-QINU&amp;lt;/ref&amp;gt; — John Stott}}Pembenaran berarti kita ''dinyatakan'' benar. Penyucian berarti kita sedang ''dibuat'' benar. (Pahami perbedaan itu saja dan hidup Anda tidak akan pernah sama lagi!) Pembenaran adalah ''hadiah'' kekudusan; penyucian adalah ''pelatihan'' kekudusan. Mungkin yang paling kritikal, pembenaran adalah sebuah ''posisi'' – yang dibuat segera dan secara komplit setelah pertobatan – sedangkan penyucian adalah sebuah proses dari perubahan internal dan pengembangan karakter yang dimulai pada saat regenerasi dan terus berlanjut selama kita hidup. “Di dalam Firman Ruhan,” tulis Sinclair Ferguson, “membenarkan bukan berarti membuat benar seperti merubah karakter seseorang. Membenarkan artinya menjadikan benar dengan cara mendeklarasikan.”&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''The Christian Life'', p. 72. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Pembenaran adalah sebuah PERBUATAN. Pembenaran bukanlah pekerjaan, atau satu seri perbuatan. Pembenaran tidak progresif. Orang percaya yang paling lemah dan orang kudus yang paling kuat adalah serupa dan dibenarkan secara sama. Pembenaran tidak mengakui adanya tingkatan. Seseorang, hanya bisa seluruhnya dibenarkan atau seluruhnya dikutuk di hadapan Allah.&amp;lt;ref&amp;gt;UNIQ40abc13d0c3d96-ref-00000019-QINU&amp;quot;&amp;lt;/ref&amp;gt; — William S. Plumer}}Pembenaran bukanlah sebuah proses. Pembenaran adalah sebuah deklarasi, sebuah pernyataan ilahi yang tidak dapat ditantang, dirubah ataupun dinaikbanding. Paulus secara empati berkata, “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus” (Rom 5:1). Transformasi mulia ini tidak terjadi sedikit demi sedikit, dan juga tidak berubah-ubah. Anda tidak lebih dibenarkan selama jangka waktu tertentu daripada jangka waktu lainnya. Hal ini perlu ditegaskan kembali: ''Anda tidak akan pernah lebih dibenarkan daripada keadaan Anda saat ini.'' Di atas itu semua, tidak seorangpun dalam sejarah pernah lebih dibenarkan daripada Anda sekarang. Martin Luther tidak, Paulus tidak – seorang pun tidak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Apakah Anda pernah dirampas dari buah-buah keselamatan Anda yang agung? Jawablah kuis Benar/Salah berikut ini untuk memastikan Anda mengerti perbedaan antara pembenaran dan penyucian. (Jawaban ada di catatan kaki.&amp;lt;ref&amp;gt;UNIQ40abc13d0c3d96-ref-0000001A-QINU)&amp;lt;/ref&amp;gt; * Pembenaran adalah hasil dari penyucian. '''B S''' * Penyucian adalah proses sepanjang hidup. '''B S''' * Kasih Allah untuk kita bertumbuh sesuai dengan kedewasaan kita. '''B S''' * Pembenaran mengacu kepada posisi kita di dalam Kristus, penyucian mengacu pada proses. '''B S''' * Merubah kebiasaan-kebiasaan berdosa membuat kita lebih benar. '''B S''' * Pertumbuhan rohani adalah bukti yang baik bahwa kita telah dibenarkan. '''B S'''}}Banyak orang Kristen yang bingung tentang doktrin pembenaran dan penyucian dan oleh karenanya tidak bisa merasakan sepenuhnya berkat-berkat yang keselamatan agung ini hasilkan. Adalah sangat penting kita mengerti perbedaan antara posisi kita (pembenaran) dan pelatihan kita (penyucian). Sementara penyucian adalah bukti dan tujuan dari pembenaran, penyucian tidak boleh dipandang sebagai dasar dari pembenaran di hadapan Tuhan, tidak peduli betapa menjadi dewasanya kita. Kita tidak mampu menambahkan apa yang Kristus telah raih. Seperti Alister McGrath katakan, “Satu-satunya hal yang bisa dibilang kita kontribusikan dalam pembenaran kita adalah dosa yang telah Tuhan ampuni dengan kemurahan.” Kita dibenarkan hanya karena anugerah semata.&amp;lt;ref&amp;gt;Alister McGrath, ''Justification by Faith'' (Grand Rapids, MI: Zondervan Publishing House, 1988), p. 132. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Membuat Frustrasi dan Sia-Sia ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Doktrin pembenaran perlu dijalankan dan ditengok secara terus menerus, seperti yang Martin Luther sadari betul. Nasihat Martin Luther yang biasa terus terang? “Tempelkan itu ke kepala mereka terus menerus.”&amp;lt;ref&amp;gt;John R.W. Stott, ''Only One Way'', p. 59. &amp;lt;/ref&amp;gt;Sebagai tambahan bagi pengulangan ulet dari para pemimpin kita, kita perlu mempraktekan dan menghargai kebenaran dari pembenaran di dalam hidup kita sehari-hari. Kalau tidak, kita akan menemukan diri kita mudah jatuh dalam salah satu musuh Gereja yang paling serius dan tidak kentara: legalisme.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Kemuliaan Injil adalah bahwa Allah menyatakan orang Kristen memiliki hubungan yang benar dengan-Nya meskipun adanya dosa-dosa mereka. Tetapi pencobaan dan kesalahan terbesar kita adalah berusaha menyusupkan karakter ke dalam pekerjaan kasih karunia-Nya. Betapa mudahnya kita jatuh ke dalam jebakan anggapan bahwa kita hanya tetap dibenarkan selama ada dasarnya pada karakter kita untuk pembenaran itu. Tetapi ajaran Paulus adalah tidak ada yang dapat kita perbuat untuk menyumbang bagi pembenaran kita.&amp;lt;ref&amp;gt;UNIQ40abc13d0c3d96-ref-0000001D-QINU&amp;quot;&amp;lt;/ref&amp;gt; — Sinclair Ferguson}}Legalisme melibatkan usaha untuk memperoleh penerimaan dari Tuhan melalui ketaatan kita sendiri. Kita hanya memiliki dua pilihan: menerima kekudusan sebagai pemberian Tuhan atau mencoba untuk melahirkan kekudusan kita sendiri. Legalisme adalah usaha untuk dibenarkan melalui sumber yang lain daripada Yesus Kristus dan pekerjaan-Nya yang telah genap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berpegang pada legalisme berarti percaya bahwa Salib itu tidak perlu atau tidak cukup (Gal 2:21, 5:2). Itu merupakan penafsiran yang tepat akan motif dan perbuatan Anda, walaupun Anda masih secara mental mengakui kebutuhan akan pengorbanan Kristus. Dalam usaha kita mengejar ketaatan dan kedewasaan, legalisme secara perlahan dan samar menguasai kita dan kita mulai mengganti pekerjaan kita untuk pekerjaan genap Kristus. Hasilnya adalah keangkuhan atau penghakiman. Bukannya bertumbuh dalam kasih karunia kita meninggalkan kasih karunia. Itulah penilaian Paulus terhadap gereja di Galatia ketika ia menulis, “Kamu lepas dari Kristus jikalau kamumengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia.” (Gal 5:4).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Untuk menghargai besarnya keprihatinan Paulus tentang legalisme, bacalah Galatia 1:6-9, 2:21, 3:1-4, 3:10, 4:8-11, 4:19-20, 5:2-4, dan 5:7-12.}}Kalau Anda telah berusaha menjalani hidup seperti ini, Anda mungkin sekarang telah belajar bahwa bahwa legalisme itu adalah sia-sia dan membuat frustrasi. Setiap usaha legalisme untuk memperoleh kekudusan akhirnya akan mengalami kegagalan. Selama bertahun-tahun saya telah belajar mengenali beberapa tanda yang sangat jelas dari adanya legalisme. Ini adalah beberapa diantaranya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Anda lebih menyadari akan dosa-dosa masa lalu Anda daripada pribadi dan pekerjaan genap Kristus.&lt;br /&gt;
* Anda hidup berpikir, percaya, dan merasa bahwa Tuhan kecewa terhadap Anda daripada bersukacita dalam Anda. Anda menganggap penerimaan Tuhan bergantung pada ketaatan Anda.&lt;br /&gt;
* Anda kurang sukacita. Ini sering menjadi indikasi pertama dari adanya legalisme. Penghakiman adalah hasil dari merenungkan ketidakcukupan kita; sukacita adalah hasil hari memikirkan kecukupan kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Pernahkan Anda dijerat oleh kehadiran legalisme yang samar? Kalau ya, sadarlah. Legalisme cenderung menyebar daripada tetap terbatasi (Gal 5:9). Legalisme harus dihilangkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Masalah dengan gereja Galatia bukanlah ketaatan pada hukum moral Allah; melainkan, ketergantungan pada hukum moral…untuk keselamatan.&amp;lt;ref&amp;gt;UNIQ40abc13d0c3d96-ref-0000001E-QINU&amp;quot;&amp;lt;/ref&amp;gt; — Jerry Bridges}}Satu-satunya cara efektif untuk mencabut legalisme adalah dengan doktrin pembenaran. Kalau Anda telah menelantarkan atau mengabaikan doktrin ini, maka buatlah tindakan sedramatis apapun yang dibutuhkan untuk berubah. Sediakan waktu setiap hari untuk mengulang, melatih, dan bersukacita atas kebenaran yang agung, objektif dan bersifat posisi ini. Batasi konsumsi spiritual Anda pada pembelajaran tentang pembenaran sampai Anda yakin akan penerimaan Tuhan, merasa aman di dalam kasih-Nya dan bebas dari legalisme dan penghakiman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penyaliban Yesus Kristus merupakan satu peristiwa sejarah yang paling menentukan. Dengan akurat Sinclair Ferguson menyatakan hal berikut: {{RightInsert|'''Renungkan Roma 7:14-25.''' Pada saat kita mengerti betul kebejatan kita sendiri kita akan lebih sulit untuk dicobai oleh legalisme.}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Waktu kita berpikir Kristus mati di kayu salib kita diperlihatkan seberapa panjangnya kasih Tuhan dengan tujuan memenangkan kita kembali kepada-Nya…Ia berkata kepada kita: Aku mengasihi Engkau sebesar ini… Salib adalah jantung Injil. Salib membuat Injil menjadi kabar baik: Kristus mati untuk kira. Ia telah berdiri di tempat kita di hadapan kursi penghakiman Allah. Ia menanggung dosa-dosa kita. Tuhan telah melakukan sesuatu di atas kayu salib yang tidak mungkin kita sendiri pernah dapat lakukan… Alasan kita kurang yakin akan kasih karunia-Nya adalah karena kita gagal untuk fokus kepada tempat itu dimana Ia menyatakannya.&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''Grow in Grace'' (Carlisle, PA: The Banner of Truth Trust, 1989), p. 56, 58–59.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Kemana Anda akan memfokuskan perhatian Anda? Apakah pada dosa-dosa masa lalu Anda, keadaan emosi Anda saat ini, atau area karakter dimana Anda masih perlu bertumbuh? Ataukah Anda akan fokus pada pekerjaan Kristus yang genap? Legalisme tidak perlu memotivasi Anda. Penghakiman tidak perlu menyiksa Anda. Allah telah membenarkan Anda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Dua kategori orang seperti apa yang digambarkan di Yakobus 1:22-25? Kelompok yang mana yang Tuhan janji akan berkati?}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Jangan Berargumentasi dengan Hakim ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengerti doktrin pembenaran secara intelektual dengan sendirinya tidaklah cukup. Tuhan menginginkan kita untuk mengalami transformasi – secara total, murni, dan permanen ditransform oleh kotrin penting ini. J.I. Packer telah menyatakan, “Masalahnya bukan, apakah seseorang dapat menyebutkan doktrin ini dengan keakuratan Firman yang penuh (hal itu, telah kita lihat, adalah pekerjaan yang membutuhlan ketelitian), tetapi, apakah seseorang tahu realitasnya dalam pengalaman.”&amp;lt;ref&amp;gt;J.I. Packer, ''God’s Words: Studies of Key Bible Themes'' (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1981), p. 147. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Kolose 2:13-15 menyatakan hutang kita yang sangat besar kepada Tuhan. Apa yang Yesus lakukan dengan surat tagihan hutang? }}Tujuan kami menulis buku ini bukan pada dasarnya Anda belajar bagaimana mengartikulasi doktrin agung ini tetapi Anda dirubah olehnya, bahwa pengertian Anda akan berbuah pada kebebasan pribadi dari legalisme dan penghakiman serta kasih dan semangat yang bertambah-tambah kepada Yesus Kristus. Adalah mungkin menyadari pembenaran oleh kasih karunia tanpa terpengaruh secara pribadi. Kita perlu menghargai dan mempraktekan kebenaran besar ini setiap hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cerita yang akan saya bagikan merupakan sebuah pelajaran penuh kuasa bagi saya setelah saya mempejalari benar doktrin pembenaran. Selama hari-hari sebelum pertobatan saya sebagai mahasiswa tahun pertama, saya ditangkap karena kepemilikan mariyuana. Detail peristiwa tersebut masih sangat jelas di benak saya. Saat saya duduk di ruang sidang menghadapi hakin, saya mencoba sebisa saya untuk terlihat tulus dan tersiksa, tetapi saya hanya bisa ketakutan. Saya tahu ada kesempatan besar saya akan dijatuhi hukuman dan dituduh dengan pelanggaran tambahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Adalah tidak cukup untuk hanya mengetahui bahwa Yesus telah mati, atau bahkan mengapa Ia mati. Pengetahuan tersebut merupakan hasil dari “iman yang hanya bersifat sejarah” yang tidak dapat menyelamatkan… Hanya pada waktu kita menyadari bahwa Kristus diberi pro me, pro nobis (“untuk aku,” “untuk kita”) kita telah membedakan pentingnya pencapaian Kristus. &amp;lt;ref&amp;gt;UNIQ40abc13d0c3d96-ref-00000021-QINU&amp;quot;&amp;lt;/ref&amp;gt; — Timothy George}}Ternyata, kasus saya tidak pernah mengalami kemajuan setelah saksi pertama. Karena polisi menggeledah kamar saya tanpa surat resmi yang dibutuhkan, bantah pengacaran saya, pengadilan harus mencabut gugatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hakim duduk mendengarkan dengan sabar saat jaksa mengajukan keberatan dan mengulang kembali bukti-bukti yang memberatkan saya. Akhirnya, ia melihat ke arah saya. Pria itu jelas terlihat frustasi. Tidak berkuasa untuk memberi lebih dari teguran, ia menguliahi saya dengan kata-kata yang sekeras-kerasnya. Saya mencoba untuk kelihatan menyesal. Saya menganggukan kepada saya atas setiap penyataan. Tapi saya tidak ingat apapun yang ia katakan – saya terlalu gembira karena kenyataan bahwa ia akan melepas saya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika saya disidang saya tahu bahwa saya bersalah. Saya kira semua orang mengetahui itu. Tetapi pada waktu hakim membebaskan saya, saya tidak berargumentasi dengannya. Saya tidak meminta dan memohon kepada hakim untuk melanjutkan kasus itu. Saya tidak memintanya untuk mengabaikan teknis legalitas dan mengijinkan jaksa untuk terus maju. Hanya kali ini saya dengan gembira tunduk kepada seseorang yang memiliki otoritas lebih besar. Bila sang hakim ingin melepaskan pelanggaran itu, saya akan dengan senang hati menerima keputusannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Renungkan Ulangan 31:8.''' Daripada melanggar janji-Nya yang indah kepada kita (meskipun kita tidak pernah layak diberi janji seperti itu), Tuhan meninggalkan Putra-Nya sendiri.}}Setiap dari kita berdiri bersalah di hadapan Hakim dari segalanya. Tetapi kejahatan kita menentang-Nya berada di tingkat yang secara total berbeda dengan kesalahan saya. Dan walaupun saya diloloskan karena hal teknis, kita telah dinyatakan benar atas dasar pengorbanan Kristus yang telah direncanakan dan bersifat menggantikan kita itu. Yesus Kristus secara suka rela dan sengaja memberikan hidup-Nya sepaya Allah dapat tetap adil saat membenarkan yang bersalah – Anda dan saya. Allah telah menyatakan kita benar. Yang tertinggal hanyalah masalah apakah kita akan menerima pernyataan ini. Pilihan untuk menerima atau tidak berada di hadapan kita setiap hari, sering berkali-kali dalam satu hari: Akankah kita menerima pembenaran karena iman karena pernyataan oleh Tuhan, atau akankah kita mengijinkan penghakiman dan legalisme untu menguasai kita saat kita bergantung pada perasaan dan ketaatan kita?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Kehidupan Kristen melibatkan bukan saja percaya sesuatu tentang Kristus tetapi juga percaya sesuatu tentang diri kita sendiri… Iman kita di dalam Kristus harus mencakup percaya bahwa kita adalah apa yang Alkitab katakan tentang kita.&amp;quot; — Anthony Hoekema}}Tentukanlah bahwa emosi Anda yang tidak stabil dan tidak terprediksi tidak akan medikte atau menipu Anda. Jangan ijinkan emosi-emosi itu untuk menjadi otoritas terakhir di dalam hidup Anda. Percayalah apa yang Tuhan katakan tentang Anda. Kalau Anda bijaksana Anda akan mengikuti teladan saya: Jangan berargumentasi dengan Hakim.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Ditinggalkan Demi Pengampunan Kita ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah yang menciptakan Anda menerima Anda. Anak-Nya secara suka rela menghadapi kengerian Salib yang tidak terbayangkan, ditinggalkan Allah Bapa dan manusia, demi untuk membenarkan Anda. Ia dibuang supaya kita bisa diampuni. Ia mengalami perpisahan supaya kita dapat selamanya aman dalam kasih Allah. Ia menanggung murka Allah sehingga kita tidak pernah perlu melakukannya. “Yesus yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitakan karena pembenaran kita” (Rom 4:25). Anda telah dibenarkan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah mengherankan Reformasi merubah sejarah Gereja? Tidak ada cara apapun untuk mengekang doktrin ini. Sekali doktrin ini dilepas ia akan merubah hidup setiap orang yang disentuhnya – termasuk Anda sendiri. &amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Diskusi Kelompok ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# Di halaman 52 pengarang menulis, “Anda tidak akan pernah lebih dibenarkan daripada Anda saat ini.” Bagaimana kalimat ini mempengaruhi usaha-usaha Anda untuk menjalani hidup yang menyenangkan Tuhan?&lt;br /&gt;
# Renungkan dengan tenang untuk satu atau dua menit tentang Salib. Menurut Anda apakah yang Yesus rasakan waktu ia menyaradari Allah telah meninggalkan-Nya?&lt;br /&gt;
# Apakah mungkin untuk terlalu fokus pada menjadi serupa dengan teladan Kristus?&lt;br /&gt;
# Apa yang membuat legalisme menjadi sebuah penyimpangan sesat yang tak disadari?&lt;br /&gt;
# Bagaimana kita mengimbangi doktrin pembenaran dan penyucian tanpa oleng kepada legalisme ataupun ijin?&lt;br /&gt;
# Satu hal apa yang dapat kontribusi bagi pembenaran kita?(Petunjuk: Tidak ada yang perlu disombongkan!)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bacaan yang Direkomendasikan ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Cross of Christ'' by John R. W. Stott (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1986)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Discipline of Grace'' by Jerry Bridges (Colorado Springs, CO: NavPress, 1994)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Atonement'' by Leon Morris (Downwers Grove, IL: InterVarsity Press, 1984)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Catatan ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Sukartay</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/Justified_by_Christ/id</id>
		<title>This Great Salvation/Justified by Christ/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/Justified_by_Christ/id"/>
				<updated>2007-12-28T12:47:25Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Sukartay: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;= Dibenarkan Oleh Yesus =&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum Martin Luther menjadi terkenal karena peran pentingnya dalam Reformasi, ia dikenal seluruh Eropa sebagai seorang pelajar hukum yang brilian. Yang paling banyak mempengaruhi pendeta pengikut Agustinus ini adalah pembelajarannya akan hukum Allah di dalam Firman Tuhan. Saat ia merenungkan perintah-perintah Allah, ia menjadi sangat menyadari murka Allah. Setiap kali ia mempelajari pribadi dan pekerjaan Yesus Kristus ia mengenal inilah Yang benar yang pada akhirnya akan menghakiminya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesadaran yang terus menerus itu merongrong Luther dengan perasaan bersalah yang tak terbendung. Sementara rekan-rekannya menghabiskan beberapa menit untuk mengaku dosa, ia menghabiskan berjam-jam. Sebagian orang mengira bahwa mentalnya tidak stabil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teolog Anthony Hoekema menggambarkan kesedihan mental itu membawa pada penemuan teologi besar Luther:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Martin Luther telah mencoba segalanya: tidur di atas lantai yang keras, tidak makan, bahkan menaiki sebuah tangga di Roma dengan tangan dan lututnya – tapi tidak berhasil. Para gurunya di biara memberitahunya bahwa ia telah melakukan cukup untuk mendapatkan kedamaian jiwa. Tapi ia tidak memiliki damai. Kesadarannya akan dosa terlalu dalam.&lt;br /&gt;
:Ia telah mempelajari kitab Mazmur. Kitab ini sering menyebut “kebenaran Tuhan.” Tapi istilah ini mengganggunya. Ia mengira itu berarti kebenaran Tuhan yang menghukum, dimana Ia menghukum orang berdosa. Dan Luther mengetahui ia adalah orang berdosa. Jadi manakala ia melihat kata kebenaran di dalam Alkitab, ia melihat merah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Pembenaran adalah memang jawaban Allah bagi semua pertanyaan manusia yang paling penting: Bagaimana seorang pria atau wanita dibenarkan dengan Tuhan? Kita tidak dibenarkan dengan Tuhan dengan sendirinya. Kita berada di bahwa murka Allah. Pembenaran adalah sangat penting, karena kita harus dibenarkan dengan Allah atau kita binasa selamanya… Kesulitannya adalah mayoritas orang saat ini tidak merasakan kebutuhan di area ini. Martin Luther telah merasakannya; hal itu menghantuinya. Ia tahu bahwa ia tidak benar dengan Allah, dan ia mengantisipasi konfrontasi dengan Allah yang murka di penghakiman terakhir. Allah menunjukkan kepadanya bahwa ia bisa mengalami hubungan yang benar dengan Allah melalui pekerjaan Yesus Kristus. Tetapi di jaman ini siapa yang merasakan intensitas kepedihan Luther?&amp;lt;ref&amp;gt;UNIQ40abc13d0c3d96-ref-00000012-QINU&amp;quot; — James Montgomery Boice&amp;lt;/ref&amp;gt;}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Pada suatu hari ia membuka kitab Roma. Di sana ia membaca tentang injil Kristus yang adalah kekuatan Allah untuk keselamatan (1:16). Ini adalah sebuah kabar baik! Tetapi ayat selanjutnya berkata, “Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah“- ada kata buruk ''kebenaran'' itu lagi! Dan depresi Luther kembali lagi. Hal itu menjadi lebih buruk ketika ia meneruskan membaca tentang murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia (ayat 18).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka Luther kembali ke ayat 17 lagi. Bagaimana bisa Paulus menuliskan kata-kata mengerikan seperti itu?...Tiba-tiba pencerahan datang padanya. “Kebenaran Tuhan” yang Paulus maksud di sini bukanlah keadilan Tuhan yang bersifat menghukum yang membuatNya menghukum orang berdosa, melainkan kebenaran yang Tuhan ''berikan'' kepada orang berdosa yang membutuhkan, dan yang orang berdosa itu terima dengan ''iman''. Ini adalah kebenaran yang sempurna dan tidak bercacat, didapatkan oleh Kristus, yang dengan kemurahan Tuhan berikan pada semua yang percaya. Luther tidak perlu lagi mencari dasar untuk kedamaian jiwa di dalam dirinya, di dalam perbuatan baiknya sendiri. Sekarang ia dapat melihat lepas dari dirinya sendiri dan melihat kepada Kristus, hidup dengan iman daripada bersembunyi dalam ketakutan. Pada saat itulah Reformasi Protestan lahir.&amp;lt;ref&amp;gt;Anthony Hoekema, ''Saved by Grace'' (Grand Rapids, MI: Wm. B. Eerdmans Co., 1989), p. 152. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Renungkan Roma 1:17.''' Frase kunci apa di ayat ini yang merevolusi pengertian Martin Luther tentang keselamatan? Bagaimana pengaruhnya bagi Anda?}}Luther melanjutkan dengan berkata bahwa doktrin pembenaran adalah doktrin yang olehnya Gereja berdiri atau jatuh. “Doktrin ini merupakan kepala dan batu penjuru Gereja yang melahirkan, memelihara, membangun dan melindungi Gereja. Tanpanya gereja Tuhan tidak dapat bertahan hidup untuk satu jam.”&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''The Christian Life: A Doctrinal Introduction'' (Carlisle, PA: The Banner of Truth Trust, 1989), p. 80. &amp;lt;/ref&amp;gt;Di poin yang lain ia menambahkan, “Bila doktrin pembenaran ini hilang, maka semua doktrin kekristenan yang benar hilang.”&amp;lt;ref&amp;gt;John R.W. Stott, ''Only One Way: The Message of Galatians'' (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1968), p. 60. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketakutan Luther akan murka Allah telah dibenarkan, seperti kita pelajari di bab sebelumnya. Semua orang Kristen harus mengingat siapa dan apa mereka sebelumnya: jahat dalam perilaku mereka, musuh Allah, sepenuhnya terasing dari-Nya, dan sasaran kemarahan-Nya. Tetapi mengenali masa lalu hanya memiliki nilai sejauh hal itu membuat kita menyadari dan mengagumi akan posisi kita sekarang di dalam Kristus. Kita harus mengenali siapa ''kita sekarang'' karena hadiah kemurahan Tuhan akan pembenaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka yang telah menerima pekerjaan pembenaran Kristus mengalami sebuah perubahan yang dramatis dan luar biasa. Kita telah dibenarkan karena iman melalui anugerah yang besar dari Allah yang Maha Kuasa. Tanpa pengetahuan yang akurat dan pengetahuan yang datang dari pengalaman tentang pembenaran Gereja “tidak dapat bertahan hidup untuk satu jam”…sedikitnya tidak dengan keotentikan. Kita pun juga tidak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Posisi atau Proses? ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Pada saat Yesus mati di kayu salib, tirai bait suci yang memisahkan tempat suci dengan tempat paling suci secara supernatural robek menjadi dua. Untuk mengerti pentingnya peristiwa itu, bacalah Ibrani 9:1-14.}}Pembenaran adalah istilah resmi yang berarti “mendeklarasikan benar.” Hoekema mendefinisikan pembenaran sebagai “perubahan permanen dalam hubungan yuridis kita dengan Tuhan dimana kita diampuni dari tuduhan bersalah, dan dimana Tuhan mengampuni semua dosa-dosa kita di atas dasar pekerjaan Yesus Kristus yang telah tergenapi.”&amp;lt;ref&amp;gt;Anthony Hoekema, ''Saved by Grace'', p. 178. &amp;lt;/ref&amp;gt;Walaupun kita bersalah di hadapan Hakim semesta yang kudus, setelah melanggar hukum-Nya dan layak menerima murka-Nya, Ia telah mendeklarasikan kita sebagai benar. Bagaimana? Atas dasar apa yang Yesus Kristus telah capai di Kayu Salib. Hanya Salib dapat membuat kita dapat diterima di hadapan Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pembenaran adalah sebuah hadiah yang kita terima dari Tuhan, bukan sesuatu yang kita peroleh atau capai. Kita tidak bertanggung jawan ataupun mampu untuk menyumbang bagi pembenaran kita di hadapan Tuhan. Status benar ini tidak bisa dicapai atau dilayakan, hanya diterima dan dihargai. Kita menerima apa yang Kristus dan Kristus sendiri capai untuk kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk dapat sepenuhnya mengerti akan kebenaran yang ajaib ini, adalah esensial kita membedakan pembenaran (justification) dan penyucian (sanctification). Walaupun kedua doktrin ini tidak dapat dipisahkan, kita harus membedakan antara perannya masing-masing di dalam kehidupan iman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Tiada seorangpun yang mengerti kekristenan yang tidak memahami kata ini. Yaitu kata 'dibenarkan.'&amp;quot;�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-00000017-QINU — John Stott}}Pembenaran berarti kita ''dinyatakan'' benar. Penyucian berarti kita sedang ''dibuat'' benar. (Pahami perbedaan itu saja dan hidup Anda tidak akan pernah sama lagi!) Pembenaran adalah ''hadiah'' kekudusan; penyucian adalah ''pelatihan'' kekudusan. Mungkin yang paling kritikal, pembenaran adalah sebuah ''posisi'' – yang dibuat segera dan secara komplit setelah pertobatan – sedangkan penyucian adalah sebuah proses dari perubahan internal dan pengembangan karakter yang dimulai pada saat regenerasi dan terus berlanjut selama kita hidup. “Di dalam Firman Ruhan,” tulis Sinclair Ferguson, “membenarkan bukan berarti membuat benar seperti merubah karakter seseorang. Membenarkan artinya menjadikan benar dengan cara mendeklarasikan.”&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''The Christian Life'', p. 72. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Pembenaran adalah sebuah PERBUATAN. Pembenaran bukanlah pekerjaan, atau satu seri perbuatan. Pembenaran tidak progresif. Orang percaya yang paling lemah dan orang kudus yang paling kuat adalah serupa dan dibenarkan secara sama. Pembenaran tidak mengakui adanya tingkatan. Seseorang, hanya bisa seluruhnya dibenarkan atau seluruhnya dikutuk di hadapan Allah.�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-00000019-QINU&amp;quot; — William S. Plumer}}Pembenaran bukanlah sebuah proses. Pembenaran adalah sebuah deklarasi, sebuah pernyataan ilahi yang tidak dapat ditantang, dirubah ataupun dinaikbanding. Paulus secara empati berkata, “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus” (Rom 5:1). Transformasi mulia ini tidak terjadi sedikit demi sedikit, dan juga tidak berubah-ubah. Anda tidak lebih dibenarkan selama jangka waktu tertentu daripada jangka waktu lainnya. Hal ini perlu ditegaskan kembali: ''Anda tidak akan pernah lebih dibenarkan daripada keadaan Anda saat ini.'' Di atas itu semua, tidak seorangpun dalam sejarah pernah lebih dibenarkan daripada Anda sekarang. Martin Luther tidak, Paulus tidak – seorang pun tidak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Apakah Anda pernah dirampas dari buah-buah keselamatan Anda yang agung? Jawablah kuis Benar/Salah berikut ini untuk memastikan Anda mengerti perbedaan antara pembenaran dan penyucian. (Jawaban ada di catatan kaki.�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-0000001A-QINU) * Pembenaran adalah hasil dari penyucian. '''B S''' * Penyucian adalah proses sepanjang hidup. '''B S''' * Kasih Allah untuk kita bertumbuh sesuai dengan kedewasaan kita. '''B S''' * Pembenaran mengacu kepada posisi kita di dalam Kristus, penyucian mengacu pada proses. '''B S''' * Merubah kebiasaan-kebiasaan berdosa membuat kita lebih benar. '''B S''' * Pertumbuhan rohani adalah bukti yang baik bahwa kita telah dibenarkan. '''B S'''}}Banyak orang Kristen yang bingung tentang doktrin pembenaran dan penyucian dan oleh karenanya tidak bisa merasakan sepenuhnya berkat-berkat yang keselamatan agung ini hasilkan. Adalah sangat penting kita mengerti perbedaan antara posisi kita (pembenaran) dan pelatihan kita (penyucian). Sementara penyucian adalah bukti dan tujuan dari pembenaran, penyucian tidak boleh dipandang sebagai dasar dari pembenaran di hadapan Tuhan, tidak peduli betapa menjadi dewasanya kita. Kita tidak mampu menambahkan apa yang Kristus telah raih. Seperti Alister McGrath katakan, “Satu-satunya hal yang bisa dibilang kita kontribusikan dalam pembenaran kita adalah dosa yang telah Tuhan ampuni dengan kemurahan.” Kita dibenarkan hanya karena anugerah semata.&amp;lt;ref&amp;gt;Alister McGrath, ''Justification by Faith'' (Grand Rapids, MI: Zondervan Publishing House, 1988), p. 132. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Membuat Frustrasi dan Sia-Sia ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Doktrin pembenaran perlu dijalankan dan ditengok secara terus menerus, seperti yang Martin Luther sadari betul. Nasihat Martin Luther yang biasa terus terang? “Tempelkan itu ke kepala mereka terus menerus.”&amp;lt;ref&amp;gt;John R.W. Stott, ''Only One Way'', p. 59. &amp;lt;/ref&amp;gt;Sebagai tambahan bagi pengulangan ulet dari para pemimpin kita, kita perlu mempraktekan dan menghargai kebenaran dari pembenaran di dalam hidup kita sehari-hari. Kalau tidak, kita akan menemukan diri kita mudah jatuh dalam salah satu musuh Gereja yang paling serius dan tidak kentara: legalisme.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Kemuliaan Injil adalah bahwa Allah menyatakan orang Kristen memiliki hubungan yang benar dengan-Nya meskipun adanya dosa-dosa mereka. Tetapi pencobaan dan kesalahan terbesar kita adalah berusaha menyusupkan karakter ke dalam pekerjaan kasih karunia-Nya. Betapa mudahnya kita jatuh ke dalam jebakan anggapan bahwa kita hanya tetap dibenarkan selama ada dasarnya pada karakter kita untuk pembenaran itu. Tetapi ajaran Paulus adalah tidak ada yang dapat kita perbuat untuk menyumbang bagi pembenaran kita.�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-0000001D-QINU&amp;quot; — Sinclair Ferguson}}Legalisme melibatkan usaha untuk memperoleh penerimaan dari Tuhan melalui ketaatan kita sendiri. Kita hanya memiliki dua pilihan: menerima kekudusan sebagai pemberian Tuhan atau mencoba untuk melahirkan kekudusan kita sendiri. Legalisme adalah usaha untuk dibenarkan melalui sumber yang lain daripada Yesus Kristus dan pekerjaan-Nya yang telah genap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berpegang pada legalisme berarti percaya bahwa Salib itu tidak perlu atau tidak cukup (Gal 2:21, 5:2). Itu merupakan penafsiran yang tepat akan motif dan perbuatan Anda, walaupun Anda masih secara mental mengakui kebutuhan akan pengorbanan Kristus. Dalam usaha kita mengejar ketaatan dan kedewasaan, legalisme secara perlahan dan samar menguasai kita dan kita mulai mengganti pekerjaan kita untuk pekerjaan genap Kristus. Hasilnya adalah keangkuhan atau penghakiman. Bukannya bertumbuh dalam kasih karunia kita meninggalkan kasih karunia. Itulah penilaian Paulus terhadap gereja di Galatia ketika ia menulis, “Kamu lepas dari Kristus jikalau kamumengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia.” (Gal 5:4).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Untuk menghargai besarnya keprihatinan Paulus tentang legalisme, bacalah Galatia 1:6-9, 2:21, 3:1-4, 3:10, 4:8-11, 4:19-20, 5:2-4, dan 5:7-12.}}Kalau Anda telah berusaha menjalani hidup seperti ini, Anda mungkin sekarang telah belajar bahwa bahwa legalisme itu adalah sia-sia dan membuat frustrasi. Setiap usaha legalisme untuk memperoleh kekudusan akhirnya akan mengalami kegagalan. Selama bertahun-tahun saya telah belajar mengenali beberapa tanda yang sangat jelas dari adanya legalisme. Ini adalah beberapa diantaranya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Anda lebih menyadari akan dosa-dosa masa lalu Anda daripada pribadi dan pekerjaan genap Kristus.&lt;br /&gt;
* Anda hidup berpikir, percaya, dan merasa bahwa Tuhan kecewa terhadap Anda daripada bersukacita dalam Anda. Anda menganggap penerimaan Tuhan bergantung pada ketaatan Anda.&lt;br /&gt;
* Anda kurang sukacita. Ini sering menjadi indikasi pertama dari adanya legalisme. Penghakiman adalah hasil dari merenungkan ketidakcukupan kita; sukacita adalah hasil hari memikirkan kecukupan kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Pernahkan Anda dijerat oleh kehadiran legalisme yang samar? Kalau ya, sadarlah. Legalisme cenderung menyebar daripada tetap terbatasi (Gal 5:9). Legalisme harus dihilangkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Masalah dengan gereja Galatia bukanlah ketaatan pada hukum moral Allah; melainkan, ketergantungan pada hukum moral…untuk keselamatan.�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-0000001E-QINU&amp;quot; — Jerry Bridges}}Satu-satunya cara efektif untuk mencabut legalisme adalah dengan doktrin pembenaran. Kalau Anda telah menelantarkan atau mengabaikan doktrin ini, maka buatlah tindakan sedramatis apapun yang dibutuhkan untuk berubah. Sediakan waktu setiap hari untuk mengulang, melatih, dan bersukacita atas kebenaran yang agung, objektif dan bersifat posisi ini. Batasi konsumsi spiritual Anda pada pembelajaran tentang pembenaran sampai Anda yakin akan penerimaan Tuhan, merasa aman di dalam kasih-Nya dan bebas dari legalisme dan penghakiman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penyaliban Yesus Kristus merupakan satu peristiwa sejarah yang paling menentukan. Dengan akurat Sinclair Ferguson menyatakan hal berikut: {{RightInsert|'''Renungkan Roma 7:14-25.''' Pada saat kita mengerti betul kebejatan kita sendiri kita akan lebih sulit untuk dicobai oleh legalisme.}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Waktu kita berpikir Kristus mati di kayu salib kita diperlihatkan seberapa panjangnya kasih Tuhan dengan tujuan memenangkan kita kembali kepada-Nya…Ia berkata kepada kita: Aku mengasihi Engkau sebesar ini… Salib adalah jantung Injil. Salib membuat Injil menjadi kabar baik: Kristus mati untuk kira. Ia telah berdiri di tempat kita di hadapan kursi penghakiman Allah. Ia menanggung dosa-dosa kita. Tuhan telah melakukan sesuatu di atas kayu salib yang tidak mungkin kita sendiri pernah dapat lakukan… Alasan kita kurang yakin akan kasih karunia-Nya adalah karena kita gagal untuk fokus kepada tempat itu dimana Ia menyatakannya.&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''Grow in Grace'' (Carlisle, PA: The Banner of Truth Trust, 1989), p. 56, 58–59.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Kemana Anda akan memfokuskan perhatian Anda? Apakah pada dosa-dosa masa lalu Anda, keadaan emosi Anda saat ini, atau area karakter dimana Anda masih perlu bertumbuh? Ataukah Anda akan fokus pada pekerjaan Kristus yang genap? Legalisme tidak perlu memotivasi Anda. Penghakiman tidak perlu menyiksa Anda. Allah telah membenarkan Anda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Dua kategori orang seperti apa yang digambarkan di Yakobus 1:22-25? Kelompok yang mana yang Tuhan janji akan berkati?}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Jangan Berargumentasi dengan Hakim ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengerti doktrin pembenaran secara intelektual dengan sendirinya tidaklah cukup. Tuhan menginginkan kita untuk mengalami transformasi – secara total, murni, dan permanen ditransform oleh kotrin penting ini. J.I. Packer telah menyatakan, “Masalahnya bukan, apakah seseorang dapat menyebutkan doktrin ini dengan keakuratan Firman yang penuh (hal itu, telah kita lihat, adalah pekerjaan yang membutuhlan ketelitian), tetapi, apakah seseorang tahu realitasnya dalam pengalaman.”&amp;lt;ref&amp;gt;J.I. Packer, ''God’s Words: Studies of Key Bible Themes'' (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1981), p. 147. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Kolose 2:13-15 menyatakan hutang kita yang sangat besar kepada Tuhan. Apa yang Yesus lakukan dengan surat tagihan hutang? }}Tujuan kami menulis buku ini bukan pada dasarnya Anda belajar bagaimana mengartikulasi doktrin agung ini tetapi Anda dirubah olehnya, bahwa pengertian Anda akan berbuah pada kebebasan pribadi dari legalisme dan penghakiman serta kasih dan semangat yang bertambah-tambah kepada Yesus Kristus. Adalah mungkin menyadari pembenaran oleh kasih karunia tanpa terpengaruh secara pribadi. Kita perlu menghargai dan mempraktekan kebenaran besar ini setiap hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cerita yang akan saya bagikan merupakan sebuah pelajaran penuh kuasa bagi saya setelah saya mempejalari benar doktrin pembenaran. Selama hari-hari sebelum pertobatan saya sebagai mahasiswa tahun pertama, saya ditangkap karena kepemilikan mariyuana. Detail peristiwa tersebut masih sangat jelas di benak saya. Saat saya duduk di ruang sidang menghadapi hakin, saya mencoba sebisa saya untuk terlihat tulus dan tersiksa, tetapi saya hanya bisa ketakutan. Saya tahu ada kesempatan besar saya akan dijatuhi hukuman dan dituduh dengan pelanggaran tambahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Adalah tidak cukup untuk hanya mengetahui bahwa Yesus telah mati, atau bahkan mengapa Ia mati. Pengetahuan tersebut merupakan hasil dari “iman yang hanya bersifat sejarah” yang tidak dapat menyelamatkan… Hanya pada waktu kita menyadari bahwa Kristus diberi pro me, pro nobis (“untuk aku,” “untuk kita”) kita telah membedakan pentingnya pencapaian Kristus. .�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-00000021-QINU&amp;quot; — Timothy George}}Ternyata, kasus saya tidak pernah mengalami kemajuan setelah saksi pertama. Karena polisi menggeledah kamar saya tanpa surat resmi yang dibutuhkan, bantah pengacaran saya, pengadilan harus mencabut gugatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hakim duduk mendengarkan dengan sabar saat jaksa mengajukan keberatan dan mengulang kembali bukti-bukti yang memberatkan saya. Akhirnya, ia melihat ke arah saya. Pria itu jelas terlihat frustasi. Tidak berkuasa untuk memberi lebih dari teguran, ia menguliahi saya dengan kata-kata yang sekeras-kerasnya. Saya mencoba untuk kelihatan menyesal. Saya menganggukan kepada saya atas setiap penyataan. Tapi saya tidak ingat apapun yang ia katakan – saya terlalu gembira karena kenyataan bahwa ia akan melepas saya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika saya disidang saya tahu bahwa saya bersalah. Saya kira semua orang mengetahui itu. Tetapi pada waktu hakim membebaskan saya, saya tidak berargumentasi dengannya. Saya tidak meminta dan memohon kepada hakim untuk melanjutkan kasus itu. Saya tidak memintanya untuk mengabaikan teknis legalitas dan mengijinkan jaksa untuk terus maju. Hanya kali ini saya dengan gembira tunduk kepada seseorang yang memiliki otoritas lebih besar. Bila sang hakim ingin melepaskan pelanggaran itu, saya akan dengan senang hati menerima keputusannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Renungkan Ulangan 31:8.''' Daripada melanggar janji-Nya yang indah kepada kita (meskipun kita tidak pernah layak diberi janji seperti itu), Tuhan meninggalkan Putra-Nya sendiri.}}Setiap dari kita berdiri bersalah di hadapan Hakim dari segalanya. Tetapi kejahatan kita menentang-Nya berada di tingkat yang secara total berbeda dengan kesalahan saya. Dan walaupun saya diloloskan karena hal teknis, kita telah dinyatakan benar atas dasar pengorbanan Kristus yang telah direncanakan dan bersifat menggantikan kita itu. Yesus Kristus secara suka rela dan sengaja memberikan hidup-Nya sepaya Allah dapat tetap adil saat membenarkan yang bersalah – Anda dan saya. Allah telah menyatakan kita benar. Yang tertinggal hanyalah masalah apakah kita akan menerima pernyataan ini. Pilihan untuk menerima atau tidak berada di hadapan kita setiap hari, sering berkali-kali dalam satu hari: Akankah kita menerima pembenaran karena iman karena pernyataan oleh Tuhan, atau akankah kita mengijinkan penghakiman dan legalisme untu menguasai kita saat kita bergantung pada perasaan dan ketaatan kita?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Kehidupan Kristen melibatkan bukan saja percaya sesuatu tentang Kristus tetapi juga percaya sesuatu tentang diri kita sendiri… Iman kita di dalam Kristus harus mencakup percaya bahwa kita adalah apa yang Alkitab katakan tentang kita.&amp;quot; — Anthony Hoekema}}Tentukanlah bahwa emosi Anda yang tidak stabil dan tidak terprediksi tidak akan medikte atau menipu Anda. Jangan ijinkan emosi-emosi itu untuk menjadi otoritas terakhir di dalam hidup Anda. Percayalah apa yang Tuhan katakan tentang Anda. Kalau Anda bijaksana Anda akan mengikuti teladan saya: Jangan berargumentasi dengan Hakim.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Ditinggalkan Demi Pengampunan Kita ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah yang menciptakan Anda menerima Anda. Anak-Nya secara suka rela menghadapi kengerian Salib yang tidak terbayangkan, ditinggalkan Allah Bapa dan manusia, demi untuk membenarkan Anda. Ia dibuang supaya kita bisa diampuni. Ia mengalami perpisahan supaya kita dapat selamanya aman dalam kasih Allah. Ia menanggung murka Allah sehingga kita tidak pernah perlu melakukannya. “Yesus yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitakan karena pembenaran kita” (Rom 4:25). Anda telah dibenarkan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah mengherankan Reformasi merubah sejarah Gereja? Tidak ada cara apapun untuk mengekang doktrin ini. Sekali doktrin ini dilepas ia akan merubah hidup setiap orang yang disentuhnya – termasuk Anda sendiri. &amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Diskusi Kelompok ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# Di halaman 52 pengarang menulis, “Anda tidak akan pernah lebih dibenarkan daripada Anda saat ini.” Bagaimana kalimat ini mempengaruhi usaha-usaha Anda untuk menjalani hidup yang menyenangkan Tuhan?&lt;br /&gt;
# Renungkan dengan tenang untuk satu atau dua menit tentang Salib. Menurut Anda apakah yang Yesus rasakan waktu ia menyaradari Allah telah meninggalkan-Nya?&lt;br /&gt;
# Apakah mungkin untuk terlalu fokus pada menjadi serupa dengan teladan Kristus?&lt;br /&gt;
# Apa yang membuat legalisme menjadi sebuah penyimpangan sesat yang tak disadari?&lt;br /&gt;
# Bagaimana kita mengimbangi doktrin pembenaran dan penyucian tanpa oleng kepada legalisme ataupun ijin?&lt;br /&gt;
# Satu hal apa yang dapat kontribusi bagi pembenaran kita?(Petunjuk: Tidak ada yang perlu disombongkan!)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bacaan yang Direkomendasikan ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Cross of Christ'' by John R. W. Stott (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1986)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Discipline of Grace'' by Jerry Bridges (Colorado Springs, CO: NavPress, 1994)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Atonement'' by Leon Morris (Downwers Grove, IL: InterVarsity Press, 1984)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Catatan ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Sukartay</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/Justified_by_Christ/id</id>
		<title>This Great Salvation/Justified by Christ/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/Justified_by_Christ/id"/>
				<updated>2007-12-28T12:42:49Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Sukartay: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;= Dibenarkan Oleh Yesus =&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum Martin Luther menjadi terkenal karena peran pentingnya dalam Reformasi, ia dikenal seluruh Eropa sebagai seorang pelajar hukum yang brilian. Yang paling banyak mempengaruhi pendeta pengikut Agustinus ini adalah pembelajarannya akan hukum Allah di dalam Firman Tuhan. Saat ia merenungkan perintah-perintah Allah, ia menjadi sangat menyadari murka Allah. Setiap kali ia mempelajari pribadi dan pekerjaan Yesus Kristus ia mengenal inilah Yang benar yang pada akhirnya akan menghakiminya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesadaran yang terus menerus itu merongrong Luther dengan perasaan bersalah yang tak terbendung. Sementara rekan-rekannya menghabiskan beberapa menit untuk mengaku dosa, ia menghabiskan berjam-jam. Sebagian orang mengira bahwa mentalnya tidak stabil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teolog Anthony Hoekema menggambarkan kesedihan mental itu membawa pada penemuan teologi besar Luther:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Martin Luther telah mencoba segalanya: tidur di atas lantai yang keras, tidak makan, bahkan menaiki sebuah tangga di Roma dengan tangan dan lututnya – tapi tidak berhasil. Para gurunya di biara memberitahunya bahwa ia telah melakukan cukup untuk mendapatkan kedamaian jiwa. Tapi ia tidak memiliki damai. Kesadarannya akan dosa terlalu dalam.&lt;br /&gt;
:Ia telah mempelajari kitab Mazmur. Kitab ini sering menyebut “kebenaran Tuhan.” Tapi istilah ini mengganggunya. Ia mengira itu berarti kebenaran Tuhan yang menghukum, dimana Ia menghukum orang berdosa. Dan Luther mengetahui ia adalah orang berdosa. Jadi manakala ia melihat kata kebenaran di dalam Alkitab, ia melihat merah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Pembenaran adalah memang jawaban Allah bagi semua pertanyaan manusia yang paling penting: Bagaimana seorang pria atau wanita dibenarkan dengan Tuhan? Kita tidak dibenarkan dengan Tuhan dengan sendirinya. Kita berada di bahwa murka Allah. Pembenaran adalah sangat penting, karena kita harus dibenarkan dengan Allah atau kita binasa selamanya… Kesulitannya adalah mayoritas orang saat ini tidak merasakan kebutuhan di area ini. Martin Luther telah merasakannya; hal itu menghantuinya. Ia tahu bahwa ia tidak benar dengan Allah, dan ia mengantisipasi konfrontasi dengan Allah yang murka di penghakiman terakhir. Allah menunjukkan kepadanya bahwa ia bisa mengalami hubungan yang benar dengan Allah melalui pekerjaan Yesus Kristus. Tetapi di jaman ini siapa yang merasakan intensitas kepedihan Luther?�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-00000012-QINU&amp;quot; — James Montgomery Boice}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Pada suatu hari ia membuka kitab Roma. Di sana ia membaca tentang injil Kristus yang adalah kekuatan Allah untuk keselamatan (1:16). Ini adalah sebuah kabar baik! Tetapi ayat selanjutnya berkata, “Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah“- ada kata buruk ''kebenaran'' itu lagi! Dan depresi Luther kembali lagi. Hal itu menjadi lebih buruk ketika ia meneruskan membaca tentang murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia (ayat 18).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka Luther kembali ke ayat 17 lagi. Bagaimana bisa Paulus menuliskan kata-kata mengerikan seperti itu?...Tiba-tiba pencerahan datang padanya. “Kebenaran Tuhan” yang Paulus maksud di sini bukanlah keadilan Tuhan yang bersifat menghukum yang membuatNya menghukum orang berdosa, melainkan kebenaran yang Tuhan ''berikan'' kepada orang berdosa yang membutuhkan, dan yang orang berdosa itu terima dengan ''iman''. Ini adalah kebenaran yang sempurna dan tidak bercacat, didapatkan oleh Kristus, yang dengan kemurahan Tuhan berikan pada semua yang percaya. Luther tidak perlu lagi mencari dasar untuk kedamaian jiwa di dalam dirinya, di dalam perbuatan baiknya sendiri. Sekarang ia dapat melihat lepas dari dirinya sendiri dan melihat kepada Kristus, hidup dengan iman daripada bersembunyi dalam ketakutan. Pada saat itulah Reformasi Protestan lahir.&amp;lt;ref&amp;gt;Anthony Hoekema, ''Saved by Grace'' (Grand Rapids, MI: Wm. B. Eerdmans Co., 1989), p. 152. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Renungkan Roma 1:17.''' Frase kunci apa di ayat ini yang merevolusi pengertian Martin Luther tentang keselamatan? Bagaimana pengaruhnya bagi Anda?}}Luther melanjutkan dengan berkata bahwa doktrin pembenaran adalah doktrin yang olehnya Gereja berdiri atau jatuh. “Doktrin ini merupakan kepala dan batu penjuru Gereja yang melahirkan, memelihara, membangun dan melindungi Gereja. Tanpanya gereja Tuhan tidak dapat bertahan hidup untuk satu jam.”&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''The Christian Life: A Doctrinal Introduction'' (Carlisle, PA: The Banner of Truth Trust, 1989), p. 80. &amp;lt;/ref&amp;gt;Di poin yang lain ia menambahkan, “Bila doktrin pembenaran ini hilang, maka semua doktrin kekristenan yang benar hilang.”&amp;lt;ref&amp;gt;John R.W. Stott, ''Only One Way: The Message of Galatians'' (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1968), p. 60. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketakutan Luther akan murka Allah telah dibenarkan, seperti kita pelajari di bab sebelumnya. Semua orang Kristen harus mengingat siapa dan apa mereka sebelumnya: jahat dalam perilaku mereka, musuh Allah, sepenuhnya terasing dari-Nya, dan sasaran kemarahan-Nya. Tetapi mengenali masa lalu hanya memiliki nilai sejauh hal itu membuat kita menyadari dan mengagumi akan posisi kita sekarang di dalam Kristus. Kita harus mengenali siapa ''kita sekarang'' karena hadiah kemurahan Tuhan akan pembenaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka yang telah menerima pekerjaan pembenaran Kristus mengalami sebuah perubahan yang dramatis dan luar biasa. Kita telah dibenarkan karena iman melalui anugerah yang besar dari Allah yang Maha Kuasa. Tanpa pengetahuan yang akurat dan pengetahuan yang datang dari pengalaman tentang pembenaran Gereja “tidak dapat bertahan hidup untuk satu jam”…sedikitnya tidak dengan keotentikan. Kita pun juga tidak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Posisi atau Proses? ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Pada saat Yesus mati di kayu salib, tirai bait suci yang memisahkan tempat suci dengan tempat paling suci secara supernatural robek menjadi dua. Untuk mengerti pentingnya peristiwa itu, bacalah Ibrani 9:1-14.}}Pembenaran adalah istilah resmi yang berarti “mendeklarasikan benar.” Hoekema mendefinisikan pembenaran sebagai “perubahan permanen dalam hubungan yuridis kita dengan Tuhan dimana kita diampuni dari tuduhan bersalah, dan dimana Tuhan mengampuni semua dosa-dosa kita di atas dasar pekerjaan Yesus Kristus yang telah tergenapi.”&amp;lt;ref&amp;gt;Anthony Hoekema, ''Saved by Grace'', p. 178. &amp;lt;/ref&amp;gt;Walaupun kita bersalah di hadapan Hakim semesta yang kudus, setelah melanggar hukum-Nya dan layak menerima murka-Nya, Ia telah mendeklarasikan kita sebagai benar. Bagaimana? Atas dasar apa yang Yesus Kristus telah capai di Kayu Salib. Hanya Salib dapat membuat kita dapat diterima di hadapan Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pembenaran adalah sebuah hadiah yang kita terima dari Tuhan, bukan sesuatu yang kita peroleh atau capai. Kita tidak bertanggung jawan ataupun mampu untuk menyumbang bagi pembenaran kita di hadapan Tuhan. Status benar ini tidak bisa dicapai atau dilayakan, hanya diterima dan dihargai. Kita menerima apa yang Kristus dan Kristus sendiri capai untuk kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk dapat sepenuhnya mengerti akan kebenaran yang ajaib ini, adalah esensial kita membedakan pembenaran (justification) dan penyucian (sanctification). Walaupun kedua doktrin ini tidak dapat dipisahkan, kita harus membedakan antara perannya masing-masing di dalam kehidupan iman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Tiada seorangpun yang mengerti kekristenan yang tidak memahami kata ini. Yaitu kata 'dibenarkan.'&amp;quot;�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-00000017-QINU — John Stott}}Pembenaran berarti kita ''dinyatakan'' benar. Penyucian berarti kita sedang ''dibuat'' benar. (Pahami perbedaan itu saja dan hidup Anda tidak akan pernah sama lagi!) Pembenaran adalah ''hadiah'' kekudusan; penyucian adalah ''pelatihan'' kekudusan. Mungkin yang paling kritikal, pembenaran adalah sebuah ''posisi'' – yang dibuat segera dan secara komplit setelah pertobatan – sedangkan penyucian adalah sebuah proses dari perubahan internal dan pengembangan karakter yang dimulai pada saat regenerasi dan terus berlanjut selama kita hidup. “Di dalam Firman Ruhan,” tulis Sinclair Ferguson, “membenarkan bukan berarti membuat benar seperti merubah karakter seseorang. Membenarkan artinya menjadikan benar dengan cara mendeklarasikan.”&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''The Christian Life'', p. 72. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Pembenaran adalah sebuah PERBUATAN. Pembenaran bukanlah pekerjaan, atau satu seri perbuatan. Pembenaran tidak progresif. Orang percaya yang paling lemah dan orang kudus yang paling kuat adalah serupa dan dibenarkan secara sama. Pembenaran tidak mengakui adanya tingkatan. Seseorang, hanya bisa seluruhnya dibenarkan atau seluruhnya dikutuk di hadapan Allah.�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-00000019-QINU&amp;quot; — William S. Plumer}}Pembenaran bukanlah sebuah proses. Pembenaran adalah sebuah deklarasi, sebuah pernyataan ilahi yang tidak dapat ditantang, dirubah ataupun dinaikbanding. Paulus secara empati berkata, “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus” (Rom 5:1). Transformasi mulia ini tidak terjadi sedikit demi sedikit, dan juga tidak berubah-ubah. Anda tidak lebih dibenarkan selama jangka waktu tertentu daripada jangka waktu lainnya. Hal ini perlu ditegaskan kembali: ''Anda tidak akan pernah lebih dibenarkan daripada keadaan Anda saat ini.'' Di atas itu semua, tidak seorangpun dalam sejarah pernah lebih dibenarkan daripada Anda sekarang. Martin Luther tidak, Paulus tidak – seorang pun tidak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Apakah Anda pernah dirampas dari buah-buah keselamatan Anda yang agung? Jawablah kuis Benar/Salah berikut ini untuk memastikan Anda mengerti perbedaan antara pembenaran dan penyucian. (Jawaban ada di catatan kaki.�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-0000001A-QINU) * Pembenaran adalah hasil dari penyucian. '''B S''' * Penyucian adalah proses sepanjang hidup. '''B S''' * Kasih Allah untuk kita bertumbuh sesuai dengan kedewasaan kita. '''B S''' * Pembenaran mengacu kepada posisi kita di dalam Kristus, penyucian mengacu pada proses. '''B S''' * Merubah kebiasaan-kebiasaan berdosa membuat kita lebih benar. '''B S''' * Pertumbuhan rohani adalah bukti yang baik bahwa kita telah dibenarkan. '''B S'''}}Banyak orang Kristen yang bingung tentang doktrin pembenaran dan penyucian dan oleh karenanya tidak bisa merasakan sepenuhnya berkat-berkat yang keselamatan agung ini hasilkan. Adalah sangat penting kita mengerti perbedaan antara posisi kita (pembenaran) dan pelatihan kita (penyucian). Sementara penyucian adalah bukti dan tujuan dari pembenaran, penyucian tidak boleh dipandang sebagai dasar dari pembenaran di hadapan Tuhan, tidak peduli betapa menjadi dewasanya kita. Kita tidak mampu menambahkan apa yang Kristus telah raih. Seperti Alister McGrath katakan, “Satu-satunya hal yang bisa dibilang kita kontribusikan dalam pembenaran kita adalah dosa yang telah Tuhan ampuni dengan kemurahan.” Kita dibenarkan hanya karena anugerah semata.&amp;lt;ref&amp;gt;Alister McGrath, ''Justification by Faith'' (Grand Rapids, MI: Zondervan Publishing House, 1988), p. 132. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Membuat Frustrasi dan Sia-Sia ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Doktrin pembenaran perlu dijalankan dan ditengok secara terus menerus, seperti yang Martin Luther sadari betul. Nasihat Martin Luther yang biasa terus terang? “Tempelkan itu ke kepala mereka terus menerus.”&amp;lt;ref&amp;gt;John R.W. Stott, ''Only One Way'', p. 59. &amp;lt;/ref&amp;gt;Sebagai tambahan bagi pengulangan ulet dari para pemimpin kita, kita perlu mempraktekan dan menghargai kebenaran dari pembenaran di dalam hidup kita sehari-hari. Kalau tidak, kita akan menemukan diri kita mudah jatuh dalam salah satu musuh Gereja yang paling serius dan tidak kentara: legalisme.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Kemuliaan Injil adalah bahwa Allah menyatakan orang Kristen memiliki hubungan yang benar dengan-Nya meskipun adanya dosa-dosa mereka. Tetapi pencobaan dan kesalahan terbesar kita adalah berusaha menyusupkan karakter ke dalam pekerjaan kasih karunia-Nya. Betapa mudahnya kita jatuh ke dalam jebakan anggapan bahwa kita hanya tetap dibenarkan selama ada dasarnya pada karakter kita untuk pembenaran itu. Tetapi ajaran Paulus adalah tidak ada yang dapat kita perbuat untuk menyumbang bagi pembenaran kita.�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-0000001D-QINU&amp;quot; — Sinclair Ferguson}}Legalisme melibatkan usaha untuk memperoleh penerimaan dari Tuhan melalui ketaatan kita sendiri. Kita hanya memiliki dua pilihan: menerima kekudusan sebagai pemberian Tuhan atau mencoba untuk melahirkan kekudusan kita sendiri. Legalisme adalah usaha untuk dibenarkan melalui sumber yang lain daripada Yesus Kristus dan pekerjaan-Nya yang telah genap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berpegang pada legalisme berarti percaya bahwa Salib itu tidak perlu atau tidak cukup (Gal 2:21, 5:2). Itu merupakan penafsiran yang tepat akan motif dan perbuatan Anda, walaupun Anda masih secara mental mengakui kebutuhan akan pengorbanan Kristus. Dalam usaha kita mengejar ketaatan dan kedewasaan, legalisme secara perlahan dan samar menguasai kita dan kita mulai mengganti pekerjaan kita untuk pekerjaan genap Kristus. Hasilnya adalah keangkuhan atau penghakiman. Bukannya bertumbuh dalam kasih karunia kita meninggalkan kasih karunia. Itulah penilaian Paulus terhadap gereja di Galatia ketika ia menulis, “Kamu lepas dari Kristus jikalau kamumengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia.” (Gal 5:4).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Untuk menghargai besarnya keprihatinan Paulus tentang legalisme, bacalah Galatia 1:6-9, 2:21, 3:1-4, 3:10, 4:8-11, 4:19-20, 5:2-4, dan 5:7-12.}}Kalau Anda telah berusaha menjalani hidup seperti ini, Anda mungkin sekarang telah belajar bahwa bahwa legalisme itu adalah sia-sia dan membuat frustrasi. Setiap usaha legalisme untuk memperoleh kekudusan akhirnya akan mengalami kegagalan. Selama bertahun-tahun saya telah belajar mengenali beberapa tanda yang sangat jelas dari adanya legalisme. Ini adalah beberapa diantaranya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Anda lebih menyadari akan dosa-dosa masa lalu Anda daripada pribadi dan pekerjaan genap Kristus.&lt;br /&gt;
* Anda hidup berpikir, percaya, dan merasa bahwa Tuhan kecewa terhadap Anda daripada bersukacita dalam Anda. Anda menganggap penerimaan Tuhan bergantung pada ketaatan Anda.&lt;br /&gt;
* Anda kurang sukacita. Ini sering menjadi indikasi pertama dari adanya legalisme. Penghakiman adalah hasil dari merenungkan ketidakcukupan kita; sukacita adalah hasil hari memikirkan kecukupan kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Pernahkan Anda dijerat oleh kehadiran legalisme yang samar? Kalau ya, sadarlah. Legalisme cenderung menyebar daripada tetap terbatasi (Gal 5:9). Legalisme harus dihilangkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Masalah dengan gereja Galatia bukanlah ketaatan pada hukum moral Allah; melainkan, ketergantungan pada hukum moral…untuk keselamatan.�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-0000001E-QINU&amp;quot; — Jerry Bridges}}Satu-satunya cara efektif untuk mencabut legalisme adalah dengan doktrin pembenaran. Kalau Anda telah menelantarkan atau mengabaikan doktrin ini, maka buatlah tindakan sedramatis apapun yang dibutuhkan untuk berubah. Sediakan waktu setiap hari untuk mengulang, melatih, dan bersukacita atas kebenaran yang agung, objektif dan bersifat posisi ini. Batasi konsumsi spiritual Anda pada pembelajaran tentang pembenaran sampai Anda yakin akan penerimaan Tuhan, merasa aman di dalam kasih-Nya dan bebas dari legalisme dan penghakiman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penyaliban Yesus Kristus merupakan satu peristiwa sejarah yang paling menentukan. Dengan akurat Sinclair Ferguson menyatakan hal berikut: {{RightInsert|'''Renungkan Roma 7:14-25.''' Pada saat kita mengerti betul kebejatan kita sendiri kita akan lebih sulit untuk dicobai oleh legalisme.}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Waktu kita berpikir Kristus mati di kayu salib kita diperlihatkan seberapa panjangnya kasih Tuhan dengan tujuan memenangkan kita kembali kepada-Nya…Ia berkata kepada kita: Aku mengasihi Engkau sebesar ini… Salib adalah jantung Injil. Salib membuat Injil menjadi kabar baik: Kristus mati untuk kira. Ia telah berdiri di tempat kita di hadapan kursi penghakiman Allah. Ia menanggung dosa-dosa kita. Tuhan telah melakukan sesuatu di atas kayu salib yang tidak mungkin kita sendiri pernah dapat lakukan… Alasan kita kurang yakin akan kasih karunia-Nya adalah karena kita gagal untuk fokus kepada tempat itu dimana Ia menyatakannya.&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''Grow in Grace'' (Carlisle, PA: The Banner of Truth Trust, 1989), p. 56, 58–59.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Kemana Anda akan memfokuskan perhatian Anda? Apakah pada dosa-dosa masa lalu Anda, keadaan emosi Anda saat ini, atau area karakter dimana Anda masih perlu bertumbuh? Ataukah Anda akan fokus pada pekerjaan Kristus yang genap? Legalisme tidak perlu memotivasi Anda. Penghakiman tidak perlu menyiksa Anda. Allah telah membenarkan Anda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Dua kategori orang seperti apa yang digambarkan di Yakobus 1:22-25? Kelompok yang mana yang Tuhan janji akan berkati?}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jangan Berargumentasi dengan Hakim === &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengerti doktrin pembenaran secara intelektual dengan sendirinya tidaklah cukup. Tuhan menginginkan kita untuk mengalami transformasi – secara total, murni, dan permanen ditransform oleh kotrin penting ini. J.I. Packer telah menyatakan, “Masalahnya bukan, apakah seseorang dapat menyebutkan doktrin ini dengan keakuratan Firman yang penuh (hal itu, telah kita lihat, adalah pekerjaan yang membutuhlan ketelitian), tetapi, apakah seseorang tahu realitasnya dalam pengalaman.”&amp;lt;ref&amp;gt;J.I. Packer, ''God’s Words: Studies of Key Bible Themes'' (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1981), p. 147. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Kolose 2:13-15 menyatakan hutang kita yang sangat besar kepada Tuhan. Apa yang Yesus lakukan dengan surat tagihan hutang? }}Tujuan kami menulis buku ini bukan pada dasarnya Anda belajar bagaimana mengartikulasi doktrin agung ini tetapi Anda dirubah olehnya, bahwa pengertian Anda akan berbuah pada kebebasan pribadi dari legalisme dan penghakiman serta kasih dan semangat yang bertambah-tambah kepada Yesus Kristus. Adalah mungkin menyadari pembenaran oleh kasih karunia tanpa terpengaruh secara pribadi. Kita perlu menghargai dan mempraktekan kebenaran besar ini setiap hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cerita yang akan saya bagikan merupakan sebuah pelajaran penuh kuasa bagi saya setelah saya mempejalari benar doktrin pembenaran. Selama hari-hari sebelum pertobatan saya sebagai mahasiswa tahun pertama, saya ditangkap karena kepemilikan mariyuana. Detail peristiwa tersebut masih sangat jelas di benak saya. Saat saya duduk di ruang sidang menghadapi hakin, saya mencoba sebisa saya untuk terlihat tulus dan tersiksa, tetapi saya hanya bisa ketakutan. Saya tahu ada kesempatan besar saya akan dijatuhi hukuman dan dituduh dengan pelanggaran tambahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Adalah tidak cukup untuk hanya mengetahui bahwa Yesus telah mati, atau bahkan mengapa Ia mati. Pengetahuan tersebut merupakan hasil dari “iman yang hanya bersifat sejarah” yang tidak dapat menyelamatkan… Hanya pada waktu kita menyadari bahwa Kristus diberi pro me, pro nobis (“untuk aku,” “untuk kita”) kita telah membedakan pentingnya pencapaian Kristus. .�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-00000021-QINU&amp;quot; — Timothy George}}Ternyata, kasus saya tidak pernah mengalami kemajuan setelah saksi pertama. Karena polisi menggeledah kamar saya tanpa surat resmi yang dibutuhkan, bantah pengacaran saya, pengadilan harus mencabut gugatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hakim duduk mendengarkan dengan sabar saat jaksa mengajukan keberatan dan mengulang kembali bukti-bukti yang memberatkan saya. Akhirnya, ia melihat ke arah saya. Pria itu jelas terlihat frustasi. Tidak berkuasa untuk memberi lebih dari teguran, ia menguliahi saya dengan kata-kata yang sekeras-kerasnya. Saya mencoba untuk kelihatan menyesal. Saya menganggukan kepada saya atas setiap penyataan. Tapi saya tidak ingat apapun yang ia katakan – saya terlalu gembira karena kenyataan bahwa ia akan melepas saya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika saya disidang saya tahu bahwa saya bersalah. Saya kira semua orang mengetahui itu. Tetapi pada waktu hakim membebaskan saya, saya tidak berargumentasi dengannya. Saya tidak meminta dan memohon kepada hakim untuk melanjutkan kasus itu. Saya tidak memintanya untuk mengabaikan teknis legalitas dan mengijinkan jaksa untuk terus maju. Hanya kali ini saya dengan gembira tunduk kepada seseorang yang memiliki otoritas lebih besar. Bila sang hakim ingin melepaskan pelanggaran itu, saya akan dengan senang hati menerima keputusannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Renungkan Ulangan 31:8.''' Daripada melanggar janji-Nya yang indah kepada kita (meskipun kita tidak pernah layak diberi janji seperti itu), Tuhan meninggalkan Putra-Nya sendiri.}}Setiap dari kita berdiri bersalah di hadapan Hakim dari segalanya. Tetapi kejahatan kita menentang-Nya berada di tingkat yang secara total berbeda dengan kesalahan saya. Dan walaupun saya diloloskan karena hal teknis, kita telah dinyatakan benar atas dasar pengorbanan Kristus yang telah direncanakan dan bersifat menggantikan kita itu. Yesus Kristus secara suka rela dan sengaja memberikan hidup-Nya sepaya Allah dapat tetap adil saat membenarkan yang bersalah – Anda dan saya. Allah telah menyatakan kita benar. Yang tertinggal hanyalah masalah apakah kita akan menerima pernyataan ini. Pilihan untuk menerima atau tidak berada di hadapan kita setiap hari, sering berkali-kali dalam satu hari: Akankah kita menerima pembenaran karena iman karena pernyataan oleh Tuhan, atau akankah kita mengijinkan penghakiman dan legalisme untu menguasai kita saat kita bergantung pada perasaan dan ketaatan kita?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Kehidupan Kristen melibatkan bukan saja percaya sesuatu tentang Kristus tetapi juga percaya sesuatu tentang diri kita sendiri… Iman kita di dalam Kristus harus mencakup percaya bahwa kita adalah apa yang Alkitab katakan tentang kita.&amp;quot; — Anthony Hoekema}}Tentukanlah bahwa emosi Anda yang tidak stabil dan tidak terprediksi tidak akan medikte atau menipu Anda. Jangan ijinkan emosi-emosi itu untuk menjadi otoritas terakhir di dalam hidup Anda. Percayalah apa yang Tuhan katakan tentang Anda. Kalau Anda bijaksana Anda akan mengikuti teladan saya: Jangan berargumentasi dengan Hakim.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Ditinggalkan Demi Pengampunan Kita ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah yang menciptakan Anda menerima Anda. Anak-Nya secara suka rela menghadapi kengerian Salib yang tidak terbayangkan, ditinggalkan Allah Bapa dan manusia, demi untuk membenarkan Anda. Ia dibuang supaya kita bisa diampuni. Ia mengalami perpisahan supaya kita dapat selamanya aman dalam kasih Allah. Ia menanggung murka Allah sehingga kita tidak pernah perlu melakukannya. “Yesus yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitakan karena pembenaran kita” (Rom 4:25). Anda telah dibenarkan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah mengherankan Reformasi merubah sejarah Gereja? Tidak ada cara apapun untuk mengekang doktrin ini. Sekali doktrin ini dilepas ia akan merubah hidup setiap orang yang disentuhnya – termasuk Anda sendiri. &amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Diskusi Kelompok ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# Di halaman 52 pengarang menulis, “Anda tidak akan pernah lebih dibenarkan daripada Anda saat ini.” Bagaimana kalimat ini mempengaruhi usaha-usaha Anda untuk menjalani hidup yang menyenangkan Tuhan?&lt;br /&gt;
# Renungkan dengan tenang untuk satu atau dua menit tentang Salib. Menurut Anda apakah yang Yesus rasakan waktu ia menyaradari Allah telah meninggalkan-Nya?&lt;br /&gt;
# Apakah mungkin untuk terlalu fokus pada menjadi serupa dengan teladan Kristus?&lt;br /&gt;
# Apa yang membuat legalisme menjadi sebuah penyimpangan sesat yang tak disadari?&lt;br /&gt;
# Bagaimana kita mengimbangi doktrin pembenaran dan penyucian tanpa oleng kepada legalisme ataupun ijin?&lt;br /&gt;
# Satu hal apa yang dapat kontribusi bagi pembenaran kita?(Petunjuk: Tidak ada yang perlu disombongkan!)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bacaan yang Direkomendasikan ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Cross of Christ'' by John R. W. Stott (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1986)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Discipline of Grace'' by Jerry Bridges (Colorado Springs, CO: NavPress, 1994)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Atonement'' by Leon Morris (Downwers Grove, IL: InterVarsity Press, 1984)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Catatan ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Sukartay</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/Justified_by_Christ/id</id>
		<title>This Great Salvation/Justified by Christ/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/Justified_by_Christ/id"/>
				<updated>2007-12-28T12:38:14Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Sukartay: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;= Dibenarkan Oleh Yesus =&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum Martin Luther menjadi terkenal karena peran pentingnya dalam Reformasi, ia dikenal seluruh Eropa sebagai seorang pelajar hukum yang brilian. Yang paling banyak mempengaruhi pendeta pengikut Agustinus ini adalah pembelajarannya akan hukum Allah di dalam Firman Tuhan. Saat ia merenungkan perintah-perintah Allah, ia menjadi sangat menyadari murka Allah. Setiap kali ia mempelajari pribadi dan pekerjaan Yesus Kristus ia mengenal inilah Yang benar yang pada akhirnya akan menghakiminya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesadaran yang terus menerus itu merongrong Luther dengan perasaan bersalah yang tak terbendung. Sementara rekan-rekannya menghabiskan beberapa menit untuk mengaku dosa, ia menghabiskan berjam-jam. Sebagian orang mengira bahwa mentalnya tidak stabil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teolog Anthony Hoekema menggambarkan kesedihan mental itu membawa pada penemuan teologi besar Luther:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Martin Luther telah mencoba segalanya: tidur di atas lantai yang keras, tidak makan, bahkan menaiki sebuah tangga di Roma dengan tangan dan lututnya – tapi tidak berhasil. Para gurunya di biara memberitahunya bahwa ia telah melakukan cukup untuk mendapatkan kedamaian jiwa. Tapi ia tidak memiliki damai. Kesadarannya akan dosa terlalu dalam.&lt;br /&gt;
:Ia telah mempelajari kitab Mazmur. Kitab ini sering menyebut “kebenaran Tuhan.” Tapi istilah ini mengganggunya. Ia mengira itu berarti kebenaran Tuhan yang menghukum, dimana Ia menghukum orang berdosa. Dan Luther mengetahui ia adalah orang berdosa. Jadi manakala ia melihat kata kebenaran di dalam Alkitab, ia melihat merah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Pembenaran adalah memang jawaban Allah bagi semua pertanyaan manusia yang paling penting: Bagaimana seorang pria atau wanita dibenarkan dengan Tuhan? Kita tidak dibenarkan dengan Tuhan dengan sendirinya. Kita berada di bahwa murka Allah. Pembenaran adalah sangat penting, karena kita harus dibenarkan dengan Allah atau kita binasa selamanya… Kesulitannya adalah mayoritas orang saat ini tidak merasakan kebutuhan di area ini. Martin Luther telah merasakannya; hal itu menghantuinya. Ia tahu bahwa ia tidak benar dengan Allah, dan ia mengantisipasi konfrontasi dengan Allah yang murka di penghakiman terakhir. Allah menunjukkan kepadanya bahwa ia bisa mengalami hubungan yang benar dengan Allah melalui pekerjaan Yesus Kristus. Tetapi di jaman ini siapa yang merasakan intensitas kepedihan Luther?�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-00000012-QINU&amp;quot; — James Montgomery Boice}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Pada suatu hari ia membuka kitab Roma. Di sana ia membaca tentang injil Kristus yang adalah kekuatan Allah untuk keselamatan (1:16). Ini adalah sebuah kabar baik! Tetapi ayat selanjutnya berkata, “Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah“- ada kata buruk ''kebenaran'' itu lagi! Dan depresi Luther kembali lagi. Hal itu menjadi lebih buruk ketika ia meneruskan membaca tentang murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia (ayat 18).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka Luther kembali ke ayat 17 lagi. Bagaimana bisa Paulus menuliskan kata-kata mengerikan seperti itu?...Tiba-tiba pencerahan datang padanya. “Kebenaran Tuhan” yang Paulus maksud di sini bukanlah keadilan Tuhan yang bersifat menghukum yang membuatNya menghukum orang berdosa, melainkan kebenaran yang Tuhan ''berikan'' kepada orang berdosa yang membutuhkan, dan yang orang berdosa itu terima dengan ''iman''. Ini adalah kebenaran yang sempurna dan tidak bercacat, didapatkan oleh Kristus, yang dengan kemurahan Tuhan berikan pada semua yang percaya. Luther tidak perlu lagi mencari dasar untuk kedamaian jiwa di dalam dirinya, di dalam perbuatan baiknya sendiri. Sekarang ia dapat melihat lepas dari dirinya sendiri dan melihat kepada Kristus, hidup dengan iman daripada bersembunyi dalam ketakutan. Pada saat itulah Reformasi Protestan lahir.&amp;lt;ref&amp;gt;Anthony Hoekema, ''Saved by Grace'' (Grand Rapids, MI: Wm. B. Eerdmans Co., 1989), p. 152. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Renungkan Roma 1:17.''' Frase kunci apa di ayat ini yang merevolusi pengertian Martin Luther tentang keselamatan? Bagaimana pengaruhnya bagi Anda?}}Luther melanjutkan dengan berkata bahwa doktrin pembenaran adalah doktrin yang olehnya Gereja berdiri atau jatuh. “Doktrin ini merupakan kepala dan batu penjuru Gereja yang melahirkan, memelihara, membangun dan melindungi Gereja. Tanpanya gereja Tuhan tidak dapat bertahan hidup untuk satu jam.”&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''The Christian Life: A Doctrinal Introduction'' (Carlisle, PA: The Banner of Truth Trust, 1989), p. 80. &amp;lt;/ref&amp;gt;Di poin yang lain ia menambahkan, “Bila doktrin pembenaran ini hilang, maka semua doktrin kekristenan yang benar hilang.”&amp;lt;ref&amp;gt;John R.W. Stott, ''Only One Way: The Message of Galatians'' (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1968), p. 60. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketakutan Luther akan murka Allah telah dibenarkan, seperti kita pelajari di bab sebelumnya. Semua orang Kristen harus mengingat siapa dan apa mereka sebelumnya: jahat dalam perilaku mereka, musuh Allah, sepenuhnya terasing dari-Nya, dan sasaran kemarahan-Nya. Tetapi mengenali masa lalu hanya memiliki nilai sejauh hal itu membuat kita menyadari dan mengagumi akan posisi kita sekarang di dalam Kristus. Kita harus mengenali siapa ''kita sekarang'' karena hadiah kemurahan Tuhan akan pembenaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka yang telah menerima pekerjaan pembenaran Kristus mengalami sebuah perubahan yang dramatis dan luar biasa. Kita telah dibenarkan karena iman melalui anugerah yang besar dari Allah yang Maha Kuasa. Tanpa pengetahuan yang akurat dan pengetahuan yang datang dari pengalaman tentang pembenaran Gereja “tidak dapat bertahan hidup untuk satu jam”…sedikitnya tidak dengan keotentikan. Kita pun juga tidak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Posisi atau Proses? ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Pada saat Yesus mati di kayu salib, tirai bait suci yang memisahkan tempat suci dengan tempat paling suci secara supernatural robek menjadi dua. Untuk mengerti pentingnya peristiwa itu, bacalah Ibrani 9:1-14.}}Pembenaran adalah istilah resmi yang berarti “mendeklarasikan benar.” Hoekema mendefinisikan pembenaran sebagai “perubahan permanen dalam hubungan yuridis kita dengan Tuhan dimana kita diampuni dari tuduhan bersalah, dan dimana Tuhan mengampuni semua dosa-dosa kita di atas dasar pekerjaan Yesus Kristus yang telah tergenapi.”&amp;lt;ref&amp;gt;Anthony Hoekema, ''Saved by Grace'', p. 178. &amp;lt;/ref&amp;gt;Walaupun kita bersalah di hadapan Hakim semesta yang kudus, setelah melanggar hukum-Nya dan layak menerima murka-Nya, Ia telah mendeklarasikan kita sebagai benar. Bagaimana? Atas dasar apa yang Yesus Kristus telah capai di Kayu Salib. Hanya Salib dapat membuat kita dapat diterima di hadapan Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pembenaran adalah sebuah hadiah yang kita terima dari Tuhan, bukan sesuatu yang kita peroleh atau capai. Kita tidak bertanggung jawan ataupun mampu untuk menyumbang bagi pembenaran kita di hadapan Tuhan. Status benar ini tidak bisa dicapai atau dilayakan, hanya diterima dan dihargai. Kita menerima apa yang Kristus dan Kristus sendiri capai untuk kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk dapat sepenuhnya mengerti akan kebenaran yang ajaib ini, adalah esensial kita membedakan pembenaran (justification) dan penyucian (sanctification). Walaupun kedua doktrin ini tidak dapat dipisahkan, kita harus membedakan antara perannya masing-masing di dalam kehidupan iman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Tiada seorangpun yang mengerti kekristenan yang tidak memahami kata ini. Yaitu kata 'dibenarkan.'&amp;quot;�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-00000017-QINU — John Stott}}Pembenaran berarti kita ''dinyatakan'' benar. Penyucian berarti kita sedang ''dibuat'' benar. (Pahami perbedaan itu saja dan hidup Anda tidak akan pernah sama lagi!) Pembenaran adalah ''hadiah'' kekudusan; penyucian adalah ''pelatihan'' kekudusan. Mungkin yang paling kritikal, pembenaran adalah sebuah ''posisi'' – yang dibuat segera dan secara komplit setelah pertobatan – sedangkan penyucian adalah sebuah proses dari perubahan internal dan pengembangan karakter yang dimulai pada saat regenerasi dan terus berlanjut selama kita hidup. “Di dalam Firman Ruhan,” tulis Sinclair Ferguson, “membenarkan bukan berarti membuat benar seperti merubah karakter seseorang. Membenarkan artinya menjadikan benar dengan cara mendeklarasikan.”&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''The Christian Life'', p. 72. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Pembenaran adalah sebuah PERBUATAN. Pembenaran bukanlah pekerjaan, atau satu seri perbuatan. Pembenaran tidak progresif. Orang percaya yang paling lemah dan orang kudus yang paling kuat adalah serupa dan dibenarkan secara sama. Pembenaran tidak mengakui adanya tingkatan. Seseorang, hanya bisa seluruhnya dibenarkan atau seluruhnya dikutuk di hadapan Allah.�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-00000019-QINU&amp;quot; — William S. Plumer}}Pembenaran bukanlah sebuah proses. Pembenaran adalah sebuah deklarasi, sebuah pernyataan ilahi yang tidak dapat ditantang, dirubah ataupun dinaikbanding. Paulus secara empati berkata, “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus” (Rom 5:1). Transformasi mulia ini tidak terjadi sedikit demi sedikit, dan juga tidak berubah-ubah. Anda tidak lebih dibenarkan selama jangka waktu tertentu daripada jangka waktu lainnya. Hal ini perlu ditegaskan kembali: “''Anda tidak akan pernah lebih dibenarkan daripada keadaan Anda saat ini.'' Di atas itu semua, tidak seorangpun dalam sejarah pernah lebih dibenarkan daripada Anda sekarang. Martin Luther tidak, Paulus tidak – seorang pun tidak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Apakah Anda pernah dirampas dari buah-buah keselamatan Anda yang agung? Jawablah kuis Benar/Salah berikut ini untuk memastikan Anda mengerti perbedaan antara pembenaran dan penyucian. (Jawaban ada di catatan kaki.�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-0000001A-QINU) * Pembenaran adalah hasil dari penyucian. '''B S''' * Penyucian adalah proses sepanjang hidup. '''B S''' * Kasih Allah untuk kita bertumbuh sesuai dengan kedewasaan kita. '''B S''' * Pembenaran mengacu kepada posisi kita di dalam Kristus, penyucian mengacu pada proses. '''B S''' * Merubah kebiasaan-kebiasaan berdosa membuat kita lebih benar. '''B S''' * Pertumbuhan rohani adalah bukti yang baik bahwa kita telah dibenarkan. '''B S'''}}Banyak orang Kristen yang bingung tentang doktrin pembenaran dan penyucian dan oleh karenanya tidak bisa merasakan sepenuhnya berkat-berkat yang keselamatan agung ini hasilkan. Adalah sangat penting kita mengerti perbedaan antara posisi kita (pembenaran) dan pelatihan kita (penyucian). Sementara penyucian adalah bukti dan tujuan dari pembenaran, penyucian tidak boleh dipandang sebagai dasar dari pembenaran di hadapan Tuhan, tidak peduli betapa menjadi dewasanya kita. Kita tidak mampu menambahkan apa yang Kristus telah raih. Seperti Alister McGrath katakan, “Satu-satunya hal yang bisa dibilang kita kontribusikan dalam pembenaran kita adalah dosa yang telah Tuhan ampuni dengan kemurahan.” Kita dibenarkan hanya karena anugerah semata.&amp;lt;ref&amp;gt;Alister McGrath, ''Justification by Faith'' (Grand Rapids, MI: Zondervan Publishing House, 1988), p. 132. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Membuat Frustrasi dan Sia-Sia ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Doktrin pembenaran perlu dijalankan dan ditengok secara terus menerus, seperti yang Martin Luther sadari betul. Nasihat Martin Luther yang biasa terus terang? “Tempelkan itu ke kepala mereka terus menerus.”&amp;lt;ref&amp;gt;John R.W. Stott, ''Only One Way'', p. 59. &amp;lt;/ref&amp;gt;Sebagai tambahan bagi pengulangan ulet dari para pemimpin kita, kita perlu mempraktekan dan menghargai kebenaran dari pembenaran di dalam hidup kita sehari-hari. Kalau tidak, kita akan menemukan diri kita mudah jatuh dalam salah satu musuh Gereja yang paling serius dan tidak kentara: legalisme.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Kemuliaan Injil adalah bahwa Allah menyatakan orang Kristen memiliki hubungan yang benar dengan-Nya meskipun adanya dosa-dosa mereka. Tetapi pencobaan dan kesalahan terbesar kita adalah berusaha menyusupkan karakter ke dalam pekerjaan kasih karunia-Nya. Betapa mudahnya kita jatuh ke dalam jebakan anggapan bahwa kita hanya tetap dibenarkan selama ada dasarnya pada karakter kita untuk pembenaran itu. Tetapi ajaran Paulus adalah tidak ada yang dapat kita perbuat untuk menyumbang bagi pembenaran kita.�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-0000001D-QINU&amp;quot; — Sinclair Ferguson}}Legalisme melibatkan usaha untuk memperoleh penerimaan dari Tuhan melalui ketaatan kita sendiri. Kita hanya memiliki dua pilihan: menerima kekudusan sebagai pemberian Tuhan atau mencoba untuk melahirkan kekudusan kita sendiri. Legalisme adalah usaha untuk dibenarkan melalui sumber yang lain daripada Yesus Kristus dan pekerjaan-Nya yang telah genap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berpegang pada legalisme berarti percaya bahwa Salib itu tidak perlu atau tidak cukup (Gal 2:21, 5:2). Itu merupakan penafsiran yang tepat akan motif dan perbuatan Anda, walaupun Anda masih secara mental mengakui kebutuhan akan pengorbanan Kristus. Dalam usaha kita mengejar ketaatan dan kedewasaan, legalisme secara perlahan dan samar menguasai kita dan kita mulai mengganti pekerjaan kita untuk pekerjaan genap Kristus. Hasilnya adalah keangkuhan atau penghakiman. Bukannya bertumbuh dalam kasih karunia kita meninggalkan kasih karunia. Itulah penilaian Paulus terhadap gereja di Galatia ketika ia menulis, “Kamu lepas dari Kristus jikalau kamumengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia.” (Gal 5:4).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Untuk menghargai besarnya keprihatinan Paulus tentang legalisme, bacalah Galatia 1:6-9, 2:21, 3:1-4, 3:10, 4:8-11, 4:19-20, 5:2-4, dan 5:7-12.}}Kalau Anda telah berusaha menjalani hidup seperti ini, Anda mungkin sekarang telah belajar bahwa bahwa legalisme itu adalah sia-sia dan membuat frustrasi. Setiap usaha legalisme untuk memperoleh kekudusan akhirnya akan mengalami kegagalan. Selama bertahun-tahun saya telah belajar mengenali beberapa tanda yang sangat jelas dari adanya legalisme. Ini adalah beberapa diantaranya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Anda lebih menyadari akan dosa-dosa masa lalu Anda daripada pribadi dan pekerjaan genap Kristus.&lt;br /&gt;
* Anda hidup berpikir, percaya, dan merasa bahwa Tuhan kecewa terhadap Anda daripada bersukacita dalam Anda. Anda menganggap penerimaan Tuhan bergantung pada ketaatan Anda.&lt;br /&gt;
* Anda kurang sukacita. Ini sering menjadi indikasi pertama dari adanya legalisme. Penghakiman adalah hasil dari merenungkan ketidakcukupan kita; sukacita adalah hasil hari memikirkan kecukupan kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Pernahkan Anda dijerat oleh kehadiran legalisme yang samar? Kalau ya, sadarlah. Legalisme cenderung menyebar daripada tetap terbatasi (Gal 5:9). Legalisme harus dihilangkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Masalah dengan gereja Galatia bukanlah ketaatan pada hukum moral Allah; melainkan, ketergantungan pada hukum moral…untuk keselamatan.�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-0000001E-QINU&amp;quot; — Jerry Bridges}}Satu-satunya cara efektif untuk mencabut legalisme adalah dengan doktrin pembenaran. Kalau Anda telah menelantarkan atau mengabaikan doktrin ini, maka buatlah tindakan sedramatis apapun yang dibutuhkan untuk berubah. Sediakan waktu setiap hari untuk mengulang, melatih, dan bersukacita atas kebenaran yang agung, objektif dan bersifat posisi ini. Batasi konsumsi spiritual Anda pada pembelajaran tentang pembenaran sampai Anda yakin akan penerimaan Tuhan, merasa aman di dalam kasih-Nya dan bebas dari legalisme dan penghakiman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penyaliban Yesus Kristus merupakan satu peristiwa sejarah yang paling menentukan. Dengan akurat Sinclair Ferguson menyatakan hal berikut: {{RightInsert|'''Renungkan Roma 7:14-25.''' Pada saat kita mengerti betul kebejatan kita sendiri kita akan lebih sulit untuk dicobai oleh legalisme.}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Waktu kita berpikir Kristus mati di kayu salib kita diperlihatkan seberapa panjangnya kasih Tuhan dengan tujuan memenangkan kita kembali kepada-Nya…Ia berkata kepada kita: Aku mengasihi Engkau sebesar ini… Salib adalah jantung Injil. Salib membuat Injil menjadi kabar baik: Kristus mati untuk kira. Ia telah berdiri di tempat kita di hadapan kursi penghakiman Allah. Ia menanggung dosa-dosa kita. Tuhan telah melakukan sesuatu di atas kayu salib yang tidak mungkin kita sendiri pernah dapat lakukan… Alasan kita kurang yakin akan kasih karunia-Nya adalah karena kita gagal untuk fokus kepada tempat itu dimana Ia menyatakannya.&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''Grow in Grace'' (Carlisle, PA: The Banner of Truth Trust, 1989), p. 56, 58–59.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Kemana Anda akan memfokuskan perhatian Anda? Apakah pada dosa-dosa masa lalu Anda, keadaan emosi Anda saat ini, atau area karakter dimana Anda masih perlu bertumbuh? Ataukah Anda akan fokus pada pekerjaan Kristus yang genap? Legalisme tidak perlu memotivasi Anda. Penghakiman tidak perlu menyiksa Anda. Allah telah membenarkan Anda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Dua kategori orang seperti apa yang digambarkan di Yakobus 1:22-25? Kelompok yang mana yang Tuhan janji akan berkati?}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jangan Berargumentasi dengan Hakim === &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengerti doktrin pembenaran secara intelektual dengan sendirinya tidaklah cukup. Tuhan menginginkan kita untuk mengalami transformasi – secara total, murni, dan permanen ditransform oleh kotrin penting ini. J.I. Packer telah menyatakan, “Masalahnya bukan, apakah seseorang dapat menyebutkan doktrin ini dengan keakuratan Firman yang penuh (hal itu, telah kita lihat, adalah pekerjaan yang membutuhlan ketelitian), tetapi, apakah seseorang tahu realitasnya dalam pengalaman.”&amp;lt;ref&amp;gt;J.I. Packer, ''God’s Words: Studies of Key Bible Themes'' (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1981), p. 147. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Kolose 2:13-15 menyatakan hutang kita yang sangat besar kepada Tuhan. Apa yang Yesus lakukan dengan surat tagihan hutang? }}Tujuan kami menulis buku ini bukan pada dasarnya Anda belajar bagaimana mengartikulasi doktrin agung ini tetapi Anda dirubah olehnya, bahwa pengertian Anda akan berbuah pada kebebasan pribadi dari legalisme dan penghakiman serta kasih dan semangat yang bertambah-tambah kepada Yesus Kristus. Adalah mungkin menyadari pembenaran oleh kasih karunia tanpa terpengaruh secara pribadi. Kita perlu menghargai dan mempraktekan kebenaran besar ini setiap hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cerita yang akan saya bagikan merupakan sebuah pelajaran penuh kuasa bagi saya setelah saya mempejalari benar doktrin pembenaran. Selama hari-hari sebelum pertobatan saya sebagai mahasiswa tahun pertama, saya ditangkap karena kepemilikan mariyuana. Detail peristiwa tersebut masih sangat jelas di benak saya. Saat saya duduk di ruang sidang menghadapi hakin, saya mencoba sebisa saya untuk terlihat tulus dan tersiksa, tetapi saya hanya bisa ketakutan. Saya tahu ada kesempatan besar saya akan dijatuhi hukuman dan dituduh dengan pelanggaran tambahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Adalah tidak cukup untuk hanya mengetahui bahwa Yesus telah mati, atau bahkan mengapa Ia mati. Pengetahuan tersebut merupakan hasil dari “iman yang hanya bersifat sejarah” yang tidak dapat menyelamatkan… Hanya pada waktu kita menyadari bahwa Kristus diberi pro me, pro nobis (“untuk aku,” “untuk kita”) kita telah membedakan pentingnya pencapaian Kristus. .�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-00000021-QINU&amp;quot; — Timothy George}}Ternyata, kasus saya tidak pernah mengalami kemajuan setelah saksi pertama. Karena polisi menggeledah kamar saya tanpa surat resmi yang dibutuhkan, bantah pengacaran saya, pengadilan harus mencabut gugatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hakim duduk mendengarkan dengan sabar saat jaksa mengajukan keberatan dan mengulang kembali bukti-bukti yang memberatkan saya. Akhirnya, ia melihat ke arah saya. Pria itu jelas terlihat frustasi. Tidak berkuasa untuk memberi lebih dari teguran, ia menguliahi saya dengan kata-kata yang sekeras-kerasnya. Saya mencoba untuk kelihatan menyesal. Saya menganggukan kepada saya atas setiap penyataan. Tapi saya tidak ingat apapun yang ia katakan – saya terlalu gembira karena kenyataan bahwa ia akan melepas saya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika saya disidang saya tahu bahwa saya bersalah. Saya kira semua orang mengetahui itu. Tetapi pada waktu hakim membebaskan saya, saya tidak berargumentasi dengannya. Saya tidak meminta dan memohon kepada hakim untuk melanjutkan kasus itu. Saya tidak memintanya untuk mengabaikan teknis legalitas dan mengijinkan jaksa untuk terus maju. Hanya kali ini saya dengan gembira tunduk kepada seseorang yang memiliki otoritas lebih besar. Bila sang hakim ingin melepaskan pelanggaran itu, saya akan dengan senang hati menerima keputusannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Renungkan Ulangan 31:8.''' Daripada melanggar janji-Nya yang indah kepada kita (meskipun kita tidak pernah layak diberi janji seperti itu), Tuhan meninggalkan Putra-Nya sendiri.}}Setiap dari kita berdiri bersalah di hadapan Hakim dari segalanya. Tetapi kejahatan kita menentang-Nya berada di tingkat yang secara total berbeda dengan kesalahan saya. Dan walaupun saya diloloskan karena hal teknis, kita telah dinyatakan benar atas dasar pengorbanan Kristus yang telah direncanakan dan bersifat menggantikan kita itu. Yesus Kristus secara suka rela dan sengaja memberikan hidup-Nya sepaya Allah dapat tetap adil saat membenarkan yang bersalah – Anda dan saya. Allah telah menyatakan kita benar. Yang tertinggal hanyalah masalah apakah kita akan menerima pernyataan ini. Pilihan untuk menerima atau tidak berada di hadapan kita setiap hari, sering berkali-kali dalam satu hari: Akankah kita menerima pembenaran karena iman karena pernyataan oleh Tuhan, atau akankah kita mengijinkan penghakiman dan legalisme untu menguasai kita saat kita bergantung pada perasaan dan ketaatan kita?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Kehidupan Kristen melibatkan bukan saja percaya sesuatu tentang Kristus tetapi juga percaya sesuatu tentang diri kita sendiri… Iman kita di dalam Kristus harus mencakup percaya bahwa kita adalah apa yang Alkitab katakan tentang kita.&amp;quot; — Anthony Hoekema}}Tentukanlah bahwa emosi Anda yang tidak stabil dan tidak terprediksi tidak akan medikte atau menipu Anda. Jangan ijinkan emosi-emosi itu untuk menjadi otoritas terakhir di dalam hidup Anda. Percayalah apa yang Tuhan katakan tentang Anda. Kalau Anda bijaksana Anda akan mengikuti teladan saya: Jangan berargumentasi dengan Hakim.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Ditinggalkan Demi Pengampunan Kita ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah yang menciptakan Anda menerima Anda. Anak-Nya secara suka rela menghadapi kengerian Salib yang tidak terbayangkan, ditinggalkan Allah Bapa dan manusia, demi untuk membenarkan Anda. Ia dibuang supaya kita bisa diampuni. Ia mengalami perpisahan supaya kita dapat selamanya aman dalam kasih Allah. Ia menanggung murka Allah sehingga kita tidak pernah perlu melakukannya. “Yesus yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitakan karena pembenaran kita” (Rom 4:25). Anda telah dibenarkan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah mengherankan Reformasi merubah sejarah Gereja? Tidak ada cara apapun untuk mengekang doktrin ini. Sekali doktrin ini dilepas ia akan merubah hidup setiap orang yang disentuhnya – termasuk Anda sendiri. &amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Diskusi Kelompok ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# Di halaman 52 pengarang menulis, “Anda tidak akan pernah lebih dibenarkan daripada Anda saat ini.” Bagaimana kalimat ini mempengaruhi usaha-usaha Anda untuk menjalani hidup yang menyenangkan Tuhan?&lt;br /&gt;
# Renungkan dengan tenang untuk satu atau dua menit tentang Salib. Menurut Anda apakah yang Yesus rasakan waktu ia menyaradari Allah telah meninggalkan-Nya?&lt;br /&gt;
# Apakah mungkin untuk terlalu fokus pada menjadi serupa dengan teladan Kristus?&lt;br /&gt;
# Apa yang membuat legalisme menjadi sebuah penyimpangan sesat yang tak disadari?&lt;br /&gt;
# Bagaimana kita mengimbangi doktrin pembenaran dan penyucian tanpa oleng kepada legalisme ataupun ijin?&lt;br /&gt;
# Satu hal apa yang dapat kontribusi bagi pembenaran kita?(Petunjuk: Tidak ada yang perlu disombongkan!)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bacaan yang Direkomendasikan ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Cross of Christ'' by John R. W. Stott (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1986)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Discipline of Grace'' by Jerry Bridges (Colorado Springs, CO: NavPress, 1994)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Atonement'' by Leon Morris (Downwers Grove, IL: InterVarsity Press, 1984)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Catatan ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Sukartay</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/Justified_by_Christ/id</id>
		<title>This Great Salvation/Justified by Christ/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/Justified_by_Christ/id"/>
				<updated>2007-12-28T12:36:31Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Sukartay: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;= Dibenarkan Oleh Yesus =&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum Martin Luther menjadi terkenal karena peran pentingnya dalam Reformasi, ia dikenal seluruh Eropa sebagai seorang pelajar hukum yang brilian. Yang paling banyak mempengaruhi pendeta pengikut Agustinus ini adalah pembelajarannya akan hukum Allah di dalam Firman Tuhan. Saat ia merenungkan perintah-perintah Allah, ia menjadi sangat menyadari murka Allah. Setiap kali ia mempelajari pribadi dan pekerjaan Yesus Kristus ia mengenal inilah Yang benar yang pada akhirnya akan menghakiminya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesadaran yang terus menerus itu merongrong Luther dengan perasaan bersalah yang tak terbendung. Sementara rekan-rekannya menghabiskan beberapa menit untuk mengaku dosa, ia menghabiskan berjam-jam. Sebagian orang mengira bahwa mentalnya tidak stabil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teolog Anthony Hoekema menggambarkan kesedihan mental itu membawa pada penemuan teologi besar Luther:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Martin Luther telah mencoba segalanya: tidur di atas lantai yang keras, tidak makan, bahkan menaiki sebuah tangga di Roma dengan tangan dan lututnya – tapi tidak berhasil. Para gurunya di biara memberitahunya bahwa ia telah melakukan cukup untuk mendapatkan kedamaian jiwa. Tapi ia tidak memiliki damai. Kesadarannya akan dosa terlalu dalam.&lt;br /&gt;
:Ia telah mempelajari kitab Mazmur. Kitab ini sering menyebut “kebenaran Tuhan.” Tapi istilah ini mengganggunya. Ia mengira itu berarti kebenaran Tuhan yang menghukum, dimana Ia menghukum orang berdosa. Dan Luther mengetahui ia adalah orang berdosa. Jadi manakala ia melihat kata kebenaran di dalam Alkitab, ia melihat merah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Pembenaran adalah memang jawaban Allah bagi semua pertanyaan manusia yang paling penting: Bagaimana seorang pria atau wanita dibenarkan dengan Tuhan? Kita tidak dibenarkan dengan Tuhan dengan sendirinya. Kita berada di bahwa murka Allah. Pembenaran adalah sangat penting, karena kita harus dibenarkan dengan Allah atau kita binasa selamanya… Kesulitannya adalah mayoritas orang saat ini tidak merasakan kebutuhan di area ini. Martin Luther telah merasakannya; hal itu menghantuinya. Ia tahu bahwa ia tidak benar dengan Allah, dan ia mengantisipasi konfrontasi dengan Allah yang murka di penghakiman terakhir. Allah menunjukkan kepadanya bahwa ia bisa mengalami hubungan yang benar dengan Allah melalui pekerjaan Yesus Kristus. Tetapi di jaman ini siapa yang merasakan intensitas kepedihan Luther?�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-00000012-QINU&amp;quot; — James Montgomery Boice}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Pada suatu hari ia membuka kitab Roma. Di sana ia membaca tentang injil Kristus yang adalah kekuatan Allah untuk keselamatan (1:16). Ini adalah sebuah kabar baik! Tetapi ayat selanjutnya berkata, “Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah“- ada kata buruk ''kebenaran'' itu lagi! Dan depresi Luther kembali lagi. Hal itu menjadi lebih buruk ketika ia meneruskan membaca tentang murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia (ayat 18).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka Luther kembali ke ayat 17 lagi. Bagaimana bisa Paulus menuliskan kata-kata mengerikan seperti itu?...Tiba-tiba pencerahan datang padanya. “Kebenaran Tuhan” yang Paulus maksud di sini bukanlah keadilan Tuhan yang bersifat menghukum yang membuatNya menghukum orang berdosa, melainkan kebenaran yang Tuhan ''berikan'' kepada orang berdosa yang membutuhkan, dan yang orang berdosa itu terima dengan ''iman''. Ini adalah kebenaran yang sempurna dan tidak bercacat, didapatkan oleh Kristus, yang dengan kemurahan Tuhan berikan pada semua yang percaya. Luther tidak perlu lagi mencari dasar untuk kedamaian jiwa di dalam dirinya, di dalam perbuatan baiknya sendiri. Sekarang ia dapat melihat lepas dari dirinya sendiri dan melihat kepada Kristus, hidup dengan iman daripada bersembunyi dalam ketakutan. Pada saat itulah Reformasi Protestan lahir.&amp;lt;ref&amp;gt;Anthony Hoekema, ''Saved by Grace'' (Grand Rapids, MI: Wm. B. Eerdmans Co., 1989), p. 152. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Renungkan Roma 1:17.''' Frase kunci apa di ayat ini yang merevolusi pengertian Martin Luther tentang keselamatan? Bagaimana pengaruhnya bagi Anda?}}Luther melanjutkan dengan berkata bahwa doktrin pembenaran adalah doktrin yang olehnya Gereja berdiri atau jatuh. “Doktrin ini merupakan kepala dan batu penjuru Gereja yang melahirkan, memelihara, membangun dan melindungi Gereja. Tanpanya gereja Tuhan tidak dapat bertahan hidup untuk satu jam.”&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''The Christian Life: A Doctrinal Introduction'' (Carlisle, PA: The Banner of Truth Trust, 1989), p. 80. &amp;lt;/ref&amp;gt;Di poin yang lain ia menambahkan, “Bila doktrin pembenaran ini hilang, maka semua doktrin kekristenan yang benar hilang.”&amp;lt;ref&amp;gt;John R.W. Stott, ''Only One Way: The Message of Galatians'' (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1968), p. 60. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketakutan Luther akan murka Allah telah dibenarkan, seperti kita pelajari di bab sebelumnya. Semua orang Kristen harus mengingat siapa dan apa mereka sebelumnya: jahat dalam perilaku mereka, musuh Allah, sepenuhnya terasing dari-Nya, dan sasaran kemarahan-Nya. Tetapi mengenali masa lalu hanya memiliki nilai sejauh hal itu membuat kita menyadari dan mengagumi akan posisi kita sekarang di dalam Kristus. Kita harus mengenali siapa ''kita sekarang'' karena hadiah kemurahan Tuhan akan pembenaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka yang telah menerima pekerjaan pembenaran Kristus mengalami sebuah perubahan yang dramatis dan luar biasa. Kita telah dibenarkan karena iman melalui anugerah yang besar dari Allah yang Maha Kuasa. Tanpa pengetahuan yang akurat dan pengetahuan yang datang dari pengalaman tentang pembenaran Gereja “tidak dapat bertahan hidup untuk satu jam”…sedikitnya tidak dengan keotentikan. Kita pun juga tidak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Posisi atau Proses? ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Pada saat Yesus mati di kayu salib, tirai bait suci yang memisahkan tempat suci dengan tempat paling suci secara supernatural robek menjadi dua. Untuk mengerti pentingnya peristiwa itu, bacalah Ibrani 9:1-14.}}Pembenaran adalah istilah resmi yang berarti “mendeklarasikan benar.” Hoekema mendefinisikan pembenaran sebagai “perubahan permanen dalam hubungan yuridis kita dengan Tuhan dimana kita diampuni dari tuduhan bersalah, dan dimana Tuhan mengampuni semua dosa-dosa kita di atas dasar pekerjaan Yesus Kristus yang telah tergenapi.”&amp;lt;ref&amp;gt;Anthony Hoekema, ''Saved by Grace'', p. 178. &amp;lt;/ref&amp;gt;Walaupun kita bersalah di hadapan Hakim semesta yang kudus, setelah melanggar hukum-Nya dan layak menerima murka-Nya, Ia telah mendeklarasikan kita sebagai benar. Bagaimana? Atas dasar apa yang Yesus Kristus telah capai di Kayu Salib. Hanya Salib dapat membuat kita dapat diterima di hadapan Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pembenaran adalah sebuah hadiah yang kita terima dari Tuhan, bukan sesuatu yang kita peroleh atau capai. Kita tidak bertanggung jawan ataupun mampu untuk menyumbang bagi pembenaran kita di hadapan Tuhan. Status benar ini tidak bisa dicapai atau dilayakan, hanya diterima dan dihargai. Kita menerima apa yang Kristus dan Kristus sendiri capai untuk kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk dapat sepenuhnya mengerti akan kebenaran yang ajaib ini, adalah esensial kita membedakan pembenaran (justification) dan penyucian (sanctification). Walaupun kedua doktrin ini tidak dapat dipisahkan, kita harus membedakan antara perannya masing-masing di dalam kehidupan iman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Tiada seorangpun yang mengerti kekristenan yang tidak memahami kata ini. Yaitu kata 'dibenarkan.'&amp;quot;�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-00000017-QINU — John Stott}}Pembenaran berarti kita ''dinyatakan'' benar. Penyucian berarti kita sedang ''dibuat'' benar. (Pahami perbedaan itu saja dan hidup Anda tidak akan pernah sama lagi!) Pembenaran adalah ''hadiah'' kekudusan; penyucian adalah ''pelatihan'' kekudusan. Mungkin yang paling kritikal, pembenaran adalah sebuah ''posisi'' – yang dibuat segera dan secara komplit setelah pertobatan – sedangkan penyucian adalah sebuah proses dari perubahan internal dan pengembangan karakter yang dimulai pada saat regenerasi dan terus berlanjut selama kita hidup. “Di dalam Firman Ruhan,” tulis Sinclair Ferguson, “membenarkan bukan berarti membuat benar seperti merubah karakter seseorang. Membenarkan artinya menjadikan benar dengan cara mendeklarasikan.”&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''The Christian Life'', p. 72. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Pembenaran adalah sebuah PERBUATAN. Pembenaran bukanlah pekerjaan, atau satu seri perbuatan. Pembenaran tidak progresif. Orang percaya yang paling lemah dan orang kudus yang paling kuat adalah serupa dan dibenarkan secara sama. Pembenaran tidak mengakui adanya tingkatan. Seseorang, hanya bisa seluruhnya dibenarkan atau seluruhnya dikutuk di hadapan Allah.�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-00000019-QINU&amp;quot; — William S. Plumer}}Pembenaran bukanlah sebuah proses. Pembenaran adalah sebuah deklarasi, sebuah pernyataan ilahi yang tidak dapat ditantang, dirubah ataupun dinaikbanding. Paulus secara empati berkata, “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus” (Rom 5:1). Transformasi mulia ini tidak terjadi sedikit demi sedikit, dan juga tidak berubah-ubah. Anda tidak lebih dibenarkan selama jangka waktu tertentu daripada jangka waktu lainnya. Hal ini perlu ditegaskan kembali: “''Anda tidak akan pernah lebih dibenarkan daripada keadaan Anda saat ini.'' Di atas itu semua, tidak seorangpun dalam sejarah pernah lebih dibenarkan daripada Anda sekarang. Martin Luther tidak, Paulus tidak – seorang pun tidak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Apakah Anda pernah dirampas dari buah-buah keselamatan Anda yang agung? Jawablah kuis Benar/Salah berikut ini untuk memastikan Anda mengerti perbedaan antara pembenaran dan penyucian. (Jawaban ada di catatan kaki.�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-0000001A-QINU) * Pembenaran adalah hasil dari penyucian. '''B S''' * Penyucian adalah proses sepanjang hidup. '''B S''' * Kasih Allah untuk kita bertumbuh sesuai dengan kedewasaan kita. '''B S''' * Pembenaran mengacu kepada posisi kita di dalam Kristus, penyucian mengacu pada proses. '''B S''' * Merubah kebiasaan-kebiasaan berdosa membuat kita lebih benar. '''B S''' * Pertumbuhan rohani adalah bukti yang baik bahwa kita telah dibenarkan. '''B S'''}}Banyak orang Kristen yang bingung tentang doktrin pembenaran dan penyucian dan oleh karenanya tidak bisa merasakan sepenuhnya berkat-berkat yang keselamatan agung ini hasilkan. Adalah sangat penting kita mengerti perbedaan antara posisi kita (pembenaran) dan pelatihan kita (penyucian). Sementara penyucian adalah bukti dan tujuan dari pembenaran, penyucian tidak boleh dipandang sebagai dasar dari pembenaran di hadapan Tuhan, tidak peduli betapa menjadi dewasanya kita. Kita tidak mampu menambahkan apa yang Kristus telah raih. Seperti Alister McGrath katakan, “Satu-satunya hal yang bisa dibilang kita kontribusikan dalam pembenaran kita adalah dosa yang telah Tuhan ampuni dengan kemurahan.” Kita dibenarkan hanya karena anugerah semata.&amp;lt;ref&amp;gt;Alister McGrath, ''Justification by Faith'' (Grand Rapids, MI: Zondervan Publishing House, 1988), p. 132. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Membuat Frustrasi dan Sia-Sia ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Doktrin pembenaran perlu dijalankan dan ditengok secara terus menerus, seperti yang Martin Luther sadari betul. Nasihat Martin Luther yang biasa terus terang? “Tempelkan itu ke kepala mereka terus menerus.”&amp;lt;ref&amp;gt;John R.W. Stott, ''Only One Way'', p. 59. &amp;lt;/ref&amp;gt;Sebagai tambahan bagi pengulangan ulet dari para pemimpin kita, kita perlu mempraktekan dan menghargai kebenaran dari pembenaran di dalam hidup kita sehari-hari. Kalau tidak, kita akan menemukan diri kita mudah jatuh dalam salah satu musuh Gereja yang paling serius dan tidak kentara: legalisme.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Kemuliaan Injil adalah bahwa Allah menyatakan orang Kristen memiliki hubungan yang benar dengan-Nya meskipun adanya dosa-dosa mereka. Tetapi pencobaan dan kesalahan terbesar kita adalah berusaha menyusupkan karakter ke dalam pekerjaan kasih karunia-Nya. Betapa mudahnya kita jatuh ke dalam jebakan anggapan bahwa kita hanya tetap dibenarkan selama ada dasarnya pada karakter kita untuk pembenaran itu. Tetapi ajaran Paulus adalah tidak ada yang dapat kita perbuat untuk menyumbang bagi pembenaran kita.�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-0000001D-QINU&amp;quot; — Sinclair Ferguson}}Legalisme melibatkan usaha untuk memperoleh penerimaan dari Tuhan melalui ketaatan kita sendiri. Kita hanya memiliki dua pilihan: menerima kekudusan sebagai pemberian Tuhan atau mencoba untuk melahirkan kekudusan kita sendiri. Legalisme adalah usaha untuk dibenarkan melalui sumber yang lain daripada Yesus Kristus dan pekerjaan-Nya yang telah genap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berpegang pada legalisme berarti percaya bahwa Salib itu tidak perlu atau tidak cukup (Gal 2:21, 5:2). Itu merupakan penafsiran yang tepat akan motif dan perbuatan Anda, walaupun Anda masih secara mental mengakui kebutuhan akan pengorbanan Kristus. Dalam usaha kita mengejar ketaatan dan kedewasaan, legalisme secara perlahan dan samar menguasai kita dan kita mulai mengganti pekerjaan kita untuk pekerjaan genap Kristus. Hasilnya adalah keangkuhan atau penghakiman. Bukannya bertumbuh dalam kasih karunia kita meninggalkan kasih karunia. Itulah penilaian Paulus terhadap gereja di Galatia ketika ia menulis, “Kamu lepas dari Kristus jikalau kamumengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia.” (Gal 5:4).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Untuk menghargai besarnya keprihatinan Paulus tentang legalisme, bacalah Galatia 1:6-9, 2:21, 3:1-4, 3:10, 4:8-11, 4:19-20, 5:2-4, dan 5:7-12.}}Kalau Anda telah berusaha menjalani hidup seperti ini, Anda mungkin sekarang telah belajar bahwa bahwa legalisme itu adalah sia-sia dan membuat frustrasi. Setiap usaha legalisme untuk memperoleh kekudusan akhirnya akan mengalami kegagalan. Selama bertahun-tahun saya telah belajar mengenali beberapa tanda yang sangat jelas dari adanya legalisme. Ini adalah beberapa diantaranya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Anda lebih menyadari akan dosa-dosa masa lalu Anda daripada pribadi dan pekerjaan genap Kristus.&lt;br /&gt;
* Anda hidup berpikir, percaya, dan merasa bahwa Tuhan kecewa terhadap Anda daripada bersukacita dalam Anda. Anda menganggap penerimaan Tuhan bergantung pada ketaatan Anda.&lt;br /&gt;
* Anda kurang sukacita. Ini sering menjadi indikasi pertama dari adanya legalisme. Penghakiman adalah hasil dari merenungkan ketidakcukupan kita; sukacita adalah hasil hari memikirkan kecukupan kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Pernahkan Anda dijerat oleh kehadiran legalisme yang samar? Kalau ya, sadarlah. Legalisme cenderung menyebar daripada tetap terbatasi (Gal 5:9). Legalisme harus dihilangkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Masalah dengan gereja Galatia bukanlah ketaatan pada hukum moral Allah; melainkan, ketergantungan pada hukum moral…untuk keselamatan.�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-0000001E-QINU&amp;quot; — Jerry Bridges}}Satu-satunya cara efektif untuk mencabut legalisme adalah dengan doktrin pembenaran. Kalau Anda telah menelantarkan atau mengabaikan doktrin ini, maka buatlah tindakan sedramatis apapun yang dibutuhkan untuk berubah. Sediakan waktu setiap hari untuk mengulang, melatih, dan bersukacita atas kebenaran yang agung, objektif dan bersifat posisi ini. Batasi konsumsi spiritual Anda pada pembelajaran tentang pembenaran sampai Anda yakin akan penerimaan Tuhan, merasa aman di dalam kasih-Nya dan bebas dari legalisme dan penghakiman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penyaliban Yesus Kristus merupakan satu peristiwa sejarah yang paling menentukan. Dengan akurat Sinclair Ferguson menyatakan hal berikut: {{RightInsert|'''Renungkan Roma 7:14-25.''' Pada saat kita mengerti betul kebejatan kita sendiri kita akan lebih sulit untuk dicobai oleh legalisme.}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Waktu kita berpikir Kristus mati di kayu salib kita diperlihatkan seberapa panjangnya kasih Tuhan dengan tujuan memenangkan kita kembali kepada-Nya…Ia berkata kepada kita: Aku mengasihi Engkau sebesar ini… Salib adalah jantung Injil. Salib membuat Injil menjadi kabar baik: Kristus mati untuk kira. Ia telah berdiri di tempat kita di hadapan kursi penghakiman Allah. Ia menanggung dosa-dosa kita. Tuhan telah melakukan sesuatu di atas kayu salib yang tidak mungkin kita sendiri pernah dapat lakukan… Alasan kita kurang yakin akan kasih karunia-Nya adalah karena kita gagal untuk fokus kepada tempat itu dimana Ia menyatakannya.&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''Grow in Grace'' (Carlisle, PA: The Banner of Truth Trust, 1989), p. 56, 58–59.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Kemana Anda akan memfokuskan perhatian Anda? Apakah pada dosa-dosa masa lalu Anda, keadaan emosi Anda saat ini, atau area karakter dimana Anda masih perlu bertumbuh? Ataukah Anda akan fokus pada pekerjaan Kristus yang genap? Legalisme tidak perlu memotivasi Anda. Penghakiman tidak perlu menyiksa Anda. Allah telah membenarkan Anda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Dua kategori orang seperti apa yang digambarkan di Yakobus 1:22-25? Kelompok yang mana yang Tuhan janji akan berkati?}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jangan Berargumentasi dengan Hakim === &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengerti doktrin pembenaran secara intelektual dengan sendirinya tidaklah cukup. Tuhan menginginkan kita untuk mengalami transformasi – secara total, murni, dan permanen ditransform oleh kotrin penting ini. J.I. Packer telah menyatakan, “Masalahnya bukan, apakah seseorang dapat menyebutkan doktrin ini dengan keakuratan Firman yang penuh (hal itu, telah kita lihat, adalah pekerjaan yang membutuhlan ketelitian), tetapi, apakah seseorang tahu realitasnya dalam pengalaman.”&amp;lt;ref&amp;gt;J.I. Packer, ''God’s Words: Studies of Key Bible Themes'' (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1981), p. 147. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Kolose 2:13-15 menyatakan hutang kita yang sangat besar kepada Tuhan. Apa yang Yesus lakukan dengan surat tagihan hutang? }}Tujuan kami menulis buku ini bukan pada dasarnya Anda belajar bagaimana mengartikulasi doktrin agung ini tetapi Anda dirubah olehnya, bahwa pengertian Anda akan berbuah pada kebebasan pribadi dari legalisme dan penghakiman serta kasih dan semangat yang bertambah-tambah kepada Yesus Kristus. Adalah mungkin menyadari pembenaran oleh kasih karunia tanpa terpengaruh secara pribadi. Kita perlu menghargai dan mempraktekan kebenaran besar ini setiap hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cerita yang akan saya bagikan merupakan sebuah pelajaran penuh kuasa bagi saya setelah saya mempejalari benar doktrin pembenaran. Selama hari-hari sebelum pertobatan saya sebagai mahasiswa tahun pertama, saya ditangkap karena kepemilikan mariyuana. Detail peristiwa tersebut masih sangat jelas di benak saya. Saat saya duduk di ruang sidang menghadapi hakin, saya mencoba sebisa saya untuk terlihat tulus dan tersiksa, tetapi saya hanya bisa ketakutan. Saya tahu ada kesempatan besar saya akan dijatuhi hukuman dan dituduh dengan pelanggaran tambahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Adalah tidak cukup untuk hanya mengetahui bahwa Yesus telah mati, atau bahkan mengapa Ia mati. Pengetahuan tersebut merupakan hasil dari “iman yang hanya bersifat sejarah” yang tidak dapat menyelamatkan… Hanya pada waktu kita menyadari bahwa Kristus diberi pro me, pro nobis (“untuk aku,” “untuk kita”) kita telah membedakan pentingnya pencapaian Kristus. .�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-00000021-QINU&amp;quot; — Timothy George}}Ternyata, kasus saya tidak pernah mengalami kemajuan setelah saksi pertama. Karena polisi menggeledah kamar saya tanpa surat resmi yang dibutuhkan, bantah pengacaran saya, pengadilan harus mencabut gugatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hakim duduk mendengarkan dengan sabar saat jaksa mengajukan keberatan dan mengulang kembali bukti-bukti yang memberatkan saya. Akhirnya, ia melihat ke arah saya. Pria itu jelas terlihat frustasi. Tidak berkuasa untuk memberi lebih dari teguran, ia menguliahi saya dengan kata-kata yang sekeras-kerasnya. Saya mencoba untuk kelihatan menyesal. Saya menganggukan kepada saya atas setiap penyataan. Tapi saya tidak ingat apapun yang ia katakan – saya terlalu gembira karena kenyataan bahwa ia akan melepas saya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika saya disidang saya tahu bahwa saya bersalah. Saya kira semua orang mengetahui itu. Tetapi pada waktu hakim membebaskan saya, saya tidak berargumentasi dengannya. Saya tidak meminta dan memohon kepada hakim untuk melanjutkan kasus itu. Saya tidak memintanya untuk mengabaikan teknis legalitas dan mengijinkan jaksa untuk terus maju. Hanya kali ini saya dengan gembira tunduk kepada seseorang yang memiliki otoritas lebih besar. Bila sang hakim ingin melepaskan pelanggaran itu, saya akan dengan senang hati menerima keputusannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Renungkan Ulangan 31:8.''' Daripada melanggar janji-Nya yang indah kepada kita (meskipun kita tidak pernah layak diberi janji seperti itu), Tuhan meninggalkan Putra-Nya sendiri.}}Setiap dari kita berdiri bersalah di hadapan Hakim dari segalanya. Tetapi kejahatan kita menentang-Nya berada di tingkat yang secara total berbeda dengan kesalahan saya. Dan walaupun saya diloloskan karena hal teknis, kita telah dinyatakan benar atas dasar pengorbanan Kristus yang telah direncanakan dan bersifat menggantikan kita itu. Yesus Kristus secara suka rela dan sengaja memberikan hidup-Nya sepaya Allah dapat tetap adil saat membenarkan yang bersalah – Anda dan saya. Allah telah menyatakan kita benar. Yang tertinggal hanyalah masalah apakah kita akan menerima pernyataan ini. Pilihan untuk menerima atau tidak berada di hadapan kita setiap hari, sering berkali-kali dalam satu hari: Akankah kita menerima pembenaran karena iman karena pernyataan oleh Tuhan, atau akankah kita mengijinkan penghakiman dan legalisme untu menguasai kita saat kita bergantung pada perasaan dan ketaatan kita?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Kehidupan Kristen melibatkan bukan saja percaya sesuatu tentang Kristus tetapi juga percaya sesuatu tentang diri kita sendiri… Iman kita di dalam Kristus harus mencakup percaya bahwa kita adalah apa yang Alkitab katakan tentang kita.&amp;quot; — Anthony Hoekema}}Tentukanlah bahwa emosi Anda yang tidak stabil dan tidak terprediksi tidak akan medikte atau menipu Anda. Jangan ijinkan emosi-emosi itu untuk menjadi otoritas terakhir di dalam hidup Anda. Percayalah apa yang Tuhan katakan tentang Anda. Kalau Anda bijaksana Anda akan mengikuti teladan saya: Jangan berargumentasi dengan Hakim.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Ditinggalkan Demi Pengampunan Kita ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah yang menciptakan Anda menerima Anda. Anak-Nya secara suka rela menghadapi kengerian Salib yang tidak terbayangkan, ditinggalkan Allah Bapa dan manusia, demi untuk membenarkan Anda. Ia dibuang supaya kita bisa diampuni. Ia mengalami perpisahan supaya kita dapat selamanya aman dalam kasih Allah. Ia menanggung murka Allah sehingga kita tidak pernah perlu melakukannya. “Yesus yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitakan karena pembenaran kita” (Rom 4:25). Anda telah dibenarkan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah mengherankan Reformasi merubah sejarah Gereja? Tidak ada cara apapun untuk mengekang doktrin ini. Sekali doktrin ini dilepas ia akan merubah hidup setiap orang yang disentuhnya – termasuk Anda sendiri. &amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Diskusi Kelompok ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# Di halaman 52 pengarang menulis, “Anda tidak akan pernah lebih dibenarkan daripada Anda saat ini.” Bagaimana kalimat ini mempengaruhi usaha-usaha Anda untuk menjalani hidup yang menyenangkan Tuhan?&lt;br /&gt;
# Renungkan dengan tenang untuk satu atau dua menit tentang Salib. Menurut Anda apakah yang Yesus rasakan waktu ia menyaradari Allah telah meninggalkan-Nya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# Apakah mungkin untuk terlalu fokus pada menjadi serupa dengan teladan Kristus?&lt;br /&gt;
# Apa yang membuat legalisme menjadi sebuah penyimpangan sesat yang tak disadari?&lt;br /&gt;
# Bagaimana kita mengimbangi doktrin pembenaran dan penyucian tanpa oleng kepada legalisme ataupun ijin?&lt;br /&gt;
# Satu hal apa yang dapat kontribusi bagi pembenaran kita?(Petunjuk: Tidak ada yang perlu disombongkan!)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bacaan yang Direkomendasikan ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Cross of Christ'' by John R. W. Stott (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1986)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Discipline of Grace'' by Jerry Bridges (Colorado Springs, CO: NavPress, 1994)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Atonement'' by Leon Morris (Downwers Grove, IL: InterVarsity Press, 1984)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Catatan ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Sukartay</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/Justified_by_Christ/id</id>
		<title>This Great Salvation/Justified by Christ/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/Justified_by_Christ/id"/>
				<updated>2007-12-28T12:35:13Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Sukartay: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;= Dibenarkan Oleh Yesus =&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum Martin Luther menjadi terkenal karena peran pentingnya dalam Reformasi, ia dikenal seluruh Eropa sebagai seorang pelajar hukum yang brilian. Yang paling banyak mempengaruhi pendeta pengikut Agustinus ini adalah pembelajarannya akan hukum Allah di dalam Firman Tuhan. Saat ia merenungkan perintah-perintah Allah, ia menjadi sangat menyadari murka Allah. Setiap kali ia mempelajari pribadi dan pekerjaan Yesus Kristus ia mengenal inilah Yang benar yang pada akhirnya akan menghakiminya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesadaran yang terus menerus itu merongrong Luther dengan perasaan bersalah yang tak terbendung. Sementara rekan-rekannya menghabiskan beberapa menit untuk mengaku dosa, ia menghabiskan berjam-jam. Sebagian orang mengira bahwa mentalnya tidak stabil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teolog Anthony Hoekema menggambarkan kesedihan mental itu membawa pada penemuan teologi besar Luther:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Martin Luther telah mencoba segalanya: tidur di atas lantai yang keras, tidak makan, bahkan menaiki sebuah tangga di Roma dengan tangan dan lututnya – tapi tidak berhasil. Para gurunya di biara memberitahunya bahwa ia telah melakukan cukup untuk mendapatkan kedamaian jiwa. Tapi ia tidak memiliki damai. Kesadarannya akan dosa terlalu dalam.&lt;br /&gt;
:Ia telah mempelajari kitab Mazmur. Kitab ini sering menyebut “kebenaran Tuhan.” Tapi istilah ini mengganggunya. Ia mengira itu berarti kebenaran Tuhan yang menghukum, dimana Ia menghukum orang berdosa. Dan Luther mengetahui ia adalah orang berdosa. Jadi manakala ia melihat kata kebenaran di dalam Alkitab, ia melihat merah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Pembenaran adalah memang jawaban Allah bagi semua pertanyaan manusia yang paling penting: Bagaimana seorang pria atau wanita dibenarkan dengan Tuhan? Kita tidak dibenarkan dengan Tuhan dengan sendirinya. Kita berada di bahwa murka Allah. Pembenaran adalah sangat penting, karena kita harus dibenarkan dengan Allah atau kita binasa selamanya… Kesulitannya adalah mayoritas orang saat ini tidak merasakan kebutuhan di area ini. Martin Luther telah merasakannya; hal itu menghantuinya. Ia tahu bahwa ia tidak benar dengan Allah, dan ia mengantisipasi konfrontasi dengan Allah yang murka di penghakiman terakhir. Allah menunjukkan kepadanya bahwa ia bisa mengalami hubungan yang benar dengan Allah melalui pekerjaan Yesus Kristus. Tetapi di jaman ini siapa yang merasakan intensitas kepedihan Luther?�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-00000012-QINU&amp;quot; — James Montgomery Boice}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Pada suatu hari ia membuka kitab Roma. Di sana ia membaca tentang injil Kristus yang adalah kekuatan Allah untuk keselamatan (1:16). Ini adalah sebuah kabar baik! Tetapi ayat selanjutnya berkata, “Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah“- ada kata buruk ''kebenaran'' itu lagi! Dan depresi Luther kembali lagi. Hal itu menjadi lebih buruk ketika ia meneruskan membaca tentang murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia (ayat 18).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka Luther kembali ke ayat 17 lagi. Bagaimana bisa Paulus menuliskan kata-kata mengerikan seperti itu?...Tiba-tiba pencerahan datang padanya. “Kebenaran Tuhan” yang Paulus maksud di sini bukanlah keadilan Tuhan yang bersifat menghukum yang membuatNya menghukum orang berdosa, melainkan kebenaran yang Tuhan ''berikan'' kepada orang berdosa yang membutuhkan, dan yang orang berdosa itu terima dengan ''iman''. Ini adalah kebenaran yang sempurna dan tidak bercacat, didapatkan oleh Kristus, yang dengan kemurahan Tuhan berikan pada semua yang percaya. Luther tidak perlu lagi mencari dasar untuk kedamaian jiwa di dalam dirinya, di dalam perbuatan baiknya sendiri. Sekarang ia dapat melihat lepas dari dirinya sendiri dan melihat kepada Kristus, hidup dengan iman daripada bersembunyi dalam ketakutan. Pada saat itulah Reformasi Protestan lahir.&amp;lt;ref&amp;gt;Anthony Hoekema, ''Saved by Grace'' (Grand Rapids, MI: Wm. B. Eerdmans Co., 1989), p. 152. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Renungkan Roma 1:17.''' Frase kunci apa di ayat ini yang merevolusi pengertian Martin Luther tentang keselamatan? Bagaimana pengaruhnya bagi Anda?}}Luther melanjutkan dengan berkata bahwa doktrin pembenaran adalah doktrin yang olehnya Gereja berdiri atau jatuh. “Doktrin ini merupakan kepala dan batu penjuru Gereja yang melahirkan, memelihara, membangun dan melindungi Gereja. Tanpanya gereja Tuhan tidak dapat bertahan hidup untuk satu jam.”&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''The Christian Life: A Doctrinal Introduction'' (Carlisle, PA: The Banner of Truth Trust, 1989), p. 80. &amp;lt;/ref&amp;gt;Di poin yang lain ia menambahkan, “Bila doktrin pembenaran ini hilang, maka semua doktrin kekristenan yang benar hilang.”&amp;lt;ref&amp;gt;John R.W. Stott, ''Only One Way: The Message of Galatians'' (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1968), p. 60. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketakutan Luther akan murka Allah telah dibenarkan, seperti kita pelajari di bab sebelumnya. Semua orang Kristen harus mengingat siapa dan apa mereka sebelumnya: jahat dalam perilaku mereka, musuh Allah, sepenuhnya terasing dari-Nya, dan sasaran kemarahan-Nya. Tetapi mengenali masa lalu hanya memiliki nilai sejauh hal itu membuat kita menyadari dan mengagumi akan posisi kita sekarang di dalam Kristus. Kita harus mengenali siapa ''kita sekarang'' karena hadiah kemurahan Tuhan akan pembenaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka yang telah menerima pekerjaan pembenaran Kristus mengalami sebuah perubahan yang dramatis dan luar biasa. Kita telah dibenarkan karena iman melalui anugerah yang besar dari Allah yang Maha Kuasa. Tanpa pengetahuan yang akurat dan pengetahuan yang datang dari pengalaman tentang pembenaran Gereja “tidak dapat bertahan hidup untuk satu jam”…sedikitnya tidak dengan keotentikan. Kita pun juga tidak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Posisi atau Proses? ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Pada saat Yesus mati di kayu salib, tirai bait suci yang memisahkan tempat suci dengan tempat paling suci secara supernatural robek menjadi dua. Untuk mengerti pentingnya peristiwa itu, bacalah Ibrani 9:1-14.}}Pembenaran adalah istilah resmi yang berarti “mendeklarasikan benar.” Hoekema mendefinisikan pembenaran sebagai “perubahan permanen dalam hubungan yuridis kita dengan Tuhan dimana kita diampuni dari tuduhan bersalah, dan dimana Tuhan mengampuni semua dosa-dosa kita di atas dasar pekerjaan Yesus Kristus yang telah tergenapi.”&amp;lt;ref&amp;gt;Anthony Hoekema, ''Saved by Grace'', p. 178. &amp;lt;/ref&amp;gt;Walaupun kita bersalah di hadapan Hakim semesta yang kudus, setelah melanggar hukum-Nya dan layak menerima murka-Nya, Ia telah mendeklarasikan kita sebagai benar. Bagaimana? Atas dasar apa yang Yesus Kristus telah capai di Kayu Salib. Hanya Salib dapat membuat kita dapat diterima di hadapan Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pembenaran adalah sebuah hadiah yang kita terima dari Tuhan, bukan sesuatu yang kita peroleh atau capai. Kita tidak bertanggung jawan ataupun mampu untuk menyumbang bagi pembenaran kita di hadapan Tuhan. Status benar ini tidak bisa dicapai atau dilayakan, hanya diterima dan dihargai. Kita menerima apa yang Kristus dan Kristus sendiri capai untuk kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk dapat sepenuhnya mengerti akan kebenaran yang ajaib ini, adalah esensial kita membedakan pembenaran (justification) dan penyucian (sanctification). Walaupun kedua doktrin ini tidak dapat dipisahkan, kita harus membedakan antara perannya masing-masing di dalam kehidupan iman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Tiada seorangpun yang mengerti kekristenan yang tidak memahami kata ini. Yaitu kata 'dibenarkan.'&amp;quot;�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-00000017-QINU — John Stott}}Pembenaran berarti kita ''dinyatakan'' benar. Penyucian berarti kita sedang ''dibuat'' benar. (Pahami perbedaan itu saja dan hidup Anda tidak akan pernah sama lagi!) Pembenaran adalah ''hadiah'' kekudusan; penyucian adalah ''pelatihan'' kekudusan. Mungkin yang paling kritikal, pembenaran adalah sebuah ''posisi'' – yang dibuat segera dan secara komplit setelah pertobatan – sedangkan penyucian adalah sebuah proses dari perubahan internal dan pengembangan karakter yang dimulai pada saat regenerasi dan terus berlanjut selama kita hidup. “Di dalam Firman Ruhan,” tulis Sinclair Ferguson, “membenarkan bukan berarti membuat benar seperti merubah karakter seseorang. Membenarkan artinya menjadikan benar dengan cara mendeklarasikan.”&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''The Christian Life'', p. 72. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Pembenaran adalah sebuah PERBUATAN. Pembenaran bukanlah pekerjaan, atau satu seri perbuatan. Pembenaran tidak progresif. Orang percaya yang paling lemah dan orang kudus yang paling kuat adalah serupa dan dibenarkan secara sama. Pembenaran tidak mengakui adanya tingkatan. Seseorang, hanya bisa seluruhnya dibenarkan atau seluruhnya dikutuk di hadapan Allah.�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-00000019-QINU&amp;quot; — William S. Plumer}}Pembenaran bukanlah sebuah proses. Pembenaran adalah sebuah deklarasi, sebuah pernyataan ilahi yang tidak dapat ditantang, dirubah ataupun dinaikbanding. Paulus secara empati berkata, “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus” (Rom 5:1). Transformasi mulia ini tidak terjadi sedikit demi sedikit, dan juga tidak berubah-ubah. Anda tidak lebih dibenarkan selama jangka waktu tertentu daripada jangka waktu lainnya. Hal ini perlu ditegaskan kembali: “''Anda tidak akan pernah lebih dibenarkan daripada keadaan Anda saat ini.'' Di atas itu semua, tidak seorangpun dalam sejarah pernah lebih dibenarkan daripada Anda sekarang. Martin Luther tidak, Paulus tidak – seorang pun tidak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Apakah Anda pernah dirampas dari buah-buah keselamatan Anda yang agung? Jawablah kuis Benar/Salah berikut ini untuk memastikan Anda mengerti perbedaan antara pembenaran dan penyucian. (Jawaban ada di catatan kaki.�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-0000001A-QINU) * Pembenaran adalah hasil dari penyucian. '''B S''' * Penyucian adalah proses sepanjang hidup. '''B S''' * Kasih Allah untuk kita bertumbuh sesuai dengan kedewasaan kita. '''B S''' * Pembenaran mengacu kepada posisi kita di dalam Kristus, penyucian mengacu pada proses. '''B S''' * Merubah kebiasaan-kebiasaan berdosa membuat kita lebih benar. '''B S''' * Pertumbuhan rohani adalah bukti yang baik bahwa kita telah dibenarkan. '''B S'''}}Banyak orang Kristen yang bingung tentang doktrin pembenaran dan penyucian dan oleh karenanya tidak bisa merasakan sepenuhnya berkat-berkat yang keselamatan agung ini hasilkan. Adalah sangat penting kita mengerti perbedaan antara posisi kita (pembenaran) dan pelatihan kita (penyucian). Sementara penyucian adalah bukti dan tujuan dari pembenaran, penyucian tidak boleh dipandang sebagai dasar dari pembenaran di hadapan Tuhan, tidak peduli betapa menjadi dewasanya kita. Kita tidak mampu menambahkan apa yang Kristus telah raih. Seperti Alister McGrath katakan, “Satu-satunya hal yang bisa dibilang kita kontribusikan dalam pembenaran kita adalah dosa yang telah Tuhan ampuni dengan kemurahan.” Kita dibenarkan hanya karena anugerah semata.&amp;lt;ref&amp;gt;Alister McGrath, ''Justification by Faith'' (Grand Rapids, MI: Zondervan Publishing House, 1988), p. 132. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Membuat Frustrasi dan Sia-Sia ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Doktrin pembenaran perlu dijalankan dan ditengok secara terus menerus, seperti yang Martin Luther sadari betul. Nasihat Martin Luther yang biasa terus terang? “Tempelkan itu ke kepala mereka terus menerus.”&amp;lt;ref&amp;gt;John R.W. Stott, ''Only One Way'', p. 59. &amp;lt;/ref&amp;gt;Sebagai tambahan bagi pengulangan ulet dari para pemimpin kita, kita perlu mempraktekan dan menghargai kebenaran dari pembenaran di dalam hidup kita sehari-hari. Kalau tidak, kita akan menemukan diri kita mudah jatuh dalam salah satu musuh Gereja yang paling serius dan tidak kentara: legalisme.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Kemuliaan Injil adalah bahwa Allah menyatakan orang Kristen memiliki hubungan yang benar dengan-Nya meskipun adanya dosa-dosa mereka. Tetapi pencobaan dan kesalahan terbesar kita adalah berusaha menyusupkan karakter ke dalam pekerjaan kasih karunia-Nya. Betapa mudahnya kita jatuh ke dalam jebakan anggapan bahwa kita hanya tetap dibenarkan selama ada dasarnya pada karakter kita untuk pembenaran itu. Tetapi ajaran Paulus adalah tidak ada yang dapat kita perbuat untuk menyumbang bagi pembenaran kita.�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-0000001D-QINU&amp;quot; — Sinclair Ferguson}}Legalisme melibatkan usaha untuk memperoleh penerimaan dari Tuhan melalui ketaatan kita sendiri. Kita hanya memiliki dua pilihan: menerima kekudusan sebagai pemberian Tuhan atau mencoba untuk melahirkan kekudusan kita sendiri. Legalisme adalah usaha untuk dibenarkan melalui sumber yang lain daripada Yesus Kristus dan pekerjaan-Nya yang telah genap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berpegang pada legalisme berarti percaya bahwa Salib itu tidak perlu atau tidak cukup (Gal 2:21, 5:2). Itu merupakan penafsiran yang tepat akan motif dan perbuatan Anda, walaupun Anda masih secara mental mengakui kebutuhan akan pengorbanan Kristus. Dalam usaha kita mengejar ketaatan dan kedewasaan, legalisme secara perlahan dan samar menguasai kita dan kita mulai mengganti pekerjaan kita untuk pekerjaan genap Kristus. Hasilnya adalah keangkuhan atau penghakiman. Bukannya bertumbuh dalam kasih karunia kita meninggalkan kasih karunia. Itulah penilaian Paulus terhadap gereja di Galatia ketika ia menulis, “Kamu lepas dari Kristus jikalau kamumengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia.” (Gal 5:4).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Untuk menghargai besarnya keprihatinan Paulus tentang legalisme, bacalah Galatia 1:6-9, 2:21, 3:1-4, 3:10, 4:8-11, 4:19-20, 5:2-4, dan 5:7-12.}}Kalau Anda telah berusaha menjalani hidup seperti ini, Anda mungkin sekarang telah belajar bahwa bahwa legalisme itu adalah sia-sia dan membuat frustrasi. Setiap usaha legalisme untuk memperoleh kekudusan akhirnya akan mengalami kegagalan. Selama bertahun-tahun saya telah belajar mengenali beberapa tanda yang sangat jelas dari adanya legalisme. Ini adalah beberapa diantaranya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Anda lebih menyadari akan dosa-dosa masa lalu Anda daripada pribadi dan pekerjaan genap Kristus.&lt;br /&gt;
* Anda hidup berpikir, percaya, dan merasa bahwa Tuhan kecewa terhadap Anda daripada bersukacita dalam Anda. Anda menganggap penerimaan Tuhan bergantung pada ketaatan Anda.&lt;br /&gt;
* Anda kurang sukacita. Ini sering menjadi indikasi pertama dari adanya legalisme. Penghakiman adalah hasil dari merenungkan ketidakcukupan kita; sukacita adalah hasil hari memikirkan kecukupan kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Pernahkan Anda dijerat oleh kehadiran legalisme yang samar? Kalau ya, sadarlah. Legalisme cenderung menyebar daripada tetap terbatasi (Gal 5:9). Legalisme harus dihilangkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Masalah dengan gereja Galatia bukanlah ketaatan pada hukum moral Allah; melainkan, ketergantungan pada hukum moral…untuk keselamatan.�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-0000001E-QINU&amp;quot; — Jerry Bridges}}Satu-satunya cara efektif untuk mencabut legalisme adalah dengan doktrin pembenaran. Kalau Anda telah menelantarkan atau mengabaikan doktrin ini, maka buatlah tindakan sedramatis apapun yang dibutuhkan untuk berubah. Sediakan waktu setiap hari untuk mengulang, melatih, dan bersukacita atas kebenaran yang agung, objektif dan bersifat posisi ini. Batasi konsumsi spiritual Anda pada pembelajaran tentang pembenaran sampai Anda yakin akan penerimaan Tuhan, merasa aman di dalam kasih-Nya dan bebas dari legalisme dan penghakiman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penyaliban Yesus Kristus merupakan satu peristiwa sejarah yang paling menentukan. Dengan akurat Sinclair Ferguson menyatakan hal berikut: {{RightInsert|'''Renungkan Roma 7:14-25.''' Pada saat kita mengerti betul kebejatan kita sendiri kita akan lebih sulit untuk dicobai oleh legalisme.}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Waktu kita berpikir Kristus mati di kayu salib kita diperlihatkan seberapa panjangnya kasih Tuhan dengan tujuan memenangkan kita kembali kepada-Nya…Ia berkata kepada kita: Aku mengasihi Engkau sebesar ini… Salib adalah jantung Injil. Salib membuat Injil menjadi kabar baik: Kristus mati untuk kira. Ia telah berdiri di tempat kita di hadapan kursi penghakiman Allah. Ia menanggung dosa-dosa kita. Tuhan telah melakukan sesuatu di atas kayu salib yang tidak mungkin kita sendiri pernah dapat lakukan… Alasan kita kurang yakin akan kasih karunia-Nya adalah karena kita gagal untuk fokus kepada tempat itu dimana Ia menyatakannya.&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''Grow in Grace'' (Carlisle, PA: The Banner of Truth Trust, 1989), p. 56, 58–59.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemana Anda akan memfokuskan perhatian Anda? Apakah pada dosa-dosa masa lalu Anda, keadaan emosi Anda saat ini, atau area karakter dimana Anda masih perlu bertumbuh? Ataukah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anda akan fokus pada pekerjaan Kristus yang genap? Legalisme tidak perlu memotivasi Anda. Penghakiman tidak perlu menyiksa Anda. Allah telah membenarkan Anda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Dua kategori orang seperti apa yang digambarkan di Yakobus 1:22-25? Kelompok yang mana yang Tuhan janji akan berkati?}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jangan Berargumentasi dengan Hakim === &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengerti doktrin pembenaran secara intelektual dengan sendirinya tidaklah cukup. Tuhan menginginkan kita untuk mengalami transformasi – secara total, murni, dan permanen ditransform oleh kotrin penting ini. J.I. Packer telah menyatakan, “Masalahnya bukan, apakah seseorang dapat menyebutkan doktrin ini dengan keakuratan Firman yang penuh (hal itu, telah kita lihat, adalah pekerjaan yang membutuhlan ketelitian), tetapi, apakah seseorang tahu realitasnya dalam pengalaman.”&amp;lt;ref&amp;gt;J.I. Packer, ''God’s Words: Studies of Key Bible Themes'' (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1981), p. 147. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Kolose 2:13-15 menyatakan hutang kita yang sangat besar kepada Tuhan. Apa yang Yesus lakukan dengan surat tagihan hutang? }}Tujuan kami menulis buku ini bukan pada dasarnya Anda belajar bagaimana mengartikulasi doktrin agung ini tetapi Anda dirubah olehnya, bahwa pengertian Anda akan berbuah pada kebebasan pribadi dari legalisme dan penghakiman serta kasih dan semangat yang bertambah-tambah kepada Yesus Kristus. Adalah mungkin menyadari pembenaran oleh kasih karunia tanpa terpengaruh secara pribadi. Kita perlu menghargai dan mempraktekan kebenaran besar ini setiap hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cerita yang akan saya bagikan merupakan sebuah pelajaran penuh kuasa bagi saya setelah saya mempejalari benar doktrin pembenaran. Selama hari-hari sebelum pertobatan saya sebagai mahasiswa tahun pertama, saya ditangkap karena kepemilikan mariyuana. Detail peristiwa tersebut masih sangat jelas di benak saya. Saat saya duduk di ruang sidang menghadapi hakin, saya mencoba sebisa saya untuk terlihat tulus dan tersiksa, tetapi saya hanya bisa ketakutan. Saya tahu ada kesempatan besar saya akan dijatuhi hukuman dan dituduh dengan pelanggaran tambahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Adalah tidak cukup untuk hanya mengetahui bahwa Yesus telah mati, atau bahkan mengapa Ia mati. Pengetahuan tersebut merupakan hasil dari “iman yang hanya bersifat sejarah” yang tidak dapat menyelamatkan… Hanya pada waktu kita menyadari bahwa Kristus diberi pro me, pro nobis (“untuk aku,” “untuk kita”) kita telah membedakan pentingnya pencapaian Kristus. .�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-00000021-QINU&amp;quot; — Timothy George}}Ternyata, kasus saya tidak pernah mengalami kemajuan setelah saksi pertama. Karena polisi menggeledah kamar saya tanpa surat resmi yang dibutuhkan, bantah pengacaran saya, pengadilan harus mencabut gugatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hakim duduk mendengarkan dengan sabar saat jaksa mengajukan keberatan dan mengulang kembali bukti-bukti yang memberatkan saya. Akhirnya, ia melihat ke arah saya. Pria itu jelas terlihat frustasi. Tidak berkuasa untuk memberi lebih dari teguran, ia menguliahi saya dengan kata-kata yang sekeras-kerasnya. Saya mencoba untuk kelihatan menyesal. Saya menganggukan kepada saya atas setiap penyataan. Tapi saya tidak ingat apapun yang ia katakan – saya terlalu gembira karena kenyataan bahwa ia akan melepas saya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika saya disidang saya tahu bahwa saya bersalah. Saya kira semua orang mengetahui itu. Tetapi pada waktu hakim membebaskan saya, saya tidak berargumentasi dengannya. Saya tidak meminta dan memohon kepada hakim untuk melanjutkan kasus itu. Saya tidak memintanya untuk mengabaikan teknis legalitas dan mengijinkan jaksa untuk terus maju. Hanya kali ini saya dengan gembira tunduk kepada seseorang yang memiliki otoritas lebih besar. Bila sang hakim ingin melepaskan pelanggaran itu, saya akan dengan senang hati menerima keputusannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Renungkan Ulangan 31:8.''' Daripada melanggar janji-Nya yang indah kepada kita (meskipun kita tidak pernah layak diberi janji seperti itu), Tuhan meninggalkan Putra-Nya sendiri.}}Setiap dari kita berdiri bersalah di hadapan Hakim dari segalanya. Tetapi kejahatan kita menentang-Nya berada di tingkat yang secara total berbeda dengan kesalahan saya. Dan walaupun saya diloloskan karena hal teknis, kita telah dinyatakan benar atas dasar pengorbanan Kristus yang telah direncanakan dan bersifat menggantikan kita itu. Yesus Kristus secara suka rela dan sengaja memberikan hidup-Nya sepaya Allah dapat tetap adil saat membenarkan yang bersalah – Anda dan saya. Allah telah menyatakan kita benar. Yang tertinggal hanyalah masalah apakah kita akan menerima pernyataan ini. Pilihan untuk menerima atau tidak berada di hadapan kita setiap hari, sering berkali-kali dalam satu hari: Akankah kita menerima pembenaran karena iman karena pernyataan oleh Tuhan, atau akankah kita mengijinkan penghakiman dan legalisme untu menguasai kita saat kita bergantung pada perasaan dan ketaatan kita?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Kehidupan Kristen melibatkan bukan saja percaya sesuatu tentang Kristus tetapi juga percaya sesuatu tentang diri kita sendiri… Iman kita di dalam Kristus harus mencakup percaya bahwa kita adalah apa yang Alkitab katakan tentang kita.&amp;quot; — Anthony Hoekema}}Tentukanlah bahwa emosi Anda yang tidak stabil dan tidak terprediksi tidak akan medikte atau menipu Anda. Jangan ijinkan emosi-emosi itu untuk menjadi otoritas terakhir di dalam hidup Anda. Percayalah apa yang Tuhan katakan tentang Anda. Kalau Anda bijaksana Anda akan mengikuti teladan saya: Jangan berargumentasi dengan Hakim.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Ditinggalkan Demi Pengampunan Kita ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah yang menciptakan Anda menerima Anda. Anak-Nya secara suka rela menghadapi kengerian Salib yang tidak terbayangkan, ditinggalkan Allah Bapa dan manusia, demi untuk membenarkan Anda. Ia dibuang supaya kita bisa diampuni. Ia mengalami perpisahan supaya kita dapat selamanya aman dalam kasih Allah. Ia menanggung murka Allah sehingga kita tidak pernah perlu melakukannya. “Yesus yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitakan karena pembenaran kita” (Rom 4:25). Anda telah dibenarkan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah mengherankan Reformasi merubah sejarah Gereja? Tidak ada cara apapun untuk mengekang doktrin ini. Sekali doktrin ini dilepas ia akan merubah hidup setiap orang yang disentuhnya – termasuk Anda sendiri. &amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Diskusi Kelompok ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# Di halaman 52 pengarang menulis, “Anda tidak akan pernah lebih dibenarkan daripada Anda saat ini.” Bagaimana kalimat ini mempengaruhi usaha-usaha Anda untuk menjalani hidup yang menyenangkan Tuhan?&lt;br /&gt;
# Renungkan dengan tenang untuk satu atau dua menit tentang Salib. Menurut Anda apakah yang Yesus rasakan waktu ia menyaradari Allah telah meninggalkan-Nya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# Apakah mungkin untuk terlalu fokus pada menjadi serupa dengan teladan Kristus?&lt;br /&gt;
# Apa yang membuat legalisme menjadi sebuah penyimpangan sesat yang tak disadari?&lt;br /&gt;
# Bagaimana kita mengimbangi doktrin pembenaran dan penyucian tanpa oleng kepada legalisme ataupun ijin?&lt;br /&gt;
# Satu hal apa yang dapat kontribusi bagi pembenaran kita?(Petunjuk: Tidak ada yang perlu disombongkan!)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bacaan yang Direkomendasikan ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Cross of Christ'' by John R. W. Stott (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1986)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Discipline of Grace'' by Jerry Bridges (Colorado Springs, CO: NavPress, 1994)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Atonement'' by Leon Morris (Downwers Grove, IL: InterVarsity Press, 1984)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Catatan ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Sukartay</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/Justified_by_Christ/id</id>
		<title>This Great Salvation/Justified by Christ/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/Justified_by_Christ/id"/>
				<updated>2007-12-28T12:30:42Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Sukartay: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;= Dibenarkan Oleh Yesus =&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum Martin Luther menjadi terkenal karena peran pentingnya dalam Reformasi, ia dikenal seluruh Eropa sebagai seorang pelajar hukum yang brilian. Yang paling banyak mempengaruhi pendeta pengikut Agustinus ini adalah pembelajarannya akan hukum Allah di dalam Firman Tuhan. Saat ia merenungkan perintah-perintah Allah, ia menjadi sangat menyadari murka Allah. Setiap kali ia mempelajari pribadi dan pekerjaan Yesus Kristus ia mengenal inilah Yang benar yang pada akhirnya akan menghakiminya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesadaran yang terus menerus itu merongrong Luther dengan perasaan bersalah yang tak terbendung. Sementara rekan-rekannya menghabiskan beberapa menit untuk mengaku dosa, ia menghabiskan berjam-jam. Sebagian orang mengira bahwa mentalnya tidak stabil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teolog Anthony Hoekema menggambarkan kesedihan mental itu membawa pada penemuan teologi besar Luther:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Martin Luther telah mencoba segalanya: tidur di atas lantai yang keras, tidak makan, bahkan menaiki sebuah tangga di Roma dengan tangan dan lututnya – tapi tidak berhasil. Para gurunya di biara memberitahunya bahwa ia telah melakukan cukup untuk mendapatkan kedamaian jiwa. Tapi ia tidak memiliki damai. Kesadarannya akan dosa terlalu dalam.&lt;br /&gt;
:Ia telah mempelajari kitab Mazmur. Kitab ini sering menyebut “kebenaran Tuhan.” Tapi istilah ini mengganggunya. Ia mengira itu berarti kebenaran Tuhan yang menghukum, dimana Ia menghukum orang berdosa. Dan Luther mengetahui ia adalah orang berdosa. Jadi manakala ia melihat kata kebenaran di dalam Alkitab, ia melihat merah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Pembenaran adalah memang jawaban Allah bagi semua pertanyaan manusia yang paling penting: Bagaimana seorang pria atau wanita dibenarkan dengan Tuhan? Kita tidak dibenarkan dengan Tuhan dengan sendirinya. Kita berada di bahwa murka Allah. Pembenaran adalah sangat penting, karena kita harus dibenarkan dengan Allah atau kita binasa selamanya… Kesulitannya adalah mayoritas orang saat ini tidak merasakan kebutuhan di area ini. Martin Luther telah merasakannya; hal itu menghantuinya. Ia tahu bahwa ia tidak benar dengan Allah, dan ia mengantisipasi konfrontasi dengan Allah yang murka di penghakiman terakhir. Allah menunjukkan kepadanya bahwa ia bisa mengalami hubungan yang benar dengan Allah melalui pekerjaan Yesus Kristus. Tetapi di jaman ini siapa yang merasakan intensitas kepedihan Luther?�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-00000012-QINU&amp;quot; — James Montgomery Boice}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Pada suatu hari ia membuka kitab Roma. Di sana ia membaca tentang injil Kristus yang adalah kekuatan Allah untuk keselamatan (1:16). Ini adalah sebuah kabar baik! Tetapi ayat selanjutnya berkata, “Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah“- ada kata buruk ''kebenaran'' itu lagi! Dan depresi Luther kembali lagi. Hal itu menjadi lebih buruk ketika ia meneruskan membaca tentang murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia (ayat 18).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka Luther kembali ke ayat 17 lagi. Bagaimana bisa Paulus menuliskan kata-kata mengerikan seperti itu?...Tiba-tiba pencerahan datang padanya. “Kebenaran Tuhan” yang Paulus maksud di sini bukanlah keadilan Tuhan yang bersifat menghukum yang membuatNya menghukum orang berdosa, melainkan kebenaran yang Tuhan ''berikan'' kepada orang berdosa yang membutuhkan, dan yang orang berdosa itu terima dengan ''iman''. Ini adalah kebenaran yang sempurna dan tidak bercacat, didapatkan oleh Kristus, yang dengan kemurahan Tuhan berikan pada semua yang percaya. Luther tidak perlu lagi mencari dasar untuk kedamaian jiwa di dalam dirinya, di dalam perbuatan baiknya sendiri. Sekarang ia dapat melihat lepas dari dirinya sendiri dan melihat kepada Kristus, hidup dengan iman daripada bersembunyi dalam ketakutan. Pada saat itulah Reformasi Protestan lahir.&amp;lt;ref&amp;gt;Anthony Hoekema, ''Saved by Grace'' (Grand Rapids, MI: Wm. B. Eerdmans Co., 1989), p. 152. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Renungkan Roma 1:17.''' Frase kunci apa di ayat ini yang merevolusi pengertian Martin Luther tentang keselamatan? Bagaimana pengaruhnya bagi Anda?}}Luther melanjutkan dengan berkata bahwa doktrin pembenaran adalah doktrin yang olehnya Gereja berdiri atau jatuh. “Doktrin ini merupakan kepala dan batu penjuru Gereja yang melahirkan, memelihara, membangun dan melindungi Gereja. Tanpanya gereja Tuhan tidak dapat bertahan hidup untuk satu jam.”&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''The Christian Life: A Doctrinal Introduction'' (Carlisle, PA: The Banner of Truth Trust, 1989), p. 80. &amp;lt;/ref&amp;gt;Di poin yang lain ia menambahkan, “Bila doktrin pembenaran ini hilang, maka semua doktrin kekristenan yang benar hilang.”&amp;lt;ref&amp;gt;John R.W. Stott, ''Only One Way: The Message of Galatians'' (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1968), p. 60. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketakutan Luther akan murka Allah telah dibenarkan, seperti kita pelajari di bab sebelumnya. Semua orang Kristen harus mengingat siapa dan apa mereka sebelumnya: jahat dalam perilaku mereka, musuh Allah, sepenuhnya terasing dari-Nya, dan sasaran kemarahan-Nya. Tetapi mengenali masa lalu hanya memiliki nilai sejauh hal itu membuat kita menyadari dan mengagumi akan posisi kita sekarang di dalam Kristus. Kita harus mengenali siapa ''kita sekarang'' karena hadiah kemurahan Tuhan akan pembenaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka yang telah menerima pekerjaan pembenaran Kristus mengalami sebuah perubahan yang dramatis dan luar biasa. Kita telah dibenarkan karena iman melalui anugerah yang besar dari Allah yang Maha Kuasa. Tanpa pengetahuan yang akurat dan pengetahuan yang datang dari pengalaman tentang pembenaran Gereja “tidak dapat bertahan hidup untuk satu jam”…sedikitnya tidak dengan keotentikan. Kita pun juga tidak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Posisi atau Proses? ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Pada saat Yesus mati di kayu salib, tirai bait suci yang memisahkan tempat suci dengan tempat paling suci secara supernatural robek menjadi dua. Untuk mengerti pentingnya peristiwa itu, bacalah Ibrani 9:1-14.}}Pembenaran adalah istilah resmi yang berarti “mendeklarasikan benar.” Hoekema mendefinisikan pembenaran sebagai “perubahan permanen dalam hubungan yuridis kita dengan Tuhan dimana kita diampuni dari tuduhan bersalah, dan dimana Tuhan mengampuni semua dosa-dosa kita di atas dasar pekerjaan Yesus Kristus yang telah tergenapi.”&amp;lt;ref&amp;gt;Anthony Hoekema, ''Saved by Grace'', p. 178. &amp;lt;/ref&amp;gt;Walaupun kita bersalah di hadapan Hakim semesta yang kudus, setelah melanggar hukum-Nya dan layak menerima murka-Nya, Ia telah mendeklarasikan kita sebagai benar. Bagaimana? Atas dasar apa yang Yesus Kristus telah capai di Kayu Salib. Hanya Salib dapat membuat kita dapat diterima di hadapan Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pembenaran adalah sebuah hadiah yang kita terima dari Tuhan, bukan sesuatu yang kita peroleh atau capai. Kita tidak bertanggung jawan ataupun mampu untuk menyumbang bagi pembenaran kita di hadapan Tuhan. Status benar ini tidak bisa dicapai atau dilayakan, hanya diterima dan dihargai. Kita menerima apa yang Kristus dan Kristus sendiri capai untuk kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk dapat sepenuhnya mengerti akan kebenaran yang ajaib ini, adalah esensial kita membedakan pembenaran (justification) dan penyucian (sanctification). Walaupun kedua doktrin ini tidak dapat dipisahkan, kita harus membedakan antara perannya masing-masing di dalam kehidupan iman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Tiada seorangpun yang mengerti kekristenan yang tidak memahami kata ini. Yaitu kata 'dibenarkan.'&amp;quot;�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-00000017-QINU — John Stott}}Pembenaran berarti kita ''dinyatakan'' benar. Penyucian berarti kita sedang ''dibuat'' benar. (Pahami perbedaan itu saja dan hidup Anda tidak akan pernah sama lagi!) Pembenaran adalah ''hadiah'' kekudusan; penyucian adalah ''pelatihan'' kekudusan. Mungkin yang paling kritikal, pembenaran adalah sebuah ''posisi'' – yang dibuat segera dan secara komplit setelah pertobatan – sedangkan penyucian adalah sebuah proses dari perubahan internal dan pengembangan karakter yang dimulai pada saat regenerasi dan terus berlanjut selama kita hidup. “Di dalam Firman Ruhan,” tulis Sinclair Ferguson, “membenarkan bukan berarti membuat benar seperti merubah karakter seseorang. Membenarkan artinya menjadikan benar dengan cara mendeklarasikan.”&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''The Christian Life'', p. 72. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Pembenaran adalah sebuah PERBUATAN. Pembenaran bukanlah pekerjaan, atau satu seri perbuatan. Pembenaran tidak progresif. Orang percaya yang paling lemah dan orang kudus yang paling kuat adalah serupa dan dibenarkan secara sama. Pembenaran tidak mengakui adanya tingkatan. Seseorang, hanya bisa seluruhnya dibenarkan atau seluruhnya dikutuk di hadapan Allah.�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-00000019-QINU&amp;quot; — William S. Plumer}}Pembenaran bukanlah sebuah proses. Pembenaran adalah sebuah deklarasi, sebuah pernyataan ilahi yang tidak dapat ditantang, dirubah ataupun dinaikbanding. Paulus secara empati berkata, “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus” (Rom 5:1). Transformasi mulia ini tidak terjadi sedikit demi sedikit, dan juga tidak berubah-ubah. Anda tidak lebih dibenarkan selama jangka waktu tertentu daripada jangka waktu lainnya. Hal ini perlu ditegaskan kembali: “''Anda tidak akan pernah lebih dibenarkan daripada keadaan Anda saat ini.'' Di atas itu semua, tidak seorangpun dalam sejarah pernah lebih dibenarkan daripada Anda sekarang. Martin Luther tidak, Paulus tidak – seorang pun tidak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Apakah Anda pernah dirampas dari buah-buah keselamatan Anda yang agung? Jawablah kuis Benar/Salah berikut ini untuk memastikan Anda mengerti perbedaan antara pembenaran dan penyucian. (Jawaban ada di catatan kaki.�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-0000001A-QINU) * Pembenaran adalah hasil dari penyucian. '''B S''' * Penyucian adalah proses sepanjang hidup. '''B S''' * Kasih Allah untuk kita bertumbuh sesuai dengan kedewasaan kita. '''B S''' * Pembenaran mengacu kepada posisi kita di dalam Kristus, penyucian mengacu pada proses. '''B S''' * Merubah kebiasaan-kebiasaan berdosa membuat kita lebih benar. '''B S''' * Pertumbuhan rohani adalah bukti yang baik bahwa kita telah dibenarkan. '''B S'''}}Banyak orang Kristen yang bingung tentang doktrin pembenaran dan penyucian dan oleh karenanya tidak bisa merasakan sepenuhnya berkat-berkat yang keselamatan agung ini hasilkan. Adalah sangat penting kita mengerti perbedaan antara posisi kita (pembenaran) dan pelatihan kita (penyucian). Sementara penyucian adalah bukti dan tujuan dari pembenaran, penyucian tidak boleh dipandang sebagai dasar dari pembenaran di hadapan Tuhan, tidak peduli betapa menjadi dewasanya kita. Kita tidak mampu menambahkan apa yang Kristus telah raih. Seperti Alister McGrath katakan, “Satu-satunya hal yang bisa dibilang kita kontribusikan dalam pembenaran kita adalah dosa yang telah Tuhan ampuni dengan kemurahan.” Kita dibenarkan hanya karena anugerah semata.&amp;lt;ref&amp;gt;Alister McGrath, ''Justification by Faith'' (Grand Rapids, MI: Zondervan Publishing House, 1988), p. 132. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Membuat Frustrasi dan Sia-Sia ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Doktrin pembenaran perlu dijalankan dan ditengok secara terus menerus, seperti yang Martin Luther sadari betul. Nasihat Martin Luther yang biasa terus terang? “Tempelkan itu ke kepala mereka terus menerus.”&amp;lt;ref&amp;gt;John R.W. Stott, ''Only One Way'', p. 59. &amp;lt;/ref&amp;gt;Sebagai tambahan bagi pengulangan ulet dari para pemimpin kita, kita perlu mempraktekan dan menghargai kebenaran dari pembenaran di dalam hidup kita sehari-hari. Kalau tidak, kita akan menemukan diri kita mudah jatuh dalam salah satu musuh Gereja yang paling serius dan tidak kentara: legalisme.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Kemuliaan Injil adalah bahwa Allah menyatakan orang Kristen memiliki hubungan yang benar dengan-Nya meskipun adanya dosa-dosa mereka. Tetapi pencobaan dan kesalahan terbesar kita adalah berusaha menyusupkan karakter ke dalam pekerjaan kasih karunia-Nya. Betapa mudahnya kita jatuh ke dalam jebakan anggapan bahwa kita hanya tetap dibenarkan selama ada dasarnya pada karakter kita untuk pembenaran itu. Tetapi ajaran Paulus adalah tidak ada yang dapat kita perbuat untuk menyumbang bagi pembenaran kita.�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-0000001D-QINU&amp;quot; — Sinclair Ferguson}}Legalisme melibatkan usaha untuk memperoleh penerimaan dari Tuhan melalui ketaatan kita sendiri. Kita hanya memiliki dua pilihan: menerima kekudusan sebagai pemberian Tuhan atau mencoba untuk melahirkan kekudusan kita sendiri. Legalisme adalah usaha untuk dibenarkan melalui sumber yang lain daripada Yesus Kristus dan pekerjaan-Nya yang telah genap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berpegang pada legalisme berarti percaya bahwa Salib itu tidak perlu atau tidak cukup (Gal 2:21, 5:2). Itu merupakan penafsiran yang tepat akan motif dan perbuatan Anda, walaupun Anda masih secara mental mengakui kebutuhan akan pengorbanan Kristus. Dalam usaha kita mengejar ketaatan dan kedewasaan, legalisme secara perlahan dan samar menguasai kita dan kita mulai mengganti pekerjaan kita untuk pekerjaan genap Kristus. Hasilnya adalah keangkuhan atau penghakiman. Bukannya bertumbuh dalam kasih karunia kita meninggalkan kasih karunia. Itulah penilaian Paulus terhadap gereja di Galasia ketika ia menulis, “Kamu lepas dari Kristus jikalau kamumengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia.” (Gal 5:4).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Untuk menghargai besarnya keprihatinan Paulus tentang legalisme, bacalah Galatia 1:6-9, 2:21, 3:1-4, 3:10, 4:8-11, 4:19-20, 5:2-4, dan 5:7-12.}}Kalau Anda telah berusaha menjalani hidup seperti ini, Anda mungkin sekarang telah belajar bahwa bahwa legalisme itu adalah sia-sia dan membuat frustrasi. Setiap usaha legalisme untuk memperoleh kekudusan akhirnya akan mengalami kegagalan. Selama bertahun-tahun saya telah belajar mengenali beberapa tanda yang sangat jelas dari adanya legalisme. Ini adalah beberapa diantaranya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Anda lebih menyadari akan dosa-dosa masa lalu Anda daripada pribadi dan pekerjaan genap Kristus.&lt;br /&gt;
* Anda hidup berpikir, percaya, dan merasa bahwa Tuhan kecewa terhadap Anda daripada bersukacita dalam Anda. Anda menganggap penerimaan Tuhan bergantung pada ketaatan Anda.&lt;br /&gt;
* Anda kurang sukacita. Ini sering menjadi indikasi pertama dari adanya legalisme. Penghakiman adalah hasil dari merenungkan ketidakcukupan kita; sukacita adalah hasil hari memikirkan kecukupan kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Pernahkan Anda dijerat oleh kehadiran legalisme yang samar? Kalau ya, sadarlah. Legalisme cenderung menyebar daripada tetap terbatasi (Gal 5:9). Legalisme harus dihilangkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Masalah dengan gereja Galatia bukanlah ketaatan pada hukum moral Allah; melainkan, ketergantungan pada hukum moral…untuk keselamatan.�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-0000001E-QINU&amp;quot; — Jerry Bridges}}Satu-satunya cara efektif untuk mencabut legalisme adalah dengan doktrin pembenaran. Kalau Anda telah menelantarkan atau mengabaikan doktrin ini, maka buatlah tindakan sedramatis apapun yang dibutuhkan untuk berubah. Sediakan waktu setiap hari untuk mengulang, melatih, dan bersukacita atas kebenaran yang agung, objektif dan bersifat posisi ini. Batasi konsumsi spiritual Anda pada pembelajaran tentang pembenaran sampai Anda yakin akan penerimaan Tuhan, merasa aman di dalam kasih-Nya dan bebas dari legalisme dan penghakiman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penyaliban Yesus Kristus merupakan satu peristiwa sejarah yang paling menentukan. Dengan akurat Sinclair Ferguson menyatakan hal berikut: {{RightInsert|'''Renungkan Roma 7:14-25.''' Pada saat kita mengerti betul kebejatan kita sendiri kita akan lebih sulit untuk dicobai oleh legalisme.}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Waktu kita berpikir Kristus mati di kayu salib kita diperlihatkan seberapa panjangnya kasih Tuhan dengan tujuan memenangkan kita kembali kepada-Nya…Ia berkata kepada kita: Aku mengasihi Engkau sebesar ini… Salib adalah jantung Injil. Salib membuat Injil menjadi kabar baik: Kristus mati untuk kira. Ia telah berdiri di tempat kita di hadapan kursi penghakiman Allah. Ia menanggung dosa-dosa kita. Tuhan telah melakukan sesuatu di atas kayu salib yang tidak mungkin kita sendiri pernah dapat lakukan… Alasan kita kurang yakin akan kasih karunia-Nya adalah karena kita gagal untuk fokus kepada tempat itu dimana Ia menyatakannya.&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''Grow in Grace'' (Carlisle, PA: The Banner of Truth Trust, 1989), p. 56, 58–59.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemana Anda akan memfokuskan perhatian Anda? Apakah pada dosa-dosa masa lalu Anda, keadaan emosi Anda saat ini, atau area karakter dimana Anda masih perlu bertumbuh? Ataukan Anda akan fokus pada pekerjaan Kristus yang genap? Legalisme tidak perlu memotivasi Anda. Penghakiman tidak perlu menyiksa Anda. Allah telah membenarkan Anda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Dua kategori orang seperti apa yang digambarkan di Yakobus 1:22-25? Kelompok yang mana yang Tuhan janji akan berkati?}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jangan Berargumentasi dengan Hakim === &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengerti doktrin pembenaran secara intelektual dengan sendirinya tidaklah cukup. Tuhan menginginkan kita untuk mengalami transformasi – secara total, murni, dan permanen ditransform oleh kotrin penting ini. J.I. Packer telah menyatakan, “Masalahnya bukan, apakah seseorang dapat menyebutkan doktrin ini dengan keakuratan Firman yang penuh (hal itu, telah kita lihat, adalah pekerjaan yang membutuhlan ketelitian), tetapi, apakah seseorang tahu realitasnya dalam pengalaman.”&amp;lt;ref&amp;gt;J.I. Packer, ''God’s Words: Studies of Key Bible Themes'' (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1981), p. 147. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Kolose 2:13-15 menyatakan hutang kita yang sangat besar kepada Tuhan. Apa yang Yesus lakukan dengan surat tagihan hutang? }}Tujuan kami menulis buku ini bukan pada dasarnya Anda belajar bagaimana mengartikulasi doktrin agung ini tetapi Anda dirubah olehnya, bahwa pengertian Anda akan berbuah pada kebebasan pribadi dari legalisme dan penghakiman serta kasih dan semangat yang bertambah-tambah kepada Yesus Kristus. Adalah mungkin menyadari pembenaran oleh kasih karunia tanpa terpengaruh secara pribadi. Kita perlu menghargai dan mempraktekan kebenaran besar ini setiap hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cerita yang akan saya bagikan merupakan sebuah pelajaran penuh kuasa bagi saya setelah saya mempejalari benar doktrin pembenaran. Selama hari-hari sebelum pertobatan saya sebagai mahasiswa tahun pertama, saya ditangkap karena kepemilikan mariyuana. Detail peristiwa tersebut masih sangat jelas di benak saya. Saat saya duduk di ruang sidang menghadapi hakin, saya mencoba sebisa saya untuk terlihat tulus dan tersiksa, tetapi saya hanya bisa ketakutan. Saya tahu ada kesempatan besar saya akan dijatuhi hukuman dan dituduh dengan pelanggaran tambahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Adalah tidak cukup untuk hanya mengetahui bahwa Yesus telah mati, atau bahkan mengapa Ia mati. Pengetahuan tersebut merupakan hasil dari “iman yang hanya bersifat sejarah” yang tidak dapat menyelamatkan… Hanya pada waktu kita menyadari bahwa Kristus diberi pro me, pro nobis (“untuk aku,” “untuk kita”) kita telah membedakan pentingnya pencapaian Kristus. .�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-00000021-QINU&amp;quot; — Timothy George}}Ternyata, kasus saya tidak pernah mengalami kemajuan setelah saksi pertama. Karena polisi menggeledah kamar saya tanpa surat resmi yang dibutuhkan, bantah pengacaran saya, pengadilan harus mencabut gugatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hakim duduk mendengarkan dengan sabar saat jaksa mengajukan keberatan dan mengulang kembali bukti-bukti yang memberatkan saya. Akhirnya, ia melihat ke arah saya. Pria itu jelas terlihat frustasi. Tidak berkuasa untuk memberi lebih dari teguran, ia menguliahi saya dengan kata-kata yang sekeras-kerasnya. Saya mencoba untuk kelihatan menyesal. Saya menganggukan kepada saya atas setiap penyataan. Tapi saya tidak ingat apapun yang ia katakan – saya terlalu gembira karena kenyataan bahwa ia akan melepas saya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika saya disidang saya tahu bahwa saya bersalah. Saya kira semua orang mengetahui itu. Tetapi pada waktu hakim membebaskan saya, saya tidak berargumentasi dengannya. Saya tidak meminta dan memohon kepada hakim untuk melanjutkan kasus itu. Saya tidak memintanya untuk mengabaikan teknis legalitas dan mengijinkan jaksa untuk terus maju. Hanya kali ini saya dengan gembira tunduk kepada seseorang yang memiliki otoritas lebih besar. Bila sang hakim ingin melepaskan pelanggaran itu, saya akan dengan senang hati menerima keputusannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Renungkan Ulangan 31:8.''' Daripada melanggar janji-Nya yang indah kepada kita (meskipun kita tidak pernah layak diberi janji seperti itu), Tuhan meninggalkan Putra-Nya sendiri.}}Setiap dari kita berdiri bersalah di hadapan Hakim dari segalanya. Tetapi kejahatan kita menentang-Nya berada di tingkat yang secara total berbeda dengan kesalahan saya. Dan walaupun saya diloloskan karena hal teknis, kita telah dinyatakan benar atas dasar pengorbanan Kristus yang telah direncanakan dan bersifat menggantikan kita itu. Yesus Kristus secara suka rela dan sengaja memberikan hidup-Nya sepaya Allah dapat tetap adil saat membenarkan yang bersalah – Anda dan saya. Allah telah menyatakan kita benar. Yang tertinggal hanyalah masalah apakah kita akan menerima pernyataan ini. Pilihan untuk menerima atau tidak berada di hadapan kita setiap hari, sering berkali-kali dalam satu hari: Akankah kita menerima pembenaran karena iman karena pernyataan oleh Tuhan, atau akankah kita mengijinkan penghakiman dan legalisme untu menguasai kita saat kita bergantung pada perasaan dan ketaatan kita?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Kehidupan Kristen melibatkan bukan saja percaya sesuatu tentang Kristus tetapi juga percaya sesuatu tentang diri kita sendiri… Iman kita di dalam Kristus harus mencakup percaya bahwa kita adalah apa yang Alkitab katakan tentang kita.&amp;quot; — Anthony Hoekema}}Tentukanlah bahwa emosi Anda yang tidak stabil dan tidak terprediksi tidak akan medikte atau menipu Anda. Jangan ijinkan emosi-emosi itu untuk menjadi otoritas terakhir di dalam hidup Anda. Percayalah apa yang Tuhan katakan tentang Anda. Kalau Anda bijaksana Anda akan mengikuti teladan saya: Jangan berargumentasi dengan Hakim.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Ditinggalkan Demi Pengampunan Kita ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah yang menciptakan Anda menerima Anda. Anak-Nya secara suka rela menghadapi kengerian Salib yang tidak terbayangkan, ditinggalkan Allah Bapa dan manusia, demi untuk membenarkan Anda. Ia dibuang supaya kita bisa diampuni. Ia mengalami perpisahan supaya kita dapat selamanya aman dalam kasih Allah. Ia menanggung murka Allah sehingga kita tidak pernah perlu melakukannya. “Yesus yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitakan karena pembenaran kita” (Rom 4:25). Anda telah dibenarkan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah mengherankan Reformasi merubah sejarah Gereja? Tidak ada cara apapun untuk mengekang doktrin ini. Sekali doktrin ini dilepas ia akan merubah hidup setiap orang yang disentuhnya – termasuk Anda sendiri. &amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Diskusi Kelompok ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# Di halaman 52 pengarang menulis, “Anda tidak akan pernah lebih dibenarkan daripada Anda saat ini.” Bagaimana kalimat ini mempengaruhi usaha-usaha Anda untuk menjalani hidup yang menyenangkan Tuhan?&lt;br /&gt;
# Renungkan dengan tenang untuk satu atau dua menit tentang Salib. Menurut Anda apakah yang Yesus rasakan waktu ia menyaradari Allah telah meninggalkan-Nya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# Apakah mungkin untuk terlalu fokus pada menjadi serupa dengan teladan Kristus?&lt;br /&gt;
# Apa yang membuat legalisme menjadi sebuah penyimpangan sesat yang tak disadari?&lt;br /&gt;
# Bagaimana kita mengimbangi doktrin pembenaran dan penyucian tanpa oleng kepada legalisme ataupun ijin?&lt;br /&gt;
# Satu hal apa yang dapat kontribusi bagi pembenaran kita?(Petunjuk: Tidak ada yang perlu disombongkan!)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bacaan yang Direkomendasikan ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Cross of Christ'' by John R. W. Stott (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1986)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Discipline of Grace'' by Jerry Bridges (Colorado Springs, CO: NavPress, 1994)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Atonement'' by Leon Morris (Downwers Grove, IL: InterVarsity Press, 1984)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Catatan ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Sukartay</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/Justified_by_Christ/id</id>
		<title>This Great Salvation/Justified by Christ/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/Justified_by_Christ/id"/>
				<updated>2007-12-27T08:12:47Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Sukartay: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;= Dibenarkan Oleh Yesus =&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum Martin Luther menjadi terkenal karena peran pentingnya dalam Reformasi, ia dikenal seluruh Eropa sebagai seorang pelajar hukum yang brilian. Yang paling banyak mempengaruhi pendeta pengikut Agustinus ini adalah pembelajarannya akan hukum Allah di dalam Firman Tuhan. Saat ia merenungkan perintah-perintah Allah, ia menjadi sangat menyadari murka Allah. Setiap kali ia mempelajari pribadi dan pekerjaan Yesus Kristus ia mengenal inilah Yang benar yang pada akhirnya akan menghakiminya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesadaran yang terus menerus itu merongrong Luther dengan perasaan bersalah yang tak terbendung. Sementara rekan-rekannya menghabiskan beberapa menit untuk mengaku dosa, ia menghabiskan berjam-jam. Sebagian orang mengira bahwa mentalnya tidak stabil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teolog Anthony Hoekema menggambarkan kesedihan mental itu membawa pada penemuan teologi besar Luther:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Martin Luther telah mencoba segalanya: tidur di atas lantai yang keras, tidak makan, bahkan menaiki sebuah tangga di Roma dengan tangan dan lututnya – tapi tidak berhasil. Para gurunya di biara memberitahunya bahwa ia telah melakukan cukup untuk mendapatkan kedamaian jiwa. Tapi ia tidak memiliki damai. Kesadarannya akan dosa terlalu dalam.&lt;br /&gt;
:Ia telah mempelajari kitab Mazmur. Kitab ini sering menyebut “kebenaran Tuhan.” Tapi istilah ini mengganggunya. Ia mengira itu berarti kebenaran Tuhan yang menghukum, dimana Ia menghukum orang berdosa. Dan Luther mengetahui ia adalah orang berdosa. Jadi manakala ia melihat kata kebenaran di dalam Alkitab, ia melihat merah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Pembenaran adalah memang jawaban Allah bagi semua pertanyaan manusia yang paling penting: Bagaimana seorang pria atau wanita dibenarkan dengan Tuhan? Kita tidak dibenarkan dengan Tuhan dengan sendirinya. Kita berada di bahwa murka Allah. Pembenaran adalah sangat penting, karena kita harus dibenarkan dengan Allah atau kita binasa selamanya… Kesulitannya adalah mayoritas orang saat ini tidak merasakan kebutuhan di area ini. Martin Luther telah merasakannya; hal itu menghantuinya. Ia tahu bahwa ia tidak benar dengan Allah, dan ia mengantisipasi konfrontasi dengan Allah yang murka di penghakiman terakhir. Allah menunjukkan kepadanya bahwa ia bisa mengalami hubungan yang benar dengan Allah melalui pekerjaan Yesus Kristus. Tetapi di jaman ini siapa yang merasakan intensitas kepedihan Luther?�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-00000012-QINU&amp;quot; — James Montgomery Boice}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Pada suatu hari ia membuka kitab Roma. Di sana ia membaca tentang injil Kristus yang adalah kekuatan Allah untuk keselamatan (1:16). Ini adalah sebuah kabar baik! Tetapi ayat selanjutnya berkata, “Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah“- ada kata buruk ''kebenaran'' itu lagi! Dan depresi Luther kembali lagi. Hal itu menjadi lebih buruk ketika ia meneruskan membaca tentang murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia (ayat 18).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka Luther kembali ke ayat 17 lagi. Bagaimana bisa Paulus menuliskan kata-kata mengerikan seperti itu?...Tiba-tiba pencerahan datang padanya. “Kebenaran Tuhan” yang Paulus maksud di sini bukanlah keadilan Tuhan yang bersifat menghukum yang membuatNya menghukum orang berdosa, melainkan kebenaran yang Tuhan ''berikan'' kepada orang berdosa yang membutuhkan, dan yang orang berdosa itu terima dengan ''iman''. Ini adalah kebenaran yang sempurna dan tidak bercacat, didapatkan oleh Kristus, yang dengan kemurahan Tuhan berikan pada semua yang percaya. Luther tidak perlu lagi mencari dasar untuk kedamaian jiwa di dalam dirinya, di dalam perbuatan baiknya sendiri. Sekarang ia dapat melihat lepas dari dirinya sendiri dan melihat kepada Kristus, hidup dengan iman daripada bersembunyi dalam ketakutan. Pada saat itulah Reformasi Protestan lahir.&amp;lt;ref&amp;gt;Anthony Hoekema, ''Saved by Grace'' (Grand Rapids, MI: Wm. B. Eerdmans Co., 1989), p. 152. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Renungkan Roma 1:17.''' Frase kunci apa di ayat ini yang merevolusi pengertian Martin Luther tentang keselamatan? Bagaimana pengaruhnya bagi Anda?}}Luther melanjutkan dengan berkata bahwa doktrin pembenaran adalah doktrin yang olehnya Gereja berdiri atau jatuh. “Doktrin ini merupakan kepala dan batu penjuru Gereja yang melahirkan, memelihara, membangun dan melindungi Gereja. Tanpanya gereja Tuhan tidak dapat bertahan hidup untuk satu jam.”&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''The Christian Life: A Doctrinal Introduction'' (Carlisle, PA: The Banner of Truth Trust, 1989), p. 80. &amp;lt;/ref&amp;gt;Di poin yang lain ia menambahkan, “Bila doktrin pembenaran ini hilang, maka semua doktrin kekristenan yang benar hilang.”&amp;lt;ref&amp;gt;John R.W. Stott, ''Only One Way: The Message of Galatians'' (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1968), p. 60. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketakutan Luther akan murka Allah telah dibenarkan, seperti kita pelajari di bab sebelumnya. Semua orang Kristen harus mengingat siapa dan apa mereka sebelumnya: jahat dalam perilaku mereka, musuh Allah, sepenuhnya terasing dari-Nya, dan sasaran kemarahan-Nya. Tetapi mengenali masa lalu hanya memiliki nilai sejauh hal itu membuat kita menyadari dan mengagumi akan posisi kita sekarang di dalam Kristus. Kita harus mengenali siapa ''kita sekarang'' karena hadiah kemurahan Tuhan akan pembenaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka yang telah menerima pekerjaan pembenaran Kristus mengalami sebuah perubahan yang dramatis dan luar biasa. Kita telah dibenarkan karena iman melalui anugerah yang besar dari Allah yang Maha Kuasa. Tanpa pengetahuan yang akurat dan pengetahuan yang datang dari pengalaman tentang pembenaran Gereja “tidak dapat bertahan hidup untuk satu jam”…sedikitnya tidak dengan keotentikan. Kita pun juga tidak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Posisi atau Proses? ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Pada saat Yesus mati di kayu salib, tirai bait suci yang memisahkan tempat suci dengan tempat paling suci secara supernatural robek menjadi dua. Untuk mengerti pentingnya peristiwa itu, bacalah Ibrani 9:1-14.}}Pembenaran adalah istilah resmi yang berarti “mendeklarasikan benar.” Hoekema mendefinisikan pembenaran sebagai “perubahan permanen dalam hubungan yuridis kita dengan Tuhan dimana kita diampuni dari tuduhan bersalah, dan dimana Tuhan mengampuni semua dosa-dosa kita di atas dasar pekerjaan Yesus Kristus yang telah tergenapi.”&amp;lt;ref&amp;gt;Anthony Hoekema, ''Saved by Grace'', p. 178. &amp;lt;/ref&amp;gt;Walaupun kita bersalah di hadapan Hakim semesta yang kudus, setelah melanggar hukum-Nya dan layak menerima murka-Nya, Ia telah mendeklarasikan kita sebagai benar. Bagaimana? Atas dasar apa yang Yesus Kristus telah capai di Kayu Salib. Hanya Salib dapat membuat kita dapat diterima di hadapan Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pembenaran adalah sebuah hadiah yang kita terima dari Tuhan, bukan sesuatu yang kita peroleh atau capai. Kita tidak bertanggung jawan ataupun mampu untuk menyumbang bagi pembenaran kita di hadapan Tuhan. Status benar ini tidak bisa dicapai atau dilayakan, hanya diterima dan dihargai. Kita menerima apa yang Kristus dan Kristus sendiri capai untuk kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk dapat sepenuhnya mengerti akan kebenaran yang ajaib ini, adalah esensial kita membedakan pembenaran (justification) dan penyucian (sanctification). Walaupun kedua doktrin ini tidak dapat dipisahkan, kita harus membedakan antara perannya masing-masing di dalam kehidupan iman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Tiada seorangpun yang mengerti kekristenan yang tidak memahami kata ini. Yaitu kata 'dibenarkan.'&amp;quot; �UNIQ40abc13d0c3d96-ref-00000017-QINU — John Stott}}Pembenaran berarti kita ''dinyatakan'' benar. Penyucian berarti kita sedang ''dibuat'' benar. (Pahami perbedaan itu saja dan hidup Anda tidak akan pernah sama lagi!) Pembenaran adalah ''hadiah'' kekudusan; penyucian adalah ''pelatihan'' kekudusan. Mungkin yang paling kritikal, pembenaran adalah sebuah ''posisi'' – yang dibuat segera dan secara komplit setelah pertobatan – sedangkan penyucian adalah sebuah proses dari perubahan internal dan pengembangan karakter yang dimulai pada saat regenerasi dan terus berlanjut selama kita hidup. “Di dalam Firman Ruhan,” tulis Sinclair Ferguson, “membenarkan bukan berarti membuat benar seperti merubah karakter seseorang. Membenarkan artinya menjadikan benar dengan cara mendeklarasikan.”&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''The Christian Life'', p. 72. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Pembenaran adalah sebuah PERBUATAN. Pembenaran bukanlah pekerjaan, atau satu seri perbuatan. Pembenaran tidak progresif. Orang percaya yang paling lemah dan orang kudus yang paling kuat adalah serupa dan dibenarkan secara sama. Pembenaran tidak mengakui adanya tingkatan. Seseorang, hanya bisa seluruhnya dibenarkan atau seluruhnya dikutuk di hadapan Allah.�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-00000019-QINU&amp;quot; — William S. Plumer}}Pembenaran bukanlah sebuah proses. Pembenaran adalah sebuah deklarasi, sebuah pernyataan ilahi yang tidak dapat ditantang, dirubah ataupun dinaikbanding. Paulus secara empati berkata, “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus” (Rom 5:1). Transformasi mulia ini tidak terjadi sedikit demi sedikit, dan juga tidak berubah-ubah. Anda tidak lebih dibenarkan selama jangka waktu tertentu daripada jangka waktu lainnya. Hal ini perlu ditegaskan kembali: “''Anda tidak akan pernah lebih dibenarkan daripada keadaan Anda saat ini.'' Di atas itu semua, tidak seorangpun dalam sejarah pernah lebih dibenarkan daripada Anda sekarang. Martin Luther tidak, Paulus tidak – seorang pun tidak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Apakah Anda pernah dirampas dari buah-buah keselamatan Anda yang agung? Jawablah kuis Benar/Salah berikut ini untuk memastikan Anda mengerti perbedaan antara pembenaran dan penyucian. (Jawaban ada di catatan kaki.�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-0000001A-QINU) * Pembenaran adalah hasil dari penyucian. '''B S''' * Penyucian adalah proses sepanjang hidup. '''B S''' * Kasih Allah untuk kita bertumbuh sesuai dengan kedewasaan kita. '''B S''' * Pembenaran mengacu kepada posisi kita di dalam Kristus, penyucian mengacu pada proses. '''B S''' * Merubah kebiasaan-kebiasaan berdosa membuat kita lebih benar. '''B S''' * Pertumbuhan rohani adalah bukti yang baik bahwa kita telah dibenarkan. '''B S'''}}Banyak orang Kristen yang bingung tentang doktrin pembenaran dan penyucian dan oleh karenanya tidak bisa merasakan sepenuhnya berkat-berkat yang keselamatan agung ini hasilkan. Adalah sangat penting kita mengerti perbedaan antara posisi kita (pembenaran) dan pelatihan kita (penyucian). Sementara penyucian adalah bukti dan tujuan dari pembenaran, penyucian tidak boleh dipandang sebagai dasar dari pembenaran di hadapan Tuhan, tidak peduli betapa menjadi dewasanya kita. Kita tidak mampu menambahkan apa yang Kristus telah raih. Seperti Alister McGrath katakan, “Satu-satunya hal yang bisa dibilang kita kontribusikan dalam pembenaran kita adalah dosa yang telah Tuhan ampuni dengan kemurahan.” Kita dibenarkan hanya karena anugerah semata.&amp;lt;ref&amp;gt;Alister McGrath, ''Justification by Faith'' (Grand Rapids, MI: Zondervan Publishing House, 1988), p. 132. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Membuat Frustrasi dan Sia-Sia ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Doktrin pembenaran perlu dijalankan dan ditengok secara terus menerus, seperti yang Martin Luther sadari betul. Nasihat Martin Luther yang biasa terus terang? “Tempelkan itu ke kepala mereka terus menerus.”&amp;lt;ref&amp;gt;John R.W. Stott, ''Only One Way'', p. 59. &amp;lt;/ref&amp;gt;Sebagai tambahan bagi pengulangan ulet dari para pemimpin kita, kita perlu mempraktekan dan menghargai kebenaran dari pembenaran di dalam hidup kita sehari-hari. Kalau tidak, kita akan menemukan diri kita mudah jatuh dalam salah satu musuh Gereja yang paling serius dan tidak kentara: legalisme.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Kemuliaan Injil adalah bahwa Allah menyatakan orang Kristen memiliki hubungan yang benar dengan-Nya meskipun adanya dosa-dosa mereka. Tetapi pencobaan dan kesalahan terbesar kita adalah berusaha menyusupkan karakter ke dalam pekerjaan kasih karunia-Nya. Betapa mudahnya kita jatuh ke dalam jebakan anggapan bahwa kita hanya tetap dibenarkan selama ada dasarnya pada karakter kita untuk pembenaran itu. Tetapi ajaran Paulus adalah tidak ada yang dapat kita perbuat untuk menyumbang bagi pembenaran kita.�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-0000001D-QINU&amp;quot; — Sinclair Ferguson}}Legalisme melibatkan usaha untuk memperoleh penerimaan dari Tuhan melalui ketaatan kita sendiri. Kita hanya memiliki dua pilihan: menerima kekudusan sebagai pemberian Tuhan atau mencoba untuk melahirkan kekudusan kita sendiri. Legalisme adalah usaha untuk dibenarkan melalui sumber yang lain daripada Yesus Kristus dan pekerjaan-Nya yang telah genap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berpegang pada legalisme berarti percaya bahwa Salib itu tidak perlu atau tidak cukup (Gal 2:21, 5:2). Itu merupakan penafsiran yang tepat akan motif dan perbuatan Anda, walaupun Anda masih secara mental mengakui kebutuhan akan pengorbanan Kristus. Dalam usaha kita mengejar ketaatan dan kedewasaan, legalisme secara perlahan dan samar menguasai kita dan kita mulai mengganti pekerjaan kita untuk pekerjaan genap Kristus. Hasilnya adalah keangkuhan atau penghakiman. Bukannya bertumbuh dalam kasih karunia kita meninggalkan kasih karunia. Itulah penilaian Paulus terhadap gereja di Galasia ketika ia menulis, “Kamu lepas dari Kristus jikalau kamumengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia.” (Gal 5:4).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Untuk menghargai besarnya keprihatinan Paulus tentang legalisme, bacalah Galatia 1:6-9, 2:21, 3:1-4, 3:10, 4:8-11, 4:19-20, 5:2-4, dan 5:7-12.}}Kalau Anda telah berusaha menjalani hidup seperti ini, Anda mungkin sekarang telah belajar bahwa bahwa legalisme itu adalah sia-sia dan membuat frustrasi. Setiap usaha legalisme untuk memperoleh kekudusan akhirnya akan mengalami kegagalan. Selama bertahun-tahun saya telah belajar mengenali beberapa tanda yang sangat jelas dari adanya legalisme. Ini adalah beberapa diantaranya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Anda lebih menyadari akan dosa-dosa masa lalu Anda daripada pribadi dan pekerjaan genap Kristus.&lt;br /&gt;
* Anda hidup berpikir, percaya, dan merasa bahwa Tuhan kecewa terhadap Anda daripada bersukacita dalam Anda. Anda menganggap penerimaan Tuhan bergantung pada ketaatan Anda.&lt;br /&gt;
* Anda kurang sukacita. Ini sering menjadi indikasi pertama dari adanya legalisme. Penghakiman adalah hasil dari merenungkan ketidakcukupan kita; sukacita adalah hasil hari memikirkan kecukupan kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Pernahkan Anda dijerat oleh kehadiran legalisme yang samar? Kalau ya, sadarlah. Legalisme cenderung menyebar daripada tetap terbatasi (Gal 5:9). Legalisme harus dihilangkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Masalah dengan gereja Galatia bukanlah ketaatan pada hukum moral Allah; melainkan, ketergantungan pada hukum moral…untuk keselamatan.�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-0000001E-QINU&amp;quot; — Jerry Bridges}}Satu-satunya cara efektif untuk mencabut legalisme adalah dengan doktrin pembenaran. Kalau Anda telah menelantarkan atau mengabaikan doktrin ini, maka buatlah tindakan sedramatis apapun yang dibutuhkan untuk berubah. Sediakan waktu setiap hari untuk mengulang, melatih, dan bersukacita atas kebenaran yang agung, objektif dan bersifat posisi ini. Batasi konsumsi spiritual Anda pada pembelajaran tentang pembenaran sampai Anda yakin akan penerimaan Tuhan, merasa aman di dalam kasih-Nya dan bebas dari legalisme dan penghakiman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penyaliban Yesus Kristus merupakan satu peristiwa sejarah yang paling menentukan. Dengan akurat Sinclair Ferguson menyatakan hal berikut: {{RightInsert|'''Renungkan Roma 7:14-25.''' Pada saat kita mengerti betul kebejatan kita sendiri kita akan lebih sulit untuk dicobai oleh legalisme.}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Waktu kita berpikir Kristus mati di kayu salib kita diperlihatkan seberapa panjangnya kasih Tuhan dengan tujuan memenangkan kita kembali kepada-Nya…Ia berkata kepada kita: Aku mengasihi Engkau sebesar ini… Salib adalah jantung Injil. Salib membuat Injil menjadi kabar baik: Kristus mati untuk kira. Ia telah berdiri di tempat kita di hadapan kursi penghakiman Allah. Ia menanggung dosa-dosa kita. Tuhan telah melakukan sesuatu di atas kayu salib yang tidak mungkin kita sendiri pernah dapat lakukan… Alasan kita kurang yakin akan kasih karunia-Nya adalah karena kita gagal untuk fokus kepada tempat itu dimana Ia menyatakannya.&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''Grow in Grace'' (Carlisle, PA: The Banner of Truth Trust, 1989), p. 56, 58–59.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemana Anda akan memfokuskan perhatian Anda? Apakah pada dosa-dosa masa lalu Anda, keadaan emosi Anda saat ini, atau area karakter dimana Anda masih perlu bertumbuh? Ataukan Anda akan fokus pada pekerjaan Kristus yang genap? Legalisme tidak perlu memotivasi Anda. Penghakiman tidak perlu menyiksa Anda. Allah telah membenarkan Anda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Dua kategori orang seperti apa yang digambarkan di Yakobus 1:22-25? Kelompok yang mana yang Tuhan janji akan berkati?}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jangan Berargumentasi dengan Hakim === &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengerti doktrin pembenaran secara intelektual dengan sendirinya tidaklah cukup. Tuhan menginginkan kita untuk mengalami transformasi – secara total, murni, dan permanen ditransform oleh kotrin penting ini. J.I. Packer telah menyatakan, “Masalahnya bukan, apakah seseorang dapat menyebutkan doktrin ini dengan keakuratan Firman yang penuh (hal itu, telah kita lihat, adalah pekerjaan yang membutuhlan ketelitian), tetapi, apakah seseorang tahu realitasnya dalam pengalaman.”&amp;lt;ref&amp;gt;J.I. Packer, ''God’s Words: Studies of Key Bible Themes'' (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1981), p. 147. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Kolose 2:13-15 menyatakan hutang kita yang sangat besar kepada Tuhan. Apa yang Yesus lakukan dengan surat tagihan hutang? }}Tujuan kami menulis buku ini bukan pada dasarnya Anda belajar bagaimana mengartikulasi doktrin agung ini tetapi Anda dirubah olehnya, bahwa pengertian Anda akan berbuah pada kebebasan pribadi dari legalisme dan penghakiman serta kasih dan semangat yang bertambah-tambah kepada Yesus Kristus. Adalah mungkin menyadari pembenaran oleh kasih karunia tanpa terpengaruh secara pribadi. Kita perlu menghargai dan mempraktekan kebenaran besar ini setiap hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cerita yang akan saya bagikan merupakan sebuah pelajaran penuh kuasa bagi saya setelah saya mempejalari benar doktrin pembenaran. Selama hari-hari sebelum pertobatan saya sebagai mahasiswa tahun pertama, saya ditangkap karena kepemilikan mariyuana. Detail peristiwa tersebut masih sangat jelas di benak saya. Saat saya duduk di ruang sidang menghadapi hakin, saya mencoba sebisa saya untuk terlihat tulus dan tersiksa, tetapi saya hanya bisa ketakutan. Saya tahu ada kesempatan besar saya akan dijatuhi hukuman dan dituduh dengan pelanggaran tambahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Adalah tidak cukup untuk hanya mengetahui bahwa Yesus telah mati, atau bahkan mengapa Ia mati. Pengetahuan tersebut merupakan hasil dari “iman yang hanya bersifat sejarah” yang tidak dapat menyelamatkan… Hanya pada waktu kita menyadari bahwa Kristus diberi pro me, pro nobis (“untuk aku,” “untuk kita”) kita telah membedakan pentingnya pencapaian Kristus. .�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-00000021-QINU&amp;quot; — Timothy George}}Ternyata, kasus saya tidak pernah mengalami kemajuan setelah saksi pertama. Karena polisi menggeledah kamar saya tanpa surat resmi yang dibutuhkan, bantah pengacaran saya, pengadilan harus mencabut gugatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hakim duduk mendengarkan dengan sabar saat jaksa mengajukan keberatan dan mengulang kembali bukti-bukti yang memberatkan saya. Akhirnya, ia melihat ke arah saya. Pria itu jelas terlihat frustasi. Tidak berkuasa untuk memberi lebih dari teguran, ia menguliahi saya dengan kata-kata yang sekeras-kerasnya. Saya mencoba untuk kelihatan menyesal. Saya menganggukan kepada saya atas setiap penyataan. Tapi saya tidak ingat apapun yang ia katakan – saya terlalu gembira karena kenyataan bahwa ia akan melepas saya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika saya disidang saya tahu bahwa saya bersalah. Saya kira semua orang mengetahui itu. Tetapi pada waktu hakim membebaskan saya, saya tidak berargumentasi dengannya. Saya tidak meminta dan memohon kepada hakim untuk melanjutkan kasus itu. Saya tidak memintanya untuk mengabaikan teknis legalitas dan mengijinkan jaksa untuk terus maju. Hanya kali ini saya dengan gembira tunduk kepada seseorang yang memiliki otoritas lebih besar. Bila sang hakim ingin melepaskan pelanggaran itu, saya akan dengan senang hati menerima keputusannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Renungkan Ulangan 31:8.''' Daripada melanggar janji-Nya yang indah kepada kita (meskipun kita tidak pernah layak diberi janji seperti itu), Tuhan meninggalkan Putra-Nya sendiri.}}Setiap dari kita berdiri bersalah di hadapan Hakim dari segalanya. Tetapi kejahatan kita menentang-Nya berada di tingkat yang secara total berbeda dengan kesalahan saya. Dan walaupun saya diloloskan karena hal teknis, kita telah dinyatakan benar atas dasar pengorbanan Kristus yang telah direncanakan dan bersifat menggantikan kita itu. Yesus Kristus secara suka rela dan sengaja memberikan hidup-Nya sepaya Allah dapat tetap adil saat membenarkan yang bersalah – Anda dan saya. Allah telah menyatakan kita benar. Yang tertinggal hanyalah masalah apakah kita akan menerima pernyataan ini. Pilihan untuk menerima atau tidak berada di hadapan kita setiap hari, sering berkali-kali dalam satu hari: Akankah kita menerima pembenaran karena iman karena pernyataan oleh Tuhan, atau akankah kita mengijinkan penghakiman dan legalisme untu menguasai kita saat kita bergantung pada perasaan dan ketaatan kita?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Kehidupan Kristen melibatkan bukan saja percaya sesuatu tentang Kristus tetapi juga percaya sesuatu tentang diri kita sendiri… Iman kita di dalam Kristus harus mencakup percaya bahwa kita adalah apa yang Alkitab katakan tentang kita.&amp;quot; — Anthony Hoekema}}Tentukanlah bahwa emosi Anda yang tidak stabil dan tidak terprediksi tidak akan medikte atau menipu Anda. Jangan ijinkan emosi-emosi itu untuk menjadi otoritas terakhir di dalam hidup Anda. Percayalah apa yang Tuhan katakan tentang Anda. Kalau Anda bijaksana Anda akan mengikuti teladan saya: Jangan berargumentasi dengan Hakim.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Ditinggalkan Demi Pengampunan Kita ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah yang menciptakan Anda menerima Anda. Anak-Nya secara suka rela menghadapi kengerian Salib yang tidak terbayangkan, ditinggalkan Allah Bapa dan manusia, demi untuk membenarkan Anda. Ia dibuang supaya kita bisa diampuni. Ia mengalami perpisahan supaya kita dapat selamanya aman dalam kasih Allah. Ia menanggung murka Allah sehingga kita tidak pernah perlu melakukannya. “Yesus yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitakan karena pembenaran kita” (Rom 4:25). Anda telah dibenarkan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah mengherankan Reformasi merubah sejarah Gereja? Tidak ada cara apapun untuk mengekang doktrin ini. Sekali doktrin ini dilepas ia akan merubah hidup setiap orang yang disentuhnya – termasuk Anda sendiri. &amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Diskusi Kelompok ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# Di halaman 52 pengarang menulis, “Anda tidak akan pernah lebih dibenarkan daripada Anda saat ini.” Bagaimana kalimat ini mempengaruhi usaha-usaha Anda untuk menjalani hidup yang menyenangkan Tuhan?&lt;br /&gt;
# Renungkan dengan tenang untuk satu atau dua menit tentang Salib. Menurut Anda apakah yang Yesus rasakan waktu ia menyaradari Allah telah meninggalkan-Nya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# Apakah mungkin untuk terlalu fokus pada menjadi serupa dengan teladan Kristus?&lt;br /&gt;
# Apa yang membuat legalisme menjadi sebuah penyimpangan sesat yang tak disadari?&lt;br /&gt;
# Bagaimana kita mengimbangi doktrin pembenaran dan penyucian tanpa oleng kepada legalisme ataupun ijin?&lt;br /&gt;
# Satu hal apa yang dapat kontribusi bagi pembenaran kita?(Petunjuk: Tidak ada yang perlu disombongkan!)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bacaan yang Direkomendasikan ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Cross of Christ'' by John R. W. Stott (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1986)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Discipline of Grace'' by Jerry Bridges (Colorado Springs, CO: NavPress, 1994)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Atonement'' by Leon Morris (Downwers Grove, IL: InterVarsity Press, 1984)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Catatan ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Sukartay</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/Justified_by_Christ/id</id>
		<title>This Great Salvation/Justified by Christ/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/Justified_by_Christ/id"/>
				<updated>2007-12-27T08:11:26Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Sukartay: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;= Dibenarkan Oleh Yesus =&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum Martin Luther menjadi terkenal karena peran pentingnya dalam Reformasi, ia dikenal seluruh Eropa sebagai seorang pelajar hukum yang brilian. Yang paling banyak mempengaruhi pendeta pengikut Agustinus ini adalah pembelajarannya akan hukum Allah di dalam Firman Tuhan. Saat ia merenungkan perintah-perintah Allah, ia menjadi sangat menyadari murka Allah. Setiap kali ia mempelajari pribadi dan pekerjaan Yesus Kristus ia mengenal inilah Yang benar yang pada akhirnya akan menghakiminya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesadaran yang terus menerus itu merongrong Luther dengan perasaan bersalah yang tak terbendung. Sementara rekan-rekannya menghabiskan beberapa menit untuk mengaku dosa, ia menghabiskan berjam-jam. Sebagian orang mengira bahwa mentalnya tidak stabil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teolog Anthony Hoekema menggambarkan kesedihan mental itu membawa pada penemuan teologi besar Luther:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Martin Luther telah mencoba segalanya: tidur di atas lantai yang keras, tidak makan, bahkan menaiki sebuah tangga di Roma dengan tangan dan lututnya – tapi tidak berhasil. Para gurunya di biara memberitahunya bahwa ia telah melakukan cukup untuk mendapatkan kedamaian jiwa. Tapi ia tidak memiliki damai. Kesadarannya akan dosa terlalu dalam.&lt;br /&gt;
:Ia telah mempelajari kitab Mazmur. Kitab ini sering menyebut “kebenaran Tuhan.” Tapi istilah ini mengganggunya. Ia mengira itu berarti kebenaran Tuhan yang menghukum, dimana Ia menghukum orang berdosa. Dan Luther mengetahui ia adalah orang berdosa. Jadi manakala ia melihat kata kebenaran di dalam Alkitab, ia melihat merah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Pembenaran adalah memang jawaban Allah bagi semua pertanyaan manusia yang paling penting: Bagaimana seorang pria atau wanita dibenarkan dengan Tuhan? Kita tidak dibenarkan dengan Tuhan dengan sendirinya. Kita berada di bahwa murka Allah. Pembenaran adalah sangat penting, karena kita harus dibenarkan dengan Allah atau kita binasa selamanya… Kesulitannya adalah mayoritas orang saat ini tidak merasakan kebutuhan di area ini. Martin Luther telah merasakannya; hal itu menghantuinya. Ia tahu bahwa ia tidak benar dengan Allah, dan ia mengantisipasi konfrontasi dengan Allah yang murka di penghakiman terakhir. Allah menunjukkan kepadanya bahwa ia bisa mengalami hubungan yang benar dengan Allah melalui pekerjaan Yesus Kristus. Tetapi di jaman ini siapa yang merasakan intensitas kepedihan Luther?�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-00000012-QINU&amp;quot; — James Montgomery Boice}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Pada suatu hari ia membuka kitab Roma. Di sana ia membaca tentang injil Kristus yang adalah kekuatan Allah untuk keselamatan (1:16). Ini adalah sebuah kabar baik! Tetapi ayat selanjutnya berkata, “Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah“- ada kata buruk ''kebenaran'' itu lagi! Dan depresi Luther kembali lagi. Hal itu menjadi lebih buruk ketika ia meneruskan membaca tentang murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia (ayat 18).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka Luther kembali ke ayat 17 lagi. Bagaimana bisa Paulus menuliskan kata-kata mengerikan seperti itu?...Tiba-tiba pencerahan datang padanya. “Kebenaran Tuhan” yang Paulus maksud di sini bukanlah keadilan Tuhan yang bersifat menghukum yang membuatNya menghukum orang berdosa, melainkan kebenaran yang Tuhan ''berikan'' kepada orang berdosa yang membutuhkan, dan yang orang berdosa itu terima dengan ''iman''. Ini adalah kebenaran yang sempurna dan tidak bercacat, didapatkan oleh Kristus, yang dengan kemurahan Tuhan berikan pada semua yang percaya. Luther tidak perlu lagi mencari dasar untuk kedamaian jiwa di dalam dirinya, di dalam perbuatan baiknya sendiri. Sekarang ia dapat melihat lepas dari dirinya sendiri dan melihat kepada Kristus, hidup dengan iman daripada bersembunyi dalam ketakutan. Pada saat itulah Reformasi Protestan lahir.&amp;lt;ref&amp;gt;Anthony Hoekema, ''Saved by Grace'' (Grand Rapids, MI: Wm. B. Eerdmans Co., 1989), p. 152. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Renungkan Roma 1:17.''' Frase kunci apa di ayat ini yang merevolusi pengertian Martin Luther tentang keselamatan? Bagaimana pengaruhnya bagi Anda?}}Luther melanjutkan dengan berkata bahwa doktrin pembenaran adalah doktrin yang olehnya Gereja berdiri atau jatuh. “Doktrin ini merupakan kepala dan batu penjuru Gereja yang melahirkan, memelihara, membangun dan melindungi Gereja. Tanpanya gereja Tuhan tidak dapat bertahan hidup untuk satu jam.”&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''The Christian Life: A Doctrinal Introduction'' (Carlisle, PA: The Banner of Truth Trust, 1989), p. 80. &amp;lt;/ref&amp;gt;Di poin yang lain ia menambahkan, “Bila doktrin pembenaran ini hilang, maka semua doktrin kekristenan yang benar hilang.”&amp;lt;ref&amp;gt;John R.W. Stott, ''Only One Way: The Message of Galatians'' (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1968), p. 60. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketakutan Luther akan murka Allah telah dibenarkan, seperti kita pelajari di bab sebelumnya. Semua orang Kristen harus mengingat siapa dan apa mereka sebelumnya: jahat dalam perilaku mereka, musuh Allah, sepenuhnya terasing dari-Nya, dan sasaran kemarahan-Nya. Tetapi mengenali masa lalu hanya memiliki nilai sejauh hal itu membuat kita menyadari dan mengagumi akan posisi kita sekarang di dalam Kristus. Kita harus mengenali siapa ''kita sekarang'' karena hadiah kemurahan Tuhan akan pembenaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka yang telah menerima pekerjaan pembenaran Kristus mengalami sebuah perubahan yang dramatis dan luar biasa. Kita telah dibenarkan karena iman melalui anugerah yang besar dari Allah yang Maha Kuasa. Tanpa pengetahuan yang akurat dan pengetahuan yang datang dari pengalaman tentang pembenaran Gereja “tidak dapat bertahan hidup untuk satu jam”…sedikitnya tidak dengan keotentikan. Kita pun juga tidak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Posisi atau Proses? ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Pada saat Yesus mati di kayu salib, tirai bait suci yang memisahkan tempat suci dengan tempat paling suci secara supernatural robek menjadi dua. Untuk mengerti pentingnya peristiwa itu, bacalah Ibrani 9:1-14.}}Pembenaran adalah istilah resmi yang berarti “mendeklarasikan benar.” Hoekema mendefinisikan pembenaran sebagai “perubahan permanen dalam hubungan yuridis kita dengan Tuhan dimana kita diampuni dari tuduhan bersalah, dan dimana Tuhan mengampuni semua dosa-dosa kita di atas dasar pekerjaan Yesus Kristus yang telah tergenapi.”&amp;lt;ref&amp;gt;Anthony Hoekema, ''Saved by Grace'', p. 178. &amp;lt;/ref&amp;gt;Walaupun kita bersalah di hadapan Hakim semesta yang kudus, setelah melanggar hukum-Nya dan layak menerima murka-Nya, Ia telah mendeklarasikan kita sebagai benar. Bagaimana? Atas dasar apa yang Yesus Kristus telah capai di Kayu Salib. Hanya Salib dapat membuat kita dapat diterima di hadapan Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pembenaran adalah sebuah hadiah yang kita terima dari Tuhan, bukan sesuatu yang kita peroleh atau capai. Kita tidak bertanggung jawan ataupun mampu untuk menyumbang bagi pembenaran kita di hadapan Tuhan. Status benar ini tidak bisa dicapai atau dilayakan, hanya diterima dan dihargai. Kita menerima apa yang Kristus dan Kristus sendiri capai untuk kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk dapat sepenuhnya mengerti akan kebenaran yang ajaib ini, adalah esensial kita membedakan pembenaran (justification) dan penyucian (sanctification). Walaupun kedua doktrin ini tidak dapat dipisahkan, kita harus membedakan antara perannya masing-masing di dalam kehidupan iman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Tiada seorangpun yang mengerti kekristenan yang tidak memahami kata ini. Yaitu kata 'dibenarkan.'&amp;quot; �UNIQ40abc13d0c3d96-ref-00000017-QINU — John Stott}}Pembenaran berarti kita ''dinyatakan'' benar. Penyucian berarti kita sedang ''dibuat'' benar. (Pahami perbedaan itu saja dan hidup Anda tidak akan pernah sama lagi!) Pembenaran adalah ''hadiah'' kekudusan; penyucian adalah ''pelatihan'' kekudusan. Mungkin yang paling kritikal, pembenaran adalah sebuah ''posisi'' – yang dibuat segera dan secara komplit setelah pertobatan – sedangkan penyucian adalah sebuah proses dari perubahan internal dan pengembangan karakter yang dimulai pada saat regenerasi dan terus berlanjut selama kita hidup. “Di dalam Firman Ruhan,” tulis Sinclair Ferguson, “membenarkan bukan berarti membuat benar seperti merubah karakter seseorang. Membenarkan artinya menjadikan benar dengan cara mendeklarasikan.”&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''The Christian Life'', p. 72. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Pembenaran adalah sebuah PERBUATAN. Pembenaran bukanlah pekerjaan, atau satu seri perbuatan. Pembenaran tidak progresif. Orang percaya yang paling lemah dan orang kudus yang paling kuat adalah serupa dan dibenarkan secara sama. Pembenaran tidak mengakui adanya tingkatan. Seseorang, hanya bisa seluruhnya dibenarkan atau seluruhnya dikutuk di hadapan Allah.�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-00000019-QINU&amp;quot; — William S. Plumer}}Pembenaran bukanlah sebuah proses. Pembenaran adalah sebuah deklarasi, sebuah pernyataan ilahi yang tidak dapat ditantang, dirubah ataupun dinaikbanding. Paulus secara empati berkata, “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus” (Rom 5:1). Transformasi mulia ini tidak terjadi sedikit demi sedikit, dan juga tidak berubah-ubah. Anda tidak lebih dibenarkan selama jangka waktu tertentu daripada jangka waktu lainnya. Hal ini perlu ditegaskan kembali: “''Anda tidak akan pernah lebih dibenarkan daripada keadaan Anda saat ini.'' Di atas itu semua, tidak seorangpun dalam sejarah pernah lebih dibenarkan daripada Anda sekarang. Martin Luther tidak, Paulus tidak – seorang pun tidak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Apakah Anda pernah dirampas dari buah-buah keselamatan Anda yang agung? Jawablah kuis Benar/Salah berikut ini untuk memastikan Anda mengerti perbedaan antara pembenaran dan penyucian. (Jawaban ada di catatan kaki.�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-0000001A-QINU) * Pembenaran adalah hasil dari penyucian. '''B S''' * Penyucian adalah proses sepanjang hidup. '''B S''' * Kasih Allah untuk kita bertumbuh sesuai dengan kedewasaan kita. '''B S''' * Pembenaran mengacu kepada posisi kita di dalam Kristus, penyucian mengacu pada proses. '''B S''' * Merubah kebiasaan-kebiasaan berdosa membuat kita lebih benar. '''B S''' * Pertumbuhan rohani adalah bukti yang baik bahwa kita telah dibenarkan. '''B S'''}}Banyak orang Kristen yang bingung tentang doktrin pembenaran dan penyucian dan oleh karenanya tidak bisa merasakan sepenuhnya berkat-berkat yang keselamatan agung ini hasilkan. Adalah sangat penting kita mengerti perbedaan antara posisi kita (pembenaran) dan pelatihan kita (penyucian). Sementara penyucian adalah bukti dan tujuan dari pembenaran, penyucian tidak boleh dipandang sebagai dasar dari pembenaran di hadapan Tuhan, tidak peduli betapa menjadi dewasanya kita. Kita tidak mampu menambahkan apa yang Kristus telah raih. Seperti Alister McGrath katakan, “Satu-satunya hal yang bisa dibilang kita kontribusikan dalam pembenaran kita adalah dosa yang telah Tuhan ampuni dengan kemurahan.” Kita dibenarkan hanya karena anugerah semata.&amp;lt;ref&amp;gt;Alister McGrath, ''Justification by Faith'' (Grand Rapids, MI: Zondervan Publishing House, 1988), p. 132. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Membuat Frustrasi dan Sia-Sia ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Doktrin pembenaran perlu dijalankan dan ditengok secara terus menerus, seperti yang Martin Luther sadari betul. Nasihat Martin Luther yang biasa terus terang? “Tempelkan itu ke kepala mereka terus menerus.”&amp;lt;ref&amp;gt;John R.W. Stott, ''Only One Way'', p. 59. &amp;lt;/ref&amp;gt;Sebagai tambahan bagi pengulangan ulet dari para pemimpin kita, kita perlu mempraktekan dan menghargai kebenaran dari pembenaran di dalam hidup kita sehari-hari. Kalau tidak, kita akan menemukan diri kita mudah jatuh dalam salah satu musuh Gereja yang paling serius dan tidak kentara: legalisme.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Kemuliaan Injil adalah bahwa Allah menyatakan orang Kristen memiliki hubungan yang benar dengan-Nya meskipun adanya dosa-dosa mereka. Tetapi pencobaan dan kesalahan terbesar kita adalah berusaha menyusupkan karakter ke dalam pekerjaan kasih karunia-Nya. Betapa mudahnya kita jatuh ke dalam jebakan anggapan bahwa kita hanya tetap dibenarkan selama ada dasarnya pada karakter kita untuk pembenaran itu. Tetapi ajaran Paulus adalah tidak ada yang dapat kita perbuat untuk menyumbang bagi pembenaran kita.�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-0000001D-QINU&amp;quot; — Sinclair Ferguson}}Legalisme melibatkan usaha untuk memperoleh penerimaan dari Tuhan melalui ketaatan kita sendiri. Kita hanya memiliki dua pilihan: menerima kekudusan sebagai pemberian Tuhan atau mencoba untuk melahirkan kekudusan kita sendiri. Legalisme adalah usaha untuk dibenarkan melalui sumber yang lain daripada Yesus Kristus dan pekerjaan-Nya yang telah genap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berpegang pada legalisme berarti percaya bahwa Salib itu tidak perlu atau tidak cukup (Gal 2:21, 5:2). Itu merupakan penafsiran yang tepat akan motif dan perbuatan Anda, walaupun Anda masih secara mental mengakui kebutuhan akan pengorbanan Kristus. Dalam usaha kita mengejar ketaatan dan kedewasaan, legalisme secara perlahan dan samar menguasai kita dan kita mulai mengganti pekerjaan kita untuk pekerjaan genap Kristus. Hasilnya adalah keangkuhan atau penghakiman. Bukannya bertumbuh dalam kasih karunia kita meninggalkan kasih karunia. Itulah penilaian Paulus terhadap gereja di Galasia ketika ia menulis, “Kamu lepas dari Kristus jikalau kamumengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia.” (Gal 5:4).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Untuk menghargai besarnya keprihatinan Paulus tentang legalisme, bacalah Galatia 1:6-9, 2:21, 3:1-4, 3:10, 4:8-11, 4:19-20, 5:2-4, dan 5:7-12.}}Kalau Anda telah berusaha menjalani hidup seperti ini, Anda mungkin sekarang telah belajar bahwa bahwa legalisme itu adalah sia-sia dan membuat frustrasi. Setiap usaha legalisme untuk memperoleh kekudusan akhirnya akan mengalami kegagalan. Selama bertahun-tahun saya telah belajar mengenali beberapa tanda yang sangat jelas dari adanya legalisme. Ini adalah beberapa diantaranya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Anda lebih menyadari akan dosa-dosa masa lalu Anda daripada pribadi dan pekerjaan genap Kristus.&lt;br /&gt;
* Anda hidup berpikir, percaya, dan merasa bahwa Tuhan kecewa terhadap Anda daripada bersukacita dalam Anda. Anda menganggap penerimaan Tuhan bergantung pada ketaatan Anda.&lt;br /&gt;
* Anda kurang sukacita. Ini sering menjadi indikasi pertama dari adanya legalisme. Penghakiman adalah hasil dari merenungkan ketidakcukupan kita; sukacita adalah hasil hari memikirkan kecukupan kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Pernahkan Anda dijerat oleh kehadiran legalisme yang samar? Kalau ya, sadarlah. Legalisme cenderung menyebar daripada tetap terbatasi (Gal 5:9). Legalisme harus dihilangkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Masalah dengan gereja Galatia bukanlah ketaatan pada hukum moral Allah; melainkan, ketergantungan pada hukum moral…untuk keselamatan.�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-0000001E-QINU&amp;quot; — Jerry Bridges}} Satu-satunya cara efektif untuk mencabut legalisme adalah dengan doktrin pembenaran. Kalau Anda telah menelantarkan atau mengabaikan doktrin ini, maka buatlah tindakan sedramatis apapun yang dibutuhkan untuk berubah. Sediakan waktu setiap hari untuk mengulang, melatih, dan bersukacita atas kebenaran yang agung, objektif dan bersifat posisi ini. Batasi konsumsi spiritual Anda pada pembelajaran tentang pembenaran sampai Anda yakin akan penerimaan Tuhan, merasa aman di dalam kasih-Nya dan bebas dari legalisme dan penghakiman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penyaliban Yesus Kristus merupakan satu peristiwa sejarah yang paling menentukan. Dengan akurat Sinclair Ferguson menyatakan hal berikut: {{RightInsert|'''Renungkan Roma 7:14-25.''' Pada saat kita mengerti betul kebejatan kita sendiri kita akan lebih sulit untuk dicobai oleh legalisme.}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Waktu kita berpikir Kristus mati di kayu salib kita diperlihatkan seberapa panjangnya kasih Tuhan dengan tujuan memenangkan kita kembali kepada-Nya…Ia berkata kepada kita: Aku mengasihi Engkau sebesar ini… Salib adalah jantung Injil. Salib membuat Injil menjadi kabar baik: Kristus mati untuk kira. Ia telah berdiri di tempat kita di hadapan kursi penghakiman Allah. Ia menanggung dosa-dosa kita. Tuhan telah melakukan sesuatu di atas kayu salib yang tidak mungkin kita sendiri pernah dapat lakukan… Alasan kita kurang yakin akan kasih karunia-Nya adalah karena kita gagal untuk fokus kepada tempat itu dimana Ia menyatakannya.&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''Grow in Grace'' (Carlisle, PA: The Banner of Truth Trust, 1989), p. 56, 58–59.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemana Anda akan memfokuskan perhatian Anda? Apakah pada dosa-dosa masa lalu Anda, keadaan emosi Anda saat ini, atau area karakter dimana Anda masih perlu bertumbuh? Ataukan Anda akan fokus pada pekerjaan Kristus yang genap? Legalisme tidak perlu memotivasi Anda. Penghakiman tidak perlu menyiksa Anda. Allah telah membenarkan Anda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Dua kategori orang seperti apa yang digambarkan di Yakobus 1:22-25? Kelompok yang mana yang Tuhan janji akan berkati?}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jangan Berargumentasi dengan Hakim === &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengerti doktrin pembenaran secara intelektual dengan sendirinya tidaklah cukup. Tuhan menginginkan kita untuk mengalami transformasi – secara total, murni, dan permanen ditransform oleh kotrin penting ini. J.I. Packer telah menyatakan, “Masalahnya bukan, apakah seseorang dapat menyebutkan doktrin ini dengan keakuratan Firman yang penuh (hal itu, telah kita lihat, adalah pekerjaan yang membutuhlan ketelitian), tetapi, apakah seseorang tahu realitasnya dalam pengalaman.”&amp;lt;ref&amp;gt;J.I. Packer, ''God’s Words: Studies of Key Bible Themes'' (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1981), p. 147. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Kolose 2:13-15 menyatakan hutang kita yang sangat besar kepada Tuhan. Apa yang Yesus lakukan dengan surat tagihan hutang? }}Tujuan kami menulis buku ini bukan pada dasarnya Anda belajar bagaimana mengartikulasi doktrin agung ini tetapi Anda dirubah olehnya, bahwa pengertian Anda akan berbuah pada kebebasan pribadi dari legalisme dan penghakiman serta kasih dan semangat yang bertambah-tambah kepada Yesus Kristus. Adalah mungkin menyadari pembenaran oleh kasih karunia tanpa terpengaruh secara pribadi. Kita perlu menghargai dan mempraktekan kebenaran besar ini setiap hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cerita yang akan saya bagikan merupakan sebuah pelajaran penuh kuasa bagi saya setelah saya mempejalari benar doktrin pembenaran. Selama hari-hari sebelum pertobatan saya sebagai mahasiswa tahun pertama, saya ditangkap karena kepemilikan mariyuana. Detail peristiwa tersebut masih sangat jelas di benak saya. Saat saya duduk di ruang sidang menghadapi hakin, saya mencoba sebisa saya untuk terlihat tulus dan tersiksa, tetapi saya hanya bisa ketakutan. Saya tahu ada kesempatan besar saya akan dijatuhi hukuman dan dituduh dengan pelanggaran tambahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Adalah tidak cukup untuk hanya mengetahui bahwa Yesus telah mati, atau bahkan mengapa Ia mati. Pengetahuan tersebut merupakan hasil dari “iman yang hanya bersifat sejarah” yang tidak dapat menyelamatkan… Hanya pada waktu kita menyadari bahwa Kristus diberi pro me, pro nobis (“untuk aku,” “untuk kita”) kita telah membedakan pentingnya pencapaian Kristus. .�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-00000021-QINU&amp;quot; — Timothy George}}Ternyata, kasus saya tidak pernah mengalami kemajuan setelah saksi pertama. Karena polisi menggeledah kamar saya tanpa surat resmi yang dibutuhkan, bantah pengacaran saya, pengadilan harus mencabut gugatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hakim duduk mendengarkan dengan sabar saat jaksa mengajukan keberatan dan mengulang kembali bukti-bukti yang memberatkan saya. Akhirnya, ia melihat ke arah saya. Pria itu jelas terlihat frustasi. Tidak berkuasa untuk memberi lebih dari teguran, ia menguliahi saya dengan kata-kata yang sekeras-kerasnya. Saya mencoba untuk kelihatan menyesal. Saya menganggukan kepada saya atas setiap penyataan. Tapi saya tidak ingat apapun yang ia katakan – saya terlalu gembira karena kenyataan bahwa ia akan melepas saya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika saya disidang saya tahu bahwa saya bersalah. Saya kira semua orang mengetahui itu. Tetapi pada waktu hakim membebaskan saya, saya tidak berargumentasi dengannya. Saya tidak meminta dan memohon kepada hakim untuk melanjutkan kasus itu. Saya tidak memintanya untuk mengabaikan teknis legalitas dan mengijinkan jaksa untuk terus maju. Hanya kali ini saya dengan gembira tunduk kepada seseorang yang memiliki otoritas lebih besar. Bila sang hakim ingin melepaskan pelanggaran itu, saya akan dengan senang hati menerima keputusannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Renungkan Ulangan 31:8.''' Daripada melanggar janji-Nya yang indah kepada kita (meskipun kita tidak pernah layak diberi janji seperti itu), Tuhan meninggalkan Putra-Nya sendiri.}}Setiap dari kita berdiri bersalah di hadapan Hakim dari segalanya. Tetapi kejahatan kita menentang-Nya berada di tingkat yang secara total berbeda dengan kesalahan saya. Dan walaupun saya diloloskan karena hal teknis, kita telah dinyatakan benar atas dasar pengorbanan Kristus yang telah direncanakan dan bersifat menggantikan kita itu. Yesus Kristus secara suka rela dan sengaja memberikan hidup-Nya sepaya Allah dapat tetap adil saat membenarkan yang bersalah – Anda dan saya. Allah telah menyatakan kita benar. Yang tertinggal hanyalah masalah apakah kita akan menerima pernyataan ini. Pilihan untuk menerima atau tidak berada di hadapan kita setiap hari, sering berkali-kali dalam satu hari: Akankah kita menerima pembenaran karena iman karena pernyataan oleh Tuhan, atau akankah kita mengijinkan penghakiman dan legalisme untu menguasai kita saat kita bergantung pada perasaan dan ketaatan kita?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Kehidupan Kristen melibatkan bukan saja percaya sesuatu tentang Kristus tetapi juga percaya sesuatu tentang diri kita sendiri… Iman kita di dalam Kristus harus mencakup percaya bahwa kita adalah apa yang Alkitab katakan tentang kita.&amp;quot; — Anthony Hoekema}}Tentukanlah bahwa emosi Anda yang tidak stabil dan tidak terprediksi tidak akan medikte atau menipu Anda. Jangan ijinkan emosi-emosi itu untuk menjadi otoritas terakhir di dalam hidup Anda. Percayalah apa yang Tuhan katakan tentang Anda. Kalau Anda bijaksana Anda akan mengikuti teladan saya: Jangan berargumentasi dengan Hakim.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Ditinggalkan Demi Pengampunan Kita ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah yang menciptakan Anda menerima Anda. Anak-Nya secara suka rela menghadapi kengerian Salib yang tidak terbayangkan, ditinggalkan Allah Bapa dan manusia, demi untuk membenarkan Anda. Ia dibuang supaya kita bisa diampuni. Ia mengalami perpisahan supaya kita dapat selamanya aman dalam kasih Allah. Ia menanggung murka Allah sehingga kita tidak pernah perlu melakukannya. “Yesus yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitakan karena pembenaran kita” (Rom 4:25). Anda telah dibenarkan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah mengherankan Reformasi merubah sejarah Gereja? Tidak ada cara apapun untuk mengekang doktrin ini. Sekali doktrin ini dilepas ia akan merubah hidup setiap orang yang disentuhnya – termasuk Anda sendiri. &amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Diskusi Kelompok ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# Di halaman 52 pengarang menulis, “Anda tidak akan pernah lebih dibenarkan daripada Anda saat ini.” Bagaimana kalimat ini mempengaruhi usaha-usaha Anda untuk menjalani hidup yang menyenangkan Tuhan?&lt;br /&gt;
# Renungkan dengan tenang untuk satu atau dua menit tentang Salib. Menurut Anda apakah yang Yesus rasakan waktu ia menyaradari Allah telah meninggalkan-Nya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# Apakah mungkin untuk terlalu fokus pada menjadi serupa dengan teladan Kristus?&lt;br /&gt;
# Apa yang membuat legalisme menjadi sebuah penyimpangan sesat yang tak disadari?&lt;br /&gt;
# Bagaimana kita mengimbangi doktrin pembenaran dan penyucian tanpa oleng kepada legalisme ataupun ijin?&lt;br /&gt;
# Satu hal apa yang dapat kontribusi bagi pembenaran kita?(Petunjuk: Tidak ada yang perlu disombongkan!)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bacaan yang Direkomendasikan ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Cross of Christ'' by John R. W. Stott (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1986)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Discipline of Grace'' by Jerry Bridges (Colorado Springs, CO: NavPress, 1994)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Atonement'' by Leon Morris (Downwers Grove, IL: InterVarsity Press, 1984)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Catatan ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Sukartay</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/Justified_by_Christ/id</id>
		<title>This Great Salvation/Justified by Christ/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/Justified_by_Christ/id"/>
				<updated>2007-12-27T08:09:03Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Sukartay: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;= Dibenarkan Oleh Yesus =&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum Martin Luther menjadi terkenal karena peran pentingnya dalam Reformasi, ia dikenal seluruh Eropa sebagai seorang pelajar hukum yang brilian. Yang paling banyak mempengaruhi pendeta pengikut Agustinus ini adalah pembelajarannya akan hukum Allah di dalam Firman Tuhan. Saat ia merenungkan perintah-perintah Allah, ia menjadi sangat menyadari murka Allah. Setiap kali ia mempelajari pribadi dan pekerjaan Yesus Kristus ia mengenal inilah Yang benar yang pada akhirnya akan menghakiminya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesadaran yang terus menerus itu merongrong Luther dengan perasaan bersalah yang tak terbendung. Sementara rekan-rekannya menghabiskan beberapa menit untuk mengaku dosa, ia menghabiskan berjam-jam. Sebagian orang mengira bahwa mentalnya tidak stabil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teolog Anthony Hoekema menggambarkan kesedihan mental itu membawa pada penemuan teologi besar Luther:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Martin Luther telah mencoba segalanya: tidur di atas lantai yang keras, tidak makan, bahkan menaiki sebuah tangga di Roma dengan tangan dan lututnya – tapi tidak berhasil. Para gurunya di biara memberitahunya bahwa ia telah melakukan cukup untuk mendapatkan kedamaian jiwa. Tapi ia tidak memiliki damai. Kesadarannya akan dosa terlalu dalam.&lt;br /&gt;
:Ia telah mempelajari kitab Mazmur. Kitab ini sering menyebut “kebenaran Tuhan.” Tapi istilah ini mengganggunya. Ia mengira itu berarti kebenaran Tuhan yang menghukum, dimana Ia menghukum orang berdosa. Dan Luther mengetahui ia adalah orang berdosa. Jadi manakala ia melihat kata kebenaran di dalam Alkitab, ia melihat merah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Pembenaran adalah memang jawaban Allah bagi semua pertanyaan manusia yang paling penting: Bagaimana seorang pria atau wanita dibenarkan dengan Tuhan? Kita tidak dibenarkan dengan Tuhan dengan sendirinya. Kita berada di bahwa murka Allah. Pembenaran adalah sangat penting, karena kita harus dibenarkan dengan Allah atau kita binasa selamanya… Kesulitannya adalah mayoritas orang saat ini tidak merasakan kebutuhan di area ini. Martin Luther telah merasakannya; hal itu menghantuinya. Ia tahu bahwa ia tidak benar dengan Allah, dan ia mengantisipasi konfrontasi dengan Allah yang murka di penghakiman terakhir. Allah menunjukkan kepadanya bahwa ia bisa mengalami hubungan yang benar dengan Allah melalui pekerjaan Yesus Kristus. Tetapi di jaman ini siapa yang merasakan intensitas kepedihan Luther?�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-00000012-QINU&amp;quot; — James Montgomery Boice}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Pada suatu hari ia membuka kitab Roma. Di sana ia membaca tentang injil Kristus yang adalah kekuatan Allah untuk keselamatan (1:16). Ini adalah sebuah kabar baik! Tetapi ayat selanjutnya berkata, “Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah“- ada kata buruk ''kebenaran'' itu lagi! Dan depresi Luther kembali lagi. Hal itu menjadi lebih buruk ketika ia meneruskan membaca tentang murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia (ayat 18).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka Luther kembali ke ayat 17 lagi. Bagaimana bisa Paulus menuliskan kata-kata mengerikan seperti itu?...Tiba-tiba pencerahan datang padanya. “Kebenaran Tuhan” yang Paulus maksud di sini bukanlah keadilan Tuhan yang bersifat menghukum yang membuatNya menghukum orang berdosa, melainkan kebenaran yang Tuhan ''berikan'' kepada orang berdosa yang membutuhkan, dan yang orang berdosa itu terima dengan ''iman''. Ini adalah kebenaran yang sempurna dan tidak bercacat, didapatkan oleh Kristus, yang dengan kemurahan Tuhan berikan pada semua yang percaya. Luther tidak perlu lagi mencari dasar untuk kedamaian jiwa di dalam dirinya, di dalam perbuatan baiknya sendiri. Sekarang ia dapat melihat lepas dari dirinya sendiri dan melihat kepada Kristus, hidup dengan iman daripada bersembunyi dalam ketakutan. Pada saat itulah Reformasi Protestan lahir.&amp;lt;ref&amp;gt;Anthony Hoekema, ''Saved by Grace'' (Grand Rapids, MI: Wm. B. Eerdmans Co., 1989), p. 152. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Renungkan Roma 1:17.''' Frase kunci apa di ayat ini yang merevolusi pengertian Martin Luther tentang keselamatan? Bagaimana pengaruhnya bagi Anda?}}Luther melanjutkan dengan berkata bahwa doktrin pembenaran adalah doktrin yang olehnya Gereja berdiri atau jatuh. “Doktrin ini merupakan kepala dan batu penjuru Gereja yang melahirkan, memelihara, membangun dan melindungi Gereja. Tanpanya gereja Tuhan tidak dapat bertahan hidup untuk satu jam.”&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''The Christian Life: A Doctrinal Introduction'' (Carlisle, PA: The Banner of Truth Trust, 1989), p. 80. &amp;lt;/ref&amp;gt;Di poin yang lain ia menambahkan, “Bila doktrin pembenaran ini hilang, maka semua doktrin kekristenan yang benar hilang.”&amp;lt;ref&amp;gt;John R.W. Stott, ''Only One Way: The Message of Galatians'' (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1968), p. 60. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketakutan Luther akan murka Allah telah dibenarkan, seperti kita pelajari di bab sebelumnya. Semua orang Kristen harus mengingat siapa dan apa mereka sebelumnya: jahat dalam perilaku mereka, musuh Allah, sepenuhnya terasing dari-Nya, dan sasaran kemarahan-Nya. Tetapi mengenali masa lalu hanya memiliki nilai sejauh hal itu membuat kita menyadari dan mengagumi akan posisi kita sekarang di dalam Kristus. Kita harus mengenali siapa ''kita sekarang'' karena hadiah kemurahan Tuhan akan pembenaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka yang telah menerima pekerjaan pembenaran Kristus mengalami sebuah perubahan yang dramatis dan luar biasa. Kita telah dibenarkan karena iman melalui anugerah yang besar dari Allah yang Maha Kuasa. Tanpa pengetahuan yang akurat dan pengetahuan yang datang dari pengalaman tentang pembenaran Gereja “tidak dapat bertahan hidup untuk satu jam”…sedikitnya tidak dengan keotentikan. Kita pun juga tidak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Posisi atau Proses? ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Pada saat Yesus mati di kayu salib, tirai bait suci yang memisahkan tempat suci dengan tempat paling suci secara supernatural robek menjadi dua. Untuk mengerti pentingnya peristiwa itu, bacalah Ibrani 9:1-14.}}Pembenaran adalah istilah resmi yang berarti “mendeklarasikan benar.” Hoekema mendefinisikan pembenaran sebagai “perubahan permanen dalam hubungan yuridis kita dengan Tuhan dimana kita diampuni dari tuduhan bersalah, dan dimana Tuhan mengampuni semua dosa-dosa kita di atas dasar pekerjaan Yesus Kristus yang telah tergenapi.”&amp;lt;ref&amp;gt;Anthony Hoekema, ''Saved by Grace'', p. 178. &amp;lt;/ref&amp;gt;Walaupun kita bersalah di hadapan Hakim semesta yang kudus, setelah melanggar hukum-Nya dan layak menerima murka-Nya, Ia telah mendeklarasikan kita sebagai benar. Bagaimana? Atas dasar apa yang Yesus Kristus telah capai di Kayu Salib. Hanya Salib dapat membuat kita dapat diterima di hadapan Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pembenaran adalah sebuah hadiah yang kita terima dari Tuhan, bukan sesuatu yang kita peroleh atau capai. Kita tidak bertanggung jawan ataupun mampu untuk menyumbang bagi pembenaran kita di hadapan Tuhan. Status benar ini tidak bisa dicapai atau dilayakan, hanya diterima dan dihargai. Kita menerima apa yang Kristus dan Kristus sendiri capai untuk kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk dapat sepenuhnya mengerti akan kebenaran yang ajaib ini, adalah esensial kita membedakan pembenaran (justification) dan penyucian (sanctification). Walaupun kedua doktrin ini tidak dapat dipisahkan, kita harus membedakan antara perannya masing-masing di dalam kehidupan iman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Tiada seorangpun yang mengerti kekristenan yang tidak memahami kata ini. Yaitu kata 'dibenarkan.'&amp;quot; �UNIQ40abc13d0c3d96-ref-00000017-QINU — John Stott}}Pembenaran berarti kita ''dinyatakan'' benar. Penyucian berarti kita sedang ''dibuat'' benar. (Pahami perbedaan itu saja dan hidup Anda tidak akan pernah sama lagi!) Pembenaran adalah ''hadiah'' kekudusan; penyucian adalah ''pelatihan'' kekudusan. Mungkin yang paling kritikal, pembenaran adalah sebuah ''posisi'' – yang dibuat segera dan secara komplit setelah pertobatan – sedangkan penyucian adalah sebuah proses dari perubahan internal dan pengembangan karakter yang dimulai pada saat regenerasi dan terus berlanjut selama kita hidup. “Di dalam Firman Ruhan,” tulis Sinclair Ferguson, “membenarkan bukan berarti membuat benar seperti merubah karakter seseorang. Membenarkan artinya menjadikan benar dengan cara mendeklarasikan.”&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''The Christian Life'', p. 72. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Pembenaran adalah sebuah PERBUATAN. Pembenaran bukanlah pekerjaan, atau satu seri perbuatan. Pembenaran tidak progresif. Orang percaya yang paling lemah dan orang kudus yang paling kuat adalah serupa dan dibenarkan secara sama. Pembenaran tidak mengakui adanya tingkatan. Seseorang, hanya bisa seluruhnya dibenarkan atau seluruhnya dikutuk di hadapan Allah.�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-00000019-QINU&amp;quot; — William S. Plumer}}Pembenaran bukanlah sebuah proses. Pembenaran adalah sebuah deklarasi, sebuah pernyataan ilahi yang tidak dapat ditantang, dirubah ataupun dinaikbanding. Paulus secara empati berkata, “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus” (Rom 5:1). Transformasi mulia ini tidak terjadi sedikit demi sedikit, dan juga tidak berubah-ubah. Anda tidak lebih dibenarkan selama jangka waktu tertentu daripada jangka waktu lainnya. Hal ini perlu ditegaskan kembali: “''Anda tidak akan pernah lebih dibenarkan daripada keadaan Anda saat ini.'' Di atas itu semua, tidak seorangpun dalam sejarah pernah lebih dibenarkan daripada Anda sekarang. Martin Luther tidak, Paulus tidak – seorang pun tidak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Apakah Anda pernah dirampas dari buah-buah keselamatan Anda yang agung? Jawablah kuis Benar/Salah berikut ini untuk memastikan Anda mengerti perbedaan antara pembenaran dan penyucian. (Jawaban ada di catatan kaki.�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-0000001A-QINU) * Pembenaran adalah hasil dari penyucian. '''B S''' * Penyucian adalah proses sepanjang hidup. '''B S''' * Kasih Allah untuk kita bertumbuh sesuai dengan kedewasaan kita. '''B S''' * Pembenaran mengacu kepada posisi kita di dalam Kristus, penyucian mengacu pada proses. '''B S''' * Merubah kebiasaan-kebiasaan berdosa membuat kita lebih benar. '''B S''' * Pertumbuhan rohani adalah bukti yang baik bahwa kita telah dibenarkan. '''B S'''}}Banyak orang Kristen yang bingung tentang doktrin pembenaran dan penyucian dan oleh karenanya tidak bisa merasakan sepenuhnya berkat-berkat yang keselamatan agung ini hasilkan. Adalah sangat penting kita mengerti perbedaan antara posisi kita (pembenaran) dan pelatihan kita (penyucian). Sementara penyucian adalah bukti dan tujuan dari pembenaran, penyucian tidak boleh dipandang sebagai dasar dari pembenaran di hadapan Tuhan, tidak peduli betapa menjadi dewasanya kita. Kita tidak mampu menambahkan apa yang Kristus telah raih. Seperti Alister McGrath katakan, “Satu-satunya hal yang bisa dibilang kita kontribusikan dalam pembenaran kita adalah dosa yang telah Tuhan ampuni dengan kemurahan.” Kita dibenarkan hanya karena anugerah semata.&amp;lt;ref&amp;gt;Alister McGrath, ''Justification by Faith'' (Grand Rapids, MI: Zondervan Publishing House, 1988), p. 132. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Membuat Frustrasi dan Sia-Sia ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Doktrin pembenaran perlu dijalankan dan ditengok secara terus menerus, seperti yang Martin Luther sadari betul. Nasihat Martin Luther yang biasa terus terang? “Tempelkan itu ke kepala mereka terus menerus.”&amp;lt;ref&amp;gt;John R.W. Stott, ''Only One Way'', p. 59. &amp;lt;/ref&amp;gt;Sebagai tambahan bagi pengulangan ulet dari para pemimpin kita, kita perlu mempraktekan dan menghargai kebenaran dari pembenaran di dalam hidup kita sehari-hari. Kalau tidak, kita akan menemukan diri kita mudah jatuh dalam salah satu musuh Gereja yang paling serius dan tidak kentara: legalisme.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Kemuliaan Injil adalah bahwa Allah menyatakan orang Kristen memiliki hubungan yang benar dengan-Nya meskipun adanya dosa-dosa mereka. Tetapi pencobaan dan kesalahan terbesar kita adalah berusaha menyusupkan karakter ke dalam pekerjaan kasih karunia-Nya. Betapa mudahnya kita jatuh ke dalam jebakan anggapan bahwa kita hanya tetap dibenarkan selama ada dasarnya pada karakter kita untuk pembenaran itu. Tetapi ajaran Paulus adalah tidak ada yang dapat kita perbuat untuk menyumbang bagi pembenaran kita.�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-0000001D-QINU&amp;quot; — Sinclair Ferguson}} Legalisme melibatkan usaha untuk memperoleh penerimaan dari Tuhan melalui ketaatan kita sendiri. Kita hanya memiliki dua pilihan: menerima kekudusan sebagai pemberian Tuhan atau mencoba untuk melahirkan kekudusan kita sendiri. Legalisme adalah usaha untuk dibenarkan melalui sumber yang lain daripada Yesus Kristus dan pekerjaan-Nya yang telah genap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berpegang pada legalisme berarti percaya bahwa Salib itu tidak perlu atau tidak cukup (Gal 2:21, 5:2). Itu merupakan penafsiran yang tepat akan motif dan perbuatan Anda, walaupun Anda masih secara mental mengakui kebutuhan akan pengorbanan Kristus. Dalam usaha kita mengejar ketaatan dan kedewasaan, legalisme secara perlahan dan samar menguasai kita dan kita mulai mengganti pekerjaan kita untuk pekerjaan genap Kristus. Hasilnya adalah keangkuhan atau penghakiman. Bukannya bertumbuh dalam kasih karunia kita meninggalkan kasih karunia. Itulah penilaian Paulus terhadap gereja di Galasia ketika ia menulis, “Kamu lepas dari Kristus jikalau kamumengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia.” (Gal 5:4).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Untuk menghargai besarnya keprihatinan Paulus tentang legalisme, bacalah Galatia 1:6-9, 2:21, 3:1-4, 3:10, 4:8-11, 4:19-20, 5:2-4, dan 5:7-12.}} Kalau Anda telah berusaha menjalani hidup seperti ini, Anda mungkin sekarang telah belajar bahwa bahwa legalisme itu adalah sia-sia dan membuat frustrasi. Setiap usaha legalisme untuk memperoleh kekudusan akhirnya akan mengalami kegagalan. Selama bertahun-tahun saya telah belajar mengenali beberapa tanda yang sangat jelas dari adanya legalisme. Ini adalah beberapa diantaranya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Anda lebih menyadari akan dosa-dosa masa lalu Anda daripada pribadi dan pekerjaan genap Kristus.&lt;br /&gt;
* Anda hidup berpikir, percaya, dan merasa bahwa Tuhan kecewa terhadap Anda daripada bersukacita dalam Anda. Anda menganggap penerimaan Tuhan bergantung pada ketaatan Anda.&lt;br /&gt;
* Anda kurang sukacita. Ini sering menjadi indikasi pertama dari adanya legalisme. Penghakiman adalah hasil dari merenungkan ketidakcukupan kita; sukacita adalah hasil hari memikirkan kecukupan kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Pernahkan Anda dijerat oleh kehadiran legalisme yang samar? Kalau ya, sadarlah. Legalisme cenderung menyebar daripada tetap terbatasi (Gal 5:9). Legalisme harus dihilangkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Masalah dengan gereja Galatia bukanlah ketaatan pada hukum moral Allah; melainkan, ketergantungan pada hukum moral…untuk keselamatan.�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-0000001E-QINU&amp;quot; — Jerry Bridges}} Satu-satunya cara efektif untuk mencabut legalisme adalah dengan doktrin pembenaran. Kalau Anda telah menelantarkan atau mengabaikan doktrin ini, maka buatlah tindakan sedramatis apapun yang dibutuhkan untuk berubah. Sediakan waktu setiap hari untuk mengulang, melatih, dan bersukacita atas kebenaran yang agung, objektif dan bersifat posisi ini. Batasi konsumsi spiritual Anda pada pembelajaran tentang pembenaran sampai Anda yakin akan penerimaan Tuhan, merasa aman di dalam kasih-Nya dan bebas dari legalisme dan penghakiman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penyaliban Yesus Kristus merupakan satu peristiwa sejarah yang paling menentukan. Dengan akurat Sinclair Ferguson menyatakan hal berikut: {{RightInsert|'''Renungkan Roma 7:14-25.''' Pada saat kita mengerti betul kebejatan kita sendiri kita akan lebih sulit untuk dicobai oleh legalisme.}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Waktu kita berpikir Kristus mati di kayu salib kita diperlihatkan seberapa panjangnya kasih Tuhan dengan tujuan memenangkan kita kembali kepada-Nya…Ia berkata kepada kita: Aku mengasihi Engkau sebesar ini… Salib adalah jantung Injil. Salib membuat Injil menjadi kabar baik: Kristus mati untuk kira. Ia telah berdiri di tempat kita di hadapan kursi penghakiman Allah. Ia menanggung dosa-dosa kita. Tuhan telah melakukan sesuatu di atas kayu salib yang tidak mungkin kita sendiri pernah dapat lakukan… Alasan kita kurang yakin akan kasih karunia-Nya adalah karena kita gagal untuk fokus kepada tempat itu dimana Ia menyatakannya.&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''Grow in Grace'' (Carlisle, PA: The Banner of Truth Trust, 1989), p. 56, 58–59.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemana Anda akan memfokuskan perhatian Anda? Apakah pada dosa-dosa masa lalu Anda, keadaan emosi Anda saat ini, atau area karakter dimana Anda masih perlu bertumbuh? Ataukan Anda akan fokus pada pekerjaan Kristus yang genap? Legalisme tidak perlu memotivasi Anda. Penghakiman tidak perlu menyiksa Anda. Allah telah membenarkan Anda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Dua kategori orang seperti apa yang digambarkan di Yakobus 1:22-25? Kelompok yang mana yang Tuhan janji akan berkati?}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jangan Berargumentasi dengan Hakim === Mengerti doktrin pembenaran secara intelektual dengan sendirinya tidaklah cukup. Tuhan menginginkan kita untuk mengalami transformasi – secara total, murni, dan permanen ditransform oleh kotrin penting ini. J.I. Packer telah menyatakan, “Masalahnya bukan, apakah seseorang dapat menyebutkan doktrin ini dengan keakuratan Firman yang penuh (hal itu, telah kita lihat, adalah pekerjaan yang membutuhlan ketelitian), tetapi, apakah seseorang tahu realitasnya dalam pengalaman.”&amp;lt;ref&amp;gt;J.I. Packer, ''God’s Words: Studies of Key Bible Themes'' (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1981), p. 147. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Kolose 2:13-15 menyatakan hutang kita yang sangat besar kepada Tuhan. Apa yang Yesus lakukan dengan surat tagihan hutang? }} Tujuan kami menulis buku ini bukan pada dasarnya Anda belajar bagaimana mengartikulasi doktrin agung ini tetapi Anda dirubah olehnya, bahwa pengertian Anda akan berbuah pada kebebasan pribadi dari legalisme dan penghakiman serta kasih dan semangat yang bertambah-tambah kepada Yesus Kristus. Adalah mungkin menyadari pembenaran oleh kasih karunia tanpa terpengaruh secara pribadi. Kita perlu menghargai dan mempraktekan kebenaran besar ini setiap hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cerita yang akan saya bagikan merupakan sebuah pelajaran penuh kuasa bagi saya setelah saya mempejalari benar doktrin pembenaran. Selama hari-hari sebelum pertobatan saya sebagai mahasiswa tahun pertama, saya ditangkap karena kepemilikan mariyuana. Detail peristiwa tersebut masih sangat jelas di benak saya. Saat saya duduk di ruang sidang menghadapi hakin, saya mencoba sebisa saya untuk terlihat tulus dan tersiksa, tetapi saya hanya bisa ketakutan. Saya tahu ada kesempatan besar saya akan dijatuhi hukuman dan dituduh dengan pelanggaran tambahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Adalah tidak cukup untuk hanya mengetahui bahwa Yesus telah mati, atau bahkan mengapa Ia mati. Pengetahuan tersebut merupakan hasil dari “iman yang hanya bersifat sejarah” yang tidak dapat menyelamatkan… Hanya pada waktu kita menyadari bahwa Kristus diberi pro me, pro nobis (“untuk aku,” “untuk kita”) kita telah membedakan pentingnya pencapaian Kristus. .�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-00000021-QINU&amp;quot; — Timothy George}} Ternyata, kasus saya tidak pernah mengalami kemajuan setelah saksi pertama. Karena polisi menggeledah kamar saya tanpa surat resmi yang dibutuhkan, bantah pengacaran saya, pengadilan harus mencabut gugatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hakim duduk mendengarkan dengan sabar saat jaksa mengajukan keberatan dan mengulang kembali bukti-bukti yang memberatkan saya. Akhirnya, ia melihat ke arah saya. Pria itu jelas terlihat frustasi. Tidak berkuasa untuk memberi lebih dari teguran, ia menguliahi saya dengan kata-kata yang sekeras-kerasnya. Saya mencoba untuk kelihatan menyesal. Saya menganggukan kepada saya atas setiap penyataan. Tapi saya tidak ingat apapun yang ia katakan – saya terlalu gembira karena kenyataan bahwa ia akan melepas saya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika saya disidang saya tahu bahwa saya bersalah. Saya kira semua orang mengetahui itu. Tetapi pada waktu hakim membebaskan saya, saya tidak berargumentasi dengannya. Saya tidak meminta dan memohon kepada hakim untuk melanjutkan kasus itu. Saya tidak memintanya untuk mengabaikan teknis legalitas dan mengijinkan jaksa untuk terus maju. Hanya kali ini saya dengan gembira tunduk kepada seseorang yang memiliki otoritas lebih besar. Bila sang hakim ingin melepaskan pelanggaran itu, saya akan dengan senang hati menerima keputusannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Renungkan Ulangan 31:8.''' Daripada melanggar janji-Nya yang indah kepada kita (meskipun kita tidak pernah layak diberi janji seperti itu), Tuhan meninggalkan Putra-Nya sendiri.}} Setiap dari kita berdiri bersalah di hadapan Hakim dari segalanya. Tetapi kejahatan kita menentang-Nya berada di tingkat yang secara total berbeda dengan kesalahan saya. Dan walaupun saya diloloskan karena hal teknis, kita telah dinyatakan benar atas dasar pengorbanan Kristus yang telah direncanakan dan bersifat menggantikan kita itu. Yesus Kristus secara suka rela dan sengaja memberikan hidup-Nya sepaya Allah dapat tetap adil saat membenarkan yang bersalah – Anda dan saya. Allah telah menyatakan kita benar. Yang tertinggal hanyalah masalah apakah kita akan menerima pernyataan ini. Pilihan untuk menerima atau tidak berada di hadapan kita setiap hari, sering berkali-kali dalam satu hari: Akankah kita menerima pembenaran karena iman karena pernyataan oleh Tuhan, atau akankah kita mengijinkan penghakiman dan legalisme untu menguasai kita saat kita bergantung pada perasaan dan ketaatan kita?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Kehidupan Kristen melibatkan bukan saja percaya sesuatu tentang Kristus tetapi juga percaya sesuatu tentang diri kita sendiri… Iman kita di dalam Kristus harus mencakup percaya bahwa kita adalah apa yang Alkitab katakan tentang kita.&amp;quot; — Anthony Hoekema}} Tentukanlah bahwa emosi Anda yang tidak stabil dan tidak terprediksi tidak akan medikte atau menipu Anda. Jangan ijinkan emosi-emosi itu untuk menjadi otoritas terakhir di dalam hidup Anda. Percayalah apa yang Tuhan katakan tentang Anda. Kalau Anda bijaksana Anda akan mengikuti teladan saya: Jangan berargumentasi dengan Hakim.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Ditinggalkan Demi Pengampunan Kita ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah yang menciptakan Anda menerima Anda. Anak-Nya secara suka rela menghadapi kengerian Salib yang tidak terbayangkan, ditinggalkan Allah Bapa dan manusia, demi untuk membenarkan Anda. Ia dibuang supaya kita bisa diampuni. Ia mengalami perpisahan supaya kita dapat selamanya aman dalam kasih Allah. Ia menanggung murka Allah sehingga kita tidak pernah perlu melakukannya. “Yesus yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitakan karena pembenaran kita” (Rom 4:25). Anda telah dibenarkan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah mengherankan Reformasi merubah sejarah Gereja? Tidak ada cara apapun untuk mengekang doktrin ini. Sekali doktrin ini dilepas ia akan merubah hidup setiap orang yang disentuhnya – termasuk Anda sendiri. &amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Diskusi Kelompok ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# Di halaman 52 pengarang menulis, “Anda tidak akan pernah lebih dibenarkan daripada Anda saat ini.” Bagaimana kalimat ini mempengaruhi usaha-usaha Anda untuk menjalani hidup yang menyenangkan Tuhan?&lt;br /&gt;
# Renungkan dengan tenang untuk satu atau dua menit tentang Salib. Menurut Anda apakah yang Yesus rasakan waktu ia menyaradari Allah telah meninggalkan-Nya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# Apakah mungkin untuk terlalu fokus pada menjadi serupa dengan teladan Kristus?&lt;br /&gt;
# Apa yang membuat legalisme menjadi sebuah penyimpangan sesat yang tak disadari?&lt;br /&gt;
# Bagaimana kita mengimbangi doktrin pembenaran dan penyucian tanpa oleng kepada legalisme ataupun ijin?&lt;br /&gt;
# Satu hal apa yang dapat kontribusi bagi pembenaran kita?(Petunjuk: Tidak ada yang perlu disombongkan!)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bacaan yang Direkomendasikan ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Cross of Christ'' by John R. W. Stott (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1986)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Discipline of Grace'' by Jerry Bridges (Colorado Springs, CO: NavPress, 1994)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Atonement'' by Leon Morris (Downwers Grove, IL: InterVarsity Press, 1984)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Catatan ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Sukartay</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/Justified_by_Christ/id</id>
		<title>This Great Salvation/Justified by Christ/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/Justified_by_Christ/id"/>
				<updated>2007-12-27T08:08:40Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Sukartay: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;= Dibenarkan Oleh Yesus =&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum Martin Luther menjadi terkenal karena peran pentingnya dalam Reformasi, ia dikenal seluruh Eropa sebagai seorang pelajar hukum yang brilian. Yang paling banyak mempengaruhi pendeta pengikut Agustinus ini adalah pembelajarannya akan hukum Allah di dalam Firman Tuhan. Saat ia merenungkan perintah-perintah Allah, ia menjadi sangat menyadari murka Allah. Setiap kali ia mempelajari pribadi dan pekerjaan Yesus Kristus ia mengenal inilah Yang benar yang pada akhirnya akan menghakiminya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesadaran yang terus menerus itu merongrong Luther dengan perasaan bersalah yang tak terbendung. Sementara rekan-rekannya menghabiskan beberapa menit untuk mengaku dosa, ia menghabiskan berjam-jam. Sebagian orang mengira bahwa mentalnya tidak stabil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teolog Anthony Hoekema menggambarkan kesedihan mental itu membawa pada penemuan teologi besar Luther:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Martin Luther telah mencoba segalanya: tidur di atas lantai yang keras, tidak makan, bahkan menaiki sebuah tangga di Roma dengan tangan dan lututnya – tapi tidak berhasil. Para gurunya di biara memberitahunya bahwa ia telah melakukan cukup untuk mendapatkan kedamaian jiwa. Tapi ia tidak memiliki damai. Kesadarannya akan dosa terlalu dalam.&lt;br /&gt;
:Ia telah mempelajari kitab Mazmur. Kitab ini sering menyebut “kebenaran Tuhan.” Tapi istilah ini mengganggunya. Ia mengira itu berarti kebenaran Tuhan yang menghukum, dimana Ia menghukum orang berdosa. Dan Luther mengetahui ia adalah orang berdosa. Jadi manakala ia melihat kata kebenaran di dalam Alkitab, ia melihat merah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Pembenaran adalah memang jawaban Allah bagi semua pertanyaan manusia yang paling penting: Bagaimana seorang pria atau wanita dibenarkan dengan Tuhan? Kita tidak dibenarkan dengan Tuhan dengan sendirinya. Kita berada di bahwa murka Allah. Pembenaran adalah sangat penting, karena kita harus dibenarkan dengan Allah atau kita binasa selamanya… Kesulitannya adalah mayoritas orang saat ini tidak merasakan kebutuhan di area ini. Martin Luther telah merasakannya; hal itu menghantuinya. Ia tahu bahwa ia tidak benar dengan Allah, dan ia mengantisipasi konfrontasi dengan Allah yang murka di penghakiman terakhir. Allah menunjukkan kepadanya bahwa ia bisa mengalami hubungan yang benar dengan Allah melalui pekerjaan Yesus Kristus. Tetapi di jaman ini siapa yang merasakan intensitas kepedihan Luther?�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-00000012-QINU&amp;quot; — James Montgomery Boice}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Pada suatu hari ia membuka kitab Roma. Di sana ia membaca tentang injil Kristus yang adalah kekuatan Allah untuk keselamatan (1:16). Ini adalah sebuah kabar baik! Tetapi ayat selanjutnya berkata, “Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah“- ada kata buruk ''kebenaran'' itu lagi! Dan depresi Luther kembali lagi. Hal itu menjadi lebih buruk ketika ia meneruskan membaca tentang murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia (ayat 18).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka Luther kembali ke ayat 17 lagi. Bagaimana bisa Paulus menuliskan kata-kata mengerikan seperti itu?...Tiba-tiba pencerahan datang padanya. “Kebenaran Tuhan” yang Paulus maksud di sini bukanlah keadilan Tuhan yang bersifat menghukum yang membuatNya menghukum orang berdosa, melainkan kebenaran yang Tuhan ''berikan'' kepada orang berdosa yang membutuhkan, dan yang orang berdosa itu terima dengan ''iman''. Ini adalah kebenaran yang sempurna dan tidak bercacat, didapatkan oleh Kristus, yang dengan kemurahan Tuhan berikan pada semua yang percaya. Luther tidak perlu lagi mencari dasar untuk kedamaian jiwa di dalam dirinya, di dalam perbuatan baiknya sendiri. Sekarang ia dapat melihat lepas dari dirinya sendiri dan melihat kepada Kristus, hidup dengan iman daripada bersembunyi dalam ketakutan. Pada saat itulah Reformasi Protestan lahir.&amp;lt;ref&amp;gt;Anthony Hoekema, ''Saved by Grace'' (Grand Rapids, MI: Wm. B. Eerdmans Co., 1989), p. 152. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Renungkan Roma 1:17.''' Frase kunci apa di ayat ini yang merevolusi pengertian Martin Luther tentang keselamatan? Bagaimana pengaruhnya bagi Anda?}}Luther melanjutkan dengan berkata bahwa doktrin pembenaran adalah doktrin yang olehnya Gereja berdiri atau jatuh. “Doktrin ini merupakan kepala dan batu penjuru Gereja yang melahirkan, memelihara, membangun dan melindungi Gereja. Tanpanya gereja Tuhan tidak dapat bertahan hidup untuk satu jam.”&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''The Christian Life: A Doctrinal Introduction'' (Carlisle, PA: The Banner of Truth Trust, 1989), p. 80. &amp;lt;/ref&amp;gt;Di poin yang lain ia menambahkan, “Bila doktrin pembenaran ini hilang, maka semua doktrin kekristenan yang benar hilang.”&amp;lt;ref&amp;gt;John R.W. Stott, ''Only One Way: The Message of Galatians'' (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1968), p. 60. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketakutan Luther akan murka Allah telah dibenarkan, seperti kita pelajari di bab sebelumnya. Semua orang Kristen harus mengingat siapa dan apa mereka sebelumnya: jahat dalam perilaku mereka, musuh Allah, sepenuhnya terasing dari-Nya, dan sasaran kemarahan-Nya. Tetapi mengenali masa lalu hanya memiliki nilai sejauh hal itu membuat kita menyadari dan mengagumi akan posisi kita sekarang di dalam Kristus. Kita harus mengenali siapa ''kita sekarang'' karena hadiah kemurahan Tuhan akan pembenaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka yang telah menerima pekerjaan pembenaran Kristus mengalami sebuah perubahan yang dramatis dan luar biasa. Kita telah dibenarkan karena iman melalui anugerah yang besar dari Allah yang Maha Kuasa. Tanpa pengetahuan yang akurat dan pengetahuan yang datang dari pengalaman tentang pembenaran Gereja “tidak dapat bertahan hidup untuk satu jam”…sedikitnya tidak dengan keotentikan. Kita pun juga tidak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Posisi atau Proses? ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Pada saat Yesus mati di kayu salib, tirai bait suci yang memisahkan tempat suci dengan tempat paling suci secara supernatural robek menjadi dua. Untuk mengerti pentingnya peristiwa itu, bacalah Ibrani 9:1-14.}}Pembenaran adalah istilah resmi yang berarti “mendeklarasikan benar.” Hoekema mendefinisikan pembenaran sebagai “perubahan permanen dalam hubungan yuridis kita dengan Tuhan dimana kita diampuni dari tuduhan bersalah, dan dimana Tuhan mengampuni semua dosa-dosa kita di atas dasar pekerjaan Yesus Kristus yang telah tergenapi.”&amp;lt;ref&amp;gt;Anthony Hoekema, ''Saved by Grace'', p. 178. &amp;lt;/ref&amp;gt;Walaupun kita bersalah di hadapan Hakim semesta yang kudus, setelah melanggar hukum-Nya dan layak menerima murka-Nya, Ia telah mendeklarasikan kita sebagai benar. Bagaimana? Atas dasar apa yang Yesus Kristus telah capai di Kayu Salib. Hanya Salib dapat membuat kita dapat diterima di hadapan Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pembenaran adalah sebuah hadiah yang kita terima dari Tuhan, bukan sesuatu yang kita peroleh atau capai. Kita tidak bertanggung jawan ataupun mampu untuk menyumbang bagi pembenaran kita di hadapan Tuhan. Status benar ini tidak bisa dicapai atau dilayakan, hanya diterima dan dihargai. Kita menerima apa yang Kristus dan Kristus sendiri capai untuk kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk dapat sepenuhnya mengerti akan kebenaran yang ajaib ini, adalah esensial kita membedakan pembenaran (justification) dan penyucian (sanctification). Walaupun kedua doktrin ini tidak dapat dipisahkan, kita harus membedakan antara perannya masing-masing di dalam kehidupan iman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Tiada seorangpun yang mengerti kekristenan yang tidak memahami kata ini. Yaitu kata 'dibenarkan.'&amp;quot; �UNIQ40abc13d0c3d96-ref-00000017-QINU — John Stott}}Pembenaran berarti kita ''dinyatakan'' benar. Penyucian berarti kita sedang ''dibuat'' benar. (Pahami perbedaan itu saja dan hidup Anda tidak akan pernah sama lagi!) Pembenaran adalah ''hadiah'' kekudusan; penyucian adalah ''pelatihan'' kekudusan. Mungkin yang paling kritikal, pembenaran adalah sebuah ''posisi'' – yang dibuat segera dan secara komplit setelah pertobatan – sedangkan penyucian adalah sebuah proses dari perubahan internal dan pengembangan karakter yang dimulai pada saat regenerasi dan terus berlanjut selama kita hidup. “Di dalam Firman Ruhan,” tulis Sinclair Ferguson, “membenarkan bukan berarti membuat benar seperti merubah karakter seseorang. Membenarkan artinya menjadikan benar dengan cara mendeklarasikan.”&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''The Christian Life'', p. 72. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Pembenaran adalah sebuah PERBUATAN. Pembenaran bukanlah pekerjaan, atau satu seri perbuatan. Pembenaran tidak progresif. Orang percaya yang paling lemah dan orang kudus yang paling kuat adalah serupa dan dibenarkan secara sama. Pembenaran tidak mengakui adanya tingkatan. Seseorang, hanya bisa seluruhnya dibenarkan atau seluruhnya dikutuk di hadapan Allah.�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-00000019-QINU&amp;quot; — William S. Plumer}}Pembenaran bukanlah sebuah proses. Pembenaran adalah sebuah deklarasi, sebuah pernyataan ilahi yang tidak dapat ditantang, dirubah ataupun dinaikbanding. Paulus secara empati berkata, “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus” (Rom 5:1). Transformasi mulia ini tidak terjadi sedikit demi sedikit, dan juga tidak berubah-ubah. Anda tidak lebih dibenarkan selama jangka waktu tertentu daripada jangka waktu lainnya. Hal ini perlu ditegaskan kembali: “''Anda tidak akan pernah lebih dibenarkan daripada keadaan Anda saat ini.'' Di atas itu semua, tidak seorangpun dalam sejarah pernah lebih dibenarkan daripada Anda sekarang. Martin Luther tidak, Paulus tidak – seorang pun tidak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Apakah Anda pernah dirampas dari buah-buah keselamatan Anda yang agung? Jawablah kuis Benar/Salah berikut ini untuk memastikan Anda mengerti perbedaan antara pembenaran dan penyucian. (Jawaban ada di catatan kaki.�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-0000001A-QINU) * Pembenaran adalah hasil dari penyucian. '''B S''' * Penyucian adalah proses sepanjang hidup. '''B S''' * Kasih Allah untuk kita bertumbuh sesuai dengan kedewasaan kita. '''B S''' * Pembenaran mengacu kepada posisi kita di dalam Kristus, penyucian mengacu pada proses. '''B S''' * Merubah kebiasaan-kebiasaan berdosa membuat kita lebih benar. '''B S''' * Pertumbuhan rohani adalah bukti yang baik bahwa kita telah dibenarkan. '''B S'''}} Banyak orang Kristen yang bingung tentang doktrin pembenaran dan penyucian dan oleh karenanya tidak bisa merasakan sepenuhnya berkat-berkat yang keselamatan agung ini hasilkan. Adalah sangat penting kita mengerti perbedaan antara posisi kita (pembenaran) dan pelatihan kita (penyucian). Sementara penyucian adalah bukti dan tujuan dari pembenaran, penyucian tidak boleh dipandang sebagai dasar dari pembenaran di hadapan Tuhan, tidak peduli betapa menjadi dewasanya kita. Kita tidak mampu menambahkan apa yang Kristus telah raih. Seperti Alister McGrath katakan, “Satu-satunya hal yang bisa dibilang kita kontribusikan dalam pembenaran kita adalah dosa yang telah Tuhan ampuni dengan kemurahan.” Kita dibenarkan hanya karena anugerah semata.&amp;lt;ref&amp;gt;Alister McGrath, ''Justification by Faith'' (Grand Rapids, MI: Zondervan Publishing House, 1988), p. 132. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Membuat Frustrasi dan Sia-Sia ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Doktrin pembenaran perlu dijalankan dan ditengok secara terus menerus, seperti yang Martin Luther sadari betul. Nasihat Martin Luther yang biasa terus terang? “Tempelkan itu ke kepala mereka terus menerus.”&amp;lt;ref&amp;gt;John R.W. Stott, ''Only One Way'', p. 59. &amp;lt;/ref&amp;gt;Sebagai tambahan bagi pengulangan ulet dari para pemimpin kita, kita perlu mempraktekan dan menghargai kebenaran dari pembenaran di dalam hidup kita sehari-hari. Kalau tidak, kita akan menemukan diri kita mudah jatuh dalam salah satu musuh Gereja yang paling serius dan tidak kentara: legalisme.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Kemuliaan Injil adalah bahwa Allah menyatakan orang Kristen memiliki hubungan yang benar dengan-Nya meskipun adanya dosa-dosa mereka. Tetapi pencobaan dan kesalahan terbesar kita adalah berusaha menyusupkan karakter ke dalam pekerjaan kasih karunia-Nya. Betapa mudahnya kita jatuh ke dalam jebakan anggapan bahwa kita hanya tetap dibenarkan selama ada dasarnya pada karakter kita untuk pembenaran itu. Tetapi ajaran Paulus adalah tidak ada yang dapat kita perbuat untuk menyumbang bagi pembenaran kita.�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-0000001D-QINU&amp;quot; — Sinclair Ferguson}} Legalisme melibatkan usaha untuk memperoleh penerimaan dari Tuhan melalui ketaatan kita sendiri. Kita hanya memiliki dua pilihan: menerima kekudusan sebagai pemberian Tuhan atau mencoba untuk melahirkan kekudusan kita sendiri. Legalisme adalah usaha untuk dibenarkan melalui sumber yang lain daripada Yesus Kristus dan pekerjaan-Nya yang telah genap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berpegang pada legalisme berarti percaya bahwa Salib itu tidak perlu atau tidak cukup (Gal 2:21, 5:2). Itu merupakan penafsiran yang tepat akan motif dan perbuatan Anda, walaupun Anda masih secara mental mengakui kebutuhan akan pengorbanan Kristus. Dalam usaha kita mengejar ketaatan dan kedewasaan, legalisme secara perlahan dan samar menguasai kita dan kita mulai mengganti pekerjaan kita untuk pekerjaan genap Kristus. Hasilnya adalah keangkuhan atau penghakiman. Bukannya bertumbuh dalam kasih karunia kita meninggalkan kasih karunia. Itulah penilaian Paulus terhadap gereja di Galasia ketika ia menulis, “Kamu lepas dari Kristus jikalau kamumengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia.” (Gal 5:4).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Untuk menghargai besarnya keprihatinan Paulus tentang legalisme, bacalah Galatia 1:6-9, 2:21, 3:1-4, 3:10, 4:8-11, 4:19-20, 5:2-4, dan 5:7-12.}} Kalau Anda telah berusaha menjalani hidup seperti ini, Anda mungkin sekarang telah belajar bahwa bahwa legalisme itu adalah sia-sia dan membuat frustrasi. Setiap usaha legalisme untuk memperoleh kekudusan akhirnya akan mengalami kegagalan. Selama bertahun-tahun saya telah belajar mengenali beberapa tanda yang sangat jelas dari adanya legalisme. Ini adalah beberapa diantaranya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Anda lebih menyadari akan dosa-dosa masa lalu Anda daripada pribadi dan pekerjaan genap Kristus.&lt;br /&gt;
* Anda hidup berpikir, percaya, dan merasa bahwa Tuhan kecewa terhadap Anda daripada bersukacita dalam Anda. Anda menganggap penerimaan Tuhan bergantung pada ketaatan Anda.&lt;br /&gt;
* Anda kurang sukacita. Ini sering menjadi indikasi pertama dari adanya legalisme. Penghakiman adalah hasil dari merenungkan ketidakcukupan kita; sukacita adalah hasil hari memikirkan kecukupan kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Pernahkan Anda dijerat oleh kehadiran legalisme yang samar? Kalau ya, sadarlah. Legalisme cenderung menyebar daripada tetap terbatasi (Gal 5:9). Legalisme harus dihilangkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Masalah dengan gereja Galatia bukanlah ketaatan pada hukum moral Allah; melainkan, ketergantungan pada hukum moral…untuk keselamatan.�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-0000001E-QINU&amp;quot; — Jerry Bridges}} Satu-satunya cara efektif untuk mencabut legalisme adalah dengan doktrin pembenaran. Kalau Anda telah menelantarkan atau mengabaikan doktrin ini, maka buatlah tindakan sedramatis apapun yang dibutuhkan untuk berubah. Sediakan waktu setiap hari untuk mengulang, melatih, dan bersukacita atas kebenaran yang agung, objektif dan bersifat posisi ini. Batasi konsumsi spiritual Anda pada pembelajaran tentang pembenaran sampai Anda yakin akan penerimaan Tuhan, merasa aman di dalam kasih-Nya dan bebas dari legalisme dan penghakiman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penyaliban Yesus Kristus merupakan satu peristiwa sejarah yang paling menentukan. Dengan akurat Sinclair Ferguson menyatakan hal berikut: {{RightInsert|'''Renungkan Roma 7:14-25.''' Pada saat kita mengerti betul kebejatan kita sendiri kita akan lebih sulit untuk dicobai oleh legalisme.}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Waktu kita berpikir Kristus mati di kayu salib kita diperlihatkan seberapa panjangnya kasih Tuhan dengan tujuan memenangkan kita kembali kepada-Nya…Ia berkata kepada kita: Aku mengasihi Engkau sebesar ini… Salib adalah jantung Injil. Salib membuat Injil menjadi kabar baik: Kristus mati untuk kira. Ia telah berdiri di tempat kita di hadapan kursi penghakiman Allah. Ia menanggung dosa-dosa kita. Tuhan telah melakukan sesuatu di atas kayu salib yang tidak mungkin kita sendiri pernah dapat lakukan… Alasan kita kurang yakin akan kasih karunia-Nya adalah karena kita gagal untuk fokus kepada tempat itu dimana Ia menyatakannya.&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''Grow in Grace'' (Carlisle, PA: The Banner of Truth Trust, 1989), p. 56, 58–59.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemana Anda akan memfokuskan perhatian Anda? Apakah pada dosa-dosa masa lalu Anda, keadaan emosi Anda saat ini, atau area karakter dimana Anda masih perlu bertumbuh? Ataukan Anda akan fokus pada pekerjaan Kristus yang genap? Legalisme tidak perlu memotivasi Anda. Penghakiman tidak perlu menyiksa Anda. Allah telah membenarkan Anda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Dua kategori orang seperti apa yang digambarkan di Yakobus 1:22-25? Kelompok yang mana yang Tuhan janji akan berkati?}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jangan Berargumentasi dengan Hakim === Mengerti doktrin pembenaran secara intelektual dengan sendirinya tidaklah cukup. Tuhan menginginkan kita untuk mengalami transformasi – secara total, murni, dan permanen ditransform oleh kotrin penting ini. J.I. Packer telah menyatakan, “Masalahnya bukan, apakah seseorang dapat menyebutkan doktrin ini dengan keakuratan Firman yang penuh (hal itu, telah kita lihat, adalah pekerjaan yang membutuhlan ketelitian), tetapi, apakah seseorang tahu realitasnya dalam pengalaman.”&amp;lt;ref&amp;gt;J.I. Packer, ''God’s Words: Studies of Key Bible Themes'' (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1981), p. 147. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Kolose 2:13-15 menyatakan hutang kita yang sangat besar kepada Tuhan. Apa yang Yesus lakukan dengan surat tagihan hutang? }} Tujuan kami menulis buku ini bukan pada dasarnya Anda belajar bagaimana mengartikulasi doktrin agung ini tetapi Anda dirubah olehnya, bahwa pengertian Anda akan berbuah pada kebebasan pribadi dari legalisme dan penghakiman serta kasih dan semangat yang bertambah-tambah kepada Yesus Kristus. Adalah mungkin menyadari pembenaran oleh kasih karunia tanpa terpengaruh secara pribadi. Kita perlu menghargai dan mempraktekan kebenaran besar ini setiap hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cerita yang akan saya bagikan merupakan sebuah pelajaran penuh kuasa bagi saya setelah saya mempejalari benar doktrin pembenaran. Selama hari-hari sebelum pertobatan saya sebagai mahasiswa tahun pertama, saya ditangkap karena kepemilikan mariyuana. Detail peristiwa tersebut masih sangat jelas di benak saya. Saat saya duduk di ruang sidang menghadapi hakin, saya mencoba sebisa saya untuk terlihat tulus dan tersiksa, tetapi saya hanya bisa ketakutan. Saya tahu ada kesempatan besar saya akan dijatuhi hukuman dan dituduh dengan pelanggaran tambahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Adalah tidak cukup untuk hanya mengetahui bahwa Yesus telah mati, atau bahkan mengapa Ia mati. Pengetahuan tersebut merupakan hasil dari “iman yang hanya bersifat sejarah” yang tidak dapat menyelamatkan… Hanya pada waktu kita menyadari bahwa Kristus diberi pro me, pro nobis (“untuk aku,” “untuk kita”) kita telah membedakan pentingnya pencapaian Kristus. .�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-00000021-QINU&amp;quot; — Timothy George}} Ternyata, kasus saya tidak pernah mengalami kemajuan setelah saksi pertama. Karena polisi menggeledah kamar saya tanpa surat resmi yang dibutuhkan, bantah pengacaran saya, pengadilan harus mencabut gugatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hakim duduk mendengarkan dengan sabar saat jaksa mengajukan keberatan dan mengulang kembali bukti-bukti yang memberatkan saya. Akhirnya, ia melihat ke arah saya. Pria itu jelas terlihat frustasi. Tidak berkuasa untuk memberi lebih dari teguran, ia menguliahi saya dengan kata-kata yang sekeras-kerasnya. Saya mencoba untuk kelihatan menyesal. Saya menganggukan kepada saya atas setiap penyataan. Tapi saya tidak ingat apapun yang ia katakan – saya terlalu gembira karena kenyataan bahwa ia akan melepas saya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika saya disidang saya tahu bahwa saya bersalah. Saya kira semua orang mengetahui itu. Tetapi pada waktu hakim membebaskan saya, saya tidak berargumentasi dengannya. Saya tidak meminta dan memohon kepada hakim untuk melanjutkan kasus itu. Saya tidak memintanya untuk mengabaikan teknis legalitas dan mengijinkan jaksa untuk terus maju. Hanya kali ini saya dengan gembira tunduk kepada seseorang yang memiliki otoritas lebih besar. Bila sang hakim ingin melepaskan pelanggaran itu, saya akan dengan senang hati menerima keputusannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Renungkan Ulangan 31:8.''' Daripada melanggar janji-Nya yang indah kepada kita (meskipun kita tidak pernah layak diberi janji seperti itu), Tuhan meninggalkan Putra-Nya sendiri.}} Setiap dari kita berdiri bersalah di hadapan Hakim dari segalanya. Tetapi kejahatan kita menentang-Nya berada di tingkat yang secara total berbeda dengan kesalahan saya. Dan walaupun saya diloloskan karena hal teknis, kita telah dinyatakan benar atas dasar pengorbanan Kristus yang telah direncanakan dan bersifat menggantikan kita itu. Yesus Kristus secara suka rela dan sengaja memberikan hidup-Nya sepaya Allah dapat tetap adil saat membenarkan yang bersalah – Anda dan saya. Allah telah menyatakan kita benar. Yang tertinggal hanyalah masalah apakah kita akan menerima pernyataan ini. Pilihan untuk menerima atau tidak berada di hadapan kita setiap hari, sering berkali-kali dalam satu hari: Akankah kita menerima pembenaran karena iman karena pernyataan oleh Tuhan, atau akankah kita mengijinkan penghakiman dan legalisme untu menguasai kita saat kita bergantung pada perasaan dan ketaatan kita?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Kehidupan Kristen melibatkan bukan saja percaya sesuatu tentang Kristus tetapi juga percaya sesuatu tentang diri kita sendiri… Iman kita di dalam Kristus harus mencakup percaya bahwa kita adalah apa yang Alkitab katakan tentang kita.&amp;quot; — Anthony Hoekema}} Tentukanlah bahwa emosi Anda yang tidak stabil dan tidak terprediksi tidak akan medikte atau menipu Anda. Jangan ijinkan emosi-emosi itu untuk menjadi otoritas terakhir di dalam hidup Anda. Percayalah apa yang Tuhan katakan tentang Anda. Kalau Anda bijaksana Anda akan mengikuti teladan saya: Jangan berargumentasi dengan Hakim.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Ditinggalkan Demi Pengampunan Kita ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah yang menciptakan Anda menerima Anda. Anak-Nya secara suka rela menghadapi kengerian Salib yang tidak terbayangkan, ditinggalkan Allah Bapa dan manusia, demi untuk membenarkan Anda. Ia dibuang supaya kita bisa diampuni. Ia mengalami perpisahan supaya kita dapat selamanya aman dalam kasih Allah. Ia menanggung murka Allah sehingga kita tidak pernah perlu melakukannya. “Yesus yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitakan karena pembenaran kita” (Rom 4:25). Anda telah dibenarkan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah mengherankan Reformasi merubah sejarah Gereja? Tidak ada cara apapun untuk mengekang doktrin ini. Sekali doktrin ini dilepas ia akan merubah hidup setiap orang yang disentuhnya – termasuk Anda sendiri. &amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Diskusi Kelompok ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# Di halaman 52 pengarang menulis, “Anda tidak akan pernah lebih dibenarkan daripada Anda saat ini.” Bagaimana kalimat ini mempengaruhi usaha-usaha Anda untuk menjalani hidup yang menyenangkan Tuhan?&lt;br /&gt;
# Renungkan dengan tenang untuk satu atau dua menit tentang Salib. Menurut Anda apakah yang Yesus rasakan waktu ia menyaradari Allah telah meninggalkan-Nya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# Apakah mungkin untuk terlalu fokus pada menjadi serupa dengan teladan Kristus?&lt;br /&gt;
# Apa yang membuat legalisme menjadi sebuah penyimpangan sesat yang tak disadari?&lt;br /&gt;
# Bagaimana kita mengimbangi doktrin pembenaran dan penyucian tanpa oleng kepada legalisme ataupun ijin?&lt;br /&gt;
# Satu hal apa yang dapat kontribusi bagi pembenaran kita?(Petunjuk: Tidak ada yang perlu disombongkan!)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bacaan yang Direkomendasikan ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Cross of Christ'' by John R. W. Stott (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1986)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Discipline of Grace'' by Jerry Bridges (Colorado Springs, CO: NavPress, 1994)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Atonement'' by Leon Morris (Downwers Grove, IL: InterVarsity Press, 1984)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Catatan ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Sukartay</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/Justified_by_Christ/id</id>
		<title>This Great Salvation/Justified by Christ/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/Justified_by_Christ/id"/>
				<updated>2007-12-27T08:07:58Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Sukartay: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;= Dibenarkan Oleh Yesus =&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum Martin Luther menjadi terkenal karena peran pentingnya dalam Reformasi, ia dikenal seluruh Eropa sebagai seorang pelajar hukum yang brilian. Yang paling banyak mempengaruhi pendeta pengikut Agustinus ini adalah pembelajarannya akan hukum Allah di dalam Firman Tuhan. Saat ia merenungkan perintah-perintah Allah, ia menjadi sangat menyadari murka Allah. Setiap kali ia mempelajari pribadi dan pekerjaan Yesus Kristus ia mengenal inilah Yang benar yang pada akhirnya akan menghakiminya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesadaran yang terus menerus itu merongrong Luther dengan perasaan bersalah yang tak terbendung. Sementara rekan-rekannya menghabiskan beberapa menit untuk mengaku dosa, ia menghabiskan berjam-jam. Sebagian orang mengira bahwa mentalnya tidak stabil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teolog Anthony Hoekema menggambarkan kesedihan mental itu membawa pada penemuan teologi besar Luther:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Martin Luther telah mencoba segalanya: tidur di atas lantai yang keras, tidak makan, bahkan menaiki sebuah tangga di Roma dengan tangan dan lututnya – tapi tidak berhasil. Para gurunya di biara memberitahunya bahwa ia telah melakukan cukup untuk mendapatkan kedamaian jiwa. Tapi ia tidak memiliki damai. Kesadarannya akan dosa terlalu dalam.&lt;br /&gt;
:Ia telah mempelajari kitab Mazmur. Kitab ini sering menyebut “kebenaran Tuhan.” Tapi istilah ini mengganggunya. Ia mengira itu berarti kebenaran Tuhan yang menghukum, dimana Ia menghukum orang berdosa. Dan Luther mengetahui ia adalah orang berdosa. Jadi manakala ia melihat kata kebenaran di dalam Alkitab, ia melihat merah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Pembenaran adalah memang jawaban Allah bagi semua pertanyaan manusia yang paling penting: Bagaimana seorang pria atau wanita dibenarkan dengan Tuhan? Kita tidak dibenarkan dengan Tuhan dengan sendirinya. Kita berada di bahwa murka Allah. Pembenaran adalah sangat penting, karena kita harus dibenarkan dengan Allah atau kita binasa selamanya… Kesulitannya adalah mayoritas orang saat ini tidak merasakan kebutuhan di area ini. Martin Luther telah merasakannya; hal itu menghantuinya. Ia tahu bahwa ia tidak benar dengan Allah, dan ia mengantisipasi konfrontasi dengan Allah yang murka di penghakiman terakhir. Allah menunjukkan kepadanya bahwa ia bisa mengalami hubungan yang benar dengan Allah melalui pekerjaan Yesus Kristus. Tetapi di jaman ini siapa yang merasakan intensitas kepedihan Luther?�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-00000012-QINU&amp;quot; — James Montgomery Boice}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Pada suatu hari ia membuka kitab Roma. Di sana ia membaca tentang injil Kristus yang adalah kekuatan Allah untuk keselamatan (1:16). Ini adalah sebuah kabar baik! Tetapi ayat selanjutnya berkata, “Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah“- ada kata buruk ''kebenaran'' itu lagi! Dan depresi Luther kembali lagi. Hal itu menjadi lebih buruk ketika ia meneruskan membaca tentang murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia (ayat 18).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka Luther kembali ke ayat 17 lagi. Bagaimana bisa Paulus menuliskan kata-kata mengerikan seperti itu?...Tiba-tiba pencerahan datang padanya. “Kebenaran Tuhan” yang Paulus maksud di sini bukanlah keadilan Tuhan yang bersifat menghukum yang membuatNya menghukum orang berdosa, melainkan kebenaran yang Tuhan ''berikan'' kepada orang berdosa yang membutuhkan, dan yang orang berdosa itu terima dengan ''iman''. Ini adalah kebenaran yang sempurna dan tidak bercacat, didapatkan oleh Kristus, yang dengan kemurahan Tuhan berikan pada semua yang percaya. Luther tidak perlu lagi mencari dasar untuk kedamaian jiwa di dalam dirinya, di dalam perbuatan baiknya sendiri. Sekarang ia dapat melihat lepas dari dirinya sendiri dan melihat kepada Kristus, hidup dengan iman daripada bersembunyi dalam ketakutan. Pada saat itulah Reformasi Protestan lahir.&amp;lt;ref&amp;gt;Anthony Hoekema, ''Saved by Grace'' (Grand Rapids, MI: Wm. B. Eerdmans Co., 1989), p. 152. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Renungkan Roma 1:17.''' Frase kunci apa di ayat ini yang merevolusi pengertian Martin Luther tentang keselamatan? Bagaimana pengaruhnya bagi Anda?}}Luther melanjutkan dengan berkata bahwa doktrin pembenaran adalah doktrin yang olehnya Gereja berdiri atau jatuh. “Doktrin ini merupakan kepala dan batu penjuru Gereja yang melahirkan, memelihara, membangun dan melindungi Gereja. Tanpanya gereja Tuhan tidak dapat bertahan hidup untuk satu jam.”&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''The Christian Life: A Doctrinal Introduction'' (Carlisle, PA: The Banner of Truth Trust, 1989), p. 80. &amp;lt;/ref&amp;gt;Di poin yang lain ia menambahkan, “Bila doktrin pembenaran ini hilang, maka semua doktrin kekristenan yang benar hilang.”&amp;lt;ref&amp;gt;John R.W. Stott, ''Only One Way: The Message of Galatians'' (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1968), p. 60. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketakutan Luther akan murka Allah telah dibenarkan, seperti kita pelajari di bab sebelumnya. Semua orang Kristen harus mengingat siapa dan apa mereka sebelumnya: jahat dalam perilaku mereka, musuh Allah, sepenuhnya terasing dari-Nya, dan sasaran kemarahan-Nya. Tetapi mengenali masa lalu hanya memiliki nilai sejauh hal itu membuat kita menyadari dan mengagumi akan posisi kita sekarang di dalam Kristus. Kita harus mengenali siapa ''kita sekarang'' karena hadiah kemurahan Tuhan akan pembenaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka yang telah menerima pekerjaan pembenaran Kristus mengalami sebuah perubahan yang dramatis dan luar biasa. Kita telah dibenarkan karena iman melalui anugerah yang besar dari Allah yang Maha Kuasa. Tanpa pengetahuan yang akurat dan pengetahuan yang datang dari pengalaman tentang pembenaran Gereja “tidak dapat bertahan hidup untuk satu jam”…sedikitnya tidak dengan keotentikan. Kita pun juga tidak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Posisi atau Proses? ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Pada saat Yesus mati di kayu salib, tirai bait suci yang memisahkan tempat suci dengan tempat paling suci secara supernatural robek menjadi dua. Untuk mengerti pentingnya peristiwa itu, bacalah Ibrani 9:1-14.}}Pembenaran adalah istilah resmi yang berarti “mendeklarasikan benar.” Hoekema mendefinisikan pembenaran sebagai “perubahan permanen dalam hubungan yuridis kita dengan Tuhan dimana kita diampuni dari tuduhan bersalah, dan dimana Tuhan mengampuni semua dosa-dosa kita di atas dasar pekerjaan Yesus Kristus yang telah tergenapi.”&amp;lt;ref&amp;gt;Anthony Hoekema, ''Saved by Grace'', p. 178. &amp;lt;/ref&amp;gt;Walaupun kita bersalah di hadapan Hakim semesta yang kudus, setelah melanggar hukum-Nya dan layak menerima murka-Nya, Ia telah mendeklarasikan kita sebagai benar. Bagaimana? Atas dasar apa yang Yesus Kristus telah capai di Kayu Salib. Hanya Salib dapat membuat kita dapat diterima di hadapan Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pembenaran adalah sebuah hadiah yang kita terima dari Tuhan, bukan sesuatu yang kita peroleh atau capai. Kita tidak bertanggung jawan ataupun mampu untuk menyumbang bagi pembenaran kita di hadapan Tuhan. Status benar ini tidak bisa dicapai atau dilayakan, hanya diterima dan dihargai. Kita menerima apa yang Kristus dan Kristus sendiri capai untuk kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk dapat sepenuhnya mengerti akan kebenaran yang ajaib ini, adalah esensial kita membedakan pembenaran (justification) dan penyucian (sanctification). Walaupun kedua doktrin ini tidak dapat dipisahkan, kita harus membedakan antara perannya masing-masing di dalam kehidupan iman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Tiada seorangpun yang mengerti kekristenan yang tidak memahami kata ini. Yaitu kata 'dibenarkan.'&amp;quot; �UNIQ40abc13d0c3d96-ref-00000017-QINU — John Stott}}Pembenaran berarti kita ''dinyatakan'' benar. Penyucian berarti kita sedang ''dibuat'' benar. (Pahami perbedaan itu saja dan hidup Anda tidak akan pernah sama lagi!) Pembenaran adalah ''hadiah'' kekudusan; penyucian adalah ''pelatihan'' kekudusan. Mungkin yang paling kritikal, pembenaran adalah sebuah ''posisi'' – yang dibuat segera dan secara komplit setelah pertobatan – sedangkan penyucian adalah sebuah proses dari perubahan internal dan pengembangan karakter yang dimulai pada saat regenerasi dan terus berlanjut selama kita hidup. “Di dalam Firman Ruhan,” tulis Sinclair Ferguson, “membenarkan bukan berarti membuat benar seperti merubah karakter seseorang. Membenarkan artinya menjadikan benar dengan cara mendeklarasikan.”&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''The Christian Life'', p. 72. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Pembenaran adalah sebuah PERBUATAN. Pembenaran bukanlah pekerjaan, atau satu seri perbuatan. Pembenaran tidak progresif. Orang percaya yang paling lemah dan orang kudus yang paling kuat adalah serupa dan dibenarkan secara sama. Pembenaran tidak mengakui adanya tingkatan. Seseorang, hanya bisa seluruhnya dibenarkan atau seluruhnya dikutuk di hadapan Allah.�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-00000019-QINU&amp;quot; — William S. Plumer}} Pembenaran bukanlah sebuah proses. Pembenaran adalah sebuah deklarasi, sebuah pernyataan ilahi yang tidak dapat ditantang, dirubah ataupun dinaikbanding. Paulus secara empati berkata, “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus” (Rom 5:1). Transformasi mulia ini tidak terjadi sedikit demi sedikit, dan juga tidak berubah-ubah. Anda tidak lebih dibenarkan selama jangka waktu tertentu daripada jangka waktu lainnya. Hal ini perlu ditegaskan kembali: “''Anda tidak akan pernah lebih dibenarkan daripada keadaan Anda saat ini.'' Di atas itu semua, tidak seorangpun dalam sejarah pernah lebih dibenarkan daripada Anda sekarang. Martin Luther tidak, Paulus tidak – seorang pun tidak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Apakah Anda pernah dirampas dari buah-buah keselamatan Anda yang agung? Jawablah kuis Benar/Salah berikut ini untuk memastikan Anda mengerti perbedaan antara pembenaran dan penyucian. (Jawaban ada di catatan kaki.�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-0000001A-QINU) * Pembenaran adalah hasil dari penyucian. '''B S''' * Penyucian adalah proses sepanjang hidup. '''B S''' * Kasih Allah untuk kita bertumbuh sesuai dengan kedewasaan kita. '''B S''' * Pembenaran mengacu kepada posisi kita di dalam Kristus, penyucian mengacu pada proses. '''B S''' * Merubah kebiasaan-kebiasaan berdosa membuat kita lebih benar. '''B S''' * Pertumbuhan rohani adalah bukti yang baik bahwa kita telah dibenarkan. '''B S'''}} Banyak orang Kristen yang bingung tentang doktrin pembenaran dan penyucian dan oleh karenanya tidak bisa merasakan sepenuhnya berkat-berkat yang keselamatan agung ini hasilkan. Adalah sangat penting kita mengerti perbedaan antara posisi kita (pembenaran) dan pelatihan kita (penyucian). Sementara penyucian adalah bukti dan tujuan dari pembenaran, penyucian tidak boleh dipandang sebagai dasar dari pembenaran di hadapan Tuhan, tidak peduli betapa menjadi dewasanya kita. Kita tidak mampu menambahkan apa yang Kristus telah raih. Seperti Alister McGrath katakan, “Satu-satunya hal yang bisa dibilang kita kontribusikan dalam pembenaran kita adalah dosa yang telah Tuhan ampuni dengan kemurahan.” Kita dibenarkan hanya karena anugerah semata.&amp;lt;ref&amp;gt;Alister McGrath, ''Justification by Faith'' (Grand Rapids, MI: Zondervan Publishing House, 1988), p. 132. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Membuat Frustrasi dan Sia-Sia ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Doktrin pembenaran perlu dijalankan dan ditengok secara terus menerus, seperti yang Martin Luther sadari betul. Nasihat Martin Luther yang biasa terus terang? “Tempelkan itu ke kepala mereka terus menerus.”&amp;lt;ref&amp;gt;John R.W. Stott, ''Only One Way'', p. 59. &amp;lt;/ref&amp;gt;Sebagai tambahan bagi pengulangan ulet dari para pemimpin kita, kita perlu mempraktekan dan menghargai kebenaran dari pembenaran di dalam hidup kita sehari-hari. Kalau tidak, kita akan menemukan diri kita mudah jatuh dalam salah satu musuh Gereja yang paling serius dan tidak kentara: legalisme.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Kemuliaan Injil adalah bahwa Allah menyatakan orang Kristen memiliki hubungan yang benar dengan-Nya meskipun adanya dosa-dosa mereka. Tetapi pencobaan dan kesalahan terbesar kita adalah berusaha menyusupkan karakter ke dalam pekerjaan kasih karunia-Nya. Betapa mudahnya kita jatuh ke dalam jebakan anggapan bahwa kita hanya tetap dibenarkan selama ada dasarnya pada karakter kita untuk pembenaran itu. Tetapi ajaran Paulus adalah tidak ada yang dapat kita perbuat untuk menyumbang bagi pembenaran kita.�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-0000001D-QINU&amp;quot; — Sinclair Ferguson}} Legalisme melibatkan usaha untuk memperoleh penerimaan dari Tuhan melalui ketaatan kita sendiri. Kita hanya memiliki dua pilihan: menerima kekudusan sebagai pemberian Tuhan atau mencoba untuk melahirkan kekudusan kita sendiri. Legalisme adalah usaha untuk dibenarkan melalui sumber yang lain daripada Yesus Kristus dan pekerjaan-Nya yang telah genap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berpegang pada legalisme berarti percaya bahwa Salib itu tidak perlu atau tidak cukup (Gal 2:21, 5:2). Itu merupakan penafsiran yang tepat akan motif dan perbuatan Anda, walaupun Anda masih secara mental mengakui kebutuhan akan pengorbanan Kristus. Dalam usaha kita mengejar ketaatan dan kedewasaan, legalisme secara perlahan dan samar menguasai kita dan kita mulai mengganti pekerjaan kita untuk pekerjaan genap Kristus. Hasilnya adalah keangkuhan atau penghakiman. Bukannya bertumbuh dalam kasih karunia kita meninggalkan kasih karunia. Itulah penilaian Paulus terhadap gereja di Galasia ketika ia menulis, “Kamu lepas dari Kristus jikalau kamumengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia.” (Gal 5:4).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Untuk menghargai besarnya keprihatinan Paulus tentang legalisme, bacalah Galatia 1:6-9, 2:21, 3:1-4, 3:10, 4:8-11, 4:19-20, 5:2-4, dan 5:7-12.}} Kalau Anda telah berusaha menjalani hidup seperti ini, Anda mungkin sekarang telah belajar bahwa bahwa legalisme itu adalah sia-sia dan membuat frustrasi. Setiap usaha legalisme untuk memperoleh kekudusan akhirnya akan mengalami kegagalan. Selama bertahun-tahun saya telah belajar mengenali beberapa tanda yang sangat jelas dari adanya legalisme. Ini adalah beberapa diantaranya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Anda lebih menyadari akan dosa-dosa masa lalu Anda daripada pribadi dan pekerjaan genap Kristus.&lt;br /&gt;
* Anda hidup berpikir, percaya, dan merasa bahwa Tuhan kecewa terhadap Anda daripada bersukacita dalam Anda. Anda menganggap penerimaan Tuhan bergantung pada ketaatan Anda.&lt;br /&gt;
* Anda kurang sukacita. Ini sering menjadi indikasi pertama dari adanya legalisme. Penghakiman adalah hasil dari merenungkan ketidakcukupan kita; sukacita adalah hasil hari memikirkan kecukupan kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Pernahkan Anda dijerat oleh kehadiran legalisme yang samar? Kalau ya, sadarlah. Legalisme cenderung menyebar daripada tetap terbatasi (Gal 5:9). Legalisme harus dihilangkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Masalah dengan gereja Galatia bukanlah ketaatan pada hukum moral Allah; melainkan, ketergantungan pada hukum moral…untuk keselamatan.�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-0000001E-QINU&amp;quot; — Jerry Bridges}} Satu-satunya cara efektif untuk mencabut legalisme adalah dengan doktrin pembenaran. Kalau Anda telah menelantarkan atau mengabaikan doktrin ini, maka buatlah tindakan sedramatis apapun yang dibutuhkan untuk berubah. Sediakan waktu setiap hari untuk mengulang, melatih, dan bersukacita atas kebenaran yang agung, objektif dan bersifat posisi ini. Batasi konsumsi spiritual Anda pada pembelajaran tentang pembenaran sampai Anda yakin akan penerimaan Tuhan, merasa aman di dalam kasih-Nya dan bebas dari legalisme dan penghakiman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penyaliban Yesus Kristus merupakan satu peristiwa sejarah yang paling menentukan. Dengan akurat Sinclair Ferguson menyatakan hal berikut: {{RightInsert|'''Renungkan Roma 7:14-25.''' Pada saat kita mengerti betul kebejatan kita sendiri kita akan lebih sulit untuk dicobai oleh legalisme.}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Waktu kita berpikir Kristus mati di kayu salib kita diperlihatkan seberapa panjangnya kasih Tuhan dengan tujuan memenangkan kita kembali kepada-Nya…Ia berkata kepada kita: Aku mengasihi Engkau sebesar ini… Salib adalah jantung Injil. Salib membuat Injil menjadi kabar baik: Kristus mati untuk kira. Ia telah berdiri di tempat kita di hadapan kursi penghakiman Allah. Ia menanggung dosa-dosa kita. Tuhan telah melakukan sesuatu di atas kayu salib yang tidak mungkin kita sendiri pernah dapat lakukan… Alasan kita kurang yakin akan kasih karunia-Nya adalah karena kita gagal untuk fokus kepada tempat itu dimana Ia menyatakannya.&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''Grow in Grace'' (Carlisle, PA: The Banner of Truth Trust, 1989), p. 56, 58–59.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemana Anda akan memfokuskan perhatian Anda? Apakah pada dosa-dosa masa lalu Anda, keadaan emosi Anda saat ini, atau area karakter dimana Anda masih perlu bertumbuh? Ataukan Anda akan fokus pada pekerjaan Kristus yang genap? Legalisme tidak perlu memotivasi Anda. Penghakiman tidak perlu menyiksa Anda. Allah telah membenarkan Anda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Dua kategori orang seperti apa yang digambarkan di Yakobus 1:22-25? Kelompok yang mana yang Tuhan janji akan berkati?}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jangan Berargumentasi dengan Hakim === Mengerti doktrin pembenaran secara intelektual dengan sendirinya tidaklah cukup. Tuhan menginginkan kita untuk mengalami transformasi – secara total, murni, dan permanen ditransform oleh kotrin penting ini. J.I. Packer telah menyatakan, “Masalahnya bukan, apakah seseorang dapat menyebutkan doktrin ini dengan keakuratan Firman yang penuh (hal itu, telah kita lihat, adalah pekerjaan yang membutuhlan ketelitian), tetapi, apakah seseorang tahu realitasnya dalam pengalaman.”&amp;lt;ref&amp;gt;J.I. Packer, ''God’s Words: Studies of Key Bible Themes'' (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1981), p. 147. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Kolose 2:13-15 menyatakan hutang kita yang sangat besar kepada Tuhan. Apa yang Yesus lakukan dengan surat tagihan hutang? }} Tujuan kami menulis buku ini bukan pada dasarnya Anda belajar bagaimana mengartikulasi doktrin agung ini tetapi Anda dirubah olehnya, bahwa pengertian Anda akan berbuah pada kebebasan pribadi dari legalisme dan penghakiman serta kasih dan semangat yang bertambah-tambah kepada Yesus Kristus. Adalah mungkin menyadari pembenaran oleh kasih karunia tanpa terpengaruh secara pribadi. Kita perlu menghargai dan mempraktekan kebenaran besar ini setiap hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cerita yang akan saya bagikan merupakan sebuah pelajaran penuh kuasa bagi saya setelah saya mempejalari benar doktrin pembenaran. Selama hari-hari sebelum pertobatan saya sebagai mahasiswa tahun pertama, saya ditangkap karena kepemilikan mariyuana. Detail peristiwa tersebut masih sangat jelas di benak saya. Saat saya duduk di ruang sidang menghadapi hakin, saya mencoba sebisa saya untuk terlihat tulus dan tersiksa, tetapi saya hanya bisa ketakutan. Saya tahu ada kesempatan besar saya akan dijatuhi hukuman dan dituduh dengan pelanggaran tambahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Adalah tidak cukup untuk hanya mengetahui bahwa Yesus telah mati, atau bahkan mengapa Ia mati. Pengetahuan tersebut merupakan hasil dari “iman yang hanya bersifat sejarah” yang tidak dapat menyelamatkan… Hanya pada waktu kita menyadari bahwa Kristus diberi pro me, pro nobis (“untuk aku,” “untuk kita”) kita telah membedakan pentingnya pencapaian Kristus. .�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-00000021-QINU&amp;quot; — Timothy George}} Ternyata, kasus saya tidak pernah mengalami kemajuan setelah saksi pertama. Karena polisi menggeledah kamar saya tanpa surat resmi yang dibutuhkan, bantah pengacaran saya, pengadilan harus mencabut gugatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hakim duduk mendengarkan dengan sabar saat jaksa mengajukan keberatan dan mengulang kembali bukti-bukti yang memberatkan saya. Akhirnya, ia melihat ke arah saya. Pria itu jelas terlihat frustasi. Tidak berkuasa untuk memberi lebih dari teguran, ia menguliahi saya dengan kata-kata yang sekeras-kerasnya. Saya mencoba untuk kelihatan menyesal. Saya menganggukan kepada saya atas setiap penyataan. Tapi saya tidak ingat apapun yang ia katakan – saya terlalu gembira karena kenyataan bahwa ia akan melepas saya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika saya disidang saya tahu bahwa saya bersalah. Saya kira semua orang mengetahui itu. Tetapi pada waktu hakim membebaskan saya, saya tidak berargumentasi dengannya. Saya tidak meminta dan memohon kepada hakim untuk melanjutkan kasus itu. Saya tidak memintanya untuk mengabaikan teknis legalitas dan mengijinkan jaksa untuk terus maju. Hanya kali ini saya dengan gembira tunduk kepada seseorang yang memiliki otoritas lebih besar. Bila sang hakim ingin melepaskan pelanggaran itu, saya akan dengan senang hati menerima keputusannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Renungkan Ulangan 31:8.''' Daripada melanggar janji-Nya yang indah kepada kita (meskipun kita tidak pernah layak diberi janji seperti itu), Tuhan meninggalkan Putra-Nya sendiri.}} Setiap dari kita berdiri bersalah di hadapan Hakim dari segalanya. Tetapi kejahatan kita menentang-Nya berada di tingkat yang secara total berbeda dengan kesalahan saya. Dan walaupun saya diloloskan karena hal teknis, kita telah dinyatakan benar atas dasar pengorbanan Kristus yang telah direncanakan dan bersifat menggantikan kita itu. Yesus Kristus secara suka rela dan sengaja memberikan hidup-Nya sepaya Allah dapat tetap adil saat membenarkan yang bersalah – Anda dan saya. Allah telah menyatakan kita benar. Yang tertinggal hanyalah masalah apakah kita akan menerima pernyataan ini. Pilihan untuk menerima atau tidak berada di hadapan kita setiap hari, sering berkali-kali dalam satu hari: Akankah kita menerima pembenaran karena iman karena pernyataan oleh Tuhan, atau akankah kita mengijinkan penghakiman dan legalisme untu menguasai kita saat kita bergantung pada perasaan dan ketaatan kita?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Kehidupan Kristen melibatkan bukan saja percaya sesuatu tentang Kristus tetapi juga percaya sesuatu tentang diri kita sendiri… Iman kita di dalam Kristus harus mencakup percaya bahwa kita adalah apa yang Alkitab katakan tentang kita.&amp;quot; — Anthony Hoekema}} Tentukanlah bahwa emosi Anda yang tidak stabil dan tidak terprediksi tidak akan medikte atau menipu Anda. Jangan ijinkan emosi-emosi itu untuk menjadi otoritas terakhir di dalam hidup Anda. Percayalah apa yang Tuhan katakan tentang Anda. Kalau Anda bijaksana Anda akan mengikuti teladan saya: Jangan berargumentasi dengan Hakim.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Ditinggalkan Demi Pengampunan Kita ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah yang menciptakan Anda menerima Anda. Anak-Nya secara suka rela menghadapi kengerian Salib yang tidak terbayangkan, ditinggalkan Allah Bapa dan manusia, demi untuk membenarkan Anda. Ia dibuang supaya kita bisa diampuni. Ia mengalami perpisahan supaya kita dapat selamanya aman dalam kasih Allah. Ia menanggung murka Allah sehingga kita tidak pernah perlu melakukannya. “Yesus yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitakan karena pembenaran kita” (Rom 4:25). Anda telah dibenarkan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah mengherankan Reformasi merubah sejarah Gereja? Tidak ada cara apapun untuk mengekang doktrin ini. Sekali doktrin ini dilepas ia akan merubah hidup setiap orang yang disentuhnya – termasuk Anda sendiri. &amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Diskusi Kelompok ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# Di halaman 52 pengarang menulis, “Anda tidak akan pernah lebih dibenarkan daripada Anda saat ini.” Bagaimana kalimat ini mempengaruhi usaha-usaha Anda untuk menjalani hidup yang menyenangkan Tuhan?&lt;br /&gt;
# Renungkan dengan tenang untuk satu atau dua menit tentang Salib. Menurut Anda apakah yang Yesus rasakan waktu ia menyaradari Allah telah meninggalkan-Nya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# Apakah mungkin untuk terlalu fokus pada menjadi serupa dengan teladan Kristus?&lt;br /&gt;
# Apa yang membuat legalisme menjadi sebuah penyimpangan sesat yang tak disadari?&lt;br /&gt;
# Bagaimana kita mengimbangi doktrin pembenaran dan penyucian tanpa oleng kepada legalisme ataupun ijin?&lt;br /&gt;
# Satu hal apa yang dapat kontribusi bagi pembenaran kita?(Petunjuk: Tidak ada yang perlu disombongkan!)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bacaan yang Direkomendasikan ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Cross of Christ'' by John R. W. Stott (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1986)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Discipline of Grace'' by Jerry Bridges (Colorado Springs, CO: NavPress, 1994)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Atonement'' by Leon Morris (Downwers Grove, IL: InterVarsity Press, 1984)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Catatan ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Sukartay</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/Justified_by_Christ/id</id>
		<title>This Great Salvation/Justified by Christ/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/Justified_by_Christ/id"/>
				<updated>2007-12-27T08:05:22Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Sukartay: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;= Dibenarkan Oleh Yesus =&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum Martin Luther menjadi terkenal karena peran pentingnya dalam Reformasi, ia dikenal seluruh Eropa sebagai seorang pelajar hukum yang brilian. Yang paling banyak mempengaruhi pendeta pengikut Agustinus ini adalah pembelajarannya akan hukum Allah di dalam Firman Tuhan. Saat ia merenungkan perintah-perintah Allah, ia menjadi sangat menyadari murka Allah. Setiap kali ia mempelajari pribadi dan pekerjaan Yesus Kristus ia mengenal inilah Yang benar yang pada akhirnya akan menghakiminya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesadaran yang terus menerus itu merongrong Luther dengan perasaan bersalah yang tak terbendung. Sementara rekan-rekannya menghabiskan beberapa menit untuk mengaku dosa, ia menghabiskan berjam-jam. Sebagian orang mengira bahwa mentalnya tidak stabil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teolog Anthony Hoekema menggambarkan kesedihan mental itu membawa pada penemuan teologi besar Luther:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Martin Luther telah mencoba segalanya: tidur di atas lantai yang keras, tidak makan, bahkan menaiki sebuah tangga di Roma dengan tangan dan lututnya – tapi tidak berhasil. Para gurunya di biara memberitahunya bahwa ia telah melakukan cukup untuk mendapatkan kedamaian jiwa. Tapi ia tidak memiliki damai. Kesadarannya akan dosa terlalu dalam.&lt;br /&gt;
:Ia telah mempelajari kitab Mazmur. Kitab ini sering menyebut “kebenaran Tuhan.” Tapi istilah ini mengganggunya. Ia mengira itu berarti kebenaran Tuhan yang menghukum, dimana Ia menghukum orang berdosa. Dan Luther mengetahui ia adalah orang berdosa. Jadi manakala ia melihat kata kebenaran di dalam Alkitab, ia melihat merah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Pembenaran adalah memang jawaban Allah bagi semua pertanyaan manusia yang paling penting: Bagaimana seorang pria atau wanita dibenarkan dengan Tuhan? Kita tidak dibenarkan dengan Tuhan dengan sendirinya. Kita berada di bahwa murka Allah. Pembenaran adalah sangat penting, karena kita harus dibenarkan dengan Allah atau kita binasa selamanya… Kesulitannya adalah mayoritas orang saat ini tidak merasakan kebutuhan di area ini. Martin Luther telah merasakannya; hal itu menghantuinya. Ia tahu bahwa ia tidak benar dengan Allah, dan ia mengantisipasi konfrontasi dengan Allah yang murka di penghakiman terakhir. Allah menunjukkan kepadanya bahwa ia bisa mengalami hubungan yang benar dengan Allah melalui pekerjaan Yesus Kristus. Tetapi di jaman ini siapa yang merasakan intensitas kepedihan Luther?�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-00000012-QINU&amp;quot; — James Montgomery Boice}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Pada suatu hari ia membuka kitab Roma. Di sana ia membaca tentang injil Kristus yang adalah kekuatan Allah untuk keselamatan (1:16). Ini adalah sebuah kabar baik! Tetapi ayat selanjutnya berkata, “Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah“- ada kata buruk ''kebenaran'' itu lagi! Dan depresi Luther kembali lagi. Hal itu menjadi lebih buruk ketika ia meneruskan membaca tentang murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia (ayat 18).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka Luther kembali ke ayat 17 lagi. Bagaimana bisa Paulus menuliskan kata-kata mengerikan seperti itu?...Tiba-tiba pencerahan datang padanya. “Kebenaran Tuhan” yang Paulus maksud di sini bukanlah keadilan Tuhan yang bersifat menghukum yang membuatNya menghukum orang berdosa, melainkan kebenaran yang Tuhan ''berikan'' kepada orang berdosa yang membutuhkan, dan yang orang berdosa itu terima dengan ''iman''. Ini adalah kebenaran yang sempurna dan tidak bercacat, didapatkan oleh Kristus, yang dengan kemurahan Tuhan berikan pada semua yang percaya. Luther tidak perlu lagi mencari dasar untuk kedamaian jiwa di dalam dirinya, di dalam perbuatan baiknya sendiri. Sekarang ia dapat melihat lepas dari dirinya sendiri dan melihat kepada Kristus, hidup dengan iman daripada bersembunyi dalam ketakutan. Pada saat itulah Reformasi Protestan lahir.&amp;lt;ref&amp;gt;Anthony Hoekema, ''Saved by Grace'' (Grand Rapids, MI: Wm. B. Eerdmans Co., 1989), p. 152. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Renungkan Roma 1:17.''' Frase kunci apa di ayat ini yang merevolusi pengertian Martin Luther tentang keselamatan? Bagaimana pengaruhnya bagi Anda?}}Luther melanjutkan dengan berkata bahwa doktrin pembenaran adalah doktrin yang olehnya Gereja berdiri atau jatuh. “Doktrin ini merupakan kepala dan batu penjuru Gereja yang melahirkan, memelihara, membangun dan melindungi Gereja. Tanpanya gereja Tuhan tidak dapat bertahan hidup untuk satu jam.”&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''The Christian Life: A Doctrinal Introduction'' (Carlisle, PA: The Banner of Truth Trust, 1989), p. 80. &amp;lt;/ref&amp;gt;Di poin yang lain ia menambahkan, “Bila doktrin pembenaran ini hilang, maka semua doktrin kekristenan yang benar hilang.”&amp;lt;ref&amp;gt;John R.W. Stott, ''Only One Way: The Message of Galatians'' (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1968), p. 60. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketakutan Luther akan murka Allah telah dibenarkan, seperti kita pelajari di bab sebelumnya. Semua orang Kristen harus mengingat siapa dan apa mereka sebelumnya: jahat dalam perilaku mereka, musuh Allah, sepenuhnya terasing dari-Nya, dan sasaran kemarahan-Nya. Tetapi mengenali masa lalu hanya memiliki nilai sejauh hal itu membuat kita menyadari dan mengagumi akan posisi kita sekarang di dalam Kristus. Kita harus mengenali siapa ''kita sekarang'' karena hadiah kemurahan Tuhan akan pembenaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka yang telah menerima pekerjaan pembenaran Kristus mengalami sebuah perubahan yang dramatis dan luar biasa. Kita telah dibenarkan karena iman melalui anugerah yang besar dari Allah yang Maha Kuasa. Tanpa pengetahuan yang akurat dan pengetahuan yang datang dari pengalaman tentang pembenaran Gereja “tidak dapat bertahan hidup untuk satu jam”…sedikitnya tidak dengan keotentikan. Kita pun juga tidak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Posisi atau Proses? ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Pada saat Yesus mati di kayu salib, tirai bait suci yang memisahkan tempat suci dengan tempat paling suci secara supernatural robek menjadi dua. Untuk mengerti pentingnya peristiwa itu, bacalah Ibrani 9:1-14.}}Pembenaran adalah istilah resmi yang berarti “mendeklarasikan benar.” Hoekema mendefinisikan pembenaran sebagai “perubahan permanen dalam hubungan yuridis kita dengan Tuhan dimana kita diampuni dari tuduhan bersalah, dan dimana Tuhan mengampuni semua dosa-dosa kita di atas dasar pekerjaan Yesus Kristus yang telah tergenapi.”&amp;lt;ref&amp;gt;Anthony Hoekema, ''Saved by Grace'', p. 178. &amp;lt;/ref&amp;gt;Walaupun kita bersalah di hadapan Hakim semesta yang kudus, setelah melanggar hukum-Nya dan layak menerima murka-Nya, Ia telah mendeklarasikan kita sebagai benar. Bagaimana? Atas dasar apa yang Yesus Kristus telah capai di Kayu Salib. Hanya Salib dapat membuat kita dapat diterima di hadapan Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pembenaran adalah sebuah hadiah yang kita terima dari Tuhan, bukan sesuatu yang kita peroleh atau capai. Kita tidak bertanggung jawan ataupun mampu untuk menyumbang bagi pembenaran kita di hadapan Tuhan. Status benar ini tidak bisa dicapai atau dilayakan, hanya diterima dan dihargai. Kita menerima apa yang Kristus dan Kristus sendiri capai untuk kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk dapat sepenuhnya mengerti akan kebenaran yang ajaib ini, adalah esensial kita membedakan pembenaran (justification) dan penyucian (sanctification). Walaupun kedua doktrin ini tidak dapat dipisahkan, kita harus membedakan antara perannya masing-masing di dalam kehidupan iman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Tiada seorangpun yang mengerti kekristenan yang tidak memahami kata ini. Yaitu kata 'dibenarkan.'&amp;quot; �UNIQ40abc13d0c3d96-ref-00000017-QINU — John Stott}} Pembenaran berarti kita ''dinyatakan'' benar. Penyucian berarti kita sedang ''dibuat'' benar. (Pahami perbedaan itu saja dan hidup Anda tidak akan pernah sama lagi!) Pembenaran adalah ''hadiah'' kekudusan; penyucian adalah ''pelatihan'' kekudusan. Mungkin yang paling kritikal, pembenaran adalah sebuah ''posisi'' – yang dibuat segera dan secara komplit setelah pertobatan – sedangkan penyucian adalah sebuah proses dari perubahan internal dan pengembangan karakter yang dimulai pada saat regenerasi dan terus berlanjut selama kita hidup. “Di dalam Firman Ruhan,” tulis Sinclair Ferguson, “membenarkan bukan berarti membuat benar seperti merubah karakter seseorang. Membenarkan artinya menjadikan benar dengan cara mendeklarasikan.”&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''The Christian Life'', p. 72. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Pembenaran adalah sebuah PERBUATAN. Pembenaran bukanlah pekerjaan, atau satu seri perbuatan. Pembenaran tidak progresif. Orang percaya yang paling lemah dan orang kudus yang paling kuat adalah serupa dan dibenarkan secara sama. Pembenaran tidak mengakui adanya tingkatan. Seseorang, hanya bisa seluruhnya dibenarkan atau seluruhnya dikutuk di hadapan Allah.�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-00000019-QINU&amp;quot; — William S. Plumer}} Pembenaran bukanlah sebuah proses. Pembenaran adalah sebuah deklarasi, sebuah pernyataan ilahi yang tidak dapat ditantang, dirubah ataupun dinaikbanding. Paulus secara empati berkata, “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus” (Rom 5:1). Transformasi mulia ini tidak terjadi sedikit demi sedikit, dan juga tidak berubah-ubah. Anda tidak lebih dibenarkan selama jangka waktu tertentu daripada jangka waktu lainnya. Hal ini perlu ditegaskan kembali: “''Anda tidak akan pernah lebih dibenarkan daripada keadaan Anda saat ini.'' Di atas itu semua, tidak seorangpun dalam sejarah pernah lebih dibenarkan daripada Anda sekarang. Martin Luther tidak, Paulus tidak – seorang pun tidak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Apakah Anda pernah dirampas dari buah-buah keselamatan Anda yang agung? Jawablah kuis Benar/Salah berikut ini untuk memastikan Anda mengerti perbedaan antara pembenaran dan penyucian. (Jawaban ada di catatan kaki.�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-0000001A-QINU) * Pembenaran adalah hasil dari penyucian. '''B S''' * Penyucian adalah proses sepanjang hidup. '''B S''' * Kasih Allah untuk kita bertumbuh sesuai dengan kedewasaan kita. '''B S''' * Pembenaran mengacu kepada posisi kita di dalam Kristus, penyucian mengacu pada proses. '''B S''' * Merubah kebiasaan-kebiasaan berdosa membuat kita lebih benar. '''B S''' * Pertumbuhan rohani adalah bukti yang baik bahwa kita telah dibenarkan. '''B S'''}} Banyak orang Kristen yang bingung tentang doktrin pembenaran dan penyucian dan oleh karenanya tidak bisa merasakan sepenuhnya berkat-berkat yang keselamatan agung ini hasilkan. Adalah sangat penting kita mengerti perbedaan antara posisi kita (pembenaran) dan pelatihan kita (penyucian). Sementara penyucian adalah bukti dan tujuan dari pembenaran, penyucian tidak boleh dipandang sebagai dasar dari pembenaran di hadapan Tuhan, tidak peduli betapa menjadi dewasanya kita. Kita tidak mampu menambahkan apa yang Kristus telah raih. Seperti Alister McGrath katakan, “Satu-satunya hal yang bisa dibilang kita kontribusikan dalam pembenaran kita adalah dosa yang telah Tuhan ampuni dengan kemurahan.” Kita dibenarkan hanya karena anugerah semata.&amp;lt;ref&amp;gt;Alister McGrath, ''Justification by Faith'' (Grand Rapids, MI: Zondervan Publishing House, 1988), p. 132. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Membuat Frustrasi dan Sia-Sia ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Doktrin pembenaran perlu dijalankan dan ditengok secara terus menerus, seperti yang Martin Luther sadari betul. Nasihat Martin Luther yang biasa terus terang? “Tempelkan itu ke kepala mereka terus menerus.”&amp;lt;ref&amp;gt;John R.W. Stott, ''Only One Way'', p. 59. &amp;lt;/ref&amp;gt;Sebagai tambahan bagi pengulangan ulet dari para pemimpin kita, kita perlu mempraktekan dan menghargai kebenaran dari pembenaran di dalam hidup kita sehari-hari. Kalau tidak, kita akan menemukan diri kita mudah jatuh dalam salah satu musuh Gereja yang paling serius dan tidak kentara: legalisme.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Kemuliaan Injil adalah bahwa Allah menyatakan orang Kristen memiliki hubungan yang benar dengan-Nya meskipun adanya dosa-dosa mereka. Tetapi pencobaan dan kesalahan terbesar kita adalah berusaha menyusupkan karakter ke dalam pekerjaan kasih karunia-Nya. Betapa mudahnya kita jatuh ke dalam jebakan anggapan bahwa kita hanya tetap dibenarkan selama ada dasarnya pada karakter kita untuk pembenaran itu. Tetapi ajaran Paulus adalah tidak ada yang dapat kita perbuat untuk menyumbang bagi pembenaran kita.�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-0000001D-QINU&amp;quot; — Sinclair Ferguson}} Legalisme melibatkan usaha untuk memperoleh penerimaan dari Tuhan melalui ketaatan kita sendiri. Kita hanya memiliki dua pilihan: menerima kekudusan sebagai pemberian Tuhan atau mencoba untuk melahirkan kekudusan kita sendiri. Legalisme adalah usaha untuk dibenarkan melalui sumber yang lain daripada Yesus Kristus dan pekerjaan-Nya yang telah genap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berpegang pada legalisme berarti percaya bahwa Salib itu tidak perlu atau tidak cukup (Gal 2:21, 5:2). Itu merupakan penafsiran yang tepat akan motif dan perbuatan Anda, walaupun Anda masih secara mental mengakui kebutuhan akan pengorbanan Kristus. Dalam usaha kita mengejar ketaatan dan kedewasaan, legalisme secara perlahan dan samar menguasai kita dan kita mulai mengganti pekerjaan kita untuk pekerjaan genap Kristus. Hasilnya adalah keangkuhan atau penghakiman. Bukannya bertumbuh dalam kasih karunia kita meninggalkan kasih karunia. Itulah penilaian Paulus terhadap gereja di Galasia ketika ia menulis, “Kamu lepas dari Kristus jikalau kamumengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia.” (Gal 5:4).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Untuk menghargai besarnya keprihatinan Paulus tentang legalisme, bacalah Galatia 1:6-9, 2:21, 3:1-4, 3:10, 4:8-11, 4:19-20, 5:2-4, dan 5:7-12.}} Kalau Anda telah berusaha menjalani hidup seperti ini, Anda mungkin sekarang telah belajar bahwa bahwa legalisme itu adalah sia-sia dan membuat frustrasi. Setiap usaha legalisme untuk memperoleh kekudusan akhirnya akan mengalami kegagalan. Selama bertahun-tahun saya telah belajar mengenali beberapa tanda yang sangat jelas dari adanya legalisme. Ini adalah beberapa diantaranya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Anda lebih menyadari akan dosa-dosa masa lalu Anda daripada pribadi dan pekerjaan genap Kristus.&lt;br /&gt;
* Anda hidup berpikir, percaya, dan merasa bahwa Tuhan kecewa terhadap Anda daripada bersukacita dalam Anda. Anda menganggap penerimaan Tuhan bergantung pada ketaatan Anda.&lt;br /&gt;
* Anda kurang sukacita. Ini sering menjadi indikasi pertama dari adanya legalisme. Penghakiman adalah hasil dari merenungkan ketidakcukupan kita; sukacita adalah hasil hari memikirkan kecukupan kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Pernahkan Anda dijerat oleh kehadiran legalisme yang samar? Kalau ya, sadarlah. Legalisme cenderung menyebar daripada tetap terbatasi (Gal 5:9). Legalisme harus dihilangkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Masalah dengan gereja Galatia bukanlah ketaatan pada hukum moral Allah; melainkan, ketergantungan pada hukum moral…untuk keselamatan.�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-0000001E-QINU&amp;quot; — Jerry Bridges}} Satu-satunya cara efektif untuk mencabut legalisme adalah dengan doktrin pembenaran. Kalau Anda telah menelantarkan atau mengabaikan doktrin ini, maka buatlah tindakan sedramatis apapun yang dibutuhkan untuk berubah. Sediakan waktu setiap hari untuk mengulang, melatih, dan bersukacita atas kebenaran yang agung, objektif dan bersifat posisi ini. Batasi konsumsi spiritual Anda pada pembelajaran tentang pembenaran sampai Anda yakin akan penerimaan Tuhan, merasa aman di dalam kasih-Nya dan bebas dari legalisme dan penghakiman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penyaliban Yesus Kristus merupakan satu peristiwa sejarah yang paling menentukan. Dengan akurat Sinclair Ferguson menyatakan hal berikut: {{RightInsert|'''Renungkan Roma 7:14-25.''' Pada saat kita mengerti betul kebejatan kita sendiri kita akan lebih sulit untuk dicobai oleh legalisme.}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Waktu kita berpikir Kristus mati di kayu salib kita diperlihatkan seberapa panjangnya kasih Tuhan dengan tujuan memenangkan kita kembali kepada-Nya…Ia berkata kepada kita: Aku mengasihi Engkau sebesar ini… Salib adalah jantung Injil. Salib membuat Injil menjadi kabar baik: Kristus mati untuk kira. Ia telah berdiri di tempat kita di hadapan kursi penghakiman Allah. Ia menanggung dosa-dosa kita. Tuhan telah melakukan sesuatu di atas kayu salib yang tidak mungkin kita sendiri pernah dapat lakukan… Alasan kita kurang yakin akan kasih karunia-Nya adalah karena kita gagal untuk fokus kepada tempat itu dimana Ia menyatakannya.&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''Grow in Grace'' (Carlisle, PA: The Banner of Truth Trust, 1989), p. 56, 58–59.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemana Anda akan memfokuskan perhatian Anda? Apakah pada dosa-dosa masa lalu Anda, keadaan emosi Anda saat ini, atau area karakter dimana Anda masih perlu bertumbuh? Ataukan Anda akan fokus pada pekerjaan Kristus yang genap? Legalisme tidak perlu memotivasi Anda. Penghakiman tidak perlu menyiksa Anda. Allah telah membenarkan Anda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Dua kategori orang seperti apa yang digambarkan di Yakobus 1:22-25? Kelompok yang mana yang Tuhan janji akan berkati?}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jangan Berargumentasi dengan Hakim === Mengerti doktrin pembenaran secara intelektual dengan sendirinya tidaklah cukup. Tuhan menginginkan kita untuk mengalami transformasi – secara total, murni, dan permanen ditransform oleh kotrin penting ini. J.I. Packer telah menyatakan, “Masalahnya bukan, apakah seseorang dapat menyebutkan doktrin ini dengan keakuratan Firman yang penuh (hal itu, telah kita lihat, adalah pekerjaan yang membutuhlan ketelitian), tetapi, apakah seseorang tahu realitasnya dalam pengalaman.”&amp;lt;ref&amp;gt;J.I. Packer, ''God’s Words: Studies of Key Bible Themes'' (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1981), p. 147. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Kolose 2:13-15 menyatakan hutang kita yang sangat besar kepada Tuhan. Apa yang Yesus lakukan dengan surat tagihan hutang? }} Tujuan kami menulis buku ini bukan pada dasarnya Anda belajar bagaimana mengartikulasi doktrin agung ini tetapi Anda dirubah olehnya, bahwa pengertian Anda akan berbuah pada kebebasan pribadi dari legalisme dan penghakiman serta kasih dan semangat yang bertambah-tambah kepada Yesus Kristus. Adalah mungkin menyadari pembenaran oleh kasih karunia tanpa terpengaruh secara pribadi. Kita perlu menghargai dan mempraktekan kebenaran besar ini setiap hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cerita yang akan saya bagikan merupakan sebuah pelajaran penuh kuasa bagi saya setelah saya mempejalari benar doktrin pembenaran. Selama hari-hari sebelum pertobatan saya sebagai mahasiswa tahun pertama, saya ditangkap karena kepemilikan mariyuana. Detail peristiwa tersebut masih sangat jelas di benak saya. Saat saya duduk di ruang sidang menghadapi hakin, saya mencoba sebisa saya untuk terlihat tulus dan tersiksa, tetapi saya hanya bisa ketakutan. Saya tahu ada kesempatan besar saya akan dijatuhi hukuman dan dituduh dengan pelanggaran tambahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Adalah tidak cukup untuk hanya mengetahui bahwa Yesus telah mati, atau bahkan mengapa Ia mati. Pengetahuan tersebut merupakan hasil dari “iman yang hanya bersifat sejarah” yang tidak dapat menyelamatkan… Hanya pada waktu kita menyadari bahwa Kristus diberi pro me, pro nobis (“untuk aku,” “untuk kita”) kita telah membedakan pentingnya pencapaian Kristus. .�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-00000021-QINU&amp;quot; — Timothy George}} Ternyata, kasus saya tidak pernah mengalami kemajuan setelah saksi pertama. Karena polisi menggeledah kamar saya tanpa surat resmi yang dibutuhkan, bantah pengacaran saya, pengadilan harus mencabut gugatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hakim duduk mendengarkan dengan sabar saat jaksa mengajukan keberatan dan mengulang kembali bukti-bukti yang memberatkan saya. Akhirnya, ia melihat ke arah saya. Pria itu jelas terlihat frustasi. Tidak berkuasa untuk memberi lebih dari teguran, ia menguliahi saya dengan kata-kata yang sekeras-kerasnya. Saya mencoba untuk kelihatan menyesal. Saya menganggukan kepada saya atas setiap penyataan. Tapi saya tidak ingat apapun yang ia katakan – saya terlalu gembira karena kenyataan bahwa ia akan melepas saya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika saya disidang saya tahu bahwa saya bersalah. Saya kira semua orang mengetahui itu. Tetapi pada waktu hakim membebaskan saya, saya tidak berargumentasi dengannya. Saya tidak meminta dan memohon kepada hakim untuk melanjutkan kasus itu. Saya tidak memintanya untuk mengabaikan teknis legalitas dan mengijinkan jaksa untuk terus maju. Hanya kali ini saya dengan gembira tunduk kepada seseorang yang memiliki otoritas lebih besar. Bila sang hakim ingin melepaskan pelanggaran itu, saya akan dengan senang hati menerima keputusannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Renungkan Ulangan 31:8.''' Daripada melanggar janji-Nya yang indah kepada kita (meskipun kita tidak pernah layak diberi janji seperti itu), Tuhan meninggalkan Putra-Nya sendiri.}} Setiap dari kita berdiri bersalah di hadapan Hakim dari segalanya. Tetapi kejahatan kita menentang-Nya berada di tingkat yang secara total berbeda dengan kesalahan saya. Dan walaupun saya diloloskan karena hal teknis, kita telah dinyatakan benar atas dasar pengorbanan Kristus yang telah direncanakan dan bersifat menggantikan kita itu. Yesus Kristus secara suka rela dan sengaja memberikan hidup-Nya sepaya Allah dapat tetap adil saat membenarkan yang bersalah – Anda dan saya. Allah telah menyatakan kita benar. Yang tertinggal hanyalah masalah apakah kita akan menerima pernyataan ini. Pilihan untuk menerima atau tidak berada di hadapan kita setiap hari, sering berkali-kali dalam satu hari: Akankah kita menerima pembenaran karena iman karena pernyataan oleh Tuhan, atau akankah kita mengijinkan penghakiman dan legalisme untu menguasai kita saat kita bergantung pada perasaan dan ketaatan kita?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Kehidupan Kristen melibatkan bukan saja percaya sesuatu tentang Kristus tetapi juga percaya sesuatu tentang diri kita sendiri… Iman kita di dalam Kristus harus mencakup percaya bahwa kita adalah apa yang Alkitab katakan tentang kita.&amp;quot; — Anthony Hoekema}} Tentukanlah bahwa emosi Anda yang tidak stabil dan tidak terprediksi tidak akan medikte atau menipu Anda. Jangan ijinkan emosi-emosi itu untuk menjadi otoritas terakhir di dalam hidup Anda. Percayalah apa yang Tuhan katakan tentang Anda. Kalau Anda bijaksana Anda akan mengikuti teladan saya: Jangan berargumentasi dengan Hakim.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Ditinggalkan Demi Pengampunan Kita ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah yang menciptakan Anda menerima Anda. Anak-Nya secara suka rela menghadapi kengerian Salib yang tidak terbayangkan, ditinggalkan Allah Bapa dan manusia, demi untuk membenarkan Anda. Ia dibuang supaya kita bisa diampuni. Ia mengalami perpisahan supaya kita dapat selamanya aman dalam kasih Allah. Ia menanggung murka Allah sehingga kita tidak pernah perlu melakukannya. “Yesus yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitakan karena pembenaran kita” (Rom 4:25). Anda telah dibenarkan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah mengherankan Reformasi merubah sejarah Gereja? Tidak ada cara apapun untuk mengekang doktrin ini. Sekali doktrin ini dilepas ia akan merubah hidup setiap orang yang disentuhnya – termasuk Anda sendiri. &amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Diskusi Kelompok ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# Di halaman 52 pengarang menulis, “Anda tidak akan pernah lebih dibenarkan daripada Anda saat ini.” Bagaimana kalimat ini mempengaruhi usaha-usaha Anda untuk menjalani hidup yang menyenangkan Tuhan?&lt;br /&gt;
# Renungkan dengan tenang untuk satu atau dua menit tentang Salib. Menurut Anda apakah yang Yesus rasakan waktu ia menyaradari Allah telah meninggalkan-Nya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# Apakah mungkin untuk terlalu fokus pada menjadi serupa dengan teladan Kristus?&lt;br /&gt;
# Apa yang membuat legalisme menjadi sebuah penyimpangan sesat yang tak disadari?&lt;br /&gt;
# Bagaimana kita mengimbangi doktrin pembenaran dan penyucian tanpa oleng kepada legalisme ataupun ijin?&lt;br /&gt;
# Satu hal apa yang dapat kontribusi bagi pembenaran kita?(Petunjuk: Tidak ada yang perlu disombongkan!)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bacaan yang Direkomendasikan ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Cross of Christ'' by John R. W. Stott (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1986)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Discipline of Grace'' by Jerry Bridges (Colorado Springs, CO: NavPress, 1994)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Atonement'' by Leon Morris (Downwers Grove, IL: InterVarsity Press, 1984)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Catatan ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Sukartay</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/Justified_by_Christ/id</id>
		<title>This Great Salvation/Justified by Christ/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/Justified_by_Christ/id"/>
				<updated>2007-12-27T08:03:01Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Sukartay: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;= Dibenarkan Oleh Yesus =&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum Martin Luther menjadi terkenal karena peran pentingnya dalam Reformasi, ia dikenal seluruh Eropa sebagai seorang pelajar hukum yang brilian. Yang paling banyak mempengaruhi pendeta pengikut Agustinus ini adalah pembelajarannya akan hukum Allah di dalam Firman Tuhan. Saat ia merenungkan perintah-perintah Allah, ia menjadi sangat menyadari murka Allah. Setiap kali ia mempelajari pribadi dan pekerjaan Yesus Kristus ia mengenal inilah Yang benar yang pada akhirnya akan menghakiminya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesadaran yang terus menerus itu merongrong Luther dengan perasaan bersalah yang tak terbendung. Sementara rekan-rekannya menghabiskan beberapa menit untuk mengaku dosa, ia menghabiskan berjam-jam. Sebagian orang mengira bahwa mentalnya tidak stabil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teolog Anthony Hoekema menggambarkan kesedihan mental itu membawa pada penemuan teologi besar Luther:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Martin Luther telah mencoba segalanya: tidur di atas lantai yang keras, tidak makan, bahkan menaiki sebuah tangga di Roma dengan tangan dan lututnya – tapi tidak berhasil. Para gurunya di biara memberitahunya bahwa ia telah melakukan cukup untuk mendapatkan kedamaian jiwa. Tapi ia tidak memiliki damai. Kesadarannya akan dosa terlalu dalam.&lt;br /&gt;
:Ia telah mempelajari kitab Mazmur. Kitab ini sering menyebut “kebenaran Tuhan.” Tapi istilah ini mengganggunya. Ia mengira itu berarti kebenaran Tuhan yang menghukum, dimana Ia menghukum orang berdosa. Dan Luther mengetahui ia adalah orang berdosa. Jadi manakala ia melihat kata kebenaran di dalam Alkitab, ia melihat merah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Pembenaran adalah memang jawaban Allah bagi semua pertanyaan manusia yang paling penting: Bagaimana seorang pria atau wanita dibenarkan dengan Tuhan? Kita tidak dibenarkan dengan Tuhan dengan sendirinya. Kita berada di bahwa murka Allah. Pembenaran adalah sangat penting, karena kita harus dibenarkan dengan Allah atau kita binasa selamanya… Kesulitannya adalah mayoritas orang saat ini tidak merasakan kebutuhan di area ini. Martin Luther telah merasakannya; hal itu menghantuinya. Ia tahu bahwa ia tidak benar dengan Allah, dan ia mengantisipasi konfrontasi dengan Allah yang murka di penghakiman terakhir. Allah menunjukkan kepadanya bahwa ia bisa mengalami hubungan yang benar dengan Allah melalui pekerjaan Yesus Kristus. Tetapi di jaman ini siapa yang merasakan intensitas kepedihan Luther?�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-00000012-QINU&amp;quot; — James Montgomery Boice}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Pada suatu hari ia membuka kitab Roma. Di sana ia membaca tentang injil Kristus yang adalah kekuatan Allah untuk keselamatan (1:16). Ini adalah sebuah kabar baik! Tetapi ayat selanjutnya berkata, “Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah“- ada kata buruk ''kebenaran'' itu lagi! Dan depresi Luther kembali lagi. Hal itu menjadi lebih buruk ketika ia meneruskan membaca tentang murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia (ayat 18).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka Luther kembali ke ayat 17 lagi. Bagaimana bisa Paulus menuliskan kata-kata mengerikan seperti itu?...Tiba-tiba pencerahan datang padanya. “Kebenaran Tuhan” yang Paulus maksud di sini bukanlah keadilan Tuhan yang bersifat menghukum yang membuatNya menghukum orang berdosa, melainkan kebenaran yang Tuhan ''berikan'' kepada orang berdosa yang membutuhkan, dan yang orang berdosa itu terima dengan ''iman''. Ini adalah kebenaran yang sempurna dan tidak bercacat, didapatkan oleh Kristus, yang dengan kemurahan Tuhan berikan pada semua yang percaya. Luther tidak perlu lagi mencari dasar untuk kedamaian jiwa di dalam dirinya, di dalam perbuatan baiknya sendiri. Sekarang ia dapat melihat lepas dari dirinya sendiri dan melihat kepada Kristus, hidup dengan iman daripada bersembunyi dalam ketakutan. Pada saat itulah Reformasi Protestan lahir.&amp;lt;ref&amp;gt;Anthony Hoekema, ''Saved by Grace'' (Grand Rapids, MI: Wm. B. Eerdmans Co., 1989), p. 152. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Renungkan Roma 1:17.''' Frase kunci apa di ayat ini yang merevolusi pengertian Martin Luther tentang keselamatan? Bagaimana pengaruhnya bagi Anda?}}Luther melanjutkan dengan berkata bahwa doktrin pembenaran adalah doktrin yang olehnya Gereja berdiri atau jatuh. “Doktrin ini merupakan kepala dan batu penjuru Gereja yang melahirkan, memelihara, membangun dan melindungi Gereja. Tanpanya gereja Tuhan tidak dapat bertahan hidup untuk satu jam.”&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''The Christian Life: A Doctrinal Introduction'' (Carlisle, PA: The Banner of Truth Trust, 1989), p. 80. &amp;lt;/ref&amp;gt;Di poin yang lain ia menambahkan, “Bila doktrin pembenaran ini hilang, maka semua doktrin kekristenan yang benar hilang.”&amp;lt;ref&amp;gt;John R.W. Stott, ''Only One Way: The Message of Galatians'' (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1968), p. 60. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketakutan Luther akan murka Allah telah dibenarkan, seperti kita pelajari di bab sebelumnya. Semua orang Kristen harus mengingat siapa dan apa mereka sebelumnya: jahat dalam perilaku mereka, musuh Allah, sepenuhnya terasing dari-Nya, dan sasaran kemarahan-Nya. Tetapi mengenali masa lalu hanya memiliki nilai sejauh hal itu membuat kita menyadari dan mengagumi akan posisi kita sekarang di dalam Kristus. Kita harus mengenali siapa ''kita sekarang'' karena hadiah kemurahan Tuhan akan pembenaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka yang telah menerima pekerjaan pembenaran Kristus mengalami sebuah perubahan yang dramatis dan luar biasa. Kita telah dibenarkan karena iman melalui anugerah yang besar dari Allah yang Maha Kuasa. Tanpa pengetahuan yang akurat dan pengetahuan yang datang dari pengalaman tentang pembenaran Gereja “tidak dapat bertahan hidup untuk satu jam”…sedikitnya tidak dengan keotentikan. Kita pun juga tidak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Posisi atau Proses? ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Pada saat Yesus mati di kayu salib, tirai bait suci yang memisahkan tempat suci dengan tempat paling suci secara supernatural robek menjadi dua. Untuk mengerti pentingnya peristiwa itu, bacalah Ibrani 9:1-14.}} Pembenaran adalah istilah resmi yang berarti “mendeklarasikan benar.” Hoekema mendefinisikan pembenaran sebagai “perubahan permanen dalam hubungan yuridis kita dengan Tuhan dimana kita diampuni dari tuduhan bersalah, dan dimana Tuhan mengampuni semua dosa-dosa kita di atas dasar pekerjaan Yesus Kristus yang telah tergenapi.”&amp;lt;ref&amp;gt;Anthony Hoekema, ''Saved by Grace'', p. 178. &amp;lt;/ref&amp;gt;Walaupun kita bersalah di hadapan Hakim semesta yang kudus, setelah melanggar hukum-Nya dan layak menerima murka-Nya, Ia telah mendeklarasikan kita sebagai benar. Bagaimana? Atas dasar apa yang Yesus Kristus telah capai di Kayu Salib. Hanya Salib dapat membuat kita dapat diterima di hadapan Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pembenaran adalah sebuah hadiah yang kita terima dari Tuhan, bukan sesuatu yang kita peroleh atau capai. Kita tidak bertanggung jawan ataupun mampu untuk menyumbang bagi pembenaran kita di hadapan Tuhan. Status benar ini tidak bisa dicapai atau dilayakan, hanya diterima dan dihargai. Kita menerima apa yang Kristus dan Kristus sendiri capai untuk kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk dapat sepenuhnya mengerti akan kebenaran yang ajaib ini, adalah esensial kita membedakan pembenaran (justification) dan penyucian (sanctification). Walaupun kedua doktrin ini tidak dapat dipisahkan, kita harus membedakan antara perannya masing-masing di dalam kehidupan iman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Tiada seorangpun yang mengerti kekristenan yang tidak memahami kata ini. Yaitu kata 'dibenarkan.'&amp;quot;�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-00000017-QINU — John Stott}} Pembenaran berarti kita ''dinyatakan'' benar. Penyucian berarti kita sedang ''dibuat'' benar. (Pahami perbedaan itu saja dan hidup Anda tidak akan pernah sama lagi!) Pembenaran adalah ''hadiah'' kekudusan; penyucian adalah ''pelatihan'' kekudusan. Mungkin yang paling kritikal, pembenaran adalah sebuah ''posisi'' – yang dibuat segera dan secara komplit setelah pertobatan – sedangkan penyucian adalah sebuah proses dari perubahan internal dan pengembangan karakter yang dimulai pada saat regenerasi dan terus berlanjut selama kita hidup. “Di dalam Firman Ruhan,” tulis Sinclair Ferguson, “membenarkan bukan berarti membuat benar seperti merubah karakter seseorang. Membenarkan artinya menjadikan benar dengan cara mendeklarasikan.”&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''The Christian Life'', p. 72. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Pembenaran adalah sebuah PERBUATAN. Pembenaran bukanlah pekerjaan, atau satu seri perbuatan. Pembenaran tidak progresif. Orang percaya yang paling lemah dan orang kudus yang paling kuat adalah serupa dan dibenarkan secara sama. Pembenaran tidak mengakui adanya tingkatan. Seseorang, hanya bisa seluruhnya dibenarkan atau seluruhnya dikutuk di hadapan Allah.�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-00000019-QINU&amp;quot; — William S. Plumer}} Pembenaran bukanlah sebuah proses. Pembenaran adalah sebuah deklarasi, sebuah pernyataan ilahi yang tidak dapat ditantang, dirubah ataupun dinaikbanding. Paulus secara empati berkata, “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus” (Rom 5:1). Transformasi mulia ini tidak terjadi sedikit demi sedikit, dan juga tidak berubah-ubah. Anda tidak lebih dibenarkan selama jangka waktu tertentu daripada jangka waktu lainnya. Hal ini perlu ditegaskan kembali: “''Anda tidak akan pernah lebih dibenarkan daripada keadaan Anda saat ini.'' Di atas itu semua, tidak seorangpun dalam sejarah pernah lebih dibenarkan daripada Anda sekarang. Martin Luther tidak, Paulus tidak – seorang pun tidak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Apakah Anda pernah dirampas dari buah-buah keselamatan Anda yang agung? Jawablah kuis Benar/Salah berikut ini untuk memastikan Anda mengerti perbedaan antara pembenaran dan penyucian. (Jawaban ada di catatan kaki.�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-0000001A-QINU) * Pembenaran adalah hasil dari penyucian. '''B S''' * Penyucian adalah proses sepanjang hidup. '''B S''' * Kasih Allah untuk kita bertumbuh sesuai dengan kedewasaan kita. '''B S''' * Pembenaran mengacu kepada posisi kita di dalam Kristus, penyucian mengacu pada proses. '''B S''' * Merubah kebiasaan-kebiasaan berdosa membuat kita lebih benar. '''B S''' * Pertumbuhan rohani adalah bukti yang baik bahwa kita telah dibenarkan. '''B S'''}} Banyak orang Kristen yang bingung tentang doktrin pembenaran dan penyucian dan oleh karenanya tidak bisa merasakan sepenuhnya berkat-berkat yang keselamatan agung ini hasilkan. Adalah sangat penting kita mengerti perbedaan antara posisi kita (pembenaran) dan pelatihan kita (penyucian). Sementara penyucian adalah bukti dan tujuan dari pembenaran, penyucian tidak boleh dipandang sebagai dasar dari pembenaran di hadapan Tuhan, tidak peduli betapa menjadi dewasanya kita. Kita tidak mampu menambahkan apa yang Kristus telah raih. Seperti Alister McGrath katakan, “Satu-satunya hal yang bisa dibilang kita kontribusikan dalam pembenaran kita adalah dosa yang telah Tuhan ampuni dengan kemurahan.” Kita dibenarkan hanya karena anugerah semata.&amp;lt;ref&amp;gt;Alister McGrath, ''Justification by Faith'' (Grand Rapids, MI: Zondervan Publishing House, 1988), p. 132. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Membuat Frustrasi dan Sia-Sia ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Doktrin pembenaran perlu dijalankan dan ditengok secara terus menerus, seperti yang Martin Luther sadari betul. Nasihat Martin Luther yang biasa terus terang? “Tempelkan itu ke kepala mereka terus menerus.”&amp;lt;ref&amp;gt;John R.W. Stott, ''Only One Way'', p. 59. &amp;lt;/ref&amp;gt;Sebagai tambahan bagi pengulangan ulet dari para pemimpin kita, kita perlu mempraktekan dan menghargai kebenaran dari pembenaran di dalam hidup kita sehari-hari. Kalau tidak, kita akan menemukan diri kita mudah jatuh dalam salah satu musuh Gereja yang paling serius dan tidak kentara: legalisme.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Kemuliaan Injil adalah bahwa Allah menyatakan orang Kristen memiliki hubungan yang benar dengan-Nya meskipun adanya dosa-dosa mereka. Tetapi pencobaan dan kesalahan terbesar kita adalah berusaha menyusupkan karakter ke dalam pekerjaan kasih karunia-Nya. Betapa mudahnya kita jatuh ke dalam jebakan anggapan bahwa kita hanya tetap dibenarkan selama ada dasarnya pada karakter kita untuk pembenaran itu. Tetapi ajaran Paulus adalah tidak ada yang dapat kita perbuat untuk menyumbang bagi pembenaran kita.�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-0000001D-QINU&amp;quot; — Sinclair Ferguson}} Legalisme melibatkan usaha untuk memperoleh penerimaan dari Tuhan melalui ketaatan kita sendiri. Kita hanya memiliki dua pilihan: menerima kekudusan sebagai pemberian Tuhan atau mencoba untuk melahirkan kekudusan kita sendiri. Legalisme adalah usaha untuk dibenarkan melalui sumber yang lain daripada Yesus Kristus dan pekerjaan-Nya yang telah genap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berpegang pada legalisme berarti percaya bahwa Salib itu tidak perlu atau tidak cukup (Gal 2:21, 5:2). Itu merupakan penafsiran yang tepat akan motif dan perbuatan Anda, walaupun Anda masih secara mental mengakui kebutuhan akan pengorbanan Kristus. Dalam usaha kita mengejar ketaatan dan kedewasaan, legalisme secara perlahan dan samar menguasai kita dan kita mulai mengganti pekerjaan kita untuk pekerjaan genap Kristus. Hasilnya adalah keangkuhan atau penghakiman. Bukannya bertumbuh dalam kasih karunia kita meninggalkan kasih karunia. Itulah penilaian Paulus terhadap gereja di Galasia ketika ia menulis, “Kamu lepas dari Kristus jikalau kamumengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia.”  (Gal 5:4). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Untuk menghargai besarnya keprihatinan Paulus tentang legalisme, bacalah Galatia 1:6-9, 2:21, 3:1-4, 3:10, 4:8-11, 4:19-20, 5:2-4, dan 5:7-12.}} Kalau Anda telah berusaha menjalani hidup seperti ini, Anda mungkin sekarang telah belajar bahwa bahwa legalisme itu adalah sia-sia dan membuat frustrasi. Setiap usaha legalisme untuk memperoleh kekudusan akhirnya akan mengalami kegagalan. Selama bertahun-tahun saya telah belajar mengenali beberapa tanda yang sangat jelas dari adanya legalisme. Ini adalah beberapa diantaranya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Anda lebih menyadari akan dosa-dosa masa lalu Anda daripada pribadi dan pekerjaan genap Kristus. &lt;br /&gt;
* Anda hidup berpikir, percaya, dan merasa bahwa Tuhan kecewa terhadap Anda daripada bersukacita dalam Anda. Anda menganggap penerimaan Tuhan bergantung pada ketaatan Anda. &lt;br /&gt;
* Anda kurang sukacita. Ini sering menjadi indikasi pertama dari adanya legalisme. Penghakiman adalah hasil dari merenungkan ketidakcukupan kita; sukacita adalah hasil hari memikirkan kecukupan kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pernahkan Anda dijerat oleh kehadiran legalisme yang samar? Kalau ya, sadarlah. Legalisme cenderung menyebar daripada tetap terbatasi (Gal 5:9). Legalisme harus dihilangkan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Masalah dengan gereja Galatia bukanlah ketaatan pada hukum moral Allah; melainkan, ketergantungan pada hukum moral…untuk keselamatan.�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-0000001E-QINU&amp;quot; — Jerry Bridges}} Satu-satunya cara efektif untuk mencabut legalisme adalah dengan doktrin pembenaran. Kalau Anda telah menelantarkan atau mengabaikan doktrin ini, maka buatlah tindakan sedramatis apapun yang dibutuhkan untuk berubah. Sediakan waktu setiap hari untuk mengulang, melatih, dan bersukacita atas kebenaran yang agung, objektif dan bersifat posisi ini. Batasi konsumsi spiritual Anda pada pembelajaran tentang pembenaran sampai Anda yakin akan penerimaan Tuhan, merasa aman di dalam kasih-Nya dan bebas dari legalisme dan penghakiman. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penyaliban Yesus Kristus merupakan satu peristiwa sejarah yang paling menentukan. Dengan akurat Sinclair Ferguson menyatakan hal berikut: {{RightInsert|'''Renungkan Roma 7:14-25.''' Pada saat kita mengerti betul kebejatan kita sendiri kita akan lebih sulit untuk dicobai oleh legalisme.}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Waktu kita berpikir Kristus mati di kayu salib kita diperlihatkan seberapa panjangnya kasih Tuhan dengan tujuan memenangkan kita kembali kepada-Nya…Ia berkata kepada kita: Aku mengasihi Engkau sebesar ini… Salib adalah jantung Injil. Salib membuat Injil menjadi kabar baik: Kristus mati untuk kira. Ia telah berdiri di tempat kita di hadapan kursi penghakiman Allah. Ia menanggung dosa-dosa kita. Tuhan telah melakukan sesuatu di atas kayu salib yang tidak mungkin kita sendiri pernah dapat lakukan… Alasan kita kurang yakin akan kasih karunia-Nya adalah karena kita gagal untuk fokus kepada tempat itu dimana Ia menyatakannya.&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''Grow in Grace'' (Carlisle, PA: The Banner of Truth Trust, 1989), p. 56, 58–59.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemana Anda akan memfokuskan perhatian Anda? Apakah pada dosa-dosa masa lalu Anda, keadaan emosi Anda saat ini, atau area karakter dimana Anda masih perlu bertumbuh? Ataukan Anda akan fokus pada pekerjaan Kristus yang genap? Legalisme tidak perlu memotivasi Anda. Penghakiman tidak perlu menyiksa Anda. Allah telah membenarkan Anda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Dua kategori orang seperti apa yang digambarkan di Yakobus 1:22-25? Kelompok yang mana yang Tuhan janji akan berkati?}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jangan Berargumentasi dengan Hakim === Mengerti doktrin pembenaran secara intelektual dengan sendirinya tidaklah cukup. Tuhan menginginkan kita untuk mengalami transformasi – secara total, murni, dan permanen ditransform oleh kotrin penting ini. J.I. Packer telah menyatakan, “Masalahnya bukan, apakah seseorang dapat menyebutkan doktrin ini dengan keakuratan Firman yang penuh (hal itu, telah kita lihat, adalah pekerjaan yang membutuhlan ketelitian), tetapi, apakah seseorang tahu realitasnya dalam pengalaman.”&amp;lt;ref&amp;gt;J.I. Packer, ''God’s Words: Studies of Key Bible Themes'' (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1981), p. 147. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Kolose 2:13-15 menyatakan hutang kita yang sangat besar kepada Tuhan.  Apa yang Yesus lakukan dengan surat tagihan hutang? }} Tujuan kami menulis buku ini bukan pada dasarnya Anda belajar bagaimana mengartikulasi doktrin agung ini tetapi Anda dirubah olehnya, bahwa pengertian Anda akan berbuah pada kebebasan pribadi dari legalisme dan penghakiman serta kasih dan semangat yang bertambah-tambah kepada Yesus Kristus. Adalah mungkin menyadari pembenaran oleh kasih karunia tanpa terpengaruh secara pribadi. Kita perlu menghargai dan mempraktekan kebenaran besar ini setiap hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cerita yang akan saya bagikan merupakan sebuah pelajaran penuh kuasa bagi saya setelah saya mempejalari benar doktrin pembenaran. Selama hari-hari sebelum pertobatan saya sebagai mahasiswa tahun pertama, saya ditangkap karena kepemilikan mariyuana. Detail peristiwa tersebut masih sangat jelas di benak saya. Saat saya duduk di ruang sidang menghadapi hakin, saya mencoba sebisa saya untuk terlihat tulus dan tersiksa, tetapi saya hanya bisa ketakutan. Saya tahu ada kesempatan besar saya akan dijatuhi hukuman dan dituduh dengan pelanggaran tambahan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Adalah tidak cukup untuk hanya mengetahui bahwa Yesus telah mati, atau bahkan mengapa Ia mati. Pengetahuan tersebut merupakan hasil dari “iman yang hanya bersifat sejarah” yang tidak dapat menyelamatkan… Hanya pada waktu kita menyadari bahwa Kristus diberi pro me, pro&lt;br /&gt;
nobis (“untuk aku,” “untuk kita”) kita telah membedakan pentingnya pencapaian Kristus. &lt;br /&gt;
.�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-00000021-QINU&amp;quot; — Timothy George}} Ternyata, kasus saya tidak pernah mengalami kemajuan setelah saksi pertama. Karena polisi menggeledah kamar saya tanpa surat resmi yang dibutuhkan, bantah pengacaran saya, pengadilan harus mencabut gugatan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hakim duduk mendengarkan dengan sabar saat jaksa mengajukan keberatan dan mengulang kembali bukti-bukti yang memberatkan saya. Akhirnya, ia melihat ke arah saya. Pria itu jelas terlihat frustasi. Tidak berkuasa untuk memberi lebih dari teguran, ia menguliahi saya dengan kata-kata yang sekeras-kerasnya. Saya mencoba untuk kelihatan menyesal. Saya menganggukan kepada saya atas setiap penyataan. Tapi saya tidak ingat apapun yang ia katakan – saya terlalu gembira karena kenyataan bahwa ia akan melepas saya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika saya disidang saya tahu bahwa saya bersalah. Saya kira semua orang mengetahui itu. Tetapi pada waktu hakim membebaskan saya, saya tidak berargumentasi dengannya. Saya tidak meminta dan memohon kepada hakim untuk melanjutkan kasus itu. Saya tidak memintanya untuk mengabaikan teknis legalitas dan mengijinkan jaksa untuk terus maju. Hanya kali ini saya dengan gembira tunduk kepada seseorang yang memiliki otoritas lebih besar. Bila sang hakim ingin melepaskan pelanggaran itu, saya akan dengan senang hati menerima keputusannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Renungkan Ulangan 31:8.''' Daripada melanggar janji-Nya yang indah kepada kita (meskipun kita tidak pernah layak diberi janji seperti itu), Tuhan meninggalkan Putra-Nya sendiri.}} Setiap dari kita berdiri bersalah di hadapan Hakim dari segalanya. Tetapi kejahatan kita menentang-Nya berada di tingkat yang secara total berbeda dengan kesalahan saya. Dan walaupun saya diloloskan karena hal teknis, kita telah dinyatakan benar atas dasar pengorbanan Kristus yang telah direncanakan dan bersifat menggantikan kita itu. Yesus Kristus secara suka rela dan sengaja memberikan hidup-Nya sepaya Allah dapat tetap adil saat membenarkan yang bersalah – Anda dan saya. Allah telah menyatakan kita benar. Yang tertinggal hanyalah masalah apakah kita akan menerima pernyataan ini. Pilihan untuk menerima atau tidak berada di hadapan kita setiap hari, sering berkali-kali dalam satu hari: Akankah kita menerima pembenaran karena iman karena pernyataan oleh Tuhan, atau akankah kita mengijinkan penghakiman dan legalisme untu menguasai kita saat kita bergantung pada perasaan dan ketaatan kita?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Kehidupan Kristen melibatkan bukan saja percaya sesuatu tentang Kristus tetapi juga percaya sesuatu tentang diri kita sendiri… Iman kita di dalam Kristus harus mencakup percaya bahwa kita adalah apa yang Alkitab katakan tentang kita.&amp;quot; — Anthony Hoekema}} Tentukanlah bahwa emosi Anda yang tidak stabil dan tidak terprediksi tidak akan medikte atau menipu Anda. Jangan ijinkan emosi-emosi itu untuk menjadi otoritas terakhir di dalam hidup Anda. Percayalah apa yang Tuhan katakan tentang Anda. Kalau Anda bijaksana Anda akan mengikuti teladan saya: Jangan berargumentasi dengan Hakim.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Ditinggalkan Demi Pengampunan Kita ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah yang menciptakan Anda menerima Anda. Anak-Nya secara suka rela menghadapi kengerian Salib yang tidak terbayangkan, ditinggalkan Allah Bapa dan manusia, demi untuk membenarkan Anda. Ia dibuang supaya kita bisa diampuni. Ia mengalami perpisahan supaya kita dapat selamanya aman dalam kasih Allah. Ia menanggung murka Allah sehingga kita tidak pernah perlu melakukannya.  “Yesus yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitakan karena pembenaran kita” (Rom 4:25). Anda telah dibenarkan! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah mengherankan Reformasi merubah sejarah Gereja? Tidak ada cara apapun untuk mengekang doktrin ini. Sekali doktrin ini dilepas ia akan merubah hidup setiap orang yang disentuhnya – termasuk Anda sendiri.&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Diskusi Kelompok ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# Di halaman 52 pengarang menulis, “Anda tidak akan pernah lebih dibenarkan daripada Anda saat ini.” Bagaimana kalimat ini mempengaruhi usaha-usaha Anda untuk menjalani hidup yang menyenangkan Tuhan?&lt;br /&gt;
# Renungkan dengan tenang untuk satu atau dua menit tentang Salib. Menurut Anda apakah yang Yesus rasakan waktu ia menyaradari Allah telah meninggalkan-Nya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# Apakah mungkin untuk terlalu fokus pada menjadi serupa dengan teladan Kristus?  &lt;br /&gt;
# Apa yang membuat legalisme menjadi sebuah penyimpangan sesat yang tak disadari?&lt;br /&gt;
# Bagaimana kita mengimbangi doktrin pembenaran dan penyucian tanpa oleng kepada legalisme ataupun ijin?&lt;br /&gt;
# Satu hal apa yang dapat kontribusi bagi pembenaran kita?&lt;br /&gt;
 (Petunjuk: Tidak ada yang perlu disombongkan!)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bacaan yang Direkomendasikan ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Cross of Christ'' by John R. W. Stott (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1986)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Discipline of Grace'' by Jerry Bridges (Colorado Springs, CO: NavPress, 1994)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Atonement'' by Leon Morris (Downwers Grove, IL: InterVarsity Press, 1984)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Catatan ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Sukartay</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/Justified_by_Christ/id</id>
		<title>This Great Salvation/Justified by Christ/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/Justified_by_Christ/id"/>
				<updated>2007-12-27T07:30:44Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Sukartay: New page: = Dibenarkan Oleh Yesus =  Sebelum Martin Luther menjadi terkenal karena peran pentingnya dalam Reformasi, ia dikenal seluruh Eropa sebagai seorang pelajar hukum yang brilian. Yang paling ...&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;= Dibenarkan Oleh Yesus =&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum Martin Luther menjadi terkenal karena peran pentingnya dalam Reformasi, ia dikenal seluruh Eropa sebagai seorang pelajar hukum yang brilian. Yang paling banyak mempengaruhi pendeta pengikut Agustinus ini adalah pembelajarannya akan hukum Allah di dalam Firman Tuhan. Saat ia merenungkan perintah-perintah Allah, ia menjadi sangat menyadari murka Allah. Setiap kali ia mempelajari pribadi dan pekerjaan Yesus Kristus ia mengenal inilah Yang benar yang pada akhirnya akan menghakiminya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesadaran yang terus menerus itu merongrong Luther dengan perasaan bersalah yang tak terbendung. Sementara rekan-rekannya menghabiskan beberapa menit untuk mengaku dosa, ia menghabiskan berjam-jam. Sebagian orang mengira bahwa mentalnya tidak stabil. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teolog Anthony Hoekema menggambarkan kesedihan mental itu membawa pada penemuan teologi besar Luther: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Martin Luther telah mencoba segalanya: tidur di atas lantai yang keras, tidak makan, bahkan menaiki sebuah tangga di Roma dengan tangan dan lututnya – tapi tidak berhasil. Para gurunya di biara memberitahunya bahwa ia telah melakukan cukup untuk mendapatkan kedamaian jiwa. Tapi ia tidak memiliki damai. Kesadarannya akan dosa terlalu dalam.&lt;br /&gt;
:Ia telah mempelajari kitab Mazmur. Kitab ini sering menyebut “kebenaran Tuhan.” Tapi istilah ini mengganggunya. Ia mengira itu berarti kebenaran Tuhan yang menghukum, dimana Ia menghukum orang berdosa. Dan Luther mengetahui ia adalah orang berdosa. Jadi manakala ia melihat kata kebenaran di dalam Alkitab, ia melihat merah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Pembenaran adalah memang jawaban Allah bagi semua pertanyaan manusia yang paling penting: Bagaimana seorang pria atau wanita dibenarkan dengan Tuhan? Kita tidak dibenarkan dengan Tuhan dengan sendirinya. Kita berada di bahwa murka Allah. Pembenaran adalah sangat penting, karena kita harus dibenarkan dengan Allah atau kita binasa selamanya… Kesulitannya adalah mayoritas orang saat ini tidak merasakan kebutuhan di area ini. Martin Luther telah merasakannya; hal itu menghantuinya. Ia tahu bahwa ia tidak benar dengan Allah, dan ia mengantisipasi konfrontasi dengan Allah yang murka di penghakiman terakhir. Allah menunjukkan kepadanya bahwa ia bisa mengalami hubungan yang benar dengan Allah melalui pekerjaan Yesus Kristus. Tetapi di jaman ini siapa yang merasakan intensitas kepedihan Luther?�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-00000012-QINU&amp;quot; — James Montgomery Boice}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Pada suatu hari ia membuka kitab Roma. Di sana ia membaca tentang injil Kristus yang adalah kekuatan Allah untuk keselamatan (1:16). Ini adalah sebuah kabar baik! Tetapi ayat selanjutnya berkata, “Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah“- ada kata buruk ''kebenaran'' itu lagi! Dan depresi Luther kembali lagi. Hal itu menjadi lebih buruk ketika ia meneruskan membaca tentang murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia (ayat 18).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka Luther kembali ke ayat 17 lagi. Bagaimana bisa Paulus menuliskan kata-kata mengerikan seperti itu?...Tiba-tiba pencerahan datang padanya. “Kebenaran Tuhan” yang Paulus maksud di sini bukanlah keadilan Tuhan yang bersifat menghukum yang membuatNya menghukum orang berdosa, melainkan kebenaran yang Tuhan ''berikan'' kepada orang berdosa yang membutuhkan, dan yang orang berdosa itu terima dengan ''iman''. Ini adalah kebenaran yang sempurna dan tidak bercacat, didapatkan oleh Kristus, yang dengan kemurahan Tuhan berikan pada semua yang percaya. Luther tidak perlu lagi mencari dasar untuk kedamaian jiwa di dalam dirinya, di dalam perbuatan baiknya sendiri. Sekarang ia dapat melihat lepas dari dirinya sendiri dan melihat kepada Kristus, hidup dengan iman daripada bersembunyi dalam ketakutan. Pada saat itulah Reformasi Protestan lahir.&amp;lt;ref&amp;gt;Anthony Hoekema, ''Saved by Grace'' (Grand Rapids, MI: Wm. B. Eerdmans Co., 1989), p. 152. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Renungkan Roma 1:17.'''  Frase kunci apa di ayat ini yang merevolusi pengertian Martin Luther tentang keselamatan? Bagaimana pengaruhnya bagi Anda?}} Luther melanjutkan dengan berkata bahwa doktrin pembenaran adalah doktrin yang olehnya Gereja berdiri atau jatuh. “Doktrin ini merupakan kepala dan batu penjuru Gereja yang melahirkan, memelihara, membangun dan melindungi Gereja. Tanpanya gereja Tuhan tidak dapat bertahan hidup untuk satu jam.” &amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''The Christian Life: A Doctrinal Introduction'' (Carlisle, PA: The Banner of Truth Trust, 1989), p. 80. &amp;lt;/ref&amp;gt;Di poin yang lain ia menambahkan, “Bila doktrin pembenaran ini hilang, maka semua doktrin kekristenan yang benar hilang.”&amp;lt;ref&amp;gt;John R.W. Stott, ''Only One Way: The Message of Galatians'' (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1968), p. 60. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketakutan Luther akan murka Allah telah dibenarkan, seperti kita pelajari di bab sebelumnya. Semua orang Kristen harus mengingat siapa dan apa mereka sebelumnya: jahat dalam perilaku mereka, musuh Allah, sepenuhnya terasing dari-Nya, dan sasaran kemarahan-Nya. Tetapi mengenali masa lalu hanya memiliki nilai sejauh hal itu membuat kita menyadari dan mengagumi akan posisi kita sekarang di dalam Kristus. Kita harus mengenali siapa ''kita sekarang'' karena hadiah kemurahan Tuhan akan pembenaran. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka yang telah menerima pekerjaan pembenaran Kristus mengalami sebuah perubahan yang dramatis dan luar biasa. Kita telah dibenarkan karena iman melalui anugerah yang besar dari Allah yang Maha Kuasa. Tanpa pengetahuan yang akurat dan pengetahuan yang datang dari pengalaman tentang pembenaran Gereja “tidak dapat bertahan hidup untuk satu jam”…sedikitnya tidak dengan keotentikan. Kita pun juga tidak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Posisi atau Proses? ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:'''  Pada saat Yesus mati di kayu salib, tirai bait suci yang memisahkan tempat suci dengan tempat paling suci secara supernatural robek menjadi dua. Untuk mengerti pentingnya peristiwa itu, bacalah Ibrani 9:1-14.}} Pembenaran adalah istilah resmi yang berarti “mendeklarasikan benar.” Hoekema mendefinisikan pembenaran sebagai “perubahan permanen dalam hubungan yuridis kita dengan Tuhan dimana kita diampuni dari tuduhan bersalah, dan dimana Tuhan mengampuni semua dosa-dosa kita di atas dasar pekerjaan Yesus Kristus yang telah tergenapi.”&amp;lt;ref&amp;gt;Anthony Hoekema, ''Saved by Grace'', p. 178. &amp;lt;/ref&amp;gt;Walaupun kita bersalah di hadapan Hakim semesta yang kudus, setelah melanggar hukum-Nya dan layak menerima murka-Nya, Ia telah mendeklarasikan kita sebagai benar. Bagaimana? Atas dasar apa yang Yesus Kristus telah capai di Kayu Salib. Hanya Salib dapat membuat kita dapat diterima di hadapan Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pembenaran adalah sebuah hadiah yang kita terima dari Tuhan, bukan sesuatu yang kita peroleh atau capai. Kita tidak bertanggung jawan ataupun mampu untuk menyumbang bagi pembenaran kita di hadapan Tuhan. Status benar ini tidak bisa dicapai atau dilayakan, hanya diterima dan dihargai. Kita menerima apa yang Kristus dan Kristus sendiri capai untuk kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk dapat sepenuhnya mengerti akan kebenaran yang ajaib ini, adalah esensial kita membedakan pembenaran (justification) dan penyucian (sanctification). Walaupun kedua doktrin ini tidak dapat dipisahkan, kita harus membedakan antara perannya masing-masing di dalam kehidupan iman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Nobody has understood Christianity who does not understand this word. It is the word 'justified.'&amp;quot;�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-00000017-QINU — John Stott}} Justification means we are ''declared'' righteous. Sanctification means we are being ''made'' righteous. (Comprehend that difference alone and your life will never be the same!) Justification is the ''gift'' of righteousness; sanctification is the ''practice'' of righteousness. Perhaps most critically, justification is a ''position'' —established immediately and completely upon conversion— whereas sanctification is a process of internal change and character development that begins at regeneration and continues as long as we live. “In Scripture,” writes Sinclair Ferguson, “to justify does not mean to make righteous in the sense of changing a person’s character. It means to constitute righteous and to do so by declaration.”&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''The Christian Life'', p. 72. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Justification is an ACT. It is not a work, or series of acts. It is not progressive. The weakest believer and the strongest saint are alike and equally justified. Justification admits no degrees. A man is either wholly justified or wholly condemned in the sight of God.�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-00000019-QINU&amp;quot; — William S. Plumer}} Justification isn’t a process. It is a declaration, a divine decree which cannot be challenged, altered, or appealed. Paul emphatically states, “Therefore since we ''have been'' justified through faith, we have peace with God through our Lord Jesus Christ” (Ro 5:1, emphasis added). This glorious transformation doesn’t take place by degrees, nor does it fluctuate. You’re not more justified during certain periods than you are at others. You’ll never be more justified than you are at this time. That’s worth repeating: ''You’ll never be more justified than you are at this time.'' To top it off, no one in history has ever been more justified than you are now. Not Martin Luther, not Paul—nobody.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Have you been robbed of the benefits of your great salvation? Take the following True/False quiz to make sure you fully understand the difference between justification and sanctification. (Answers at the footnote.�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-0000001A-QINU) * Justification is the by-product of sanctification. '''T F''' * Sanctification is a life-long process. '''T F''' * God’s love for us grows in proportion to our maturity. '''T F''' * Justification refers to our position in Christ; sanctification refers to a process. '''T F''' * Breaking sinful habits makes us more righteous. '''T F''' * Spiritual growth is good evidence that we’ve been justified. '''T F'''}} Numerous Christians confuse the doctrines of justification and sanctification and are subsequently robbed of the full benefits this great salvation entails. It is imperative that we understand the difference between our position (justification) and our practice (sanctification). While sanctification is both the ''evidence'' and ''objective'' of our justification, it should never be viewed as the ''grounds'' for our justification before God, regardless of how mature we become. We are incapable of adding to what Christ has accomplished. As Alister McGrath states, “The only thing we could really be said to contribute to our justification is the sin God so graciously forgives.” We are justified by grace alone.&amp;lt;ref&amp;gt;Alister McGrath, ''Justification by Faith'' (Grand Rapids, MI: Zondervan Publishing House, 1988), p. 132. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Frustrating and Futile ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The doctrine of justification needs to be constantly reinforced and reviewed, as Martin Luther was well aware. His typically blunt advice? “Beat it into their heads continually.”&amp;lt;ref&amp;gt;John R.W. Stott, ''Only One Way'', p. 59. &amp;lt;/ref&amp;gt;In addition to such persistent repetition from our leaders, we need to be applying and appreciating the truth of justification in our lives on a daily basis. If we don’t, we will find ourselves susceptible to one of the Church’s most subtle and serious enemies: legalism.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;The glory of the gospel is that God has declared Christians to be rightly related to him in spite of their sin. But our greatest temptation and mistake is to try to smuggle character into his work of grace. How easily we fall into the trap of assuming that we only remain justified so long as there are grounds in our character for that justification. But Paul’s teaching is that nothing we do ever contributes to our justification.�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-0000001D-QINU&amp;quot; — Sinclair Ferguson}} Legalism involves seeking to earn God’s acceptance through our own obedience. We only have two options: either receive righteousness as a God-given gift or try to generate our own. Legalism is the attempt to be justified through some source other than Jesus Christ and his finished work.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
To adhere to legalism is to believe that the Cross was either unnecessary or insufficient (Gal 2:21, 5:2). That is an accurate interpretation of your motive and actions, even if you still ascribe mentally to the necessity of Christ’s sacrifice. In our legitimate pursuit of obedience and maturity legalism slowly and subtly overtakes us, and we begin to substitute our works for his finished work. The result is either arrogance or condemnation. Instead of growing in grace we abandon grace. That was Paul’s assessment of the Galatian church when he wrote, “You who are trying to be justified by law have been alienated from Christ; you have fallen away from grace” (Gal 5:4).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''For Further Study:''' To appreciate the extent of Paul’s concern about legalism, read Galatians 1:6-9, 2:21, 3:1-4, 3:10, 4:8-11, 4:19-20, 5:2-4, and 5:7-12.}} If you’ve ever attempted to live this way you may have learned by now that legalism is as futile as it is frustrating. Every legalistic attempt at righteousness inevitably ends in failure. Over the years I’ve learned to recognize some unmistakable signs of the presence of legalism. Here are a few of them:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* You are more aware of your past sin than of the person and finished work of Christ.&lt;br /&gt;
* You live thinking, believing, and feeling that God is disappointed with you rather than delighting in you. You assume God’s acceptance depends on your obedience.&lt;br /&gt;
* You lack joy. This is often the first indication of the presence of legalism. Condemnation is the result of pondering our deficiency; joy is the result of considering his sufficiency.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Have you been ensnared by the subtle presence of legalism? If so, beware. It tends to spread rather than remain restricted (Gal 5:9). Legalism must be removed.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;The issue in the Galatian church was not obedience to the moral law of God; rather, it was reliance on the moral law… for salvation.�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-0000001E-QINU&amp;quot; — Jerry Bridges}} The only effective way to uproot legalism is with the doctrine of justification. If you’ve neglected or ignored this doctrine, then take whatever dramatic action is necessary to change. Set aside time each day to review, rehearse, and rejoice in this great, objective, positional truth. Restrict your spiritual diet to the study of justification until you are certain of God’s acceptance, secure in his love, and free from legalism and condemnation.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The crucifixion of Jesus Christ was the single most decisive event in history. Accurately has Sinclair Ferguson stated the following: {{RightInsert|'''Meditate on Romans 7:14-25.''' Once we come to grips with our own wretchedness we’ll find it much harder to be tempted by legalism.}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:When we think of Christ dying on the Cross we are shown the lengths to which God’s love goes in order to win us back to himself…He is saying to us: I love you this much…The Cross is the heart of the gospel. It makes the gospel good news: Christ died for us. He has stood in our place before God’s judgment seat. He has borne our sins. God has done something on the Cross we could never do for ourselves…The reason we lack assurance of his grace is because we fail to focus on that spot where he has revealed it.&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''Grow in Grace'' (Carlisle, PA: The Banner of Truth Trust, 1989), p. 56, 58–59.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Where will you focus your attention? Will it be on past sin, your present emotional state, or areas of character in which you still need to grow? Or will you focus on the finished work of Christ? Legalism need not motivate you. Condemnation need not torment you. God has justified you.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''For Further Study:''' What two categories of people are described in James 1:22-25? Which group does God promise to bless?}}===Don’t Argue with the Judge === Intellectually understanding the doctrine of justification is in itself insufficient. God intends that we be transformed— totally, genuinely, and permanently transformed by this central doctrine. J.I. Packer has insightfully stated, “The issue is not, can one state the doctrine with full biblical accuracy (that, as we have seen, is a task that demands care), but, does one know its reality in experience.”&amp;lt;ref&amp;gt;J.I. Packer, ''God’s Words: Studies of Key Bible Themes'' (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1981), p. 147. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Colossians 2:13-15 reveals the enormous debt we owed God. What did Jesus do to the law’s “invoice”? }} Our goal in writing this book is not primarily that you learn how to articulate this great doctrine but that you be ''changed'' by it, that your understanding results in personal freedom from legalism and condemnation as well as an ever-increasing passion and love for Jesus Christ. It’s possible to be aware of justification by grace without being personally affected. We need to appreciate and apply this magnificent truth each and every day.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The story I’m about to relate has been a powerful lesson for me as I have sought to appropriate the doctrine of justification. During my pre-conversion days as a college freshman I was arrested for possession of marijuana. The details of the trial are still vivid in my mind. As I sat in the courtroom facing the judge, I tried my best to look both sincere and sorrowful, but I was just scared. I knew there was an excellent chance that I would be convicted and even charged with additional violations.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;It is never enough to know simply that Christ died, or even why he died. Such knowledge is the result of a “merely historical faith” that cannot save…Only when we realize that Christ was given pro me, pro nobis (“for me,” “for us”) have we discerned the import of Christ’s accomplishment.�UNIQ40abc13d0c3d96-ref-00000021-QINU&amp;quot; — Timothy George}} As it turned out, my case never progressed beyond the first witness. Because officials had searched my dorm room without the necessary legal documents, argued my lawyer, the court would have to drop the charge.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The judge sat listening stoically as the prosecution objected and reiterated the evidence against me. Finally, he looked down at me. The man was obviously frustrated. Powerless to give anything more than a reprimand, he lectured me in the strongest possible terms. I tried to appear contrite. I nodded my head at each statem e n t. But I don’t remember a thing he said—I was too excited about the fact that he was going to let me go.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
When I stood trial I knew I was guilty. I think everyone knew. But when the judge released me I didn’t argue with him. I didn’t appeal and plead with the judge to continue the case. I didn’t request that he overlook the legal technicality and allow the prosecution to proceed. For once, I gladly deferred to someone with greater authority. If the judge wanted to dismiss the violation, I would happily accept his decision.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Meditate on Deuteronomy 31:8.''' Rather than break this wonderful promise to us (even though we never deserved such a guarantee), God forsook his own Son.}} Each of us stands guilty before the Judge of all. But our crime against him is in a totally different league than my misdemeanor. And though I escaped on a technicality, we have been declared righteous on the basis of Christ’s pre meditated and substitutionary sacrifice. Jesus Christ voluntarily and purposefully laid down his life so God could remain just while justifying the guilty—you and me. God has declared us righteous. All that remains is the issue of whether or not we will receive this pronouncement. The choice confronts us daily, often multiple times in a given day: Will we receive justification by faith because of the declaration by God, or will we allow condemnation and legalism to control us as we depend on our emotions and obedience?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;The Christian life involves not just believing something about Christ but also believing something about ourselves… Our faith in Christ must include believing that we are exactly what the Bible says we are.&amp;quot; — Anthony Hoekema}} Determine that your unstable and unpredictable emotions will not dictate or deceive you. Do not allow them to be the final authority in your life. Believe what God says about you. If you’re wise you will follow my example: Don’t argue with the Judge.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Forsaken for Our Forgiveness ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The God who created you accepts you. His Son voluntarily faced the unimaginable horror of the Cross, forsaken by God the Father and by man, in order to justify you. He was forsaken so we might be forgiven. He experienced separation so we might forever be secure in God’s love. He endured the wrath of God so that we would never have to. “He was delivered over to death for our sins and was raised to life for our justification” (Ro 4:25). You have been justified!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Is it any wonder the Reformation changed Church history? There is no way to confine this doctrine. Once it is let loose it will change the life of every one it touches— including your own.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Group Discussion ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# On page 52 the author writes, “You’ll never be more justified than you are at this time.” What effect does this have on your efforts to live a life that pleases God?&lt;br /&gt;
# Quietly meditate for a minute or two on the Cross. How do you think Jesus felt when he realized God had forsaken him?&lt;br /&gt;
# Is it possible to focus too much on conforming to the image of Christ?&lt;br /&gt;
# What makes legalism such a subtle heresy?&lt;br /&gt;
# How can we balance the doctrines of justification and sanctification without tilting toward legalism or license?&lt;br /&gt;
# What one thing can we contribute to our justification? (Hint: It’s nothing to brag about!)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Recommended Reading ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Cross of Christ'' by John R. W. Stott (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1986)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Discipline of Grace'' by Jerry Bridges (Colorado Springs, CO: NavPress, 1994)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Atonement'' by Leon Morris (Downwers Grove, IL: InterVarsity Press, 1984)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Notes ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Sukartay</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/Does_Anyone_Believe_in_Sin%3F/id</id>
		<title>This Great Salvation/Does Anyone Believe in Sin?/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/Does_Anyone_Believe_in_Sin%3F/id"/>
				<updated>2007-10-16T02:41:56Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Sukartay: /* Dapatkah Seekor Macan Tutul Mengganti Belangnya? */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{{Languages|{{#titleparts:{{PAGENAME}}|2}}}}&lt;br /&gt;
{{InfoBar&lt;br /&gt;
|author=C.J. Mahaney, Robin Boisvert&lt;br /&gt;
|editor=Greg Somerville&lt;br /&gt;
|partnerurl=http://www.sovereigngraceministries.org&lt;br /&gt;
|partner=Sovereign Grace Ministries&lt;br /&gt;
|other=It is part of the ''In Pursuit of Godliness'' series.&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=Apakah Ada yang Percaya pada Dosa?=&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu Sabtu sore beberapa tahun yang lalu saya sedang bekerja keras membersihkan garasi. Putra sulung saya, berusia sekitar empat tahun saat itu, bersiap membantu…boleh dikatakan. Saya memperhatikannya saat ia menatap berbagai benda-benda berbahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa ini, Pa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu pisau pemotong kayu milik Papa. Jangan menyentuhnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa ini, Pa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu kaleng bensin. Menjauhlah dari sana. Hei, jangan mengambil gergaji itu, Nak.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Percakapan seperti itu berlangsung untuk beberapa saat sampai, akhirnya merasa lelah, putra saya berseru, “Papa! Semua yang Papa katakan untuk tidak aku lakukan adalah yang ingin aku lakukan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Mungkin itulah yang Adam katakan,'' pikir saya pada diri sendiri. Saya sekarang dapat merasa yakin mengetahui bahwa anak lelaki saya adalah anggota asli umat manusia. Dan begitu juga semua dari kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Apa Masalahnya?===&lt;br /&gt;
Coba adakan pemungutan suara non-formal dari tetangga, teman dan rekan kerja, dan tanyakan pada mereka apakah yang mereka anggap sebagai masalah manusia yang paling mendasar. Jawaban yang paling mungkin adalah kebodohan atau kurangnya pendidikan. “Kalau orang berpendidikan baik, mereka dapat melihat gambaran yang lebih besar, lalu tidak akan ada kesulitan-kesulitan,” mereka mungkin katakan. “Pendidikan seks yang lebih akan mencegah AIDS dan kehamilan yang tidak diinginkan. Pendidikan lebih akan menghapus rasisme dan kesalahpahaman yang memecah manusia. Pendidikan yang lebih baik akan memampukan orang miskin untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan menghindari obat-obatan terlarang serta kejahatan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Thomas Greer, dalam textbook kontemporer Western Civilization, mengatakan bahwa selama masa Enlightenment di abad ke 18, ilmu pengetahuan dan pendidikan oleh pemikir-pemikir penting dianggap sebagai jawaban bagi dilema manusia. Greer berkata, “Dunia tidak akan pernah sama lagi; kepercayaan pada ilmu pengetahuan dan pendidikan menjadi ciri dunia modern. Di Amerika Serikat, berdasar dari puncak Enlightenment, ''kepercayaan itu tetap menjadi sebuah artikel dari kepercayaan bangsa walaupun hal itu sekarang dipertanyakan lebih dari sebelumnya''” (penekanan ditambahkan). &amp;lt;ref&amp;gt; Thomas Greer, ''A Brief History of the Western World, 5th Ed.'' (San Diego, CA: Harcourt Brace Jovanovich Publishers, 1987), p. 378.&amp;lt;/ref&amp;gt; Walaupun sesungguhnya benar bahwa kebodohan mengklaim sejumlah korban, ada masalah yang lebih mendasar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Renungkan Roma 1:22.'''. Apakah satu kata evaluasi dari Tuhan terhadap ide-ide “penerangan”?}}Salah satu dari mereka yang mempertanyakan “artikel dari kepercayaan bangsa” itu adalah psikiater terkemuka Karl Menninger. Di awal tahun 1970 ia menulis sebuh buku kecil dengan judul provokatif, “Apa yang Terjadi dengan Dosa?” Di dalamnya ia mengamati kata “dosa” dan konsep yang diwakili kata itu mulai menghilang dari budaya kita sekitar pertengahan abad duapuluh.&lt;br /&gt;
:Di dalam semua ratapan dan peringatan yang dibuat oleh para pembimbing dan nabi kita, kata “dosa” tidak pernah disebut, kata yang digunakan sebagai kata peringatan yang absolut dari para nabi. Kata itu adalah kata yang suatu waktu berada di pikiran semua orang, tapi sekarang terdengarpun jarang. Apakah itu berarti tidak ada dosa yang terlibat dalam segala permasalahan kita – (dalam bahasa Inggris dosa adalah “sin” dengan huruf I yang berarti aku berada di tengah)? Apakah tidak ada lagi orang yang merasa bersalah akan sesuatu? Perasaan bersalah mungkin akan dosa yang bisa dipertobatkan atau diperbaiki atau ditebus? Ataukah orang hanya bodoh atau sakit atau kriminal – atau tertidur? Hal-hal yang salah dilakukan, kita tahu; ilalang disebarkan di padang gandum di malam hari. Tapi apakah ada orang yang bertanggung jawab; apakah tidak ada orang yang dapat memberi pertanggungan jawab atas perbuatan-perbuatan ini? Kegelisahan dan depresi kita semua tahu, dan bahkan perasaan bersalah yang samar-samar; tapi apakah tidak ada orang yang telah berbuat dosa?...Kata ‘dosa,’ yang sepertinya telah raib, adalah sebuah kata angkuh. Pada mulanya kata itu adalah kata yang kuat, sebuah kata yang memperingatkan dan serius. Kata itu menggambarkan titik pusat dalam setiap rencana dan gaya hidup dari manusia yang beradab. Tapi kata itu telah pergi jauh. Ia hampir saja punah – kata itu, bersama dengan konsepnya. Mengapa? Apakah tidak ada orang yang berbuat dosa lagi? Apakah tidak ada orang yang percaya pada dosa? &amp;lt;ref&amp;gt; Karl Menninger, ''Whatever Became of Sin?'' (New York: Bantam Books, Inc., 1973), pp. 15–16.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dr. Menninger harus diberi pujian yang besar karena mendalami bidangnya jauh melebih dari yang lain. Dan ia memang benar dalam observasinya. Sebuah model moral dari pengertian akan tanggung jawab dan permasalahan manusia semua telah digantikan oleh model kedokteran, sehingga individu-individu yang melakukan kejahatan mengerikan jarang disebut sebagai “jahat” atau ”bersifat iblis” atau “berdosa,” tetapi sebagai “sakit” atau “sakit jiwa” atau “sinting.”&lt;br /&gt;
{{RightInsert|”Persiapan terbaik untuk studi [pembenaran] bukanlah kemampuan intelektual yang hebat ataupun banyak belajar tetapi hati nurani yang menyadari keadaan kita yang sebenarnya sebagai orang berdosa di mata Allah.&amp;lt;ref&amp;gt;James Buchanan, The Doctrine of Justification (Grand Rapids, MI: Baker Book House, 1867, 1955), p. 222. &amp;lt;/ref&amp;gt;” – James Buchanan}}Namun mempelajari buku Dr. Menninger lebih dekat menunjukkan bahwa walaupun ia telah meminta pada masyarakat untuk mempertimbangkan kembali dosa sebagai alat untuk memahami sifat alami manusia, ia sendiri memiliki kekurang pahaman yang serius akan topik ini. Ia memandang dosa seluruhnya dari sisi horizontal, dosa satu orang terhadap orang yang lain atau mungkin terhadap diri sendiri. Untuk sepenuhnya memahami natur dari dosa, kita harus mengenal dimensi vertikalnya: dosa sesungguhnya adalah &lt;br /&gt;
''pelanggaran terhadap Allah. ''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mazmur 51 memberikan kita sebuah contoh konkret akan kebenaran ini. Di dalam Mazmur ini Daud menuangkan isi hatinya kepada Tuhan dalam pertobatan. Ia telah ditegur secara terbuka oleh nabi Natan dan didalam dirinya telah ditegur oleh Roh Kudus atas perselingkuhan-nya dengan Batsyeba dan atas pengaturan kematian suami Batsyeba untuk menutupi perbuatannya. Tapi meskipun apa yang telah ia perbuat, Daud berseru kepada Tuhan, “Terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kauanggap jahat” (Mzm 51:4). Daud tidak menyangkal dosanya kepada Batsyeba dan Uriah, tetapi ia mengakui karakeristik terburuk dari dosa manapun, apapun jenisnya: ia melawan Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:'''&amp;lt;br&amp;gt; Tiga hal apakah yang dibukakan mengenai diri kita oleh pandangan yang tidak akurat tentang dosa? (Lihat 1 Yohanes 1:8-10)}}Dosa – betapa pokok bahasan yang  ''tidak menyenangkan''! Dan juga yang sulit. Tapi adalah yang sangat esensial bagi kita untuk memikirkan pokok ini, karena bila persepsi kita terhadap dosa tidak benar, begitu pula pengetahuan kita akan Allah, Yesus Kristus, Roh Kudus, hukum Allah, Injil, dan jalan keselamatan. Pengertian yang akurat akan dosa adalah kancing dasar dari kemeja teologi Kristen. Kalau letaknya salah, seluruh baju akan menjadi sepenuhnya berantakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Keseriusan Dosa===&lt;br /&gt;
Mengecilkan dosa sama maraknya dengan dosa itu sendiri. Bukan hal yang tidak lazim untuk mendengar orang mengatakan dosanya sendiri sebagai “kelemahan” atau “kekurangan.” “Tidak ada orang yang sempurna,” kata mereka. Mereka bahkan cukup berani untuk mengakui, “Saya telah salah menilai.” Tapi dosa bukanlah sesuatu yang sepele. Kalau tidak ada dosa maka tidak ada keselamatan. Kalau kita bukanlah orang-orang berdosa besar, lalu Kristus bukanlah Juru Selamat yang besar. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|”Dosa adalah penodaan keadilan Allah, pemerkosaan atas kemurahan-Nya, pengolok-olokan atas kesabaran-Nya, pengecilan akan kuasa-Nya dan kebencian terhadap kasih-Nya.&amp;lt;ref&amp;gt; John Bunyan from Gathered Gold (Hertfordshire, England: Evangelical Press, 1984), p. 291. &amp;lt;/ref&amp;gt;” – John Bunyan}}Fakta bahwa kita semua telah dipengaruhi oleh dosa meletakkan kita pada posisi yang tidak menguntungkan dalam usaha kita untuk memahami dosa. Sendirian, kita tidak bisa mendapatkan gambaran yang jelas tentang dosa. Puji syukur, Tuhan telah membekali kita dengan Firman-Nya yang tidak bercacat mengenai subyek ini. Pasal-pasal awal kitab Kejadian menyebutkan dilema dosa manusia, dan selebihnya dari Firman Tuhan dapat dibaca sebagai solusi Allah terhadap permasalahan dosa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Renungkan Yohanes 1:29.''' Apakah signifikansi dari titel yang diberikan Yohanes Pembaptis kepada Yesus? (Lihat Keluaran 12:21-23)}}Dalam jarak lima ayat singkat Alkitab mendeskripsikan kita sebagai tak berpengharapan, tak saleh, orang berdosa, dan musuh dari Allah (Rom 5:6-10). Firman Tuhan mengatakan bahwa dosa adalah universal. Dosa bersifat menipu. Dosa juga kukuh dan memiliki kekuatan. Dosa juga begitu membuat tak berdaya sehingga hanya satu kekuatan di alam semesta dapat mengalahkannya. Hanya satu kekuatan, tinggal di dalam satu Orang, dapat mengalahkan dosa karena hanya satu Orang yang pernah tanpa dosa. Seperti malaikat katakan pada Maria, “Engkau akan memberi-Nya nama Yesus, karena Ia akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa” (Mat 1:21). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesaksian dari para pria dan wanita saleh sepanjang sejarah Gereja yang menyadari akan keberdosaan mereka seimbang dengan kedekatan mereka kepada Tuhan mendukung pengajaran Firman. Dengarkan saja bagaimana orang-orang kudus Alkitab ini mengevaluasi diri mereka:&lt;br /&gt;
Daud: “Aku telah berdosa kepada Allah” (2 Sam 12:13)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yesaya: “Aku ini seorang yang najis bibir” (Yes 6:5)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Petrus: “Pergilah daripadaku, Tuhan; aku orang berdosa!” (Luk 5:8)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert| Klaim Paulus sebagai manusia paling berdosa pasti ditantang banyak kali karena ia menulis kata-kata itu. Bukti apa yang dapat Anda berikan dari 24 jam terakhir untuk berargumentasi bahwa Anda adalah sebenarnya manusia paling berdosa sepanjang sejarah? (Pikirkan dengan cukup lama supaya dapat setulusnya bertobat, lalu lanjutkan.)}}Paulus: “Yesus Kristus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa - di antara mereka akulah yang paling berdosa” (1Tim 1:15).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dosa adalah pelanggaran hukum (1 Yoh 3:4). Tuhan memberikan hukum dan berdiri di belakangnya. Waktu kita melanggar hukum Tuhan, Tuhan menganggapnya personal. Bila kita dapat melihat Tuhan berdiri di belakang setiap situasi dimana hukum-Nya dilanggar dan merasakan kemarahan-Nya yang benar, kita akan dapat memahami keseriusan dosa dengan lebih baik.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:'''&amp;lt;br&amp;gt;Perhatikan pembunuhan yang dilakukan oleh anak-anak Eli (1 Samuel 2:12-25) dan respons Tuhan&lt;br /&gt;
(1 Samuel 2:27-34).}}Imam Israel Eli menegur putra-putranya yang bodoh dan tidak bermoral dengan kata-kata ini: “Jika seseorang berdosa terhadap seorang yang lain, maka Allah yang akan mengadili; tetapi jika seseorang berdosa terhadap Tuhan, siapakah yang akan menjadi perantara baginya?”(1 Sam 2:25). Sayangnya, kata-katanya terlalu kecil dan terlalu terlambat untuk membuat putra-putranya berbalik. Mereka tidak cukup menyadari keseriusan dosa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Selamat Datang di Kandang Babi===&lt;br /&gt;
Esensi dosa telah digambarkan sebagai pemusatan pada diri sendiri. Pemikiran ini ditangkap jelas dalam Yesaya 53:6: “Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri.” Mari kita melihat lebih dekat implikasi dari ayat ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Seperti domba.'' Di antara semua binatang ternak yang berintelijensi rendah, domba biasanya tidak sadar akan bahaya sampai akhirnya terlalu terlambat untuk bertindak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Sesat.'' Kecenderungan alami dari domba adalah berkeliaran. Kalau sang gembala tidak menjaga mereka tetap dalam satu kelompok, mereka akan cepat tersesat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:'''&amp;lt;br&amp;gt; Perluas pemahaman Anda atas keseriusan dosa dengan membaca Roma 8:6-7, Kolose 1:21, dan Efesus 2:1-2.}}''Masing-masing kita. '' Dosa adalah masalah universal, mempengaruhi kita semua. &lt;br /&gt;
''Jalannya sendiri. '' Ini adalah inti permasalahannya. Kita ingin menjalani kehidupan kita sendiri tanpa mempedulikan Tuhan yang telah menciptakan kita dan menopang kita, dan kepada siapa kita berhutang untuk nafas kita selanjutnya. Dengar kata-kata dari William Ernest Henley ini, seekor “domba tersesat” yang kelihatannya telah bersikeras dengan jalannya sendiri:&lt;br /&gt;
:Tidak peduli bagaimana lurusnya pintu pagar, Bagaimana dipenuhi hukumannya gulungan kitab; Aku adalah tuan dari takdirku, Aku adalah kapten dari jiwaku. &amp;lt;ref&amp;gt; William Ernest Henley from ''Bartlett’s Familiar Quotations'' (New York: Little, Brown, and Company, 1919), p. 829.&amp;lt;/ref&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ruang lingkup dosa begitu besar sehingga Alkitab menggunakan banyak kata untuk menyampaikan sifat mengerikannya serta akibatnya yang bersifat membawa bencana. Terbungkus di dalam satu kata kecil itu adalah ide-ide seperti pemberontakan, kekejian, kebingungan, rasa malu, tidak mencapai target, ketidaksetiaan, ketiadaan hukum, kebodohan, ketidaktaatan, penyimpangan, dan lebih lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seseorang yang membaca tiga pasal pertama surat Paulus kepada orang Kristen di Roma dikejutkan oleh penghakimannya yang sarkastis terhadap umat manusia. Orang Yahudi dan non-Yahudi terkunci dalam ikatan dosa. Kata-kata Paulus begitu berkekuatan dan jelas sehingga kecenderungan pembaca adalah menganggap pemikiran Paulus sebagai ekstrim. “Hei, dia pasti sedang membicarakan tentang Jack the Ripper atau Adolf Hitler!” Bukan. Paulus sedang membicarakan Anda dan saya. “Tidak ada yang benar, seorangpun tidak… Tidak ada yang berbuat baik... semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (Rom 3:10, 12, 23). Ayat ini melukiskan potret umat manusia yang sangat tidak terpuji. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagian dari masalah kita adalah kita cenderung mengevaluasi keberdosaan kita dalam hubungannya dengan orang lain. Dibandingkan dengan Attila the Hun, aku jauh lebih baik. Dibandingkan dengan Ibu Teresa, aku tidak. Kalau Tuhan tidak membukakan kepada kita seberapa luasnya dosa kita, kita tidak dapat membedakan kerusakan kita sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|”Ia yang memiliki sedikit saja pemikiran akan dosa, tidak pernah memiliki pemikiran besar akan Allah. &amp;lt;ref&amp;gt; William S. Plumer, ''The Grace of Christ'' (Philadelphia, PA: Presbyterian Board of Publication, 1853), p. 24.&amp;lt;/ref&amp;gt;” – John Owen}}Selama tahun 1980an saya tinggal di daerah pertanian yang indah di Lancaster, Pennsylvania. Hidup di sana sangat menyenangkan dalam segala hal kecuali satu: Saya tidak pernah tahan terhadap bau kotoran. Babi-babi adalah yang paling bau. Tapi menariknya, walaupun bagi saya baunya menjijikan, babi-babi itu tidak tampak terganggu sedikitpun. Seperti J.C. Ryle katakan, “Hewan yang baunya sangat menyerang kita tidak mengetahui sama sekali bahwa mereka menyerang dan tidak menyerang satu sama lain.” &amp;lt;ref&amp;gt;J.C. Ryle, ''Holiness'' (Hertfordshire, England: Evangelical Press, 1879, 1979), p. 65.&amp;lt;/ref&amp;gt; Manusia berdosa, tampaknya, tidak dapat memiliki cukup pemikiran betapa keji dosa di mata Allah yang kudus dan sempurna. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana kita sampai jatuh ke dalam keadaan yang menyedihkan ini? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang telah terjadi dengan umat manusia? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Dapatkah Seekor Macan Tutul Mengganti Belangnya?===&lt;br /&gt;
Di pasal kelima kitab Roma (ayat 12-21), Paulus menjelaskan sumber dari dosa dan sumber dari pengampunan kita yang paling penting. Harus dicatat di awal bahwa diskusi kita tentang keberdosaan manusia berhubungan dengan keadaan alaminya yang terpisah dari kasih karunia. Melalui pekerjaan penebusan Kristus, hubungan manusia dengan dosa telah berubah secara radikal. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|Seumpama Tuhan berkata kepada manusia, “Aku ingin engkau untuk menggunting semak-semak ini sebelum pukul tiga sore ini. Tetapi hati-hati. Ada sebuah lubang besar di ujung taman. Kalau engkau jatuh ke dalam lubang itu, engkau tidak akan dapat mengeluarkan dirimu sendiri. Jadi apapun yang kamu lakukan, menjauhlah dari lubang itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seumpama segera setelah Tuhan meninggalkan taman, manusia itu berlari dan melompat ke dalam lubang itu. Pada pukul tiga Tuhan kembali dan menemukan semak-semak belum digunting. Ia memanggil si tukang kebun dan mendengar suara tangis lemah dari ujung taman. Ia berjalan ke ujung lubang dan melihat si tukang kebun tanpa daya menggapai-gapai di dasar lubang. Ia berkata kepada si tukang kebun, “Mengapa engkau belum menggunting semak-semak yang Aku perintahkan padamu?” Si tukang kebun menjawab dengan marah, “Bagaimana Engkau menginginkan aku untuk menggunting semak-semak ini saat aku terjebak di dalam lubang ini? Kalau saja Engkau tidak meninggalkan lubang kosong di sini, aku tidak akan berada di situasi sulit ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adam melompat ke dalam lubang. Di dalam Adam kita semua melompat ke dalam lubang. Tuhan tidak melemparkan kita ke dalam lubang. Adam telah diperingatkan dengan jelas akan lubang itu. Tuhan menyuruhnya untuk menjauh. Konsekuensi yang Adam alami dengan berada di dalam lubang adalah hukuman langsung dari melompat ke dalamnya…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita dilahirkan sebagai orang berdosa karena di dalam Adam kita semua telah jatuh. Bahkan kata “jatuh” adalah sedikit eufemisme (mengganti kata yang bermakna kuat dengan yang lebih lemah). Ini adalah pandangan berwarna mawar terhadap masalah. Kata “jatuh” mengimplikasikan sebuah kecelakaan. Dosa Adam bukanlah sebuah kecelakaan. Ia bukanlah Humpty-Dumpty. Adam tidak hanya tergelincir ke dalam dosa; ia melompat kedalamnya dengan dua kaki. Kita melompat bersamanya dengan kepala dahulu.&amp;lt;ref&amp;gt; R.C. Sproul, ''Chosen By God'' (Wheaton, IL: Tyndale House Publishers, 1986), pp. 97–98.&amp;lt;/ref&amp;gt; – R.C. Sproul}}Dosa memasuki seluruh manusia karena dosa satu orang manusia – Adam. Hal ini dibuktikan dari fakta bahwa semua manusia mati, kematian jasmani sebagai hukuman dari dosa.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu saya masih di tahun ketiga sekolah menengah, kami mempelajari masa Puritan di Amerika. Saya ingat melihat ilustrasi dari sebuah interpretasi bacaan yang berisi seperti ini: “Di dalam kejatuhan Adam, kita semua berdosa.” Saya masih bisa mengingat betapa kata-kata tersebut membuat saya marah. Pada saat itu saya berpikir, ''Adalah salah mencuci otak anak-anak seperti itu!'' Kemudian, memikirkan kaitannya dengan diri saya sendiri, saya menjadi sangat kesal. ''Saya tidak bisa melihat mengapa saya harus diseret jatuh bersama Adam. Bagaimanapun saya tidak mengetahuinya dari Adam!'' Mengatakan bahwa saya menemukan doktrin ini bersifat menyerang hanyalah sebuah pernyataan remeh. Doktrin ini menyerang rasa keadilan kita. Manusia natural menemukan doktrin ini sangat tidak dapat diterima. (Yang merupakan salah satu alasan utama mengapa saya sekarang percaya bahwa doktrin itu adalah benar).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inti Paulus menggambarkan keberdosaan yang menyatu dalam diri kita adalah bukan untuk mengusik kita tetapi untuk menginformasikan. Pengertian akan hubungan kita dengan Adam memberikan kita sebuah rasa menghargai yang baru untuk hubungan kita dengan Yesus Kristus. Pastor terkenal D. Martyn Lloyd-Jones menulis, “Kalau Anda berkata pada saya, ‘Apakah adil bila dosa Adam diimputasi kepada saya?’ Saya akan menjawab dengan bertanya, ‘Apakah adil kekudusan Kristus harus diimputasi kepada Anda?’”&amp;lt;ref&amp;gt; D. Martyn Lloyd-Jones, ''Romans: Assurance, Chapter Five'' (Grand Rapids, MI: Zondervan Publishing House, 1972), p. 219.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dosa adalah warisan universal diturunkan dari bapak kita semua, Adam. Secara natural, kita semua bersalah dan melawan Allah. Ajaran ini dikenal sebagai dosa asal dan hal itu menggambarkan kondisi manusia yang telah jatuh. Ajaran ini secara langsung berkontradiksi dengan pemikiran bahwa kita semua memasuki dunia dengan bersih, tak berdosa dan tak bersalah. Walaupun manusia terus menyandang peta dan teladan Allah, peta dan teladan itu telah menjadi rusak. Ia sekarang menjadi seperti puing-puing bait suci kuno. Tanda-tanda kebesaran masih terlihat, tetapi kemuliaan telah menjauh. Seperti sebuah kaca retak, bayangan masih terlihat namun sangat menyimpang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dosa asal meliputi dua aspek lebih lanjut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Kerusakan total.'' Ini adalah istilah yang secara umum disalah mengerti sehingga jadi bermakna rendah. Istilah ini tidak berarti bahwa manusia adalah seburuk yang ia bisa. Ini disebut kerusakan ''menyeluruh''. Kerusakan total mengindikasikan bahwa korupsi dosa mempengaruhi manusia di setiap bagian dari dirinya: pikirannya, emosinya, kehendaknya, dan tubuhnya. Tidak ada dari diri manusia yang tidak dipengaruhi oleh dosa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Ketidakmampuan total.'' Ini tidak berarti bahwa manusia tidak dapat melakukan sesuatu yang baik menurut standar ''manusia''. Ia masih bisa melakukan perbuatan baik secara luar dan mungkin memiliki banyak kualitas baik. Tetapi dalam hal-hal ''spiritual'', ia lemah. Bahkan hal yang “baik” yang ia lakukan dicemari oleh dosa. Mengubah kalimat dari Westminster Confession tentang subyek ini, “setelah jatuh dalam dosa, manusia sepenuhnya kehilangan kemampuannya untuk melakukan apapun untuk menyumbang bagi keselamatannya.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert| Yang mana yang menunjukkan bahwa bahkan anak-anak telah dicemari dosa asal? &lt;br /&gt;
* Mudahnya anak-anak belajar mengatakan “Tidak!” &lt;br /&gt;
* Mudahnya mereka dapat melupakan berbuat seperti yang telah diberitahukan. &lt;br /&gt;
* Menakjubkannya bagaimana dua orang anak dapat menginginkan mainan yang sama – mainan yang mereka tidak pernah pedulikan selama enam minggu – pada saat yang bersamaan, tidak mempedulikan mainan lainnya yang tersedia. &lt;br /&gt;
* Keuniversalan marah-marah dan mengambek.}}Donald MacLeod mengatakan, “[Ketidakmampuan total] berarti pertobatan itu melebihi kapasitas manusia biasa.”&amp;lt;ref&amp;gt;Donald MacLeod from ''Gathered Gold'' (Hertfordshire, England: Evangelical Press, 1984), p. 65.&amp;lt;/ref&amp;gt; Lepas dari Kristus, tidak ada yang manusia lakukan yang dapat menyenangkan Tuhan karena ia tidak dimotivasi oleh anugerah Tuhan ataupun merasa peduli akan kemuliaan Tuhan. Dan Tuhan sepenuhnya memperhatikan motivasi kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yeremia memberikan ekspresi tentang ketidakmampuan total ketika ia bertanya, “Dapatkah orang Etiopia mengganti kulitnya atau macan tutul mengubah belangnya? Masakan kamu dapat berbuat baik hai orang-orang yang membiasakan diri berbuat jahat?” (Yer 13:23). Ketika Paulus mengatakan kepada orang-orang Efesus bahwa mereka telah ''mati'' karena pelanggaran mereka, ia menolong mereka untuk mengerti tidak hanya anugerah Tuhan yang begitu agung dalam menyelamatkan mereka, tetapi juga kebutuhan absolut mereka akan anugerah itu. Orang yang telah mati tidak akan dapat berpartisipasi untuk menyelamatkan dirinya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu apa yang terjadi setelah pertobatan? Apakah dosa tidak lagi ada? Oh, seandainya saja itu yang terjadi! {{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:'''&amp;lt;br&amp;gt; Peran apa yang dimainkan air batisan dalam pergumulan kita melawan dosa? (Lihat Rom 6:1-11)}}Kekuatan dosa terhadap seseorang yang telah lahir kembali secara pasti telah dipatahkan. Roma 6 menjelaskan bahwa sementara kehadiran dosa masih menjadi sebuah faktor, hubungan kita dengan dosa telah diubahkan secara radikal. Roh Kudus sekarang tinggal di dalam kita, menunjukkan kita jalan untuk berjalan dalam Tuhan. Kita tidak lagi diperhamba oleh dosa. Dosa tidak mendominasi atau menguasai kita; kita tidak berkewajiban mematuhi bujukan dosa. {{RightInsert|” Ia yang melihat dosa hanya sebagai sebuah fiksi, sebagai sebuah kemalangan, atau sebagai sebuah tetes, melihat tidak adanya kebutuhan baik untuk pertobatan yang mendalam maupun penebusan yang besar. Ia yang melihat tidak ada dosa dalam dirinya sendiri akan merasa ia tidak membutuhkan seorang Juru Selamat. Ia yang tidak menyadari iblis bekerja di dalam hatinya, tidak akan menginginkan perubahan sifat. Ia yang menganggap dosa sebagai masalah sepele akan berpikir beberapa tetes air mata atau reformasi luar cukup memuaskan. Kebenarannya adalah tidak ada orang yang yang pernah menganggap dirinya orang yang lebih berdosa di hadapan Tuhan daripada keadaannya sesungguhnya. Tidak ada juga orang yang pernah lebih merasa menderita akan dosanya daripada yang telah ia sebabkan.&amp;lt;ref&amp;gt;William Plumer, ''The Grace of Christ,'' p. 20.&amp;lt;/ref&amp;gt;” – William S. Plumer}}Ancaman penghakiman tidak lagi menggantung di kepala kita. Namun kita terus merakan pengaruh dosa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| Satu atau dua kata apa yang dapat Anda kaitkan dengan hukuman dosa? Kekuatan dosa? Kehadiran dosa? Tulis jawaban Anda di bawah judul masing-masing di bawah. &amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
‘''Hukuman -- Kekuatan -- Kehadiran'''}}Satu cara yang membantu kita untuk mengerti pembebasan kita dari dosa memiliki tiga kata keterangan waktu yang berbeda: ''kita telah'' dibebaskan dari hukuman dosa; kita ''sedang'' dibebaskan dari kekuatan dosa; kita ''akan'' dibebaskan dari kehadiran dosa. Tetapi, seironis kedengarannya, semakin dekat seseorang berjalan bersama Tuhan, semakin besar pengetahuan dan kesadarannya akan dosa. Saya ingat ketika masih kecil dikagumkan oleh partikel debu yang menari di dalam cahaya yang bersinar melalui jendela. Debu itu ada di mana-mana, tetapi hanya dapat dilihat dengan cahaya. Begitu juga dengan dosa. Dosa dimanifestasi oleh cahaya Firman Tuhan dan Roh Kudus. Semakin kuat cahaya itu, semakin terlihat debu itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Ilalang Buruk dengan Akar yang Dalam ===&lt;br /&gt;
Sebagai pencinta buku-buku lama, terutama tulisan-tulisan dari Puritan, saya seringkali menemukan diri saya bergumul dengan penekanan terhadap dosa yang diberikan oleh generasi terdahulu, bahkan di dalam kehidupan orang-orang yang telah bertobat. ''Di manakah kemenangan dalam hidup mereka?'' Saya merasa heran pada saat saya pertama membaca tulisan-tulisan itu. Sejak itu saya menjadi mengerti bahwa kesadaran mereka akan dosa, seberapa tajamnya itu, tidak melebihi kesadaran mereka akan anugerah dan kemurahan Tuhan dalam pengampunan dosa itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Renungkan Roma 5:20-21.'''. Bagaimana kesadaran akan dosa memperdalam rasa syukur kita akan anugerah Tuhan?}}Pertimbangkan Jonathan Edwards, contohnya, dikenal karena kehidupannya yang kudus serta ajarannya yang hebat. Edwards mengatakan memiliki “rasa akan kebejatan diri saya sendiri dan keburukan hati saya sendiri yang sangat lebih besar daripada yang saya rasakan sebelum pertobatan” – sebuah tanda kesehatan rohani, menurut pendapatnya! &amp;lt;ref&amp;gt;Jonathan Edwards, ''The Works of Jonathan Edwards, Vol. 1'' (Carlisle, PA: The Banner of Truth Trust, 1974), p. xlvii.&amp;lt;/ref&amp;gt; Penerus dan penulis biografinya, Serano Dwight, merasakan kebutuhan untuk menjelaskan pemikiran kakeknya. Bukannya Edwards ''memiliki'' kejahatan lebih, tulis Dwight, melainkan ia memiliki ''kesadaran'' yang lebih akan kebejatannya. Ia lalu menerangkan observasinya dengan sebuah analogi:&lt;br /&gt;
:Seumpama seorang buta memiliki sebuah taman penuh dengan ilalang buruk dan beracun. Ilalang-ilalang itu berada di taman tetapi ia tidak menyadarinya. Seumpama taman itu, sebagian besarnya, dibersihkan dari ilalang, dan banyak tumbuhan dan bunga-bunga indah dan berharga menggantikan ilalang-ilalang tadi. Orang buta itu lalu memperoleh kembali penglihatannya. Ada ''lebih sedikit'' ilalang, tetapi ia lebih menyadarinya. Jadi, semakin terang penglihatan spiritual kita, semakin besar kesadaran kita akan dosa. &amp;lt;ref&amp;gt;Ibid.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|Saya tidak memiliki toleransi bagi mereka yang menjunjung psikologi di atas Firman, doa syafaat, dan pengcukupan Allah yang sempurna. Dan saya tidak memiliki kata-kata penguatan bagi orang-orang yang mengharapkan untuk mencampur psikologi dengan sumber-sumber ilahi dan menjual campuran ini sebagai akses spiritual. Metodologi mereka membuat pernyataan bisu bahwa apa yang Tuhan telah berikan di dalam Kristus tidaklah cukup untuk memenuhi kebutuhan terdalam kita dan menenangkan kehidupan kita yang bermasalah.&amp;lt;ref&amp;gt;John MacArthur, Jr., ''Our Sufficiency in Christ'' (Dallas, TX: Word Publishing, 1991), p. 70.&amp;lt;/ref&amp;gt;” – John MacArthur, Jr.}}Kata-kata berikut dari J.C. Ryle memberikan rangkuman yang baik atas bab doktrin dosa kita:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dosa – infeksi secara natural tetap ada, ya bahkan di dalam mereka yang telah diperbaharui. Begitu dalamnya akar kejahatan manusia, sehingga bahkan setelah kita dilahirkan kembali, diperbaharui, dibasuh, disucikan, dibenarkan, dan dibuat anggota hidup dari Kristus, akar ini tetap hidup di dasar hati kita dan, seperti kusta di dinding rumah, kita tidak pernah meninggalkannya sampai rumah duniawi di tabernakel ini dihancurkan. Dosa, tidak diragukan lagi, di dalam hati orang percaya, tidak lagi memiliki kuasa. Dosa itu diperiksa, dikontrol, direndahkan, disalibkan oleh kuasa ekspulsif dari prinsip baru anugerah. Hidup orang percaya adalah hidup kemenangan dan bukan kegagalan. Tetapi pergumulan yang terjadi dalam batinnya, peperangan yang ia temukan perlu diperangi setiap hari, kecemburuan yang mengawasi yang harus dipraktekannya terhadap kehidupan batinnya, perseteruan antara daging dan roh, rintihan di dalam ''yang tak seorangpun tahu kecuali dia yang mengalaminya'' – semua membuktikan satu kebenaran besar:  kuasa dan kekuatan dosa yang besar….Berbahagialah orang percaya yang mengertinya, dan sementara ia bersukacita di dalam Yesus Kristus, tidak bergantung pada daging, dan sementaraa ia mengucap syukur pada Tuhan yang memberikan kita kemenangan, tidak pernah lupa untuk berjaga-jaga dan berdoa kalau tidak ia jatuh dalam pencobaan.”&amp;lt;ref&amp;gt;J.C. Ryle, ''Holiness'', p. 5.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Diskusi Kelompok==&lt;br /&gt;
# Bagi kelompok menjadi dua tim, sisi “Ilmu Alam/Pendidikan” dan sisi “Keselamatan.” Biarkan setiap kelompok bergantian memberikan masukan penyakit sosial yang dapat mereka sembuhkan. Tim yang manakah yang melakukan paling banyak kebaikan bagi kemanusiaan? &lt;br /&gt;
# “Model moral dari pengertian akan tanggung jawab dan permasalahan manusia semua telah digantikan oleh model kedokteran,” kata penulis (Halaman 14). Bukti apa yang Anda lihat di tubuh Kristus berkenaan dengan perubahan tersebut? &lt;br /&gt;
# Bukankah Tuhan sudah cukup dewasa untuk tidak diusik oleh dosa kecil kita yang tidak penting? &lt;br /&gt;
# Dalam skala satu sampai sepuluh, beri nilai apa yang gaya hidup Anda katakan tentang keseriusan dosa. (1 = sama sekali tidak serius, 10 = sangat serius)&lt;br /&gt;
# Bagaimana esensi dosa didefinisikan? (Halaman 17) Apakah Anda setuju?&lt;br /&gt;
# Baca Roma 3:10-18 dengan bersuara. Cobalah sepenuhnya jujur: Apakah Anda bergumul dengan kenyataan bahwa hal ini menggambarkan ''Anda'', lepas dari anugerah penebusan Tuhan? &lt;br /&gt;
# Apa yang kita warisi dari Adam? Dari Yesus? &lt;br /&gt;
# Bagaimana Anda menjelaskan “ketidakmampuan total” (Halaman 19-20) kepada orang non-Kristen?&lt;br /&gt;
# Bahas lagi ketiga kata keterangan waktu akan pembebasan kita dari dosa (Halaman 20-21). Bagaimana penjelasan ini mengajarkan Anda? &lt;br /&gt;
# Diskusikan kalimat terakhir di kutipan rangkuman dari J.C. Ryle (Halaman 22).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bacaan yang Direkomendasikan==&lt;br /&gt;
* Chosen by God by R.C. Sproul (Wheaton, IL: Tyndale House Publishers, 1986) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Catatan == &lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Sukartay</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/Does_Anyone_Believe_in_Sin%3F/id</id>
		<title>This Great Salvation/Does Anyone Believe in Sin?/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/Does_Anyone_Believe_in_Sin%3F/id"/>
				<updated>2007-10-16T02:38:05Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Sukartay: /* Does Anyone Believe in Sin? */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{{Languages|{{#titleparts:{{PAGENAME}}|2}}}}&lt;br /&gt;
{{InfoBar&lt;br /&gt;
|author=C.J. Mahaney, Robin Boisvert&lt;br /&gt;
|editor=Greg Somerville&lt;br /&gt;
|partnerurl=http://www.sovereigngraceministries.org&lt;br /&gt;
|partner=Sovereign Grace Ministries&lt;br /&gt;
|other=It is part of the ''In Pursuit of Godliness'' series.&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=Apakah Ada yang Percaya pada Dosa?=&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu Sabtu sore beberapa tahun yang lalu saya sedang bekerja keras membersihkan garasi. Putra sulung saya, berusia sekitar empat tahun saat itu, bersiap membantu…boleh dikatakan. Saya memperhatikannya saat ia menatap berbagai benda-benda berbahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa ini, Pa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu pisau pemotong kayu milik Papa. Jangan menyentuhnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa ini, Pa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu kaleng bensin. Menjauhlah dari sana. Hei, jangan mengambil gergaji itu, Nak.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Percakapan seperti itu berlangsung untuk beberapa saat sampai, akhirnya merasa lelah, putra saya berseru, “Papa! Semua yang Papa katakan untuk tidak aku lakukan adalah yang ingin aku lakukan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Mungkin itulah yang Adam katakan,'' pikir saya pada diri sendiri. Saya sekarang dapat merasa yakin mengetahui bahwa anak lelaki saya adalah anggota asli umat manusia. Dan begitu juga semua dari kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Apa Masalahnya?===&lt;br /&gt;
Coba adakan pemungutan suara non-formal dari tetangga, teman dan rekan kerja, dan tanyakan pada mereka apakah yang mereka anggap sebagai masalah manusia yang paling mendasar. Jawaban yang paling mungkin adalah kebodohan atau kurangnya pendidikan. “Kalau orang berpendidikan baik, mereka dapat melihat gambaran yang lebih besar, lalu tidak akan ada kesulitan-kesulitan,” mereka mungkin katakan. “Pendidikan seks yang lebih akan mencegah AIDS dan kehamilan yang tidak diinginkan. Pendidikan lebih akan menghapus rasisme dan kesalahpahaman yang memecah manusia. Pendidikan yang lebih baik akan memampukan orang miskin untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan menghindari obat-obatan terlarang serta kejahatan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Thomas Greer, dalam textbook kontemporer Western Civilization, mengatakan bahwa selama masa Enlightenment di abad ke 18, ilmu pengetahuan dan pendidikan oleh pemikir-pemikir penting dianggap sebagai jawaban bagi dilema manusia. Greer berkata, “Dunia tidak akan pernah sama lagi; kepercayaan pada ilmu pengetahuan dan pendidikan menjadi ciri dunia modern. Di Amerika Serikat, berdasar dari puncak Enlightenment, ''kepercayaan itu tetap menjadi sebuah artikel dari kepercayaan bangsa walaupun hal itu sekarang dipertanyakan lebih dari sebelumnya''” (penekanan ditambahkan). &amp;lt;ref&amp;gt; Thomas Greer, ''A Brief History of the Western World, 5th Ed.'' (San Diego, CA: Harcourt Brace Jovanovich Publishers, 1987), p. 378.&amp;lt;/ref&amp;gt; Walaupun sesungguhnya benar bahwa kebodohan mengklaim sejumlah korban, ada masalah yang lebih mendasar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Renungkan Roma 1:22.'''. Apakah satu kata evaluasi dari Tuhan terhadap ide-ide “penerangan”?}}Salah satu dari mereka yang mempertanyakan “artikel dari kepercayaan bangsa” itu adalah psikiater terkemuka Karl Menninger. Di awal tahun 1970 ia menulis sebuh buku kecil dengan judul provokatif, “Apa yang Terjadi dengan Dosa?” Di dalamnya ia mengamati kata “dosa” dan konsep yang diwakili kata itu mulai menghilang dari budaya kita sekitar pertengahan abad duapuluh.&lt;br /&gt;
:Di dalam semua ratapan dan peringatan yang dibuat oleh para pembimbing dan nabi kita, kata “dosa” tidak pernah disebut, kata yang digunakan sebagai kata peringatan yang absolut dari para nabi. Kata itu adalah kata yang suatu waktu berada di pikiran semua orang, tapi sekarang terdengarpun jarang. Apakah itu berarti tidak ada dosa yang terlibat dalam segala permasalahan kita – (dalam bahasa Inggris dosa adalah “sin” dengan huruf I yang berarti aku berada di tengah)? Apakah tidak ada lagi orang yang merasa bersalah akan sesuatu? Perasaan bersalah mungkin akan dosa yang bisa dipertobatkan atau diperbaiki atau ditebus? Ataukah orang hanya bodoh atau sakit atau kriminal – atau tertidur? Hal-hal yang salah dilakukan, kita tahu; ilalang disebarkan di padang gandum di malam hari. Tapi apakah ada orang yang bertanggung jawab; apakah tidak ada orang yang dapat memberi pertanggungan jawab atas perbuatan-perbuatan ini? Kegelisahan dan depresi kita semua tahu, dan bahkan perasaan bersalah yang samar-samar; tapi apakah tidak ada orang yang telah berbuat dosa?...Kata ‘dosa,’ yang sepertinya telah raib, adalah sebuah kata angkuh. Pada mulanya kata itu adalah kata yang kuat, sebuah kata yang memperingatkan dan serius. Kata itu menggambarkan titik pusat dalam setiap rencana dan gaya hidup dari manusia yang beradab. Tapi kata itu telah pergi jauh. Ia hampir saja punah – kata itu, bersama dengan konsepnya. Mengapa? Apakah tidak ada orang yang berbuat dosa lagi? Apakah tidak ada orang yang percaya pada dosa? &amp;lt;ref&amp;gt; Karl Menninger, ''Whatever Became of Sin?'' (New York: Bantam Books, Inc., 1973), pp. 15–16.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dr. Menninger harus diberi pujian yang besar karena mendalami bidangnya jauh melebih dari yang lain. Dan ia memang benar dalam observasinya. Sebuah model moral dari pengertian akan tanggung jawab dan permasalahan manusia semua telah digantikan oleh model kedokteran, sehingga individu-individu yang melakukan kejahatan mengerikan jarang disebut sebagai “jahat” atau ”bersifat iblis” atau “berdosa,” tetapi sebagai “sakit” atau “sakit jiwa” atau “sinting.”&lt;br /&gt;
{{RightInsert|”Persiapan terbaik untuk studi [pembenaran] bukanlah kemampuan intelektual yang hebat ataupun banyak belajar tetapi hati nurani yang menyadari keadaan kita yang sebenarnya sebagai orang berdosa di mata Allah.&amp;lt;ref&amp;gt;James Buchanan, The Doctrine of Justification (Grand Rapids, MI: Baker Book House, 1867, 1955), p. 222. &amp;lt;/ref&amp;gt;” – James Buchanan}}Namun mempelajari buku Dr. Menninger lebih dekat menunjukkan bahwa walaupun ia telah meminta pada masyarakat untuk mempertimbangkan kembali dosa sebagai alat untuk memahami sifat alami manusia, ia sendiri memiliki kekurang pahaman yang serius akan topik ini. Ia memandang dosa seluruhnya dari sisi horizontal, dosa satu orang terhadap orang yang lain atau mungkin terhadap diri sendiri. Untuk sepenuhnya memahami natur dari dosa, kita harus mengenal dimensi vertikalnya: dosa sesungguhnya adalah &lt;br /&gt;
''pelanggaran terhadap Allah. ''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mazmur 51 memberikan kita sebuah contoh konkret akan kebenaran ini. Di dalam Mazmur ini Daud menuangkan isi hatinya kepada Tuhan dalam pertobatan. Ia telah ditegur secara terbuka oleh nabi Natan dan didalam dirinya telah ditegur oleh Roh Kudus atas perselingkuhan-nya dengan Batsyeba dan atas pengaturan kematian suami Batsyeba untuk menutupi perbuatannya. Tapi meskipun apa yang telah ia perbuat, Daud berseru kepada Tuhan, “Terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kauanggap jahat” (Mzm 51:4). Daud tidak menyangkal dosanya kepada Batsyeba dan Uriah, tetapi ia mengakui karakeristik terburuk dari dosa manapun, apapun jenisnya: ia melawan Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:'''&amp;lt;br&amp;gt; Tiga hal apakah yang dibukakan mengenai diri kita oleh pandangan yang tidak akurat tentang dosa? (Lihat 1 Yohanes 1:8-10)}}Dosa – betapa pokok bahasan yang  ''tidak menyenangkan''! Dan juga yang sulit. Tapi adalah yang sangat esensial bagi kita untuk memikirkan pokok ini, karena bila persepsi kita terhadap dosa tidak benar, begitu pula pengetahuan kita akan Allah, Yesus Kristus, Roh Kudus, hukum Allah, Injil, dan jalan keselamatan. Pengertian yang akurat akan dosa adalah kancing dasar dari kemeja teologi Kristen. Kalau letaknya salah, seluruh baju akan menjadi sepenuhnya berantakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Keseriusan Dosa===&lt;br /&gt;
Mengecilkan dosa sama maraknya dengan dosa itu sendiri. Bukan hal yang tidak lazim untuk mendengar orang mengatakan dosanya sendiri sebagai “kelemahan” atau “kekurangan.” “Tidak ada orang yang sempurna,” kata mereka. Mereka bahkan cukup berani untuk mengakui, “Saya telah salah menilai.” Tapi dosa bukanlah sesuatu yang sepele. Kalau tidak ada dosa maka tidak ada keselamatan. Kalau kita bukanlah orang-orang berdosa besar, lalu Kristus bukanlah Juru Selamat yang besar. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|”Dosa adalah penodaan keadilan Allah, pemerkosaan atas kemurahan-Nya, pengolok-olokan atas kesabaran-Nya, pengecilan akan kuasa-Nya dan kebencian terhadap kasih-Nya.&amp;lt;ref&amp;gt; John Bunyan from Gathered Gold (Hertfordshire, England: Evangelical Press, 1984), p. 291. &amp;lt;/ref&amp;gt;” – John Bunyan}}Fakta bahwa kita semua telah dipengaruhi oleh dosa meletakkan kita pada posisi yang tidak menguntungkan dalam usaha kita untuk memahami dosa. Sendirian, kita tidak bisa mendapatkan gambaran yang jelas tentang dosa. Puji syukur, Tuhan telah membekali kita dengan Firman-Nya yang tidak bercacat mengenai subyek ini. Pasal-pasal awal kitab Kejadian menyebutkan dilema dosa manusia, dan selebihnya dari Firman Tuhan dapat dibaca sebagai solusi Allah terhadap permasalahan dosa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Renungkan Yohanes 1:29.''' Apakah signifikansi dari titel yang diberikan Yohanes Pembaptis kepada Yesus? (Lihat Keluaran 12:21-23)}}Dalam jarak lima ayat singkat Alkitab mendeskripsikan kita sebagai tak berpengharapan, tak saleh, orang berdosa, dan musuh dari Allah (Rom 5:6-10). Firman Tuhan mengatakan bahwa dosa adalah universal. Dosa bersifat menipu. Dosa juga kukuh dan memiliki kekuatan. Dosa juga begitu membuat tak berdaya sehingga hanya satu kekuatan di alam semesta dapat mengalahkannya. Hanya satu kekuatan, tinggal di dalam satu Orang, dapat mengalahkan dosa karena hanya satu Orang yang pernah tanpa dosa. Seperti malaikat katakan pada Maria, “Engkau akan memberi-Nya nama Yesus, karena Ia akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa” (Mat 1:21). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesaksian dari para pria dan wanita saleh sepanjang sejarah Gereja yang menyadari akan keberdosaan mereka seimbang dengan kedekatan mereka kepada Tuhan mendukung pengajaran Firman. Dengarkan saja bagaimana orang-orang kudus Alkitab ini mengevaluasi diri mereka:&lt;br /&gt;
Daud: “Aku telah berdosa kepada Allah” (2 Sam 12:13)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yesaya: “Aku ini seorang yang najis bibir” (Yes 6:5)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Petrus: “Pergilah daripadaku, Tuhan; aku orang berdosa!” (Luk 5:8)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert| Klaim Paulus sebagai manusia paling berdosa pasti ditantang banyak kali karena ia menulis kata-kata itu. Bukti apa yang dapat Anda berikan dari 24 jam terakhir untuk berargumentasi bahwa Anda adalah sebenarnya manusia paling berdosa sepanjang sejarah? (Pikirkan dengan cukup lama supaya dapat setulusnya bertobat, lalu lanjutkan.)}}Paulus: “Yesus Kristus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa - di antara mereka akulah yang paling berdosa” (1Tim 1:15).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dosa adalah pelanggaran hukum (1 Yoh 3:4). Tuhan memberikan hukum dan berdiri di belakangnya. Waktu kita melanggar hukum Tuhan, Tuhan menganggapnya personal. Bila kita dapat melihat Tuhan berdiri di belakang setiap situasi dimana hukum-Nya dilanggar dan merasakan kemarahan-Nya yang benar, kita akan dapat memahami keseriusan dosa dengan lebih baik.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:'''&amp;lt;br&amp;gt;Perhatikan pembunuhan yang dilakukan oleh anak-anak Eli (1 Samuel 2:12-25) dan respons Tuhan&lt;br /&gt;
(1 Samuel 2:27-34).}}Imam Israel Eli menegur putra-putranya yang bodoh dan tidak bermoral dengan kata-kata ini: “Jika seseorang berdosa terhadap seorang yang lain, maka Allah yang akan mengadili; tetapi jika seseorang berdosa terhadap Tuhan, siapakah yang akan menjadi perantara baginya?”(1 Sam 2:25). Sayangnya, kata-katanya terlalu kecil dan terlalu terlambat untuk membuat putra-putranya berbalik. Mereka tidak cukup menyadari keseriusan dosa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Selamat Datang di Kandang Babi===&lt;br /&gt;
Esensi dosa telah digambarkan sebagai pemusatan pada diri sendiri. Pemikiran ini ditangkap jelas dalam Yesaya 53:6: “Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri.” Mari kita melihat lebih dekat implikasi dari ayat ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Seperti domba.'' Di antara semua binatang ternak yang berintelijensi rendah, domba biasanya tidak sadar akan bahaya sampai akhirnya terlalu terlambat untuk bertindak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Sesat.'' Kecenderungan alami dari domba adalah berkeliaran. Kalau sang gembala tidak menjaga mereka tetap dalam satu kelompok, mereka akan cepat tersesat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:'''&amp;lt;br&amp;gt; Perluas pemahaman Anda atas keseriusan dosa dengan membaca Roma 8:6-7, Kolose 1:21, dan Efesus 2:1-2.}}''Masing-masing kita. '' Dosa adalah masalah universal, mempengaruhi kita semua. &lt;br /&gt;
''Jalannya sendiri. '' Ini adalah inti permasalahannya. Kita ingin menjalani kehidupan kita sendiri tanpa mempedulikan Tuhan yang telah menciptakan kita dan menopang kita, dan kepada siapa kita berhutang untuk nafas kita selanjutnya. Dengar kata-kata dari William Ernest Henley ini, seekor “domba tersesat” yang kelihatannya telah bersikeras dengan jalannya sendiri:&lt;br /&gt;
:Tidak peduli bagaimana lurusnya pintu pagar, Bagaimana dipenuhi hukumannya gulungan kitab; Aku adalah tuan dari takdirku, Aku adalah kapten dari jiwaku. &amp;lt;ref&amp;gt; William Ernest Henley from ''Bartlett’s Familiar Quotations'' (New York: Little, Brown, and Company, 1919), p. 829.&amp;lt;/ref&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ruang lingkup dosa begitu besar sehingga Alkitab menggunakan banyak kata untuk menyampaikan sifat mengerikannya serta akibatnya yang bersifat membawa bencana. Terbungkus di dalam satu kata kecil itu adalah ide-ide seperti pemberontakan, kekejian, kebingungan, rasa malu, tidak mencapai target, ketidaksetiaan, ketiadaan hukum, kebodohan, ketidaktaatan, penyimpangan, dan lebih lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seseorang yang membaca tiga pasal pertama surat Paulus kepada orang Kristen di Roma dikejutkan oleh penghakimannya yang sarkastis terhadap umat manusia. Orang Yahudi dan non-Yahudi terkunci dalam ikatan dosa. Kata-kata Paulus begitu berkekuatan dan jelas sehingga kecenderungan pembaca adalah menganggap pemikiran Paulus sebagai ekstrim. “Hei, dia pasti sedang membicarakan tentang Jack the Ripper atau Adolf Hitler!” Bukan. Paulus sedang membicarakan Anda dan saya. “Tidak ada yang benar, seorangpun tidak… Tidak ada yang berbuat baik... semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (Rom 3:10, 12, 23). Ayat ini melukiskan potret umat manusia yang sangat tidak terpuji. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagian dari masalah kita adalah kita cenderung mengevaluasi keberdosaan kita dalam hubungannya dengan orang lain. Dibandingkan dengan Attila the Hun, aku jauh lebih baik. Dibandingkan dengan Ibu Teresa, aku tidak. Kalau Tuhan tidak membukakan kepada kita seberapa luasnya dosa kita, kita tidak dapat membedakan kerusakan kita sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|”Ia yang memiliki sedikit saja pemikiran akan dosa, tidak pernah memiliki pemikiran besar akan Allah. &amp;lt;ref&amp;gt; William S. Plumer, ''The Grace of Christ'' (Philadelphia, PA: Presbyterian Board of Publication, 1853), p. 24.&amp;lt;/ref&amp;gt;” – John Owen}}Selama tahun 1980an saya tinggal di daerah pertanian yang indah di Lancaster, Pennsylvania. Hidup di sana sangat menyenangkan dalam segala hal kecuali satu: Saya tidak pernah tahan terhadap bau kotoran. Babi-babi adalah yang paling bau. Tapi menariknya, walaupun bagi saya baunya menjijikan, babi-babi itu tidak tampak terganggu sedikitpun. Seperti J.C. Ryle katakan, “Hewan yang baunya sangat menyerang kita tidak mengetahui sama sekali bahwa mereka menyerang dan tidak menyerang satu sama lain.” &amp;lt;ref&amp;gt;J.C. Ryle, ''Holiness'' (Hertfordshire, England: Evangelical Press, 1879, 1979), p. 65.&amp;lt;/ref&amp;gt; Manusia berdosa, tampaknya, tidak dapat memiliki cukup pemikiran betapa keji dosa di mata Allah yang kudus dan sempurna. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana kita sampai jatuh ke dalam keadaan yang menyedihkan ini? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang telah terjadi dengan umat manusia? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Dapatkah Seekor Macan Tutul Mengganti Belangnya?===&lt;br /&gt;
Di pasal kelima kitab Roma (ayat 12-21), Paulus menjelaskan sumber dari dosa dan sumber dari pengampunan kita yang paling penting. Harus dicatat di awal bahwa diskusi kita tentang keberdosaan manusia berhubungan dengan keadaan alaminya yang terpisah dari kasih karunia. Melalui pekerjaan penebusan Kristus, hubungan manusia dengan dosa telah berubah secara radikal. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|Seumpama Tuhan berkata kepada manusia, “Aku ingin engkau untuk menggunting semak-semak ini sebelum pukul tiga sore ini. Tetapi hati-hati. Ada sebuah lubang besar di ujung taman. Kalau engkau jatuh ke dalam lubang itu, engkau tidak akan dapat mengeluarkan dirimu sendiri. Jadi apapun yang kamu lakukan, menjauhlah dari lubang itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seumpama segera setelah Tuhan meninggalkan taman, manusia itu berlari dan melompat ke dalam lubang itu. Pada pukul tiga Tuhan kembali dan menemukan semak-semak belum digunting. Ia memanggil si tukang kebun dan mendengar suara tangis lemah dari ujung taman. Ia berjalan ke ujung lubang dan melihat si tukang kebun tanpa daya menggapai-gapai di dasar lubang. Ia berkata kepada si tukang kebun, “Mengapa engkau belum menggunting semak-semak yang Aku perintahkan padamu?” Si tukang kebun menjawab dengan marah, “Bagaimana Engkau menginginkan aku untuk menggunting semak-semak ini saat aku terjebak di dalam lubang ini? Kalau saja Engkau tidak meninggalkan lubang kosong di sini, aku tidak akan berada di situasi sulit ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adam melompat ke dalam lubang. Di dalam Adam kita semua melompat ke dalam lubang. Tuhan tidak melemparkan kita ke dalam lubang. Adam telah diperingatkan dengan jelas akan lubang itu. Tuhan menyuruhnya untuk menjauh. Konsekuensi yang Adam alami dengan berada di dalam lubang adalah hukuman langsung dari melompat ke dalamnya…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita dilahirkan sebagai orang berdosa karena di dalam Adam kita semua telah jatuh. Bahkan kata “jatuh” adalah sedikit eufemisme (mengganti kata yang bermakna kuat dengan yang lebih lemah). Ini adalah pandangan berwarna mawar terhadap masalah. Kata “jatuh” mengimplikasikan sebuah kecelakaan. Dosa Adam bukanlah sebuah kecelakaan. Ia bukanlah Humpty-Dumpty. Adam tidak hanya tergelincir ke dalam dosa; ia melompat kedalamnya dengan dua kaki. Kita melompat bersamanya dengan kepala dahulu.&amp;lt;ref&amp;gt; R.C. Sproul, ''Chosen By God'' (Wheaton, IL: Tyndale House Publishers, 1986), pp. 97–98.&amp;lt;/ref&amp;gt; – R.C. Sproul}}Dosa memasuki seluruh manusia karena dosa satu orang manusia – Adam. Hal ini dibuktikan dari fakta bahwa semua manusia mati, kematian jasmani sebagai hukuman dari dosa.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu saya masih di tahun ketiga sekolah menengah, kami mempelajari masa Puritan di Amerika. Saya ingat melihat ilustrasi dari sebuah interpretasi bacaan yang berisi seperti ini: “Di dalam kejatuhan Adam, kita semua berdosa.” Saya masih bisa mengingat betapa kata-kata tersebut membuat saya marah. Pada saat itu saya berpikir, ''Adalah salah mencuci otak anak-anak seperti itu!'' Kemudian, memikirkan kaitannya dengan diri saya sendiri, saya menjadi sangat kesal. ''Saya tidak bisa melihat mengapa saya harus diseret jatuh bersama Adam. Bagaimanapun saya tidak mengetahuinya dari Adam!'' Mengatakan bahwa saya menemukan doktrin ini bersifat menyerang hanyalah sebuah pernyataan remeh. Doktrin ini menyerang rasa keadilan kita. Manusia natural menemukan doktrin ini sangat tidak dapat diterima. (Yang merupakan salah satu alasan utama mengapa saya sekarang percaya bahwa doktrin itu adalah benar).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inti Paulus menggambarkan keberdosaan yang menyatu dalam diri kita adalah bukan untuk mengusik kita tetapi untuk menginformasikan. Pengertian akan hubungan kita dengan Adam memberikan kita sebuah rasa menghargai yang baru untuk hubungan kita dengan Yesus Kristus. Pastor terkenal D. Martyn Lloyd-Jones menulis, “Kalau Anda berkata pada saya, ‘Apakah adil bila dosa Adam diimputasi kepada saya?’ Saya akan menjawab dengan bertanya, ‘Apakah adil kekudusan Kristus harus diimputasi kepada Anda?’”&amp;lt;ref&amp;gt; D. Martyn Lloyd-Jones, ''Romans: Assurance, Chapter Five'' (Grand Rapids, MI: Zondervan Publishing House, 1972), p. 219.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dosa adalah warisan universal diturunkan dari bapak kita semua, Adam. Secara natural, kita semua bersalah dan melawan Allah. Ajaran ini dikenal sebagai dosa asal dan hal itu menggambarkan kondisi manusia yang telah jatuh. Ajaran ini secara langsung berkontradiksi dengan pemikiran bahwa kita semua memasuki dunia dengan bersih, tak berdosa dan tak bersalah. Walaupun manusia terus menyandang peta dan teladan Allah, peta dan teladan itu telah menjadi rusak. Ia sekarang menjadi seperti puing-puing bait suci kuno. Tanda-tanda kebesaran masih terlihat, tetapi kemuliaan telah menjauh. Seperti sebuah kaca retak, bayangan masih terlihat namun sangat menyimpang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dosa asal meliputi dua aspek lebih lanjut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Kerusakan total.'' Ini adalah istilah yang secara umum disalah mengerti sehingga jadi bermakna rendah. Istilah ini tidak berarti bahwa manusia adalah seburuk yang ia bisa. Ini disebut kerusakan ''menyeluruh''. Kerusakan total mengindikasikan bahwa korupsi dosa mempengaruhi manusia di setiap bagian dari dirinya: pikirannya, emosinya, kehendaknya, dan tubuhnya. Tidak ada dari diri manusia yang tidak dipengaruhi oleh dosa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Ketidakmampuan total.'' Ini tidak berarti bahwa manusia tidak dapat melakukan sesuatu yang baik menurut standar ''manusia''. Ia masih bisa melakukan perbuatan baik secara luar dan mungkin memiliki banyak kualitas baik. Tetapi dalam hal-hal ''spiritual'', ia lemah. Bahkan hal yang “baik” yang ia lakukan dicemari oleh dosa. Mengubah kalimat dari Westminster Confession tentang subyek ini, “setelah jatuh dalam dosa, manusia sepenuhnya kehilangan kemampuannya untuk melakukan apapun untuk menyumbang bagi keselamatannya.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert| Yang mana yang menunjukkan bahwa bahkan anak-anak telah dicemari dosa asal? &lt;br /&gt;
* Mudahnya anak-anak belajar mengatakan “Tidak!” &lt;br /&gt;
* Mudahnya mereka dapat melupakan berbuat seperti yang telah diberitahukan. &lt;br /&gt;
* Menakjubkannya bagaimana dua orang anak dapat menginginkan mainan yang sama – mainan yang mereka tidak pernah pedulikan selama enam minggu – pada saat yang bersamaan, tidak mempedulikan mainan lainnya yang tersedia. &lt;br /&gt;
* Keuniversalan marah-marah dan mengambek.}}Donald MacLeod mengatakan, “[Ketidakmampuan total] berarti pertobatan itu melebihi kapasitas manusia biasa.”&amp;lt;ref&amp;gt;Donald MacLeod from ''Gathered Gold'' (Hertfordshire, England: Evangelical Press, 1984), p. 65.&amp;lt;/ref&amp;gt; Lepas dari Kristus, tidak ada yang manusia lakukan yang dapat menyenangkan Tuhan karena ia tidak dimotivasi oleh anugerah Tuhan ataupun merasa peduli akan kemuliaan Tuhan. Dan Tuhan sepenuhnya memperhatikan motivasi kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yeremia memberikan ekspresi tentang ketidakmampuan total ketika ia bertanya, “Dapatkah orang Etiopia mengganti kulitnya atau macan tutul mengubah belangnya? Masakan kamu dapat berbuat baik hai orang-orang yang membiasakan diri berbuat jahat?” (Yer 13:23). Ketika Paulus mengatakan kepada orang-orang Efesus bahwa mereka telah ''mati'' karena pelanggaran mereka, ia menolong mereka untuk mengerti tidak hanya anugerah Tuhan yang begitu agung dalam menyelamatkan mereka, tetapi juga kebutuhan absolut mereka akan anugerah itu. Orang yang telah mati tidak akan dapat berpartisipasi untuk menyelamatkan dirinya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu apa yang terjadi setelah pertobatan? Apakah dosa tidak lagi ada? Oh, seandainya saja itu yang terjadi! {{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:'''&amp;lt;br&amp;gt; Peran apa yang dimainkan air batisan dalam pergumulan kita melawan dosa? (Lihat Rom 6:1-11)}}Kekuatan dosa terhadap seseorang yang telah lahir kembali secara pasti telah dipatahkan. Roma 6 menjelaskan bahwa sementara kehadiran dosa masih menjadi sebuah faktor, hubungan kita dengan dosa telah diubahkan secara radikal. Roh Kudus sekarang tinggal di dalam kita, menunjukkan kita jalan untuk berjalan dalam Tuhan. Kita tidak lagi diperhamba oleh dosa. Dosa tidak mendominasi atau menguasai kita; kita tidak berkewajiban mematuhi bujukan dosa. {{RightInsert|” Ia yang melihat dosa hanya sebagai sebuah fiksi, sebagai sebuah kemalangan, atau sebagai sebuah tetes, melihat tidak adanya kebutuhan baik untuk pertobatan yang mendalam maupun penebusan yang besar. Ia yang melihat tidak ada dosa dalam dirinya sendiri akan merasa ia tidak membutuhkan seorang Juru Selamat. Ia yang tidak menyadari iblis bekerja di dalam hatinya, tidak akan menginginkan perubahan sifat. Ia yang menganggap dosa sebagai masalah sepele akan berpikir beberapa tetes air mata atau reformasi luar cukup memuaskan. Kebenarannya adalah tidak ada orang yang yang pernah menganggap dirinya orang yang lebih berdosa di hadapan Tuhan daripada keadaannya sesungguhnya. Tidak ada juga orang yang pernah lebih merasa menderita akan dosanya daripada yang telah ia sebabkan.&amp;lt;ref&amp;gt;William Plumer, ''The Grace of Christ,'' p. 20.&amp;lt;/ref&amp;gt;” – William S. Plumer}}Ancaman penghakiman tidak lagi menggantung di kepala kita. Namun kita terus merakan pengaruh dosa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| Satu atau dua kata apa yang dapat Anda kaitkan dengan hukuman dosa? Kekuatan dosa? Kehadiran dosa? Tulis jawaban Anda di bawah judul masing-masing di bawah. &amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
‘''Hukuman -- Kekuatan -- Kehadiran'''}}Satu cara yang membantu kita untuk mengerti pembebasan kita dari dosa memiliki tiga kata keterangan waktu yang berbeda: ''kita telah'' dibebaskan dari ‘''hukuman''' dosa; kita ''sedang'' dibebaskan dari ‘''kekuatan''' dosa; kita ''akan'' dibebaskan dari ‘''kehadiran''' dosa. Tetapi, seironis kedengarannya, semakin dekat seseorang berjalan bersama Tuhan, semakin besar pengetahuan dan kesadarannya akan dosa. Saya ingat ketika masih kecil dikagumkan oleh partikel debu yang menari di dalam cahaya yang bersinar melalui jendela. Debu itu ada di mana-mana, tetapi hanya dapat dilihat dengan cahaya. Begitu juga dengan dosa. Dosa dimanifestasi oleh cahaya Firman Tuhan dan Roh Kudus. Semakin kuat cahaya itu, semakin terlihat debu itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Ilalang Buruk dengan Akar yang Dalam ===&lt;br /&gt;
Sebagai pencinta buku-buku lama, terutama tulisan-tulisan dari Puritan, saya seringkali menemukan diri saya bergumul dengan penekanan terhadap dosa yang diberikan oleh generasi terdahulu, bahkan di dalam kehidupan orang-orang yang telah bertobat. ''Di manakah kemenangan dalam hidup mereka?'' Saya merasa heran pada saat saya pertama membaca tulisan-tulisan itu. Sejak itu saya menjadi mengerti bahwa kesadaran mereka akan dosa, seberapa tajamnya itu, tidak melebihi kesadaran mereka akan anugerah dan kemurahan Tuhan dalam pengampunan dosa itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Renungkan Roma 5:20-21.'''. Bagaimana kesadaran akan dosa memperdalam rasa syukur kita akan anugerah Tuhan?}}Pertimbangkan Jonathan Edwards, contohnya, dikenal karena kehidupannya yang kudus serta ajarannya yang hebat. Edwards mengatakan memiliki “rasa akan kebejatan diri saya sendiri dan keburukan hati saya sendiri yang sangat lebih besar daripada yang saya rasakan sebelum pertobatan” – sebuah tanda kesehatan rohani, menurut pendapatnya! &amp;lt;ref&amp;gt;Jonathan Edwards, ''The Works of Jonathan Edwards, Vol. 1'' (Carlisle, PA: The Banner of Truth Trust, 1974), p. xlvii.&amp;lt;/ref&amp;gt; Penerus dan penulis biografinya, Serano Dwight, merasakan kebutuhan untuk menjelaskan pemikiran kakeknya. Bukannya Edwards ''memiliki'' kejahatan lebih, tulis Dwight, melainkan ia memiliki ''kesadaran'' yang lebih akan kebejatannya. Ia lalu menerangkan observasinya dengan sebuah analogi:&lt;br /&gt;
:Seumpama seorang buta memiliki sebuah taman penuh dengan ilalang buruk dan beracun. Ilalang-ilalang itu berada di taman tetapi ia tidak menyadarinya. Seumpama taman itu, sebagian besarnya, dibersihkan dari ilalang, dan banyak tumbuhan dan bunga-bunga indah dan berharga menggantikan ilalang-ilalang tadi. Orang buta itu lalu memperoleh kembali penglihatannya. Ada ''lebih sedikit'' ilalang, tetapi ia lebih menyadarinya. Jadi, semakin terang penglihatan spiritual kita, semakin besar kesadaran kita akan dosa. &amp;lt;ref&amp;gt;Ibid.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|Saya tidak memiliki toleransi bagi mereka yang menjunjung psikologi di atas Firman, doa syafaat, dan pengcukupan Allah yang sempurna. Dan saya tidak memiliki kata-kata penguatan bagi orang-orang yang mengharapkan untuk mencampur psikologi dengan sumber-sumber ilahi dan menjual campuran ini sebagai akses spiritual. Metodologi mereka membuat pernyataan bisu bahwa apa yang Tuhan telah berikan di dalam Kristus tidaklah cukup untuk memenuhi kebutuhan terdalam kita dan menenangkan kehidupan kita yang bermasalah.&amp;lt;ref&amp;gt;John MacArthur, Jr., ''Our Sufficiency in Christ'' (Dallas, TX: Word Publishing, 1991), p. 70.&amp;lt;/ref&amp;gt;” – John MacArthur, Jr.}}Kata-kata berikut dari J.C. Ryle memberikan rangkuman yang baik atas bab doktrin dosa kita:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dosa – infeksi secara natural tetap ada, ya bahkan di dalam mereka yang telah diperbaharui. Begitu dalamnya akar kejahatan manusia, sehingga bahkan setelah kita dilahirkan kembali, diperbaharui, dibasuh, disucikan, dibenarkan, dan dibuat anggota hidup dari Kristus, akar ini tetap hidup di dasar hati kita dan, seperti kusta di dinding rumah, kita tidak pernah meninggalkannya sampai rumah duniawi di tabernakel ini dihancurkan. Dosa, tidak diragukan lagi, di dalam hati orang percaya, tidak lagi memiliki kuasa. Dosa itu diperiksa, dikontrol, direndahkan, disalibkan oleh kuasa ekspulsif dari prinsip baru anugerah. Hidup orang percaya adalah hidup kemenangan dan bukan kegagalan. Tetapi pergumulan yang terjadi dalam batinnya, peperangan yang ia temukan perlu diperangi setiap hari, kecemburuan yang mengawasi yang harus dipraktekannya terhadap kehidupan batinnya, perseteruan antara daging dan roh, rintihan di dalam ''yang tak seorangpun tahu kecuali dia yang mengalaminya'' – semua membuktikan satu kebenaran besar:  kuasa dan kekuatan dosa yang besar….Berbahagialah orang percaya yang mengertinya, dan sementara ia bersukacita di dalam Yesus Kristus, tidak bergantung pada daging, dan sementaraa ia mengucap syukur pada Tuhan yang memberikan kita kemenangan, tidak pernah lupa untuk berjaga-jaga dan berdoa kalau tidak ia jatuh dalam pencobaan.”&amp;lt;ref&amp;gt;J.C. Ryle, ''Holiness'', p. 5.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Diskusi Kelompok==&lt;br /&gt;
# Bagi kelompok menjadi dua tim, sisi “Ilmu Alam/Pendidikan” dan sisi “Keselamatan.” Biarkan setiap kelompok bergantian memberikan masukan penyakit sosial yang dapat mereka sembuhkan. Tim yang manakah yang melakukan paling banyak kebaikan bagi kemanusiaan? &lt;br /&gt;
# “Model moral dari pengertian akan tanggung jawab dan permasalahan manusia semua telah digantikan oleh model kedokteran,” kata penulis (Halaman 14). Bukti apa yang Anda lihat di tubuh Kristus berkenaan dengan perubahan tersebut? &lt;br /&gt;
# Bukankah Tuhan sudah cukup dewasa untuk tidak diusik oleh dosa kecil kita yang tidak penting? &lt;br /&gt;
# Dalam skala satu sampai sepuluh, beri nilai apa yang gaya hidup Anda katakan tentang keseriusan dosa. (1 = sama sekali tidak serius, 10 = sangat serius)&lt;br /&gt;
# Bagaimana esensi dosa didefinisikan? (Halaman 17) Apakah Anda setuju?&lt;br /&gt;
# Baca Roma 3:10-18 dengan bersuara. Cobalah sepenuhnya jujur: Apakah Anda bergumul dengan kenyataan bahwa hal ini menggambarkan ''Anda'', lepas dari anugerah penebusan Tuhan? &lt;br /&gt;
# Apa yang kita warisi dari Adam? Dari Yesus? &lt;br /&gt;
# Bagaimana Anda menjelaskan “ketidakmampuan total” (Halaman 19-20) kepada orang non-Kristen?&lt;br /&gt;
# Bahas lagi ketiga kata keterangan waktu akan pembebasan kita dari dosa (Halaman 20-21). Bagaimana penjelasan ini mengajarkan Anda? &lt;br /&gt;
# Diskusikan kalimat terakhir di kutipan rangkuman dari J.C. Ryle (Halaman 22).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bacaan yang Direkomendasikan==&lt;br /&gt;
* Chosen by God by R.C. Sproul (Wheaton, IL: Tyndale House Publishers, 1986) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Catatan == &lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Sukartay</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/The_Holiness_of_God/id</id>
		<title>This Great Salvation/The Holiness of God/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/The_Holiness_of_God/id"/>
				<updated>2007-09-20T23:09:29Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Sukartay: /* Menghampiri Allah yang Kudus */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&amp;lt;noinclude&amp;gt;{{InfoBar&lt;br /&gt;
|author=C.J. Mahaney, Robin Boisvert&lt;br /&gt;
|editor=Greg Somerville&lt;br /&gt;
|partnerurl=http://www.sovereigngraceministries.org&lt;br /&gt;
|partner=Sovereign Grace Ministries&lt;br /&gt;
|other=It is part of the ''In Pursuit of Godliness'' series.&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
= Kekudusan Allah =&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
Saya merasa cukup antusias ketika menghadiri pertemuan malam itu. Waktu seorang teman baik muncul, saya berteriak kepadanya dari seberang ruangan, “Ayo kemari, dalam nama Yesus!” Tak lama kemudian seorang pemuda lain secara diam-diam menghampiri saya dan mengungkapkan rasa prihatinnya bahwa saya telah menggunakan nama Yesus dengan cara yang tidak serius. Dengan wajah merah karena malu, saya bergumam, “Terima kasih kamu telah menunjukkan hal itu.” Jelas bahwa pemuda itu merasa prihatin terhadap saya secara pribadi. Saya juga tahu bahwa ia telah berkata benar dan bahwa ia telah menunjukkan rasa hormat yang lebih atas kemuliaan Tuhan daripada saya sendiri. Walaupun sesungguhnya saya tidak pernah bermaksud buruk, peristiwa tadi membuat saya sadar kalau saya telah menjadi terlalu terbiasa dengan nama Tuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak begitu pada mulanya. Pada saat pertobatan saya tiga tahun lalu, saya dicengangkan oleh kuasa Tuhan yang mengubah hidup saya. Pertemuan-pertemuan yang disertai kehadiran-Nya dan jawaban-jawaban doa yang luar biasa telah meyakinkan saya akan realitas Roh Kudus dan kasih Yesus Kristus. Siapa lagi yang dapat secara total menyembuhkan rasa depresi dan tanpa harapan yang telah menguasai saya? Namun ketika intensitas bulan-bulan pertama itu berangsur-angsur mereda menjadi iman yang lebih konsisten, sesuatu yang lain meresap masuk. Keagungan kemuliaan Allah telah terkikis oleh rasa familiar yang bertumbuh. Sudah saatnya untuk memikirkan ulang kekudusan Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Renungkan 1 Tawarikh 16:23-36.''' Apakah anda menangkap adanya usaha keras rohani di dalam sikap Daud terhadap kekudusan Allah?}}Kukudusan. Kata itu sendiri membuat kita membayangkan pendeta-pendeta yang tidak tahu humor di dalam sebuah kuil tak berwarna yang sedang makan makanan tanpa rasa dan menjalani hidup tanpa sukacita. Atau mungkin wajah sedih, gaun panjang, dan daftar panjang berjudul “dilarang.” Tetapi bagaimana dengan keindahan? Apakah kata ‘kekudusan’ membangkitkan ide-ide tentang keindahan? Mungkin tidak. Namun keindahan adalah sebuah kualitas yang sering dihubungkan dengan kekudusan Allah. Di dalam kitab Mazmur kita didorong untuk menyembah Allah “dalam keindahan kekudusan” (Mzm 29:2; 96:9). Kukudusan dikatakan selamanya memperluas penampilan bait suci Allah: “Peraturan-Mu sangat teguh; bait-Mu layak kudus, ya Tuhan, untuk sepanjang masa” (Mzm 93:5).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun Alkitab menunjukkan penghargaan yang jelas dan positif terhadap kekudusan, kebanyakan dari kita tetap menyamakan kekudusan dengan kerja keras. Hanya dengan menyebut kata ‘kekudusan’ pikiran kita akan langsung tertuju pada hal-hal yang kita anggap sebagai tanggung jawab orang Kristen. Tetapi pengertian yang tepat akan kekudusan harus ditelusuri kembali ke sumber dari segala kekudusan – Allah sendiri. Dan saat kita memandang kekudusan Allah, kita tidak sedang berurusan dengan tanggung jawab manusia sama sekali melainkan dengan atribut Allah yang paling menarik dan mengagumkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ahli teologi Stephen Charnock menekankan bahwa di antara berbagai kualitas Allah, ada beberapa yang lebih kita sukai karena berkat-berkat yang bisa langsung kita dapatkan darinya. Misalnya, kita lebih memilih menyanyikan kemurahan Tuhan daripada memikirkan akan keadilan dan murka-Nya. Kita lebih cenderung untuk merenungkan Juru Selamat yang penyayang daripada memikirkan Tuhan yang pencemburu. Tapi ada beberapa sifat ilahi yang Tuhan sendiri nikmati karena sifat-sifat itu mengekspresikan kebesaran-Nya secara sempurna. Kekudusan adalah sifat itu.&amp;lt;ref&amp;gt;Stephen Charnock, ''The Existence and Attributes of God, Vol. II'' (Grand Rapids, MI: Baker Book House, 1979 reprint), p. 112.&amp;lt;/ref&amp;gt; Makhluk-makhluk surgawi yang misterius itu, serafim dan keempat mahluk hidup, mengetahui bahwa kekudusan Allah harus digaris bawahi. Coba pikirkan. Mereka tinggal di dalam hadirat-Nya dan memiliki penglihatan yang tanpa halangan akan realitas (sementara kita melihat melalui kaca gelas yang gelap). Kalau ada makhluk yang pernah “tahu,” merekalah makhluk itu. Dan oleh karena itu, berulang-ulang, siang dan malam, mereka tidak pernah berhenti bersorak, “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, yang Mahakuasa” (Yesaya 6:3, Wahyu 4:8).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kekudusan berbeda dari kesempurnaan Allah yang lain, karena kekudusan meluas ke seluruh sifat Allah lainnya. Karena itu kasih-Nya adalah kasih yang ''kudus'', keadilan-Nya adalah keadilan yang ''kudus'', dan seterusnya. Jika sifat-sifat Allah dapat dianggap sebagai bermacam sisi dari sebuah permata, maka kekudusan adalah cahaya gabungan dari sisi-sisi itu yang bersinar keluar dalam sinar kemuliaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Superstisi Keagamaan ===&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Renungkan Matius 5:17-20.''' Menurut anda dapatkah hal ini menjelaskan mengapa Perjanjian Baru mengandung 90 acuan pada kitab Imamat?}}Firman Tuhan berbicara banyak tentang kekudusan. Kitab pertama, Kejadian, memaparkan kejatuhan manusia. Lalu Keluaran, dengan figur utama lembu Paskah, menunjukkan pemulihannya. Selanjutnya adalah kitab Imamat. Ah, Imamat – kitab yang telah membuat banyak murid Alkitab yang penuh harapan menjadi tersendat dalam usaha tahunan mereka untuk membaca seluruh Alkitab. Namun buku ini sangat penting bagi pengertian kita akan kekudusan. Imamat juga memberikan penerangan penting mengenai korban penebusan Tuhan Yesus Kristus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Adalah sesuatu yang selalu penting untuk mengingatkan diri kita sendiri akan keagungan kesempurnaan moral yang absolut, yang mengelilingi Pribadi Ilahi. Tanpanya, penyembahan sejati akan mengecil dan manusia akan menjadi arogan.&amp;lt;ref&amp;gt;T.C. Hammond, ''In Understanding Be Men'' (London, England: InterVarsity Fellowship, 1938).&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; - T.C. Hammond}}Di dalam kitab Imamat Tuhan menunjukkan manusia bagaimana kita harus menghampiri-Nya dalam penyembahan. Kitab ini secara khusus fokus pada beberapa kurban yang berbeda yang Tuhan pinta agar umat-Nya dapat ''berdamai'' dengan-Nya, dan beberapa persiapan makanan yang Tuhan perintahkan agar mereka dapat ''terus berdamai'' dengan-Nya.&amp;lt;ref&amp;gt;Henrietta Mears, ''What the Bible Is All About'' (Ventura, CA: Regal Books, 1983), p. 51.&amp;lt;/ref&amp;gt; Betapapun membingungkan dan tidak relevannya sistem kurban yang rinci ini bagi kita sekarang, Tuhan mengadakan semua itu untuk mengajarkan umat-Nya sebuah kebenaran yang mendalam yaitu bahwa ''Ia kudus''.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata kekudusan menyiratkan keterpisahan dari segala sesuatu yang tidak murni.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibid., p. 58.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dia adalah ''sesuatu yang lain'' dari kita. Walaupun hal ini kelihatannya sederhana, tapi tetap harus dinyatakan karena adanya pemikiran-pemikiran masa kini tentang kekuatan “Era Baru” (“New Age”) dalam diri kita dan sifat keilahian yang dipercaya tertanam dalam diri manusia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam Firman Tuhan, hal-hal yang biasa yang Tuhan sentuh menjadi luar biasa. Contohnya, area di sekeliling semak duri menyala ditandai sebagai tanah yang kudus karena merupakan tempat pewahyuan Allah dan karena itu adalah tindakan yang tepat bila Musa menanggalkan sandalnya karena rasa hormat kepada Allah. Atau pertimbangkan peralatan yang digunakan di dalam upacara di tabernakel dan bait suci. Peralatan itu tidak biasa pula. Peralatan itu kudus. Begitu pula persekutuan kudus, altar kudus, minyak urapan kudus, dan hari-hari kudus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang membuat semua itu kudus? Allah yang kudus. Tuhan memilih hal-hal yang biasa dan membuatnya menjadi spesial dengan memisahkannya untuk tujuan yang kudus, terutama untuk mengkomunikasikan kepada umat-Nya bahwa ''Ia'' kudus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:'''&amp;lt;br&amp;gt; Orang-orang Farisi menjalan superstisi keagamaan secara ekstrim, seperti dapat dilihat di Matius 23:16-22. Apakah Yesus memuji perbuatan mereka?}}Sayangnya, banyak orang yang tidak melihat point ini dan berakhir dengan superstisi bersifat religius. Satu kali, saya menerima telepon pada larut malam dari seorang wanita lanjut usia yang meminta saya untuk bertemu dengannya untuk berdoa. Wanita ini bersikeras ada hal yang tidak bisa ditunda dan kami harus bertemu malam itu di “rumah Tuhan.” Saya mengusulkan, mengingat waktu saat itu, tempat umum mungkin lebih pantas daripada gedung gereja yang kosong, tetapi ia tetap bersikeras agar kami bertemu di “rumah Tuhan.” Wanita ini telah salah dalam memberikan kualitas khusus yang hanya dimiliki oleh Tuhan kepada sebuah tempat. Ia tidak menyadari bahwa di jaman Perjanjian Baru ini, tidak ada satu tempatpun yang dengan sendirinya kudus – tidak juga “Tanah Suci” (the “Holy Land”). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nabi Yeremia yang menyadari akan sikap yang sama di antara sesamanya menulis, “Janganlah percaya kepada perkataan dusta yang berbunyi: Ini bait Tuhan, bait Tuhan, bait Tuhan!” (Yer 7:4). Walaupun mereka memiliki rasa takut dan hormat pada struktur fisik bait suci, bangsa Israel yang terus mengulang “bait Tuhan” memiliki hati yang telah berpindah jauh dari Tuhan yang adalah Tuhan dari bait suci. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Perikop Alkitab di bawah ini mendemonstrasikan tiga kasus dimana rasa hormat untuk perkakas, acara ritual ataupun gedung keagamaan merusak hubungan antara manusia dengan Allah.  Di tempat di bawah setiap referensi, rangkum secara singkat masalah yang ada. &lt;br /&gt;
* Bilangan 21:6-9; 2 Raja-Raja 18:1-4&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Lukas 13:10-16&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Markus 13:1-2; Matius 26:59-62; Matius 12:3-6&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
}}Saya melihat hal yang sama terjadi ketika satu pasangan muda-mudi yang belum diselamatkan dan tidak tertarik untuk mengikuti Yesus Kristus tapi menganggap adalah hal yang mutlak penting mereka menikah di gedung gereja. Apalagi sebabnya kalau bukan karena perasaan superstisius bahwa seolah-olah pernikahan akan diberkati apabila dilaksanakan di sebuah gedung “suci”? Meletakkan arti penting yang tidak sepantasnya pada gedung atau upacara atau perkakas keagamaan sama dengan tidak berbuat apa-apa untuk menunjukkan rasa hormat kepada Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah, di dalam Firman Tuhan, memisahkan beberapa benda untuk penggunaan khusus, tetapi Ia memiliki maksud tertentu mengapa melakukannya – untuk mengajarkan kita bahwa ''Ia'' adalah kudus dan harus dihormati. Dengan alasan ini, maka, menggunakan benda-benda suci dengan cara yang biasa atau tidak hormat adalah perbuatan yang menghina Allah.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Renungkan 1 Samuel 6:19-20.''' Apakah rasa kagum campur heran anda terhadap Tuhan menyamai rasa kagum dan heran yang dialami orang-orang Bet-Semes?}}Bab kelima dari kitab Daniel menceritakan sebuah cerita yang tidak asing lagi tentang tulisan di dinding, ketika Tuhan menuliskan penghakiman ilahi-Nya terhadap raja Babel. Apa yang membangkitkan murka-Nya? Beltsazar telah mengotori apa yang Tuhan nyatakan kudus, seperti dikatakan Daniel, “Kemudian dibawalah perkakas dari emas dan perak itu, yang diambil dari dalam Bait Suci, Rumah Allah di Yerusalem, lalu raja dan para pembesarnya, para isteri dan para gundik mereka minum dari perkakas itu; mereka minum anggur dan memuji-muji dewa-dewa dari emas dan perak, tembaga, besi, kayu dan batu” (Dan 5:3-4).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Daniel dipanggil untuk menterjemahkan tulisan misterius itu, ia mengambil kesempatan untuk menegur keras sang raja. Perkataan terakhirnya menyimpulkan dosa Beltzasar: “tuanku tidak muliakan Allah yang menggenggam nafas tuanku dan menentukan segala jalan tuanku” (Dan 5:23).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kegagalan Beltzasar untuk memuliakan benda-benda milik Tuhan sama dengan kegagalan untuk memuliakan Tuhan; hujatannya harus dibayar dengan hidupnya. Peristiwa seperti ini tersebar di seluruh Alkitab untuk mengingatkan apa yang bisa terjadi ketika seseorang memutuskan untuk bermain-main dengan perabot milik Tuhan. Apakah segera ataupun di penghujung jaman, penghakiman akan dilaksanakan bagi dosa terhadap kekudusan Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===“Factor Pemecah” ===&lt;br /&gt;
Tuhan sangatlah berbeda dengan kita. Meskipun kita diciptakan serupa peta dan teladan Allah, pikiran dan jalan-jalan-Nya begitu sangat melampaui pikiran dan jalan kita sehingga Yesaya menyamakan keduanya seperti jarak antara langit dan bumi (Yes 55:8, 9). Mungkin di sinilah perbedaan itu menjadi begitu jelas sehubungan dengan kesempurnaan moral-Nya. Seperti Habakuk mengekspresikannya, “Mata-Mu terlalu suci untuk melihat kejahatan dan Engkau tidak dapat memandang kelaliman” (Hab 1:13). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Betapa lamban kita untuk percaya pada Tuhan sebagai Tuhan, berdaulat, melihat segalanya dan berkuasa! Betapa kecil kita jadikan kemuliaan Tuhan dan Juru Selamat kita Yesus Kristus! Kita perlu ‘menantikan Tuhan’ dalam meditasi akan kemuliaan-Nya, sampai kita menemukan kekuatan kita diperbaharui dengan mengukir semua itu di dalam hati kita.&amp;lt;ref&amp;gt;J.I. Packer, ''Knowing God'' (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1973), p. 79.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; - J.I. Packer}}Kukudusan mutlak Allah jauh melampaui sekedar ketidakberdosaan. Kekudusan ini adalah ekspresi positif dari kebaikan-Nya, bukan hanya ketidakberadaan dosa. Kita semua pernah bertemu orang-orang yang karakternya bersinar jauh lebih terang daripada kita sendiri sehingga kita merasa kecil dan hina bila dibandingkan dengan mereka. Saya memiliki seorang teman yang, sebelum ia mencukur jambangnya, terlihat seperti gabungan antara Abraham Lincoln dan Yesus (seperti digambarkan di ilustrasi kontemporer). Kemiripan ini bukan hanya dalam soal penampilan fisik. Kebaikan hatinya dan hikmatnya yang lembut sungguh luar biasa. Meskipun ia sedih mengetahui hal ini, berada bersamanya mengingatkan saya akan sifat mementingkan diri saya sendiri. Bila perbandingan dengan sesama manusia saja bisa membuat kita merasa begitu rendah, bayangkan perasaan tidak nyaman yang akan kita rasakan di dalam kehadiran Allah yang kudus!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk studi lebih lanjut:'''&amp;lt;br&amp;gt; Bila anda menginginkan wahyu baru dari kekudusan dan kekuatan kedaulatan Allah, cobalah pelajari kata pendek ini: “bergetar” - Keluaran 15:13-16; Ayub 9:4-6; Mazmur 99:1-3; Yesaya 64:1-4; Yeremia 23:9; Yehezkiel 38:20-23; Yoel 3:16; Habakuk 3:6..}}Hal inilah yang terjadi pada Petrus. Yesus mencengangkan Petrus di suatu hari dengan mujizat penangkapan ikan. Tapi bukannya bersukacita di atas kapal, yang dapat Petrus lihat hanyalah keadaan dirinya sendiri yang penuh dosa. Saat berhadapan dengan kekudusan Yesus, Petrus melihat dirinya sendiri seperti apa adanya, dan kenyataan itu sangat menghancurkan. “Simon Petrus…tersungkur di depan Yesus dan berkata, ‘Tuhan, pergilah daripadaku, karena aku ini seorang berdosa!’” (Luk 5:8). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak dibutuhkan waktu lama bagi Petrus untuk melupakan kekudusan Tuhan, seperti kita lihat di pasal selanjutnya di gunung transfigurasi. Peristiwa agung ini mencatat kunjungan dua tokoh terkemuka dari masa lalu Israel, Musa dan Elia. Tambah lagi, Yesus yang bertransfigur menjadi terang berkilauan seperti kilat. Tapi Petrus, bukannya tersungkur di hadapan Tuhan seperti yang ia lakukan sebelumnya, nampak tidak sadar akan apa yang sedang terjadi. {{RightInsert|Bacalah deskripsi Yohanes tentang Yesus Kristus di kitab Wahyu 1:10-16. Detail apa yang menarik perhatian anda paling jelas? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
}}Ia menjadi banyak bicara dan mengusulkan mungkin mereka dapat membuat kemah sementara untuk setiap orang. Saat itulah Allah Bapa turun tangan secara pribadi. “Sementara [Petrus] berkata demikian, datanglah awan menaungi mereka. Dan ketika mereka masuk ke dalam awan itu, takutlah mereka. Maka terdengarlah suara dari dalam awan itu, yang berkata, ‘Inilah anak-Ku yang Kupilih; dengarkanlah Dia.’” (Luk 9:34-35). Hal ini sepertinya membuat Petrus dan yang lainnya tersadar, seperti Matius tekankan, “Mendengar itu tersungkurlah murid-murid-Nya dan mereka sangat ketakutan” (Mat 17:6).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Ketika penghakiman (Tuhan) jatuh pada Nadab atau Uzzah, respon kita adalah keterkejutan dan amarah. Kita telah mengharapkan Tuhan untuk bermurah hati. Dari sana, langkah selanjutnya adalah mudah: kita menuntutnya. Saat hal itu tidak muncul, respon pertama kita adalah marah terhadap Tuhan, ditambah dengan protes: “Ini tidak adil.” Kita cepat melupakan bahwa dengan dosa pertama kita, kita telah menyerahkan segala hak atas anugerah kehidupan. Bahwa saya bernafas pagi ini adalah sebuah kemurahan ilahi. Tuhan tidak berhutang apapun pada saya. Saya berhutang segala-galanya pada-Nya.&amp;lt;ref&amp;gt;R.C. Sproul, ''The Holiness of God'' (Wheaton, IL: Tyndale House Publishers, 1985), p. 164.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; -R.C. Sproul}}Nabi Yesaya memiliki pengalaman dramatis yang membekas dalam dirinya selamanya. Ia melihat visi Tuhan “duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang, dan ujung jubahnya memenuhi Bait Suci” (Yes 6:1). Di dalam penglihatan ini makhluk-makhluk malaikat mendeklarasikan kekudusan Allah yang begitu besar. “Maka bergoyanglah alas ambang pintu disebabkan suara orang yang berseru itu dan rumah itu penuhlah dengan asap” (ayat 4). Sepenuhnya dibuat tak berdaya oleh penglihatan luar biasa itu, Yesaya memberi satu-satunya respon yang layak, “Celakalah aku! Aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni Tuhan semesta alam” (ayat 5).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Untuk studi lebih lanjut:'''&amp;lt;br&amp;gt;Perikop-perikop berikut ini menceritakan pertemuan dengan malaikat - Bilangan 22:21-31; Hakim-Hakim 6:20-23; Matius 28:2-4; Lukas 2:8-10.}}Beberapa orang menamakan pengalaman Yesaya “faktor pemecah.” R.C. Sproul menulis, “Untuk pertama kali dalam hidupnya Yesaya mengerti siapa Tuhan itu. Pada saat yang sama, untuk pertama kalinya Yesaya mengerti siapa Yesaya itu.” Jika kata “intergritas” berarti keseluruhan (integer adalah angka penuh), disintegrasi berarti pecah menjadi butiran-butiran. Kebanyakan dari kita mencoba keras menjadikan hidup kita “utuh.” Dan kalaupun kita luluh berantakan, setidaknya kita kelihatan seolah “utuh.”  Betapa menyedihkannya, lalu, untuk berada di hadirat Allah dan luluh berantakan sepenuhnya saat kita menemukan betapa dalamnya keberdosaan kita sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Menghampiri Allah yang Kudus=== &lt;br /&gt;
Pengenalan akan keberdosaan pada mulanya menghasilkan perasaan benci terhadap Tuhan. Hampir dalam setiap peristiwa Alkitab tentang kunjungan malaikat, individu-individu yang bersangkutan jatuh tersungkur karena ketakutan. {{LeftInsert|&amp;quot;Tuhan adalah satu-satunya penghiburan, Ia juga adalah teror terbesar: sesuatu yang kita paling butuhkan dan sesuatu yang darinya kita paling ingin sembunyi…Sebagian orang berbicara seolah bertemu pandang dengan kebajikan mutlak adalah menyenangkan. Mereka perlu berpikir ulang. Mereka masih bermain-main dengan agama.&amp;lt;Ref&amp;gt;C.S. Lewis, ''Mere Christianity'' (New York: Macmillan Publishing Co., Inc., 1943), p. 38.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; - C.S. Lewis}}Betapa lebih lagi mereka yang melihat Allah di dalam keagungan kekudusan-Nya. Bangsa Israel yang berdiri di Gunung Sinai saat gunung itu bergetar dengan kehadiran kudus Allah memohon kepada Musa untuk menjadi perantara mereka, penengah mereka. Musa memperingatkan mereka akan hal ini:&lt;br /&gt;
:Ketika kamu mendengar suara itu dari tengah-tengah gelap gulita, sementara gunung itu menyala, maka kamu, yakni semua kepala sukumu dan para tua-tuamu mendekati aku dan berkata, “Sesungguhnya Tuhan, Allah kita telah memperlihatkan kepada kita kebesaran dan kemuliaan-Nya, dan suara-Nya telah kita dengar dari tengah-tengah api. Pada hari ini telah kami lihat, bahwa Allah berbicara dengan manusia dan manusia itu tetap hidup. Tetapi sekarang, mengapa kami harus mati? Sebab api yang besar ini akan menghanguskan kami. Apabila kami lebih lama lagi mendengar suara Tuhan, Allah kita, kami akan mati. Sebab makhluk manakah yang telah mendengar suara dari Allah yang hidup yang berbicara dari tengah-tengah api seperti kami dan tetap hidup? Mendekatlah engkau dan dengarkanlah segala yang difirmankan Tuhan, Allah kita, dan engkaulah yang mengatakan kepada kami segala yang difirmankan kepadamu oleh Tuhan, Allah kita, maka kami akan mendengar dan melakukannya” (Ul 5:23-24).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Di dalam The Chronicles of Narnia, pengarang C.S. Lewis menggunakan singa yang mulia Aslan untuk menggambarkan Yesus. Pada satu saat, sebuah karakter berbicara tentang Aslan, “Sepertinya ia bukan singa yang jinak.”&amp;lt;ref&amp;gt;C.S. Lewis, ''The Voyage of the “Dawn Treader”'' (New York: Macmillan Publishing Co., Inc., 1952), p. 138.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dapatkah anda memikirkan contoh-contoh dari Alkitab atau interaksi anda sendiri dengan Tuhan yang menunjukkan bahwa Ia tidaklah “jinak”?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
}}Satu kali saya mendengar John Wimber berbicara tentang orang-orang yang tidak menginginkan hubungan dengan Tuhan karena mereka menganggapnya terlalu berbahaya. Mereka lebih memilih hubungan dengan Kekristenan atau dengan gereja. Sementara hal ini tak diragukan memang benar bagi sebagian orang, seorang Kristen sejati memiliki kerinduan untuk menjadi kudus. Ia mengetahui bahwa hanya orang yang suci hatinya akan melihat Allah (Mat 5:8), dan ia memiliki kerinduan akan kesucian itu yang akan memampukannya untuk memandang Allahnya. Bagi orang Kristen dewasa, pengenalan akan kekudusan Allah meyakinkannya akan kasih Allah. Ia menyadari, meskipun adanya kekudusan Allah dan keberdosaannya sendiri, Tuhan bersabar terhadap dirinya. Ia layak menerima penghakiman tetapi malah menerima kemurahan yang baru setiap pagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita dapat menganggap bahwa usaha kita untuk menjalani hidup Kekristenan memang lemah adanya, tetapi bila kita memiliki kerinduan untuk kekudusan kita bisa terhibur. Allah-lah yang telah meletakkan kerinduan itu di sana dan Ia pasti akan menggenapinya. Namun bagaimana? Bagaimana kita bisa memenuhi perintah Allah yang sepertinya tidak mungkin, “Kuduslah, sebab Aku kudus” (1 Ptr 1:16)? Bagaimana kita bisa menghampiri “Penguasa yang satu-satunya dan yang penuh bahagia, Raja di atas segala raja dan Tuan di atas segala tuan. Dialah satu-satunya yang tidak takluk kepada maut, ''bersemayam dalam terang yang tak terhampiri''. Seorangpun tak pernah melihat Dia dan memang manusia tidak dapat melihat Dia” (1 Tim 6:15-16, penekanan ditambah)? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Renungkan Ibrani 10:19-23.''' Bagaimana Imam Agung kita telah menulis ulang tentang peraturan untuk memasuki tempat maha kudus?}}Kita harus menghampiri dengan rasa gentar, seperti digambarkan jelas melalui pelayanan imam di Perjanjian Lama. Agar imam dapat menghampiri Allah, terdapat peraturan-peraturan yang telah ditetapkan secara ketat. Seseorang tidak dapat memasuki tempat maha kudus kapan saja ia mau. Imam akan memasuki tempat maha kudus hanya sekali setahun yaitu pada Hari Penebusan. Pertama ia harus mempersembahkan kurban bagi dirinya sendiri, darah kurban itu menjadi peringatan atas dosanya dan atas kekudusan Allah. Kemudian ia harus berpakaian khusus. Di salah satu ujung jubahnya, terdapat selang seling lonceng dan buah delima yang akan menimbulkan bunyi untuk membuktikan bahwa ia masih hidup, bahwa ia belum binasa karena kekudusan Allah. Menurut tradisi, sebuah tali yang panjang diikatkan pada si imam supaya bila ia mati di hadirat Tuhan imam-imam lainnya dapat menariknya keluar tanpa harus masuk ke dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Oh orang berdosa, dapatkah engkau memberi alasan mengapa, sejak engkau bangkit dari tempat tidurmu pagi ini, Tuhan tidak menghantammu mati?&amp;lt;ref&amp;gt;Jonathan Edwards, “Sinners In the Hands of An Angry God.”&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; - Jonathan Edwards}}Peraturan rumit dan detail ini adalah sebuah peringatan yang jelas: Jangan bermain-main dengan kekudusan Allah. Kedua putra Harun Nadab dan Abihu mendapatkan pelajaran ini secara keras. Ketika mereka mencoba cara baru untuk membakar dupa di hadapan Tuhan, “maka keluarlah api dari hadapan Tuhan lalu menghanguskan keduanya sehingga mereka mati di hadapan Tuhan” (Im 10:2). (Tak perlu dikatakan lagi, itu adalah terakhir kalinya mereka melakukan sesuatu yang baru). Pada momen yang membuat mereka tersadar itu, Musa mengingatkan Harun akan firman Tuhan: “Kepada orang yang karib kepada-Ku Kunyatakan kekudusan-Ku, dan di muka seluruh bangsa itu akan Kuperlihatkan kemuliaan-Ku” (Im 10:3). Tidak ada bagian Alkitab yang lebih baik merefleksikan pusat pewahyuan Perjanjian Lama, seperti yang disimpulkan oleh Salomo: “Takut akan Tuhan adalah permulaan hikmat” (Ams 1:7).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasa gentar adalah esensial, tapi kita tidak akan pernah dapat mendekati hadirat Allah yang kudus apabila bukan karena Perantara kita, Yesus Kristus sendiri. Perantara adalah seorang yang menjembatani jurang antara dua pihak yang berseteru. Dosa kita telah mengasingkan dan membuat murka Allah. Namun hal itu tidak membuat-Nya berhenti mengasihi kita. Kekudusan-Nya sama sekali tidak menyiratkan keengganan-Nya untuk menerima kita. Sebaliknya, Ia mengambil inisiatif mengutus Anak-Nya untuk menjauhkan dosa-dosa kita sehingga di dalam Kristus kita boleh menghampiri hadirat-Nya dan menikmati-Nya selamanya. Seperti dijelaskan oleh Paulus kepada umat di Korintus, “Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus” (2 Cor 5:19). Yesus Kristus, sebagai perantara kita, menderita penghukuman atas ketidaktaatan kita sehingga memungkinkan perdamaian kembali. Tetapi keselamatan adalah keinginan gabungan dan usaha bersama antara Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Kekudusan Allah mengajarkan kita bahwa hanya ada satu cara untuk berhadapan dengan dosa – secara radikal, serius, menyakitkan, konstan. Bila engkau tidak hidup demikian, engkau tidak hidup di hadirat Dia yang Kudus dari Israel.&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''A Heart for God'' (Colorado Springs, CO: NavPress, 1985), p. 130.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; - Sinclair Ferguson}}Biarkan saya menawarkan satu masukan terakhir dari imam Perjanjian Lama. Merupakan tanggung jawab seorang imam untuk menjadi penghubung antara Allah dan manusia. Di bagian bahu dari jubah imam terdapat permata krisopras yang berukir enam nama suku Israel. Di bagian tutup dada jubah terdapat duabelas batu permata yang berbeda, masing-masing untuk keduabelas suku Israel. Ketika ia memasuki tempat maha kudus, imam secara simbolik membawa umat Tuhan di atas bahunya dan di dalam hatinya. Dalam jaman Perjanjian Baru, tentu saja Yesus adalah Imam Besar Agung kita. Begitu besar kasih-Nya buat kita sehingga Ia juga menggendong kita di atas bahu-Nya, menanggung beban kita, dan sebagai teman yang berbelas kasihan, menyimpan kita dekat dengan hati-Nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Renungkan Yesaya 57:15.''' Mengapa Allah kita yang kudus memilih tempat bersemayam kedua di ayat ini?}}Mengenal Yesus sebagai mediator kita memampukan kita untuk melihat Allah bukan hanya sebagai api yang menghanguskan tetapi sebagai Bapa yang kepada-Nya kita telah didamaikan.&amp;lt;ref&amp;gt;J.C. Ryle, ''Expository Thoughts on the Gospels: Luke'' (Hertfordshire, England: Evangelical Press, 1879, 1985), p. 71.&amp;lt;/ref&amp;gt; Kita harus berusaha untuk mengenal dan menghargai pelayanan vital Tuhan kita Yesus. Memahami pentingnya peran Yesus sebagai Imam akan menimbulkan rasa terima kasih yang tulus serta rasa sadar yang lebih besar akan semua yang Tuhan telah lakukan untuk kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Kita Beroleh Bagian=== &lt;br /&gt;
Salah satu dari janji Firman Tuhan yang paling mengagumkan adalah jaminan bahwa kita akan berbagi dalam kekudusan Allah: “Sebab ayah kita mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya” (Ibr 12:10). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Renungkan 2 Korintus 7:1.''' Apakah motif kita mengejar kekudusan? Apa metode kita?}}Bila kita berpikir secara serius tentang kekudusan Tuhan kita, sepertinya tidak dapat dipercaya kita dapat mengalami hal seperti itu. Tapi itulah apa yang ayat dari Ibrani ini nyatakan dengan jelas. Sepasti Tuhan mendisiplin anak-anak-Nya (dan ayat tadi sangat pasti tentang itu), kita akan menikmati sebagian dari kekudusan-Nya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Kekudusan bukanlah sebuah pengalaman; kekudusan adalah penyatuan kembali karakter kita, pendirian lagi akan sebuah kehancuran. Kekudusan adalah usaha keras yang trampil, proyek jangka panjang, menuntut segala sesuatu yang Tuhan telah berikan pada kita untuk hidup dan kesalehan.&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''A Heart for God'', p. 129.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; - Sinclair Ferguson}}Bahwa janji ini melibatkan disiplin seharusnya tidak membuat kita marah atau jengkel. Disiplin adalah metode Tuhan yang telah terbukti dalam menyempurnakan anak-anak-Nya, dan jenis displin Tuhan membutuhkan partisipasi aktif kita. Pasal keduabelas dari Ibrani ini menuntut usaha keras dari pihak kita. Perhatikan bahasa mengenai usaha yang dipakai penulis: “menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita” (ayat 1)…”berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita” (ayat 1)…”Dalam pergumulan kamu melawan dosa” (ayat 4)…”menanggung kesusahan” (ayat 7)…”kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah” (ayat 12)…”Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan; sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan” (ayat 14, penekanan ditambahkan). Disiplin Bapa kita mungkin akan terasa menyakitkan untuk sementara waktu, tapi hal itu memperlengkapi kita untuk menjalani keabadian bersama Allah yang kudus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|Semua disiplin rohani yang terdaftar di bawah dapat membantu anda untuk bertumbuh dalam kekudusan pribadi. Beri tanda satu disiplin dimana anda merasa paling kurang.&lt;br /&gt;
* Pemahaman Alkitab&lt;br /&gt;
* Doa&lt;br /&gt;
* Pengakuan dosa/akuntabilitas&lt;br /&gt;
* Penyembahan&lt;br /&gt;
* Puasa&lt;br /&gt;
}}Yakub adalah seorang yang tentunya telah mengalami kesulitan hidupnya sendiri, banyak di antaranya disebabkan oleh dirinya sendiri. Tetapi di penghujung hidupnya dia bukan lagi Yakub. Namanya adalah Israel. Selama perjalanan terjadi perubahan nama dan juga perubahan karakter. Ia berjalan timpang, bertumpu pada tongkatnya, dan menyembah Allah sebagai Yang Kudus (Ibr 11:21).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yeremia mengatakan, “Karena kemurahan Tuhan kita tidak binasa” (Rat 3:22). Kita layak mendapat perlakuan yang tidak lebih baik dari yang Nadab dan Abihu terima. Tetapi jauh daripada dihanguskan, kita menemukan diri kita sebagai objek kasih ilahi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin situasi ini paling jelas diilustrasikan pada keadaan sekitar pertobatan Saul dari Tarsus. Ia adalah seorang yang dengan bersemangat menganiaya gereja awal, bertanggung jawan atas kematian banyak pria dan wanita pengikut Yesus Kristus. Ketika Saul dalam perjalanan dinasnya ke Damaskus untuk menemukan dan menghukum orang-orang Kristen, Tuhan sendiri secara dramatis turun tangan dan menghentikan aktivitasnya. Dalam menceritakan peristiwa ini kepada Raja Agripa bertahun-tahun kemudian, Paulus berkata: &lt;br /&gt;
:“tiba-tiba, ya raja Agripa, pada tengah hari bolong aku melihat di tengah jalan itu cahaya yang lebih terang dari cahaya matahari, turun dari langit meliputi aku dan teman-teman seperjalananku. Kami semua rebah ke tanah dan aku mendengar suatu suara yang mengatakan kepadaku dalam bahasa Ibrani, ‘Saulus, Saulus mengapa engkau menganiaya Aku? Sukar bagimu menendang ke galah rangsang.’ Tetapi aku menjawab, ‘Siapa Engkau Tuhan?' Kata Tuhan, ‘Akulah Yesus, yang kauaniaya itu. Tetapi sekarang bangunlah dan berdirilah. Aku menampakan diri kepadamu untuk menetapkan engkau menjadi pelayan dan saksi tentang segala sesuatu yang telah kau lihat daripada-Ku dan tenang apa yang akan Aku perlihatkan kepadamu nanti’” (Kis 26:13-16).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Untuk studi lebih lanjut:'''&amp;lt;br&amp;gt;Bacalah bagaimana Harun memimpin bangsa Israel dalam penyembahan berhala sementara Musa sedang bertemu Tuhan (Kel 32:1-10, 19-28). Bandingkan hal ini dengan penyucian Harun sebagai imam yang akhirnya dilakukan oleh Tuhan (Kel 39:27-31, 40:12-16). Apakah Harun mendapatkan yang pantas ia terima?}}Adalah menarik bahwa Saul keluar dari peristiwa ini hidup-hidup. Tuhan bisa saja sepenuhnya dibenarkan bila Ia menghancurkan Saul saat itu juga di tengah jalan Damaskus. Namun bukannya menerima keadilan di tangan Yang Kudus yang ia aniaya, Saul mengalami kasih Tuhan yang agung dan penerimaan. Ia bahkan menerima amanat untuk melayani sebagai duta bagi Dia yang telah ia tentang dengan keras. Betapa anugerah yang mengagumkan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kekudusan Allah memang memisahkan Dia dari kita, sejauh langit dari bumi. Tapi puji Tuhan, hal ini tidak menghalangi-Nya untuk menggapai dan mengubah Yakub-Yakub menjadi Israel-Israel dan Saul-Saul menjadi Paul-Paul. Nama kita mungkin tidak akan pernah berubah, tapi transformasi di dalam diri kita adalah pasti, dijamin, saat kita berhadapan dengan kekudusan Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Diskusi Kelompok==&lt;br /&gt;
# Bagaimana anda mendefinisikan penghujatan? Beri contoh-contoh bagaimana orang Kristen maupun bukan Kristen menghujat Allah? &lt;br /&gt;
# Menurut si pengarang, mengapa Tuhan menguduskan banyak peralatan di dalam Perjanjian Lama? &lt;br /&gt;
# Dari semua murid, Yohanes adalah yang terdekat dengan Yesus. Mengetahui ini, apakah yang signifikan dari reaksi Yohanes atas penglihatannya akan Yesus di Wahyu 1:10-17?&lt;br /&gt;
# Apakah kekudusan Allah sudah menyebabkan anda mengalami “faktor pemecah” secara pribadi? &lt;br /&gt;
# Atribut Allah yang manakah yang bagi anda paling menarik? Paling mengintimidasi? &lt;br /&gt;
# Jenis-jenis perbuatan yang seperti apakah yang mungkin mengindikasikan bahwa seorang Kristen telah menjadi terlalu biasa dengan Tuhan? &lt;br /&gt;
# Apakah menurut anda adil bagi Tuhan untuk menghukum mati seseorang? &lt;br /&gt;
# Disiplin rohani yang manakah yang anda pilih di Pertanyaan 4 di halaman ini? Bagaimana anda dapat mengembangkan disiplin ini? &lt;br /&gt;
# Tingkat kekudusan yang seperti apa yang dapat kita harapkan dalam hidup ini? &lt;br /&gt;
# Apakah pembahasan bab tentang kekudusan ini membuat anda takut pada Allah atau aman di dalam-Nya? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bacaan yang Direkomendasikan==&lt;br /&gt;
''Holiness'' by J.C. Ryle (Hertfordshire, England: Evangelical Press, 1979. Originally published in 1879.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Holiness of God'' by R.C. Sproul (Wheaton, IL: Tyndale House Publishers, 1985)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Knowledge of the Holy'' by A.W. Tozer (Camp Hill, PA: Christian Publications, Inc., 1978)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan==&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Sukartay</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/The_Holiness_of_God/id</id>
		<title>This Great Salvation/The Holiness of God/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/The_Holiness_of_God/id"/>
				<updated>2007-09-20T11:03:41Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Sukartay: /* Kita Beroleh Bagian */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&amp;lt;noinclude&amp;gt;{{InfoBar&lt;br /&gt;
|author=C.J. Mahaney, Robin Boisvert&lt;br /&gt;
|editor=Greg Somerville&lt;br /&gt;
|partnerurl=http://www.sovereigngraceministries.org&lt;br /&gt;
|partner=Sovereign Grace Ministries&lt;br /&gt;
|other=It is part of the ''In Pursuit of Godliness'' series.&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
= Kekudusan Allah =&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
Saya merasa cukup antusias ketika menghadiri pertemuan malam itu. Waktu seorang teman baik muncul, saya berteriak kepadanya dari seberang ruangan, “Ayo kemari, dalam nama Yesus!” Tak lama kemudian seorang pemuda lain secara diam-diam menghampiri saya dan mengungkapkan rasa prihatinnya bahwa saya telah menggunakan nama Yesus dengan cara yang tidak serius. Dengan wajah merah karena malu, saya bergumam, “Terima kasih kamu telah menunjukkan hal itu.” Jelas bahwa pemuda itu merasa prihatin terhadap saya secara pribadi. Saya juga tahu bahwa ia telah berkata benar dan bahwa ia telah menunjukkan rasa hormat yang lebih atas kemuliaan Tuhan daripada saya sendiri. Walaupun sesungguhnya saya tidak pernah bermaksud buruk, peristiwa tadi membuat saya sadar kalau saya telah menjadi terlalu terbiasa dengan nama Tuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak begitu pada mulanya. Pada saat pertobatan saya tiga tahun lalu, saya dicengangkan oleh kuasa Tuhan yang mengubah hidup saya. Pertemuan-pertemuan yang disertai kehadiran-Nya dan jawaban-jawaban doa yang luar biasa telah meyakinkan saya akan realitas Roh Kudus dan kasih Yesus Kristus. Siapa lagi yang dapat secara total menyembuhkan rasa depresi dan tanpa harapan yang telah menguasai saya? Namun ketika intensitas bulan-bulan pertama itu berangsur-angsur mereda menjadi iman yang lebih konsisten, sesuatu yang lain meresap masuk. Keagungan kemuliaan Allah telah terkikis oleh rasa familiar yang bertumbuh. Sudah saatnya untuk memikirkan ulang kekudusan Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Renungkan 1 Tawarikh 16:23-36.''' Apakah anda menangkap adanya usaha keras rohani di dalam sikap Daud terhadap kekudusan Allah?}}Kukudusan. Kata itu sendiri membuat kita membayangkan pendeta-pendeta yang tidak tahu humor di dalam sebuah kuil tak berwarna yang sedang makan makanan tanpa rasa dan menjalani hidup tanpa sukacita. Atau mungkin wajah sedih, gaun panjang, dan daftar panjang berjudul “dilarang.” Tetapi bagaimana dengan keindahan? Apakah kata ‘kekudusan’ membangkitkan ide-ide tentang keindahan? Mungkin tidak. Namun keindahan adalah sebuah kualitas yang sering dihubungkan dengan kekudusan Allah. Di dalam kitab Mazmur kita didorong untuk menyembah Allah “dalam keindahan kekudusan” (Mzm 29:2; 96:9). Kukudusan dikatakan selamanya memperluas penampilan bait suci Allah: “Peraturan-Mu sangat teguh; bait-Mu layak kudus, ya Tuhan, untuk sepanjang masa” (Mzm 93:5).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun Alkitab menunjukkan penghargaan yang jelas dan positif terhadap kekudusan, kebanyakan dari kita tetap menyamakan kekudusan dengan kerja keras. Hanya dengan menyebut kata ‘kekudusan’ pikiran kita akan langsung tertuju pada hal-hal yang kita anggap sebagai tanggung jawab orang Kristen. Tetapi pengertian yang tepat akan kekudusan harus ditelusuri kembali ke sumber dari segala kekudusan – Allah sendiri. Dan saat kita memandang kekudusan Allah, kita tidak sedang berurusan dengan tanggung jawab manusia sama sekali melainkan dengan atribut Allah yang paling menarik dan mengagumkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ahli teologi Stephen Charnock menekankan bahwa di antara berbagai kualitas Allah, ada beberapa yang lebih kita sukai karena berkat-berkat yang bisa langsung kita dapatkan darinya. Misalnya, kita lebih memilih menyanyikan kemurahan Tuhan daripada memikirkan akan keadilan dan murka-Nya. Kita lebih cenderung untuk merenungkan Juru Selamat yang penyayang daripada memikirkan Tuhan yang pencemburu. Tapi ada beberapa sifat ilahi yang Tuhan sendiri nikmati karena sifat-sifat itu mengekspresikan kebesaran-Nya secara sempurna. Kekudusan adalah sifat itu.&amp;lt;ref&amp;gt;Stephen Charnock, ''The Existence and Attributes of God, Vol. II'' (Grand Rapids, MI: Baker Book House, 1979 reprint), p. 112.&amp;lt;/ref&amp;gt; Makhluk-makhluk surgawi yang misterius itu, serafim dan keempat mahluk hidup, mengetahui bahwa kekudusan Allah harus digaris bawahi. Coba pikirkan. Mereka tinggal di dalam hadirat-Nya dan memiliki penglihatan yang tanpa halangan akan realitas (sementara kita melihat melalui kaca gelas yang gelap). Kalau ada makhluk yang pernah “tahu,” merekalah makhluk itu. Dan oleh karena itu, berulang-ulang, siang dan malam, mereka tidak pernah berhenti bersorak, “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, yang Mahakuasa” (Yesaya 6:3, Wahyu 4:8).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kekudusan berbeda dari kesempurnaan Allah yang lain, karena kekudusan meluas ke seluruh sifat Allah lainnya. Karena itu kasih-Nya adalah kasih yang ''kudus'', keadilan-Nya adalah keadilan yang ''kudus'', dan seterusnya. Jika sifat-sifat Allah dapat dianggap sebagai bermacam sisi dari sebuah permata, maka kekudusan adalah cahaya gabungan dari sisi-sisi itu yang bersinar keluar dalam sinar kemuliaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Superstisi Keagamaan ===&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Renungkan Matius 5:17-20.''' Menurut anda dapatkah hal ini menjelaskan mengapa Perjanjian Baru mengandung 90 acuan pada kitab Imamat?}}Firman Tuhan berbicara banyak tentang kekudusan. Kitab pertama, Kejadian, memaparkan kejatuhan manusia. Lalu Keluaran, dengan figur utama lembu Paskah, menunjukkan pemulihannya. Selanjutnya adalah kitab Imamat. Ah, Imamat – kitab yang telah membuat banyak murid Alkitab yang penuh harapan menjadi tersendat dalam usaha tahunan mereka untuk membaca seluruh Alkitab. Namun buku ini sangat penting bagi pengertian kita akan kekudusan. Imamat juga memberikan penerangan penting mengenai korban penebusan Tuhan Yesus Kristus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Adalah sesuatu yang selalu penting untuk mengingatkan diri kita sendiri akan keagungan kesempurnaan moral yang absolut, yang mengelilingi Pribadi Ilahi. Tanpanya, penyembahan sejati akan mengecil dan manusia akan menjadi arogan.&amp;lt;ref&amp;gt;T.C. Hammond, ''In Understanding Be Men'' (London, England: InterVarsity Fellowship, 1938).&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; - T.C. Hammond}}Di dalam kitab Imamat Tuhan menunjukkan manusia bagaimana kita harus menghampiri-Nya dalam penyembahan. Kitab ini secara khusus fokus pada beberapa kurban yang berbeda yang Tuhan pinta agar umat-Nya dapat ''berdamai'' dengan-Nya, dan beberapa persiapan makanan yang Tuhan perintahkan agar mereka dapat ''terus berdamai'' dengan-Nya.&amp;lt;ref&amp;gt;Henrietta Mears, ''What the Bible Is All About'' (Ventura, CA: Regal Books, 1983), p. 51.&amp;lt;/ref&amp;gt; Betapapun membingungkan dan tidak relevannya sistem kurban yang rinci ini bagi kita sekarang, Tuhan mengadakan semua itu untuk mengajarkan umat-Nya sebuah kebenaran yang mendalam yaitu bahwa ''Ia kudus''.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata kekudusan menyiratkan keterpisahan dari segala sesuatu yang tidak murni.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibid., p. 58.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dia adalah ''sesuatu yang lain'' dari kita. Walaupun hal ini kelihatannya sederhana, tapi tetap harus dinyatakan karena adanya pemikiran-pemikiran masa kini tentang kekuatan “Era Baru” (“New Age”) dalam diri kita dan sifat keilahian yang dipercaya tertanam dalam diri manusia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam Firman Tuhan, hal-hal yang biasa yang Tuhan sentuh menjadi luar biasa. Contohnya, area di sekeliling semak duri menyala ditandai sebagai tanah yang kudus karena merupakan tempat pewahyuan Allah dan karena itu adalah tindakan yang tepat bila Musa menanggalkan sandalnya karena rasa hormat kepada Allah. Atau pertimbangkan peralatan yang digunakan di dalam upacara di tabernakel dan bait suci. Peralatan itu tidak biasa pula. Peralatan itu kudus. Begitu pula persekutuan kudus, altar kudus, minyak urapan kudus, dan hari-hari kudus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang membuat semua itu kudus? Allah yang kudus. Tuhan memilih hal-hal yang biasa dan membuatnya menjadi spesial dengan memisahkannya untuk tujuan yang kudus, terutama untuk mengkomunikasikan kepada umat-Nya bahwa ''Ia'' kudus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:'''&amp;lt;br&amp;gt; Orang-orang Farisi menjalan superstisi keagamaan secara ekstrim, seperti dapat dilihat di Matius 23:16-22. Apakah Yesus memuji perbuatan mereka?}}Sayangnya, banyak orang yang tidak melihat point ini dan berakhir dengan superstisi bersifat religius. Satu kali, saya menerima telepon pada larut malam dari seorang wanita lanjut usia yang meminta saya untuk bertemu dengannya untuk berdoa. Wanita ini bersikeras ada hal yang tidak bisa ditunda dan kami harus bertemu malam itu di “rumah Tuhan.” Saya mengusulkan, mengingat waktu saat itu, tempat umum mungkin lebih pantas daripada gedung gereja yang kosong, tetapi ia tetap bersikeras agar kami bertemu di “rumah Tuhan.” Wanita ini telah salah dalam memberikan kualitas khusus yang hanya dimiliki oleh Tuhan kepada sebuah tempat. Ia tidak menyadari bahwa di jaman Perjanjian Baru ini, tidak ada satu tempatpun yang dengan sendirinya kudus – tidak juga “Tanah Suci” (the “Holy Land”). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nabi Yeremia yang menyadari akan sikap yang sama di antara sesamanya menulis, “Janganlah percaya kepada perkataan dusta yang berbunyi: Ini bait Tuhan, bait Tuhan, bait Tuhan!” (Yer 7:4). Walaupun mereka memiliki rasa takut dan hormat pada struktur fisik bait suci, bangsa Israel yang terus mengulang “bait Tuhan” memiliki hati yang telah berpindah jauh dari Tuhan yang adalah Tuhan dari bait suci. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Perikop Alkitab di bawah ini mendemonstrasikan tiga kasus dimana rasa hormat untuk perkakas, acara ritual ataupun gedung keagamaan merusak hubungan antara manusia dengan Allah.  Di tempat di bawah setiap referensi, rangkum secara singkat masalah yang ada. &lt;br /&gt;
* Bilangan 21:6-9; 2 Raja-Raja 18:1-4&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Lukas 13:10-16&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Markus 13:1-2; Matius 26:59-62; Matius 12:3-6&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
}}Saya melihat hal yang sama terjadi ketika satu pasangan muda-mudi yang belum diselamatkan dan tidak tertarik untuk mengikuti Yesus Kristus tapi menganggap adalah hal yang mutlak penting mereka menikah di gedung gereja. Apalagi sebabnya kalau bukan karena perasaan superstisius bahwa seolah-olah pernikahan akan diberkati apabila dilaksanakan di sebuah gedung “suci”? Meletakkan arti penting yang tidak sepantasnya pada gedung atau upacara atau perkakas keagamaan sama dengan tidak berbuat apa-apa untuk menunjukkan rasa hormat kepada Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah, di dalam Firman Tuhan, memisahkan beberapa benda untuk penggunaan khusus, tetapi Ia memiliki maksud tertentu mengapa melakukannya – untuk mengajarkan kita bahwa ''Ia'' adalah kudus dan harus dihormati. Dengan alasan ini, maka, menggunakan benda-benda suci dengan cara yang biasa atau tidak hormat adalah perbuatan yang menghina Allah.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Renungkan 1 Samuel 6:19-20.''' Apakah rasa kagum campur heran anda terhadap Tuhan menyamai rasa kagum dan heran yang dialami orang-orang Bet-Semes?}}Bab kelima dari kitab Daniel menceritakan sebuah cerita yang tidak asing lagi tentang tulisan di dinding, ketika Tuhan menuliskan penghakiman ilahi-Nya terhadap raja Babel. Apa yang membangkitkan murka-Nya? Beltsazar telah mengotori apa yang Tuhan nyatakan kudus, seperti dikatakan Daniel, “Kemudian dibawalah perkakas dari emas dan perak itu, yang diambil dari dalam Bait Suci, Rumah Allah di Yerusalem, lalu raja dan para pembesarnya, para isteri dan para gundik mereka minum dari perkakas itu; mereka minum anggur dan memuji-muji dewa-dewa dari emas dan perak, tembaga, besi, kayu dan batu” (Dan 5:3-4).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Daniel dipanggil untuk menterjemahkan tulisan misterius itu, ia mengambil kesempatan untuk menegur keras sang raja. Perkataan terakhirnya menyimpulkan dosa Beltzasar: “tuanku tidak muliakan Allah yang menggenggam nafas tuanku dan menentukan segala jalan tuanku” (Dan 5:23).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kegagalan Beltzasar untuk memuliakan benda-benda milik Tuhan sama dengan kegagalan untuk memuliakan Tuhan; hujatannya harus dibayar dengan hidupnya. Peristiwa seperti ini tersebar di seluruh Alkitab untuk mengingatkan apa yang bisa terjadi ketika seseorang memutuskan untuk bermain-main dengan perabot milik Tuhan. Apakah segera ataupun di penghujung jaman, penghakiman akan dilaksanakan bagi dosa terhadap kekudusan Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===“Factor Pemecah” ===&lt;br /&gt;
Tuhan sangatlah berbeda dengan kita. Meskipun kita diciptakan serupa peta dan teladan Allah, pikiran dan jalan-jalan-Nya begitu sangat melampaui pikiran dan jalan kita sehingga Yesaya menyamakan keduanya seperti jarak antara langit dan bumi (Yes 55:8, 9). Mungkin di sinilah perbedaan itu menjadi begitu jelas sehubungan dengan kesempurnaan moral-Nya. Seperti Habakuk mengekspresikannya, “Mata-Mu terlalu suci untuk melihat kejahatan dan Engkau tidak dapat memandang kelaliman” (Hab 1:13). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Betapa lamban kita untuk percaya pada Tuhan sebagai Tuhan, berdaulat, melihat segalanya dan berkuasa! Betapa kecil kita jadikan kemuliaan Tuhan dan Juru Selamat kita Yesus Kristus! Kita perlu ‘menantikan Tuhan’ dalam meditasi akan kemuliaan-Nya, sampai kita menemukan kekuatan kita diperbaharui dengan mengukir semua itu di dalam hati kita.&amp;lt;ref&amp;gt;J.I. Packer, ''Knowing God'' (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1973), p. 79.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; - J.I. Packer}}Kukudusan mutlak Allah jauh melampaui sekedar ketidakberdosaan. Kekudusan ini adalah ekspresi positif dari kebaikan-Nya, bukan hanya ketidakberadaan dosa. Kita semua pernah bertemu orang-orang yang karakternya bersinar jauh lebih terang daripada kita sendiri sehingga kita merasa kecil dan hina bila dibandingkan dengan mereka. Saya memiliki seorang teman yang, sebelum ia mencukur jambangnya, terlihat seperti gabungan antara Abraham Lincoln dan Yesus (seperti digambarkan di ilustrasi kontemporer). Kemiripan ini bukan hanya dalam soal penampilan fisik. Kebaikan hatinya dan hikmatnya yang lembut sungguh luar biasa. Meskipun ia sedih mengetahui hal ini, berada bersamanya mengingatkan saya akan sifat mementingkan diri saya sendiri. Bila perbandingan dengan sesama manusia saja bisa membuat kita merasa begitu rendah, bayangkan perasaan tidak nyaman yang akan kita rasakan di dalam kehadiran Allah yang kudus!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk studi lebih lanjut:'''&amp;lt;br&amp;gt; Bila anda menginginkan wahyu baru dari kekudusan dan kekuatan kedaulatan Allah, cobalah pelajari kata pendek ini: “bergetar” - Keluaran 15:13-16; Ayub 9:4-6; Mazmur 99:1-3; Yesaya 64:1-4; Yeremia 23:9; Yehezkiel 38:20-23; Yoel 3:16; Habakuk 3:6..}}Hal inilah yang terjadi pada Petrus. Yesus mencengangkan Petrus di suatu hari dengan mujizat penangkapan ikan. Tapi bukannya bersukacita di atas kapal, yang dapat Petrus lihat hanyalah keadaan dirinya sendiri yang penuh dosa. Saat berhadapan dengan kekudusan Yesus, Petrus melihat dirinya sendiri seperti apa adanya, dan kenyataan itu sangat menghancurkan. “Simon Petrus…tersungkur di depan Yesus dan berkata, ‘Tuhan, pergilah daripadaku, karena aku ini seorang berdosa!’” (Luk 5:8). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak dibutuhkan waktu lama bagi Petrus untuk melupakan kekudusan Tuhan, seperti kita lihat di pasal selanjutnya di gunung transfigurasi. Peristiwa agung ini mencatat kunjungan dua tokoh terkemuka dari masa lalu Israel, Musa dan Elia. Tambah lagi, Yesus yang bertransfigur menjadi terang berkilauan seperti kilat. Tapi Petrus, bukannya tersungkur di hadapan Tuhan seperti yang ia lakukan sebelumnya, nampak tidak sadar akan apa yang sedang terjadi. {{RightInsert|Bacalah deskripsi Yohanes tentang Yesus Kristus di kitab Wahyu 1:10-16. Detail apa yang menarik perhatian anda paling jelas? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
}}Ia menjadi banyak bicara dan mengusulkan mungkin mereka dapat membuat kemah sementara untuk setiap orang. Saat itulah Allah Bapa turun tangan secara pribadi. “Sementara [Petrus] berkata demikian, datanglah awan menaungi mereka. Dan ketika mereka masuk ke dalam awan itu, takutlah mereka. Maka terdengarlah suara dari dalam awan itu, yang berkata, ‘Inilah anak-Ku yang Kupilih; dengarkanlah Dia.’” (Luk 9:34-35). Hal ini sepertinya membuat Petrus dan yang lainnya tersadar, seperti Matius tekankan, “Mendengar itu tersungkurlah murid-murid-Nya dan mereka sangat ketakutan” (Mat 17:6).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Ketika penghakiman (Tuhan) jatuh pada Nadab atau Uzzah, respon kita adalah keterkejutan dan amarah. Kita telah mengharapkan Tuhan untuk bermurah hati. Dari sana, langkah selanjutnya adalah mudah: kita menuntutnya. Saat hal itu tidak muncul, respon pertama kita adalah marah terhadap Tuhan, ditambah dengan protes: “Ini tidak adil.” Kita cepat melupakan bahwa dengan dosa pertama kita, kita telah menyerahkan segala hak atas anugerah kehidupan. Bahwa saya bernafas pagi ini adalah sebuah kemurahan ilahi. Tuhan tidak berhutang apapun pada saya. Saya berhutang segala-galanya pada-Nya.&amp;lt;ref&amp;gt;R.C. Sproul, ''The Holiness of God'' (Wheaton, IL: Tyndale House Publishers, 1985), p. 164.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; -R.C. Sproul}}Nabi Yesaya memiliki pengalaman dramatis yang membekas dalam dirinya selamanya. Ia melihat visi Tuhan “duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang, dan ujung jubahnya memenuhi Bait Suci” (Yes 6:1). Di dalam penglihatan ini makhluk-makhluk malaikat mendeklarasikan kekudusan Allah yang begitu besar. “Maka bergoyanglah alas ambang pintu disebabkan suara orang yang berseru itu dan rumah itu penuhlah dengan asap” (ayat 4). Sepenuhnya dibuat tak berdaya oleh penglihatan luar biasa itu, Yesaya memberi satu-satunya respon yang layak, “Celakalah aku! Aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni Tuhan semesta alam” (ayat 5).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Untuk studi lebih lanjut:'''&amp;lt;br&amp;gt;Perikop-perikop berikut ini menceritakan pertemuan dengan malaikat - Bilangan 22:21-31; Hakim-Hakim 6:20-23; Matius 28:2-4; Lukas 2:8-10.}}Beberapa orang menamakan pengalaman Yesaya “faktor pemecah.” R.C. Sproul menulis, “Untuk pertama kali dalam hidupnya Yesaya mengerti siapa Tuhan itu. Pada saat yang sama, untuk pertama kalinya Yesaya mengerti siapa Yesaya itu.” Jika kata “intergritas” berarti keseluruhan (integer adalah angka penuh), disintegrasi berarti pecah menjadi butiran-butiran. Kebanyakan dari kita mencoba keras menjadikan hidup kita “utuh.” Dan kalaupun kita luluh berantakan, setidaknya kita kelihatan seolah “utuh.”  Betapa menyedihkannya, lalu, untuk berada di hadirat Allah dan luluh berantakan sepenuhnya saat kita menemukan betapa dalamnya keberdosaan kita sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Menghampiri Allah yang Kudus=== &lt;br /&gt;
Pengenalan akan keberdosaan pada mulanya menghasilkan perasaan benci terhadap Tuhan. Hampir dalam setiap peristiwa Alkitab tentang kunjungan malaikat, individu-individu yang bersangkutan jatuh tersungkur karena ketakutan. {{LeftInsert|&amp;quot;Tuhan adalah satu-satunya penghiburan, Ia juga adalah teror terbesar: sesuatu yang kita paling butuhkan dan sesuatu yang darinya kita paling ingin sembunyi…Sebagian orang berbicara seolah bertemu pandang dengan kebajikan mutlak adalah menyenangkan. Mereka perlu berpikir ulang. Mereka masih bermain-main dengan agama.&amp;lt;Ref&amp;gt;C.S. Lewis, ''Mere Christianity'' (New York: Macmillan Publishing Co., Inc., 1943), p. 38.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; - C.S. Lewis}}Betapa lebih lagi mereka yang melihat Allah di dalam keagungan kekudusan-Nya. Bangsa Israel yang berdiri di Gunung Sinai saat gunung itu bergetar dengan kehadiran kudus Allah memohon kepada Musa untuk menjadi perantara mereka, penengah mereka. Musa memperingatkan mereka akan hal ini:&lt;br /&gt;
:Ketika kamu mendengar suara itu dari tengah-tengah gelap gulita, sementara gunung itu menyala, maka kamu, yakni semua kepala sukumu dan para tua-tuamu mendekati aku dan berkata, “Sesungguhnya Tuhan, Allah kita telah memperlihatkan kepada kita kebesaran dan kemuliaan-Nya, dan suara-Nya telah kita dengar dari tengah-tengah api. Pada hari ini telah kami lihat, bahwa Allah berbicara dengan manusia dan manusia itu tetap hidup. Tetapi sekarang, mengapa kami harus mati? Sebab api yang besar ini akan menghanguskan kami. Apabila kami lebih lama lagi mendengar suara Tuhan, Allah kita, kami akan mati. Sebab makhluk manakah yang telah mendengar suara dari Allah yang hidup yang berbicara dari tengah-tengah api seperti kami dan tetap hidup? Mendekatlah engkau dan dengarkanlah segala yang difirmankan Tuhan, Allah kita, dan engkaulah yang mengatakan kepada kami segala yang difirmankan kepadamu oleh Tuhan, Allah kita, maka kami akan mendengar dan melakukannya” (Ul 5:23-24).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Di dalam The Chronicles of Narnia, pengarang C.S. Lewis menggunakan singa yang mulia Aslan untuk menggambarkan Yesus. Pada satu saat, sebuah karakter berbicara tentang Aslan, “Sepertinya ia bukan singa yang jinak.”&amp;lt;ref&amp;gt;C.S. Lewis, ''The Voyage of the “Dawn Treader”'' (New York: Macmillan Publishing Co., Inc., 1952), p. 138.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dapatkah anda memikirkan contoh-contoh dari Alkitab atau interaksi anda sendiri dengan Tuhan yang menunjukkan bahwa Ia tidaklah “jinak”?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
}}Satu kali saya mendengar John Wimber berbicara tentang orang-orang yang tidak menginginkan hubungan dengan Tuhan karena mereka menganggapnya terlalu berbahaya. Mereka lebih memilih hubungan dengan Kekristenan atau dengan gereja. Sementara hal ini tak diragukan memang benar bagi sebagian orang, seorang Kristen sejati memiliki kerinduan untuk menjadi kudus. Ia mengetahui bahwa hanya orang yang suci hatinya akan melihat Allah (Mat 5:8), dan ia memiliki kerinduan akan kesucian itu yang akan memampukannya untuk memandang Allahnya. Bagi orang Kristen dewasa, pengenalan akan kekudusan Allah meyakinkannya akan kasih Allah. Ia menyadari, meskipun adanya kekudusan Allah dan keberdosaannya sendiri, Tuhan bersabar terhadap dirinya. Ia layak menerima penghakiman tetapi malah menerima kemurahan yang baru setiap pagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita dapat menganggap bahwa usaha kita untuk menjalani hidup Kekristenan memang lemah adanya, tetapi bila kita memiliki kerinduan untuk kekudusan kita bisa terhibur. Allah-lah yang telah meletakkan kerinduan itu di sana dan Ia pasti akan menggenapinya. Namun bagaimana? Bagaimana kita bisa memenuhi perintah Allah yang sepertinya tidak mungkin, “Kuduslah, sebab Aku kudus” (1 Ptr 1:16)? Bagaimana kita bisa menghampiri “Penguasa yang satu-satunya dan yang penuh bahagia, Raja di atas segala raja dan Tuan di atas segala tuan. Dialah satu-satunya yang tidak takluk kepada maut, ''bersemayam dalam terang yang tak terhampiri''. Seorangpun tak pernah melihat Dia dan memang manusia tidak dapat melihat Dia” (1 Tim 6:15-16, penekanan ditambah)? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Renungkan Ibrani 10:19-23.''' Bagaimana Imam Agung kita telah menulis ulang tentang peraturan untuk memasuki tempat maha kudus?}}Kita harus menghampiri dengan rasa gentar, seperti digambarkan jelas melalui pelayanan imam di Perjanjian Lama. Agar imam dapat menghampiri Allah, terdapat peraturan-peraturan yang telah ditetapkan secara ketat. Seseorang tidak dapat memasuki tempat maha kudus kapan saja ia mau. Imam akan memasuki tempat maha kudus hanya sekali setahun yaitu pada Hari Penebusan. Pertama ia harus mempersembahkan kurban bagi dirinya sendiri, darah kurban itu menjadi peringatan atas dosanya dan atas kekudusan Allah. Kemudian ia harus berpakaian khusus. Di salah satu ujung jubahnya, terdapat selang seling lonceng dan buah delima yang akan menimbulkan bunyi untuk membuktikan bahwa ia masih hidup, bahwa ia belum binasa karena kekudusan Allah. Menurut tradisi, sebuah tali yang panjang diikatkan pada si imam supaya bila ia mati di hadirat Tuhan imam-imam lainnya dapat menariknya keluar tanpa harus masuk ke dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Oh pendosa, dapatkah engkau memberi alasan mengapa, sejak engkau bangkit dari tempat tidurmu pagi ini, Tuhan tidak menghantammu mati?&amp;lt;ref&amp;gt;Jonathan Edwards, “Sinners In the Hands of An Angry God.”&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; - Jonathan Edwards}}Peraturan rumit dan detail ini adalah sebuah peringatan yang jelas: Jangan bermain-main dengan kekudusan Allah. Kedua putra Harun Nadab dan Abihu mendapatkan pelajaran ini secara keras. Ketika mereka mencoba cara baru untuk membakar dupa di hadapan Tuhan, “maka keluarlah api dari hadapan Tuhan lalu menghanguskan keduanya sehingga mereka mati di hadapan Tuhan” (Im 10:2). (Tak perlu dikatakan lagi, itu adalah terakhir kalinya mereka melakukan sesuatu yang baru). Pada momen yang membuat mereka tersadar itu, Musa mengingatkan Harun akan firman Tuhan: “Kepada orang yang karib kepada-Ku Kunyatakan kekudusan-Ku, dan di muka seluruh bangsa itu akan Kuperlihatkan kemuliaan-Ku” (Im 10:3). Tidak ada bagian Alkitab yang lebih baik merefleksikan pusat pewahyuan Perjanjian Lama, seperti yang disimpulkan oleh Salomo: “Takut akan Tuhan adalah permulaan hikmat” (Ams 1:7).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasa gentar adalah esensial, tapi kita tidak akan pernah dapat mendekati hadirat Allah yang kudus apabila bukan karena Perantara kita, Yesus Kristus sendiri. Perantara adalah seorang yang menjembatani jurang antara dua pihak yang berseteru. Dosa kita telah mengasingkan dan membuat murka Allah. Namun hal itu tidak membuat-Nya berhenti mengasihi kita. Kekudusan-Nya sama sekali tidak menyiratkan keengganan-Nya untuk menerima kita. Sebaliknya, Ia mengambil inisiatif mengutus Anak-Nya untuk menjauhkan dosa-dosa kita sehingga di dalam Kristus kita boleh menghampiri hadirat-Nya dan menikmati-Nya selamanya. Seperti dijelaskan oleh Paulus kepada umat di Korintus, “Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus” (2 Cor 5:19). Yesus Kristus, sebagai perantara kita, menderita penghukuman atas ketidaktaatan kita sehingga memungkinkan perdamaian kembali. Tetapi keselamatan adalah keinginan gabungan dan usaha bersama antara Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Kekudusan Allah mengajarkan kita bahwa hanya ada satu cara untuk berhadapan dengan dosa – secara radikal, serius, menyakitkan, konstan. Bila engkau tidak hidup demikian, engkau tidak hidup di hadirat Dia yang Kudus dari Israel.&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''A Heart for God'' (Colorado Springs, CO: NavPress, 1985), p. 130.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; - Sinclair Ferguson}}Biarkan saya menawarkan satu masukan terakhir dari imam Perjanjian Lama. Merupakan tanggung jawab seorang imam untuk menjadi penghubung antara Allah dan manusia. Di bagian bahu dari jubah imam terdapat permata krisopras yang berukir enam nama suku Israel. Di bagian tutup dada jubah terdapat duabelas batu permata yang berbeda, masing-masing untuk keduabelas suku Israel. Ketika ia memasuki tempat maha kudus, imam secara simbolik membawa umat Tuhan di atas bahunya dan di dalam hatinya. Dalam jaman Perjanjian Baru, tentu saja Yesus adalah Imam Besar Agung kita. Begitu besar kasih-Nya buat kita sehingga Ia juga menggendong kita di atas bahu-Nya, menanggung beban kita, dan sebagai teman yang berbelas kasihan, menyimpan kita dekat dengan hati-Nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Renungkan Yesaya 57:15.''' Mengapa Allah kita yang kudus memilih tempat bersemayam kedua di ayat ini?}}Mengenal Yesus sebagai mediator kita memampukan kita untuk melihat Allah bukan hanya sebagai api yang menghanguskan tetapi sebagai Bapa yang kepada-Nya kita telah didamaikan.&amp;lt;ref&amp;gt;J.C. Ryle, ''Expository Thoughts on the Gospels: Luke'' (Hertfordshire, England: Evangelical Press, 1879, 1985), p. 71.&amp;lt;/ref&amp;gt; Kita harus berusaha untuk mengenal dan menghargai pelayanan vital Tuhan kita Yesus. Memahami pentingnya peran Yesus sebagai Imam akan menimbulkan rasa terima kasih yang tulus serta rasa sadar yang lebih besar akan semua yang Tuhan telah lakukan untuk kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Kita Beroleh Bagian=== &lt;br /&gt;
Salah satu dari janji Firman Tuhan yang paling mengagumkan adalah jaminan bahwa kita akan berbagi dalam kekudusan Allah: “Sebab ayah kita mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya” (Ibr 12:10). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Renungkan 2 Korintus 7:1.''' Apakah motif kita mengejar kekudusan? Apa metode kita?}}Bila kita berpikir secara serius tentang kekudusan Tuhan kita, sepertinya tidak dapat dipercaya kita dapat mengalami hal seperti itu. Tapi itulah apa yang ayat dari Ibrani ini nyatakan dengan jelas. Sepasti Tuhan mendisiplin anak-anak-Nya (dan ayat tadi sangat pasti tentang itu), kita akan menikmati sebagian dari kekudusan-Nya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Kekudusan bukanlah sebuah pengalaman; kekudusan adalah penyatuan kembali karakter kita, pendirian lagi akan sebuah kehancuran. Kekudusan adalah usaha keras yang trampil, proyek jangka panjang, menuntut segala sesuatu yang Tuhan telah berikan pada kita untuk hidup dan kesalehan.&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''A Heart for God'', p. 129.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; - Sinclair Ferguson}}Bahwa janji ini melibatkan disiplin seharusnya tidak membuat kita marah atau jengkel. Disiplin adalah metode Tuhan yang telah terbukti dalam menyempurnakan anak-anak-Nya, dan jenis displin Tuhan membutuhkan partisipasi aktif kita. Pasal keduabelas dari Ibrani ini menuntut usaha keras dari pihak kita. Perhatikan bahasa mengenai usaha yang dipakai penulis: “menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita” (ayat 1)…”berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita” (ayat 1)…”Dalam pergumulan kamu melawan dosa” (ayat 4)…”menanggung kesusahan” (ayat 7)…”kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah” (ayat 12)…”Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan; sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan” (ayat 14, penekanan ditambahkan). Disiplin Bapa kita mungkin akan terasa menyakitkan untuk sementara waktu, tapi hal itu memperlengkapi kita untuk menjalani keabadian bersama Allah yang kudus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|Semua disiplin rohani yang terdaftar di bawah dapat membantu anda untuk bertumbuh dalam kekudusan pribadi. Beri tanda satu disiplin dimana anda merasa paling kurang.&lt;br /&gt;
* Pemahaman Alkitab&lt;br /&gt;
* Doa&lt;br /&gt;
* Pengakuan dosa/akuntabilitas&lt;br /&gt;
* Penyembahan&lt;br /&gt;
* Puasa&lt;br /&gt;
}}Yakub adalah seorang yang tentunya telah mengalami kesulitan hidupnya sendiri, banyak di antaranya disebabkan oleh dirinya sendiri. Tetapi di penghujung hidupnya dia bukan lagi Yakub. Namanya adalah Israel. Selama perjalanan terjadi perubahan nama dan juga perubahan karakter. Ia berjalan timpang, bertumpu pada tongkatnya, dan menyembah Allah sebagai Yang Kudus (Ibr 11:21).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yeremia mengatakan, “Karena kemurahan Tuhan kita tidak binasa” (Rat 3:22). Kita layak mendapat perlakuan yang tidak lebih baik dari yang Nadab dan Abihu terima. Tetapi jauh daripada dihanguskan, kita menemukan diri kita sebagai objek kasih ilahi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin situasi ini paling jelas diilustrasikan pada keadaan sekitar pertobatan Saul dari Tarsus. Ia adalah seorang yang dengan bersemangat menganiaya gereja awal, bertanggung jawan atas kematian banyak pria dan wanita pengikut Yesus Kristus. Ketika Saul dalam perjalanan dinasnya ke Damaskus untuk menemukan dan menghukum orang-orang Kristen, Tuhan sendiri secara dramatis turun tangan dan menghentikan aktivitasnya. Dalam menceritakan peristiwa ini kepada Raja Agripa bertahun-tahun kemudian, Paulus berkata: &lt;br /&gt;
:“tiba-tiba, ya raja Agripa, pada tengah hari bolong aku melihat di tengah jalan itu cahaya yang lebih terang dari cahaya matahari, turun dari langit meliputi aku dan teman-teman seperjalananku. Kami semua rebah ke tanah dan aku mendengar suatu suara yang mengatakan kepadaku dalam bahasa Ibrani, ‘Saulus, Saulus mengapa engkau menganiaya Aku? Sukar bagimu menendang ke galah rangsang.’ Tetapi aku menjawab, ‘Siapa Engkau Tuhan?' Kata Tuhan, ‘Akulah Yesus, yang kauaniaya itu. Tetapi sekarang bangunlah dan berdirilah. Aku menampakan diri kepadamu untuk menetapkan engkau menjadi pelayan dan saksi tentang segala sesuatu yang telah kau lihat daripada-Ku dan tenang apa yang akan Aku perlihatkan kepadamu nanti’” (Kis 26:13-16).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Untuk studi lebih lanjut:'''&amp;lt;br&amp;gt;Bacalah bagaimana Harun memimpin bangsa Israel dalam penyembahan berhala sementara Musa sedang bertemu Tuhan (Kel 32:1-10, 19-28). Bandingkan hal ini dengan penyucian Harun sebagai imam yang akhirnya dilakukan oleh Tuhan (Kel 39:27-31, 40:12-16). Apakah Harun mendapatkan yang pantas ia terima?}}Adalah menarik bahwa Saul keluar dari peristiwa ini hidup-hidup. Tuhan bisa saja sepenuhnya dibenarkan bila Ia menghancurkan Saul saat itu juga di tengah jalan Damaskus. Namun bukannya menerima keadilan di tangan Yang Kudus yang ia aniaya, Saul mengalami kasih Tuhan yang agung dan penerimaan. Ia bahkan menerima amanat untuk melayani sebagai duta bagi Dia yang telah ia tentang dengan keras. Betapa anugerah yang mengagumkan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kekudusan Allah memang memisahkan Dia dari kita, sejauh langit dari bumi. Tapi puji Tuhan, hal ini tidak menghalangi-Nya untuk menggapai dan mengubah Yakub-Yakub menjadi Israel-Israel dan Saul-Saul menjadi Paul-Paul. Nama kita mungkin tidak akan pernah berubah, tapi transformasi di dalam diri kita adalah pasti, dijamin, saat kita berhadapan dengan kekudusan Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Diskusi Kelompok==&lt;br /&gt;
# Bagaimana anda mendefinisikan penghujatan? Beri contoh-contoh bagaimana orang Kristen maupun bukan Kristen menghujat Allah? &lt;br /&gt;
# Menurut si pengarang, mengapa Tuhan menguduskan banyak peralatan di dalam Perjanjian Lama? &lt;br /&gt;
# Dari semua murid, Yohanes adalah yang terdekat dengan Yesus. Mengetahui ini, apakah yang signifikan dari reaksi Yohanes atas penglihatannya akan Yesus di Wahyu 1:10-17?&lt;br /&gt;
# Apakah kekudusan Allah sudah menyebabkan anda mengalami “faktor pemecah” secara pribadi? &lt;br /&gt;
# Atribut Allah yang manakah yang bagi anda paling menarik? Paling mengintimidasi? &lt;br /&gt;
# Jenis-jenis perbuatan yang seperti apakah yang mungkin mengindikasikan bahwa seorang Kristen telah menjadi terlalu biasa dengan Tuhan? &lt;br /&gt;
# Apakah menurut anda adil bagi Tuhan untuk menghukum mati seseorang? &lt;br /&gt;
# Disiplin rohani yang manakah yang anda pilih di Pertanyaan 4 di halaman ini? Bagaimana anda dapat mengembangkan disiplin ini? &lt;br /&gt;
# Tingkat kekudusan yang seperti apa yang dapat kita harapkan dalam hidup ini? &lt;br /&gt;
# Apakah pembahasan bab tentang kekudusan ini membuat anda takut pada Allah atau aman di dalam-Nya? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bacaan yang Direkomendasikan==&lt;br /&gt;
''Holiness'' by J.C. Ryle (Hertfordshire, England: Evangelical Press, 1979. Originally published in 1879.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Holiness of God'' by R.C. Sproul (Wheaton, IL: Tyndale House Publishers, 1985)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Knowledge of the Holy'' by A.W. Tozer (Camp Hill, PA: Christian Publications, Inc., 1978)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan==&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Sukartay</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/The_Holiness_of_God/id</id>
		<title>This Great Salvation/The Holiness of God/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/The_Holiness_of_God/id"/>
				<updated>2007-09-20T11:02:41Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Sukartay: /* Menghampiri Allah yang Kudus */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&amp;lt;noinclude&amp;gt;{{InfoBar&lt;br /&gt;
|author=C.J. Mahaney, Robin Boisvert&lt;br /&gt;
|editor=Greg Somerville&lt;br /&gt;
|partnerurl=http://www.sovereigngraceministries.org&lt;br /&gt;
|partner=Sovereign Grace Ministries&lt;br /&gt;
|other=It is part of the ''In Pursuit of Godliness'' series.&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
= Kekudusan Allah =&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
Saya merasa cukup antusias ketika menghadiri pertemuan malam itu. Waktu seorang teman baik muncul, saya berteriak kepadanya dari seberang ruangan, “Ayo kemari, dalam nama Yesus!” Tak lama kemudian seorang pemuda lain secara diam-diam menghampiri saya dan mengungkapkan rasa prihatinnya bahwa saya telah menggunakan nama Yesus dengan cara yang tidak serius. Dengan wajah merah karena malu, saya bergumam, “Terima kasih kamu telah menunjukkan hal itu.” Jelas bahwa pemuda itu merasa prihatin terhadap saya secara pribadi. Saya juga tahu bahwa ia telah berkata benar dan bahwa ia telah menunjukkan rasa hormat yang lebih atas kemuliaan Tuhan daripada saya sendiri. Walaupun sesungguhnya saya tidak pernah bermaksud buruk, peristiwa tadi membuat saya sadar kalau saya telah menjadi terlalu terbiasa dengan nama Tuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak begitu pada mulanya. Pada saat pertobatan saya tiga tahun lalu, saya dicengangkan oleh kuasa Tuhan yang mengubah hidup saya. Pertemuan-pertemuan yang disertai kehadiran-Nya dan jawaban-jawaban doa yang luar biasa telah meyakinkan saya akan realitas Roh Kudus dan kasih Yesus Kristus. Siapa lagi yang dapat secara total menyembuhkan rasa depresi dan tanpa harapan yang telah menguasai saya? Namun ketika intensitas bulan-bulan pertama itu berangsur-angsur mereda menjadi iman yang lebih konsisten, sesuatu yang lain meresap masuk. Keagungan kemuliaan Allah telah terkikis oleh rasa familiar yang bertumbuh. Sudah saatnya untuk memikirkan ulang kekudusan Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Renungkan 1 Tawarikh 16:23-36.''' Apakah anda menangkap adanya usaha keras rohani di dalam sikap Daud terhadap kekudusan Allah?}}Kukudusan. Kata itu sendiri membuat kita membayangkan pendeta-pendeta yang tidak tahu humor di dalam sebuah kuil tak berwarna yang sedang makan makanan tanpa rasa dan menjalani hidup tanpa sukacita. Atau mungkin wajah sedih, gaun panjang, dan daftar panjang berjudul “dilarang.” Tetapi bagaimana dengan keindahan? Apakah kata ‘kekudusan’ membangkitkan ide-ide tentang keindahan? Mungkin tidak. Namun keindahan adalah sebuah kualitas yang sering dihubungkan dengan kekudusan Allah. Di dalam kitab Mazmur kita didorong untuk menyembah Allah “dalam keindahan kekudusan” (Mzm 29:2; 96:9). Kukudusan dikatakan selamanya memperluas penampilan bait suci Allah: “Peraturan-Mu sangat teguh; bait-Mu layak kudus, ya Tuhan, untuk sepanjang masa” (Mzm 93:5).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun Alkitab menunjukkan penghargaan yang jelas dan positif terhadap kekudusan, kebanyakan dari kita tetap menyamakan kekudusan dengan kerja keras. Hanya dengan menyebut kata ‘kekudusan’ pikiran kita akan langsung tertuju pada hal-hal yang kita anggap sebagai tanggung jawab orang Kristen. Tetapi pengertian yang tepat akan kekudusan harus ditelusuri kembali ke sumber dari segala kekudusan – Allah sendiri. Dan saat kita memandang kekudusan Allah, kita tidak sedang berurusan dengan tanggung jawab manusia sama sekali melainkan dengan atribut Allah yang paling menarik dan mengagumkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ahli teologi Stephen Charnock menekankan bahwa di antara berbagai kualitas Allah, ada beberapa yang lebih kita sukai karena berkat-berkat yang bisa langsung kita dapatkan darinya. Misalnya, kita lebih memilih menyanyikan kemurahan Tuhan daripada memikirkan akan keadilan dan murka-Nya. Kita lebih cenderung untuk merenungkan Juru Selamat yang penyayang daripada memikirkan Tuhan yang pencemburu. Tapi ada beberapa sifat ilahi yang Tuhan sendiri nikmati karena sifat-sifat itu mengekspresikan kebesaran-Nya secara sempurna. Kekudusan adalah sifat itu.&amp;lt;ref&amp;gt;Stephen Charnock, ''The Existence and Attributes of God, Vol. II'' (Grand Rapids, MI: Baker Book House, 1979 reprint), p. 112.&amp;lt;/ref&amp;gt; Makhluk-makhluk surgawi yang misterius itu, serafim dan keempat mahluk hidup, mengetahui bahwa kekudusan Allah harus digaris bawahi. Coba pikirkan. Mereka tinggal di dalam hadirat-Nya dan memiliki penglihatan yang tanpa halangan akan realitas (sementara kita melihat melalui kaca gelas yang gelap). Kalau ada makhluk yang pernah “tahu,” merekalah makhluk itu. Dan oleh karena itu, berulang-ulang, siang dan malam, mereka tidak pernah berhenti bersorak, “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, yang Mahakuasa” (Yesaya 6:3, Wahyu 4:8).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kekudusan berbeda dari kesempurnaan Allah yang lain, karena kekudusan meluas ke seluruh sifat Allah lainnya. Karena itu kasih-Nya adalah kasih yang ''kudus'', keadilan-Nya adalah keadilan yang ''kudus'', dan seterusnya. Jika sifat-sifat Allah dapat dianggap sebagai bermacam sisi dari sebuah permata, maka kekudusan adalah cahaya gabungan dari sisi-sisi itu yang bersinar keluar dalam sinar kemuliaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Superstisi Keagamaan ===&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Renungkan Matius 5:17-20.''' Menurut anda dapatkah hal ini menjelaskan mengapa Perjanjian Baru mengandung 90 acuan pada kitab Imamat?}}Firman Tuhan berbicara banyak tentang kekudusan. Kitab pertama, Kejadian, memaparkan kejatuhan manusia. Lalu Keluaran, dengan figur utama lembu Paskah, menunjukkan pemulihannya. Selanjutnya adalah kitab Imamat. Ah, Imamat – kitab yang telah membuat banyak murid Alkitab yang penuh harapan menjadi tersendat dalam usaha tahunan mereka untuk membaca seluruh Alkitab. Namun buku ini sangat penting bagi pengertian kita akan kekudusan. Imamat juga memberikan penerangan penting mengenai korban penebusan Tuhan Yesus Kristus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Adalah sesuatu yang selalu penting untuk mengingatkan diri kita sendiri akan keagungan kesempurnaan moral yang absolut, yang mengelilingi Pribadi Ilahi. Tanpanya, penyembahan sejati akan mengecil dan manusia akan menjadi arogan.&amp;lt;ref&amp;gt;T.C. Hammond, ''In Understanding Be Men'' (London, England: InterVarsity Fellowship, 1938).&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; - T.C. Hammond}}Di dalam kitab Imamat Tuhan menunjukkan manusia bagaimana kita harus menghampiri-Nya dalam penyembahan. Kitab ini secara khusus fokus pada beberapa kurban yang berbeda yang Tuhan pinta agar umat-Nya dapat ''berdamai'' dengan-Nya, dan beberapa persiapan makanan yang Tuhan perintahkan agar mereka dapat ''terus berdamai'' dengan-Nya.&amp;lt;ref&amp;gt;Henrietta Mears, ''What the Bible Is All About'' (Ventura, CA: Regal Books, 1983), p. 51.&amp;lt;/ref&amp;gt; Betapapun membingungkan dan tidak relevannya sistem kurban yang rinci ini bagi kita sekarang, Tuhan mengadakan semua itu untuk mengajarkan umat-Nya sebuah kebenaran yang mendalam yaitu bahwa ''Ia kudus''.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata kekudusan menyiratkan keterpisahan dari segala sesuatu yang tidak murni.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibid., p. 58.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dia adalah ''sesuatu yang lain'' dari kita. Walaupun hal ini kelihatannya sederhana, tapi tetap harus dinyatakan karena adanya pemikiran-pemikiran masa kini tentang kekuatan “Era Baru” (“New Age”) dalam diri kita dan sifat keilahian yang dipercaya tertanam dalam diri manusia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam Firman Tuhan, hal-hal yang biasa yang Tuhan sentuh menjadi luar biasa. Contohnya, area di sekeliling semak duri menyala ditandai sebagai tanah yang kudus karena merupakan tempat pewahyuan Allah dan karena itu adalah tindakan yang tepat bila Musa menanggalkan sandalnya karena rasa hormat kepada Allah. Atau pertimbangkan peralatan yang digunakan di dalam upacara di tabernakel dan bait suci. Peralatan itu tidak biasa pula. Peralatan itu kudus. Begitu pula persekutuan kudus, altar kudus, minyak urapan kudus, dan hari-hari kudus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang membuat semua itu kudus? Allah yang kudus. Tuhan memilih hal-hal yang biasa dan membuatnya menjadi spesial dengan memisahkannya untuk tujuan yang kudus, terutama untuk mengkomunikasikan kepada umat-Nya bahwa ''Ia'' kudus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:'''&amp;lt;br&amp;gt; Orang-orang Farisi menjalan superstisi keagamaan secara ekstrim, seperti dapat dilihat di Matius 23:16-22. Apakah Yesus memuji perbuatan mereka?}}Sayangnya, banyak orang yang tidak melihat point ini dan berakhir dengan superstisi bersifat religius. Satu kali, saya menerima telepon pada larut malam dari seorang wanita lanjut usia yang meminta saya untuk bertemu dengannya untuk berdoa. Wanita ini bersikeras ada hal yang tidak bisa ditunda dan kami harus bertemu malam itu di “rumah Tuhan.” Saya mengusulkan, mengingat waktu saat itu, tempat umum mungkin lebih pantas daripada gedung gereja yang kosong, tetapi ia tetap bersikeras agar kami bertemu di “rumah Tuhan.” Wanita ini telah salah dalam memberikan kualitas khusus yang hanya dimiliki oleh Tuhan kepada sebuah tempat. Ia tidak menyadari bahwa di jaman Perjanjian Baru ini, tidak ada satu tempatpun yang dengan sendirinya kudus – tidak juga “Tanah Suci” (the “Holy Land”). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nabi Yeremia yang menyadari akan sikap yang sama di antara sesamanya menulis, “Janganlah percaya kepada perkataan dusta yang berbunyi: Ini bait Tuhan, bait Tuhan, bait Tuhan!” (Yer 7:4). Walaupun mereka memiliki rasa takut dan hormat pada struktur fisik bait suci, bangsa Israel yang terus mengulang “bait Tuhan” memiliki hati yang telah berpindah jauh dari Tuhan yang adalah Tuhan dari bait suci. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Perikop Alkitab di bawah ini mendemonstrasikan tiga kasus dimana rasa hormat untuk perkakas, acara ritual ataupun gedung keagamaan merusak hubungan antara manusia dengan Allah.  Di tempat di bawah setiap referensi, rangkum secara singkat masalah yang ada. &lt;br /&gt;
* Bilangan 21:6-9; 2 Raja-Raja 18:1-4&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Lukas 13:10-16&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Markus 13:1-2; Matius 26:59-62; Matius 12:3-6&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
}}Saya melihat hal yang sama terjadi ketika satu pasangan muda-mudi yang belum diselamatkan dan tidak tertarik untuk mengikuti Yesus Kristus tapi menganggap adalah hal yang mutlak penting mereka menikah di gedung gereja. Apalagi sebabnya kalau bukan karena perasaan superstisius bahwa seolah-olah pernikahan akan diberkati apabila dilaksanakan di sebuah gedung “suci”? Meletakkan arti penting yang tidak sepantasnya pada gedung atau upacara atau perkakas keagamaan sama dengan tidak berbuat apa-apa untuk menunjukkan rasa hormat kepada Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah, di dalam Firman Tuhan, memisahkan beberapa benda untuk penggunaan khusus, tetapi Ia memiliki maksud tertentu mengapa melakukannya – untuk mengajarkan kita bahwa ''Ia'' adalah kudus dan harus dihormati. Dengan alasan ini, maka, menggunakan benda-benda suci dengan cara yang biasa atau tidak hormat adalah perbuatan yang menghina Allah.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Renungkan 1 Samuel 6:19-20.''' Apakah rasa kagum campur heran anda terhadap Tuhan menyamai rasa kagum dan heran yang dialami orang-orang Bet-Semes?}}Bab kelima dari kitab Daniel menceritakan sebuah cerita yang tidak asing lagi tentang tulisan di dinding, ketika Tuhan menuliskan penghakiman ilahi-Nya terhadap raja Babel. Apa yang membangkitkan murka-Nya? Beltsazar telah mengotori apa yang Tuhan nyatakan kudus, seperti dikatakan Daniel, “Kemudian dibawalah perkakas dari emas dan perak itu, yang diambil dari dalam Bait Suci, Rumah Allah di Yerusalem, lalu raja dan para pembesarnya, para isteri dan para gundik mereka minum dari perkakas itu; mereka minum anggur dan memuji-muji dewa-dewa dari emas dan perak, tembaga, besi, kayu dan batu” (Dan 5:3-4).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Daniel dipanggil untuk menterjemahkan tulisan misterius itu, ia mengambil kesempatan untuk menegur keras sang raja. Perkataan terakhirnya menyimpulkan dosa Beltzasar: “tuanku tidak muliakan Allah yang menggenggam nafas tuanku dan menentukan segala jalan tuanku” (Dan 5:23).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kegagalan Beltzasar untuk memuliakan benda-benda milik Tuhan sama dengan kegagalan untuk memuliakan Tuhan; hujatannya harus dibayar dengan hidupnya. Peristiwa seperti ini tersebar di seluruh Alkitab untuk mengingatkan apa yang bisa terjadi ketika seseorang memutuskan untuk bermain-main dengan perabot milik Tuhan. Apakah segera ataupun di penghujung jaman, penghakiman akan dilaksanakan bagi dosa terhadap kekudusan Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===“Factor Pemecah” ===&lt;br /&gt;
Tuhan sangatlah berbeda dengan kita. Meskipun kita diciptakan serupa peta dan teladan Allah, pikiran dan jalan-jalan-Nya begitu sangat melampaui pikiran dan jalan kita sehingga Yesaya menyamakan keduanya seperti jarak antara langit dan bumi (Yes 55:8, 9). Mungkin di sinilah perbedaan itu menjadi begitu jelas sehubungan dengan kesempurnaan moral-Nya. Seperti Habakuk mengekspresikannya, “Mata-Mu terlalu suci untuk melihat kejahatan dan Engkau tidak dapat memandang kelaliman” (Hab 1:13). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Betapa lamban kita untuk percaya pada Tuhan sebagai Tuhan, berdaulat, melihat segalanya dan berkuasa! Betapa kecil kita jadikan kemuliaan Tuhan dan Juru Selamat kita Yesus Kristus! Kita perlu ‘menantikan Tuhan’ dalam meditasi akan kemuliaan-Nya, sampai kita menemukan kekuatan kita diperbaharui dengan mengukir semua itu di dalam hati kita.&amp;lt;ref&amp;gt;J.I. Packer, ''Knowing God'' (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1973), p. 79.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; - J.I. Packer}}Kukudusan mutlak Allah jauh melampaui sekedar ketidakberdosaan. Kekudusan ini adalah ekspresi positif dari kebaikan-Nya, bukan hanya ketidakberadaan dosa. Kita semua pernah bertemu orang-orang yang karakternya bersinar jauh lebih terang daripada kita sendiri sehingga kita merasa kecil dan hina bila dibandingkan dengan mereka. Saya memiliki seorang teman yang, sebelum ia mencukur jambangnya, terlihat seperti gabungan antara Abraham Lincoln dan Yesus (seperti digambarkan di ilustrasi kontemporer). Kemiripan ini bukan hanya dalam soal penampilan fisik. Kebaikan hatinya dan hikmatnya yang lembut sungguh luar biasa. Meskipun ia sedih mengetahui hal ini, berada bersamanya mengingatkan saya akan sifat mementingkan diri saya sendiri. Bila perbandingan dengan sesama manusia saja bisa membuat kita merasa begitu rendah, bayangkan perasaan tidak nyaman yang akan kita rasakan di dalam kehadiran Allah yang kudus!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk studi lebih lanjut:'''&amp;lt;br&amp;gt; Bila anda menginginkan wahyu baru dari kekudusan dan kekuatan kedaulatan Allah, cobalah pelajari kata pendek ini: “bergetar” - Keluaran 15:13-16; Ayub 9:4-6; Mazmur 99:1-3; Yesaya 64:1-4; Yeremia 23:9; Yehezkiel 38:20-23; Yoel 3:16; Habakuk 3:6..}}Hal inilah yang terjadi pada Petrus. Yesus mencengangkan Petrus di suatu hari dengan mujizat penangkapan ikan. Tapi bukannya bersukacita di atas kapal, yang dapat Petrus lihat hanyalah keadaan dirinya sendiri yang penuh dosa. Saat berhadapan dengan kekudusan Yesus, Petrus melihat dirinya sendiri seperti apa adanya, dan kenyataan itu sangat menghancurkan. “Simon Petrus…tersungkur di depan Yesus dan berkata, ‘Tuhan, pergilah daripadaku, karena aku ini seorang berdosa!’” (Luk 5:8). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak dibutuhkan waktu lama bagi Petrus untuk melupakan kekudusan Tuhan, seperti kita lihat di pasal selanjutnya di gunung transfigurasi. Peristiwa agung ini mencatat kunjungan dua tokoh terkemuka dari masa lalu Israel, Musa dan Elia. Tambah lagi, Yesus yang bertransfigur menjadi terang berkilauan seperti kilat. Tapi Petrus, bukannya tersungkur di hadapan Tuhan seperti yang ia lakukan sebelumnya, nampak tidak sadar akan apa yang sedang terjadi. {{RightInsert|Bacalah deskripsi Yohanes tentang Yesus Kristus di kitab Wahyu 1:10-16. Detail apa yang menarik perhatian anda paling jelas? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
}}Ia menjadi banyak bicara dan mengusulkan mungkin mereka dapat membuat kemah sementara untuk setiap orang. Saat itulah Allah Bapa turun tangan secara pribadi. “Sementara [Petrus] berkata demikian, datanglah awan menaungi mereka. Dan ketika mereka masuk ke dalam awan itu, takutlah mereka. Maka terdengarlah suara dari dalam awan itu, yang berkata, ‘Inilah anak-Ku yang Kupilih; dengarkanlah Dia.’” (Luk 9:34-35). Hal ini sepertinya membuat Petrus dan yang lainnya tersadar, seperti Matius tekankan, “Mendengar itu tersungkurlah murid-murid-Nya dan mereka sangat ketakutan” (Mat 17:6).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Ketika penghakiman (Tuhan) jatuh pada Nadab atau Uzzah, respon kita adalah keterkejutan dan amarah. Kita telah mengharapkan Tuhan untuk bermurah hati. Dari sana, langkah selanjutnya adalah mudah: kita menuntutnya. Saat hal itu tidak muncul, respon pertama kita adalah marah terhadap Tuhan, ditambah dengan protes: “Ini tidak adil.” Kita cepat melupakan bahwa dengan dosa pertama kita, kita telah menyerahkan segala hak atas anugerah kehidupan. Bahwa saya bernafas pagi ini adalah sebuah kemurahan ilahi. Tuhan tidak berhutang apapun pada saya. Saya berhutang segala-galanya pada-Nya.&amp;lt;ref&amp;gt;R.C. Sproul, ''The Holiness of God'' (Wheaton, IL: Tyndale House Publishers, 1985), p. 164.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; -R.C. Sproul}}Nabi Yesaya memiliki pengalaman dramatis yang membekas dalam dirinya selamanya. Ia melihat visi Tuhan “duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang, dan ujung jubahnya memenuhi Bait Suci” (Yes 6:1). Di dalam penglihatan ini makhluk-makhluk malaikat mendeklarasikan kekudusan Allah yang begitu besar. “Maka bergoyanglah alas ambang pintu disebabkan suara orang yang berseru itu dan rumah itu penuhlah dengan asap” (ayat 4). Sepenuhnya dibuat tak berdaya oleh penglihatan luar biasa itu, Yesaya memberi satu-satunya respon yang layak, “Celakalah aku! Aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni Tuhan semesta alam” (ayat 5).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Untuk studi lebih lanjut:'''&amp;lt;br&amp;gt;Perikop-perikop berikut ini menceritakan pertemuan dengan malaikat - Bilangan 22:21-31; Hakim-Hakim 6:20-23; Matius 28:2-4; Lukas 2:8-10.}}Beberapa orang menamakan pengalaman Yesaya “faktor pemecah.” R.C. Sproul menulis, “Untuk pertama kali dalam hidupnya Yesaya mengerti siapa Tuhan itu. Pada saat yang sama, untuk pertama kalinya Yesaya mengerti siapa Yesaya itu.” Jika kata “intergritas” berarti keseluruhan (integer adalah angka penuh), disintegrasi berarti pecah menjadi butiran-butiran. Kebanyakan dari kita mencoba keras menjadikan hidup kita “utuh.” Dan kalaupun kita luluh berantakan, setidaknya kita kelihatan seolah “utuh.”  Betapa menyedihkannya, lalu, untuk berada di hadirat Allah dan luluh berantakan sepenuhnya saat kita menemukan betapa dalamnya keberdosaan kita sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Menghampiri Allah yang Kudus=== &lt;br /&gt;
Pengenalan akan keberdosaan pada mulanya menghasilkan perasaan benci terhadap Tuhan. Hampir dalam setiap peristiwa Alkitab tentang kunjungan malaikat, individu-individu yang bersangkutan jatuh tersungkur karena ketakutan. {{LeftInsert|&amp;quot;Tuhan adalah satu-satunya penghiburan, Ia juga adalah teror terbesar: sesuatu yang kita paling butuhkan dan sesuatu yang darinya kita paling ingin sembunyi…Sebagian orang berbicara seolah bertemu pandang dengan kebajikan mutlak adalah menyenangkan. Mereka perlu berpikir ulang. Mereka masih bermain-main dengan agama.&amp;lt;Ref&amp;gt;C.S. Lewis, ''Mere Christianity'' (New York: Macmillan Publishing Co., Inc., 1943), p. 38.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; - C.S. Lewis}}Betapa lebih lagi mereka yang melihat Allah di dalam keagungan kekudusan-Nya. Bangsa Israel yang berdiri di Gunung Sinai saat gunung itu bergetar dengan kehadiran kudus Allah memohon kepada Musa untuk menjadi perantara mereka, penengah mereka. Musa memperingatkan mereka akan hal ini:&lt;br /&gt;
:Ketika kamu mendengar suara itu dari tengah-tengah gelap gulita, sementara gunung itu menyala, maka kamu, yakni semua kepala sukumu dan para tua-tuamu mendekati aku dan berkata, “Sesungguhnya Tuhan, Allah kita telah memperlihatkan kepada kita kebesaran dan kemuliaan-Nya, dan suara-Nya telah kita dengar dari tengah-tengah api. Pada hari ini telah kami lihat, bahwa Allah berbicara dengan manusia dan manusia itu tetap hidup. Tetapi sekarang, mengapa kami harus mati? Sebab api yang besar ini akan menghanguskan kami. Apabila kami lebih lama lagi mendengar suara Tuhan, Allah kita, kami akan mati. Sebab makhluk manakah yang telah mendengar suara dari Allah yang hidup yang berbicara dari tengah-tengah api seperti kami dan tetap hidup? Mendekatlah engkau dan dengarkanlah segala yang difirmankan Tuhan, Allah kita, dan engkaulah yang mengatakan kepada kami segala yang difirmankan kepadamu oleh Tuhan, Allah kita, maka kami akan mendengar dan melakukannya” (Ul 5:23-24).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Di dalam The Chronicles of Narnia, pengarang C.S. Lewis menggunakan singa yang mulia Aslan untuk menggambarkan Yesus. Pada satu saat, sebuah karakter berbicara tentang Aslan, “Sepertinya ia bukan singa yang jinak.”&amp;lt;ref&amp;gt;C.S. Lewis, ''The Voyage of the “Dawn Treader”'' (New York: Macmillan Publishing Co., Inc., 1952), p. 138.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dapatkah anda memikirkan contoh-contoh dari Alkitab atau interaksi anda sendiri dengan Tuhan yang menunjukkan bahwa Ia tidaklah “jinak”?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
}}Satu kali saya mendengar John Wimber berbicara tentang orang-orang yang tidak menginginkan hubungan dengan Tuhan karena mereka menganggapnya terlalu berbahaya. Mereka lebih memilih hubungan dengan Kekristenan atau dengan gereja. Sementara hal ini tak diragukan memang benar bagi sebagian orang, seorang Kristen sejati memiliki kerinduan untuk menjadi kudus. Ia mengetahui bahwa hanya orang yang suci hatinya akan melihat Allah (Mat 5:8), dan ia memiliki kerinduan akan kesucian itu yang akan memampukannya untuk memandang Allahnya. Bagi orang Kristen dewasa, pengenalan akan kekudusan Allah meyakinkannya akan kasih Allah. Ia menyadari, meskipun adanya kekudusan Allah dan keberdosaannya sendiri, Tuhan bersabar terhadap dirinya. Ia layak menerima penghakiman tetapi malah menerima kemurahan yang baru setiap pagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita dapat menganggap bahwa usaha kita untuk menjalani hidup Kekristenan memang lemah adanya, tetapi bila kita memiliki kerinduan untuk kekudusan kita bisa terhibur. Allah-lah yang telah meletakkan kerinduan itu di sana dan Ia pasti akan menggenapinya. Namun bagaimana? Bagaimana kita bisa memenuhi perintah Allah yang sepertinya tidak mungkin, “Kuduslah, sebab Aku kudus” (1 Ptr 1:16)? Bagaimana kita bisa menghampiri “Penguasa yang satu-satunya dan yang penuh bahagia, Raja di atas segala raja dan Tuan di atas segala tuan. Dialah satu-satunya yang tidak takluk kepada maut, ''bersemayam dalam terang yang tak terhampiri''. Seorangpun tak pernah melihat Dia dan memang manusia tidak dapat melihat Dia” (1 Tim 6:15-16, penekanan ditambah)? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Renungkan Ibrani 10:19-23.''' Bagaimana Imam Agung kita telah menulis ulang tentang peraturan untuk memasuki tempat maha kudus?}}Kita harus menghampiri dengan rasa gentar, seperti digambarkan jelas melalui pelayanan imam di Perjanjian Lama. Agar imam dapat menghampiri Allah, terdapat peraturan-peraturan yang telah ditetapkan secara ketat. Seseorang tidak dapat memasuki tempat maha kudus kapan saja ia mau. Imam akan memasuki tempat maha kudus hanya sekali setahun yaitu pada Hari Penebusan. Pertama ia harus mempersembahkan kurban bagi dirinya sendiri, darah kurban itu menjadi peringatan atas dosanya dan atas kekudusan Allah. Kemudian ia harus berpakaian khusus. Di salah satu ujung jubahnya, terdapat selang seling lonceng dan buah delima yang akan menimbulkan bunyi untuk membuktikan bahwa ia masih hidup, bahwa ia belum binasa karena kekudusan Allah. Menurut tradisi, sebuah tali yang panjang diikatkan pada si imam supaya bila ia mati di hadirat Tuhan imam-imam lainnya dapat menariknya keluar tanpa harus masuk ke dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Oh pendosa, dapatkah engkau memberi alasan mengapa, sejak engkau bangkit dari tempat tidurmu pagi ini, Tuhan tidak menghantammu mati?&amp;lt;ref&amp;gt;Jonathan Edwards, “Sinners In the Hands of An Angry God.”&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; - Jonathan Edwards}}Peraturan rumit dan detail ini adalah sebuah peringatan yang jelas: Jangan bermain-main dengan kekudusan Allah. Kedua putra Harun Nadab dan Abihu mendapatkan pelajaran ini secara keras. Ketika mereka mencoba cara baru untuk membakar dupa di hadapan Tuhan, “maka keluarlah api dari hadapan Tuhan lalu menghanguskan keduanya sehingga mereka mati di hadapan Tuhan” (Im 10:2). (Tak perlu dikatakan lagi, itu adalah terakhir kalinya mereka melakukan sesuatu yang baru). Pada momen yang membuat mereka tersadar itu, Musa mengingatkan Harun akan firman Tuhan: “Kepada orang yang karib kepada-Ku Kunyatakan kekudusan-Ku, dan di muka seluruh bangsa itu akan Kuperlihatkan kemuliaan-Ku” (Im 10:3). Tidak ada bagian Alkitab yang lebih baik merefleksikan pusat pewahyuan Perjanjian Lama, seperti yang disimpulkan oleh Salomo: “Takut akan Tuhan adalah permulaan hikmat” (Ams 1:7).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasa gentar adalah esensial, tapi kita tidak akan pernah dapat mendekati hadirat Allah yang kudus apabila bukan karena Perantara kita, Yesus Kristus sendiri. Perantara adalah seorang yang menjembatani jurang antara dua pihak yang berseteru. Dosa kita telah mengasingkan dan membuat murka Allah. Namun hal itu tidak membuat-Nya berhenti mengasihi kita. Kekudusan-Nya sama sekali tidak menyiratkan keengganan-Nya untuk menerima kita. Sebaliknya, Ia mengambil inisiatif mengutus Anak-Nya untuk menjauhkan dosa-dosa kita sehingga di dalam Kristus kita boleh menghampiri hadirat-Nya dan menikmati-Nya selamanya. Seperti dijelaskan oleh Paulus kepada umat di Korintus, “Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus” (2 Cor 5:19). Yesus Kristus, sebagai perantara kita, menderita penghukuman atas ketidaktaatan kita sehingga memungkinkan perdamaian kembali. Tetapi keselamatan adalah keinginan gabungan dan usaha bersama antara Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Kekudusan Allah mengajarkan kita bahwa hanya ada satu cara untuk berhadapan dengan dosa – secara radikal, serius, menyakitkan, konstan. Bila engkau tidak hidup demikian, engkau tidak hidup di hadirat Dia yang Kudus dari Israel.&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''A Heart for God'' (Colorado Springs, CO: NavPress, 1985), p. 130.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; - Sinclair Ferguson}}Biarkan saya menawarkan satu masukan terakhir dari imam Perjanjian Lama. Merupakan tanggung jawab seorang imam untuk menjadi penghubung antara Allah dan manusia. Di bagian bahu dari jubah imam terdapat permata krisopras yang berukir enam nama suku Israel. Di bagian tutup dada jubah terdapat duabelas batu permata yang berbeda, masing-masing untuk keduabelas suku Israel. Ketika ia memasuki tempat maha kudus, imam secara simbolik membawa umat Tuhan di atas bahunya dan di dalam hatinya. Dalam jaman Perjanjian Baru, tentu saja Yesus adalah Imam Besar Agung kita. Begitu besar kasih-Nya buat kita sehingga Ia juga menggendong kita di atas bahu-Nya, menanggung beban kita, dan sebagai teman yang berbelas kasihan, menyimpan kita dekat dengan hati-Nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Renungkan Yesaya 57:15.''' Mengapa Allah kita yang kudus memilih tempat bersemayam kedua di ayat ini?}}Mengenal Yesus sebagai mediator kita memampukan kita untuk melihat Allah bukan hanya sebagai api yang menghanguskan tetapi sebagai Bapa yang kepada-Nya kita telah didamaikan.&amp;lt;ref&amp;gt;J.C. Ryle, ''Expository Thoughts on the Gospels: Luke'' (Hertfordshire, England: Evangelical Press, 1879, 1985), p. 71.&amp;lt;/ref&amp;gt; Kita harus berusaha untuk mengenal dan menghargai pelayanan vital Tuhan kita Yesus. Memahami pentingnya peran Yesus sebagai Imam akan menimbulkan rasa terima kasih yang tulus serta rasa sadar yang lebih besar akan semua yang Tuhan telah lakukan untuk kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Kita Beroleh Bagian=== &lt;br /&gt;
Salah satu dari janji Firman Tuhan yang paling mengagumkan adalah jaminan bahwa kita akan berbagi dalam kekudusan Allah: “Sebab ayah kita mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya” (Ibr 12:10). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Renungkan 2 Korintus 7:1.''' Apakah motif kita mengejar kekudusan? Apa metode kita?}}Bila kita berpikir secara serius tentang kekudusan Tuhan kita, sepertinya tidak dapat dipercaya kita dapat mengalami hal seperti itu. Tapi itulah apa yang ayat dari Ibrani ini nyatakan dengan jelas. Sepasti Tuhan mendisiplin anak-anak-Nya (dan ayat tadi sangat pasti tentang itu), kita akan menikmati sebagian dari kekudusan-Nya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Kekudusan bukanlah sebuah pengalaman; kekudusan adalah penyatuan kembali karakter kita, pendirian lagi akan sebuah kehancuran. Kekudusan adalah usaha keras yang trampil, proyek jangka panjang, menuntut segala sesuatu yang Tuhan telah berikan pada kita untuk hidup dan kesalehan.&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''A Heart for God'', p. 129.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; - Sinclair Ferguson}}Bahwa janji ini melibatkan disiplin seharusnya tidak membuat kita marah atau jengkel. Disiplin adalah metode Tuhan yang telah terbukti dalam menyempurnakan anak-anak-Nya, dan jenis displin Tuhan membutuhkan partisipasi aktif kita. Pasal keduabelas dari Ibrani ini menuntut usaha keras dari pihak kita. Perhatikan bahasa mengenai usaha yang dipakai penulis: “menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita” (ayat 1)…”berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita” (ayat 1)…”Dalam pergumulan kamu melawan dosa” (ayat 4)…”menanggung kesusahan” (ayat 7)…”kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah” (ayat 12)…”Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan; sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan” (ayat 14, penekanan ditambahkan). Disiplin Bapa kita mungkin akan terasa menyakitkan untuk sementara waktu, tapi hal itu memperlengkapi kita untuk menjalani keabadian bersama Allah yang kudus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|Semua disiplin rohani yang terdaftar di bawah dapat membantu anda untuk bertumbuh dalam kekudusan pribadi. Beri tanda satu disiplin dimana anda merasa paling kurang.&lt;br /&gt;
* Pemahaman Alkitab&lt;br /&gt;
* Doa&lt;br /&gt;
* Pengakuan dosa/accountability&lt;br /&gt;
* Penyembahan&lt;br /&gt;
* Puasa&lt;br /&gt;
}}Yakub adalah seorang yang tentunya telah mengalami kesulitan hidupnya sendiri, banyak di antaranya disebabkan oleh dirinya sendiri. Tetapi di penghujung hidupnya dia bukan lagi Yakub. Namanya adalah Israel. Selama perjalanan terjadi perubahan nama dan juga perubahan karakter. Ia berjalan timpang, bertumpu pada tongkatnya, dan menyembah Allah sebagai Yang Kudus (Ibr 11:21).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yeremia mengatakan, “Karena kemurahan Tuhan kita tidak binasa” (Rat 3:22). Kita layak mendapat perlakuan yang tidak lebih baik dari yang Nadab dan Abihu terima. Tetapi jauh daripada dihanguskan, kita menemukan diri kita sebagai objek kasih ilahi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin situasi ini paling jelas diilustrasikan pada keadaan sekitar pertobatan Saul dari Tarsus. Ia adalah seorang yang dengan bersemangat menganiaya gereja awal, bertanggung jawan atas kematian banyak pria dan wanita pengikut Yesus Kristus. Ketika Saul dalam perjalanan dinasnya ke Damaskus untuk menemukan dan menghukum orang-orang Kristen, Tuhan sendiri secara dramatis turun tangan dan menghentikan aktivitasnya. Dalam menceritakan peristiwa ini kepada Raja Agripa bertahun-tahun kemudian, Paulus berkata: &lt;br /&gt;
:“tiba-tiba, ya raja Agripa, pada tengah hari bolong aku melihat di tengah jalan itu cahaya yang lebih terang dari cahaya matahari, turun dari langit meliputi aku dan teman-teman seperjalananku. Kami semua rebah ke tanah dan aku mendengar suatu suara yang mengatakan kepadaku dalam bahasa Ibrani, ‘Saulus, Saulus mengapa engkau menganiaya Aku? Sukar bagimu menendang ke galah rangsang.’ Tetapi aku menjawab, ‘Siapa Engkau Tuhan?' Kata Tuhan, ‘Akulah Yesus, yang kauaniaya itu. Tetapi sekarang bangunlah dan berdirilah. Aku menampakan diri kepadamu untuk menetapkan engkau menjadi pelayan dan saksi tentang segala sesuatu yang telah kau lihat daripada-Ku dan tenang apa yang akan Aku perlihatkan kepadamu nanti’” (Kis 26:13-16).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Untuk studi lebih lanjut:'''&amp;lt;br&amp;gt;Bacalah bagaimana Harun memimpin bangsa Israel dalam penyembahan berhala sementara Musa sedang bertemu Tuhan (Kel 32:1-10, 19-28). Bandingkan hal ini dengan penyucian Harun sebagai imam yang akhirnya dilakukan oleh Tuhan (Kel 39:27-31, 40:12-16). Apakah Harun mendapatkan yang pantas ia terima?}}Adalah menarik bahwa Saul keluar dari peristiwa ini hidup-hidup. Tuhan bisa saja sepenuhnya dibenarkan bila Ia menghancurkan Saul saat itu juga di tengah jalan Damaskus. Namun bukannya menerima keadilan di tangan Yang Kudus yang ia aniaya, Saul mengalami kasih Tuhan yang agung dan penerimaan. Ia bahkan menerima amanat untuk melayani sebagai duta bagi Dia yang telah ia tentang dengan keras. Betapa anugerah yang mengagumkan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kekudusan Allah memang memisahkan Dia dari kita, sejauh langit dari bumi. Tapi puji Tuhan, hal ini tidak menghalangi-Nya untuk menggapai dan mengubah Yakub-Yakub menjadi Israel-Israel dan Saul-Saul menjadi Paul-Paul. Nama kita mungkin tidak akan pernah berubah, tapi transformasi di dalam diri kita adalah pasti, dijamin, saat kita berhadapan dengan kekudusan Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Diskusi Kelompok==&lt;br /&gt;
# Bagaimana anda mendefinisikan penghujatan? Beri contoh-contoh bagaimana orang Kristen maupun bukan Kristen menghujat Allah? &lt;br /&gt;
# Menurut si pengarang, mengapa Tuhan menguduskan banyak peralatan di dalam Perjanjian Lama? &lt;br /&gt;
# Dari semua murid, Yohanes adalah yang terdekat dengan Yesus. Mengetahui ini, apakah yang signifikan dari reaksi Yohanes atas penglihatannya akan Yesus di Wahyu 1:10-17?&lt;br /&gt;
# Apakah kekudusan Allah sudah menyebabkan anda mengalami “faktor pemecah” secara pribadi? &lt;br /&gt;
# Atribut Allah yang manakah yang bagi anda paling menarik? Paling mengintimidasi? &lt;br /&gt;
# Jenis-jenis perbuatan yang seperti apakah yang mungkin mengindikasikan bahwa seorang Kristen telah menjadi terlalu biasa dengan Tuhan? &lt;br /&gt;
# Apakah menurut anda adil bagi Tuhan untuk menghukum mati seseorang? &lt;br /&gt;
# Disiplin rohani yang manakah yang anda pilih di Pertanyaan 4 di halaman ini? Bagaimana anda dapat mengembangkan disiplin ini? &lt;br /&gt;
# Tingkat kekudusan yang seperti apa yang dapat kita harapkan dalam hidup ini? &lt;br /&gt;
# Apakah pembahasan bab tentang kekudusan ini membuat anda takut pada Allah atau aman di dalam-Nya? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bacaan yang Direkomendasikan==&lt;br /&gt;
''Holiness'' by J.C. Ryle (Hertfordshire, England: Evangelical Press, 1979. Originally published in 1879.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Holiness of God'' by R.C. Sproul (Wheaton, IL: Tyndale House Publishers, 1985)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Knowledge of the Holy'' by A.W. Tozer (Camp Hill, PA: Christian Publications, Inc., 1978)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan==&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Sukartay</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/The_Holiness_of_God/id</id>
		<title>This Great Salvation/The Holiness of God/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/The_Holiness_of_God/id"/>
				<updated>2007-09-20T11:01:02Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Sukartay: /* The “Factor Pemecah” */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&amp;lt;noinclude&amp;gt;{{InfoBar&lt;br /&gt;
|author=C.J. Mahaney, Robin Boisvert&lt;br /&gt;
|editor=Greg Somerville&lt;br /&gt;
|partnerurl=http://www.sovereigngraceministries.org&lt;br /&gt;
|partner=Sovereign Grace Ministries&lt;br /&gt;
|other=It is part of the ''In Pursuit of Godliness'' series.&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
= Kekudusan Allah =&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
Saya merasa cukup antusias ketika menghadiri pertemuan malam itu. Waktu seorang teman baik muncul, saya berteriak kepadanya dari seberang ruangan, “Ayo kemari, dalam nama Yesus!” Tak lama kemudian seorang pemuda lain secara diam-diam menghampiri saya dan mengungkapkan rasa prihatinnya bahwa saya telah menggunakan nama Yesus dengan cara yang tidak serius. Dengan wajah merah karena malu, saya bergumam, “Terima kasih kamu telah menunjukkan hal itu.” Jelas bahwa pemuda itu merasa prihatin terhadap saya secara pribadi. Saya juga tahu bahwa ia telah berkata benar dan bahwa ia telah menunjukkan rasa hormat yang lebih atas kemuliaan Tuhan daripada saya sendiri. Walaupun sesungguhnya saya tidak pernah bermaksud buruk, peristiwa tadi membuat saya sadar kalau saya telah menjadi terlalu terbiasa dengan nama Tuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak begitu pada mulanya. Pada saat pertobatan saya tiga tahun lalu, saya dicengangkan oleh kuasa Tuhan yang mengubah hidup saya. Pertemuan-pertemuan yang disertai kehadiran-Nya dan jawaban-jawaban doa yang luar biasa telah meyakinkan saya akan realitas Roh Kudus dan kasih Yesus Kristus. Siapa lagi yang dapat secara total menyembuhkan rasa depresi dan tanpa harapan yang telah menguasai saya? Namun ketika intensitas bulan-bulan pertama itu berangsur-angsur mereda menjadi iman yang lebih konsisten, sesuatu yang lain meresap masuk. Keagungan kemuliaan Allah telah terkikis oleh rasa familiar yang bertumbuh. Sudah saatnya untuk memikirkan ulang kekudusan Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Renungkan 1 Tawarikh 16:23-36.''' Apakah anda menangkap adanya usaha keras rohani di dalam sikap Daud terhadap kekudusan Allah?}}Kukudusan. Kata itu sendiri membuat kita membayangkan pendeta-pendeta yang tidak tahu humor di dalam sebuah kuil tak berwarna yang sedang makan makanan tanpa rasa dan menjalani hidup tanpa sukacita. Atau mungkin wajah sedih, gaun panjang, dan daftar panjang berjudul “dilarang.” Tetapi bagaimana dengan keindahan? Apakah kata ‘kekudusan’ membangkitkan ide-ide tentang keindahan? Mungkin tidak. Namun keindahan adalah sebuah kualitas yang sering dihubungkan dengan kekudusan Allah. Di dalam kitab Mazmur kita didorong untuk menyembah Allah “dalam keindahan kekudusan” (Mzm 29:2; 96:9). Kukudusan dikatakan selamanya memperluas penampilan bait suci Allah: “Peraturan-Mu sangat teguh; bait-Mu layak kudus, ya Tuhan, untuk sepanjang masa” (Mzm 93:5).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun Alkitab menunjukkan penghargaan yang jelas dan positif terhadap kekudusan, kebanyakan dari kita tetap menyamakan kekudusan dengan kerja keras. Hanya dengan menyebut kata ‘kekudusan’ pikiran kita akan langsung tertuju pada hal-hal yang kita anggap sebagai tanggung jawab orang Kristen. Tetapi pengertian yang tepat akan kekudusan harus ditelusuri kembali ke sumber dari segala kekudusan – Allah sendiri. Dan saat kita memandang kekudusan Allah, kita tidak sedang berurusan dengan tanggung jawab manusia sama sekali melainkan dengan atribut Allah yang paling menarik dan mengagumkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ahli teologi Stephen Charnock menekankan bahwa di antara berbagai kualitas Allah, ada beberapa yang lebih kita sukai karena berkat-berkat yang bisa langsung kita dapatkan darinya. Misalnya, kita lebih memilih menyanyikan kemurahan Tuhan daripada memikirkan akan keadilan dan murka-Nya. Kita lebih cenderung untuk merenungkan Juru Selamat yang penyayang daripada memikirkan Tuhan yang pencemburu. Tapi ada beberapa sifat ilahi yang Tuhan sendiri nikmati karena sifat-sifat itu mengekspresikan kebesaran-Nya secara sempurna. Kekudusan adalah sifat itu.&amp;lt;ref&amp;gt;Stephen Charnock, ''The Existence and Attributes of God, Vol. II'' (Grand Rapids, MI: Baker Book House, 1979 reprint), p. 112.&amp;lt;/ref&amp;gt; Makhluk-makhluk surgawi yang misterius itu, serafim dan keempat mahluk hidup, mengetahui bahwa kekudusan Allah harus digaris bawahi. Coba pikirkan. Mereka tinggal di dalam hadirat-Nya dan memiliki penglihatan yang tanpa halangan akan realitas (sementara kita melihat melalui kaca gelas yang gelap). Kalau ada makhluk yang pernah “tahu,” merekalah makhluk itu. Dan oleh karena itu, berulang-ulang, siang dan malam, mereka tidak pernah berhenti bersorak, “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, yang Mahakuasa” (Yesaya 6:3, Wahyu 4:8).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kekudusan berbeda dari kesempurnaan Allah yang lain, karena kekudusan meluas ke seluruh sifat Allah lainnya. Karena itu kasih-Nya adalah kasih yang ''kudus'', keadilan-Nya adalah keadilan yang ''kudus'', dan seterusnya. Jika sifat-sifat Allah dapat dianggap sebagai bermacam sisi dari sebuah permata, maka kekudusan adalah cahaya gabungan dari sisi-sisi itu yang bersinar keluar dalam sinar kemuliaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Superstisi Keagamaan ===&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Renungkan Matius 5:17-20.''' Menurut anda dapatkah hal ini menjelaskan mengapa Perjanjian Baru mengandung 90 acuan pada kitab Imamat?}}Firman Tuhan berbicara banyak tentang kekudusan. Kitab pertama, Kejadian, memaparkan kejatuhan manusia. Lalu Keluaran, dengan figur utama lembu Paskah, menunjukkan pemulihannya. Selanjutnya adalah kitab Imamat. Ah, Imamat – kitab yang telah membuat banyak murid Alkitab yang penuh harapan menjadi tersendat dalam usaha tahunan mereka untuk membaca seluruh Alkitab. Namun buku ini sangat penting bagi pengertian kita akan kekudusan. Imamat juga memberikan penerangan penting mengenai korban penebusan Tuhan Yesus Kristus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Adalah sesuatu yang selalu penting untuk mengingatkan diri kita sendiri akan keagungan kesempurnaan moral yang absolut, yang mengelilingi Pribadi Ilahi. Tanpanya, penyembahan sejati akan mengecil dan manusia akan menjadi arogan.&amp;lt;ref&amp;gt;T.C. Hammond, ''In Understanding Be Men'' (London, England: InterVarsity Fellowship, 1938).&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; - T.C. Hammond}}Di dalam kitab Imamat Tuhan menunjukkan manusia bagaimana kita harus menghampiri-Nya dalam penyembahan. Kitab ini secara khusus fokus pada beberapa kurban yang berbeda yang Tuhan pinta agar umat-Nya dapat ''berdamai'' dengan-Nya, dan beberapa persiapan makanan yang Tuhan perintahkan agar mereka dapat ''terus berdamai'' dengan-Nya.&amp;lt;ref&amp;gt;Henrietta Mears, ''What the Bible Is All About'' (Ventura, CA: Regal Books, 1983), p. 51.&amp;lt;/ref&amp;gt; Betapapun membingungkan dan tidak relevannya sistem kurban yang rinci ini bagi kita sekarang, Tuhan mengadakan semua itu untuk mengajarkan umat-Nya sebuah kebenaran yang mendalam yaitu bahwa ''Ia kudus''.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata kekudusan menyiratkan keterpisahan dari segala sesuatu yang tidak murni.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibid., p. 58.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dia adalah ''sesuatu yang lain'' dari kita. Walaupun hal ini kelihatannya sederhana, tapi tetap harus dinyatakan karena adanya pemikiran-pemikiran masa kini tentang kekuatan “Era Baru” (“New Age”) dalam diri kita dan sifat keilahian yang dipercaya tertanam dalam diri manusia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam Firman Tuhan, hal-hal yang biasa yang Tuhan sentuh menjadi luar biasa. Contohnya, area di sekeliling semak duri menyala ditandai sebagai tanah yang kudus karena merupakan tempat pewahyuan Allah dan karena itu adalah tindakan yang tepat bila Musa menanggalkan sandalnya karena rasa hormat kepada Allah. Atau pertimbangkan peralatan yang digunakan di dalam upacara di tabernakel dan bait suci. Peralatan itu tidak biasa pula. Peralatan itu kudus. Begitu pula persekutuan kudus, altar kudus, minyak urapan kudus, dan hari-hari kudus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang membuat semua itu kudus? Allah yang kudus. Tuhan memilih hal-hal yang biasa dan membuatnya menjadi spesial dengan memisahkannya untuk tujuan yang kudus, terutama untuk mengkomunikasikan kepada umat-Nya bahwa ''Ia'' kudus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:'''&amp;lt;br&amp;gt; Orang-orang Farisi menjalan superstisi keagamaan secara ekstrim, seperti dapat dilihat di Matius 23:16-22. Apakah Yesus memuji perbuatan mereka?}}Sayangnya, banyak orang yang tidak melihat point ini dan berakhir dengan superstisi bersifat religius. Satu kali, saya menerima telepon pada larut malam dari seorang wanita lanjut usia yang meminta saya untuk bertemu dengannya untuk berdoa. Wanita ini bersikeras ada hal yang tidak bisa ditunda dan kami harus bertemu malam itu di “rumah Tuhan.” Saya mengusulkan, mengingat waktu saat itu, tempat umum mungkin lebih pantas daripada gedung gereja yang kosong, tetapi ia tetap bersikeras agar kami bertemu di “rumah Tuhan.” Wanita ini telah salah dalam memberikan kualitas khusus yang hanya dimiliki oleh Tuhan kepada sebuah tempat. Ia tidak menyadari bahwa di jaman Perjanjian Baru ini, tidak ada satu tempatpun yang dengan sendirinya kudus – tidak juga “Tanah Suci” (the “Holy Land”). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nabi Yeremia yang menyadari akan sikap yang sama di antara sesamanya menulis, “Janganlah percaya kepada perkataan dusta yang berbunyi: Ini bait Tuhan, bait Tuhan, bait Tuhan!” (Yer 7:4). Walaupun mereka memiliki rasa takut dan hormat pada struktur fisik bait suci, bangsa Israel yang terus mengulang “bait Tuhan” memiliki hati yang telah berpindah jauh dari Tuhan yang adalah Tuhan dari bait suci. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Perikop Alkitab di bawah ini mendemonstrasikan tiga kasus dimana rasa hormat untuk perkakas, acara ritual ataupun gedung keagamaan merusak hubungan antara manusia dengan Allah.  Di tempat di bawah setiap referensi, rangkum secara singkat masalah yang ada. &lt;br /&gt;
* Bilangan 21:6-9; 2 Raja-Raja 18:1-4&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Lukas 13:10-16&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Markus 13:1-2; Matius 26:59-62; Matius 12:3-6&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
}}Saya melihat hal yang sama terjadi ketika satu pasangan muda-mudi yang belum diselamatkan dan tidak tertarik untuk mengikuti Yesus Kristus tapi menganggap adalah hal yang mutlak penting mereka menikah di gedung gereja. Apalagi sebabnya kalau bukan karena perasaan superstisius bahwa seolah-olah pernikahan akan diberkati apabila dilaksanakan di sebuah gedung “suci”? Meletakkan arti penting yang tidak sepantasnya pada gedung atau upacara atau perkakas keagamaan sama dengan tidak berbuat apa-apa untuk menunjukkan rasa hormat kepada Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah, di dalam Firman Tuhan, memisahkan beberapa benda untuk penggunaan khusus, tetapi Ia memiliki maksud tertentu mengapa melakukannya – untuk mengajarkan kita bahwa ''Ia'' adalah kudus dan harus dihormati. Dengan alasan ini, maka, menggunakan benda-benda suci dengan cara yang biasa atau tidak hormat adalah perbuatan yang menghina Allah.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Renungkan 1 Samuel 6:19-20.''' Apakah rasa kagum campur heran anda terhadap Tuhan menyamai rasa kagum dan heran yang dialami orang-orang Bet-Semes?}}Bab kelima dari kitab Daniel menceritakan sebuah cerita yang tidak asing lagi tentang tulisan di dinding, ketika Tuhan menuliskan penghakiman ilahi-Nya terhadap raja Babel. Apa yang membangkitkan murka-Nya? Beltsazar telah mengotori apa yang Tuhan nyatakan kudus, seperti dikatakan Daniel, “Kemudian dibawalah perkakas dari emas dan perak itu, yang diambil dari dalam Bait Suci, Rumah Allah di Yerusalem, lalu raja dan para pembesarnya, para isteri dan para gundik mereka minum dari perkakas itu; mereka minum anggur dan memuji-muji dewa-dewa dari emas dan perak, tembaga, besi, kayu dan batu” (Dan 5:3-4).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Daniel dipanggil untuk menterjemahkan tulisan misterius itu, ia mengambil kesempatan untuk menegur keras sang raja. Perkataan terakhirnya menyimpulkan dosa Beltzasar: “tuanku tidak muliakan Allah yang menggenggam nafas tuanku dan menentukan segala jalan tuanku” (Dan 5:23).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kegagalan Beltzasar untuk memuliakan benda-benda milik Tuhan sama dengan kegagalan untuk memuliakan Tuhan; hujatannya harus dibayar dengan hidupnya. Peristiwa seperti ini tersebar di seluruh Alkitab untuk mengingatkan apa yang bisa terjadi ketika seseorang memutuskan untuk bermain-main dengan perabot milik Tuhan. Apakah segera ataupun di penghujung jaman, penghakiman akan dilaksanakan bagi dosa terhadap kekudusan Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===“Factor Pemecah” ===&lt;br /&gt;
Tuhan sangatlah berbeda dengan kita. Meskipun kita diciptakan serupa peta dan teladan Allah, pikiran dan jalan-jalan-Nya begitu sangat melampaui pikiran dan jalan kita sehingga Yesaya menyamakan keduanya seperti jarak antara langit dan bumi (Yes 55:8, 9). Mungkin di sinilah perbedaan itu menjadi begitu jelas sehubungan dengan kesempurnaan moral-Nya. Seperti Habakuk mengekspresikannya, “Mata-Mu terlalu suci untuk melihat kejahatan dan Engkau tidak dapat memandang kelaliman” (Hab 1:13). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Betapa lamban kita untuk percaya pada Tuhan sebagai Tuhan, berdaulat, melihat segalanya dan berkuasa! Betapa kecil kita jadikan kemuliaan Tuhan dan Juru Selamat kita Yesus Kristus! Kita perlu ‘menantikan Tuhan’ dalam meditasi akan kemuliaan-Nya, sampai kita menemukan kekuatan kita diperbaharui dengan mengukir semua itu di dalam hati kita.&amp;lt;ref&amp;gt;J.I. Packer, ''Knowing God'' (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1973), p. 79.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; - J.I. Packer}}Kukudusan mutlak Allah jauh melampaui sekedar ketidakberdosaan. Kekudusan ini adalah ekspresi positif dari kebaikan-Nya, bukan hanya ketidakberadaan dosa. Kita semua pernah bertemu orang-orang yang karakternya bersinar jauh lebih terang daripada kita sendiri sehingga kita merasa kecil dan hina bila dibandingkan dengan mereka. Saya memiliki seorang teman yang, sebelum ia mencukur jambangnya, terlihat seperti gabungan antara Abraham Lincoln dan Yesus (seperti digambarkan di ilustrasi kontemporer). Kemiripan ini bukan hanya dalam soal penampilan fisik. Kebaikan hatinya dan hikmatnya yang lembut sungguh luar biasa. Meskipun ia sedih mengetahui hal ini, berada bersamanya mengingatkan saya akan sifat mementingkan diri saya sendiri. Bila perbandingan dengan sesama manusia saja bisa membuat kita merasa begitu rendah, bayangkan perasaan tidak nyaman yang akan kita rasakan di dalam kehadiran Allah yang kudus!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk studi lebih lanjut:'''&amp;lt;br&amp;gt; Bila anda menginginkan wahyu baru dari kekudusan dan kekuatan kedaulatan Allah, cobalah pelajari kata pendek ini: “bergetar” - Keluaran 15:13-16; Ayub 9:4-6; Mazmur 99:1-3; Yesaya 64:1-4; Yeremia 23:9; Yehezkiel 38:20-23; Yoel 3:16; Habakuk 3:6..}}Hal inilah yang terjadi pada Petrus. Yesus mencengangkan Petrus di suatu hari dengan mujizat penangkapan ikan. Tapi bukannya bersukacita di atas kapal, yang dapat Petrus lihat hanyalah keadaan dirinya sendiri yang penuh dosa. Saat berhadapan dengan kekudusan Yesus, Petrus melihat dirinya sendiri seperti apa adanya, dan kenyataan itu sangat menghancurkan. “Simon Petrus…tersungkur di depan Yesus dan berkata, ‘Tuhan, pergilah daripadaku, karena aku ini seorang berdosa!’” (Luk 5:8). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak dibutuhkan waktu lama bagi Petrus untuk melupakan kekudusan Tuhan, seperti kita lihat di pasal selanjutnya di gunung transfigurasi. Peristiwa agung ini mencatat kunjungan dua tokoh terkemuka dari masa lalu Israel, Musa dan Elia. Tambah lagi, Yesus yang bertransfigur menjadi terang berkilauan seperti kilat. Tapi Petrus, bukannya tersungkur di hadapan Tuhan seperti yang ia lakukan sebelumnya, nampak tidak sadar akan apa yang sedang terjadi. {{RightInsert|Bacalah deskripsi Yohanes tentang Yesus Kristus di kitab Wahyu 1:10-16. Detail apa yang menarik perhatian anda paling jelas? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
}}Ia menjadi banyak bicara dan mengusulkan mungkin mereka dapat membuat kemah sementara untuk setiap orang. Saat itulah Allah Bapa turun tangan secara pribadi. “Sementara [Petrus] berkata demikian, datanglah awan menaungi mereka. Dan ketika mereka masuk ke dalam awan itu, takutlah mereka. Maka terdengarlah suara dari dalam awan itu, yang berkata, ‘Inilah anak-Ku yang Kupilih; dengarkanlah Dia.’” (Luk 9:34-35). Hal ini sepertinya membuat Petrus dan yang lainnya tersadar, seperti Matius tekankan, “Mendengar itu tersungkurlah murid-murid-Nya dan mereka sangat ketakutan” (Mat 17:6).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Ketika penghakiman (Tuhan) jatuh pada Nadab atau Uzzah, respon kita adalah keterkejutan dan amarah. Kita telah mengharapkan Tuhan untuk bermurah hati. Dari sana, langkah selanjutnya adalah mudah: kita menuntutnya. Saat hal itu tidak muncul, respon pertama kita adalah marah terhadap Tuhan, ditambah dengan protes: “Ini tidak adil.” Kita cepat melupakan bahwa dengan dosa pertama kita, kita telah menyerahkan segala hak atas anugerah kehidupan. Bahwa saya bernafas pagi ini adalah sebuah kemurahan ilahi. Tuhan tidak berhutang apapun pada saya. Saya berhutang segala-galanya pada-Nya.&amp;lt;ref&amp;gt;R.C. Sproul, ''The Holiness of God'' (Wheaton, IL: Tyndale House Publishers, 1985), p. 164.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; -R.C. Sproul}}Nabi Yesaya memiliki pengalaman dramatis yang membekas dalam dirinya selamanya. Ia melihat visi Tuhan “duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang, dan ujung jubahnya memenuhi Bait Suci” (Yes 6:1). Di dalam penglihatan ini makhluk-makhluk malaikat mendeklarasikan kekudusan Allah yang begitu besar. “Maka bergoyanglah alas ambang pintu disebabkan suara orang yang berseru itu dan rumah itu penuhlah dengan asap” (ayat 4). Sepenuhnya dibuat tak berdaya oleh penglihatan luar biasa itu, Yesaya memberi satu-satunya respon yang layak, “Celakalah aku! Aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni Tuhan semesta alam” (ayat 5).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Untuk studi lebih lanjut:'''&amp;lt;br&amp;gt;Perikop-perikop berikut ini menceritakan pertemuan dengan malaikat - Bilangan 22:21-31; Hakim-Hakim 6:20-23; Matius 28:2-4; Lukas 2:8-10.}}Beberapa orang menamakan pengalaman Yesaya “faktor pemecah.” R.C. Sproul menulis, “Untuk pertama kali dalam hidupnya Yesaya mengerti siapa Tuhan itu. Pada saat yang sama, untuk pertama kalinya Yesaya mengerti siapa Yesaya itu.” Jika kata “intergritas” berarti keseluruhan (integer adalah angka penuh), disintegrasi berarti pecah menjadi butiran-butiran. Kebanyakan dari kita mencoba keras menjadikan hidup kita “utuh.” Dan kalaupun kita luluh berantakan, setidaknya kita kelihatan seolah “utuh.”  Betapa menyedihkannya, lalu, untuk berada di hadirat Allah dan luluh berantakan sepenuhnya saat kita menemukan betapa dalamnya keberdosaan kita sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Menghampiri Allah yang Kudus=== &lt;br /&gt;
Pengenalan akan keberdosaan pada mulanya menghasilkan perasaan benci terhadap Tuhan. Hampir dalam setiap peristiwa Alkitab tentang kunjungan malaikat, individu-individu yang bersangkutan jatuh tersungkur karena ketakutan. {{LeftInsert|&amp;quot;Tuhan adalah satu-satunya penghiburan, Ia juga adalah teror terbesar: sesuatu yang kita paling butuhkan dan sesuatu yang darinya kita paling ingin sembunyi…Sebagian orang berbicara seolah bertemu pandang dengan kebajikan mutlak adalah menyenangkan. Mereka perlu berpikir ulang. Mereka masih bermain-main dengan agama.&amp;lt;Ref&amp;gt;C.S. Lewis, ''Mere Christianity'' (New York: Macmillan Publishing Co., Inc., 1943), p. 38.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; - C.S. Lewis}}Betapa lebih lagi mereka yang melihat Allah di dalam keagungan kekudusan-Nya. Bangsa Israel yang berdiri di Gunung Sinai saat gunung itu bergetar dengan kehadiran kudus Allah memohon kepada Musa untuk menjadi perantara mereka, penengah mereka. Musa memperingatkan mereka akan hal ini:&lt;br /&gt;
:Ketika kamu mendengar suara itu dari tengah-tengah gelap gulita, sementara gunung itu menyala, maka kamu, yakni semua kepala sukumu dan para tua-tuamu mendekati aku dan berkata, “Sesungguhnya Tuhan, Allah kita telah memperlihatkan kepada kita kebesaran dan kemuliaan-Nya, dan suara-Nya telah kita dengar dari tengah-tengah api. Pada hari ini telah kami lihat, bahwa Allah berbicara dengan manusia dan manusia itu tetap hidup. Tetapi sekarang, mengapa kami harus mati? Sebab api yang besar ini akan menghanguskan kami. Apabila kami lebih lama lagi mendengar suara Tuhan, Allah kita, kami akan mati. Sebab makhluk manakah yang telah mendengar suara dari Allah yang hidup yang berbicara dari tengah-tengah api seperti kami dan tetap hidup? Mendekatlah engkau dan dengarkanlah segala yang difirmankan Tuhan, Allah kita, dan engkaulah yang mengatakan kepada kami segala yang difirmankan kepadamu oleh Tuhan, Allah kita, maka kami akan mendengar dan melakukannya” (Ul 5:23-24).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Di dalam The Chronicles of Narnia, pengarang C.S. Lewis menggunakan singa yang mulia Aslan untuk menggambarkan Yesus. Pada satu saat, sebuah karakter berbicara tentang Aslan, “Sepertinya ia bukan singa yang jinak.”&amp;lt;ref&amp;gt;C.S. Lewis, ''The Voyage of the “Dawn Treader”'' (New York: Macmillan Publishing Co., Inc., 1952), p. 138.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dapatkah anda memikirkan contoh-contoh dari Alkitab atau interaksi anda sendiri dengan Tuhan yang menunjukkan bahwa Ia tidaklah “jinak”?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
}}Satu kali saya mendengar John Wimber berbicara tentang orang-orang yang tidak menginginkan hubungan dengan Tuhan karena mereka menganggapnya terlalu berbahaya. Mereka lebih memilih hubungan dengan Kekristenan atau dengan gereja. Sementara hal ini tak diragukan memang benar bagi sebagian orang, seorang Kristen sejati memiliki kerinduan untuk menjadi kudus. Ia mengetahui bahwa hanya orang yang suci hatinya akan melihat Allah (Mat 5:8), dan ia memiliki kerinduan akan kesucian itu yang akan memampukannya untuk memandang Allahnya. Bagi orang Kristen dewasa, pengenalan akan kekudusan Allah meyakinkannya akan kasih Allah. Ia menyadari, meskipun adanya kekudusan Allah dan keberdosaannya sendiri, Tuhan bersabar terhadap dirinya. Ia layak menerima penghakiman tetapi malah menerima kemurahan yang baru setiap pagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita dapat menganggap bahwa usaha kita untuk menjalani hidup Kekristenan memang lemah adanya, tetapi bila kita memiliki kerinduan untuk kekudusan kita bisa terhibur. Allah-lah yang telah meletakkan kerinduan itu di sana dan Ia pasti akan menggenapinya. Namun bagaimana? Bagaimana kita bisa memenuhi perintah Allah yang sepertinya tidak mungkin, “Kuduslah, sebab Aku kudus” (1 Ptr 1:16)? Bagaimana kita bisa menghampiri “Penguasa yang satu-satunya dan yang penuh bahagia, Raja di atas segala raja dan Tuan di atas segala tuan. Dialah satu-satunya yang tidak takluk kepada maut, ''bersemayam dalam terang yang tak terhampiri''. Seorangpun tak pernah melihat Dia dan memang manusia tidak dapat melihat Dia” (1 Tim 6:15-16, penekanan ditambah)? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Renungkan Ibrani 10:19-23.''' Bagaimana Imam Agung kita telah menulis ulang tentang peraturan untuk memasuki tempat maha kudus??}}Kita harus menghampiri dengan rasa gentar, seperti digambarkan jelas melalui pelayanan imam di Perjanjian Lama. Agar imam dapat menghampiri Allah, terdapat peraturan-peraturan yang telah ditetapkan secara ketat. Seseorang tidak dapat memasuki tempat maha kudus kapan saja ia mau. Imam akan memasuki tempat maha kudus hanya sekali setahun yaitu pada Hari Penebusan. Pertama ia harus mempersembahkan kurban bagi dirinya sendiri, darah kurban itu menjadi peringatan atas dosanya dan atas kekudusan Allah. Kemudian ia harus berpakaian khusus. Di salah satu ujung jubahnya, terdapat selang seling lonceng dan buah delima yang akan menimbulkan bunyi untuk membuktikan bahwa ia masih hidup, bahwa ia belum binasa karena kekudusan Allah. Menurut tradisi, sebuah tali yang panjang diikatkan pada si imam supaya bila ia mati di hadirat Tuhan imam-imam lainnya dapat menariknya keluar tanpa harus masuk ke dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Oh pendosa, dapatkah engkau memberi alasan mengapa, sejak engkau bangkit dari tempat tidurmu pagi ini, Tuhan tidak menghantammu mati?&amp;lt;ref&amp;gt;Jonathan Edwards, “Sinners In the Hands of An Angry God.”&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; - Jonathan Edwards}}Peraturan rumit dan detail ini adalah sebuah peringatan yang jelas: Jangan bermain-main dengan kekudusan Allah. Kedua putra Harun Nadab dan Abihu mendapatkan pelajaran ini secara keras. Ketika mereka mencoba cara baru untuk membakar dupa di hadapan Tuhan, “maka keluarlah api dari hadapan Tuhan lalu menghanguskan keduanya sehingga mereka mati di hadapan Tuhan” (Im 10:2). (Tak perlu dikatakan lagi, itu adalah terakhir kalinya mereka melakukan sesuatu yang baru). Pada momen yang membuat mereka tersadar itu, Musa mengingatkan Harun akan firman Tuhan: “Kepada orang yang karib kepada-Ku Kunyatakan kekudusan-Ku, dan di muka seluruh bangsa itu akan Kuperlihatkan kemuliaan-Ku” (Im 10:3). Tidak ada bagian Alkitab yang lebih baik merefleksikan pusat pewahyuan Perjanjian Lama, seperti yang disimpulkan oleh Salomo: “Takut akan Tuhan adalah permulaan hikmat” (Ams 1:7).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasa gentar adalah esensial, tapi kita tidak akan pernah dapat mendekati hadirat Allah yang kudus apabila bukan karena Perantara kita, Yesus Kristus sendiri. Perantara adalah seorang yang menjembatani jurang antara dua pihak yang berseteru. Dosa kita telah mengasingkan dan membuat murka Allah. Namun hal itu tidak membuat-Nya berhenti mengasihi kita. Kekudusan-Nya sama sekali tidak menyiratkan keengganan-Nya untuk menerima kita. Sebaliknya, Ia mengambil inisiatif mengutus Anak-Nya untuk menjauhkan dosa-dosa kita sehingga di dalam Kristus kita boleh menghampiri hadirat-Nya dan menikmati-Nya selamanya. Seperti dijelaskan oleh Paulus kepada umat di Korintus, “Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus” (2 Cor 5:19). Yesus Kristus, sebagai perantara kita, menderita penghukuman atas ketidaktaatan kita sehingga memungkinkan perdamaian kembali. Tetapi keselamatan adalah keinginan gabungan dan usaha bersama antara Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Kekudusan Allah mengajarkan kita bahwa hanya ada satu cara untuk berhadapan dengan dosa – secara radikal, serius, menyakitkan, konstan. Bila engkau tidak hidup demikian, engkau tidak hidup di hadirat Dia yang Kudus dari Israel.&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''A Heart for God'' (Colorado Springs, CO: NavPress, 1985), p. 130.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; - Sinclair Ferguson}}Biarkan saya menawarkan satu masukan terakhir dari imam Perjanjian Lama. Merupakan tanggung jawab seorang imam untuk menjadi penghubung antara Allah dan manusia. Di bagian bahu dari jubah imam terdapat permata krisopras yang berukir enam nama suku Israel. Di bagian tutup dada jubah terdapat duabelas batu permata yang berbeda, masing-masing untuk keduabelas suku Israel. Ketika ia memasuki tempat maha kudus, imam secara simbolik membawa umat Tuhan di atas bahunya dan di dalam hatinya. Dalam jaman Perjanjian Baru, tentu saja Yesus adalah Imam Besar Agung kita. Begitu besar kasih-Nya buat kita sehingga Ia juga menggendong kita di atas bahu-Nya, menanggung beban kita, dan sebagai teman yang berbelas kasihan, menyimpan kita dekat dengan hati-Nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Renungkan Yesaya 57:15.''' Mengapa Allah kita yang kudus memilih tempat bersemayam kedua di ayat ini?}}Mengenal Yesus sebagai mediator kita memampukan kita untuk melihat Allah bukan hanya sebagai api yang menghanguskan tetapi sebagai Bapa yang kepada-Nya kita telah didamaikan.&amp;lt;ref&amp;gt;J.C. Ryle, ''Expository Thoughts on the Gospels: Luke'' (Hertfordshire, England: Evangelical Press, 1879, 1985), p. 71.&amp;lt;/ref&amp;gt; Kita harus berusaha untuk mengenal dan menghargai pelayanan vital Tuhan kita Yesus. Memahami pentingnya peran Yesus sebagai Imam akan menimbulkan rasa terima kasih yang tulus serta rasa sadar yang lebih besar akan semua yang Tuhan telah lakukan untuk kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Kita Beroleh Bagian=== &lt;br /&gt;
Salah satu dari janji Firman Tuhan yang paling mengagumkan adalah jaminan bahwa kita akan berbagi dalam kekudusan Allah: “Sebab ayah kita mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya” (Ibr 12:10). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Renungkan 2 Korintus 7:1.''' Apakah motif kita mengejar kekudusan? Apa metode kita?}}Bila kita berpikir secara serius tentang kekudusan Tuhan kita, sepertinya tidak dapat dipercaya kita dapat mengalami hal seperti itu. Tapi itulah apa yang ayat dari Ibrani ini nyatakan dengan jelas. Sepasti Tuhan mendisiplin anak-anak-Nya (dan ayat tadi sangat pasti tentang itu), kita akan menikmati sebagian dari kekudusan-Nya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Kekudusan bukanlah sebuah pengalaman; kekudusan adalah penyatuan kembali karakter kita, pendirian lagi akan sebuah kehancuran. Kekudusan adalah usaha keras yang trampil, proyek jangka panjang, menuntut segala sesuatu yang Tuhan telah berikan pada kita untuk hidup dan kesalehan.&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''A Heart for God'', p. 129.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; - Sinclair Ferguson}}Bahwa janji ini melibatkan disiplin seharusnya tidak membuat kita marah atau jengkel. Disiplin adalah metode Tuhan yang telah terbukti dalam menyempurnakan anak-anak-Nya, dan jenis displin Tuhan membutuhkan partisipasi aktif kita. Pasal keduabelas dari Ibrani ini menuntut usaha keras dari pihak kita. Perhatikan bahasa mengenai usaha yang dipakai penulis: “menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita” (ayat 1)…”berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita” (ayat 1)…”Dalam pergumulan kamu melawan dosa” (ayat 4)…”menanggung kesusahan” (ayat 7)…”kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah” (ayat 12)…”Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan; sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan” (ayat 14, penekanan ditambahkan). Disiplin Bapa kita mungkin akan terasa menyakitkan untuk sementara waktu, tapi hal itu memperlengkapi kita untuk menjalani keabadian bersama Allah yang kudus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|Semua disiplin rohani yang terdaftar di bawah dapat membantu anda untuk bertumbuh dalam kekudusan pribadi. Beri tanda satu disiplin dimana anda merasa paling kurang.&lt;br /&gt;
* Pemahaman Alkitab&lt;br /&gt;
* Doa&lt;br /&gt;
* Pengakuan dosa/accountability&lt;br /&gt;
* Penyembahan&lt;br /&gt;
* Puasa&lt;br /&gt;
}}Yakub adalah seorang yang tentunya telah mengalami kesulitan hidupnya sendiri, banyak di antaranya disebabkan oleh dirinya sendiri. Tetapi di penghujung hidupnya dia bukan lagi Yakub. Namanya adalah Israel. Selama perjalanan terjadi perubahan nama dan juga perubahan karakter. Ia berjalan timpang, bertumpu pada tongkatnya, dan menyembah Allah sebagai Yang Kudus (Ibr 11:21).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yeremia mengatakan, “Karena kemurahan Tuhan kita tidak binasa” (Rat 3:22). Kita layak mendapat perlakuan yang tidak lebih baik dari yang Nadab dan Abihu terima. Tetapi jauh daripada dihanguskan, kita menemukan diri kita sebagai objek kasih ilahi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin situasi ini paling jelas diilustrasikan pada keadaan sekitar pertobatan Saul dari Tarsus. Ia adalah seorang yang dengan bersemangat menganiaya gereja awal, bertanggung jawan atas kematian banyak pria dan wanita pengikut Yesus Kristus. Ketika Saul dalam perjalanan dinasnya ke Damaskus untuk menemukan dan menghukum orang-orang Kristen, Tuhan sendiri secara dramatis turun tangan dan menghentikan aktivitasnya. Dalam menceritakan peristiwa ini kepada Raja Agripa bertahun-tahun kemudian, Paulus berkata: &lt;br /&gt;
:“tiba-tiba, ya raja Agripa, pada tengah hari bolong aku melihat di tengah jalan itu cahaya yang lebih terang dari cahaya matahari, turun dari langit meliputi aku dan teman-teman seperjalananku. Kami semua rebah ke tanah dan aku mendengar suatu suara yang mengatakan kepadaku dalam bahasa Ibrani, ‘Saulus, Saulus mengapa engkau menganiaya Aku? Sukar bagimu menendang ke galah rangsang.’ Tetapi aku menjawab, ‘Siapa Engkau Tuhan?' Kata Tuhan, ‘Akulah Yesus, yang kauaniaya itu. Tetapi sekarang bangunlah dan berdirilah. Aku menampakan diri kepadamu untuk menetapkan engkau menjadi pelayan dan saksi tentang segala sesuatu yang telah kau lihat daripada-Ku dan tenang apa yang akan Aku perlihatkan kepadamu nanti’” (Kis 26:13-16).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Untuk studi lebih lanjut:'''&amp;lt;br&amp;gt;Bacalah bagaimana Harun memimpin bangsa Israel dalam penyembahan berhala sementara Musa sedang bertemu Tuhan (Kel 32:1-10, 19-28). Bandingkan hal ini dengan penyucian Harun sebagai imam yang akhirnya dilakukan oleh Tuhan (Kel 39:27-31, 40:12-16). Apakah Harun mendapatkan yang pantas ia terima?}}Adalah menarik bahwa Saul keluar dari peristiwa ini hidup-hidup. Tuhan bisa saja sepenuhnya dibenarkan bila Ia menghancurkan Saul saat itu juga di tengah jalan Damaskus. Namun bukannya menerima keadilan di tangan Yang Kudus yang ia aniaya, Saul mengalami kasih Tuhan yang agung dan penerimaan. Ia bahkan menerima amanat untuk melayani sebagai duta bagi Dia yang telah ia tentang dengan keras. Betapa anugerah yang mengagumkan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kekudusan Allah memang memisahkan Dia dari kita, sejauh langit dari bumi. Tapi puji Tuhan, hal ini tidak menghalangi-Nya untuk menggapai dan mengubah Yakub-Yakub menjadi Israel-Israel dan Saul-Saul menjadi Paul-Paul. Nama kita mungkin tidak akan pernah berubah, tapi transformasi di dalam diri kita adalah pasti, dijamin, saat kita berhadapan dengan kekudusan Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Diskusi Kelompok==&lt;br /&gt;
# Bagaimana anda mendefinisikan penghujatan? Beri contoh-contoh bagaimana orang Kristen maupun bukan Kristen menghujat Allah? &lt;br /&gt;
# Menurut si pengarang, mengapa Tuhan menguduskan banyak peralatan di dalam Perjanjian Lama? &lt;br /&gt;
# Dari semua murid, Yohanes adalah yang terdekat dengan Yesus. Mengetahui ini, apakah yang signifikan dari reaksi Yohanes atas penglihatannya akan Yesus di Wahyu 1:10-17?&lt;br /&gt;
# Apakah kekudusan Allah sudah menyebabkan anda mengalami “faktor pemecah” secara pribadi? &lt;br /&gt;
# Atribut Allah yang manakah yang bagi anda paling menarik? Paling mengintimidasi? &lt;br /&gt;
# Jenis-jenis perbuatan yang seperti apakah yang mungkin mengindikasikan bahwa seorang Kristen telah menjadi terlalu biasa dengan Tuhan? &lt;br /&gt;
# Apakah menurut anda adil bagi Tuhan untuk menghukum mati seseorang? &lt;br /&gt;
# Disiplin rohani yang manakah yang anda pilih di Pertanyaan 4 di halaman ini? Bagaimana anda dapat mengembangkan disiplin ini? &lt;br /&gt;
# Tingkat kekudusan yang seperti apa yang dapat kita harapkan dalam hidup ini? &lt;br /&gt;
# Apakah pembahasan bab tentang kekudusan ini membuat anda takut pada Allah atau aman di dalam-Nya? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bacaan yang Direkomendasikan==&lt;br /&gt;
''Holiness'' by J.C. Ryle (Hertfordshire, England: Evangelical Press, 1979. Originally published in 1879.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Holiness of God'' by R.C. Sproul (Wheaton, IL: Tyndale House Publishers, 1985)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Knowledge of the Holy'' by A.W. Tozer (Camp Hill, PA: Christian Publications, Inc., 1978)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan==&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Sukartay</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/The_Holiness_of_God/id</id>
		<title>This Great Salvation/The Holiness of God/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/The_Holiness_of_God/id"/>
				<updated>2007-09-20T10:59:37Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Sukartay: /* Kekudusan Allah */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&amp;lt;noinclude&amp;gt;{{InfoBar&lt;br /&gt;
|author=C.J. Mahaney, Robin Boisvert&lt;br /&gt;
|editor=Greg Somerville&lt;br /&gt;
|partnerurl=http://www.sovereigngraceministries.org&lt;br /&gt;
|partner=Sovereign Grace Ministries&lt;br /&gt;
|other=It is part of the ''In Pursuit of Godliness'' series.&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
= Kekudusan Allah =&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
Saya merasa cukup antusias ketika menghadiri pertemuan malam itu. Waktu seorang teman baik muncul, saya berteriak kepadanya dari seberang ruangan, “Ayo kemari, dalam nama Yesus!” Tak lama kemudian seorang pemuda lain secara diam-diam menghampiri saya dan mengungkapkan rasa prihatinnya bahwa saya telah menggunakan nama Yesus dengan cara yang tidak serius. Dengan wajah merah karena malu, saya bergumam, “Terima kasih kamu telah menunjukkan hal itu.” Jelas bahwa pemuda itu merasa prihatin terhadap saya secara pribadi. Saya juga tahu bahwa ia telah berkata benar dan bahwa ia telah menunjukkan rasa hormat yang lebih atas kemuliaan Tuhan daripada saya sendiri. Walaupun sesungguhnya saya tidak pernah bermaksud buruk, peristiwa tadi membuat saya sadar kalau saya telah menjadi terlalu terbiasa dengan nama Tuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak begitu pada mulanya. Pada saat pertobatan saya tiga tahun lalu, saya dicengangkan oleh kuasa Tuhan yang mengubah hidup saya. Pertemuan-pertemuan yang disertai kehadiran-Nya dan jawaban-jawaban doa yang luar biasa telah meyakinkan saya akan realitas Roh Kudus dan kasih Yesus Kristus. Siapa lagi yang dapat secara total menyembuhkan rasa depresi dan tanpa harapan yang telah menguasai saya? Namun ketika intensitas bulan-bulan pertama itu berangsur-angsur mereda menjadi iman yang lebih konsisten, sesuatu yang lain meresap masuk. Keagungan kemuliaan Allah telah terkikis oleh rasa familiar yang bertumbuh. Sudah saatnya untuk memikirkan ulang kekudusan Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Renungkan 1 Tawarikh 16:23-36.''' Apakah anda menangkap adanya usaha keras rohani di dalam sikap Daud terhadap kekudusan Allah?}}Kukudusan. Kata itu sendiri membuat kita membayangkan pendeta-pendeta yang tidak tahu humor di dalam sebuah kuil tak berwarna yang sedang makan makanan tanpa rasa dan menjalani hidup tanpa sukacita. Atau mungkin wajah sedih, gaun panjang, dan daftar panjang berjudul “dilarang.” Tetapi bagaimana dengan keindahan? Apakah kata ‘kekudusan’ membangkitkan ide-ide tentang keindahan? Mungkin tidak. Namun keindahan adalah sebuah kualitas yang sering dihubungkan dengan kekudusan Allah. Di dalam kitab Mazmur kita didorong untuk menyembah Allah “dalam keindahan kekudusan” (Mzm 29:2; 96:9). Kukudusan dikatakan selamanya memperluas penampilan bait suci Allah: “Peraturan-Mu sangat teguh; bait-Mu layak kudus, ya Tuhan, untuk sepanjang masa” (Mzm 93:5).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun Alkitab menunjukkan penghargaan yang jelas dan positif terhadap kekudusan, kebanyakan dari kita tetap menyamakan kekudusan dengan kerja keras. Hanya dengan menyebut kata ‘kekudusan’ pikiran kita akan langsung tertuju pada hal-hal yang kita anggap sebagai tanggung jawab orang Kristen. Tetapi pengertian yang tepat akan kekudusan harus ditelusuri kembali ke sumber dari segala kekudusan – Allah sendiri. Dan saat kita memandang kekudusan Allah, kita tidak sedang berurusan dengan tanggung jawab manusia sama sekali melainkan dengan atribut Allah yang paling menarik dan mengagumkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ahli teologi Stephen Charnock menekankan bahwa di antara berbagai kualitas Allah, ada beberapa yang lebih kita sukai karena berkat-berkat yang bisa langsung kita dapatkan darinya. Misalnya, kita lebih memilih menyanyikan kemurahan Tuhan daripada memikirkan akan keadilan dan murka-Nya. Kita lebih cenderung untuk merenungkan Juru Selamat yang penyayang daripada memikirkan Tuhan yang pencemburu. Tapi ada beberapa sifat ilahi yang Tuhan sendiri nikmati karena sifat-sifat itu mengekspresikan kebesaran-Nya secara sempurna. Kekudusan adalah sifat itu.&amp;lt;ref&amp;gt;Stephen Charnock, ''The Existence and Attributes of God, Vol. II'' (Grand Rapids, MI: Baker Book House, 1979 reprint), p. 112.&amp;lt;/ref&amp;gt; Makhluk-makhluk surgawi yang misterius itu, serafim dan keempat mahluk hidup, mengetahui bahwa kekudusan Allah harus digaris bawahi. Coba pikirkan. Mereka tinggal di dalam hadirat-Nya dan memiliki penglihatan yang tanpa halangan akan realitas (sementara kita melihat melalui kaca gelas yang gelap). Kalau ada makhluk yang pernah “tahu,” merekalah makhluk itu. Dan oleh karena itu, berulang-ulang, siang dan malam, mereka tidak pernah berhenti bersorak, “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, yang Mahakuasa” (Yesaya 6:3, Wahyu 4:8).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kekudusan berbeda dari kesempurnaan Allah yang lain, karena kekudusan meluas ke seluruh sifat Allah lainnya. Karena itu kasih-Nya adalah kasih yang ''kudus'', keadilan-Nya adalah keadilan yang ''kudus'', dan seterusnya. Jika sifat-sifat Allah dapat dianggap sebagai bermacam sisi dari sebuah permata, maka kekudusan adalah cahaya gabungan dari sisi-sisi itu yang bersinar keluar dalam sinar kemuliaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Superstisi Keagamaan ===&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Renungkan Matius 5:17-20.''' Menurut anda dapatkah hal ini menjelaskan mengapa Perjanjian Baru mengandung 90 acuan pada kitab Imamat?}}Firman Tuhan berbicara banyak tentang kekudusan. Kitab pertama, Kejadian, memaparkan kejatuhan manusia. Lalu Keluaran, dengan figur utama lembu Paskah, menunjukkan pemulihannya. Selanjutnya adalah kitab Imamat. Ah, Imamat – kitab yang telah membuat banyak murid Alkitab yang penuh harapan menjadi tersendat dalam usaha tahunan mereka untuk membaca seluruh Alkitab. Namun buku ini sangat penting bagi pengertian kita akan kekudusan. Imamat juga memberikan penerangan penting mengenai korban penebusan Tuhan Yesus Kristus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Adalah sesuatu yang selalu penting untuk mengingatkan diri kita sendiri akan keagungan kesempurnaan moral yang absolut, yang mengelilingi Pribadi Ilahi. Tanpanya, penyembahan sejati akan mengecil dan manusia akan menjadi arogan.&amp;lt;ref&amp;gt;T.C. Hammond, ''In Understanding Be Men'' (London, England: InterVarsity Fellowship, 1938).&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; - T.C. Hammond}}Di dalam kitab Imamat Tuhan menunjukkan manusia bagaimana kita harus menghampiri-Nya dalam penyembahan. Kitab ini secara khusus fokus pada beberapa kurban yang berbeda yang Tuhan pinta agar umat-Nya dapat ''berdamai'' dengan-Nya, dan beberapa persiapan makanan yang Tuhan perintahkan agar mereka dapat ''terus berdamai'' dengan-Nya.&amp;lt;ref&amp;gt;Henrietta Mears, ''What the Bible Is All About'' (Ventura, CA: Regal Books, 1983), p. 51.&amp;lt;/ref&amp;gt; Betapapun membingungkan dan tidak relevannya sistem kurban yang rinci ini bagi kita sekarang, Tuhan mengadakan semua itu untuk mengajarkan umat-Nya sebuah kebenaran yang mendalam yaitu bahwa ''Ia kudus''.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata kekudusan menyiratkan keterpisahan dari segala sesuatu yang tidak murni.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibid., p. 58.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dia adalah ''sesuatu yang lain'' dari kita. Walaupun hal ini kelihatannya sederhana, tapi tetap harus dinyatakan karena adanya pemikiran-pemikiran masa kini tentang kekuatan “Era Baru” (“New Age”) dalam diri kita dan sifat keilahian yang dipercaya tertanam dalam diri manusia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam Firman Tuhan, hal-hal yang biasa yang Tuhan sentuh menjadi luar biasa. Contohnya, area di sekeliling semak duri menyala ditandai sebagai tanah yang kudus karena merupakan tempat pewahyuan Allah dan karena itu adalah tindakan yang tepat bila Musa menanggalkan sandalnya karena rasa hormat kepada Allah. Atau pertimbangkan peralatan yang digunakan di dalam upacara di tabernakel dan bait suci. Peralatan itu tidak biasa pula. Peralatan itu kudus. Begitu pula persekutuan kudus, altar kudus, minyak urapan kudus, dan hari-hari kudus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang membuat semua itu kudus? Allah yang kudus. Tuhan memilih hal-hal yang biasa dan membuatnya menjadi spesial dengan memisahkannya untuk tujuan yang kudus, terutama untuk mengkomunikasikan kepada umat-Nya bahwa ''Ia'' kudus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:'''&amp;lt;br&amp;gt; Orang-orang Farisi menjalan superstisi keagamaan secara ekstrim, seperti dapat dilihat di Matius 23:16-22. Apakah Yesus memuji perbuatan mereka?}}Sayangnya, banyak orang yang tidak melihat point ini dan berakhir dengan superstisi bersifat religius. Satu kali, saya menerima telepon pada larut malam dari seorang wanita lanjut usia yang meminta saya untuk bertemu dengannya untuk berdoa. Wanita ini bersikeras ada hal yang tidak bisa ditunda dan kami harus bertemu malam itu di “rumah Tuhan.” Saya mengusulkan, mengingat waktu saat itu, tempat umum mungkin lebih pantas daripada gedung gereja yang kosong, tetapi ia tetap bersikeras agar kami bertemu di “rumah Tuhan.” Wanita ini telah salah dalam memberikan kualitas khusus yang hanya dimiliki oleh Tuhan kepada sebuah tempat. Ia tidak menyadari bahwa di jaman Perjanjian Baru ini, tidak ada satu tempatpun yang dengan sendirinya kudus – tidak juga “Tanah Suci” (the “Holy Land”). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nabi Yeremia yang menyadari akan sikap yang sama di antara sesamanya menulis, “Janganlah percaya kepada perkataan dusta yang berbunyi: Ini bait Tuhan, bait Tuhan, bait Tuhan!” (Yer 7:4). Walaupun mereka memiliki rasa takut dan hormat pada struktur fisik bait suci, bangsa Israel yang terus mengulang “bait Tuhan” memiliki hati yang telah berpindah jauh dari Tuhan yang adalah Tuhan dari bait suci. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Perikop Alkitab di bawah ini mendemonstrasikan tiga kasus dimana rasa hormat untuk perkakas, acara ritual ataupun gedung keagamaan merusak hubungan antara manusia dengan Allah.  Di tempat di bawah setiap referensi, rangkum secara singkat masalah yang ada. &lt;br /&gt;
* Bilangan 21:6-9; 2 Raja-Raja 18:1-4&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Lukas 13:10-16&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Markus 13:1-2; Matius 26:59-62; Matius 12:3-6&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
}}Saya melihat hal yang sama terjadi ketika satu pasangan muda-mudi yang belum diselamatkan dan tidak tertarik untuk mengikuti Yesus Kristus tapi menganggap adalah hal yang mutlak penting mereka menikah di gedung gereja. Apalagi sebabnya kalau bukan karena perasaan superstisius bahwa seolah-olah pernikahan akan diberkati apabila dilaksanakan di sebuah gedung “suci”? Meletakkan arti penting yang tidak sepantasnya pada gedung atau upacara atau perkakas keagamaan sama dengan tidak berbuat apa-apa untuk menunjukkan rasa hormat kepada Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah, di dalam Firman Tuhan, memisahkan beberapa benda untuk penggunaan khusus, tetapi Ia memiliki maksud tertentu mengapa melakukannya – untuk mengajarkan kita bahwa ''Ia'' adalah kudus dan harus dihormati. Dengan alasan ini, maka, menggunakan benda-benda suci dengan cara yang biasa atau tidak hormat adalah perbuatan yang menghina Allah.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Renungkan 1 Samuel 6:19-20.''' Apakah rasa kagum campur heran anda terhadap Tuhan menyamai rasa kagum dan heran yang dialami orang-orang Bet-Semes?}}Bab kelima dari kitab Daniel menceritakan sebuah cerita yang tidak asing lagi tentang tulisan di dinding, ketika Tuhan menuliskan penghakiman ilahi-Nya terhadap raja Babel. Apa yang membangkitkan murka-Nya? Beltsazar telah mengotori apa yang Tuhan nyatakan kudus, seperti dikatakan Daniel, “Kemudian dibawalah perkakas dari emas dan perak itu, yang diambil dari dalam Bait Suci, Rumah Allah di Yerusalem, lalu raja dan para pembesarnya, para isteri dan para gundik mereka minum dari perkakas itu; mereka minum anggur dan memuji-muji dewa-dewa dari emas dan perak, tembaga, besi, kayu dan batu” (Dan 5:3-4).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Daniel dipanggil untuk menterjemahkan tulisan misterius itu, ia mengambil kesempatan untuk menegur keras sang raja. Perkataan terakhirnya menyimpulkan dosa Beltzasar: “tuanku tidak muliakan Allah yang menggenggam nafas tuanku dan menentukan segala jalan tuanku” (Dan 5:23).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kegagalan Beltzasar untuk memuliakan benda-benda milik Tuhan sama dengan kegagalan untuk memuliakan Tuhan; hujatannya harus dibayar dengan hidupnya. Peristiwa seperti ini tersebar di seluruh Alkitab untuk mengingatkan apa yang bisa terjadi ketika seseorang memutuskan untuk bermain-main dengan perabot milik Tuhan. Apakah segera ataupun di penghujung jaman, penghakiman akan dilaksanakan bagi dosa terhadap kekudusan Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===The “Factor Pemecah” ===&lt;br /&gt;
Tuhan sangatlah berbeda dengan kita. Meskipun kita diciptakan serupa peta dan teladan Allah, pikiran dan jalan-jalan-Nya begitu sangat melampaui pikiran dan jalan kita sehingga Yesaya menyamakan keduanya seperti jarak antara langit dan bumi (Yes 55:8, 9). Mungkin di sinilah perbedaan itu menjadi begitu jelas sehubungan dengan kesempurnaan moral-Nya. Seperti Habakuk mengekspresikannya, “Mata-Mu terlalu suci untuk melihat kejahatan dan Engkau tidak dapat memandang kelaliman” (Hab 1:13). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Betapa lamban kita untuk percaya pada Tuhan sebagai Tuhan, berdaulat, melihat segalanya dan berkuasa! Betapa kecil kita jadikan kemuliaan Tuhan dan Juru Selamat kita Yesus Kristus! Kita perlu ‘menantikan Tuhan’ dalam meditasi akan kemuliaan-Nya, sampai kita menemukan kekuatan kita diperbaharui dengan mengukir semua itu di dalam hati kita.&amp;lt;ref&amp;gt;J.I. Packer, ''Knowing God'' (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1973), p. 79.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; - J.I. Packer}}Kukudusan mutlak Allah jauh melampaui sekedar ketidakberdosaan. Kekudusan ini adalah ekspresi positif dari kebaikan-Nya, bukan hanya ketidakberadaan dosa. Kita semua pernah bertemu orang-orang yang karakternya bersinar jauh lebih terang daripada kita sendiri sehingga kita merasa kecil dan hina bila dibandingkan dengan mereka. Saya memiliki seorang teman yang, sebelum ia mencukur jambangnya, terlihat seperti gabungan antara Abraham Lincoln dan Yesus (seperti digambarkan di ilustrasi kontemporer). Kemiripan ini bukan hanya dalam soal penampilan fisik. Kebaikan hatinya dan hikmatnya yang lembut sungguh luar biasa. Meskipun ia sedih mengetahui hal ini, berada bersamanya mengingatkan saya akan sifat mementingkan diri saya sendiri. Bila perbandingan dengan sesama manusia saja bisa membuat kita merasa begitu rendah, bayangkan perasaan tidak nyaman yang akan kita rasakan di dalam kehadiran Allah yang kudus!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk studi lebih lanjut:'''&amp;lt;br&amp;gt; Bila anda menginginkan wahyu baru dari kekudusan dan kekuatan kedaulatan Allah, cobalah pelajari kata pendek ini: “bergetar” - Keluaran 15:13-16; Ayub 9:4-6; Mazmur 99:1-3; Yesaya 64:1-4; Yeremia 23:9; Yehezkiel 38:20-23; Yoel 3:16; Habakuk 3:6..}}Hal inilah yang terjadi pada Petrus. Yesus mencengangkan Petrus di suatu hari dengan mujizat penangkapan ikan. Tapi bukannya bersukacita di atas kapal, yang dapat Petrus lihat hanyalah keadaan dirinya sendiri yang penuh dosa. Saat berhadapan dengan kekudusan Yesus, Petrus melihat dirinya sendiri seperti apa adanya, dan kenyataan itu sangat menghancurkan. “Simon Petrus…tersungkur di depan Yesus dan berkata, ‘Tuhan, pergilah daripadaku, karena aku ini seorang berdosa!’” (Luk 5:8). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak dibutuhkan waktu lama bagi Petrus untuk melupakan kekudusan Tuhan, seperti kita lihat di pasal selanjutnya di gunung transfigurasi. Peristiwa agung ini mencatat kunjungan dua tokoh terkemuka dari masa lalu Israel, Musa dan Elia. Tambah lagi, Yesus yang bertransfigur menjadi terang berkilauan seperti kilat. Tapi Petrus, bukannya tersungkur di hadapan Tuhan seperti yang ia lakukan sebelumnya, nampak tidak sadar akan apa yang sedang terjadi. {{RightInsert|Bacalah deskripsi Yohanes tentang Yesus Kristus di kitab Wahyu 1:10-16. Detail apa yang menarik perhatian anda paling jelas? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
}}Ia menjadi banyak bicara dan mengusulkan mungkin mereka dapat membuat kemah sementara untuk setiap orang. Saat itulah Allah Bapa turun tangan secara pribadi. “Sementara [Petrus] berkata demikian, datanglah awan menaungi mereka. Dan ketika mereka masuk ke dalam awan itu, takutlah mereka. Maka terdengarlah suara dari dalam awan itu, yang berkata, ‘Inilah anak-Ku yang Kupilih; dengarkanlah Dia.’” (Luk 9:34-35). Hal ini sepertinya membuat Petrus dan yang lainnya tersadar, seperti Matius tekankan, “Mendengar itu tersungkurlah murid-murid-Nya dan mereka sangat ketakutan” (Mat 17:6).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Ketika penghakiman (Tuhan) jatuh pada Nadab atau Uzzah, respon kita adalah keterkejutan dan amarah. Kita telah mengharapkan Tuhan untuk bermurah hati. Dari sana, langkah selanjutnya adalah mudah: kita menuntutnya. Saat hal itu tidak muncul, respon pertama kita adalah marah terhadap Tuhan, ditambah dengan protes: “Ini tidak adil.” Kita cepat melupakan bahwa dengan dosa pertama kita, kita telah menyerahkan segala hak atas anugerah kehidupan. Bahwa saya bernafas pagi ini adalah sebuah kemurahan ilahi. Tuhan tidak berhutang apapun pada saya. Saya berhutang segala-galanya pada-Nya.&amp;lt;ref&amp;gt;R.C. Sproul, ''The Holiness of God'' (Wheaton, IL: Tyndale House Publishers, 1985), p. 164.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; -R.C. Sproul}}Nabi Yesaya memiliki pengalaman dramatis yang membekas dalam dirinya selamanya. Ia melihat visi Tuhan “duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang, dan ujung jubahnya memenuhi Bait Suci” (Yes 6:1). Di dalam penglihatan ini makhluk-makhluk malaikat mendeklarasikan kekudusan Allah yang begitu besar. “Maka bergoyanglah alas ambang pintu disebabkan suara orang yang berseru itu dan rumah itu penuhlah dengan asap” (ayat 4). Sepenuhnya dibuat tak berdaya oleh penglihatan luar biasa itu, Yesaya memberi satu-satunya respon yang layak, “Celakalah aku! Aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni Tuhan semesta alam” (ayat 5).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Untuk studi lebih lanjut:'''&amp;lt;br&amp;gt;Perikop-perikop berikut ini menceritakan pertemuan dengan malaikat - Bilangan 22:21-31; Hakim-Hakim 6:20-23; Matius 28:2-4; Lukas 2:8-10.}}Beberapa orang menamakan pengalaman Yesaya “faktor pemecah.” R.C. Sproul menulis, “Untuk pertama kali dalam hidupnya Yesaya mengerti siapa Tuhan itu. Pada saat yang sama, untuk pertama kalinya Yesaya mengerti siapa Yesaya itu.” Jika kata “intergritas” berarti keseluruhan (integer adalah angka penuh), disintegrasi berarti pecah menjadi butiran-butiran. Kebanyakan dari kita mencoba keras menjadikan hidup kita “utuh.” Dan kalaupun kita luluh berantakan, setidaknya kita kelihatan seolah “utuh.”  Betapa menyedihkannya, lalu, untuk berada di hadirat Allah dan luluh berantakan sepenuhnya saat kita menemukan betapa dalamnya keberdosaan kita sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Menghampiri Allah yang Kudus=== &lt;br /&gt;
Pengenalan akan keberdosaan pada mulanya menghasilkan perasaan benci terhadap Tuhan. Hampir dalam setiap peristiwa Alkitab tentang kunjungan malaikat, individu-individu yang bersangkutan jatuh tersungkur karena ketakutan. {{LeftInsert|&amp;quot;Tuhan adalah satu-satunya penghiburan, Ia juga adalah teror terbesar: sesuatu yang kita paling butuhkan dan sesuatu yang darinya kita paling ingin sembunyi…Sebagian orang berbicara seolah bertemu pandang dengan kebajikan mutlak adalah menyenangkan. Mereka perlu berpikir ulang. Mereka masih bermain-main dengan agama.&amp;lt;Ref&amp;gt;C.S. Lewis, ''Mere Christianity'' (New York: Macmillan Publishing Co., Inc., 1943), p. 38.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; - C.S. Lewis}}Betapa lebih lagi mereka yang melihat Allah di dalam keagungan kekudusan-Nya. Bangsa Israel yang berdiri di Gunung Sinai saat gunung itu bergetar dengan kehadiran kudus Allah memohon kepada Musa untuk menjadi perantara mereka, penengah mereka. Musa memperingatkan mereka akan hal ini:&lt;br /&gt;
:Ketika kamu mendengar suara itu dari tengah-tengah gelap gulita, sementara gunung itu menyala, maka kamu, yakni semua kepala sukumu dan para tua-tuamu mendekati aku dan berkata, “Sesungguhnya Tuhan, Allah kita telah memperlihatkan kepada kita kebesaran dan kemuliaan-Nya, dan suara-Nya telah kita dengar dari tengah-tengah api. Pada hari ini telah kami lihat, bahwa Allah berbicara dengan manusia dan manusia itu tetap hidup. Tetapi sekarang, mengapa kami harus mati? Sebab api yang besar ini akan menghanguskan kami. Apabila kami lebih lama lagi mendengar suara Tuhan, Allah kita, kami akan mati. Sebab makhluk manakah yang telah mendengar suara dari Allah yang hidup yang berbicara dari tengah-tengah api seperti kami dan tetap hidup? Mendekatlah engkau dan dengarkanlah segala yang difirmankan Tuhan, Allah kita, dan engkaulah yang mengatakan kepada kami segala yang difirmankan kepadamu oleh Tuhan, Allah kita, maka kami akan mendengar dan melakukannya” (Ul 5:23-24).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Di dalam The Chronicles of Narnia, pengarang C.S. Lewis menggunakan singa yang mulia Aslan untuk menggambarkan Yesus. Pada satu saat, sebuah karakter berbicara tentang Aslan, “Sepertinya ia bukan singa yang jinak.”&amp;lt;ref&amp;gt;C.S. Lewis, ''The Voyage of the “Dawn Treader”'' (New York: Macmillan Publishing Co., Inc., 1952), p. 138.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dapatkah anda memikirkan contoh-contoh dari Alkitab atau interaksi anda sendiri dengan Tuhan yang menunjukkan bahwa Ia tidaklah “jinak”?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
}}Satu kali saya mendengar John Wimber berbicara tentang orang-orang yang tidak menginginkan hubungan dengan Tuhan karena mereka menganggapnya terlalu berbahaya. Mereka lebih memilih hubungan dengan Kekristenan atau dengan gereja. Sementara hal ini tak diragukan memang benar bagi sebagian orang, seorang Kristen sejati memiliki kerinduan untuk menjadi kudus. Ia mengetahui bahwa hanya orang yang suci hatinya akan melihat Allah (Mat 5:8), dan ia memiliki kerinduan akan kesucian itu yang akan memampukannya untuk memandang Allahnya. Bagi orang Kristen dewasa, pengenalan akan kekudusan Allah meyakinkannya akan kasih Allah. Ia menyadari, meskipun adanya kekudusan Allah dan keberdosaannya sendiri, Tuhan bersabar terhadap dirinya. Ia layak menerima penghakiman tetapi malah menerima kemurahan yang baru setiap pagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita dapat menganggap bahwa usaha kita untuk menjalani hidup Kekristenan memang lemah adanya, tetapi bila kita memiliki kerinduan untuk kekudusan kita bisa terhibur. Allah-lah yang telah meletakkan kerinduan itu di sana dan Ia pasti akan menggenapinya. Namun bagaimana? Bagaimana kita bisa memenuhi perintah Allah yang sepertinya tidak mungkin, “Kuduslah, sebab Aku kudus” (1 Ptr 1:16)? Bagaimana kita bisa menghampiri “Penguasa yang satu-satunya dan yang penuh bahagia, Raja di atas segala raja dan Tuan di atas segala tuan. Dialah satu-satunya yang tidak takluk kepada maut, ''bersemayam dalam terang yang tak terhampiri''. Seorangpun tak pernah melihat Dia dan memang manusia tidak dapat melihat Dia” (1 Tim 6:15-16, penekanan ditambah)? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Renungkan Ibrani 10:19-23.''' Bagaimana Imam Agung kita telah menulis ulang tentang peraturan untuk memasuki tempat maha kudus??}}Kita harus menghampiri dengan rasa gentar, seperti digambarkan jelas melalui pelayanan imam di Perjanjian Lama. Agar imam dapat menghampiri Allah, terdapat peraturan-peraturan yang telah ditetapkan secara ketat. Seseorang tidak dapat memasuki tempat maha kudus kapan saja ia mau. Imam akan memasuki tempat maha kudus hanya sekali setahun yaitu pada Hari Penebusan. Pertama ia harus mempersembahkan kurban bagi dirinya sendiri, darah kurban itu menjadi peringatan atas dosanya dan atas kekudusan Allah. Kemudian ia harus berpakaian khusus. Di salah satu ujung jubahnya, terdapat selang seling lonceng dan buah delima yang akan menimbulkan bunyi untuk membuktikan bahwa ia masih hidup, bahwa ia belum binasa karena kekudusan Allah. Menurut tradisi, sebuah tali yang panjang diikatkan pada si imam supaya bila ia mati di hadirat Tuhan imam-imam lainnya dapat menariknya keluar tanpa harus masuk ke dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Oh pendosa, dapatkah engkau memberi alasan mengapa, sejak engkau bangkit dari tempat tidurmu pagi ini, Tuhan tidak menghantammu mati?&amp;lt;ref&amp;gt;Jonathan Edwards, “Sinners In the Hands of An Angry God.”&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; - Jonathan Edwards}}Peraturan rumit dan detail ini adalah sebuah peringatan yang jelas: Jangan bermain-main dengan kekudusan Allah. Kedua putra Harun Nadab dan Abihu mendapatkan pelajaran ini secara keras. Ketika mereka mencoba cara baru untuk membakar dupa di hadapan Tuhan, “maka keluarlah api dari hadapan Tuhan lalu menghanguskan keduanya sehingga mereka mati di hadapan Tuhan” (Im 10:2). (Tak perlu dikatakan lagi, itu adalah terakhir kalinya mereka melakukan sesuatu yang baru). Pada momen yang membuat mereka tersadar itu, Musa mengingatkan Harun akan firman Tuhan: “Kepada orang yang karib kepada-Ku Kunyatakan kekudusan-Ku, dan di muka seluruh bangsa itu akan Kuperlihatkan kemuliaan-Ku” (Im 10:3). Tidak ada bagian Alkitab yang lebih baik merefleksikan pusat pewahyuan Perjanjian Lama, seperti yang disimpulkan oleh Salomo: “Takut akan Tuhan adalah permulaan hikmat” (Ams 1:7).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasa gentar adalah esensial, tapi kita tidak akan pernah dapat mendekati hadirat Allah yang kudus apabila bukan karena Perantara kita, Yesus Kristus sendiri. Perantara adalah seorang yang menjembatani jurang antara dua pihak yang berseteru. Dosa kita telah mengasingkan dan membuat murka Allah. Namun hal itu tidak membuat-Nya berhenti mengasihi kita. Kekudusan-Nya sama sekali tidak menyiratkan keengganan-Nya untuk menerima kita. Sebaliknya, Ia mengambil inisiatif mengutus Anak-Nya untuk menjauhkan dosa-dosa kita sehingga di dalam Kristus kita boleh menghampiri hadirat-Nya dan menikmati-Nya selamanya. Seperti dijelaskan oleh Paulus kepada umat di Korintus, “Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus” (2 Cor 5:19). Yesus Kristus, sebagai perantara kita, menderita penghukuman atas ketidaktaatan kita sehingga memungkinkan perdamaian kembali. Tetapi keselamatan adalah keinginan gabungan dan usaha bersama antara Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Kekudusan Allah mengajarkan kita bahwa hanya ada satu cara untuk berhadapan dengan dosa – secara radikal, serius, menyakitkan, konstan. Bila engkau tidak hidup demikian, engkau tidak hidup di hadirat Dia yang Kudus dari Israel.&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''A Heart for God'' (Colorado Springs, CO: NavPress, 1985), p. 130.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; - Sinclair Ferguson}}Biarkan saya menawarkan satu masukan terakhir dari imam Perjanjian Lama. Merupakan tanggung jawab seorang imam untuk menjadi penghubung antara Allah dan manusia. Di bagian bahu dari jubah imam terdapat permata krisopras yang berukir enam nama suku Israel. Di bagian tutup dada jubah terdapat duabelas batu permata yang berbeda, masing-masing untuk keduabelas suku Israel. Ketika ia memasuki tempat maha kudus, imam secara simbolik membawa umat Tuhan di atas bahunya dan di dalam hatinya. Dalam jaman Perjanjian Baru, tentu saja Yesus adalah Imam Besar Agung kita. Begitu besar kasih-Nya buat kita sehingga Ia juga menggendong kita di atas bahu-Nya, menanggung beban kita, dan sebagai teman yang berbelas kasihan, menyimpan kita dekat dengan hati-Nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Renungkan Yesaya 57:15.''' Mengapa Allah kita yang kudus memilih tempat bersemayam kedua di ayat ini?}}Mengenal Yesus sebagai mediator kita memampukan kita untuk melihat Allah bukan hanya sebagai api yang menghanguskan tetapi sebagai Bapa yang kepada-Nya kita telah didamaikan.&amp;lt;ref&amp;gt;J.C. Ryle, ''Expository Thoughts on the Gospels: Luke'' (Hertfordshire, England: Evangelical Press, 1879, 1985), p. 71.&amp;lt;/ref&amp;gt; Kita harus berusaha untuk mengenal dan menghargai pelayanan vital Tuhan kita Yesus. Memahami pentingnya peran Yesus sebagai Imam akan menimbulkan rasa terima kasih yang tulus serta rasa sadar yang lebih besar akan semua yang Tuhan telah lakukan untuk kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Kita Beroleh Bagian=== &lt;br /&gt;
Salah satu dari janji Firman Tuhan yang paling mengagumkan adalah jaminan bahwa kita akan berbagi dalam kekudusan Allah: “Sebab ayah kita mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya” (Ibr 12:10). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Renungkan 2 Korintus 7:1.''' Apakah motif kita mengejar kekudusan? Apa metode kita?}}Bila kita berpikir secara serius tentang kekudusan Tuhan kita, sepertinya tidak dapat dipercaya kita dapat mengalami hal seperti itu. Tapi itulah apa yang ayat dari Ibrani ini nyatakan dengan jelas. Sepasti Tuhan mendisiplin anak-anak-Nya (dan ayat tadi sangat pasti tentang itu), kita akan menikmati sebagian dari kekudusan-Nya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Kekudusan bukanlah sebuah pengalaman; kekudusan adalah penyatuan kembali karakter kita, pendirian lagi akan sebuah kehancuran. Kekudusan adalah usaha keras yang trampil, proyek jangka panjang, menuntut segala sesuatu yang Tuhan telah berikan pada kita untuk hidup dan kesalehan.&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''A Heart for God'', p. 129.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; - Sinclair Ferguson}}Bahwa janji ini melibatkan disiplin seharusnya tidak membuat kita marah atau jengkel. Disiplin adalah metode Tuhan yang telah terbukti dalam menyempurnakan anak-anak-Nya, dan jenis displin Tuhan membutuhkan partisipasi aktif kita. Pasal keduabelas dari Ibrani ini menuntut usaha keras dari pihak kita. Perhatikan bahasa mengenai usaha yang dipakai penulis: “menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita” (ayat 1)…”berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita” (ayat 1)…”Dalam pergumulan kamu melawan dosa” (ayat 4)…”menanggung kesusahan” (ayat 7)…”kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah” (ayat 12)…”Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan; sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan” (ayat 14, penekanan ditambahkan). Disiplin Bapa kita mungkin akan terasa menyakitkan untuk sementara waktu, tapi hal itu memperlengkapi kita untuk menjalani keabadian bersama Allah yang kudus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|Semua disiplin rohani yang terdaftar di bawah dapat membantu anda untuk bertumbuh dalam kekudusan pribadi. Beri tanda satu disiplin dimana anda merasa paling kurang.&lt;br /&gt;
* Pemahaman Alkitab&lt;br /&gt;
* Doa&lt;br /&gt;
* Pengakuan dosa/accountability&lt;br /&gt;
* Penyembahan&lt;br /&gt;
* Puasa&lt;br /&gt;
}}Yakub adalah seorang yang tentunya telah mengalami kesulitan hidupnya sendiri, banyak di antaranya disebabkan oleh dirinya sendiri. Tetapi di penghujung hidupnya dia bukan lagi Yakub. Namanya adalah Israel. Selama perjalanan terjadi perubahan nama dan juga perubahan karakter. Ia berjalan timpang, bertumpu pada tongkatnya, dan menyembah Allah sebagai Yang Kudus (Ibr 11:21).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yeremia mengatakan, “Karena kemurahan Tuhan kita tidak binasa” (Rat 3:22). Kita layak mendapat perlakuan yang tidak lebih baik dari yang Nadab dan Abihu terima. Tetapi jauh daripada dihanguskan, kita menemukan diri kita sebagai objek kasih ilahi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin situasi ini paling jelas diilustrasikan pada keadaan sekitar pertobatan Saul dari Tarsus. Ia adalah seorang yang dengan bersemangat menganiaya gereja awal, bertanggung jawan atas kematian banyak pria dan wanita pengikut Yesus Kristus. Ketika Saul dalam perjalanan dinasnya ke Damaskus untuk menemukan dan menghukum orang-orang Kristen, Tuhan sendiri secara dramatis turun tangan dan menghentikan aktivitasnya. Dalam menceritakan peristiwa ini kepada Raja Agripa bertahun-tahun kemudian, Paulus berkata: &lt;br /&gt;
:“tiba-tiba, ya raja Agripa, pada tengah hari bolong aku melihat di tengah jalan itu cahaya yang lebih terang dari cahaya matahari, turun dari langit meliputi aku dan teman-teman seperjalananku. Kami semua rebah ke tanah dan aku mendengar suatu suara yang mengatakan kepadaku dalam bahasa Ibrani, ‘Saulus, Saulus mengapa engkau menganiaya Aku? Sukar bagimu menendang ke galah rangsang.’ Tetapi aku menjawab, ‘Siapa Engkau Tuhan?' Kata Tuhan, ‘Akulah Yesus, yang kauaniaya itu. Tetapi sekarang bangunlah dan berdirilah. Aku menampakan diri kepadamu untuk menetapkan engkau menjadi pelayan dan saksi tentang segala sesuatu yang telah kau lihat daripada-Ku dan tenang apa yang akan Aku perlihatkan kepadamu nanti’” (Kis 26:13-16).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Untuk studi lebih lanjut:'''&amp;lt;br&amp;gt;Bacalah bagaimana Harun memimpin bangsa Israel dalam penyembahan berhala sementara Musa sedang bertemu Tuhan (Kel 32:1-10, 19-28). Bandingkan hal ini dengan penyucian Harun sebagai imam yang akhirnya dilakukan oleh Tuhan (Kel 39:27-31, 40:12-16). Apakah Harun mendapatkan yang pantas ia terima?}}Adalah menarik bahwa Saul keluar dari peristiwa ini hidup-hidup. Tuhan bisa saja sepenuhnya dibenarkan bila Ia menghancurkan Saul saat itu juga di tengah jalan Damaskus. Namun bukannya menerima keadilan di tangan Yang Kudus yang ia aniaya, Saul mengalami kasih Tuhan yang agung dan penerimaan. Ia bahkan menerima amanat untuk melayani sebagai duta bagi Dia yang telah ia tentang dengan keras. Betapa anugerah yang mengagumkan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kekudusan Allah memang memisahkan Dia dari kita, sejauh langit dari bumi. Tapi puji Tuhan, hal ini tidak menghalangi-Nya untuk menggapai dan mengubah Yakub-Yakub menjadi Israel-Israel dan Saul-Saul menjadi Paul-Paul. Nama kita mungkin tidak akan pernah berubah, tapi transformasi di dalam diri kita adalah pasti, dijamin, saat kita berhadapan dengan kekudusan Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Diskusi Kelompok==&lt;br /&gt;
# Bagaimana anda mendefinisikan penghujatan? Beri contoh-contoh bagaimana orang Kristen maupun bukan Kristen menghujat Allah? &lt;br /&gt;
# Menurut si pengarang, mengapa Tuhan menguduskan banyak peralatan di dalam Perjanjian Lama? &lt;br /&gt;
# Dari semua murid, Yohanes adalah yang terdekat dengan Yesus. Mengetahui ini, apakah yang signifikan dari reaksi Yohanes atas penglihatannya akan Yesus di Wahyu 1:10-17?&lt;br /&gt;
# Apakah kekudusan Allah sudah menyebabkan anda mengalami “faktor pemecah” secara pribadi? &lt;br /&gt;
# Atribut Allah yang manakah yang bagi anda paling menarik? Paling mengintimidasi? &lt;br /&gt;
# Jenis-jenis perbuatan yang seperti apakah yang mungkin mengindikasikan bahwa seorang Kristen telah menjadi terlalu biasa dengan Tuhan? &lt;br /&gt;
# Apakah menurut anda adil bagi Tuhan untuk menghukum mati seseorang? &lt;br /&gt;
# Disiplin rohani yang manakah yang anda pilih di Pertanyaan 4 di halaman ini? Bagaimana anda dapat mengembangkan disiplin ini? &lt;br /&gt;
# Tingkat kekudusan yang seperti apa yang dapat kita harapkan dalam hidup ini? &lt;br /&gt;
# Apakah pembahasan bab tentang kekudusan ini membuat anda takut pada Allah atau aman di dalam-Nya? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bacaan yang Direkomendasikan==&lt;br /&gt;
''Holiness'' by J.C. Ryle (Hertfordshire, England: Evangelical Press, 1979. Originally published in 1879.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Holiness of God'' by R.C. Sproul (Wheaton, IL: Tyndale House Publishers, 1985)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Knowledge of the Holy'' by A.W. Tozer (Camp Hill, PA: Christian Publications, Inc., 1978)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan==&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Sukartay</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/The_Holiness_of_God/id</id>
		<title>This Great Salvation/The Holiness of God/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/The_Holiness_of_God/id"/>
				<updated>2007-09-19T23:33:40Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Sukartay: /* The Holiness of God */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&amp;lt;noinclude&amp;gt;{{InfoBar&lt;br /&gt;
|author=C.J. Mahaney, Robin Boisvert&lt;br /&gt;
|editor=Greg Somerville&lt;br /&gt;
|partnerurl=http://www.sovereigngraceministries.org&lt;br /&gt;
|partner=Sovereign Grace Ministries&lt;br /&gt;
|other=It is part of the ''In Pursuit of Godliness'' series.&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
= Kekudusan Allah =&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
Saya merasa cukup antusias ketika menghadiri pertemuan malam itu. Waktu seorang teman baik muncul, saya berteriak kepadanya dari seberang ruangan, “Ayo kemari, dalam nama Yesus!” Tak lama kemudian seorang pemuda lain secara diam-diam menghampiri saya dan mengungkapkan rasa prihatinnya bahwa saya telah menggunakan nama Yesus dengan cara yang tidak serius. Dengan wajah merah karena malu, saya bergumam, “Terima kasih kamu telah menunjukkan hal itu.” Jelas bahwa pemuda itu merasa prihatin terhadap saya secara pribadi. Saya juga tahu bahwa ia telah berkata benar dan bahwa ia telah menunjukkan rasa hormat yang lebih atas kemuliaan Tuhan daripada saya sendiri. Walaupun sesungguhnya saya tidak pernah bermaksud buruk, peristiwa tadi membuat saya sadar kalau saya telah menjadi terlalu terbiasa dengan nama Tuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak begitu pada mulanya. Pada saat pertobatan saya tiga tahun lalu, saya dicengangkan oleh kuasa Tuhan yang mengubah hidup saya. Pertemuan-pertemuan yang disertai kehadiran-Nya dan jawaban-jawaban doa yang luar biasa telah meyakinkan saya akan realitas Roh Kudus dan kasih Yesus Kristus. Siapa lagi yang dapat secara total menyembuhkan rasa depresi dan tanpa harapan yang telah menguasai saya? Namun ketika intensitas bulan-bulan pertama itu berangsur-angsur mereda menjadi iman yang lebih konsisten, sesuatu yang lain meresap masuk. Keagungan kemuliaan Allah telah terkikis oleh rasa familiar yang bertumbuh. Sudah saatnya untuk memikirkan ulang kekudusan Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Renungkan 1 Tawarikh 16:23-36.''' Apakah anda menangkap adanya usaha keras rohani di dalam sikap Daud terhadap kekudusan Allah?}}Kukudusan. Kata itu sendiri membuat kita membayangkan pendeta-pendeta yang tidak tahu humor di dalam sebuah kuil tak berwarna yang sedang makan makanan tanpa rasa dan menjalani hidup tanpa sukacita. Atau mungkin wajah sedih, gaun panjang, dan daftar panjang berjudul “dilarang.” Tetapi bagaimana dengan keindahan? Apakah kata ‘kekudusan’ membangkitkan ide-ide tentang keindahan? Mungkin tidak. Namun keindahan adalah sebuah kualitas yang sering dihubungkan dengan kekudusan Allah. Di dalam kitab Mazmur kita didorong untuk menyembah Allah “dalam keindahan kekudusan” (Mzm 29:2; 96:9). Kukudusan dikatakan selamanya memperluas penampilan bait suci Allah: “Peraturan-Mu sangat teguh; bait-Mu layak kudus, ya Tuhan, untuk sepanjang masa” (Mzm 93:5).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun Alkitab menunjukkan penghargaan yang jelas dan positif terhadap kekudusan, kebanyakan dari kita tetap menyamakan kekudusan dengan kerja keras. Hanya dengan menyebut kata ‘kekudusan’ pikiran kita akan langsung tertuju pada hal-hal yang kita anggap sebagai tanggung jawab orang Kristen. Tetapi pengertian yang tepat akan kekudusan harus ditelusuri kembali ke sumber dari segala kekudusan – Allah sendiri. Dan saat kita memandang kekudusan Allah, kita tidak sedang berurusan dengan tanggung jawab manusia sama sekali melainkan dengan atribut Allah yang paling menarik dan mengagumkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ahli teologi Stephen Charnock menekankan bahwa di antara berbagai kualitas Allah, ada beberapa yang lebih kita sukai karena berkat-berkat yang bisa langsung kita dapatkan darinya. Misalnya, kita lebih memilih menyanyikan kemurahan Tuhan daripada memikirkan akan keadilan dan murka-Nya. Kita lebih cenderung untuk merenungkan Juru Selamat yang penyayang daripada memikirkan Tuhan yang pencemburu. Tapi ada beberapa sifat ilahi yang Tuhan sendiri nikmati karena sifat-sifat itu mengekspresikan kebesaran-Nya secara sempurna. Kekudusan adalah sifat itu.&amp;lt;ref&amp;gt;Stephen Charnock, ''The Existence and Attributes of God, Vol. II'' (Grand Rapids, MI: Baker Book House, 1979 reprint), p. 112.&amp;lt;/ref&amp;gt; Makhluk-makhluk surgawi yang misterius itu, serafim dan keempat mahluk hidup, mengetahui bahwa kekudusan Allah harus digaris bawahi. Coba pikirkan. Mereka tinggal di dalam hadirat-Nya dan memiliki penglihatan yang tanpa halangan akan realitas (sementara kita melihat melalui kaca gelas yang gelap). Kalau ada makhluk yang pernah “tahu,” merekalah makhluk itu. Dan oleh karena itu, berulang-ulang, siang dan malam, mereka tidak pernah berhenti bersorak, “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, yang Mahakuasa” (Yesaya 6:3, Wahyu 4:8).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kekudusan berbeda dari kesempurnaan Allah yang lain, karena kekudusan meluas ke seluruh sifat Allah lainnya. Karena itu kasih-Nya adalah kasih yang kudus, keadilan-Nya adalah keadilan yang kudus, dan seterusnya. Jika sifat-sifat Allah dapat dianggap sebagai bermacam sisi dari sebuah permata, maka kekudusan adalah cahaya gabungan dari sisi-sisi itu yang bersinar keluar dalam sinar kemuliaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Superstisi Keagamaan ===&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Renungkan Matius 5:17-20.''' Menurut anda dapatkah hal ini menjelaskan mengapa Perjanjian Baru mengandung 90 acuan pada kitab Imamat?}}Firman Tuhan berbicara banyak tentang kekudusan. Kitab pertama, Kejadian, memaparkan kejatuhan manusia. Lalu Keluaran, dengan figur utama lembu Paskah, menunjukkan pemulihannya. Selanjutnya adalah kitab Imamat. Ah, Imamat – kitab yang telah membuat banyak murid Alkitab yang penuh harapan menjadi tersendat dalam usaha tahunan mereka untuk membaca seluruh Alkitab. Namun buku ini sangat penting bagi pengertian kita akan kekudusan. Imamat juga memberikan penerangan penting mengenai korban penebusan Tuhan Yesus Kristus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;It is always necessary to remind ourselves of the grandeur of this absolute moral perfection, which encircles the Divine Person. Without it, true worship would degenerate and man would become presumptuous.&amp;lt;ref&amp;gt;T.C. Hammond, ''In Understanding Be Men'' (London, England: InterVarsity Fellowship, 1938).&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; - T.C. Hammond}}In the book of Leviticus God shows man how to approach him in worship. The book focuses primarily on the different sacrifices that God required in order for his people to ''get right'' with him, and then the different feasts God ordained so that they could ''stay right'' with him.&amp;lt;ref&amp;gt;Henrietta Mears, ''What the Bible Is All About'' (Ventura, CA: Regal Books, 1983), p. 51.&amp;lt;/ref&amp;gt; As confusing and irrelevant as this elaborate sacrificial system may appear to us today, God instituted it in order to instruct his people in the profound truth that ''he is holy''. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The word holiness implies a separation from all that is impure.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibid., p. 58.&amp;lt;/ref&amp;gt; God is different from us. He is ''other'' than we are. Though this may seem elementary, it needs to be stated because of current notions about “New Age” powers within us and a supposed inherent divinity of mankind. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
In Scripture, the ordinary things that God touches become extraordinary. For example, because it was the place of divine revelation, the area surrounding the burning bush was marked out as holy ground and it became appropriate for Moses to remove his sandals out of reverence for God. Or consider the utensils used in the service of the tabernacle and the temple. They weren’t ordinary either. They were holy. So also were holy assemblies, holy altars, holy anointing oil, and holy days. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
What made them holy? A holy God. God selected common things and made them special by setting them apart for holy purposes, specifically to communicate to his people that ''he'' is holy. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''For Further Study:'''&amp;lt;br&amp;gt; The Pharisees carried religious superstition to the extreme, as seen in Matthew 23:16-22. Did Jesus commend their&lt;br /&gt;
behavior?}}Unfortunately, many people miss this point badly and end up in religious superstition. I once received a latenight call from an elderly lady requesting that I meet her for prayer. She insisted that it couldn’t wait and that we must meet at “the house of God.” I suggested that, considering the hour, a public place might be more appropriate than an empty church building, but she kept insisting that we meet at “the house of God.” This dear lady had fallen into the error of ascribing to a place a certain special quality that belongs to God alone. She did not realize that in this New Testament era, no place is inherently holy—not even the “Holy Land.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The prophet Jeremiah, aware of a similar attitude among his people, wrote, “Do not trust in deceptive words and say, ‘This is the temple of the Lord, the temple of the Lord, the temple of the Lord!’” (Jer 7:4). Despite their rev-erence for the temple’s physical structure, the Israelites who kept repeating “The temple of the Lord” regrettably had hearts far removed from the Lord of the temple. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|The Bible passages below demonstrate three cases where reverence for a religious artifact, ritual, or building damaged the people’s relationship with&lt;br /&gt;
God. In the space below each reference, briefly summarize the problem.&lt;br /&gt;
* Numbers 21:6-9; 2 Kings 18:1-4&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Luke 13:10-16&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Mark 13:1-2; Matthew 26:59-62; Matthew 12:3-6&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
}}I see the same thing happen when unsaved couples who have no interest in following Jesus Christ nevertheless consider it absolutely essential that they be married in a church building. What else can this be but a superstitious feeling that somehow their marriage will be blessed if it takes place in a “holy” building? Putting undue emphasis on buildings or ceremonies or religious artifacts does nothing to show honor and respect for God. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
God, in Scripture, did set apart certain things for special use, but he had a point in doing so—to teach us that ''he'' is holy and must be held in respect. For this reason, then, to use holy things in a profane or common manner was offensive to God. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Meditate on 1 Samuel 6:19-20.''' Does your awe of God match that the men of Beth Shemesh experienced?}}The fifth chapter of Daniel recounts the familiar story of the handwriting on the wall, when God inscribed his divine judgment against the king of Babylon. What prompted his wrath? Belshazzar had profaned what God declared holy, as Daniel recounts: “So they brought in the gold goblets that had been taken from the temple of God in Jerusalem, and the king and his nobles, his wives and his concubines drank from them. As they drank the wine, they praised the gods of gold and silver, of bronze, iron, wood and stone” (Da 5:3-4). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
When Daniel was called in to decipher the mysterious writing, he took the opportunity to roundly rebuke the king. His final words summed up Belshazzar’s sin: “You did not honor the God who holds in his hand your life and all your ways” (Da 5:23). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Belshazzar’s failure to honor the things of God amounted to a failure to honor God; his blasphemy cost him his life. Incidents like this are sprinkled throughout the Bible to warn of what can happen when someone decides to play fast and loose with the things of God. Whether immediately or at the end of the age, judgment will be enacted for sins against God’s holiness.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===The “Disintegration Factor” ===&lt;br /&gt;
God is so different from us. Though we’re created in his image, his thoughts and his ways are so far beyond ours that Isaiah likens it to the distance between the heavens and the earth (Isa. 55: 8, 9). Perhaps this is nowhere clearer than in regard to his moral excellence. As the prophet Habakkuk expressed it, “Your eyes are too pure to look on evil; you cannot tolerate wrong” (Hab 1:13). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;How slow we are to believe in God as God, sovereign, all-seeing and almighty! How little we make of the majesty of our Lord and Saviour Jesus Christ! The need for us is to ‘wait upon the Lord’ in meditations of his majesty, till we find our strength renewed through the writing of these things upon our hearts.&amp;lt;ref&amp;gt;J.I. Packer, ''Knowing God'' (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1973), p. 79.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; - J.I. Packer}}God’s absolute purity goes beyond mere sinlessness. It is a positive expression of his goodness, not just the absence of sin. We’ve all met people whose character shines so much brighter than our own that we feel small and stained by comparison. I have a friend who, before he shaved off his beard, looked like a combination of Abraham Lincoln and Jesus (as depicted in contemporary illustrations, that is). The similarity isn’t merely in physical appearance, either. His kindness and gentle wisdom are truly exceptional. Though it would distress him to know this, being around him reminds me of my own selfishness. If human comparisons can make us feel that low, imagine the discomfort we would feel in the presence of a holy God! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''For Further Study:'''&amp;lt;br&amp;gt; If you want fresh revelation of God’s sovereign power and holiness, try this abbreviated word study of “tremble”—Exodus 15:13-16; Job 9:4-6; Psalms 99:1-3; Isaiah 64:1-4; Jeremiah 23:9; Ezekiel 38:20-23; Joel 3:16; Habakkuk 3:6.}}This is exactly what happened to Peter. Jesus amazed Peter one day by providing a miraculous catch of fish. But instead of rejoicing in the haul, all Peter could see was his own sinfulness. When confronted with the holiness of Jesus, Peter saw himself as he really was, and the reality of it was devastating. “Simon Peter…fell at Jesus’ knees and said, ‘Go away from me, Lord; I am a sinful man!’” (Lk 5:8). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
It didn’t take Peter long to lose sight of the Lord’s holiness, as we see four chapters later on the mount of transfiguration. This sublime incident featured a visit from two of the most celebrated persons of Israel’s past, Moses and Elijah. To top it off, a transfigured Jesus became as bright as lightning. Yet Peter, instead of falling before the Lord as he had done previously, seemed oblivious to what was taking place. {{RightInsert|Read John’s description of Jesus&lt;br /&gt;
Christ in Revelation 1:10-16. What&lt;br /&gt;
details strike you most vividly?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
}}He became chatty and suggested that maybe they could make some temporary shelters for everyone. That’s when God the Father intervened personally. “While [Peter] was speaking, a cloud appeared and enveloped them, and they were afraid as they entered the cloud. A voice came from the cloud, saying, ‘This is my Son, whom I have chosen; listen to him’” (Lk 9:34-35). This seems to have had a sobering effect on Peter and the others, for as Matthew points out, “When the disciples heard this, they fell face down to the ground, terrified” (Mt 17:6). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;When [God’s] divine judgment fell on Nadab or Uzzah, the response was shock and outrage. We have come to expect God to be merciful. From there the next step is easy: we demand it. When it is not forthcoming, our first response is anger against God, coupled with the protest: “It isn’t fair.” We soon forget that with our first sin we have forfeited all rights to the gift of life. That I am drawing breath this morning is an act of divine mercy. God owes me nothing. I owe him everything.&amp;lt;ref&amp;gt;R.C. Sproul, ''The Holiness of God'' (Wheaton, IL: Tyndale House Publishers, 1985), p. 164.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; -R.C. Sproul}}The prophet Isaiah had a dramatic experience which marked him forever. He saw a vision of the Lord “seated on a throne, high and exalted, and the train of his robe filled the temple” (Is 6:1). In this vision angelic beings were declaring the overwhelming holiness of God. “At the sound of their voices the doorposts and thresholds shook and the temple was filled with smoke” (v.4). Utterly undone by the awesome display, Isaiah responded in the only appropriate way: “Woe to me! I am ruined! For I am a man of unclean lips, and I live among a people of unclean lips, and my eyes have seen the King, the Lord Almighty” (v.5). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''For Further Study:'''&amp;lt;br&amp;gt;The following passages reveal angelic encounters—Numbers 22:21-31; Judges 6:20-23; Matthew 28:2-4; Luke 2:8-10.}}Some have called Isaiah’s experience the “disintegration factor.” R.C. Sproul writes, “For the first time in his life Isaiah really understood who God was. At the same instant, for the first time Isaiah really understood who Isaiah was.”&amp;lt;ref&amp;gt;Ibid., pp. 45–46.&amp;lt;/ref&amp;gt; If the word “integrity” means wholeness (an integer is a whole number), disintegration means to be broken into pieces. Most of us are trying so hard to get our lives “together.” And even if we’re falling apart, we’d at least like to appear to be “together.” How distressing, then, to be in the presence of God and fall completely apart as we discover the depth of our own sinfulness. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Approaching a Holy God=== &lt;br /&gt;
The awareness of one’s sinfulness initially produces an aversion to God. In almost every biblical account of angelic visitations, the individuals fall down in abject fear. {{LeftInsert|&amp;quot;God is the only comfort, he is also the supreme terror: the thing we most need and the thing we most want to hide from...Some people talk as if meeting the gaze of absolute goodness would be fun. They need to think again. They are still only playing with religion.&amp;lt;Ref&amp;gt;C.S. Lewis, ''Mere Christianity'' (New York: Macmillan Publishing Co., Inc., 1943), p. 38.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; - C.S. Lewis}}How much more those who see God in his awesome holiness? The Israelites who stood before Mount Sinai as it quaked with the holy presence of God begged Moses to be their intermediary, their go-between. Moses reminds them of this: &lt;br /&gt;
:When you heard the voice out of the darkness, while the mountain was ablaze with fire, all the leading men of your tribes and your elders came to me. And you said, “The Lord our God has shown us his glory and his majesty, and we have heard his voice from the fire. Today we have seen that a man can live even if God speaks with him. But now, why should we die? This great fire will consume us, and we will die if we hear the voice of the Lord our God any longer. For what mortal man has ever heard the voice of the living God speaking out of fire, as we have, and survived? Go near and listen to all that the Lord our God says. Then tell us whatever the Lord our God tells you. We will listen and obey” (Dt 5:23-27). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|In The Chronicles of Narnia, author C.S. Lewis uses the noble lion Aslan to portray Jesus. At one point a character says of Aslan, “It’s not as if he were a tame lion.”&amp;lt;ref&amp;gt;C.S. Lewis, ''The Voyage of the “Dawn Treader”'' (New York: Macmillan Publishing Co., Inc., 1952), p. 138.&amp;lt;/ref&amp;gt; Can you think of any examples from the Bible or your own interaction with God that show he isn’t “tame”?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
}}I once heard John Wimber refer to people who do not want a relationship with God because they consider it too dangerous. They would prefer a relationship with Christianity or with the church. While this is undoubtedly the case with some, a true Christian has the desire to be holy. He knows that only the pure in heart shall see God (Mt 5:8), and he longs for that purity that will enable him to behold his Lord. For the maturing Christian, an awareness of God’s holiness reassures him of God’s love. He realizes that in spite of God’s holiness and his own sinfulness, the Lord is long-suffering toward him. He deserves judgment but instead receives mercies which are new every morning. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
We may consider our attempts to live the Christian life to be feeble indeed, but if we have a desire for holiness we can take heart. God is the One who put that desire there and he is certain to bring it to pass. But how? How will we fulfill God’s seemingly impossible command, “Be holy, because I am holy” (1Pe 1:16)? How can we approach “the blessed and only Ruler, the King of kings and Lord of lords, who alone is immortal and ''who lives in unapproachable light'', whom no one has seen or can see” (1Ti 6:15-16, emphasis added)? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Meditate on Hebrews 10:19-23.''' How has our High Priest rewritten the law about entering the Most Holy Place?}}We must approach with reverence, as is strikingly displayed through the ministry of the Old Testament priest. In order for the priest to approach God, there were closely prescribed regulations. One could not go into the Holy of Holies anytime he wished. The high priest entered the most holy place just one day each year on the Day of Atonement. He first had to offer a sacrifice for himself, the blood serving as a reminder to him of his sinfulness and God’s holiness. Then he had to dress in special garments. On the hem of his robe were alternating pomegranates and bells which would jingle to give evidence that he was still alive, that he had not been slain by the holiness of God. According to tradition, a length of rope was tied to the priest so that if he died in God’s presence the other priests could pull him out without having to go in themselves. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;O sinner, can you give any reason why, since you have risen from your bed this morning, God has not stricken you dead?&amp;lt;ref&amp;gt;Jonathan Edwards, “Sinners In the Hands of An Angry God.”&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; - Jonathan Edwards}}These elaborate precautions were a clear warning: Don’t trifle with the holiness of God. Aaron’s sons Nadab and Abihu learned that lesson the hard way. When these priests tried a new way of burning incense before the Lord, “fire came out from the presence of the Lord and consumed them, and they died before the Lord” (Lev 10:2). (Needless to say, it was the last time they did anything novel.) In the soberness of that moment, Moses reminded Aaron of the Lord’s words: “Among those who approach me I will show myself holy; in the sight of all the people I will be honored” (Lev 10:4). No passage better reflects the Old Testament’s central revelation, as summed up by Solomon: “The fear of the Lord is the beginning of knowledge” (Pr 1:7). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reverence is essential, but we would never get anywhere near the holy presence of God if it weren’t for our mediator, Christ Jesus himself. A mediator is one who bridges the gap between two opposing parties. Our sin has alienated and angered God. Yet it hasn’t stopped him from loving us. His holiness in no way implies a reluctance on initiative in sending his Son to put away our sins so that in Christ we might come into his presence and enjoy him forever. As Paul explained to the Corinthians, “God was reconciling the world to himself in Christ” (2Co 5:19). Jesus Christ, as our mediator, suffered the penalty for our disobedience in order to make reconciliation possible. But salvation was the collective desire and cooperative effort of the Father, Son, and Holy Spirit. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;The holiness of God teaches us that there is only one way to deal with sin—radically, seriously, painfully, constantly. If you do not so live, you do not live in the presence of the Holy One of Israel.&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''A Heart for God'' (Colorado Springs, CO: NavPress, 1985), p. 130.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; - Sinclair Ferguson}}Let me offer one final insight from the Old Testament priesthood. It was the priest’s responsibility to mediate between God and the people. On each shoulder of the high priest’s garment was an onyx stone engraved with the names of six tribes of the nation of Israel. On the breastpiece of his robe were twelve different gemstones, one for each of the twelve tribes. As he entered the Holy of Holies, the priest symbolically bore the people of God on his shoulders and on his heart. In New Testament times, of course, Jesus is our High Priest. So great is his love for us that he also carries us on his shoulders, bearing our burdens, and as our compassionate friend, keeps us close to his heart. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Meditate on Isaiah 57:15.''' Why would our holy God choose the second dwelling mentioned in this verse?}}Knowing Jesus as our mediator enables us to see God not just as a consuming fire but as a Father to whom we have been reconciled.&amp;lt;ref&amp;gt;J.C. Ryle, ''Expository Thoughts on the Gospels: Luke'' (Hertfordshire, England: Evangelical Press, 1879, 1985), p. 71.&amp;lt;/ref&amp;gt; We ought to apply ourselves to know and appreciate this vital ministry of our Lord Jesus. Comprehending the significance of his priesthood will provoke sincere gratitude and a greater awareness of all that God has done for us. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Ours to Share=== &lt;br /&gt;
One of the most astounding promises in all of Scripture is the assurance that we will share in the holiness of God: “Our fathers disciplined us for a little while as they thought best; but God disciplines us for our good, that we may share in his holiness” (Heb 12:10). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Meditate on 2 Corinthians 7:1.''' What is our motive for pursuing holiness? What is our method?}}When we give serious consideration to our Lord’s holiness it seems unbelievable that we could experience some measure of it. But that’s what this passage from Hebrews clearly states. As surely as God disciplines his children (and the passage leaves no doubt about that), we will enjoy a portion of his holiness. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Holiness is not an experience; it&lt;br /&gt;
is the re-integration of our character,&lt;br /&gt;
the rebuilding of a ruin. It is skilled labor,&lt;br /&gt;
a long-term project, demanding everything&lt;br /&gt;
God has given us for life and&lt;br /&gt;
godliness.&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''A Heart for God'', p. 129.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; - Sinclair Ferguson}}That this promise involves discipline should not put us off. Discipline is God’s proven method of perfecting his children, and his kind of discipline requires our active participation. This twelfth chapter of Hebrews calls for vigorous effort on our part. Notice the language of exertion the writer employs: “Throw off everything that hinders and the sin that so easily entangles” (v.1)…“run with perseverance the race marked out for us” (v.1)…“In your struggle against sin” (v.4)… “endure hardship” (v.7)… “strengthen your feeble arms and weak knees” (v.12)… “Make every effort to live in peace with all men and to be holy; ''without holiness no one will see the Lord”'' (v.14, emphasis added). Our Father’s discipline may be temporarily painful, but it outfits us for spending eternity with a holy God. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|All of the spiritual disciplines listed below can help you grow in personal holiness. Check the one discipline in which you feel most deficient.&lt;br /&gt;
* Bible study&lt;br /&gt;
* Prayer&lt;br /&gt;
* Confession/Accountability&lt;br /&gt;
* Worship&lt;br /&gt;
* Fasting}}Jacob was a man who certainly went through his share of difficulties, many of them self-inflicted. But at the end of his life he was no longer Jacob. His name was Israel. Along the way there had come a name change and a change in character as well. He walked with a limp, leaned on his staff, and worshiped God as the Holy One (Heb 1:21). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jeremiah said, “It is of the Lord’s mercies that we are not consumed” (La 3:22 KJV). We deserve no better treatment than what Nadab and Abihu received. But far from being consumed, we find ourselves the objects of divine love. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perhaps nowhere is this more clearly illustrated than in the circumstances surrounding the conversion of Saul of Tarsus. He was a zealous persecutor of the early church, responsible for the deaths of many men and women who were followers of Jesus Christ. While Saul was on an official journey to Damascus to ferret out and punish Christians, the Lord himself dramatically intervened and put a stop to his activities. In recounting the incident to King Agrippa years later, Paul said: &lt;br /&gt;
:“About noon, O king, as I was on the road, I saw a light from heaven, brighter than the sun, blazing around me and my companions. We all fell to the ground, and I heard a voice saying to me in Aramaic, ‘Saul, Saul, why do you persecute me? It is hard for you to kick against the goads.’ Then I asked, ‘Who are you, Lord?’ ‘I am Jesus, whom you are persecuting,’ the Lord replied. ‘Now get up and stand on your feet. I have appeared to you to appoint you as a servant and as a witness of what you have seen of me and what I will show you’” (Ac 26:13-16). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''For Further Study:'''&amp;lt;br&amp;gt;Read how Aaron led the Israelites in idolatry while Moses was meeting with God (Ex 32:1-10, 19-28). Contrast that with God’s eventual consecration of Aaron as high priest (Ex 39:27-31, 40:12-16). Did Aaron get what he deserved?}}It’s fascinating that Saul emerged from this encounter alive. God would have been completely justified in destroying him right there on the Damascus road. But instead of receiving justice at the hands of the holy One he was persecuting, Saul experienced the Lord’s great love and acceptance. He even received a commission to serve as ambassador for the One he had so vehemently opposed. What amazing grace! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
God’s holiness does indeed set him apart from us, as far as the heavens are above the earth. But thank God, it has not prevented him from reaching down and turning Jacobs into Israels and Sauls into Pauls. Our names may never change, but our internal transformation is guaranteed as we encounter the holiness of God.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Group Discussion==&lt;br /&gt;
# How would you define blasphemy? Give examples of how Christians as well as non-Christians blaspheme God.&lt;br /&gt;
# According to the author, why did God consecrate so many things as holy in the Old Testament?&lt;br /&gt;
# Of all the disciples, John was most intimate with Jesus. In light of that, what is significant about John’s reaction to his vision of Jesus in Revelation 1:10-17?&lt;br /&gt;
# Has God’s holiness caused you personally to experience the “disintegration factor”? (Page 29)&lt;br /&gt;
# Which of God’s attributes do you find most attractive? Most intimidating?&lt;br /&gt;
# What types of behavior might indicate that a Christian has become overly familiar with God?&lt;br /&gt;
# Do you think it’s fair for God to execute someone?&lt;br /&gt;
# Which spiritual discipline did you pick in Question 4 on this page? How could you develop that discipline?&lt;br /&gt;
# What level of holiness can we expect in this life?&lt;br /&gt;
# Did this chapter’s discussion of holiness make you scared of God or secure in him? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Recommended Reading==&lt;br /&gt;
''Holiness'' by J.C. Ryle (Hertfordshire, England: Evangelical Press, 1979. Originally published in 1879.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Holiness of God'' by R.C. Sproul (Wheaton, IL: Tyndale House Publishers, 1985)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Knowledge of the Holy'' by A.W. Tozer (Camp Hill, PA: Christian Publications, Inc., 1978)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Notes==&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Sukartay</name></author>	</entry>

	</feed>