<?xml version="1.0"?>
<?xml-stylesheet type="text/css" href="http://en.gospeltranslations.org/w/skins/common/feed.css?239"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xml:lang="en">
		<id>http://en.gospeltranslations.org/w/index.php?feed=atom&amp;target=Susanlim&amp;title=Special%3AContributions%2FSusanlim</id>
		<title>Gospel Translations - User contributions [en]</title>
		<link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://en.gospeltranslations.org/w/index.php?feed=atom&amp;target=Susanlim&amp;title=Special%3AContributions%2FSusanlim"/>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/Special:Contributions/Susanlim"/>
		<updated>2026-04-03T22:34:19Z</updated>
		<subtitle>From Gospel Translations</subtitle>
		<generator>MediaWiki 1.16alpha</generator>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/How_Can_I_Change%3F/Where_it_All_Begins/id</id>
		<title>How Can I Change?/Where it All Begins/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/How_Can_I_Change%3F/Where_it_All_Begins/id"/>
				<updated>2009-06-15T06:06:31Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Susanlim: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{info|Bagaimana Saya Bisa Berubah? / Dimana Semua Itu Dimulai}}&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa waktu yang lalu, ada sebuah isu yang beredar, menyatakan bahwa seorang musisi rock besar sudah “lahir baru” (born again). Dapat diperkirakan bahwa reaksi dari komunitas Kristen sangat antusias. Tapi begitu dia menyadari menyebarnya isu itu, sang musisi langsung memutus isu yang beredar: “ Belakangan ada kabar yang menyatakan bahwa saya sudah lahir baru. Itu tidak benar. Apa yang saya katakan adalah bahwa saya kembali terikat dengan pornografi (porn again). “&amp;lt;br&amp;gt;Satu huruf dapat membuat perbedaan yang cukup besar.&amp;lt;br&amp;gt;Saya cenderung skeptis ketika saya mendengar figur publik itu sudah lahir baru. Bahkan walaupun orang itu memang menyatakan diri bahwa ia berkomitmen untuk mengikut Kristus, gaya hidupnya jarang merefleksikan keseriusan untuk berubah. Bahkan seringkali tidak ada bukti pertobatan. Tidak ada keterlibatan di dalam gereja lokal. Sebagai masyarakat awam, Joe Six-Pack mengobservasi ketidak-sesuaian ini, dia secara tidak tepat dapat saja menyimpulkan bahwa inilah arti dari lahir baru.&amp;lt;br&amp;gt;{{LeftInsert| '''Renungkan 1 Petrus 2:2-3'''. Apa itu “susu” yang disebut di sini? Mengapa susu murni itu penting untuk pertumbuhan spiritual?}}&amp;lt;br&amp;gt;Charles Colson adalah suatu pengecualian. Sebagai seorang mantan pengacara dan tim bantuan presiden dalam masa pemerintahan Nixon, Colson dijebloskan ke dalam penjara karena keterlibatannya di dalam skandal Watergate. Dalam jangka waktu itu, walaupun terkesan mencurigakan, dia menyatakan bahwa dirinya sudah menyerahkan hidupnya kepada Kristus. Namun hal ini bukanlah suatu usaha dalam rangka mengurangi hukumannya. Pertobatan Colson adalah suatu hal yang murni, seperti yang dibuktikan dalam gaya hidup barunya. Bukunya, Born Again memberikan bukti yang kuat akan perjumpaan pribadinya dengan Injil.&amp;lt;br&amp;gt;Walaupun istilah “lahir baru” sering digunakan dalam budaya masa kini, makna (implikasi teologisnya) sudah mulai menyimpang. Misalnya, ketika seorang mantan petinju kelas berat George Foreman kembali bertanding, para komentator olahraga menyatakan bahwa karirnya sedang “lahir baru.” Seorang politisi yang pernah tenggelam kemudian kembali menjadi popular terkadang sering disebut sedang dalam kondisi lahir baru. Dan banyak orang mempersepsikan kelompok lahir baru sebagai kelompok hiperakfif yang berada di dalam gereja, tanpa menyadari bahwa kelahiran baru adalah suatu persyaratan utama sebelum menjadi bagian dari gereja!&amp;lt;br&amp;gt;{{RightInsert| “Menjadi seorang Kristen bukan berarti membuat lembaran baru di dalam hidup, melainkan menerima kehidupan baru untuk dijalani.&amp;lt;ref&amp;gt; Quoted in R.C. Sproul, Born Again: Leader Guide (Orlando, FL: Ligonier Ministries, Inc., 1988), Chapter I, p. 14. &amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;lt;br&amp;gt;-'''Thomas Adams'''&amp;lt;br&amp;gt;}} &amp;lt;br&amp;gt;Bahkan seorang Kristen yang dewasa dapat gagal memahami istilah penting ini. Namun apabila kita berharap untuk berubah seperti apa yang dikehendaki oleh Allah, kita harus memulai dari suatu pemahaman dan mengalami proses regenerasi- kelahiran baru. Inilah saat dimana seluruh proses penyucian itu dimulai.&amp;lt;br&amp;gt;{{LeftInsert| 1 dari pernyataan berikut ini yang paling bisa menggambarkan, dalam pandangan anda, mengenai makna kelahiran baru ?&amp;lt;br&amp;gt; &amp;lt;br&amp;gt;❏ Mengambil keputusan untuk memulai kehidupan yang baru&amp;lt;br&amp;gt;❏ Memperbaharui komitmen terhadap Kristus&amp;lt;br&amp;gt;❏ Meminta Allah untuk mengampuni dosa anda dan hidup di dalam hati anda&amp;lt;br&amp;gt;❏ Memberitahu semua teman anda bahwa mereka akan pergi ke neraka&amp;lt;br&amp;gt;❏ Bukan salah satu di antaranya&amp;lt;br&amp;gt;}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Didikan Seorang Farisi  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Istilah “lahir baru” tidak berasal dari jaman Presiden Jimmy Carter. Istilah itu berasal dari Yesus Kristus. Mari menyelidiki di mana Dia mmperkenalkan istilah itu dan bagaimana yang sebenarnya dimaksudkan olehNya seiring dengan usaha kita untuk menyelidiki kitab Yohanes Pasal 3.&amp;lt;br&amp;gt;Nikodemus adalah seorang Farisi dan anggota dari komite tinggi masyarakat Yahudi yang disebut Sanhedrin. Dia sangat dihormati di Yerusalem sebagai seorang theologian dan seorang pengajar hukum. Dalam kerangka kedudukan dan martabat yang dimiliki olehnya, sangat mengejutkan bahwa Nikodemus mau mengunjungi Yesus secara pribadi. Lagipula, Yesus tidak mengalami pelatihan formal yang sangat dijunjung tinggi oleh Nikodemus dan teman-temannya. Lagipula, guru yang sederhana ini baru saja menciptakan kehebohan di Bait Suci dan memberikan pernyataan bahwa dia mempunyai otoritas yang unik dari Allah (Yoh 2:13-22). Tapi Nikodemus tergugah oleh pengajaran Yesus, dan dia tidak bisa menyangkal mujizat-mujizat yang telah terjadi. Jadi, dengan kerendahan hati, pengajar religius yang terkemuka ini menyebut seorang tukang kayu yang tidak berpendidikan dari Galilea:&amp;lt;br&amp;gt;Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorangpun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya. (Yoh 3:2)&amp;lt;br&amp;gt;{{LeftInsert| '''Jawaban''': Bukan salah satu di antaranya. Untuk definisi Alkitabiah, teruslah membaca.&amp;lt;br&amp;gt;}}&amp;lt;br&amp;gt;Satu hal yang bisa dikatakan tentang orang Farisi – bahwa mereka mengetahui pentingnya etiket. Dengan menyebut Yesus dengan “Rabi”, Nikodemus sedang mengekspresikan penghormatan pada status Yesus sebagai seorang guru, sekaligus menampilkan keinginan untuk belajar. Namun, pernyataan yang disampaikan olehnya setelah itu adalah suatu hal yang akan segera disesali olehnya: “Guru, kami tahu….”&amp;lt;br&amp;gt;Bukan cara yang direkomendasikan untuk memulai percakapan dengan Anak Allah.&amp;lt;br&amp;gt;Yesus bisa saja mengkonfrontasi Nikodemus karena sikap arogannya dan segera mengakhiri percakapan yang ada. Sebaliknya, Ia memilih untuk menolong Nikodemus untuk melihat betapa terbatasnya pengetahuan yang dimiliki olehnya. Metode yang digunakan oleh Yesus? &amp;lt;br&amp;gt; {{LeftInsert| “Kita jarang menganggap pengajaran ini [bahwa manusia tidak bisa masuk ke dalam kerqajaan Allah] dengan serius, mungkin karena hal ini memangkas akar kecenderungan kita untuk menganggap diri kita maha mampu. Hal ini menekankan pengajaran Alkitabiah yang menyatakan bahwa keselamatan kita adalah semata-mata karena anugerah Allah. Satu hal yang dibutuhkan di sini adalah hal yang bahkan kita sendiri tidak bisa melakukannya!&amp;lt;ref&amp;gt; Sinclair Ferguson, The Christian Life (Carlisle, PA: The Banner of Truth Trust, 1989), p. 55. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
—'''Sinclair Ferguson''' &amp;lt;br&amp;gt;}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku berkata kepadamu,” Kata Yesus, “sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.&amp;quot; (ayat 3).&amp;lt;br&amp;gt;Pernyataan yang disampaikan oleh Tuhan Allah membingungkan Nikodemus. &amp;quot;Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua?” tanyanya. “Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?&amp;quot; Nikodemus tidak dapat memahami apa yang dimaksud oleh Yesus, dan dia juga tidak terbiasa mendapat perlakuan seperti ini. Biasanya dialah yang memberi jawaban, bukan mencari-cari jawaban. Bahka ia mungkin saja ada di dalam Bait Suci waktu Yesus yang berumur 12 tahun datang dan membuat takjub para pemuka agama dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan olehNya. Namun Yesus sekarang bukan lagi seorang bocah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert| '''Untuk Renungan Lebih Lanjut:''' baca Matius 19: 23-26. Apa saja yang menjadi persyaratan, selain dari intervensi Allah, bagi seseorang untuk masuk ke dalam kerajaan Allah ? &amp;lt;br&amp;gt;}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; “Aku berkata kepadamu,” Lanjut Yesus, “sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah… Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali.” (ayat 5,7). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun Nikodemus memang terkejut. Bahkan pada kenyataannya, ia merasa terguncang. “Bagaimanakah mungkin hal itu terjadi?” tanyanya. Pada titik ini Nikodemus membutuhkan dua Tylenol. Ditambah dengan perasaan dipermalukan, terutama ketika Yesus mengatakan, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kami berkata-kata tentang apa yang kami ketahui dan kami bersaksi tentang apa yang kami lihat, tetapi kamu tidak menerima kesaksian kami. Kamu tidak percaya, waktu Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal duniawi, bagaimana kamu akan percaya, kalau Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal sorgawi?? “ (ayat 11-12) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| &amp;quot; Kelahiran baru bukan hanya suatu misteri yang tidak dapat dimengerti oleh siapapun, namun hal itu juga adalah suatu mujizat yang tidak satu orangpun dapat melakukannya.”&amp;lt;ref&amp;gt; Quoted in R.C. Sproul, Born Again: Leader Guide, Chapter III, p. 20 &amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;lt;br&amp;gt;—'''Richard Baxter''' &amp;lt;br&amp;gt;}}&amp;lt;br&amp;gt;Sangat mudah untuk memandang rendah Nikodemus, namun mari kita menguji diri kita sendiri: Apakah kita memahami apa yang Yesus maksud dengan ‘dilahirkan kembali’&amp;amp;nbsp;? apakah kita terkejut mendengar pernyataan Yesus? Kecuali jika kita sudah pernah mencapai titik dimana, seperti Nikodemus, kita bertanya “Bagaimana hal ini bisa terjadi?”, kecil kemungkinan bagi kita untuk memahami misteri dan keajaiban dari regenerasi.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== &amp;lt;br&amp;gt;Tidak Ada Yang Bisa Dikontribusikan&amp;lt;br&amp;gt;&amp;lt;br&amp;gt;  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| 2 Apakah dengan menelaah pernyataan Yesus kata per kata, anda mendapat pencerahan baru?&amp;lt;br&amp;gt;Kamu&amp;lt;br&amp;gt;harus&amp;lt;br&amp;gt;dilahirkan&amp;lt;br&amp;gt;kembali&amp;lt;br&amp;gt;}}&amp;lt;br&amp;gt;Yang Yesus sengaja hilangkan adalah semua sugesti yang menyatakan bahwa Nikodemus secara pribadi bertanggung jawab dalam proses kelahiran kembali. Malahan, Ia menyatakan hal yang sebaliknya: &amp;lt;br&amp;gt;“Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh.” (Yohanes 3:6). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert| '''Untuk Dipelajari Lebih Lanjut:''' Bagaimana kisah Abraham dalam mendapatkan Ishak dan Ismael menunjukkan kekontrasan antara usaha kita dan Allah? (Lihat Kejadian 21:1-13 dan Roma 9:6-9)}}&amp;lt;br&amp;gt;Tidak sulit untuk memahami mengapa Nikodemus menganggap pernyataan Kristus cenderung membingungkan. Karena orang Farisi cenderung salah sangka dan salah menginterpretasikan Firman, mereka cenderung untuk berusaha membangun kebenaran mereka sendiri dihadapan Allah. Nikodemus dapat menganggap bahwa kelahiran baru (apapun itu maksudnya) melibatkan beberapa usaha atau kontribusi dari pihaknya. Kebanyakan dari kita juga mungkin berpikiran yang sama. Dan hal itulah yang ditantang oleh Yesus. &amp;lt;br&amp;gt; “Kamu harus dilahirkan kembali” bukanlah suatu perintah untuk percaya kepada Kristus; itu adalah pernyataan yang mengklarifikasikan apa yang harus Ia lakukan di dalam kita. “Regenerasi adalah suatu perubahan yang dibawa oleh Allah ke dalam diri kita.” Tulis C. Samuel Storms, “bukanlah suatu tindakan otomatis yang dihasilkan di dalam diri kita oleh usaha kita sendiri.”&amp;lt;br&amp;gt;Mari kita berhenti sejenak untuk merenungkan implikasi yang mengejutkan dari perkataan Kristus:&amp;lt;br&amp;gt;■ Walaupun hal ini sangat penting bagi kehidupan kekristenan, regenerasi tidak bisa dijangkau dengan usaha manusia. &amp;amp;lt;ref&amp;amp;gt;C. Samuel Storms, Chosen for Life (Grand Rapids, MI: Baker Book House, 1987), p. 108.&amp;amp;lt;/ref&amp;amp;gt;&amp;lt;br&amp;gt;■ Allah adalah satu-satunya pemrakarsa dari kelahiran baru; hal ini bukanlah tindakan kooperatif antara dua pihak.&amp;lt;br&amp;gt;■ Regenerasi adalah suatu pengalaman yang harus kita alami, namun hanya bisa disediakan oleh Allah.&amp;lt;br&amp;gt;Bukan karena Nikodemus kurang cerdas sehingga ia menemukan pernyataan Tuhan sangat membingungkan; melainkan karena hal itu membutuhkan perubahan cara pandang (paradigma) di dalam pikirannya. Hal yang dinyatakan oleh Tuhan memberikan pencerahan betapa tidak berdayanya dan sangat bergantungnya ia pada belas kasih Allah.&amp;lt;br&amp;gt;Sebelum kita melanjutkan, biarkan saya mengklarifikasi satu hal. Saya bukannya meminimalisir pentingnya pertobatan dan iman. Hal-hal ini harus mencirikan respon kita terhadap regenerasi, dan hal-hal tersebut sangat penting dalam proses perubahan dan kelanjutan dari proses penyucian kita. Namun dari pandangan saya, hal-hal tersebut adalah hasil dari kelahiran baru, bukan hal yang menjadi penyebab kelahiran baru. Teologis A.A Hodge mengingatkan kita untuk terus mempertahankan pandangan Alkitabiah: “apapun yang manusia lakukan setelah regenerasi, kebangkitan dari kematian harus dimulai dari Allah.” &amp;amp;lt;ref&amp;amp;gt;Quoted in R.C. Sproul, Born Again: Leader Guide, Chapter III, p. 19.&amp;amp;lt;/ref&amp;amp;gt;&amp;lt;br&amp;gt;{{LeftInsert| &amp;quot;Suatu malam, ketika saya sedang duduk di dalam rumah Allah, saya tidak begitu menaruh perhatian pada kotbah yang disampaikan, karena saya tidak mempercayai apa yang sedang disampaikan. Tiba-tiba suatu pemikiran mendatangi saya, ‘Bagaimana kamu menjadi seorang Kristen?’ Saya mencari Allah. ‘Tapi bagaimana kamu bisa memutuskan untuk mencari Allah?’ Suatu kebenaran tersirat di dalam pikiran saya sesaat – Saya tidak mungkin mencari Allah kecuali ada suatu hal yang mempengaruhi pemikiran saya yang membuat saya memutuskan untuk mencari Allah. Saya berdoa, piker saya, namun kemudian saya bertanya kepada diri saya sendiri, Bagaimana saya bisa memutuskan untuk berdoa? Saya berdoa karena telah dipengaruhi oleh Kitab Suci ketika saya membacanya. Bagaimana saya bisa membaca Kitab Suci? Saya memang membacanya, tapi apa yang menuntun saya untuk membacanya?. Lalu dalam waktu yang singkat, saya menyadari bahwa Allah ada dibalik semuanya itu, dan bahwa Ia adalah pencipta dari iman saya. Lalu seluruh doktrin dari anugerah dibukakan bagi saya, dan saya tidak pernah beranjak dari doktrin tersebut sampai saat ini., dan saya berkeinginan untuk menjadikan hal ini kesaksian tetap saya, ‘Saya menyatakan bahwa Allah adalah penyebab utama perubahan diri saya.’&amp;lt;ref&amp;gt; Charles Spurgeon, Autobiography, 1 (Edinburgh: Banner of Truth Trust, 1962), pp. 164-65.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;lt;br&amp;gt;—'''Charles H. Spurgeon'''&amp;lt;br&amp;gt;}}&amp;lt;br&amp;gt;Pertimbangkan hal ini baik-baik. Sadari bahwa transformasi radikal itu dibutuhkan, dan betapa tak berdayanya kita untuk menghasilkan hal itu. Regenerasi adalah karya Allah. Sebagaimana dinyatakan oleh J.I Packer, “Hal itu bukanlah suatu perubahan yang dapat diciptakan oleh manusia, sebagaimana halnya seorang bayi tidak bisa berkontribusi dalam proses pembuahan dan kelahirannya.” &amp;amp;lt;ref&amp;amp;gt;J.I. Packer, God’s Words (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1981), p. 151.&amp;amp;lt;/ref&amp;amp;gt; Kita tidak lahir dari “keinginan seorang laki-laki… melainkan dari Allah” tulis Yohanes (Yohanes 1:13).&amp;lt;br&amp;gt;Suatu sifat dasar yang mengandung kebenaran sudah diimpartasikan, yang di dalamnya Allah adalah satu-satunya pengarang utama. Sebagai tambahan, kita mendapat kepastian bahwa “Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.” (Fil 1:6). Ini adalah suatu hal yang menggembirakan! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert| '''Renungkan Titus 3:4-7'''. Mengetahui sumber dari keselamatan kita (ayat 5) memperkuat harapan kita terhadap kehidupan kekal (ayat 7).&amp;lt;br&amp;gt;}}&amp;lt;br&amp;gt;Kita tidak perlu lagi khawatir apakah kehendak pribadi dan disiplin diri kita pribadi sudah cukup. Hal itu tidak cukup. Diubahkan menjadi gambar Allah bukanlah semata-mata tergantung pada kemampuan kita. Namun, kita bisa yakin akan pertumbuhan rohani kita karena Allah-lah yang akan bekerja di dalamnya. Ia telah meletakkan suatu kecenderungan baru di dalam kita, suatu hasrat untuk mengejar kebenaran. “Hal ini.” Menurut J. Rodman Williams, “adalah mukjizat terbesar yang pernah dialami oleh seseorang.” &amp;amp;lt;ref&amp;amp;gt;J. Rodman Williams, Renewal Theology, Volume II: Salvation, The Holy Spirit, and Christian Living (Grand Rapids, MI: Zondervan Publishing House, 1990), p. 37.&amp;amp;lt;/ref&amp;amp;gt;&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== &amp;lt;br&amp;gt;Datanglah Hidup yang Baru&amp;lt;br&amp;gt;  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Apa yang terjadi ketika kita mengalami kelahiran baru?&amp;lt;br&amp;gt;J.I Packer menyatakan bahwa kata regenerasi “menandakan permulaan baru di dalam hidup.. hal itu menampilkan renovasi kreatif yang dibuat dengan kuasa Allah.”&amp;amp;lt;ref&amp;amp;gt;J.I. Packer, God’s Words, pp. 148-149.&amp;amp;lt;/ref&amp;amp;gt; Ketika Allah meregenerasi Anda, Ia memanggil Anda untuk menjadi suatu hal yang belum pernah ada sebelumnya. Alkitab menggambarkan hal ini sebagai dengan cara: “Sebab Allah yang telah berfirman: &amp;quot;Dari dalam gelap akan terbit terang!&amp;quot;, Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus.” (2 Korintus 4:6). Kesejajaran di sini yang kita liat antara regenerasi kita dan proses penciptaan adalah suatu hal yang disengaja. Regenerasi kita juga merupakan suatu tindakan kreatif Allah. Allah yang sama yang menyatakan, “Jadilah terang”, berbicara pada kita suatu waktu dan berkata, “Datanglah hidup yang baru.” Dan memang hidup itu sungguh nyata adanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert| '''Renungkan 1 Petrus 1:23'''. Bagaimana analogi ini menambah pemahaman anda mengenai kelahiran baru?&amp;lt;br&amp;gt;}}&amp;lt;br&amp;gt;Kelahiran baru juga bisa dilihat sebagai suatu kebangkitan. Walaupun kita sudah mati di dalam dosa dan tidak mampu untuk mengubah kondisi ini, sekarang kita sudah dibangkitkan oleh Allah dengan karya regenerasi dari Roh Kudus. Teolog R.C Sproul menjelaskan hal ini dengan lebih terperinci: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| 3 Berikut ini adalah situasinya: anda adalah pakar anak muda yang melakukan konseling bagi anak-anak dengan gangguan mental yang langka –mereka tentu saja yakin kalau mereka lahir karena usaha mereka sendiri. Kecemasan seperti apa yang menurut anda dapat mereka rasakan sebagai hasil dari pemikiran seperti ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; (Apakah kecemasan yang sama bisa muncul di dalam diri orang Kristen yang tidak memahami peran Allah dalam regenerasi?)&amp;lt;br&amp;gt;}}&amp;lt;br&amp;gt;Roh memperbaharui hati manusia, membangkitkan hati kita dari kematian spiritual. Orang-orang yang sudah mengalami regenerasi adalah ciptaan-ciptaan baru. Dimana sebelumnya mereka tidak mempunyai kecenderungan, keinginan, atau hasrat untuk hal-hal yang berkaitan dengan Allah, kini mereka memiliki kecenderungan hati kepada Allah. Di dalam regenerasi, Allah menanamkan hasrat akan DiriNya sendiri di dalam hati manusia, yang tidak mungkin terjadi kecuali melalui proses ini.&amp;amp;lt;ref&amp;amp;gt;R.C. Sproul, Essential Truths of the Christian Faith (Wheaton, IL: Tyndale House, 1992), pp. 171-172.&amp;amp;lt;/ref&amp;amp;gt;&amp;lt;br&amp;gt; “Orang mati tidak bisa campur tanan dalam proses kebangkitan dirinya,” menurut W.G.T. Shedd. &amp;amp;lt;ref&amp;amp;gt;Quoted in R.C. Sproul, Born Again: Leader Guide, Chapter III, p. 19.&amp;amp;lt;/ref&amp;amp;gt; Jikalau bukan karena karya anugerah Roh Kudus, yang memberikan kepada kita kehidupan yang baru beserta segala kecenderungan dan keinginan untuk menyenangkan, melayani, mematuhi, dan memuliakan Allah, kita masih mati secara spiritual dan bertindak kejam kepada Allah.&amp;lt;br&amp;gt;Regenerasi berbeda dengan sisi-sisi lain di dalam keselamatan kita. Contohnya, jika pembenaran mengubah status legal kita di mata Allah (di sini kita dinyatakan sebagai orang yang benar, bukan orang yang bersalah), regenerasi mengubah kecenderungan dasar kita. Perubahan internal ini sangat radikal dan ekstensif sehingga kita disebut sebagai ciptaan-ciptaan baru. Gambar Allah yang rusak ketika kejatuhan Adam dan Hawa, kini kembali dipulihkan lewat kelahiran baru dan secara progresif diperbaharui lewat penyucian. Namun, berbeda dengan penyucian, regenerasi bukanlah suatu proses. Hal ini tidak terjadi secara bertahap dan lewat derajat-derajat tertentu. Hal ini adalah kuasa dan karya instan Allah di dalam hidup kita.&amp;lt;br&amp;gt;{{LeftInsert| “Regenerasi adalah suatu perubahaan yang dapat diketahui dan dirasakan: dapat diketahui dari dampak kekudusan dan dapat dirasakan lewat pengalaman yang penuh anugerah.”&amp;lt;ref&amp;gt; Quoted in R.C. Sproul, Born Again: Leader Guide, Chapter II, p. 17. &amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;lt;br&amp;gt;—'''Charles H. Spurgeon'''&amp;lt;br&amp;gt;}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jangan salah paham akan apa yang baru saja saya katakan. Tidak semua orang mengalami regenerasi dengan cara yang dramatis seperti yang dialami oleh Paulus. Ia adalah seseorang yang dibutakan secara supernatural selama tiga hari dan mendengar suara yang langsung dari surga. Namun Paulus bukanlah satu-satunya orang yang lahir baru di dalam Kisah Para Rasul. Ketika Lidia mendengar Injil saat dia sedang mengikuti persekutuan doa wanita, “Tuhan membuka hatinya, sehingga ia memperhatikan apa yang dikatakan oleh Paulus” (Kis 16:14). Inilah perbedaannya. Mata Paulus dibutakan sementara, dan hati Lidia secara diam-diam dibukakan oleh Allah. Pengalaman yang berbeda, namun hasil yang dihasilkan sama persis adanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert| '''Untuk Dipelajari Lebih Lanjut:''' Siapa yang membuat seorang manusia kudus? (Ibrani 2:11) Pada tahap penyucian manakah Ia bertanggung jawab ? (Ibrani 12:2)}}&amp;lt;br&amp;gt;Terkadang kita tergoda untuk mengukur sejauh mana kebenaran suatu pertobatan berdasarkan kejadian-kejadian yang mengiringi pertobatan itu. Semua orang sangat menyukai pengalaman pertobatan dari seorang pemimpin gerombolan orang jahat atau pengedar narkoba yang hidupnya diubahkan secara dramatis. Namun misalnya anda adalah Lidia. Anda sedang mengendarai mobil anda suatu hari, mendengarkan rekaman kaset yang dipinjamkan orang lain, lalu dengan tanpa disaksikan oleh siapapun, Allah dengan lembut membuka hati anda. Anda tidak mendengar suara apapun, dan mobil anda tidak terpelanting di jalan. Tidak ada hal yang dramatis. Namun begitu anda sampai di tempat kerja anda, anda mengetahui, meskipun anda tidak menjabarkannya dengan kata-kata, bahwa suatu hal yang signifikan telah terjadi. Anda berbeda. Anda sudah dilahirkan kembali.&amp;lt;br&amp;gt;Saya mendapat kehormatan untuk dapat mengunjungi tempat di Inggris dimana John Wesley dilahirkan kembali. Pertimbangkan pernyataan sederhana yang ia katakan pada saat itu: “Saya merasakan kehangatan di dalam hati saya secara misterius.” Nyaris tidak ada orang yang akan mengatakan bahwa pengalaman itu adalah suatu pengalaman yang menguncangkan, namun kebenaran dan pengaruh dari regenerasi John Wesley tidak bisa disangkal.&amp;lt;br&amp;gt;{{LeftInsert| 4 Di bawah ini, gambarlah suatu tahapan di dalam hidup anda, dimulai dari saat anda lahir sampai pada saat ini. Lalu, beri tanda kapan anda mengalami setiap kejadian ini: regenerasi, pembenaran, penyucian, pertobatan, dan iman. Apa yang terjadi pada momen spesifik tersebut? Manakah yang masih berlangsung sampai saat ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
}}&amp;lt;br&amp;gt;Baik itu secara diam-diam maupun dramatis, setiap kelahiran baru memiliki kesamaan dalam hal ini: kelahiran baru secara eksklusif dan sepenuhnya merupakan karya Allah. Alur cerita dan karakter-karakter yang terlibat di dalamnya mungkin saja unik. Namun intinya tetaplah sama. Kita adalah ciptaan-ciptaan baru. Yang lama telah berlalu, yang baru telah datang.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== &amp;lt;br&amp;gt;Keputusan yang Sia-Sia&amp;lt;br&amp;gt;  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Kita menemukan Yohanes memuat pernyataan-pernyataan penting yang terkait dengan regenerasi tidak hanya di dalam kitab yang ditulis olehnya sendiri. Mari kita mengakhiri dengan memperhatikan pernyataan ini: Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah. (1 Yoh 3:9).&amp;lt;br&amp;gt;Apakah anda pernah membaca ayat ini dan merasa bingung? Ayat ini tidak memiliki maksud seperti apa yang ditulis di dalamnya .. bukan? Hanya segelintir orang yang bisa bertahan satu atau dua jam tanpa berbuat dosa dalam satu atau lain hal. Mungkin maksud sebenarnya dari ayat ini salah diterjemahkan. Atau di lain pihak, kita kawatir, Bagaimana kalau itu benar? Sepertinya itu bukan seperti pengalaman saya… apa ini artinya saya belum “dilahirkan kembali”&amp;amp;nbsp;?&amp;lt;br&amp;gt;Yohanes tidak bermaksud menyatakan bahwa orang Kristen yang benar tidak mungkin lagi berbuat dosa. Hal ini dapat dibuktikan dari pasal pertama dari kitab ini, dimana ia menulis, “Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita.” (1Yoh 1:8). Tidak—dosa masih hadir di tengah keberadaan kita, dan walaupun dominasi dosa di dalam kehidupan kita sudah dihancurkan, kita masih bisa rentan terhadap pengaruhnya setiap saat. Namun ketika Yohanes menyatakan bahwa mereka yang dilahirkan dari Allah “tidak dapat berbuat dosa.” Yohanes mau menunjukkan bahwa regenerasi membuat kita tidak mampu terus menerus berbuat dosa.&amp;lt;br&amp;gt;Maksud Yohanes dalam pasal ini, menurut Anthony Hoekema adalah bahwa orang Kristen “tidak terus melakukan dan menikmati perbuatan dosa… Orang tersebut tidak bisa terus menikmati saat-saat dimana ia melakukan perbuatan yang berdosa, dan tidak mampu untuk terus hidup dalam kubangan dosa.” &amp;amp;lt;ref&amp;amp;gt;Anthony A. Hoekema, Saved by Grace (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1989), p. 100.&amp;amp;lt;/ref&amp;amp;gt; John R.W Stott merangkum hal ini dengan cara yang sederhana: “orang percaya mungkin jatuh di dalam dosa, namun ia tidak akan berjalan di dalam dosa.”&amp;lt;br&amp;gt;Apakah anda melihat adanya perbedaan di antara keduanya? &amp;lt;br&amp;gt;{{LeftInsert| Regenerasi timbul pertama kali di dalam area utama di dalam hidup manusia. katakan, hati atau roh-nya. Pada tingkatan terdalam di dalam keberadaan manusia, ada suatu perubahaan yang sungguh-sungguh. .&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt; J. Rodman Williams, Renewal Theology, Volume II, p. 50. &amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;lt;br&amp;gt;—'''J. Rodman Williams''' &amp;lt;br&amp;gt;}}&amp;lt;br&amp;gt;Misalkan saya bertindak bodoh untuk menguji pernyataan Yohanes dengan membuat keputusan pribadi: “dalam jangka waktu 6 bulan ke depan saya akan menampilkan gaya hidup yang penuh dosa.” Hal ini jelas bukan sesuatu yang saya inginkan atau rekomendasikan. Namun, saya juga tidak percaya kalau saya bisa menjalankan keputusan seperti itu. Mengapa? Karena saya sudah dilahirkan dari Allah. Sekarang saya mempunyai hati yang baru, hidup yang baru, dan kecenderungan baru untuk mengejar kebenaran dan menyenangkan hati Allah. Walaupun saya masih melakukan dosa, namun karena kuasa ini, saya tidak mempunyai kemampuan untuk mengabdikan diri saya pada dosa dan terus melakukan perbuatan berdosa. Saya tidak akan mampu menikmati gaya hidup yang penuh dosa. Hanya tindakan ilahi yang mampu melakukan hal seperti ini. &amp;lt;br&amp;gt;{{RightInsert| '''Renungkan Efesus 4:22-24'''. Apa yang menandakan “hidup yang baru” yang ada di dalam kita melalui proses regenerasi?}}&amp;lt;br&amp;gt;Kita tidak akan merasa putus asa atau rentan di dalam perjuangan harian kita dengan dosa. Kita tidak ditakdirkan untuk terus berjalan dalam ketidaktaatan dan kekalahan. Allah secara internal, supernatural, dan mendasar telah mengubah kita. Sekarang kita memiliki hasrat dan kemampuan untuk menyenangkan hatiNya sepanjang hidup kita. Dengan didorong dan dibawah kuasa anugerah Allah, kita dapat memperolah perubahan yang progresif sepanjang hayat kita.&amp;lt;br&amp;gt;Inilah awal dari proses penyucian—di dalam perasaan aman dan keyakinan bahwa kita telah dilahirkan kembali, bukan oleh usaha pribadi kita namun oleh kuasa dan kehendak dari Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== &amp;lt;br&amp;gt;Diskusi Kelompok&amp;lt;br&amp;gt;  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Kata-kata apa saja yang mungkin digunakan oleh non Kristen untuk menggambarkan orang Kristen yang “lahir baru” pada umumnya?&amp;lt;br&amp;gt;2. Apa penyebab yang paling mungkin mengapa pertobatan kalangan selebriti cenderung palsu?&amp;lt;br&amp;gt;3. Thomas Adams menulis, “Lenyapkan misteri dari kelahiran baru dan anda telah melenyapkan keagungannya.”&amp;amp;lt;ref&amp;amp;gt;Quoted in R.C. Sproul, Born Again: Leader Guide, Chapter II, p. 16.&amp;amp;lt;/ref&amp;amp;gt; Apa yang membuat regenerasi begitu misterius?&amp;lt;br&amp;gt;4. Apakah sulit bagi anda untuk percaya bahwa hanya Allah saja yang bertanggung jawab terhadap kelahiran baru anda?&amp;lt;br&amp;gt;5. Jika Lidia dan Paulus mewakili dua kutub ekstrim dari pengalaman kelahiran baru, dimana posisi anda? &amp;lt;br&amp;gt;6. Diskusikan gambaran waktu yang anda buat. Apakah ada pertanyaan mengenai tahapan keselamatan?&amp;lt;br&amp;gt;7. Baca Ibrani 12:2. Bagaimana “jaminan tanpa syarat” ini mempengaruhi pendapat anda mengenai pengudusan?&amp;lt;br&amp;gt;8. Apakah bagian ini memicu pribadi anda untuk memiliki pandangan berbeda mengenai kelahiran baru? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Bacaan yang Direkomendasikan  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The Christian Life by Sinclair Ferguson (Carlisle, PA: The Banner of Truth Trust, 1989) &amp;lt;br&amp;gt;God’s Words by J.I. Packer (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1981) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Referensi&amp;lt;br&amp;gt;  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;amp;lt;references /&amp;amp;gt;&amp;lt;br&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Susanlim</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/How_Can_I_Change%3F/Where_it_All_Begins/id</id>
		<title>How Can I Change?/Where it All Begins/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/How_Can_I_Change%3F/Where_it_All_Begins/id"/>
				<updated>2009-06-15T05:55:25Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Susanlim: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{info|Bagaimana Saya Bisa Berubah? / Dimana Semua Itu Dimulai}}&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa waktu yang lalu, ada sebuah isu yang beredar, menyatakan bahwa seorang musisi rock besar sudah “lahir baru” (born again). Dapat diperkirakan bahwa reaksi dari komunitas Kristen sangat antusias. Tapi begitu dia menyadari menyebarnya isu itu, sang musisi langsung memutus isu yang beredar: “ Belakangan ada kabar yang menyatakan bahwa saya sudah lahir baru. Itu tidak benar. Apa yang saya katakan adalah bahwa saya kembali terikat dengan pornografi (porn again). “&amp;lt;br&amp;gt;Satu huruf dapat membuat perbedaan yang cukup besar.&amp;lt;br&amp;gt;Saya cenderung skeptis ketika saya mendengar figur publik itu sudah lahir baru. Bahkan walaupun orang itu memang menyatakan diri bahwa ia berkomitmen untuk mengikut Kristus, gaya hidupnya jarang merefleksikan keseriusan untuk berubah. Bahkan seringkali tidak ada bukti pertobatan. Tidak ada keterlibatan di dalam gereja lokal. Sebagai masyarakat awam, Joe Six-Pack mengobservasi ketidak-sesuaian ini, dia secara tidak tepat dapat saja menyimpulkan bahwa inilah arti dari lahir baru.&amp;lt;br&amp;gt;{{LeftInsert| '''Renungkan 1 Petrus 2:2-3'''. Apa itu “susu” yang disebut di sini? Mengapa susu murni itu penting untuk pertumbuhan spiritual?}}&amp;lt;br&amp;gt;Charles Colson adalah suatu pengecualian. Sebagai seorang mantan pengacara dan tim bantuan presiden dalam masa pemerintahan Nixon, Colson dijebloskan ke dalam penjara karena keterlibatannya di dalam skandal Watergate. Dalam jangka waktu itu, walaupun terkesan mencurigakan, dia menyatakan bahwa dirinya sudah menyerahkan hidupnya kepada Kristus. Namun hal ini bukanlah suatu usaha dalam rangka mengurangi hukumannya. Pertobatan Colson adalah suatu hal yang murni, seperti yang dibuktikan dalam gaya hidup barunya. Bukunya, Born Again memberikan bukti yang kuat akan perjumpaan pribadinya dengan Injil.&amp;lt;br&amp;gt;Walaupun istilah “lahir baru” sering digunakan dalam budaya masa kini, makna (implikasi teologisnya) sudah mulai menyimpang. Misalnya, ketika seorang mantan petinju kelas berat George Foreman kembali bertanding, para komentator olahraga menyatakan bahwa karirnya sedang “lahir baru.” Seorang politisi yang pernah tenggelam kemudian kembali menjadi popular terkadang sering disebut sedang dalam kondisi lahir baru. Dan banyak orang mempersepsikan kelompok lahir baru sebagai kelompok hiperakfif yang berada di dalam gereja, tanpa menyadari bahwa kelahiran baru adalah suatu persyaratan utama sebelum menjadi bagian dari gereja!&amp;lt;br&amp;gt;{{RightInsert| “Menjadi seorang Kristen bukan berarti membuat lembaran baru di dalam hidup, melainkan menerima kehidupan baru untuk dijalani.&amp;lt;ref&amp;gt; Quoted in R.C. Sproul, Born Again: Leader Guide (Orlando, FL: Ligonier Ministries, Inc., 1988), Chapter I, p. 14. &amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;lt;br&amp;gt;-'''Thomas Adams'''&amp;lt;br&amp;gt;}} &amp;lt;br&amp;gt;Bahkan seorang Kristen yang dewasa dapat gagal memahami istilah penting ini. Namun apabila kita berharap untuk berubah seperti apa yang dikehendaki oleh Allah, kita harus memulai dari suatu pemahaman dan mengalami proses regenerasi- kelahiran baru. Inilah saat dimana seluruh proses penyucian itu dimulai.&amp;lt;br&amp;gt;{{LeftInsert| 1 dari pernyataan berikut ini yang paling bisa menggambarkan, dalam pandangan anda, mengenai makna kelahiran baru ?&amp;lt;br&amp;gt; &amp;lt;br&amp;gt;❏ Mengambil keputusan untuk memulai kehidupan yang baru&amp;lt;br&amp;gt;❏ Memperbaharui komitmen terhadap Kristus&amp;lt;br&amp;gt;❏ Meminta Allah untuk mengampuni dosa anda dan hidup di dalam hati anda&amp;lt;br&amp;gt;❏ Memberitahu semua teman anda bahwa mereka akan pergi ke neraka&amp;lt;br&amp;gt;❏ Bukan salah satu di antaranya&amp;lt;br&amp;gt;}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Didikan Seorang Farisi  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Istilah “lahir baru” tidak berasal dari jaman Presiden Jimmy Carter. Istilah itu berasal dari Yesus Kristus. Mari menyelidiki di mana Dia mmperkenalkan istilah itu dan bagaimana yang sebenarnya dimaksudkan olehNya seiring dengan usaha kita untuk menyelidiki kitab Yohanes Pasal 3.&amp;lt;br&amp;gt;Nikodemus adalah seorang Farisi dan anggota dari komite tinggi masyarakat Yahudi yang disebut Sanhedrin. Dia sangat dihormati di Yerusalem sebagai seorang theologian dan seorang pengajar hukum. Dalam kerangka kedudukan dan martabat yang dimiliki olehnya, sangat mengejutkan bahwa Nikodemus mau mengunjungi Yesus secara pribadi. Lagipula, Yesus tidak mengalami pelatihan formal yang sangat dijunjung tinggi oleh Nikodemus dan teman-temannya. Lagipula, guru yang sederhana ini baru saja menciptakan kehebohan di Bait Suci dan memberikan pernyataan bahwa dia mempunyai otoritas yang unik dari Allah (Yoh 2:13-22). Tapi Nikodemus tergugah oleh pengajaran Yesus, dan dia tidak bisa menyangkal mujizat-mujizat yang telah terjadi. Jadi, dengan kerendahan hati, pengajar religius yang terkemuka ini menyebut seorang tukang kayu yang tidak berpendidikan dari Galilea:&amp;lt;br&amp;gt;Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorangpun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya. (Yoh 3:2)&amp;lt;br&amp;gt;{{LeftInsert| '''Jawaban''': Bukan salah satu di antaranya. Untuk definisi Alkitabiah, teruslah membaca.&amp;lt;br&amp;gt;}}&amp;lt;br&amp;gt;Satu hal yang bisa dikatakan tentang orang Farisi – bahwa mereka mengetahui pentingnya etiket. Dengan menyebut Yesus dengan “Rabi”, Nikodemus sedang mengekspresikan penghormatan pada status Yesus sebagai seorang guru, sekaligus menampilkan keinginan untuk belajar. Namun, pernyataan yang disampaikan olehnya setelah itu adalah suatu hal yang akan segera disesali olehnya: “Guru, kami tahu….”&amp;lt;br&amp;gt;Bukan cara yang direkomendasikan untuk memulai percakapan dengan Anak Allah.&amp;lt;br&amp;gt;Yesus bisa saja mengkonfrontasi Nikodemus karena sikap arogannya dan segera mengakhiri percakapan yang ada. Sebaliknya, Ia memilih untuk menolong Nikodemus untuk melihat betapa terbatasnya pengetahuan yang dimiliki olehnya. Metode yang digunakan oleh Yesus? &amp;lt;br&amp;gt; {{LeftInsert| “Kita jarang menganggap pengajaran ini [bahwa manusia tidak bisa masuk ke dalam kerqajaan Allah] dengan serius, mungkin karena hal ini memangkas akar kecenderungan kita untuk menganggap diri kita maha mampu. Hal ini menekankan pengajaran Alkitabiah yang menyatakan bahwa keselamatan kita adalah semata-mata karena anugerah Allah. Satu hal yang dibutuhkan di sini adalah hal yang bahkan kita sendiri tidak bisa melakukannya!&amp;lt;ref&amp;gt; Sinclair Ferguson, The Christian Life (Carlisle, PA: The Banner of Truth Trust, 1989), p. 55. &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
—'''Sinclair Ferguson''' &amp;lt;br&amp;gt;}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku berkata kepadamu,” Kata Yesus, “sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.&amp;quot; (ayat 3).&amp;lt;br&amp;gt;Pernyataan yang disampaikan oleh Tuhan Allah membingungkan Nikodemus. &amp;quot;Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua?” tanyanya. “Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?&amp;quot; Nikodemus tidak dapat memahami apa yang dimaksud oleh Yesus, dan dia juga tidak terbiasa mendapat perlakuan seperti ini. Biasanya dialah yang memberi jawaban, bukan mencari-cari jawaban. Bahka ia mungkin saja ada di dalam Bait Suci waktu Yesus yang berumur 12 tahun datang dan membuat takjub para pemuka agama dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan olehNya. Namun Yesus sekarang bukan lagi seorang bocah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert| '''Untuk Renungan Lebih Lanjut:''' baca Matius 19: 23-26. Apa saja yang menjadi persyaratan, selain dari intervensi Allah, bagi seseorang untuk masuk ke dalam kerajaan Allah ? &amp;lt;br&amp;gt;}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; “Aku berkata kepadamu,” Lanjut Yesus, “sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah… Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali.” (ayat 5,7). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun Nikodemus memang terkejut. Bahkan pada kenyataannya, ia merasa terguncang. “Bagaimanakah mungkin hal itu terjadi?” tanyanya. Pada titik ini Nikodemus membutuhkan dua Tylenol. Ditambah dengan perasaan dipermalukan, terutama ketika Yesus mengatakan, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kami berkata-kata tentang apa yang kami ketahui dan kami bersaksi tentang apa yang kami lihat, tetapi kamu tidak menerima kesaksian kami. Kamu tidak percaya, waktu Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal duniawi, bagaimana kamu akan percaya, kalau Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal sorgawi?? “ (ayat 11-12) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| &amp;quot; Kelahiran baru bukan hanya suatu misteri yang tidak dapat dimengerti oleh siapapun, namun hal itu juga adalah suatu mujizat yang tidak satu orangpun dapat melakukannya.”&amp;lt;ref&amp;gt; Quoted in R.C. Sproul, Born Again: Leader Guide, Chapter III, p. 20 &amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;lt;br&amp;gt;—'''Richard Baxter''' &amp;lt;br&amp;gt;}}&amp;lt;br&amp;gt;Sangat mudah untuk memandang rendah Nikodemus, namun mari kita menguji diri kita sendiri: Apakah kita memahami apa yang Yesus maksud dengan ‘dilahirkan kembali’&amp;amp;nbsp;? apakah kita terkejut mendengar pernyataan Yesus? Kecuali jika kita sudah pernah mencapai titik dimana, seperti Nikodemus, kita bertanya “Bagaimana hal ini bisa terjadi?”, kecil kemungkinan bagi kita untuk memahami misteri dan keajaiban dari regenerasi.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== &amp;lt;br&amp;gt;Tidak Ada Yang Bisa Dikontribusikan&amp;lt;br&amp;gt;&amp;lt;br&amp;gt;  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| 2 Apakah dengan menelaah pernyataan Yesus kata per kata, anda mendapat pencerahan baru?&amp;lt;br&amp;gt;Kamu&amp;lt;br&amp;gt;harus&amp;lt;br&amp;gt;dilahirkan&amp;lt;br&amp;gt;kembali&amp;lt;br&amp;gt;}}&amp;lt;br&amp;gt;Yang Yesus sengaja hilangkan adalah semua sugesti yang menyatakan bahwa Nikodemus secara pribadi bertanggung jawab dalam proses kelahiran kembali. Malahan, Ia menyatakan hal yang sebaliknya: &amp;lt;br&amp;gt;“Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh.” (Yohanes 3:6). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert| '''Untuk Dipelajari Lebih Lanjut:''' Bagaimana kisah Abraham dalam mendapatkan Ishak dan Ismael menunjukkan kekontrasan antara usaha kita dan Allah? (Lihat Kejadian 21:1-13 dan Roma 9:6-9)}}&amp;lt;br&amp;gt;Tidak sulit untuk memahami mengapa Nikodemus menganggap pernyataan Kristus cenderung membingungkan. Karena orang Farisi cenderung salah sangka dan salah menginterpretasikan Firman, mereka cenderung untuk berusaha membangun kebenaran mereka sendiri dihadapan Allah. Nikodemus dapat menganggap bahwa kelahiran baru (apapun itu maksudnya) melibatkan beberapa usaha atau kontribusi dari pihaknya. Kebanyakan dari kita juga mungkin berpikiran yang sama. Dan hal itulah yang ditantang oleh Yesus. &amp;lt;br&amp;gt; “Kamu harus dilahirkan kembali” bukanlah suatu perintah untuk percaya kepada Kristus; itu adalah pernyataan yang mengklarifikasikan apa yang harus Ia lakukan di dalam kita. “Regenerasi adalah suatu perubahan yang dibawa oleh Allah ke dalam diri kita.” Tulis C. Samuel Storms, “bukanlah suatu tindakan otomatis yang dihasilkan di dalam diri kita oleh usaha kita sendiri.”&amp;lt;br&amp;gt;Mari kita berhenti sejenak untuk merenungkan implikasi yang mengejutkan dari perkataan Kristus:&amp;lt;br&amp;gt;■ Walaupun hal ini sangat penting bagi kehidupan kekristenan, regenerasi tidak bisa dijangkau dengan usaha manusia. &amp;amp;lt;ref&amp;amp;gt;C. Samuel Storms, Chosen for Life (Grand Rapids, MI: Baker Book House, 1987), p. 108.&amp;amp;lt;/ref&amp;amp;gt;&amp;lt;br&amp;gt;■ Allah adalah satu-satunya pemrakarsa dari kelahiran baru; hal ini bukanlah tindakan kooperatif antara dua pihak.&amp;lt;br&amp;gt;■ Regenerasi adalah suatu pengalaman yang harus kita alami, namun hanya bisa disediakan oleh Allah.&amp;lt;br&amp;gt;Bukan karena Nikodemus kurang cerdas sehingga ia menemukan pernyataan Tuhan sangat membingungkan; melainkan karena hal itu membutuhkan perubahan cara pandang (paradigma) di dalam pikirannya. Hal yang dinyatakan oleh Tuhan memberikan pencerahan betapa tidak berdayanya dan sangat bergantungnya ia pada belas kasih Allah.&amp;lt;br&amp;gt;Sebelum kita melanjutkan, biarkan saya mengklarifikasi satu hal. Saya bukannya meminimalisir pentingnya pertobatan dan iman. Hal-hal ini harus mencirikan respon kita terhadap regenerasi, dan hal-hal tersebut sangat penting dalam proses perubahan dan kelanjutan dari proses penyucian kita. Namun dari pandangan saya, hal-hal tersebut adalah hasil dari kelahiran baru, bukan hal yang menjadi penyebab kelahiran baru. Teologis A.A Hodge mengingatkan kita untuk terus mempertahankan pandangan Alkitabiah: “apapun yang manusia lakukan setelah regenerasi, kebangkitan dari kematian harus dimulai dari Allah.” &amp;amp;lt;ref&amp;amp;gt;Quoted in R.C. Sproul, Born Again: Leader Guide, Chapter III, p. 19.&amp;amp;lt;/ref&amp;amp;gt;&amp;lt;br&amp;gt;{{LeftInsert| &amp;quot;Suatu malam, ketika saya sedang duduk di dalam rumah Allah, saya tidak begitu menaruh perhatian pada kotbah yang disampaikan, karena saya tidak mempercayai apa yang sedang disampaikan. Tiba-tiba suatu pemikiran mendatangi saya, ‘Bagaimana kamu menjadi seorang Kristen?’ Saya mencari Allah. ‘Tapi bagaimana kamu bisa memutuskan untuk mencari Allah?’ Suatu kebenaran tersirat di dalam pikiran saya sesaat – Saya tidak mungkin mencari Allah kecuali ada suatu hal yang mempengaruhi pemikiran saya yang membuat saya memutuskan untuk mencari Allah. Saya berdoa, piker saya, namun kemudian saya bertanya kepada diri saya sendiri, Bagaimana saya bisa memutuskan untuk berdoa? Saya berdoa karena telah dipengaruhi oleh Kitab Suci ketika saya membacanya. Bagaimana saya bisa membaca Kitab Suci? Saya memang membacanya, tapi apa yang menuntun saya untuk membacanya?. Lalu dalam waktu yang singkat, saya menyadari bahwa Allah ada dibalik semuanya itu, dan bahwa Ia adalah pencipta dari iman saya. Lalu seluruh doktrin dari anugerah dibukakan bagi saya, dan saya tidak pernah beranjak dari doktrin tersebut sampai saat ini., dan saya berkeinginan untuk menjadikan hal ini kesaksian tetap saya, ‘Saya menyatakan bahwa Allah adalah penyebab utama perubahan diri saya.’&amp;lt;ref&amp;gt; Charles Spurgeon, Autobiography, 1 (Edinburgh: Banner of Truth Trust, 1962), pp. 164-65.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;lt;br&amp;gt;—'''Charles H. Spurgeon'''&amp;lt;br&amp;gt;}}&amp;lt;br&amp;gt;Pertimbangkan hal ini baik-baik. Sadari bahwa transformasi radikal itu dibutuhkan, dan betapa tak berdayanya kita untuk menghasilkan hal itu. Regenerasi adalah karya Allah. Sebagaimana dinyatakan oleh J.I Packer, “Hal itu bukanlah suatu perubahan yang dapat diciptakan oleh manusia, sebagaimana halnya seorang bayi tidak bisa berkontribusi dalam proses pembuahan dan kelahirannya.” &amp;amp;lt;ref&amp;amp;gt;J.I. Packer, God’s Words (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1981), p. 151.&amp;amp;lt;/ref&amp;amp;gt;Kita tidak lahir dari “keinginan seorang laki-laki… melainkan dari Allah” tulis Yohanes (Yohanes 1:13).&amp;lt;br&amp;gt;Suatu sifat dasar yang mengandung kebenaran sudah diimpartasikan, yang di dalamnya Allah adalah satu-satunya pengarang utama. Sebagai tambahan, kita mendapat kepastian bahwa “Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.” (Fil 1:6). Ini adalah suatu hal yang menggembirakan! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert| '''Renungkan Titus 3:4-7'''. Mengetahui sumber dari keselamatan kita (ayat 5) memperkuat harapan kita terhadap kehidupan kekal (ayat 7).&amp;lt;br&amp;gt;}}&amp;lt;br&amp;gt;Kita tidak perlu lagi khawatir apakah kehendak pribadi dan disiplin diri kita pribadi sudah cukup. Hal itu tidak cukup. Diubahkan menjadi gambar Allah bukanlah semata-mata tergantung pada kemampuan kita. Namun, kita bisa yakin akan pertumbuhan rohani kita karena Allah-lah yang akan bekerja di dalamnya. Ia telah meletakkan suatu kecenderungan baru di dalam kita, suatu hasrat untuk mengejar kebenaran. “Hal ini.” Menurut J. Rodman Williams, “adalah mukjizat terbesar yang pernah dialami oleh seseorang.”&amp;amp;lt;ref&amp;amp;gt;J. Rodman Williams, Renewal Theology, Volume II: Salvation, The Holy Spirit, and Christian Living (Grand Rapids, MI: Zondervan Publishing House, 1990), p. 37.&amp;amp;lt;/ref&amp;amp;gt;&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== &amp;lt;br&amp;gt;Datanglah Hidup yang Baru&amp;lt;br&amp;gt;  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Apa yang terjadi ketika kita mengalami kelahiran baru?&amp;lt;br&amp;gt;J.I Packer menyatakan bahwa kata regenerasi “menandakan permulaan baru di dalam hidup.. hal itu menampilkan renovasi kreatif yang dibuat dengan kuasa Allah.”&amp;amp;lt;ref&amp;amp;gt;J.I. Packer, God’s Words, pp. 148-149.&amp;amp;lt;/ref&amp;amp;gt; Ketika Allah meregenerasi Anda, Ia memanggil Anda untuk menjadi suatu hal yang belum pernah ada sebelumnya. Alkitab menggambarkan hal ini sebagai dengan cara: “Sebab Allah yang telah berfirman: &amp;quot;Dari dalam gelap akan terbit terang!&amp;quot;, Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus.” (2 Korintus 4:6). Kesejajaran di sini yang kita liat antara regenerasi kita dan proses penciptaan adalah suatu hal yang disengaja. Regenerasi kita juga merupakan suatu tindakan kreatif Allah. Allah yang sama yang menyatakan, “Jadilah terang”, berbicara pada kita suatu waktu dan berkata, “Datanglah hidup yang baru.” Dan memang hidup itu sungguh nyata adanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert| '''Renungkan 1 Petrus 1:23'''. Bagaimana analogi ini menambah pemahaman anda mengenai kelahiran baru?&amp;lt;br&amp;gt;}}&amp;lt;br&amp;gt;Kelahiran baru juga bisa dilihat sebagai suatu kebangkitan. Walaupun kita sudah mati di dalam dosa dan tidak mampu untuk mengubah kondisi ini, sekarang kita sudah dibangkitkan oleh Allah dengan karya regenerasi dari Roh Kudus. Teolog R.C Sproul menjelaskan hal ini dengan lebih terperinci: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| 3 Berikut ini adalah situasinya: anda adalah pakar anak muda yang melakukan konseling bagi anak-anak dengan gangguan mental yang langka –mereka tentu saja yakin kalau mereka lahir karena usaha mereka sendiri. Kecemasan seperti apa yang menurut anda dapat mereka rasakan sebagai hasil dari pemikiran seperti ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; (Apakah kecemasan yang sama bisa muncul di dalam diri orang Kristen yang tidak memahami peran Allah dalam regenerasi?)&amp;lt;br&amp;gt;}}&amp;lt;br&amp;gt;Roh memperbaharui hati manusia, membangkitkan hati kita dari kematian spiritual. Orang-orang yang sudah mengalami regenerasi adalah ciptaan-ciptaan baru. Dimana sebelumnya mereka tidak mempunyai kecenderungan, keinginan, atau hasrat untuk hal-hal yang berkaitan dengan Allah, kini mereka memiliki kecenderungan hati kepada Allah. Di dalam regenerasi, Allah menanamkan hasrat akan DiriNya sendiri di dalam hati manusia, yang tidak mungkin terjadi kecuali melalui proses ini.&amp;amp;lt;ref&amp;amp;gt;R.C. Sproul, Essential Truths of the Christian Faith (Wheaton, IL: Tyndale House, 1992), pp. 171-172.&amp;amp;lt;/ref&amp;amp;gt;&amp;lt;br&amp;gt; “Orang mati tidak bisa campur tanan dalam proses kebangkitan dirinya,” menurut W.G.T. Shedd. &amp;amp;lt;ref&amp;amp;gt;Quoted in R.C. Sproul, Born Again: Leader Guide, Chapter III, p. 19.&amp;amp;lt;/ref&amp;amp;gt;Jikalau bukan karena karya anugerah Roh Kudus, yang memberikan kepada kita kehidupan yang baru beserta segala kecenderungan dan keinginan untuk menyenangkan, melayani, mematuhi, dan memuliakan Allah, kita masih mati secara spiritual dan bertindak kejam kepada Allah.&amp;lt;br&amp;gt;Regenerasi berbeda dengan sisi-sisi lain di dalam keselamatan kita. Contohnya, jika pembenaran mengubah status legal kita di mata Allah (di sini kita dinyatakan sebagai orang yang benar, bukan orang yang bersalah), regenerasi mengubah kecenderungan dasar kita. Perubahan internal ini sangat radikal dan ekstensif sehingga kita disebut sebagai ciptaan-ciptaan baru. Gambar Allah yang rusak ketika kejatuhan Adam dan Hawa, kini kembali dipulihkan lewat kelahiran baru dan secara progresif diperbaharui lewat penyucian. Namun, berbeda dengan penyucian, regenerasi bukanlah suatu proses. Hal ini tidak terjadi secara bertahap dan lewat derajat-derajat tertentu. Hal ini adalah kuasa dan karya instan Allah di dalam hidup kita.&amp;lt;br&amp;gt;{{LeftInsert| “Regenerasi adalah suatu perubahaan yang dapat diketahui dan dirasakan: dapat diketahui dari dampak kekudusan dan dapat dirasakan lewat pengalaman yang penuh anugerah.”&amp;lt;ref&amp;gt; Quoted in R.C. Sproul, Born Again: Leader Guide, Chapter II, p. 17. &amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;lt;br&amp;gt;—'''Charles H. Spurgeon'''&amp;lt;br&amp;gt;}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jangan salah paham akan apa yang baru saja saya katakan. Tidak semua orang mengalami regenerasi dengan cara yang dramatis seperti yang dialami oleh Paulus. Ia adalah seseorang yang dibutakan secara supernatural selama tiga hari dan mendengar suara yang langsung dari surga. Namun Paulus bukanlah satu-satunya orang yang lahir baru di dalam Kisah Para Rasul. Ketika Lidia mendengar Injil saat dia sedang mengikuti persekutuan doa wanita, “Tuhan membuka hatinya, sehingga ia memperhatikan apa yang dikatakan oleh Paulus” (Kis 16:14). Inilah perbedaannya. Mata Paulus dibutakan sementara, dan hati Lidia secara diam-diam dibukakan oleh Allah. Pengalaman yang berbeda, namun hasil yang dihasilkan sama persis adanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert| '''Untuk Dipelajari Lebih Lanjut:''' Siapa yang membuat seorang manusia kudus? (Ibrani 2:11) Pada tahap penyucian manakah Ia bertanggung jawab ? (Ibrani 12:2)}}&amp;lt;br&amp;gt;Terkadang kita tergoda untuk mengukur sejauh mana kebenaran suatu pertobatan berdasarkan kejadian-kejadian yang mengiringi pertobatan itu. Semua orang sangat menyukai pengalaman pertobatan dari seorang pemimpin gerombolan orang jahat atau pengedar narkoba yang hidupnya diubahkan secara dramatis. Namun misalnya anda adalah Lidia. Anda sedang mengendarai mobil anda suatu hari, mendengarkan rekaman kaset yang dipinjamkan orang lain, lalu dengan tanpa disaksikan oleh siapapun, Allah dengan lembut membuka hati anda. Anda tidak mendengar suara apapun, dan mobil anda tidak terpelanting di jalan. Tidak ada hal yang dramatis. Namun begitu anda sampai di tempat kerja anda, anda mengetahui, meskipun anda tidak menjabarkannya dengan kata-kata, bahwa suatu hal yang signifikan telah terjadi. Anda berbeda. Anda sudah dilahirkan kembali.&amp;lt;br&amp;gt;Saya mendapat kehormatan untuk dapat mengunjungi tempat di Inggris dimana John Wesley dilahirkan kembali. Pertimbangkan pernyataan sederhana yang ia katakan pada saat itu: “Saya merasakan kehangatan di dalam hati saya secara misterius.” Nyaris tidak ada orang yang akan mengatakan bahwa pengalaman itu adalah suatu pengalaman yang menguncangkan, namun kebenaran dan pengaruh dari regenerasi John Wesley tidak bisa disangkal.&amp;lt;br&amp;gt;{{LeftInsert| 4 Di bawah ini, gambarlah suatu tahapan di dalam hidup anda, dimulai dari saat anda lahir sampai pada saat ini. Lalu, beri tanda kapan anda mengalami setiap kejadian ini: regenerasi, pembenaran, penyucian, pertobatan, dan iman. Apa yang terjadi pada momen spesifik tersebut? Manakah yang masih berlangsung sampai saat ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
}}&amp;lt;br&amp;gt;Baik itu secara diam-diam maupun dramatis, setiap kelahiran baru memiliki kesamaan dalam hal ini: kelahiran baru secara eksklusif dan sepenuhnya merupakan karya Allah. Alur cerita dan karakter-karakter yang terlibat di dalamnya mungkin saja unik. Namun intinya tetaplah sama. Kita adalah ciptaan-ciptaan baru. Yang lama telah berlalu, yang baru telah datang.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== &amp;lt;br&amp;gt;Keputusan yang Sia-Sia&amp;lt;br&amp;gt;  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Kita menemukan Yohanes memuat pernyataan-pernyataan penting yang terkait dengan regenerasi tidak hanya di dalam kitab yang ditulis olehnya sendiri. Mari kita mengakhiri dengan memperhatikan pernyataan ini: Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah. (1 Yoh 3:9).&amp;lt;br&amp;gt;Apakah anda pernah membaca ayat ini dan merasa bingung? Ayat ini tidak memiliki maksud seperti apa yang ditulis di dalamnya .. bukan? Hanya segelintir orang yang bisa bertahan satu atau dua jam tanpa berbuat dosa dalam satu atau lain hal. Mungkin maksud sebenarnya dari ayat ini salah diterjemahkan. Atau di lain pihak, kita kawatir, Bagaimana kalau itu benar? Sepertinya itu bukan seperti pengalaman saya… apa ini artinya saya belum “dilahirkan kembali”&amp;amp;nbsp;?&amp;lt;br&amp;gt;Yohanes tidak bermaksud menyatakan bahwa orang Kristen yang benar tidak mungkin lagi berbuat dosa. Hal ini dapat dibuktikan dari pasal pertama dari kitab ini, dimana ia menulis, “Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita.” (1Yoh 1:8). Tidak—dosa masih hadir di tengah keberadaan kita, dan walaupun dominasi dosa di dalam kehidupan kita sudah dihancurkan, kita masih bisa rentan terhadap pengaruhnya setiap saat. Namun ketika Yohanes menyatakan bahwa mereka yang dilahirkan dari Allah “tidak dapat berbuat dosa.” Yohanes mau menunjukkan bahwa regenerasi membuat kita tidak mampu terus menerus berbuat dosa.&amp;lt;br&amp;gt;Maksud Yohanes dalam pasal ini, menurut Anthony Hoekema adalah bahwa orang Kristen “tidak terus melakukan dan menikmati perbuatan dosa… Orang tersebut tidak bisa terus menikmati saat-saat dimana ia melakukan perbuatan yang berdosa, dan tidak mampu untuk terus hidup dalam kubangan dosa.” &amp;amp;lt;ref&amp;amp;gt;Anthony A. Hoekema, Saved by Grace (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1989), p. 100.&amp;amp;lt;/ref&amp;amp;gt;John R.W Stott merangkum hal ini dengan cara yang sederhana: “orang percaya mungkin jatuh di dalam dosa, namun ia tidak akan berjalan di dalam dosa.”&amp;lt;br&amp;gt;Apakah anda melihat adanya perbedaan di antara keduanya? &amp;lt;br&amp;gt;{{LeftInsert| Regenerasi timbul pertama kali di dalam area utama di dalam hidup manusia. katakan, hati atau roh-nya. Pada tingkatan terdalam di dalam keberadaan manusia, ada suatu perubahaan yang sungguh-sungguh. .&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt; J. Rodman Williams, Renewal Theology, Volume II, p. 50. &amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;lt;br&amp;gt;—'''J. Rodman Williams''' &amp;lt;br&amp;gt;}}&amp;lt;br&amp;gt;Misalkan saya bertindak bodoh untuk menguji pernyataan Yohanes dengan membuat keputusan pribadi: “dalam jangka waktu 6 bulan ke depan saya akan menampilkan gaya hidup yang penuh dosa.” Hal ini jelas bukan sesuatu yang saya inginkan atau rekomendasikan. Namun, saya juga tidak percaya kalau saya bisa menjalankan keputusan seperti itu. Mengapa? Karena saya sudah dilahirkan dari Allah. Sekarang saya mempunyai hati yang baru, hidup yang baru, dan kecenderungan baru untuk mengejar kebenaran dan menyenangkan hati Allah. Walaupun saya masih melakukan dosa, namun karena kuasa ini, saya tidak mempunyai kemampuan untuk mengabdikan diri saya pada dosa dan terus melakukan perbuatan berdosa. Saya tidak akan mampu menikmati gaya hidup yang penuh dosa. Hanya tindakan ilahi yang mampu melakukan hal seperti ini. &amp;lt;br&amp;gt;{{RightInsert| '''Renungkan Efesus 4:22-24'''. Apa yang menandakan “hidup yang baru” yang ada di dalam kita melalui proses regenerasi?}}&amp;lt;br&amp;gt;Kita tidak akan merasa putus asa atau rentan di dalam perjuangan harian kita dengan dosa. Kita tidak ditakdirkan untuk terus berjalan dalam ketidaktaatan dan kekalahan. Allah secara internal, supernatural, dan mendasar telah mengubah kita. Sekarang kita memiliki hasrat dan kemampuan untuk menyenangkan hatiNya sepanjang hidup kita. Dengan didorong dan dibawah kuasa anugerah Allah, kita dapat memperolah perubahan yang progresif sepanjang hayat kita.&amp;lt;br&amp;gt;Inilah awal dari proses penyucian—di dalam perasaan aman dan keyakinan bahwa kita telah dilahirkan kembali, bukan oleh usaha pribadi kita namun oleh kuasa dan kehendak dari Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== &amp;lt;br&amp;gt;Diskusi Kelompok&amp;lt;br&amp;gt;  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Kata-kata apa saja yang mungkin digunakan oleh non Kristen untuk menggambarkan orang Kristen yang “lahir baru” pada umumnya?&amp;lt;br&amp;gt;2. Apa penyebab yang paling mungkin mengapa pertobatan kalangan selebriti cenderung palsu?&amp;lt;br&amp;gt;3. Thomas Adams menulis, “Lenyapkan misteri dari kelahiran baru dan anda telah melenyapkan keagungannya.”&amp;amp;lt;ref&amp;amp;gt;Quoted in R.C. Sproul, Born Again: Leader Guide, Chapter II, p. 16.&amp;amp;lt;/ref&amp;amp;gt; Apa yang membuat regenerasi begitu misterius?&amp;lt;br&amp;gt;4. Apakah sulit bagi anda untuk percaya bahwa hanya Allah saja yang bertanggung jawab terhadap kelahiran baru anda?&amp;lt;br&amp;gt;5. Jika Lidia dan Paulus mewakili dua kutub ekstrim dari pengalaman kelahiran baru, dimana posisi anda? &amp;lt;br&amp;gt;6. Diskusikan gambaran waktu yang anda buat. Apakah ada pertanyaan mengenai tahapan keselamatan?&amp;lt;br&amp;gt;7. Baca Ibrani 12:2. Bagaimana “jaminan tanpa syarat” ini mempengaruhi pendapat anda mengenai pengudusan?&amp;lt;br&amp;gt;8. Apakah bagian ini memicu pribadi anda untuk memiliki pandangan berbeda mengenai kelahiran baru? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Bacaan yang Direkomendasikan  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The Christian Life by Sinclair Ferguson (Carlisle, PA: The Banner of Truth Trust, 1989) &amp;lt;br&amp;gt;God’s Words by J.I. Packer (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1981) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Referensi&amp;lt;br&amp;gt;  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;amp;lt;references /&amp;amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Susanlim</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/How_Can_I_Change%3F/Caught_in_the_Gap_Trap/id</id>
		<title>How Can I Change?/Caught in the Gap Trap/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/How_Can_I_Change%3F/Caught_in_the_Gap_Trap/id"/>
				<updated>2009-02-03T14:31:48Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Susanlim: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|Bagaimana Saya Bisa Berubah?/Terperangkap di Tengah}}&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semua yang kini sedang bergumul melawan amarah, silakan maju ke depan. Kami mau berdoa untuk anda.”&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu itu hari Minggu pagi. Saya baru saja menyelesaikan khotbah mengenai amarah, dan saya mau memberikan waktu bagi Roh Kudus untuk bekerja di dalam hati orang-orang yang hadir saat itu. Namun saya terkejut melihat respon yang diberikan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekitar dua puluh orang-orang yang rendah hati maju ke depan mimbar—untuk ukuran gereja kami, jumlah ini cukup besar. Namun, bukan jumlahnya yang menarik perhatian saya. Yang menarik perhatian saya adalah orang-orang yang maju ke depan. Sembilan belas dari dua puluh orang yang maju ke depan adalah para ibu muda! (Amarah sangat rentan dialami oleh para ibu, sejauh yang saya ketahui.) Sebagai gembala, saya tahu bahwa para wanita ini adalah orang kristen yang sungguh-sungguh. Apa yang menyebabkan mereka maju ke depan adalah rasa frustasi mendalam mereka yang dialami karena mereka merasa terperangkap di tengah -- zona antara standar Alkitabiah yang berkaitan dengan penguasaan diri, dan kegagalan mereka untuk hidup menurut standar Alkitabiah itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah masalah itu berkaitan dengan amarah, ketakutan, kekuatiran, atau suatu hal yang umum, seperti kemalasan, kita semua sudah mengalami perasaan terperangkap di tengah, antara siapa diri kita saat ini, dan siapa diri kita seharusnya. Alkitab menyatakan bahwa kita adalah ciptaan baru, para pemenang, penakluk. Dan kita bukan hanya sekedar pemenang, melainkan lebih dari seorang pemenang (Roma 8:37). Kadang kita memang merasa seperti itu. Namun yang lebih sering, kita mengalami kesulitan melihat suatu hal yang melampaui kelemahan-kelemahan dan kegagalan-kegagalan kita. Dan yang menariknya, justru di saat-saat seperti ini, ayat dalam Matius 5:48 mendadak jadi tampil ke permukaan: “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| '''Untuk Dipelajari Lebih Lanjut:''' Bahkan Rasul Paulus mengalami saat dimana ia merasa terperangkap di tengah (Roma 7:21-25). Dapatkah anda membandingkan rasa frustrasi anda dengan rasa frustrasi yang dialami Rasul Paulus?}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlahan kita menghela nafas dan berkata,''Hal itu tidak akan pernah menjadi kenyataan''. &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya menyebut kondisi ini sebagai “perangkap tengah”. Berikut adalah cara kerjanya: Sebagai orang kristen, kita semua memiliki pengetahuan mengenai hal-hal yang diharapkan Allah dari diri kita. Namun pada kenyataannya, apa yang kita capai jauh dari apa yang -kita tahu- sebenarnya harus kita capai. Maka, terciptalah suatu jarak antara apa yang kita tahu harus kita lakukan, dan performa kita yang sesungguhnya. Apabila jarak antara keduanya terlampau jauh, kita bisa saja langsug di cap sebagai seorang munafik. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| “Kehidupan kekristenan semata-mata berkaitan dengan perubahan karakter intrinsik kita menuju karakter Kristus.. Tujuan dari ayat-ayat ini (Misalnya Roma 6, Kolose 3: 5-14, Efesus 4:22-32) adalah untuk menunjukkan kepada kita bahwa ada jarak yang hebat antara siapa kita di dalam Kristus (pembenaran) dan siapa kita sebenarnya dalam kehidupan keseharian kita (pengudusan), yang tujuannya adalah untuk mendorong kita agar kita menutup jarak yang ada antara keduanya... Tujuan Paulus adalah untuk mengugah kita supaya dalam kehidupan keseharian kita, kita mampu menampilkan perilaku-perilaku yang menggambarkan siapa kita sebenarnya di dalam Kristus.” &amp;lt;br&amp;gt;- '''Jay Adams'''}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Situasi ini adalah suatu hal yang nyata dalam kehidupan kekristenan. Bagi sebagian besar, tidak dibutuhkan orang lain untuk memberitahu kita mengenai ketidak-konsistenan di dalam hidup kita—kita semua terlalu manyadarinya. Kesadaran itu seharusnya membuat kita menjadi semakin rendah hati dan menggantungkan diri kepada Tuhan supaya kita bisa berhasil menutup ketidak-konsistenan itu. Namun biasanya momen ‘terjebak di tengah’ ini muncul akibat ketidakpedulian kita akan doktrin atau ajaran mengenai pengudusan. Daripada menyadari kalau jarak ini ada sebagai pertanda bahwa kita membutuhkan pertolongan dari Allah saja, kita malah membiarkan jarak ini untuk menghukum kita, dan memperlambat kemajuan kita. Kita menjadi terjebak dalam pemikiran bahwa kita adalah seorang pecundang, bodoh, orang yang penuh kegagalan... dan mungkin saja bukan benar-benar seorang Kristen. Beberapa orang bahkan terperosok lebih jauh dalam ketidaktaatan. Mereka yang terjebak di situasi seperti ini (dan pada level tertentu, kita semua termasuk di dalamnya) mengalami penderitaan (yang sebenarnya tidak diperlukan) karena patah semangat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai seorang gembala, salah satu tanggung jawab utama saya adalah membantu orang-orang agar bisa keluar dari jebakan ini. Saya sering menyampaikan pada orang-orang, “Hal itu tidak akan instan terjadi, dan membutuhkan usaha yang sungguh-sungguh, namun supaya bisa keluar dari jebakan itu tidaklah rumit. Dan percayalah, anda tidak akan kecewa melihat hasilnya.” Mungkin anda merasa bahwa anda sedang berada di posisi seperti ini. Jika demikian, kami yakin buku ini dapat menolong anda untuk menutup jarak yang ada antara siapa anda seharusnya di dalam Kristus dan siapa anda sebenarnya dalam kehidupan keseharian anda. Dapatkah anda membayangkan kehidupan dimana anda mematahkan kebiasaan-kebiasaan anda yang penuh dosa dan membuat kemajuan nyata dalam kehidupan rohani anda? kehidupan seperti itu sungguh mungkin adanya. Dan buku ini ditulis untuk menguatkan dan menyertai anda seiring dengan usaha anda untuk mencapai yang kehidupan seperti itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Diantara “Sekarang” dan “Yang Akan Datang” &amp;lt;br&amp;gt;  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| Apakah ada area-area dalam hidup anda yang anda sadari kurang memenuhi ekpektasi Allah? (Tuliskan dengan singkat sebuah area itu di bawah)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
}}&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak diragukan, bahwa salah satu hal yang paling membuat kita frustrasi terkait dengan kehidupan kekristenan adalah kontradiksi yang nyata antara siapa kita di mata Allah, dan siapa diri kita dalam pendapat kita sendiri. Ambil contoh jemaat di Korintus, misalnya. Rasul Paulus pada satu titik meyakinkan mereka bahwa, “Kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita.” (1 Korintus 6:11). Sepertinya berhenti sampai di situ saja, bukan? Sampai kita membaca surat kedua Paulus pada jemaat ini, yang isinya nyaris bertolak-belakang dengan yang pertama disampaikan: “Marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah” (2 Korintus 7:1). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di pikiran saya, mungkin saja para jemaat di Korintus merasa bingung. Apakah mereka sudah disucikan... atau masih tercemar? sebenarnya dua-duanya berlaku untuk mereka, dan juga kita. Untuk menjelaskan hal itu, mari saya ajak anda untuk menyimak hal di berikut ini.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| '''Renungkan 1 Yohanes 3:2-3'''. Apa pengaruh dari pemikiran kita tentang “yang akan datang” terhadap apa yang ada “saat ini”}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kerajaan Allah itu adalah “saat ini” dan “yang akan datang”. Dalam beberapa hal, Kerajaan Allah berkaitan dengan masa kini, dan untuk beberapa hal lainnya, Kerajaan Allah berkaitan dengan masa mendatang. Allah kita telah menyatakan dan menunjukkan bahwa Kerajaan (atau hukum) Allah sudah bersinggungan dengan sejarah manusia: “Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu” (Lukas 11:20). Namun, Kerajaan Allah belum datang seutuhnya. Hal itu tidak akan terjadi sampai Yesus datang kembali dalam kuasaNya, ketika setiap lutut kan bertelut dan semua lidah mengaku bahwa Dialah Allah. Sampai hal itu terjadi, tanpa menyangkal kehadiran Kerajaan Allah yang ada di dalam dunia ini, kita berdoa, “''Datanglah'' Kerajaan-Mu” (Matius 6:10) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan demikian, Kerajaan Allah berjalan seiringan dengan kehidupan kita. Allah, lewat karya pembenaran-Nya, sudah menyatakan bahwa kita adalah orang-orang benar. Posisi kita di mata Allah sudah berubah. Masalah itu sudah diselesaikan sekali dan untuk selama-lamanya di Surga. Namun, di sisi surga lainnya (bumi), perubahan internal kita merupakan suatu proses yang sedang berjalan. Proses penyucian ini membuat saya sibuk sebagai seorang pribadi Kristen, dan juga memberikan saya banyak pekerjaan dan tugas sebagai seorang gembala. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, apakah kita sudah memiliki kemenangan di dalam Yesus atau belum? apakah kita para pemenang, atau apakah kita masih harus berjuang? Oscar Cullmann memberikan ilustrasi dari Perang Dunia ke-2, yang saya percaya dapat membantu kita menangkap hal yang kesannya bertentangan ini. &amp;amp;lt;ref&amp;amp;gt;Oscar Cullman, Christ and Time (Philadelphia, PA: The Westminster Press, 1964), p. 3.&amp;amp;lt;/ref&amp;amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejarah mencatat dua peristiwa besar yang menjadi pangkal berakhirnya Perang Dunia ke-2: D-Day dan VE-Day. D-Day terjadi pada 6 Juni 1944, ketika para pasukan Sekutu mendarat di Normandy, Perancis. Ini adalah titik balik dalam perang yang berlangsung; ketika pendaratan ini berhasil, nasib Hitler sudah sangat jelas. Pada dasarnya, perang sudah berakhir. Namun kemenangan total di Eropa (VE-Day) tidak terjadi sampai tanggal 7 Mei 1945 ketika pasukan Jerman menyerah di Berlin. Periode sebelas bulan ini dicatat sebagai salah satu periode pertumpahan darah terbesar sepanjang sejarah perang. Pertempuran-pertempuran terjadi di seluruh Perancis, Belgia, dan Jerman. Walaupun secara fisik para musuh sudah terluka, namun mereka tidak sepenuhnya menyerah.&amp;lt;br&amp;gt; {{LeftInsert| “Pemilihan Ilahi adalah jaminan bahwa Allah akan bekerja dalam melengkapi pemilihan kita (untuk diselamatkan oleh anugerah-Nya) dengan anugerah pengudusan-Nya. Ini adalah arti dari Perjanjian Baru: Allah tidak hanya sekedar memerintahkan agar kita taat kepadaNya, namun juga memberikan kemampuan pada kita untuk menaatiNya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-'''John Piper''' }}&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salib adalah D-Day kita. Di sana, Tuhan kita Yesus Kristus mati disalibkan, untuk mematahkan belenggu dosa dari umatNya. Berdasarkan kematian dan kebangkitanNya, kita semua dibenarkan. Namun, kemenangan akhir akan terjadi ketika Ia datang. Tidak ada keraguan mengenai hasil akhirnya. Namun kita masih akan menemui gesekan-gesekan dan pertandingan-pertandingan sampai Tuhan muncul di dalam kemuliaanNya untuk memusnahkan kuasa kegelapan selamanya. {{RightInsert| '''Untuk Bacaan Lebih Lanjut''': Bacalah 1 Petrus 5:8-9. Walaupun kemenangan akhir Allah tidak bisa disangkal, namun kita harus tetap berjuang melawan musuh kita.}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fakta ini, apabila kita tetap berusaha untuk mengingatnya, dapat membuat kita tidak patah semangat. Pertarungan masih berlangsung, namun peperangan utama sudah dimenangkan. Kesadaran akan karya pengorbanan Kristus yang telah dilakukan bagi kita sangat penting untuk memacu semangat moral kita seiring dengan usaha kita untuk mencapai suatu kekudusan hidup. Kita harus mempelajari dan merenungkan doktrin utama mengenai pembenaran sampai hal itu sungguh tertanam dalam kesadaran kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== '''Butuh Obat Kumur?'''  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun kita sudah dibenarkan sepenuhnya di dalam Kristus (D-Day), bukan berarti kita sudah sepenuhnya disucikan (VE-Day). Beberapa orang gagal memahami hal ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengajar Alkitab Ern Baxter menyampaikan kejadian yang terjadi saat Latter Rain Revival di akhir tahun 1940-an. Ada suatu ajaran menyimpang yang dinamakan “manifestasi anak-anak Allah”. Pada intinya ajaran itu menyampaikan doktrin yang menjanjikan kekudusan total di dalam hidup ini. Pada bentuk ekstrimnya, ajaran itu termasuk kepercayaan bahwa elit spiritual akan menerima tubuh kemuliaan sebelum kedatangan Kristus untuk kedua kalinya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada sesi penutupan acara dimana Baxter menjadi pembicaranya, beberapa ‘anak-anak Allah’ muncul di pojok auditorium berbalutkan jubah putih. Ketika ia selesai menyampaikan Firman, mereka berjalan ke depan dan mulai mencoba untuk menarik pengikut-pengikut baru bagi doktrin mengenai kesempurnaan total yang mereka ajarkan. Ketika ia mengingat peristiwa itu, ia menyatakan, “Wanita yang menjadi kelompok di grup itu benar-benar membutuhkan Listerine (merek obat kumur). Bukan itu jenis kesempurnaan yang saya nantikan.” &amp;amp;lt;ref&amp;amp;gt;Ern Baxter, taped message, “Sanctification,” n.d. &amp;amp;lt;/ref&amp;amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih umum dari skenario yang terjadi lewat peristiwa yang dialami oleh Ern Baxter diatas, adalah situasi-situasi yang terjadi akibat dari kurangnya pengetahuan dan kecenderungan untuk menyederhanakan konsep kekudusan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| 2 Kalau anda mencari kesempurnaan total di dalam hidup ini, kira-kira mana dari antara beberapa hal di bawah ini yang paling sulit untuk dilakukan oleh anda? &lt;br /&gt;
*Sama sekali tidak akan pernah mengendarai mobil lebih dari batas kecepatan. &lt;br /&gt;
*Berbicara dengan hangat dan lembut pada setiap sales yang menelepon rumah anda. &lt;br /&gt;
*Mengindari semua kalori yang tidak dibutuhkan. &lt;br /&gt;
*Tidak pernah memukul jam weker anda ketika ia membangunkan anda. &lt;br /&gt;
*Senantiasa membayar pajak penghasilan anda dengan sukacita.}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu saya baru menjadi orang percaya, saya berjumpa dengan seorang pria muda bernama Greg, mengaku menjadi seorang perampok dan pengguna obat terlarang yang sepertinya bertobat waktu di dalam penjara. Pegangan hidup Greg dalam menjalani kehidupan kekristenan sangat memukau diri saya. Ia membawakan dirinya dengan keyakinan penuh dan sedikit keangkuhan. Ia berbicara seakan-akan dosa itu bukan menjadi suatu masalah lagi baginya. Lebih dari sekali dia mengatakan kepada saya betapa ia sudah “diselamatkan, disucikan, dan dipenuhi oleh Roh Kudus.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar dia mengatakan hal itu, sepertinya membuat hal itu seakan-akan mudah dan sederhana. Sebagai seorang Kristen yang baru, pada suatu waktu ia naik ke dalam kereta, dan waktu dia baru berangkat, beberapa jam kemudian ia sudah mengalami apa yang dinamakan olehnya sebagai “pengalaman pengudusan.” Dia berusaha meyakinkan saya bahwa pengalaman itu adalah hal yang dibutuhkan pertama kali untuk menerima baptisan Roh Kudus, dan sekali itu terjadi, itu akan berlaku selamanya. Saya harus mengakui di sini, bahwa ada beberapa hal tentang Greg yang kesannya tidak terlalu kudus. Ia mempunyai kecenderungan untuk menghakimi orang dan perilaku seorang farisi. Ia bisa menjadi seorang yang terlalu menguasai dan picik. Saya ingat pada suatu saat ketika seorang teman tidak sengaja meletakkan suatu benda di atas Alkitabnya: “Maaf—itu kan Firman Allah!” Tapi tetap saja, dia yakin dia bisa mengutip Alkitab, dan sepertinya sangat memahami perihal pengudusan.&amp;lt;br&amp;gt; {{RightInsert| '''Untuk Renungan Lebih Lanjut''': Bacalah Matius 26:41. Kapan waktunya kita bisa aman menganggap bahwa kita sudah “sampai” pada titik pengudusan?}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sangat mengejutkan ketika pada akhirnya ia kembali mengedarkan dan memakai obat terlarang. Masalah Greg terkait dengan kurangnya pemahaman dan juga kesalah-pahaman mengenai ajaran Alkitab terkait dengan konsep pengudusan. Ia sudah melakukan kesalahan seperti yang banyak orang lakukan dengan hanya memfokuskan perhatian pada beberapa ayat Alkitab favorit yang sepertinya membenarkan pengalaman pribadinya.&amp;lt;br&amp;gt; {{LeftInsert| &amp;quot;Kekudusan bukan jalan menuju Kristus. Kristus, adalah jalan menuju kekudusan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; '''—Adrian Rogers'''}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; Kekudusan itu sifatnya ''pasti'' (terjadi saat kita bertobat) dan ''progresif'' (terus berlangsung). Semua ini tidak terjadi pada sekali waktu di masa lalu, dan bukan juga suatu hal yang akan terjadi secara bertahap. Kita ''sudah diubahkan'' dan kita ''sedang berubah''. Tanpa mengesampingkan keberhasilan pendaratan kita di Normandy, marilah kita bijak dan realistis saat menilai adanya oposisi yang ada diantara kita dan Berlin. Kita tidak punya pilihan yang memungkinkan kita untuk mendapatkan tiket naik ke dalam kereta pengudusan, seperti yang Greg yakini. Hal itu akan menjadi suatu pertandingan di setiap langkah kehidupan kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Setimpal dengan Usahanya  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi beberapa orang, “pengudusan” adalah suatu istilah teologis yang sering didengar, namun jarang dimengerti. Kedengarannya itu adalah suatu hal yang cocok untuk mahasiswa teologia dan kurang praktis untuk kehidupan sehari-hari. Namun sebaliknya, hal itu adalah suatu hal yang sangat amat praktis, dan bisa dikaitan dengan kehidupan keseharian. Doktrin mengenai pengudusan bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh hampir seluruh orang Kristen di dalam sejarah gereja. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana saya bisa berubah? &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana saya bisa bertumbuh? &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana saya menjadi serupa dengan Kristus? &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Bagaimana saya bisa tidak terperangkap di tengah?'' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apapun yang bisa menjawab pertanyaan itu akan mengharuskan kita untuk melakukan beberapa usaha. Lampiran A (halaman 93) menunjukkan bahwa beberapa cabang gereja sudah membicarakan masalah ini di masa lalu, namun mari kita lihat apa yang bisa kita pelajari mengenai aplikasi dari doktrin yang penting ini pada masa kini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Arti Alkitabiah dari kata ''menguduskan'' (menyucikan) adalah “untuk memisahkan; mengkhususkan.” (''Kesucian'' berasal dari akar kata yang sama dalam bahasa Yunani) Hal ini bisa diaplikasikan pada orang, tempat, situasi, atau benda tertentu. Ketika suatu hal dikuduskan, hal itu akan dipisahkan dari pemakaian pada umumnya dan didedikasikan untuk kepentingan khusus. Misalnya, pada jaman Musa, Hari Raya Pendamaian dikuduskan bagi Allah yang Kudus. Hari itu menjadi hari yang kudus. Sebuah hal yang dikuduskan tidak akan serta merta menjadi suci karena dipisahkan dari hal lainnya; kesucian yang didapat akan berasal dari untuk apa (atau kepada siapa) kah hal itu disucikan. Karena hanya Allah saja yang suci, maka hanya Dia-lah yang bisa mengimpartasikan kesucian. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara teologis, istilah “pengudusan” telah dipergunakan untuk menggambarkan proses yang dilalui oleh seorang percaya ketika Roh Allah sedang bekerja di dalam hidupnya untuk membuat dirinya semakin menyerupai Kristus. Prosesnya dimulai saat kita lahir baru, dan terus berlangsung sepanjang kita hidup. Hal ini ditandai dengan konflik keseharian seiring dengan usaha kita untuk mengalahkan dosa yang ada di dalam diri kita dengan anugerah dan kekuatan yang Allah berikan bagi kita. Camkan di dalam pikiran bahwa rasa bersalah yang didapat dari dosa sudah dihilangkan lewat pembenaran, sebagaimana yang dijelaskan oleh Anthony Hoekema; penyucian menghilangkan ''pencemaran'' akibat dosa: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang dimaksud dengan ''rasa bersalah'' adalah kondisi di mana kita layak mendapatkan penghukuman atau harus bertanggung jawab untuk menerima hukuman karena telah melanggar hukum Allah. Yang dimaksud dengan pembenaran, sebagai tindakan deklaratif Allah, adalah bahwa rasa bersalah akibat dosa dihilangkan atas dasar karya utama Yesus Kristus. Yang dimaksud dengan ''pencemaran'' adalah bahwa kita memiliki kecenderungan bawaan yang terjadi sebagai akibat dari dosa yang juga pada akhirnya menciptakan dosa lain lebih lanjut. Sebagai akibat dari kejatuhan Adam dan Hawa, kita semua lahir dengan kondisi seperti ini; dosa-dosa yang kita lakukan tidak hanya berasal dari kecenderungan kita untuk berdosa, namun juga menambah kecenderungan itu sendiri. Yang dimaksud dengan ''penyucian'' adalah kondisi dimana pencemaran yang didapat dari dosa sedang dalam proses (tahapan) pembersihan (walaupun hal itu tidak akan sepenuhnya dibersihkan sampai kita memasuki hidup baru di Surga).&amp;amp;lt;ref&amp;amp;gt;7. Anthony A. Hoekema, Saved by Grace (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1989), pp. 192-93.&amp;amp;lt;/ref&amp;amp;gt; {{RightInsert| '''Untuk Bacaan Lebih Lanjut''': Apakah anda menyadari betapa penting dan bermanfaatnya apabila kita memiliki perasaan takut akan Allah? (Lihat Mazmur 19:9 dan 25:14, Amsal 1:7 dan 9:10, dan 1 Petrus 1:17.)}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alkitab juga mendefinisikan penyucian sebagai proses pertumbuhan menuju hidup yang saleh. Hidup yang saleh merujuk pada suatu kehidupan yang menunjukkan dedikasi kepada Allah, dan karakter yang muncul akibat dedikasi tersebut. Hidup yang saleh melibatkan kasih terhadap Allah dan kerinduan akan Allah.&amp;amp;lt;ref&amp;amp;gt;Jerry Bridges, The Practice of Godliness (Colorado Springs, CO: NavPress, 1983), pp. 15-20.&amp;amp;lt;/ref&amp;amp;gt; Selain itu juga mengandung rasa takut akan Allah, yang menurut John Murray adalah “jiwa dari hidup yang saleh”. &amp;amp;lt;ref&amp;amp;gt;Ibid., p. 24.&amp;amp;lt;/ref&amp;amp;gt; Karena telah ditebus dari ancaman hukuman kekal, orang Kristen menyatakan rasa takutnya kepada Allah dengan memfokuskan diri tidak kepada murka Allah, tapi kepada “kemuliaan, kekudusan dan keagunganNya...”. ”&amp;amp;lt;ref&amp;amp;gt;Ibid., p. 26.&amp;amp;lt;/ref&amp;amp;gt; Rasa takut akan Allah mempunyai dampak yang baik bagi hati kita, dimana rasa ini akan memurnikan hati kita, dan juga hal ini adalah syarat apabila kita hendak menjalin hubungan yang lebih intim dengan Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hidup yang saleh melibatkan lebih dari sekedar unsur moralitas atau tindakan fanatik. Hal tersebut berasal dari kesatuan dengan Kristus dan hasrat untuk memuliakanNya. Seorang yang saleh akan berkeinginan untuk menjadi seperti Tuhan-nya juga ingin untuk menyenangkan hatiNya. Ia ingin merasakan apa yang dirasakan olehNya, memikirkan apa yang dipikirkan oleh Tuhan-nya melebihi dirinya sendiri, dan melakukan apa yang menjadi kehendakNya. Secara singkat, orang seperti ini ingin menjadi seseorang yang memiliki karakter Allah, sehingga Allah bisa dimuliakan lewat hidupnya. Tidak ada hal lain yang layak diperjuangkan sepanjang hidup kita: “Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang” (1 Timotius 4:8). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baik Allah maupun manusia memegang peran penting dalam konteks penyucian. Allah, dengan anugerahNya, memulai karya penebusan di dalam kita dan memberikan keinginan serta kuasa untuk mengalahkan dosa. Sebagai respon sekaligus sambil bersandar pada anugerahNya, kita menaati perintah Alkitab&amp;amp;nbsp;: “karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya. Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan” (Filipi 2:12-13) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|“Penyucian, menurut Westminster Shorter Catechism, adalah ‘pekerjaan dari anugerah Allah yang diberikan secara cuma-cuma, dimana kita diperbaharui menjadi manusia seutuhnya berdasarkan gambaran Allah, dan dimampukan lebih dan lebih lagi untuk mati bagi dosa, dan hidup bagi kebenaran.’ Konsep yang terkandung di dalam hal ini adalah bukan berarti dosa itu dihapuskan total (hal ini terlalu berlebihan) atau hanya ditangkis (hal ini terlalu meremehkan), namun berkaitan dengan perubahan karakter ilahi kita yang membebaskan kita dari kebiasaan-kebiasaan kita yang penuh dosa dan membentuk kita menjadi serupa dengan Kristus dalam hal perasaan, sifat, dan karakteristik-karakteristik lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
— '''J.I. Packer'''&lt;br /&gt;
}} &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam Perjanjian Baru, posisi dari hidup kudus itu berada pada titik tengah antara legalitas di satu sisi, dan lisensi di sisi lainnya. Semua tradisi gereja yang terlalu menitik beratkan pada karya Allah di dalam kita tanpa menaruh pengharapan bahwa karya itu akan menghasilkan suatu hasrat yang terus bertambah di dalam diri kita untuk menuju suatu kesalehan hidup, akan cenderung menuju ke arah lisensi. “Karena, seperti yang telah kerap kali kukatakan kepadamu, dan yang kunyatakan pula sekarang sambil menangis, banyak orang yang hidup sebagai seteru salib Kristus. Kesudahan mereka ialah kebinasaan, Tuhan mereka ialah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi” (Filipi 3:18-19). Di lain pihak ada juga pihak yang terlalu menitik beratkan pada porsi manusia sehingga mereka menyimpang dari kebenaran Allah dan berakhir pada prinsip legalitas. (Tentu saja seluruh hal ini mempunyai kadar yang bervariasi). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| '''Renungkan 1 Timotius 6: 11-16.''' Paulus adalah seorang yang sangat mampu menjadi seorang motivator yang handal. }} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bagaimana Meraih Kesempurnaan &amp;lt;br&amp;gt;  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu pertanyaan yang umum diucapkan oleh orang Kristen adalah, “Sejauh mana saya bisa berharap pada proses penyucian ini? Apakah pada akhirnya saya bisa benar-benar bebas dari dosa?” Jenis pertanyaan ini akan menjadi relevan terutama ketika kita membaca pernyataan seperti yang disampaikan oleh Paulus kepada jemaat di Filipi: “Karena itu marilah kita, ''yang sempurna'', berpikir demikian. Dan jikalau lain pikiranmu tentang salah satu hal, hal itu akan dinyatakan Allah juga kepadamu” (Filipi 3:15). Bahkan Yesus menyampaikan hal itu lebih gamblang di ayat yang sudah disebutkan sebelumnya: “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna” (Matius 5:48).&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| 3 Cobalah untuk menjawab kuis Benar/Salah di bawah ini, untuk mengetahui sejauh mana anda sudah memahami materi ini: (Jawaban dicetak terbalik di bagian bawah halaman 9) &lt;br /&gt;
*Arti dari kata “menguduskan (menyucikan)” adalah “menajiskan, memisahkan” '''B S''' &lt;br /&gt;
*Proses penyucian dimulai saat kita lahir baru, dan terus berlangsung sepanjang kita hidup. '''B S''' &lt;br /&gt;
*Rasa bersalah yang didapat dari dosa sudah dihilangkan lewat pembenaran '''B S'''&lt;br /&gt;
*Hidup yang saleh hanya memiliki arti yang berkaitan dengan unsur moralitas atau tindakan fanatik seseorang. '''B S''' &lt;br /&gt;
*Hanya Allah yang bertanggung jawab terhadap proses penyucian kita. '''B S'''}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah Allah sungguh berharap supaya kita mencapai tahap kesempurnaan? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keinginan untuk menjadi sempurna sudah menginspirasi banyak orang untuk mencari Allah. Di sepanjang sejarah manusia, banyak penulis puisi dan filosofer yang mengekspresikan keinginan untuk mencapai kembali kesucian hidup. Penulis lagu kontemporer Crosby, Stills, dan Nash merayakan pengalaman Woodstock dengan lagu yang berlirik, “Kita adalah debu bintang-bintang, kita ini berharga, kita terjebak di dalam penawaran iblis. Dan kita harus mencari cara kembali ke Taman (Surga).” Masalahnya, kita semua tahu kalau kita ini jauh dari kesempurnaan. Dalam dunia khayal perfilman, Mary Poppins bisa saja dengan riang menyatakan bahwa dia adalah “sempurna di segala hal,” namun di kehidupan nyata, hal itu tidak mungkin terjadi. Dan tentu saja kita tidak bisa menjadi sempurna lewat metode Woodstock. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; {{RightInsert| &amp;quot;Ketika terang cahaya...kemuliaan Allah jatuh ke atas roh kita, kita dimenangkan dari segala pemikiran yang palsu dan kurang tepat mengenai kesucian kita sendiri. Kita juga dilindungi dari segala pengajaran murahan yang mendorong kita untuk mempercayai bahwa ada jalan-jalan pintas yang memudahkan kita untuk mencapai kesucian hidup. Kesucian hidup bukanlah sebuah pengalaman; itu adalah penyatuan kembali karakter kita, juga pemugaran kembali satu hal yang sudah menjadi reruntuhan. Hal itu memerlukan ketrampilan dan merupakan suatu proyek jangka panjang yang memerlukan segala hal yang sudah diberikan oleh Allah dalam menjalani hidup kita juga untuk mencapai suatu kesalehan hidup.&amp;quot;[12]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;— '''Sinclair Ferguson''' }} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
R.A. Muller menyatakan bahwa Alkitab jelas menyatakan bahwa kita harus menjadi sempurna, namun pada saat yang bersamaan memberikan bukti bahwa kesempurnaan penuh itu tidak bisa dicapai di dalam hidup ini. &amp;amp;lt;ref&amp;amp;gt;R.A. Muller, The International Standard Bible Encyclopedia, Volume Four (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1988), p. 324.&amp;amp;lt;/ref&amp;amp;gt; Hal ini menghantarkan kita pada titik dilematis. Kita tidak bisa secara bebas mengangkat tangan dan mengakui kekalahan. Namun kita juga tidak bisa memiliki mentalitas ‘over pede (percaya diri)’ berkaitan dengan konsep kesempurnaan, yang lebih umum ditemukan di dalam konteks metode berpikir positif daripada yang ada di dalam Alkitab. Satu-satunya cara untuk memecahkan dilema ini adalah dengan menyadari bahwa Perjanjian Baru melihat konsep kesempurnaan dalam dua cara. &amp;amp;lt;ref&amp;amp;gt;William Hendriksen, New Testament Commentary: Philippians (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1962), p. 176.&amp;amp;lt;/ref&amp;amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pandangan Paulus tentang jemaat Filipi adalah kedewasaan, bukan ketidak-bercelaan. Perhatikan bagaimana Alkitab versi New International Version menerjemahkan perkataannya kepada gereja di Filipi: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Setiap dari kita yang sudah dewasa harus memiliki kecenderungan yang sama dalam berbagai hal” (Fil 3:15). “Kesempurnaan” dalam hal ini bisa lebih tepat didefinisikan sebagai “mereka yang sudah menunjukkan perkembangan berarti dalam hal spiritualitas dan keseimbangan hidup” &amp;lt;br&amp;gt; {{LeftInsert| '''Renungkan 1 Petrus 1:14-16'''. Apakah perintah ini kedengarannya tidak realistis? Apakah mungkin Allah meminta anda untuk melakukan suatu hal yang mustahil? }} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adalah suatu hal yang alamiah apabila semua anak mau untuk bertumbuh dengan sempurna. Ini juga berlaku bagi orang percaya. Daripada mengambil pendekatan jalan pintas dan prinsip mencoba-coba dalam mencapai pertumbuhan, kita seharusnya membiarkan panggilan untuk menjadi sempurna itu mendorong kita untuk masuk ke dalam proses pencarian yang serius mengenai bagaimana caranya supaya kita menjadi seperti Yesus. Contoh dari Paulus sendiri seharusnya mampu menjadi contoh bagi kita semua: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert| '''Jawaban''': S, B, B, S, S }} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena aku pun telah ditangkap oleh Kristus Yesus. Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus. (Filipi 3:12-14) &amp;lt;br&amp;gt; {{LeftInsert| 4 Ada stiker mobil yang pernah populer, bertuliskan, “Orang Kristen Itu Tidak Sempurna – Hanya Dimaafkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
}} &amp;lt;br&amp;gt; {{RightInsert| “Pertama-tama kita harus dibuat menjadi sesuatu yang baik sebelum kita bisa melakukan kebaikan.” &amp;lt;br&amp;gt;'''— Hugh Latimer'''}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita melihat pengulangan kata sempurna di dalam surat Paulus yang pertama kepada jemaat di Korintus. “Tetapi jika yang sempurna tiba,” katanya, “maka yang tidak sempurna itu akan lenyap” (1 Korintus 13:10). Dalam konteks ini, sempurna adalah istilah yang diberikan secara khusus pada Allah Bapa– sebuah konsep kesempurnaan yang tidak akan bisa ditemukan sampai Kristus datang. Teolog Louis Berkhof lebih cenderung untuk membicarakan ''kesempurnaan-kesempurnaan'' Allah daripada kualitas karakteristikNya. .&amp;amp;lt;ref&amp;amp;gt;Louis Berkhof, Systematic Theology (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1941), p. 52.&amp;amp;lt;/ref&amp;amp;gt; Allah itu benar-benar tak bercacat cela. Tidak peduli seberapa matangnya kita di dalam hidup ini, kita tidak akan pernah mencapai kesempurnaan sampai suatu saat Allah menyempurnakan kita di dalam kemuliaan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Tujuh Alasan Untuk Menutup Celah  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada umumnya, dunia sudah memiliki kesan negatif terhadap kesucian. Banyak pihak menyamakan hal itu dengan suatu hal yang suram, memikul salib tanpa adanya sukacita. Hal itu lebih dilihat sebagai suatu kondisi “lebih-suci-dari-kamu” sebagai suatu tindakan pembenaran diri sendiri, daripada melihat hal itu sebagai suatu pengalaman yang penuh sukacita. Sebelum kita menutup bagian ini, marilah kita menghilangkan pendapat demikian dengan melihat pada beberapa keuntungan dan berkat yang dapat kita peroleh dari tindakan mengikuti Kristus. Ini adalah tujuh buah dari penyucian (pengudusan): &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Allah dipermuliakan'''. Ketika kita suci, kita semakin mempercayai bahwa Allah itu sungguh nyata dan menakjubkan seperti yang dinyatakan sendiri olehNya. Paulus menyatakan bahwa pekerjaan-pekerjaan baik yang dilakukan oleh orang Kristen memperindah doktrin mengenai Kristus (Titur 2:10). Bahkan mereka yang menolak Allah akan dipaksa untuk mengakui keberadaanNya ketika para pengikutnya berjalan di jalanNya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Hubungan berkelanjutan dengan Allah Bapa di dalam hidup ini.''' “Jika seorang mengasihi Aku,” kata Yesus “ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia” (Yohanes 14:23). Merupakan suatu sukacita dan ketenangan yang luar biasa apabila kita mengalami hadirat Allah dan Anak melalui Roh kudus. Dan Yesus menandakan bahwa hadirat ini adalah suatu hadirat yang dipenuhi dengan kasih, bukan dengan nuansa yang dingin. Tentu saja, bersamaan dengan kehadiranNya akan datang juga kuasaNya, yang memampukan kita untuk mengalahkan tantangan-tantangan di dalam hidup kita. &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Persekutuan dengan orang percaya lainnya'''. Apabila kita berjalan di dalam kegelapan, kita tidak bisa menikmati persekutuan yang tulus dengan sesama orang percaya. “Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa” (1 Yohanes 1:7). Allah berjanji untuk melengkapi kita dengan belas kasihan, hai rekan-rekan seperjalanan yang sedang menjalani jalan menuju penyucian. Bagi saya pribadi, saya menemukan bahwa kebenaran Allah ditambah dengan contoh-contoh para pelayan Allah lainnya adalah suatu hal yang penting bagi pertumbuhan spiritual saya. Dan selama saya berjalan di jalanNya, saya tidak pernah kekurangan keduanya. Kita saling membutuhkan satu sama lain (dalam konteks gereja) apabila kita hendak berhasil. Kekudusan dan komunitas Kristiani akan saling melengkapi satu sama lain. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''K''''''eyakinan akan keselamatan'''. Walaupun keselamatan kita tidak didasarkan pada usaha kita untuk mencapai kekudusan, keyakinan akan keselamatan cenderung untuk berkaitan dengan kekudusan hidup. Di dalam surat Petrus yang kedua, Petrus menggugah para pembaca untuk sungguh-sungguh berusaha senantiasa mengumpulkan karakteristik spiritual, menambahkan kepada iman kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang yang dimiliki secara berkelimpahan (2 Petrus 1:5-9). Dia mengingatkan bahwa apabila ada yang tidak memiliki semuanya itu, maka ia akan lupa .... ... bahwa dosa-dosanya yang dahulu telah dihapuskan. Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung. Dengan demikian kepada kamu akan dikaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. (2 Petrus 1:9-11) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Pengabaran Injil. '''Sebagai seorang muda yang masih dibawah pengaruh dosa, saya mencoba sebisa saya untuk menemukan kesalahan-kesalahan di dalam hidup orang percaya supaya saya bisa menolak pesan yang mereka sampaikan dan mencap mereka sebagai orang munafik. Namun walaupun mereka tidak sempurna, tapi saya tidak bisa menemukan ketidak-konsistenan yang tergolong fatal. Sebuah keluarga besar yang menjangkau saya dengan Injil lebih memberikan pengaruh kepada saya lewat gaya hidup mereka daripada dengan perkataan-perkataan yang diucapkan. Sang suami mengasihi istrinya, sang istri menghormati suaminya, anak-anak menaati orang tuanya, dan mereka semua sangat bersuka cita. Saya tidak pernah melihat hal seperti itu. {{RightInsert| '''Renungkan 1 Petrus 2:12'''. Walaupun orang yang belum percaya mungkin menghina gaya hidup anda sekarang, akibat apa yang mungkin mereka terima pada akhirnya?&lt;br /&gt;
}}&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah disampaikan bahwa meskipun dunia mungkin tidak membaca Alkitab, tapi dunia membaca orang-orang Kristen. Allah menggunakan orang-orang kudus untuk menjangkau orang lain. Bukan orang yang sempurna, namun kudus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Pemahaman, kebijakan, dan pengetahuan'''. Harta-harta inilah yang akan diperoleh mereka yang mencari Allah dengan sepenuh hati (Amsal 2:1-11). Mereka terlindungi dari para penghujat, pemberontak, dan para orang bodoh. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Melihat Allah.''' Alkitab menyatakan, “Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan” (Ibrani 12:14). Meskipun arti sebenarnya dari pasal ini masih dilingkupi oleh misteri, tapi Alkitab bisa memberikan gambaran mengenai “Penglihatan yang Menakjubkan,” atau melihat Allah. Hal itu akan terjadi ketika Tuhan datang kembali, ketika semua musuh sudah dikalahkan dan kita semua sudah disucikan dengan sempurna. Pada saat itu, penglihatan kita mengenai Allah akan berkelanjutan dan intens, tanpa distraksi atau tindakan yang berfokus pada ke ‘aku’ an akibat dari dosa. Bukan berarti pengetahuan kita akan Allah akan menjadi sempurna, karena Ia akan terus menyatakan diriNya lebih dan lebih lagi.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; {{LeftInsert| “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.”&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;—'''Yesus''' (Matius 5:8) }}&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berbahagialah orang yang suci hatinya, “ kata Yesus, “karena mereka akan melihat Allah” (Matius 5:8). Penyataan akan kebesaran dan kebaikanNya adalah hal terindah yang bisa kita dapatkan apabila kita menjalani hidup kita dengan penuh kekudusan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Seperti yang sudah anda lihat, ada banyak alasan baik yang dapat menggugah kita untuk menutup celah antara harapan Allah akan diri kita, dan pengalaman kita pribadi. Kita diciptakan untuk turut ambil bagian dalam kekudusanNya-bukan hanya di surga, namun juga di bumi. Selangkah demi selangkah, kita bisa belajar untuk mengalahkan dosa dan hidup dengan cara yang semakin lama semakin memancarkan kemuliaan dan karakter Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam bab pertama, kami sudah mencoba untuk menarik minat anda pada kesalehan hidup. Dimulai dari bab kedua, kami akan membangun kerangka Alkitabiah yang dibutuhkan untuk mendukung suatu kehidupan yang kudus- dan penuh sukacita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Diskusi Kelompok  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Apa gejala-gejala yang menandakan seseorang sedang terperangkap di tengah? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Celah antara standar-standar Allah dan perilaku kita sendiri tidak bisa dihindari; namun terlalu berlebihan apabila kita menamakan diri kita munafik. Di mana kita bisa menarik garis untuk membedakan keduanya? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Bagaimana menjelaskan hubungan antara penyucian diri kita dengan sejarah masa lalu dan harapan di masa depan? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Rasa takut akan Allah, menurut penulis, adalah suatu “syarat untuk mencapai keintiman rohani dengan Allah.” (Hal. 7) Apa maksudnya? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Sejauh mana seorang kristen yang dewasa rohani bisa bebas dari dosa? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6. Sekarang setelah anda selesai membaca bagian ini, bagaimana anda akan menjelaskan Matius 5:48 kepada orang yang baru percaya? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bacaan Yang Direkomendasikan  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*How to Help People Change 'by Jay E. Adams (Grand Rapids, MI: Zondervan Publishing House, 1986)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Saved by Grace by Anthony A. Hoekema (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1989)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Referensi &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;amp;lt;references /&amp;amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Susanlim</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/How_Can_I_Change%3F/Caught_in_the_Gap_Trap/id</id>
		<title>How Can I Change?/Caught in the Gap Trap/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/How_Can_I_Change%3F/Caught_in_the_Gap_Trap/id"/>
				<updated>2009-02-03T14:25:41Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Susanlim: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|Bagaimana Saya Bisa Berubah?/Terperangkap di Tengah}}&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semua yang kini sedang bergumul melawan amarah, silakan maju ke depan. Kami mau berdoa untuk anda.”&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu itu hari Minggu pagi. Saya baru saja menyelesaikan khotbah mengenai amarah, dan saya mau memberikan waktu bagi Roh Kudus untuk bekerja di dalam hati orang-orang yang hadir saat itu. Namun saya terkejut melihat respon yang diberikan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekitar dua puluh orang-orang yang rendah hati maju ke depan mimbar—untuk ukuran gereja kami, jumlah ini cukup besar. Namun, bukan jumlahnya yang menarik perhatian saya. Yang menarik perhatian saya adalah orang-orang yang maju ke depan. Sembilan belas dari dua puluh orang yang maju ke depan adalah para ibu muda! (Amarah sangat rentan dialami oleh para ibu, sejauh yang saya ketahui.) Sebagai gembala, saya tahu bahwa para wanita ini adalah orang kristen yang sungguh-sungguh. Apa yang menyebabkan mereka maju ke depan adalah rasa frustasi mendalam mereka yang dialami karena mereka merasa terperangkap di tengah -- zona antara standar Alkitabiah yang berkaitan dengan penguasaan diri, dan kegagalan mereka untuk hidup menurut standar Alkitabiah itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah masalah itu berkaitan dengan amarah, ketakutan, kekuatiran, atau suatu hal yang umum, seperti kemalasan, kita semua sudah mengalami perasaan terperangkap di tengah, antara siapa diri kita saat ini, dan siapa diri kita seharusnya. Alkitab menyatakan bahwa kita adalah ciptaan baru, para pemenang, penakluk. Dan kita bukan hanya sekedar pemenang, melainkan lebih dari seorang pemenang (Roma 8:37). Kadang kita memang merasa seperti itu. Namun yang lebih sering, kita mengalami kesulitan melihat suatu hal yang melampaui kelemahan-kelemahan dan kegagalan-kegagalan kita. Dan yang menariknya, justru di saat-saat seperti ini, ayat dalam Matius 5:48 mendadak jadi tampil ke permukaan: “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| '''Untuk Dipelajari Lebih Lanjut:''' Bahkan Rasul Paulus mengalami saat dimana ia merasa terperangkap di tengah (Roma 7:21-25). Dapatkah anda membandingkan rasa frustrasi anda dengan rasa frustrasi yang dialami Rasul Paulus?}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlahan kita menghela nafas dan berkata,''Hal itu tidak akan pernah menjadi kenyataan''. &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya menyebut kondisi ini sebagai “perangkap tengah”. Berikut adalah cara kerjanya: Sebagai orang kristen, kita semua memiliki pengetahuan mengenai hal-hal yang diharapkan Allah dari diri kita. Namun pada kenyataannya, apa yang kita capai jauh dari apa yang -kita tahu- sebenarnya harus kita capai. Maka, terciptalah suatu jarak antara apa yang kita tahu harus kita lakukan, dan performa kita yang sesungguhnya. Apabila jarak antara keduanya terlampau jauh, kita bisa saja langsug di cap sebagai seorang munafik. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| “Kehidupan kekristenan semata-mata berkaitan dengan perubahan karakter intrinsik kita menuju karakter Kristus.. Tujuan dari ayat-ayat ini (Misalnya Roma 6, Kolose 3: 5-14, Efesus 4:22-32) adalah untuk menunjukkan kepada kita bahwa ada jarak yang hebat antara siapa kita di dalam Kristus (pembenaran) dan siapa kita sebenarnya dalam kehidupan keseharian kita (pengudusan), yang tujuannya adalah untuk mendorong kita agar kita menutup jarak yang ada antara keduanya... Tujuan Paulus adalah untuk mengugah kita supaya dalam kehidupan keseharian kita, kita mampu menampilkan perilaku-perilaku yang menggambarkan siapa kita sebenarnya di dalam Kristus.” &amp;lt;br&amp;gt;- '''Jay Adams'''}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Situasi ini adalah suatu hal yang nyata dalam kehidupan kekristenan. Bagi sebagian besar, tidak dibutuhkan orang lain untuk memberitahu kita mengenai ketidak-konsistenan di dalam hidup kita—kita semua terlalu manyadarinya. Kesadaran itu seharusnya membuat kita menjadi semakin rendah hati dan menggantungkan diri kepada Tuhan supaya kita bisa berhasil menutup ketidak-konsistenan itu. Namun biasanya momen ‘terjebak di tengah’ ini muncul akibat ketidakpedulian kita akan doktrin atau ajaran mengenai pengudusan. Daripada menyadari kalau jarak ini ada sebagai pertanda bahwa kita membutuhkan pertolongan dari Allah saja, kita malah membiarkan jarak ini untuk menghukum kita, dan memperlambat kemajuan kita. Kita menjadi terjebak dalam pemikiran bahwa kita adalah seorang pecundang, bodoh, orang yang penuh kegagalan... dan mungkin saja bukan benar-benar seorang Kristen. Beberapa orang bahkan terperosok lebih jauh dalam ketidaktaatan. Mereka yang terjebak di situasi seperti ini (dan pada level tertentu, kita semua termasuk di dalamnya) mengalami penderitaan (yang sebenarnya tidak diperlukan) karena patah semangat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai seorang gembala, salah satu tanggung jawab utama saya adalah membantu orang-orang agar bisa keluar dari jebakan ini. Saya sering menyampaikan pada orang-orang, “Hal itu tidak akan instan terjadi, dan membutuhkan usaha yang sungguh-sungguh, namun supaya bisa keluar dari jebakan itu tidaklah rumit. Dan percayalah, anda tidak akan kecewa melihat hasilnya.” Mungkin anda merasa bahwa anda sedang berada di posisi seperti ini. Jika demikian, kami yakin buku ini dapat menolong anda untuk menutup jarak yang ada antara siapa anda seharusnya di dalam Kristus dan siapa anda sebenarnya dalam kehidupan keseharian anda. Dapatkah anda membayangkan kehidupan dimana anda mematahkan kebiasaan-kebiasaan anda yang penuh dosa dan membuat kemajuan nyata dalam kehidupan rohani anda? kehidupan seperti itu sungguh mungkin adanya. Dan buku ini ditulis untuk menguatkan dan menyertai anda seiring dengan usaha anda untuk mencapai yang kehidupan seperti itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Diantara “Sekarang” dan “Yang Akan Datang” &amp;lt;br&amp;gt;  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| Apakah ada area-area dalam hidup anda yang anda sadari kurang memenuhi ekpektasi Allah? (Tuliskan dengan singkat sebuah area itu di bawah)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
}}&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak diragukan, bahwa salah satu hal yang paling membuat kita frustrasi terkait dengan kehidupan kekristenan adalah kontradiksi yang nyata antara siapa kita di mata Allah, dan siapa diri kita dalam pendapat kita sendiri. Ambil contoh jemaat di Korintus, misalnya. Rasul Paulus pada satu titik meyakinkan mereka bahwa, “Kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita.” (1 Korintus 6:11). Sepertinya berhenti sampai di situ saja, bukan? Sampai kita membaca surat kedua Paulus pada jemaat ini, yang isinya nyaris bertolak-belakang dengan yang pertama disampaikan: “Marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah” (2 Korintus 7:1). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di pikiran saya, mungkin saja para jemaat di Korintus merasa bingung. Apakah mereka sudah disucikan... atau masih tercemar? sebenarnya dua-duanya berlaku untuk mereka, dan juga kita. Untuk menjelaskan hal itu, mari saya ajak anda untuk menyimak hal di berikut ini.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| '''Renungkan 1 Yohanes 3:2-3'''. Apa pengaruh dari pemikiran kita tentang “yang akan datang” terhadap apa yang ada “saat ini”}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kerajaan Allah itu adalah “saat ini” dan “yang akan datang”. Dalam beberapa hal, Kerajaan Allah berkaitan dengan masa kini, dan untuk beberapa hal lainnya, Kerajaan Allah berkaitan dengan masa mendatang. Allah kita telah menyatakan dan menunjukkan bahwa Kerajaan (atau hukum) Allah sudah bersinggungan dengan sejarah manusia: “Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu” (Lukas 11:20). Namun, Kerajaan Allah belum datang seutuhnya. Hal itu tidak akan terjadi sampai Yesus datang kembali dalam kuasaNya, ketika setiap lutut kan bertelut dan semua lidah mengaku bahwa Dialah Allah. Sampai hal itu terjadi, tanpa menyangkal kehadiran Kerajaan Allah yang ada di dalam dunia ini, kita berdoa, “''Datanglah'' Kerajaan-Mu” (Matius 6:10) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan demikian, Kerajaan Allah berjalan seiringan dengan kehidupan kita. Allah, lewat karya pembenaran-Nya, sudah menyatakan bahwa kita adalah orang-orang benar. Posisi kita di mata Allah sudah berubah. Masalah itu sudah diselesaikan sekali dan untuk selama-lamanya di Surga. Namun, di sisi surga lainnya (bumi), perubahan internal kita merupakan suatu proses yang sedang berjalan. Proses penyucian ini membuat saya sibuk sebagai seorang pribadi Kristen, dan juga memberikan saya banyak pekerjaan dan tugas sebagai seorang gembala. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, apakah kita sudah memiliki kemenangan di dalam Yesus atau belum? apakah kita para pemenang, atau apakah kita masih harus berjuang? Oscar Cullmann memberikan ilustrasi dari Perang Dunia ke-2, yang saya percaya dapat membantu kita menangkap hal yang kesannya bertentangan ini. &amp;lt;ref&amp;gt;Oscar Cullman, Christ and Time (Philadelphia, PA: The Westminster Press, 1964), p. 3.&amp;lt;/ref&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejarah mencatat dua peristiwa besar yang menjadi pangkal berakhirnya Perang Dunia ke-2: D-Day dan VE-Day. D-Day terjadi pada 6 Juni 1944, ketika para pasukan Sekutu mendarat di Normandy, Perancis. Ini adalah titik balik dalam perang yang berlangsung; ketika pendaratan ini berhasil, nasib Hitler sudah sangat jelas. Pada dasarnya, perang sudah berakhir. Namun kemenangan total di Eropa (VE-Day) tidak terjadi sampai tanggal 7 Mei 1945 ketika pasukan Jerman menyerah di Berlin. Periode sebelas bulan ini dicatat sebagai salah satu periode pertumpahan darah terbesar sepanjang sejarah perang. Pertempuran-pertempuran terjadi di seluruh Perancis, Belgia, dan Jerman. Walaupun secara fisik para musuh sudah terluka, namun mereka tidak sepenuhnya menyerah.&amp;lt;br&amp;gt; {{LeftInsert| “Pemilihan Ilahi adalah jaminan bahwa Allah akan bekerja dalam melengkapi pemilihan kita (untuk diselamatkan oleh anugerah-Nya) dengan anugerah pengudusan-Nya. Ini adalah arti dari Perjanjian Baru: Allah tidak hanya sekedar memerintahkan agar kita taat kepadaNya, namun juga memberikan kemampuan pada kita untuk menaatiNya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-'''John Piper''' }}&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salib adalah D-Day kita. Di sana, Tuhan kita Yesus Kristus mati disalibkan, untuk mematahkan belenggu dosa dari umatNya. Berdasarkan kematian dan kebangkitanNya, kita semua dibenarkan. Namun, kemenangan akhir akan terjadi ketika Ia datang. Tidak ada keraguan mengenai hasil akhirnya. Namun kita masih akan menemui gesekan-gesekan dan pertandingan-pertandingan sampai Tuhan muncul di dalam kemuliaanNya untuk memusnahkan kuasa kegelapan selamanya. {{RightInsert| '''Untuk Bacaan Lebih Lanjut''': Bacalah 1 Petrus 5:8-9. Walaupun kemenangan akhir Allah tidak bisa disangkal, namun kita harus tetap berjuang melawan musuh kita.}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fakta ini, apabila kita tetap berusaha untuk mengingatnya, dapat membuat kita tidak patah semangat. Pertarungan masih berlangsung, namun peperangan utama sudah dimenangkan. Kesadaran akan karya pengorbanan Kristus yang telah dilakukan bagi kita sangat penting untuk memacu semangat moral kita seiring dengan usaha kita untuk mencapai suatu kekudusan hidup. Kita harus mempelajari dan merenungkan doktrin utama mengenai pembenaran sampai hal itu sungguh tertanam dalam kesadaran kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== '''Butuh Obat Kumur?'''  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun kita sudah dibenarkan sepenuhnya di dalam Kristus (D-Day), bukan berarti kita sudah sepenuhnya disucikan (VE-Day). Beberapa orang gagal memahami hal ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengajar Alkitab Ern Baxter menyampaikan kejadian yang terjadi saat Latter Rain Revival di akhir tahun 1940-an. Ada suatu ajaran menyimpang yang dinamakan “manifestasi anak-anak Allah”. Pada intinya ajaran itu menyampaikan doktrin yang menjanjikan kekudusan total di dalam hidup ini. Pada bentuk ekstrimnya, ajaran itu termasuk kepercayaan bahwa elit spiritual akan menerima tubuh kemuliaan sebelum kedatangan Kristus untuk kedua kalinya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada sesi penutupan acara dimana Baxter menjadi pembicaranya, beberapa ‘anak-anak Allah’ muncul di pojok auditorium berbalutkan jubah putih. Ketika ia selesai menyampaikan Firman, mereka berjalan ke depan dan mulai mencoba untuk menarik pengikut-pengikut baru bagi doktrin mengenai kesempurnaan total yang mereka ajarkan. Ketika ia mengingat peristiwa itu, ia menyatakan, “Wanita yang menjadi kelompok di grup itu benar-benar membutuhkan Listerine (merek obat kumur). Bukan itu jenis kesempurnaan yang saya nantikan.” &amp;lt;ref&amp;gt;Ern Baxter, taped message, “Sanctification,” n.d. &amp;lt;/ref&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih umum dari skenario yang terjadi lewat peristiwa yang dialami oleh Ern Baxter diatas, adalah situasi-situasi yang terjadi akibat dari kurangnya pengetahuan dan kecenderungan untuk menyederhanakan konsep kekudusan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| 2 Kalau anda mencari kesempurnaan total di dalam hidup ini, kira-kira mana dari antara beberapa hal di bawah ini yang paling sulit untuk dilakukan oleh anda? &lt;br /&gt;
*Sama sekali tidak akan pernah mengendarai mobil lebih dari batas kecepatan. &lt;br /&gt;
*Berbicara dengan hangat dan lembut pada setiap sales yang menelepon rumah anda. &lt;br /&gt;
*Mengindari semua kalori yang tidak dibutuhkan. &lt;br /&gt;
*Tidak pernah memukul jam weker anda ketika ia membangunkan anda. &lt;br /&gt;
*Senantiasa membayar pajak penghasilan anda dengan sukacita.}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu saya baru menjadi orang percaya, saya berjumpa dengan seorang pria muda bernama Greg, mengaku menjadi seorang perampok dan pengguna obat terlarang yang sepertinya bertobat waktu di dalam penjara. Pegangan hidup Greg dalam menjalani kehidupan kekristenan sangat memukau diri saya. Ia membawakan dirinya dengan keyakinan penuh dan sedikit keangkuhan. Ia berbicara seakan-akan dosa itu bukan menjadi suatu masalah lagi baginya. Lebih dari sekali dia mengatakan kepada saya betapa ia sudah “diselamatkan, disucikan, dan dipenuhi oleh Roh Kudus.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar dia mengatakan hal itu, sepertinya membuat hal itu seakan-akan mudah dan sederhana. Sebagai seorang Kristen yang baru, pada suatu waktu ia naik ke dalam kereta, dan waktu dia baru berangkat, beberapa jam kemudian ia sudah mengalami apa yang dinamakan olehnya sebagai “pengalaman pengudusan.” Dia berusaha meyakinkan saya bahwa pengalaman itu adalah hal yang dibutuhkan pertama kali untuk menerima baptisan Roh Kudus, dan sekali itu terjadi, itu akan berlaku selamanya. Saya harus mengakui di sini, bahwa ada beberapa hal tentang Greg yang kesannya tidak terlalu kudus. Ia mempunyai kecenderungan untuk menghakimi orang dan perilaku seorang farisi. Ia bisa menjadi seorang yang terlalu menguasai dan picik. Saya ingat pada suatu saat ketika seorang teman tidak sengaja meletakkan suatu benda di atas Alkitabnya: “Maaf—itu kan Firman Allah!” Tapi tetap saja, dia yakin dia bisa mengutip Alkitab, dan sepertinya sangat memahami perihal pengudusan.&amp;lt;br&amp;gt; {{RightInsert| '''Untuk Renungan Lebih Lanjut''': Bacalah Matius 26:41. Kapan waktunya kita bisa aman menganggap bahwa kita sudah “sampai” pada titik pengudusan?}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sangat mengejutkan ketika pada akhirnya ia kembali mengedarkan dan memakai obat terlarang. Masalah Greg terkait dengan kurangnya pemahaman dan juga kesalah-pahaman mengenai ajaran Alkitab terkait dengan konsep pengudusan. Ia sudah melakukan kesalahan seperti yang banyak orang lakukan dengan hanya memfokuskan perhatian pada beberapa ayat Alkitab favorit yang sepertinya membenarkan pengalaman pribadinya.&amp;lt;br&amp;gt; {{LeftInsert| &amp;quot;Kekudusan bukan jalan menuju Kristus. Kristus, adalah jalan menuju kekudusan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; '''—Adrian Rogers'''}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; Kekudusan itu sifatnya ''pasti'' (terjadi saat kita bertobat) dan ''progresif'' (terus berlangsung). Semua ini tidak terjadi pada sekali waktu di masa lalu, dan bukan juga suatu hal yang akan terjadi secara bertahap. Kita ''sudah diubahkan'' dan kita ''sedang berubah''. Tanpa mengesampingkan keberhasilan pendaratan kita di Normandy, marilah kita bijak dan realistis saat menilai adanya oposisi yang ada diantara kita dan Berlin. Kita tidak punya pilihan yang memungkinkan kita untuk mendapatkan tiket naik ke dalam kereta pengudusan, seperti yang Greg yakini. Hal itu akan menjadi suatu pertandingan di setiap langkah kehidupan kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Setimpal dengan Usahanya  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi beberapa orang, “pengudusan” adalah suatu istilah teologis yang sering didengar, namun jarang dimengerti. Kedengarannya itu adalah suatu hal yang cocok untuk mahasiswa teologia dan kurang praktis untuk kehidupan sehari-hari. Namun sebaliknya, hal itu adalah suatu hal yang sangat amat praktis, dan bisa dikaitan dengan kehidupan keseharian. Doktrin mengenai pengudusan bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh hampir seluruh orang Kristen di dalam sejarah gereja. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana saya bisa berubah? &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana saya bisa bertumbuh? &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana saya menjadi serupa dengan Kristus? &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Bagaimana saya bisa tidak terperangkap di tengah?'' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apapun yang bisa menjawab pertanyaan itu akan mengharuskan kita untuk melakukan beberapa usaha. Lampiran A (halaman 93) menunjukkan bahwa beberapa cabang gereja sudah membicarakan masalah ini di masa lalu, namun mari kita lihat apa yang bisa kita pelajari mengenai aplikasi dari doktrin yang penting ini pada masa kini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Arti Alkitabiah dari kata ''menguduskan'' (menyucikan) adalah “untuk memisahkan; mengkhususkan.” (''Kesucian'' berasal dari akar kata yang sama dalam bahasa Yunani) Hal ini bisa diaplikasikan pada orang, tempat, situasi, atau benda tertentu. Ketika suatu hal dikuduskan, hal itu akan dipisahkan dari pemakaian pada umumnya dan didedikasikan untuk kepentingan khusus. Misalnya, pada jaman Musa, Hari Raya Pendamaian dikuduskan bagi Allah yang Kudus. Hari itu menjadi hari yang kudus. Sebuah hal yang dikuduskan tidak akan serta merta menjadi suci karena dipisahkan dari hal lainnya; kesucian yang didapat akan berasal dari untuk apa (atau kepada siapa) kah hal itu disucikan. Karena hanya Allah saja yang suci, maka hanya Dia-lah yang bisa mengimpartasikan kesucian. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara teologis, istilah “pengudusan” telah dipergunakan untuk menggambarkan proses yang dilalui oleh seorang percaya ketika Roh Allah sedang bekerja di dalam hidupnya untuk membuat dirinya semakin menyerupai Kristus. Prosesnya dimulai saat kita lahir baru, dan terus berlangsung sepanjang kita hidup. Hal ini ditandai dengan konflik keseharian seiring dengan usaha kita untuk mengalahkan dosa yang ada di dalam diri kita dengan anugerah dan kekuatan yang Allah berikan bagi kita. Camkan di dalam pikiran bahwa rasa bersalah yang didapat dari dosa sudah dihilangkan lewat pembenaran, sebagaimana yang dijelaskan oleh Anthony Hoekema; penyucian menghilangkan ''pencemaran'' akibat dosa: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang dimaksud dengan ''rasa bersalah'' adalah kondisi di mana kita layak mendapatkan penghukuman atau harus bertanggung jawab untuk menerima hukuman karena telah melanggar hukum Allah. Yang dimaksud dengan pembenaran, sebagai tindakan deklaratif Allah, adalah bahwa rasa bersalah akibat dosa dihilangkan atas dasar karya utama Yesus Kristus. Yang dimaksud dengan ''pencemaran'' adalah bahwa kita memiliki kecenderungan bawaan yang terjadi sebagai akibat dari dosa yang juga pada akhirnya menciptakan dosa lain lebih lanjut. Sebagai akibat dari kejatuhan Adam dan Hawa, kita semua lahir dengan kondisi seperti ini; dosa-dosa yang kita lakukan tidak hanya berasal dari kecenderungan kita untuk berdosa, namun juga menambah kecenderungan itu sendiri. Yang dimaksud dengan ''penyucian'' adalah kondisi dimana pencemaran yang didapat dari dosa sedang dalam proses (tahapan) pembersihan (walaupun hal itu tidak akan sepenuhnya dibersihkan sampai kita memasuki hidup baru di Surga).&amp;lt;ref&amp;gt;7. Anthony A. Hoekema, Saved by Grace (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1989), pp. 192-93.&amp;lt;/ref&amp;gt;  {{RightInsert| '''Untuk Bacaan Lebih Lanjut''': Apakah anda menyadari betapa penting dan bermanfaatnya apabila kita memiliki perasaan takut akan Allah? (Lihat Mazmur 19:9 dan 25:14, Amsal 1:7 dan 9:10, dan 1 Petrus 1:17.)}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alkitab juga mendefinisikan penyucian sebagai proses pertumbuhan menuju hidup yang saleh. Hidup yang saleh merujuk pada suatu kehidupan yang menunjukkan dedikasi kepada Allah, dan karakter yang muncul akibat dedikasi tersebut. Hidup yang saleh melibatkan kasih terhadap Allah dan kerinduan akan Allah.&amp;lt;ref&amp;gt;Jerry Bridges, The Practice of Godliness (Colorado Springs, CO: NavPress, 1983), pp. 15-20.&amp;lt;/ref&amp;gt;  Selain itu juga mengandung rasa takut akan Allah, yang menurut John Murray adalah “jiwa dari hidup yang saleh”. &amp;lt;ref&amp;gt;Ibid., p. 24.&amp;lt;/ref&amp;gt; Karena telah ditebus dari ancaman hukuman kekal, orang Kristen menyatakan rasa takutnya kepada Allah dengan memfokuskan diri tidak kepada murka Allah, tapi kepada “kemuliaan, kekudusan dan keagunganNya...”. ”&amp;lt;ref&amp;gt;Ibid., p. 26.&amp;lt;/ref&amp;gt; Rasa takut akan Allah mempunyai dampak yang baik bagi hati kita, dimana rasa ini akan memurnikan hati kita, dan juga hal ini adalah syarat apabila kita hendak menjalin hubungan yang lebih intim dengan Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hidup yang saleh melibatkan lebih dari sekedar unsur moralitas atau tindakan fanatik. Hal tersebut berasal dari kesatuan dengan Kristus dan hasrat untuk memuliakanNya. Seorang yang saleh akan berkeinginan untuk menjadi seperti Tuhan-nya juga ingin untuk menyenangkan hatiNya. Ia ingin merasakan apa yang dirasakan olehNya, memikirkan apa yang dipikirkan oleh Tuhan-nya melebihi dirinya sendiri, dan melakukan apa yang menjadi kehendakNya. Secara singkat, orang seperti ini ingin menjadi seseorang yang memiliki karakter Allah, sehingga Allah bisa dimuliakan lewat hidupnya. Tidak ada hal lain yang layak diperjuangkan sepanjang hidup kita: “Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang” (1 Timotius 4:8). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baik Allah maupun manusia memegang peran penting dalam konteks penyucian. Allah, dengan anugerahNya, memulai karya penebusan di dalam kita dan memberikan keinginan serta kuasa untuk mengalahkan dosa. Sebagai respon sekaligus sambil bersandar pada anugerahNya, kita menaati perintah Alkitab&amp;amp;nbsp;: “karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya. Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan” (Filipi 2:12-13) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|“Penyucian, menurut Westminster Shorter Catechism, adalah ‘pekerjaan dari anugerah Allah yang diberikan secara cuma-cuma, dimana kita diperbaharui menjadi manusia seutuhnya berdasarkan gambaran Allah, dan dimampukan lebih dan lebih lagi untuk mati bagi dosa, dan hidup bagi kebenaran.’ Konsep yang terkandung di dalam hal ini adalah bukan berarti dosa itu dihapuskan total (hal ini terlalu berlebihan) atau hanya ditangkis (hal ini terlalu meremehkan), namun berkaitan dengan perubahan karakter ilahi kita yang membebaskan kita dari kebiasaan-kebiasaan kita yang penuh dosa dan membentuk kita menjadi serupa dengan Kristus dalam hal perasaan, sifat, dan karakteristik-karakteristik lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
— '''J.I. Packer'''&lt;br /&gt;
}} &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam Perjanjian Baru, posisi dari hidup kudus itu berada pada titik tengah antara legalitas di satu sisi, dan lisensi di sisi lainnya. Semua tradisi gereja yang terlalu menitik beratkan pada karya Allah di dalam kita tanpa menaruh pengharapan bahwa karya itu akan menghasilkan suatu hasrat yang terus bertambah di dalam diri kita untuk menuju suatu kesalehan hidup, akan cenderung menuju ke arah lisensi. “Karena, seperti yang telah kerap kali kukatakan kepadamu, dan yang kunyatakan pula sekarang sambil menangis, banyak orang yang hidup sebagai seteru salib Kristus. Kesudahan mereka ialah kebinasaan, Tuhan mereka ialah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi” (Filipi 3:18-19). Di lain pihak ada juga pihak yang terlalu menitik beratkan pada porsi manusia sehingga mereka menyimpang dari kebenaran Allah dan berakhir pada prinsip legalitas. (Tentu saja seluruh hal ini mempunyai kadar yang bervariasi). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| '''Renungkan 1 Timotius 6: 11-16.''' Paulus adalah seorang yang sangat mampu menjadi seorang motivator yang handal. }} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bagaimana Meraih Kesempurnaan &amp;lt;br&amp;gt;  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu pertanyaan yang umum diucapkan oleh orang Kristen adalah, “Sejauh mana saya bisa berharap pada proses penyucian ini? Apakah pada akhirnya saya bisa benar-benar bebas dari dosa?” Jenis pertanyaan ini akan menjadi relevan terutama ketika kita membaca pernyataan seperti yang disampaikan oleh Paulus kepada jemaat di Filipi: “Karena itu marilah kita, ''yang sempurna'', berpikir demikian. Dan jikalau lain pikiranmu tentang salah satu hal, hal itu akan dinyatakan Allah juga kepadamu” (Filipi 3:15). Bahkan Yesus menyampaikan hal itu lebih gamblang di ayat yang sudah disebutkan sebelumnya: “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna” (Matius 5:48).&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| 3 Cobalah untuk menjawab kuis Benar/Salah di bawah ini, untuk mengetahui sejauh mana anda sudah memahami materi ini: (Jawaban dicetak terbalik di bagian bawah halaman 9) &lt;br /&gt;
*Arti dari kata “menguduskan (menyucikan)” adalah “menajiskan, memisahkan” '''B S''' &lt;br /&gt;
*Proses penyucian dimulai saat kita lahir baru, dan terus berlangsung sepanjang kita hidup. '''B S''' &lt;br /&gt;
*Rasa bersalah yang didapat dari dosa sudah dihilangkan lewat pembenaran '''B S'''&lt;br /&gt;
*Hidup yang saleh hanya memiliki arti yang berkaitan dengan unsur moralitas atau tindakan fanatik seseorang. '''B S''' &lt;br /&gt;
*Hanya Allah yang bertanggung jawab terhadap proses penyucian kita. '''B S'''}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah Allah sungguh berharap supaya kita mencapai tahap kesempurnaan? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keinginan untuk menjadi sempurna sudah menginspirasi banyak orang untuk mencari Allah. Di sepanjang sejarah manusia, banyak penulis puisi dan filosofer yang mengekspresikan keinginan untuk mencapai kembali kesucian hidup. Penulis lagu kontemporer Crosby, Stills, dan Nash merayakan pengalaman Woodstock dengan lagu yang berlirik, “Kita adalah debu bintang-bintang, kita ini berharga, kita terjebak di dalam penawaran iblis. Dan kita harus mencari cara kembali ke Taman (Surga).” Masalahnya, kita semua tahu kalau kita ini jauh dari kesempurnaan. Dalam dunia khayal perfilman, Mary Poppins bisa saja dengan riang menyatakan bahwa dia adalah “sempurna di segala hal,” namun di kehidupan nyata, hal itu tidak mungkin terjadi. Dan tentu saja kita tidak bisa menjadi sempurna lewat metode Woodstock. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; {{RightInsert| &amp;quot;Ketika terang cahaya...kemuliaan Allah jatuh ke atas roh kita, kita dimenangkan dari segala pemikiran yang palsu dan kurang tepat mengenai kesucian kita sendiri. Kita juga dilindungi dari segala pengajaran murahan yang mendorong kita untuk mempercayai bahwa ada jalan-jalan pintas yang memudahkan kita untuk mencapai kesucian hidup. Kesucian hidup bukanlah sebuah pengalaman; itu adalah penyatuan kembali karakter kita, juga pemugaran kembali satu hal yang sudah menjadi reruntuhan. Hal itu memerlukan ketrampilan dan merupakan suatu proyek jangka panjang yang memerlukan segala hal yang sudah diberikan oleh Allah dalam menjalani hidup kita juga untuk mencapai suatu kesalehan hidup.&amp;quot;[12]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;— '''Sinclair Ferguson''' }} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
R.A. Muller menyatakan bahwa Alkitab jelas menyatakan bahwa kita harus menjadi sempurna, namun pada saat yang bersamaan memberikan bukti bahwa kesempurnaan penuh itu tidak bisa dicapai di dalam hidup ini. &amp;lt;ref&amp;gt;R.A. Muller, The International Standard Bible Encyclopedia, Volume Four (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1988), p. 324.&amp;lt;/ref&amp;gt; Hal ini menghantarkan kita pada titik dilematis. Kita tidak bisa secara bebas mengangkat tangan dan mengakui kekalahan. Namun kita juga tidak bisa memiliki mentalitas ‘over pede (percaya diri)’ berkaitan dengan konsep kesempurnaan, yang lebih umum ditemukan di dalam konteks metode berpikir positif daripada yang ada di dalam Alkitab. Satu-satunya cara untuk memecahkan dilema ini adalah dengan menyadari bahwa Perjanjian Baru melihat konsep kesempurnaan dalam dua cara. &amp;lt;ref&amp;gt;William Hendriksen, New Testament Commentary: Philippians (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1962), p. 176.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pandangan Paulus tentang jemaat Filipi adalah kedewasaan, bukan ketidak-bercelaan. Perhatikan bagaimana Alkitab versi New International Version menerjemahkan perkataannya kepada gereja di Filipi: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Setiap dari kita yang sudah dewasa harus memiliki kecenderungan yang sama dalam berbagai hal” (Fil 3:15). “Kesempurnaan” dalam hal ini bisa lebih tepat didefinisikan sebagai “mereka yang sudah menunjukkan perkembangan berarti dalam hal spiritualitas dan keseimbangan hidup” &amp;lt;br&amp;gt; {{LeftInsert| '''Renungkan 1 Petrus 1:14-16'''. Apakah perintah ini kedengarannya tidak realistis? Apakah mungkin Allah meminta anda untuk melakukan suatu hal yang mustahil? }} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adalah suatu hal yang alamiah apabila semua anak mau untuk bertumbuh dengan sempurna. Ini juga berlaku bagi orang percaya. Daripada mengambil pendekatan jalan pintas dan prinsip mencoba-coba dalam mencapai pertumbuhan, kita seharusnya membiarkan panggilan untuk menjadi sempurna itu mendorong kita untuk masuk ke dalam proses pencarian yang serius mengenai bagaimana caranya supaya kita menjadi seperti Yesus. Contoh dari Paulus sendiri seharusnya mampu menjadi contoh bagi kita semua: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert| '''Jawaban''': S, B, B, S, S }} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena aku pun telah ditangkap oleh Kristus Yesus. Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus. (Filipi 3:12-14) &amp;lt;br&amp;gt; {{LeftInsert| 4 Ada stiker mobil yang pernah populer, bertuliskan, “Orang Kristen Itu Tidak Sempurna – Hanya Dimaafkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
}} &amp;lt;br&amp;gt; {{RightInsert| “Pertama-tama kita harus dibuat menjadi sesuatu yang baik sebelum kita bisa melakukan kebaikan.” &amp;lt;br&amp;gt;'''— Hugh Latimer'''}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita melihat pengulangan kata sempurna di dalam surat Paulus yang pertama kepada jemaat di Korintus. “Tetapi jika yang sempurna tiba,” katanya, “maka yang tidak sempurna itu akan lenyap” (1 Korintus 13:10). Dalam konteks ini, sempurna adalah istilah yang diberikan secara khusus pada Allah Bapa– sebuah konsep kesempurnaan yang tidak akan bisa ditemukan sampai Kristus datang. Teolog Louis Berkhof lebih cenderung untuk membicarakan ''kesempurnaan-kesempurnaan'' Allah daripada kualitas karakteristikNya. .&amp;lt;ref&amp;gt;Louis Berkhof, Systematic Theology (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1941), p. 52.&amp;lt;/ref&amp;gt;  Allah itu benar-benar tak bercacat cela. Tidak peduli seberapa matangnya kita di dalam hidup ini, kita tidak akan pernah mencapai kesempurnaan sampai suatu saat Allah menyempurnakan kita di dalam kemuliaan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Tujuh Alasan Untuk Menutup Celah  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada umumnya, dunia sudah memiliki kesan negatif terhadap kesucian. Banyak pihak menyamakan hal itu dengan suatu hal yang suram, memikul salib tanpa adanya sukacita. Hal itu lebih dilihat sebagai suatu kondisi “lebih-suci-dari-kamu” sebagai suatu tindakan pembenaran diri sendiri, daripada melihat hal itu sebagai suatu pengalaman yang penuh sukacita. Sebelum kita menutup bagian ini, marilah kita menghilangkan pendapat demikian dengan melihat pada beberapa keuntungan dan berkat yang dapat kita peroleh dari tindakan mengikuti Kristus. Ini adalah tujuh buah dari penyucian (pengudusan): &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Allah dipermuliakan'''. Ketika kita suci, kita semakin mempercayai bahwa Allah itu sungguh nyata dan menakjubkan seperti yang dinyatakan sendiri olehNya. Paulus menyatakan bahwa pekerjaan-pekerjaan baik yang dilakukan oleh orang Kristen memperindah doktrin mengenai Kristus (Titur 2:10). Bahkan mereka yang menolak Allah akan dipaksa untuk mengakui keberadaanNya ketika para pengikutnya berjalan di jalanNya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Hubungan berkelanjutan dengan Allah Bapa di dalam hidup ini.''' “Jika seorang mengasihi Aku,” kata Yesus “ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia” (Yohanes 14:23). Merupakan suatu sukacita dan ketenangan yang luar biasa apabila kita mengalami hadirat Allah dan Anak melalui Roh kudus. Dan Yesus menandakan bahwa hadirat ini adalah suatu hadirat yang dipenuhi dengan kasih, bukan dengan nuansa yang dingin. Tentu saja, bersamaan dengan kehadiranNya akan datang juga kuasaNya, yang memampukan kita untuk mengalahkan tantangan-tantangan di dalam hidup kita. &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Persekutuan dengan orang percaya lainnya'''. Apabila kita berjalan di dalam kegelapan, kita tidak bisa menikmati persekutuan yang tulus dengan sesama orang percaya. “Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa” (1 Yohanes 1:7). Allah berjanji untuk melengkapi kita dengan belas kasihan, hai rekan-rekan seperjalanan yang sedang menjalani jalan menuju penyucian. Bagi saya pribadi, saya menemukan bahwa kebenaran Allah ditambah dengan contoh-contoh para pelayan Allah lainnya adalah suatu hal yang penting bagi pertumbuhan spiritual saya. Dan selama saya berjalan di jalanNya, saya tidak pernah kekurangan keduanya. Kita saling membutuhkan satu sama lain (dalam konteks gereja) apabila kita hendak berhasil. Kekudusan dan komunitas Kristiani akan saling melengkapi satu sama lain. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''K''''''eyakinan akan keselamatan'''. Walaupun keselamatan kita tidak didasarkan pada usaha kita untuk mencapai kekudusan, keyakinan akan keselamatan cenderung untuk berkaitan dengan kekudusan hidup. Di dalam surat Petrus yang kedua, Petrus menggugah para pembaca untuk sungguh-sungguh berusaha senantiasa mengumpulkan karakteristik spiritual, menambahkan kepada iman kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang yang dimiliki secara berkelimpahan (2 Petrus 1:5-9). Dia mengingatkan bahwa apabila ada yang tidak memiliki semuanya itu, maka ia akan lupa .... ... bahwa dosa-dosanya yang dahulu telah dihapuskan. Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung. Dengan demikian kepada kamu akan dikaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. (2 Petrus 1:9-11) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Pengabaran Injil. '''Sebagai seorang muda yang masih dibawah pengaruh dosa, saya mencoba sebisa saya untuk menemukan kesalahan-kesalahan di dalam hidup orang percaya supaya saya bisa menolak pesan yang mereka sampaikan dan mencap mereka sebagai orang munafik. Namun walaupun mereka tidak sempurna, tapi saya tidak bisa menemukan ketidak-konsistenan yang tergolong fatal. Sebuah keluarga besar yang menjangkau saya dengan Injil lebih memberikan pengaruh kepada saya lewat gaya hidup mereka daripada dengan perkataan-perkataan yang diucapkan. Sang suami mengasihi istrinya, sang istri menghormati suaminya, anak-anak menaati orang tuanya, dan mereka semua sangat bersuka cita. Saya tidak pernah melihat hal seperti itu. {{RightInsert| '''Renungkan 1 Petrus 2:12'''. Walaupun orang yang belum percaya mungkin menghina gaya hidup anda sekarang, akibat apa yang mungkin mereka terima pada akhirnya?&lt;br /&gt;
}}&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah disampaikan bahwa meskipun dunia mungkin tidak membaca Alkitab, tapi dunia membaca orang-orang Kristen. Allah menggunakan orang-orang kudus untuk menjangkau orang lain. Bukan orang yang sempurna, namun kudus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Pemahaman, kebijakan, dan pengetahuan'''. Harta-harta inilah yang akan diperoleh mereka yang mencari Allah dengan sepenuh hati (Amsal 2:1-11). Mereka terlindungi dari para penghujat, pemberontak, dan para orang bodoh. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Melihat Allah.''' Alkitab menyatakan, “Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan” (Ibrani 12:14). Meskipun arti sebenarnya dari pasal ini masih dilingkupi oleh misteri, tapi Alkitab bisa memberikan gambaran mengenai “Penglihatan yang Menakjubkan,” atau melihat Allah. Hal itu akan terjadi ketika Tuhan datang kembali, ketika semua musuh sudah dikalahkan dan kita semua sudah disucikan dengan sempurna. Pada saat itu, penglihatan kita mengenai Allah akan berkelanjutan dan intens, tanpa distraksi atau tindakan yang berfokus pada ke ‘aku’ an akibat dari dosa. Bukan berarti pengetahuan kita akan Allah akan menjadi sempurna, karena Ia akan terus menyatakan diriNya lebih dan lebih lagi.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; {{LeftInsert| “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.”&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;—'''Yesus''' (Matius 5:8) }}&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berbahagialah orang yang suci hatinya, “ kata Yesus, “karena mereka akan melihat Allah” (Matius 5:8). Penyataan akan kebesaran dan kebaikanNya adalah hal terindah yang bisa kita dapatkan apabila kita menjalani hidup kita dengan penuh kekudusan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Seperti yang sudah anda lihat, ada banyak alasan baik yang dapat menggugah kita untuk menutup celah antara harapan Allah akan diri kita, dan pengalaman kita pribadi. Kita diciptakan untuk turut ambil bagian dalam kekudusanNya-bukan hanya di surga, namun juga di bumi. Selangkah demi selangkah, kita bisa belajar untuk mengalahkan dosa dan hidup dengan cara yang semakin lama semakin memancarkan kemuliaan dan karakter Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam bab pertama, kami sudah mencoba untuk menarik minat anda pada kesalehan hidup. Dimulai dari bab kedua, kami akan membangun kerangka Alkitabiah yang dibutuhkan untuk mendukung suatu kehidupan yang kudus- dan penuh sukacita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Diskusi Kelompok  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Apa gejala-gejala yang menandakan seseorang sedang terperangkap di tengah? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Celah antara standar-standar Allah dan perilaku kita sendiri tidak bisa dihindari; namun terlalu berlebihan apabila kita menamakan diri kita munafik. Di mana kita bisa menarik garis untuk membedakan keduanya? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Bagaimana menjelaskan hubungan antara penyucian diri kita dengan sejarah masa lalu dan harapan di masa depan? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Rasa takut akan Allah, menurut penulis, adalah suatu “syarat untuk mencapai keintiman rohani dengan Allah.” (Hal. 7) Apa maksudnya? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Sejauh mana seorang kristen yang dewasa rohani bisa bebas dari dosa? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6. Sekarang setelah anda selesai membaca bagian ini, bagaimana anda akan menjelaskan Matius 5:48 kepada orang yang baru percaya? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bacaan Yang Direkomendasikan  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
How to Help People Change 'by Jay E. Adams (Grand Rapids, MI: Zondervan Publishing House, 1986) &lt;br /&gt;
Saved by Grace by Anthony A. Hoekema (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1989) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Referensi&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Susanlim</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/How_Can_I_Change%3F/Caught_in_the_Gap_Trap/id</id>
		<title>How Can I Change?/Caught in the Gap Trap/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/How_Can_I_Change%3F/Caught_in_the_Gap_Trap/id"/>
				<updated>2009-01-29T10:20:05Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Susanlim: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|Bagaimana Saya Bisa Berubah?/Terperangkap di Tengah}}&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semua yang kini sedang bergumul melawan amarah, silakan maju ke depan. Kami mau berdoa untuk anda.”&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu itu hari Minggu pagi. Saya baru saja menyelesaikan khotbah mengenai amarah, dan saya mau memberikan waktu bagi Roh Kudus untuk bekerja di dalam hati orang-orang yang hadir saat itu. Namun saya terkejut melihat respon yang diberikan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekitar dua puluh orang-orang yang rendah hati maju ke depan mimbar—untuk ukuran gereja kami, jumlah ini cukup besar. Namun, bukan jumlahnya yang menarik perhatian saya. Yang menarik perhatian saya adalah orang-orang yang maju ke depan. Sembilan belas dari dua puluh orang yang maju ke depan adalah para ibu muda! (Amarah sangat rentan dialami oleh para ibu, sejauh yang saya ketahui.) Sebagai gembala, saya tahu bahwa para wanita ini adalah orang kristen yang sungguh-sungguh. Apa yang menyebabkan mereka maju ke depan adalah rasa frustasi mendalam mereka yang dialami karena mereka merasa terperangkap di tengah -- zona antara standar Alkitabiah yang berkaitan dengan penguasaan diri, dan kegagalan mereka untuk hidup menurut standar Alkitabiah itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah masalah itu berkaitan dengan amarah, ketakutan, kekuatiran, atau suatu hal yang umum, seperti kemalasan, kita semua sudah mengalami perasaan terperangkap di tengah, antara siapa diri kita saat ini, dan siapa diri kita seharusnya. Alkitab menyatakan bahwa kita adalah ciptaan baru, para pemenang, penakluk. Dan kita bukan hanya sekedar pemenang, melainkan lebih dari seorang pemenang (Roma 8:37). Kadang kita memang merasa seperti itu. Namun yang lebih sering, kita mengalami kesulitan melihat suatu hal yang melampaui kelemahan-kelemahan dan kegagalan-kegagalan kita. Dan yang menariknya, justru di saat-saat seperti ini, ayat dalam Matius 5:48 mendadak jadi tampil ke permukaan: “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| '''Untuk Dipelajari Lebih Lanjut:''' Bahkan Rasul Paulus mengalami saat dimana ia merasa terperangkap di tengah (Roma 7:21-25). Dapatkah anda membandingkan rasa frustrasi anda dengan rasa frustrasi yang dialami Rasul Paulus?}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlahan kita menghela nafas dan berkata,''Hal itu tidak akan pernah menjadi kenyataan''. &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya menyebut kondisi ini sebagai “perangkap tengah”. Berikut adalah cara kerjanya: Sebagai orang kristen, kita semua memiliki pengetahuan mengenai hal-hal yang diharapkan Allah dari diri kita. Namun pada kenyataannya, apa yang kita capai jauh dari apa yang -kita tahu- sebenarnya harus kita capai. Maka, terciptalah suatu jarak antara apa yang kita tahu harus kita lakukan, dan performa kita yang sesungguhnya. Apabila jarak antara keduanya terlampau jauh, kita bisa saja langsug di cap sebagai seorang munafik. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| “Kehidupan kekristenan semata-mata berkaitan dengan perubahan karakter intrinsik kita menuju karakter Kristus.. Tujuan dari ayat-ayat ini (Misalnya Roma 6, Kolose 3: 5-14, Efesus 4:22-32) adalah untuk menunjukkan kepada kita bahwa ada jarak yang hebat antara siapa kita di dalam Kristus (pembenaran) dan siapa kita sebenarnya dalam kehidupan keseharian kita (pengudusan), yang tujuannya adalah untuk mendorong kita agar kita menutup jarak yang ada antara keduanya... Tujuan Paulus adalah untuk mengugah kita supaya dalam kehidupan keseharian kita, kita mampu menampilkan perilaku-perilaku yang menggambarkan siapa kita sebenarnya di dalam Kristus.” &amp;lt;br&amp;gt;- '''Jay Adams'''}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Situasi ini adalah suatu hal yang nyata dalam kehidupan kekristenan. Bagi sebagian besar, tidak dibutuhkan orang lain untuk memberitahu kita mengenai ketidak-konsistenan di dalam hidup kita—kita semua terlalu manyadarinya. Kesadaran itu seharusnya membuat kita menjadi semakin rendah hati dan menggantungkan diri kepada Tuhan supaya kita bisa berhasil menutup ketidak-konsistenan itu. Namun biasanya momen ‘terjebak di tengah’ ini muncul akibat ketidakpedulian kita akan doktrin atau ajaran mengenai pengudusan. Daripada menyadari kalau jarak ini ada sebagai pertanda bahwa kita membutuhkan pertolongan dari Allah saja, kita malah membiarkan jarak ini untuk menghukum kita, dan memperlambat kemajuan kita. Kita menjadi terjebak dalam pemikiran bahwa kita adalah seorang pecundang, bodoh, orang yang penuh kegagalan... dan mungkin saja bukan benar-benar seorang Kristen. Beberapa orang bahkan terperosok lebih jauh dalam ketidaktaatan. Mereka yang terjebak di situasi seperti ini (dan pada level tertentu, kita semua termasuk di dalamnya) mengalami penderitaan (yang sebenarnya tidak diperlukan) karena patah semangat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai seorang gembala, salah satu tanggung jawab utama saya adalah membantu orang-orang agar bisa keluar dari jebakan ini. Saya sering menyampaikan pada orang-orang, “Hal itu tidak akan instan terjadi, dan membutuhkan usaha yang sungguh-sungguh, namun supaya bisa keluar dari jebakan itu tidaklah rumit. Dan percayalah, anda tidak akan kecewa melihat hasilnya.” Mungkin anda merasa bahwa anda sedang berada di posisi seperti ini. Jika demikian, kami yakin buku ini dapat menolong anda untuk menutup jarak yang ada antara siapa anda seharusnya di dalam Kristus dan siapa anda sebenarnya dalam kehidupan keseharian anda. Dapatkah anda membayangkan kehidupan dimana anda mematahkan kebiasaan-kebiasaan anda yang penuh dosa dan membuat kemajuan nyata dalam kehidupan rohani anda? kehidupan seperti itu sungguh mungkin adanya. Dan buku ini ditulis untuk menguatkan dan menyertai anda seiring dengan usaha anda untuk mencapai yang kehidupan seperti itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Diantara “Sekarang” dan “Yang Akan Datang” &amp;lt;br&amp;gt;  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| Apakah ada area-area dalam hidup anda yang anda sadari kurang memenuhi ekpektasi Allah? (Tuliskan dengan singkat sebuah area itu di bawah)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
}}&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak diragukan, bahwa salah satu hal yang paling membuat kita frustrasi terkait dengan kehidupan kekristenan adalah kontradiksi yang nyata antara siapa kita di mata Allah, dan siapa diri kita dalam pendapat kita sendiri. Ambil contoh jemaat di Korintus, misalnya. Rasul Paulus pada satu titik meyakinkan mereka bahwa, “Kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita.” (1 Korintus 6:11). Sepertinya berhenti sampai di situ saja, bukan? Sampai kita membaca surat kedua Paulus pada jemaat ini, yang isinya nyaris bertolak-belakang dengan yang pertama disampaikan: “Marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah” (2 Korintus 7:1). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di pikiran saya, mungkin saja para jemaat di Korintus merasa bingung. Apakah mereka sudah disucikan... atau masih tercemar? sebenarnya dua-duanya berlaku untuk mereka, dan juga kita. Untuk menjelaskan hal itu, mari saya ajak anda untuk menyimak hal di berikut ini.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| '''Renungkan 1 Yohanes 3:2-3'''. Apa pengaruh dari pemikiran kita tentang “yang akan datang” terhadap apa yang ada “saat ini”}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kerajaan Allah itu adalah “saat ini” dan “yang akan datang”. Dalam beberapa hal, Kerajaan Allah berkaitan dengan masa kini, dan untuk beberapa hal lainnya, Kerajaan Allah berkaitan dengan masa mendatang. Allah kita telah menyatakan dan menunjukkan bahwa Kerajaan (atau hukum) Allah sudah bersinggungan dengan sejarah manusia: “Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu” (Lukas 11:20). Namun, Kerajaan Allah belum datang seutuhnya. Hal itu tidak akan terjadi sampai Yesus datang kembali dalam kuasaNya, ketika setiap lutut kan bertelut dan semua lidah mengaku bahwa Dialah Allah. Sampai hal itu terjadi, tanpa menyangkal kehadiran Kerajaan Allah yang ada di dalam dunia ini, kita berdoa, “Datanglah Kerajaan-Mu” (Matius 6:10) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan demikian, Kerajaan Allah berjalan seiringan dengan kehidupan kita. Allah, lewat karya pembenaran-Nya, sudah menyatakan bahwa kita adalah orang-orang benar. Posisi kita di mata Allah sudah berubah. Masalah itu sudah diselesaikan sekali dan untuk selama-lamanya di Surga. Namun, di sisi surga lainnya (bumi), perubahan internal kita merupakan suatu proses yang sedang berjalan. Proses penyucian ini membuat saya sibuk sebagai seorang pribadi Kristen, dan juga memberikan saya banyak pekerjaan dan tugas sebagai seorang gembala. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, apakah kita sudah memiliki kemenangan di dalam Yesus atau belum? apakah kita para pemenang, atau apakah kita masih harus berjuang? Oscar Cullmann memberikan ilustrasi dari Perang Dunia ke-2, yang saya percaya dapat membantu kita menangkap hal yang kesannya bertentangan ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejarah mencatat dua peristiwa besar yang menjadi pangkal berakhirnya Perang Dunia ke-2: D-Day dan VE-Day. D-Day terjadi pada 6 Juni 1944, ketika para pasukan Sekutu mendarat di Normandy, Perancis. Ini adalah titik balik dalam perang yang berlangsung; ketika pendaratan ini berhasil, nasib Hitler sudah sangat jelas. Pada dasarnya, perang sudah berakhir. Namun kemenangan total di Eropa (VE-Day) tidak terjadi sampai tanggal 7 Mei 1945 ketika pasukan Jerman menyerah di Berlin. Periode sebelas bulan ini dicatat sebagai salah satu periode pertumpahan darah terbesar sepanjang sejarah perang. Pertempuran-pertempuran terjadi di seluruh Perancis, Belgia, dan Jerman. Walaupun secara fisik para musuh sudah terluka, namun mereka tidak sepenuhnya menyerah.&amp;lt;br&amp;gt; {{LeftInsert| “Pemilihan Ilahi adalah jaminan bahwa Allah akan bekerja dalam melengkapi pemilihan kita (untuk diselamatkan oleh anugerah-Nya) dengan anugerah pengudusan-Nya. Ini adalah arti dari Perjanjian Baru: Allah tidak hanya sekedar memerintahkan agar kita taat kepadaNya, namun juga memberikan kemampuan pada kita untuk menaatiNya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-'''John Piper''' }}&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salib adalah D-Day kita. Di sana, Tuhan kita Yesus Kristus mati disalibkan, untuk mematahkan belenggu dosa dari umatNya. Berdasarkan kematian dan kebangkitanNya, kita semua dibenarkan. Namun, kemenangan akhir akan terjadi ketika Ia datang. Tidak ada keraguan mengenai hasil akhirnya. Namun kita masih akan menemui gesekan-gesekan dan pertandingan-pertandingan sampai Tuhan muncul di dalam kemuliaanNya untuk memusnahkan kuasa kegelapan selamanya. {{RightInsert| '''Untuk Bacaan Lebih Lanjut''': Bacalah 1 Petrus 5:8-9. Walaupun kemenangan akhir Allah tidak bisa disangkal, namun kita harus tetap berjuang melawan musuh kita.}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fakta ini, apabila kita tetap berusaha untuk mengingatnya, dapat membuat kita tidak patah semangat. Pertarungan masih berlangsung, namun peperangan utama sudah dimenangkan. Kesadaran akan karya pengorbanan Kristus yang telah dilakukan bagi kita sangat penting untuk memacu semangat moral kita seiring dengan usaha kita untuk mencapai suatu kekudusan hidup. Kita harus mempelajari dan merenungkan doktrin utama mengenai pembenaran sampai hal itu sungguh tertanam dalam kesadaran kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== '''Butuh Obat Kumur?'''  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun kita sudah dibenarkan sepenuhnya di dalam Kristus (D-Day), bukan berarti kita sudah sepenuhnya disucikan (VE-Day). Beberapa orang gagal memahami hal ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengajar Alkitab Ern Baxter menyampaikan kejadian yang terjadi saat Latter Rain Revival di akhir tahun 1940-an. Ada suatu ajaran menyimpang yang dinamakan “manifestasi anak-anak Allah”. Pada intinya ajaran itu menyampaikan doktrin yang menjanjikan kekudusan total di dalam hidup ini. Pada bentuk ekstrimnya, ajaran itu termasuk kepercayaan bahwa elit spiritual akan menerima tubuh kemuliaan sebelum kedatangan Kristus untuk kedua kalinya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada sesi penutupan acara dimana Baxter menjadi pembicaranya, beberapa ‘anak-anak Allah’ muncul di pojok auditorium berbalutkan jubah putih. Ketika ia selesai menyampaikan Firman, mereka berjalan ke depan dan mulai mencoba untuk menarik pengikut-pengikut baru bagi doktrin mengenai kesempurnaan total yang mereka ajarkan. Ketika ia mengingat peristiwa itu, ia menyatakan, “Wanita yang menjadi kelompok di grup itu benar-benar membutuhkan Listerine (merek obat kumur). Bukan itu jenis kesempurnaan yang saya nantikan.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih umum dari skenario yang terjadi lewat peristiwa yang dialami oleh Ern Baxter diatas, adalah situasi-situasi yang terjadi akibat dari kurangnya pengetahuan dan kecenderungan untuk menyederhanakan konsep kekudusan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| 2 Kalau anda mencari kesempurnaan total di dalam hidup ini, kira-kira mana dari antara beberapa hal di bawah ini yang paling sulit untuk dilakukan oleh anda? &lt;br /&gt;
*Sama sekali tidak akan pernah mengendarai mobil lebih dari batas kecepatan. &lt;br /&gt;
*Berbicara dengan hangat dan lembut pada setiap sales yang menelepon rumah anda. &lt;br /&gt;
*Mengindari semua kalori yang tidak dibutuhkan. &lt;br /&gt;
*Tidak pernah memukul jam weker anda ketika ia membangunkan anda. &lt;br /&gt;
*Senantiasa membayar pajak penghasilan anda dengan sukacita.}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu saya baru menjadi orang percaya, saya berjumpa dengan seorang pria muda bernama Greg, mengaku menjadi seorang perampok dan pengguna obat terlarang yang sepertinya bertobat waktu di dalam penjara. Pegangan hidup Greg dalam menjalani kehidupan kekristenan sangat memukau diri saya. Ia membawakan dirinya dengan keyakinan penuh dan sedikit keangkuhan. Ia berbicara seakan-akan dosa itu bukan menjadi suatu masalah lagi baginya. Lebih dari sekali dia mengatakan kepada saya betapa ia sudah “diselamatkan, disucikan, dan dipenuhi oleh Roh Kudus.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar dia mengatakan hal itu, sepertinya membuat hal itu seakan-akan mudah dan sederhana. Sebagai seorang Kristen yang baru, pada suatu waktu ia naik ke dalam kereta, dan waktu dia baru berangkat, beberapa jam kemudian ia sudah mengalami apa yang dinamakan olehnya sebagai “pengalaman pengudusan.” Dia berusaha meyakinkan saya bahwa pengalaman itu adalah hal yang dibutuhkan pertama kali untuk menerima baptisan Roh Kudus, dan sekali itu terjadi, itu akan berlaku selamanya. Saya harus mengakui di sini, bahwa ada beberapa hal tentang Greg yang kesannya tidak terlalu kudus. Ia mempunyai kecenderungan untuk menghakimi orang dan perilaku seorang farisi. Ia bisa menjadi seorang yang terlalu menguasai dan picik. Saya ingat pada suatu saat ketika seorang teman tidak sengaja meletakkan suatu benda di atas Alkitabnya: “Maaf—itu kan Firman Allah!” Tapi tetap saja, dia yakin dia bisa mengutip Alkitab, dan sepertinya sangat memahami perihal pengudusan.&amp;lt;br&amp;gt; {{RightInsert| '''Untuk Renungan Lebih Lanjut''': Bacalah Matius 26:41. Kapan waktunya kita bisa aman menganggap bahwa kita sudah “sampai” pada titik pengudusan?}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sangat mengejutkan ketika pada akhirnya ia kembali mengedarkan dan memakai obat terlarang. Masalah Greg terkait dengan kurangnya pemahaman dan juga kesalah-pahaman mengenai ajaran Alkitab terkait dengan konsep pengudusan. Ia sudah melakukan kesalahan seperti yang banyak orang lakukan dengan hanya memfokuskan perhatian pada beberapa ayat Alkitab favorit yang sepertinya membenarkan pengalaman pribadinya.&amp;lt;br&amp;gt; {{LeftInsert| &amp;quot;Kekudusan bukan jalan menuju Kristus. Kristus, adalah jalan menuju kekudusan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; '''—Adrian Rogers'''}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; Kekudusan itu sifatnya pasti (terjadi saat kita bertobat) dan progresif (terus berlangsung). Semua ini tidak terjadi pada sekali waktu di masa lalu, dan bukan juga suatu hal yang akan terjadi secara bertahap. Kita sudah diubahkan dan kita sedang berubah. Tanpa mengesampingkan keberhasilan pendaratan kita di Normandy, marilah kita bijak dan realistis saat menilai adanya oposisi yang ada diantara kita dan Berlin. Kita tidak punya pilihan yang memungkinkan kita untuk mendapatkan tiket naik ke dalam kereta pengudusan, seperti yang Greg yakini. Hal itu akan menjadi suatu pertandingan di setiap langkah kehidupan kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Setimpal dengan Usahanya  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi beberapa orang, “pengudusan” adalah suatu istilah teologis yang sering didengar, namun jarang dimengerti. Kedengarannya itu adalah suatu hal yang cocok untuk mahasiswa teologia dan kurang praktis untuk kehidupan sehari-hari. Namun sebaliknya, hal itu adalah suatu hal yang sangat amat praktis, dan bisa dikaitan dengan kehidupan keseharian. Doktrin mengenai pengudusan bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh hampir seluruh orang Kristen di dalam sejarah gereja. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana saya bisa berubah? &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana saya bisa bertumbuh? &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana saya menjadi serupa dengan Kristus? &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana saya bisa tidak terperangkap di tengah? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apapun yang bisa menjawab pertanyaan itu akan mengharuskan kita untuk melakukan beberapa usaha. Lampiran A (halaman 93) menunjukkan bahwa beberapa cabang gereja sudah membicarakan masalah ini di masa lalu, namun mari kita lihat apa yang bisa kita pelajari mengenai aplikasi dari doktrin yang penting ini pada masa kini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Arti Alkitabiah dari kata menguduskan (menyucikan) adalah “untuk memisahkan; mengkhususkan.” (Kesucian berasal dari akar kata yang sama dalam bahasa Yunani) Hal ini bisa diaplikasikan pada orang, tempat, situasi, atau benda tertentu. Ketika suatu hal dikuduskan, hal itu akan dipisahkan dari pemakaian pada umumnya dan didedikasikan untuk kepentingan khusus. Misalnya, pada jaman Musa, Hari Raya Pendamaian dikuduskan bagi Allah yang Kudus. Hari itu menjadi hari yang kudus. Sebuah hal yang dikuduskan tidak akan serta merta menjadi suci karena dipisahkan dari hal lainnya; kesucian yang didapat akan berasal dari untuk apa (atau kepada siapa) kah hal itu disucikan. Karena hanya Allah saja yang suci, maka hanya Dia-lah yang bisa mengimpartasikan kesucian. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara teologis, istilah “pengudusan” telah dipergunakan untuk menggambarkan proses yang dilalui oleh seorang percaya ketika Roh Allah sedang bekerja di dalam hidupnya untuk membuat dirinya semakin menyerupai Kristus. Prosesnya dimulai saat kita lahir baru, dan terus berlangsung sepanjang kita hidup. Hal ini ditandai dengan konflik keseharian seiring dengan usaha kita untuk mengalahkan dosa yang ada di dalam diri kita dengan anugerah dan kekuatan yang Allah berikan bagi kita. Camkan di dalam pikiran bahwa rasa bersalah yang didapat dari dosa sudah dihilangkan lewat pembenaran, sebagaimana yang dijelaskan oleh Anthony Hoekema; penyucian menghilangkan pencemaran akibat dosa: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang dimaksud dengan rasa bersalah adalah kondisi di mana kita layak mendapatkan penghukuman atau harus bertanggung jawab untuk menerima hukuman karena telah melanggar hukum Allah. Yang dimaksud dengan pembenaran, sebagai tindakan deklaratif Allah, adalah bahwa rasa bersalah akibat dosa dihilangkan atas dasar karya utama Yesus Kristus. Yang dimaksud dengan pencemaran adalah bahwa kita memiliki kecenderungan bawaan yang terjadi sebagai akibat dari dosa yang juga pada akhirnya menciptakan dosa lain lebih lanjut. Sebagai akibat dari kejatuhan Adam dan Hawa, kita semua lahir dengan kondisi seperti ini; dosa-dosa yang kita lakukan tidak hanya berasal dari kecenderungan kita untuk berdosa, namun juga menambah kecenderungan itu sendiri. Yang dimaksud dengan penyucian adalah kondisi dimana pencemaran yang didapat dari dosa sedang dalam proses (tahapan) pembersihan (walaupun hal itu tidak akan sepenuhnya dibersihkan sampai kita memasuki hidup baru di Surga). {{RightInsert| '''Untuk Bacaan Lebih Lanjut''': Apakah anda menyadari betapa penting dan bermanfaatnya apabila kita memiliki perasaan takut akan Allah? (Lihat Mazmur 19:9 dan 25:14, Amsal 1:7 dan 9:10, dan 1 Petrus 1:17.)}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alkitab juga mendefinisikan penyucian sebagai proses pertumbuhan menuju hidup yang saleh. Hidup yang saleh merujuk pada suatu kehidupan yang menunjukkan dedikasi kepada Allah, dan karakter yang muncul akibat dedikasi tersebut. Hidup yang saleh melibatkan kasih terhadap Allah dan kerinduan akan Allah. Selain itu juga mengandung rasa takut akan Allah, yang menurut John Murray adalah “jiwa dari hidup yang saleh”. Karena telah ditebus dari ancaman hukuman kekal, orang Kristen menyatakan rasa takutnya kepada Allah dengan memfokuskan diri tidak kepada murka Allah, tapi kepada “kemuliaan, kekudusan dan keagunganNya...” Rasa takut akan Allah mempunyai dampak yang baik bagi hati kita, dimana rasa ini akan memurnikan hati kita, dan juga hal ini adalah syarat apabila kita hendak menjalin hubungan yang lebih intim dengan Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hidup yang saleh melibatkan lebih dari sekedar unsur moralitas atau tindakan fanatik. Hal tersebut berasal dari kesatuan dengan Kristus dan hasrat untuk memuliakanNya. Seorang yang saleh akan berkeinginan untuk menjadi seperti Tuhan-nya juga ingin untuk menyenangkan hatiNya. Ia ingin merasakan apa yang dirasakan olehNya, memikirkan apa yang dipikirkan oleh Tuhan-nya melebihi dirinya sendiri, dan melakukan apa yang menjadi kehendakNya. Secara singkat, orang seperti ini ingin menjadi seseorang yang memiliki karakter Allah, sehingga Allah bisa dimuliakan lewat hidupnya. Tidak ada hal lain yang layak diperjuangkan sepanjang hidup kita: “Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang” (1 Timotius 4:8). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baik Allah maupun manusia memegang peran penting dalam konteks penyucian. Allah, dengan anugerahNya, memulai karya penebusan di dalam kita dan memberikan keinginan serta kuasa untuk mengalahkan dosa. Sebagai respon sekaligus sambil bersandar pada anugerahNya, kita menaati perintah Alkitab&amp;amp;nbsp;: “karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya. Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan” (Filipi 2:12-13) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|“Penyucian, menurut Westminster Shorter Catechism, adalah ‘pekerjaan dari anugerah Allah yang diberikan secara cuma-cuma, dimana kita diperbaharui menjadi manusia seutuhnya berdasarkan gambaran Allah, dan dimampukan lebih dan lebih lagi untuk mati bagi dosa, dan hidup bagi kebenaran.’ Konsep yang terkandung di dalam hal ini adalah bukan berarti dosa itu dihapuskan total (hal ini terlalu berlebihan) atau hanya ditangkis (hal ini terlalu meremehkan), namun berkaitan dengan perubahan karakter ilahi kita yang membebaskan kita dari kebiasaan-kebiasaan kita yang penuh dosa dan membentuk kita menjadi serupa dengan Kristus dalam hal perasaan, sifat, dan karakteristik-karakteristik lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
— '''J.I. Packer'''&lt;br /&gt;
}} &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam Perjanjian Baru, posisi dari hidup kudus itu berada pada titik tengah antara legalitas di satu sisi, dan lisensi di sisi lainnya. Semua tradisi gereja yang terlalu menitik beratkan pada karya Allah di dalam kita tanpa menaruh pengharapan bahwa karya itu akan menghasilkan suatu hasrat yang terus bertambah di dalam diri kita untuk menuju suatu kesalehan hidup, akan cenderung menuju ke arah lisensi. “Karena, seperti yang telah kerap kali kukatakan kepadamu, dan yang kunyatakan pula sekarang sambil menangis, banyak orang yang hidup sebagai seteru salib Kristus. Kesudahan mereka ialah kebinasaan, Tuhan mereka ialah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi” (Filipi 3:18-19). Di lain pihak ada juga pihak yang terlalu menitik beratkan pada porsi manusia sehingga mereka menyimpang dari kebenaran Allah dan berakhir pada prinsip legalitas. (Tentu saja seluruh hal ini mempunyai kadar yang bervariasi). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| '''Renungkan 1 Timotius 6: 11-16.''' Paulus adalah seorang yang sangat mampu menjadi seorang motivator yang handal. }} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bagaimana Meraih Kesempurnaan &amp;lt;br&amp;gt;  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu pertanyaan yang umum diucapkan oleh orang Kristen adalah, “Sejauh mana saya bisa berharap pada proses penyucian ini? Apakah pada akhirnya saya bisa benar-benar bebas dari dosa?” Jenis pertanyaan ini akan menjadi relevan terutama ketika kita membaca pernyataan seperti yang disampaikan oleh Paulus kepada jemaat di Filipi: “Karena itu marilah kita, yang sempurna, berpikir demikian. Dan jikalau lain pikiranmu tentang salah satu hal, hal itu akan dinyatakan Allah juga kepadamu” (Filipi 3:15). Bahkan Yesus menyampaikan hal itu lebih gamblang di ayat yang sudah disebutkan sebelumnya: “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna” (Matius 5:48).&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| 3 Cobalah untuk menjawab kuis Benar/Salah di bawah ini, untuk mengetahui sejauh mana anda sudah memahami materi ini: (Jawaban dicetak terbalik di bagian bawah halaman 9) &lt;br /&gt;
*Arti dari kata “menguduskan (menyucikan)” adalah “menajiskan, memisahkan” '''B S''' &lt;br /&gt;
*Proses penyucian dimulai saat kita lahir baru, dan terus berlangsung sepanjang kita hidup. '''B S''' &lt;br /&gt;
*Rasa bersalah yang didapat dari dosa sudah dihilangkan lewat pembenaran '''B S'''&lt;br /&gt;
*Hidup yang saleh hanya memiliki arti yang berkaitan dengan unsur moralitas atau tindakan fanatik seseorang. '''B S''' &lt;br /&gt;
*Hanya Allah yang bertanggung jawab terhadap proses penyucian kita. '''B S'''}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah Allah sungguh berharap supaya kita mencapai tahap kesempurnaan? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keinginan untuk menjadi sempurna sudah menginspirasi banyak orang untuk mencari Allah. Di sepanjang sejarah manusia, banyak penulis puisi dan filosofer yang mengekspresikan keinginan untuk mencapai kembali kesucian hidup. Penulis lagu kontemporer Crosby, Stills, dan Nash merayakan pengalaman Woodstock dengan lagu yang berlirik, “Kita adalah debu bintang-bintang, kita ini berharga, kita terjebak di dalam penawaran iblis. Dan kita harus mencari cara kembali ke Taman (Surga).” Masalahnya, kita semua tahu kalau kita ini jauh dari kesempurnaan. Dalam dunia khayal perfilman, Mary Poppins bisa saja dengan riang menyatakan bahwa dia adalah “sempurna di segala hal,” namun di kehidupan nyata, hal itu tidak mungkin terjadi. Dan tentu saja kita tidak bisa menjadi sempurna lewat metode Woodstock. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; {{RightInsert| &amp;quot;Ketika terang cahaya...kemuliaan Allah jatuh ke atas roh kita, kita dimenangkan dari segala pemikiran yang palsu dan kurang tepat mengenai kesucian kita sendiri. Kita juga dilindungi dari segala pengajaran murahan yang mendorong kita untuk mempercayai bahwa ada jalan-jalan pintas yang memudahkan kita untuk mencapai kesucian hidup. Kesucian hidup bukanlah sebuah pengalaman; itu adalah penyatuan kembali karakter kita, juga pemugaran kembali satu hal yang sudah menjadi reruntuhan. Hal itu memerlukan ketrampilan dan merupakan suatu proyek jangka panjang yang memerlukan segala hal yang sudah diberikan oleh Allah dalam menjalani hidup kita juga untuk mencapai suatu kesalehan hidup.&amp;quot;[12]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;— '''Sinclair Ferguson''' }} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
R.A. Muller menyatakan bahwa Alkitab jelas menyatakan bahwa kita harus menjadi sempurna, namun pada saat yang bersamaan memberikan bukti bahwa kesempurnaan penuh itu tidak bisa dicapai di dalam hidup ini. Hal ini menghantarkan kita pada titik dilematis. Kita tidak bisa secara bebas mengangkat tangan dan mengakui kekalahan. Namun kita juga tidak bisa memiliki mentalitas ‘over pede (percaya diri)’ berkaitan dengan konsep kesempurnaan, yang lebih umum ditemukan di dalam konteks metode berpikir positif daripada yang ada di dalam Alkitab. Satu-satunya cara untuk memecahkan dilema ini adalah dengan menyadari bahwa Perjanjian Baru melihat konsep kesempurnaan dalam dua cara. Pandangan Paulus tentang jemaat Filipi adalah kedewasaan, bukan ketidak-bercelaan. Perhatikan bagaimana Alkitab versi New International Version menerjemahkan perkataannya kepada gereja di Filipi: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Setiap dari kita yang sudah dewasa harus memiliki kecenderungan yang sama dalam berbagai hal” (Fil 3:15). “Kesempurnaan” dalam hal ini bisa lebih tepat didefinisikan sebagai “mereka yang sudah menunjukkan perkembangan berarti dalam hal spiritualitas dan keseimbangan hidup” &amp;lt;br&amp;gt; {{LeftInsert| '''Renungkan 1 Petrus 1:14-16'''. Apakah perintah ini kedengarannya tidak realistis? Apakah mungkin Allah meminta anda untuk melakukan suatu hal yang mustahil? }} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adalah suatu hal yang alamiah apabila semua anak mau untuk bertumbuh dengan sempurna. Ini juga berlaku bagi orang percaya. Daripada mengambil pendekatan jalan pintas dan prinsip mencoba-coba dalam mencapai pertumbuhan, kita seharusnya membiarkan panggilan untuk menjadi sempurna itu mendorong kita untuk masuk ke dalam proses pencarian yang serius mengenai bagaimana caranya supaya kita menjadi seperti Yesus. Contoh dari Paulus sendiri seharusnya mampu menjadi contoh bagi kita semua: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert| '''Jawaban''': S, B, B, S, S }} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena aku pun telah ditangkap oleh Kristus Yesus. Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus. (Filipi 3:12-14) &amp;lt;br&amp;gt; {{LeftInsert| 4 Ada stiker mobil yang pernah populer, bertuliskan, “Orang Kristen Itu Tidak Sempurna – Hanya Dimaafkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
}} &amp;lt;br&amp;gt; {{RightInsert| “Pertama-tama kita harus dibuat menjadi sesuatu yang baik sebelum kita bisa melakukan kebaikan.” &amp;lt;br&amp;gt;'''— Hugh Latimer'''}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita melihat pengulangan kata sempurna di dalam surat Paulus yang pertama kepada jemaat di Korintus. “Tetapi jika yang sempurna tiba,” katanya, “maka yang tidak sempurna itu akan lenyap” (1 Korintus 13:10). Dalam konteks ini, sempurna adalah istilah yang diberikan secara khusus pada Allah Bapa– sebuah konsep kesempurnaan yang tidak akan bisa ditemukan sampai Kristus datang. Teolog Louis Berkhof lebih cenderung untuk membicarakan kesempurnaan-kesempurnaan Allah daripada kualitas karakteristikNya. Allah itu benar-benar tak bercacat cela. Tidak peduli seberapa matangnya kita di dalam hidup ini, kita tidak akan pernah mencapai kesempurnaan sampai suatu saat Allah menyempurnakan kita di dalam kemuliaan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Tujuh Alasan Untuk Menutup Celah  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada umumnya, dunia sudah memiliki kesan negatif terhadap kesucian. Banyak pihak menyamakan hal itu dengan suatu hal yang suram, memikul salib tanpa adanya sukacita. Hal itu lebih dilihat sebagai suatu kondisi “lebih-suci-dari-kamu” sebagai suatu tindakan pembenaran diri sendiri, daripada melihat hal itu sebagai suatu pengalaman yang penuh sukacita. Sebelum kita menutup bagian ini, marilah kita menghilangkan pendapat demikian dengan melihat pada beberapa keuntungan dan berkat yang dapat kita peroleh dari tindakan mengikuti Kristus. Ini adalah tujuh buah dari penyucian (pengudusan): &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Allah dipermuliakan'''. Ketika kita suci, kita semakin mempercayai bahwa Allah itu sungguh nyata dan menakjubkan seperti yang dinyatakan sendiri olehNya. Paulus menyatakan bahwa pekerjaan-pekerjaan baik yang dilakukan oleh orang Kristen memperindah doktrin mengenai Kristus (Titur 2:10). Bahkan mereka yang menolak Allah akan dipaksa untuk mengakui keberadaanNya ketika para pengikutnya berjalan di jalanNya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Hubungan berkelanjutan dengan Allah Bapa di dalam hidup ini.''' “Jika seorang mengasihi Aku,” kata Yesus “ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia” (Yohanes 14:23). Merupakan suatu sukacita dan ketenangan yang luar biasa apabila kita mengalami hadirat Allah dan Anak melalui Roh kudus. Dan Yesus menandakan bahwa hadirat ini adalah suatu hadirat yang dipenuhi dengan kasih, bukan dengan nuansa yang dingin. Tentu saja, bersamaan dengan kehadiranNya akan datang juga kuasaNya, yang memampukan kita untuk mengalahkan tantangan-tantangan di dalam hidup kita. &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Persekutuan dengan orang percaya lainnya'''. Apabila kita berjalan di dalam kegelapan, kita tidak bisa menikmati persekutuan yang tulus dengan sesama orang percaya. “Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa” (1 Yohanes 1:7). Allah berjanji untuk melengkapi kita dengan belas kasihan, hai rekan-rekan seperjalanan yang sedang menjalani jalan menuju penyucian. Bagi saya pribadi, saya menemukan bahwa kebenaran Allah ditambah dengan contoh-contoh para pelayan Allah lainnya adalah suatu hal yang penting bagi pertumbuhan spiritual saya. Dan selama saya berjalan di jalanNya, saya tidak pernah kekurangan keduanya. Kita saling membutuhkan satu sama lain (dalam konteks gereja) apabila kita hendak berhasil. Kekudusan dan komunitas Kristiani akan saling melengkapi satu sama lain. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''K''''''eyakinan akan keselamatan'''. Walaupun keselamatan kita tidak didasarkan pada usaha kita untuk mencapai kekudusan, keyakinan akan keselamatan cenderung untuk berkaitan dengan kekudusan hidup. Di dalam surat Petrus yang kedua, Petrus menggugah para pembaca untuk sungguh-sungguh berusaha senantiasa mengumpulkan karakteristik spiritual, menambahkan kepada iman kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang yang dimiliki secara berkelimpahan (2 Petrus 1:5-9). Dia mengingatkan bahwa apabila ada yang tidak memiliki semuanya itu, maka ia akan lupa .... ... bahwa dosa-dosanya yang dahulu telah dihapuskan. Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung. Dengan demikian kepada kamu akan dikaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. (2 Petrus 1:9-11) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Pengabaran Injil. '''Sebagai seorang muda yang masih dibawah pengaruh dosa, saya mencoba sebisa saya untuk menemukan kesalahan-kesalahan di dalam hidup orang percaya supaya saya bisa menolak pesan yang mereka sampaikan dan mencap mereka sebagai orang munafik. Namun walaupun mereka tidak sempurna, tapi saya tidak bisa menemukan ketidak-konsistenan yang tergolong fatal. Sebuah keluarga besar yang menjangkau saya dengan Injil lebih memberikan pengaruh kepada saya lewat gaya hidup mereka daripada dengan perkataan-perkataan yang diucapkan. Sang suami mengasihi istrinya, sang istri menghormati suaminya, anak-anak menaati orang tuanya, dan mereka semua sangat bersuka cita. Saya tidak pernah melihat hal seperti itu. {{RightInsert| '''Renungkan 1 Petrus 2:12'''. Walaupun orang yang belum percaya mungkin menghina gaya hidup anda sekarang, akibat apa yang mungkin mereka terima pada akhirnya?&lt;br /&gt;
}}&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah disampaikan bahwa meskipun dunia mungkin tidak membaca Alkitab, tapi dunia membaca orang-orang Kristen. Allah menggunakan orang-orang kudus untuk menjangkau orang lain. Bukan orang yang sempurna, namun kudus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Pemahaman, kebijakan, dan pengetahuan'''. Harta-harta inilah yang akan diperoleh mereka yang mencari Allah dengan sepenuh hati (Amsal 2:1-11). Mereka terlindungi dari para penghujat, pemberontak, dan para orang bodoh. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Melihat Allah.''' Alkitab menyatakan, “Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan” (Ibrani 12:14). Meskipun arti sebenarnya dari pasal ini masih dilingkupi oleh misteri, tapi Alkitab bisa memberikan gambaran mengenai “Penglihatan yang Menakjubkan,” atau melihat Allah. Hal itu akan terjadi ketika Tuhan datang kembali, ketika semua musuh sudah dikalahkan dan kita semua sudah disucikan dengan sempurna. Pada saat itu, penglihatan kita mengenai Allah akan berkelanjutan dan intens, tanpa distraksi atau tindakan yang berfokus pada ke ‘aku’ an akibat dari dosa. Bukan berarti pengetahuan kita akan Allah akan menjadi sempurna, karena Ia akan terus menyatakan diriNya lebih dan lebih lagi.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; {{LeftInsert| “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.”&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;—'''Yesus''' (Matius 5:8) }}&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berbahagialah orang yang suci hatinya, “ kata Yesus, “karena mereka akan melihat Allah” (Matius 5:8). Penyataan akan kebesaran dan kebaikanNya adalah hal terindah yang bisa kita dapatkan apabila kita menjalani hidup kita dengan penuh kekudusan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Seperti yang sudah anda lihat, ada banyak alasan baik yang dapat menggugah kita untuk menutup celah antara harapan Allah akan diri kita, dan pengalaman kita pribadi. Kita diciptakan untuk turut ambil bagian dalam kekudusanNya-bukan hanya di surga, namun juga di bumi. Selangkah demi selangkah, kita bisa belajar untuk mengalahkan dosa dan hidup dengan cara yang semakin lama semakin memancarkan kemuliaan dan karakter Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam bab pertama, kami sudah mencoba untuk menarik minat anda pada kesalehan hidup. Dimulai dari bab kedua, kami akan membangun kerangka Alkitabiah yang dibutuhkan untuk mendukung suatu kehidupan yang kudus- dan penuh sukacita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Diskusi Kelompok  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Apa gejala-gejala yang menandakan seseorang sedang terperangkap di tengah? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Celah antara standar-standar Allah dan perilaku kita sendiri tidak bisa dihindari; namun terlalu berlebihan apabila kita menamakan diri kita munafik. Di mana kita bisa menarik garis untuk membedakan keduanya? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Bagaimana menjelaskan hubungan antara penyucian diri kita dengan sejarah masa lalu dan harapan di masa depan? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Rasa takut akan Allah, menurut penulis, adalah suatu “syarat untuk mencapai keintiman rohani dengan Allah.” (Hal. 7) Apa maksudnya? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Sejauh mana seorang kristen yang dewasa rohani bisa bebas dari dosa? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6. Sekarang setelah anda selesai membaca bagian ini, bagaimana anda akan menjelaskan Matius 5:48 kepada orang yang baru percaya? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bacaan Yang Direkomendasikan  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
How to Help People Change 'by Jay E. Adams (Grand Rapids, MI: Zondervan Publishing House, 1986) Saved by Grace by Anthony A. Hoekema (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1989) Referensi 1. ↑ Jay E. Adams, The Biblical View of Self-Esteem, Self-Love, Self-Image (Eugene, OR: Harvest House Publishers, 1986), h. 78. 2. ↑ Oscar Cullman, Christ and Time (Philadelphia, PA: The Westminster Press, 1964), h. 3. 3. ↑ John Piper, The Pleasures Of God (Portland, OR: Multnomah Press, 1991), h. 147. 4. ↑ Ern Baxter, pesan yang direkam, “Sanctification,” n.d. 5. ↑ Quoted in Gathered Gold, John Blanchard, ed. (Welwyn, Hertfordshire, England: Evangelical Press, 1984), h.146. 6. ↑ J.C. Ryle, Holiness (Welwyn, Hertfordshire, England: Evangelical Press, 1879, reprinted 1989), h. 39. 7. ↑ 7. Anthony A. Hoekema, Saved by Grace (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1989), h. 192-93. 8. ↑ Jerry Bridges, The Practice of Godliness (Colorado Springs, CO: NavPress, 1983), h. 15-20. 9. ↑ Idem, p. 24. 10. ↑ Idem, p. 26. 11. ↑ J.I. Packer, Concise Theology (Wheaton, IL: Tyndale House, 1993), h. 169. 12. ↑ Sinclair Ferguson, A Heart for God (Colorado Springs, CO: NavPress, 1985), h. 129. 13. ↑ R.A. Muller, The International Standard Bible Encyclopedia, Volume Four (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1988), h. 324. 14. ↑ William Hendriksen, New Testament Commentary: Philippians (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1962), h. 176. 15. ↑ Quoted in Gathered Gold, p.148. 16. ↑ Louis Berkhof, Systematic Theology (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1941), p. 52. ↑ Sumber Asli tidak diketahui&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Susanlim</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/How_Can_I_Change%3F/Caught_in_the_Gap_Trap/id</id>
		<title>How Can I Change?/Caught in the Gap Trap/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/How_Can_I_Change%3F/Caught_in_the_Gap_Trap/id"/>
				<updated>2009-01-29T10:16:27Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Susanlim: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|Bagaimana Saya Bisa Berubah?/Terperangkap di Tengah}}&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semua yang kini sedang bergumul melawan amarah, silakan maju ke depan. Kami mau berdoa untuk anda.”&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu itu hari Minggu pagi. Saya baru saja menyelesaikan khotbah mengenai amarah, dan saya mau memberikan waktu bagi Roh Kudus untuk bekerja di dalam hati orang-orang yang hadir saat itu. Namun saya terkejut melihat respon yang diberikan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekitar dua puluh orang-orang yang rendah hati maju ke depan mimbar—untuk ukuran gereja kami, jumlah ini cukup besar. Namun, bukan jumlahnya yang menarik perhatian saya. Yang menarik perhatian saya adalah orang-orang yang maju ke depan. Sembilan belas dari dua puluh orang yang maju ke depan adalah para ibu muda! (Amarah sangat rentan dialami oleh para ibu, sejauh yang saya ketahui.) Sebagai gembala, saya tahu bahwa para wanita ini adalah orang kristen yang sungguh-sungguh. Apa yang menyebabkan mereka maju ke depan adalah rasa frustasi mendalam mereka yang dialami karena mereka merasa terperangkap di tengah -- zona antara standar Alkitabiah yang berkaitan dengan penguasaan diri, dan kegagalan mereka untuk hidup menurut standar Alkitabiah itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah masalah itu berkaitan dengan amarah, ketakutan, kekuatiran, atau suatu hal yang umum, seperti kemalasan, kita semua sudah mengalami perasaan terperangkap di tengah, antara siapa diri kita saat ini, dan siapa diri kita seharusnya. Alkitab menyatakan bahwa kita adalah ciptaan baru, para pemenang, penakluk. Dan kita bukan hanya sekedar pemenang, melainkan lebih dari seorang pemenang (Roma 8:37). Kadang kita memang merasa seperti itu. Namun yang lebih sering, kita mengalami kesulitan melihat suatu hal yang melampaui kelemahan-kelemahan dan kegagalan-kegagalan kita. Dan yang menariknya, justru di saat-saat seperti ini, ayat dalam Matius 5:48 mendadak jadi tampil ke permukaan: “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| '''Untuk Dipelajari Lebih Lanjut:''' Bahkan Rasul Paulus mengalami saat dimana ia merasa terperangkap di tengah (Roma 7:21-25). Dapatkah anda membandingkan rasa frustrasi anda dengan rasa frustrasi yang dialami Rasul Paulus?}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlahan kita menghela nafas dan berkata,''Hal itu tidak akan pernah menjadi kenyataan''. &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya menyebut kondisi ini sebagai “perangkap tengah”. Berikut adalah cara kerjanya: Sebagai orang kristen, kita semua memiliki pengetahuan mengenai hal-hal yang diharapkan Allah dari diri kita. Namun pada kenyataannya, apa yang kita capai jauh dari apa yang -kita tahu- sebenarnya harus kita capai. Maka, terciptalah suatu jarak antara apa yang kita tahu harus kita lakukan, dan performa kita yang sesungguhnya. Apabila jarak antara keduanya terlampau jauh, kita bisa saja langsug di cap sebagai seorang munafik. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| “Kehidupan kekristenan semata-mata berkaitan dengan perubahan karakter intrinsik kita menuju karakter Kristus.. Tujuan dari ayat-ayat ini (Misalnya Roma 6, Kolose 3: 5-14, Efesus 4:22-32) adalah untuk menunjukkan kepada kita bahwa ada jarak yang hebat antara siapa kita di dalam Kristus (pembenaran) dan siapa kita sebenarnya dalam kehidupan keseharian kita (pengudusan), yang tujuannya adalah untuk mendorong kita agar kita menutup jarak yang ada antara keduanya... Tujuan Paulus adalah untuk mengugah kita supaya dalam kehidupan keseharian kita, kita mampu menampilkan perilaku-perilaku yang menggambarkan siapa kita sebenarnya di dalam Kristus.” &amp;lt;br&amp;gt;- '''Jay Adams'''}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Situasi ini adalah suatu hal yang nyata dalam kehidupan kekristenan. Bagi sebagian besar, tidak dibutuhkan orang lain untuk memberitahu kita mengenai ketidak-konsistenan di dalam hidup kita—kita semua terlalu manyadarinya. Kesadaran itu seharusnya membuat kita menjadi semakin rendah hati dan menggantungkan diri kepada Tuhan supaya kita bisa berhasil menutup ketidak-konsistenan itu. Namun biasanya momen ‘terjebak di tengah’ ini muncul akibat ketidakpedulian kita akan doktrin atau ajaran mengenai pengudusan. Daripada menyadari kalau jarak ini ada sebagai pertanda bahwa kita membutuhkan pertolongan dari Allah saja, kita malah membiarkan jarak ini untuk menghukum kita, dan memperlambat kemajuan kita. Kita menjadi terjebak dalam pemikiran bahwa kita adalah seorang pecundang, bodoh, orang yang penuh kegagalan... dan mungkin saja bukan benar-benar seorang Kristen. Beberapa orang bahkan terperosok lebih jauh dalam ketidaktaatan. Mereka yang terjebak di situasi seperti ini (dan pada level tertentu, kita semua termasuk di dalamnya) mengalami penderitaan (yang sebenarnya tidak diperlukan) karena patah semangat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai seorang gembala, salah satu tanggung jawab utama saya adalah membantu orang-orang agar bisa keluar dari jebakan ini. Saya sering menyampaikan pada orang-orang, “Hal itu tidak akan instan terjadi, dan membutuhkan usaha yang sungguh-sungguh, namun supaya bisa keluar dari jebakan itu tidaklah rumit. Dan percayalah, anda tidak akan kecewa melihat hasilnya.” Mungkin anda merasa bahwa anda sedang berada di posisi seperti ini. Jika demikian, kami yakin buku ini dapat menolong anda untuk menutup jarak yang ada antara siapa anda seharusnya di dalam Kristus dan siapa anda sebenarnya dalam kehidupan keseharian anda. Dapatkah anda membayangkan kehidupan dimana anda mematahkan kebiasaan-kebiasaan anda yang penuh dosa dan membuat kemajuan nyata dalam kehidupan rohani anda? kehidupan seperti itu sungguh mungkin adanya. Dan buku ini ditulis untuk menguatkan dan menyertai anda seiring dengan usaha anda untuk mencapai yang kehidupan seperti itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Diantara “Sekarang” dan “Yang Akan Datang” &amp;lt;br&amp;gt;  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| Apakah ada area-area dalam hidup anda yang anda sadari kurang memenuhi ekpektasi Allah? (Tuliskan dengan singkat sebuah area itu di bawah)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
}}&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak diragukan, bahwa salah satu hal yang paling membuat kita frustrasi terkait dengan kehidupan kekristenan adalah kontradiksi yang nyata antara siapa kita di mata Allah, dan siapa diri kita dalam pendapat kita sendiri. Ambil contoh jemaat di Korintus, misalnya. Rasul Paulus pada satu titik meyakinkan mereka bahwa, “Kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita.” (1 Korintus 6:11). Sepertinya berhenti sampai di situ saja, bukan? Sampai kita membaca surat kedua Paulus pada jemaat ini, yang isinya nyaris bertolak-belakang dengan yang pertama disampaikan: “Marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah” (2 Korintus 7:1). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di pikiran saya, mungkin saja para jemaat di Korintus merasa bingung. Apakah mereka sudah disucikan... atau masih tercemar? sebenarnya dua-duanya berlaku untuk mereka, dan juga kita. Untuk menjelaskan hal itu, mari saya ajak anda untuk menyimak hal di berikut ini.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| '''Renungkan 1 Yohanes 3:2-3'''. Apa pengaruh dari pemikiran kita tentang “yang akan datang” terhadap apa yang ada “saat ini”}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kerajaan Allah itu adalah “saat ini” dan “yang akan datang”. Dalam beberapa hal, Kerajaan Allah berkaitan dengan masa kini, dan untuk beberapa hal lainnya, Kerajaan Allah berkaitan dengan masa mendatang. Allah kita telah menyatakan dan menunjukkan bahwa Kerajaan (atau hukum) Allah sudah bersinggungan dengan sejarah manusia: “Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu” (Lukas 11:20). Namun, Kerajaan Allah belum datang seutuhnya. Hal itu tidak akan terjadi sampai Yesus datang kembali dalam kuasaNya, ketika setiap lutut kan bertelut dan semua lidah mengaku bahwa Dialah Allah. Sampai hal itu terjadi, tanpa menyangkal kehadiran Kerajaan Allah yang ada di dalam dunia ini, kita berdoa, “Datanglah Kerajaan-Mu” (Matius 6:10) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan demikian, Kerajaan Allah berjalan seiringan dengan kehidupan kita. Allah, lewat karya pembenaran-Nya, sudah menyatakan bahwa kita adalah orang-orang benar. Posisi kita di mata Allah sudah berubah. Masalah itu sudah diselesaikan sekali dan untuk selama-lamanya di Surga. Namun, di sisi surga lainnya (bumi), perubahan internal kita merupakan suatu proses yang sedang berjalan. Proses penyucian ini membuat saya sibuk sebagai seorang pribadi Kristen, dan juga memberikan saya banyak pekerjaan dan tugas sebagai seorang gembala. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, apakah kita sudah memiliki kemenangan di dalam Yesus atau belum? apakah kita para pemenang, atau apakah kita masih harus berjuang? Oscar Cullmann memberikan ilustrasi dari Perang Dunia ke-2, yang saya percaya dapat membantu kita menangkap hal yang kesannya bertentangan ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejarah mencatat dua peristiwa besar yang menjadi pangkal berakhirnya Perang Dunia ke-2: D-Day dan VE-Day. D-Day terjadi pada 6 Juni 1944, ketika para pasukan Sekutu mendarat di Normandy, Perancis. Ini adalah titik balik dalam perang yang berlangsung; ketika pendaratan ini berhasil, nasib Hitler sudah sangat jelas. Pada dasarnya, perang sudah berakhir. Namun kemenangan total di Eropa (VE-Day) tidak terjadi sampai tanggal 7 Mei 1945 ketika pasukan Jerman menyerah di Berlin. Periode sebelas bulan ini dicatat sebagai salah satu periode pertumpahan darah terbesar sepanjang sejarah perang. Pertempuran-pertempuran terjadi di seluruh Perancis, Belgia, dan Jerman. Walaupun secara fisik para musuh sudah terluka, namun mereka tidak sepenuhnya menyerah.&amp;lt;br&amp;gt; {{LeftInsert| “Pemilihan Ilahi adalah jaminan bahwa Allah akan bekerja dalam melengkapi pemilihan kita (untuk diselamatkan oleh anugerah-Nya) dengan anugerah pengudusan-Nya. Ini adalah arti dari Perjanjian Baru: Allah tidak hanya sekedar memerintahkan agar kita taat kepadaNya, namun juga memberikan kemampuan pada kita untuk menaatiNya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-'''John Piper''' }}&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salib adalah D-Day kita. Di sana, Tuhan kita Yesus Kristus mati disalibkan, untuk mematahkan belenggu dosa dari umatNya. Berdasarkan kematian dan kebangkitanNya, kita semua dibenarkan. Namun, kemenangan akhir akan terjadi ketika Ia datang. Tidak ada keraguan mengenai hasil akhirnya. Namun kita masih akan menemui gesekan-gesekan dan pertandingan-pertandingan sampai Tuhan muncul di dalam kemuliaanNya untuk memusnahkan kuasa kegelapan selamanya. {{RightInsert| '''Untuk Bacaan Lebih Lanjut''': Bacalah 1 Petrus 5:8-9. Walaupun kemenangan akhir Allah tidak bisa disangkal, namun kita harus tetap berjuang melawan musuh kita.}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fakta ini, apabila kita tetap berusaha untuk mengingatnya, dapat membuat kita tidak patah semangat. Pertarungan masih berlangsung, namun peperangan utama sudah dimenangkan. Kesadaran akan karya pengorbanan Kristus yang telah dilakukan bagi kita sangat penting untuk memacu semangat moral kita seiring dengan usaha kita untuk mencapai suatu kekudusan hidup. Kita harus mempelajari dan merenungkan doktrin utama mengenai pembenaran sampai hal itu sungguh tertanam dalam kesadaran kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== '''Butuh Obat Kumur?'''  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun kita sudah dibenarkan sepenuhnya di dalam Kristus (D-Day), bukan berarti kita sudah sepenuhnya disucikan (VE-Day). Beberapa orang gagal memahami hal ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengajar Alkitab Ern Baxter menyampaikan kejadian yang terjadi saat Latter Rain Revival di akhir tahun 1940-an. Ada suatu ajaran menyimpang yang dinamakan “manifestasi anak-anak Allah”. Pada intinya ajaran itu menyampaikan doktrin yang menjanjikan kekudusan total di dalam hidup ini. Pada bentuk ekstrimnya, ajaran itu termasuk kepercayaan bahwa elit spiritual akan menerima tubuh kemuliaan sebelum kedatangan Kristus untuk kedua kalinya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada sesi penutupan acara dimana Baxter menjadi pembicaranya, beberapa ‘anak-anak Allah’ muncul di pojok auditorium berbalutkan jubah putih. Ketika ia selesai menyampaikan Firman, mereka berjalan ke depan dan mulai mencoba untuk menarik pengikut-pengikut baru bagi doktrin mengenai kesempurnaan total yang mereka ajarkan. Ketika ia mengingat peristiwa itu, ia menyatakan, “Wanita yang menjadi kelompok di grup itu benar-benar membutuhkan Listerine (merek obat kumur). Bukan itu jenis kesempurnaan yang saya nantikan.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih umum dari skenario yang terjadi lewat peristiwa yang dialami oleh Ern Baxter diatas, adalah situasi-situasi yang terjadi akibat dari kurangnya pengetahuan dan kecenderungan untuk menyederhanakan konsep kekudusan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| 2 Kalau anda mencari kesempurnaan total di dalam hidup ini, kira-kira mana dari antara beberapa hal di bawah ini yang paling sulit untuk dilakukan oleh anda? &lt;br /&gt;
*Sama sekali tidak akan pernah mengendarai mobil lebih dari batas kecepatan. &lt;br /&gt;
*Berbicara dengan hangat dan lembut pada setiap sales yang menelepon rumah anda. &lt;br /&gt;
*Mengindari semua kalori yang tidak dibutuhkan. &lt;br /&gt;
*Tidak pernah memukul jam weker anda ketika ia membangunkan anda. &lt;br /&gt;
*Senantiasa membayar pajak penghasilan anda dengan sukacita.}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu saya baru menjadi orang percaya, saya berjumpa dengan seorang pria muda bernama Greg, mengaku menjadi seorang perampok dan pengguna obat terlarang yang sepertinya bertobat waktu di dalam penjara. Pegangan hidup Greg dalam menjalani kehidupan kekristenan sangat memukau diri saya. Ia membawakan dirinya dengan keyakinan penuh dan sedikit keangkuhan. Ia berbicara seakan-akan dosa itu bukan menjadi suatu masalah lagi baginya. Lebih dari sekali dia mengatakan kepada saya betapa ia sudah “diselamatkan, disucikan, dan dipenuhi oleh Roh Kudus.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar dia mengatakan hal itu, sepertinya membuat hal itu seakan-akan mudah dan sederhana. Sebagai seorang Kristen yang baru, pada suatu waktu ia naik ke dalam kereta, dan waktu dia baru berangkat, beberapa jam kemudian ia sudah mengalami apa yang dinamakan olehnya sebagai “pengalaman pengudusan.” Dia berusaha meyakinkan saya bahwa pengalaman itu adalah hal yang dibutuhkan pertama kali untuk menerima baptisan Roh Kudus, dan sekali itu terjadi, itu akan berlaku selamanya. Saya harus mengakui di sini, bahwa ada beberapa hal tentang Greg yang kesannya tidak terlalu kudus. Ia mempunyai kecenderungan untuk menghakimi orang dan perilaku seorang farisi. Ia bisa menjadi seorang yang terlalu menguasai dan picik. Saya ingat pada suatu saat ketika seorang teman tidak sengaja meletakkan suatu benda di atas Alkitabnya: “Maaf—itu kan Firman Allah!” Tapi tetap saja, dia yakin dia bisa mengutip Alkitab, dan sepertinya sangat memahami perihal pengudusan.&amp;lt;br&amp;gt; {{RightInsert| Untuk Renungan Lebih Lanjut: Bacalah Matius 26:41. Kapan waktunya kita bisa aman menganggap bahwa kita sudah “sampai” pada titik pengudusan?}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sangat mengejutkan ketika pada akhirnya ia kembali mengedarkan dan memakai obat terlarang. Masalah Greg terkait dengan kurangnya pemahaman dan juga kesalah-pahaman mengenai ajaran Alkitab terkait dengan konsep pengudusan. Ia sudah melakukan kesalahan seperti yang banyak orang lakukan dengan hanya memfokuskan perhatian pada beberapa ayat Alkitab favorit yang sepertinya membenarkan pengalaman pribadinya.&amp;lt;br&amp;gt; {{LeftInsert| &amp;quot;Kekudusan bukan jalan menuju Kristus. Kristus, adalah jalan menuju kekudusan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; '''—Adrian Rogers'''}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; Kekudusan itu sifatnya pasti (terjadi saat kita bertobat) dan progresif (terus berlangsung). Semua ini tidak terjadi pada sekali waktu di masa lalu, dan bukan juga suatu hal yang akan terjadi secara bertahap. Kita sudah diubahkan dan kita sedang berubah. Tanpa mengesampingkan keberhasilan pendaratan kita di Normandy, marilah kita bijak dan realistis saat menilai adanya oposisi yang ada diantara kita dan Berlin. Kita tidak punya pilihan yang memungkinkan kita untuk mendapatkan tiket naik ke dalam kereta pengudusan, seperti yang Greg yakini. Hal itu akan menjadi suatu pertandingan di setiap langkah kehidupan kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Setimpal dengan Usahanya  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi beberapa orang, “pengudusan” adalah suatu istilah teologis yang sering didengar, namun jarang dimengerti. Kedengarannya itu adalah suatu hal yang cocok untuk mahasiswa teologia dan kurang praktis untuk kehidupan sehari-hari. Namun sebaliknya, hal itu adalah suatu hal yang sangat amat praktis, dan bisa dikaitan dengan kehidupan keseharian. Doktrin mengenai pengudusan bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh hampir seluruh orang Kristen di dalam sejarah gereja. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana saya bisa berubah? &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana saya bisa bertumbuh? &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana saya menjadi serupa dengan Kristus? &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana saya bisa tidak terperangkap di tengah? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apapun yang bisa menjawab pertanyaan itu akan mengharuskan kita untuk melakukan beberapa usaha. Lampiran A (halaman 93) menunjukkan bahwa beberapa cabang gereja sudah membicarakan masalah ini di masa lalu, namun mari kita lihat apa yang bisa kita pelajari mengenai aplikasi dari doktrin yang penting ini pada masa kini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Arti Alkitabiah dari kata menguduskan (menyucikan) adalah “untuk memisahkan; mengkhususkan.” (Kesucian berasal dari akar kata yang sama dalam bahasa Yunani) Hal ini bisa diaplikasikan pada orang, tempat, situasi, atau benda tertentu. Ketika suatu hal dikuduskan, hal itu akan dipisahkan dari pemakaian pada umumnya dan didedikasikan untuk kepentingan khusus. Misalnya, pada jaman Musa, Hari Raya Pendamaian dikuduskan bagi Allah yang Kudus. Hari itu menjadi hari yang kudus. Sebuah hal yang dikuduskan tidak akan serta merta menjadi suci karena dipisahkan dari hal lainnya; kesucian yang didapat akan berasal dari untuk apa (atau kepada siapa) kah hal itu disucikan. Karena hanya Allah saja yang suci, maka hanya Dia-lah yang bisa mengimpartasikan kesucian. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara teologis, istilah “pengudusan” telah dipergunakan untuk menggambarkan proses yang dilalui oleh seorang percaya ketika Roh Allah sedang bekerja di dalam hidupnya untuk membuat dirinya semakin menyerupai Kristus. Prosesnya dimulai saat kita lahir baru, dan terus berlangsung sepanjang kita hidup. Hal ini ditandai dengan konflik keseharian seiring dengan usaha kita untuk mengalahkan dosa yang ada di dalam diri kita dengan anugerah dan kekuatan yang Allah berikan bagi kita. Camkan di dalam pikiran bahwa rasa bersalah yang didapat dari dosa sudah dihilangkan lewat pembenaran, sebagaimana yang dijelaskan oleh Anthony Hoekema; penyucian menghilangkan pencemaran akibat dosa: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang dimaksud dengan rasa bersalah adalah kondisi di mana kita layak mendapatkan penghukuman atau harus bertanggung jawab untuk menerima hukuman karena telah melanggar hukum Allah. Yang dimaksud dengan pembenaran, sebagai tindakan deklaratif Allah, adalah bahwa rasa bersalah akibat dosa dihilangkan atas dasar karya utama Yesus Kristus. Yang dimaksud dengan pencemaran adalah bahwa kita memiliki kecenderungan bawaan yang terjadi sebagai akibat dari dosa yang juga pada akhirnya menciptakan dosa lain lebih lanjut. Sebagai akibat dari kejatuhan Adam dan Hawa, kita semua lahir dengan kondisi seperti ini; dosa-dosa yang kita lakukan tidak hanya berasal dari kecenderungan kita untuk berdosa, namun juga menambah kecenderungan itu sendiri. Yang dimaksud dengan penyucian adalah kondisi dimana pencemaran yang didapat dari dosa sedang dalam proses (tahapan) pembersihan (walaupun hal itu tidak akan sepenuhnya dibersihkan sampai kita memasuki hidup baru di Surga). {{RightInsert| '''Untuk Bacaan Lebih Lanjut''': Apakah anda menyadari betapa penting dan bermanfaatnya apabila kita memiliki perasaan takut akan Allah? (Lihat Mazmur 19:9 dan 25:14, Amsal 1:7 dan 9:10, dan 1 Petrus 1:17.)}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alkitab juga mendefinisikan penyucian sebagai proses pertumbuhan menuju hidup yang saleh. Hidup yang saleh merujuk pada suatu kehidupan yang menunjukkan dedikasi kepada Allah, dan karakter yang muncul akibat dedikasi tersebut. Hidup yang saleh melibatkan kasih terhadap Allah dan kerinduan akan Allah. Selain itu juga mengandung rasa takut akan Allah, yang menurut John Murray adalah “jiwa dari hidup yang saleh”. Karena telah ditebus dari ancaman hukuman kekal, orang Kristen menyatakan rasa takutnya kepada Allah dengan memfokuskan diri tidak kepada murka Allah, tapi kepada “kemuliaan, kekudusan dan keagunganNya...” Rasa takut akan Allah mempunyai dampak yang baik bagi hati kita, dimana rasa ini akan memurnikan hati kita, dan juga hal ini adalah syarat apabila kita hendak menjalin hubungan yang lebih intim dengan Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hidup yang saleh melibatkan lebih dari sekedar unsur moralitas atau tindakan fanatik. Hal tersebut berasal dari kesatuan dengan Kristus dan hasrat untuk memuliakanNya. Seorang yang saleh akan berkeinginan untuk menjadi seperti Tuhan-nya juga ingin untuk menyenangkan hatiNya. Ia ingin merasakan apa yang dirasakan olehNya, memikirkan apa yang dipikirkan oleh Tuhan-nya melebihi dirinya sendiri, dan melakukan apa yang menjadi kehendakNya. Secara singkat, orang seperti ini ingin menjadi seseorang yang memiliki karakter Allah, sehingga Allah bisa dimuliakan lewat hidupnya. Tidak ada hal lain yang layak diperjuangkan sepanjang hidup kita: “Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang” (1 Timotius 4:8). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baik Allah maupun manusia memegang peran penting dalam konteks penyucian. Allah, dengan anugerahNya, memulai karya penebusan di dalam kita dan memberikan keinginan serta kuasa untuk mengalahkan dosa. Sebagai respon sekaligus sambil bersandar pada anugerahNya, kita menaati perintah Alkitab&amp;amp;nbsp;: “karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya. Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan” (Filipi 2:12-13) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|“Penyucian, menurut Westminster Shorter Catechism, adalah ‘pekerjaan dari anugerah Allah yang diberikan secara cuma-cuma, dimana kita diperbaharui menjadi manusia seutuhnya berdasarkan gambaran Allah, dan dimampukan lebih dan lebih lagi untuk mati bagi dosa, dan hidup bagi kebenaran.’ Konsep yang terkandung di dalam hal ini adalah bukan berarti dosa itu dihapuskan total (hal ini terlalu berlebihan) atau hanya ditangkis (hal ini terlalu meremehkan), namun berkaitan dengan perubahan karakter ilahi kita yang membebaskan kita dari kebiasaan-kebiasaan kita yang penuh dosa dan membentuk kita menjadi serupa dengan Kristus dalam hal perasaan, sifat, dan karakteristik-karakteristik lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
— '''J.I. Packer'''&lt;br /&gt;
}} &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam Perjanjian Baru, posisi dari hidup kudus itu berada pada titik tengah antara legalitas di satu sisi, dan lisensi di sisi lainnya. Semua tradisi gereja yang terlalu menitik beratkan pada karya Allah di dalam kita tanpa menaruh pengharapan bahwa karya itu akan menghasilkan suatu hasrat yang terus bertambah di dalam diri kita untuk menuju suatu kesalehan hidup, akan cenderung menuju ke arah lisensi. “Karena, seperti yang telah kerap kali kukatakan kepadamu, dan yang kunyatakan pula sekarang sambil menangis, banyak orang yang hidup sebagai seteru salib Kristus. Kesudahan mereka ialah kebinasaan, Tuhan mereka ialah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi” (Filipi 3:18-19). Di lain pihak ada juga pihak yang terlalu menitik beratkan pada porsi manusia sehingga mereka menyimpang dari kebenaran Allah dan berakhir pada prinsip legalitas. (Tentu saja seluruh hal ini mempunyai kadar yang bervariasi). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| '''Renungkan 1 Timotius 6: 11-16.''' Paulus adalah seorang yang sangat mampu menjadi seorang motivator yang handal. }} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bagaimana Meraih Kesempurnaan &amp;lt;br&amp;gt;  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu pertanyaan yang umum diucapkan oleh orang Kristen adalah, “Sejauh mana saya bisa berharap pada proses penyucian ini? Apakah pada akhirnya saya bisa benar-benar bebas dari dosa?” Jenis pertanyaan ini akan menjadi relevan terutama ketika kita membaca pernyataan seperti yang disampaikan oleh Paulus kepada jemaat di Filipi: “Karena itu marilah kita, yang sempurna, berpikir demikian. Dan jikalau lain pikiranmu tentang salah satu hal, hal itu akan dinyatakan Allah juga kepadamu” (Filipi 3:15). Bahkan Yesus menyampaikan hal itu lebih gamblang di ayat yang sudah disebutkan sebelumnya: “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna” (Matius 5:48).&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| 3 Cobalah untuk menjawab kuis Benar/Salah di bawah ini, untuk mengetahui sejauh mana anda sudah memahami materi ini: (Jawaban dicetak terbalik di bagian bawah halaman 9) &lt;br /&gt;
*Arti dari kata “menguduskan (menyucikan)” adalah “menajiskan, memisahkan” '''B S''' &lt;br /&gt;
*Proses penyucian dimulai saat kita lahir baru, dan terus berlangsung sepanjang kita hidup. '''B S''' &lt;br /&gt;
*Rasa bersalah yang didapat dari dosa sudah dihilangkan lewat pembenaran '''B S'''&lt;br /&gt;
*Hidup yang saleh hanya memiliki arti yang berkaitan dengan unsur moralitas atau tindakan fanatik seseorang. '''B S''' &lt;br /&gt;
*Hanya Allah yang bertanggung jawab terhadap proses penyucian kita. '''B S'''}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah Allah sungguh berharap supaya kita mencapai tahap kesempurnaan? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keinginan untuk menjadi sempurna sudah menginspirasi banyak orang untuk mencari Allah. Di sepanjang sejarah manusia, banyak penulis puisi dan filosofer yang mengekspresikan keinginan untuk mencapai kembali kesucian hidup. Penulis lagu kontemporer Crosby, Stills, dan Nash merayakan pengalaman Woodstock dengan lagu yang berlirik, “Kita adalah debu bintang-bintang, kita ini berharga, kita terjebak di dalam penawaran iblis. Dan kita harus mencari cara kembali ke Taman (Surga).” Masalahnya, kita semua tahu kalau kita ini jauh dari kesempurnaan. Dalam dunia khayal perfilman, Mary Poppins bisa saja dengan riang menyatakan bahwa dia adalah “sempurna di segala hal,” namun di kehidupan nyata, hal itu tidak mungkin terjadi. Dan tentu saja kita tidak bisa menjadi sempurna lewat metode Woodstock. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; {{RightInsert| &amp;quot;Ketika terang cahaya...kemuliaan Allah jatuh ke atas roh kita, kita dimenangkan dari segala pemikiran yang palsu dan kurang tepat mengenai kesucian kita sendiri. Kita juga dilindungi dari segala pengajaran murahan yang mendorong kita untuk mempercayai bahwa ada jalan-jalan pintas yang memudahkan kita untuk mencapai kesucian hidup. Kesucian hidup bukanlah sebuah pengalaman; itu adalah penyatuan kembali karakter kita, juga pemugaran kembali satu hal yang sudah menjadi reruntuhan. Hal itu memerlukan ketrampilan dan merupakan suatu proyek jangka panjang yang memerlukan segala hal yang sudah diberikan oleh Allah dalam menjalani hidup kita juga untuk mencapai suatu kesalehan hidup.&amp;quot;[12]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;— '''Sinclair Ferguson''' }} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
R.A. Muller menyatakan bahwa Alkitab jelas menyatakan bahwa kita harus menjadi sempurna, namun pada saat yang bersamaan memberikan bukti bahwa kesempurnaan penuh itu tidak bisa dicapai di dalam hidup ini. Hal ini menghantarkan kita pada titik dilematis. Kita tidak bisa secara bebas mengangkat tangan dan mengakui kekalahan. Namun kita juga tidak bisa memiliki mentalitas ‘over pede (percaya diri)’ berkaitan dengan konsep kesempurnaan, yang lebih umum ditemukan di dalam konteks metode berpikir positif daripada yang ada di dalam Alkitab. Satu-satunya cara untuk memecahkan dilema ini adalah dengan menyadari bahwa Perjanjian Baru melihat konsep kesempurnaan dalam dua cara. Pandangan Paulus tentang jemaat Filipi adalah kedewasaan, bukan ketidak-bercelaan. Perhatikan bagaimana Alkitab versi New International Version menerjemahkan perkataannya kepada gereja di Filipi: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Setiap dari kita yang sudah dewasa harus memiliki kecenderungan yang sama dalam berbagai hal” (Fil 3:15). “Kesempurnaan” dalam hal ini bisa lebih tepat didefinisikan sebagai “mereka yang sudah menunjukkan perkembangan berarti dalam hal spiritualitas dan keseimbangan hidup” &amp;lt;br&amp;gt; {{LeftInsert| '''Renungkan 1 Petrus 1:14-16'''. Apakah perintah ini kedengarannya tidak realistis? Apakah mungkin Allah meminta anda untuk melakukan suatu hal yang mustahil? }} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adalah suatu hal yang alamiah apabila semua anak mau untuk bertumbuh dengan sempurna. Ini juga berlaku bagi orang percaya. Daripada mengambil pendekatan jalan pintas dan prinsip mencoba-coba dalam mencapai pertumbuhan, kita seharusnya membiarkan panggilan untuk menjadi sempurna itu mendorong kita untuk masuk ke dalam proses pencarian yang serius mengenai bagaimana caranya supaya kita menjadi seperti Yesus. Contoh dari Paulus sendiri seharusnya mampu menjadi contoh bagi kita semua: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert| '''Jawaban''': S, B, B, S, S }} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena aku pun telah ditangkap oleh Kristus Yesus. Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus. (Filipi 3:12-14) &amp;lt;br&amp;gt; {{LeftInsert| 4 Ada stiker mobil yang pernah populer, bertuliskan, “Orang Kristen Itu Tidak Sempurna – Hanya Dimaafkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
}} &amp;lt;br&amp;gt; {{RightInsert| “Pertama-tama kita harus dibuat menjadi sesuatu yang baik sebelum kita bisa melakukan kebaikan.” &amp;lt;br&amp;gt;'''— Hugh Latimer'''}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita melihat pengulangan kata sempurna di dalam surat Paulus yang pertama kepada jemaat di Korintus. “Tetapi jika yang sempurna tiba,” katanya, “maka yang tidak sempurna itu akan lenyap” (1 Korintus 13:10). Dalam konteks ini, sempurna adalah istilah yang diberikan secara khusus pada Allah Bapa– sebuah konsep kesempurnaan yang tidak akan bisa ditemukan sampai Kristus datang. Teolog Louis Berkhof lebih cenderung untuk membicarakan kesempurnaan-kesempurnaan Allah daripada kualitas karakteristikNya. Allah itu benar-benar tak bercacat cela. Tidak peduli seberapa matangnya kita di dalam hidup ini, kita tidak akan pernah mencapai kesempurnaan sampai suatu saat Allah menyempurnakan kita di dalam kemuliaan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Tujuh Alasan Untuk Menutup Celah  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada umumnya, dunia sudah memiliki kesan negatif terhadap kesucian. Banyak pihak menyamakan hal itu dengan suatu hal yang suram, memikul salib tanpa adanya sukacita. Hal itu lebih dilihat sebagai suatu kondisi “lebih-suci-dari-kamu” sebagai suatu tindakan pembenaran diri sendiri, daripada melihat hal itu sebagai suatu pengalaman yang penuh sukacita. Sebelum kita menutup bagian ini, marilah kita menghilangkan pendapat demikian dengan melihat pada beberapa keuntungan dan berkat yang dapat kita peroleh dari tindakan mengikuti Kristus. Ini adalah tujuh buah dari penyucian (pengudusan): &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Allah dipermuliakan'''. Ketika kita suci, kita semakin mempercayai bahwa Allah itu sungguh nyata dan menakjubkan seperti yang dinyatakan sendiri olehNya. Paulus menyatakan bahwa pekerjaan-pekerjaan baik yang dilakukan oleh orang Kristen memperindah doktrin mengenai Kristus (Titur 2:10). Bahkan mereka yang menolak Allah akan dipaksa untuk mengakui keberadaanNya ketika para pengikutnya berjalan di jalanNya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Hubungan berkelanjutan dengan Allah Bapa di dalam hidup ini.''' “Jika seorang mengasihi Aku,” kata Yesus “ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia” (Yohanes 14:23). Merupakan suatu sukacita dan ketenangan yang luar biasa apabila kita mengalami hadirat Allah dan Anak melalui Roh kudus. Dan Yesus menandakan bahwa hadirat ini adalah suatu hadirat yang dipenuhi dengan kasih, bukan dengan nuansa yang dingin. Tentu saja, bersamaan dengan kehadiranNya akan datang juga kuasaNya, yang memampukan kita untuk mengalahkan tantangan-tantangan di dalam hidup kita. &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Persekutuan dengan orang percaya lainnya'''. Apabila kita berjalan di dalam kegelapan, kita tidak bisa menikmati persekutuan yang tulus dengan sesama orang percaya. “Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa” (1 Yohanes 1:7). Allah berjanji untuk melengkapi kita dengan belas kasihan, hai rekan-rekan seperjalanan yang sedang menjalani jalan menuju penyucian. Bagi saya pribadi, saya menemukan bahwa kebenaran Allah ditambah dengan contoh-contoh para pelayan Allah lainnya adalah suatu hal yang penting bagi pertumbuhan spiritual saya. Dan selama saya berjalan di jalanNya, saya tidak pernah kekurangan keduanya. Kita saling membutuhkan satu sama lain (dalam konteks gereja) apabila kita hendak berhasil. Kekudusan dan komunitas Kristiani akan saling melengkapi satu sama lain. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''K''''''eyakinan akan keselamatan'''. Walaupun keselamatan kita tidak didasarkan pada usaha kita untuk mencapai kekudusan, keyakinan akan keselamatan cenderung untuk berkaitan dengan kekudusan hidup. Di dalam surat Petrus yang kedua, Petrus menggugah para pembaca untuk sungguh-sungguh berusaha senantiasa mengumpulkan karakteristik spiritual, menambahkan kepada iman kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang yang dimiliki secara berkelimpahan (2 Petrus 1:5-9). Dia mengingatkan bahwa apabila ada yang tidak memiliki semuanya itu, maka ia akan lupa .... ... bahwa dosa-dosanya yang dahulu telah dihapuskan. Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung. Dengan demikian kepada kamu akan dikaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. (2 Petrus 1:9-11) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Pengabaran Injil. '''Sebagai seorang muda yang masih dibawah pengaruh dosa, saya mencoba sebisa saya untuk menemukan kesalahan-kesalahan di dalam hidup orang percaya supaya saya bisa menolak pesan yang mereka sampaikan dan mencap mereka sebagai orang munafik. Namun walaupun mereka tidak sempurna, tapi saya tidak bisa menemukan ketidak-konsistenan yang tergolong fatal. Sebuah keluarga besar yang menjangkau saya dengan Injil lebih memberikan pengaruh kepada saya lewat gaya hidup mereka daripada dengan perkataan-perkataan yang diucapkan. Sang suami mengasihi istrinya, sang istri menghormati suaminya, anak-anak menaati orang tuanya, dan mereka semua sangat bersuka cita. Saya tidak pernah melihat hal seperti itu. {{RightInsert| '''Renungkan 1 Petrus 2:12'''. Walaupun orang yang belum percaya mungkin menghina gaya hidup anda sekarang, akibat apa yang mungkin mereka terima pada akhirnya?&lt;br /&gt;
}}&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah disampaikan bahwa meskipun dunia mungkin tidak membaca Alkitab, tapi dunia membaca orang-orang Kristen. Allah menggunakan orang-orang kudus untuk menjangkau orang lain. Bukan orang yang sempurna, namun kudus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Pemahaman, kebijakan, dan pengetahuan'''. Harta-harta inilah yang akan diperoleh mereka yang mencari Allah dengan sepenuh hati (Amsal 2:1-11). Mereka terlindungi dari para penghujat, pemberontak, dan para orang bodoh. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Melihat Allah.''' Alkitab menyatakan, “Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan” (Ibrani 12:14). Meskipun arti sebenarnya dari pasal ini masih dilingkupi oleh misteri, tapi Alkitab bisa memberikan gambaran mengenai “Penglihatan yang Menakjubkan,” atau melihat Allah. Hal itu akan terjadi ketika Tuhan datang kembali, ketika semua musuh sudah dikalahkan dan kita semua sudah disucikan dengan sempurna. Pada saat itu, penglihatan kita mengenai Allah akan berkelanjutan dan intens, tanpa distraksi atau tindakan yang berfokus pada ke ‘aku’ an akibat dari dosa. Bukan berarti pengetahuan kita akan Allah akan menjadi sempurna, karena Ia akan terus menyatakan diriNya lebih dan lebih lagi.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; {{LeftInsert| “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.”&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;—'''Yesus''' (Matius 5:8) }}&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berbahagialah orang yang suci hatinya, “ kata Yesus, “karena mereka akan melihat Allah” (Matius 5:8). Penyataan akan kebesaran dan kebaikanNya adalah hal terindah yang bisa kita dapatkan apabila kita menjalani hidup kita dengan penuh kekudusan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Seperti yang sudah anda lihat, ada banyak alasan baik yang dapat menggugah kita untuk menutup celah antara harapan Allah akan diri kita, dan pengalaman kita pribadi. Kita diciptakan untuk turut ambil bagian dalam kekudusanNya-bukan hanya di surga, namun juga di bumi. Selangkah demi selangkah, kita bisa belajar untuk mengalahkan dosa dan hidup dengan cara yang semakin lama semakin memancarkan kemuliaan dan karakter Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam bab pertama, kami sudah mencoba untuk menarik minat anda pada kesalehan hidup. Dimulai dari bab kedua, kami akan membangun kerangka Alkitabiah yang dibutuhkan untuk mendukung suatu kehidupan yang kudus- dan penuh sukacita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Diskusi Kelompok  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Apa gejala-gejala yang menandakan seseorang sedang terperangkap di tengah? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Celah antara standar-standar Allah dan perilaku kita sendiri tidak bisa dihindari; namun terlalu berlebihan apabila kita menamakan diri kita munafik. Di mana kita bisa menarik garis untuk membedakan keduanya? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Bagaimana menjelaskan hubungan antara penyucian diri kita dengan sejarah masa lalu dan harapan di masa depan? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Rasa takut akan Allah, menurut penulis, adalah suatu “syarat untuk mencapai keintiman rohani dengan Allah.” (Hal. 7) Apa maksudnya? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Sejauh mana seorang kristen yang dewasa rohani bisa bebas dari dosa? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6. Sekarang setelah anda selesai membaca bagian ini, bagaimana anda akan menjelaskan Matius 5:48 kepada orang yang baru percaya? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bacaan Yang Direkomendasikan  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
How to Help People Change 'by Jay E. Adams (Grand Rapids, MI: Zondervan Publishing House, 1986) Saved by Grace by Anthony A. Hoekema (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1989) Referensi 1. ↑ Jay E. Adams, The Biblical View of Self-Esteem, Self-Love, Self-Image (Eugene, OR: Harvest House Publishers, 1986), h. 78. 2. ↑ Oscar Cullman, Christ and Time (Philadelphia, PA: The Westminster Press, 1964), h. 3. 3. ↑ John Piper, The Pleasures Of God (Portland, OR: Multnomah Press, 1991), h. 147. 4. ↑ Ern Baxter, pesan yang direkam, “Sanctification,” n.d. 5. ↑ Quoted in Gathered Gold, John Blanchard, ed. (Welwyn, Hertfordshire, England: Evangelical Press, 1984), h.146. 6. ↑ J.C. Ryle, Holiness (Welwyn, Hertfordshire, England: Evangelical Press, 1879, reprinted 1989), h. 39. 7. ↑ 7. Anthony A. Hoekema, Saved by Grace (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1989), h. 192-93. 8. ↑ Jerry Bridges, The Practice of Godliness (Colorado Springs, CO: NavPress, 1983), h. 15-20. 9. ↑ Idem, p. 24. 10. ↑ Idem, p. 26. 11. ↑ J.I. Packer, Concise Theology (Wheaton, IL: Tyndale House, 1993), h. 169. 12. ↑ Sinclair Ferguson, A Heart for God (Colorado Springs, CO: NavPress, 1985), h. 129. 13. ↑ R.A. Muller, The International Standard Bible Encyclopedia, Volume Four (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1988), h. 324. 14. ↑ William Hendriksen, New Testament Commentary: Philippians (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1962), h. 176. 15. ↑ Quoted in Gathered Gold, p.148. 16. ↑ Louis Berkhof, Systematic Theology (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1941), p. 52. ↑ Sumber Asli tidak diketahui&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Susanlim</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/How_Can_I_Change%3F/Caught_in_the_Gap_Trap/id</id>
		<title>How Can I Change?/Caught in the Gap Trap/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/How_Can_I_Change%3F/Caught_in_the_Gap_Trap/id"/>
				<updated>2009-01-29T10:13:21Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Susanlim: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|Bagaimana Saya Bisa Berubah?/Terperangkap di Tengah}}&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semua yang kini sedang bergumul melawan amarah, silakan maju ke depan. Kami mau berdoa untuk anda.”&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu itu hari Minggu pagi. Saya baru saja menyelesaikan khotbah mengenai amarah, dan saya mau memberikan waktu bagi Roh Kudus untuk bekerja di dalam hati orang-orang yang hadir saat itu. Namun saya terkejut melihat respon yang diberikan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekitar dua puluh orang-orang yang rendah hati maju ke depan mimbar—untuk ukuran gereja kami, jumlah ini cukup besar. Namun, bukan jumlahnya yang menarik perhatian saya. Yang menarik perhatian saya adalah orang-orang yang maju ke depan. Sembilan belas dari dua puluh orang yang maju ke depan adalah para ibu muda! (Amarah sangat rentan dialami oleh para ibu, sejauh yang saya ketahui.) Sebagai gembala, saya tahu bahwa para wanita ini adalah orang kristen yang sungguh-sungguh. Apa yang menyebabkan mereka maju ke depan adalah rasa frustasi mendalam mereka yang dialami karena mereka merasa terperangkap di tengah -- zona antara standar Alkitabiah yang berkaitan dengan penguasaan diri, dan kegagalan mereka untuk hidup menurut standar Alkitabiah itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah masalah itu berkaitan dengan amarah, ketakutan, kekuatiran, atau suatu hal yang umum, seperti kemalasan, kita semua sudah mengalami perasaan terperangkap di tengah, antara siapa diri kita saat ini, dan siapa diri kita seharusnya. Alkitab menyatakan bahwa kita adalah ciptaan baru, para pemenang, penakluk. Dan kita bukan hanya sekedar pemenang, melainkan lebih dari seorang pemenang (Roma 8:37). Kadang kita memang merasa seperti itu. Namun yang lebih sering, kita mengalami kesulitan melihat suatu hal yang melampaui kelemahan-kelemahan dan kegagalan-kegagalan kita. Dan yang menariknya, justru di saat-saat seperti ini, ayat dalam Matius 5:48 mendadak jadi tampil ke permukaan: “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| '''Untuk Dipelajari Lebih Lanjut:''' Bahkan Rasul Paulus mengalami saat dimana ia merasa terperangkap di tengah (Roma 7:21-25). Dapatkah anda membandingkan rasa frustrasi anda dengan rasa frustrasi yang dialami Rasul Paulus?}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlahan kita menghela nafas dan berkata,''Hal itu tidak akan pernah menjadi kenyataan''. &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya menyebut kondisi ini sebagai “perangkap tengah”. Berikut adalah cara kerjanya: Sebagai orang kristen, kita semua memiliki pengetahuan mengenai hal-hal yang diharapkan Allah dari diri kita. Namun pada kenyataannya, apa yang kita capai jauh dari apa yang -kita tahu- sebenarnya harus kita capai. Maka, terciptalah suatu jarak antara apa yang kita tahu harus kita lakukan, dan performa kita yang sesungguhnya. Apabila jarak antara keduanya terlampau jauh, kita bisa saja langsug di cap sebagai seorang munafik. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| “Kehidupan kekristenan semata-mata berkaitan dengan perubahan karakter intrinsik kita menuju karakter Kristus.. Tujuan dari ayat-ayat ini (Misalnya Roma 6, Kolose 3: 5-14, Efesus 4:22-32) adalah untuk menunjukkan kepada kita bahwa ada jarak yang hebat antara siapa kita di dalam Kristus (pembenaran) dan siapa kita sebenarnya dalam kehidupan keseharian kita (pengudusan), yang tujuannya adalah untuk mendorong kita agar kita menutup jarak yang ada antara keduanya... Tujuan Paulus adalah untuk mengugah kita supaya dalam kehidupan keseharian kita, kita mampu menampilkan perilaku-perilaku yang menggambarkan siapa kita sebenarnya di dalam Kristus.” &amp;lt;br&amp;gt;- '''Jay Adams'''}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Situasi ini adalah suatu hal yang nyata dalam kehidupan kekristenan. Bagi sebagian besar, tidak dibutuhkan orang lain untuk memberitahu kita mengenai ketidak-konsistenan di dalam hidup kita—kita semua terlalu manyadarinya. Kesadaran itu seharusnya membuat kita menjadi semakin rendah hati dan menggantungkan diri kepada Tuhan supaya kita bisa berhasil menutup ketidak-konsistenan itu. Namun biasanya momen ‘terjebak di tengah’ ini muncul akibat ketidakpedulian kita akan doktrin atau ajaran mengenai pengudusan. Daripada menyadari kalau jarak ini ada sebagai pertanda bahwa kita membutuhkan pertolongan dari Allah saja, kita malah membiarkan jarak ini untuk menghukum kita, dan memperlambat kemajuan kita. Kita menjadi terjebak dalam pemikiran bahwa kita adalah seorang pecundang, bodoh, orang yang penuh kegagalan... dan mungkin saja bukan benar-benar seorang Kristen. Beberapa orang bahkan terperosok lebih jauh dalam ketidaktaatan. Mereka yang terjebak di situasi seperti ini (dan pada level tertentu, kita semua termasuk di dalamnya) mengalami penderitaan (yang sebenarnya tidak diperlukan) karena patah semangat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai seorang gembala, salah satu tanggung jawab utama saya adalah membantu orang-orang agar bisa keluar dari jebakan ini. Saya sering menyampaikan pada orang-orang, “Hal itu tidak akan instan terjadi, dan membutuhkan usaha yang sungguh-sungguh, namun supaya bisa keluar dari jebakan itu tidaklah rumit. Dan percayalah, anda tidak akan kecewa melihat hasilnya.” Mungkin anda merasa bahwa anda sedang berada di posisi seperti ini. Jika demikian, kami yakin buku ini dapat menolong anda untuk menutup jarak yang ada antara siapa anda seharusnya di dalam Kristus dan siapa anda sebenarnya dalam kehidupan keseharian anda. Dapatkah anda membayangkan kehidupan dimana anda mematahkan kebiasaan-kebiasaan anda yang penuh dosa dan membuat kemajuan nyata dalam kehidupan rohani anda? kehidupan seperti itu sungguh mungkin adanya. Dan buku ini ditulis untuk menguatkan dan menyertai anda seiring dengan usaha anda untuk mencapai yang kehidupan seperti itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Diantara “Sekarang” dan “Yang Akan Datang” &amp;lt;br&amp;gt;  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| Apakah ada area-area dalam hidup anda yang anda sadari kurang memenuhi ekpektasi Allah? (Tuliskan dengan singkat sebuah area itu di bawah)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
}}&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak diragukan, bahwa salah satu hal yang paling membuat kita frustrasi terkait dengan kehidupan kekristenan adalah kontradiksi yang nyata antara siapa kita di mata Allah, dan siapa diri kita dalam pendapat kita sendiri. Ambil contoh jemaat di Korintus, misalnya. Rasul Paulus pada satu titik meyakinkan mereka bahwa, “Kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita.” (1 Korintus 6:11). Sepertinya berhenti sampai di situ saja, bukan? Sampai kita membaca surat kedua Paulus pada jemaat ini, yang isinya nyaris bertolak-belakang dengan yang pertama disampaikan: “Marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah” (2 Korintus 7:1). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di pikiran saya, mungkin saja para jemaat di Korintus merasa bingung. Apakah mereka sudah disucikan... atau masih tercemar? sebenarnya dua-duanya berlaku untuk mereka, dan juga kita. Untuk menjelaskan hal itu, mari saya ajak anda untuk menyimak hal di berikut ini.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| '''Renungkan 1 Yohanes 3:2-3'''. Apa pengaruh dari pemikiran kita tentang “yang akan datang” terhadap apa yang ada “saat ini”}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kerajaan Allah itu adalah “saat ini” dan “yang akan datang”. Dalam beberapa hal, Kerajaan Allah berkaitan dengan masa kini, dan untuk beberapa hal lainnya, Kerajaan Allah berkaitan dengan masa mendatang. Allah kita telah menyatakan dan menunjukkan bahwa Kerajaan (atau hukum) Allah sudah bersinggungan dengan sejarah manusia: “Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu” (Lukas 11:20). Namun, Kerajaan Allah belum datang seutuhnya. Hal itu tidak akan terjadi sampai Yesus datang kembali dalam kuasaNya, ketika setiap lutut kan bertelut dan semua lidah mengaku bahwa Dialah Allah. Sampai hal itu terjadi, tanpa menyangkal kehadiran Kerajaan Allah yang ada di dalam dunia ini, kita berdoa, “Datanglah Kerajaan-Mu” (Matius 6:10) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan demikian, Kerajaan Allah berjalan seiringan dengan kehidupan kita. Allah, lewat karya pembenaran-Nya, sudah menyatakan bahwa kita adalah orang-orang benar. Posisi kita di mata Allah sudah berubah. Masalah itu sudah diselesaikan sekali dan untuk selama-lamanya di Surga. Namun, di sisi surga lainnya (bumi), perubahan internal kita merupakan suatu proses yang sedang berjalan. Proses penyucian ini membuat saya sibuk sebagai seorang pribadi Kristen, dan juga memberikan saya banyak pekerjaan dan tugas sebagai seorang gembala. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, apakah kita sudah memiliki kemenangan di dalam Yesus atau belum? apakah kita para pemenang, atau apakah kita masih harus berjuang? Oscar Cullmann memberikan ilustrasi dari Perang Dunia ke-2, yang saya percaya dapat membantu kita menangkap hal yang kesannya bertentangan ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejarah mencatat dua peristiwa besar yang menjadi pangkal berakhirnya Perang Dunia ke-2: D-Day dan VE-Day. D-Day terjadi pada 6 Juni 1944, ketika para pasukan Sekutu mendarat di Normandy, Perancis. Ini adalah titik balik dalam perang yang berlangsung; ketika pendaratan ini berhasil, nasib Hitler sudah sangat jelas. Pada dasarnya, perang sudah berakhir. Namun kemenangan total di Eropa (VE-Day) tidak terjadi sampai tanggal 7 Mei 1945 ketika pasukan Jerman menyerah di Berlin. Periode sebelas bulan ini dicatat sebagai salah satu periode pertumpahan darah terbesar sepanjang sejarah perang. Pertempuran-pertempuran terjadi di seluruh Perancis, Belgia, dan Jerman. Walaupun secara fisik para musuh sudah terluka, namun mereka tidak sepenuhnya menyerah.&amp;lt;br&amp;gt; {{LeftInsert| “Pemilihan Ilahi adalah jaminan bahwa Allah akan bekerja dalam melengkapi pemilihan kita (untuk diselamatkan oleh anugerah-Nya) dengan anugerah pengudusan-Nya. Ini adalah arti dari Perjanjian Baru: Allah tidak hanya sekedar memerintahkan agar kita taat kepadaNya, namun juga memberikan kemampuan pada kita untuk menaatiNya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-'''John Piper''' }}&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salib adalah D-Day kita. Di sana, Tuhan kita Yesus Kristus mati disalibkan, untuk mematahkan belenggu dosa dari umatNya. Berdasarkan kematian dan kebangkitanNya, kita semua dibenarkan. Namun, kemenangan akhir akan terjadi ketika Ia datang. Tidak ada keraguan mengenai hasil akhirnya. Namun kita masih akan menemui gesekan-gesekan dan pertandingan-pertandingan sampai Tuhan muncul di dalam kemuliaanNya untuk memusnahkan kuasa kegelapan selamanya. {{RightInsert| '''Untuk Bacaan Lebih Lanjut''': Bacalah 1 Petrus 5:8-9. Walaupun kemenangan akhir Allah tidak bisa disangkal, namun kita harus tetap berjuang melawan musuh kita.}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fakta ini, apabila kita tetap berusaha untuk mengingatnya, dapat membuat kita tidak patah semangat. Pertarungan masih berlangsung, namun peperangan utama sudah dimenangkan. Kesadaran akan karya pengorbanan Kristus yang telah dilakukan bagi kita sangat penting untuk memacu semangat moral kita seiring dengan usaha kita untuk mencapai suatu kekudusan hidup. Kita harus mempelajari dan merenungkan doktrin utama mengenai pembenaran sampai hal itu sungguh tertanam dalam kesadaran kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== '''Butuh Obat Kumur?'''  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun kita sudah dibenarkan sepenuhnya di dalam Kristus (D-Day), bukan berarti kita sudah sepenuhnya disucikan (VE-Day). Beberapa orang gagal memahami hal ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengajar Alkitab Ern Baxter menyampaikan kejadian yang terjadi saat Latter Rain Revival di akhir tahun 1940-an. Ada suatu ajaran menyimpang yang dinamakan “manifestasi anak-anak Allah”. Pada intinya ajaran itu menyampaikan doktrin yang menjanjikan kekudusan total di dalam hidup ini. Pada bentuk ekstrimnya, ajaran itu termasuk kepercayaan bahwa elit spiritual akan menerima tubuh kemuliaan sebelum kedatangan Kristus untuk kedua kalinya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada sesi penutupan acara dimana Baxter menjadi pembicaranya, beberapa ‘anak-anak Allah’ muncul di pojok auditorium berbalutkan jubah putih. Ketika ia selesai menyampaikan Firman, mereka berjalan ke depan dan mulai mencoba untuk menarik pengikut-pengikut baru bagi doktrin mengenai kesempurnaan total yang mereka ajarkan. Ketika ia mengingat peristiwa itu, ia menyatakan, “Wanita yang menjadi kelompok di grup itu benar-benar membutuhkan Listerine (merek obat kumur). Bukan itu jenis kesempurnaan yang saya nantikan.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih umum dari skenario yang terjadi lewat peristiwa yang dialami oleh Ern Baxter diatas, adalah situasi-situasi yang terjadi akibat dari kurangnya pengetahuan dan kecenderungan untuk menyederhanakan konsep kekudusan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| 2 Kalau anda mencari kesempurnaan total di dalam hidup ini, kira-kira mana dari antara beberapa hal di bawah ini yang paling sulit untuk dilakukan oleh anda? &lt;br /&gt;
*Sama sekali tidak akan pernah mengendarai mobil lebih dari batas kecepatan. &lt;br /&gt;
*Berbicara dengan hangat dan lembut pada setiap sales yang menelepon rumah anda. &lt;br /&gt;
*Mengindari semua kalori yang tidak dibutuhkan. &lt;br /&gt;
*Tidak pernah memukul jam weker anda ketika ia membangunkan anda. &lt;br /&gt;
*Senantiasa membayar pajak penghasilan anda dengan sukacita.}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu saya baru menjadi orang percaya, saya berjumpa dengan seorang pria muda bernama Greg, mengaku menjadi seorang perampok dan pengguna obat terlarang yang sepertinya bertobat waktu di dalam penjara. Pegangan hidup Greg dalam menjalani kehidupan kekristenan sangat memukau diri saya. Ia membawakan dirinya dengan keyakinan penuh dan sedikit keangkuhan. Ia berbicara seakan-akan dosa itu bukan menjadi suatu masalah lagi baginya. Lebih dari sekali dia mengatakan kepada saya betapa ia sudah “diselamatkan, disucikan, dan dipenuhi oleh Roh Kudus.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar dia mengatakan hal itu, sepertinya membuat hal itu seakan-akan mudah dan sederhana. Sebagai seorang Kristen yang baru, pada suatu waktu ia naik ke dalam kereta, dan waktu dia baru berangkat, beberapa jam kemudian ia sudah mengalami apa yang dinamakan olehnya sebagai “pengalaman pengudusan.” Dia berusaha meyakinkan saya bahwa pengalaman itu adalah hal yang dibutuhkan pertama kali untuk menerima baptisan Roh Kudus, dan sekali itu terjadi, itu akan berlaku selamanya. Saya harus mengakui di sini, bahwa ada beberapa hal tentang Greg yang kesannya tidak terlalu kudus. Ia mempunyai kecenderungan untuk menghakimi orang dan perilaku seorang farisi. Ia bisa menjadi seorang yang terlalu menguasai dan picik. Saya ingat pada suatu saat ketika seorang teman tidak sengaja meletakkan suatu benda di atas Alkitabnya: “Maaf—itu kan Firman Allah!” Tapi tetap saja, dia yakin dia bisa mengutip Alkitab, dan sepertinya sangat memahami perihal pengudusan.&amp;lt;br&amp;gt; {{RightInsert| Untuk Renungan Lebih Lanjut: Bacalah Matius 26:41. Kapan waktunya kita bisa aman menganggap bahwa kita sudah “sampai” pada titik pengudusan?}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sangat mengejutkan ketika pada akhirnya ia kembali mengedarkan dan memakai obat terlarang. Masalah Greg terkait dengan kurangnya pemahaman dan juga kesalah-pahaman mengenai ajaran Alkitab terkait dengan konsep pengudusan. Ia sudah melakukan kesalahan seperti yang banyak orang lakukan dengan hanya memfokuskan perhatian pada beberapa ayat Alkitab favorit yang sepertinya membenarkan pengalaman pribadinya.&amp;lt;br&amp;gt; {{LeftInsert| &amp;quot;Kekudusan bukan jalan menuju Kristus. Kristus, adalah jalan menuju kekudusan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; '''—Adrian Rogers'''}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; Kekudusan itu sifatnya pasti (terjadi saat kita bertobat) dan progresif (terus berlangsung). Semua ini tidak terjadi pada sekali waktu di masa lalu, dan bukan juga suatu hal yang akan terjadi secara bertahap. Kita sudah diubahkan dan kita sedang berubah. Tanpa mengesampingkan keberhasilan pendaratan kita di Normandy, marilah kita bijak dan realistis saat menilai adanya oposisi yang ada diantara kita dan Berlin. Kita tidak punya pilihan yang memungkinkan kita untuk mendapatkan tiket naik ke dalam kereta pengudusan, seperti yang Greg yakini. Hal itu akan menjadi suatu pertandingan di setiap langkah kehidupan kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Setimpal dengan Usahanya  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi beberapa orang, “pengudusan” adalah suatu istilah teologis yang sering didengar, namun jarang dimengerti. Kedengarannya itu adalah suatu hal yang cocok untuk mahasiswa teologia dan kurang praktis untuk kehidupan sehari-hari. Namun sebaliknya, hal itu adalah suatu hal yang sangat amat praktis, dan bisa dikaitan dengan kehidupan keseharian. Doktrin mengenai pengudusan bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh hampir seluruh orang Kristen di dalam sejarah gereja. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana saya bisa berubah? &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana saya bisa bertumbuh? &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana saya menjadi serupa dengan Kristus? &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana saya bisa tidak terperangkap di tengah? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apapun yang bisa menjawab pertanyaan itu akan mengharuskan kita untuk melakukan beberapa usaha. Lampiran A (halaman 93) menunjukkan bahwa beberapa cabang gereja sudah membicarakan masalah ini di masa lalu, namun mari kita lihat apa yang bisa kita pelajari mengenai aplikasi dari doktrin yang penting ini pada masa kini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Arti Alkitabiah dari kata menguduskan (menyucikan) adalah “untuk memisahkan; mengkhususkan.” (Kesucian berasal dari akar kata yang sama dalam bahasa Yunani) Hal ini bisa diaplikasikan pada orang, tempat, situasi, atau benda tertentu. Ketika suatu hal dikuduskan, hal itu akan dipisahkan dari pemakaian pada umumnya dan didedikasikan untuk kepentingan khusus. Misalnya, pada jaman Musa, Hari Raya Pendamaian dikuduskan bagi Allah yang Kudus. Hari itu menjadi hari yang kudus. Sebuah hal yang dikuduskan tidak akan serta merta menjadi suci karena dipisahkan dari hal lainnya; kesucian yang didapat akan berasal dari untuk apa (atau kepada siapa) kah hal itu disucikan. Karena hanya Allah saja yang suci, maka hanya Dia-lah yang bisa mengimpartasikan kesucian. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara teologis, istilah “pengudusan” telah dipergunakan untuk menggambarkan proses yang dilalui oleh seorang percaya ketika Roh Allah sedang bekerja di dalam hidupnya untuk membuat dirinya semakin menyerupai Kristus. Prosesnya dimulai saat kita lahir baru, dan terus berlangsung sepanjang kita hidup. Hal ini ditandai dengan konflik keseharian seiring dengan usaha kita untuk mengalahkan dosa yang ada di dalam diri kita dengan anugerah dan kekuatan yang Allah berikan bagi kita. Camkan di dalam pikiran bahwa rasa bersalah yang didapat dari dosa sudah dihilangkan lewat pembenaran, sebagaimana yang dijelaskan oleh Anthony Hoekema; penyucian menghilangkan pencemaran akibat dosa: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang dimaksud dengan rasa bersalah adalah kondisi di mana kita layak mendapatkan penghukuman atau harus bertanggung jawab untuk menerima hukuman karena telah melanggar hukum Allah. Yang dimaksud dengan pembenaran, sebagai tindakan deklaratif Allah, adalah bahwa rasa bersalah akibat dosa dihilangkan atas dasar karya utama Yesus Kristus. Yang dimaksud dengan pencemaran adalah bahwa kita memiliki kecenderungan bawaan yang terjadi sebagai akibat dari dosa yang juga pada akhirnya menciptakan dosa lain lebih lanjut. Sebagai akibat dari kejatuhan Adam dan Hawa, kita semua lahir dengan kondisi seperti ini; dosa-dosa yang kita lakukan tidak hanya berasal dari kecenderungan kita untuk berdosa, namun juga menambah kecenderungan itu sendiri. Yang dimaksud dengan penyucian adalah kondisi dimana pencemaran yang didapat dari dosa sedang dalam proses (tahapan) pembersihan (walaupun hal itu tidak akan sepenuhnya dibersihkan sampai kita memasuki hidup baru di Surga). {{RightInsert| '''Untuk Bacaan Lebih Lanjut''': Apakah anda menyadari betapa penting dan bermanfaatnya apabila kita memiliki perasaan takut akan Allah? (Lihat Mazmur 19:9 dan 25:14, Amsal 1:7 dan 9:10, dan 1 Petrus 1:17.)}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alkitab juga mendefinisikan penyucian sebagai proses pertumbuhan menuju hidup yang saleh. Hidup yang saleh merujuk pada suatu kehidupan yang menunjukkan dedikasi kepada Allah, dan karakter yang muncul akibat dedikasi tersebut. Hidup yang saleh melibatkan kasih terhadap Allah dan kerinduan akan Allah. Selain itu juga mengandung rasa takut akan Allah, yang menurut John Murray adalah “jiwa dari hidup yang saleh”. Karena telah ditebus dari ancaman hukuman kekal, orang Kristen menyatakan rasa takutnya kepada Allah dengan memfokuskan diri tidak kepada murka Allah, tapi kepada “kemuliaan, kekudusan dan keagunganNya...” Rasa takut akan Allah mempunyai dampak yang baik bagi hati kita, dimana rasa ini akan memurnikan hati kita, dan juga hal ini adalah syarat apabila kita hendak menjalin hubungan yang lebih intim dengan Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hidup yang saleh melibatkan lebih dari sekedar unsur moralitas atau tindakan fanatik. Hal tersebut berasal dari kesatuan dengan Kristus dan hasrat untuk memuliakanNya. Seorang yang saleh akan berkeinginan untuk menjadi seperti Tuhan-nya juga ingin untuk menyenangkan hatiNya. Ia ingin merasakan apa yang dirasakan olehNya, memikirkan apa yang dipikirkan oleh Tuhan-nya melebihi dirinya sendiri, dan melakukan apa yang menjadi kehendakNya. Secara singkat, orang seperti ini ingin menjadi seseorang yang memiliki karakter Allah, sehingga Allah bisa dimuliakan lewat hidupnya. Tidak ada hal lain yang layak diperjuangkan sepanjang hidup kita: “Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang” (1 Timotius 4:8). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baik Allah maupun manusia memegang peran penting dalam konteks penyucian. Allah, dengan anugerahNya, memulai karya penebusan di dalam kita dan memberikan keinginan serta kuasa untuk mengalahkan dosa. Sebagai respon sekaligus sambil bersandar pada anugerahNya, kita menaati perintah Alkitab&amp;amp;nbsp;: “karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya. Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan” (Filipi 2:12-13) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|“Penyucian, menurut Westminster Shorter Catechism, adalah ‘pekerjaan dari anugerah Allah yang diberikan secara cuma-cuma, dimana kita diperbaharui menjadi manusia seutuhnya berdasarkan gambaran Allah, dan dimampukan lebih dan lebih lagi untuk mati bagi dosa, dan hidup bagi kebenaran.’ Konsep yang terkandung di dalam hal ini adalah bukan berarti dosa itu dihapuskan total (hal ini terlalu berlebihan) atau hanya ditangkis (hal ini terlalu meremehkan), namun berkaitan dengan perubahan karakter ilahi kita yang membebaskan kita dari kebiasaan-kebiasaan kita yang penuh dosa dan membentuk kita menjadi serupa dengan Kristus dalam hal perasaan, sifat, dan karakteristik-karakteristik lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
— '''J.I. Packer'''&lt;br /&gt;
}} &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam Perjanjian Baru, posisi dari hidup kudus itu berada pada titik tengah antara legalitas di satu sisi, dan lisensi di sisi lainnya. Semua tradisi gereja yang terlalu menitik beratkan pada karya Allah di dalam kita tanpa menaruh pengharapan bahwa karya itu akan menghasilkan suatu hasrat yang terus bertambah di dalam diri kita untuk menuju suatu kesalehan hidup, akan cenderung menuju ke arah lisensi. “Karena, seperti yang telah kerap kali kukatakan kepadamu, dan yang kunyatakan pula sekarang sambil menangis, banyak orang yang hidup sebagai seteru salib Kristus. Kesudahan mereka ialah kebinasaan, Tuhan mereka ialah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi” (Filipi 3:18-19). Di lain pihak ada juga pihak yang terlalu menitik beratkan pada porsi manusia sehingga mereka menyimpang dari kebenaran Allah dan berakhir pada prinsip legalitas. (Tentu saja seluruh hal ini mempunyai kadar yang bervariasi). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| '''Renungkan 1 Timotius 6: 11-16.''' Paulus adalah seorang yang sangat mampu menjadi seorang motivator yang handal. }} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bagaimana Meraih Kesempurnaan &amp;lt;br&amp;gt;  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu pertanyaan yang umum diucapkan oleh orang Kristen adalah, “Sejauh mana saya bisa berharap pada proses penyucian ini? Apakah pada akhirnya saya bisa benar-benar bebas dari dosa?” Jenis pertanyaan ini akan menjadi relevan terutama ketika kita membaca pernyataan seperti yang disampaikan oleh Paulus kepada jemaat di Filipi: “Karena itu marilah kita, yang sempurna, berpikir demikian. Dan jikalau lain pikiranmu tentang salah satu hal, hal itu akan dinyatakan Allah juga kepadamu” (Filipi 3:15). Bahkan Yesus menyampaikan hal itu lebih gamblang di ayat yang sudah disebutkan sebelumnya: “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna” (Matius 5:48).&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| 3 Cobalah untuk menjawab kuis Benar/Salah di bawah ini, untuk mengetahui sejauh mana anda sudah memahami materi ini: (Jawaban dicetak terbalik di bagian bawah halaman 9) &lt;br /&gt;
*Arti dari kata “menguduskan (menyucikan)” adalah “menajiskan, memisahkan” '''B S''' &lt;br /&gt;
*Proses penyucian dimulai saat kita lahir baru, dan terus berlangsung sepanjang kita hidup. '''B S''' &lt;br /&gt;
*Rasa bersalah yang didapat dari dosa sudah dihilangkan lewat pembenaran '''B S'''&lt;br /&gt;
*Hidup yang saleh hanya memiliki arti yang berkaitan dengan unsur moralitas atau tindakan fanatik seseorang. '''B S''' &lt;br /&gt;
*Hanya Allah yang bertanggung jawab terhadap proses penyucian kita. '''B S'''}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah Allah sungguh berharap supaya kita mencapai tahap kesempurnaan? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keinginan untuk menjadi sempurna sudah menginspirasi banyak orang untuk mencari Allah. Di sepanjang sejarah manusia, banyak penulis puisi dan filosofer yang mengekspresikan keinginan untuk mencapai kembali kesucian hidup. Penulis lagu kontemporer Crosby, Stills, dan Nash merayakan pengalaman Woodstock dengan lagu yang berlirik, “Kita adalah debu bintang-bintang, kita ini berharga, kita terjebak di dalam penawaran iblis. Dan kita harus mencari cara kembali ke Taman (Surga).” Masalahnya, kita semua tahu kalau kita ini jauh dari kesempurnaan. Dalam dunia khayal perfilman, Mary Poppins bisa saja dengan riang menyatakan bahwa dia adalah “sempurna di segala hal,” namun di kehidupan nyata, hal itu tidak mungkin terjadi. Dan tentu saja kita tidak bisa menjadi sempurna lewat metode Woodstock. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; {{RightInsert| &amp;quot;Ketika terang cahaya...kemuliaan Allah jatuh ke atas roh kita, kita dimenangkan dari segala pemikiran yang palsu dan kurang tepat mengenai kesucian kita sendiri. Kita juga dilindungi dari segala pengajaran murahan yang mendorong kita untuk mempercayai bahwa ada jalan-jalan pintas yang memudahkan kita untuk mencapai kesucian hidup. Kesucian hidup bukanlah sebuah pengalaman; itu adalah penyatuan kembali karakter kita, juga pemugaran kembali satu hal yang sudah menjadi reruntuhan. Hal itu memerlukan ketrampilan dan merupakan suatu proyek jangka panjang yang memerlukan segala hal yang sudah diberikan oleh Allah dalam menjalani hidup kita juga untuk mencapai suatu kesalehan hidup.&amp;quot;[12]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;— '''Sinclair Ferguson''' }} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
R.A. Muller menyatakan bahwa Alkitab jelas menyatakan bahwa kita harus menjadi sempurna, namun pada saat yang bersamaan memberikan bukti bahwa kesempurnaan penuh itu tidak bisa dicapai di dalam hidup ini. Hal ini menghantarkan kita pada titik dilematis. Kita tidak bisa secara bebas mengangkat tangan dan mengakui kekalahan. Namun kita juga tidak bisa memiliki mentalitas ‘over pede (percaya diri)’ berkaitan dengan konsep kesempurnaan, yang lebih umum ditemukan di dalam konteks metode berpikir positif daripada yang ada di dalam Alkitab. Satu-satunya cara untuk memecahkan dilema ini adalah dengan menyadari bahwa Perjanjian Baru melihat konsep kesempurnaan dalam dua cara. Pandangan Paulus tentang jemaat Filipi adalah kedewasaan, bukan ketidak-bercelaan. Perhatikan bagaimana Alkitab versi New International Version menerjemahkan perkataannya kepada gereja di Filipi: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Setiap dari kita yang sudah dewasa harus memiliki kecenderungan yang sama dalam berbagai hal” (Fil 3:15). “Kesempurnaan” dalam hal ini bisa lebih tepat didefinisikan sebagai “mereka yang sudah menunjukkan perkembangan berarti dalam hal spiritualitas dan keseimbangan hidup” &amp;lt;br&amp;gt; {{LeftInsert| '''Renungkan 1 Petrus 1:14-16'''. Apakah perintah ini kedengarannya tidak realistis? Apakah mungkin Allah meminta anda untuk melakukan suatu hal yang mustahil? }} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adalah suatu hal yang alamiah apabila semua anak mau untuk bertumbuh dengan sempurna. Ini juga berlaku bagi orang percaya. Daripada mengambil pendekatan jalan pintas dan prinsip mencoba-coba dalam mencapai pertumbuhan, kita seharusnya membiarkan panggilan untuk menjadi sempurna itu mendorong kita untuk masuk ke dalam proses pencarian yang serius mengenai bagaimana caranya supaya kita menjadi seperti Yesus. Contoh dari Paulus sendiri seharusnya mampu menjadi contoh bagi kita semua: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert| '''Jawaban''': S, B, B, S, S }} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena aku pun telah ditangkap oleh Kristus Yesus. Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus. (Filipi 3:12-14) &amp;lt;br&amp;gt; {{LeftInsert| 4 Ada stiker mobil yang pernah populer, bertuliskan, “Orang Kristen Itu Tidak Sempurna – Hanya Dimaafkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
}} &amp;lt;br&amp;gt; {{RightInsert| “Pertama-tama kita harus dibuat menjadi sesuatu yang baik sebelum kita bisa melakukan kebaikan.” &amp;lt;br&amp;gt;'''— Hugh Latimer'''}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita melihat pengulangan kata sempurna di dalam surat Paulus yang pertama kepada jemaat di Korintus. “Tetapi jika yang sempurna tiba,” katanya, “maka yang tidak sempurna itu akan lenyap” (1 Korintus 13:10). Dalam konteks ini, sempurna adalah istilah yang diberikan secara khusus pada Allah Bapa– sebuah konsep kesempurnaan yang tidak akan bisa ditemukan sampai Kristus datang. Teolog Louis Berkhof lebih cenderung untuk membicarakan kesempurnaan-kesempurnaan Allah daripada kualitas karakteristikNya. Allah itu benar-benar tak bercacat cela. Tidak peduli seberapa matangnya kita di dalam hidup ini, kita tidak akan pernah mencapai kesempurnaan sampai suatu saat Allah menyempurnakan kita di dalam kemuliaan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Tujuh Alasan Untuk Menutup Celah  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada umumnya, dunia sudah memiliki kesan negatif terhadap kesucian. Banyak pihak menyamakan hal itu dengan suatu hal yang suram, memikul salib tanpa adanya sukacita. Hal itu lebih dilihat sebagai suatu kondisi “lebih-suci-dari-kamu” sebagai suatu tindakan pembenaran diri sendiri, daripada melihat hal itu sebagai suatu pengalaman yang penuh sukacita. Sebelum kita menutup bagian ini, marilah kita menghilangkan pendapat demikian dengan melihat pada beberapa keuntungan dan berkat yang dapat kita peroleh dari tindakan mengikuti Kristus. Ini adalah tujuh buah dari penyucian (pengudusan): &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah dipermuliakan. Ketika kita suci, kita semakin mempercayai bahwa Allah itu sungguh nyata dan menakjubkan seperti yang dinyatakan sendiri olehNya. Paulus menyatakan bahwa pekerjaan-pekerjaan baik yang dilakukan oleh orang Kristen memperindah doktrin mengenai Kristus (Titur 2:10). Bahkan mereka yang menolak Allah akan dipaksa untuk mengakui keberadaanNya ketika para pengikutnya berjalan di jalanNya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hubungan berkelanjutan dengan Allah Bapa di dalam hidup ini. “Jika seorang mengasihi Aku,” kata Yesus “ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia” (Yohanes 14:23). Merupakan suatu sukacita dan ketenangan yang luar biasa apabila kita mengalami hadirat Allah dan Anak melalui Roh kudus. Dan Yesus menandakan bahwa hadirat ini adalah suatu hadirat yang dipenuhi dengan kasih, bukan dengan nuansa yang dingin. Tentu saja, bersamaan dengan kehadiranNya akan datang juga kuasaNya, yang memampukan kita untuk mengalahkan tantangan-tantangan di dalam hidup kita. &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Persekutuan dengan orang percaya lainnya. Apabila kita berjalan di dalam kegelapan, kita tidak bisa menikmati persekutuan yang tulus dengan sesama orang percaya. “Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa” (1 Yohanes 1:7). Allah berjanji untuk melengkapi kita dengan belas kasihan, hai rekan-rekan seperjalanan yang sedang menjalani jalan menuju penyucian. Bagi saya pribadi, saya menemukan bahwa kebenaran Allah ditambah dengan contoh-contoh para pelayan Allah lainnya adalah suatu hal yang penting bagi pertumbuhan spiritual saya. Dan selama saya berjalan di jalanNya, saya tidak pernah kekurangan keduanya. Kita saling membutuhkan satu sama lain (dalam konteks gereja) apabila kita hendak berhasil. Kekudusan dan komunitas Kristiani akan saling melengkapi satu sama lain. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keyakinan akan keselamatan. Walaupun keselamatan kita tidak didasarkan pada usaha kita untuk mencapai kekudusan, keyakinan akan keselamatan cenderung untuk berkaitan dengan kekudusan hidup. Di dalam surat Petrus yang kedua, Petrus menggugah para pembaca untuk sungguh-sungguh berusaha senantiasa mengumpulkan karakteristik spiritual, menambahkan kepada iman kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang yang dimiliki secara berkelimpahan (2 Petrus 1:5-9). Dia mengingatkan bahwa apabila ada yang tidak memiliki semuanya itu, maka ia akan lupa .... ... bahwa dosa-dosanya yang dahulu telah dihapuskan. Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung. Dengan demikian kepada kamu akan dikaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. (2 Petrus 1:9-11) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengabaran Injil. Sebagai seorang muda yang masih dibawah pengaruh dosa, saya mencoba sebisa saya untuk menemukan kesalahan-kesalahan di dalam hidup orang percaya supaya saya bisa menolak pesan yang mereka sampaikan dan mencap mereka sebagai orang munafik. Namun walaupun mereka tidak sempurna, tapi saya tidak bisa menemukan ketidak-konsistenan yang tergolong fatal. Sebuah keluarga besar yang menjangkau saya dengan Injil lebih memberikan pengaruh kepada saya lewat gaya hidup mereka daripada dengan perkataan-perkataan yang diucapkan. Sang suami mengasihi istrinya, sang istri menghormati suaminya, anak-anak menaati orang tuanya, dan mereka semua sangat bersuka cita. Saya tidak pernah melihat hal seperti itu. {{RightInsert| '''Renungkan 1 Petrus 2:12'''. Walaupun orang yang belum percaya mungkin menghina gaya hidup anda sekarang, akibat apa yang mungkin mereka terima pada akhirnya?&lt;br /&gt;
}}&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah disampaikan bahwa meskipun dunia mungkin tidak membaca Alkitab, tapi dunia membaca orang-orang Kristen. Allah menggunakan orang-orang kudus untuk menjangkau orang lain. Bukan orang yang sempurna, namun kudus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemahaman, kebijakan, dan pengetahuan. Harta-harta inilah yang akan diperoleh mereka yang mencari Allah dengan sepenuh hati (Amsal 2:1-11). Mereka terlindungi dari para penghujat, pemberontak, dan para orang bodoh. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat Allah. Alkitab menyatakan, “Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan” (Ibrani 12:14). Meskipun arti sebenarnya dari pasal ini masih dilingkupi oleh misteri, tapi Alkitab bisa memberikan gambaran mengenai “Penglihatan yang Menakjubkan,” atau melihat Allah. Hal itu akan terjadi ketika Tuhan datang kembali, ketika semua musuh sudah dikalahkan dan kita semua sudah disucikan dengan sempurna. Pada saat itu, penglihatan kita mengenai Allah akan berkelanjutan dan intens, tanpa distraksi atau tindakan yang berfokus pada ke ‘aku’ an akibat dari dosa. Bukan berarti pengetahuan kita akan Allah akan menjadi sempurna, karena Ia akan terus menyatakan diriNya lebih dan lebih lagi.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; {{LeftInsert| “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.”&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;—'''Yesus''' (Matius 5:8) }}&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berbahagialah orang yang suci hatinya, “ kata Yesus, “karena mereka akan melihat Allah” (Matius 5:8). Penyataan akan kebesaran dan kebaikanNya adalah hal terindah yang bisa kita dapatkan apabila kita menjalani hidup kita dengan penuh kekudusan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Seperti yang sudah anda lihat, ada banyak alasan baik yang dapat menggugah kita untuk menutup celah antara harapan Allah akan diri kita, dan pengalaman kita pribadi. Kita diciptakan untuk turut ambil bagian dalam kekudusanNya-bukan hanya di surga, namun juga di bumi. Selangkah demi selangkah, kita bisa belajar untuk mengalahkan dosa dan hidup dengan cara yang semakin lama semakin memancarkan kemuliaan dan karakter Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam bab pertama, kami sudah mencoba untuk menarik minat anda pada kesalehan hidup. Dimulai dari bab kedua, kami akan membangun kerangka Alkitabiah yang dibutuhkan untuk mendukung suatu kehidupan yang kudus- dan penuh sukacita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Diskusi Kelompok  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Apa gejala-gejala yang menandakan seseorang sedang terperangkap di tengah? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Celah antara standar-standar Allah dan perilaku kita sendiri tidak bisa dihindari; namun terlalu berlebihan apabila kita menamakan diri kita munafik. Di mana kita bisa menarik garis untuk membedakan keduanya? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Bagaimana menjelaskan hubungan antara penyucian diri kita dengan sejarah masa lalu dan harapan di masa depan? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Rasa takut akan Allah, menurut penulis, adalah suatu “syarat untuk mencapai keintiman rohani dengan Allah.” (Hal. 7) Apa maksudnya? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Sejauh mana seorang kristen yang dewasa rohani bisa bebas dari dosa? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6. Sekarang setelah anda selesai membaca bagian ini, bagaimana anda akan menjelaskan Matius 5:48 kepada orang yang baru percaya? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bacaan Yang Direkomendasikan  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
How to Help People Change 'by Jay E. Adams (Grand Rapids, MI: Zondervan Publishing House, 1986) Saved by Grace by Anthony A. Hoekema (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1989) Referensi 1. ↑ Jay E. Adams, The Biblical View of Self-Esteem, Self-Love, Self-Image (Eugene, OR: Harvest House Publishers, 1986), h. 78. 2. ↑ Oscar Cullman, Christ and Time (Philadelphia, PA: The Westminster Press, 1964), h. 3. 3. ↑ John Piper, The Pleasures Of God (Portland, OR: Multnomah Press, 1991), h. 147. 4. ↑ Ern Baxter, pesan yang direkam, “Sanctification,” n.d. 5. ↑ Quoted in Gathered Gold, John Blanchard, ed. (Welwyn, Hertfordshire, England: Evangelical Press, 1984), h.146. 6. ↑ J.C. Ryle, Holiness (Welwyn, Hertfordshire, England: Evangelical Press, 1879, reprinted 1989), h. 39. 7. ↑ 7. Anthony A. Hoekema, Saved by Grace (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1989), h. 192-93. 8. ↑ Jerry Bridges, The Practice of Godliness (Colorado Springs, CO: NavPress, 1983), h. 15-20. 9. ↑ Idem, p. 24. 10. ↑ Idem, p. 26. 11. ↑ J.I. Packer, Concise Theology (Wheaton, IL: Tyndale House, 1993), h. 169. 12. ↑ Sinclair Ferguson, A Heart for God (Colorado Springs, CO: NavPress, 1985), h. 129. 13. ↑ R.A. Muller, The International Standard Bible Encyclopedia, Volume Four (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1988), h. 324. 14. ↑ William Hendriksen, New Testament Commentary: Philippians (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1962), h. 176. 15. ↑ Quoted in Gathered Gold, p.148. 16. ↑ Louis Berkhof, Systematic Theology (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1941), p. 52. ↑ Sumber Asli tidak diketahui&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Susanlim</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/How_Can_I_Change%3F/Caught_in_the_Gap_Trap/id</id>
		<title>How Can I Change?/Caught in the Gap Trap/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/How_Can_I_Change%3F/Caught_in_the_Gap_Trap/id"/>
				<updated>2009-01-29T10:08:43Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Susanlim: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|Bagaimana Saya Bisa Berubah?/Terperangkap di Tengah}}&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semua yang kini sedang bergumul melawan amarah, silakan maju ke depan. Kami mau berdoa untuk anda.”&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu itu hari Minggu pagi. Saya baru saja menyelesaikan khotbah mengenai amarah, dan saya mau memberikan waktu bagi Roh Kudus untuk bekerja di dalam hati orang-orang yang hadir saat itu. Namun saya terkejut melihat respon yang diberikan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekitar dua puluh orang-orang yang rendah hati maju ke depan mimbar—untuk ukuran gereja kami, jumlah ini cukup besar. Namun, bukan jumlahnya yang menarik perhatian saya. Yang menarik perhatian saya adalah orang-orang yang maju ke depan. Sembilan belas dari dua puluh orang yang maju ke depan adalah para ibu muda! (Amarah sangat rentan dialami oleh para ibu, sejauh yang saya ketahui.) Sebagai gembala, saya tahu bahwa para wanita ini adalah orang kristen yang sungguh-sungguh. Apa yang menyebabkan mereka maju ke depan adalah rasa frustasi mendalam mereka yang dialami karena mereka merasa terperangkap di tengah -- zona antara standar Alkitabiah yang berkaitan dengan penguasaan diri, dan kegagalan mereka untuk hidup menurut standar Alkitabiah itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah masalah itu berkaitan dengan amarah, ketakutan, kekuatiran, atau suatu hal yang umum, seperti kemalasan, kita semua sudah mengalami perasaan terperangkap di tengah, antara siapa diri kita saat ini, dan siapa diri kita seharusnya. Alkitab menyatakan bahwa kita adalah ciptaan baru, para pemenang, penakluk. Dan kita bukan hanya sekedar pemenang, melainkan lebih dari seorang pemenang (Roma 8:37). Kadang kita memang merasa seperti itu. Namun yang lebih sering, kita mengalami kesulitan melihat suatu hal yang melampaui kelemahan-kelemahan dan kegagalan-kegagalan kita. Dan yang menariknya, justru di saat-saat seperti ini, ayat dalam Matius 5:48 mendadak jadi tampil ke permukaan: “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| '''Untuk Dipelajari Lebih Lanjut:''' Bahkan Rasul Paulus mengalami saat dimana ia merasa terperangkap di tengah (Roma 7:21-25). Dapatkah anda membandingkan rasa frustrasi anda dengan rasa frustrasi yang dialami Rasul Paulus?}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlahan kita menghela nafas dan berkata,''Hal itu tidak akan pernah menjadi kenyataan''. &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya menyebut kondisi ini sebagai “perangkap tengah”. Berikut adalah cara kerjanya: Sebagai orang kristen, kita semua memiliki pengetahuan mengenai hal-hal yang diharapkan Allah dari diri kita. Namun pada kenyataannya, apa yang kita capai jauh dari apa yang -kita tahu- sebenarnya harus kita capai. Maka, terciptalah suatu jarak antara apa yang kita tahu harus kita lakukan, dan performa kita yang sesungguhnya. Apabila jarak antara keduanya terlampau jauh, kita bisa saja langsug di cap sebagai seorang munafik. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| “Kehidupan kekristenan semata-mata berkaitan dengan perubahan karakter intrinsik kita menuju karakter Kristus.. Tujuan dari ayat-ayat ini (Misalnya Roma 6, Kolose 3: 5-14, Efesus 4:22-32) adalah untuk menunjukkan kepada kita bahwa ada jarak yang hebat antara siapa kita di dalam Kristus (pembenaran) dan siapa kita sebenarnya dalam kehidupan keseharian kita (pengudusan), yang tujuannya adalah untuk mendorong kita agar kita menutup jarak yang ada antara keduanya... Tujuan Paulus adalah untuk mengugah kita supaya dalam kehidupan keseharian kita, kita mampu menampilkan perilaku-perilaku yang menggambarkan siapa kita sebenarnya di dalam Kristus.” &amp;lt;br&amp;gt;- '''Jay Adams'''}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Situasi ini adalah suatu hal yang nyata dalam kehidupan kekristenan. Bagi sebagian besar, tidak dibutuhkan orang lain untuk memberitahu kita mengenai ketidak-konsistenan di dalam hidup kita—kita semua terlalu manyadarinya. Kesadaran itu seharusnya membuat kita menjadi semakin rendah hati dan menggantungkan diri kepada Tuhan supaya kita bisa berhasil menutup ketidak-konsistenan itu. Namun biasanya momen ‘terjebak di tengah’ ini muncul akibat ketidakpedulian kita akan doktrin atau ajaran mengenai pengudusan. Daripada menyadari kalau jarak ini ada sebagai pertanda bahwa kita membutuhkan pertolongan dari Allah saja, kita malah membiarkan jarak ini untuk menghukum kita, dan memperlambat kemajuan kita. Kita menjadi terjebak dalam pemikiran bahwa kita adalah seorang pecundang, bodoh, orang yang penuh kegagalan... dan mungkin saja bukan benar-benar seorang Kristen. Beberapa orang bahkan terperosok lebih jauh dalam ketidaktaatan. Mereka yang terjebak di situasi seperti ini (dan pada level tertentu, kita semua termasuk di dalamnya) mengalami penderitaan (yang sebenarnya tidak diperlukan) karena patah semangat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai seorang gembala, salah satu tanggung jawab utama saya adalah membantu orang-orang agar bisa keluar dari jebakan ini. Saya sering menyampaikan pada orang-orang, “Hal itu tidak akan instan terjadi, dan membutuhkan usaha yang sungguh-sungguh, namun supaya bisa keluar dari jebakan itu tidaklah rumit. Dan percayalah, anda tidak akan kecewa melihat hasilnya.” Mungkin anda merasa bahwa anda sedang berada di posisi seperti ini. Jika demikian, kami yakin buku ini dapat menolong anda untuk menutup jarak yang ada antara siapa anda seharusnya di dalam Kristus dan siapa anda sebenarnya dalam kehidupan keseharian anda. Dapatkah anda membayangkan kehidupan dimana anda mematahkan kebiasaan-kebiasaan anda yang penuh dosa dan membuat kemajuan nyata dalam kehidupan rohani anda? kehidupan seperti itu sungguh mungkin adanya. Dan buku ini ditulis untuk menguatkan dan menyertai anda seiring dengan usaha anda untuk mencapai yang kehidupan seperti itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Diantara “Sekarang” dan “Yang Akan Datang” &amp;lt;br&amp;gt;  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| Apakah ada area-area dalam hidup anda yang anda sadari kurang memenuhi ekpektasi Allah? (Tuliskan dengan singkat sebuah area itu di bawah)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
}}&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak diragukan, bahwa salah satu hal yang paling membuat kita frustrasi terkait dengan kehidupan kekristenan adalah kontradiksi yang nyata antara siapa kita di mata Allah, dan siapa diri kita dalam pendapat kita sendiri. Ambil contoh jemaat di Korintus, misalnya. Rasul Paulus pada satu titik meyakinkan mereka bahwa, “Kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita.” (1 Korintus 6:11). Sepertinya berhenti sampai di situ saja, bukan? Sampai kita membaca surat kedua Paulus pada jemaat ini, yang isinya nyaris bertolak-belakang dengan yang pertama disampaikan: “Marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah” (2 Korintus 7:1). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di pikiran saya, mungkin saja para jemaat di Korintus merasa bingung. Apakah mereka sudah disucikan... atau masih tercemar? sebenarnya dua-duanya berlaku untuk mereka, dan juga kita. Untuk menjelaskan hal itu, mari saya ajak anda untuk menyimak hal di berikut ini.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| '''Renungkan 1 Yohanes 3:2-3'''. Apa pengaruh dari pemikiran kita tentang “yang akan datang” terhadap apa yang ada “saat ini”}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kerajaan Allah itu adalah “saat ini” dan “yang akan datang”. Dalam beberapa hal, Kerajaan Allah berkaitan dengan masa kini, dan untuk beberapa hal lainnya, Kerajaan Allah berkaitan dengan masa mendatang. Allah kita telah menyatakan dan menunjukkan bahwa Kerajaan (atau hukum) Allah sudah bersinggungan dengan sejarah manusia: “Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu” (Lukas 11:20). Namun, Kerajaan Allah belum datang seutuhnya. Hal itu tidak akan terjadi sampai Yesus datang kembali dalam kuasaNya, ketika setiap lutut kan bertelut dan semua lidah mengaku bahwa Dialah Allah. Sampai hal itu terjadi, tanpa menyangkal kehadiran Kerajaan Allah yang ada di dalam dunia ini, kita berdoa, “Datanglah Kerajaan-Mu” (Matius 6:10) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan demikian, Kerajaan Allah berjalan seiringan dengan kehidupan kita. Allah, lewat karya pembenaran-Nya, sudah menyatakan bahwa kita adalah orang-orang benar. Posisi kita di mata Allah sudah berubah. Masalah itu sudah diselesaikan sekali dan untuk selama-lamanya di Surga. Namun, di sisi surga lainnya (bumi), perubahan internal kita merupakan suatu proses yang sedang berjalan. Proses penyucian ini membuat saya sibuk sebagai seorang pribadi Kristen, dan juga memberikan saya banyak pekerjaan dan tugas sebagai seorang gembala. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, apakah kita sudah memiliki kemenangan di dalam Yesus atau belum? apakah kita para pemenang, atau apakah kita masih harus berjuang? Oscar Cullmann memberikan ilustrasi dari Perang Dunia ke-2, yang saya percaya dapat membantu kita menangkap hal yang kesannya bertentangan ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejarah mencatat dua peristiwa besar yang menjadi pangkal berakhirnya Perang Dunia ke-2: D-Day dan VE-Day. D-Day terjadi pada 6 Juni 1944, ketika para pasukan Sekutu mendarat di Normandy, Perancis. Ini adalah titik balik dalam perang yang berlangsung; ketika pendaratan ini berhasil, nasib Hitler sudah sangat jelas. Pada dasarnya, perang sudah berakhir. Namun kemenangan total di Eropa (VE-Day) tidak terjadi sampai tanggal 7 Mei 1945 ketika pasukan Jerman menyerah di Berlin. Periode sebelas bulan ini dicatat sebagai salah satu periode pertumpahan darah terbesar sepanjang sejarah perang. Pertempuran-pertempuran terjadi di seluruh Perancis, Belgia, dan Jerman. Walaupun secara fisik para musuh sudah terluka, namun mereka tidak sepenuhnya menyerah.&amp;lt;br&amp;gt; {{LeftInsert| “Pemilihan Ilahi adalah jaminan bahwa Allah akan bekerja dalam melengkapi pemilihan kita (untuk diselamatkan oleh anugerah-Nya) dengan anugerah pengudusan-Nya. Ini adalah arti dari Perjanjian Baru: Allah tidak hanya sekedar memerintahkan agar kita taat kepadaNya, namun juga memberikan kemampuan pada kita untuk menaatiNya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-'''John Piper''' }}&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salib adalah D-Day kita. Di sana, Tuhan kita Yesus Kristus mati disalibkan, untuk mematahkan belenggu dosa dari umatNya. Berdasarkan kematian dan kebangkitanNya, kita semua dibenarkan. Namun, kemenangan akhir akan terjadi ketika Ia datang. Tidak ada keraguan mengenai hasil akhirnya. Namun kita masih akan menemui gesekan-gesekan dan pertandingan-pertandingan sampai Tuhan muncul di dalam kemuliaanNya untuk memusnahkan kuasa kegelapan selamanya. {{RightInsert| Untuk Bacaan Lebih Lanjut: Bacalah 1 Petrus 5:8-9. Walaupun kemenangan akhir Allah tidak bisa disangkal, namun kita harus tetap berjuang melawan musuh kita.}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fakta ini, apabila kita tetap berusaha untuk mengingatnya, dapat membuat kita tidak patah semangat. Pertarungan masih berlangsung, namun peperangan utama sudah dimenangkan. Kesadaran akan karya pengorbanan Kristus yang telah dilakukan bagi kita sangat penting untuk memacu semangat moral kita seiring dengan usaha kita untuk mencapai suatu kekudusan hidup. Kita harus mempelajari dan merenungkan doktrin utama mengenai pembenaran sampai hal itu sungguh tertanam dalam kesadaran kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== '''Butuh Obat Kumur?'''  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun kita sudah dibenarkan sepenuhnya di dalam Kristus (D-Day), bukan berarti kita sudah sepenuhnya disucikan (VE-Day). Beberapa orang gagal memahami hal ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengajar Alkitab Ern Baxter menyampaikan kejadian yang terjadi saat Latter Rain Revival di akhir tahun 1940-an. Ada suatu ajaran menyimpang yang dinamakan “manifestasi anak-anak Allah”. Pada intinya ajaran itu menyampaikan doktrin yang menjanjikan kekudusan total di dalam hidup ini. Pada bentuk ekstrimnya, ajaran itu termasuk kepercayaan bahwa elit spiritual akan menerima tubuh kemuliaan sebelum kedatangan Kristus untuk kedua kalinya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada sesi penutupan acara dimana Baxter menjadi pembicaranya, beberapa ‘anak-anak Allah’ muncul di pojok auditorium berbalutkan jubah putih. Ketika ia selesai menyampaikan Firman, mereka berjalan ke depan dan mulai mencoba untuk menarik pengikut-pengikut baru bagi doktrin mengenai kesempurnaan total yang mereka ajarkan. Ketika ia mengingat peristiwa itu, ia menyatakan, “Wanita yang menjadi kelompok di grup itu benar-benar membutuhkan Listerine (merek obat kumur). Bukan itu jenis kesempurnaan yang saya nantikan.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih umum dari skenario yang terjadi lewat peristiwa yang dialami oleh Ern Baxter diatas, adalah situasi-situasi yang terjadi akibat dari kurangnya pengetahuan dan kecenderungan untuk menyederhanakan konsep kekudusan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| 2 Kalau anda mencari kesempurnaan total di dalam hidup ini, kira-kira mana dari antara beberapa hal di bawah ini yang paling sulit untuk dilakukan oleh anda? &lt;br /&gt;
*Sama sekali tidak akan pernah mengendarai mobil lebih dari batas kecepatan. &lt;br /&gt;
*Berbicara dengan hangat dan lembut pada setiap sales yang menelepon rumah anda. &lt;br /&gt;
*Mengindari semua kalori yang tidak dibutuhkan. &lt;br /&gt;
*Tidak pernah memukul jam weker anda ketika ia membangunkan anda. &lt;br /&gt;
*Senantiasa membayar pajak penghasilan anda dengan sukacita.}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu saya baru menjadi orang percaya, saya berjumpa dengan seorang pria muda bernama Greg, mengaku menjadi seorang perampok dan pengguna obat terlarang yang sepertinya bertobat waktu di dalam penjara. Pegangan hidup Greg dalam menjalani kehidupan kekristenan sangat memukau diri saya. Ia membawakan dirinya dengan keyakinan penuh dan sedikit keangkuhan. Ia berbicara seakan-akan dosa itu bukan menjadi suatu masalah lagi baginya. Lebih dari sekali dia mengatakan kepada saya betapa ia sudah “diselamatkan, disucikan, dan dipenuhi oleh Roh Kudus.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar dia mengatakan hal itu, sepertinya membuat hal itu seakan-akan mudah dan sederhana. Sebagai seorang Kristen yang baru, pada suatu waktu ia naik ke dalam kereta, dan waktu dia baru berangkat, beberapa jam kemudian ia sudah mengalami apa yang dinamakan olehnya sebagai “pengalaman pengudusan.” Dia berusaha meyakinkan saya bahwa pengalaman itu adalah hal yang dibutuhkan pertama kali untuk menerima baptisan Roh Kudus, dan sekali itu terjadi, itu akan berlaku selamanya. Saya harus mengakui di sini, bahwa ada beberapa hal tentang Greg yang kesannya tidak terlalu kudus. Ia mempunyai kecenderungan untuk menghakimi orang dan perilaku seorang farisi. Ia bisa menjadi seorang yang terlalu menguasai dan picik. Saya ingat pada suatu saat ketika seorang teman tidak sengaja meletakkan suatu benda di atas Alkitabnya: “Maaf—itu kan Firman Allah!” Tapi tetap saja, dia yakin dia bisa mengutip Alkitab, dan sepertinya sangat memahami perihal pengudusan.&amp;lt;br&amp;gt; {{RightInsert| Untuk Renungan Lebih Lanjut: Bacalah Matius 26:41. Kapan waktunya kita bisa aman menganggap bahwa kita sudah “sampai” pada titik pengudusan?}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sangat mengejutkan ketika pada akhirnya ia kembali mengedarkan dan memakai obat terlarang. Masalah Greg terkait dengan kurangnya pemahaman dan juga kesalah-pahaman mengenai ajaran Alkitab terkait dengan konsep pengudusan. Ia sudah melakukan kesalahan seperti yang banyak orang lakukan dengan hanya memfokuskan perhatian pada beberapa ayat Alkitab favorit yang sepertinya membenarkan pengalaman pribadinya.&amp;lt;br&amp;gt; {{LeftInsert| &amp;quot;Kekudusan bukan jalan menuju Kristus. Kristus, adalah jalan menuju kekudusan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; '''—Adrian Rogers'''}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; Kekudusan itu sifatnya pasti (terjadi saat kita bertobat) dan progresif (terus berlangsung). Semua ini tidak terjadi pada sekali waktu di masa lalu, dan bukan juga suatu hal yang akan terjadi secara bertahap. Kita sudah diubahkan dan kita sedang berubah. Tanpa mengesampingkan keberhasilan pendaratan kita di Normandy, marilah kita bijak dan realistis saat menilai adanya oposisi yang ada diantara kita dan Berlin. Kita tidak punya pilihan yang memungkinkan kita untuk mendapatkan tiket naik ke dalam kereta pengudusan, seperti yang Greg yakini. Hal itu akan menjadi suatu pertandingan di setiap langkah kehidupan kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Setimpal dengan Usahanya  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi beberapa orang, “pengudusan” adalah suatu istilah teologis yang sering didengar, namun jarang dimengerti. Kedengarannya itu adalah suatu hal yang cocok untuk mahasiswa teologia dan kurang praktis untuk kehidupan sehari-hari. Namun sebaliknya, hal itu adalah suatu hal yang sangat amat praktis, dan bisa dikaitan dengan kehidupan keseharian. Doktrin mengenai pengudusan bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh hampir seluruh orang Kristen di dalam sejarah gereja. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana saya bisa berubah? &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana saya bisa bertumbuh? &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana saya menjadi serupa dengan Kristus? &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana saya bisa tidak terperangkap di tengah? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apapun yang bisa menjawab pertanyaan itu akan mengharuskan kita untuk melakukan beberapa usaha. Lampiran A (halaman 93) menunjukkan bahwa beberapa cabang gereja sudah membicarakan masalah ini di masa lalu, namun mari kita lihat apa yang bisa kita pelajari mengenai aplikasi dari doktrin yang penting ini pada masa kini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Arti Alkitabiah dari kata menguduskan (menyucikan) adalah “untuk memisahkan; mengkhususkan.” (Kesucian berasal dari akar kata yang sama dalam bahasa Yunani) Hal ini bisa diaplikasikan pada orang, tempat, situasi, atau benda tertentu. Ketika suatu hal dikuduskan, hal itu akan dipisahkan dari pemakaian pada umumnya dan didedikasikan untuk kepentingan khusus. Misalnya, pada jaman Musa, Hari Raya Pendamaian dikuduskan bagi Allah yang Kudus. Hari itu menjadi hari yang kudus. Sebuah hal yang dikuduskan tidak akan serta merta menjadi suci karena dipisahkan dari hal lainnya; kesucian yang didapat akan berasal dari untuk apa (atau kepada siapa) kah hal itu disucikan. Karena hanya Allah saja yang suci, maka hanya Dia-lah yang bisa mengimpartasikan kesucian. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara teologis, istilah “pengudusan” telah dipergunakan untuk menggambarkan proses yang dilalui oleh seorang percaya ketika Roh Allah sedang bekerja di dalam hidupnya untuk membuat dirinya semakin menyerupai Kristus. Prosesnya dimulai saat kita lahir baru, dan terus berlangsung sepanjang kita hidup. Hal ini ditandai dengan konflik keseharian seiring dengan usaha kita untuk mengalahkan dosa yang ada di dalam diri kita dengan anugerah dan kekuatan yang Allah berikan bagi kita. Camkan di dalam pikiran bahwa rasa bersalah yang didapat dari dosa sudah dihilangkan lewat pembenaran, sebagaimana yang dijelaskan oleh Anthony Hoekema; penyucian menghilangkan pencemaran akibat dosa: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang dimaksud dengan rasa bersalah adalah kondisi di mana kita layak mendapatkan penghukuman atau harus bertanggung jawab untuk menerima hukuman karena telah melanggar hukum Allah. Yang dimaksud dengan pembenaran, sebagai tindakan deklaratif Allah, adalah bahwa rasa bersalah akibat dosa dihilangkan atas dasar karya utama Yesus Kristus. Yang dimaksud dengan pencemaran adalah bahwa kita memiliki kecenderungan bawaan yang terjadi sebagai akibat dari dosa yang juga pada akhirnya menciptakan dosa lain lebih lanjut. Sebagai akibat dari kejatuhan Adam dan Hawa, kita semua lahir dengan kondisi seperti ini; dosa-dosa yang kita lakukan tidak hanya berasal dari kecenderungan kita untuk berdosa, namun juga menambah kecenderungan itu sendiri. Yang dimaksud dengan penyucian adalah kondisi dimana pencemaran yang didapat dari dosa sedang dalam proses (tahapan) pembersihan (walaupun hal itu tidak akan sepenuhnya dibersihkan sampai kita memasuki hidup baru di Surga). {{RightInsert| '''Untuk Bacaan Lebih Lanjut''': Apakah anda menyadari betapa penting dan bermanfaatnya apabila kita memiliki perasaan takut akan Allah? (Lihat Mazmur 19:9 dan 25:14, Amsal 1:7 dan 9:10, dan 1 Petrus 1:17.)}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alkitab juga mendefinisikan penyucian sebagai proses pertumbuhan menuju hidup yang saleh. Hidup yang saleh merujuk pada suatu kehidupan yang menunjukkan dedikasi kepada Allah, dan karakter yang muncul akibat dedikasi tersebut. Hidup yang saleh melibatkan kasih terhadap Allah dan kerinduan akan Allah. Selain itu juga mengandung rasa takut akan Allah, yang menurut John Murray adalah “jiwa dari hidup yang saleh”. Karena telah ditebus dari ancaman hukuman kekal, orang Kristen menyatakan rasa takutnya kepada Allah dengan memfokuskan diri tidak kepada murka Allah, tapi kepada “kemuliaan, kekudusan dan keagunganNya...” Rasa takut akan Allah mempunyai dampak yang baik bagi hati kita, dimana rasa ini akan memurnikan hati kita, dan juga hal ini adalah syarat apabila kita hendak menjalin hubungan yang lebih intim dengan Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hidup yang saleh melibatkan lebih dari sekedar unsur moralitas atau tindakan fanatik. Hal tersebut berasal dari kesatuan dengan Kristus dan hasrat untuk memuliakanNya. Seorang yang saleh akan berkeinginan untuk menjadi seperti Tuhan-nya juga ingin untuk menyenangkan hatiNya. Ia ingin merasakan apa yang dirasakan olehNya, memikirkan apa yang dipikirkan oleh Tuhan-nya melebihi dirinya sendiri, dan melakukan apa yang menjadi kehendakNya. Secara singkat, orang seperti ini ingin menjadi seseorang yang memiliki karakter Allah, sehingga Allah bisa dimuliakan lewat hidupnya. Tidak ada hal lain yang layak diperjuangkan sepanjang hidup kita: “Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang” (1 Timotius 4:8). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baik Allah maupun manusia memegang peran penting dalam konteks penyucian. Allah, dengan anugerahNya, memulai karya penebusan di dalam kita dan memberikan keinginan serta kuasa untuk mengalahkan dosa. Sebagai respon sekaligus sambil bersandar pada anugerahNya, kita menaati perintah Alkitab&amp;amp;nbsp;: “karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya. Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan” (Filipi 2:12-13) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|“Penyucian, menurut Westminster Shorter Catechism, adalah ‘pekerjaan dari anugerah Allah yang diberikan secara cuma-cuma, dimana kita diperbaharui menjadi manusia seutuhnya berdasarkan gambaran Allah, dan dimampukan lebih dan lebih lagi untuk mati bagi dosa, dan hidup bagi kebenaran.’ Konsep yang terkandung di dalam hal ini adalah bukan berarti dosa itu dihapuskan total (hal ini terlalu berlebihan) atau hanya ditangkis (hal ini terlalu meremehkan), namun berkaitan dengan perubahan karakter ilahi kita yang membebaskan kita dari kebiasaan-kebiasaan kita yang penuh dosa dan membentuk kita menjadi serupa dengan Kristus dalam hal perasaan, sifat, dan karakteristik-karakteristik lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
— '''J.I. Packer'''&lt;br /&gt;
}} &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam Perjanjian Baru, posisi dari hidup kudus itu berada pada titik tengah antara legalitas di satu sisi, dan lisensi di sisi lainnya. Semua tradisi gereja yang terlalu menitik beratkan pada karya Allah di dalam kita tanpa menaruh pengharapan bahwa karya itu akan menghasilkan suatu hasrat yang terus bertambah di dalam diri kita untuk menuju suatu kesalehan hidup, akan cenderung menuju ke arah lisensi. “Karena, seperti yang telah kerap kali kukatakan kepadamu, dan yang kunyatakan pula sekarang sambil menangis, banyak orang yang hidup sebagai seteru salib Kristus. Kesudahan mereka ialah kebinasaan, Tuhan mereka ialah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi” (Filipi 3:18-19). Di lain pihak ada juga pihak yang terlalu menitik beratkan pada porsi manusia sehingga mereka menyimpang dari kebenaran Allah dan berakhir pada prinsip legalitas. (Tentu saja seluruh hal ini mempunyai kadar yang bervariasi). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| '''Renungkan 1 Timotius 6: 11-16.''' Paulus adalah seorang yang sangat mampu menjadi seorang motivator yang handal. }} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bagaimana Meraih Kesempurnaan &amp;lt;br&amp;gt;  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu pertanyaan yang umum diucapkan oleh orang Kristen adalah, “Sejauh mana saya bisa berharap pada proses penyucian ini? Apakah pada akhirnya saya bisa benar-benar bebas dari dosa?” Jenis pertanyaan ini akan menjadi relevan terutama ketika kita membaca pernyataan seperti yang disampaikan oleh Paulus kepada jemaat di Filipi: “Karena itu marilah kita, yang sempurna, berpikir demikian. Dan jikalau lain pikiranmu tentang salah satu hal, hal itu akan dinyatakan Allah juga kepadamu” (Filipi 3:15). Bahkan Yesus menyampaikan hal itu lebih gamblang di ayat yang sudah disebutkan sebelumnya: “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna” (Matius 5:48).&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| 3 Cobalah untuk menjawab kuis Benar/Salah di bawah ini, untuk mengetahui sejauh mana anda sudah memahami materi ini: (Jawaban dicetak terbalik di bagian bawah halaman 9) &lt;br /&gt;
*Arti dari kata “menguduskan (menyucikan)” adalah “menajiskan, memisahkan” '''B S''' &lt;br /&gt;
*Proses penyucian dimulai saat kita lahir baru, dan terus berlangsung sepanjang kita hidup. '''B S''' &lt;br /&gt;
*Rasa bersalah yang didapat dari dosa sudah dihilangkan lewat pembenaran '''B S'''&lt;br /&gt;
*Hidup yang saleh hanya memiliki arti yang berkaitan dengan unsur moralitas atau tindakan fanatik seseorang. '''B S''' &lt;br /&gt;
*Hanya Allah yang bertanggung jawab terhadap proses penyucian kita. '''B S'''}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah Allah sungguh berharap supaya kita mencapai tahap kesempurnaan? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keinginan untuk menjadi sempurna sudah menginspirasi banyak orang untuk mencari Allah. Di sepanjang sejarah manusia, banyak penulis puisi dan filosofer yang mengekspresikan keinginan untuk mencapai kembali kesucian hidup. Penulis lagu kontemporer Crosby, Stills, dan Nash merayakan pengalaman Woodstock dengan lagu yang berlirik, “Kita adalah debu bintang-bintang, kita ini berharga, kita terjebak di dalam penawaran iblis. Dan kita harus mencari cara kembali ke Taman (Surga).” Masalahnya, kita semua tahu kalau kita ini jauh dari kesempurnaan. Dalam dunia khayal perfilman, Mary Poppins bisa saja dengan riang menyatakan bahwa dia adalah “sempurna di segala hal,” namun di kehidupan nyata, hal itu tidak mungkin terjadi. Dan tentu saja kita tidak bisa menjadi sempurna lewat metode Woodstock. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; {{RightInsert| &amp;quot;Ketika terang cahaya...kemuliaan Allah jatuh ke atas roh kita, kita dimenangkan dari segala pemikiran yang palsu dan kurang tepat mengenai kesucian kita sendiri. Kita juga dilindungi dari segala pengajaran murahan yang mendorong kita untuk mempercayai bahwa ada jalan-jalan pintas yang memudahkan kita untuk mencapai kesucian hidup. Kesucian hidup bukanlah sebuah pengalaman; itu adalah penyatuan kembali karakter kita, juga pemugaran kembali satu hal yang sudah menjadi reruntuhan. Hal itu memerlukan ketrampilan dan merupakan suatu proyek jangka panjang yang memerlukan segala hal yang sudah diberikan oleh Allah dalam menjalani hidup kita juga untuk mencapai suatu kesalehan hidup.&amp;quot;[12]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;— '''Sinclair Ferguson''' }} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
R.A. Muller menyatakan bahwa Alkitab jelas menyatakan bahwa kita harus menjadi sempurna, namun pada saat yang bersamaan memberikan bukti bahwa kesempurnaan penuh itu tidak bisa dicapai di dalam hidup ini. Hal ini menghantarkan kita pada titik dilematis. Kita tidak bisa secara bebas mengangkat tangan dan mengakui kekalahan. Namun kita juga tidak bisa memiliki mentalitas ‘over pede (percaya diri)’ berkaitan dengan konsep kesempurnaan, yang lebih umum ditemukan di dalam konteks metode berpikir positif daripada yang ada di dalam Alkitab. Satu-satunya cara untuk memecahkan dilema ini adalah dengan menyadari bahwa Perjanjian Baru melihat konsep kesempurnaan dalam dua cara. Pandangan Paulus tentang jemaat Filipi adalah kedewasaan, bukan ketidak-bercelaan. Perhatikan bagaimana Alkitab versi New International Version menerjemahkan perkataannya kepada gereja di Filipi: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Setiap dari kita yang sudah dewasa harus memiliki kecenderungan yang sama dalam berbagai hal” (Fil 3:15). “Kesempurnaan” dalam hal ini bisa lebih tepat didefinisikan sebagai “mereka yang sudah menunjukkan perkembangan berarti dalam hal spiritualitas dan keseimbangan hidup” &amp;lt;br&amp;gt; {{LeftInsert| '''Renungkan 1 Petrus 1:14-16'''. Apakah perintah ini kedengarannya tidak realistis? Apakah mungkin Allah meminta anda untuk melakukan suatu hal yang mustahil? }} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adalah suatu hal yang alamiah apabila semua anak mau untuk bertumbuh dengan sempurna. Ini juga berlaku bagi orang percaya. Daripada mengambil pendekatan jalan pintas dan prinsip mencoba-coba dalam mencapai pertumbuhan, kita seharusnya membiarkan panggilan untuk menjadi sempurna itu mendorong kita untuk masuk ke dalam proses pencarian yang serius mengenai bagaimana caranya supaya kita menjadi seperti Yesus. Contoh dari Paulus sendiri seharusnya mampu menjadi contoh bagi kita semua: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert| '''Jawaban''': S, B, B, S, S }} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena aku pun telah ditangkap oleh Kristus Yesus. Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus. (Filipi 3:12-14) &amp;lt;br&amp;gt; {{LeftInsert| 4 Ada stiker mobil yang pernah populer, bertuliskan, “Orang Kristen Itu Tidak Sempurn – Hanya Dimaafkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
}} &amp;lt;br&amp;gt; {{RightInsert| “Pertama-tama kita harus dibuat menjadi sesuatu yang baik sebelum kita bisa melakukan kebaikan.” &amp;lt;br&amp;gt;'''— Hugh Latimer'''}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita melihat pengulangan kata sempurna di dalam surat Paulus yang pertama kepada jemaat di Korintus. “Tetapi jika yang sempurna tiba,” katanya, “maka yang tidak sempurna itu akan lenyap” (1 Korintus 13:10). Dalam konteks ini, sempurna adalah istilah yang diberikan secara khusus pada Allah Bapa– sebuah konsep kesempurnaan yang tidak akan bisa ditemukan sampai Kristus datang. Teolog Louis Berkhof lebih cenderung untuk membicarakan kesempurnaan-kesempurnaan Allah daripada kualitas karakteristikNya. Allah itu benar-benar tak bercacat cela. Tidak peduli seberapa matangnya kita di dalam hidup ini, kita tidak akan pernah mencapai kesempurnaan sampai suatu saat Allah menyempurnakan kita di dalam kemuliaan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Tujuh Alasan Untuk Menutup Celah  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada umumnya, dunia sudah memiliki kesan negatif terhadap kesucian. Banyak pihak menyamakan hal itu dengan suatu hal yang suram, memikul salib tanpa adanya sukacita. Hal itu lebih dilihat sebagai suatu kondisi “lebih-suci-dari-kamu” sebagai suatu tindakan pembenaran diri sendiri, daripada melihat hal itu sebagai suatu pengalaman yang penuh sukacita. Sebelum kita menutup bagian ini, marilah kita menghilangkan pendapat demikian dengan melihat pada beberapa keuntungan dan berkat yang dapat kita peroleh dari tindakan mengikuti Kristus. Ini adalah tujuh buah dari penyucian (pengudusan): &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah dipermuliakan. Ketika kita suci, kita semakin mempercayai bahwa Allah itu sungguh nyata dan menakjubkan seperti yang dinyatakan sendiri olehNya. Paulus menyatakan bahwa pekerjaan-pekerjaan baik yang dilakukan oleh orang Kristen memperindah doktrin mengenai Kristus (Titur 2:10). Bahkan mereka yang menolak Allah akan dipaksa untuk mengakui keberadaanNya ketika para pengikutnya berjalan di jalanNya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hubungan berkelanjutan dengan Allah Bapa di dalam hidup ini. “Jika seorang mengasihi Aku,” kata Yesus “ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia” (Yohanes 14:23). Merupakan suatu sukacita dan ketenangan yang luar biasa apabila kita mengalami hadirat Allah dan Anak melalui Roh kudus. Dan Yesus menandakan bahwa hadirat ini adalah suatu hadirat yang dipenuhi dengan kasih, bukan dengan nuansa yang dingin. Tentu saja, bersamaan dengan kehadiranNya akan datang juga kuasaNya, yang memampukan kita untuk mengalahkan tantangan-tantangan di dalam hidup kita. &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Persekutuan dengan orang percaya lainnya. Apabila kita berjalan di dalam kegelapan, kita tidak bisa menikmati persekutuan yang tulus dengan sesama orang percaya. “Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa” (1 Yohanes 1:7). Allah berjanji untuk melengkapi kita dengan belas kasihan, hai rekan-rekan seperjalanan yang sedang menjalani jalan menuju penyucian. Bagi saya pribadi, saya menemukan bahwa kebenaran Allah ditambah dengan contoh-contoh para pelayan Allah lainnya adalah suatu hal yang penting bagi pertumbuhan spiritual saya. Dan selama saya berjalan di jalanNya, saya tidak pernah kekurangan keduanya. Kita saling membutuhkan satu sama lain (dalam konteks gereja) apabila kita hendak berhasil. Kekudusan dan komunitas Kristiani akan saling melengkapi satu sama lain. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keyakinan akan keselamatan. Walaupun keselamatan kita tidak didasarkan pada usaha kita untuk mencapai kekudusan, keyakinan akan keselamatan cenderung untuk berkaitan dengan kekudusan hidup. Di dalam surat Petrus yang kedua, Petrus menggugah para pembaca untuk sungguh-sungguh berusaha senantiasa mengumpulkan karakteristik spiritual, menambahkan kepada iman kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang yang dimiliki secara berkelimpahan (2 Petrus 1:5-9). Dia mengingatkan bahwa apabila ada yang tidak memiliki semuanya itu, maka ia akan lupa .... ... bahwa dosa-dosanya yang dahulu telah dihapuskan. Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung. Dengan demikian kepada kamu akan dikaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. (2 Petrus 1:9-11) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengabaran Injil. Sebagai seorang muda yang masih dibawah pengaruh dosa, saya mencoba sebisa saya untuk menemukan kesalahan-kesalahan di dalam hidup orang percaya supaya saya bisa menolak pesan yang mereka sampaikan dan mencap mereka sebagai orang munafik. Namun walaupun mereka tidak sempurna, tapi saya tidak bisa menemukan ketidak-konsistenan yang tergolong fatal. Sebuah keluarga besar yang menjangkau saya dengan Injil lebih memberikan pengaruh kepada saya lewat gaya hidup mereka daripada dengan perkataan-perkataan yang diucapkan. Sang suami mengasihi istrinya, sang istri menghormati suaminya, anak-anak menaati orang tuanya, dan mereka semua sangat bersuka cita. Saya tidak pernah melihat hal seperti itu. {{RightInsert| Renungkan 1 Petrus 2:12. Walaupun orang yang belum percaya mungkin menghina gaya hidup anda sekarang, akibat apa yang mungkin mereka terima pada akhirnya?&lt;br /&gt;
}}&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah disampaikan bahwa meskipun dunia mungkin tidak membaca Alkitab, tapi dunia membaca orang-orang Kristen. Allah menggunakan orang-orang kudus untuk menjangkau orang lain. Bukan orang yang sempurna, namun kudus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemahaman, kebijakan, dan pengetahuan. Harta-harta inilah yang akan diperoleh mereka yang mencari Allah dengan sepenuh hati (Amsal 2:1-11). Mereka terlindungi dari para penghujat, pemberontak, dan para orang bodoh. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat Allah. Alkitab menyatakan, “Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan” (Ibrani 12:14). Meskipun arti sebenarnya dari pasal ini masih dilingkupi oleh misteri, tapi Alkitab bisa memberikan gambaran mengenai “Penglihatan yang Menakjubkan,” atau melihat Allah. Hal itu akan terjadi ketika Tuhan datang kembali, ketika semua musuh sudah dikalahkan dan kita semua sudah disucikan dengan sempurna. Pada saat itu, penglihatan kita mengenai Allah akan berkelanjutan dan intens, tanpa distraksi atau tindakan yang berfokus pada ke ‘aku’ an akibat dari dosa. Bukan berarti pengetahuan kita akan Allah akan menjadi sempurna, karena Ia akan terus menyatakan diriNya lebih dan lebih lagi.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; {{LeftInsert| “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.”&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;—'''Yesus''' (Matius 5:8) }}&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berbahagialah orang yang suci hatinya, “ kata Yesus, “karena mereka akan melihat Allah” (Matius 5:8). Penyataan akan kebesaran dan kebaikanNya adalah hal terindah yang bisa kita dapatkan apabila kita menjalani hidup kita dengan penuh kekudusan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Seperti yang sudah anda lihat, ada banyak alasan baik yang dapat menggugah kita untuk menutup celah antara harapan Allah akan diri kita, dan pengalaman kita pribadi. Kita diciptakan untuk turut ambil bagian dalam kekudusanNya-bukan hanya di surga, namun juga di bumi. Selangkah demi selangkah, kita bisa belajar untuk mengalahkan dosa dan hidup dengan cara yang semakin lama semakin memancarkan kemuliaan dan karakter Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam bab pertama, kami sudah mencoba untuk menarik minat anda pada kesalehan hidup. Dimulai dari bab kedua, kami akan membangun kerangka Alkitabiah yang dibutuhkan untuk mendukung suatu kehidupan yang kudus- dan penuh sukacita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Diskusi Kelompok  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Apa gejala-gejala yang menandakan seseorang sedang terperangkap di tengah? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Celah antara standar-standar Allah dan perilaku kita sendiri tidak bisa dihindari; namun terlalu berlebihan apabila kita menamakan diri kita munafik. Di mana kita bisa menarik garis untuk membedakan keduanya? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Bagaimana menjelaskan hubungan antara penyucian diri kita dengan sejarah masa lalu dan harapan di masa depan? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Rasa takut akan Allah, menurut penulis, adalah suatu “syarat untuk mencapai keintiman rohani dengan Allah.” (Hal. 7) Apa maksudnya? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Sejauh mana seorang kristen yang dewasa rohani bisa bebas dari dosa? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6. Sekarang setelah anda selesai membaca bagian ini, bagaimana anda akan menjelaskan Matius 5:48 kepada orang yang baru percaya? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bacaan Yang Direkomendasikan  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
How to Help People Change 'by Jay E. Adams (Grand Rapids, MI: Zondervan Publishing House, 1986) Saved by Grace by Anthony A. Hoekema (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1989) Referensi 1. ↑ Jay E. Adams, The Biblical View of Self-Esteem, Self-Love, Self-Image (Eugene, OR: Harvest House Publishers, 1986), h. 78. 2. ↑ Oscar Cullman, Christ and Time (Philadelphia, PA: The Westminster Press, 1964), h. 3. 3. ↑ John Piper, The Pleasures Of God (Portland, OR: Multnomah Press, 1991), h. 147. 4. ↑ Ern Baxter, pesan yang direkam, “Sanctification,” n.d. 5. ↑ Quoted in Gathered Gold, John Blanchard, ed. (Welwyn, Hertfordshire, England: Evangelical Press, 1984), h.146. 6. ↑ J.C. Ryle, Holiness (Welwyn, Hertfordshire, England: Evangelical Press, 1879, reprinted 1989), h. 39. 7. ↑ 7. Anthony A. Hoekema, Saved by Grace (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1989), h. 192-93. 8. ↑ Jerry Bridges, The Practice of Godliness (Colorado Springs, CO: NavPress, 1983), h. 15-20. 9. ↑ Idem, p. 24. 10. ↑ Idem, p. 26. 11. ↑ J.I. Packer, Concise Theology (Wheaton, IL: Tyndale House, 1993), h. 169. 12. ↑ Sinclair Ferguson, A Heart for God (Colorado Springs, CO: NavPress, 1985), h. 129. 13. ↑ R.A. Muller, The International Standard Bible Encyclopedia, Volume Four (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1988), h. 324. 14. ↑ William Hendriksen, New Testament Commentary: Philippians (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1962), h. 176. 15. ↑ Quoted in Gathered Gold, p.148. 16. ↑ Louis Berkhof, Systematic Theology (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1941), p. 52. ↑ Sumber Asli tidak diketahui&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Susanlim</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/How_Can_I_Change%3F/Caught_in_the_Gap_Trap/id</id>
		<title>How Can I Change?/Caught in the Gap Trap/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/How_Can_I_Change%3F/Caught_in_the_Gap_Trap/id"/>
				<updated>2009-01-29T08:40:35Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Susanlim: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|Bagaimana Saya Bisa Berubah?/Terperangkap di Tengah}}&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semua yang kini sedang bergumul melawan amarah, silakan maju ke depan. Kami mau berdoa untuk anda.”&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu itu hari Minggu pagi. Saya baru saja menyelesaikan khotbah mengenai amarah, dan saya mau memberikan waktu bagi Roh Kudus untuk bekerja di dalam hati orang-orang yang hadir saat itu. Namun saya terkejut melihat respon yang diberikan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekitar dua puluh orang-orang yang rendah hati maju ke depan mimbar—untuk ukuran gereja kami, jumlah ini cukup besar. Namun, bukan jumlahnya yang menarik perhatian saya. Yang menarik perhatian saya adalah orang-orang yang maju ke depan. Sembilan belas dari dua puluh orang yang maju ke depan adalah para ibu muda! (Amarah sangat rentan dialami oleh para ibu, sejauh yang saya ketahui.) Sebagai gembala, saya tahu bahwa para wanita ini adalah orang kristen yang sungguh-sungguh. Apa yang menyebabkan mereka maju ke depan adalah rasa frustasi mendalam mereka yang dialami karena mereka merasa terperangkap di tengah -- zona antara standar Alkitabiah yang berkaitan dengan penguasaan diri, dan kegagalan mereka untuk hidup menurut standar Alkitabiah itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah masalah itu berkaitan dengan amarah, ketakutan, kekuatiran, atau suatu hal yang umum, seperti kemalasan, kita semua sudah mengalami perasaan terperangkap di tengah, antara siapa diri kita saat ini, dan siapa diri kita seharusnya. Alkitab menyatakan bahwa kita adalah ciptaan baru, para pemenang, penakluk. Dan kita bukan hanya sekedar pemenang, melainkan lebih dari seorang pemenang (Roma 8:37). Kadang kita memang merasa seperti itu. Namun yang lebih sering, kita mengalami kesulitan melihat suatu hal yang melampaui kelemahan-kelemahan dan kegagalan-kegagalan kita. Dan yang menariknya, justru di saat-saat seperti ini, ayat dalam Matius 5:48 mendadak jadi tampil ke permukaan: “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| Untuk Dipelajari Lebih Lanjut: Bahkan Rasul Paulus mengalami saat dimana ia merasa terperangkap di tengah (Roma 7:21-25). Dapatkah anda membandingkan rasa frustrasi anda dengan rasa frustrasi yang dialami Rasul Paulus?}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlahan kita menghela nafas dan berkata,''Hal itu tidak akan pernah menjadi kenyataan''. &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya menyebut kondisi ini sebagai “perangkap tengah”. Berikut adalah cara kerjanya: Sebagai orang kristen, kita semua memiliki pengetahuan mengenai hal-hal yang diharapkan Allah dari diri kita. Namun pada kenyataannya, apa yang kita capai jauh dari apa yang -kita tahu- sebenarnya harus kita capai. Maka, terciptalah suatu jarak antara apa yang kita tahu harus kita lakukan, dan performa kita yang sesungguhnya. Apabila jarak antara keduanya terlampau jauh, kita bisa saja langsug di cap sebagai seorang munafik. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| “Kehidupan kekristenan semata-mata berkaitan dengan perubahan karakter intrinsik kita menuju karakter Kristus.. Tujuan dari ayat-ayat ini (Misalnya Roma 6, Kolose 3: 5-14, Efesus 4:22-32) adalah untuk menunjukkan kepada kita bahwa ada jarak yang hebat antara siapa kita di dalam Kristus (pembenaran) dan siapa kita sebenarnya dalam kehidupan keseharian kita (pengudusan), yang tujuannya adalah untuk mendorong kita agar kita menutup jarak yang ada antara keduanya... Tujuan Paulus adalah untuk mengugah kita supaya dalam kehidupan keseharian kita, kita mampu menampilkan perilaku-perilaku yang menggambarkan siapa kita sebenarnya di dalam Kristus.” &amp;lt;br&amp;gt;- '''Jay Adams'''}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Situasi ini adalah suatu hal yang nyata dalam kehidupan kekristenan. Bagi sebagian besar, tidak dibutuhkan orang lain untuk memberitahu kita mengenai ketidak-konsistenan di dalam hidup kita—kita semua terlalu manyadarinya. Kesadaran itu seharusnya membuat kita menjadi semakin rendah hati dan menggantungkan diri kepada Tuhan supaya kita bisa berhasil menutup ketidak-konsistenan itu. Namun biasanya momen ‘terjebak di tengah’ ini muncul akibat ketidakpedulian kita akan doktrin atau ajaran mengenai pengudusan. Daripada menyadari kalau jarak ini ada sebagai pertanda bahwa kita membutuhkan pertolongan dari Allah saja, kita malah membiarkan jarak ini untuk menghukum kita, dan memperlambat kemajuan kita. Kita menjadi terjebak dalam pemikiran bahwa kita adalah seorang pecundang, bodoh, orang yang penuh kegagalan... dan mungkin saja bukan benar-benar seorang Kristen. Beberapa orang bahkan terperosok lebih jauh dalam ketidaktaatan. Mereka yang terjebak di situasi seperti ini (dan pada level tertentu, kita semua termasuk di dalamnya) mengalami penderitaan (yang sebenarnya tidak diperlukan) karena patah semangat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai seorang gembala, salah satu tanggung jawab utama saya adalah membantu orang-orang agar bisa keluar dari jebakan ini. Saya sering menyampaikan pada orang-orang, “Hal itu tidak akan instan terjadi, dan membutuhkan usaha yang sungguh-sungguh, namun supaya bisa keluar dari jebakan itu tidaklah rumit. Dan percayalah, anda tidak akan kecewa melihat hasilnya.” Mungkin anda merasa bahwa anda sedang berada di posisi seperti ini. Jika demikian, kami yakin buku ini dapat menolong anda untuk menutup jarak yang ada antara siapa anda seharusnya di dalam Kristus dan siapa anda sebenarnya dalam kehidupan keseharian anda. Dapatkah anda membayangkan kehidupan dimana anda mematahkan kebiasaan-kebiasaan anda yang penuh dosa dan membuat kemajuan nyata dalam kehidupan rohani anda? kehidupan seperti itu sungguh mungkin adanya. Dan buku ini ditulis untuk menguatkan dan menyertai anda seiring dengan usaha anda untuk mencapai yang kehidupan seperti itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Diantara “Sekarang” dan “Yang Akan Datang” &amp;lt;br&amp;gt;  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| Apakah ada area-area dalam hidup anda yang anda sadari kurang memenuhi ekpektasi Allah? (Tuliskan dengan singkat sebuah area itu di bawah)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
}}&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak diragukan, bahwa salah satu hal yang paling membuat kita frustrasi terkait dengan kehidupan kekristenan adalah kontradiksi yang nyata antara siapa kita di mata Allah, dan siapa diri kita dalam pendapat kita sendiri. Ambil contoh jemaat di Korintus, misalnya. Rasul Paulus pada satu titik meyakinkan mereka bahwa, “Kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita.” (1 Korintus 6:11). Sepertinya berhenti sampai di situ saja, bukan? Sampai kita membaca surat kedua Paulus pada jemaat ini, yang isinya nyaris bertolak-belakang dengan yang pertama disampaikan: “Marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah” (2 Korintus 7:1). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di pikiran saya, mungkin saja para jemaat di Korintus merasa bingung. Apakah mereka sudah disucikan... atau masih tercemar? sebenarnya dua-duanya berlaku untuk mereka, dan juga kita. Untuk menjelaskan hal itu, mari saya ajak anda untuk menyimak hal di berikut ini.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| Renungkan 1 Yohanes 3:2-3. Apa pengaruh dari pemikiran kita tentang “yang akan datang” terhadap apa yang ada “saat ini”}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kerajaan Allah itu adalah “saat ini” dan “yang akan datang”. Dalam beberapa hal, Kerajaan Allah berkaitan dengan masa kini, dan untuk beberapa hal lainnya, Kerajaan Allah berkaitan dengan masa mendatang. Allah kita telah menyatakan dan menunjukkan bahwa Kerajaan (atau hukum) Allah sudah bersinggungan dengan sejarah manusia: “Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu” (Lukas 11:20). Namun, Kerajaan Allah belum datang seutuhnya. Hal itu tidak akan terjadi sampai Yesus datang kembali dalam kuasaNya, ketika setiap lutut kan bertelut dan semua lidah mengaku bahwa Dialah Allah. Sampai hal itu terjadi, tanpa menyangkal kehadiran Kerajaan Allah yang ada di dalam dunia ini, kita berdoa, “Datanglah Kerajaan-Mu” (Matius 6:10) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan demikian, Kerajaan Allah berjalan seiringan dengan kehidupan kita. Allah, lewat karya pembenaran-Nya, sudah menyatakan bahwa kita adalah orang-orang benar. Posisi kita di mata Allah sudah berubah. Masalah itu sudah diselesaikan sekali dan untuk selama-lamanya di Surga. Namun, di sisi surga lainnya (bumi), perubahan internal kita merupakan suatu proses yang sedang berjalan. Proses penyucian ini membuat saya sibuk sebagai seorang pribadi Kristen, dan juga memberikan saya banyak pekerjaan dan tugas sebagai seorang gembala. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, apakah kita sudah memiliki kemenangan di dalam Yesus atau belum? apakah kita para pemenang, atau apakah kita masih harus berjuang? Oscar Cullmann memberikan ilustrasi dari Perang Dunia ke-2, yang saya percaya dapat membantu kita menangkap hal yang kesannya bertentangan ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejarah mencatat dua peristiwa besar yang menjadi pangkal berakhirnya Perang Dunia ke-2: D-Day dan VE-Day. D-Day terjadi pada 6 Juni 1944, ketika para pasukan Sekutu mendarat di Normandy, Perancis. Ini adalah titik balik dalam perang yang berlangsung; ketika pendaratan ini berhasil, nasib Hitler sudah sangat jelas. Pada dasarnya, perang sudah berakhir. Namun kemenangan total di Eropa (VE-Day) tidak terjadi sampai tanggal 7 Mei 1945 ketika pasukan Jerman menyerah di Berlin. Periode sebelas bulan ini dicatat sebagai salah satu periode pertumpahan darah terbesar sepanjang sejarah perang. Pertempuran-pertempuran terjadi di seluruh Perancis, Belgia, dan Jerman. Walaupun secara fisik para musuh sudah terluka, namun mereka tidak sepenuhnya menyerah.&amp;lt;br&amp;gt; {{LeftInsert| “Pemilihan Ilahi adalah jaminan bahwa Allah akan bekerja dalam melengkapi pemilihan kita (untuk diselamatkan oleh anugerah-Nya) dengan anugerah pengudusan-Nya. Ini adalah arti dari Perjanjian Baru: Allah tidak hanya sekedar memerintahkan agar kita taat kepadaNya, namun juga memberikan kemampuan pada kita untuk menaatiNya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-John Piper }}&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salib adalah D-Day kita. Di sana, Tuhan kita Yesus Kristus mati disalibkan, untuk mematahkan belenggu dosa dari umatNya. Berdasarkan kematian dan kebangkitanNya, kita semua dibenarkan. Namun, kemenangan akhir akan terjadi ketika Ia datang. Tidak ada keraguan mengenai hasil akhirnya. Namun kita masih akan menemui gesekan-gesekan dan pertandingan-pertandingan sampai Tuhan muncul di dalam kemuliaanNya untuk memusnahkan kuasa kegelapan selamanya. {{RightInsert| Untuk Bacaan Lebih Lanjut: Bacalah 1 Petrus 5:8-9. Walaupun kemenangan akhir Allah tidak bisa disangkal, namun kita harus tetap berjuang melawan musuh kita.}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fakta ini, apabila kita tetap berusaha untuk mengingatnya, dapat membuat kita tidak patah semangat. Pertarungan masih berlangsung, namun peperangan utama sudah dimenangkan. Kesadaran akan karya pengorbanan Kristus yang telah dilakukan bagi kita sangat penting untuk memacu semangat moral kita seiring dengan usaha kita untuk mencapai suatu kekudusan hidup. Kita harus mempelajari dan merenungkan doktrin utama mengenai pembenaran sampai hal itu sungguh tertanam dalam kesadaran kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== '''Butuh Obat Kumur?'''  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun kita sudah dibenarkan sepenuhnya di dalam Kristus (D-Day), bukan berarti kita sudah sepenuhnya disucikan (VE-Day). Beberapa orang gagal memahami hal ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengajar Alkitab Ern Baxter menyampaikan kejadian yang terjadi saat Latter Rain Revival di akhir tahun 1940-an. Ada suatu ajaran menyimpang yang dinamakan “manifestasi anak-anak Allah”. Pada intinya ajaran itu menyampaikan doktrin yang menjanjikan kekudusan total di dalam hidup ini. Pada bentuk ekstrimnya, ajaran itu termasuk kepercayaan bahwa elit spiritual akan menerima tubuh kemuliaan sebelum kedatangan Kristus untuk kedua kalinya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada sesi penutupan acara dimana Baxter menjadi pembicaranya, beberapa ‘anak-anak Allah’ muncul di pojok auditorium berbalutkan jubah putih. Ketika ia selesai menyampaikan Firman, mereka berjalan ke depan dan mulai mencoba untuk menarik pengikut-pengikut baru bagi doktrin mengenai kesempurnaan total yang mereka ajarkan. Ketika ia mengingat peristiwa itu, ia menyatakan, “Wanita yang menjadi kelompok di grup itu benar-benar membutuhkan Listerine (merek obat kumur). Bukan itu jenis kesempurnaan yang saya nantikan.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih umum dari skenario yang terjadi lewat peristiwa yang dialami oleh Ern Baxter diatas, adalah situasi-situasi yang terjadi akibat dari kurangnya pengetahuan dan kecenderungan untuk menyederhanakan konsep kekudusan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| 2 Kalau anda mencari kesempurnaan total di dalam hidup ini, kira-kira mana dari antara beberapa hal di bawah ini yang paling sulit untuk dilakukan oleh anda? &lt;br /&gt;
*Sama sekali tidak akan pernah mengendarai mobil lebih dari batas kecepatan. &lt;br /&gt;
*Berbicara dengan hangat dan lembut pada setiap sales yang menelepon rumah anda. &lt;br /&gt;
*Mengindari semua kalori yang tidak dibutuhkan. &lt;br /&gt;
*Tidak pernah memukul jam weker anda ketika ia membangunkan anda. &lt;br /&gt;
*Senantiasa membayar pajak penghasilan anda dengan sukacita.}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu saya baru menjadi orang percaya, saya berjumpa dengan seorang pria muda bernama Greg, mengaku menjadi seorang perampok dan pengguna obat terlarang yang sepertinya bertobat waktu di dalam penjara. Pegangan hidup Greg dalam menjalani kehidupan kekristenan sangat memukau diri saya. Ia membawakan dirinya dengan keyakinan penuh dan sedikit keangkuhan. Ia berbicara seakan-akan dosa itu bukan menjadi suatu masalah lagi baginya. Lebih dari sekali dia mengatakan kepada saya betapa ia sudah “diselamatkan, disucikan, dan dipenuhi oleh Roh Kudus.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar dia mengatakan hal itu, sepertinya membuat hal itu seakan-akan mudah dan sederhana. Sebagai seorang Kristen yang baru, pada suatu waktu ia naik ke dalam kereta, dan waktu dia baru berangkat, beberapa jam kemudian ia sudah mengalami apa yang dinamakan olehnya sebagai “pengalaman pengudusan.” Dia berusaha meyakinkan saya bahwa pengalaman itu adalah hal yang dibutuhkan pertama kali untuk menerima baptisan Roh Kudus, dan sekali itu terjadi, itu akan berlaku selamanya. Saya harus mengakui di sini, bahwa ada beberapa hal tentang Greg yang kesannya tidak terlalu kudus. Ia mempunyai kecenderungan untuk menghakimi orang dan perilaku seorang farisi. Ia bisa menjadi seorang yang terlalu menguasai dan picik. Saya ingat pada suatu saat ketika seorang teman tidak sengaja meletakkan suatu benda di atas Alkitabnya: “Maaf—itu kan Firman Allah!” Tapi tetap saja, dia yakin dia bisa mengutip Alkitab, dan sepertinya sangat memahami perihal pengudusan.&amp;lt;br&amp;gt; {{RightInsert| Untuk Renungan Lebih Lanjut: Bacalah Matius 26:41. Kapan waktunya kita bisa aman menganggap bahwa kita sudah “sampai” pada titik pengudusan?}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sangat mengejutkan ketika pada akhirnya ia kembali mengedarkan dan memakai obat terlarang. Masalah Greg terkait dengan kurangnya pemahaman dan juga kesalah-pahaman mengenai ajaran Alkitab terkait dengan konsep pengudusan. Ia sudah melakukan kesalahan seperti yang banyak orang lakukan dengan hanya memfokuskan perhatian pada beberapa ayat Alkitab favorit yang sepertinya membenarkan pengalaman pribadinya.&amp;lt;br&amp;gt; {{LeftInsert| &amp;quot;Kekudusan bukan jalan menuju Kristus. Kristus, adalah jalan menuju kekudusan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; —Adrian Rogers}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; Kekudusan itu sifatnya pasti (terjadi saat kita bertobat) dan progresif (terus berlangsung). Semua ini tidak terjadi pada sekali waktu di masa lalu, dan bukan juga suatu hal yang akan terjadi secara bertahap. Kita sudah diubahkan dan kita sedang berubah. Tanpa mengesampingkan keberhasilan pendaratan kita di Normandy, marilah kita bijak dan realistis saat menilai adanya oposisi yang ada diantara kita dan Berlin. Kita tidak punya pilihan yang memungkinkan kita untuk mendapatkan tiket naik ke dalam kereta pengudusan, seperti yang Greg yakini. Hal itu akan menjadi suatu pertandingan di setiap langkah kehidupan kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Setimpal dengan Usahanya  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi beberapa orang, “pengudusan” adalah suatu istilah teologis yang sering didengar, namun jarang dimengerti. Kedengarannya itu adalah suatu hal yang cocok untuk mahasiswa teologia dan kurang praktis untuk kehidupan sehari-hari. Namun sebaliknya, hal itu adalah suatu hal yang sangat amat praktis, dan bisa dikaitan dengan kehidupan keseharian. Doktrin mengenai pengudusan bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh hampir seluruh orang Kristen di dalam sejarah gereja. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana saya bisa berubah? &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana saya bisa bertumbuh? &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana saya menjadi serupa dengan Kristus? &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana saya bisa tidak terperangkap di tengah? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apapun yang bisa menjawab pertanyaan itu akan mengharuskan kita untuk melakukan beberapa usaha. Lampiran A (halaman 93) menunjukkan bahwa beberapa cabang gereja sudah membicarakan masalah ini di masa lalu, namun mari kita lihat apa yang bisa kita pelajari mengenai aplikasi dari doktrin yang penting ini pada masa kini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Arti Alkitabiah dari kata menguduskan (menyucikan) adalah “untuk memisahkan; mengkhususkan.” (Kesucian berasal dari akar kata yang sama dalam bahasa Yunani) Hal ini bisa diaplikasikan pada orang, tempat, situasi, atau benda tertentu. Ketika suatu hal dikuduskan, hal itu akan dipisahkan dari pemakaian pada umumnya dan didedikasikan untuk kepentingan khusus. Misalnya, pada jaman Musa, Hari Raya Pendamaian dikuduskan bagi Allah yang Kudus. Hari itu menjadi hari yang kudus. Sebuah hal yang dikuduskan tidak akan serta merta menjadi suci karena dipisahkan dari hal lainnya; kesucian yang didapat akan berasal dari untuk apa (atau kepada siapa) kah hal itu disucikan. Karena hanya Allah saja yang suci, maka hanya Dia-lah yang bisa mengimpartasikan kesucian. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara teologis, istilah “pengudusan” telah dipergunakan untuk menggambarkan proses yang dilalui oleh seorang percaya ketika Roh Allah sedang bekerja di dalam hidupnya untuk membuat dirinya semakin menyerupai Kristus. Prosesnya dimulai saat kita lahir baru, dan terus berlangsung sepanjang kita hidup. Hal ini ditandai dengan konflik keseharian seiring dengan usaha kita untuk mengalahkan dosa yang ada di dalam diri kita dengan anugerah dan kekuatan yang Allah berikan bagi kita. Camkan di dalam pikiran bahwa rasa bersalah yang didapat dari dosa sudah dihilangkan lewat pembenaran, sebagaimana yang dijelaskan oleh Anthony Hoekema; penyucian menghilangkan pencemaran akibat dosa: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang dimaksud dengan rasa bersalah adalah kondisi di mana kita layak mendapatkan penghukuman atau harus bertanggung jawab untuk menerima hukuman karena telah melanggar hukum Allah. Yang dimaksud dengan pembenaran, sebagai tindakan deklaratif Allah, adalah bahwa rasa bersalah akibat dosa dihilangkan atas dasar karya utama Yesus Kristus. Yang dimaksud dengan pencemaran adalah bahwa kita memiliki kecenderungan bawaan yang terjadi sebagai akibat dari dosa yang juga pada akhirnya menciptakan dosa lain lebih lanjut. Sebagai akibat dari kejatuhan Adam dan Hawa, kita semua lahir dengan kondisi seperti ini; dosa-dosa yang kita lakukan tidak hanya berasal dari kecenderungan kita untuk berdosa, namun juga menambah kecenderungan itu sendiri. Yang dimaksud dengan penyucian adalah kondisi dimana pencemaran yang didapat dari dosa sedang dalam proses (tahapan) pembersihan (walaupun hal itu tidak akan sepenuhnya dibersihkan sampai kita memasuki hidup baru di Surga). {{RightInsert| Untuk Bacaan Lebih Lanjut: Apakah anda menyadari betapa penting dan bermanfaatnya apabila kita memiliki perasaan takut akan Allah? (Lihat Mazmur 19:9 dan 25:14, Amsal 1:7 dan 9:10, dan 1 Petrus 1:17.)}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alkitab juga mendefinisikan penyucian sebagai proses pertumbuhan menuju hidup yang saleh. Hidup yang saleh merujuk pada suatu kehidupan yang menunjukkan dedikasi kepada Allah, dan karakter yang muncul akibat dedikasi tersebut. Hidup yang saleh melibatkan kasih terhadap Allah dan kerinduan akan Allah. Selain itu juga mengandung rasa takut akan Allah, yang menurut John Murray adalah “jiwa dari hidup yang saleh”. Karena telah ditebus dari ancaman hukuman kekal, orang Kristen menyatakan rasa takutnya kepada Allah dengan memfokuskan diri tidak kepada murka Allah, tapi kepada “kemuliaan, kekudusan dan keagunganNya...” Rasa takut akan Allah mempunyai dampak yang baik bagi hati kita, dimana rasa ini akan memurnikan hati kita, dan juga hal ini adalah syarat apabila kita hendak menjalin hubungan yang lebih intim dengan Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hidup yang saleh melibatkan lebih dari sekedar unsur moralitas atau tindakan fanatik. Hal tersebut berasal dari kesatuan dengan Kristus dan hasrat untuk memuliakanNya. Seorang yang saleh akan berkeinginan untuk menjadi seperti Tuhan-nya juga ingin untuk menyenangkan hatiNya. Ia ingin merasakan apa yang dirasakan olehNya, memikirkan apa yang dipikirkan oleh Tuhan-nya melebihi dirinya sendiri, dan melakukan apa yang menjadi kehendakNya. Secara singkat, orang seperti ini ingin menjadi seseorang yang memiliki karakter Allah, sehingga Allah bisa dimuliakan lewat hidupnya. Tidak ada hal lain yang layak diperjuangkan sepanjang hidup kita: “Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang” (1 Timotius 4:8). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baik Allah maupun manusia memegang peran penting dalam konteks penyucian. Allah, dengan anugerahNya, memulai karya penebusan di dalam kita dan memberikan keinginan serta kuasa untuk mengalahkan dosa. Sebagai respon sekaligus sambil bersandar pada anugerahNya, kita menaati perintah Alkitab&amp;amp;nbsp;: “karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya. Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan” (Filipi 2:12-13) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|“Penyucian, menurut Westminster Shorter Catechism, adalah ‘pekerjaan dari anugerah Allah yang diberikan secara cuma-cuma, dimana kita diperbaharui menjadi manusia seutuhnya berdasarkan gambaran Allah, dan dimampukan lebih dan lebih lagi untuk mati bagi dosa, dan hidup bagi kebenaran.’ Konsep yang terkandung di dalam hal ini adalah bukan berarti dosa itu dihapuskan total (hal ini terlalu berlebihan) atau hanya ditangkis (hal ini terlalu meremehkan), namun berkaitan dengan perubahan karakter ilahi kita yang membebaskan kita dari kebiasaan-kebiasaan kita yang penuh dosa dan membentuk kita menjadi serupa dengan Kristus dalam hal perasaan, sifat, dan karakteristik-karakteristik lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
— J.I. Packer&lt;br /&gt;
}} &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam Perjanjian Baru, posisi dari hidup kudus itu berada pada titik tengah antara legalitas di satu sisi, dan lisensi di sisi lainnya. Semua tradisi gereja yang terlalu menitik beratkan pada karya Allah di dalam kita tanpa menaruh pengharapan bahwa karya itu akan menghasilkan suatu hasrat yang terus bertambah di dalam diri kita untuk menuju suatu kesalehan hidup, akan cenderung menuju ke arah lisensi. “Karena, seperti yang telah kerap kali kukatakan kepadamu, dan yang kunyatakan pula sekarang sambil menangis, banyak orang yang hidup sebagai seteru salib Kristus. Kesudahan mereka ialah kebinasaan, Tuhan mereka ialah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi” (Filipi 3:18-19). Di lain pihak ada juga pihak yang terlalu menitik beratkan pada porsi manusia sehingga mereka menyimpang dari kebenaran Allah dan berakhir pada prinsip legalitas. (Tentu saja seluruh hal ini mempunyai kadar yang bervariasi). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| Renungkan 1 Timotius 6: 11-16. Paulus adalah seorang yang sangat mampu menjadi seorang motivator yang handal. }} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bagaimana Meraih Kesempurnaan &amp;lt;br&amp;gt;  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu pertanyaan yang umum diucapkan oleh orang Kristen adalah, “Sejauh mana saya bisa berharap pada proses penyucian ini? Apakah pada akhirnya saya bisa benar-benar bebas dari dosa?” Jenis pertanyaan ini akan menjadi relevan terutama ketika kita membaca pernyataan seperti yang disampaikan oleh Paulus kepada jemaat di Filipi: “Karena itu marilah kita, yang sempurna, berpikir demikian. Dan jikalau lain pikiranmu tentang salah satu hal, hal itu akan dinyatakan Allah juga kepadamu” (Filipi 3:15). Bahkan Yesus menyampaikan hal itu lebih gamblang di ayat yang sudah disebutkan sebelumnya: “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna” (Matius 5:48).&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| 3 Cobalah untuk menjawab kuis Benar/Salah di bawah ini, untuk mengetahui sejauh mana anda sudah memahami materi ini: (Jawaban dicetak terbalik di bagian bawah halaman 9) &lt;br /&gt;
*Arti dari kata “menguduskan (menyucikan)” adalah “menajiskan, memisahkan” B S &lt;br /&gt;
*Proses penyucian dimulai saat kita lahir baru, dan terus berlangsung sepanjang kita hidup. B S &lt;br /&gt;
*Rasa bersalah yang didapat dari dosa sudah dihilangkan lewat pembenaran B S&lt;br /&gt;
*Hidup yang saleh hanya memiliki arti yang berkaitan dengan unsur moralitas atau tindakan fanatik seseorang. B S &lt;br /&gt;
*Hanya Allah yang bertanggung jawab terhadap proses penyucian kita. B S}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah Allah sungguh berharap supaya kita mencapai tahap kesempurnaan? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keinginan untuk menjadi sempurna sudah menginspirasi banyak orang untuk mencari Allah. Di sepanjang sejarah manusia, banyak penulis puisi dan filosofer yang mengekspresikan keinginan untuk mencapai kembali kesucian hidup. Penulis lagu kontemporer Crosby, Stills, dan Nash merayakan pengalaman Woodstock dengan lagu yang berlirik, “Kita adalah debu bintang-bintang, kita ini berharga, kita terjebak di dalam penawaran iblis. Dan kita harus mencari cara kembali ke Taman (Surga).” Masalahnya, kita semua tahu kalau kita ini jauh dari kesempurnaan. Dalam dunia khayal perfilman, Mary Poppins bisa saja dengan riang menyatakan bahwa dia adalah “sempurna di segala hal,” namun di kehidupan nyata, hal itu tidak mungkin terjadi. Dan tentu saja kita tidak bisa menjadi sempurna lewat metode Woodstock. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; {{RightInsert| &amp;quot;Ketika terang cahaya...kemuliaan Allah jatuh ke atas roh kita, kita dimenangkan dari segala pemikiran yang palsu dan kurang tepat mengenai kesucian kita sendiri. Kita juga dilindungi dari segala pengajaran murahan yang mendorong kita untuk mempercayai bahwa ada jalan-jalan pintas yang memudahkan kita untuk mencapai kesucian hidup. Kesucian hidup bukanlah sebuah pengalaman; itu adalah penyatuan kembali karakter kita, juga pemugaran kembali satu hal yang sudah menjadi reruntuhan. Hal itu memerlukan ketrampilan dan merupakan suatu proyek jangka panjang yang memerlukan segala hal yang sudah diberikan oleh Allah dalam menjalani hidup kita juga untuk mencapai suatu kesalehan hidup.&amp;quot;[12]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;— Sinclair Ferguson }} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
R.A. Muller menyatakan bahwa Alkitab jelas menyatakan bahwa kita harus menjadi sempurna, namun pada saat yang bersamaan memberikan bukti bahwa kesempurnaan penuh itu tidak bisa dicapai di dalam hidup ini. Hal ini menghantarkan kita pada titik dilematis. Kita tidak bisa secara bebas mengangkat tangan dan mengakui kekalahan. Namun kita juga tidak bisa memiliki mentalitas ‘over pede (percaya diri)’ berkaitan dengan konsep kesempurnaan, yang lebih umum ditemukan di dalam konteks metode berpikir positif daripada yang ada di dalam Alkitab. Satu-satunya cara untuk memecahkan dilema ini adalah dengan menyadari bahwa Perjanjian Baru melihat konsep kesempurnaan dalam dua cara. Pandangan Paulus tentang jemaat Filipi adalah kedewasaan, bukan ketidak-bercelaan. Perhatikan bagaimana Alkitab versi New International Version menerjemahkan perkataannya kepada gereja di Filipi: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Setiap dari kita yang sudah dewasa harus memiliki kecenderungan yang sama dalam berbagai hal” (Fil 3:15). “Kesempurnaan” dalam hal ini bisa lebih tepat didefinisikan sebagai “mereka yang sudah menunjukkan perkembangan berarti dalam hal spiritualitas dan keseimbangan hidup” &amp;lt;br&amp;gt; {{LeftInsert| Renungkan 1 Petrus 1:14-16. Apakah perintah ini kedengarannya tidak realistis? Apakah mungkin Allah meminta anda untuk melakukan suatu hal yang mustahil? }} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adalah suatu hal yang alamiah apabila semua anak mau untuk bertumbuh dengan sempurna. Ini juga berlaku bagi orang percaya. Daripada mengambil pendekatan jalan pintas dan prinsip mencoba-coba dalam mencapai pertumbuhan, kita seharusnya membiarkan panggilan untuk menjadi sempurna itu mendorong kita untuk masuk ke dalam proses pencarian yang serius mengenai bagaimana caranya supaya kita menjadi seperti Yesus. Contoh dari Paulus sendiri seharusnya mampu menjadi contoh bagi kita semua: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert| Jawaban: S, B, B, S, S }} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena aku pun telah ditangkap oleh Kristus Yesus. Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus. (Filipi 3:12-14) &amp;lt;br&amp;gt; {{LeftInsert| 4 Ada stiker mobil yang pernah populer, bertuliskan, “Orang Kristen Itu Tidak Sempurn – Hanya Dimaafkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
}} &amp;lt;br&amp;gt; {{RightInsert| “Pertama-tama kita harus dibuat menjadi sesuatu yang baik sebelum kita bisa melakukan kebaikan.” &amp;lt;br&amp;gt;— Hugh Latimer}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita melihat pengulangan kata sempurna di dalam surat Paulus yang pertama kepada jemaat di Korintus. “Tetapi jika yang sempurna tiba,” katanya, “maka yang tidak sempurna itu akan lenyap” (1 Korintus 13:10). Dalam konteks ini, sempurna adalah istilah yang diberikan secara khusus pada Allah Bapa– sebuah konsep kesempurnaan yang tidak akan bisa ditemukan sampai Kristus datang. Teolog Louis Berkhof lebih cenderung untuk membicarakan kesempurnaan-kesempurnaan Allah daripada kualitas karakteristikNya. Allah itu benar-benar tak bercacat cela. Tidak peduli seberapa matangnya kita di dalam hidup ini, kita tidak akan pernah mencapai kesempurnaan sampai suatu saat Allah menyempurnakan kita di dalam kemuliaan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Tujuh Alasan Untuk Menutup Celah  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada umumnya, dunia sudah memiliki kesan negatif terhadap kesucian. Banyak pihak menyamakan hal itu dengan suatu hal yang suram, memikul salib tanpa adanya sukacita. Hal itu lebih dilihat sebagai suatu kondisi “lebih-suci-dari-kamu” sebagai suatu tindakan pembenaran diri sendiri, daripada melihat hal itu sebagai suatu pengalaman yang penuh sukacita. Sebelum kita menutup bagian ini, marilah kita menghilangkan pendapat demikian dengan melihat pada beberapa keuntungan dan berkat yang dapat kita peroleh dari tindakan mengikuti Kristus. Ini adalah tujuh buah dari penyucian (pengudusan): &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah dipermuliakan. Ketika kita suci, kita semakin mempercayai bahwa Allah itu sungguh nyata dan menakjubkan seperti yang dinyatakan sendiri olehNya. Paulus menyatakan bahwa pekerjaan-pekerjaan baik yang dilakukan oleh orang Kristen memperindah doktrin mengenai Kristus (Titur 2:10). Bahkan mereka yang menolak Allah akan dipaksa untuk mengakui keberadaanNya ketika para pengikutnya berjalan di jalanNya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hubungan berkelanjutan dengan Allah Bapa di dalam hidup ini. “Jika seorang mengasihi Aku,” kata Yesus “ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia” (Yohanes 14:23). Merupakan suatu sukacita dan ketenangan yang luar biasa apabila kita mengalami hadirat Allah dan Anak melalui Roh kudus. Dan Yesus menandakan bahwa hadirat ini adalah suatu hadirat yang dipenuhi dengan kasih, bukan dengan nuansa yang dingin. Tentu saja, bersamaan dengan kehadiranNya akan datang juga kuasaNya, yang memampukan kita untuk mengalahkan tantangan-tantangan di dalam hidup kita. &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Persekutuan dengan orang percaya lainnya. Apabila kita berjalan di dalam kegelapan, kita tidak bisa menikmati persekutuan yang tulus dengan sesama orang percaya. “Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa” (1 Yohanes 1:7). Allah berjanji untuk melengkapi kita dengan belas kasihan, hai rekan-rekan seperjalanan yang sedang menjalani jalan menuju penyucian. Bagi saya pribadi, saya menemukan bahwa kebenaran Allah ditambah dengan contoh-contoh para pelayan Allah lainnya adalah suatu hal yang penting bagi pertumbuhan spiritual saya. Dan selama saya berjalan di jalanNya, saya tidak pernah kekurangan keduanya. Kita saling membutuhkan satu sama lain (dalam konteks gereja) apabila kita hendak berhasil. Kekudusan dan komunitas Kristiani akan saling melengkapi satu sama lain. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keyakinan akan keselamatan. Walaupun keselamatan kita tidak didasarkan pada usaha kita untuk mencapai kekudusan, keyakinan akan keselamatan cenderung untuk berkaitan dengan kekudusan hidup. Di dalam surat Petrus yang kedua, Petrus menggugah para pembaca untuk sungguh-sungguh berusaha senantiasa mengumpulkan karakteristik spiritual, menambahkan kepada iman kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang yang dimiliki secara berkelimpahan (2 Petrus 1:5-9). Dia mengingatkan bahwa apabila ada yang tidak memiliki semuanya itu, maka ia akan lupa .... ... bahwa dosa-dosanya yang dahulu telah dihapuskan. Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung. Dengan demikian kepada kamu akan dikaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. (2 Petrus 1:9-11) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengabaran Injil. Sebagai seorang muda yang masih dibawah pengaruh dosa, saya mencoba sebisa saya untuk menemukan kesalahan-kesalahan di dalam hidup orang percaya supaya saya bisa menolak pesan yang mereka sampaikan dan mencap mereka sebagai orang munafik. Namun walaupun mereka tidak sempurna, tapi saya tidak bisa menemukan ketidak-konsistenan yang tergolong fatal. Sebuah keluarga besar yang menjangkau saya dengan Injil lebih memberikan pengaruh kepada saya lewat gaya hidup mereka daripada dengan perkataan-perkataan yang diucapkan. Sang suami mengasihi istrinya, sang istri menghormati suaminya, anak-anak menaati orang tuanya, dan mereka semua sangat bersuka cita. Saya tidak pernah melihat hal seperti itu. {{RightInsert| Renungkan 1 Petrus 2:12. Walaupun orang yang belum percaya mungkin menghina gaya hidup anda sekarang, akibat apa yang mungkin mereka terima pada akhirnya?&lt;br /&gt;
}}&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah disampaikan bahwa meskipun dunia mungkin tidak membaca Alkitab, tapi dunia membaca orang-orang Kristen. Allah menggunakan orang-orang kudus untuk menjangkau orang lain. Bukan orang yang sempurna, namun kudus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemahaman, kebijakan, dan pengetahuan. Harta-harta inilah yang akan diperoleh mereka yang mencari Allah dengan sepenuh hati (Amsal 2:1-11). Mereka terlindungi dari para penghujat, pemberontak, dan para orang bodoh. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat Allah. Alkitab menyatakan, “Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan” (Ibrani 12:14). Meskipun arti sebenarnya dari pasal ini masih dilingkupi oleh misteri, tapi Alkitab bisa memberikan gambaran mengenai “Penglihatan yang Menakjubkan,” atau melihat Allah. Hal itu akan terjadi ketika Tuhan datang kembali, ketika semua musuh sudah dikalahkan dan kita semua sudah disucikan dengan sempurna. Pada saat itu, penglihatan kita mengenai Allah akan berkelanjutan dan intens, tanpa distraksi atau tindakan yang berfokus pada ke ‘aku’ an akibat dari dosa. Bukan berarti pengetahuan kita akan Allah akan menjadi sempurna, karena Ia akan terus menyatakan diriNya lebih dan lebih lagi.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; {{LeftInsert| “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.”&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;—Yesus (Matius 5:8) }}&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berbahagialah orang yang suci hatinya, “ kata Yesus, “karena mereka akan melihat Allah” (Matius 5:8). Penyataan akan kebesaran dan kebaikanNya adalah hal terindah yang bisa kita dapatkan apabila kita menjalani hidup kita dengan penuh kekudusan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Seperti yang sudah anda lihat, ada banyak alasan baik yang dapat menggugah kita untuk menutup celah antara harapan Allah akan diri kita, dan pengalaman kita pribadi. Kita diciptakan untuk turut ambil bagian dalam kekudusanNya-bukan hanya di surga, namun juga di bumi. Selangkah demi selangkah, kita bisa belajar untuk mengalahkan dosa dan hidup dengan cara yang semakin lama semakin memancarkan kemuliaan dan karakter Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam bab pertama, kami sudah mencoba untuk menarik minat anda pada kesalehan hidup. Dimulai dari bab kedua, kami akan membangun kerangka Alkitabiah yang dibutuhkan untuk mendukung suatu kehidupan yang kudus- dan penuh sukacita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Diskusi Kelompok  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Apa gejala-gejala yang menandakan seseorang sedang terperangkap di tengah? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Celah antara standar-standar Allah dan perilaku kita sendiri tidak bisa dihindari; namun terlalu berlebihan apabila kita menamakan diri kita munafik. Di mana kita bisa menarik garis untuk membedakan keduanya? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Bagaimana menjelaskan hubungan antara penyucian diri kita dengan sejarah masa lalu dan harapan di masa depan? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Rasa takut akan Allah, menurut penulis, adalah suatu “syarat untuk mencapai keintiman rohani dengan Allah.” (Hal. 7) Apa maksudnya? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Sejauh mana seorang kristen yang dewasa rohani bisa bebas dari dosa? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6. Sekarang setelah anda selesai membaca bagian ini, bagaimana anda akan menjelaskan Matius 5:48 kepada orang yang baru percaya? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bacaan Yang Direkomendasikan  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
How to Help People Change 'by Jay E. Adams (Grand Rapids, MI: Zondervan Publishing House, 1986) Saved by Grace by Anthony A. Hoekema (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1989) Referensi 1. ↑ Jay E. Adams, The Biblical View of Self-Esteem, Self-Love, Self-Image (Eugene, OR: Harvest House Publishers, 1986), h. 78. 2. ↑ Oscar Cullman, Christ and Time (Philadelphia, PA: The Westminster Press, 1964), h. 3. 3. ↑ John Piper, The Pleasures Of God (Portland, OR: Multnomah Press, 1991), h. 147. 4. ↑ Ern Baxter, pesan yang direkam, “Sanctification,” n.d. 5. ↑ Quoted in Gathered Gold, John Blanchard, ed. (Welwyn, Hertfordshire, England: Evangelical Press, 1984), h.146. 6. ↑ J.C. Ryle, Holiness (Welwyn, Hertfordshire, England: Evangelical Press, 1879, reprinted 1989), h. 39. 7. ↑ 7. Anthony A. Hoekema, Saved by Grace (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1989), h. 192-93. 8. ↑ Jerry Bridges, The Practice of Godliness (Colorado Springs, CO: NavPress, 1983), h. 15-20. 9. ↑ Idem, p. 24. 10. ↑ Idem, p. 26. 11. ↑ J.I. Packer, Concise Theology (Wheaton, IL: Tyndale House, 1993), h. 169. 12. ↑ Sinclair Ferguson, A Heart for God (Colorado Springs, CO: NavPress, 1985), h. 129. 13. ↑ R.A. Muller, The International Standard Bible Encyclopedia, Volume Four (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1988), h. 324. 14. ↑ William Hendriksen, New Testament Commentary: Philippians (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1962), h. 176. 15. ↑ Quoted in Gathered Gold, p.148. 16. ↑ Louis Berkhof, Systematic Theology (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1941), p. 52. ↑ Sumber Asli tidak diketahui&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Susanlim</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/How_Can_I_Change%3F/Caught_in_the_Gap_Trap/id</id>
		<title>How Can I Change?/Caught in the Gap Trap/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/How_Can_I_Change%3F/Caught_in_the_Gap_Trap/id"/>
				<updated>2009-01-28T11:02:10Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Susanlim: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|Bagaimana Saya Bisa Berubah?/Terperangkap di Tengah}}&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semua yang kini sedang bergumul melawan amarah, silakan maju ke depan. Kami mau berdoa untuk anda.”&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu itu hari Minggu pagi. Saya baru saja menyelesaikan khotbah mengenai amarah, dan saya mau memberikan waktu bagi Roh Kudus untuk bekerja di dalam hati orang-orang yang hadir saat itu. Namun saya terkejut melihat respon yang diberikan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekitar dua puluh orang-orang yang rendah hati maju ke depan mimbar—untuk ukuran gereja kami, jumlah ini cukup besar. Namun, bukan jumlahnya yang menarik perhatian saya. Yang menarik perhatian saya adalah orang-orang yang maju ke depan. Sembilan belas dari dua puluh orang yang maju ke depan adalah para ibu muda! (Amarah sangat rentan dialami oleh para ibu, sejauh yang saya ketahui.) Sebagai gembala, saya tahu bahwa para wanita ini adalah orang kristen yang sungguh-sungguh. Apa yang menyebabkan mereka maju ke depan adalah rasa frustasi mendalam mereka yang dialami karena mereka merasa terperangkap di tengah -- zona antara standar Alkitabiah yang berkaitan dengan penguasaan diri, dan kegagalan mereka untuk hidup menurut standar Alkitabiah itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah masalah itu berkaitan dengan amarah, ketakutan, kekuatiran, atau suatu hal yang umum, seperti kemalasan, kita semua sudah mengalami perasaan terperangkap di tengah, antara siapa diri kita saat ini, dan siapa diri kita seharusnya. Alkitab menyatakan bahwa kita adalah ciptaan baru, para pemenang, penakluk. Dan kita bukan hanya sekedar pemenang, melainkan lebih dari seorang pemenang (Roma 8:37). Kadang kita memang merasa seperti itu. Namun yang lebih sering, kita mengalami kesulitan melihat suatu hal yang melampaui kelemahan-kelemahan dan kegagalan-kegagalan kita. Dan yang menariknya, justru di saat-saat seperti ini, ayat dalam Matius 5:48 mendadak jadi tampil ke permukaan: “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| Untuk Dipelajari Lebih Lanjut: Bahkan Rasul Paulus mengalami saat dimana ia merasa terperangkap di tengah (Roma 7:21-25). Dapatkah anda membandingkan rasa frustrasi anda dengan rasa frustrasi yang dialami Rasul Paulus?}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlahan kita menghela nafas dan berkata,''Hal itu tidak akan pernah menjadi kenyataan''. &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya menyebut kondisi ini sebagai “perangkap tengah”. Berikut adalah cara kerjanya: Sebagai orang kristen, kita semua memiliki pengetahuan mengenai hal-hal yang diharapkan Allah dari diri kita. Namun pada kenyataannya, apa yang kita capai jauh dari apa yang -kita tahu- sebenarnya harus kita capai. Maka, terciptalah suatu jarak antara apa yang kita tahu harus kita lakukan, dan performa kita yang sesungguhnya. Apabila jarak antara keduanya terlampau jauh, kita bisa saja langsug di cap sebagai seorang munafik. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| “Kehidupan kekristenan semata-mata berkaitan dengan perubahan karakter intrinsik kita menuju karakter Kristus.. Tujuan dari ayat-ayat ini (Misalnya Roma 6, Kolose 3: 5-14, Efesus 4:22-32) adalah untuk menunjukkan kepada kita bahwa ada jarak yang hebat antara siapa kita di dalam Kristus (pembenaran) dan siapa kita sebenarnya dalam kehidupan keseharian kita (pengudusan), yang tujuannya adalah untuk mendorong kita agar kita menutup jarak yang ada antara keduanya... Tujuan Paulus adalah untuk mengugah kita supaya dalam kehidupan keseharian kita, kita mampu menampilkan perilaku-perilaku yang menggambarkan siapa kita sebenarnya di dalam Kristus.” &amp;lt;br&amp;gt;- '''Jay Adams'''}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Situasi ini adalah suatu hal yang nyata dalam kehidupan kekristenan. Bagi sebagian besar, tidak dibutuhkan orang lain untuk memberitahu kita mengenai ketidak-konsistenan di dalam hidup kita—kita semua terlalu manyadarinya. Kesadaran itu seharusnya membuat kita menjadi semakin rendah hati dan menggantungkan diri kepada Tuhan supaya kita bisa berhasil menutup ketidak-konsistenan itu. Namun biasanya momen ‘terjebak di tengah’ ini muncul akibat ketidakpedulian kita akan doktrin atau ajaran mengenai pengudusan. Daripada menyadari kalau jarak ini ada sebagai pertanda bahwa kita membutuhkan pertolongan dari Allah saja, kita malah membiarkan jarak ini untuk menghukum kita, dan memperlambat kemajuan kita. Kita menjadi terjebak dalam pemikiran bahwa kita adalah seorang pecundang, bodoh, orang yang penuh kegagalan... dan mungkin saja bukan benar-benar seorang Kristen. Beberapa orang bahkan terperosok lebih jauh dalam ketidaktaatan. Mereka yang terjebak di situasi seperti ini (dan pada level tertentu, kita semua termasuk di dalamnya) mengalami penderitaan (yang sebenarnya tidak diperlukan) karena patah semangat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai seorang gembala, salah satu tanggung jawab utama saya adalah membantu orang-orang agar bisa keluar dari jebakan ini. Saya sering menyampaikan pada orang-orang, “Hal itu tidak akan instan terjadi, dan membutuhkan usaha yang sungguh-sungguh, namun supaya bisa keluar dari jebakan itu tidaklah rumit. Dan percayalah, anda tidak akan kecewa melihat hasilnya.” Mungkin anda merasa bahwa anda sedang berada di posisi seperti ini. Jika demikian, kami yakin buku ini dapat menolong anda untuk menutup jarak yang ada antara siapa anda seharusnya di dalam Kristus dan siapa anda sebenarnya dalam kehidupan keseharian anda. Dapatkah anda membayangkan kehidupan dimana anda mematahkan kebiasaan-kebiasaan anda yang penuh dosa dan membuat kemajuan nyata dalam kehidupan rohani anda? kehidupan seperti itu sungguh mungkin adanya. Dan buku ini ditulis untuk menguatkan dan menyertai anda seiring dengan usaha anda untuk mencapai yang kehidupan seperti itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| &amp;lt;br&amp;gt;Daftar Isi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1 Diantara “Sekarang” dan “Yang Akan Datang” &amp;lt;br&amp;gt;2 Butuh Obat Kumur? &amp;lt;br&amp;gt;3 Setimpal Dengan Usahanya &amp;lt;br&amp;gt;4 Bagaimana Meraih Kesempurnaan? &amp;lt;br&amp;gt;5 Tujuh Alasan Untuk Menutup Celah &amp;lt;br&amp;gt;6 Diskusi Kelompok &amp;lt;br&amp;gt;7 Bacaan yang Direkomendasikan &amp;lt;br&amp;gt;8 Referensi}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Diantara “Sekarang” dan “Yang Akan Datang” &amp;lt;br&amp;gt;  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| Apakah ada area-area dalam hidup anda yang anda sadari kurang memenuhi ekpektasi Allah? (Tuliskan dengan singkat sebuah area itu di bawah)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
}}&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak diragukan, bahwa salah satu hal yang paling membuat kita frustrasi terkait dengan kehidupan kekristenan adalah kontradiksi yang nyata antara siapa kita di mata Allah, dan siapa diri kita dalam pendapat kita sendiri. Ambil contoh jemaat di Korintus, misalnya. Rasul Paulus pada satu titik meyakinkan mereka bahwa, “Kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita.” (1 Korintus 6:11). Sepertinya berhenti sampai di situ saja, bukan? Sampai kita membaca surat kedua Paulus pada jemaat ini, yang isinya nyaris bertolak-belakang dengan yang pertama disampaikan: “Marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah” (2 Korintus 7:1). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di pikiran saya, mungkin saja para jemaat di Korintus merasa bingung. Apakah mereka sudah disucikan... atau masih tercemar? sebenarnya dua-duanya berlaku untuk mereka, dan juga kita. Untuk menjelaskan hal itu, mari saya ajak anda untuk menyimak hal di berikut ini.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|  Renungkan 1 Yohanes 3:2-3. Apa pengaruh dari pemikiran kita tentang “yang akan datang” terhadap apa yang ada “saat ini”}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kerajaan Allah itu adalah “saat ini” dan “yang akan datang”. Dalam beberapa hal, Kerajaan Allah berkaitan dengan masa kini, dan untuk beberapa hal lainnya, Kerajaan Allah berkaitan dengan masa mendatang. Allah kita telah menyatakan dan menunjukkan bahwa Kerajaan (atau hukum) Allah sudah bersinggungan dengan sejarah manusia: “Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu” (Lukas 11:20). Namun, Kerajaan Allah belum datang seutuhnya. Hal itu tidak akan terjadi sampai Yesus datang kembali dalam kuasaNya, ketika setiap lutut kan bertelut dan semua lidah mengaku bahwa Dialah Allah. Sampai hal itu terjadi, tanpa menyangkal kehadiran Kerajaan Allah yang ada di dalam dunia ini, kita berdoa, “Datanglah Kerajaan-Mu” (Matius 6:10) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan demikian, Kerajaan Allah berjalan seiringan dengan kehidupan kita. Allah, lewat karya pembenaran-Nya, sudah menyatakan bahwa kita adalah orang-orang benar. Posisi kita di mata Allah sudah berubah. Masalah itu sudah diselesaikan sekali dan untuk selama-lamanya di Surga. Namun, di sisi surga lainnya (bumi), perubahan internal kita merupakan suatu proses yang sedang berjalan. Proses penyucian ini membuat saya sibuk sebagai seorang pribadi Kristen, dan juga memberikan saya banyak pekerjaan dan tugas sebagai seorang gembala. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, apakah kita sudah memiliki kemenangan di dalam Yesus atau belum? apakah kita para pemenang, atau apakah kita masih harus berjuang? Oscar Cullmann memberikan ilustrasi dari Perang Dunia ke-2, yang saya percaya dapat membantu kita menangkap hal yang kesannya bertentangan ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejarah mencatat dua peristiwa besar yang menjadi pangkal berakhirnya Perang Dunia ke-2: D-Day dan VE-Day. D-Day terjadi pada 6 Juni 1944, ketika para pasukan Sekutu mendarat di Normandy, Perancis. Ini adalah titik balik dalam perang yang berlangsung; ketika pendaratan ini berhasil, nasib Hitler sudah sangat jelas. Pada dasarnya, perang sudah berakhir. Namun kemenangan total di Eropa (VE-Day) tidak terjadi sampai tanggal 7 Mei 1945 ketika pasukan Jerman menyerah di Berlin. Periode sebelas bulan ini dicatat sebagai salah satu periode pertumpahan darah terbesar sepanjang sejarah perang. Pertempuran-pertempuran terjadi di seluruh Perancis, Belgia, dan Jerman. Walaupun secara fisik para musuh sudah terluka, namun mereka tidak sepenuhnya menyerah.&amp;lt;br&amp;gt; {{LeftInsert| “Pemilihan Ilahi adalah jaminan bahwa Allah akan bekerja dalam melengkapi pemilihan kita (untuk diselamatkan oleh anugerah-Nya) dengan anugerah pengudusan-Nya. Ini adalah arti dari Perjanjian Baru: Allah tidak hanya sekedar memerintahkan agar kita taat kepadaNya, namun juga memberikan kemampuan pada kita untuk menaatiNya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-John Piper }}&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salib adalah D-Day kita. Di sana, Tuhan kita Yesus Kristus mati disalibkan, untuk mematahkan belenggu dosa dari umatNya. Berdasarkan kematian dan kebangkitanNya, kita semua dibenarkan. Namun, kemenangan akhir akan terjadi ketika Ia datang. Tidak ada keraguan mengenai hasil akhirnya. Namun kita masih akan menemui gesekan-gesekan dan pertandingan-pertandingan sampai Tuhan muncul di dalam kemuliaanNya untuk memusnahkan kuasa kegelapan selamanya. {{RightInsert| Untuk Bacaan Lebih Lanjut: Bacalah 1 Petrus 5:8-9. Walaupun kemenangan akhir Allah tidak bisa disangkal, namun kita harus tetap berjuang melawan musuh kita.}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fakta ini, apabila kita tetap berusaha untuk mengingatnya, dapat membuat kita tidak patah semangat. Pertarungan masih berlangsung, namun peperangan utama sudah dimenangkan. Kesadaran akan karya pengorbanan Kristus yang telah dilakukan bagi kita sangat penting untuk memacu semangat moral kita seiring dengan usaha kita untuk mencapai suatu kekudusan hidup. Kita harus mempelajari dan merenungkan doktrin utama mengenai pembenaran sampai hal itu sungguh tertanam dalam kesadaran kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== '''Butuh Obat Kumur?'''  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun kita sudah dibenarkan sepenuhnya di dalam Kristus (D-Day), bukan berarti kita sudah sepenuhnya disucikan (VE-Day). Beberapa orang gagal memahami hal ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengajar Alkitab Ern Baxter menyampaikan kejadian yang terjadi saat Latter Rain Revival di akhir tahun 1940-an. Ada suatu ajaran menyimpang yang dinamakan “manifestasi anak-anak Allah”. Pada intinya ajaran itu menyampaikan doktrin yang menjanjikan kekudusan total di dalam hidup ini. Pada bentuk ekstrimnya, ajaran itu termasuk kepercayaan bahwa elit spiritual akan menerima tubuh kemuliaan sebelum kedatangan Kristus untuk kedua kalinya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada sesi penutupan acara dimana Baxter menjadi pembicaranya, beberapa ‘anak-anak Allah’ muncul di pojok auditorium berbalutkan jubah putih. Ketika ia selesai menyampaikan Firman, mereka berjalan ke depan dan mulai mencoba untuk menarik pengikut-pengikut baru bagi doktrin mengenai kesempurnaan total yang mereka ajarkan. Ketika ia mengingat peristiwa itu, ia menyatakan, “Wanita yang menjadi kelompok di grup itu benar-benar membutuhkan Listerine (merek obat kumur). Bukan itu jenis kesempurnaan yang saya nantikan.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih umum dari skenario yang terjadi lewat peristiwa yang dialami oleh Ern Baxter diatas, adalah situasi-situasi yang terjadi akibat dari kurangnya pengetahuan dan kecenderungan untuk menyederhanakan konsep kekudusan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| 2 Kalau anda mencari kesempurnaan total di dalam hidup ini, kira-kira mana dari antara beberapa hal di bawah ini yang paling sulit untuk dilakukan oleh anda? &lt;br /&gt;
❏Sama sekali tidak akan pernah mengendarai mobil lebih dari batas kecepatan. &lt;br /&gt;
❏Berbicara dengan hangat dan lembut pada setiap sales yang menelepon rumah anda. &lt;br /&gt;
❏Mengindari semua kalori yang tidak dibutuhkan. &lt;br /&gt;
❏Tidak pernah memukul jam weker anda ketika ia membangunkan anda. &lt;br /&gt;
❏Senantiasa membayar pajak penghasilan anda dengan sukacita.}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu saya baru menjadi orang percaya, saya berjumpa dengan seorang pria muda bernama Greg, mengaku menjadi seorang perampok dan pengguna obat terlarang yang sepertinya bertobat waktu di dalam penjara. Pegangan hidup Greg dalam menjalani kehidupan kekristenan sangat memukau diri saya. Ia membawakan dirinya dengan keyakinan penuh dan sedikit keangkuhan. Ia berbicara seakan-akan dosa itu bukan menjadi suatu masalah lagi baginya. Lebih dari sekali dia mengatakan kepada saya betapa ia sudah “diselamatkan, disucikan, dan dipenuhi oleh Roh Kudus.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar dia mengatakan hal itu, sepertinya membuat hal itu seakan-akan mudah dan sederhana. Sebagai seorang Kristen yang baru, pada suatu waktu ia naik ke dalam kereta, dan waktu dia baru berangkat, beberapa jam kemudian ia sudah mengalami apa yang dinamakan olehnya sebagai “pengalaman pengudusan.” Dia berusaha meyakinkan saya bahwa pengalaman itu adalah hal yang dibutuhkan pertama kali untuk menerima baptisan Roh Kudus, dan sekali itu terjadi, itu akan berlaku selamanya. Saya harus mengakui di sini, bahwa ada beberapa hal tentang Greg yang kesannya tidak terlalu kudus. Ia mempunyai kecenderungan untuk menghakimi orang dan perilaku seorang farisi. Ia bisa menjadi seorang yang terlalu menguasai dan picik. Saya ingat pada suatu saat ketika seorang teman tidak sengaja meletakkan suatu benda di atas Alkitabnya: “Maaf—itu kan Firman Allah!” Tapi tetap saja, dia yakin dia bisa mengutip Alkitab, dan sepertinya sangat memahami perihal pengudusan.&amp;lt;br&amp;gt; {{RightInsert| Untuk Renungan Lebih Lanjut: Bacalah Matius 26:41. Kapan waktunya kita bisa aman menganggap bahwa kita sudah “sampai” pada titik pengudusan?}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sangat mengejutkan ketika pada akhirnya ia kembali mengedarkan dan memakai obat terlarang. Masalah Greg terkait dengan kurangnya pemahaman dan juga kesalah-pahaman mengenai ajaran Alkitab terkait dengan konsep pengudusan. Ia sudah melakukan kesalahan seperti yang banyak orang lakukan dengan hanya memfokuskan perhatian pada beberapa ayat Alkitab favorit yang sepertinya membenarkan pengalaman pribadinya.&amp;lt;br&amp;gt; {{LeftInsert| &amp;quot;Kekudusan bukan jalan menuju Kristus. Kristus, adalah jalan menuju kekudusan.&amp;quot; —&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adrian Rogers}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; Kekudusan itu sifatnya pasti (terjadi saat kita bertobat) dan progresif (terus berlangsung). Semua ini tidak terjadi pada sekali waktu di masa lalu, dan bukan juga suatu hal yang akan terjadi secara bertahap. Kita sudah diubahkan dan kita sedang berubah. Tanpa mengesampingkan keberhasilan pendaratan kita di Normandy, marilah kita bijak dan realistis saat menilai adanya oposisi yang ada diantara kita dan Berlin. Kita tidak punya pilihan yang memungkinkan kita untuk mendapatkan tiket naik ke dalam kereta pengudusan, seperti yang Greg yakini. Hal itu akan menjadi suatu pertandingan di setiap langkah kehidupan kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Setimpal dengan Usahanya  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi beberapa orang, “pengudusan” adalah suatu istilah teologis yang sering didengar, namun jarang dimengerti. Kedengarannya itu adalah suatu hal yang cocok untuk mahasiswa teologia dan kurang praktis untuk kehidupan sehari-hari. Namun sebaliknya, hal itu adalah suatu hal yang sangat amat praktis, dan bisa dikaitan dengan kehidupan keseharian. Doktrin mengenai pengudusan bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh hampir seluruh orang Kristen di dalam sejarah gereja. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana saya bisa berubah? &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana saya bisa bertumbuh? &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana saya menjadi serupa dengan Kristus? &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana saya bisa tidak terperangkap di tengah? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apapun yang bisa menjawab pertanyaan itu akan mengharuskan kita untuk melakukan beberapa usaha. Lampiran A (halaman 93) menunjukkan bahwa beberapa cabang gereja sudah membicarakan masalah ini di masa lalu, namun mari kita lihat apa yang bisa kita pelajari mengenai aplikasi dari doktrin yang penting ini pada masa kini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Arti Alkitabiah dari kata menguduskan (menyucikan) adalah “untuk memisahkan; mengkhususkan.” (Kesucian berasal dari akar kata yang sama dalam bahasa Yunani) Hal ini bisa diaplikasikan pada orang, tempat, situasi, atau benda tertentu. Ketika suatu hal dikuduskan, hal itu akan dipisahkan dari pemakaian pada umumnya dan didedikasikan untuk kepentingan khusus. Misalnya, pada jaman Musa, Hari Raya Pendamaian dikuduskan bagi Allah yang Kudus. Hari itu menjadi hari yang kudus. Sebuah hal yang dikuduskan tidak akan serta merta menjadi suci karena dipisahkan dari hal lainnya; kesucian yang didapat akan berasal dari untuk apa (atau kepada siapa) kah hal itu disucikan. Karena hanya Allah saja yang suci, maka hanya Dia-lah yang bisa mengimpartasikan kesucian. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara teologis, istilah “pengudusan” telah dipergunakan untuk menggambarkan proses yang dilalui oleh seorang percaya ketika Roh Allah sedang bekerja di dalam hidupnya untuk membuat dirinya semakin menyerupai Kristus. Prosesnya dimulai saat kita lahir baru, dan terus berlangsung sepanjang kita hidup. Hal ini ditandai dengan konflik keseharian seiring dengan usaha kita untuk mengalahkan dosa yang ada di dalam diri kita dengan anugerah dan kekuatan yang Allah berikan bagi kita. Camkan di dalam pikiran bahwa rasa bersalah yang didapat dari dosa sudah dihilangkan lewat pembenaran, sebagaimana yang dijelaskan oleh Anthony Hoekema; penyucian menghilangkan pencemaran akibat dosa: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang dimaksud dengan rasa bersalah adalah kondisi di mana kita layak mendapatkan penghukuman atau harus bertanggung jawab untuk menerima hukuman karena telah melanggar hukum Allah. Yang dimaksud dengan pembenaran, sebagai tindakan deklaratif Allah, adalah bahwa rasa bersalah akibat dosa dihilangkan atas dasar karya utama Yesus Kristus. Yang dimaksud dengan pencemaran adalah bahwa kita memiliki kecenderungan bawaan yang terjadi sebagai akibat dari dosa yang juga pada akhirnya menciptakan dosa lain lebih lanjut. Sebagai akibat dari kejatuhan Adam dan Hawa, kita semua lahir dengan kondisi seperti ini; dosa-dosa yang kita lakukan tidak hanya berasal dari kecenderungan kita untuk berdosa, namun juga menambah kecenderungan itu sendiri. Yang dimaksud dengan penyucian adalah kondisi dimana pencemaran yang didapat dari dosa sedang dalam proses (tahapan) pembersihan (walaupun hal itu tidak akan sepenuhnya dibersihkan sampai kita memasuki hidup baru di Surga). {{RightInsert| Untuk Bacaan Lebih Lanjut: Apakah anda menyadari betapa penting dan bermanfaatnya apabila kita memiliki perasaan takut akan Allah? (Lihat Mazmur 19:9 dan 25:14, Amsal 1:7 dan 9:10, dan 1 Petrus 1:17.)}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alkitab juga mendefinisikan penyucian sebagai proses pertumbuhan menuju hidup yang saleh. Hidup yang saleh merujuk pada suatu kehidupan yang menunjukkan dedikasi kepada Allah, dan karakter yang muncul akibat dedikasi tersebut. Hidup yang saleh melibatkan kasih terhadap Allah dan kerinduan akan Allah. Selain itu juga mengandung rasa takut akan Allah, yang menurut John Murray adalah “jiwa dari hidup yang saleh”. Karena telah ditebus dari ancaman hukuman kekal, orang Kristen menyatakan rasa takutnya kepada Allah dengan memfokuskan diri tidak kepada murka Allah, tapi kepada “kemuliaan, kekudusan dan keagunganNya...” Rasa takut akan Allah mempunyai dampak yang baik bagi hati kita, dimana rasa ini akan memurnikan hati kita, dan juga hal ini adalah syarat apabila kita hendak menjalin hubungan yang lebih intim dengan Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hidup yang saleh melibatkan lebih dari sekedar unsur moralitas atau tindakan fanatik. Hal tersebut berasal dari kesatuan dengan Kristus dan hasrat untuk memuliakanNya. Seorang yang saleh akan berkeinginan untuk menjadi seperti Tuhan-nya juga ingin untuk menyenangkan hatiNya. Ia ingin merasakan apa yang dirasakan olehNya, memikirkan apa yang dipikirkan oleh Tuhan-nya melebihi dirinya sendiri, dan melakukan apa yang menjadi kehendakNya. Secara singkat, orang seperti ini ingin menjadi seseorang yang memiliki karakter Allah, sehingga Allah bisa dimuliakan lewat hidupnya. Tidak ada hal lain yang layak diperjuangkan sepanjang hidup kita: “Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang” (1 Timotius 4:8). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baik Allah maupun manusia memegang peran penting dalam konteks penyucian. Allah, dengan anugerahNya, memulai karya penebusan di dalam kita dan memberikan keinginan serta kuasa untuk mengalahkan dosa. Sebagai respon sekaligus sambil bersandar pada anugerahNya, kita menaati perintah Alkitab&amp;amp;nbsp;: “karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya. Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan” (Filipi 2:12-13) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|“Penyucian, menurut Westminster Shorter Catechism, adalah ‘pekerjaan dari anugerah Allah yang diberikan secara cuma-cuma, dimana kita diperbaharui menjadi manusia seutuhnya berdasarkan gambaran Allah, dan dimampukan lebih dan lebih lagi untuk mati bagi dosa, dan hidup bagi kebenaran.’ Konsep yang terkandung di dalam hal ini adalah bukan berarti dosa itu dihapuskan total (hal ini terlalu berlebihan) atau hanya ditangkis (hal ini terlalu meremehkan), namun berkaitan dengan perubahan karakter ilahi kita yang membebaskan kita dari kebiasaan-kebiasaan kita yang penuh dosa dan membentuk kita menjadi serupa dengan Kristus dalam hal perasaan, sifat, dan karakteristik-karakteristik lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
— J.I. Packer&lt;br /&gt;
}} &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam Perjanjian Baru, posisi dari hidup kudus itu berada pada titik tengah antara legalitas di satu sisi, dan lisensi di sisi lainnya. Semua tradisi gereja yang terlalu menitik beratkan pada karya Allah di dalam kita tanpa menaruh pengharapan bahwa karya itu akan menghasilkan suatu hasrat yang terus bertambah di dalam diri kita untuk menuju suatu kesalehan hidup, akan cenderung menuju ke arah lisensi. “Karena, seperti yang telah kerap kali kukatakan kepadamu, dan yang kunyatakan pula sekarang sambil menangis, banyak orang yang hidup sebagai seteru salib Kristus. Kesudahan mereka ialah kebinasaan, Tuhan mereka ialah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi” (Filipi 3:18-19). Di lain pihak ada juga pihak yang terlalu menitik beratkan pada porsi manusia sehingga mereka menyimpang dari kebenaran Allah dan berakhir pada prinsip legalitas. (Tentu saja seluruh hal ini mempunyai kadar yang bervariasi). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| Renungkan 1 Timotius 6: 11-16. Paulus adalah seorang yang sangat mampu menjadi seorang motivator yang handal. }} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bagaimana Meraih Kesempurnaan &amp;lt;br&amp;gt;  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu pertanyaan yang umum diucapkan oleh orang Kristen adalah, “Sejauh mana saya bisa berharap pada proses penyucian ini? Apakah pada akhirnya saya bisa benar-benar bebas dari dosa?” Jenis pertanyaan ini akan menjadi relevan terutama ketika kita membaca pernyataan seperti yang disampaikan oleh Paulus kepada jemaat di Filipi: “Karena itu marilah kita, yang sempurna, berpikir demikian. Dan jikalau lain pikiranmu tentang salah satu hal, hal itu akan dinyatakan Allah juga kepadamu” (Filipi 3:15). Bahkan Yesus menyampaikan hal itu lebih gamblang di ayat yang sudah disebutkan sebelumnya: “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna” (Matius 5:48).&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| 3 Cobalah untuk menjawab kuis Benar/Salah di bawah ini, untuk mengetahui sejauh mana anda sudah memahami materi ini: (Jawaban dicetak terbalik di bagian bawah halaman 9) &lt;br /&gt;
• Arti dari kata “menguduskan (menyucikan)” adalah “menajiskan, memisahkan” B S &lt;br /&gt;
• Proses penyucian dimulai saat kita lahir baru, dan terus berlangsung sepanjang kita hidup. B S &lt;br /&gt;
• Rasa bersalah yang didapat dari dosa sudah dihilangkan lewat pembenaran B S&lt;br /&gt;
• Hidup yang saleh hanya memiliki arti yang berkaitan dengan unsur moralitas atau tindakan fanatik seseorang. B S &lt;br /&gt;
• Hanya Allah yang bertanggung jawab terhadap proses penyucian kita. B S}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah Allah sungguh berharap supaya kita mencapai tahap kesempurnaan? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keinginan untuk menjadi sempurna sudah menginspirasi banyak orang untuk mencari Allah. Di sepanjang sejarah manusia, banyak penulis puisi dan filosofer yang mengekspresikan keinginan untuk mencapai kembali kesucian hidup. Penulis lagu kontemporer Crosby, Stills, dan Nash merayakan pengalaman Woodstock dengan lagu yang berlirik, “Kita adalah debu bintang-bintang, kita ini berharga, kita terjebak di dalam penawaran iblis. Dan kita harus mencari cara kembali ke Taman (Surga).” Masalahnya, kita semua tahu kalau kita ini jauh dari kesempurnaan. Dalam dunia khayal perfilman, Mary Poppins bisa saja dengan riang menyatakan bahwa dia adalah “sempurna di segala hal,” namun di kehidupan nyata, hal itu tidak mungkin terjadi. Dan tentu saja kita tidak bisa menjadi sempurna lewat metode Woodstock. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; {{RightInsert| &amp;quot;Ketika terang cahaya...kemuliaan Allah jatuh ke atas roh kita, kita dimenangkan dari segala pemikiran yang palsu dan kurang tepat mengenai kesucian kita sendiri. Kita juga dilindungi dari segala pengajaran murahan yang mendorong kita untuk mempercayai bahwa ada jalan-jalan pintas yang memudahkan kita untuk mencapai kesucian hidup. Kesucian hidup bukanlah sebuah pengalaman; itu adalah penyatuan kembali karakter kita, juga pemugaran kembali satu hal yang sudah menjadi reruntuhan. Hal itu memerlukan ketrampilan dan merupakan suatu proyek jangka panjang yang memerlukan segala hal yang sudah diberikan oleh Allah dalam menjalani hidup kita juga untuk mencapai suatu kesalehan hidup.&amp;quot;[12]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
— Sinclair Ferguson }} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
R.A. Muller menyatakan bahwa Alkitab jelas menyatakan bahwa kita harus menjadi sempurna, namun pada saat yang bersamaan memberikan bukti bahwa kesempurnaan penuh itu tidak bisa dicapai di dalam hidup ini. Hal ini menghantarkan kita pada titik dilematis. Kita tidak bisa secara bebas mengangkat tangan dan mengakui kekalahan. Namun kita juga tidak bisa memiliki mentalitas ‘over pede (percaya diri)’ berkaitan dengan konsep kesempurnaan, yang lebih umum ditemukan di dalam konteks metode berpikir positif daripada yang ada di dalam Alkitab. Satu-satunya cara untuk memecahkan dilema ini adalah dengan menyadari bahwa Perjanjian Baru melihat konsep kesempurnaan dalam dua cara. Pandangan Paulus tentang jemaat Filipi adalah kedewasaan, bukan ketidak-bercelaan. Perhatikan bagaimana Alkitab versi New International Version menerjemahkan perkataannya kepada gereja di Filipi: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Setiap dari kita yang sudah dewasa harus memiliki kecenderungan yang sama dalam berbagai hal” (Fil 3:15). “Kesempurnaan” dalam hal ini bisa lebih tepat didefinisikan sebagai “mereka yang sudah menunjukkan perkembangan berarti dalam hal spiritualitas dan keseimbangan hidup” &amp;lt;br&amp;gt; {{LeftInsert| Renungkan 1 Petrus 1:14-16. Apakah perintah ini kedengarannya tidak realistis? Apakah mungkin Allah meminta anda untuk melakukan suatu hal yang mustahil? }} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adalah suatu hal yang alamiah apabila semua anak mau untuk bertumbuh dengan sempurna. Ini juga berlaku bagi orang percaya. Daripada mengambil pendekatan jalan pintas dan prinsip mencoba-coba dalam mencapai pertumbuhan, kita seharusnya membiarkan panggilan untuk menjadi sempurna itu mendorong kita untuk masuk ke dalam proses pencarian yang serius mengenai bagaimana caranya supaya kita menjadi seperti Yesus. Contoh dari Paulus sendiri seharusnya mampu menjadi contoh bagi kita semua: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert| Jawaban: S, B, B, S, S }} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena aku pun telah ditangkap oleh Kristus Yesus. Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus. (Filipi 3:12-14) &amp;lt;br&amp;gt; {{LeftInsert| 4 Ada stiker mobil yang pernah populer, bertuliskan, “Orang Kristen Itu Tidak Sempurn – Hanya Dimaafkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
}} &amp;lt;br&amp;gt; {{RightInsert| “Pertama-tama kita harus dibuat menjadi sesuatu yang baik sebelum kita bisa melakukan kebaikan.” — Hugh Latimer}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita melihat pengulangan kata sempurna di dalam surat Paulus yang pertama kepada jemaat di Korintus. “Tetapi jika yang sempurna tiba,” katanya, “maka yang tidak sempurna itu akan lenyap” (1 Korintus 13:10). Dalam konteks ini, sempurna adalah istilah yang diberikan secara khusus pada Allah Bapa– sebuah konsep kesempurnaan yang tidak akan bisa ditemukan sampai Kristus datang. Teolog Louis Berkhof lebih cenderung untuk membicarakan kesempurnaan-kesempurnaan Allah daripada kualitas karakteristikNya. Allah itu benar-benar tak bercacat cela. Tidak peduli seberapa matangnya kita di dalam hidup ini, kita tidak akan pernah mencapai kesempurnaan sampai suatu saat Allah menyempurnakan kita di dalam kemuliaan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Tujuh Alasan Untuk Menutup Celah  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada umumnya, dunia sudah memiliki kesan negatif terhadap kesucian. Banyak pihak menyamakan hal itu dengan suatu hal yang suram, memikul salib tanpa adanya sukacita. Hal itu lebih dilihat sebagai suatu kondisi “lebih-suci-dari-kamu” sebagai suatu tindakan pembenaran diri sendiri, daripada melihat hal itu sebagai suatu pengalaman yang penuh sukacita. Sebelum kita menutup bagian ini, marilah kita menghilangkan pendapat demikian dengan melihat pada beberapa keuntungan dan berkat yang dapat kita peroleh dari tindakan mengikuti Kristus. Ini adalah tujuh buah dari penyucian (pengudusan): &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah dipermuliakan. Ketika kita suci, kita semakin mempercayai bahwa Allah itu sungguh nyata dan menakjubkan seperti yang dinyatakan sendiri olehNya. Paulus menyatakan bahwa pekerjaan-pekerjaan baik yang dilakukan oleh orang Kristen memperindah doktrin mengenai Kristus (Titur 2:10). Bahkan mereka yang menolak Allah akan dipaksa untuk mengakui keberadaanNya ketika para pengikutnya berjalan di jalanNya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hubungan berkelanjutan dengan Allah Bapa di dalam hidup ini. “Jika seorang mengasihi Aku,” kata Yesus “ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia” (Yohanes 14:23). Merupakan suatu sukacita dan ketenangan yang luar biasa apabila kita mengalami hadirat Allah dan Anak melalui Roh kudus. Dan Yesus menandakan bahwa hadirat ini adalah suatu hadirat yang dipenuhi dengan kasih, bukan dengan nuansa yang dingin. Tentu saja, bersamaan dengan kehadiranNya akan datang juga kuasaNya, yang memampukan kita untuk mengalahkan tantangan-tantangan di dalam hidup kita. &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Persekutuan dengan orang percaya lainnya. Apabila kita berjalan di dalam kegelapan, kita tidak bisa menikmati persekutuan yang tulus dengan sesama orang percaya. “Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa” (1 Yohanes 1:7). Allah berjanji untuk melengkapi kita dengan belas kasihan, hai rekan-rekan seperjalanan yang sedang menjalani jalan menuju penyucian. Bagi saya pribadi, saya menemukan bahwa kebenaran Allah ditambah dengan contoh-contoh para pelayan Allah lainnya adalah suatu hal yang penting bagi pertumbuhan spiritual saya. Dan selama saya berjalan di jalanNya, saya tidak pernah kekurangan keduanya. Kita saling membutuhkan satu sama lain (dalam konteks gereja) apabila kita hendak berhasil. Kekudusan dan komunitas Kristiani akan saling melengkapi satu sama lain. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keyakinan akan keselamatan. Walaupun keselamatan kita tidak didasarkan pada usaha kita untuk mencapai kekudusan, keyakinan akan keselamatan cenderung untuk berkaitan dengan kekudusan hidup. Di dalam surat Petrus yang kedua, Petrus menggugah para pembaca untuk sungguh-sungguh berusaha senantiasa mengumpulkan karakteristik spiritual, menambahkan kepada iman kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang yang dimiliki secara berkelimpahan (2 Petrus 1:5-9). Dia mengingatkan bahwa apabila ada yang tidak memiliki semuanya itu, maka ia akan lupa .... ... bahwa dosa-dosanya yang dahulu telah dihapuskan. Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung. Dengan demikian kepada kamu akan dikaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. (2 Petrus 1:9-11) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengabaran Injil. Sebagai seorang muda yang masih dibawah pengaruh dosa, saya mencoba sebisa saya untuk menemukan kesalahan-kesalahan di dalam hidup orang percaya supaya saya bisa menolak pesan yang mereka sampaikan dan mencap mereka sebagai orang munafik. Namun walaupun mereka tidak sempurna, tapi saya tidak bisa menemukan ketidak-konsistenan yang tergolong fatal. Sebuah keluarga besar yang menjangkau saya dengan Injil lebih memberikan pengaruh kepada saya lewat gaya hidup mereka daripada dengan perkataan-perkataan yang diucapkan. Sang suami mengasihi istrinya, sang istri menghormati suaminya, anak-anak menaati orang tuanya, dan mereka semua sangat bersuka cita. Saya tidak pernah melihat hal seperti itu. {{RightInsert| Renungkan 1 Petrus 2:12. Walaupun orang yang belum percaya mungkin menghina gaya hidup anda sekarang, akibat apa yang mungkin mereka terima pada akhirnya?&lt;br /&gt;
}}&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah disampaikan bahwa meskipun dunia mungkin tidak membaca Alkitab, tapi dunia membaca orang-orang Kristen. Allah menggunakan orang-orang kudus untuk menjangkau orang lain. Bukan orang yang sempurna, namun kudus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemahaman, kebijakan, dan pengetahuan. Harta-harta inilah yang akan diperoleh mereka yang mencari Allah dengan sepenuh hati (Amsal 2:1-11). Mereka terlindungi dari para penghujat, pemberontak, dan para orang bodoh. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat Allah. Alkitab menyatakan, “Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan” (Ibrani 12:14). Meskipun arti sebenarnya dari pasal ini masih dilingkupi oleh misteri, tapi Alkitab bisa memberikan gambaran mengenai “Penglihatan yang Menakjubkan,” atau melihat Allah. Hal itu akan terjadi ketika Tuhan datang kembali, ketika semua musuh sudah dikalahkan dan kita semua sudah disucikan dengan sempurna. Pada saat itu, penglihatan kita mengenai Allah akan berkelanjutan dan intens, tanpa distraksi atau tindakan yang berfokus pada ke ‘aku’ an akibat dari dosa. Bukan berarti pengetahuan kita akan Allah akan menjadi sempurna, karena Ia akan terus menyatakan diriNya lebih dan lebih lagi.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; {{LeftInsert| “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.”&lt;br /&gt;
—Yesus (Matius 5:8) }}&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berbahagialah orang yang suci hatinya, “ kata Yesus, “karena mereka akan melihat Allah” (Matius 5:8). Penyataan akan kebesaran dan kebaikanNya adalah hal terindah yang bisa kita dapatkan apabila kita menjalani hidup kita dengan penuh kekudusan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Seperti yang sudah anda lihat, ada banyak alasan baik yang dapat menggugah kita untuk menutup celah antara harapan Allah akan diri kita, dan pengalaman kita pribadi. Kita diciptakan untuk turut ambil bagian dalam kekudusanNya-bukan hanya di surga, namun juga di bumi. Selangkah demi selangkah, kita bisa belajar untuk mengalahkan dosa dan hidup dengan cara yang semakin lama semakin memancarkan kemuliaan dan karakter Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam bab pertama, kami sudah mencoba untuk menarik minat anda pada kesalehan hidup. Dimulai dari bab kedua, kami akan membangun kerangka Alkitabiah yang dibutuhkan untuk mendukung suatu kehidupan yang kudus- dan penuh sukacita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Diskusi Kelompok  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Apa gejala-gejala yang menandakan seseorang sedang terperangkap di tengah? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Celah antara standar-standar Allah dan perilaku kita sendiri tidak bisa dihindari; namun terlalu berlebihan apabila kita menamakan diri kita munafik. Di mana kita bisa menarik garis untuk membedakan keduanya? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Bagaimana menjelaskan hubungan antara penyucian diri kita dengan sejarah masa lalu dan harapan di masa depan? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Rasa takut akan Allah, menurut penulis, adalah suatu “syarat untuk mencapai keintiman rohani dengan Allah.” (Hal. 7) Apa maksudnya? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Sejauh mana seorang kristen yang dewasa rohani bisa bebas dari dosa? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6. Sekarang setelah anda selesai membaca bagian ini, bagaimana anda akan menjelaskan Matius 5:48 kepada orang yang baru percaya? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bacaan Yang Direkomendasikan  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
How to Help People Change 'by Jay E. Adams (Grand Rapids, MI: Zondervan Publishing House, 1986) Saved by Grace by Anthony A. Hoekema (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1989) Referensi 1. ↑ Jay E. Adams, The Biblical View of Self-Esteem, Self-Love, Self-Image (Eugene, OR: Harvest House Publishers, 1986), h. 78. 2. ↑ Oscar Cullman, Christ and Time (Philadelphia, PA: The Westminster Press, 1964), h. 3. 3. ↑ John Piper, The Pleasures Of God (Portland, OR: Multnomah Press, 1991), h. 147. 4. ↑ Ern Baxter, pesan yang direkam, “Sanctification,” n.d. 5. ↑ Quoted in Gathered Gold, John Blanchard, ed. (Welwyn, Hertfordshire, England: Evangelical Press, 1984), h.146. 6. ↑ J.C. Ryle, Holiness (Welwyn, Hertfordshire, England: Evangelical Press, 1879, reprinted 1989), h. 39. 7. ↑ 7. Anthony A. Hoekema, Saved by Grace (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1989), h. 192-93. 8. ↑ Jerry Bridges, The Practice of Godliness (Colorado Springs, CO: NavPress, 1983), h. 15-20. 9. ↑ Idem, p. 24. 10. ↑ Idem, p. 26. 11. ↑ J.I. Packer, Concise Theology (Wheaton, IL: Tyndale House, 1993), h. 169. 12. ↑ Sinclair Ferguson, A Heart for God (Colorado Springs, CO: NavPress, 1985), h. 129. 13. ↑ R.A. Muller, The International Standard Bible Encyclopedia, Volume Four (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1988), h. 324. 14. ↑ William Hendriksen, New Testament Commentary: Philippians (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1962), h. 176. 15. ↑ Quoted in Gathered Gold, p.148. 16. ↑ Louis Berkhof, Systematic Theology (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1941), p. 52. ↑ Sumber Asli tidak diketahui&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Susanlim</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/How_Can_I_Change%3F/Caught_in_the_Gap_Trap/id</id>
		<title>How Can I Change?/Caught in the Gap Trap/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/How_Can_I_Change%3F/Caught_in_the_Gap_Trap/id"/>
				<updated>2009-01-28T10:58:36Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Susanlim: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|Bagaimana Saya Bisa Berubah?/Terperangkap di Tengah}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semua yang kini sedang bergumul melawan amarah, silakan maju ke depan. Kami mau berdoa untuk anda.”&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu itu hari Minggu pagi. Saya baru saja menyelesaikan khotbah mengenai amarah, dan saya mau memberikan waktu bagi Roh Kudus untuk bekerja di dalam hati orang-orang yang hadir saat itu. Namun saya terkejut melihat respon yang diberikan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekitar dua puluh orang-orang yang rendah hati maju ke depan mimbar—untuk ukuran gereja kami, jumlah ini cukup besar. Namun, bukan jumlahnya yang menarik perhatian saya. Yang menarik perhatian saya adalah orang-orang yang maju ke depan. Sembilan belas dari dua puluh orang yang maju ke depan adalah para ibu muda! (Amarah sangat rentan dialami oleh para ibu, sejauh yang saya ketahui.) Sebagai gembala, saya tahu bahwa para wanita ini adalah orang kristen yang sungguh-sungguh. Apa yang menyebabkan mereka maju ke depan adalah rasa frustasi mendalam mereka yang dialami karena mereka merasa terperangkap di tengah -- zona antara standar Alkitabiah yang berkaitan dengan penguasaan diri, dan kegagalan mereka untuk hidup menurut standar Alkitabiah itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah masalah itu berkaitan dengan amarah, ketakutan, kekuatiran, atau suatu hal yang umum, seperti kemalasan, kita semua sudah mengalami perasaan terperangkap di tengah, antara siapa diri kita saat ini, dan siapa diri kita seharusnya. Alkitab menyatakan bahwa kita adalah ciptaan baru, para pemenang, penakluk. Dan kita bukan hanya sekedar pemenang, melainkan lebih dari seorang pemenang (Roma 8:37). Kadang kita memang merasa seperti itu. Namun yang lebih sering, kita mengalami kesulitan melihat suatu hal yang melampaui kelemahan-kelemahan dan kegagalan-kegagalan kita. Dan yang menariknya, justru di saat-saat seperti ini, ayat dalam Matius 5:48 mendadak jadi tampil ke permukaan: “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| Untuk Dipelajari Lebih Lanjut: Bahkan Rasul Paulus mengalami saat dimana ia merasa terperangkap di tengah (Roma 7:21-25). Dapatkah anda membandingkan rasa frustrasi anda dengan rasa frustrasi yang dialami Rasul Paulus?}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlahan kita menghela nafas dan berkata,''Hal itu tidak akan pernah menjadi kenyataan''. &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya menyebut kondisi ini sebagai “perangkap tengah”. Berikut adalah cara kerjanya: Sebagai orang kristen, kita semua memiliki pengetahuan mengenai hal-hal yang diharapkan Allah dari diri kita. Namun pada kenyataannya, apa yang kita capai jauh dari apa yang -kita tahu- sebenarnya harus kita capai. Maka, terciptalah suatu jarak antara apa yang kita tahu harus kita lakukan, dan performa kita yang sesungguhnya. Apabila jarak antara keduanya terlampau jauh, kita bisa saja langsug di cap sebagai seorang munafik. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| “Kehidupan kekristenan semata-mata berkaitan dengan perubahan karakter intrinsik kita menuju karakter Kristus.. Tujuan dari ayat-ayat ini (Misalnya Roma 6, Kolose 3: 5-14, Efesus 4:22-32) adalah untuk menunjukkan kepada kita bahwa ada jarak yang hebat antara siapa kita di dalam Kristus (pembenaran) dan siapa kita sebenarnya dalam kehidupan keseharian kita (pengudusan), yang tujuannya adalah untuk mendorong kita agar kita menutup jarak yang ada antara keduanya... Tujuan Paulus adalah untuk mengugah kita supaya dalam kehidupan keseharian kita, kita mampu menampilkan perilaku-perilaku yang menggambarkan siapa kita sebenarnya di dalam Kristus.” &amp;lt;br&amp;gt;- '''Jay Adams'''}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Situasi ini adalah suatu hal yang nyata dalam kehidupan kekristenan. Bagi sebagian besar, tidak dibutuhkan orang lain untuk memberitahu kita mengenai ketidak-konsistenan di dalam hidup kita—kita semua terlalu manyadarinya. Kesadaran itu seharusnya membuat kita menjadi semakin rendah hati dan menggantungkan diri kepada Tuhan supaya kita bisa berhasil menutup ketidak-konsistenan itu. Namun biasanya momen ‘terjebak di tengah’ ini muncul akibat ketidakpedulian kita akan doktrin atau ajaran mengenai pengudusan. Daripada menyadari kalau jarak ini ada sebagai pertanda bahwa kita membutuhkan pertolongan dari Allah saja, kita malah membiarkan jarak ini untuk menghukum kita, dan memperlambat kemajuan kita. Kita menjadi terjebak dalam pemikiran bahwa kita adalah seorang pecundang, bodoh, orang yang penuh kegagalan... dan mungkin saja bukan benar-benar seorang Kristen. Beberapa orang bahkan terperosok lebih jauh dalam ketidaktaatan. Mereka yang terjebak di situasi seperti ini (dan pada level tertentu, kita semua termasuk di dalamnya) mengalami penderitaan (yang sebenarnya tidak diperlukan) karena patah semangat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai seorang gembala, salah satu tanggung jawab utama saya adalah membantu orang-orang agar bisa keluar dari jebakan ini. Saya sering menyampaikan pada orang-orang, “Hal itu tidak akan instan terjadi, dan membutuhkan usaha yang sungguh-sungguh, namun supaya bisa keluar dari jebakan itu tidaklah rumit. Dan percayalah, anda tidak akan kecewa melihat hasilnya.” Mungkin anda merasa bahwa anda sedang berada di posisi seperti ini. Jika demikian, kami yakin buku ini dapat menolong anda untuk menutup jarak yang ada antara siapa anda seharusnya di dalam Kristus dan siapa anda sebenarnya dalam kehidupan keseharian anda. Dapatkah anda membayangkan kehidupan dimana anda mematahkan kebiasaan-kebiasaan anda yang penuh dosa dan membuat kemajuan nyata dalam kehidupan rohani anda? kehidupan seperti itu sungguh mungkin adanya. Dan buku ini ditulis untuk menguatkan dan menyertai anda seiring dengan usaha anda untuk mencapai yang kehidupan seperti itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| &amp;lt;br&amp;gt;Daftar Isi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1 Diantara “Sekarang” dan “Yang Akan Datang” &amp;lt;br&amp;gt;2 Butuh Obat Kumur? &amp;lt;br&amp;gt;3 Setimpal Dengan Usahanya &amp;lt;br&amp;gt;4 Bagaimana Meraih Kesempurnaan? &amp;lt;br&amp;gt;5 Tujuh Alasan Untuk Menutup Celah &amp;lt;br&amp;gt;6 Diskusi Kelompok &amp;lt;br&amp;gt;7 Bacaan yang Direkomendasikan &amp;lt;br&amp;gt;8 Referensi}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Diantara “Sekarang” dan “Yang Akan Datang” &amp;lt;br&amp;gt;  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| Apakah ada area-area dalam hidup anda yang anda sadari kurang memenuhi ekpektasi Allah? (Tuliskan dengan singkat sebuah area itu di bawah)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
}}&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak diragukan, bahwa salah satu hal yang paling membuat kita frustrasi terkait dengan kehidupan kekristenan adalah kontradiksi yang nyata antara siapa kita di mata Allah, dan siapa diri kita dalam pendapat kita sendiri. Ambil contoh jemaat di Korintus, misalnya. Rasul Paulus pada satu titik meyakinkan mereka bahwa, “Kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita.” (1 Korintus 6:11). Sepertinya berhenti sampai di situ saja, bukan? Sampai kita membaca surat kedua Paulus pada jemaat ini, yang isinya nyaris bertolak-belakang dengan yang pertama disampaikan: “Marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah” (2 Korintus 7:1). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di pikiran saya, mungkin saja para jemaat di Korintus merasa bingung. Apakah mereka sudah disucikan... atau masih tercemar? sebenarnya dua-duanya berlaku untuk mereka, dan juga kita. Untuk menjelaskan hal itu, mari saya ajak anda untuk menyimak hal di berikut ini.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|  Renungkan 1 Yohanes 3:2-3. Apa pengaruh dari pemikiran kita tentang “yang akan datang” terhadap apa yang ada “saat ini”}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kerajaan Allah itu adalah “saat ini” dan “yang akan datang”. Dalam beberapa hal, Kerajaan Allah berkaitan dengan masa kini, dan untuk beberapa hal lainnya, Kerajaan Allah berkaitan dengan masa mendatang. Allah kita telah menyatakan dan menunjukkan bahwa Kerajaan (atau hukum) Allah sudah bersinggungan dengan sejarah manusia: “Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu” (Lukas 11:20). Namun, Kerajaan Allah belum datang seutuhnya. Hal itu tidak akan terjadi sampai Yesus datang kembali dalam kuasaNya, ketika setiap lutut kan bertelut dan semua lidah mengaku bahwa Dialah Allah. Sampai hal itu terjadi, tanpa menyangkal kehadiran Kerajaan Allah yang ada di dalam dunia ini, kita berdoa, “Datanglah Kerajaan-Mu” (Matius 6:10) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan demikian, Kerajaan Allah berjalan seiringan dengan kehidupan kita. Allah, lewat karya pembenaran-Nya, sudah menyatakan bahwa kita adalah orang-orang benar. Posisi kita di mata Allah sudah berubah. Masalah itu sudah diselesaikan sekali dan untuk selama-lamanya di Surga. Namun, di sisi surga lainnya (bumi), perubahan internal kita merupakan suatu proses yang sedang berjalan. Proses penyucian ini membuat saya sibuk sebagai seorang pribadi Kristen, dan juga memberikan saya banyak pekerjaan dan tugas sebagai seorang gembala. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, apakah kita sudah memiliki kemenangan di dalam Yesus atau belum? apakah kita para pemenang, atau apakah kita masih harus berjuang? Oscar Cullmann memberikan ilustrasi dari Perang Dunia ke-2, yang saya percaya dapat membantu kita menangkap hal yang kesannya bertentangan ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejarah mencatat dua peristiwa besar yang menjadi pangkal berakhirnya Perang Dunia ke-2: D-Day dan VE-Day. D-Day terjadi pada 6 Juni 1944, ketika para pasukan Sekutu mendarat di Normandy, Perancis. Ini adalah titik balik dalam perang yang berlangsung; ketika pendaratan ini berhasil, nasib Hitler sudah sangat jelas. Pada dasarnya, perang sudah berakhir. Namun kemenangan total di Eropa (VE-Day) tidak terjadi sampai tanggal 7 Mei 1945 ketika pasukan Jerman menyerah di Berlin. Periode sebelas bulan ini dicatat sebagai salah satu periode pertumpahan darah terbesar sepanjang sejarah perang. Pertempuran-pertempuran terjadi di seluruh Perancis, Belgia, dan Jerman. Walaupun secara fisik para musuh sudah terluka, namun mereka tidak sepenuhnya menyerah.&amp;lt;br&amp;gt; {{LeftInsert| “Pemilihan Ilahi adalah jaminan bahwa Allah akan bekerja dalam melengkapi pemilihan kita (untuk diselamatkan oleh anugerah-Nya) dengan anugerah pengudusan-Nya. Ini adalah arti dari Perjanjian Baru: Allah tidak hanya sekedar memerintahkan agar kita taat kepadaNya, namun juga memberikan kemampuan pada kita untuk menaatiNya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-John Piper }}&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salib adalah D-Day kita. Di sana, Tuhan kita Yesus Kristus mati disalibkan, untuk mematahkan belenggu dosa dari umatNya. Berdasarkan kematian dan kebangkitanNya, kita semua dibenarkan. Namun, kemenangan akhir akan terjadi ketika Ia datang. Tidak ada keraguan mengenai hasil akhirnya. Namun kita masih akan menemui gesekan-gesekan dan pertandingan-pertandingan sampai Tuhan muncul di dalam kemuliaanNya untuk memusnahkan kuasa kegelapan selamanya. {{RightInsert| Untuk Bacaan Lebih Lanjut: Bacalah 1 Petrus 5:8-9. Walaupun kemenangan akhir Allah tidak bisa disangkal, namun kita harus tetap berjuang melawan musuh kita.}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fakta ini, apabila kita tetap berusaha untuk mengingatnya, dapat membuat kita tidak patah semangat. Pertarungan masih berlangsung, namun peperangan utama sudah dimenangkan. Kesadaran akan karya pengorbanan Kristus yang telah dilakukan bagi kita sangat penting untuk memacu semangat moral kita seiring dengan usaha kita untuk mencapai suatu kekudusan hidup. Kita harus mempelajari dan merenungkan doktrin utama mengenai pembenaran sampai hal itu sungguh tertanam dalam kesadaran kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== '''Butuh Obat Kumur?'''  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun kita sudah dibenarkan sepenuhnya di dalam Kristus (D-Day), bukan berarti kita sudah sepenuhnya disucikan (VE-Day). Beberapa orang gagal memahami hal ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengajar Alkitab Ern Baxter menyampaikan kejadian yang terjadi saat Latter Rain Revival di akhir tahun 1940-an. Ada suatu ajaran menyimpang yang dinamakan “manifestasi anak-anak Allah”. Pada intinya ajaran itu menyampaikan doktrin yang menjanjikan kekudusan total di dalam hidup ini. Pada bentuk ekstrimnya, ajaran itu termasuk kepercayaan bahwa elit spiritual akan menerima tubuh kemuliaan sebelum kedatangan Kristus untuk kedua kalinya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada sesi penutupan acara dimana Baxter menjadi pembicaranya, beberapa ‘anak-anak Allah’ muncul di pojok auditorium berbalutkan jubah putih. Ketika ia selesai menyampaikan Firman, mereka berjalan ke depan dan mulai mencoba untuk menarik pengikut-pengikut baru bagi doktrin mengenai kesempurnaan total yang mereka ajarkan. Ketika ia mengingat peristiwa itu, ia menyatakan, “Wanita yang menjadi kelompok di grup itu benar-benar membutuhkan Listerine (merek obat kumur). Bukan itu jenis kesempurnaan yang saya nantikan.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih umum dari skenario yang terjadi lewat peristiwa yang dialami oleh Ern Baxter diatas, adalah situasi-situasi yang terjadi akibat dari kurangnya pengetahuan dan kecenderungan untuk menyederhanakan konsep kekudusan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| 2 Kalau anda mencari kesempurnaan total di dalam hidup ini, kira-kira mana dari antara beberapa hal di bawah ini yang paling sulit untuk dilakukan oleh anda? &lt;br /&gt;
❏Sama sekali tidak akan pernah mengendarai mobil lebih dari batas kecepatan. &lt;br /&gt;
❏Berbicara dengan hangat dan lembut pada setiap sales yang menelepon rumah anda. &lt;br /&gt;
❏Mengindari semua kalori yang tidak dibutuhkan. &lt;br /&gt;
❏Tidak pernah memukul jam weker anda ketika ia membangunkan anda. &lt;br /&gt;
❏Senantiasa membayar pajak penghasilan anda dengan sukacita.}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu saya baru menjadi orang percaya, saya berjumpa dengan seorang pria muda bernama Greg, mengaku menjadi seorang perampok dan pengguna obat terlarang yang sepertinya bertobat waktu di dalam penjara. Pegangan hidup Greg dalam menjalani kehidupan kekristenan sangat memukau diri saya. Ia membawakan dirinya dengan keyakinan penuh dan sedikit keangkuhan. Ia berbicara seakan-akan dosa itu bukan menjadi suatu masalah lagi baginya. Lebih dari sekali dia mengatakan kepada saya betapa ia sudah “diselamatkan, disucikan, dan dipenuhi oleh Roh Kudus.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar dia mengatakan hal itu, sepertinya membuat hal itu seakan-akan mudah dan sederhana. Sebagai seorang Kristen yang baru, pada suatu waktu ia naik ke dalam kereta, dan waktu dia baru berangkat, beberapa jam kemudian ia sudah mengalami apa yang dinamakan olehnya sebagai “pengalaman pengudusan.” Dia berusaha meyakinkan saya bahwa pengalaman itu adalah hal yang dibutuhkan pertama kali untuk menerima baptisan Roh Kudus, dan sekali itu terjadi, itu akan berlaku selamanya. Saya harus mengakui di sini, bahwa ada beberapa hal tentang Greg yang kesannya tidak terlalu kudus. Ia mempunyai kecenderungan untuk menghakimi orang dan perilaku seorang farisi. Ia bisa menjadi seorang yang terlalu menguasai dan picik. Saya ingat pada suatu saat ketika seorang teman tidak sengaja meletakkan suatu benda di atas Alkitabnya: “Maaf—itu kan Firman Allah!” Tapi tetap saja, dia yakin dia bisa mengutip Alkitab, dan sepertinya sangat memahami perihal pengudusan.&amp;lt;br&amp;gt; {{RightInsert| Untuk Renungan Lebih Lanjut: Bacalah Matius 26:41. Kapan waktunya kita bisa aman menganggap bahwa kita sudah “sampai” pada titik pengudusan?}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sangat mengejutkan ketika pada akhirnya ia kembali mengedarkan dan memakai obat terlarang. Masalah Greg terkait dengan kurangnya pemahaman dan juga kesalah-pahaman mengenai ajaran Alkitab terkait dengan konsep pengudusan. Ia sudah melakukan kesalahan seperti yang banyak orang lakukan dengan hanya memfokuskan perhatian pada beberapa ayat Alkitab favorit yang sepertinya membenarkan pengalaman pribadinya.&amp;lt;br&amp;gt; {{LeftInsert| &amp;quot;Kekudusan bukan jalan menuju Kristus. Kristus, adalah jalan menuju kekudusan.&amp;quot; —&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adrian Rogers}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; Kekudusan itu sifatnya pasti (terjadi saat kita bertobat) dan progresif (terus berlangsung). Semua ini tidak terjadi pada sekali waktu di masa lalu, dan bukan juga suatu hal yang akan terjadi secara bertahap. Kita sudah diubahkan dan kita sedang berubah. Tanpa mengesampingkan keberhasilan pendaratan kita di Normandy, marilah kita bijak dan realistis saat menilai adanya oposisi yang ada diantara kita dan Berlin. Kita tidak punya pilihan yang memungkinkan kita untuk mendapatkan tiket naik ke dalam kereta pengudusan, seperti yang Greg yakini. Hal itu akan menjadi suatu pertandingan di setiap langkah kehidupan kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Setimpal dengan Usahanya  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi beberapa orang, “pengudusan” adalah suatu istilah teologis yang sering didengar, namun jarang dimengerti. Kedengarannya itu adalah suatu hal yang cocok untuk mahasiswa teologia dan kurang praktis untuk kehidupan sehari-hari. Namun sebaliknya, hal itu adalah suatu hal yang sangat amat praktis, dan bisa dikaitan dengan kehidupan keseharian. Doktrin mengenai pengudusan bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh hampir seluruh orang Kristen di dalam sejarah gereja. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana saya bisa berubah? &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana saya bisa bertumbuh? &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana saya menjadi serupa dengan Kristus? &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana saya bisa tidak terperangkap di tengah? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apapun yang bisa menjawab pertanyaan itu akan mengharuskan kita untuk melakukan beberapa usaha. Lampiran A (halaman 93) menunjukkan bahwa beberapa cabang gereja sudah membicarakan masalah ini di masa lalu, namun mari kita lihat apa yang bisa kita pelajari mengenai aplikasi dari doktrin yang penting ini pada masa kini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Arti Alkitabiah dari kata menguduskan (menyucikan) adalah “untuk memisahkan; mengkhususkan.” (Kesucian berasal dari akar kata yang sama dalam bahasa Yunani) Hal ini bisa diaplikasikan pada orang, tempat, situasi, atau benda tertentu. Ketika suatu hal dikuduskan, hal itu akan dipisahkan dari pemakaian pada umumnya dan didedikasikan untuk kepentingan khusus. Misalnya, pada jaman Musa, Hari Raya Pendamaian dikuduskan bagi Allah yang Kudus. Hari itu menjadi hari yang kudus. Sebuah hal yang dikuduskan tidak akan serta merta menjadi suci karena dipisahkan dari hal lainnya; kesucian yang didapat akan berasal dari untuk apa (atau kepada siapa) kah hal itu disucikan. Karena hanya Allah saja yang suci, maka hanya Dia-lah yang bisa mengimpartasikan kesucian. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara teologis, istilah “pengudusan” telah dipergunakan untuk menggambarkan proses yang dilalui oleh seorang percaya ketika Roh Allah sedang bekerja di dalam hidupnya untuk membuat dirinya semakin menyerupai Kristus. Prosesnya dimulai saat kita lahir baru, dan terus berlangsung sepanjang kita hidup. Hal ini ditandai dengan konflik keseharian seiring dengan usaha kita untuk mengalahkan dosa yang ada di dalam diri kita dengan anugerah dan kekuatan yang Allah berikan bagi kita. Camkan di dalam pikiran bahwa rasa bersalah yang didapat dari dosa sudah dihilangkan lewat pembenaran, sebagaimana yang dijelaskan oleh Anthony Hoekema; penyucian menghilangkan pencemaran akibat dosa: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang dimaksud dengan rasa bersalah adalah kondisi di mana kita layak mendapatkan penghukuman atau harus bertanggung jawab untuk menerima hukuman karena telah melanggar hukum Allah. Yang dimaksud dengan pembenaran, sebagai tindakan deklaratif Allah, adalah bahwa rasa bersalah akibat dosa dihilangkan atas dasar karya utama Yesus Kristus. Yang dimaksud dengan pencemaran adalah bahwa kita memiliki kecenderungan bawaan yang terjadi sebagai akibat dari dosa yang juga pada akhirnya menciptakan dosa lain lebih lanjut. Sebagai akibat dari kejatuhan Adam dan Hawa, kita semua lahir dengan kondisi seperti ini; dosa-dosa yang kita lakukan tidak hanya berasal dari kecenderungan kita untuk berdosa, namun juga menambah kecenderungan itu sendiri. Yang dimaksud dengan penyucian adalah kondisi dimana pencemaran yang didapat dari dosa sedang dalam proses (tahapan) pembersihan (walaupun hal itu tidak akan sepenuhnya dibersihkan sampai kita memasuki hidup baru di Surga). {{RightInsert| Untuk Bacaan Lebih Lanjut: Apakah anda menyadari betapa penting dan bermanfaatnya apabila kita memiliki perasaan takut akan Allah? (Lihat Mazmur 19:9 dan 25:14, Amsal 1:7 dan 9:10, dan 1 Petrus 1:17.)}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alkitab juga mendefinisikan penyucian sebagai proses pertumbuhan menuju hidup yang saleh. Hidup yang saleh merujuk pada suatu kehidupan yang menunjukkan dedikasi kepada Allah, dan karakter yang muncul akibat dedikasi tersebut. Hidup yang saleh melibatkan kasih terhadap Allah dan kerinduan akan Allah. Selain itu juga mengandung rasa takut akan Allah, yang menurut John Murray adalah “jiwa dari hidup yang saleh”. Karena telah ditebus dari ancaman hukuman kekal, orang Kristen menyatakan rasa takutnya kepada Allah dengan memfokuskan diri tidak kepada murka Allah, tapi kepada “kemuliaan, kekudusan dan keagunganNya...” Rasa takut akan Allah mempunyai dampak yang baik bagi hati kita, dimana rasa ini akan memurnikan hati kita, dan juga hal ini adalah syarat apabila kita hendak menjalin hubungan yang lebih intim dengan Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hidup yang saleh melibatkan lebih dari sekedar unsur moralitas atau tindakan fanatik. Hal tersebut berasal dari kesatuan dengan Kristus dan hasrat untuk memuliakanNya. Seorang yang saleh akan berkeinginan untuk menjadi seperti Tuhan-nya juga ingin untuk menyenangkan hatiNya. Ia ingin merasakan apa yang dirasakan olehNya, memikirkan apa yang dipikirkan oleh Tuhan-nya melebihi dirinya sendiri, dan melakukan apa yang menjadi kehendakNya. Secara singkat, orang seperti ini ingin menjadi seseorang yang memiliki karakter Allah, sehingga Allah bisa dimuliakan lewat hidupnya. Tidak ada hal lain yang layak diperjuangkan sepanjang hidup kita: “Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang” (1 Timotius 4:8). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baik Allah maupun manusia memegang peran penting dalam konteks penyucian. Allah, dengan anugerahNya, memulai karya penebusan di dalam kita dan memberikan keinginan serta kuasa untuk mengalahkan dosa. Sebagai respon sekaligus sambil bersandar pada anugerahNya, kita menaati perintah Alkitab&amp;amp;nbsp;: “karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya. Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan” (Filipi 2:12-13) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|“Penyucian, menurut Westminster Shorter Catechism, adalah ‘pekerjaan dari anugerah Allah yang diberikan secara cuma-cuma, dimana kita diperbaharui menjadi manusia seutuhnya berdasarkan gambaran Allah, dan dimampukan lebih dan lebih lagi untuk mati bagi dosa, dan hidup bagi kebenaran.’ Konsep yang terkandung di dalam hal ini adalah bukan berarti dosa itu dihapuskan total (hal ini terlalu berlebihan) atau hanya ditangkis (hal ini terlalu meremehkan), namun berkaitan dengan perubahan karakter ilahi kita yang membebaskan kita dari kebiasaan-kebiasaan kita yang penuh dosa dan membentuk kita menjadi serupa dengan Kristus dalam hal perasaan, sifat, dan karakteristik-karakteristik lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
— J.I. Packer&lt;br /&gt;
}} &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam Perjanjian Baru, posisi dari hidup kudus itu berada pada titik tengah antara legalitas di satu sisi, dan lisensi di sisi lainnya. Semua tradisi gereja yang terlalu menitik beratkan pada karya Allah di dalam kita tanpa menaruh pengharapan bahwa karya itu akan menghasilkan suatu hasrat yang terus bertambah di dalam diri kita untuk menuju suatu kesalehan hidup, akan cenderung menuju ke arah lisensi. “Karena, seperti yang telah kerap kali kukatakan kepadamu, dan yang kunyatakan pula sekarang sambil menangis, banyak orang yang hidup sebagai seteru salib Kristus. Kesudahan mereka ialah kebinasaan, Tuhan mereka ialah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi” (Filipi 3:18-19). Di lain pihak ada juga pihak yang terlalu menitik beratkan pada porsi manusia sehingga mereka menyimpang dari kebenaran Allah dan berakhir pada prinsip legalitas. (Tentu saja seluruh hal ini mempunyai kadar yang bervariasi). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| Renungkan 1 Timotius 6: 11-16. Paulus adalah seorang yang sangat mampu menjadi seorang motivator yang handal. }} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bagaimana Meraih Kesempurnaan &amp;lt;br&amp;gt;  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu pertanyaan yang umum diucapkan oleh orang Kristen adalah, “Sejauh mana saya bisa berharap pada proses penyucian ini? Apakah pada akhirnya saya bisa benar-benar bebas dari dosa?” Jenis pertanyaan ini akan menjadi relevan terutama ketika kita membaca pernyataan seperti yang disampaikan oleh Paulus kepada jemaat di Filipi: “Karena itu marilah kita, yang sempurna, berpikir demikian. Dan jikalau lain pikiranmu tentang salah satu hal, hal itu akan dinyatakan Allah juga kepadamu” (Filipi 3:15). Bahkan Yesus menyampaikan hal itu lebih gamblang di ayat yang sudah disebutkan sebelumnya: “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna” (Matius 5:48).&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| 3 Cobalah untuk menjawab kuis Benar/Salah di bawah ini, untuk mengetahui sejauh mana anda sudah memahami materi ini: (Jawaban dicetak terbalik di bagian bawah halaman 9) &lt;br /&gt;
• Arti dari kata “menguduskan (menyucikan)” adalah “menajiskan, memisahkan” B S &lt;br /&gt;
• Proses penyucian dimulai saat kita lahir baru, dan terus berlangsung sepanjang kita hidup. B S &lt;br /&gt;
• Rasa bersalah yang didapat dari dosa sudah dihilangkan lewat pembenaran B S&lt;br /&gt;
• Hidup yang saleh hanya memiliki arti yang berkaitan dengan unsur moralitas atau tindakan fanatik seseorang. B S &lt;br /&gt;
• Hanya Allah yang bertanggung jawab terhadap proses penyucian kita. B S}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah Allah sungguh berharap supaya kita mencapai tahap kesempurnaan? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keinginan untuk menjadi sempurna sudah menginspirasi banyak orang untuk mencari Allah. Di sepanjang sejarah manusia, banyak penulis puisi dan filosofer yang mengekspresikan keinginan untuk mencapai kembali kesucian hidup. Penulis lagu kontemporer Crosby, Stills, dan Nash merayakan pengalaman Woodstock dengan lagu yang berlirik, “Kita adalah debu bintang-bintang, kita ini berharga, kita terjebak di dalam penawaran iblis. Dan kita harus mencari cara kembali ke Taman (Surga).” Masalahnya, kita semua tahu kalau kita ini jauh dari kesempurnaan. Dalam dunia khayal perfilman, Mary Poppins bisa saja dengan riang menyatakan bahwa dia adalah “sempurna di segala hal,” namun di kehidupan nyata, hal itu tidak mungkin terjadi. Dan tentu saja kita tidak bisa menjadi sempurna lewat metode Woodstock. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; {{RightInsert| &amp;quot;Ketika terang cahaya...kemuliaan Allah jatuh ke atas roh kita, kita dimenangkan dari segala pemikiran yang palsu dan kurang tepat mengenai kesucian kita sendiri. Kita juga dilindungi dari segala pengajaran murahan yang mendorong kita untuk mempercayai bahwa ada jalan-jalan pintas yang memudahkan kita untuk mencapai kesucian hidup. Kesucian hidup bukanlah sebuah pengalaman; itu adalah penyatuan kembali karakter kita, juga pemugaran kembali satu hal yang sudah menjadi reruntuhan. Hal itu memerlukan ketrampilan dan merupakan suatu proyek jangka panjang yang memerlukan segala hal yang sudah diberikan oleh Allah dalam menjalani hidup kita juga untuk mencapai suatu kesalehan hidup.&amp;quot;[12]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
— Sinclair Ferguson }} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
R.A. Muller menyatakan bahwa Alkitab jelas menyatakan bahwa kita harus menjadi sempurna, namun pada saat yang bersamaan memberikan bukti bahwa kesempurnaan penuh itu tidak bisa dicapai di dalam hidup ini. Hal ini menghantarkan kita pada titik dilematis. Kita tidak bisa secara bebas mengangkat tangan dan mengakui kekalahan. Namun kita juga tidak bisa memiliki mentalitas ‘over pede (percaya diri)’ berkaitan dengan konsep kesempurnaan, yang lebih umum ditemukan di dalam konteks metode berpikir positif daripada yang ada di dalam Alkitab. Satu-satunya cara untuk memecahkan dilema ini adalah dengan menyadari bahwa Perjanjian Baru melihat konsep kesempurnaan dalam dua cara. Pandangan Paulus tentang jemaat Filipi adalah kedewasaan, bukan ketidak-bercelaan. Perhatikan bagaimana Alkitab versi New International Version menerjemahkan perkataannya kepada gereja di Filipi: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Setiap dari kita yang sudah dewasa harus memiliki kecenderungan yang sama dalam berbagai hal” (Fil 3:15). “Kesempurnaan” dalam hal ini bisa lebih tepat didefinisikan sebagai “mereka yang sudah menunjukkan perkembangan berarti dalam hal spiritualitas dan keseimbangan hidup” &amp;lt;br&amp;gt; {{LeftInsert| Renungkan 1 Petrus 1:14-16. Apakah perintah ini kedengarannya tidak realistis? Apakah mungkin Allah meminta anda untuk melakukan suatu hal yang mustahil? }} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adalah suatu hal yang alamiah apabila semua anak mau untuk bertumbuh dengan sempurna. Ini juga berlaku bagi orang percaya. Daripada mengambil pendekatan jalan pintas dan prinsip mencoba-coba dalam mencapai pertumbuhan, kita seharusnya membiarkan panggilan untuk menjadi sempurna itu mendorong kita untuk masuk ke dalam proses pencarian yang serius mengenai bagaimana caranya supaya kita menjadi seperti Yesus. Contoh dari Paulus sendiri seharusnya mampu menjadi contoh bagi kita semua: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert| Jawaban: S, B, B, S, S }} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena aku pun telah ditangkap oleh Kristus Yesus. Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus. (Filipi 3:12-14) &amp;lt;br&amp;gt; {{LeftInsert| 4 Ada stiker mobil yang pernah populer, bertuliskan, “Orang Kristen Itu Tidak Sempurn – Hanya Dimaafkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
}} &amp;lt;br&amp;gt; {{RightInsert| “Pertama-tama kita harus dibuat menjadi sesuatu yang baik sebelum kita bisa melakukan kebaikan.” — Hugh Latimer}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita melihat pengulangan kata sempurna di dalam surat Paulus yang pertama kepada jemaat di Korintus. “Tetapi jika yang sempurna tiba,” katanya, “maka yang tidak sempurna itu akan lenyap” (1 Korintus 13:10). Dalam konteks ini, sempurna adalah istilah yang diberikan secara khusus pada Allah Bapa– sebuah konsep kesempurnaan yang tidak akan bisa ditemukan sampai Kristus datang. Teolog Louis Berkhof lebih cenderung untuk membicarakan kesempurnaan-kesempurnaan Allah daripada kualitas karakteristikNya. Allah itu benar-benar tak bercacat cela. Tidak peduli seberapa matangnya kita di dalam hidup ini, kita tidak akan pernah mencapai kesempurnaan sampai suatu saat Allah menyempurnakan kita di dalam kemuliaan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Tujuh Alasan Untuk Menutup Celah  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada umumnya, dunia sudah memiliki kesan negatif terhadap kesucian. Banyak pihak menyamakan hal itu dengan suatu hal yang suram, memikul salib tanpa adanya sukacita. Hal itu lebih dilihat sebagai suatu kondisi “lebih-suci-dari-kamu” sebagai suatu tindakan pembenaran diri sendiri, daripada melihat hal itu sebagai suatu pengalaman yang penuh sukacita. Sebelum kita menutup bagian ini, marilah kita menghilangkan pendapat demikian dengan melihat pada beberapa keuntungan dan berkat yang dapat kita peroleh dari tindakan mengikuti Kristus. Ini adalah tujuh buah dari penyucian (pengudusan): &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah dipermuliakan. Ketika kita suci, kita semakin mempercayai bahwa Allah itu sungguh nyata dan menakjubkan seperti yang dinyatakan sendiri olehNya. Paulus menyatakan bahwa pekerjaan-pekerjaan baik yang dilakukan oleh orang Kristen memperindah doktrin mengenai Kristus (Titur 2:10). Bahkan mereka yang menolak Allah akan dipaksa untuk mengakui keberadaanNya ketika para pengikutnya berjalan di jalanNya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hubungan berkelanjutan dengan Allah Bapa di dalam hidup ini. “Jika seorang mengasihi Aku,” kata Yesus “ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia” (Yohanes 14:23). Merupakan suatu sukacita dan ketenangan yang luar biasa apabila kita mengalami hadirat Allah dan Anak melalui Roh kudus. Dan Yesus menandakan bahwa hadirat ini adalah suatu hadirat yang dipenuhi dengan kasih, bukan dengan nuansa yang dingin. Tentu saja, bersamaan dengan kehadiranNya akan datang juga kuasaNya, yang memampukan kita untuk mengalahkan tantangan-tantangan di dalam hidup kita. &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Persekutuan dengan orang percaya lainnya. Apabila kita berjalan di dalam kegelapan, kita tidak bisa menikmati persekutuan yang tulus dengan sesama orang percaya. “Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa” (1 Yohanes 1:7). Allah berjanji untuk melengkapi kita dengan belas kasihan, hai rekan-rekan seperjalanan yang sedang menjalani jalan menuju penyucian. Bagi saya pribadi, saya menemukan bahwa kebenaran Allah ditambah dengan contoh-contoh para pelayan Allah lainnya adalah suatu hal yang penting bagi pertumbuhan spiritual saya. Dan selama saya berjalan di jalanNya, saya tidak pernah kekurangan keduanya. Kita saling membutuhkan satu sama lain (dalam konteks gereja) apabila kita hendak berhasil. Kekudusan dan komunitas Kristiani akan saling melengkapi satu sama lain. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keyakinan akan keselamatan. Walaupun keselamatan kita tidak didasarkan pada usaha kita untuk mencapai kekudusan, keyakinan akan keselamatan cenderung untuk berkaitan dengan kekudusan hidup. Di dalam surat Petrus yang kedua, Petrus menggugah para pembaca untuk sungguh-sungguh berusaha senantiasa mengumpulkan karakteristik spiritual, menambahkan kepada iman kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang yang dimiliki secara berkelimpahan (2 Petrus 1:5-9). Dia mengingatkan bahwa apabila ada yang tidak memiliki semuanya itu, maka ia akan lupa .... ... bahwa dosa-dosanya yang dahulu telah dihapuskan. Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung. Dengan demikian kepada kamu akan dikaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. (2 Petrus 1:9-11) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengabaran Injil. Sebagai seorang muda yang masih dibawah pengaruh dosa, saya mencoba sebisa saya untuk menemukan kesalahan-kesalahan di dalam hidup orang percaya supaya saya bisa menolak pesan yang mereka sampaikan dan mencap mereka sebagai orang munafik. Namun walaupun mereka tidak sempurna, tapi saya tidak bisa menemukan ketidak-konsistenan yang tergolong fatal. Sebuah keluarga besar yang menjangkau saya dengan Injil lebih memberikan pengaruh kepada saya lewat gaya hidup mereka daripada dengan perkataan-perkataan yang diucapkan. Sang suami mengasihi istrinya, sang istri menghormati suaminya, anak-anak menaati orang tuanya, dan mereka semua sangat bersuka cita. Saya tidak pernah melihat hal seperti itu. {{RightInsert| Renungkan 1 Petrus 2:12. Walaupun orang yang belum percaya mungkin menghina gaya hidup anda sekarang, akibat apa yang mungkin mereka terima pada akhirnya?&lt;br /&gt;
}}&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah disampaikan bahwa meskipun dunia mungkin tidak membaca Alkitab, tapi dunia membaca orang-orang Kristen. Allah menggunakan orang-orang kudus untuk menjangkau orang lain. Bukan orang yang sempurna, namun kudus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemahaman, kebijakan, dan pengetahuan. Harta-harta inilah yang akan diperoleh mereka yang mencari Allah dengan sepenuh hati (Amsal 2:1-11). Mereka terlindungi dari para penghujat, pemberontak, dan para orang bodoh. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat Allah. Alkitab menyatakan, “Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan” (Ibrani 12:14). Meskipun arti sebenarnya dari pasal ini masih dilingkupi oleh misteri, tapi Alkitab bisa memberikan gambaran mengenai “Penglihatan yang Menakjubkan,” atau melihat Allah. Hal itu akan terjadi ketika Tuhan datang kembali, ketika semua musuh sudah dikalahkan dan kita semua sudah disucikan dengan sempurna. Pada saat itu, penglihatan kita mengenai Allah akan berkelanjutan dan intens, tanpa distraksi atau tindakan yang berfokus pada ke ‘aku’ an akibat dari dosa. Bukan berarti pengetahuan kita akan Allah akan menjadi sempurna, karena Ia akan terus menyatakan diriNya lebih dan lebih lagi.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; {{LeftInsert| “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.”&lt;br /&gt;
—Yesus (Matius 5:8) }}&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berbahagialah orang yang suci hatinya, “ kata Yesus, “karena mereka akan melihat Allah” (Matius 5:8). Penyataan akan kebesaran dan kebaikanNya adalah hal terindah yang bisa kita dapatkan apabila kita menjalani hidup kita dengan penuh kekudusan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Seperti yang sudah anda lihat, ada banyak alasan baik yang dapat menggugah kita untuk menutup celah antara harapan Allah akan diri kita, dan pengalaman kita pribadi. Kita diciptakan untuk turut ambil bagian dalam kekudusanNya-bukan hanya di surga, namun juga di bumi. Selangkah demi selangkah, kita bisa belajar untuk mengalahkan dosa dan hidup dengan cara yang semakin lama semakin memancarkan kemuliaan dan karakter Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam bab pertama, kami sudah mencoba untuk menarik minat anda pada kesalehan hidup. Dimulai dari bab kedua, kami akan membangun kerangka Alkitabiah yang dibutuhkan untuk mendukung suatu kehidupan yang kudus- dan penuh sukacita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Diskusi Kelompok  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Apa gejala-gejala yang menandakan seseorang sedang terperangkap di tengah? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Celah antara standar-standar Allah dan perilaku kita sendiri tidak bisa dihindari; namun terlalu berlebihan apabila kita menamakan diri kita munafik. Di mana kita bisa menarik garis untuk membedakan keduanya? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Bagaimana menjelaskan hubungan antara penyucian diri kita dengan sejarah masa lalu dan harapan di masa depan? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Rasa takut akan Allah, menurut penulis, adalah suatu “syarat untuk mencapai keintiman rohani dengan Allah.” (Hal. 7) Apa maksudnya? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Sejauh mana seorang kristen yang dewasa rohani bisa bebas dari dosa? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6. Sekarang setelah anda selesai membaca bagian ini, bagaimana anda akan menjelaskan Matius 5:48 kepada orang yang baru percaya? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bacaan Yang Direkomendasikan  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
How to Help People Change 'by Jay E. Adams (Grand Rapids, MI: Zondervan Publishing House, 1986) Saved by Grace by Anthony A. Hoekema (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1989) Referensi 1. ↑ Jay E. Adams, The Biblical View of Self-Esteem, Self-Love, Self-Image (Eugene, OR: Harvest House Publishers, 1986), h. 78. 2. ↑ Oscar Cullman, Christ and Time (Philadelphia, PA: The Westminster Press, 1964), h. 3. 3. ↑ John Piper, The Pleasures Of God (Portland, OR: Multnomah Press, 1991), h. 147. 4. ↑ Ern Baxter, pesan yang direkam, “Sanctification,” n.d. 5. ↑ Quoted in Gathered Gold, John Blanchard, ed. (Welwyn, Hertfordshire, England: Evangelical Press, 1984), h.146. 6. ↑ J.C. Ryle, Holiness (Welwyn, Hertfordshire, England: Evangelical Press, 1879, reprinted 1989), h. 39. 7. ↑ 7. Anthony A. Hoekema, Saved by Grace (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1989), h. 192-93. 8. ↑ Jerry Bridges, The Practice of Godliness (Colorado Springs, CO: NavPress, 1983), h. 15-20. 9. ↑ Idem, p. 24. 10. ↑ Idem, p. 26. 11. ↑ J.I. Packer, Concise Theology (Wheaton, IL: Tyndale House, 1993), h. 169. 12. ↑ Sinclair Ferguson, A Heart for God (Colorado Springs, CO: NavPress, 1985), h. 129. 13. ↑ R.A. Muller, The International Standard Bible Encyclopedia, Volume Four (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1988), h. 324. 14. ↑ William Hendriksen, New Testament Commentary: Philippians (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1962), h. 176. 15. ↑ Quoted in Gathered Gold, p.148. 16. ↑ Louis Berkhof, Systematic Theology (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1941), p. 52. ↑ Sumber Asli tidak diketahui&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Susanlim</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/How_Can_I_Change%3F/Caught_in_the_Gap_Trap/id</id>
		<title>How Can I Change?/Caught in the Gap Trap/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/How_Can_I_Change%3F/Caught_in_the_Gap_Trap/id"/>
				<updated>2009-01-28T10:53:59Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Susanlim: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|Bagaimana Saya Bisa Berubah?/Terperangkap di Tengah}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semua yang kini sedang bergumul melawan amarah, silakan maju ke depan. Kami mau berdoa untuk anda.”&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu itu hari Minggu pagi. Saya baru saja menyelesaikan khotbah mengenai amarah, dan saya mau memberikan waktu bagi Roh Kudus untuk bekerja di dalam hati orang-orang yang hadir saat itu. Namun saya terkejut melihat respon yang diberikan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekitar dua puluh orang-orang yang rendah hati maju ke depan mimbar—untuk ukuran gereja kami, jumlah ini cukup besar. Namun, bukan jumlahnya yang menarik perhatian saya. Yang menarik perhatian saya adalah orang-orang yang maju ke depan. Sembilan belas dari dua puluh orang yang maju ke depan adalah para ibu muda! (Amarah sangat rentan dialami oleh para ibu, sejauh yang saya ketahui.) Sebagai gembala, saya tahu bahwa para wanita ini adalah orang kristen yang sungguh-sungguh. Apa yang menyebabkan mereka maju ke depan adalah rasa frustasi mendalam mereka yang dialami karena mereka merasa terperangkap di tengah -- zona antara standar Alkitabiah yang berkaitan dengan penguasaan diri, dan kegagalan mereka untuk hidup menurut standar Alkitabiah itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah masalah itu berkaitan dengan amarah, ketakutan, kekuatiran, atau suatu hal yang umum, seperti kemalasan, kita semua sudah mengalami perasaan terperangkap di tengah, antara siapa diri kita saat ini, dan siapa diri kita seharusnya. Alkitab menyatakan bahwa kita adalah ciptaan baru, para pemenang, penakluk. Dan kita bukan hanya sekedar pemenang, melainkan lebih dari seorang pemenang (Roma 8:37). Kadang kita memang merasa seperti itu. Namun yang lebih sering, kita mengalami kesulitan melihat suatu hal yang melampaui kelemahan-kelemahan dan kegagalan-kegagalan kita. Dan yang menariknya, justru di saat-saat seperti ini, ayat dalam Matius 5:48 mendadak jadi tampil ke permukaan: “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| Untuk Dipelajari Lebih Lanjut: Bahkan Rasul Paulus mengalami saat dimana ia merasa terperangkap di tengah (Roma 7:21-25). Dapatkah anda membandingkan rasa frustrasi anda dengan rasa frustrasi yang dialami Rasul Paulus?}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlahan kita menghela nafas dan berkata,''Hal itu tidak akan pernah menjadi kenyataan''. &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya menyebut kondisi ini sebagai “perangkap tengah”. Berikut adalah cara kerjanya: Sebagai orang kristen, kita semua memiliki pengetahuan mengenai hal-hal yang diharapkan Allah dari diri kita. Namun pada kenyataannya, apa yang kita capai jauh dari apa yang -kita tahu- sebenarnya harus kita capai. Maka, terciptalah suatu jarak antara apa yang kita tahu harus kita lakukan, dan performa kita yang sesungguhnya. Apabila jarak antara keduanya terlampau jauh, kita bisa saja langsug di cap sebagai seorang munafik. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| “Kehidupan kekristenan semata-mata berkaitan dengan perubahan karakter intrinsik kita menuju karakter Kristus.. Tujuan dari ayat-ayat ini (Misalnya Roma 6, Kolose 3: 5-14, Efesus 4:22-32) adalah untuk menunjukkan kepada kita bahwa ada jarak yang hebat antara siapa kita di dalam Kristus (pembenaran) dan siapa kita sebenarnya dalam kehidupan keseharian kita (pengudusan), yang tujuannya adalah untuk mendorong kita agar kita menutup jarak yang ada antara keduanya... Tujuan Paulus adalah untuk mengugah kita supaya dalam kehidupan keseharian kita, kita mampu menampilkan perilaku-perilaku yang menggambarkan siapa kita sebenarnya di dalam Kristus.” &amp;lt;br&amp;gt;- '''Jay Adams'''}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Situasi ini adalah suatu hal yang nyata dalam kehidupan kekristenan. Bagi sebagian besar, tidak dibutuhkan orang lain untuk memberitahu kita mengenai ketidak-konsistenan di dalam hidup kita—kita semua terlalu manyadarinya. Kesadaran itu seharusnya membuat kita menjadi semakin rendah hati dan menggantungkan diri kepada Tuhan supaya kita bisa berhasil menutup ketidak-konsistenan itu. Namun biasanya momen ‘terjebak di tengah’ ini muncul akibat ketidakpedulian kita akan doktrin atau ajaran mengenai pengudusan. Daripada menyadari kalau jarak ini ada sebagai pertanda bahwa kita membutuhkan pertolongan dari Allah saja, kita malah membiarkan jarak ini untuk menghukum kita, dan memperlambat kemajuan kita. Kita menjadi terjebak dalam pemikiran bahwa kita adalah seorang pecundang, bodoh, orang yang penuh kegagalan... dan mungkin saja bukan benar-benar seorang Kristen. Beberapa orang bahkan terperosok lebih jauh dalam ketidaktaatan. Mereka yang terjebak di situasi seperti ini (dan pada level tertentu, kita semua termasuk di dalamnya) mengalami penderitaan (yang sebenarnya tidak diperlukan) karena patah semangat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai seorang gembala, salah satu tanggung jawab utama saya adalah membantu orang-orang agar bisa keluar dari jebakan ini. Saya sering menyampaikan pada orang-orang, “Hal itu tidak akan instan terjadi, dan membutuhkan usaha yang sungguh-sungguh, namun supaya bisa keluar dari jebakan itu tidaklah rumit. Dan percayalah, anda tidak akan kecewa melihat hasilnya.” Mungkin anda merasa bahwa anda sedang berada di posisi seperti ini. Jika demikian, kami yakin buku ini dapat menolong anda untuk menutup jarak yang ada antara siapa anda seharusnya di dalam Kristus dan siapa anda sebenarnya dalam kehidupan keseharian anda. Dapatkah anda membayangkan kehidupan dimana anda mematahkan kebiasaan-kebiasaan anda yang penuh dosa dan membuat kemajuan nyata dalam kehidupan rohani anda? kehidupan seperti itu sungguh mungkin adanya. Dan buku ini ditulis untuk menguatkan dan menyertai anda seiring dengan usaha anda untuk mencapai yang kehidupan seperti itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| &amp;lt;br&amp;gt;Daftar Isi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1 Diantara “Sekarang” dan “Yang Akan Datang” &amp;lt;br&amp;gt;2 Butuh Obat Kumur? &amp;lt;br&amp;gt;3 Setimpal Dengan Usahanya &amp;lt;br&amp;gt;4 Bagaimana Meraih Kesempurnaan? &amp;lt;br&amp;gt;5 Tujuh Alasan Untuk Menutup Celah &amp;lt;br&amp;gt;6 Diskusi Kelompok &amp;lt;br&amp;gt;7 Bacaan yang Direkomendasikan &amp;lt;br&amp;gt;8 Referensi}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Diantara “Sekarang” dan “Yang Akan Datang” &amp;lt;br&amp;gt;  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| Apakah ada area-area dalam hidup anda yang anda sadari kurang memenuhi ekpektasi Allah? (Tuliskan dengan singkat sebuah area itu di bawah)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
}}&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; Tidak diragukan, bahwa salah satu hal yang paling membuat kita frustrasi terkait dengan kehidupan kekristenan adalah kontradiksi yang nyata antara siapa kita di mata Allah, dan siapa diri kita dalam pendapat kita sendiri. Ambil contoh jemaat di Korintus, misalnya. Rasul Paulus pada satu titik meyakinkan mereka bahwa, “Kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita.” (1 Korintus 6:11). Sepertinya berhenti sampai di situ saja, bukan? Sampai kita membaca surat kedua Paulus pada jemaat ini, yang isinya nyaris bertolak-belakang dengan yang pertama disampaikan: “Marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah” (2 Korintus 7:1). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di pikiran saya, mungkin saja para jemaat di Korintus merasa bingung. Apakah mereka sudah disucikan... atau masih tercemar? sebenarnya dua-duanya berlaku untuk mereka, dan juga kita. Untuk menjelaskan hal itu, mari saya ajak anda untuk menyimak hal di berikut ini.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|  Renungkan 1 Yohanes 3:2-3. Apa pengaruh dari pemikiran kita tentang “yang akan datang” terhadap apa yang ada “saat ini”}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kerajaan Allah itu adalah “saat ini” dan “yang akan datang”. Dalam beberapa hal, Kerajaan Allah berkaitan dengan masa kini, dan untuk beberapa hal lainnya, Kerajaan Allah berkaitan dengan masa mendatang. Allah kita telah menyatakan dan menunjukkan bahwa Kerajaan (atau hukum) Allah sudah bersinggungan dengan sejarah manusia: “Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu” (Lukas 11:20). Namun, Kerajaan Allah belum datang seutuhnya. Hal itu tidak akan terjadi sampai Yesus datang kembali dalam kuasaNya, ketika setiap lutut kan bertelut dan semua lidah mengaku bahwa Dialah Allah. Sampai hal itu terjadi, tanpa menyangkal kehadiran Kerajaan Allah yang ada di dalam dunia ini, kita berdoa, “Datanglah Kerajaan-Mu” (Matius 6:10) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan demikian, Kerajaan Allah berjalan seiringan dengan kehidupan kita. Allah, lewat karya pembenaran-Nya, sudah menyatakan bahwa kita adalah orang-orang benar. Posisi kita di mata Allah sudah berubah. Masalah itu sudah diselesaikan sekali dan untuk selama-lamanya di Surga. Namun, di sisi surga lainnya (bumi), perubahan internal kita merupakan suatu proses yang sedang berjalan. Proses penyucian ini membuat saya sibuk sebagai seorang pribadi Kristen, dan juga memberikan saya banyak pekerjaan dan tugas sebagai seorang gembala. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, apakah kita sudah memiliki kemenangan di dalam Yesus atau belum? apakah kita para pemenang, atau apakah kita masih harus berjuang? Oscar Cullmann memberikan ilustrasi dari Perang Dunia ke-2, yang saya percaya dapat membantu kita menangkap hal yang kesannya bertentangan ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejarah mencatat dua peristiwa besar yang menjadi pangkal berakhirnya Perang Dunia ke-2: D-Day dan VE-Day. D-Day terjadi pada 6 Juni 1944, ketika para pasukan Sekutu mendarat di Normandy, Perancis. Ini adalah titik balik dalam perang yang berlangsung; ketika pendaratan ini berhasil, nasib Hitler sudah sangat jelas. Pada dasarnya, perang sudah berakhir. Namun kemenangan total di Eropa (VE-Day) tidak terjadi sampai tanggal 7 Mei 1945 ketika pasukan Jerman menyerah di Berlin. Periode sebelas bulan ini dicatat sebagai salah satu periode pertumpahan darah terbesar sepanjang sejarah perang. Pertempuran-pertempuran terjadi di seluruh Perancis, Belgia, dan Jerman. Walaupun secara fisik para musuh sudah terluka, namun mereka tidak sepenuhnya menyerah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; {{LeftInsert| “Pemilihan Ilahi adalah jaminan bahwa Allah akan bekerja dalam melengkapi pemilihan kita (untuk diselamatkan oleh anugerah-Nya) dengan anugerah pengudusan-Nya. Ini adalah arti dari Perjanjian Baru: Allah tidak hanya sekedar memerintahkan agar kita taat kepadaNya, namun juga memberikan kemampuan pada kita untuk menaatiNya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-John Piper }} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salib adalah D-Day kita. Di sana, Tuhan kita Yesus Kristus mati disalibkan, untuk mematahkan belenggu dosa dari umatNya. Berdasarkan kematian dan kebangkitanNya, kita semua dibenarkan. Namun, kemenangan akhir akan terjadi ketika Ia datang. Tidak ada keraguan mengenai hasil akhirnya. Namun kita masih akan menemui gesekan-gesekan dan pertandingan-pertandingan sampai Tuhan muncul di dalam kemuliaanNya untuk memusnahkan kuasa kegelapan selamanya. {{RightInsert| Untuk Bacaan Lebih Lanjut: Bacalah 1 Petrus 5:8-9. Walaupun kemenangan akhir Allah tidak bisa disangkal, namun kita harus tetap berjuang melawan musuh kita.}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fakta ini, apabila kita tetap berusaha untuk mengingatnya, dapat membuat kita tidak patah semangat. Pertarungan masih berlangsung, namun peperangan utama sudah dimenangkan. Kesadaran akan karya pengorbanan Kristus yang telah dilakukan bagi kita sangat penting untuk memacu semangat moral kita seiring dengan usaha kita untuk mencapai suatu kekudusan hidup. Kita harus mempelajari dan merenungkan doktrin utama mengenai pembenaran sampai hal itu sungguh tertanam dalam kesadaran kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== '''Butuh Obat Kumur?'''  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun kita sudah dibenarkan sepenuhnya di dalam Kristus (D-Day), bukan berarti kita sudah sepenuhnya disucikan (VE-Day). Beberapa orang gagal memahami hal ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengajar Alkitab Ern Baxter menyampaikan kejadian yang terjadi saat Latter Rain Revival di akhir tahun 1940-an. Ada suatu ajaran menyimpang yang dinamakan “manifestasi anak-anak Allah”. Pada intinya ajaran itu menyampaikan doktrin yang menjanjikan kekudusan total di dalam hidup ini. Pada bentuk ekstrimnya, ajaran itu termasuk kepercayaan bahwa elit spiritual akan menerima tubuh kemuliaan sebelum kedatangan Kristus untuk kedua kalinya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada sesi penutupan acara dimana Baxter menjadi pembicaranya, beberapa ‘anak-anak Allah’ muncul di pojok auditorium berbalutkan jubah putih. Ketika ia selesai menyampaikan Firman, mereka berjalan ke depan dan mulai mencoba untuk menarik pengikut-pengikut baru bagi doktrin mengenai kesempurnaan total yang mereka ajarkan. Ketika ia mengingat peristiwa itu, ia menyatakan, “Wanita yang menjadi kelompok di grup itu benar-benar membutuhkan Listerine (merek obat kumur). Bukan itu jenis kesempurnaan yang saya nantikan.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih umum dari skenario yang terjadi lewat peristiwa yang dialami oleh Ern Baxter diatas, adalah situasi-situasi yang terjadi akibat dari kurangnya pengetahuan dan kecenderungan untuk menyederhanakan konsep kekudusan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| 2 Kalau anda mencari kesempurnaan total di dalam hidup ini, kira-kira mana dari antara beberapa hal di bawah ini yang paling sulit untuk dilakukan oleh anda? &lt;br /&gt;
❏Sama sekali tidak akan pernah mengendarai mobil lebih dari batas kecepatan. &lt;br /&gt;
❏Berbicara dengan hangat dan lembut pada setiap sales yang menelepon rumah anda. &lt;br /&gt;
❏Mengindari semua kalori yang tidak dibutuhkan. &lt;br /&gt;
❏Tidak pernah memukul jam weker anda ketika ia membangunkan anda. &lt;br /&gt;
❏Senantiasa membayar pajak penghasilan anda dengan sukacita.}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu saya baru menjadi orang percaya, saya berjumpa dengan seorang pria muda bernama Greg, mengaku menjadi seorang perampok dan pengguna obat terlarang yang sepertinya bertobat waktu di dalam penjara. Pegangan hidup Greg dalam menjalani kehidupan kekristenan sangat memukau diri saya. Ia membawakan dirinya dengan keyakinan penuh dan sedikit keangkuhan. Ia berbicara seakan-akan dosa itu bukan menjadi suatu masalah lagi baginya. Lebih dari sekali dia mengatakan kepada saya betapa ia sudah “diselamatkan, disucikan, dan dipenuhi oleh Roh Kudus.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar dia mengatakan hal itu, sepertinya membuat hal itu seakan-akan mudah dan sederhana. Sebagai seorang Kristen yang baru, pada suatu waktu ia naik ke dalam kereta, dan waktu dia baru berangkat, beberapa jam kemudian ia sudah mengalami apa yang dinamakan olehnya sebagai “pengalaman pengudusan.” Dia berusaha meyakinkan saya bahwa pengalaman itu adalah hal yang dibutuhkan pertama kali untuk menerima baptisan Roh Kudus, dan sekali itu terjadi, itu akan berlaku selamanya. Saya harus mengakui di sini, bahwa ada beberapa hal tentang Greg yang kesannya tidak terlalu kudus. Ia mempunyai kecenderungan untuk menghakimi orang dan perilaku seorang farisi. Ia bisa menjadi seorang yang terlalu menguasai dan picik. Saya ingat pada suatu saat ketika seorang teman tidak sengaja meletakkan suatu benda di atas Alkitabnya: “Maaf—itu kan Firman Allah!” Tapi tetap saja, dia yakin dia bisa mengutip Alkitab, dan sepertinya sangat memahami perihal pengudusan.&amp;lt;br&amp;gt; {{RightInsert| Untuk Renungan Lebih Lanjut: Bacalah Matius 26:41. Kapan waktunya kita bisa aman menganggap bahwa kita sudah “sampai” pada titik pengudusan?}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sangat mengejutkan ketika pada akhirnya ia kembali mengedarkan dan memakai obat terlarang. Masalah Greg terkait dengan kurangnya pemahaman dan juga kesalah-pahaman mengenai ajaran Alkitab terkait dengan konsep pengudusan. Ia sudah melakukan kesalahan seperti yang banyak orang lakukan dengan hanya memfokuskan perhatian pada beberapa ayat Alkitab favorit yang sepertinya membenarkan pengalaman pribadinya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; {{LeftInsert| &amp;quot;Kekudusan bukan jalan menuju Kristus. Kristus, adalah jalan menuju kekudusan.&amp;quot; —&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adrian Rogers}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; Kekudusan itu sifatnya pasti (terjadi saat kita bertobat) dan progresif (terus berlangsung). Semua ini tidak terjadi pada sekali waktu di masa lalu, dan bukan juga suatu hal yang akan terjadi secara bertahap. Kita sudah diubahkan dan kita sedang berubah. Tanpa mengesampingkan keberhasilan pendaratan kita di Normandy, marilah kita bijak dan realistis saat menilai adanya oposisi yang ada diantara kita dan Berlin. Kita tidak punya pilihan yang memungkinkan kita untuk mendapatkan tiket naik ke dalam kereta pengudusan, seperti yang Greg yakini. Hal itu akan menjadi suatu pertandingan di setiap langkah kehidupan kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Setimpal dengan Usahanya  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi beberapa orang, “pengudusan” adalah suatu istilah teologis yang sering didengar, namun jarang dimengerti. Kedengarannya itu adalah suatu hal yang cocok untuk mahasiswa teologia dan kurang praktis untuk kehidupan sehari-hari. Namun sebaliknya, hal itu adalah suatu hal yang sangat amat praktis, dan bisa dikaitan dengan kehidupan keseharian. Doktrin mengenai pengudusan bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh hampir seluruh orang Kristen di dalam sejarah gereja. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana saya bisa berubah? &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana saya bisa bertumbuh? &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana saya menjadi serupa dengan Kristus? &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana saya bisa tidak terperangkap di tengah? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apapun yang bisa menjawab pertanyaan itu akan mengharuskan kita untuk melakukan beberapa usaha. Lampiran A (halaman 93) menunjukkan bahwa beberapa cabang gereja sudah membicarakan masalah ini di masa lalu, namun mari kita lihat apa yang bisa kita pelajari mengenai aplikasi dari doktrin yang penting ini pada masa kini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Arti Alkitabiah dari kata menguduskan (menyucikan) adalah “untuk memisahkan; mengkhususkan.” (Kesucian berasal dari akar kata yang sama dalam bahasa Yunani) Hal ini bisa diaplikasikan pada orang, tempat, situasi, atau benda tertentu. Ketika suatu hal dikuduskan, hal itu akan dipisahkan dari pemakaian pada umumnya dan didedikasikan untuk kepentingan khusus. Misalnya, pada jaman Musa, Hari Raya Pendamaian dikuduskan bagi Allah yang Kudus. Hari itu menjadi hari yang kudus. Sebuah hal yang dikuduskan tidak akan serta merta menjadi suci karena dipisahkan dari hal lainnya; kesucian yang didapat akan berasal dari untuk apa (atau kepada siapa) kah hal itu disucikan. Karena hanya Allah saja yang suci, maka hanya Dia-lah yang bisa mengimpartasikan kesucian. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara teologis, istilah “pengudusan” telah dipergunakan untuk menggambarkan proses yang dilalui oleh seorang percaya ketika Roh Allah sedang bekerja di dalam hidupnya untuk membuat dirinya semakin menyerupai Kristus. Prosesnya dimulai saat kita lahir baru, dan terus berlangsung sepanjang kita hidup. Hal ini ditandai dengan konflik keseharian seiring dengan usaha kita untuk mengalahkan dosa yang ada di dalam diri kita dengan anugerah dan kekuatan yang Allah berikan bagi kita. Camkan di dalam pikiran bahwa rasa bersalah yang didapat dari dosa sudah dihilangkan lewat pembenaran, sebagaimana yang dijelaskan oleh Anthony Hoekema; penyucian menghilangkan pencemaran akibat dosa: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang dimaksud dengan rasa bersalah adalah kondisi di mana kita layak mendapatkan penghukuman atau harus bertanggung jawab untuk menerima hukuman karena telah melanggar hukum Allah. Yang dimaksud dengan pembenaran, sebagai tindakan deklaratif Allah, adalah bahwa rasa bersalah akibat dosa dihilangkan atas dasar karya utama Yesus Kristus. Yang dimaksud dengan pencemaran adalah bahwa kita memiliki kecenderungan bawaan yang terjadi sebagai akibat dari dosa yang juga pada akhirnya menciptakan dosa lain lebih lanjut. Sebagai akibat dari kejatuhan Adam dan Hawa, kita semua lahir dengan kondisi seperti ini; dosa-dosa yang kita lakukan tidak hanya berasal dari kecenderungan kita untuk berdosa, namun juga menambah kecenderungan itu sendiri. Yang dimaksud dengan penyucian adalah kondisi dimana pencemaran yang didapat dari dosa sedang dalam proses (tahapan) pembersihan (walaupun hal itu tidak akan sepenuhnya dibersihkan sampai kita memasuki hidup baru di Surga). {{RightInsert| Untuk Bacaan Lebih Lanjut: Apakah anda menyadari betapa penting dan bermanfaatnya apabila kita memiliki perasaan takut akan Allah? (Lihat Mazmur 19:9 dan 25:14, Amsal 1:7 dan 9:10, dan 1 Petrus 1:17.)}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alkitab juga mendefinisikan penyucian sebagai proses pertumbuhan menuju hidup yang saleh. Hidup yang saleh merujuk pada suatu kehidupan yang menunjukkan dedikasi kepada Allah, dan karakter yang muncul akibat dedikasi tersebut. Hidup yang saleh melibatkan kasih terhadap Allah dan kerinduan akan Allah. Selain itu juga mengandung rasa takut akan Allah, yang menurut John Murray adalah “jiwa dari hidup yang saleh”. Karena telah ditebus dari ancaman hukuman kekal, orang Kristen menyatakan rasa takutnya kepada Allah dengan memfokuskan diri tidak kepada murka Allah, tapi kepada “kemuliaan, kekudusan dan keagunganNya...” Rasa takut akan Allah mempunyai dampak yang baik bagi hati kita, dimana rasa ini akan memurnikan hati kita, dan juga hal ini adalah syarat apabila kita hendak menjalin hubungan yang lebih intim dengan Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hidup yang saleh melibatkan lebih dari sekedar unsur moralitas atau tindakan fanatik. Hal tersebut berasal dari kesatuan dengan Kristus dan hasrat untuk memuliakanNya. Seorang yang saleh akan berkeinginan untuk menjadi seperti Tuhan-nya juga ingin untuk menyenangkan hatiNya. Ia ingin merasakan apa yang dirasakan olehNya, memikirkan apa yang dipikirkan oleh Tuhan-nya melebihi dirinya sendiri, dan melakukan apa yang menjadi kehendakNya. Secara singkat, orang seperti ini ingin menjadi seseorang yang memiliki karakter Allah, sehingga Allah bisa dimuliakan lewat hidupnya. Tidak ada hal lain yang layak diperjuangkan sepanjang hidup kita: “Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang” (1 Timotius 4:8). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baik Allah maupun manusia memegang peran penting dalam konteks penyucian. Allah, dengan anugerahNya, memulai karya penebusan di dalam kita dan memberikan keinginan serta kuasa untuk mengalahkan dosa. Sebagai respon sekaligus sambil bersandar pada anugerahNya, kita menaati perintah Alkitab&amp;amp;nbsp;: “karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya. Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan” (Filipi 2:12-13) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; {{RightInsert|“Penyucian, menurut Westminster Shorter Catechism, adalah ‘pekerjaan dari anugerah Allah yang diberikan secara cuma-cuma, dimana kita diperbaharui menjadi manusia seutuhnya berdasarkan gambaran Allah, dan dimampukan lebih dan lebih lagi untuk mati bagi dosa, dan hidup bagi kebenaran.’ Konsep yang terkandung di dalam hal ini adalah bukan berarti dosa itu dihapuskan total (hal ini terlalu berlebihan) atau hanya ditangkis (hal ini terlalu meremehkan), namun berkaitan dengan perubahan karakter ilahi kita yang membebaskan kita dari kebiasaan-kebiasaan kita yang penuh dosa dan membentuk kita menjadi serupa dengan Kristus dalam hal perasaan, sifat, dan karakteristik-karakteristik lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
— J.I. Packer&lt;br /&gt;
}} &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam Perjanjian Baru, posisi dari hidup kudus itu berada pada titik tengah antara legalitas di satu sisi, dan lisensi di sisi lainnya. Semua tradisi gereja yang terlalu menitik beratkan pada karya Allah di dalam kita tanpa menaruh pengharapan bahwa karya itu akan menghasilkan suatu hasrat yang terus bertambah di dalam diri kita untuk menuju suatu kesalehan hidup, akan cenderung menuju ke arah lisensi. “Karena, seperti yang telah kerap kali kukatakan kepadamu, dan yang kunyatakan pula sekarang sambil menangis, banyak orang yang hidup sebagai seteru salib Kristus. Kesudahan mereka ialah kebinasaan, Tuhan mereka ialah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi” (Filipi 3:18-19). Di lain pihak ada juga pihak yang terlalu menitik beratkan pada porsi manusia sehingga mereka menyimpang dari kebenaran Allah dan berakhir pada prinsip legalitas. (Tentu saja seluruh hal ini mempunyai kadar yang bervariasi). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| Renungkan 1 Timotius 6: 11-16. Paulus adalah seorang yang sangat mampu menjadi seorang motivator yang handal. }} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bagaimana Meraih Kesempurnaan &amp;lt;br&amp;gt;  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu pertanyaan yang umum diucapkan oleh orang Kristen adalah, “Sejauh mana saya bisa berharap pada proses penyucian ini? Apakah pada akhirnya saya bisa benar-benar bebas dari dosa?” Jenis pertanyaan ini akan menjadi relevan terutama ketika kita membaca pernyataan seperti yang disampaikan oleh Paulus kepada jemaat di Filipi: “Karena itu marilah kita, yang sempurna, berpikir demikian. Dan jikalau lain pikiranmu tentang salah satu hal, hal itu akan dinyatakan Allah juga kepadamu” (Filipi 3:15). Bahkan Yesus menyampaikan hal itu lebih gamblang di ayat yang sudah disebutkan sebelumnya: “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna” (Matius 5:48).&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| 3 Cobalah untuk menjawab kuis Benar/Salah di bawah ini, untuk mengetahui sejauh mana anda sudah memahami materi ini: (Jawaban dicetak terbalik di bagian bawah halaman 9) &lt;br /&gt;
• Arti dari kata “menguduskan (menyucikan)” adalah “menajiskan, memisahkan” B S &lt;br /&gt;
• Proses penyucian dimulai saat kita lahir baru, dan terus berlangsung sepanjang kita hidup. B S &lt;br /&gt;
• Rasa bersalah yang didapat dari dosa sudah dihilangkan lewat pembenaran B S&lt;br /&gt;
• Hidup yang saleh hanya memiliki arti yang berkaitan dengan unsur moralitas atau tindakan fanatik seseorang. B S &lt;br /&gt;
• Hanya Allah yang bertanggung jawab terhadap proses penyucian kita. B S}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah Allah sungguh berharap supaya kita mencapai tahap kesempurnaan? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keinginan untuk menjadi sempurna sudah menginspirasi banyak orang untuk mencari Allah. Di sepanjang sejarah manusia, banyak penulis puisi dan filosofer yang mengekspresikan keinginan untuk mencapai kembali kesucian hidup. Penulis lagu kontemporer Crosby, Stills, dan Nash merayakan pengalaman Woodstock dengan lagu yang berlirik, “Kita adalah debu bintang-bintang, kita ini berharga, kita terjebak di dalam penawaran iblis. Dan kita harus mencari cara kembali ke Taman (Surga).” Masalahnya, kita semua tahu kalau kita ini jauh dari kesempurnaan. Dalam dunia khayal perfilman, Mary Poppins bisa saja dengan riang menyatakan bahwa dia adalah “sempurna di segala hal,” namun di kehidupan nyata, hal itu tidak mungkin terjadi. Dan tentu saja kita tidak bisa menjadi sempurna lewat metode Woodstock. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; {{RightInsert| &amp;quot;Ketika terang cahaya...kemuliaan Allah jatuh ke atas roh kita, kita dimenangkan dari segala pemikiran yang palsu dan kurang tepat mengenai kesucian kita sendiri. Kita juga dilindungi dari segala pengajaran murahan yang mendorong kita untuk mempercayai bahwa ada jalan-jalan pintas yang memudahkan kita untuk mencapai kesucian hidup. Kesucian hidup bukanlah sebuah pengalaman; itu adalah penyatuan kembali karakter kita, juga pemugaran kembali satu hal yang sudah menjadi reruntuhan. Hal itu memerlukan ketrampilan dan merupakan suatu proyek jangka panjang yang memerlukan segala hal yang sudah diberikan oleh Allah dalam menjalani hidup kita juga untuk mencapai suatu kesalehan hidup.&amp;quot;[12]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
— Sinclair Ferguson }} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
R.A. Muller menyatakan bahwa Alkitab jelas menyatakan bahwa kita harus menjadi sempurna, namun pada saat yang bersamaan memberikan bukti bahwa kesempurnaan penuh itu tidak bisa dicapai di dalam hidup ini. Hal ini menghantarkan kita pada titik dilematis. Kita tidak bisa secara bebas mengangkat tangan dan mengakui kekalahan. Namun kita juga tidak bisa memiliki mentalitas ‘over pede (percaya diri)’ berkaitan dengan konsep kesempurnaan, yang lebih umum ditemukan di dalam konteks metode berpikir positif daripada yang ada di dalam Alkitab. Satu-satunya cara untuk memecahkan dilema ini adalah dengan menyadari bahwa Perjanjian Baru melihat konsep kesempurnaan dalam dua cara. Pandangan Paulus tentang jemaat Filipi adalah kedewasaan, bukan ketidak-bercelaan. Perhatikan bagaimana Alkitab versi New International Version menerjemahkan perkataannya kepada gereja di Filipi: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Setiap dari kita yang sudah dewasa harus memiliki kecenderungan yang sama dalam berbagai hal” (Fil 3:15). “Kesempurnaan” dalam hal ini bisa lebih tepat didefinisikan sebagai “mereka yang sudah menunjukkan perkembangan berarti dalam hal spiritualitas dan keseimbangan hidup” &amp;lt;br&amp;gt; {{LeftInsert| Renungkan 1 Petrus 1:14-16. Apakah perintah ini kedengarannya tidak realistis? Apakah mungkin Allah meminta anda untuk melakukan suatu hal yang mustahil? }} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adalah suatu hal yang alamiah apabila semua anak mau untuk bertumbuh dengan sempurna. Ini juga berlaku bagi orang percaya. Daripada mengambil pendekatan jalan pintas dan prinsip mencoba-coba dalam mencapai pertumbuhan, kita seharusnya membiarkan panggilan untuk menjadi sempurna itu mendorong kita untuk masuk ke dalam proses pencarian yang serius mengenai bagaimana caranya supaya kita menjadi seperti Yesus. Contoh dari Paulus sendiri seharusnya mampu menjadi contoh bagi kita semua: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert| Jawaban: S, B, B, S, S }} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena aku pun telah ditangkap oleh Kristus Yesus. Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus. (Filipi 3:12-14) &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; {{LeftInsert| 4 Ada stiker mobil yang pernah populer, bertuliskan, “Orang Kristen Itu Tidak Sempurn – Hanya Dimaafkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
}} &amp;lt;br&amp;gt; {{RightInsert| “Pertama-tama kita harus dibuat menjadi sesuatu yang baik sebelum kita bisa melakukan kebaikan.” — Hugh Latimer}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita melihat pengulangan kata sempurna di dalam surat Paulus yang pertama kepada jemaat di Korintus. “Tetapi jika yang sempurna tiba,” katanya, “maka yang tidak sempurna itu akan lenyap” (1 Korintus 13:10). Dalam konteks ini, sempurna adalah istilah yang diberikan secara khusus pada Allah Bapa– sebuah konsep kesempurnaan yang tidak akan bisa ditemukan sampai Kristus datang. Teolog Louis Berkhof lebih cenderung untuk membicarakan kesempurnaan-kesempurnaan Allah daripada kualitas karakteristikNya. Allah itu benar-benar tak bercacat cela. Tidak peduli seberapa matangnya kita di dalam hidup ini, kita tidak akan pernah mencapai kesempurnaan sampai suatu saat Allah menyempurnakan kita di dalam kemuliaan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Tujuh Alasan Untuk Menutup Celah  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada umumnya, dunia sudah memiliki kesan negatif terhadap kesucian. Banyak pihak menyamakan hal itu dengan suatu hal yang suram, memikul salib tanpa adanya sukacita. Hal itu lebih dilihat sebagai suatu kondisi “lebih-suci-dari-kamu” sebagai suatu tindakan pembenaran diri sendiri, daripada melihat hal itu sebagai suatu pengalaman yang penuh sukacita. Sebelum kita menutup bagian ini, marilah kita menghilangkan pendapat demikian dengan melihat pada beberapa keuntungan dan berkat yang dapat kita peroleh dari tindakan mengikuti Kristus. Ini adalah tujuh buah dari penyucian (pengudusan): &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah dipermuliakan. Ketika kita suci, kita semakin mempercayai bahwa Allah itu sungguh nyata dan menakjubkan seperti yang dinyatakan sendiri olehNya. Paulus menyatakan bahwa pekerjaan-pekerjaan baik yang dilakukan oleh orang Kristen memperindah doktrin mengenai Kristus (Titur 2:10). Bahkan mereka yang menolak Allah akan dipaksa untuk mengakui keberadaanNya ketika para pengikutnya berjalan di jalanNya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hubungan berkelanjutan dengan Allah Bapa di dalam hidup ini. “Jika seorang mengasihi Aku,” kata Yesus “ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia” (Yohanes 14:23). Merupakan suatu sukacita dan ketenangan yang luar biasa apabila kita mengalami hadirat Allah dan Anak melalui Roh kudus. Dan Yesus menandakan bahwa hadirat ini adalah suatu hadirat yang dipenuhi dengan kasih, bukan dengan nuansa yang dingin. Tentu saja, bersamaan dengan kehadiranNya akan datang juga kuasaNya, yang memampukan kita untuk mengalahkan tantangan-tantangan di dalam hidup kita. &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Persekutuan dengan orang percaya lainnya. Apabila kita berjalan di dalam kegelapan, kita tidak bisa menikmati persekutuan yang tulus dengan sesama orang percaya. “Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa” (1 Yohanes 1:7). Allah berjanji untuk melengkapi kita dengan belas kasihan, hai rekan-rekan seperjalanan yang sedang menjalani jalan menuju penyucian. Bagi saya pribadi, saya menemukan bahwa kebenaran Allah ditambah dengan contoh-contoh para pelayan Allah lainnya adalah suatu hal yang penting bagi pertumbuhan spiritual saya. Dan selama saya berjalan di jalanNya, saya tidak pernah kekurangan keduanya. Kita saling membutuhkan satu sama lain (dalam konteks gereja) apabila kita hendak berhasil. Kekudusan dan komunitas Kristiani akan saling melengkapi satu sama lain. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keyakinan akan keselamatan. Walaupun keselamatan kita tidak didasarkan pada usaha kita untuk mencapai kekudusan, keyakinan akan keselamatan cenderung untuk berkaitan dengan kekudusan hidup. Di dalam surat Petrus yang kedua, Petrus menggugah para pembaca untuk sungguh-sungguh berusaha senantiasa mengumpulkan karakteristik spiritual, menambahkan kepada iman kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang yang dimiliki secara berkelimpahan (2 Petrus 1:5-9). Dia mengingatkan bahwa apabila ada yang tidak memiliki semuanya itu, maka ia akan lupa .... ... bahwa dosa-dosanya yang dahulu telah dihapuskan. Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung. Dengan demikian kepada kamu akan dikaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. (2 Petrus 1:9-11) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengabaran Injil. Sebagai seorang muda yang masih dibawah pengaruh dosa, saya mencoba sebisa saya untuk menemukan kesalahan-kesalahan di dalam hidup orang percaya supaya saya bisa menolak pesan yang mereka sampaikan dan mencap mereka sebagai orang munafik. Namun walaupun mereka tidak sempurna, tapi saya tidak bisa menemukan ketidak-konsistenan yang tergolong fatal. Sebuah keluarga besar yang menjangkau saya dengan Injil lebih memberikan pengaruh kepada saya lewat gaya hidup mereka daripada dengan perkataan-perkataan yang diucapkan. Sang suami mengasihi istrinya, sang istri menghormati suaminya, anak-anak menaati orang tuanya, dan mereka semua sangat bersuka cita. Saya tidak pernah melihat hal seperti itu. {{RightInsert| Renungkan 1 Petrus 2:12. Walaupun orang yang belum percaya mungkin menghina gaya hidup anda sekarang, akibat apa yang mungkin mereka terima pada akhirnya?&lt;br /&gt;
}}&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah disampaikan bahwa meskipun dunia mungkin tidak membaca Alkitab, tapi dunia membaca orang-orang Kristen. Allah menggunakan orang-orang kudus untuk menjangkau orang lain. Bukan orang yang sempurna, namun kudus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemahaman, kebijakan, dan pengetahuan. Harta-harta inilah yang akan diperoleh mereka yang mencari Allah dengan sepenuh hati (Amsal 2:1-11). Mereka terlindungi dari para penghujat, pemberontak, dan para orang bodoh. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat Allah. Alkitab menyatakan, “Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan” (Ibrani 12:14). Meskipun arti sebenarnya dari pasal ini masih dilingkupi oleh misteri, tapi Alkitab bisa memberikan gambaran mengenai “Penglihatan yang Menakjubkan,” atau melihat Allah. Hal itu akan terjadi ketika Tuhan datang kembali, ketika semua musuh sudah dikalahkan dan kita semua sudah disucikan dengan sempurna. Pada saat itu, penglihatan kita mengenai Allah akan berkelanjutan dan intens, tanpa distraksi atau tindakan yang berfokus pada ke ‘aku’ an akibat dari dosa. Bukan berarti pengetahuan kita akan Allah akan menjadi sempurna, karena Ia akan terus menyatakan diriNya lebih dan lebih lagi.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; {{LeftInsert| “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.”&lt;br /&gt;
—Yesus (Matius 5:8) }}&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berbahagialah orang yang suci hatinya, “ kata Yesus, “karena mereka akan melihat Allah” (Matius 5:8). Penyataan akan kebesaran dan kebaikanNya adalah hal terindah yang bisa kita dapatkan apabila kita menjalani hidup kita dengan penuh kekudusan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Seperti yang sudah anda lihat, ada banyak alasan baik yang dapat menggugah kita untuk menutup celah antara harapan Allah akan diri kita, dan pengalaman kita pribadi. Kita diciptakan untuk turut ambil bagian dalam kekudusanNya-bukan hanya di surga, namun juga di bumi. Selangkah demi selangkah, kita bisa belajar untuk mengalahkan dosa dan hidup dengan cara yang semakin lama semakin memancarkan kemuliaan dan karakter Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam bab pertama, kami sudah mencoba untuk menarik minat anda pada kesalehan hidup. Dimulai dari bab kedua, kami akan membangun kerangka Alkitabiah yang dibutuhkan untuk mendukung suatu kehidupan yang kudus- dan penuh sukacita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Diskusi Kelompok  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Apa gejala-gejala yang menandakan seseorang sedang terperangkap di tengah? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Celah antara standar-standar Allah dan perilaku kita sendiri tidak bisa dihindari; namun terlalu berlebihan apabila kita menamakan diri kita munafik. Di mana kita bisa menarik garis untuk membedakan keduanya? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Bagaimana menjelaskan hubungan antara penyucian diri kita dengan sejarah masa lalu dan harapan di masa depan? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Rasa takut akan Allah, menurut penulis, adalah suatu “syarat untuk mencapai keintiman rohani dengan Allah.” (Hal. 7) Apa maksudnya? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Sejauh mana seorang kristen yang dewasa rohani bisa bebas dari dosa? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6. Sekarang setelah anda selesai membaca bagian ini, bagaimana anda akan menjelaskan Matius 5:48 kepada orang yang baru percaya? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bacaan Yang Direkomendasikan  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
How to Help People Change 'by Jay E. Adams (Grand Rapids, MI: Zondervan Publishing House, 1986) Saved by Grace by Anthony A. Hoekema (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1989) Referensi 1. ↑ Jay E. Adams, The Biblical View of Self-Esteem, Self-Love, Self-Image (Eugene, OR: Harvest House Publishers, 1986), h. 78. 2. ↑ Oscar Cullman, Christ and Time (Philadelphia, PA: The Westminster Press, 1964), h. 3. 3. ↑ John Piper, The Pleasures Of God (Portland, OR: Multnomah Press, 1991), h. 147. 4. ↑ Ern Baxter, pesan yang direkam, “Sanctification,” n.d. 5. ↑ Quoted in Gathered Gold, John Blanchard, ed. (Welwyn, Hertfordshire, England: Evangelical Press, 1984), h.146. 6. ↑ J.C. Ryle, Holiness (Welwyn, Hertfordshire, England: Evangelical Press, 1879, reprinted 1989), h. 39. 7. ↑ 7. Anthony A. Hoekema, Saved by Grace (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1989), h. 192-93. 8. ↑ Jerry Bridges, The Practice of Godliness (Colorado Springs, CO: NavPress, 1983), h. 15-20. 9. ↑ Idem, p. 24. 10. ↑ Idem, p. 26. 11. ↑ J.I. Packer, Concise Theology (Wheaton, IL: Tyndale House, 1993), h. 169. 12. ↑ Sinclair Ferguson, A Heart for God (Colorado Springs, CO: NavPress, 1985), h. 129. 13. ↑ R.A. Muller, The International Standard Bible Encyclopedia, Volume Four (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1988), h. 324. 14. ↑ William Hendriksen, New Testament Commentary: Philippians (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1962), h. 176. 15. ↑ Quoted in Gathered Gold, p.148. 16. ↑ Louis Berkhof, Systematic Theology (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1941), p. 52. ↑ Sumber Asli tidak diketahui&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Susanlim</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/How_Can_I_Change%3F/Caught_in_the_Gap_Trap/id</id>
		<title>How Can I Change?/Caught in the Gap Trap/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/How_Can_I_Change%3F/Caught_in_the_Gap_Trap/id"/>
				<updated>2009-01-28T08:31:54Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Susanlim: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|Bagaimana Saya Bisa Berubah?/Terperangkap di Tengah}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semua yang kini sedang bergumul melawan amarah, silakan maju ke depan. Kami mau berdoa untuk anda.”&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu itu hari Minggu pagi. Saya baru saja menyelesaikan khotbah mengenai amarah, dan saya mau memberikan waktu bagi Roh Kudus untuk bekerja di dalam hati orang-orang yang hadir saat itu. Namun saya terkejut melihat respon yang diberikan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekitar dua puluh orang-orang yang rendah hati maju ke depan mimbar—untuk ukuran gereja kami, jumlah ini cukup besar. Namun, bukan jumlahnya yang menarik perhatian saya. Yang menarik perhatian saya adalah orang-orang yang maju ke depan. Sembilan belas dari dua puluh orang yang maju ke depan adalah para ibu muda! (Amarah sangat rentan dialami oleh para ibu, sejauh yang saya ketahui.) Sebagai gembala, saya tahu bahwa para wanita ini adalah orang kristen yang sungguh-sungguh. Apa yang menyebabkan mereka maju ke depan adalah rasa frustasi mendalam mereka yang dialami karena mereka merasa terperangkap di tengah -- zona antara standar Alkitabiah yang berkaitan dengan penguasaan diri, dan kegagalan mereka untuk hidup menurut standar Alkitabiah itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah masalah itu berkaitan dengan amarah, ketakutan, kekuatiran, atau suatu hal yang umum, seperti kemalasan, kita semua sudah mengalami perasaan terperangkap di tengah, antara siapa diri kita saat ini, dan siapa diri kita seharusnya. Alkitab menyatakan bahwa kita adalah ciptaan baru, para pemenang, penakluk. Dan kita bukan hanya sekedar pemenang, melainkan lebih dari seorang pemenang (Roma 8:37). Kadang kita memang merasa seperti itu. Namun yang lebih sering, kita mengalami kesulitan melihat suatu hal yang melampaui kelemahan-kelemahan dan kegagalan-kegagalan kita. Dan yang menariknya, justru di saat-saat seperti ini, ayat dalam Matius 5:48 mendadak jadi tampil ke permukaan: “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| Untuk Dipelajari Lebih Lanjut: Bahkan Rasul Paulus mengalami saat dimana ia merasa terperangkap di tengah (Roma 7:21-25). Dapatkah anda membandingkan rasa frustrasi anda dengan rasa frustrasi yang dialami Rasul Paulus?}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlahan kita menghela nafas dan berkata,''Hal itu tidak akan pernah menjadi kenyataan''. &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya menyebut kondisi ini sebagai “perangkap tengah”. Berikut adalah cara kerjanya: Sebagai orang kristen, kita semua memiliki pengetahuan mengenai hal-hal yang diharapkan Allah dari diri kita. Namun pada kenyataannya, apa yang kita capai jauh dari apa yang -kita tahu- sebenarnya harus kita capai. Maka, terciptalah suatu jarak antara apa yang kita tahu harus kita lakukan, dan performa kita yang sesungguhnya. Apabila jarak antara keduanya terlampau jauh, kita bisa saja langsug di cap sebagai seorang munafik. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| “Kehidupan kekristenan semata-mata berkaitan dengan perubahan karakter intrinsik kita menuju karakter Kristus.. Tujuan dari ayat-ayat ini (Misalnya Roma 6, Kolose 3: 5-14, Efesus 4:22-32) adalah untuk menunjukkan kepada kita bahwa ada jarak yang hebat antara siapa kita di dalam Kristus (pembenaran) dan siapa kita sebenarnya dalam kehidupan keseharian kita (pengudusan), yang tujuannya adalah untuk mendorong kita agar kita menutup jarak yang ada antara keduanya... Tujuan Paulus adalah untuk mengugah kita supaya dalam kehidupan keseharian kita, kita mampu menampilkan perilaku-perilaku yang menggambarkan siapa kita sebenarnya di dalam Kristus.” &amp;lt;br&amp;gt;- '''Jay Adams'''}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Situasi ini adalah suatu hal yang nyata dalam kehidupan kekristenan. Bagi sebagian besar, tidak dibutuhkan orang lain untuk memberitahu kita mengenai ketidak-konsistenan di dalam hidup kita—kita semua terlalu manyadarinya. Kesadaran itu seharusnya membuat kita menjadi semakin rendah hati dan menggantungkan diri kepada Tuhan supaya kita bisa berhasil menutup ketidak-konsistenan itu. Namun biasanya momen ‘terjebak di tengah’ ini muncul akibat ketidakpedulian kita akan doktrin atau ajaran mengenai pengudusan. Daripada menyadari kalau jarak ini ada sebagai pertanda bahwa kita membutuhkan pertolongan dari Allah saja, kita malah membiarkan jarak ini untuk menghukum kita, dan memperlambat kemajuan kita. Kita menjadi terjebak dalam pemikiran bahwa kita adalah seorang pecundang, bodoh, orang yang penuh kegagalan... dan mungkin saja bukan benar-benar seorang Kristen. Beberapa orang bahkan terperosok lebih jauh dalam ketidaktaatan. Mereka yang terjebak di situasi seperti ini (dan pada level tertentu, kita semua termasuk di dalamnya) mengalami penderitaan (yang sebenarnya tidak diperlukan) karena patah semangat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai seorang gembala, salah satu tanggung jawab utama saya adalah membantu orang-orang agar bisa keluar dari jebakan ini. Saya sering menyampaikan pada orang-orang, “Hal itu tidak akan instan terjadi, dan membutuhkan usaha yang sungguh-sungguh, namun supaya bisa keluar dari jebakan itu tidaklah rumit. Dan percayalah, anda tidak akan kecewa melihat hasilnya.” Mungkin anda merasa bahwa anda sedang berada di posisi seperti ini. Jika demikian, kami yakin buku ini dapat menolong anda untuk menutup jarak yang ada antara siapa anda seharusnya di dalam Kristus dan siapa anda sebenarnya dalam kehidupan keseharian anda. Dapatkah anda membayangkan kehidupan dimana anda mematahkan kebiasaan-kebiasaan anda yang penuh dosa dan membuat kemajuan nyata dalam kehidupan rohani anda? kehidupan seperti itu sungguh mungkin adanya. Dan buku ini ditulis untuk menguatkan dan menyertai anda seiring dengan usaha anda untuk mencapai yang kehidupan seperti itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| &amp;lt;br&amp;gt;Daftar Isi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1 Diantara “Sekarang” dan “Yang Akan Datang” &amp;lt;br&amp;gt;2 Butuh Obat Kumur? &amp;lt;br&amp;gt;3 Setimpal Dengan Usahanya &amp;lt;br&amp;gt;4 Bagaimana Meraih Kesempurnaan? &amp;lt;br&amp;gt;5 Tujuh Alasan Untuk Menutup Celah &amp;lt;br&amp;gt;6 Diskusi Kelompok &amp;lt;br&amp;gt;7 Bacaan yang Direkomendasikan &amp;lt;br&amp;gt;8 Referensi}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
= Diantara “Sekarang” dan “Yang Akan Datang” &amp;lt;br&amp;gt;  =&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| Apakah ada area-area dalam hidup anda yang anda sadari kurang memenuhi ekpektasi Allah? (Tuliskan dengan singkat sebuah area itu di bawah)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
}}&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; Tidak diragukan, bahwa salah satu hal yang paling membuat kita frustrasi terkait dengan kehidupan kekristenan adalah kontradiksi yang nyata antara siapa kita di mata Allah, dan siapa diri kita dalam pendapat kita sendiri. Ambil contoh jemaat di Korintus, misalnya. Rasul Paulus pada satu titik meyakinkan mereka bahwa, “Kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita.” (1 Korintus 6:11). Sepertinya berhenti sampai di situ saja, bukan? Sampai kita membaca surat kedua Paulus pada jemaat ini, yang isinya nyaris bertolak-belakang dengan yang pertama disampaikan: “Marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah” (2 Korintus 7:1). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di pikiran saya, mungkin saja para jemaat di Korintus merasa bingung. Apakah mereka sudah disucikan... atau masih tercemar? sebenarnya dua-duanya berlaku untuk mereka, dan juga kita. Untuk menjelaskan hal itu, mari saya ajak anda untuk menyimak hal di berikut ini.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|  Renungkan 1 Yohanes 3:2-3. Apa pengaruh dari pemikiran kita tentang “yang akan datang” terhadap apa yang ada “saat ini”}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kerajaan Allah itu adalah “saat ini” dan “yang akan datang”. Dalam beberapa hal, Kerajaan Allah berkaitan dengan masa kini, dan untuk beberapa hal lainnya, Kerajaan Allah berkaitan dengan masa mendatang. Allah kita telah menyatakan dan menunjukkan bahwa Kerajaan (atau hukum) Allah sudah bersinggungan dengan sejarah manusia: “Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu” (Lukas 11:20). Namun, Kerajaan Allah belum datang seutuhnya. Hal itu tidak akan terjadi sampai Yesus datang kembali dalam kuasaNya, ketika setiap lutut kan bertelut dan semua lidah mengaku bahwa Dialah Allah. Sampai hal itu terjadi, tanpa menyangkal kehadiran Kerajaan Allah yang ada di dalam dunia ini, kita berdoa, “Datanglah Kerajaan-Mu” (Matius 6:10) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan demikian, Kerajaan Allah berjalan seiringan dengan kehidupan kita. Allah, lewat karya pembenaran-Nya, sudah menyatakan bahwa kita adalah orang-orang benar. Posisi kita di mata Allah sudah berubah. Masalah itu sudah diselesaikan sekali dan untuk selama-lamanya di Surga. Namun, di sisi surga lainnya (bumi), perubahan internal kita merupakan suatu proses yang sedang berjalan. Proses penyucian ini membuat saya sibuk sebagai seorang pribadi Kristen, dan juga memberikan saya banyak pekerjaan dan tugas sebagai seorang gembala. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, apakah kita sudah memiliki kemenangan di dalam Yesus atau belum? apakah kita para pemenang, atau apakah kita masih harus berjuang? Oscar Cullmann memberikan ilustrasi dari Perang Dunia ke-2, yang saya percaya dapat membantu kita menangkap hal yang kesannya bertentangan ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejarah mencatat dua peristiwa besar yang menjadi pangkal berakhirnya Perang Dunia ke-2: D-Day dan VE-Day. D-Day terjadi pada 6 Juni 1944, ketika para pasukan Sekutu mendarat di Normandy, Perancis. Ini adalah titik balik dalam perang yang berlangsung; ketika pendaratan ini berhasil, nasib Hitler sudah sangat jelas. Pada dasarnya, perang sudah berakhir. Namun kemenangan total di Eropa (VE-Day) tidak terjadi sampai tanggal 7 Mei 1945 ketika pasukan Jerman menyerah di Berlin. Periode sebelas bulan ini dicatat sebagai salah satu periode pertumpahan darah terbesar sepanjang sejarah perang. Pertempuran-pertempuran terjadi di seluruh Perancis, Belgia, dan Jerman. Walaupun secara fisik para musuh sudah terluka, namun mereka tidak sepenuhnya menyerah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; {{LeftInsert| “Pemilihan Ilahi adalah jaminan bahwa Allah akan bekerja dalam melengkapi pemilihan kita (untuk diselamatkan oleh anugerah-Nya) dengan anugerah pengudusan-Nya. Ini adalah arti dari Perjanjian Baru: Allah tidak hanya sekedar memerintahkan agar kita taat kepadaNya, namun juga memberikan kemampuan pada kita untuk menaatiNya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-John Piper }} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salib adalah D-Day kita. Di sana, Tuhan kita Yesus Kristus mati disalibkan, untuk mematahkan belenggu dosa dari umatNya. Berdasarkan kematian dan kebangkitanNya, kita semua dibenarkan. Namun, kemenangan akhir akan terjadi ketika Ia datang. Tidak ada keraguan mengenai hasil akhirnya. Namun kita masih akan menemui gesekan-gesekan dan pertandingan-pertandingan sampai Tuhan muncul di dalam kemuliaanNya untuk memusnahkan kuasa kegelapan selamanya. {{RightInsert| Untuk Bacaan Lebih Lanjut: Bacalah 1 Petrus 5:8-9. Walaupun kemenangan akhir Allah tidak bisa disangkal, namun kita harus tetap berjuang melawan musuh kita.}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fakta ini, apabila kita tetap berusaha untuk mengingatnya, dapat membuat kita tidak patah semangat. Pertarungan masih berlangsung, namun peperangan utama sudah dimenangkan. Kesadaran akan karya pengorbanan Kristus yang telah dilakukan bagi kita sangat penting untuk memacu semangat moral kita seiring dengan usaha kita untuk mencapai suatu kekudusan hidup. Kita harus mempelajari dan merenungkan doktrin utama mengenai pembenaran sampai hal itu sungguh tertanam dalam kesadaran kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== '''Butuh Obat Kumur?'''  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun kita sudah dibenarkan sepenuhnya di dalam Kristus (D-Day), bukan berarti kita sudah sepenuhnya disucikan (VE-Day). Beberapa orang gagal memahami hal ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengajar Alkitab Ern Baxter menyampaikan kejadian yang terjadi saat Latter Rain Revival di akhir tahun 1940-an. Ada suatu ajaran menyimpang yang dinamakan “manifestasi anak-anak Allah”. Pada intinya ajaran itu menyampaikan doktrin yang menjanjikan kekudusan total di dalam hidup ini. Pada bentuk ekstrimnya, ajaran itu termasuk kepercayaan bahwa elit spiritual akan menerima tubuh kemuliaan sebelum kedatangan Kristus untuk kedua kalinya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada sesi penutupan acara dimana Baxter menjadi pembicaranya, beberapa ‘anak-anak Allah’ muncul di pojok auditorium berbalutkan jubah putih. Ketika ia selesai menyampaikan Firman, mereka berjalan ke depan dan mulai mencoba untuk menarik pengikut-pengikut baru bagi doktrin mengenai kesempurnaan total yang mereka ajarkan. Ketika ia mengingat peristiwa itu, ia menyatakan, “Wanita yang menjadi kelompok di grup itu benar-benar membutuhkan Listerine (merek obat kumur). Bukan itu jenis kesempurnaan yang saya nantikan.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih umum dari skenario yang terjadi lewat peristiwa yang dialami oleh Ern Baxter diatas, adalah situasi-situasi yang terjadi akibat dari kurangnya pengetahuan dan kecenderungan untuk menyederhanakan konsep kekudusan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| 2 Kalau anda mencari kesempurnaan total di dalam hidup ini, kira-kira mana dari antara beberapa hal di bawah ini yang paling sulit untuk dilakukan oleh anda? &lt;br /&gt;
❏Sama sekali tidak akan pernah mengendarai mobil lebih dari batas kecepatan. &lt;br /&gt;
❏Berbicara dengan hangat dan lembut pada setiap sales yang menelepon rumah anda. &lt;br /&gt;
❏Mengindari semua kalori yang tidak dibutuhkan. &lt;br /&gt;
❏Tidak pernah memukul jam weker anda ketika ia membangunkan anda. &lt;br /&gt;
❏Senantiasa membayar pajak penghasilan anda dengan sukacita.}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu saya baru menjadi orang percaya, saya berjumpa dengan seorang pria muda bernama Greg, mengaku menjadi seorang perampok dan pengguna obat terlarang yang sepertinya bertobat waktu di dalam penjara. Pegangan hidup Greg dalam menjalani kehidupan kekristenan sangat memukau diri saya. Ia membawakan dirinya dengan keyakinan penuh dan sedikit keangkuhan. Ia berbicara seakan-akan dosa itu bukan menjadi suatu masalah lagi baginya. Lebih dari sekali dia mengatakan kepada saya betapa ia sudah “diselamatkan, disucikan, dan dipenuhi oleh Roh Kudus.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar dia mengatakan hal itu, sepertinya membuat hal itu seakan-akan mudah dan sederhana. Sebagai seorang Kristen yang baru, pada suatu waktu ia naik ke dalam kereta, dan waktu dia baru berangkat, beberapa jam kemudian ia sudah mengalami apa yang dinamakan olehnya sebagai “pengalaman pengudusan.” Dia berusaha meyakinkan saya bahwa pengalaman itu adalah hal yang dibutuhkan pertama kali untuk menerima baptisan Roh Kudus, dan sekali itu terjadi, itu akan berlaku selamanya. Saya harus mengakui di sini, bahwa ada beberapa hal tentang Greg yang kesannya tidak terlalu kudus. Ia mempunyai kecenderungan untuk menghakimi orang dan perilaku seorang farisi. Ia bisa menjadi seorang yang terlalu menguasai dan picik. Saya ingat pada suatu saat ketika seorang teman tidak sengaja meletakkan suatu benda di atas Alkitabnya: “Maaf—itu kan Firman Allah!” Tapi tetap saja, dia yakin dia bisa mengutip Alkitab, dan sepertinya sangat memahami perihal pengudusan.&amp;lt;br&amp;gt; {{RightInsert| Untuk Renungan Lebih Lanjut: Bacalah Matius 26:41. Kapan waktunya kita bisa aman menganggap bahwa kita sudah “sampai” pada titik pengudusan?}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sangat mengejutkan ketika pada akhirnya ia kembali mengedarkan dan memakai obat terlarang. Masalah Greg terkait dengan kurangnya pemahaman dan juga kesalah-pahaman mengenai ajaran Alkitab terkait dengan konsep pengudusan. Ia sudah melakukan kesalahan seperti yang banyak orang lakukan dengan hanya memfokuskan perhatian pada beberapa ayat Alkitab favorit yang sepertinya membenarkan pengalaman pribadinya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; {{LeftInsert| &amp;quot;Kekudusan bukan jalan menuju Kristus. Kristus, adalah jalan menuju kekudusan.&amp;quot; —&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adrian Rogers}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; Kekudusan itu sifatnya pasti (terjadi saat kita bertobat) dan progresif (terus berlangsung). Semua ini tidak terjadi pada sekali waktu di masa lalu, dan bukan juga suatu hal yang akan terjadi secara bertahap. Kita sudah diubahkan dan kita sedang berubah. Tanpa mengesampingkan keberhasilan pendaratan kita di Normandy, marilah kita bijak dan realistis saat menilai adanya oposisi yang ada diantara kita dan Berlin. Kita tidak punya pilihan yang memungkinkan kita untuk mendapatkan tiket naik ke dalam kereta pengudusan, seperti yang Greg yakini. Hal itu akan menjadi suatu pertandingan di setiap langkah kehidupan kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Setimpal dengan Usahanya  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi beberapa orang, “pengudusan” adalah suatu istilah teologis yang sering didengar, namun jarang dimengerti. Kedengarannya itu adalah suatu hal yang cocok untuk mahasiswa teologia dan kurang praktis untuk kehidupan sehari-hari. Namun sebaliknya, hal itu adalah suatu hal yang sangat amat praktis, dan bisa dikaitan dengan kehidupan keseharian. Doktrin mengenai pengudusan bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh hampir seluruh orang Kristen di dalam sejarah gereja. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana saya bisa berubah? &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana saya bisa bertumbuh? &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana saya menjadi serupa dengan Kristus? &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana saya bisa tidak terperangkap di tengah? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apapun yang bisa menjawab pertanyaan itu akan mengharuskan kita untuk melakukan beberapa usaha. Lampiran A (halaman 93) menunjukkan bahwa beberapa cabang gereja sudah membicarakan masalah ini di masa lalu, namun mari kita lihat apa yang bisa kita pelajari mengenai aplikasi dari doktrin yang penting ini pada masa kini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Arti Alkitabiah dari kata menguduskan (menyucikan) adalah “untuk memisahkan; mengkhususkan.” (Kesucian berasal dari akar kata yang sama dalam bahasa Yunani) Hal ini bisa diaplikasikan pada orang, tempat, situasi, atau benda tertentu. Ketika suatu hal dikuduskan, hal itu akan dipisahkan dari pemakaian pada umumnya dan didedikasikan untuk kepentingan khusus. Misalnya, pada jaman Musa, Hari Raya Pendamaian dikuduskan bagi Allah yang Kudus. Hari itu menjadi hari yang kudus. Sebuah hal yang dikuduskan tidak akan serta merta menjadi suci karena dipisahkan dari hal lainnya; kesucian yang didapat akan berasal dari untuk apa (atau kepada siapa) kah hal itu disucikan. Karena hanya Allah saja yang suci, maka hanya Dia-lah yang bisa mengimpartasikan kesucian. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara teologis, istilah “pengudusan” telah dipergunakan untuk menggambarkan proses yang dilalui oleh seorang percaya ketika Roh Allah sedang bekerja di dalam hidupnya untuk membuat dirinya semakin menyerupai Kristus. Prosesnya dimulai saat kita lahir baru, dan terus berlangsung sepanjang kita hidup. Hal ini ditandai dengan konflik keseharian seiring dengan usaha kita untuk mengalahkan dosa yang ada di dalam diri kita dengan anugerah dan kekuatan yang Allah berikan bagi kita. Camkan di dalam pikiran bahwa rasa bersalah yang didapat dari dosa sudah dihilangkan lewat pembenaran, sebagaimana yang dijelaskan oleh Anthony Hoekema; penyucian menghilangkan pencemaran akibat dosa: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang dimaksud dengan rasa bersalah adalah kondisi di mana kita layak mendapatkan penghukuman atau harus bertanggung jawab untuk menerima hukuman karena telah melanggar hukum Allah. Yang dimaksud dengan pembenaran, sebagai tindakan deklaratif Allah, adalah bahwa rasa bersalah akibat dosa dihilangkan atas dasar karya utama Yesus Kristus. Yang dimaksud dengan pencemaran adalah bahwa kita memiliki kecenderungan bawaan yang terjadi sebagai akibat dari dosa yang juga pada akhirnya menciptakan dosa lain lebih lanjut. Sebagai akibat dari kejatuhan Adam dan Hawa, kita semua lahir dengan kondisi seperti ini; dosa-dosa yang kita lakukan tidak hanya berasal dari kecenderungan kita untuk berdosa, namun juga menambah kecenderungan itu sendiri. Yang dimaksud dengan penyucian adalah kondisi dimana pencemaran yang didapat dari dosa sedang dalam proses (tahapan) pembersihan (walaupun hal itu tidak akan sepenuhnya dibersihkan sampai kita memasuki hidup baru di Surga). {{RightInsert| Untuk Bacaan Lebih Lanjut: Apakah anda menyadari betapa penting dan bermanfaatnya apabila kita memiliki perasaan takut akan Allah? (Lihat Mazmur 19:9 dan 25:14, Amsal 1:7 dan 9:10, dan 1 Petrus 1:17.)}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alkitab juga mendefinisikan penyucian sebagai proses pertumbuhan menuju hidup yang saleh. Hidup yang saleh merujuk pada suatu kehidupan yang menunjukkan dedikasi kepada Allah, dan karakter yang muncul akibat dedikasi tersebut. Hidup yang saleh melibatkan kasih terhadap Allah dan kerinduan akan Allah. Selain itu juga mengandung rasa takut akan Allah, yang menurut John Murray adalah “jiwa dari hidup yang saleh”. Karena telah ditebus dari ancaman hukuman kekal, orang Kristen menyatakan rasa takutnya kepada Allah dengan memfokuskan diri tidak kepada murka Allah, tapi kepada “kemuliaan, kekudusan dan keagunganNya...” Rasa takut akan Allah mempunyai dampak yang baik bagi hati kita, dimana rasa ini akan memurnikan hati kita, dan juga hal ini adalah syarat apabila kita hendak menjalin hubungan yang lebih intim dengan Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hidup yang saleh melibatkan lebih dari sekedar unsur moralitas atau tindakan fanatik. Hal tersebut berasal dari kesatuan dengan Kristus dan hasrat untuk memuliakanNya. Seorang yang saleh akan berkeinginan untuk menjadi seperti Tuhan-nya juga ingin untuk menyenangkan hatiNya. Ia ingin merasakan apa yang dirasakan olehNya, memikirkan apa yang dipikirkan oleh Tuhan-nya melebihi dirinya sendiri, dan melakukan apa yang menjadi kehendakNya. Secara singkat, orang seperti ini ingin menjadi seseorang yang memiliki karakter Allah, sehingga Allah bisa dimuliakan lewat hidupnya. Tidak ada hal lain yang layak diperjuangkan sepanjang hidup kita: “Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang” (1 Timotius 4:8). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baik Allah maupun manusia memegang peran penting dalam konteks penyucian. Allah, dengan anugerahNya, memulai karya penebusan di dalam kita dan memberikan keinginan serta kuasa untuk mengalahkan dosa. Sebagai respon sekaligus sambil bersandar pada anugerahNya, kita menaati perintah Alkitab&amp;amp;nbsp;: “karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya. Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan” (Filipi 2:12-13) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; {{RightInsert|“Penyucian, menurut Westminster Shorter Catechism, adalah ‘pekerjaan dari anugerah Allah yang diberikan secara cuma-cuma, dimana kita diperbaharui menjadi manusia seutuhnya berdasarkan gambaran Allah, dan dimampukan lebih dan lebih lagi untuk mati bagi dosa, dan hidup bagi kebenaran.’ Konsep yang terkandung di dalam hal ini adalah bukan berarti dosa itu dihapuskan total (hal ini terlalu berlebihan) atau hanya ditangkis (hal ini terlalu meremehkan), namun berkaitan dengan perubahan karakter ilahi kita yang membebaskan kita dari kebiasaan-kebiasaan kita yang penuh dosa dan membentuk kita menjadi serupa dengan Kristus dalam hal perasaan, sifat, dan karakteristik-karakteristik lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
— J.I. Packer&lt;br /&gt;
}} &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam Perjanjian Baru, posisi dari hidup kudus itu berada pada titik tengah antara legalitas di satu sisi, dan lisensi di sisi lainnya. Semua tradisi gereja yang terlalu menitik beratkan pada karya Allah di dalam kita tanpa menaruh pengharapan bahwa karya itu akan menghasilkan suatu hasrat yang terus bertambah di dalam diri kita untuk menuju suatu kesalehan hidup, akan cenderung menuju ke arah lisensi. “Karena, seperti yang telah kerap kali kukatakan kepadamu, dan yang kunyatakan pula sekarang sambil menangis, banyak orang yang hidup sebagai seteru salib Kristus. Kesudahan mereka ialah kebinasaan, Tuhan mereka ialah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi” (Filipi 3:18-19). Di lain pihak ada juga pihak yang terlalu menitik beratkan pada porsi manusia sehingga mereka menyimpang dari kebenaran Allah dan berakhir pada prinsip legalitas. (Tentu saja seluruh hal ini mempunyai kadar yang bervariasi). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| Renungkan 1 Timotius 6: 11-16. Paulus adalah seorang yang sangat mampu menjadi seorang motivator yang handal. }} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Bagaimana Meraih Kesempurnaan &amp;lt;br&amp;gt;  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu pertanyaan yang umum diucapkan oleh orang Kristen adalah, “Sejauh mana saya bisa berharap pada proses penyucian ini? Apakah pada akhirnya saya bisa benar-benar bebas dari dosa?” Jenis pertanyaan ini akan menjadi relevan terutama ketika kita membaca pernyataan seperti yang disampaikan oleh Paulus kepada jemaat di Filipi: “Karena itu marilah kita, yang sempurna, berpikir demikian. Dan jikalau lain pikiranmu tentang salah satu hal, hal itu akan dinyatakan Allah juga kepadamu” (Filipi 3:15). Bahkan Yesus menyampaikan hal itu lebih gamblang di ayat yang sudah disebutkan sebelumnya: “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna” (Matius 5:48).&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| 3 Cobalah untuk menjawab kuis Benar/Salah di bawah ini, untuk mengetahui sejauh mana anda sudah memahami materi ini: (Jawaban dicetak terbalik di bagian bawah halaman 9) &lt;br /&gt;
• Arti dari kata “menguduskan (menyucikan)” adalah “menajiskan, memisahkan” B S &lt;br /&gt;
• Proses penyucian dimulai saat kita lahir baru, dan terus berlangsung sepanjang kita hidup. B S &lt;br /&gt;
• Rasa bersalah yang didapat dari dosa sudah dihilangkan lewat pembenaran B S&lt;br /&gt;
• Hidup yang saleh hanya memiliki arti yang berkaitan dengan unsur moralitas atau tindakan fanatik seseorang. B S &lt;br /&gt;
• Hanya Allah yang bertanggung jawab terhadap proses penyucian kita. B S}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah Allah sungguh berharap supaya kita mencapai tahap kesempurnaan? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keinginan untuk menjadi sempurna sudah menginspirasi banyak orang untuk mencari Allah. Di sepanjang sejarah manusia, banyak penulis puisi dan filosofer yang mengekspresikan keinginan untuk mencapai kembali kesucian hidup. Penulis lagu kontemporer Crosby, Stills, dan Nash merayakan pengalaman Woodstock dengan lagu yang berlirik, “Kita adalah debu bintang-bintang, kita ini berharga, kita terjebak di dalam penawaran iblis. Dan kita harus mencari cara kembali ke Taman (Surga).” Masalahnya, kita semua tahu kalau kita ini jauh dari kesempurnaan. Dalam dunia khayal perfilman, Mary Poppins bisa saja dengan riang menyatakan bahwa dia adalah “sempurna di segala hal,” namun di kehidupan nyata, hal itu tidak mungkin terjadi. Dan tentu saja kita tidak bisa menjadi sempurna lewat metode Woodstock. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; {{RightInsert| &amp;quot;Ketika terang cahaya...kemuliaan Allah jatuh ke atas roh kita, kita dimenangkan dari segala pemikiran yang palsu dan kurang tepat mengenai kesucian kita sendiri. Kita juga dilindungi dari segala pengajaran murahan yang mendorong kita untuk mempercayai bahwa ada jalan-jalan pintas yang memudahkan kita untuk mencapai kesucian hidup. Kesucian hidup bukanlah sebuah pengalaman; itu adalah penyatuan kembali karakter kita, juga pemugaran kembali satu hal yang sudah menjadi reruntuhan. Hal itu memerlukan ketrampilan dan merupakan suatu proyek jangka panjang yang memerlukan segala hal yang sudah diberikan oleh Allah dalam menjalani hidup kita juga untuk mencapai suatu kesalehan hidup.&amp;quot;[12]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
— Sinclair Ferguson }} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
R.A. Muller menyatakan bahwa Alkitab jelas menyatakan bahwa kita harus menjadi sempurna, namun pada saat yang bersamaan memberikan bukti bahwa kesempurnaan penuh itu tidak bisa dicapai di dalam hidup ini. Hal ini menghantarkan kita pada titik dilematis. Kita tidak bisa secara bebas mengangkat tangan dan mengakui kekalahan. Namun kita juga tidak bisa memiliki mentalitas ‘over pede (percaya diri)’ berkaitan dengan konsep kesempurnaan, yang lebih umum ditemukan di dalam konteks metode berpikir positif daripada yang ada di dalam Alkitab. Satu-satunya cara untuk memecahkan dilema ini adalah dengan menyadari bahwa Perjanjian Baru melihat konsep kesempurnaan dalam dua cara. Pandangan Paulus tentang jemaat Filipi adalah kedewasaan, bukan ketidak-bercelaan. Perhatikan bagaimana Alkitab versi New International Version menerjemahkan perkataannya kepada gereja di Filipi: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Setiap dari kita yang sudah dewasa harus memiliki kecenderungan yang sama dalam berbagai hal” (Fil 3:15). “Kesempurnaan” dalam hal ini bisa lebih tepat didefinisikan sebagai “mereka yang sudah menunjukkan perkembangan berarti dalam hal spiritualitas dan keseimbangan hidup” &amp;lt;br&amp;gt; {{LeftInsert| Renungkan 1 Petrus 1:14-16. Apakah perintah ini kedengarannya tidak realistis? Apakah mungkin Allah meminta anda untuk melakukan suatu hal yang mustahil? }} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adalah suatu hal yang alamiah apabila semua anak mau untuk bertumbuh dengan sempurna. Ini juga berlaku bagi orang percaya. Daripada mengambil pendekatan jalan pintas dan prinsip mencoba-coba dalam mencapai pertumbuhan, kita seharusnya membiarkan panggilan untuk menjadi sempurna itu mendorong kita untuk masuk ke dalam proses pencarian yang serius mengenai bagaimana caranya supaya kita menjadi seperti Yesus. Contoh dari Paulus sendiri seharusnya mampu menjadi contoh bagi kita semua: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert| Jawaban: S, B, B, S, S }} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena aku pun telah ditangkap oleh Kristus Yesus. Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus. (Filipi 3:12-14) &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; {{LeftInsert| 4 Ada stiker mobil yang pernah populer, bertuliskan, “Orang Kristen Itu Tidak Sempurn – Hanya Dimaafkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
}} &amp;lt;br&amp;gt; {{RightInsert| “Pertama-tama kita harus dibuat menjadi sesuatu yang baik sebelum kita bisa melakukan kebaikan.” — Hugh Latimer}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita melihat pengulangan kata sempurna di dalam surat Paulus yang pertama kepada jemaat di Korintus. “Tetapi jika yang sempurna tiba,” katanya, “maka yang tidak sempurna itu akan lenyap” (1 Korintus 13:10). Dalam konteks ini, sempurna adalah istilah yang diberikan secara khusus pada Allah Bapa– sebuah konsep kesempurnaan yang tidak akan bisa ditemukan sampai Kristus datang. Teolog Louis Berkhof lebih cenderung untuk membicarakan kesempurnaan-kesempurnaan Allah daripada kualitas karakteristikNya. Allah itu benar-benar tak bercacat cela. Tidak peduli seberapa matangnya kita di dalam hidup ini, kita tidak akan pernah mencapai kesempurnaan sampai suatu saat Allah menyempurnakan kita di dalam kemuliaan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Tujuh Alasan Untuk Menutup Celah  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada umumnya, dunia sudah memiliki kesan negatif terhadap kesucian. Banyak pihak menyamakan hal itu dengan suatu hal yang suram, memikul salib tanpa adanya sukacita. Hal itu lebih dilihat sebagai suatu kondisi “lebih-suci-dari-kamu” sebagai suatu tindakan pembenaran diri sendiri, daripada melihat hal itu sebagai suatu pengalaman yang penuh sukacita. Sebelum kita menutup bagian ini, marilah kita menghilangkan pendapat demikian dengan melihat pada beberapa keuntungan dan berkat yang dapat kita peroleh dari tindakan mengikuti Kristus. Ini adalah tujuh buah dari penyucian (pengudusan): &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah dipermuliakan. Ketika kita suci, kita semakin mempercayai bahwa Allah itu sungguh nyata dan menakjubkan seperti yang dinyatakan sendiri olehNya. Paulus menyatakan bahwa pekerjaan-pekerjaan baik yang dilakukan oleh orang Kristen memperindah doktrin mengenai Kristus (Titur 2:10). Bahkan mereka yang menolak Allah akan dipaksa untuk mengakui keberadaanNya ketika para pengikutnya berjalan di jalanNya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hubungan berkelanjutan dengan Allah Bapa di dalam hidup ini. “Jika seorang mengasihi Aku,” kata Yesus “ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia” (Yohanes 14:23). Merupakan suatu sukacita dan ketenangan yang luar biasa apabila kita mengalami hadirat Allah dan Anak melalui Roh kudus. Dan Yesus menandakan bahwa hadirat ini adalah suatu hadirat yang dipenuhi dengan kasih, bukan dengan nuansa yang dingin. Tentu saja, bersamaan dengan kehadiranNya akan datang juga kuasaNya, yang memampukan kita untuk mengalahkan tantangan-tantangan di dalam hidup kita. &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Persekutuan dengan orang percaya lainnya. Apabila kita berjalan di dalam kegelapan, kita tidak bisa menikmati persekutuan yang tulus dengan sesama orang percaya. “Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa” (1 Yohanes 1:7). Allah berjanji untuk melengkapi kita dengan belas kasihan, hai rekan-rekan seperjalanan yang sedang menjalani jalan menuju penyucian. Bagi saya pribadi, saya menemukan bahwa kebenaran Allah ditambah dengan contoh-contoh para pelayan Allah lainnya adalah suatu hal yang penting bagi pertumbuhan spiritual saya. Dan selama saya berjalan di jalanNya, saya tidak pernah kekurangan keduanya. Kita saling membutuhkan satu sama lain (dalam konteks gereja) apabila kita hendak berhasil. Kekudusan dan komunitas Kristiani akan saling melengkapi satu sama lain. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keyakinan akan keselamatan. Walaupun keselamatan kita tidak didasarkan pada usaha kita untuk mencapai kekudusan, keyakinan akan keselamatan cenderung untuk berkaitan dengan kekudusan hidup. Di dalam surat Petrus yang kedua, Petrus menggugah para pembaca untuk sungguh-sungguh berusaha senantiasa mengumpulkan karakteristik spiritual, menambahkan kepada iman kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang yang dimiliki secara berkelimpahan (2 Petrus 1:5-9). Dia mengingatkan bahwa apabila ada yang tidak memiliki semuanya itu, maka ia akan lupa .... ... bahwa dosa-dosanya yang dahulu telah dihapuskan. Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung. Dengan demikian kepada kamu akan dikaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. (2 Petrus 1:9-11) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengabaran Injil. Sebagai seorang muda yang masih dibawah pengaruh dosa, saya mencoba sebisa saya untuk menemukan kesalahan-kesalahan di dalam hidup orang percaya supaya saya bisa menolak pesan yang mereka sampaikan dan mencap mereka sebagai orang munafik. Namun walaupun mereka tidak sempurna, tapi saya tidak bisa menemukan ketidak-konsistenan yang tergolong fatal. Sebuah keluarga besar yang menjangkau saya dengan Injil lebih memberikan pengaruh kepada saya lewat gaya hidup mereka daripada dengan perkataan-perkataan yang diucapkan. Sang suami mengasihi istrinya, sang istri menghormati suaminya, anak-anak menaati orang tuanya, dan mereka semua sangat bersuka cita. Saya tidak pernah melihat hal seperti itu. {{RightInsert| Renungkan 1 Petrus 2:12. Walaupun orang yang belum percaya mungkin menghina gaya hidup anda sekarang, akibat apa yang mungkin mereka terima pada akhirnya?&lt;br /&gt;
}}&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah disampaikan bahwa meskipun dunia mungkin tidak membaca Alkitab, tapi dunia membaca orang-orang Kristen. Allah menggunakan orang-orang kudus untuk menjangkau orang lain. Bukan orang yang sempurna, namun kudus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemahaman, kebijakan, dan pengetahuan. Harta-harta inilah yang akan diperoleh mereka yang mencari Allah dengan sepenuh hati (Amsal 2:1-11). Mereka terlindungi dari para penghujat, pemberontak, dan para orang bodoh. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat Allah. Alkitab menyatakan, “Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan” (Ibrani 12:14). Meskipun arti sebenarnya dari pasal ini masih dilingkupi oleh misteri, tapi Alkitab bisa memberikan gambaran mengenai “Penglihatan yang Menakjubkan,” atau melihat Allah. Hal itu akan terjadi ketika Tuhan datang kembali, ketika semua musuh sudah dikalahkan dan kita semua sudah disucikan dengan sempurna. Pada saat itu, penglihatan kita mengenai Allah akan berkelanjutan dan intens, tanpa distraksi atau tindakan yang berfokus pada ke ‘aku’ an akibat dari dosa. Bukan berarti pengetahuan kita akan Allah akan menjadi sempurna, karena Ia akan terus menyatakan diriNya lebih dan lebih lagi.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; {{LeftInsert| “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.”&lt;br /&gt;
—Yesus (Matius 5:8) }}&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berbahagialah orang yang suci hatinya, “ kata Yesus, “karena mereka akan melihat Allah” (Matius 5:8). Penyataan akan kebesaran dan kebaikanNya adalah hal terindah yang bisa kita dapatkan apabila kita menjalani hidup kita dengan penuh kekudusan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Seperti yang sudah anda lihat, ada banyak alasan baik yang dapat menggugah kita untuk menutup celah antara harapan Allah akan diri kita, dan pengalaman kita pribadi. Kita diciptakan untuk turut ambil bagian dalam kekudusanNya-bukan hanya di surga, namun juga di bumi. Selangkah demi selangkah, kita bisa belajar untuk mengalahkan dosa dan hidup dengan cara yang semakin lama semakin memancarkan kemuliaan dan karakter Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam bab pertama, kami sudah mencoba untuk menarik minat anda pada kesalehan hidup. Dimulai dari bab kedua, kami akan membangun kerangka Alkitabiah yang dibutuhkan untuk mendukung suatu kehidupan yang kudus- dan penuh sukacita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Diskusi Kelompok  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Apa gejala-gejala yang menandakan seseorang sedang terperangkap di tengah? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Celah antara standar-standar Allah dan perilaku kita sendiri tidak bisa dihindari; namun terlalu berlebihan apabila kita menamakan diri kita munafik. Di mana kita bisa menarik garis untuk membedakan keduanya? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Bagaimana menjelaskan hubungan antara penyucian diri kita dengan sejarah masa lalu dan harapan di masa depan? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Rasa takut akan Allah, menurut penulis, adalah suatu “syarat untuk mencapai keintiman rohani dengan Allah.” (Hal. 7) Apa maksudnya? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Sejauh mana seorang kristen yang dewasa rohani bisa bebas dari dosa? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6. Sekarang setelah anda selesai membaca bagian ini, bagaimana anda akan menjelaskan Matius 5:48 kepada orang yang baru percaya? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Bacaan Yang Direkomendasikan  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
How to Help People Change 'by Jay E. Adams (Grand Rapids, MI: Zondervan Publishing House, 1986) Saved by Grace by Anthony A. Hoekema (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1989) Referensi 1. ↑ Jay E. Adams, The Biblical View of Self-Esteem, Self-Love, Self-Image (Eugene, OR: Harvest House Publishers, 1986), h. 78. 2. ↑ Oscar Cullman, Christ and Time (Philadelphia, PA: The Westminster Press, 1964), h. 3. 3. ↑ John Piper, The Pleasures Of God (Portland, OR: Multnomah Press, 1991), h. 147. 4. ↑ Ern Baxter, pesan yang direkam, “Sanctification,” n.d. 5. ↑ Quoted in Gathered Gold, John Blanchard, ed. (Welwyn, Hertfordshire, England: Evangelical Press, 1984), h.146. 6. ↑ J.C. Ryle, Holiness (Welwyn, Hertfordshire, England: Evangelical Press, 1879, reprinted 1989), h. 39. 7. ↑ 7. Anthony A. Hoekema, Saved by Grace (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1989), h. 192-93. 8. ↑ Jerry Bridges, The Practice of Godliness (Colorado Springs, CO: NavPress, 1983), h. 15-20. 9. ↑ Idem, p. 24. 10. ↑ Idem, p. 26. 11. ↑ J.I. Packer, Concise Theology (Wheaton, IL: Tyndale House, 1993), h. 169. 12. ↑ Sinclair Ferguson, A Heart for God (Colorado Springs, CO: NavPress, 1985), h. 129. 13. ↑ R.A. Muller, The International Standard Bible Encyclopedia, Volume Four (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1988), h. 324. 14. ↑ William Hendriksen, New Testament Commentary: Philippians (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1962), h. 176. 15. ↑ Quoted in Gathered Gold, p.148. 16. ↑ Louis Berkhof, Systematic Theology (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1941), p. 52. ↑ Sumber Asli tidak diketahui&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Susanlim</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/How_Can_I_Change%3F/Caught_in_the_Gap_Trap/id</id>
		<title>How Can I Change?/Caught in the Gap Trap/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/How_Can_I_Change%3F/Caught_in_the_Gap_Trap/id"/>
				<updated>2009-01-28T08:29:40Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Susanlim: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|Bagaimana Saya Bisa Berubah?/Terperangkap di Tengah}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semua yang kini sedang bergumul melawan amarah, silakan maju ke depan. Kami mau berdoa untuk anda.”&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu itu hari Minggu pagi. Saya baru saja menyelesaikan khotbah mengenai amarah, dan saya mau memberikan waktu bagi Roh Kudus untuk bekerja di dalam hati orang-orang yang hadir saat itu. Namun saya terkejut melihat respon yang diberikan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekitar dua puluh orang-orang yang rendah hati maju ke depan mimbar—untuk ukuran gereja kami, jumlah ini cukup besar. Namun, bukan jumlahnya yang menarik perhatian saya. Yang menarik perhatian saya adalah orang-orang yang maju ke depan. Sembilan belas dari dua puluh orang yang maju ke depan adalah para ibu muda! (Amarah sangat rentan dialami oleh para ibu, sejauh yang saya ketahui.) Sebagai gembala, saya tahu bahwa para wanita ini adalah orang kristen yang sungguh-sungguh. Apa yang menyebabkan mereka maju ke depan adalah rasa frustasi mendalam mereka yang dialami karena mereka merasa terperangkap di tengah -- zona antara standar Alkitabiah yang berkaitan dengan penguasaan diri, dan kegagalan mereka untuk hidup menurut standar Alkitabiah itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah masalah itu berkaitan dengan amarah, ketakutan, kekuatiran, atau suatu hal yang umum, seperti kemalasan, kita semua sudah mengalami perasaan terperangkap di tengah, antara siapa diri kita saat ini, dan siapa diri kita seharusnya. Alkitab menyatakan bahwa kita adalah ciptaan baru, para pemenang, penakluk. Dan kita bukan hanya sekedar pemenang, melainkan lebih dari seorang pemenang (Roma 8:37). Kadang kita memang merasa seperti itu. Namun yang lebih sering, kita mengalami kesulitan melihat suatu hal yang melampaui kelemahan-kelemahan dan kegagalan-kegagalan kita. Dan yang menariknya, justru di saat-saat seperti ini, ayat dalam Matius 5:48 mendadak jadi tampil ke permukaan: “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| Untuk Dipelajari Lebih Lanjut: Bahkan Rasul Paulus mengalami saat dimana ia merasa terperangkap di tengah (Roma 7:21-25). Dapatkah anda membandingkan rasa frustrasi anda dengan rasa frustrasi yang dialami Rasul Paulus?}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlahan kita menghela nafas dan berkata,''Hal itu tidak akan pernah menjadi kenyataan''. &amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya menyebut kondisi ini sebagai “perangkap tengah”. Berikut adalah cara kerjanya: Sebagai orang kristen, kita semua memiliki pengetahuan mengenai hal-hal yang diharapkan Allah dari diri kita. Namun pada kenyataannya, apa yang kita capai jauh dari apa yang -kita tahu- sebenarnya harus kita capai. Maka, terciptalah suatu jarak antara apa yang kita tahu harus kita lakukan, dan performa kita yang sesungguhnya. Apabila jarak antara keduanya terlampau jauh, kita bisa saja langsug di cap sebagai seorang munafik. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| “Kehidupan kekristenan semata-mata berkaitan dengan perubahan karakter intrinsik kita menuju karakter Kristus.. Tujuan dari ayat-ayat ini (Misalnya Roma 6, Kolose 3: 5-14, Efesus 4:22-32) adalah untuk menunjukkan kepada kita bahwa ada jarak yang hebat antara siapa kita di dalam Kristus (pembenaran) dan siapa kita sebenarnya dalam kehidupan keseharian kita (pengudusan), yang tujuannya adalah untuk mendorong kita agar kita menutup jarak yang ada antara keduanya... Tujuan Paulus adalah untuk mengugah kita supaya dalam kehidupan keseharian kita, kita mampu menampilkan perilaku-perilaku yang menggambarkan siapa kita sebenarnya di dalam Kristus.” &amp;lt;br&amp;gt;- '''Jay Adams'''}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Situasi ini adalah suatu hal yang nyata dalam kehidupan kekristenan. Bagi sebagian besar, tidak dibutuhkan orang lain untuk memberitahu kita mengenai ketidak-konsistenan di dalam hidup kita—kita semua terlalu manyadarinya. Kesadaran itu seharusnya membuat kita menjadi semakin rendah hati dan menggantungkan diri kepada Tuhan supaya kita bisa berhasil menutup ketidak-konsistenan itu. Namun biasanya momen ‘terjebak di tengah’ ini muncul akibat ketidakpedulian kita akan doktrin atau ajaran mengenai pengudusan. Daripada menyadari kalau jarak ini ada sebagai pertanda bahwa kita membutuhkan pertolongan dari Allah saja, kita malah membiarkan jarak ini untuk menghukum kita, dan memperlambat kemajuan kita. Kita menjadi terjebak dalam pemikiran bahwa kita adalah seorang pecundang, bodoh, orang yang penuh kegagalan... dan mungkin saja bukan benar-benar seorang Kristen. Beberapa orang bahkan terperosok lebih jauh dalam ketidaktaatan. Mereka yang terjebak di situasi seperti ini (dan pada level tertentu, kita semua termasuk di dalamnya) mengalami penderitaan (yang sebenarnya tidak diperlukan) karena patah semangat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai seorang gembala, salah satu tanggung jawab utama saya adalah membantu orang-orang agar bisa keluar dari jebakan ini. Saya sering menyampaikan pada orang-orang, “Hal itu tidak akan instan terjadi, dan membutuhkan usaha yang sungguh-sungguh, namun supaya bisa keluar dari jebakan itu tidaklah rumit. Dan percayalah, anda tidak akan kecewa melihat hasilnya.” Mungkin anda merasa bahwa anda sedang berada di posisi seperti ini. Jika demikian, kami yakin buku ini dapat menolong anda untuk menutup jarak yang ada antara siapa anda seharusnya di dalam Kristus dan siapa anda sebenarnya dalam kehidupan keseharian anda. Dapatkah anda membayangkan kehidupan dimana anda mematahkan kebiasaan-kebiasaan anda yang penuh dosa dan membuat kemajuan nyata dalam kehidupan rohani anda? kehidupan seperti itu sungguh mungkin adanya. Dan buku ini ditulis untuk menguatkan dan menyertai anda seiring dengan usaha anda untuk mencapai yang kehidupan seperti itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| &amp;lt;br&amp;gt;Daftar Isi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1 Diantara “Sekarang” dan “Yang Akan Datang” &amp;lt;br&amp;gt;2 Butuh Obat Kumur? &amp;lt;br&amp;gt;3 Setimpal Dengan Usahanya &amp;lt;br&amp;gt;4 Bagaimana Meraih Kesempurnaan? &amp;lt;br&amp;gt;5 Tujuh Alasan Untuk Menutup Celah &amp;lt;br&amp;gt;6 Diskusi Kelompok &amp;lt;br&amp;gt;7 Bacaan yang Direkomendasikan &amp;lt;br&amp;gt;8 Referensi}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
= Diantara “Sekarang” dan “Yang Akan Datang” &amp;lt;br&amp;gt;  =&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| Apakah ada area-area dalam hidup anda yang anda sadari kurang memenuhi ekpektasi Allah? (Tuliskan dengan singkat sebuah area itu di bawah)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
}}&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; Tidak diragukan, bahwa salah satu hal yang paling membuat kita frustrasi terkait dengan kehidupan kekristenan adalah kontradiksi yang nyata antara siapa kita di mata Allah, dan siapa diri kita dalam pendapat kita sendiri. Ambil contoh jemaat di Korintus, misalnya. Rasul Paulus pada satu titik meyakinkan mereka bahwa, “Kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita.” (1 Korintus 6:11). Sepertinya berhenti sampai di situ saja, bukan? Sampai kita membaca surat kedua Paulus pada jemaat ini, yang isinya nyaris bertolak-belakang dengan yang pertama disampaikan: “Marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah” (2 Korintus 7:1). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di pikiran saya, mungkin saja para jemaat di Korintus merasa bingung. Apakah mereka sudah disucikan... atau masih tercemar? sebenarnya dua-duanya berlaku untuk mereka, dan juga kita. Untuk menjelaskan hal itu, mari saya ajak anda untuk menyimak hal di berikut ini.&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|  Renungkan 1 Yohanes 3:2-3. Apa pengaruh dari pemikiran kita tentang “yang akan datang” terhadap apa yang ada “saat ini”}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kerajaan Allah itu adalah “saat ini” dan “yang akan datang”. Dalam beberapa hal, Kerajaan Allah berkaitan dengan masa kini, dan untuk beberapa hal lainnya, Kerajaan Allah berkaitan dengan masa mendatang. Allah kita telah menyatakan dan menunjukkan bahwa Kerajaan (atau hukum) Allah sudah bersinggungan dengan sejarah manusia: “Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu” (Lukas 11:20). Namun, Kerajaan Allah belum datang seutuhnya. Hal itu tidak akan terjadi sampai Yesus datang kembali dalam kuasaNya, ketika setiap lutut kan bertelut dan semua lidah mengaku bahwa Dialah Allah. Sampai hal itu terjadi, tanpa menyangkal kehadiran Kerajaan Allah yang ada di dalam dunia ini, kita berdoa, “Datanglah Kerajaan-Mu” (Matius 6:10) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan demikian, Kerajaan Allah berjalan seiringan dengan kehidupan kita. Allah, lewat karya pembenaran-Nya, sudah menyatakan bahwa kita adalah orang-orang benar. Posisi kita di mata Allah sudah berubah. Masalah itu sudah diselesaikan sekali dan untuk selama-lamanya di Surga. Namun, di sisi surga lainnya (bumi), perubahan internal kita merupakan suatu proses yang sedang berjalan. Proses penyucian ini membuat saya sibuk sebagai seorang pribadi Kristen, dan juga memberikan saya banyak pekerjaan dan tugas sebagai seorang gembala. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, apakah kita sudah memiliki kemenangan di dalam Yesus atau belum? apakah kita para pemenang, atau apakah kita masih harus berjuang? Oscar Cullmann memberikan ilustrasi dari Perang Dunia ke-2, yang saya percaya dapat membantu kita menangkap hal yang kesannya bertentangan ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejarah mencatat dua peristiwa besar yang menjadi pangkal berakhirnya Perang Dunia ke-2: D-Day dan VE-Day. D-Day terjadi pada 6 Juni 1944, ketika para pasukan Sekutu mendarat di Normandy, Perancis. Ini adalah titik balik dalam perang yang berlangsung; ketika pendaratan ini berhasil, nasib Hitler sudah sangat jelas. Pada dasarnya, perang sudah berakhir. Namun kemenangan total di Eropa (VE-Day) tidak terjadi sampai tanggal 7 Mei 1945 ketika pasukan Jerman menyerah di Berlin. Periode sebelas bulan ini dicatat sebagai salah satu periode pertumpahan darah terbesar sepanjang sejarah perang. Pertempuran-pertempuran terjadi di seluruh Perancis, Belgia, dan Jerman. Walaupun secara fisik para musuh sudah terluka, namun mereka tidak sepenuhnya menyerah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| “Pemilihan Ilahi adalah jaminan bahwa Allah akan bekerja dalam melengkapi pemilihan kita (untuk diselamatkan oleh anugerah-Nya) dengan anugerah pengudusan-Nya. Ini adalah arti dari Perjanjian Baru: Allah tidak hanya sekedar memerintahkan agar kita taat kepadaNya, namun juga memberikan kemampuan pada kita untuk menaatiNya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-John Piper }}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salib adalah D-Day kita. Di sana, Tuhan kita Yesus Kristus mati disalibkan, untuk mematahkan belenggu dosa dari umatNya. Berdasarkan kematian dan kebangkitanNya, kita semua dibenarkan. Namun, kemenangan akhir akan terjadi ketika Ia datang. Tidak ada keraguan mengenai hasil akhirnya. Namun kita masih akan menemui gesekan-gesekan dan pertandingan-pertandingan sampai Tuhan muncul di dalam kemuliaanNya untuk memusnahkan kuasa kegelapan selamanya. &lt;br /&gt;
{{RightInsert| Untuk Bacaan Lebih Lanjut: Bacalah 1 Petrus 5:8-9. Walaupun kemenangan akhir Allah tidak bisa disangkal, namun kita harus tetap berjuang melawan musuh kita.}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fakta ini, apabila kita tetap berusaha untuk mengingatnya, dapat membuat kita tidak patah semangat. Pertarungan masih berlangsung, namun peperangan utama sudah dimenangkan. Kesadaran akan karya pengorbanan Kristus yang telah dilakukan bagi kita sangat penting untuk memacu semangat moral kita seiring dengan usaha kita untuk mencapai suatu kekudusan hidup. Kita harus mempelajari dan merenungkan doktrin utama mengenai pembenaran sampai hal itu sungguh tertanam dalam kesadaran kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== '''Butuh Obat Kumur?'''  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun kita sudah dibenarkan sepenuhnya di dalam Kristus (D-Day), bukan berarti kita sudah sepenuhnya disucikan (VE-Day). Beberapa orang gagal memahami hal ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengajar Alkitab Ern Baxter menyampaikan kejadian yang terjadi saat Latter Rain Revival di akhir tahun 1940-an. Ada suatu ajaran menyimpang yang dinamakan “manifestasi anak-anak Allah”. Pada intinya ajaran itu menyampaikan doktrin yang menjanjikan kekudusan total di dalam hidup ini. Pada bentuk ekstrimnya, ajaran itu termasuk kepercayaan bahwa elit spiritual akan menerima tubuh kemuliaan sebelum kedatangan Kristus untuk kedua kalinya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada sesi penutupan acara dimana Baxter menjadi pembicaranya, beberapa ‘anak-anak Allah’ muncul di pojok auditorium berbalutkan jubah putih. Ketika ia selesai menyampaikan Firman, mereka berjalan ke depan dan mulai mencoba untuk menarik pengikut-pengikut baru bagi doktrin mengenai kesempurnaan total yang mereka ajarkan. Ketika ia mengingat peristiwa itu, ia menyatakan, “Wanita yang menjadi kelompok di grup itu benar-benar membutuhkan Listerine (merek obat kumur). Bukan itu jenis kesempurnaan yang saya nantikan.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih umum dari skenario yang terjadi lewat peristiwa yang dialami oleh Ern Baxter diatas, adalah situasi-situasi yang terjadi akibat dari kurangnya pengetahuan dan kecenderungan untuk menyederhanakan konsep kekudusan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| 2 Kalau anda mencari kesempurnaan total di dalam hidup ini, kira-kira mana dari antara beberapa hal di bawah ini yang paling sulit untuk dilakukan oleh anda? &lt;br /&gt;
❏Sama sekali tidak akan pernah mengendarai mobil lebih dari batas kecepatan. &lt;br /&gt;
❏Berbicara dengan hangat dan lembut pada setiap sales yang menelepon rumah anda. &lt;br /&gt;
❏Mengindari semua kalori yang tidak dibutuhkan. &lt;br /&gt;
❏Tidak pernah memukul jam weker anda ketika ia membangunkan anda. &lt;br /&gt;
❏Senantiasa membayar pajak penghasilan anda dengan sukacita.}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu saya baru menjadi orang percaya, saya berjumpa dengan seorang pria muda bernama Greg, mengaku menjadi seorang perampok dan pengguna obat terlarang yang sepertinya bertobat waktu di dalam penjara. Pegangan hidup Greg dalam menjalani kehidupan kekristenan sangat memukau diri saya. Ia membawakan dirinya dengan keyakinan penuh dan sedikit keangkuhan. Ia berbicara seakan-akan dosa itu bukan menjadi suatu masalah lagi baginya. Lebih dari sekali dia mengatakan kepada saya betapa ia sudah “diselamatkan, disucikan, dan dipenuhi oleh Roh Kudus.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar dia mengatakan hal itu, sepertinya membuat hal itu seakan-akan mudah dan sederhana. Sebagai seorang Kristen yang baru, pada suatu waktu ia naik ke dalam kereta, dan waktu dia baru berangkat, beberapa jam kemudian ia sudah mengalami apa yang dinamakan olehnya sebagai “pengalaman pengudusan.” Dia berusaha meyakinkan saya bahwa pengalaman itu adalah hal yang dibutuhkan pertama kali untuk menerima baptisan Roh Kudus, dan sekali itu terjadi, itu akan berlaku selamanya. Saya harus mengakui di sini, bahwa ada beberapa hal tentang Greg yang kesannya tidak terlalu kudus. Ia mempunyai kecenderungan untuk menghakimi orang dan perilaku seorang farisi. Ia bisa menjadi seorang yang terlalu menguasai dan picik. Saya ingat pada suatu saat ketika seorang teman tidak sengaja meletakkan suatu benda di atas Alkitabnya: “Maaf—itu kan Firman Allah!” Tapi tetap saja, dia yakin dia bisa mengutip Alkitab, dan sepertinya sangat memahami perihal pengudusan.&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
{{RightInsert| Untuk Renungan Lebih Lanjut: Bacalah Matius 26:41. Kapan waktunya kita bisa aman menganggap bahwa kita sudah “sampai” pada titik pengudusan?}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sangat mengejutkan ketika pada akhirnya ia kembali mengedarkan dan memakai obat terlarang. Masalah Greg terkait dengan kurangnya pemahaman dan juga kesalah-pahaman mengenai ajaran Alkitab terkait dengan konsep pengudusan. Ia sudah melakukan kesalahan seperti yang banyak orang lakukan dengan hanya memfokuskan perhatian pada beberapa ayat Alkitab favorit yang sepertinya membenarkan pengalaman pribadinya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| &amp;quot;Kekudusan bukan jalan menuju Kristus. Kristus, adalah jalan menuju kekudusan.&amp;quot; —&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adrian Rogers}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; Kekudusan itu sifatnya pasti (terjadi saat kita bertobat) dan progresif (terus berlangsung). Semua ini tidak terjadi pada sekali waktu di masa lalu, dan bukan juga suatu hal yang akan terjadi secara bertahap. Kita sudah diubahkan dan kita sedang berubah. Tanpa mengesampingkan keberhasilan pendaratan kita di Normandy, marilah kita bijak dan realistis saat menilai adanya oposisi yang ada diantara kita dan Berlin. Kita tidak punya pilihan yang memungkinkan kita untuk mendapatkan tiket naik ke dalam kereta pengudusan, seperti yang Greg yakini. Hal itu akan menjadi suatu pertandingan di setiap langkah kehidupan kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Setimpal dengan Usahanya  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi beberapa orang, “pengudusan” adalah suatu istilah teologis yang sering didengar, namun jarang dimengerti. Kedengarannya itu adalah suatu hal yang cocok untuk mahasiswa teologia dan kurang praktis untuk kehidupan sehari-hari. Namun sebaliknya, hal itu adalah suatu hal yang sangat amat praktis, dan bisa dikaitan dengan kehidupan keseharian. Doktrin mengenai pengudusan bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh hampir seluruh orang Kristen di dalam sejarah gereja. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana saya bisa berubah? &amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana saya bisa bertumbuh? &amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana saya menjadi serupa dengan Kristus? &amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana saya bisa tidak terperangkap di tengah? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apapun yang bisa menjawab pertanyaan itu akan mengharuskan kita untuk melakukan beberapa usaha. Lampiran A (halaman 93) menunjukkan bahwa beberapa cabang gereja sudah membicarakan masalah ini di masa lalu, namun mari kita lihat apa yang bisa kita pelajari mengenai aplikasi dari doktrin yang penting ini pada masa kini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Arti Alkitabiah dari kata menguduskan (menyucikan) adalah “untuk memisahkan; mengkhususkan.” (Kesucian berasal dari akar kata yang sama dalam bahasa Yunani) Hal ini bisa diaplikasikan pada orang, tempat, situasi, atau benda tertentu. Ketika suatu hal dikuduskan, hal itu akan dipisahkan dari pemakaian pada umumnya dan didedikasikan untuk kepentingan khusus. Misalnya, pada jaman Musa, Hari Raya Pendamaian dikuduskan bagi Allah yang Kudus. Hari itu menjadi hari yang kudus. Sebuah hal yang dikuduskan tidak akan serta merta menjadi suci karena dipisahkan dari hal lainnya; kesucian yang didapat akan berasal dari untuk apa (atau kepada siapa) kah hal itu disucikan. Karena hanya Allah saja yang suci, maka hanya Dia-lah yang bisa mengimpartasikan kesucian. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara teologis, istilah “pengudusan” telah dipergunakan untuk menggambarkan proses yang dilalui oleh seorang percaya ketika Roh Allah sedang bekerja di dalam hidupnya untuk membuat dirinya semakin menyerupai Kristus. Prosesnya dimulai saat kita lahir baru, dan terus berlangsung sepanjang kita hidup. Hal ini ditandai dengan konflik keseharian seiring dengan usaha kita untuk mengalahkan dosa yang ada di dalam diri kita dengan anugerah dan kekuatan yang Allah berikan bagi kita. Camkan di dalam pikiran bahwa rasa bersalah yang didapat dari dosa sudah dihilangkan lewat pembenaran, sebagaimana yang dijelaskan oleh Anthony Hoekema; penyucian menghilangkan pencemaran akibat dosa: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang dimaksud dengan rasa bersalah adalah kondisi di mana kita layak mendapatkan penghukuman atau harus bertanggung jawab untuk menerima hukuman karena telah melanggar hukum Allah. Yang dimaksud dengan pembenaran, sebagai tindakan deklaratif Allah, adalah bahwa rasa bersalah akibat dosa dihilangkan atas dasar karya utama Yesus Kristus. Yang dimaksud dengan pencemaran adalah bahwa kita memiliki kecenderungan bawaan yang terjadi sebagai akibat dari dosa yang juga pada akhirnya menciptakan dosa lain lebih lanjut. Sebagai akibat dari kejatuhan Adam dan Hawa, kita semua lahir dengan kondisi seperti ini; dosa-dosa yang kita lakukan tidak hanya berasal dari kecenderungan kita untuk berdosa, namun juga menambah kecenderungan itu sendiri. Yang dimaksud dengan penyucian adalah kondisi dimana pencemaran yang didapat dari dosa sedang dalam proses (tahapan) pembersihan (walaupun hal itu tidak akan sepenuhnya dibersihkan sampai kita memasuki hidup baru di Surga). &lt;br /&gt;
{{RightInsert| Untuk Bacaan Lebih Lanjut: Apakah anda menyadari betapa penting dan bermanfaatnya apabila kita memiliki perasaan takut akan Allah? (Lihat Mazmur 19:9 dan 25:14, Amsal 1:7 dan 9:10, dan 1 Petrus 1:17.)}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alkitab juga mendefinisikan penyucian sebagai proses pertumbuhan menuju hidup yang saleh. Hidup yang saleh merujuk pada suatu kehidupan yang menunjukkan dedikasi kepada Allah, dan karakter yang muncul akibat dedikasi tersebut. Hidup yang saleh melibatkan kasih terhadap Allah dan kerinduan akan Allah. Selain itu juga mengandung rasa takut akan Allah, yang menurut John Murray adalah “jiwa dari hidup yang saleh”. Karena telah ditebus dari ancaman hukuman kekal, orang Kristen menyatakan rasa takutnya kepada Allah dengan memfokuskan diri tidak kepada murka Allah, tapi kepada “kemuliaan, kekudusan dan keagunganNya...” Rasa takut akan Allah mempunyai dampak yang baik bagi hati kita, dimana rasa ini akan memurnikan hati kita, dan juga hal ini adalah syarat apabila kita hendak menjalin hubungan yang lebih intim dengan Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hidup yang saleh melibatkan lebih dari sekedar unsur moralitas atau tindakan fanatik. Hal tersebut berasal dari kesatuan dengan Kristus dan hasrat untuk memuliakanNya. Seorang yang saleh akan berkeinginan untuk menjadi seperti Tuhan-nya juga ingin untuk menyenangkan hatiNya. Ia ingin merasakan apa yang dirasakan olehNya, memikirkan apa yang dipikirkan oleh Tuhan-nya melebihi dirinya sendiri, dan melakukan apa yang menjadi kehendakNya. Secara singkat, orang seperti ini ingin menjadi seseorang yang memiliki karakter Allah, sehingga Allah bisa dimuliakan lewat hidupnya. Tidak ada hal lain yang layak diperjuangkan sepanjang hidup kita: “Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang” (1 Timotius 4:8). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baik Allah maupun manusia memegang peran penting dalam konteks penyucian. Allah, dengan anugerahNya, memulai karya penebusan di dalam kita dan memberikan keinginan serta kuasa untuk mengalahkan dosa. Sebagai respon sekaligus sambil bersandar pada anugerahNya, kita menaati perintah Alkitab&amp;amp;nbsp;: “karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya. Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan” (Filipi 2:12-13) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
{{RightInsert|“Penyucian, menurut Westminster Shorter Catechism, adalah ‘pekerjaan dari anugerah Allah yang diberikan secara cuma-cuma, dimana kita diperbaharui menjadi manusia seutuhnya berdasarkan gambaran Allah, dan dimampukan lebih dan lebih lagi untuk mati bagi dosa, dan hidup bagi kebenaran.’ Konsep yang terkandung di dalam hal ini adalah bukan berarti dosa itu dihapuskan total (hal ini terlalu berlebihan) atau hanya ditangkis (hal ini terlalu meremehkan), namun berkaitan dengan perubahan karakter ilahi kita yang membebaskan kita dari kebiasaan-kebiasaan kita yang penuh dosa dan membentuk kita menjadi serupa dengan Kristus dalam hal perasaan, sifat, dan karakteristik-karakteristik lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
— J.I. Packer&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam Perjanjian Baru, posisi dari hidup kudus itu berada pada titik tengah antara legalitas di satu sisi, dan lisensi di sisi lainnya. Semua tradisi gereja yang terlalu menitik beratkan pada karya Allah di dalam kita tanpa menaruh pengharapan bahwa karya itu akan menghasilkan suatu hasrat yang terus bertambah di dalam diri kita untuk menuju suatu kesalehan hidup, akan cenderung menuju ke arah lisensi. “Karena, seperti yang telah kerap kali kukatakan kepadamu, dan yang kunyatakan pula sekarang sambil menangis, banyak orang yang hidup sebagai seteru salib Kristus. Kesudahan mereka ialah kebinasaan, Tuhan mereka ialah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi” (Filipi 3:18-19). Di lain pihak ada juga pihak yang terlalu menitik beratkan pada porsi manusia sehingga mereka menyimpang dari kebenaran Allah dan berakhir pada prinsip legalitas. (Tentu saja seluruh hal ini mempunyai kadar yang bervariasi). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| Renungkan 1 Timotius 6: 11-16. Paulus adalah seorang yang sangat mampu menjadi seorang motivator yang handal. }}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Bagaimana Meraih Kesempurnaan &amp;lt;br&amp;gt; ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu pertanyaan yang umum diucapkan oleh orang Kristen adalah, “Sejauh mana saya bisa berharap pada proses penyucian ini? Apakah pada akhirnya saya bisa benar-benar bebas dari dosa?” Jenis pertanyaan ini akan menjadi relevan terutama ketika kita membaca pernyataan seperti yang disampaikan oleh Paulus kepada jemaat di Filipi: “Karena itu marilah kita, yang sempurna, berpikir demikian. Dan jikalau lain pikiranmu tentang salah satu hal, hal itu akan dinyatakan Allah juga kepadamu” (Filipi 3:15). Bahkan Yesus menyampaikan hal itu lebih gamblang di ayat yang sudah disebutkan sebelumnya: “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna” (Matius 5:48).&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| 3 Cobalah untuk menjawab kuis Benar/Salah di bawah ini, untuk mengetahui sejauh mana anda sudah memahami materi ini: (Jawaban dicetak terbalik di bagian bawah halaman 9) &lt;br /&gt;
• Arti dari kata “menguduskan (menyucikan)” adalah “menajiskan, memisahkan” B S &lt;br /&gt;
• Proses penyucian dimulai saat kita lahir baru, dan terus berlangsung sepanjang kita hidup. B S &lt;br /&gt;
• Rasa bersalah yang didapat dari dosa sudah dihilangkan lewat pembenaran B S&lt;br /&gt;
• Hidup yang saleh hanya memiliki arti yang berkaitan dengan unsur moralitas atau tindakan fanatik seseorang. B S &lt;br /&gt;
• Hanya Allah yang bertanggung jawab terhadap proses penyucian kita. B S}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah Allah sungguh berharap supaya kita mencapai tahap kesempurnaan? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keinginan untuk menjadi sempurna sudah menginspirasi banyak orang untuk mencari Allah. Di sepanjang sejarah manusia, banyak penulis puisi dan filosofer yang mengekspresikan keinginan untuk mencapai kembali kesucian hidup. Penulis lagu kontemporer Crosby, Stills, dan Nash merayakan pengalaman Woodstock dengan lagu yang berlirik, “Kita adalah debu bintang-bintang, kita ini berharga, kita terjebak di dalam penawaran iblis. Dan kita harus mencari cara kembali ke Taman (Surga).” Masalahnya, kita semua tahu kalau kita ini jauh dari kesempurnaan. Dalam dunia khayal perfilman, Mary Poppins bisa saja dengan riang menyatakan bahwa dia adalah “sempurna di segala hal,” namun di kehidupan nyata, hal itu tidak mungkin terjadi. Dan tentu saja kita tidak bisa menjadi sempurna lewat metode Woodstock. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert| &amp;quot;Ketika terang cahaya...kemuliaan Allah jatuh ke atas roh kita, kita dimenangkan dari segala pemikiran yang palsu dan kurang tepat mengenai kesucian kita sendiri. Kita juga dilindungi dari segala pengajaran murahan yang mendorong kita untuk mempercayai bahwa ada jalan-jalan pintas yang memudahkan kita untuk mencapai kesucian hidup. Kesucian hidup bukanlah sebuah pengalaman; itu adalah penyatuan kembali karakter kita, juga pemugaran kembali satu hal yang sudah menjadi reruntuhan. Hal itu memerlukan ketrampilan dan merupakan suatu proyek jangka panjang yang memerlukan segala hal yang sudah diberikan oleh Allah dalam menjalani hidup kita juga untuk mencapai suatu kesalehan hidup.&amp;quot;[12]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
— Sinclair Ferguson }}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
R.A. Muller menyatakan bahwa Alkitab jelas menyatakan bahwa kita harus menjadi sempurna, namun pada saat yang bersamaan memberikan bukti bahwa kesempurnaan penuh itu tidak bisa dicapai di dalam hidup ini. Hal ini menghantarkan kita pada titik dilematis. Kita tidak bisa secara bebas mengangkat tangan dan mengakui kekalahan. Namun kita juga tidak bisa memiliki mentalitas ‘over pede (percaya diri)’ berkaitan dengan konsep kesempurnaan, yang lebih umum ditemukan di dalam konteks metode berpikir positif daripada yang ada di dalam Alkitab. Satu-satunya cara untuk memecahkan dilema ini adalah dengan menyadari bahwa Perjanjian Baru melihat konsep kesempurnaan dalam dua cara. Pandangan Paulus tentang jemaat Filipi adalah kedewasaan, bukan ketidak-bercelaan. Perhatikan bagaimana Alkitab versi New International Version menerjemahkan perkataannya kepada gereja di Filipi: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Setiap dari kita yang sudah dewasa harus memiliki kecenderungan yang sama dalam berbagai hal” (Fil 3:15). “Kesempurnaan” dalam hal ini bisa lebih tepat didefinisikan sebagai “mereka yang sudah menunjukkan perkembangan berarti dalam hal spiritualitas dan keseimbangan hidup” &amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| Renungkan 1 Petrus 1:14-16. Apakah perintah ini kedengarannya tidak realistis? Apakah mungkin Allah meminta anda untuk melakukan suatu hal yang mustahil? }}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adalah suatu hal yang alamiah apabila semua anak mau untuk bertumbuh dengan sempurna. Ini juga berlaku bagi orang percaya. Daripada mengambil pendekatan jalan pintas dan prinsip mencoba-coba dalam mencapai pertumbuhan, kita seharusnya membiarkan panggilan untuk menjadi sempurna itu mendorong kita untuk masuk ke dalam proses pencarian yang serius mengenai bagaimana caranya supaya kita menjadi seperti Yesus. Contoh dari Paulus sendiri seharusnya mampu menjadi contoh bagi kita semua: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert| Jawaban: S, B, B, S, S }} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena aku pun telah ditangkap oleh Kristus Yesus. Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus. (Filipi 3:12-14) &amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| 4 Ada stiker mobil yang pernah populer, bertuliskan, “Orang Kristen Itu Tidak Sempurn – Hanya Dimaafkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; {{RightInsert| “Pertama-tama kita harus dibuat menjadi sesuatu yang baik sebelum kita bisa melakukan kebaikan.” — Hugh Latimer}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita melihat pengulangan kata sempurna di dalam surat Paulus yang pertama kepada jemaat di Korintus. “Tetapi jika yang sempurna tiba,” katanya, “maka yang tidak sempurna itu akan lenyap” (1 Korintus 13:10). Dalam konteks ini, sempurna adalah istilah yang diberikan secara khusus pada Allah Bapa– sebuah konsep kesempurnaan yang tidak akan bisa ditemukan sampai Kristus datang. Teolog Louis Berkhof lebih cenderung untuk membicarakan kesempurnaan-kesempurnaan Allah daripada kualitas karakteristikNya. Allah itu benar-benar tak bercacat cela. Tidak peduli seberapa matangnya kita di dalam hidup ini, kita tidak akan pernah mencapai kesempurnaan sampai suatu saat Allah menyempurnakan kita di dalam kemuliaan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Tujuh Alasan Untuk Menutup Celah  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada umumnya, dunia sudah memiliki kesan negatif terhadap kesucian. Banyak pihak menyamakan hal itu dengan suatu hal yang suram, memikul salib tanpa adanya sukacita. Hal itu lebih dilihat sebagai suatu kondisi “lebih-suci-dari-kamu” sebagai suatu tindakan pembenaran diri sendiri, daripada melihat hal itu sebagai suatu pengalaman yang penuh sukacita. Sebelum kita menutup bagian ini, marilah kita menghilangkan pendapat demikian dengan melihat pada beberapa keuntungan dan berkat yang dapat kita peroleh dari tindakan mengikuti Kristus. Ini adalah tujuh buah dari penyucian (pengudusan): &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah dipermuliakan. Ketika kita suci, kita semakin mempercayai bahwa Allah itu sungguh nyata dan menakjubkan seperti yang dinyatakan sendiri olehNya. Paulus menyatakan bahwa pekerjaan-pekerjaan baik yang dilakukan oleh orang Kristen memperindah doktrin mengenai Kristus (Titur 2:10). Bahkan mereka yang menolak Allah akan dipaksa untuk mengakui keberadaanNya ketika para pengikutnya berjalan di jalanNya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hubungan berkelanjutan dengan Allah Bapa di dalam hidup ini. “Jika seorang mengasihi Aku,” kata Yesus “ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia” (Yohanes 14:23). Merupakan suatu sukacita dan ketenangan yang luar biasa apabila kita mengalami hadirat Allah dan Anak melalui Roh kudus. Dan Yesus menandakan bahwa hadirat ini adalah suatu hadirat yang dipenuhi dengan kasih, bukan dengan nuansa yang dingin. Tentu saja, bersamaan dengan kehadiranNya akan datang juga kuasaNya, yang memampukan kita untuk mengalahkan tantangan-tantangan di dalam hidup kita. &amp;lt;br&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Persekutuan dengan orang percaya lainnya. Apabila kita berjalan di dalam kegelapan, kita tidak bisa menikmati persekutuan yang tulus dengan sesama orang percaya. “Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa” (1 Yohanes 1:7). Allah berjanji untuk melengkapi kita dengan belas kasihan, hai rekan-rekan seperjalanan yang sedang menjalani jalan menuju penyucian. Bagi saya pribadi, saya menemukan bahwa kebenaran Allah ditambah dengan contoh-contoh para pelayan Allah lainnya adalah suatu hal yang penting bagi pertumbuhan spiritual saya. Dan selama saya berjalan di jalanNya, saya tidak pernah kekurangan keduanya. Kita saling membutuhkan satu sama lain (dalam konteks gereja) apabila kita hendak berhasil. Kekudusan dan komunitas Kristiani akan saling melengkapi satu sama lain. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keyakinan akan keselamatan. Walaupun keselamatan kita tidak didasarkan pada usaha kita untuk mencapai kekudusan, keyakinan akan keselamatan cenderung untuk berkaitan dengan kekudusan hidup. Di dalam surat Petrus yang kedua, Petrus menggugah para pembaca untuk sungguh-sungguh berusaha senantiasa mengumpulkan karakteristik spiritual, menambahkan kepada iman kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang yang dimiliki secara berkelimpahan (2 Petrus 1:5-9). Dia mengingatkan bahwa apabila ada yang tidak memiliki semuanya itu, maka ia akan lupa .... ... bahwa dosa-dosanya yang dahulu telah dihapuskan. Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung. Dengan demikian kepada kamu akan dikaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. (2 Petrus 1:9-11) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengabaran Injil. Sebagai seorang muda yang masih dibawah pengaruh dosa, saya mencoba sebisa saya untuk menemukan kesalahan-kesalahan di dalam hidup orang percaya supaya saya bisa menolak pesan yang mereka sampaikan dan mencap mereka sebagai orang munafik. Namun walaupun mereka tidak sempurna, tapi saya tidak bisa menemukan ketidak-konsistenan yang tergolong fatal. Sebuah keluarga besar yang menjangkau saya dengan Injil lebih memberikan pengaruh kepada saya lewat gaya hidup mereka daripada dengan perkataan-perkataan yang diucapkan. Sang suami mengasihi istrinya, sang istri menghormati suaminya, anak-anak menaati orang tuanya, dan mereka semua sangat bersuka cita. Saya tidak pernah melihat hal seperti itu. &lt;br /&gt;
{{RightInsert| Renungkan 1 Petrus 2:12. Walaupun orang yang belum percaya mungkin menghina gaya hidup anda sekarang, akibat apa yang mungkin mereka terima pada akhirnya?&lt;br /&gt;
}}&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah disampaikan bahwa meskipun dunia mungkin tidak membaca Alkitab, tapi dunia membaca orang-orang Kristen. Allah menggunakan orang-orang kudus untuk menjangkau orang lain. Bukan orang yang sempurna, namun kudus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemahaman, kebijakan, dan pengetahuan. Harta-harta inilah yang akan diperoleh mereka yang mencari Allah dengan sepenuh hati (Amsal 2:1-11). Mereka terlindungi dari para penghujat, pemberontak, dan para orang bodoh. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat Allah. Alkitab menyatakan, “Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan” (Ibrani 12:14). Meskipun arti sebenarnya dari pasal ini masih dilingkupi oleh misteri, tapi Alkitab bisa memberikan gambaran mengenai “Penglihatan yang Menakjubkan,” atau melihat Allah. Hal itu akan terjadi ketika Tuhan datang kembali, ketika semua musuh sudah dikalahkan dan kita semua sudah disucikan dengan sempurna. Pada saat itu, penglihatan kita mengenai Allah akan berkelanjutan dan intens, tanpa distraksi atau tindakan yang berfokus pada ke ‘aku’ an akibat dari dosa. Bukan berarti pengetahuan kita akan Allah akan menjadi sempurna, karena Ia akan terus menyatakan diriNya lebih dan lebih lagi.&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.”&lt;br /&gt;
—Yesus (Matius 5:8) }}&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berbahagialah orang yang suci hatinya, “ kata Yesus, “karena mereka akan melihat Allah” (Matius 5:8). Penyataan akan kebesaran dan kebaikanNya adalah hal terindah yang bisa kita dapatkan apabila kita menjalani hidup kita dengan penuh kekudusan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Seperti yang sudah anda lihat, ada banyak alasan baik yang dapat menggugah kita untuk menutup celah antara harapan Allah akan diri kita, dan pengalaman kita pribadi. Kita diciptakan untuk turut ambil bagian dalam kekudusanNya-bukan hanya di surga, namun juga di bumi. Selangkah demi selangkah, kita bisa belajar untuk mengalahkan dosa dan hidup dengan cara yang semakin lama semakin memancarkan kemuliaan dan karakter Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam bab pertama, kami sudah mencoba untuk menarik minat anda pada kesalehan hidup. Dimulai dari bab kedua, kami akan membangun kerangka Alkitabiah yang dibutuhkan untuk mendukung suatu kehidupan yang kudus- dan penuh sukacita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Diskusi Kelompok  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Apa gejala-gejala yang menandakan seseorang sedang terperangkap di tengah? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Celah antara standar-standar Allah dan perilaku kita sendiri tidak bisa dihindari; namun terlalu berlebihan apabila kita menamakan diri kita munafik. Di mana kita bisa menarik garis untuk membedakan keduanya? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Bagaimana menjelaskan hubungan antara penyucian diri kita dengan sejarah masa lalu dan harapan di masa depan? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Rasa takut akan Allah, menurut penulis, adalah suatu “syarat untuk mencapai keintiman rohani dengan Allah.” (Hal. 7) Apa maksudnya? 5. Sejauh mana seorang kristen yang dewasa rohani bisa bebas dari dosa? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6. Sekarang setelah anda selesai membaca bagian ini, bagaimana anda akan menjelaskan Matius 5:48 kepada orang yang baru percaya? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Bacaan Yang Direkomendasikan ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
How to Help People Change 'by Jay E. Adams (Grand Rapids, MI: Zondervan Publishing House, 1986) Saved by Grace by Anthony A. Hoekema (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1989) Referensi 1. ↑ Jay E. Adams, The Biblical View of Self-Esteem, Self-Love, Self-Image (Eugene, OR: Harvest House Publishers, 1986), h. 78. 2. ↑ Oscar Cullman, Christ and Time (Philadelphia, PA: The Westminster Press, 1964), h. 3. 3. ↑ John Piper, The Pleasures Of God (Portland, OR: Multnomah Press, 1991), h. 147. 4. ↑ Ern Baxter, pesan yang direkam, “Sanctification,” n.d. 5. ↑ Quoted in Gathered Gold, John Blanchard, ed. (Welwyn, Hertfordshire, England: Evangelical Press, 1984), h.146. 6. ↑ J.C. Ryle, Holiness (Welwyn, Hertfordshire, England: Evangelical Press, 1879, reprinted 1989), h. 39. 7. ↑ 7. Anthony A. Hoekema, Saved by Grace (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1989), h. 192-93. 8. ↑ Jerry Bridges, The Practice of Godliness (Colorado Springs, CO: NavPress, 1983), h. 15-20. 9. ↑ Idem, p. 24. 10. ↑ Idem, p. 26. 11. ↑ J.I. Packer, Concise Theology (Wheaton, IL: Tyndale House, 1993), h. 169. 12. ↑ Sinclair Ferguson, A Heart for God (Colorado Springs, CO: NavPress, 1985), h. 129. 13. ↑ R.A. Muller, The International Standard Bible Encyclopedia, Volume Four (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1988), h. 324. 14. ↑ William Hendriksen, New Testament Commentary: Philippians (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1962), h. 176. 15. ↑ Quoted in Gathered Gold, p.148. 16. ↑ Louis Berkhof, Systematic Theology (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1941), p. 52. ↑ Sumber Asli tidak diketahui&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Susanlim</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/How_Can_I_Change%3F/Caught_in_the_Gap_Trap/id</id>
		<title>How Can I Change?/Caught in the Gap Trap/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/How_Can_I_Change%3F/Caught_in_the_Gap_Trap/id"/>
				<updated>2009-01-01T06:03:53Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Susanlim: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{InProcess|user=|date=}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{info| Bagaimana Saya Bisa Berubah? / Terperangkap di Tengah}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semua yang kini sedang bergumul melawan amarah, silakan maju ke depan. Kami mau berdoa untuk anda.”&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu itu hari Minggu pagi. Saya baru saja menyelesaikan khotbah mengenai amarah, dan saya mau memberikan waktu bagi Roh Kudus untuk bekerja di dalam hati orang-orang yang hadir saat itu. Namun saya terkejut melihat respon yang diberikan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekitar dua puluh orang-orang yang rendah hati maju ke depan mimbar—untuk ukuran gereja kami, jumlah ini cukup besar. Namun, bukan jumlahnya yang menarik perhatian saya. Yang menarik perhatian saya adalah orang-orang yang maju ke depan. Sembilan belas dari dua puluh orang yang maju ke depan adalah para ibu muda! (Amarah sangat rentan dialami oleh para ibu, sejauh yang saya ketahui.) Sebagai gembala, saya tahu bahwa para wanita ini adalah orang kristen yang sungguh-sungguh. Apa yang menyebabkan mereka maju ke depan adalah rasa frustasi mendalam mereka yang dialami karena mereka merasa terperangkap di tengah -- zona antara standar Alkitabiah yang berkaitan dengan penguasaan diri, dan kegagalan mereka untuk hidup menurut standar Alkitabiah itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah masalah itu berkaitan dengan amarah, ketakutan, kekuatiran, atau suatu hal yang umum, seperti kemalasan, kita semua sudah mengalami perasaan terperangkap di tengah, antara siapa diri kita saat ini, dan siapa diri kita seharusnya. Alkitab menyatakan bahwa kita adalah ciptaan baru, para pemenang, penakluk. Dan kita bukan hanya sekedar pemenang, melainkan lebih dari seorang pemenang (Roma 8:37). Kadang kita memang merasa seperti itu. Namun yang lebih sering, kita mengalami kesulitan melihat suatu hal yang melampaui kelemahan-kelemahan dan kegagalan-kegagalan kita. Dan yang menariknya, justru di saat-saat seperti ini, ayat dalam Matius 5:48 mendadak jadi tampil ke permukaan: “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| Untuk Dipelajari Lebih Lanjut: Bahkan Rasul Paulus mengalami saat dimana ia merasa terperangkap di tengah (Roma 7:21-25). Dapatkah anda membandingkan rasa frustrasi anda dengan rasa frustrasi yang dialami Rasul Paulus?}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlahan kita menghela nafas dan berkata, Hal itu tidak akan pernah menjadi kenyataan. Saya menyebut kondisi ini sebagai “perangkap tengah”. Berikut adalah cara kerjanya: Sebagai orang kristen, kita semua memiliki pengetahuan mengenai hal-hal yang diharapkan Allah dari diri kita. Namun pada kenyataannya, apa yang kita capai jauh dari apa yang -kita tahu- sebenarnya harus kita capai. Maka, terciptalah suatu jarak antara apa yang kita tahu harus kita lakukan, dan performa kita yang sesungguhnya. Apabila jarak antara keduanya terlampau jauh, kita bisa saja langsug di cap sebagai seorang munafik. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| “Kehidupan kekristenan semata-mata berkaitan dengan perubahan karakter intrinsik kita menuju karakter Kristus.. Tujuan dari ayat-ayat ini (Misalnya Roma 6, Kolose 3: 5-14, Efesus 4:22-32) adalah untuk menunjukkan kepada kita bahwa ada jarak yang hebat antara siapa kita di dalam Kristus (pembenaran) dan siapa kita sebenarnya dalam kehidupan keseharian kita (pengudusan), yang tujuannya adalah untuk mendorong kita agar kita menutup jarak yang ada antara keduanya... Tujuan Paulus adalah untuk mengugah kita supaya dalam kehidupan keseharian kita, kita mampu menampilkan perilaku-perilaku yang menggambarkan siapa kita sebenarnya di dalam Kristus.” &amp;lt;br&amp;gt;- '''Jay Adams'''}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Situasi ini adalah suatu hal yang nyata dalam kehidupan kekristenan. Bagi sebagian besar, tidak dibutuhkan orang lain untuk memberitahu kita mengenai ketidak-konsistenan di dalam hidup kita—kita semua terlalu manyadarinya. Kesadaran itu seharusnya membuat kita menjadi semakin rendah hati dan menggantungkan diri kepada Tuhan supaya kita bisa berhasil menutup ketidak-konsistenan itu. Namun biasanya momen ‘terjebak di tengah’ ini muncul akibat ketidakpedulian kita akan doktrin atau ajaran mengenai pengudusan. Daripada menyadari kalau jarak ini ada sebagai pertanda bahwa kita membutuhkan pertolongan dari Allah saja, kita malah membiarkan jarak ini untuk menghukum kita, dan memperlambat kemajuan kita. Kita menjadi terjebak dalam pemikiran bahwa kita adalah seorang pecundang, bodoh, orang yang penuh kegagalan... dan mungkin saja bukan benar-benar seorang Kristen. Beberapa orang bahkan terperosok lebih jauh dalam ketidaktaatan. Mereka yang terjebak di situasi seperti ini (dan pada level tertentu, kita semua termasuk di dalamnya) mengalami penderitaan (yang sebenarnya tidak diperlukan) karena patah semangat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai seorang gembala, salah satu tanggung jawab utama saya adalah membantu orang-orang agar bisa keluar dari jebakan ini. Saya sering menyampaikan pada orang-orang, “Hal itu tidak akan instan terjadi, dan membutuhkan usaha yang sungguh-sungguh, namun supaya bisa keluar dari jebakan itu tidaklah rumit. Dan percayalah, anda tidak akan kecewa melihat hasilnya.” Mungkin anda merasa bahwa anda sedang berada di posisi seperti ini. Jika demikian, kami yakin buku ini dapat menolong anda untuk menutup jarak yang ada antara siapa anda seharusnya di dalam Kristus dan siapa anda sebenarnya dalam kehidupan keseharian anda. Dapatkah anda membayangkan kehidupan dimana anda mematahkan kebiasaan-kebiasaan anda yang penuh dosa dan membuat kemajuan nyata dalam kehidupan rohani anda? kehidupan seperti itu sungguh mungkin adanya. Dan buku ini ditulis untuk menguatkan dan menyertai anda seiring dengan usaha anda untuk mencapai yang kehidupan seperti itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| &amp;lt;br&amp;gt;Daftar Isi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1 Diantara “Sekarang” dan “Yang Akan Datang” &amp;lt;br&amp;gt;2 Butuh Obat Kumur? &amp;lt;br&amp;gt;3 Setimpal Dengan Usahanya &amp;lt;br&amp;gt;4 Bagaimana Meraih Kesempurnaan? &amp;lt;br&amp;gt;5 Tujuh Alasan Untuk Menutup Celah &amp;lt;br&amp;gt;6 Diskusi Kelompok &amp;lt;br&amp;gt;7 Bacaan yang Direkomendasikan &amp;lt;br&amp;gt;8 Referensi}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
= Diantara “Sekarang” dan “Yang Akan Datang” &amp;lt;br&amp;gt;  =&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah ada area-area dalam hidup anda yang anda sadari kurang memenuhi ekpektasi Allah? (Tuliskan dengan singkat sebuah area itu di bawah) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; Tidak diragukan, bahwa salah satu hal yang paling membuat kita frustrasi terkait dengan kehidupan kekristenan adalah kontradiksi yang nyata antara siapa kita di mata Allah, dan siapa diri kita dalam pendapat kita sendiri. Ambil contoh jemaat di Korintus, misalnya. Rasul Paulus pada satu titik meyakinkan mereka bahwa, “Kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita.” (1 Korintus 6:11). Sepertinya berhenti sampai di situ saja, bukan? Sampai kita membaca surat kedua Paulus pada jemaat ini, yang isinya nyaris bertolak-belakang dengan yang pertama disampaikan: “Marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah” (2 Korintus 7:1). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di pikiran saya, mungkin saja para jemaat di Korintus merasa bingung. Apakah mereka sudah disucikan... atau masih tercemar? sebenarnya dua-duanya berlaku untuk mereka, dan juga kita. Untuk menjelaskan hal itu, mari saya ajak anda untuk menyimak hal di berikut ini. Renungkan 1 Yohanes 3:2-3. Apa pengaruh dari pemikiran kita tentang “yang akan datang” terhadap apa yang ada “saat ini”. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kerajaan Allah itu adalah “saat ini” dan “yang akan datang”. Dalam beberapa hal, Kerajaan Allah berkaitan dengan masa kini, dan untuk beberapa hal lainnya, Kerajaan Allah berkaitan dengan masa mendatang. Allah kita telah menyatakan dan menunjukkan bahwa Kerajaan (atau hukum) Allah sudah bersinggungan dengan sejarah manusia: “Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu” (Lukas 11:20). Namun, Kerajaan Allah belum datang seutuhnya. Hal itu tidak akan terjadi sampai Yesus datang kembali dalam kuasaNya, ketika setiap lutut kan bertelut dan semua lidah mengaku bahwa Dialah Allah. Sampai hal itu terjadi, tanpa menyangkal kehadiran Kerajaan Allah yang ada di dalam dunia ini, kita berdoa, “Datanglah Kerajaan-Mu” (Matius 6:10) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan demikian, Kerajaan Allah berjalan seiringan dengan kehidupan kita. Allah, lewat karya pembenaran-Nya, sudah menyatakan bahwa kita adalah orang-orang benar. Posisi kita di mata Allah sudah berubah. Masalah itu sudah diselesaikan sekali dan untuk selama-lamanya di Surga. Namun, di sisi surga lainnya (bumi), perubahan internal kita merupakan suatu proses yang sedang berjalan. Proses penyucian ini membuat saya sibuk sebagai seorang pribadi Kristen, dan juga memberikan saya banyak pekerjaan dan tugas sebagai seorang gembala. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, apakah kita sudah memiliki kemenangan di dalam Yesus atau belum? apakah kita para pemenang, atau apakah kita masih harus berjuang? Oscar Cullmann memberikan ilustrasi dari Perang Dunia ke-2, yang saya percaya dapat membantu kita menangkap hal yang kesannya bertentangan ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejarah mencatat dua peristiwa besar yang menjadi pangkal berakhirnya Perang Dunia ke-2: D-Day dan VE-Day. D-Day terjadi pada 6 Juni 1944, ketika para pasukan Sekutu mendarat di Normandy, Perancis. Ini adalah titik balik dalam perang yang berlangsung; ketika pendaratan ini berhasil, nasib Hitler sudah sangat jelas. Pada dasarnya, perang sudah berakhir. Namun kemenangan total di Eropa (VE-Day) tidak terjadi sampai tanggal 7 Mei 1945 ketika pasukan Jerman menyerah di Berlin. Periode sebelas bulan ini dicatat sebagai salah satu periode pertumpahan darah terbesar sepanjang sejarah perang. Pertempuran-pertempuran terjadi di seluruh Perancis, Belgia, dan Jerman. Walaupun secara fisik para musuh sudah terluka, namun mereka tidak sepenuhnya menyerah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pemilihan Ilahi adalah jaminan bahwa Allah akan bekerja dalam melengkapi pemilihan kita (untuk diselamatkan oleh anugerah-Nya) dengan anugerah pengudusan-Nya. Ini adalah arti dari Perjanjian Baru: Allah tidak hanya sekedar memerintahkan agar kita taat kepadaNya, namun juga memberikan kemampuan pada kita untuk menaatiNya.” -John Piper &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salib adalah D-Day kita. Di sana, Tuhan kita Yesus Kristus mati disalibkan, untuk mematahkan belenggu dosa dari umatNya. Berdasarkan kematian dan kebangkitanNya, kita semua dibenarkan. Namun, kemenangan akhir akan terjadi ketika Ia datang. Tidak ada keraguan mengenai hasil akhirnya. Namun kita masih akan menemui gesekan-gesekan dan pertandingan-pertandingan sampai Tuhan muncul di dalam kemuliaanNya untuk memusnahkan kuasa kegelapan selamanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk Bacaan Lebih Lanjut: Bacalah 1 Petrus 5:8-9. Walaupun kemenangan akhir Allah tidak bisa disangkal, namun kita harus tetap berjuang melawan musuh kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fakta ini, apabila kita tetap berusaha untuk mengingatnya, dapat membuat kita tidak patah semangat. Pertarungan masih berlangsung, namun peperangan utama sudah dimenangkan. Kesadaran akan karya pengorbanan Kristus yang telah dilakukan bagi kita sangat penting untuk memacu semangat moral kita seiring dengan usaha kita untuk mencapai suatu kekudusan hidup. Kita harus mempelajari dan merenungkan doktrin utama mengenai pembenaran sampai hal itu sungguh tertanam dalam kesadaran kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== '''Butuh Obat Kumur?''' ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun kita sudah dibenarkan sepenuhnya di dalam Kristus (D-Day), bukan berarti kita sudah sepenuhnya disucikan (VE-Day). Beberapa orang gagal memahami hal ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengajar Alkitab Ern Baxter menyampaikan kejadian yang terjadi saat Latter Rain Revival di akhir tahun 1940-an. Ada suatu ajaran menyimpang yang dinamakan “manifestasi anak-anak Allah”. Pada intinya ajaran itu menyampaikan doktrin yang menjanjikan kekudusan total di dalam hidup ini. Pada bentuk ekstrimnya, ajaran itu termasuk kepercayaan bahwa elit spiritual akan menerima tubuh kemuliaan sebelum kedatangan Kristus untuk kedua kalinya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada sesi penutupan acara dimana Baxter menjadi pembicaranya, beberapa ‘anak-anak Allah’ muncul di pojok auditorium berbalutkan jubah putih. Ketika ia selesai menyampaikan Firman, mereka berjalan ke depan dan mulai mencoba untuk menarik pengikut-pengikut baru bagi doktrin mengenai kesempurnaan total yang mereka ajarkan. Ketika ia mengingat peristiwa itu, ia menyatakan, “Wanita yang menjadi kelompok di grup itu benar-benar membutuhkan Listerine (merek obat kumur). Bukan itu jenis kesempurnaan yang saya nantikan.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih umum dari skenario yang terjadi lewat peristiwa yang dialami oleh Ern Baxter diatas, adalah situasi-situasi yang terjadi akibat dari kurangnya pengetahuan dan kecenderungan untuk menyederhanakan konsep kekudusan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2 Kalau anda mencari kesempurnaan total di dalam hidup ini, kira-kira mana dari antara beberapa hal di bawah ini yang paling sulit untuk dilakukan oleh anda? ❏Sama sekali tidak akan pernah mengendarai mobil lebih dari batas kecepatan. ❏Berbicara dengan hangat dan lembut pada setiap sales yang menelepon rumah anda. ❏Mengindari semua kalori yang tidak dibutuhkan. ❏Tidak pernah memukul jam weker anda ketika ia membangunkan anda. ❏Senantiasa membayar pajak penghasilan anda dengan sukacita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu saya baru menjadi orang percaya, saya berjumpa dengan seorang pria muda bernama Greg, mengaku menjadi seorang perampok dan pengguna obat terlarang yang sepertinya bertobat waktu di dalam penjara. Pegangan hidup Greg dalam menjalani kehidupan kekristenan sangat memukau diri saya. Ia membawakan dirinya dengan keyakinan penuh dan sedikit keangkuhan. Ia berbicara seakan-akan dosa itu bukan menjadi suatu masalah lagi baginya. Lebih dari sekali dia mengatakan kepada saya betapa ia sudah “diselamatkan, disucikan, dan dipenuhi oleh Roh Kudus.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar dia mengatakan hal itu, sepertinya membuat hal itu seakan-akan mudah dan sederhana. Sebagai seorang Kristen yang baru, pada suatu waktu ia naik ke dalam kereta, dan waktu dia baru berangkat, beberapa jam kemudian ia sudah mengalami apa yang dinamakan olehnya sebagai “pengalaman pengudusan.” Dia berusaha meyakinkan saya bahwa pengalaman itu adalah hal yang dibutuhkan pertama kali untuk menerima baptisan Roh Kudus, dan sekali itu terjadi, itu akan berlaku selamanya. Saya harus mengakui di sini, bahwa ada beberapa hal tentang Greg yang kesannya tidak terlalu kudus. Ia mempunyai kecenderungan untuk menghakimi orang dan perilaku seorang farisi. Ia bisa menjadi seorang yang terlalu menguasai dan picik. Saya ingat pada suatu saat ketika seorang teman tidak sengaja meletakkan suatu benda di atas Alkitabnya: “Maaf—itu kan Firman Allah!” Tapi tetap saja, dia yakin dia bisa mengutip Alkitab, dan sepertinya sangat memahami perihal pengudusan. Untuk Renungan Lebih Lanjut: Bacalah Matius 26:41. Kapan waktunya kita bisa aman menganggap bahwa kita sudah “sampai” pada titik pengudusan? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sangat mengejutkan ketika pada akhirnya ia kembali mengedarkan dan memakai obat terlarang. Masalah Greg terkait dengan kurangnya pemahaman dan juga kesalah-pahaman mengenai ajaran Alkitab terkait dengan konsep pengudusan. Ia sudah melakukan kesalahan seperti yang banyak orang lakukan dengan hanya memfokuskan perhatian pada beberapa ayat Alkitab favorit yang sepertinya membenarkan pengalaman pribadinya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kekudusan bukan jalan menuju Kristus. Kristus, adalah jalan menuju kekudusan.&amp;quot; — Adrian Rogers &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; Kekudusan itu sifatnya pasti (terjadi saat kita bertobat) dan progresif (terus berlangsung). Semua ini tidak terjadi pada sekali waktu di masa lalu, dan bukan juga suatu hal yang akan terjadi secara bertahap. Kita sudah diubahkan dan kita sedang berubah. Tanpa mengesampingkan keberhasilan pendaratan kita di Normandy, marilah kita bijak dan realistis saat menilai adanya oposisi yang ada diantara kita dan Berlin. Kita tidak punya pilihan yang memungkinkan kita untuk mendapatkan tiket naik ke dalam kereta pengudusan, seperti yang Greg yakini. Hal itu akan menjadi suatu pertandingan di setiap langkah kehidupan kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Setimpal dengan Usahanya  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi beberapa orang, “pengudusan” adalah suatu istilah teologis yang sering didengar, namun jarang dimengerti. Kedengarannya itu adalah suatu hal yang cocok untuk mahasiswa teologia dan kurang praktis untuk kehidupan sehari-hari. Namun sebaliknya, hal itu adalah suatu hal yang sangat amat praktis, dan bisa dikaitan dengan kehidupan keseharian. Doktrin mengenai pengudusan bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh hampir seluruh orang Kristen di dalam sejarah gereja. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana saya bisa berubah? Bagaimana saya bisa bertumbuh? Bagaimana saya menjadi serupa dengan Kristus? Bagaimana saya bisa tidak terperangkap di tengah? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apapun yang bisa menjawab pertanyaan itu akan mengharuskan kita untuk melakukan beberapa usaha. Lampiran A (halaman 93) menunjukkan bahwa beberapa cabang gereja sudah membicarakan masalah ini di masa lalu, namun mari kita lihat apa yang bisa kita pelajari mengenai aplikasi dari doktrin yang penting ini pada masa kini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dapatkah kekudusan itu menyelamatkan kita? dapatkah kekudusan menghilangkan dosa, membayar pelanggaran kita, membayar hutang kita kepada Allah? Tidak, tidak sedikitpun bisa. Allah melarang saya untuk pernah mengatakan hal itu. Kekudusan tidak bisa melakukan semua itu. Orang suci yang paling suci sekalipun adalah ‘hamba yang tidak menguntungkan.’ Pekerjaan kita yang paling tulus dan suci sekalipun tidak akan lebih baik dari kain kotor ketika diuji oleh terang Hukum Allah yang suci. Jubah putih, yang ditawarkan oleh Yesus dan yang dikenakan oleh iman, harus menjadi kebenaran kita. Nama Yesus Kristus haruslah menjadi satu-satunya keyakinan kita. Buku kehidupan Anak Domba Allah harus menjadi satu-satunya jalan kita menuju ke Surga. Dengan kekudusan kita, kita tidak lebih baik dari orang-orang berdosa. Hal-hal yang terbaik dalam hidup kita pun sudah tercemar dengan ketidaksempurnaan. Semuanya itu belum sempurna, entah karena motivasi yang salah, atau kegagalan saat melakukannya. ‘Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri (Ef.2:8,9).&amp;quot; — J.C. Ryle &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Arti Alkitabiah dari kata menguduskan (menyucikan) adalah “untuk memisahkan; mengkhususkan.” (Kesucian berasal dari akar kata yang sama dalam bahasa Yunani) Hal ini bisa diaplikasikan pada orang, tempat, situasi, atau benda tertentu. Ketika suatu hal dikuduskan, hal itu akan dipisahkan dari pemakaian pada umumnya dan didedikasikan untuk kepentingan khusus. Misalnya, pada jaman Musa, Hari Raya Pendamaian dikuduskan bagi Allah yang Kudus. Hari itu menjadi hari yang kudus. Sebuah hal yang dikuduskan tidak akan serta merta menjadi suci karena dipisahkan dari hal lainnya; kesucian yang didapat akan berasal dari untuk apa (atau kepada siapa) kah hal itu disucikan. Karena hanya Allah saja yang suci, maka hanya Dia-lah yang bisa mengimpartasikan kesucian. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara teologis, istilah “pengudusan” telah dipergunakan untuk menggambarkan proses yang dilalui oleh seorang percaya ketika Roh Allah sedang bekerja di dalam hidupnya untuk membuat dirinya semakin menyerupai Kristus. Prosesnya dimulai saat kita lahir baru, dan terus berlangsung sepanjang kita hidup. Hal ini ditandai dengan konflik keseharian seiring dengan usaha kita untuk mengalahkan dosa yang ada di dalam diri kita dengan anugerah dan kekuatan yang Allah berikan bagi kita. Camkan di dalam pikiran bahwa rasa bersalah yang didapat dari dosa sudah dihilangkan lewat pembenaran, sebagaimana yang dijelaskan oleh Anthony Hoekema; penyucian menghilangkan pencemaran akibat dosa: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang dimaksud dengan rasa bersalah adalah kondisi di mana kita layak mendapatkan penghukuman atau harus bertanggung jawab untuk menerima hukuman karena telah melanggar hukum Allah. Yang dimaksud dengan pembenaran, sebagai tindakan deklaratif Allah, adalah bahwa rasa bersalah akibat dosa dihilangkan atas dasar karya utama Yesus Kristus. Yang dimaksud dengan pencemaran adalah bahwa kita memiliki kecenderungan bawaan yang terjadi sebagai akibat dari dosa yang juga pada akhirnya menciptakan dosa lain lebih lanjut. Sebagai akibat dari kejatuhan Adam dan Hawa, kita semua lahir dengan kondisi seperti ini; dosa-dosa yang kita lakukan tidak hanya berasal dari kecenderungan kita untuk berdosa, namun juga menambah kecenderungan itu sendiri. Yang dimaksud dengan penyucian adalah kondisi dimana pencemaran yang didapat dari dosa sedang dalam proses (tahapan) pembersihan (walaupun hal itu tidak akan sepenuhnya dibersihkan sampai kita memasuki hidup baru di Surga). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk Bacaan Lebih Lanjut: Apakah anda menyadari betapa penting dan bermanfaatnya apabila kita memiliki perasaan takut akan Allah? (Lihat Mazmur 19:9 dan 25:14, Amsal 1:7 dan 9:10, dan 1 Petrus 1:17.) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alkitab juga mendefinisikan penyucian sebagai proses pertumbuhan menuju hidup yang saleh. Hidup yang saleh merujuk pada suatu kehidupan yang menunjukkan dedikasi kepada Allah, dan karakter yang muncul akibat dedikasi tersebut. Hidup yang saleh melibatkan kasih terhadap Allah dan kerinduan akan Allah. Selain itu juga mengandung rasa takut akan Allah, yang menurut John Murray adalah “jiwa dari hidup yang saleh”. Karena telah ditebus dari ancaman hukuman kekal, orang Kristen menyatakan rasa takutnya kepada Allah dengan memfokuskan diri tidak kepada murka Allah, tapi kepada “kemuliaan, kekudusan dan keagunganNya...” Rasa takut akan Allah mempunyai dampak yang baik bagi hati kita, dimana rasa ini akan memurnikan hati kita, dan juga hal ini adalah syarat apabila kita hendak menjalin hubungan yang lebih intim dengan Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hidup yang saleh melibatkan lebih dari sekedar unsur moralitas atau tindakan fanatik. Hal tersebut berasal dari kesatuan dengan Kristus dan hasrat untuk memuliakanNya. Seorang yang saleh akan berkeinginan untuk menjadi seperti Tuhan-nya juga ingin untuk menyenangkan hatiNya. Ia ingin merasakan apa yang dirasakan olehNya, memikirkan apa yang dipikirkan oleh Tuhan-nya melebihi dirinya sendiri, dan melakukan apa yang menjadi kehendakNya. Secara singkat, orang seperti ini ingin menjadi seseorang yang memiliki karakter Allah, sehingga Allah bisa dimuliakan lewat hidupnya. Tidak ada hal lain yang layak diperjuangkan sepanjang hidup kita: “Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang” (1 Timotius 4:8). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baik Allah maupun manusia memegang peran penting dalam konteks penyucian. Allah, dengan anugerahNya, memulai karya penebusan di dalam kita dan memberikan keinginan serta kuasa untuk mengalahkan dosa. Sebagai respon sekaligus sambil bersandar pada anugerahNya, kita menaati perintah Alkitab&amp;amp;nbsp;: “karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya. Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan” (Filipi 2:12-13) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; “Penyucian, menurut Westminster Shorter Catechism, adalah ‘pekerjaan dari anugerah Allah yang diberikan secara cuma-cuma, dimana kita diperbaharui menjadi manusia seutuhnya berdasarkan gambaran Allah, dan dimampukan lebih dan lebih lagi untuk mati bagi dosa, dan hidup bagi kebenaran.’ Konsep yang terkandung di dalam hal ini adalah bukan berarti dosa itu dihapuskan total (hal ini terlalu berlebihan) atau hanya ditangkis (hal ini terlalu meremehkan), namun berkaitan dengan perubahan karakter ilahi kita yang membebaskan kita dari kebiasaan-kebiasaan kita yang penuh dosa dan membentuk kita menjadi serupa dengan Kristus dalam hal perasaan, sifat, dan karakteristik-karakteristik lainnya. — J.I. Packer Di dalam Perjanjian Baru, posisi dari hidup kudus itu berada pada titik tengah antara legalitas di satu sisi, dan lisensi di sisi lainnya. Semua tradisi gereja yang terlalu menitik beratkan pada karya Allah di dalam kita tanpa menaruh pengharapan bahwa karya itu akan menghasilkan suatu hasrat yang terus bertambah di dalam diri kita untuk menuju suatu kesalehan hidup, akan cenderung menuju ke arah lisensi. “Karena, seperti yang telah kerap kali kukatakan kepadamu, dan yang kunyatakan pula sekarang sambil menangis, banyak orang yang hidup sebagai seteru salib Kristus. Kesudahan mereka ialah kebinasaan, Tuhan mereka ialah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi” (Filipi 3:18-19). Di lain pihak ada juga pihak yang terlalu menitik beratkan pada porsi manusia sehingga mereka menyimpang dari kebenaran Allah dan berakhir pada prinsip legalitas. (Tentu saja seluruh hal ini mempunyai kadar yang bervariasi). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Renungkan 1 Timotius 6: 11-16. Paulus adalah seorang yang sangat mampu menjadi seorang motivator yang handal. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana Meraih Kesempurnaan Satu pertanyaan yang umum diucapkan oleh orang Kristen adalah, “Sejauh mana saya bisa berharap pada proses penyucian ini? Apakah pada akhirnya saya bisa benar-benar bebas dari dosa?” Jenis pertanyaan ini akan menjadi relevan terutama ketika kita membaca pernyataan seperti yang disampaikan oleh Paulus kepada jemaat di Filipi: “Karena itu marilah kita, yang sempurna, berpikir demikian. Dan jikalau lain pikiranmu tentang salah satu hal, hal itu akan dinyatakan Allah juga kepadamu” (Filipi 3:15). Bahkan Yesus menyampaikan hal itu lebih gamblang di ayat yang sudah disebutkan sebelumnya: “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna” (Matius 5:48). 3 Cobalah untuk menjawab kuis Benar/Salah di bawah ini, untuk mengetahui sejauh mana anda sudah memahami materi ini: (Jawaban dicetak terbalik di bagian bawah halaman 9) • Arti dari kata “menguduskan (menyucikan)” adalah “menajiskan, memisahkan” B S • Proses penyucian dimulai saat kita lahir baru, dan terus berlangsung sepanjang kita hidup. B S • Rasa bersalah yang didapat dari dosa sudah dihilangkan lewat pembenaran &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
  B S &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
• Hidup yang saleh hanya memiliki arti yang berkaitan dengan unsur moralitas atau tindakan fanatik seseorang. B S • Hanya Allah yang bertanggung jawab terhadap proses penyucian kita. B S &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah Allah sungguh berharap supaya kita mencapai tahap kesempurnaan? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keinginan untuk menjadi sempurna sudah menginspirasi banyak orang untuk mencari Allah. Di sepanjang sejarah manusia, banyak penulis puisi dan filosofer yang mengekspresikan keinginan untuk mencapai kembali kesucian hidup. Penulis lagu kontemporer Crosby, Stills, dan Nash merayakan pengalaman Woodstock dengan lagu yang berlirik, “Kita adalah debu bintang-bintang, kita ini berharga, kita terjebak di dalam penawaran iblis. Dan kita harus mencari cara kembali ke Taman (Surga).” Masalahnya, kita semua tahu kalau kita ini jauh dari kesempurnaan. Dalam dunia khayal perfilman, Mary Poppins bisa saja dengan riang menyatakan bahwa dia adalah “sempurna di segala hal,” namun di kehidupan nyata, hal itu tidak mungkin terjadi. Dan tentu saja kita tidak bisa menjadi sempurna lewat metode Woodstock. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ketika terang cahaya...kemuliaan Allah jatuh ke atas roh kita, kita dimenangkan dari segala pemikiran yang palsu dan kurang tepat mengenai kesucian kita sendiri. Kita juga dilindungi dari segala pengajaran murahan yang mendorong kita untuk mempercayai bahwa ada jalan-jalan pintas yang memudahkan kita untuk mencapai kesucian hidup. Kesucian hidup bukanlah sebuah pengalaman; itu adalah penyatuan kembali karakter kita, juga pemugaran kembali satu hal yang sudah menjadi reruntuhan. Hal itu memerlukan ketrampilan dan merupakan suatu proyek jangka panjang yang memerlukan segala hal yang sudah diberikan oleh Allah dalam menjalani hidup kita juga untuk mencapai suatu kesalehan hidup.&amp;quot;[12] — Sinclair Ferguson &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
R.A. Muller menyatakan bahwa Alkitab jelas menyatakan bahwa kita harus menjadi sempurna, namun pada saat yang bersamaan memberikan bukti bahwa kesempurnaan penuh itu tidak bisa dicapai di dalam hidup ini. Hal ini menghantarkan kita pada titik dilematis. Kita tidak bisa secara bebas mengangkat tangan dan mengakui kekalahan. Namun kita juga tidak bisa memiliki mentalitas ‘over pede (percaya diri)’ berkaitan dengan konsep kesempurnaan, yang lebih umum ditemukan di dalam konteks metode berpikir positif daripada yang ada di dalam Alkitab. Satu-satunya cara untuk memecahkan dilema ini adalah dengan menyadari bahwa Perjanjian Baru melihat konsep kesempurnaan dalam dua cara. Pandangan Paulus tentang jemaat Filipi adalah kedewasaan, bukan ketidak-bercelaan. Perhatikan bagaimana Alkitab versi New International Version menerjemahkan perkataannya kepada gereja di Filipi: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Setiap dari kita yang sudah dewasa harus memiliki kecenderungan yang sama dalam berbagai hal” (Fil 3:15). “Kesempurnaan” dalam hal ini bisa lebih tepat didefinisikan sebagai “mereka yang sudah menunjukkan perkembangan berarti dalam hal spiritualitas dan keseimbangan hidup” Renungkan 1 Petrus 1:14-16. Apakah perintah ini kedengarannya tidak realistis? Apakah mungkin Allah meminta anda untuk melakukan suatu hal yang mustahil? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adalah suatu hal yang alamiah apabila semua anak mau untuk bertumbuh dengan sempurna. Ini juga berlaku bagi orang percaya. Daripada mengambil pendekatan jalan pintas dan prinsip mencoba-coba dalam mencapai pertumbuhan, kita seharusnya membiarkan panggilan untuk menjadi sempurna itu mendorong kita untuk masuk ke dalam proses pencarian yang serius mengenai bagaimana caranya supaya kita menjadi seperti Yesus. Contoh dari Paulus sendiri seharusnya mampu menjadi contoh bagi kita semua: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jawaban: S, B, B, S, S &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena aku pun telah ditangkap oleh Kristus Yesus. Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus. (Filipi 3:12-14) 4 Ada stiker mobil yang pernah populer, bertuliskan, “Orang Kristen Itu Tidak Sempurn – Hanya Dimaafkan.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; “Pertama-tama kita harus dibuat menjadi sesuatu yang baik sebelum kita bisa melakukan kebaikan.” — Hugh Latimer &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita melihat pengulangan kata sempurna di dalam surat Paulus yang pertama kepada jemaat di Korintus. “Tetapi jika yang sempurna tiba,” katanya, “maka yang tidak sempurna itu akan lenyap” (1 Korintus 13:10). Dalam konteks ini, sempurna adalah istilah yang diberikan secara khusus pada Allah Bapa– sebuah konsep kesempurnaan yang tidak akan bisa ditemukan sampai Kristus datang. Teolog Louis Berkhof lebih cenderung untuk membicarakan kesempurnaan-kesempurnaan Allah daripada kualitas karakteristikNya. Allah itu benar-benar tak bercacat cela. Tidak peduli seberapa matangnya kita di dalam hidup ini, kita tidak akan pernah mencapai kesempurnaan sampai suatu saat Allah menyempurnakan kita di dalam kemuliaan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tujuh Alasan Untuk Menutup Celah &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada umumnya, dunia sudah memiliki kesan negatif terhadap kesucian. Banyak pihak menyamakan hal itu dengan suatu hal yang suram, memikul salib tanpa adanya sukacita. Hal itu lebih dilihat sebagai suatu kondisi “lebih-suci-dari-kamu” sebagai suatu tindakan pembenaran diri sendiri, daripada melihat hal itu sebagai suatu pengalaman yang penuh sukacita. Sebelum kita menutup bagian ini, marilah kita menghilangkan pendapat demikian dengan melihat pada beberapa keuntungan dan berkat yang dapat kita peroleh dari tindakan mengikuti Kristus. Ini adalah tujuh buah dari penyucian (pengudusan): &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah dipermuliakan. Ketika kita suci, kita semakin mempercayai bahwa Allah itu sungguh nyata dan menakjubkan seperti yang dinyatakan sendiri olehNya. Paulus menyatakan bahwa pekerjaan-pekerjaan baik yang dilakukan oleh orang Kristen memperindah doktrin mengenai Kristus (Titur 2:10). Bahkan mereka yang menolak Allah akan dipaksa untuk mengakui keberadaanNya ketika para pengikutnya berjalan di jalanNya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hubungan berkelanjutan dengan Allah Bapa di dalam hidup ini. “Jika seorang mengasihi Aku,” kata Yesus “ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia” (Yohanes 14:23). Merupakan suatu sukacita dan ketenangan yang luar biasa apabila kita mengalami hadirat Allah dan Anak melalui Roh kudus. Dan Yesus menandakan bahwa hadirat ini adalah suatu hadirat yang dipenuhi dengan kasih, bukan dengan nuansa yang dingin. Tentu saja, bersamaan dengan kehadiranNya akan datang juga kuasaNya, yang memampukan kita untuk mengalahkan tantangan-tantangan di dalam hidup kita. &lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
“Tidak ada sukacita kekal tanpa kekudusan.. Maka betapa pentingnya kebenaran yang menguduskan itu! Betapa pentingnya Firman yang menghancurkan kuasa kesenangan-kesenangan palsu! Dan betapa kita harus waspada untuk senantiasa menerangi jalan-jalan kita dan memenuhi hati kita dengan Firman Allah! “- John Piper &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Persekutuan dengan orang percaya lainnya. Apabila kita berjalan di dalam kegelapan, kita tidak bisa menikmati persekutuan yang tulus dengan sesama orang percaya. “Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa” (1 Yohanes 1:7). Allah berjanji untuk melengkapi kita dengan belas kasihan, hai rekan-rekan seperjalanan yang sedang menjalani jalan menuju penyucian. Bagi saya pribadi, saya menemukan bahwa kebenaran Allah ditambah dengan contoh-contoh para pelayan Allah lainnya adalah suatu hal yang penting bagi pertumbuhan spiritual saya. Dan selama saya berjalan di jalanNya, saya tidak pernah kekurangan keduanya. Kita saling membutuhkan satu sama lain (dalam konteks gereja) apabila kita hendak berhasil. Kekudusan dan komunitas Kristiani akan saling melengkapi satu sama lain. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keyakinan akan keselamatan. Walaupun keselamatan kita tidak didasarkan pada usaha kita untuk mencapai kekudusan, keyakinan akan keselamatan cenderung untuk berkaitan dengan kekudusan hidup. Di dalam surat Petrus yang kedua, Petrus menggugah para pembaca untuk sungguh-sungguh berusaha senantiasa mengumpulkan karakteristik spiritual, menambahkan kepada iman kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang yang dimiliki secara berkelimpahan (2 Petrus 1:5-9). Dia mengingatkan bahwa apabila ada yang tidak memiliki semuanya itu, maka ia akan lupa .... ... bahwa dosa-dosanya yang dahulu telah dihapuskan. Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung. Dengan demikian kepada kamu akan dikaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. (2 Petrus 1:9-11) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengabaran Injil. Sebagai seorang muda yang masih dibawah pengaruh dosa, saya mencoba sebisa saya untuk menemukan kesalahan-kesalahan di dalam hidup orang percaya supaya saya bisa menolak pesan yang mereka sampaikan dan mencap mereka sebagai orang munafik. Namun walaupun mereka tidak sempurna, tapi saya tidak bisa menemukan ketidak-konsistenan yang tergolong fatal. Sebuah keluarga besar yang menjangkau saya dengan Injil lebih memberikan pengaruh kepada saya lewat gaya hidup mereka daripada dengan perkataan-perkataan yang diucapkan. Sang suami mengasihi istrinya, sang istri menghormati suaminya, anak-anak menaati orang tuanya, dan mereka semua sangat bersuka cita. Saya tidak pernah melihat hal seperti itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Renungkan 1 Petrus 2:12. Walaupun orang yang belum percaya mungkin menghina gaya hidup anda sekarang, akibat apa yang mungkin mereka terima pada akhirnya? Sudah disampaikan bahwa meskipun dunia mungkin tidak membaca Alkitab, tapi dunia membaca orang-orang Kristen. Allah menggunakan orang-orang kudus untuk menjangkau orang lain. Bukan orang yang sempurna, namun kudus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemahaman, kebijakan, dan pengetahuan. Harta-harta inilah yang akan diperoleh mereka yang mencari Allah dengan sepenuh hati (Amsal 2:1-11). Mereka terlindungi dari para penghujat, pemberontak, dan para orang bodoh. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat Allah. Alkitab menyatakan, “Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan” (Ibrani 12:14). Meskipun arti sebenarnya dari pasal ini masih dilingkupi oleh misteri, tapi Alkitab bisa memberikan gambaran mengenai “Penglihatan yang Menakjubkan,” atau melihat Allah. Hal itu akan terjadi ketika Tuhan datang kembali, ketika semua musuh sudah dikalahkan dan kita semua sudah disucikan dengan sempurna. Pada saat itu, penglihatan kita mengenai Allah akan berkelanjutan dan intens, tanpa distraksi atau tindakan yang berfokus pada ke ‘aku’ an akibat dari dosa. Bukan berarti pengetahuan kita akan Allah akan menjadi sempurna, karena Ia akan terus menyatakan diriNya lebih dan lebih lagi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
—Yesus (Matius 5:8) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 “Berbahagialah orang yang suci hatinya, “ kata Yesus, “karena mereka akan melihat Allah” (Matius 5:8). Penyataan akan kebesaran dan kebaikanNya adalah hal terindah yang bisa kita dapatkan apabila kita menjalani hidup kita dengan penuh kekudusan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti yang sudah anda lihat, ada banyak alasan baik yang dapat menggugah kita untuk menutup celah antara harapan Allah akan diri kita, dan pengalaman kita pribadi. Kita diciptakan untuk turut ambil bagian dalam kekudusanNya-bukan hanya di surga, namun juga di bumi. Selangkah demi selangkah, kita bisa belajar untuk mengalahkan dosa dan hidup dengan cara yang semakin lama semakin memancarkan kemuliaan dan karakter Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam bab pertama, kami sudah mencoba untuk menarik minat anda pada kesalehan hidup. Dimulai dari bab kedua, kami akan membangun kerangka Alkitabiah yang dibutuhkan untuk mendukung suatu kehidupan yang kudus- dan penuh sukacita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diskusi Kelompok 1. Apa gejala-gejala yang menandakan seseorang sedang terperangkap di tengah? 2. Celah antara standar-standar Allah dan perilaku kita sendiri tidak bisa dihindari; namun terlalu berlebihan apabila kita menamakan diri kita munafik. Di mana kita bisa menarik garis untuk membedakan keduanya? 3. Bagaimana menjelaskan hubungan antara penyucian diri kita dengan sejarah masa lalu dan harapan di masa depan? 4. Rasa takut akan Allah, menurut penulis, adalah suatu “syarat untuk mencapai keintiman rohani dengan Allah.” (Hal. 7) Apa maksudnya? 5. Sejauh mana seorang kristen yang dewasa rohani bisa bebas dari dosa? 6. Sekarang setelah anda selesai membaca bagian ini, bagaimana anda akan menjelaskan Matius 5:48 kepada orang yang baru percaya? Bacaan Yang Direkomendasikan How to Help People Change 'by Jay E. Adams (Grand Rapids, MI: Zondervan Publishing House, 1986) Saved by Grace by Anthony A. Hoekema (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1989) Referensi 1. ↑ Jay E. Adams, The Biblical View of Self-Esteem, Self-Love, Self-Image (Eugene, OR: Harvest House Publishers, 1986), h. 78. 2. ↑ Oscar Cullman, Christ and Time (Philadelphia, PA: The Westminster Press, 1964), h. 3. 3. ↑ John Piper, The Pleasures Of God (Portland, OR: Multnomah Press, 1991), h. 147. 4. ↑ Ern Baxter, pesan yang direkam, “Sanctification,” n.d. 5. ↑ Quoted in Gathered Gold, John Blanchard, ed. (Welwyn, Hertfordshire, England: Evangelical Press, 1984), h.146. 6. ↑ J.C. Ryle, Holiness (Welwyn, Hertfordshire, England: Evangelical Press, 1879, reprinted 1989), h. 39. 7. ↑ 7. Anthony A. Hoekema, Saved by Grace (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1989), h. 192-93. 8. ↑ Jerry Bridges, The Practice of Godliness (Colorado Springs, CO: NavPress, 1983), h. 15-20. 9. ↑ Idem, p. 24. 10. ↑ Idem, p. 26. 11. ↑ J.I. Packer, Concise Theology (Wheaton, IL: Tyndale House, 1993), h. 169. 12. ↑ Sinclair Ferguson, A Heart for God (Colorado Springs, CO: NavPress, 1985), h. 129. 13. ↑ R.A. Muller, The International Standard Bible Encyclopedia, Volume Four (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1988), h. 324. 14. ↑ William Hendriksen, New Testament Commentary: Philippians (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1962), h. 176. 15. ↑ Quoted in Gathered Gold, p.148. 16. ↑ Louis Berkhof, Systematic Theology (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1941), p. 52. ↑ Sumber Asli tidak diketahui&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Susanlim</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/How_Can_I_Change%3F/Caught_in_the_Gap_Trap/id</id>
		<title>How Can I Change?/Caught in the Gap Trap/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/How_Can_I_Change%3F/Caught_in_the_Gap_Trap/id"/>
				<updated>2009-01-01T05:15:03Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Susanlim: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{InProcess|user=|date=}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{info| Bagaimana Saya Bisa Berubah? / Terperangkap di Tengah}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semua yang kini sedang bergumul melawan amarah, silakan maju ke depan. Kami mau berdoa untuk anda.”&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu itu hari Minggu pagi. Saya baru saja menyelesaikan khotbah mengenai amarah, dan saya mau memberikan waktu bagi Roh Kudus untuk bekerja di dalam hati orang-orang yang hadir saat itu. Namun saya terkejut melihat respon yang diberikan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekitar dua puluh orang-orang yang rendah hati maju ke depan mimbar—untuk ukuran gereja kami, jumlah ini cukup besar. Namun, bukan jumlahnya yang menarik perhatian saya. Yang menarik perhatian saya adalah orang-orang yang maju ke depan. Sembilan belas dari dua puluh orang yang maju ke depan adalah para ibu muda! (Amarah sangat rentan dialami oleh para ibu, sejauh yang saya ketahui.) Sebagai gembala, saya tahu bahwa para wanita ini adalah orang kristen yang sungguh-sungguh. Apa yang menyebabkan mereka maju ke depan adalah rasa frustasi mendalam mereka yang dialami karena mereka merasa terperangkap di tengah -- zona antara standar Alkitabiah yang berkaitan dengan penguasaan diri, dan kegagalan mereka untuk hidup menurut standar Alkitabiah itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah masalah itu berkaitan dengan amarah, ketakutan, kekuatiran, atau suatu hal yang umum, seperti kemalasan, kita semua sudah mengalami perasaan terperangkap di tengah, antara siapa diri kita saat ini, dan siapa diri kita seharusnya. Alkitab menyatakan bahwa kita adalah ciptaan baru, para pemenang, penakluk. Dan kita bukan hanya sekedar pemenang, melainkan lebih dari seorang pemenang (Roma 8:37). Kadang kita memang merasa seperti itu. Namun yang lebih sering, kita mengalami kesulitan melihat suatu hal yang melampaui kelemahan-kelemahan dan kegagalan-kegagalan kita. Dan yang menariknya, justru di saat-saat seperti ini, ayat dalam Matius 5:48 mendadak jadi tampil ke permukaan: “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” &amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| Untuk Dipelajari Lebih Lanjut: Bahkan Rasul Paulus mengalami saat dimana ia merasa terperangkap di tengah (Roma 7:21-25). Dapatkah anda membandingkan rasa frustrasi anda dengan rasa frustrasi yang dialami Rasul Paulus?}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlahan kita menghela nafas dan berkata, Hal itu tidak akan pernah menjadi kenyataan. Saya menyebut kondisi ini sebagai “perangkap tengah”. Berikut adalah cara kerjanya: Sebagai orang kristen, kita semua memiliki pengetahuan mengenai hal-hal yang diharapkan Allah dari diri kita. Namun pada kenyataannya, apa yang kita capai jauh dari apa yang -kita tahu- sebenarnya harus kita capai. Maka, terciptalah suatu jarak antara apa yang kita tahu harus kita lakukan, dan performa kita yang sesungguhnya. Apabila jarak antara keduanya terlampau jauh, kita bisa saja langsug di cap sebagai seorang munafik. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| “Kehidupan kekristenan semata-mata berkaitan dengan perubahan karakter intrinsik kita menuju karakter Kristus.. Tujuan dari ayat-ayat ini (Misalnya Roma 6, Kolose 3: 5-14, Efesus 4:22-32) adalah untuk menunjukkan kepada kita bahwa ada jarak yang hebat antara siapa kita di dalam Kristus (pembenaran) dan siapa kita sebenarnya dalam kehidupan keseharian kita (pengudusan), yang tujuannya adalah untuk mendorong kita agar kita menutup jarak yang ada antara keduanya... Tujuan Paulus adalah untuk mengugah kita supaya dalam kehidupan keseharian kita, kita mampu menampilkan perilaku-perilaku yang menggambarkan siapa kita sebenarnya di dalam Kristus.” &amp;lt;br&amp;gt;- '''Jay Adams'''}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Situasi ini adalah suatu hal yang nyata dalam kehidupan kekristenan. Bagi sebagian besar, tidak dibutuhkan orang lain untuk memberitahu kita mengenai ketidak-konsistenan di dalam hidup kita—kita semua terlalu manyadarinya. Kesadaran itu seharusnya membuat kita menjadi semakin rendah hati dan menggantungkan diri kepada Tuhan supaya kita bisa berhasil menutup ketidak-konsistenan itu. Namun biasanya momen ‘terjebak di tengah’ ini muncul akibat ketidakpedulian kita akan doktrin atau ajaran mengenai pengudusan. Daripada menyadari kalau jarak ini ada sebagai pertanda bahwa kita membutuhkan pertolongan dari Allah saja, kita malah membiarkan jarak ini untuk menghukum kita, dan memperlambat kemajuan kita. Kita menjadi terjebak dalam pemikiran bahwa kita adalah seorang pecundang, bodoh, orang yang penuh kegagalan... dan mungkin saja bukan benar-benar seorang Kristen. Beberapa orang bahkan terperosok lebih jauh dalam ketidaktaatan. Mereka yang terjebak di situasi seperti ini (dan pada level tertentu, kita semua termasuk di dalamnya) mengalami penderitaan (yang sebenarnya tidak diperlukan) karena patah semangat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai seorang gembala, salah satu tanggung jawab utama saya adalah membantu orang-orang agar bisa keluar dari jebakan ini. Saya sering menyampaikan pada orang-orang, “Hal itu tidak akan instan terjadi, dan membutuhkan usaha yang sungguh-sungguh, namun supaya bisa keluar dari jebakan itu tidaklah rumit. Dan percayalah, anda tidak akan kecewa melihat hasilnya.” Mungkin anda merasa bahwa anda sedang berada di posisi seperti ini. Jika demikian, kami yakin buku ini dapat menolong anda untuk menutup jarak yang ada antara siapa anda seharusnya di dalam Kristus dan siapa anda sebenarnya dalam kehidupan keseharian anda. Dapatkah anda membayangkan kehidupan dimana anda mematahkan kebiasaan-kebiasaan anda yang penuh dosa dan membuat kemajuan nyata dalam kehidupan rohani anda? kehidupan seperti itu sungguh mungkin adanya. Dan buku ini ditulis untuk menguatkan dan menyertai anda seiring dengan usaha anda untuk mencapai yang kehidupan seperti itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| &amp;lt;br&amp;gt;Daftar Isi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1 Diantara “Sekarang” dan “Yang Akan Datang” &amp;lt;br&amp;gt;2 Butuh Obat Kumur? &amp;lt;br&amp;gt;3 Setimpal Dengan Usahanya &amp;lt;br&amp;gt;4 Bagaimana Meraih Kesempurnaan? &amp;lt;br&amp;gt;5 Tujuh Alasan Untuk Menutup Celah &amp;lt;br&amp;gt;6 Diskusi Kelompok &amp;lt;br&amp;gt;7 Bacaan yang Direkomendasikan &amp;lt;br&amp;gt;8 Referensi}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diantara “Sekarang” dan “Yang Akan Datang” &amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah ada area-area dalam hidup anda yang anda sadari kurang memenuhi ekpektasi Allah? (Tuliskan dengan singkat sebuah area itu di bawah) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; Tidak diragukan, bahwa salah satu hal yang paling membuat kita frustrasi terkait dengan kehidupan kekristenan adalah kontradiksi yang nyata antara siapa kita di mata Allah, dan siapa diri kita dalam pendapat kita sendiri. Ambil contoh jemaat di Korintus, misalnya. Rasul Paulus pada satu titik meyakinkan mereka bahwa, “Kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita.” (1 Korintus 6:11). Sepertinya berhenti sampai di situ saja, bukan? Sampai kita membaca surat kedua Paulus pada jemaat ini, yang isinya nyaris bertolak-belakang dengan yang pertama disampaikan: “Marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah” (2 Korintus 7:1). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di pikiran saya, mungkin saja para jemaat di Korintus merasa bingung. Apakah mereka sudah disucikan... atau masih tercemar? sebenarnya dua-duanya berlaku untuk mereka, dan juga kita. Untuk menjelaskan hal itu, mari saya ajak anda untuk menyimak hal di berikut ini. Renungkan 1 Yohanes 3:2-3. Apa pengaruh dari pemikiran kita tentang “yang akan datang” terhadap apa yang ada “saat ini”. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kerajaan Allah itu adalah “saat ini” dan “yang akan datang”. Dalam beberapa hal, Kerajaan Allah berkaitan dengan masa kini, dan untuk beberapa hal lainnya, Kerajaan Allah berkaitan dengan masa mendatang. Allah kita telah menyatakan dan menunjukkan bahwa Kerajaan (atau hukum) Allah sudah bersinggungan dengan sejarah manusia: “Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu” (Lukas 11:20). Namun, Kerajaan Allah belum datang seutuhnya. Hal itu tidak akan terjadi sampai Yesus datang kembali dalam kuasaNya, ketika setiap lutut kan bertelut dan semua lidah mengaku bahwa Dialah Allah. Sampai hal itu terjadi, tanpa menyangkal kehadiran Kerajaan Allah yang ada di dalam dunia ini, kita berdoa, “Datanglah Kerajaan-Mu” (Matius 6:10) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan demikian, Kerajaan Allah berjalan seiringan dengan kehidupan kita. Allah, lewat karya pembenaran-Nya, sudah menyatakan bahwa kita adalah orang-orang benar. Posisi kita di mata Allah sudah berubah. Masalah itu sudah diselesaikan sekali dan untuk selama-lamanya di Surga. Namun, di sisi surga lainnya (bumi), perubahan internal kita merupakan suatu proses yang sedang berjalan. Proses penyucian ini membuat saya sibuk sebagai seorang pribadi Kristen, dan juga memberikan saya banyak pekerjaan dan tugas sebagai seorang gembala. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, apakah kita sudah memiliki kemenangan di dalam Yesus atau belum? apakah kita para pemenang, atau apakah kita masih harus berjuang? Oscar Cullmann memberikan ilustrasi dari Perang Dunia ke-2, yang saya percaya dapat membantu kita menangkap hal yang kesannya bertentangan ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejarah mencatat dua peristiwa besar yang menjadi pangkal berakhirnya Perang Dunia ke-2: D-Day dan VE-Day. D-Day terjadi pada 6 Juni 1944, ketika para pasukan Sekutu mendarat di Normandy, Perancis. Ini adalah titik balik dalam perang yang berlangsung; ketika pendaratan ini berhasil, nasib Hitler sudah sangat jelas. Pada dasarnya, perang sudah berakhir. Namun kemenangan total di Eropa (VE-Day) tidak terjadi sampai tanggal 7 Mei 1945 ketika pasukan Jerman menyerah di Berlin. Periode sebelas bulan ini dicatat sebagai salah satu periode pertumpahan darah terbesar sepanjang sejarah perang. Pertempuran-pertempuran terjadi di seluruh Perancis, Belgia, dan Jerman. Walaupun secara fisik para musuh sudah terluka, namun mereka tidak sepenuhnya menyerah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pemilihan Ilahi adalah jaminan bahwa Allah akan bekerja dalam melengkapi pemilihan kita (untuk diselamatkan oleh anugerah-Nya) dengan anugerah pengudusan-Nya. Ini adalah arti dari Perjanjian Baru: Allah tidak hanya sekedar memerintahkan agar kita taat kepadaNya, namun juga memberikan kemampuan pada kita untuk menaatiNya.” -John Piper &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salib adalah D-Day kita. Di sana, Tuhan kita Yesus Kristus mati disalibkan, untuk mematahkan belenggu dosa dari umatNya. Berdasarkan kematian dan kebangkitanNya, kita semua dibenarkan. Namun, kemenangan akhir akan terjadi ketika Ia datang. Tidak ada keraguan mengenai hasil akhirnya. Namun kita masih akan menemui gesekan-gesekan dan pertandingan-pertandingan sampai Tuhan muncul di dalam kemuliaanNya untuk memusnahkan kuasa kegelapan selamanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk Bacaan Lebih Lanjut: Bacalah 1 Petrus 5:8-9. Walaupun kemenangan akhir Allah tidak bisa disangkal, namun kita harus tetap berjuang melawan musuh kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fakta ini, apabila kita tetap berusaha untuk mengingatnya, dapat membuat kita tidak patah semangat. Pertarungan masih berlangsung, namun peperangan utama sudah dimenangkan. Kesadaran akan karya pengorbanan Kristus yang telah dilakukan bagi kita sangat penting untuk memacu semangat moral kita seiring dengan usaha kita untuk mencapai suatu kekudusan hidup. Kita harus mempelajari dan merenungkan doktrin utama mengenai pembenaran sampai hal itu sungguh tertanam dalam kesadaran kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Butuh Obat Kumur? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun kita sudah dibenarkan sepenuhnya di dalam Kristus (D-Day), bukan berarti kita sudah sepenuhnya disucikan (VE-Day). Beberapa orang gagal memahami hal ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengajar Alkitab Ern Baxter menyampaikan kejadian yang terjadi saat Latter Rain Revival di akhir tahun 1940-an. Ada suatu ajaran menyimpang yang dinamakan “manifestasi anak-anak Allah”. Pada intinya ajaran itu menyampaikan doktrin yang menjanjikan kekudusan total di dalam hidup ini. Pada bentuk ekstrimnya, ajaran itu termasuk kepercayaan bahwa elit spiritual akan menerima tubuh kemuliaan sebelum kedatangan Kristus untuk kedua kalinya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada sesi penutupan acara dimana Baxter menjadi pembicaranya, beberapa ‘anak-anak Allah’ muncul di pojok auditorium berbalutkan jubah putih. Ketika ia selesai menyampaikan Firman, mereka berjalan ke depan dan mulai mencoba untuk menarik pengikut-pengikut baru bagi doktrin mengenai kesempurnaan total yang mereka ajarkan. Ketika ia mengingat peristiwa itu, ia menyatakan, “Wanita yang menjadi kelompok di grup itu benar-benar membutuhkan Listerine (merek obat kumur). Bukan itu jenis kesempurnaan yang saya nantikan.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih umum dari skenario yang terjadi lewat peristiwa yang dialami oleh Ern Baxter diatas, adalah situasi-situasi yang terjadi akibat dari kurangnya pengetahuan dan kecenderungan untuk menyederhanakan konsep kekudusan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2 Kalau anda mencari kesempurnaan total di dalam hidup ini, kira-kira mana dari antara beberapa hal di bawah ini yang paling sulit untuk dilakukan oleh anda? ❏Sama sekali tidak akan pernah mengendarai mobil lebih dari batas kecepatan. ❏Berbicara dengan hangat dan lembut pada setiap sales yang menelepon rumah anda. ❏Mengindari semua kalori yang tidak dibutuhkan. ❏Tidak pernah memukul jam weker anda ketika ia membangunkan anda. ❏Senantiasa membayar pajak penghasilan anda dengan sukacita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu saya baru menjadi orang percaya, saya berjumpa dengan seorang pria muda bernama Greg, mengaku menjadi seorang perampok dan pengguna obat terlarang yang sepertinya bertobat waktu di dalam penjara. Pegangan hidup Greg dalam menjalani kehidupan kekristenan sangat memukau diri saya. Ia membawakan dirinya dengan keyakinan penuh dan sedikit keangkuhan. Ia berbicara seakan-akan dosa itu bukan menjadi suatu masalah lagi baginya. Lebih dari sekali dia mengatakan kepada saya betapa ia sudah “diselamatkan, disucikan, dan dipenuhi oleh Roh Kudus.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar dia mengatakan hal itu, sepertinya membuat hal itu seakan-akan mudah dan sederhana. Sebagai seorang Kristen yang baru, pada suatu waktu ia naik ke dalam kereta, dan waktu dia baru berangkat, beberapa jam kemudian ia sudah mengalami apa yang dinamakan olehnya sebagai “pengalaman pengudusan.” Dia berusaha meyakinkan saya bahwa pengalaman itu adalah hal yang dibutuhkan pertama kali untuk menerima baptisan Roh Kudus, dan sekali itu terjadi, itu akan berlaku selamanya. Saya harus mengakui di sini, bahwa ada beberapa hal tentang Greg yang kesannya tidak terlalu kudus. Ia mempunyai kecenderungan untuk menghakimi orang dan perilaku seorang farisi. Ia bisa menjadi seorang yang terlalu menguasai dan picik. Saya ingat pada suatu saat ketika seorang teman tidak sengaja meletakkan suatu benda di atas Alkitabnya: “Maaf—itu kan Firman Allah!” Tapi tetap saja, dia yakin dia bisa mengutip Alkitab, dan sepertinya sangat memahami perihal pengudusan. Untuk Renungan Lebih Lanjut: Bacalah Matius 26:41. Kapan waktunya kita bisa aman menganggap bahwa kita sudah “sampai” pada titik pengudusan? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sangat mengejutkan ketika pada akhirnya ia kembali mengedarkan dan memakai obat terlarang. Masalah Greg terkait dengan kurangnya pemahaman dan juga kesalah-pahaman mengenai ajaran Alkitab terkait dengan konsep pengudusan. Ia sudah melakukan kesalahan seperti yang banyak orang lakukan dengan hanya memfokuskan perhatian pada beberapa ayat Alkitab favorit yang sepertinya membenarkan pengalaman pribadinya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kekudusan bukan jalan menuju Kristus. Kristus, adalah jalan menuju kekudusan.&amp;quot; — Adrian Rogers &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; Kekudusan itu sifatnya pasti (terjadi saat kita bertobat) dan progresif (terus berlangsung). Semua ini tidak terjadi pada sekali waktu di masa lalu, dan bukan juga suatu hal yang akan terjadi secara bertahap. Kita sudah diubahkan dan kita sedang berubah. Tanpa mengesampingkan keberhasilan pendaratan kita di Normandy, marilah kita bijak dan realistis saat menilai adanya oposisi yang ada diantara kita dan Berlin. Kita tidak punya pilihan yang memungkinkan kita untuk mendapatkan tiket naik ke dalam kereta pengudusan, seperti yang Greg yakini. Hal itu akan menjadi suatu pertandingan di setiap langkah kehidupan kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setimpal dengan Usahanya &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi beberapa orang, “pengudusan” adalah suatu istilah teologis yang sering didengar, namun jarang dimengerti. Kedengarannya itu adalah suatu hal yang cocok untuk mahasiswa teologia dan kurang praktis untuk kehidupan sehari-hari. Namun sebaliknya, hal itu adalah suatu hal yang sangat amat praktis, dan bisa dikaitan dengan kehidupan keseharian. Doktrin mengenai pengudusan bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh hampir seluruh orang Kristen di dalam sejarah gereja. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana saya bisa berubah? Bagaimana saya bisa bertumbuh? Bagaimana saya menjadi serupa dengan Kristus? Bagaimana saya bisa tidak terperangkap di tengah? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apapun yang bisa menjawab pertanyaan itu akan mengharuskan kita untuk melakukan beberapa usaha. Lampiran A (halaman 93) menunjukkan bahwa beberapa cabang gereja sudah membicarakan masalah ini di masa lalu, namun mari kita lihat apa yang bisa kita pelajari mengenai aplikasi dari doktrin yang penting ini pada masa kini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dapatkah kekudusan itu menyelamatkan kita? dapatkah kekudusan menghilangkan dosa, membayar pelanggaran kita, membayar hutang kita kepada Allah? Tidak, tidak sedikitpun bisa. Allah melarang saya untuk pernah mengatakan hal itu. Kekudusan tidak bisa melakukan semua itu. Orang suci yang paling suci sekalipun adalah ‘hamba yang tidak menguntungkan.’ Pekerjaan kita yang paling tulus dan suci sekalipun tidak akan lebih baik dari kain kotor ketika diuji oleh terang Hukum Allah yang suci. Jubah putih, yang ditawarkan oleh Yesus dan yang dikenakan oleh iman, harus menjadi kebenaran kita. Nama Yesus Kristus haruslah menjadi satu-satunya keyakinan kita. Buku kehidupan Anak Domba Allah harus menjadi satu-satunya jalan kita menuju ke Surga. Dengan kekudusan kita, kita tidak lebih baik dari orang-orang berdosa. Hal-hal yang terbaik dalam hidup kita pun sudah tercemar dengan ketidaksempurnaan. Semuanya itu belum sempurna, entah karena motivasi yang salah, atau kegagalan saat melakukannya. ‘Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri (Ef.2:8,9).&amp;quot; — J.C. Ryle &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Arti Alkitabiah dari kata menguduskan (menyucikan) adalah “untuk memisahkan; mengkhususkan.” (Kesucian berasal dari akar kata yang sama dalam bahasa Yunani) Hal ini bisa diaplikasikan pada orang, tempat, situasi, atau benda tertentu. Ketika suatu hal dikuduskan, hal itu akan dipisahkan dari pemakaian pada umumnya dan didedikasikan untuk kepentingan khusus. Misalnya, pada jaman Musa, Hari Raya Pendamaian dikuduskan bagi Allah yang Kudus. Hari itu menjadi hari yang kudus. Sebuah hal yang dikuduskan tidak akan serta merta menjadi suci karena dipisahkan dari hal lainnya; kesucian yang didapat akan berasal dari untuk apa (atau kepada siapa) kah hal itu disucikan. Karena hanya Allah saja yang suci, maka hanya Dia-lah yang bisa mengimpartasikan kesucian. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara teologis, istilah “pengudusan” telah dipergunakan untuk menggambarkan proses yang dilalui oleh seorang percaya ketika Roh Allah sedang bekerja di dalam hidupnya untuk membuat dirinya semakin menyerupai Kristus. Prosesnya dimulai saat kita lahir baru, dan terus berlangsung sepanjang kita hidup. Hal ini ditandai dengan konflik keseharian seiring dengan usaha kita untuk mengalahkan dosa yang ada di dalam diri kita dengan anugerah dan kekuatan yang Allah berikan bagi kita. Camkan di dalam pikiran bahwa rasa bersalah yang didapat dari dosa sudah dihilangkan lewat pembenaran, sebagaimana yang dijelaskan oleh Anthony Hoekema; penyucian menghilangkan pencemaran akibat dosa: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang dimaksud dengan rasa bersalah adalah kondisi di mana kita layak mendapatkan penghukuman atau harus bertanggung jawab untuk menerima hukuman karena telah melanggar hukum Allah. Yang dimaksud dengan pembenaran, sebagai tindakan deklaratif Allah, adalah bahwa rasa bersalah akibat dosa dihilangkan atas dasar karya utama Yesus Kristus. Yang dimaksud dengan pencemaran adalah bahwa kita memiliki kecenderungan bawaan yang terjadi sebagai akibat dari dosa yang juga pada akhirnya menciptakan dosa lain lebih lanjut. Sebagai akibat dari kejatuhan Adam dan Hawa, kita semua lahir dengan kondisi seperti ini; dosa-dosa yang kita lakukan tidak hanya berasal dari kecenderungan kita untuk berdosa, namun juga menambah kecenderungan itu sendiri. Yang dimaksud dengan penyucian adalah kondisi dimana pencemaran yang didapat dari dosa sedang dalam proses (tahapan) pembersihan (walaupun hal itu tidak akan sepenuhnya dibersihkan sampai kita memasuki hidup baru di Surga). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk Bacaan Lebih Lanjut: Apakah anda menyadari betapa penting dan bermanfaatnya apabila kita memiliki perasaan takut akan Allah? (Lihat Mazmur 19:9 dan 25:14, Amsal 1:7 dan 9:10, dan 1 Petrus 1:17.) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alkitab juga mendefinisikan penyucian sebagai proses pertumbuhan menuju hidup yang saleh. Hidup yang saleh merujuk pada suatu kehidupan yang menunjukkan dedikasi kepada Allah, dan karakter yang muncul akibat dedikasi tersebut. Hidup yang saleh melibatkan kasih terhadap Allah dan kerinduan akan Allah. Selain itu juga mengandung rasa takut akan Allah, yang menurut John Murray adalah “jiwa dari hidup yang saleh”. Karena telah ditebus dari ancaman hukuman kekal, orang Kristen menyatakan rasa takutnya kepada Allah dengan memfokuskan diri tidak kepada murka Allah, tapi kepada “kemuliaan, kekudusan dan keagunganNya...” Rasa takut akan Allah mempunyai dampak yang baik bagi hati kita, dimana rasa ini akan memurnikan hati kita, dan juga hal ini adalah syarat apabila kita hendak menjalin hubungan yang lebih intim dengan Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hidup yang saleh melibatkan lebih dari sekedar unsur moralitas atau tindakan fanatik. Hal tersebut berasal dari kesatuan dengan Kristus dan hasrat untuk memuliakanNya. Seorang yang saleh akan berkeinginan untuk menjadi seperti Tuhan-nya juga ingin untuk menyenangkan hatiNya. Ia ingin merasakan apa yang dirasakan olehNya, memikirkan apa yang dipikirkan oleh Tuhan-nya melebihi dirinya sendiri, dan melakukan apa yang menjadi kehendakNya. Secara singkat, orang seperti ini ingin menjadi seseorang yang memiliki karakter Allah, sehingga Allah bisa dimuliakan lewat hidupnya. Tidak ada hal lain yang layak diperjuangkan sepanjang hidup kita: “Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang” (1 Timotius 4:8). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baik Allah maupun manusia memegang peran penting dalam konteks penyucian. Allah, dengan anugerahNya, memulai karya penebusan di dalam kita dan memberikan keinginan serta kuasa untuk mengalahkan dosa. Sebagai respon sekaligus sambil bersandar pada anugerahNya, kita menaati perintah Alkitab&amp;amp;nbsp;: “karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya. Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan” (Filipi 2:12-13) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; “Penyucian, menurut Westminster Shorter Catechism, adalah ‘pekerjaan dari anugerah Allah yang diberikan secara cuma-cuma, dimana kita diperbaharui menjadi manusia seutuhnya berdasarkan gambaran Allah, dan dimampukan lebih dan lebih lagi untuk mati bagi dosa, dan hidup bagi kebenaran.’ Konsep yang terkandung di dalam hal ini adalah bukan berarti dosa itu dihapuskan total (hal ini terlalu berlebihan) atau hanya ditangkis (hal ini terlalu meremehkan), namun berkaitan dengan perubahan karakter ilahi kita yang membebaskan kita dari kebiasaan-kebiasaan kita yang penuh dosa dan membentuk kita menjadi serupa dengan Kristus dalam hal perasaan, sifat, dan karakteristik-karakteristik lainnya. — J.I. Packer Di dalam Perjanjian Baru, posisi dari hidup kudus itu berada pada titik tengah antara legalitas di satu sisi, dan lisensi di sisi lainnya. Semua tradisi gereja yang terlalu menitik beratkan pada karya Allah di dalam kita tanpa menaruh pengharapan bahwa karya itu akan menghasilkan suatu hasrat yang terus bertambah di dalam diri kita untuk menuju suatu kesalehan hidup, akan cenderung menuju ke arah lisensi. “Karena, seperti yang telah kerap kali kukatakan kepadamu, dan yang kunyatakan pula sekarang sambil menangis, banyak orang yang hidup sebagai seteru salib Kristus. Kesudahan mereka ialah kebinasaan, Tuhan mereka ialah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi” (Filipi 3:18-19). Di lain pihak ada juga pihak yang terlalu menitik beratkan pada porsi manusia sehingga mereka menyimpang dari kebenaran Allah dan berakhir pada prinsip legalitas. (Tentu saja seluruh hal ini mempunyai kadar yang bervariasi). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Renungkan 1 Timotius 6: 11-16. Paulus adalah seorang yang sangat mampu menjadi seorang motivator yang handal. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana Meraih Kesempurnaan Satu pertanyaan yang umum diucapkan oleh orang Kristen adalah, “Sejauh mana saya bisa berharap pada proses penyucian ini? Apakah pada akhirnya saya bisa benar-benar bebas dari dosa?” Jenis pertanyaan ini akan menjadi relevan terutama ketika kita membaca pernyataan seperti yang disampaikan oleh Paulus kepada jemaat di Filipi: “Karena itu marilah kita, yang sempurna, berpikir demikian. Dan jikalau lain pikiranmu tentang salah satu hal, hal itu akan dinyatakan Allah juga kepadamu” (Filipi 3:15). Bahkan Yesus menyampaikan hal itu lebih gamblang di ayat yang sudah disebutkan sebelumnya: “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna” (Matius 5:48). 3 Cobalah untuk menjawab kuis Benar/Salah di bawah ini, untuk mengetahui sejauh mana anda sudah memahami materi ini: (Jawaban dicetak terbalik di bagian bawah halaman 9) • Arti dari kata “menguduskan (menyucikan)” adalah “menajiskan, memisahkan” B S • Proses penyucian dimulai saat kita lahir baru, dan terus berlangsung sepanjang kita hidup. B S • Rasa bersalah yang didapat dari dosa sudah dihilangkan lewat pembenaran &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
  B S &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
• Hidup yang saleh hanya memiliki arti yang berkaitan dengan unsur moralitas atau tindakan fanatik seseorang. B S • Hanya Allah yang bertanggung jawab terhadap proses penyucian kita. B S &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah Allah sungguh berharap supaya kita mencapai tahap kesempurnaan? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keinginan untuk menjadi sempurna sudah menginspirasi banyak orang untuk mencari Allah. Di sepanjang sejarah manusia, banyak penulis puisi dan filosofer yang mengekspresikan keinginan untuk mencapai kembali kesucian hidup. Penulis lagu kontemporer Crosby, Stills, dan Nash merayakan pengalaman Woodstock dengan lagu yang berlirik, “Kita adalah debu bintang-bintang, kita ini berharga, kita terjebak di dalam penawaran iblis. Dan kita harus mencari cara kembali ke Taman (Surga).” Masalahnya, kita semua tahu kalau kita ini jauh dari kesempurnaan. Dalam dunia khayal perfilman, Mary Poppins bisa saja dengan riang menyatakan bahwa dia adalah “sempurna di segala hal,” namun di kehidupan nyata, hal itu tidak mungkin terjadi. Dan tentu saja kita tidak bisa menjadi sempurna lewat metode Woodstock. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ketika terang cahaya...kemuliaan Allah jatuh ke atas roh kita, kita dimenangkan dari segala pemikiran yang palsu dan kurang tepat mengenai kesucian kita sendiri. Kita juga dilindungi dari segala pengajaran murahan yang mendorong kita untuk mempercayai bahwa ada jalan-jalan pintas yang memudahkan kita untuk mencapai kesucian hidup. Kesucian hidup bukanlah sebuah pengalaman; itu adalah penyatuan kembali karakter kita, juga pemugaran kembali satu hal yang sudah menjadi reruntuhan. Hal itu memerlukan ketrampilan dan merupakan suatu proyek jangka panjang yang memerlukan segala hal yang sudah diberikan oleh Allah dalam menjalani hidup kita juga untuk mencapai suatu kesalehan hidup.&amp;quot;[12] — Sinclair Ferguson &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
R.A. Muller menyatakan bahwa Alkitab jelas menyatakan bahwa kita harus menjadi sempurna, namun pada saat yang bersamaan memberikan bukti bahwa kesempurnaan penuh itu tidak bisa dicapai di dalam hidup ini. Hal ini menghantarkan kita pada titik dilematis. Kita tidak bisa secara bebas mengangkat tangan dan mengakui kekalahan. Namun kita juga tidak bisa memiliki mentalitas ‘over pede (percaya diri)’ berkaitan dengan konsep kesempurnaan, yang lebih umum ditemukan di dalam konteks metode berpikir positif daripada yang ada di dalam Alkitab. Satu-satunya cara untuk memecahkan dilema ini adalah dengan menyadari bahwa Perjanjian Baru melihat konsep kesempurnaan dalam dua cara. Pandangan Paulus tentang jemaat Filipi adalah kedewasaan, bukan ketidak-bercelaan. Perhatikan bagaimana Alkitab versi New International Version menerjemahkan perkataannya kepada gereja di Filipi: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Setiap dari kita yang sudah dewasa harus memiliki kecenderungan yang sama dalam berbagai hal” (Fil 3:15). “Kesempurnaan” dalam hal ini bisa lebih tepat didefinisikan sebagai “mereka yang sudah menunjukkan perkembangan berarti dalam hal spiritualitas dan keseimbangan hidup” Renungkan 1 Petrus 1:14-16. Apakah perintah ini kedengarannya tidak realistis? Apakah mungkin Allah meminta anda untuk melakukan suatu hal yang mustahil? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adalah suatu hal yang alamiah apabila semua anak mau untuk bertumbuh dengan sempurna. Ini juga berlaku bagi orang percaya. Daripada mengambil pendekatan jalan pintas dan prinsip mencoba-coba dalam mencapai pertumbuhan, kita seharusnya membiarkan panggilan untuk menjadi sempurna itu mendorong kita untuk masuk ke dalam proses pencarian yang serius mengenai bagaimana caranya supaya kita menjadi seperti Yesus. Contoh dari Paulus sendiri seharusnya mampu menjadi contoh bagi kita semua: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jawaban: S, B, B, S, S &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena aku pun telah ditangkap oleh Kristus Yesus. Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus. (Filipi 3:12-14) 4 Ada stiker mobil yang pernah populer, bertuliskan, “Orang Kristen Itu Tidak Sempurn – Hanya Dimaafkan.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; “Pertama-tama kita harus dibuat menjadi sesuatu yang baik sebelum kita bisa melakukan kebaikan.” — Hugh Latimer &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita melihat pengulangan kata sempurna di dalam surat Paulus yang pertama kepada jemaat di Korintus. “Tetapi jika yang sempurna tiba,” katanya, “maka yang tidak sempurna itu akan lenyap” (1 Korintus 13:10). Dalam konteks ini, sempurna adalah istilah yang diberikan secara khusus pada Allah Bapa– sebuah konsep kesempurnaan yang tidak akan bisa ditemukan sampai Kristus datang. Teolog Louis Berkhof lebih cenderung untuk membicarakan kesempurnaan-kesempurnaan Allah daripada kualitas karakteristikNya. Allah itu benar-benar tak bercacat cela. Tidak peduli seberapa matangnya kita di dalam hidup ini, kita tidak akan pernah mencapai kesempurnaan sampai suatu saat Allah menyempurnakan kita di dalam kemuliaan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tujuh Alasan Untuk Menutup Celah &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada umumnya, dunia sudah memiliki kesan negatif terhadap kesucian. Banyak pihak menyamakan hal itu dengan suatu hal yang suram, memikul salib tanpa adanya sukacita. Hal itu lebih dilihat sebagai suatu kondisi “lebih-suci-dari-kamu” sebagai suatu tindakan pembenaran diri sendiri, daripada melihat hal itu sebagai suatu pengalaman yang penuh sukacita. Sebelum kita menutup bagian ini, marilah kita menghilangkan pendapat demikian dengan melihat pada beberapa keuntungan dan berkat yang dapat kita peroleh dari tindakan mengikuti Kristus. Ini adalah tujuh buah dari penyucian (pengudusan): &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah dipermuliakan. Ketika kita suci, kita semakin mempercayai bahwa Allah itu sungguh nyata dan menakjubkan seperti yang dinyatakan sendiri olehNya. Paulus menyatakan bahwa pekerjaan-pekerjaan baik yang dilakukan oleh orang Kristen memperindah doktrin mengenai Kristus (Titur 2:10). Bahkan mereka yang menolak Allah akan dipaksa untuk mengakui keberadaanNya ketika para pengikutnya berjalan di jalanNya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hubungan berkelanjutan dengan Allah Bapa di dalam hidup ini. “Jika seorang mengasihi Aku,” kata Yesus “ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia” (Yohanes 14:23). Merupakan suatu sukacita dan ketenangan yang luar biasa apabila kita mengalami hadirat Allah dan Anak melalui Roh kudus. Dan Yesus menandakan bahwa hadirat ini adalah suatu hadirat yang dipenuhi dengan kasih, bukan dengan nuansa yang dingin. Tentu saja, bersamaan dengan kehadiranNya akan datang juga kuasaNya, yang memampukan kita untuk mengalahkan tantangan-tantangan di dalam hidup kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 “Tidak ada sukacita kekal tanpa kekudusan.. Maka betapa pentingnya kebenaran yang menguduskan itu! Betapa pentingnya Firman yang menghancurkan kuasa kesenangan-kesenangan palsu! Dan betapa kita harus waspada untuk senantiasa menerangi jalan-jalan kita dan memenuhi hati kita dengan Firman Allah! “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- John Piper &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Persekutuan dengan orang percaya lainnya. Apabila kita berjalan di dalam kegelapan, kita tidak bisa menikmati persekutuan yang tulus dengan sesama orang percaya. “Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa” (1 Yohanes 1:7). Allah berjanji untuk melengkapi kita dengan belas kasihan, hai rekan-rekan seperjalanan yang sedang menjalani jalan menuju penyucian. Bagi saya pribadi, saya menemukan bahwa kebenaran Allah ditambah dengan contoh-contoh para pelayan Allah lainnya adalah suatu hal yang penting bagi pertumbuhan spiritual saya. Dan selama saya berjalan di jalanNya, saya tidak pernah kekurangan keduanya. Kita saling membutuhkan satu sama lain (dalam konteks gereja) apabila kita hendak berhasil. Kekudusan dan komunitas Kristiani akan saling melengkapi satu sama lain. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keyakinan akan keselamatan. Walaupun keselamatan kita tidak didasarkan pada usaha kita untuk mencapai kekudusan, keyakinan akan keselamatan cenderung untuk berkaitan dengan kekudusan hidup. Di dalam surat Petrus yang kedua, Petrus menggugah para pembaca untuk sungguh-sungguh berusaha senantiasa mengumpulkan karakteristik spiritual, menambahkan kepada iman kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang yang dimiliki secara berkelimpahan (2 Petrus 1:5-9). Dia mengingatkan bahwa apabila ada yang tidak memiliki semuanya itu, maka ia akan lupa .... ... bahwa dosa-dosanya yang dahulu telah dihapuskan. Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung. Dengan demikian kepada kamu akan dikaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. (2 Petrus 1:9-11) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengabaran Injil. Sebagai seorang muda yang masih dibawah pengaruh dosa, saya mencoba sebisa saya untuk menemukan kesalahan-kesalahan di dalam hidup orang percaya supaya saya bisa menolak pesan yang mereka sampaikan dan mencap mereka sebagai orang munafik. Namun walaupun mereka tidak sempurna, tapi saya tidak bisa menemukan ketidak-konsistenan yang tergolong fatal. Sebuah keluarga besar yang menjangkau saya dengan Injil lebih memberikan pengaruh kepada saya lewat gaya hidup mereka daripada dengan perkataan-perkataan yang diucapkan. Sang suami mengasihi istrinya, sang istri menghormati suaminya, anak-anak menaati orang tuanya, dan mereka semua sangat bersuka cita. Saya tidak pernah melihat hal seperti itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Renungkan 1 Petrus 2:12. Walaupun orang yang belum percaya mungkin menghina gaya hidup anda sekarang, akibat apa yang mungkin mereka terima pada akhirnya? Sudah disampaikan bahwa meskipun dunia mungkin tidak membaca Alkitab, tapi dunia membaca orang-orang Kristen. Allah menggunakan orang-orang kudus untuk menjangkau orang lain. Bukan orang yang sempurna, namun kudus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemahaman, kebijakan, dan pengetahuan. Harta-harta inilah yang akan diperoleh mereka yang mencari Allah dengan sepenuh hati (Amsal 2:1-11). Mereka terlindungi dari para penghujat, pemberontak, dan para orang bodoh. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat Allah. Alkitab menyatakan, “Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan” (Ibrani 12:14). Meskipun arti sebenarnya dari pasal ini masih dilingkupi oleh misteri, tapi Alkitab bisa memberikan gambaran mengenai “Penglihatan yang Menakjubkan,” atau melihat Allah. Hal itu akan terjadi ketika Tuhan datang kembali, ketika semua musuh sudah dikalahkan dan kita semua sudah disucikan dengan sempurna. Pada saat itu, penglihatan kita mengenai Allah akan berkelanjutan dan intens, tanpa distraksi atau tindakan yang berfokus pada ke ‘aku’ an akibat dari dosa. Bukan berarti pengetahuan kita akan Allah akan menjadi sempurna, karena Ia akan terus menyatakan diriNya lebih dan lebih lagi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
—Yesus (Matius 5:8) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 “Berbahagialah orang yang suci hatinya, “ kata Yesus, “karena mereka akan melihat Allah” (Matius 5:8). Penyataan akan kebesaran dan kebaikanNya adalah hal terindah yang bisa kita dapatkan apabila kita menjalani hidup kita dengan penuh kekudusan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti yang sudah anda lihat, ada banyak alasan baik yang dapat menggugah kita untuk menutup celah antara harapan Allah akan diri kita, dan pengalaman kita pribadi. Kita diciptakan untuk turut ambil bagian dalam kekudusanNya-bukan hanya di surga, namun juga di bumi. Selangkah demi selangkah, kita bisa belajar untuk mengalahkan dosa dan hidup dengan cara yang semakin lama semakin memancarkan kemuliaan dan karakter Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam bab pertama, kami sudah mencoba untuk menarik minat anda pada kesalehan hidup. Dimulai dari bab kedua, kami akan membangun kerangka Alkitabiah yang dibutuhkan untuk mendukung suatu kehidupan yang kudus- dan penuh sukacita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diskusi Kelompok 1. Apa gejala-gejala yang menandakan seseorang sedang terperangkap di tengah? 2. Celah antara standar-standar Allah dan perilaku kita sendiri tidak bisa dihindari; namun terlalu berlebihan apabila kita menamakan diri kita munafik. Di mana kita bisa menarik garis untuk membedakan keduanya? 3. Bagaimana menjelaskan hubungan antara penyucian diri kita dengan sejarah masa lalu dan harapan di masa depan? 4. Rasa takut akan Allah, menurut penulis, adalah suatu “syarat untuk mencapai keintiman rohani dengan Allah.” (Hal. 7) Apa maksudnya? 5. Sejauh mana seorang kristen yang dewasa rohani bisa bebas dari dosa? 6. Sekarang setelah anda selesai membaca bagian ini, bagaimana anda akan menjelaskan Matius 5:48 kepada orang yang baru percaya? Bacaan Yang Direkomendasikan How to Help People Change 'by Jay E. Adams (Grand Rapids, MI: Zondervan Publishing House, 1986) Saved by Grace by Anthony A. Hoekema (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1989) Referensi 1. ↑ Jay E. Adams, The Biblical View of Self-Esteem, Self-Love, Self-Image (Eugene, OR: Harvest House Publishers, 1986), h. 78. 2. ↑ Oscar Cullman, Christ and Time (Philadelphia, PA: The Westminster Press, 1964), h. 3. 3. ↑ John Piper, The Pleasures Of God (Portland, OR: Multnomah Press, 1991), h. 147. 4. ↑ Ern Baxter, pesan yang direkam, “Sanctification,” n.d. 5. ↑ Quoted in Gathered Gold, John Blanchard, ed. (Welwyn, Hertfordshire, England: Evangelical Press, 1984), h.146. 6. ↑ J.C. Ryle, Holiness (Welwyn, Hertfordshire, England: Evangelical Press, 1879, reprinted 1989), h. 39. 7. ↑ 7. Anthony A. Hoekema, Saved by Grace (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1989), h. 192-93. 8. ↑ Jerry Bridges, The Practice of Godliness (Colorado Springs, CO: NavPress, 1983), h. 15-20. 9. ↑ Idem, p. 24. 10. ↑ Idem, p. 26. 11. ↑ J.I. Packer, Concise Theology (Wheaton, IL: Tyndale House, 1993), h. 169. 12. ↑ Sinclair Ferguson, A Heart for God (Colorado Springs, CO: NavPress, 1985), h. 129. 13. ↑ R.A. Muller, The International Standard Bible Encyclopedia, Volume Four (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1988), h. 324. 14. ↑ William Hendriksen, New Testament Commentary: Philippians (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1962), h. 176. 15. ↑ Quoted in Gathered Gold, p.148. 16. ↑ Louis Berkhof, Systematic Theology (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1941), p. 52. ↑ Sumber Asli tidak diketahui&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Susanlim</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/How_Can_I_Change%3F/Caught_in_the_Gap_Trap/id</id>
		<title>How Can I Change?/Caught in the Gap Trap/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/How_Can_I_Change%3F/Caught_in_the_Gap_Trap/id"/>
				<updated>2008-12-22T17:47:14Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Susanlim: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{InProcess|user=|date=}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{info| Bagaimana Saya Bisa Berubah? / Terperangkap di Tengah}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 “Semua yang kini sedang bergumul melawan amarah, silakan maju ke depan. Kami mau berdoa untuk anda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu itu hari Minggu pagi. Saya baru saja menyelesaikan khotbah mengenai amarah, dan saya mau memberikan waktu bagi Roh Kudus untuk bekerja di dalam hati orang-orang yang hadir saat itu. Namun saya terkejut melihat respon yang diberikan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekitar dua puluh orang-orang yang rendah hati maju ke depan mimbar—untuk ukuran gereja kami, jumlah ini cukup besar. Namun, bukan jumlahnya yang menarik perhatian saya. Yang menarik perhatian saya adalah orang-orang yang maju ke depan. Sembilan belas dari dua puluh orang yang maju ke depan adalah para ibu muda! (Amarah sangat rentan dialami oleh para ibu, sejauh yang saya ketahui.) Sebagai gembala, saya tahu bahwa para wanita ini adalah orang kristen yang sungguh-sungguh. Apa yang menyebabkan mereka maju ke depan adalah rasa frustasi mendalam mereka yang dialami karena mereka merasa terperangkap di tengah -- zona antara standar Alkitabiah yang berkaitan dengan penguasaan diri, dan kegagalan mereka untuk hidup menurut standar Alkitabiah itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah masalah itu berkaitan dengan amarah, ketakutan, kekuatiran, atau suatu hal yang umum, seperti kemalasan, kita semua sudah mengalami perasaan terperangkap di tengah, antara siapa diri kita saat ini, dan siapa diri kita seharusnya. Alkitab menyatakan bahwa kita adalah ciptaan baru, para pemenang, penakluk. Dan kita bukan hanya sekedar pemenang, melainkan lebih dari seorang pemenang (Roma 8:37). Kadang kita memang merasa seperti itu. Namun yang lebih sering, kita mengalami kesulitan melihat suatu hal yang melampaui kelemahan-kelemahan dan kegagalan-kegagalan kita. Dan yang menariknya, justru di saat-saat seperti ini, ayat dalam Matius 5:48 mendadak jadi tampil ke permukaan: “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” Untuk Dipelajari Lebih Lanjut: Bahkan Rasul Paulus mengalami saat dimana ia merasa terperangkap di tengah (Roma 7:21-25). Dapatkah anda membandingkan rasa frustrasi anda dengan rasa frustrasi yang dialami Rasul Paulus? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlahan kita menghela nafas dan berkata, Hal itu tidak akan pernah menjadi kenyataan. Saya menyebut kondisi ini sebagai “perangkap tengah”. Berikut adalah cara kerjanya: Sebagai orang kristen, kita semua memiliki pengetahuan mengenai hal-hal yang diharapkan Allah dari diri kita. Namun pada kenyataannya, apa yang kita capai jauh dari apa yang -kita tahu- sebenarnya harus kita capai. Maka, terciptalah suatu jarak antara apa yang kita tahu harus kita lakukan, dan performa kita yang sesungguhnya. Apabila jarak antara keduanya terlampau jauh, kita bisa saja langsug di cap sebagai seorang munafik. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kehidupan kekristenan semata-mata berkaitan dengan perubahan karakter intrinsik kita menuju karakter Kristus.. Tujuan dari ayat-ayat ini (Misalnya Roma 6, Kolose 3: 5-14, Efesus 4:22-32) adalah untuk menunjukkan kepada kita bahwa ada jarak yang hebat antara siapa kita di dalam Kristus (pembenaran) dan siapa kita sebenarnya dalam kehidupan keseharian kita (pengudusan), yang tujuannya adalah untuk mendorong kita agar kita menutup jarak yang ada antara keduanya... Tujuan Paulus adalah untuk mengugah kita supaya dalam kehidupan keseharian kita, kita mampu menampilkan perilaku-perilaku yang menggambarkan siapa kita sebenarnya di dalam Kristus.” - Jay Adams &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Situasi ini adalah suatu hal yang nyata dalam kehidupan kekristenan. Bagi sebagian besar, tidak dibutuhkan orang lain untuk memberitahu kita mengenai ketidak-konsistenan di dalam hidup kita—kita semua terlalu manyadarinya. Kesadaran itu seharusnya membuat kita menjadi semakin rendah hati dan menggantungkan diri kepada Tuhan supaya kita bisa berhasil menutup ketidak-konsistenan itu. Namun biasanya momen ‘terjebak di tengah’ ini muncul akibat ketidakpedulian kita akan doktrin atau ajaran mengenai pengudusan. Daripada menyadari kalau jarak ini ada sebagai pertanda bahwa kita membutuhkan pertolongan dari Allah saja, kita malah membiarkan jarak ini untuk menghukum kita, dan memperlambat kemajuan kita. Kita menjadi terjebak dalam pemikiran bahwa kita adalah seorang pecundang, bodoh, orang yang penuh kegagalan... dan mungkin saja bukan benar-benar seorang Kristen. Beberapa orang bahkan terperosok lebih jauh dalam ketidaktaatan. Mereka yang terjebak di situasi seperti ini (dan pada level tertentu, kita semua termasuk di dalamnya) mengalami penderitaan (yang sebenarnya tidak diperlukan) karena patah semangat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai seorang gembala, salah satu tanggung jawab utama saya adalah membantu orang-orang agar bisa keluar dari jebakan ini. Saya sering menyampaikan pada orang-orang, “Hal itu tidak akan instan terjadi, dan membutuhkan usaha yang sungguh-sungguh, namun supaya bisa keluar dari jebakan itu tidaklah rumit. Dan percayalah, anda tidak akan kecewa melihat hasilnya.” Mungkin anda merasa bahwa anda sedang berada di posisi seperti ini. Jika demikian, kami yakin buku ini dapat menolong anda untuk menutup jarak yang ada antara siapa anda seharusnya di dalam Kristus dan siapa anda sebenarnya dalam kehidupan keseharian anda. Dapatkah anda membayangkan kehidupan dimana anda mematahkan kebiasaan-kebiasaan anda yang penuh dosa dan membuat kemajuan nyata dalam kehidupan rohani anda? kehidupan seperti itu sungguh mungkin adanya. Dan buku ini ditulis untuk menguatkan dan menyertai anda seiring dengan usaha anda untuk mencapai yang kehidupan seperti itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daftar Isi &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 [hide]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
• Diantara “Sekarang” dan “Yang Akan Datang” • 2 Butuh Obat Kumur? • 3 Setimpal Dengan Usahanya • 4 Bagaimana Meraih Kesempurnaan? • 5 Tujuh Alasan Untuk Menutup Celah • 6 Diskusi Kelompok • 7 Bacaan yang Direkomendasikan • 8 Referensi Diantara “Sekarang” dan “Yang Akan Datang” 1. Apakah ada area-area dalam hidup anda yang anda sadari kurang memenuhi ekpektasi Allah? (Tuliskan dengan singkat sebuah area itu di bawah) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; Tidak diragukan, bahwa salah satu hal yang paling membuat kita frustrasi terkait dengan kehidupan kekristenan adalah kontradiksi yang nyata antara siapa kita di mata Allah, dan siapa diri kita dalam pendapat kita sendiri. Ambil contoh jemaat di Korintus, misalnya. Rasul Paulus pada satu titik meyakinkan mereka bahwa, “Kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita.” (1 Korintus 6:11). Sepertinya berhenti sampai di situ saja, bukan? Sampai kita membaca surat kedua Paulus pada jemaat ini, yang isinya nyaris bertolak-belakang dengan yang pertama disampaikan: “Marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah” (2 Korintus 7:1). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di pikiran saya, mungkin saja para jemaat di Korintus merasa bingung. Apakah mereka sudah disucikan... atau masih tercemar? sebenarnya dua-duanya berlaku untuk mereka, dan juga kita. Untuk menjelaskan hal itu, mari saya ajak anda untuk menyimak hal di berikut ini. Renungkan 1 Yohanes 3:2-3. Apa pengaruh dari pemikiran kita tentang “yang akan datang” terhadap apa yang ada “saat ini”. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kerajaan Allah itu adalah “saat ini” dan “yang akan datang”. Dalam beberapa hal, Kerajaan Allah berkaitan dengan masa kini, dan untuk beberapa hal lainnya, Kerajaan Allah berkaitan dengan masa mendatang. Allah kita telah menyatakan dan menunjukkan bahwa Kerajaan (atau hukum) Allah sudah bersinggungan dengan sejarah manusia: “Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu” (Lukas 11:20). Namun, Kerajaan Allah belum datang seutuhnya. Hal itu tidak akan terjadi sampai Yesus datang kembali dalam kuasaNya, ketika setiap lutut kan bertelut dan semua lidah mengaku bahwa Dialah Allah. Sampai hal itu terjadi, tanpa menyangkal kehadiran Kerajaan Allah yang ada di dalam dunia ini, kita berdoa, “Datanglah Kerajaan-Mu” (Matius 6:10) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan demikian, Kerajaan Allah berjalan seiringan dengan kehidupan kita. Allah, lewat karya pembenaran-Nya, sudah menyatakan bahwa kita adalah orang-orang benar. Posisi kita di mata Allah sudah berubah. Masalah itu sudah diselesaikan sekali dan untuk selama-lamanya di Surga. Namun, di sisi surga lainnya (bumi), perubahan internal kita merupakan suatu proses yang sedang berjalan. Proses penyucian ini membuat saya sibuk sebagai seorang pribadi Kristen, dan juga memberikan saya banyak pekerjaan dan tugas sebagai seorang gembala. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, apakah kita sudah memiliki kemenangan di dalam Yesus atau belum? apakah kita para pemenang, atau apakah kita masih harus berjuang? Oscar Cullmann memberikan ilustrasi dari Perang Dunia ke-2, yang saya percaya dapat membantu kita menangkap hal yang kesannya bertentangan ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejarah mencatat dua peristiwa besar yang menjadi pangkal berakhirnya Perang Dunia ke-2: D-Day dan VE-Day. D-Day terjadi pada 6 Juni 1944, ketika para pasukan Sekutu mendarat di Normandy, Perancis. Ini adalah titik balik dalam perang yang berlangsung; ketika pendaratan ini berhasil, nasib Hitler sudah sangat jelas. Pada dasarnya, perang sudah berakhir. Namun kemenangan total di Eropa (VE-Day) tidak terjadi sampai tanggal 7 Mei 1945 ketika pasukan Jerman menyerah di Berlin. Periode sebelas bulan ini dicatat sebagai salah satu periode pertumpahan darah terbesar sepanjang sejarah perang. Pertempuran-pertempuran terjadi di seluruh Perancis, Belgia, dan Jerman. Walaupun secara fisik para musuh sudah terluka, namun mereka tidak sepenuhnya menyerah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pemilihan Ilahi adalah jaminan bahwa Allah akan bekerja dalam melengkapi pemilihan kita (untuk diselamatkan oleh anugerah-Nya) dengan anugerah pengudusan-Nya. Ini adalah arti dari Perjanjian Baru: Allah tidak hanya sekedar memerintahkan agar kita taat kepadaNya, namun juga memberikan kemampuan pada kita untuk menaatiNya.” -John Piper &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salib adalah D-Day kita. Di sana, Tuhan kita Yesus Kristus mati disalibkan, untuk mematahkan belenggu dosa dari umatNya. Berdasarkan kematian dan kebangkitanNya, kita semua dibenarkan. Namun, kemenangan akhir akan terjadi ketika Ia datang. Tidak ada keraguan mengenai hasil akhirnya. Namun kita masih akan menemui gesekan-gesekan dan pertandingan-pertandingan sampai Tuhan muncul di dalam kemuliaanNya untuk memusnahkan kuasa kegelapan selamanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk Bacaan Lebih Lanjut: Bacalah 1 Petrus 5:8-9. Walaupun kemenangan akhir Allah tidak bisa disangkal, namun kita harus tetap berjuang melawan musuh kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fakta ini, apabila kita tetap berusaha untuk mengingatnya, dapat membuat kita tidak patah semangat. Pertarungan masih berlangsung, namun peperangan utama sudah dimenangkan. Kesadaran akan karya pengorbanan Kristus yang telah dilakukan bagi kita sangat penting untuk memacu semangat moral kita seiring dengan usaha kita untuk mencapai suatu kekudusan hidup. Kita harus mempelajari dan merenungkan doktrin utama mengenai pembenaran sampai hal itu sungguh tertanam dalam kesadaran kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Butuh Obat Kumur? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun kita sudah dibenarkan sepenuhnya di dalam Kristus (D-Day), bukan berarti kita sudah sepenuhnya disucikan (VE-Day). Beberapa orang gagal memahami hal ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengajar Alkitab Ern Baxter menyampaikan kejadian yang terjadi saat Latter Rain Revival di akhir tahun 1940-an. Ada suatu ajaran menyimpang yang dinamakan “manifestasi anak-anak Allah”. Pada intinya ajaran itu menyampaikan doktrin yang menjanjikan kekudusan total di dalam hidup ini. Pada bentuk ekstrimnya, ajaran itu termasuk kepercayaan bahwa elit spiritual akan menerima tubuh kemuliaan sebelum kedatangan Kristus untuk kedua kalinya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada sesi penutupan acara dimana Baxter menjadi pembicaranya, beberapa ‘anak-anak Allah’ muncul di pojok auditorium berbalutkan jubah putih. Ketika ia selesai menyampaikan Firman, mereka berjalan ke depan dan mulai mencoba untuk menarik pengikut-pengikut baru bagi doktrin mengenai kesempurnaan total yang mereka ajarkan. Ketika ia mengingat peristiwa itu, ia menyatakan, “Wanita yang menjadi kelompok di grup itu benar-benar membutuhkan Listerine (merek obat kumur). Bukan itu jenis kesempurnaan yang saya nantikan.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih umum dari skenario yang terjadi lewat peristiwa yang dialami oleh Ern Baxter diatas, adalah situasi-situasi yang terjadi akibat dari kurangnya pengetahuan dan kecenderungan untuk menyederhanakan konsep kekudusan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2 Kalau anda mencari kesempurnaan total di dalam hidup ini, kira-kira mana dari antara beberapa hal di bawah ini yang paling sulit untuk dilakukan oleh anda? ❏Sama sekali tidak akan pernah mengendarai mobil lebih dari batas kecepatan. ❏Berbicara dengan hangat dan lembut pada setiap sales yang menelepon rumah anda. ❏Mengindari semua kalori yang tidak dibutuhkan. ❏Tidak pernah memukul jam weker anda ketika ia membangunkan anda. ❏Senantiasa membayar pajak penghasilan anda dengan sukacita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu saya baru menjadi orang percaya, saya berjumpa dengan seorang pria muda bernama Greg, mengaku menjadi seorang perampok dan pengguna obat terlarang yang sepertinya bertobat waktu di dalam penjara. Pegangan hidup Greg dalam menjalani kehidupan kekristenan sangat memukau diri saya. Ia membawakan dirinya dengan keyakinan penuh dan sedikit keangkuhan. Ia berbicara seakan-akan dosa itu bukan menjadi suatu masalah lagi baginya. Lebih dari sekali dia mengatakan kepada saya betapa ia sudah “diselamatkan, disucikan, dan dipenuhi oleh Roh Kudus.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar dia mengatakan hal itu, sepertinya membuat hal itu seakan-akan mudah dan sederhana. Sebagai seorang Kristen yang baru, pada suatu waktu ia naik ke dalam kereta, dan waktu dia baru berangkat, beberapa jam kemudian ia sudah mengalami apa yang dinamakan olehnya sebagai “pengalaman pengudusan.” Dia berusaha meyakinkan saya bahwa pengalaman itu adalah hal yang dibutuhkan pertama kali untuk menerima baptisan Roh Kudus, dan sekali itu terjadi, itu akan berlaku selamanya. Saya harus mengakui di sini, bahwa ada beberapa hal tentang Greg yang kesannya tidak terlalu kudus. Ia mempunyai kecenderungan untuk menghakimi orang dan perilaku seorang farisi. Ia bisa menjadi seorang yang terlalu menguasai dan picik. Saya ingat pada suatu saat ketika seorang teman tidak sengaja meletakkan suatu benda di atas Alkitabnya: “Maaf—itu kan Firman Allah!” Tapi tetap saja, dia yakin dia bisa mengutip Alkitab, dan sepertinya sangat memahami perihal pengudusan. Untuk Renungan Lebih Lanjut: Bacalah Matius 26:41. Kapan waktunya kita bisa aman menganggap bahwa kita sudah “sampai” pada titik pengudusan? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sangat mengejutkan ketika pada akhirnya ia kembali mengedarkan dan memakai obat terlarang. Masalah Greg terkait dengan kurangnya pemahaman dan juga kesalah-pahaman mengenai ajaran Alkitab terkait dengan konsep pengudusan. Ia sudah melakukan kesalahan seperti yang banyak orang lakukan dengan hanya memfokuskan perhatian pada beberapa ayat Alkitab favorit yang sepertinya membenarkan pengalaman pribadinya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kekudusan bukan jalan menuju Kristus. Kristus, adalah jalan menuju kekudusan.&amp;quot; — Adrian Rogers &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; Kekudusan itu sifatnya pasti (terjadi saat kita bertobat) dan progresif (terus berlangsung). Semua ini tidak terjadi pada sekali waktu di masa lalu, dan bukan juga suatu hal yang akan terjadi secara bertahap. Kita sudah diubahkan dan kita sedang berubah. Tanpa mengesampingkan keberhasilan pendaratan kita di Normandy, marilah kita bijak dan realistis saat menilai adanya oposisi yang ada diantara kita dan Berlin. Kita tidak punya pilihan yang memungkinkan kita untuk mendapatkan tiket naik ke dalam kereta pengudusan, seperti yang Greg yakini. Hal itu akan menjadi suatu pertandingan di setiap langkah kehidupan kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setimpal dengan Usahanya &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi beberapa orang, “pengudusan” adalah suatu istilah teologis yang sering didengar, namun jarang dimengerti. Kedengarannya itu adalah suatu hal yang cocok untuk mahasiswa teologia dan kurang praktis untuk kehidupan sehari-hari. Namun sebaliknya, hal itu adalah suatu hal yang sangat amat praktis, dan bisa dikaitan dengan kehidupan keseharian. Doktrin mengenai pengudusan bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh hampir seluruh orang Kristen di dalam sejarah gereja. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana saya bisa berubah? Bagaimana saya bisa bertumbuh? Bagaimana saya menjadi serupa dengan Kristus? Bagaimana saya bisa tidak terperangkap di tengah? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apapun yang bisa menjawab pertanyaan itu akan mengharuskan kita untuk melakukan beberapa usaha. Lampiran A (halaman 93) menunjukkan bahwa beberapa cabang gereja sudah membicarakan masalah ini di masa lalu, namun mari kita lihat apa yang bisa kita pelajari mengenai aplikasi dari doktrin yang penting ini pada masa kini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dapatkah kekudusan itu menyelamatkan kita? dapatkah kekudusan menghilangkan dosa, membayar pelanggaran kita, membayar hutang kita kepada Allah? Tidak, tidak sedikitpun bisa. Allah melarang saya untuk pernah mengatakan hal itu. Kekudusan tidak bisa melakukan semua itu. Orang suci yang paling suci sekalipun adalah ‘hamba yang tidak menguntungkan.’ Pekerjaan kita yang paling tulus dan suci sekalipun tidak akan lebih baik dari kain kotor ketika diuji oleh terang Hukum Allah yang suci. Jubah putih, yang ditawarkan oleh Yesus dan yang dikenakan oleh iman, harus menjadi kebenaran kita. Nama Yesus Kristus haruslah menjadi satu-satunya keyakinan kita. Buku kehidupan Anak Domba Allah harus menjadi satu-satunya jalan kita menuju ke Surga. Dengan kekudusan kita, kita tidak lebih baik dari orang-orang berdosa. Hal-hal yang terbaik dalam hidup kita pun sudah tercemar dengan ketidaksempurnaan. Semuanya itu belum sempurna, entah karena motivasi yang salah, atau kegagalan saat melakukannya. ‘Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri (Ef.2:8,9).&amp;quot; — J.C. Ryle &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Arti Alkitabiah dari kata menguduskan (menyucikan) adalah “untuk memisahkan; mengkhususkan.” (Kesucian berasal dari akar kata yang sama dalam bahasa Yunani) Hal ini bisa diaplikasikan pada orang, tempat, situasi, atau benda tertentu. Ketika suatu hal dikuduskan, hal itu akan dipisahkan dari pemakaian pada umumnya dan didedikasikan untuk kepentingan khusus. Misalnya, pada jaman Musa, Hari Raya Pendamaian dikuduskan bagi Allah yang Kudus. Hari itu menjadi hari yang kudus. Sebuah hal yang dikuduskan tidak akan serta merta menjadi suci karena dipisahkan dari hal lainnya; kesucian yang didapat akan berasal dari untuk apa (atau kepada siapa) kah hal itu disucikan. Karena hanya Allah saja yang suci, maka hanya Dia-lah yang bisa mengimpartasikan kesucian. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara teologis, istilah “pengudusan” telah dipergunakan untuk menggambarkan proses yang dilalui oleh seorang percaya ketika Roh Allah sedang bekerja di dalam hidupnya untuk membuat dirinya semakin menyerupai Kristus. Prosesnya dimulai saat kita lahir baru, dan terus berlangsung sepanjang kita hidup. Hal ini ditandai dengan konflik keseharian seiring dengan usaha kita untuk mengalahkan dosa yang ada di dalam diri kita dengan anugerah dan kekuatan yang Allah berikan bagi kita. Camkan di dalam pikiran bahwa rasa bersalah yang didapat dari dosa sudah dihilangkan lewat pembenaran, sebagaimana yang dijelaskan oleh Anthony Hoekema; penyucian menghilangkan pencemaran akibat dosa: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang dimaksud dengan rasa bersalah adalah kondisi di mana kita layak mendapatkan penghukuman atau harus bertanggung jawab untuk menerima hukuman karena telah melanggar hukum Allah. Yang dimaksud dengan pembenaran, sebagai tindakan deklaratif Allah, adalah bahwa rasa bersalah akibat dosa dihilangkan atas dasar karya utama Yesus Kristus. Yang dimaksud dengan pencemaran adalah bahwa kita memiliki kecenderungan bawaan yang terjadi sebagai akibat dari dosa yang juga pada akhirnya menciptakan dosa lain lebih lanjut. Sebagai akibat dari kejatuhan Adam dan Hawa, kita semua lahir dengan kondisi seperti ini; dosa-dosa yang kita lakukan tidak hanya berasal dari kecenderungan kita untuk berdosa, namun juga menambah kecenderungan itu sendiri. Yang dimaksud dengan penyucian adalah kondisi dimana pencemaran yang didapat dari dosa sedang dalam proses (tahapan) pembersihan (walaupun hal itu tidak akan sepenuhnya dibersihkan sampai kita memasuki hidup baru di Surga). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk Bacaan Lebih Lanjut: Apakah anda menyadari betapa penting dan bermanfaatnya apabila kita memiliki perasaan takut akan Allah? (Lihat Mazmur 19:9 dan 25:14, Amsal 1:7 dan 9:10, dan 1 Petrus 1:17.) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alkitab juga mendefinisikan penyucian sebagai proses pertumbuhan menuju hidup yang saleh. Hidup yang saleh merujuk pada suatu kehidupan yang menunjukkan dedikasi kepada Allah, dan karakter yang muncul akibat dedikasi tersebut. Hidup yang saleh melibatkan kasih terhadap Allah dan kerinduan akan Allah. Selain itu juga mengandung rasa takut akan Allah, yang menurut John Murray adalah “jiwa dari hidup yang saleh”. Karena telah ditebus dari ancaman hukuman kekal, orang Kristen menyatakan rasa takutnya kepada Allah dengan memfokuskan diri tidak kepada murka Allah, tapi kepada “kemuliaan, kekudusan dan keagunganNya...” Rasa takut akan Allah mempunyai dampak yang baik bagi hati kita, dimana rasa ini akan memurnikan hati kita, dan juga hal ini adalah syarat apabila kita hendak menjalin hubungan yang lebih intim dengan Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hidup yang saleh melibatkan lebih dari sekedar unsur moralitas atau tindakan fanatik. Hal tersebut berasal dari kesatuan dengan Kristus dan hasrat untuk memuliakanNya. Seorang yang saleh akan berkeinginan untuk menjadi seperti Tuhan-nya juga ingin untuk menyenangkan hatiNya. Ia ingin merasakan apa yang dirasakan olehNya, memikirkan apa yang dipikirkan oleh Tuhan-nya melebihi dirinya sendiri, dan melakukan apa yang menjadi kehendakNya. Secara singkat, orang seperti ini ingin menjadi seseorang yang memiliki karakter Allah, sehingga Allah bisa dimuliakan lewat hidupnya. Tidak ada hal lain yang layak diperjuangkan sepanjang hidup kita: “Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang” (1 Timotius 4:8). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baik Allah maupun manusia memegang peran penting dalam konteks penyucian. Allah, dengan anugerahNya, memulai karya penebusan di dalam kita dan memberikan keinginan serta kuasa untuk mengalahkan dosa. Sebagai respon sekaligus sambil bersandar pada anugerahNya, kita menaati perintah Alkitab&amp;amp;nbsp;: “karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya. Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan” (Filipi 2:12-13) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; “Penyucian, menurut Westminster Shorter Catechism, adalah ‘pekerjaan dari anugerah Allah yang diberikan secara cuma-cuma, dimana kita diperbaharui menjadi manusia seutuhnya berdasarkan gambaran Allah, dan dimampukan lebih dan lebih lagi untuk mati bagi dosa, dan hidup bagi kebenaran.’ Konsep yang terkandung di dalam hal ini adalah bukan berarti dosa itu dihapuskan total (hal ini terlalu berlebihan) atau hanya ditangkis (hal ini terlalu meremehkan), namun berkaitan dengan perubahan karakter ilahi kita yang membebaskan kita dari kebiasaan-kebiasaan kita yang penuh dosa dan membentuk kita menjadi serupa dengan Kristus dalam hal perasaan, sifat, dan karakteristik-karakteristik lainnya. — J.I. Packer Di dalam Perjanjian Baru, posisi dari hidup kudus itu berada pada titik tengah antara legalitas di satu sisi, dan lisensi di sisi lainnya. Semua tradisi gereja yang terlalu menitik beratkan pada karya Allah di dalam kita tanpa menaruh pengharapan bahwa karya itu akan menghasilkan suatu hasrat yang terus bertambah di dalam diri kita untuk menuju suatu kesalehan hidup, akan cenderung menuju ke arah lisensi. “Karena, seperti yang telah kerap kali kukatakan kepadamu, dan yang kunyatakan pula sekarang sambil menangis, banyak orang yang hidup sebagai seteru salib Kristus. Kesudahan mereka ialah kebinasaan, Tuhan mereka ialah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi” (Filipi 3:18-19). Di lain pihak ada juga pihak yang terlalu menitik beratkan pada porsi manusia sehingga mereka menyimpang dari kebenaran Allah dan berakhir pada prinsip legalitas. (Tentu saja seluruh hal ini mempunyai kadar yang bervariasi). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Renungkan 1 Timotius 6: 11-16. Paulus adalah seorang yang sangat mampu menjadi seorang motivator yang handal. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana Meraih Kesempurnaan Satu pertanyaan yang umum diucapkan oleh orang Kristen adalah, “Sejauh mana saya bisa berharap pada proses penyucian ini? Apakah pada akhirnya saya bisa benar-benar bebas dari dosa?” Jenis pertanyaan ini akan menjadi relevan terutama ketika kita membaca pernyataan seperti yang disampaikan oleh Paulus kepada jemaat di Filipi: “Karena itu marilah kita, yang sempurna, berpikir demikian. Dan jikalau lain pikiranmu tentang salah satu hal, hal itu akan dinyatakan Allah juga kepadamu” (Filipi 3:15). Bahkan Yesus menyampaikan hal itu lebih gamblang di ayat yang sudah disebutkan sebelumnya: “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna” (Matius 5:48). 3 Cobalah untuk menjawab kuis Benar/Salah di bawah ini, untuk mengetahui sejauh mana anda sudah memahami materi ini: (Jawaban dicetak terbalik di bagian bawah halaman 9) • Arti dari kata “menguduskan (menyucikan)” adalah “menajiskan, memisahkan” B S • Proses penyucian dimulai saat kita lahir baru, dan terus berlangsung sepanjang kita hidup. B S • Rasa bersalah yang didapat dari dosa sudah dihilangkan lewat pembenaran &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
  B S &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
• Hidup yang saleh hanya memiliki arti yang berkaitan dengan unsur moralitas atau tindakan fanatik seseorang. B S • Hanya Allah yang bertanggung jawab terhadap proses penyucian kita. B S &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah Allah sungguh berharap supaya kita mencapai tahap kesempurnaan? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keinginan untuk menjadi sempurna sudah menginspirasi banyak orang untuk mencari Allah. Di sepanjang sejarah manusia, banyak penulis puisi dan filosofer yang mengekspresikan keinginan untuk mencapai kembali kesucian hidup. Penulis lagu kontemporer Crosby, Stills, dan Nash merayakan pengalaman Woodstock dengan lagu yang berlirik, “Kita adalah debu bintang-bintang, kita ini berharga, kita terjebak di dalam penawaran iblis. Dan kita harus mencari cara kembali ke Taman (Surga).” Masalahnya, kita semua tahu kalau kita ini jauh dari kesempurnaan. Dalam dunia khayal perfilman, Mary Poppins bisa saja dengan riang menyatakan bahwa dia adalah “sempurna di segala hal,” namun di kehidupan nyata, hal itu tidak mungkin terjadi. Dan tentu saja kita tidak bisa menjadi sempurna lewat metode Woodstock. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ketika terang cahaya...kemuliaan Allah jatuh ke atas roh kita, kita dimenangkan dari segala pemikiran yang palsu dan kurang tepat mengenai kesucian kita sendiri. Kita juga dilindungi dari segala pengajaran murahan yang mendorong kita untuk mempercayai bahwa ada jalan-jalan pintas yang memudahkan kita untuk mencapai kesucian hidup. Kesucian hidup bukanlah sebuah pengalaman; itu adalah penyatuan kembali karakter kita, juga pemugaran kembali satu hal yang sudah menjadi reruntuhan. Hal itu memerlukan ketrampilan dan merupakan suatu proyek jangka panjang yang memerlukan segala hal yang sudah diberikan oleh Allah dalam menjalani hidup kita juga untuk mencapai suatu kesalehan hidup.&amp;quot;[12] — Sinclair Ferguson &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
R.A. Muller menyatakan bahwa Alkitab jelas menyatakan bahwa kita harus menjadi sempurna, namun pada saat yang bersamaan memberikan bukti bahwa kesempurnaan penuh itu tidak bisa dicapai di dalam hidup ini. Hal ini menghantarkan kita pada titik dilematis. Kita tidak bisa secara bebas mengangkat tangan dan mengakui kekalahan. Namun kita juga tidak bisa memiliki mentalitas ‘over pede (percaya diri)’ berkaitan dengan konsep kesempurnaan, yang lebih umum ditemukan di dalam konteks metode berpikir positif daripada yang ada di dalam Alkitab. Satu-satunya cara untuk memecahkan dilema ini adalah dengan menyadari bahwa Perjanjian Baru melihat konsep kesempurnaan dalam dua cara. Pandangan Paulus tentang jemaat Filipi adalah kedewasaan, bukan ketidak-bercelaan. Perhatikan bagaimana Alkitab versi New International Version menerjemahkan perkataannya kepada gereja di Filipi: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Setiap dari kita yang sudah dewasa harus memiliki kecenderungan yang sama dalam berbagai hal” (Fil 3:15). “Kesempurnaan” dalam hal ini bisa lebih tepat didefinisikan sebagai “mereka yang sudah menunjukkan perkembangan berarti dalam hal spiritualitas dan keseimbangan hidup” Renungkan 1 Petrus 1:14-16. Apakah perintah ini kedengarannya tidak realistis? Apakah mungkin Allah meminta anda untuk melakukan suatu hal yang mustahil? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adalah suatu hal yang alamiah apabila semua anak mau untuk bertumbuh dengan sempurna. Ini juga berlaku bagi orang percaya. Daripada mengambil pendekatan jalan pintas dan prinsip mencoba-coba dalam mencapai pertumbuhan, kita seharusnya membiarkan panggilan untuk menjadi sempurna itu mendorong kita untuk masuk ke dalam proses pencarian yang serius mengenai bagaimana caranya supaya kita menjadi seperti Yesus. Contoh dari Paulus sendiri seharusnya mampu menjadi contoh bagi kita semua: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jawaban: S, B, B, S, S &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena aku pun telah ditangkap oleh Kristus Yesus. Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus. (Filipi 3:12-14) 4 Ada stiker mobil yang pernah populer, bertuliskan, “Orang Kristen Itu Tidak Sempurn – Hanya Dimaafkan.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; “Pertama-tama kita harus dibuat menjadi sesuatu yang baik sebelum kita bisa melakukan kebaikan.” — Hugh Latimer &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita melihat pengulangan kata sempurna di dalam surat Paulus yang pertama kepada jemaat di Korintus. “Tetapi jika yang sempurna tiba,” katanya, “maka yang tidak sempurna itu akan lenyap” (1 Korintus 13:10). Dalam konteks ini, sempurna adalah istilah yang diberikan secara khusus pada Allah Bapa– sebuah konsep kesempurnaan yang tidak akan bisa ditemukan sampai Kristus datang. Teolog Louis Berkhof lebih cenderung untuk membicarakan kesempurnaan-kesempurnaan Allah daripada kualitas karakteristikNya. Allah itu benar-benar tak bercacat cela. Tidak peduli seberapa matangnya kita di dalam hidup ini, kita tidak akan pernah mencapai kesempurnaan sampai suatu saat Allah menyempurnakan kita di dalam kemuliaan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tujuh Alasan Untuk Menutup Celah &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada umumnya, dunia sudah memiliki kesan negatif terhadap kesucian. Banyak pihak menyamakan hal itu dengan suatu hal yang suram, memikul salib tanpa adanya sukacita. Hal itu lebih dilihat sebagai suatu kondisi “lebih-suci-dari-kamu” sebagai suatu tindakan pembenaran diri sendiri, daripada melihat hal itu sebagai suatu pengalaman yang penuh sukacita. Sebelum kita menutup bagian ini, marilah kita menghilangkan pendapat demikian dengan melihat pada beberapa keuntungan dan berkat yang dapat kita peroleh dari tindakan mengikuti Kristus. Ini adalah tujuh buah dari penyucian (pengudusan): &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah dipermuliakan. Ketika kita suci, kita semakin mempercayai bahwa Allah itu sungguh nyata dan menakjubkan seperti yang dinyatakan sendiri olehNya. Paulus menyatakan bahwa pekerjaan-pekerjaan baik yang dilakukan oleh orang Kristen memperindah doktrin mengenai Kristus (Titur 2:10). Bahkan mereka yang menolak Allah akan dipaksa untuk mengakui keberadaanNya ketika para pengikutnya berjalan di jalanNya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hubungan berkelanjutan dengan Allah Bapa di dalam hidup ini. “Jika seorang mengasihi Aku,” kata Yesus “ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia” (Yohanes 14:23). Merupakan suatu sukacita dan ketenangan yang luar biasa apabila kita mengalami hadirat Allah dan Anak melalui Roh kudus. Dan Yesus menandakan bahwa hadirat ini adalah suatu hadirat yang dipenuhi dengan kasih, bukan dengan nuansa yang dingin. Tentu saja, bersamaan dengan kehadiranNya akan datang juga kuasaNya, yang memampukan kita untuk mengalahkan tantangan-tantangan di dalam hidup kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 “Tidak ada sukacita kekal tanpa kekudusan.. Maka betapa pentingnya kebenaran yang menguduskan itu! Betapa pentingnya Firman yang menghancurkan kuasa kesenangan-kesenangan palsu! Dan betapa kita harus waspada untuk senantiasa menerangi jalan-jalan kita dan memenuhi hati kita dengan Firman Allah! “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- John Piper &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Persekutuan dengan orang percaya lainnya. Apabila kita berjalan di dalam kegelapan, kita tidak bisa menikmati persekutuan yang tulus dengan sesama orang percaya. “Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa” (1 Yohanes 1:7). Allah berjanji untuk melengkapi kita dengan belas kasihan, hai rekan-rekan seperjalanan yang sedang menjalani jalan menuju penyucian. Bagi saya pribadi, saya menemukan bahwa kebenaran Allah ditambah dengan contoh-contoh para pelayan Allah lainnya adalah suatu hal yang penting bagi pertumbuhan spiritual saya. Dan selama saya berjalan di jalanNya, saya tidak pernah kekurangan keduanya. Kita saling membutuhkan satu sama lain (dalam konteks gereja) apabila kita hendak berhasil. Kekudusan dan komunitas Kristiani akan saling melengkapi satu sama lain. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keyakinan akan keselamatan. Walaupun keselamatan kita tidak didasarkan pada usaha kita untuk mencapai kekudusan, keyakinan akan keselamatan cenderung untuk berkaitan dengan kekudusan hidup. Di dalam surat Petrus yang kedua, Petrus menggugah para pembaca untuk sungguh-sungguh berusaha senantiasa mengumpulkan karakteristik spiritual, menambahkan kepada iman kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang yang dimiliki secara berkelimpahan (2 Petrus 1:5-9). Dia mengingatkan bahwa apabila ada yang tidak memiliki semuanya itu, maka ia akan lupa .... ... bahwa dosa-dosanya yang dahulu telah dihapuskan. Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung. Dengan demikian kepada kamu akan dikaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. (2 Petrus 1:9-11) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengabaran Injil. Sebagai seorang muda yang masih dibawah pengaruh dosa, saya mencoba sebisa saya untuk menemukan kesalahan-kesalahan di dalam hidup orang percaya supaya saya bisa menolak pesan yang mereka sampaikan dan mencap mereka sebagai orang munafik. Namun walaupun mereka tidak sempurna, tapi saya tidak bisa menemukan ketidak-konsistenan yang tergolong fatal. Sebuah keluarga besar yang menjangkau saya dengan Injil lebih memberikan pengaruh kepada saya lewat gaya hidup mereka daripada dengan perkataan-perkataan yang diucapkan. Sang suami mengasihi istrinya, sang istri menghormati suaminya, anak-anak menaati orang tuanya, dan mereka semua sangat bersuka cita. Saya tidak pernah melihat hal seperti itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Renungkan 1 Petrus 2:12. Walaupun orang yang belum percaya mungkin menghina gaya hidup anda sekarang, akibat apa yang mungkin mereka terima pada akhirnya? Sudah disampaikan bahwa meskipun dunia mungkin tidak membaca Alkitab, tapi dunia membaca orang-orang Kristen. Allah menggunakan orang-orang kudus untuk menjangkau orang lain. Bukan orang yang sempurna, namun kudus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemahaman, kebijakan, dan pengetahuan. Harta-harta inilah yang akan diperoleh mereka yang mencari Allah dengan sepenuh hati (Amsal 2:1-11). Mereka terlindungi dari para penghujat, pemberontak, dan para orang bodoh. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat Allah. Alkitab menyatakan, “Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan” (Ibrani 12:14). Meskipun arti sebenarnya dari pasal ini masih dilingkupi oleh misteri, tapi Alkitab bisa memberikan gambaran mengenai “Penglihatan yang Menakjubkan,” atau melihat Allah. Hal itu akan terjadi ketika Tuhan datang kembali, ketika semua musuh sudah dikalahkan dan kita semua sudah disucikan dengan sempurna. Pada saat itu, penglihatan kita mengenai Allah akan berkelanjutan dan intens, tanpa distraksi atau tindakan yang berfokus pada ke ‘aku’ an akibat dari dosa. Bukan berarti pengetahuan kita akan Allah akan menjadi sempurna, karena Ia akan terus menyatakan diriNya lebih dan lebih lagi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
—Yesus (Matius 5:8) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 “Berbahagialah orang yang suci hatinya, “ kata Yesus, “karena mereka akan melihat Allah” (Matius 5:8). Penyataan akan kebesaran dan kebaikanNya adalah hal terindah yang bisa kita dapatkan apabila kita menjalani hidup kita dengan penuh kekudusan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti yang sudah anda lihat, ada banyak alasan baik yang dapat menggugah kita untuk menutup celah antara harapan Allah akan diri kita, dan pengalaman kita pribadi. Kita diciptakan untuk turut ambil bagian dalam kekudusanNya-bukan hanya di surga, namun juga di bumi. Selangkah demi selangkah, kita bisa belajar untuk mengalahkan dosa dan hidup dengan cara yang semakin lama semakin memancarkan kemuliaan dan karakter Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam bab pertama, kami sudah mencoba untuk menarik minat anda pada kesalehan hidup. Dimulai dari bab kedua, kami akan membangun kerangka Alkitabiah yang dibutuhkan untuk mendukung suatu kehidupan yang kudus- dan penuh sukacita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diskusi Kelompok 1. Apa gejala-gejala yang menandakan seseorang sedang terperangkap di tengah? 2. Celah antara standar-standar Allah dan perilaku kita sendiri tidak bisa dihindari; namun terlalu berlebihan apabila kita menamakan diri kita munafik. Di mana kita bisa menarik garis untuk membedakan keduanya? 3. Bagaimana menjelaskan hubungan antara penyucian diri kita dengan sejarah masa lalu dan harapan di masa depan? 4. Rasa takut akan Allah, menurut penulis, adalah suatu “syarat untuk mencapai keintiman rohani dengan Allah.” (Hal. 7) Apa maksudnya? 5. Sejauh mana seorang kristen yang dewasa rohani bisa bebas dari dosa? 6. Sekarang setelah anda selesai membaca bagian ini, bagaimana anda akan menjelaskan Matius 5:48 kepada orang yang baru percaya? Bacaan Yang Direkomendasikan How to Help People Change 'by Jay E. Adams (Grand Rapids, MI: Zondervan Publishing House, 1986) Saved by Grace by Anthony A. Hoekema (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1989) Referensi 1. ↑ Jay E. Adams, The Biblical View of Self-Esteem, Self-Love, Self-Image (Eugene, OR: Harvest House Publishers, 1986), h. 78. 2. ↑ Oscar Cullman, Christ and Time (Philadelphia, PA: The Westminster Press, 1964), h. 3. 3. ↑ John Piper, The Pleasures Of God (Portland, OR: Multnomah Press, 1991), h. 147. 4. ↑ Ern Baxter, pesan yang direkam, “Sanctification,” n.d. 5. ↑ Quoted in Gathered Gold, John Blanchard, ed. (Welwyn, Hertfordshire, England: Evangelical Press, 1984), h.146. 6. ↑ J.C. Ryle, Holiness (Welwyn, Hertfordshire, England: Evangelical Press, 1879, reprinted 1989), h. 39. 7. ↑ 7. Anthony A. Hoekema, Saved by Grace (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1989), h. 192-93. 8. ↑ Jerry Bridges, The Practice of Godliness (Colorado Springs, CO: NavPress, 1983), h. 15-20. 9. ↑ Idem, p. 24. 10. ↑ Idem, p. 26. 11. ↑ J.I. Packer, Concise Theology (Wheaton, IL: Tyndale House, 1993), h. 169. 12. ↑ Sinclair Ferguson, A Heart for God (Colorado Springs, CO: NavPress, 1985), h. 129. 13. ↑ R.A. Muller, The International Standard Bible Encyclopedia, Volume Four (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1988), h. 324. 14. ↑ William Hendriksen, New Testament Commentary: Philippians (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1962), h. 176. 15. ↑ Quoted in Gathered Gold, p.148. 16. ↑ Louis Berkhof, Systematic Theology (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1941), p. 52. ↑ Sumber Asli tidak diketahui&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Susanlim</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/How_Can_I_Change%3F/Caught_in_the_Gap_Trap/id</id>
		<title>How Can I Change?/Caught in the Gap Trap/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/How_Can_I_Change%3F/Caught_in_the_Gap_Trap/id"/>
				<updated>2008-12-22T17:46:40Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Susanlim: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{InProcess|user=|date=}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{info| Bagaimana Saya Bisa Berubah? / Terperangkap di Tengah}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 “Semua yang kini sedang bergumul melawan amarah, silakan maju ke depan. Kami mau berdoa untuk anda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu itu hari Minggu pagi. Saya baru saja menyelesaikan khotbah mengenai amarah, dan saya mau memberikan waktu bagi Roh Kudus untuk bekerja di dalam hati orang-orang yang hadir saat itu. Namun saya terkejut melihat respon yang diberikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekitar dua puluh orang-orang yang rendah hati maju ke depan mimbar—untuk ukuran gereja kami, jumlah ini cukup besar. Namun, bukan jumlahnya yang menarik perhatian saya. Yang menarik perhatian saya adalah orang-orang yang maju ke depan. Sembilan belas dari dua puluh orang yang maju ke depan adalah para ibu muda! (Amarah sangat rentan dialami oleh para ibu, sejauh yang saya ketahui.)&lt;br /&gt;
Sebagai gembala, saya tahu bahwa para wanita ini adalah orang kristen yang sungguh-sungguh. Apa yang menyebabkan mereka maju ke depan adalah rasa frustasi mendalam mereka yang dialami karena mereka merasa terperangkap di tengah -- zona antara standar Alkitabiah yang berkaitan dengan penguasaan diri, dan kegagalan mereka untuk hidup menurut standar Alkitabiah itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah masalah itu berkaitan dengan amarah, ketakutan, kekuatiran, atau suatu hal yang umum, seperti kemalasan, kita semua sudah mengalami perasaan terperangkap di tengah, antara siapa diri kita saat ini, dan siapa diri kita seharusnya. Alkitab menyatakan bahwa kita adalah ciptaan baru, para pemenang, penakluk. Dan kita bukan hanya sekedar pemenang, melainkan lebih dari seorang pemenang (Roma 8:37).  Kadang kita memang merasa seperti itu. Namun yang lebih sering, kita mengalami kesulitan melihat suatu hal yang melampaui kelemahan-kelemahan dan kegagalan-kegagalan kita. Dan yang menariknya, justru di saat-saat seperti ini, ayat dalam Matius 5:48 mendadak jadi tampil ke permukaan: “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.”&lt;br /&gt;
Untuk Dipelajari Lebih Lanjut: Bahkan Rasul Paulus mengalami saat dimana ia merasa terperangkap di tengah (Roma 7:21-25). Dapatkah anda membandingkan rasa frustrasi anda dengan rasa frustrasi yang dialami Rasul Paulus?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlahan kita menghela nafas dan berkata, Hal itu tidak akan pernah menjadi kenyataan.&lt;br /&gt;
Saya menyebut kondisi ini sebagai “perangkap tengah”. Berikut adalah cara kerjanya: Sebagai orang kristen, kita semua memiliki pengetahuan mengenai hal-hal yang diharapkan Allah dari diri kita. Namun pada kenyataannya, apa yang kita capai jauh dari apa yang  -kita tahu- sebenarnya harus kita capai. Maka, terciptalah suatu jarak antara apa yang kita tahu harus kita lakukan, dan performa kita yang sesungguhnya. Apabila jarak antara keduanya terlampau jauh, kita bisa saja langsug di cap sebagai seorang munafik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kehidupan kekristenan semata-mata berkaitan dengan perubahan karakter intrinsik kita menuju karakter Kristus.. Tujuan dari ayat-ayat ini (Misalnya Roma 6, Kolose 3: 5-14, Efesus 4:22-32) adalah untuk menunjukkan kepada kita bahwa ada jarak yang hebat antara siapa kita di dalam Kristus (pembenaran) dan siapa kita sebenarnya dalam kehidupan keseharian kita (pengudusan), yang tujuannya adalah untuk mendorong kita agar kita menutup jarak yang ada antara keduanya... Tujuan Paulus adalah untuk mengugah kita supaya dalam kehidupan keseharian kita, kita mampu menampilkan perilaku-perilaku yang menggambarkan siapa kita sebenarnya di dalam Kristus.”&lt;br /&gt;
-  Jay Adams&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Situasi ini adalah suatu hal yang nyata dalam kehidupan kekristenan. Bagi sebagian besar, tidak dibutuhkan orang lain untuk memberitahu kita mengenai ketidak-konsistenan di dalam hidup kita—kita semua terlalu manyadarinya. Kesadaran itu seharusnya membuat kita menjadi semakin rendah hati dan menggantungkan diri kepada Tuhan supaya kita bisa berhasil menutup ketidak-konsistenan itu. Namun biasanya momen ‘terjebak di tengah’ ini muncul akibat ketidakpedulian kita akan doktrin atau ajaran mengenai pengudusan. Daripada menyadari kalau jarak ini ada sebagai pertanda bahwa kita membutuhkan pertolongan dari Allah saja, kita malah membiarkan jarak ini untuk menghukum kita, dan memperlambat kemajuan kita. Kita menjadi terjebak dalam pemikiran bahwa kita adalah seorang pecundang, bodoh, orang yang penuh kegagalan... dan mungkin saja bukan benar-benar seorang Kristen. Beberapa orang bahkan terperosok lebih jauh dalam ketidaktaatan. Mereka yang terjebak di situasi seperti ini (dan pada level tertentu, kita semua termasuk di dalamnya) mengalami penderitaan (yang sebenarnya tidak diperlukan) karena patah semangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai seorang gembala, salah satu tanggung jawab utama saya adalah membantu orang-orang agar bisa keluar dari jebakan ini. Saya sering menyampaikan pada orang-orang, “Hal itu tidak akan instan terjadi, dan membutuhkan usaha yang sungguh-sungguh, namun supaya bisa keluar dari jebakan itu tidaklah rumit. Dan percayalah, anda tidak akan kecewa melihat hasilnya.”&lt;br /&gt;
Mungkin anda merasa bahwa anda sedang berada di posisi seperti ini. Jika demikian, kami yakin buku ini dapat menolong anda untuk menutup jarak yang ada antara siapa anda seharusnya di dalam Kristus dan siapa anda sebenarnya dalam kehidupan keseharian anda.&lt;br /&gt;
Dapatkah anda membayangkan kehidupan dimana anda mematahkan kebiasaan-kebiasaan anda yang penuh dosa dan membuat kemajuan nyata dalam kehidupan rohani anda? kehidupan seperti itu sungguh mungkin adanya. Dan buku ini ditulis untuk menguatkan dan menyertai anda seiring dengan usaha anda untuk mencapai yang kehidupan seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daftar Isi&lt;br /&gt;
 [hide]&lt;br /&gt;
•	Diantara “Sekarang” dan “Yang Akan Datang”&lt;br /&gt;
•	2 Butuh Obat Kumur?&lt;br /&gt;
•	3 Setimpal Dengan Usahanya&lt;br /&gt;
•	4 Bagaimana Meraih Kesempurnaan?&lt;br /&gt;
•	5 Tujuh Alasan Untuk Menutup Celah&lt;br /&gt;
•	6 Diskusi Kelompok&lt;br /&gt;
•	7 Bacaan yang Direkomendasikan&lt;br /&gt;
•	8 Referensi&lt;br /&gt;
Diantara “Sekarang” dan “Yang Akan Datang”&lt;br /&gt;
1. Apakah ada area-area dalam hidup anda yang anda sadari kurang memenuhi ekpektasi Allah? (Tuliskan dengan singkat sebuah area itu di bawah)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak diragukan, bahwa salah satu hal yang paling membuat kita frustrasi terkait dengan kehidupan kekristenan adalah kontradiksi yang nyata antara siapa kita di mata Allah, dan siapa diri kita dalam pendapat kita sendiri. Ambil contoh jemaat di Korintus, misalnya. Rasul Paulus pada satu titik meyakinkan mereka bahwa, “Kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita.” (1 Korintus 6:11). Sepertinya berhenti sampai di situ saja, bukan? Sampai kita membaca surat kedua Paulus pada jemaat ini, yang isinya nyaris bertolak-belakang dengan yang pertama disampaikan: “Marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah” (2 Korintus 7:1).&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Di pikiran saya, mungkin saja para jemaat di Korintus merasa bingung. Apakah mereka sudah disucikan... atau masih tercemar? sebenarnya dua-duanya berlaku untuk mereka, dan juga kita. Untuk menjelaskan hal itu, mari saya ajak anda untuk menyimak hal di berikut ini. &lt;br /&gt;
Renungkan 1 Yohanes 3:2-3.  Apa pengaruh dari pemikiran kita tentang “yang akan datang” terhadap apa yang ada “saat ini”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kerajaan Allah itu adalah “saat ini” dan “yang akan datang”. Dalam beberapa hal, Kerajaan Allah berkaitan dengan masa kini, dan untuk beberapa hal lainnya, Kerajaan Allah berkaitan dengan masa mendatang. Allah kita telah menyatakan dan menunjukkan bahwa Kerajaan (atau hukum) Allah sudah bersinggungan dengan sejarah manusia: “Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu” (Lukas 11:20). Namun, Kerajaan Allah belum datang seutuhnya. Hal itu tidak akan terjadi sampai Yesus datang kembali dalam kuasaNya, ketika setiap lutut kan bertelut dan semua lidah mengaku bahwa Dialah Allah. Sampai hal itu terjadi, tanpa menyangkal kehadiran Kerajaan Allah yang ada di dalam dunia ini, kita berdoa, “Datanglah Kerajaan-Mu” (Matius 6:10)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan demikian, Kerajaan Allah berjalan seiringan dengan kehidupan kita. Allah, lewat karya pembenaran-Nya, sudah menyatakan bahwa kita adalah orang-orang benar. Posisi kita di mata Allah sudah berubah. Masalah itu sudah diselesaikan sekali dan untuk selama-lamanya di Surga. Namun, di sisi surga lainnya (bumi), perubahan internal kita merupakan suatu proses yang sedang berjalan. Proses penyucian ini membuat saya sibuk sebagai seorang pribadi Kristen, dan juga memberikan saya banyak pekerjaan dan tugas sebagai seorang gembala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, apakah kita sudah memiliki kemenangan di dalam Yesus atau belum? apakah kita para pemenang, atau apakah kita masih harus berjuang? Oscar Cullmann memberikan ilustrasi dari Perang Dunia ke-2, yang saya percaya dapat membantu kita menangkap hal yang kesannya bertentangan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejarah mencatat dua peristiwa besar yang menjadi pangkal berakhirnya Perang Dunia ke-2: D-Day dan VE-Day. D-Day terjadi pada 6 Juni 1944, ketika para pasukan Sekutu mendarat di Normandy, Perancis. Ini adalah titik balik dalam perang yang berlangsung; ketika pendaratan ini berhasil, nasib Hitler sudah sangat jelas. Pada dasarnya, perang sudah berakhir. Namun kemenangan total di Eropa (VE-Day) tidak terjadi sampai tanggal 7 Mei 1945 ketika pasukan Jerman menyerah di Berlin. Periode sebelas bulan ini dicatat sebagai salah satu periode pertumpahan darah terbesar sepanjang sejarah perang. Pertempuran-pertempuran terjadi di seluruh Perancis, Belgia, dan Jerman. Walaupun secara fisik para musuh sudah terluka, namun mereka tidak sepenuhnya menyerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pemilihan Ilahi adalah jaminan bahwa Allah akan bekerja dalam melengkapi pemilihan kita (untuk diselamatkan oleh anugerah-Nya) dengan anugerah pengudusan-Nya. Ini adalah arti dari Perjanjian Baru: Allah tidak hanya sekedar memerintahkan agar kita taat kepadaNya, namun juga memberikan kemampuan pada kita untuk menaatiNya.”&lt;br /&gt;
-John Piper&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salib adalah D-Day kita. Di sana, Tuhan kita Yesus Kristus mati disalibkan, untuk mematahkan belenggu dosa dari umatNya. Berdasarkan kematian dan kebangkitanNya, kita semua dibenarkan. Namun, kemenangan akhir akan terjadi ketika Ia datang. Tidak ada keraguan mengenai hasil akhirnya. Namun kita masih akan menemui gesekan-gesekan dan pertandingan-pertandingan sampai Tuhan muncul di dalam kemuliaanNya untuk memusnahkan kuasa kegelapan selamanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk Bacaan Lebih Lanjut: Bacalah 1 Petrus 5:8-9. Walaupun kemenangan akhir Allah tidak bisa disangkal, namun kita harus tetap berjuang melawan musuh kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fakta ini, apabila kita tetap berusaha untuk mengingatnya, dapat membuat kita tidak patah semangat. Pertarungan masih berlangsung, namun peperangan utama sudah dimenangkan. Kesadaran akan karya pengorbanan Kristus yang telah dilakukan bagi kita sangat penting untuk memacu semangat moral kita seiring dengan usaha kita untuk mencapai suatu kekudusan hidup. Kita harus mempelajari dan merenungkan doktrin utama mengenai pembenaran sampai hal itu sungguh tertanam dalam kesadaran kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Butuh Obat Kumur?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun kita sudah dibenarkan sepenuhnya di dalam Kristus (D-Day), bukan berarti kita sudah sepenuhnya disucikan (VE-Day). Beberapa orang gagal memahami hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengajar Alkitab Ern Baxter menyampaikan kejadian yang terjadi saat Latter Rain Revival di akhir tahun 1940-an. Ada suatu ajaran menyimpang yang dinamakan “manifestasi anak-anak Allah”. Pada intinya ajaran itu menyampaikan doktrin yang menjanjikan kekudusan total di dalam hidup ini. Pada bentuk ekstrimnya, ajaran itu termasuk kepercayaan bahwa elit spiritual akan menerima tubuh kemuliaan sebelum kedatangan Kristus untuk kedua kalinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada sesi penutupan acara dimana Baxter menjadi pembicaranya, beberapa ‘anak-anak Allah’ muncul di pojok auditorium berbalutkan jubah putih. Ketika ia selesai menyampaikan Firman, mereka berjalan ke depan dan mulai mencoba untuk menarik pengikut-pengikut baru bagi doktrin mengenai kesempurnaan total yang mereka ajarkan. Ketika ia mengingat peristiwa itu, ia menyatakan, “Wanita yang menjadi kelompok di grup itu benar-benar membutuhkan Listerine (merek obat kumur). Bukan itu jenis kesempurnaan yang saya nantikan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih umum dari skenario yang terjadi lewat peristiwa yang dialami oleh Ern Baxter diatas, adalah situasi-situasi yang terjadi akibat dari kurangnya pengetahuan dan kecenderungan untuk menyederhanakan konsep kekudusan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2 Kalau anda mencari kesempurnaan total di dalam hidup ini, kira-kira mana dari antara beberapa hal di bawah ini yang paling sulit untuk dilakukan oleh anda?&lt;br /&gt;
❏Sama sekali tidak akan pernah mengendarai mobil lebih dari batas kecepatan.&lt;br /&gt;
❏Berbicara dengan hangat dan lembut pada setiap sales yang menelepon rumah anda.&lt;br /&gt;
❏Mengindari semua kalori yang tidak dibutuhkan.&lt;br /&gt;
❏Tidak pernah memukul jam weker anda ketika ia membangunkan anda.&lt;br /&gt;
❏Senantiasa membayar pajak penghasilan anda dengan sukacita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu saya baru menjadi orang percaya, saya berjumpa dengan seorang pria muda bernama Greg, mengaku menjadi seorang perampok dan pengguna obat terlarang yang sepertinya bertobat waktu di dalam penjara. Pegangan hidup Greg dalam menjalani kehidupan kekristenan sangat memukau diri saya. Ia membawakan dirinya dengan keyakinan penuh dan sedikit keangkuhan. Ia berbicara seakan-akan dosa itu bukan menjadi suatu masalah lagi baginya. Lebih dari sekali dia mengatakan kepada saya betapa ia sudah “diselamatkan, disucikan, dan dipenuhi oleh Roh Kudus.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar dia mengatakan hal itu, sepertinya membuat hal itu seakan-akan mudah dan sederhana. Sebagai seorang Kristen yang baru, pada suatu waktu ia naik ke dalam kereta, dan waktu dia baru berangkat, beberapa jam kemudian ia sudah mengalami apa yang dinamakan olehnya sebagai “pengalaman pengudusan.” Dia berusaha meyakinkan saya bahwa pengalaman itu adalah hal yang dibutuhkan pertama kali untuk menerima baptisan Roh Kudus, dan sekali itu terjadi, itu akan berlaku selamanya.&lt;br /&gt;
Saya harus mengakui di sini, bahwa ada beberapa hal tentang Greg yang kesannya tidak terlalu kudus. Ia mempunyai kecenderungan untuk menghakimi orang dan perilaku seorang farisi. Ia bisa menjadi seorang yang terlalu menguasai dan picik. Saya ingat pada suatu saat ketika seorang teman tidak sengaja meletakkan suatu benda di atas Alkitabnya: “Maaf—itu kan Firman Allah!” Tapi tetap saja, dia yakin dia bisa mengutip Alkitab, dan sepertinya sangat memahami perihal pengudusan.&lt;br /&gt;
Untuk Renungan Lebih Lanjut: Bacalah Matius 26:41. Kapan waktunya kita bisa aman menganggap bahwa kita sudah “sampai” pada titik pengudusan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sangat mengejutkan ketika pada akhirnya ia kembali mengedarkan dan memakai obat terlarang.&lt;br /&gt;
Masalah Greg terkait dengan kurangnya pemahaman dan juga kesalah-pahaman mengenai ajaran Alkitab terkait dengan konsep pengudusan. Ia sudah melakukan kesalahan seperti yang banyak orang lakukan dengan hanya memfokuskan perhatian pada beberapa ayat Alkitab favorit yang sepertinya membenarkan pengalaman pribadinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kekudusan bukan jalan menuju Kristus. Kristus, adalah jalan menuju kekudusan.&amp;quot; &lt;br /&gt;
— Adrian Rogers &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kekudusan itu sifatnya pasti (terjadi saat kita bertobat) dan progresif (terus berlangsung). Semua ini tidak terjadi pada sekali waktu di masa lalu, dan bukan juga suatu hal yang akan terjadi secara bertahap. Kita sudah diubahkan dan kita sedang berubah. Tanpa mengesampingkan keberhasilan pendaratan kita di Normandy, marilah kita bijak dan realistis saat menilai adanya oposisi yang ada diantara kita dan Berlin. Kita tidak punya pilihan yang memungkinkan kita untuk mendapatkan tiket naik ke dalam kereta pengudusan, seperti yang Greg yakini. Hal itu akan menjadi suatu pertandingan di setiap langkah kehidupan kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setimpal dengan Usahanya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi beberapa orang, “pengudusan” adalah suatu istilah teologis yang sering didengar, namun jarang dimengerti. Kedengarannya itu adalah suatu hal yang cocok untuk mahasiswa teologia dan kurang praktis untuk kehidupan sehari-hari. Namun sebaliknya, hal itu adalah suatu hal yang sangat amat praktis, dan bisa dikaitan dengan kehidupan keseharian. Doktrin mengenai pengudusan bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh hampir seluruh orang Kristen di dalam sejarah gereja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana saya bisa berubah?&lt;br /&gt;
Bagaimana saya bisa bertumbuh?&lt;br /&gt;
Bagaimana saya menjadi serupa dengan Kristus?&lt;br /&gt;
Bagaimana saya bisa tidak terperangkap di tengah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apapun yang bisa menjawab pertanyaan itu akan mengharuskan kita untuk melakukan beberapa usaha. Lampiran A (halaman 93) menunjukkan bahwa beberapa cabang gereja sudah membicarakan masalah ini di masa lalu, namun mari kita lihat apa yang bisa kita pelajari mengenai aplikasi dari doktrin yang penting ini pada masa kini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dapatkah kekudusan itu menyelamatkan kita? dapatkah kekudusan menghilangkan dosa, membayar pelanggaran kita, membayar hutang kita kepada Allah? Tidak, tidak sedikitpun bisa. Allah melarang saya untuk pernah mengatakan hal itu. Kekudusan tidak bisa melakukan semua itu. Orang suci yang paling suci sekalipun adalah ‘hamba yang tidak menguntungkan.’ Pekerjaan kita yang paling tulus dan suci sekalipun tidak akan lebih baik dari kain kotor ketika diuji oleh terang Hukum Allah yang suci. Jubah putih, yang ditawarkan oleh Yesus dan yang dikenakan oleh iman, harus menjadi kebenaran kita. Nama Yesus Kristus haruslah menjadi satu-satunya keyakinan kita. Buku kehidupan Anak Domba Allah harus menjadi satu-satunya jalan kita menuju ke Surga. Dengan kekudusan kita, kita tidak lebih baik dari orang-orang berdosa. Hal-hal yang terbaik dalam hidup kita pun sudah tercemar dengan ketidaksempurnaan. Semuanya itu belum sempurna, entah karena motivasi yang salah, atau kegagalan saat melakukannya. ‘Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri (Ef.2:8,9).&amp;quot;&lt;br /&gt;
— J.C. Ryle &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Arti Alkitabiah dari kata menguduskan (menyucikan) adalah “untuk memisahkan; mengkhususkan.” (Kesucian berasal dari akar kata yang sama dalam bahasa Yunani) Hal ini bisa diaplikasikan pada orang, tempat, situasi, atau benda tertentu. Ketika suatu hal dikuduskan, hal itu akan dipisahkan dari pemakaian pada umumnya dan didedikasikan untuk kepentingan khusus. Misalnya, pada jaman Musa, Hari Raya Pendamaian dikuduskan bagi Allah yang Kudus. Hari itu menjadi hari yang kudus. Sebuah hal yang dikuduskan tidak akan serta merta menjadi suci karena dipisahkan dari hal lainnya; kesucian yang didapat akan berasal dari untuk apa (atau kepada siapa) kah hal itu disucikan. Karena hanya Allah saja yang suci, maka hanya Dia-lah yang bisa mengimpartasikan kesucian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara teologis, istilah “pengudusan” telah dipergunakan untuk menggambarkan proses yang dilalui oleh seorang percaya ketika Roh Allah sedang bekerja di dalam hidupnya untuk membuat dirinya semakin menyerupai Kristus. Prosesnya dimulai saat kita lahir baru, dan terus berlangsung sepanjang kita hidup. Hal ini ditandai dengan konflik keseharian seiring dengan usaha kita untuk mengalahkan dosa yang ada di dalam diri kita dengan anugerah dan kekuatan yang Allah berikan bagi kita.&lt;br /&gt;
Camkan di dalam pikiran bahwa rasa bersalah yang didapat dari dosa sudah dihilangkan lewat pembenaran, sebagaimana yang dijelaskan oleh Anthony Hoekema; penyucian menghilangkan pencemaran akibat dosa:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang dimaksud dengan rasa bersalah adalah kondisi di mana kita layak mendapatkan penghukuman atau harus bertanggung jawab untuk menerima hukuman karena telah melanggar hukum Allah. Yang dimaksud dengan pembenaran, sebagai tindakan deklaratif Allah, adalah bahwa rasa bersalah akibat dosa dihilangkan atas dasar karya utama Yesus Kristus. Yang dimaksud dengan pencemaran adalah bahwa kita memiliki kecenderungan bawaan yang terjadi sebagai akibat dari dosa yang juga pada akhirnya menciptakan dosa lain lebih lanjut. Sebagai akibat dari kejatuhan Adam dan Hawa, kita semua lahir dengan kondisi seperti ini; dosa-dosa yang kita lakukan tidak hanya berasal dari kecenderungan kita untuk berdosa, namun juga menambah kecenderungan itu sendiri. Yang dimaksud dengan penyucian adalah kondisi dimana pencemaran yang didapat dari dosa sedang dalam proses (tahapan) pembersihan (walaupun hal itu tidak akan sepenuhnya dibersihkan sampai kita memasuki hidup baru di Surga).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk Bacaan Lebih Lanjut: Apakah anda menyadari betapa penting dan bermanfaatnya apabila kita memiliki perasaan takut akan Allah? (Lihat Mazmur 19:9 dan 25:14, Amsal 1:7 dan 9:10, dan 1 Petrus 1:17.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alkitab juga mendefinisikan penyucian sebagai proses pertumbuhan menuju hidup yang saleh. Hidup yang saleh merujuk pada suatu kehidupan yang menunjukkan dedikasi kepada Allah, dan karakter yang muncul akibat dedikasi tersebut. Hidup yang saleh melibatkan kasih terhadap Allah dan kerinduan akan Allah. Selain itu juga mengandung rasa takut akan Allah, yang menurut John Murray adalah “jiwa dari hidup yang saleh”. Karena telah ditebus dari ancaman hukuman kekal, orang Kristen menyatakan rasa takutnya kepada Allah dengan memfokuskan diri tidak kepada murka Allah, tapi kepada “kemuliaan, kekudusan dan keagunganNya...” Rasa takut akan Allah mempunyai dampak yang baik bagi hati kita, dimana rasa ini akan memurnikan hati kita, dan juga hal ini adalah syarat apabila kita hendak menjalin hubungan yang lebih intim dengan Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hidup yang saleh melibatkan lebih dari sekedar unsur moralitas atau tindakan fanatik. Hal tersebut berasal dari kesatuan dengan Kristus dan hasrat untuk memuliakanNya. Seorang yang saleh akan berkeinginan untuk menjadi seperti Tuhan-nya juga ingin untuk menyenangkan hatiNya. Ia ingin merasakan apa yang dirasakan olehNya, memikirkan apa yang dipikirkan oleh Tuhan-nya melebihi dirinya sendiri, dan melakukan apa yang menjadi kehendakNya. Secara singkat, orang seperti ini ingin menjadi seseorang yang memiliki karakter Allah, sehingga Allah bisa dimuliakan lewat hidupnya. Tidak ada hal lain yang layak diperjuangkan sepanjang hidup kita: “Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang” (1 Timotius 4:8).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baik Allah maupun manusia memegang peran penting dalam konteks penyucian. Allah, dengan anugerahNya, memulai karya penebusan di dalam kita dan memberikan keinginan serta kuasa untuk mengalahkan dosa. Sebagai respon sekaligus sambil bersandar pada anugerahNya, kita menaati perintah Alkitab : “karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya. Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan” (Filipi 2:12-13)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Penyucian, menurut Westminster Shorter Catechism, adalah ‘pekerjaan dari anugerah Allah yang diberikan secara cuma-cuma, dimana kita diperbaharui menjadi manusia seutuhnya berdasarkan gambaran Allah, dan dimampukan lebih dan lebih lagi untuk mati bagi dosa, dan hidup bagi kebenaran.’ Konsep yang terkandung di dalam hal ini adalah bukan berarti dosa itu dihapuskan total (hal ini terlalu berlebihan) atau hanya ditangkis (hal ini terlalu meremehkan), namun berkaitan dengan perubahan karakter ilahi kita yang membebaskan kita dari kebiasaan-kebiasaan kita yang penuh dosa dan membentuk kita menjadi serupa dengan Kristus dalam hal perasaan, sifat, dan karakteristik-karakteristik lainnya.&lt;br /&gt;
— J.I. Packer &lt;br /&gt;
Di dalam Perjanjian Baru, posisi dari hidup kudus itu berada pada titik tengah antara legalitas di satu sisi, dan lisensi di sisi lainnya. Semua tradisi gereja yang terlalu menitik beratkan pada karya Allah di dalam kita tanpa menaruh pengharapan bahwa karya itu akan menghasilkan suatu hasrat yang terus bertambah di dalam diri kita untuk menuju suatu kesalehan hidup, akan cenderung menuju ke arah lisensi. “Karena, seperti yang telah kerap kali kukatakan kepadamu, dan yang kunyatakan pula sekarang sambil menangis, banyak orang yang hidup sebagai seteru salib Kristus. Kesudahan mereka ialah kebinasaan, Tuhan mereka ialah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi” (Filipi 3:18-19). Di lain pihak ada juga pihak yang terlalu menitik beratkan pada porsi manusia sehingga mereka menyimpang dari kebenaran Allah dan berakhir pada prinsip legalitas. (Tentu saja seluruh hal ini mempunyai kadar yang bervariasi).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Renungkan 1 Timotius 6: 11-16. Paulus adalah seorang yang sangat mampu menjadi seorang motivator yang handal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana Meraih Kesempurnaan&lt;br /&gt;
Satu pertanyaan yang umum diucapkan oleh orang Kristen adalah, “Sejauh mana saya bisa berharap pada proses penyucian ini? Apakah pada akhirnya saya bisa benar-benar bebas dari dosa?” Jenis pertanyaan ini akan menjadi relevan terutama ketika kita membaca pernyataan seperti yang disampaikan oleh Paulus kepada jemaat di Filipi: “Karena itu marilah kita, yang sempurna, berpikir demikian. Dan jikalau lain pikiranmu tentang salah satu hal, hal itu akan dinyatakan Allah juga kepadamu” (Filipi 3:15). Bahkan Yesus menyampaikan hal itu lebih gamblang di ayat yang sudah disebutkan sebelumnya: “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna” (Matius 5:48).&lt;br /&gt;
3 Cobalah untuk menjawab kuis Benar/Salah di bawah ini, untuk mengetahui sejauh mana anda sudah memahami materi ini:&lt;br /&gt;
(Jawaban dicetak terbalik di  bagian bawah halaman 9) &lt;br /&gt;
• Arti dari kata “menguduskan (menyucikan)” adalah “menajiskan, memisahkan”  B S&lt;br /&gt;
• Proses penyucian dimulai saat kita lahir baru, dan terus berlangsung sepanjang kita hidup. B S  &lt;br /&gt;
• Rasa bersalah yang didapat dari dosa sudah dihilangkan lewat pembenaran&lt;br /&gt;
  B S &lt;br /&gt;
• Hidup yang saleh hanya memiliki arti yang berkaitan dengan unsur moralitas atau tindakan fanatik seseorang. B S &lt;br /&gt;
• Hanya Allah yang bertanggung jawab terhadap proses penyucian kita. B S &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah Allah sungguh berharap supaya kita mencapai tahap kesempurnaan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keinginan untuk menjadi sempurna sudah menginspirasi banyak orang untuk mencari Allah. Di sepanjang sejarah manusia, banyak penulis puisi dan filosofer yang mengekspresikan keinginan untuk mencapai kembali kesucian hidup. Penulis lagu kontemporer Crosby, Stills, dan Nash merayakan pengalaman Woodstock dengan lagu yang berlirik, “Kita adalah debu bintang-bintang, kita ini berharga, kita terjebak di dalam penawaran iblis. Dan kita harus mencari cara kembali ke Taman (Surga).”&lt;br /&gt;
Masalahnya, kita semua tahu kalau kita ini jauh dari kesempurnaan. Dalam dunia khayal perfilman, Mary Poppins bisa saja dengan riang menyatakan bahwa dia adalah “sempurna di segala hal,” namun di kehidupan nyata, hal itu tidak mungkin terjadi. Dan tentu saja kita tidak bisa menjadi sempurna lewat metode Woodstock.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ketika terang cahaya...kemuliaan Allah jatuh ke atas roh kita, kita dimenangkan dari segala pemikiran yang palsu dan kurang tepat mengenai kesucian kita sendiri. Kita juga dilindungi dari segala pengajaran murahan yang mendorong kita untuk mempercayai bahwa ada jalan-jalan pintas yang memudahkan kita untuk mencapai kesucian hidup. Kesucian hidup bukanlah sebuah pengalaman; itu adalah penyatuan kembali karakter kita, juga pemugaran kembali satu hal yang sudah menjadi reruntuhan. Hal itu memerlukan ketrampilan dan merupakan suatu proyek jangka panjang yang memerlukan segala hal yang sudah diberikan oleh Allah dalam menjalani hidup kita juga untuk mencapai suatu kesalehan hidup.&amp;quot;[12]&lt;br /&gt;
— Sinclair Ferguson &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
R.A. Muller menyatakan bahwa Alkitab jelas menyatakan bahwa kita harus menjadi sempurna, namun pada saat yang bersamaan memberikan bukti bahwa kesempurnaan penuh itu tidak bisa dicapai di dalam hidup ini. Hal ini menghantarkan kita pada titik dilematis. Kita tidak bisa secara bebas mengangkat tangan dan mengakui kekalahan. Namun kita juga tidak bisa memiliki mentalitas ‘over pede (percaya diri)’ berkaitan dengan konsep kesempurnaan, yang lebih umum ditemukan di dalam konteks metode berpikir positif daripada yang ada di dalam Alkitab. Satu-satunya cara untuk memecahkan dilema ini adalah dengan menyadari bahwa Perjanjian Baru melihat konsep kesempurnaan dalam dua cara.&lt;br /&gt;
Pandangan Paulus tentang jemaat Filipi adalah kedewasaan, bukan ketidak-bercelaan. Perhatikan bagaimana Alkitab versi New International Version menerjemahkan perkataannya kepada gereja di Filipi:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Setiap dari kita yang sudah dewasa harus memiliki kecenderungan yang sama dalam berbagai hal” (Fil 3:15). “Kesempurnaan” dalam hal ini bisa lebih tepat didefinisikan sebagai “mereka yang sudah menunjukkan perkembangan berarti dalam hal spiritualitas dan keseimbangan hidup”&lt;br /&gt;
Renungkan 1 Petrus 1:14-16. Apakah perintah ini kedengarannya tidak realistis? Apakah mungkin Allah meminta anda untuk melakukan suatu hal yang mustahil?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adalah suatu hal yang alamiah apabila semua anak mau untuk bertumbuh dengan sempurna. Ini juga berlaku bagi orang percaya. Daripada mengambil pendekatan jalan pintas dan prinsip mencoba-coba dalam mencapai pertumbuhan, kita seharusnya membiarkan panggilan untuk menjadi sempurna itu mendorong kita untuk masuk ke dalam proses pencarian yang serius mengenai bagaimana caranya supaya kita menjadi seperti Yesus. Contoh dari Paulus sendiri seharusnya mampu menjadi contoh bagi kita semua: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jawaban: S, B, B, S, S &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena aku pun telah ditangkap oleh Kristus Yesus. Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus. (Filipi 3:12-14)&lt;br /&gt;
4 Ada stiker mobil yang pernah populer, bertuliskan, “Orang Kristen Itu Tidak Sempurn – Hanya Dimaafkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pertama-tama kita harus dibuat menjadi sesuatu yang baik sebelum kita bisa melakukan kebaikan.”&lt;br /&gt;
— Hugh Latimer &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita melihat pengulangan kata sempurna di dalam surat Paulus yang pertama kepada jemaat di Korintus. “Tetapi jika yang sempurna tiba,” katanya, “maka yang tidak sempurna itu akan lenyap” (1 Korintus 13:10). Dalam konteks ini, sempurna adalah istilah yang diberikan secara khusus pada Allah Bapa– sebuah konsep kesempurnaan yang tidak akan bisa ditemukan sampai Kristus datang. Teolog Louis Berkhof lebih cenderung untuk membicarakan kesempurnaan-kesempurnaan Allah daripada kualitas karakteristikNya. Allah itu benar-benar tak bercacat cela. Tidak peduli seberapa matangnya kita di dalam hidup ini, kita tidak akan pernah mencapai kesempurnaan sampai suatu saat Allah menyempurnakan kita di dalam kemuliaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tujuh Alasan Untuk Menutup Celah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada umumnya, dunia sudah memiliki kesan negatif terhadap kesucian. Banyak pihak menyamakan hal itu dengan suatu hal yang suram, memikul salib tanpa adanya sukacita. Hal itu lebih dilihat sebagai suatu kondisi “lebih-suci-dari-kamu” sebagai suatu tindakan pembenaran diri sendiri, daripada melihat hal itu sebagai suatu pengalaman yang penuh sukacita. Sebelum kita menutup bagian ini, marilah kita menghilangkan pendapat demikian dengan melihat pada beberapa keuntungan dan berkat yang dapat kita peroleh dari tindakan mengikuti Kristus. Ini adalah tujuh buah dari penyucian (pengudusan):&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah dipermuliakan. Ketika kita suci, kita semakin mempercayai bahwa Allah itu sungguh nyata dan menakjubkan seperti yang dinyatakan sendiri olehNya. Paulus menyatakan bahwa pekerjaan-pekerjaan baik yang dilakukan oleh orang Kristen memperindah doktrin mengenai Kristus (Titur 2:10). Bahkan mereka yang menolak Allah akan dipaksa untuk mengakui keberadaanNya ketika para pengikutnya berjalan di jalanNya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hubungan berkelanjutan dengan Allah Bapa di dalam hidup ini. “Jika seorang mengasihi Aku,” kata Yesus “ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia” (Yohanes 14:23). Merupakan suatu sukacita dan ketenangan yang luar biasa apabila kita mengalami hadirat Allah dan Anak melalui Roh kudus. Dan Yesus menandakan bahwa hadirat ini adalah suatu hadirat yang dipenuhi dengan kasih, bukan dengan nuansa yang dingin. Tentu saja, bersamaan dengan kehadiranNya akan datang juga kuasaNya, yang memampukan kita untuk mengalahkan tantangan-tantangan di dalam hidup kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 “Tidak ada sukacita kekal tanpa kekudusan.. Maka betapa pentingnya kebenaran yang menguduskan itu! Betapa pentingnya Firman yang menghancurkan kuasa kesenangan-kesenangan palsu! Dan betapa kita harus waspada untuk senantiasa menerangi jalan-jalan kita dan memenuhi hati kita dengan Firman Allah! “&lt;br /&gt;
- John Piper &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Persekutuan dengan orang percaya lainnya. Apabila kita berjalan di dalam kegelapan, kita tidak bisa menikmati persekutuan yang tulus dengan sesama orang percaya. “Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa” (1 Yohanes 1:7).&lt;br /&gt;
Allah berjanji untuk melengkapi kita dengan belas kasihan, hai rekan-rekan seperjalanan yang sedang menjalani jalan menuju penyucian. Bagi saya pribadi, saya menemukan bahwa kebenaran Allah ditambah dengan contoh-contoh para pelayan Allah lainnya adalah suatu hal yang penting bagi pertumbuhan spiritual saya. Dan selama saya berjalan di jalanNya, saya tidak pernah kekurangan keduanya. Kita saling membutuhkan satu sama lain (dalam konteks gereja) apabila kita hendak berhasil. Kekudusan dan komunitas Kristiani akan saling melengkapi satu sama lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keyakinan akan keselamatan. Walaupun keselamatan kita tidak didasarkan pada usaha kita untuk mencapai kekudusan, keyakinan akan keselamatan cenderung untuk berkaitan dengan kekudusan hidup. Di dalam surat Petrus yang kedua, Petrus menggugah para pembaca untuk sungguh-sungguh berusaha senantiasa mengumpulkan karakteristik spiritual, menambahkan kepada iman kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan,  dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang yang dimiliki secara berkelimpahan (2 Petrus 1:5-9). Dia mengingatkan bahwa apabila ada yang tidak memiliki semuanya itu, maka ia akan lupa .... &lt;br /&gt;
... bahwa dosa-dosanya yang dahulu telah dihapuskan. Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung. Dengan demikian kepada kamu akan dikaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. (2 Petrus 1:9-11)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengabaran Injil. Sebagai seorang muda yang masih dibawah pengaruh dosa, saya mencoba sebisa saya untuk menemukan kesalahan-kesalahan di dalam hidup orang percaya supaya saya bisa menolak pesan yang mereka sampaikan dan mencap mereka sebagai orang munafik. Namun walaupun mereka tidak sempurna, tapi saya tidak bisa menemukan ketidak-konsistenan yang tergolong fatal. Sebuah keluarga besar yang menjangkau saya dengan Injil lebih memberikan pengaruh kepada saya lewat gaya hidup mereka daripada dengan perkataan-perkataan yang diucapkan. Sang suami mengasihi istrinya, sang istri menghormati suaminya, anak-anak menaati orang tuanya, dan mereka semua sangat bersuka cita. Saya tidak pernah melihat hal seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Renungkan 1 Petrus 2:12. Walaupun orang yang belum percaya mungkin menghina gaya hidup anda sekarang, akibat apa yang mungkin mereka terima pada akhirnya?&lt;br /&gt;
Sudah disampaikan bahwa meskipun dunia mungkin tidak membaca Alkitab, tapi dunia membaca orang-orang Kristen. Allah menggunakan orang-orang kudus untuk menjangkau orang lain. Bukan orang yang sempurna, namun kudus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemahaman, kebijakan, dan pengetahuan. Harta-harta inilah yang akan diperoleh mereka yang mencari Allah dengan sepenuh hati (Amsal 2:1-11). Mereka terlindungi dari para penghujat, pemberontak, dan para orang bodoh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat Allah. Alkitab menyatakan, “Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan” (Ibrani 12:14). Meskipun arti sebenarnya dari pasal ini masih dilingkupi oleh misteri, tapi Alkitab bisa memberikan gambaran mengenai “Penglihatan yang Menakjubkan,” atau melihat Allah. Hal itu akan terjadi ketika Tuhan datang kembali, ketika semua musuh sudah dikalahkan dan kita semua sudah disucikan dengan sempurna. Pada saat itu, penglihatan kita mengenai Allah akan berkelanjutan dan intens, tanpa distraksi atau tindakan yang berfokus pada ke ‘aku’ an akibat dari dosa. Bukan berarti pengetahuan kita akan Allah akan menjadi sempurna, karena Ia akan terus menyatakan diriNya lebih dan lebih lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.”&lt;br /&gt;
—Yesus (Matius 5:8) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 “Berbahagialah orang yang suci hatinya, “ kata Yesus, “karena mereka akan melihat Allah” (Matius 5:8). Penyataan akan kebesaran dan kebaikanNya adalah hal terindah yang bisa kita dapatkan apabila kita menjalani hidup kita dengan penuh kekudusan. &lt;br /&gt;
Seperti yang sudah anda lihat, ada banyak alasan baik yang dapat menggugah kita untuk menutup celah antara harapan Allah akan diri kita, dan pengalaman kita pribadi. Kita diciptakan untuk turut ambil bagian dalam kekudusanNya-bukan hanya di surga, namun juga di bumi. Selangkah demi selangkah, kita bisa belajar untuk mengalahkan dosa dan hidup dengan cara yang semakin lama semakin memancarkan kemuliaan dan karakter Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam bab pertama, kami sudah mencoba untuk menarik minat anda pada kesalehan hidup. Dimulai dari bab kedua, kami akan membangun kerangka Alkitabiah yang dibutuhkan untuk mendukung suatu kehidupan yang kudus- dan penuh sukacita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diskusi Kelompok &lt;br /&gt;
1.	Apa gejala-gejala yang menandakan seseorang sedang terperangkap di tengah?&lt;br /&gt;
2.	Celah antara standar-standar Allah dan perilaku kita sendiri tidak bisa dihindari; namun terlalu berlebihan apabila kita menamakan diri kita munafik. Di mana kita bisa menarik garis untuk membedakan keduanya?&lt;br /&gt;
3.	Bagaimana menjelaskan hubungan antara penyucian diri kita dengan sejarah masa lalu dan harapan di masa depan?&lt;br /&gt;
4.	Rasa takut akan Allah, menurut penulis, adalah suatu “syarat untuk mencapai keintiman rohani dengan Allah.” (Hal. 7) Apa maksudnya?&lt;br /&gt;
5.	Sejauh mana seorang kristen yang dewasa rohani bisa bebas dari dosa?&lt;br /&gt;
6.	Sekarang setelah anda selesai membaca bagian ini, bagaimana anda akan menjelaskan Matius 5:48 kepada orang yang baru percaya?&lt;br /&gt;
Bacaan Yang Direkomendasikan&lt;br /&gt;
How to Help People Change 'by Jay E. Adams (Grand Rapids, MI: Zondervan Publishing House, 1986) &lt;br /&gt;
Saved by Grace by Anthony A. Hoekema (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1989) &lt;br /&gt;
Referensi &lt;br /&gt;
1.	↑ Jay E. Adams, The Biblical View of Self-Esteem, Self-Love, Self-Image (Eugene, OR: Harvest House Publishers, 1986), h. 78.&lt;br /&gt;
2.	↑ Oscar Cullman, Christ and Time (Philadelphia, PA: The Westminster Press, 1964), h. 3.&lt;br /&gt;
3.	↑ John Piper, The Pleasures Of God (Portland, OR: Multnomah Press, 1991), h. 147.&lt;br /&gt;
4.	↑ Ern Baxter, pesan yang direkam, “Sanctification,” n.d. &lt;br /&gt;
5.	↑ Quoted in Gathered Gold, John Blanchard, ed. (Welwyn, Hertfordshire, England: Evangelical Press, 1984), h.146.&lt;br /&gt;
6.	↑ J.C. Ryle, Holiness (Welwyn, Hertfordshire, England: Evangelical Press, 1879, reprinted 1989), h. 39.&lt;br /&gt;
7.	↑ 7. Anthony A. Hoekema, Saved by Grace (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1989), h. 192-93.&lt;br /&gt;
8.	↑ Jerry Bridges, The Practice of Godliness (Colorado Springs, CO: NavPress, 1983), h. 15-20.&lt;br /&gt;
9.	↑ Idem, p. 24.&lt;br /&gt;
10.	↑ Idem, p. 26.&lt;br /&gt;
11.	↑ J.I. Packer, Concise Theology (Wheaton, IL: Tyndale House, 1993), h. 169.&lt;br /&gt;
12.	↑ Sinclair Ferguson, A Heart for God (Colorado Springs, CO: NavPress, 1985), h. 129.&lt;br /&gt;
13.	↑ R.A. Muller, The International Standard Bible Encyclopedia, Volume Four (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1988), h. 324.&lt;br /&gt;
14.	↑ William Hendriksen, New Testament Commentary: Philippians (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1962), h. 176.&lt;br /&gt;
15.	↑ Quoted in Gathered Gold, p.148.&lt;br /&gt;
16.	↑ Louis Berkhof, Systematic Theology (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1941), p. 52.&lt;br /&gt;
↑ Sumber Asli tidak diketahui&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Susanlim</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/How_Can_I_Change%3F/Foreword/id</id>
		<title>How Can I Change?/Foreword/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/How_Can_I_Change%3F/Foreword/id"/>
				<updated>2008-11-21T13:09:57Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Susanlim: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|Bagaimana Saya Bisa Berubah?/ Pendahuluan}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu saya SMP, ada suatu peraturan yang menyatakan bahwa semua anak harus diukur kecepatannya waktu sedang lari jarak jauh. Biasanya saya hanya menampilkan penampilan standar saja. Tapi kali ini, saya memutuskan untuk memberikan seluruh tenaga saya.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jangan salah sangka-- walaupun saya bukan seorang atlit yang memukau, tapi biasanya saya menampilkan yang terbaik dan bersedia untuk berpartisipasi lebih jauh di bidang olahraga yang lain. Tapi lari jarak jauh sungguh berbeda. Itu bukan suatu hal yang mudah. Bukan suatu hal yang kompleks-- hanya sulit. Itu melibatkan rasa nyeri, dan saya bukan penggemar rasa nyeri. Malahan, sewaktu di kelas atletik ada program lari lintas negara, saya dan teman-teman, menghilang dari pelatih kami, dan melitasi rute yang lebih pendek yang akan membawa kami ke dalam gedung sekolah, memasuki aula di mana kelas mengetik sedang berlangsung, dan kemudian berlari lagi ke lapangan luar. Kami berhasil memotong seperempat mil dari lintasan sesungguhnya, sampai guru di kelas mengetik akhirnya mendapatkan pencerahan atas suara hentakan-hentakan kaki yang selalu menganggu kelangsungan pembelajaran di kelasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi kali ini saya memutuskan untuk melakukan yang terbaik. Jadi, setelah mengumpulkan segenap niat di dalam diri saya, saya memforsir diri saya melebihi batas kemampuan saya, dan ternyata hasilnya sangat membanggakan. Sangat membanggakan sampai-sampai, pada kenyataannya, pelatih utama lomba lari lintas negara mendengar mengenai prestasi saya dan mencoba untuk menarik saya untuk masuk ke dalam tim. Saya merespon dengan cara yang sama dengan cara saya merespon ibu saya ketika ibu menyarankan saya untuk mengambil les balet bersama saudara-saudara perempuan saya: “Tidak, terima kasih.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi, Robin,” katanya, “anak laki-laki kan juga menari balet.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi bukan anak laki-laki ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya merasa seakan-akan saya hendak mati sehabis saya menyelesaikan lintasan, dan dengan alasan yang sangat jelas. Saya kurang melatih diri saya untuk perlombaan itu –jelas kenapa- jadi saya tidak bisa mempunyai daya tahan yang kuat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dua puluh lima tahun kemudian, saya mulai memperoleh respek dalam hal lari jarak jauh. Ini adalah salah satu perumpamaan terbaik yang ada untuk memahami kehidupan kekristenan, seperti yang dapat kita lihat dengan jelas di dalam Alkitab: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. (Ibrani 12:1, penekanan ditambahkan) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saksi-saksi yang mengelilingi kita bagaikan awan ini juga termasuk pahlawan-pahlwan di dalam sejarah Alkitab—seperti Abraham, Yusuf, dan Musa—yang berlomba dengan penuh ketekunan (Ibrani 10) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun ada banyak perumpamaan atau ilustrasi yang bisa lebih menolong kita untuk memahami kehidupan kekristenan di dalam Alkitab, perumpamaan mengenai lari jarak jauh cenderung lebih mampu mengambarkan hal itu dengan jelas. Karena hal itu membutuhkan daya tahan dan ketekunan. Karena hal itu membutuhkan disiplin dan pelatihan. Karena hal itu membutuhkan mata yang tertuju pada tujuan. Dan walaupun itu bukanlah hal yang kompleks, namun para pelari jarak jauh yang berhasil, tergolong dalam golongan atlet yang cerdas. Mereka mampu menyusun kemampuan (sumber daya yang ada di dalam diri) mereka dan tetap memfokuskan diri terhadap tugas yang diemban oleh mereka, selangkah demi selangkah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami menulis buku ini untuk para pelari – para lelaki dan perempuan Kristen yang dengan tulus ingin berlari dalam pertandingan yang diperuntukkan untuk mereka. Untuk mereka yang telah mencoba dan gagal, dan nyaris menyerah dan tak berpengharapan, kami menawarkan penghiburan. Berdasarkan pengalaman kami yang sempat terjatuh di sepanjang jalan, kami secara konsisten dan terus menerus telah menemukan bahwa Dia yang memanggil kita untuk berlari, adalah setia. Firman dan Roh-Nya disediakan untuk kita. Bukan hanya itu, tapi Ia juga sangat-sangat tertarik melihat keberhasilan kita. “Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya,” kata nabi Yesaya, “dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya.” (Yesaya 42:3). Ketika anda benar-benar merasa lemah dan putus asa, ketika anda merasa api yang ada di dalam diri anda akan memudar, Ia ada di sana untuk memulihkan anda. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi mereka yang mungkin merasa sudah mencapai tahap sukses dalam menjalani kehidupan kekristenan, kami menawarkan nasihan dan teguran. Nabi memperingati pendengarnya, “Celaka atas orang-orang yang merasa aman di Sion!” (Amos 6:1). Sikap seperti itu sangat berbahaya, karena ketika kita merasa kita sudah suci, kita akan cenderung untuk bersantai dan mempercayai diri kita sendiri, daripada mempercayai Allah. Pada saat itu, biasanya diperlukan suatu krisis atau masalah untuk membawa kita kembali pada kenyataan yang ada. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada akhirnya, buku ini ditujukan bagi mereka yang memiliki keinginan untuk bertumbuh sebagai seorang kristen, mereka yang dipuaskan di dalam Kristus, tapi belum merasa puas terhadap diri mereka sendiri. Mungkin anda merasa frustrasi dengan perkembangan anda. Mungkin anda tidak yakin harus memulai darimana. Mungkin anda sudah berlari begitu lama dan butuh penyegaran. Kami percaya buku ini dapat menolong anda. Pada masa dimana solusi instan bagi masalah pelik begitu mudah ditawarkan, kami memilih untuk menyarankan anda untuk mengambil cara yang kuno, yang sudah diuji kebenarannya. Tidak ada jalan pintas bagi kedewasaan rohani. Tidak ada jalan yang bebas dari salib yang harus dipikul dalam mengikuti Tuhan, tidak ada rahasia instan bagi kehidupan kekristenan. Tapi, seperti lari jarak jauh, walau jalan menuju salib itu tidak mudah, namun hal itu juga tidak rumit atau kompleks. Allah menyediakan kita sebuah jalan, yang biarpun sempit, namun lurus. Ia membuat jalan-jalannya dapa dimengerti untuk mereka yang benar-benar tulus ingin mengikutiNya, dan Dia akan menunjukkan betapa kuat Dirinya bagi mereka yang mempersembahkan hati hanya untukNya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tujuan kami dalam memperkenalkan doktrin kekudusan (itu yang kami harap bisa kami lakukan lewat buku ini) adalah bahwa kita bisa diubahkan menjadi serupa dengan Yesus Kristus (Roma 8:29). Dan bahwa kami ingin menekankan fakta bahwa Roh Allah adalah Pribadi yang akan mengubah kita (2 Korintus 3:18). Walaupun kita wajib mengerahkan segenap tenaga kita dalam proses perubahan ini, namun semua pertumbuhan itu bersumber dari kasih karunia Allah. Dengan mengetahui kebenaran yang indah itu sebagai titik awal, marilah kita mulai maju dengan keyakinan bahwa “Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.” (Filipi 1:6) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''—Robin Boisvert''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.'' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(2 Korintus 3:18)&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Susanlim</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/How_Can_I_Change%3F/Foreword/id</id>
		<title>How Can I Change?/Foreword/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/How_Can_I_Change%3F/Foreword/id"/>
				<updated>2008-11-21T13:09:26Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Susanlim: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|Bagaimana Saya Bisa Berubah?/ Pendahuluan}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu saya SMP, ada suatu peraturan yang menyatakan bahwa semua anak harus diukur kecepatannya waktu sedang lari jarak jauh. Biasanya saya hanya menampilkan penampilan standar saja. Tapi kali ini, saya memutuskan untuk memberikan seluruh tenaga saya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jangan salah sangka-- walaupun saya bukan seorang atlit yang memukau, tapi biasanya saya menampilkan yang terbaik dan bersedia untuk berpartisipasi lebih jauh di bidang olahraga yang lain. Tapi lari jarak jauh sungguh berbeda. Itu bukan suatu hal yang mudah. Bukan suatu hal yang kompleks-- hanya sulit. Itu melibatkan rasa nyeri, dan saya bukan penggemar rasa nyeri. Malahan, sewaktu di kelas atletik ada program lari lintas negara, saya dan teman-teman, menghilang dari pelatih kami, dan melitasi rute yang lebih pendek yang akan membawa kami ke dalam gedung sekolah, memasuki aula di mana kelas mengetik sedang berlangsung, dan kemudian berlari lagi ke lapangan luar. Kami berhasil memotong seperempat mil dari lintasan sesungguhnya, sampai guru di kelas mengetik akhirnya mendapatkan pencerahan atas suara hentakan-hentakan kaki yang selalu menganggu kelangsungan pembelajaran di kelasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi kali ini saya memutuskan untuk melakukan yang terbaik. Jadi, setelah mengumpulkan segenap niat di dalam diri saya, saya memforsir diri saya melebihi batas kemampuan saya, dan ternyata hasilnya sangat membanggakan. Sangat membanggakan sampai-sampai, pada kenyataannya, pelatih utama lomba lari lintas negara mendengar mengenai prestasi saya dan mencoba untuk menarik saya untuk masuk ke dalam tim. Saya merespon dengan cara yang sama dengan cara saya merespon ibu saya ketika ibu menyarankan saya untuk mengambil les balet bersama saudara-saudara perempuan saya: “Tidak, terima kasih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi, Robin,” katanya, “anak laki-laki kan juga menari balet.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi bukan anak laki-laki ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya merasa seakan-akan saya hendak mati sehabis saya menyelesaikan lintasan, dan dengan alasan yang sangat jelas. Saya kurang melatih diri saya untuk perlombaan itu –jelas kenapa- jadi saya tidak bisa mempunyai daya tahan yang kuat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dua puluh lima tahun kemudian, saya mulai memperoleh respek dalam hal lari jarak jauh. Ini adalah salah satu perumpamaan terbaik yang ada untuk memahami kehidupan kekristenan, seperti yang dapat kita lihat dengan jelas di dalam Alkitab:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. (Ibrani 12:1, penekanan ditambahkan)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saksi-saksi yang mengelilingi kita bagaikan awan ini juga termasuk pahlawan-pahlwan di dalam sejarah Alkitab—seperti Abraham, Yusuf, dan Musa—yang berlomba dengan penuh ketekunan (Ibrani 10)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun ada banyak perumpamaan atau ilustrasi yang bisa lebih menolong kita untuk memahami kehidupan kekristenan di dalam Alkitab, perumpamaan mengenai lari jarak jauh cenderung lebih mampu mengambarkan hal itu dengan jelas. Karena hal itu membutuhkan daya tahan dan ketekunan. Karena hal itu membutuhkan disiplin dan pelatihan. Karena hal itu membutuhkan mata yang tertuju pada tujuan. Dan walaupun itu bukanlah hal yang kompleks, namun para pelari jarak jauh yang berhasil, tergolong dalam golongan atlet yang cerdas. Mereka mampu menyusun kemampuan (sumber daya yang ada di dalam diri) mereka dan tetap memfokuskan diri terhadap tugas yang diemban oleh mereka, selangkah demi selangkah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami menulis buku ini untuk para pelari – para lelaki dan perempuan Kristen yang dengan tulus ingin berlari dalam pertandingan yang diperuntukkan untuk mereka. Untuk mereka yang telah mencoba dan gagal, dan nyaris menyerah dan tak berpengharapan, kami menawarkan penghiburan. Berdasarkan pengalaman kami yang sempat terjatuh di sepanjang jalan, kami secara konsisten dan terus menerus telah menemukan bahwa Dia yang memanggil kita untuk berlari, adalah setia. Firman dan Roh-Nya disediakan untuk kita. Bukan hanya itu, tapi Ia juga sangat-sangat tertarik melihat keberhasilan kita. “Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya,” kata nabi Yesaya, “dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya.” (Yesaya 42:3). Ketika anda benar-benar merasa lemah dan putus asa, ketika anda merasa api yang ada di dalam diri anda akan memudar, Ia ada di sana untuk memulihkan anda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi mereka yang mungkin merasa sudah mencapai tahap sukses dalam menjalani kehidupan kekristenan, kami menawarkan nasihan dan teguran. Nabi memperingati pendengarnya, “Celaka atas orang-orang yang merasa aman di Sion!” (Amos 6:1). Sikap seperti itu sangat berbahaya, karena ketika kita merasa kita sudah suci, kita akan cenderung untuk bersantai dan mempercayai diri kita sendiri, daripada mempercayai Allah. Pada saat itu, biasanya diperlukan suatu krisis atau masalah untuk membawa kita kembali pada kenyataan yang ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada akhirnya, buku ini ditujukan bagi mereka yang memiliki keinginan untuk bertumbuh sebagai seorang kristen, mereka yang dipuaskan di dalam Kristus, tapi belum merasa puas terhadap diri mereka sendiri. Mungkin anda merasa frustrasi dengan perkembangan anda. Mungkin anda tidak yakin harus memulai darimana. Mungkin anda sudah berlari begitu lama dan butuh penyegaran. Kami percaya buku ini dapat menolong anda. Pada masa dimana solusi instan bagi masalah pelik begitu mudah ditawarkan, kami memilih untuk menyarankan anda untuk mengambil cara yang kuno, yang sudah diuji kebenarannya. Tidak ada jalan pintas bagi kedewasaan rohani. Tidak ada jalan yang bebas dari salib yang harus dipikul dalam mengikuti Tuhan, tidak ada rahasia instan bagi kehidupan kekristenan. Tapi, seperti lari jarak jauh, walau jalan menuju salib itu tidak mudah, namun hal itu juga tidak rumit atau kompleks. Allah menyediakan kita sebuah jalan, yang biarpun sempit, namun lurus. Ia membuat jalan-jalannya dapa dimengerti untuk mereka yang benar-benar tulus ingin mengikutiNya, dan Dia akan menunjukkan betapa kuat Dirinya bagi mereka yang mempersembahkan hati hanya untukNya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tujuan kami dalam memperkenalkan doktrin kekudusan (itu yang kami harap bisa kami lakukan lewat buku ini) adalah bahwa kita bisa diubahkan menjadi serupa dengan Yesus Kristus (Roma 8:29). Dan bahwa kami ingin menekankan fakta bahwa Roh Allah adalah Pribadi yang akan mengubah kita (2 Korintus 3:18). Walaupun kita wajib mengerahkan segenap tenaga kita dalam proses perubahan ini, namun semua pertumbuhan itu bersumber dari kasih karunia Allah. Dengan mengetahui kebenaran yang indah itu sebagai titik awal, marilah kita mulai maju dengan keyakinan bahwa “Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.” (Filipi 1:6)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''—Robin Boisvert'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(2 Korintus 3:18)&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Susanlim</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/How_Can_I_Change%3F/How_to_Use_This_Book/id</id>
		<title>How Can I Change?/How to Use This Book/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/How_Can_I_Change%3F/How_to_Use_This_Book/id"/>
				<updated>2008-11-21T13:07:20Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Susanlim: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|Bagaimana Saya Bisa Berubah? / Bagaimana Menggunakan Buku Ini}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana Saya Bisa Berubah?, seperti setiap buku dalam seri ''Pursuit of Godliness'', buku ini dirancang untuk penggunaan berkelompok maupun individual. Seri ini secara logis didasari oleh empat keyakinan mendasar:&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Alkitab adalah dasar kita yang terutama dalam hal iman, doktrin, dan praktek. Mereka yang menolak kewenangan Alkitab akan digoncang oleh perasaan mereka sendiri dan oleh tren-tren budaya yang ada. &lt;br /&gt;
*Pengetahuan tanpa penerapan secara nyata adalah suatu hal yang sia-sia. Agar bisa diubahkan, kita harus menerapkan dan terus melatih diri kita untuk melakukan apa yang dikatakan oleh Firman Allah dalam kehidupan kita sehari-hari. &lt;br /&gt;
*Penerapan terhadap prinsip-prinsip ini adalah suatu hal yang mustahil jika dilakukan tanpa penyertaan dari Roh Kudus. Walaupun kitalah yang ambil bagian dalam proses perubahan, namun dari Dia-lah kuasa untuk melakukan perubahan itu berasal. &lt;br /&gt;
*Gereja diperuntukkan Allah sebagai wadah untuk perubahan. Allah tidak pernah menginginkan kita untuk hidup memisahkan diri dengan orang percaya lainnya. Lewat partisipasi yang penuh komitmen di gereja lokal, kita menemukan petunjuk, penghiburan, koreksi, dan kesempatan-kesempatan untuk menuju kedewasaan rohani dalam Kristus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat anda membaca buku ini, kami percaya bahwa dasar-dasar keyakinan ini akan diperkuat di dalam hati anda. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain pertanyaan-pertanyaan yang ada di dalam “Diskusi Kelompok”, format dari buku ini cocok untuk pengunaan secara individual atau dalam kelompok kecil. Berbagai elemen yang bervariasi sudah ditambahkan ke dalam setiap perikop agar pembahasaan dapat lebih menarik. Bagi anda yang belum dipuaskan oleh pembahasan di setiap perikop, kami sudah membuat daftar buku-buku tambahan yang dapat anda baca pada akhir pembahasan, untuk menolong anda agar dapat lebih bertumbuh di dalam Kristus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika anda tergugah untuk mulai mempraktekkan hal-hal yang dituliskan di dalam buku ini, bagaimanapun diskusi kelompok akan lebih efektif untuk dilakukan apabila setiap anggota kelompok sudah membaca materi yang ada lebih dahulu. Dan ingatlah bahwa anda tidak akan pernah membaca buku ini sendirian. Roh Kudus adalah pembimbing anda. Dengan pertolonganNya, buku ini mempunyai potensi untuk mengubah hidup anda.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Susanlim</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/How_Can_I_Change%3F/How_to_Use_This_Book/id</id>
		<title>How Can I Change?/How to Use This Book/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/How_Can_I_Change%3F/How_to_Use_This_Book/id"/>
				<updated>2008-11-21T13:07:01Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Susanlim: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|Bagaimana Saya Bisa Berubah? / Bagaimana Menggunakan Buku Ini}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana Saya Bisa Berubah?, seperti setiap buku dalam seri ''Pursuit of Godliness'', buku ini dirancang untuk penggunaan berkelompok maupun individual. Seri ini secara logis didasari oleh empat keyakinan mendasar:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Alkitab adalah dasar kita yang terutama dalam hal iman, doktrin, dan praktek. Mereka yang menolak kewenangan Alkitab akan digoncang oleh perasaan mereka sendiri dan oleh tren-tren budaya yang ada.&lt;br /&gt;
*Pengetahuan tanpa penerapan secara nyata adalah suatu hal yang sia-sia. Agar bisa diubahkan, kita harus menerapkan dan terus melatih diri kita untuk melakukan apa yang dikatakan oleh Firman Allah dalam kehidupan kita sehari-hari.&lt;br /&gt;
*Penerapan terhadap prinsip-prinsip ini adalah suatu hal yang mustahil jika dilakukan tanpa penyertaan dari Roh Kudus. Walaupun kitalah yang ambil bagian dalam proses perubahan, namun dari Dia-lah kuasa untuk melakukan perubahan itu berasal.&lt;br /&gt;
*Gereja diperuntukkan Allah sebagai wadah untuk perubahan. Allah tidak pernah menginginkan kita untuk hidup memisahkan diri dengan orang percaya lainnya. Lewat partisipasi yang penuh komitmen di gereja lokal, kita menemukan petunjuk, penghiburan, koreksi, dan kesempatan-kesempatan untuk menuju kedewasaan rohani dalam Kristus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat anda membaca buku ini, kami percaya bahwa dasar-dasar keyakinan ini akan diperkuat di dalam hati anda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain pertanyaan-pertanyaan yang ada di dalam “Diskusi Kelompok”, format dari buku ini cocok untuk pengunaan secara individual atau dalam kelompok kecil. Berbagai elemen yang bervariasi sudah ditambahkan ke dalam setiap perikop agar pembahasaan dapat lebih menarik. Bagi anda yang belum dipuaskan oleh pembahasan di setiap perikop, kami sudah membuat daftar buku-buku tambahan yang dapat anda baca pada akhir pembahasan, untuk menolong anda agar dapat lebih bertumbuh di dalam Kristus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika anda tergugah untuk mulai mempraktekkan hal-hal yang dituliskan di dalam buku ini, bagaimanapun diskusi kelompok akan lebih efektif untuk dilakukan apabila setiap anggota kelompok sudah membaca materi yang ada lebih dahulu. Dan ingatlah bahwa anda tidak akan pernah membaca buku ini sendirian. Roh Kudus adalah pembimbing anda. Dengan pertolonganNya, buku ini mempunyai potensi untuk mengubah hidup anda.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Susanlim</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/The_Book_of_Job:_Why_Do_the_Righteous_Suffer%3F/id</id>
		<title>The Book of Job: Why Do the Righteous Suffer?/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/The_Book_of_Job:_Why_Do_the_Righteous_Suffer%3F/id"/>
				<updated>2008-11-12T19:09:16Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Susanlim: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|Kitab Ayub: Mengapa Orang Benar Menderita?}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam area studi Alkitab, ada lima kitab yang secara umum dimasukkan ke dalam kategori &amp;quot;Literatur Hikmat&amp;quot; atau &amp;quot;Kitab Puitis di dalam Perjanjian Lama&amp;quot;. Kelima kitab itu adalah Amsal, Mazmur, Pengkotbah, Kidung Agung, dan Ayub. Dari kelima kitab ini, hanya ada satu yang menonjol dan terkesan berbeda dari keempat kitab lainnya. Kitab itu adalah Ayub. Hikmat yang diperoleh dari Kitab Ayub tidak disampaikan dalam bentuk amsal. Melainkan, Kitab Ayub berkaitan dengan pertanyaan-pertayaan hikmat dalam konteks naratif yang bersentuhan dengan penderitaan besar yang dialami oleh Ayub. Latar belakang naratif ini ada dalam konteks masa patriarki. Banyak pertanyaan yang berkaitan dengan tujuan penulis kitab ini, apakah sebagai sejarah naratif dari seorang individu nyata atau apakah berkaitan dengan struktur mendasar kitab ini yaitu sebagai sebuah drama dengan kalimat pembuka, termasuk adegan pembukaan di Surga, yang melibatkan Allah dan Iblis, dan bergerak secara klimatikal ke bagian penutub kitab, dimana hal-hal yang terhilang dari Ayub pada masa-masa pencobaan digantikan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Dalam segala aspek, pesan mendasar dari kitab Ayub adalah hikmat yang berkaitan dengan pertayaan seperti bagaimana keterlibatan Allah di dalam penderitaan yang dialami manusia. Di dalam setiap generasi, protes bermunculan, yang menyatakan bahwa jika Allah itu baik, lalu seharusnya tidak ada penderitaan, penyakit, dan kematian di dalam dunia ini. Bersamaan dengan protes yang menentang hal-hal buruk untuk terjadi di dalam kehidupan orang baik, ada juga beberapa usaha untuk menciptakan rumusan dari penderitaan, dengan mengasumsikan bahwa porsi penderitaan seseorang terkait dengan rasa bersalah yang mereka miliki, juga dosa yang sudah mereka lakukan. Respon yang cepat mengenai hal ini dapat ditemukan dalam Pasal 9 Kitab Yohanes, ketika Yesus memberikan tanggapan pada pertanyaan para pengikutNya, berkaitan dengan penyebab penderitaan dari seorang laki-laki yang terlahir buta. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Di dalam Kitab Ayub, karakter utama digambarkan sebagai orang yang benar, bahkan orang yang paling benar hidupnya yang bisa ditemukan di seluruh bumi, namun adalah orang yang menurut Iblis bersikap benar hanya untuk menerima berkat dari tangan Allah. Allah telah membentengi hidupnya dan memberkati dia di antara segala manusia, dan sebagai hasilnya, Iblis menuduh bawa Ayub melayani Allah hanya karena berkat-berkat yang diberikan oleh Penciptanya. Tantangannya adalah ketika Iblis menantang Allah untuk mengangkat semua perlindunganNya dari dalam hidup Ayub, untuk melihat apakah Ayub akan mulai mengutuki Allah. Seiring dengan berjalannya cerita, penderitaan Ayub bergerak cepat dari buruk, menjadi lebih buruk. Penderitaannya begitu besar sehingga ia sampai duduk di atas abu, mengutuki hari ketika ia dilahirkan, dan menangis keras dalam penderitaan yang berkepanjangan. Penderitaannya begitu besar, sehingga istrinya sendiri menyarankan dia untuk mengutuki Allah, dan bahwa pada akhirnya ia bisa meninggal dan terlepas dari penderitaannya. Hal yang dinyatakan lebih lanjut di dalam kitab Ayub adalah ketika ketiga sahabat Ayub, Elifas, Bildad, dan Zofar memberikan pendapat mereka. Pernyataan mereka menyatakan betapa rendah kesetiaan mereka pada Ayub, dan betapa pikiran mereka begitu cepat menilai Ayub (tanpa didasari pengetahuan yang benar), sehingga mereka berpikir bahwa penderitaan Ayub pastilah dikarenakan masalah dalam karakter Ayub sendiri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Penghiburan dan nasehat yang diterima Ayub mencapai tingkat yang lebih tinggi berkat pemahaman-pemahaman mendalam yang disampaikan oleh Elihu. Elihu memberikan beberapa pernyataan yang mengandung muatan hikmat Alkitabiah, namun hikmat yang terakhir diperoleh dalam kitab yang hebat ini, tidak datang dari teman-teman Ayub, bahkan Elihu, melainkan dari Allah sendiri. Ketika Ayub meminta jawaban dari Allah, Allah menjawab dengan jawaban keras berikut, &amp;quot;Siapakah dia yang menggelapkan keputusan dengan perkataan-perkataan yang tidak berpengetahuan? Bersiaplah engkau sebagai laki-laki! Aku akan menanyai engkau, supaya engkau memberitahu Aku.&amp;quot; (Ayub 38:1-3). Ini adalah interogasi intens yang pernah dilakukan terhadap manusia oleh PenciptaNya. Kesan pertama yang ditangkap adalah Allah sedang mengolok-olok Ayub, ketika Ia bertanya, &amp;quot;Di manakah engkau, ketika Aku meletakkan dasar bumi? Ceritakanlah, kalau engkau mempunyai pengertian!&amp;quot; (Ayat 4). Allah kemudian mengajukan pertanyaan demi pertanyaan seperti, &amp;quot;Dapatkah engkau memberkas ikatan bintang Kartika, dan membuka belenggu bintang Belantik? Dapatkah engkau menerbitkan Mintakulburuj pada waktunya, dan memimpin bintang Biduk dengan pengiring-pengiringnya?&amp;quot; (Ayat 31-32). Sangat jelas, bahwa jawaban yang bisa disampaikan terkait dengan pertanyaan retoris ini selalu, &amp;quot;Tidak, tidak, tidak&amp;quot;. Allah seakan-akan memukul kalah Ayub, dan melanjutkan pertanyaan demi pertanyaan mengenai kemampuan Ayub untuk melakukan suatu hal yang tidak mampu ia lakukan, namun sangat jelas dapat dilakukan oleh Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Pada ayat 39, Allah akhirnya berkata kepada Ayub, &amp;quot;Apakah si pengecam hendak berbantah dengan Yang Mahakuasa? Hendaklah yang mencela Allah menjawab!&amp;quot; (ayat 35). Sekarang, Ayub merespon pertanyaan ini bukan dengan cara yang menyimpang, namun sebaliknya ia mengatakan, &amp;quot;Sesungguhnya, aku ini terlalu hina; jawab apakah yang dapat kuberikan kepada-Mu? Mulutku kututup dengan tangan. Satu kali aku berbicara, tetapi tidak akan kuulangi; bahkan dua kali, tetapi tidak akan kulanjutkan.&amp;quot; (ayat 37-38). Dan Allah kemudian kembali menginterograsi Ayub dengan pertanyaan-pertanyaan yang jelas mengambarkan kekontrasan antara kuasa Allah, Siapakah Dia yang dikenal Ayub dengan nama El Shaddai, dan ketidakberartian Ayub. Akhirnya Ayub mengakui bahwa hal-hal itu terlalu mustahil dan hebat untuk dilakukan olehnya. Dia menyatakan, &amp;quot; Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu.&amp;quot; (42:5-6) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang berharga dari pelajaran ini adalah bahwa Allah tidak pernah secara langsung menjawab pertanyaan-pertanyaan Ayub. Allah tidak mengatakan, &amp;quot;Ayub, alasan kamu mengalami penderitaan adalah ini dan itu.&amp;quot; Sebaliknya, yang Allah lakukan di tengah misteri penderitaan hebat itu, adalah dengan menjawab Ayub dengan DiriNya sendiri. Ini adalah hikmat yang menjawab pertanyaan-pertanyaan terkait dengan penderitaan manusia-- bukan jawaban mengenai kenapa saya harus menderita dengan cara, situasi, dan waktu tertentu, namun dimanakah (kepada Siapa kah) pengharapan saya berlabuh di tengah penderitaan itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jawaban terhadap pertanyaan itu dapat dengan jelas ditemukan dalam kitab Ayub, yang selaras dengan kitab-kitab hikmat lainnya: takut akan Allah adalah permulaan hikmat. Dan saat kita begitu disibukkan dan dibuat pusing oleh hal-hal yang tidak bisa kita pahami di dalam dunia ini, kita tidak selalu mencari jawaban spesifik atas pertanyaan spesifik yang kita ajukan, namun kita mencari pengenalan akan Allah dalam kekudusanNya, kebenaranNya, keadilanNya, dan dalam anugerahNya. Itulah hikmat yang bisa ditemukan dalam kitab Ayub&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Susanlim</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/The_Book_of_Job:_Why_Do_the_Righteous_Suffer%3F/id</id>
		<title>The Book of Job: Why Do the Righteous Suffer?/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/The_Book_of_Job:_Why_Do_the_Righteous_Suffer%3F/id"/>
				<updated>2008-11-12T18:58:15Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Susanlim: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|Kitab Ayub: Mengapa Orang Benar Menderita?}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam area studi Alkitab, ada lima kitab yang secara umum dimasukkan ke dalam kategori &amp;quot;Literatur Hikmat&amp;quot; atau &amp;quot;Kitab Puitis di dalam Perjanjian Lama&amp;quot;. Kelima kitab itu adalah Amsal, Mazmur, Pengkotbah, Kidung Agung, dan Ayub. Dari kelima kitab ini, hanya ada satu yang menonjol dan terkesan berbeda dari keempat kitab lainnya. Kitab itu adalah Ayub. Hikmat yang diperoleh dari Kitab Ayub tidak disampaikan dalam bentuk amsal. Melainkan, Kitab Ayub berkaitan dengan pertanyaan-pertayaan hikmat dalam konteks naratif yang bersentuhan dengan penderitaan besar yang dialami oleh Ayub. Latar belakang naratif ini ada dalam konteks masa patriarki. Banyak pertanyaan yang berkaitan dengan tujuan penulis kitab ini, apakah sebagai sejarah naratif dari seorang individu nyata atau apakah berkaitan dengan struktur mendasar kitab ini yaitu sebagai sebuah drama dengan kalimat pembuka, termasuk adegan pembukaan di Surga, yang melibatkan Allah dan Iblis, dan bergerak secara klimatikal ke bagian penutub kitab, dimana hal-hal yang terhilang dari Ayub pada masa-masa pencobaan digantikan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Dalam segala aspek, pesan mendasar dari kitab Ayub adalah hikmat yang berkaitan dengan pertayaan seperti bagaimana keterlibatan Allah di dalam penderitaan yang dialami manusia. Di dalam setiap generasi, protes bermunculan, yang menyatakan bahwa jika Allah itu baik, lalu seharusnya tidak ada penderitaan, penyakit, dan kematian di dalam dunia ini. Bersamaan dengan protes yang menentang hal-hal buruk untuk terjadi di dalam kehidupan orang baik, ada juga beberapa usaha untuk menciptakan rumusan dari penderitaan, dengan mengasumsikan bahwa porsi penderitaan seseorang terkait dengan rasa bersalah yang mereka miliki, juga dosa yang sudah mereka lakukan. Respon yang cepat mengenai hal ini dapat ditemukan dalam Pasal 9 Kitab Yohanes, ketika Yesus memberikan tanggapan pada pertanyaan para pengikutNya, berkaitan dengan penyebab penderitaan dari seorang laki-laki yang terlahir buta. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Di dalam Kitab Ayub, karakter utama digambarkan sebagai orang yang benar, bahkan orang yang paling benar hidupnya yang bisa ditemukan di seluruh bumi, namun adalah orang yang menurut Iblis bersikap benar hanya untuk menerima berkat dari tangan Allah. Allah telah membentengi hidupnya dan memberkati dia di antara segala manusia, dan sebagai hasilnya, Iblis menuduh bawa Ayub melayani Allah hanya karena berkat-berkat yang diberikan oleh Penciptanya. Tantangannya adalah ketika Iblis menantang Allah untuk mengangkat semua perlindunganNya dari dalam hidup Ayub, untuk melihat apakah Ayub akan mulai mengutuki Allah. Seiring dengan berjalannya cerita, penderitaan Ayub bergerak cepat dari buruk, menjadi lebih buruk. Penderitaannya begitu besar sehingga ia sampai duduk di atas abu, mengutuki hari ketika ia dilahirkan, dan menangis keras dalam penderitaan yang berkepanjangan. Penderitaannya begitu besar, sehingga istrinya sendiri menyarankan dia untuk mengutuki Allah, dan bahwa pada akhirnya ia bisa meninggal dan terlepas dari penderitaannya. Hal yang dinyatakan lebih lanjut di dalam kitab Ayub adalah ketika ketiga sahabat Ayub, Elifas, Bildad, dan Zofar memberikan pendapat mereka. Pernyataan mereka menyatakan betapa rendah kesetiaan mereka pada Ayub, dan betapa pikiran mereka begitu cepat menilai Ayub (tanpa didasari pengetahuan yang benar), sehingga mereka berpikir bahwa penderitaan Ayub pastilah dikarenakan masalah dalam karakter Ayub sendiri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Penghiburan dan nasehat yang diterima Ayub mencapai tingkat yang lebih tinggi berkat pemahaman-pemahaman mendalam yang disampaikan oleh Elihu. Elihu memberikan beberapa pernyataan yang mengandung muatan hikmat Alkitabiah, namun hikmat yang terakhir diperoleh dalam kitab yang hebat ini, tidak datang dari teman-teman Ayub, bahkan Elihu, melainkan dari Allah sendiri. Ketika Ayub meminta jawaban dari Allah, Allah menjawab dengan jawaban keras berikut, &amp;quot;Siapakah dia yang menggelapkan keputusan dengan perkataan-perkataan yang tidak berpengetahuan? Bersiaplah engkau sebagai laki-laki! Aku akan menanyai engkau, supaya engkau memberitahu Aku.&amp;quot; (Ayub 38:1-3). Ini adalah interogasi intens yang pernah dilakukan terhadap manusia oleh PenciptaNya. Kesan pertama yang ditangkap adalah Allah sedang mengolok-olok Ayub, ketika Ia bertanya, &amp;quot;Di manakah engkau, ketika Aku meletakkan dasar bumi? Ceritakanlah, kalau engkau mempunyai pengertian!&amp;quot; (Ayat 4). Allah kemudian mengajukan pertanyaan demi pertanyaan seperti, &amp;quot;Dapatkah engkau memberkas ikatan bintang Kartika, dan membuka belenggu bintang Belantik? Dapatkah engkau menerbitkan Mintakulburuj pada waktunya, dan memimpin bintang Biduk dengan pengiring-pengiringnya?&amp;quot; (Ayat 31-32). Sangat jelas, bahwa jawaban yang bisa disampaikan terkait dengan pertanyaan retoris ini selalu, &amp;quot;Tidak, tidak, tidak&amp;quot;. Allah seakan-akan memukul kalah Ayub, dan melanjutkan pertanyaan demi pertanyaan mengenai kemampuan Ayub untuk melakukan suatu hal yang tidak mampu ia lakukan, namun sangat jelas dapat dilakukan oleh Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Pada ayat 39, Allah akhirnya berkata kepada Ayub, &amp;quot;Apakah si pengecam hendak berbantah dengan Yang Mahakuasa? Hendaklah yang mencela Allah menjawab!&amp;quot; (ayat 35). Sekarang, Ayub merespon pertanyaan ini bukan dengan cara yang menyimpang, namun sebaliknya ia mengatakan, &amp;quot;Sesungguhnya, aku ini terlalu hina; jawab apakah yang dapat kuberikan kepada-Mu? Mulutku kututup dengan tangan. Satu kali aku berbicara, tetapi tidak akan kuulangi; bahkan dua kali, tetapi tidak akan kulanjutkan.&amp;quot; (ayat 37-38). Dan Allah kemudian kembali menginterograsi Ayub dengan pertanyaan-pertanyaan yang jelas mengambarkan kekontrasan antara kuasa Allah, Siapakah Dia yang dikenal Ayub dengan nama El Shaddai, dan ketidakberartian Ayub. Akhirnya Ayub mengakui bahwa hal-hal itu terlalu mustahil dan hebat untuk dilakukan olehnya. Dia menyatakan, &amp;quot; Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu.&amp;quot; (42:5-6) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang berharga dari pelajaran ini adalah bahwa Allah tidak pernah secara langsung menjawab pertanyaan-pertanyaan Ayub. Allah tidak mengatakan, &amp;quot;Ayub, alasan kamu mengalami penderitaan adalah ini dan itu.&amp;quot; Sebaliknya, yang Allah lakukan di tengah misteri penderitaan hebat itu, adalah dengan menjawab Ayub dengan DiriNya sendiri. Ini adalah hikmat yang menjawab pertanyaan-pertanyaan terkait dengan penderitaan manusia-- bukan jawaban mengenai kenapa saya harus menderita dengan cara, situasi, dan waktu tertentu, namun dimanakah (kepada Siapa kah) nharapan saya berlabuh di tengah penderitaan itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jawaban terhadap pertanyaan itu dapat dengan jelas ditemukan dalam kitab Ayub, yang selaras dengan kitab-kitab hikmat lainnya: takut akan Allah adalah permulaan hikmat. Dan saat kita begitu disibukkan dan dibuat pusing oleh hal-hal yang tidak bisa kita pahami di dalam dunia ini, kita tidak selalu mencari jawaban spesifik atas pertanyaan spesifik yang kita ajukan, namun kita mencari pengenalan akan Allah dalam kekudusanNya, kebenaranNya, keadilanNya, dan dalam anugerahNya. Itulah hikmat yang bisa ditemukan dalam kitab Ayub&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Susanlim</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/The_Book_of_Job:_Why_Do_the_Righteous_Suffer%3F/id</id>
		<title>The Book of Job: Why Do the Righteous Suffer?/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/The_Book_of_Job:_Why_Do_the_Righteous_Suffer%3F/id"/>
				<updated>2008-11-12T18:57:46Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Susanlim: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|Kitab Ayub: Mengapa Orang Benar Menderita?}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam area studi Alkitab, ada lima kitab yang secara umum dimasukkan ke dalam kategori &amp;quot;Literatur Hikmat&amp;quot; atau &amp;quot;Kitab Puitis di dalam Perjanjian Lama&amp;quot;. Kelima kitab itu adalah Amsal, Mazmur, Pengkotbah, Kidung Agung, dan Ayub. Dari kelima kitab ini, hanya ada satu yang menonjol dan terkesan berbeda dari keempat kitab lainnya. Kitab itu adalah Ayub. Hikmat yang diperoleh dari Kitab Ayub tidak disampaikan dalam bentuk amsal. Melainkan, Kitab Ayub berkaitan dengan pertanyaan-pertayaan hikmat dalam konteks naratif yang bersentuhan dengan penderitaan besar yang dialami oleh Ayub. Latar belakang naratif ini ada dalam konteks masa patriarki. Banyak pertanyaan yang berkaitan dengan tujuan penulis kitab ini, apakah sebagai sejarah naratif dari seorang individu nyata atau apakah berkaitan dengan struktur mendasar kitab ini yaitu sebagai sebuah drama dengan kalimat pembuka, termasuk adegan pembukaan di Surga, yang melibatkan Allah dan Iblis, dan bergerak secara klimatikal ke bagian penutub kitab, dimana hal-hal yang terhilang dari Ayub pada masa-masa pencobaan digantikan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Dalam segala aspek, pesan mendasar dari kitab Ayub adalah hikmat yang berkaitan dengan pertayaan seperti bagaimana keterlibatan Allah di dalam penderitaan yang dialami manusia. Di dalam setiap generasi, protes bermunculan, yang menyatakan bahwa jika Allah itu baik, lalu seharusnya tidak ada penderitaan, penyakit, dan kematian di dalam dunia ini. Bersamaan dengan protes yang menentang hal-hal buruk untuk terjadi di dalam kehidupan orang baik, ada juga beberapa usaha untuk menciptakan rumusan dari penderitaan, dengan mengasumsikan bahwa porsi penderitaan seseorang terkait dengan rasa bersalah yang mereka miliki, juga dosa yang sudah mereka lakukan. Respon yang cepat mengenai hal ini dapat ditemukan dalam Pasal 9 Kitab Yohanes, ketika Yesus memberikan tanggapan pada pertanyaan para pengikutNya, berkaitan dengan penyebab penderitaan dari seorang laki-laki yang terlahir buta. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Di dalam Kitab Ayub, karakter utama digambarkan sebagai orang yang benar, bahkan orang yang paling benar hidupnya yang bisa ditemukan di seluruh bumi, namun adalah orang yang menurut Iblis bersikap benar hanya untuk menerima berkat dari tangan Allah. Allah telah membentengi hidupnya dan memberkati dia di antara segala manusia, dan sebagai hasilnya, Iblis menuduh bawa Ayub melayani Allah hanya karena berkat-berkat yang diberikan oleh Penciptanya. Tantangannya adalah ketika Iblis menantang Allah untuk mengangkat semua perlindunganNya dari dalam hidup Ayub, untuk melihat apakah Ayub akan mulai mengutuki Allah. Seiring dengan berjalannya cerita, penderitaan Ayub bergerak cepat dari buruk, menjadi lebih buruk. Penderitaannya begitu besar sehingga ia sampai duduk di atas abu, mengutuki hari ketika ia dilahirkan, dan menangis keras dalam penderitaan yang berkepanjangan. Penderitaannya begitu besar, sehingga istrinya sendiri menyarankan dia untuk mengutuki Allah, dan bahwa pada akhirnya ia bisa meninggal dan terlepas dari penderitaannya. Hal yang dinyatakan lebih lanjut di dalam kitab Ayub adalah ketika ketiga sahabat Ayub, Elifas, Bildad, dan Zofar memberikan pendapat mereka. Pernyataan mereka menyatakan betapa rendah kesetiaan mereka pada Ayub, dan betapa pikiran mereka begitu cepat menilai Ayub (tanpa didasari pengetahuan yang benar), sehingga mereka berpikir bahwa penderitaan Ayub pastilah dikarenakan masalah dalam karakter Ayub sendiri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Penghiburan dan nasehat yang diterima Ayub mencapai tingkat yang lebih tinggi berkat pemahaman-pemahaman mendalam yang disampaikan oleh Elihu. Elihu memberikan beberapa pernyataan yang mengandung muatan hikmat Alkitabiah, namun hikmat yang terakhir diperoleh dalam kitab yang hebat ini, tidak datang dari teman-teman Ayub, bahkan Elihu, melainkan dari Allah sendiri. Ketika Ayub meminta jawaban dari Allah, Allah menjawab dengan jawaban keras berikut, &amp;quot;Siapakah dia yang menggelapkan keputusan dengan perkataan-perkataan yang tidak berpengetahuan? Bersiaplah engkau sebagai laki-laki! Aku akan menanyai engkau, supaya engkau memberitahu Aku.&amp;quot; (Ayub 38:1-3). Ini adalah interogasi intens yang pernah dilakukan terhadap manusia oleh PenciptaNya. Kesan pertama yang ditangkap adalah Allah sedang mengolok-olok Ayub, ketika Ia bertanya, &amp;quot;Di manakah engkau, ketika Aku meletakkan dasar bumi? Ceritakanlah, kalau engkau mempunyai pengertian!&amp;quot; (Ayat 4). Allah kemudian mengajukan pertanyaan demi pertanyaan seperti, &amp;quot;Dapatkah engkau memberkas ikatan bintang Kartika, dan membuka belenggu bintang Belantik? Dapatkah engkau menerbitkan Mintakulburuj pada waktunya, dan memimpin bintang Biduk dengan pengiring-pengiringnya?&amp;quot; (Ayat 31-32). Sangat jelas, bahwa jawaban yang bisa disampaikan terkait dengan pertanyaan retoris ini selalu, &amp;quot;Tidak, tidak, tidak&amp;quot;. Allah seakan-akan memukul kalah Ayub, dan melanjutkan pertanyaan demi pertanyaan mengenai kemampuan Ayub untuk melakukan suatu hal yang tidak mampu ia lakukan, namun sangat jelas dapat dilakukan oleh Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Pada ayat 39, Allah akhirnya berkata kepada Ayub, &amp;quot;Apakah si pengecam hendak berbantah dengan Yang Mahakuasa? Hendaklah yang mencela Allah menjawab!&amp;quot; (ayat 35). Sekarang, Ayub merespon pertanyaan ini bukan dengan cara yang menyimpang, namun sebaliknya ia mengatakan, &amp;quot;&amp;quot;Sesungguhnya, aku ini terlalu hina; jawab apakah yang dapat kuberikan kepada-Mu? Mulutku kututup dengan tangan. Satu kali aku berbicara, tetapi tidak akan kuulangi; bahkan dua kali, tetapi tidak akan kulanjutkan.&amp;quot; (ayat 37-38). Dan Allah kemudian kembali menginterograsi Ayub dengan pertanyaan-pertanyaan yang jelas mengambarkan kekontrasan antara kuasa Allah, Siapakah Dia yang dikenal Ayub dengan nama El Shaddai, dan ketidakberartian Ayub. Akhirnya Ayub mengakui bahwa hal-hal itu terlalu mustahil dan hebat untuk dilakukan olehnya. Dia menyatakan, &amp;quot; Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu.&amp;quot; (42:5-6) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang berharga dari pelajaran ini adalah bahwa Allah tidak pernah secara langsung menjawab pertanyaan-pertanyaan Ayub. Allah tidak mengatakan, &amp;quot;Ayub, alasan kamu mengalami penderitaan adalah ini dan itu.&amp;quot; Sebaliknya, yang Allah lakukan di tengah misteri penderitaan hebat itu, adalah dengan menjawab Ayub dengan DiriNya sendiri. Ini adalah hikmat yang menjawab pertanyaan-pertanyaan terkait dengan penderitaan manusia-- bukan jawaban mengenai kenapa saya harus menderita dengan cara, situasi, dan waktu tertentu, namun dimanakah (kepada Siapa kah) nharapan saya berlabuh di tengah penderitaan itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jawaban terhadap pertanyaan itu dapat dengan jelas ditemukan dalam kitab Ayub, yang selaras dengan kitab-kitab hikmat lainnya: takut akan Allah adalah permulaan hikmat. Dan saat kita begitu disibukkan dan dibuat pusing oleh hal-hal yang tidak bisa kita pahami di dalam dunia ini, kita tidak selalu mencari jawaban spesifik atas pertanyaan spesifik yang kita ajukan, namun kita mencari pengenalan akan Allah dalam kekudusanNya, kebenaranNya, keadilanNya, dan dalam anugerahNya. Itulah hikmat yang bisa ditemukan dalam kitab Ayub&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Susanlim</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/Why_Memorize_Scripture%3F/id</id>
		<title>Why Memorize Scripture?/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/Why_Memorize_Scripture%3F/id"/>
				<updated>2008-11-11T16:21:47Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Susanlim: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|Mengapa Harus Menghafalkan Ayat Alkitab? }}&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertama, beberapa kesaksian: Saya mendapatkan kesaksian itu sebagai orang ketiga, bahwa Dr. Howard Hendricks dari Seminari Dallas (Dallas Theological Seminary) pernah membuat pernyataan (dan saya merumuskannya dengan kata-kata saya) bahwa kalau saja segala sesuatu tergantung padanya, setiap siswa yang lulus dari Seminari Teologi Dallas harus mampu menghafalkan seribu ayat Alkitab denagn sempurna sebelum mereka dinyatakan lulus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dallas Willard, seorang profesor Filsafat di Universitas Southern California menulis, “Menghafalkan ayat Alkitab sangatlah penting untuk membentuk segi spiritual seseorang. Jika saya harus memilih satu di antara banyak bidang ilmu mengenai kehidupan spiritual, saya akan memilih menghafalkan ayat Alkitab, karena hal itu adalah hal mendasar ang diperlukan untuk memenuhi pikiran kita dengan apa yang dibutuhkan olehnya. Kitab ini tidak boleh menjauh dari mulutmu. Di sanalah kamu membutuhkannya! bagaimana hal itu bisa sampai ke mulut kita? Dengan menghafalkannya” (“Spiritual Formation in Christ for the Whole Life and Whole Person” dalam Vocatio, Volume 12, no. 2, Spring (edisi musim semi), 2001, h. 7). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chuck Swindoll menulis, “Saya tidak mengetahui hal apapun dalam kehidupan Kristen yang lebih memuaskan, dibandingkan dengan menghafalkan ayat Alkitab... tidak ada hal lain yang memberikan keuntungan spiritual terbesar! Kehidupan doamu akan semakin diperkuat. Kesaksian hidupmu akan semakin tajam dan efektif. Sikap hidup dan penampilan lahiriahmu akan mulai diubahkan. Pikiranmu akan semakin dipertajam dan waspada. Kepercayaan dan keyakinanmu akan semakin bertambah. Imanmu akan dimantapkan” (Growing Strong in the Seasons of Life [Grand Rapids: Zondervan, 1994], h. 61). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu alasan Martin Luther mendapatkan pencerahan terbesar dari dalam Alkitab bahwa kita dibenarkan hanya oleh iman, adalah karena pada tahun-tahun awal hidupnya saat dia belajar di biara Augustinian, Johann Staupitz mempengaruhinya untuk mencintai Alkitab. Luther mendalami Alkitab saat banyak orang mendapat gelar doktor teologi tanpa pernah membaca Alkitab sama sekali. Luther menyatakan bahwa rekan sesama profesornya, Andreas Karlstadt, bahkan tidak memiliki Alkitab sama sekali saat dia mendapatkan gelar teologianya, bahkan sampai setelah beberapa tahun kemudian (Bucher, Richard. &amp;quot;Martin Luther's Love for the Bible&amp;quot;). Luther sangat mengetahui isi Alkitab dari ingatannya, sampai saat Tuhan membuka matanya mengenai pembenaran yang ada dalam Roma 1:17, dia berkata, “Saat itu saya kembali mengkaji ayat-ayat Alkitab dari dalam ingatan saya,“ untuk memperoleh konfirmasi dari hal yang dia temukan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, inilah beberapa alasan mengapa beberapa orang meyakini pentingnya menghafalkan ayat Alkitab bagi kehidupan Kristen. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''1. Diubahkan Menjadi Seperti Kristus''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Paulus menuliskan bahwa “kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan , .. maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar” (2 Korintus 3:18). Kalau kita mau diubahkan menjadi serupa gambaran Kristus, kira harus setia mencari Dia. Ini hanya mungkin ditemukan dalam FirmanNya. “Dan TUHAN selanjutnya menampakkan diri di Silo, sebab Ia menyatakan diri di Silo kepada Samuel dengan perantaraan firman-Nya.” (1 Samuel 3:21). Menghafalkan ayat Alkitab mampu membuat gambaran kita tentang Yesus semakin kokoh dan jelas. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''2. Kemenangan Dari Hari ke Hari atas Dosa''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu ... Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau” (Mazmur 119: 9, 11). Paulus menyatakan bahwa kita harus “oleh Roh ... mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu” (Roma 8:13). Satu perlengkapan senjata yang digunakan untuk memusnahkan adalah “pedang Roh” yaitu Firman Allah (Efesus 6:17). Saat dosa menggoda tubuh kita untuk melakukan suatu perilaku dosa, kita mulai mengingat apa yang dikatakan oleh Firman Allah, dan menghancurkan godaan yang ada dengan kebenaran akan Kristus yang lebih indah dan lebih berharga daripada apa yang ditawarkan oleh dosa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''3. Kemenangan Dari Hari ke Hari atas Setan''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Yesus dicobai oleh Setan di padang gurun, Ia menggunakan Firman Allah yang ada di ingatanNya dan membuat Setan enyah dari hadapanNya (Matius 4: 1-11) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''4. Menghibur Orang yang Anda Kasihi''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat-saat di mana orang membutuhkan kita biasanya terjadi waktu kita tidak sedang memegang Alkitab kita, atau waktu Alkitab ada di sekitar kita. Bukan hanya itu, ketika kita menyampaikan Firman Allah dengan spontan dari dalam hati kita, terdapat kuasa yang khusus di dalamnya. Amsal 25:11 mengatakan. “Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya adalah seperti buah apel emas di pinggan perak.” Itu adalah cara terbaik untuk mengatakan, ''Ketika hati kita dipenuhi dengan kasih Allah dan FirmanNya, berkat mengalir dari perkataan kita.''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''5. Menyampaikan Kabar Injil Bagi Orang yang Belum Diselamatkan''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesempatan untuk mewartakan Injil biasanya datang saat kita tidak sedang memegang Alkitab. Ayat-ayat di Alkitab mempunyai kuasa yang besar. Dan saat hal itu keluar dari hati kita, juga dari Alkitab itu sendiri, kita sedang memberi kesaksian betapa Alkitab itu sangat spesial dan berharga untuk dipelajari. Kita semua harus mampu untuk menyimpulkan Firman Allah ke dalam 4 kerangka utama (1) Kekudusan/ Perintah/ Kemuliaan Allah; 2) Dosa/ Pemberontakan/ Ketidaktaatan manusia; 3) Kematian Kristus untuk orang berdosa; 4) Anugerah kehidupan kekal lewat iman kepada Kristus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pelajari satu atau dua ayat dan cobalah kaitkan dengan masing-masing kerangka utama ini, dan bersiaplah untuk menyampaikan Firman Allah, tepat atau tidak tepat waktunya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''6. Menikmati Persekutuan dengan Allah sebagai Pribadi dan dengan Jalan-JalanNya.''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara kita bersekutu dengan Allah adalah dengan merenungkan hal-hal tentang Allah dan mengekspresikan rasa syukur, pengagguman, dan kasih kita kepadaNya, serta meminta pertolonganNya agar kita mampu menampilkan hal-hal tersebut di atas di dalam kehidupan kita sehari-hari. Oleh sebab itu, menyimpan Firman Allah di dalam pikiran kita, mampu menolong kita untuk berhubungan dengan Allah sebagaimana Dia adanya. Misalnya, bayangkan kalau anda mampu mengingat hal ini sepanjang hari: &lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;&lt;br /&gt;
TUHAN adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Tidak selalu Ia menuntut, dan tidak untuk selama-lamanya Ia mendendam. Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita, tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia; sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita. Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia. (Mazmur 103:8-14)&lt;br /&gt;
&amp;lt;/blockquote&amp;gt;&lt;br /&gt;
Saya sengaja menggunakan kata “menikmati” ketika saya menyebutkan, “Menikmati Persekutuan dengan Allah sebagai Pribadi dan dengan Jalan-JalanNya.” Kita cenderung lumpuh secara emosional—sebenarnya, kita semua. Kita tidak mengalami Allah dengan seluruh kapasitas emosional yang kita miliki. Bagaimana untuk mengubah semua itu? Salah satunya adalah dengan menghafalkan ekspresi emosional yang tertulis di dalam Alkitab, dan menyampaikan hal itu kepada Allah juga kepada orang lain sampai hal itu menjadi bagian dari diri kita sendiri. Misalnya, Mazmur 103:1, kita menyatakan, “Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku!” Ini bukanlah suatu ekspresi perasaan yang alami untuk beberapa orang. Namun, kalau kita mengingat hal ini dan ekspresi emosional lainnya yang ada di dalam Alkitab terus menerus, serta menyerukan hal itu sesering mungkin, sambil memohon kepada Allah agar emosi itu dapat menjadi nyata di dalam hati kita, kita pada akhirnya akan mampu bertumbuh dalam ekspresi dan perasaan tersebut. Itu akan menjadi bagian dari siapa diri kita. Kita akan menjadi semakin lengkap secara emosional, dan lebih mampu untuk menyampaikan pujian dan syukur kepada Allah dengan layak. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada beberapa alasan lain untuk mengingat Ayat Alkitab. Saya berharap agar dalam prakteknya, anda akan menemukan cara lain tersebut.&amp;lt;br&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Susanlim</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/Why_Memorize_Scripture%3F/id</id>
		<title>Why Memorize Scripture?/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/Why_Memorize_Scripture%3F/id"/>
				<updated>2008-11-11T16:20:03Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Susanlim: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|Mengapa Harus Menghafalkan Ayat Alkitab? }}&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertama, beberapa kesaksian: Saya mendapatkan kesaksian itu sebagai orang ketiga, bahwa Dr. Howard Hendricks dari Seminari Dallas (Dallas Theological Seminary) pernah membuat pernyataan (dan saya merumuskannya dengan kata-kata saya) bahwa kalau saja segala sesuatu tergantung padanya, setiap siswa yang lulus dari Seminari Teologi Dallas harus mampu menghafalkan seribu ayat Alkitab denagn sempurna sebelum mereka dinyatakan lulus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dallas Willard, seorang profesor Filsafat di Universitas Southern California menulis, “Menghafalkan ayat Alkitab sangatlah penting untuk membentuk segi spiritual seseorang. Jika saya harus memilih satu di antara banyak bidang ilmu mengenai kehidupan spiritual, saya akan memilih menghafalkan ayat Alkitab, karena hal itu adalah hal mendasar ang diperlukan untuk memenuhi pikiran kita dengan apa yang dibutuhkan olehnya. Kitab ini tidak boleh menjauh dari mulutmu. Di sanalah kamu membutuhkannya! bagaimana hal itu bisa sampai ke mulut kita? Dengan menghafalkannya” (“Spiritual Formation in Christ for the Whole Life and Whole Person” dalam Vocatio, Volume 12, no. 2, Spring (edisi musim semi), 2001, h. 7). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chuck Swindoll menulis, “Saya tidak mengetahui hal apapun dalam kehidupan Kristen yang lebih memuaskan, dibandingkan dengan menghafalkan ayat Alkitab... tidak ada hal lain yang memberikan keuntungan spiritual terbesar! Kehidupan doamu akan semakin diperkuat. Kesaksian hidupmu akan semakin tajam dan efektif. Sikap hidup dan penampilan lahiriahmu akan mulai diubahkan. Pikiranmu akan semakin dipertajam dan waspada. Kepercayaan dan keyakinanmu akan semakin bertambah. Imanmu akan dimantapkan” (Growing Strong in the Seasons of Life [Grand Rapids: Zondervan, 1994], h. 61). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu alasan Martin Luther mendapatkan pencerahan terbesar dari dalam Alkitab bahwa kita dibenarkan hanya oleh iman, adalah karena pada tahun-tahun awal hidupnya saat dia belajar di biara Augustinian, Johann Staupitz mempengaruhinya untuk mencintai Alkitab. Luther mendalami Alkitab saat banyak orang mendapat gelar doktor teologi tanpa pernah membaca Alkitab sama sekali. Luther menyatakan bahwa rekan sesama profesornya, Andreas Karlstadt, bahkan tidak memiliki Alkitab sama sekali saat dia mendapatkan gelar teologianya, bahkan sampai setelah beberapa tahun kemudian (Bucher, Richard. &amp;quot;Martin Luther's Love for the Bible&amp;quot;). Luther sangat mengetahui isi Alkitab dari ingatannya, sampai saat Tuhan membuka matanya mengenai pembenaran yang ada dalam Roma 1:17, dia berkata, “Saat itu saya kembali mengkaji ayat-ayat Alkitab dari dalam ingatan saya,“ untuk memperoleh konfirmasi dari hal yang dia temukan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, inilah beberapa alasan mengapa beberapa orang meyakini pentingnya menghafalkan ayat Alkitab bagi kehidupan Kristen. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''1. Diubahkan Menjadi Seperti Kristus''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Paulus menuliskan bahwa “kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan , .. maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar” (2 Korintus 3:18). Kalau kita mau diubahkan menjadi serupa gambaran Kristus, kira harus setia mencari Dia. Ini hanya mungkin ditemukan dalam FirmanNya. “Dan TUHAN selanjutnya menampakkan diri di Silo, sebab Ia menyatakan diri di Silo kepada Samuel dengan perantaraan firman-Nya.” (1 Samuel 3:21). Menghafalkan ayat Alkitab mampu membuat gambaran kita tentang Yesus semakin kokoh dan jelas. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''2. Kemenangan Dari Hari ke Hari atas Dosa''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu ... Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau” (Mazmur 119: 9, 11). Paulus menyatakan bahwa kita harus “oleh Roh ... mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu” (Roma 8:13). Satu perlengkapan senjata yang digunakan untuk memusnahkan adalah “pedang Roh” yaitu Firman Allah (Efesus 6:17). Saat dosa menggoda tubuh kita untuk melakukan suatu perilaku dosa, kita mulai mengingat apa yang dikatakan oleh Firman Allah, dan menghancurkan godaan yang ada dengan kebenaran akan Kristus yang lebih indah dan lebih berharga daripada apa yang ditawarkan oleh dosa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''3. Kemenangan Dari Hari ke Hari atas Setan''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Yesus dicobai oleh Setan di padang gurun, Ia menggunakan Firman Allah yang ada di ingatanNya dan membuat Setan enyah dari hadapanNya (Matius 4: 1-11) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''4. Menghibur Orang yang Anda Kasihi''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat-saat di mana orang membutuhkan kita biasanya terjadi waktu kita tidak sedang memegang Alkitab kita, atau waktu Alkitab ada di sekitar kita. Bukan hanya itu, ketika kita menyampaikan Firman Allah dengan spontan dari dalam hati kita, terdapat kuasa yang khusus di dalamnya. Amsal 25:11 mengatakan. “Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya adalah seperti buah apel emas di pinggan perak.” Itu adalah cara terbaik untuk mengatakan, Ketika hati kita dipenuhi dengan kasih Allah dan FirmanNya, berkat mengalir dari perkataan kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''5. Menyampaikan Kabar Injil Bagi Orang yang Belum Diselamatkan''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesempatan untuk mewartakan Injil biasanya datang saat kita tidak sedang memegang Alkitab. Ayat-ayat di Alkitab mempunyai kuasa yang besar. Dan saat hal itu keluar dari hati kita, juga dari Alkitab itu sendiri, kita sedang memberi kesaksian betapa Alkitab itu sangat spesial dan berharga untuk dipelajari. Kita semua harus mampu untuk menyimpulkan Firman Allah ke dalam 4 kerangka utama (1) Kekudusan/ Perintah/ Kemuliaan Allah; 2) Dosa/ Pemberontakan/ Ketidaktaatan manusia; 3) Kematian Kristus untuk orang berdosa; 4) Anugerah kehidupan kekal lewat iman kepada Kristus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pelajari satu atau dua ayat dan cobalah kaitkan dengan masing-masing kerangka utama ini, dan bersiaplah untuk menyampaikan Firman Allah, tepat atau tidak tepat waktunya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''6. Menikmati Persekutuan dengan Allah sebagai Pribadi dan dengan Jalan-JalanNya.''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara kita bersekutu dengan Allah adalah dengan merenungkan hal-hal tentang Allah dan mengekspresikan rasa syukur, pengagguman, dan kasih kita kepadaNya, serta meminta pertolonganNya agar kita mampu menampilkan hal-hal tersebut di atas di dalam kehidupan kita sehari-hari. Oleh sebab itu, menyimpan Firman Allah di dalam pikiran kita, mampu menolong kita untuk berhubungan dengan Allah sebagaimana Dia adanya. Misalnya, bayangkan kalau anda mampu mengingat hal ini sepanjang hari: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
TUHAN adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Tidak selalu Ia menuntut, dan tidak untuk selama-lamanya Ia mendendam. Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita, tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia; sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita. Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia. (Mazmur 103:8-14) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya sengaja menggunakan kata “menikmati” ketika saya menyebutkan, “Menikmati Persekutuan dengan Allah sebagai Pribadi dan dengan Jalan-JalanNya.” Kita cenderung lumpuh secara emosional—sebenarnya, kita semua. Kita tidak mengalami Allah dengan seluruh kapasitas emosional yang kita miliki. Bagaimana untuk mengubah semua itu? Salah satunya adalah dengan menghafalkan ekspresi emosional yang tertulis di dalam Alkitab, dan menyampaikan hal itu kepada Allah juga kepada orang lain sampai hal itu menjadi bagian dari diri kita sendiri. Misalnya, Mazmur 103:1, kita menyatakan, “Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku!” Ini bukanlah suatu ekspresi perasaan yang alami untuk beberapa orang. Namun, kalau kita mengingat hal ini dan ekspresi emosional lainnya yang ada di dalam Alkitab terus menerus, serta menyerukan hal itu sesering mungkin, sambil memohon kepada Allah agar emosi itu dapat menjadi nyata di dalam hati kita, kita pada akhirnya akan mampu bertumbuh dalam ekspresi dan perasaan tersebut. Itu akan menjadi bagian dari siapa diri kita. Kita akan menjadi semakin lengkap secara emosional, dan lebih mampu untuk menyampaikan pujian dan syukur kepada Allah dengan layak. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada beberapa alasan lain untuk mengingat Ayat Alkitab. Saya berharap agar dalam prakteknya, anda akan menemukan cara lain tersebut.&amp;lt;br&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Susanlim</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/Why_Memorize_Scripture%3F/id</id>
		<title>Why Memorize Scripture?/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/Why_Memorize_Scripture%3F/id"/>
				<updated>2008-11-11T16:19:06Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Susanlim: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|Kenapa Harus Menghafalkan Ayat Alkitab? }}&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertama, beberapa kesaksian: Saya mendapatkan kesaksian itu sebagai orang ketiga, bahwa Dr. Howard Hendricks dari Seminari Dallas (Dallas Theological Seminary) pernah membuat pernyataan (dan saya merumuskannya dengan kata-kata saya) bahwa kalau saja segala sesuatu tergantung padanya, setiap siswa yang lulus dari Seminari Teologi Dallas harus mampu menghafalkan seribu ayat Alkitab denagn sempurna sebelum mereka dinyatakan lulus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dallas Willard, seorang profesor Filsafat di Universitas Southern California menulis, “Menghafalkan ayat Alkitab sangatlah penting untuk membentuk segi spiritual seseorang. Jika saya harus memilih satu di antara banyak bidang ilmu mengenai kehidupan spiritual, saya akan memilih menghafalkan ayat Alkitab, karena hal itu adalah hal mendasar ang diperlukan untuk memenuhi pikiran kita dengan apa yang dibutuhkan olehnya. Kitab ini tidak boleh menjauh dari mulutmu. Di sanalah kamu membutuhkannya! bagaimana hal itu bisa sampai ke mulut kita? Dengan menghafalkannya” (“Spiritual Formation in Christ for the Whole Life and Whole Person” dalam Vocatio, Volume 12, no. 2, Spring (edisi musim semi), 2001, h. 7). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chuck Swindoll menulis, “Saya tidak mengetahui hal apapun dalam kehidupan Kristen yang lebih memuaskan, dibandingkan dengan menghafalkan ayat Alkitab... tidak ada hal lain yang memberikan keuntungan spiritual terbesar! Kehidupan doamu akan semakin diperkuat. Kesaksian hidupmu akan semakin tajam dan efektif. Sikap hidup dan penampilan lahiriahmu akan mulai diubahkan. Pikiranmu akan semakin dipertajam dan waspada. Kepercayaan dan keyakinanmu akan semakin bertambah. Imanmu akan dimantapkan” (Growing Strong in the Seasons of Life [Grand Rapids: Zondervan, 1994], h. 61). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu alasan Martin Luther mendapatkan pencerahan terbesar dari dalam Alkitab bahwa kita dibenarkan hanya oleh iman, adalah karena pada tahun-tahun awal hidupnya saat dia belajar di biara Augustinian, Johann Staupitz mempengaruhinya untuk mencintai Alkitab. Luther mendalami Alkitab saat banyak orang mendapat gelar doktor teologi tanpa pernah membaca Alkitab sama sekali. Luther menyatakan bahwa rekan sesama profesornya, Andreas Karlstadt, bahkan tidak memiliki Alkitab sama sekali saat dia mendapatkan gelar teologianya, bahkan sampai setelah beberapa tahun kemudian (Bucher, Richard. &amp;quot;Martin Luther's Love for the Bible&amp;quot;). Luther sangat mengetahui isi Alkitab dari ingatannya, sampai saat Tuhan membuka matanya mengenai pembenaran yang ada dalam Roma 1:17, dia berkata, “Saat itu saya kembali mengkaji ayat-ayat Alkitab dari dalam ingatan saya,“ untuk memperoleh konfirmasi dari hal yang dia temukan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, inilah beberapa alasan mengapa beberapa orang meyakini pentingnya menghafalkan ayat Alkitab bagi kehidupan Kristen. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''1. Diubahkan Menjadi Seperti Kristus''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Paulus menuliskan bahwa “kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan , .. maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar” (2 Korintus 3:18). Kalau kita mau diubahkan menjadi serupa gambaran Kristus, kira harus setia mencari Dia. Ini hanya mungkin ditemukan dalam FirmanNya. “Dan TUHAN selanjutnya menampakkan diri di Silo, sebab Ia menyatakan diri di Silo kepada Samuel dengan perantaraan firman-Nya.” (1 Samuel 3:21). Menghafalkan ayat Alkitab mampu membuat gambaran kita tentang Yesus semakin kokoh dan jelas. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''2. Kemenangan Dari Hari ke Hari atas Dosa''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu ... Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau” (Mazmur 119: 9, 11). Paulus menyatakan bahwa kita harus “oleh Roh ... mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu” (Roma 8:13). Satu perlengkapan senjata yang digunakan untuk memusnahkan adalah “pedang Roh” yaitu Firman Allah (Efesus 6:17). Saat dosa menggoda tubuh kita untuk melakukan suatu perilaku dosa, kita mulai mengingat apa yang dikatakan oleh Firman Allah, dan menghancurkan godaan yang ada dengan kebenaran akan Kristus yang lebih indah dan lebih berharga daripada apa yang ditawarkan oleh dosa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''3. Kemenangan Dari Hari ke Hari atas Setan''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Yesus dicobai oleh Setan di padang gurun, Ia menggunakan Firman Allah yang ada di ingatanNya dan membuat Setan enyah dari hadapanNya (Matius 4: 1-11) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''4. Menghibur Orang yang Anda Kasihi''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat-saat di mana orang membutuhkan kita biasanya terjadi waktu kita tidak sedang memegang Alkitab kita, atau waktu Alkitab ada di sekitar kita. Bukan hanya itu, ketika kita menyampaikan Firman Allah dengan spontan dari dalam hati kita, terdapat kuasa yang khusus di dalamnya. Amsal 25:11 mengatakan. “Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya adalah seperti buah apel emas di pinggan perak.” Itu adalah cara terbaik untuk mengatakan, Ketika hati kita dipenuhi dengan kasih Allah dan FirmanNya, berkat mengalir dari perkataan kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''5. Menyampaikan Kabar Injil Bagi Orang yang Belum Diselamatkan''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesempatan untuk mewartakan Injil biasanya datang saat kita tidak sedang memegang Alkitab. Ayat-ayat di Alkitab mempunyai kuasa yang besar. Dan saat hal itu keluar dari hati kita, juga dari Alkitab itu sendiri, kita sedang memberi kesaksian betapa Alkitab itu sangat spesial dan berharga untuk dipelajari. Kita semua harus mampu untuk menyimpulkan Firman Allah ke dalam 4 kerangka utama (1) Kekudusan/ Perintah/ Kemuliaan Allah; 2) Dosa/ Pemberontakan/ Ketidaktaatan manusia; 3) Kematian Kristus untuk orang berdosa; 4) Anugerah kehidupan kekal lewat iman kepada Kristus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pelajari satu atau dua ayat dan cobalah kaitkan dengan masing-masing kerangka utama ini, dan bersiaplah untuk menyampaikan Firman Allah, tepat atau tidak tepat waktunya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''6. Menikmati Persekutuan dengan Allah sebagai Pribadi dan dengan Jalan-JalanNya.''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara kita bersekutu dengan Allah adalah dengan merenungkan hal-hal tentang Allah dan mengekspresikan rasa syukur, pengagguman, dan kasih kita kepadaNya, serta meminta pertolonganNya agar kita mampu menampilkan hal-hal tersebut di atas di dalam kehidupan kita sehari-hari. Oleh sebab itu, menyimpan Firman Allah di dalam pikiran kita, mampu menolong kita untuk berhubungan dengan Allah sebagaimana Dia adanya. Misalnya, bayangkan kalau anda mampu mengingat hal ini sepanjang hari: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
TUHAN adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Tidak selalu Ia menuntut, dan tidak untuk selama-lamanya Ia mendendam. Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita, tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia; sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita. Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia. (Mazmur 103:8-14) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya sengaja menggunakan kata “menikmati” ketika saya menyebutkan, “Menikmati Persekutuan dengan Allah sebagai Pribadi dan dengan Jalan-JalanNya.” Kita cenderung lumpuh secara emosional—sebenarnya, kita semua. Kita tidak mengalami Allah dengan seluruh kapasitas emosional yang kita miliki. Bagaimana untuk mengubah semua itu? Salah satunya adalah dengan menghafalkan ekspresi emosional yang tertulis di dalam Alkitab, dan menyampaikan hal itu kepada Allah juga kepada orang lain sampai hal itu menjadi bagian dari diri kita sendiri. Misalnya, Mazmur 103:1, kita menyatakan, “Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku!” Ini bukanlah suatu ekspresi perasaan yang alami untuk beberapa orang. Namun, kalau kita mengingat hal ini dan ekspresi emosional lainnya yang ada di dalam Alkitab terus menerus, serta menyerukan hal itu sesering mungkin, sambil memohon kepada Allah agar emosi itu dapat menjadi nyata di dalam hati kita, kita pada akhirnya akan mampu bertumbuh dalam ekspresi dan perasaan tersebut. Itu akan menjadi bagian dari siapa diri kita. Kita akan menjadi semakin lengkap secara emosional, dan lebih mampu untuk menyampaikan pujian dan syukur kepada Allah dengan layak. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada beberapa alasan lain untuk mengingat Ayat Alkitab. Saya berharap agar dalam prakteknya, anda akan menemukan cara lain tersebut.&amp;lt;br&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Susanlim</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/Why_Memorize_Scripture%3F/id</id>
		<title>Why Memorize Scripture?/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/Why_Memorize_Scripture%3F/id"/>
				<updated>2008-11-11T07:36:54Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Susanlim: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;'''Kenapa Harus Menghafalkan Ayat Alkitab? '''&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertama, beberapa kesaksian: Saya mendapatkan kesaksian itu sebagai orang ketiga, bahwa Dr. Howard Hendricks dari Seminari Dallas (Dallas Theological Seminary) pernah membuat pernyataan (dan saya merumuskannya dengan kata-kata saya) bahwa kalau saja segala sesuatu tergantung padanya, setiap siswa yang lulus dari Seminari Teologi Dallas harus mampu menghafalkan seribu ayat Alkitab denagn sempurna sebelum mereka dinyatakan lulus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dallas Willard, seorang profesor Filsafat di Universitas Southern California menulis, “Menghafalkan ayat Alkitab sangatlah penting untuk membentuk segi spiritual seseorang. Jika saya harus memilih satu di antara banyak bidang ilmu mengenai kehidupan spiritual, saya akan memilih menghafalkan ayat Alkitab, karena hal itu adalah hal mendasar ang diperlukan untuk memenuhi pikiran kita dengan apa yang dibutuhkan olehnya. Kitab ini tidak boleh menjauh dari mulutmu. Di sanalah kamu membutuhkannya! bagaimana hal itu bisa sampai ke mulut kita? Dengan menghafalkannya” (“Spiritual Formation in Christ for the Whole Life and Whole Person” dalam Vocatio, Volume 12, no. 2, Spring (edisi musim semi), 2001, h. 7). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chuck Swindoll menulis, “Saya tidak mengetahui hal apapun dalam kehidupan Kristen yang lebih memuaskan, dibandingkan dengan menghafalkan ayat Alkitab... tidak ada hal lain yang memberikan keuntungan spiritual terbesar! Kehidupan doamu akan semakin diperkuat. Kesaksian hidupmu akan semakin tajam dan efektif. Sikap hidup dan penampilan lahiriahmu akan mulai diubahkan. Pikiranmu akan semakin dipertajam dan waspada. Kepercayaan dan keyakinanmu akan semakin bertambah. Imanmu akan dimantapkan” (Growing Strong in the Seasons of Life [Grand Rapids: Zondervan, 1994], h. 61). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu alasan Martin Luther mendapatkan pencerahan terbesar dari dalam Alkitab bahwa kita dibenarkan hanya oleh iman, adalah karena pada tahun-tahun awal hidupnya saat dia belajar di biara Augustinian, Johann Staupitz mempengaruhinya untuk mencintai Alkitab. Luther mendalami Alkitab saat banyak orang mendapat gelar doktor teologi tanpa pernah membaca Alkitab sama sekali. Luther menyatakan bahwa rekan sesama profesornya, Andreas Karlstadt, bahkan tidak memiliki Alkitab sama sekali saat dia mendapatkan gelar teologianya, bahkan sampai setelah beberapa tahun kemudian (Bucher, Richard. &amp;quot;Martin Luther's Love for the Bible&amp;quot;). Luther sangat mengetahui isi Alkitab dari ingatannya, sampai saat Tuhan membuka matanya mengenai pembenaran yang ada dalam Roma 1:17, dia berkata, “Saat itu saya kembali mengkaji ayat-ayat Alkitab dari dalam ingatan saya,“ untuk memperoleh konfirmasi dari hal yang dia temukan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, inilah beberapa alasan mengapa beberapa orang meyakini pentingnya menghafalkan ayat Alkitab bagi kehidupan Kristen. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''1. Diubahkan Menjadi Seperti Kristus''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Paulus menuliskan bahwa “kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan , .. maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar” (2 Korintus 3:18). Kalau kita mau diubahkan menjadi serupa gambaran Kristus, kira harus setia mencari Dia. Ini hanya mungkin ditemukan dalam FirmanNya. “Dan TUHAN selanjutnya menampakkan diri di Silo, sebab Ia menyatakan diri di Silo kepada Samuel dengan perantaraan firman-Nya.” (1 Samuel 3:21). Menghafalkan ayat Alkitab mampu membuat gambaran kita tentang Yesus semakin kokoh dan jelas. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''2. Kemenangan Dari Hari ke Hari atas Dosa''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu ... Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau” (Mazmur 119: 9, 11). Paulus menyatakan bahwa kita harus “oleh Roh ... mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu” (Roma 8:13). Satu perlengkapan senjata yang digunakan untuk memusnahkan adalah “pedang Roh” yaitu Firman Allah (Efesus 6:17). Saat dosa menggoda tubuh kita untuk melakukan suatu perilaku dosa, kita mulai mengingat apa yang dikatakan oleh Firman Allah, dan menghancurkan godaan yang ada dengan kebenaran akan Kristus yang lebih indah dan lebih berharga daripada apa yang ditawarkan oleh dosa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''3. Kemenangan Dari Hari ke Hari atas Setan''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Yesus dicobai oleh Setan di padang gurun, Ia menggunakan Firman Allah yang ada di ingatanNya dan membuat Setan enyah dari hadapanNya (Matius 4: 1-11) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''4. Menghibur Orang yang Anda Kasihi''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat-saat di mana orang membutuhkan kita biasanya terjadi waktu kita tidak sedang memegang Alkitab kita, atau waktu Alkitab ada di sekitar kita. Bukan hanya itu, ketika kita menyampaikan Firman Allah dengan spontan dari dalam hati kita, terdapat kuasa yang khusus di dalamnya. Amsal 25:11 mengatakan. “Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya adalah seperti buah apel emas di pinggan perak.” Itu adalah cara terbaik untuk mengatakan, Ketika hati kita dipenuhi dengan kasih Allah dan FirmanNya, berkat mengalir dari perkataan kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''5. Menyampaikan Kabar Injil Bagi Orang yang Belum Diselamatkan''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesempatan untuk mewartakan Injil biasanya datang saat kita tidak sedang memegang Alkitab. Ayat-ayat di Alkitab mempunyai kuasa yang besar. Dan saat hal itu keluar dari hati kita, juga dari Alkitab itu sendiri, kita sedang memberi kesaksian betapa Alkitab itu sangat spesial dan berharga untuk dipelajari. Kita semua harus mampu untuk menyimpulkan Firman Allah ke dalam 4 kerangka utama (1) Kekudusan/ Perintah/ Kemuliaan Allah; 2) Dosa/ Pemberontakan/ Ketidaktaatan manusia; 3) Kematian Kristus untuk orang berdosa; 4) Anugerah kehidupan kekal lewat iman kepada Kristus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pelajari satu atau dua ayat dan cobalah kaitkan dengan masing-masing kerangka utama ini, dan bersiaplah untuk menyampaikan Firman Allah, tepat atau tidak tepat waktunya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''6. Menikmati Persekutuan dengan Allah sebagai Pribadi dan dengan Jalan-JalanNya.''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara kita bersekutu dengan Allah adalah dengan merenungkan hal-hal tentang Allah dan mengekspresikan rasa syukur, pengagguman, dan kasih kita kepadaNya, serta meminta pertolonganNya agar kita mampu menampilkan hal-hal tersebut di atas di dalam kehidupan kita sehari-hari. Oleh sebab itu, menyimpan Firman Allah di dalam pikiran kita, mampu menolong kita untuk berhubungan dengan Allah sebagaimana Dia adanya. Misalnya, bayangkan kalau anda mampu mengingat hal ini sepanjang hari: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
TUHAN adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Tidak selalu Ia menuntut, dan tidak untuk selama-lamanya Ia mendendam. Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita, tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia; sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita. Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia. (Mazmur 103:8-14) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya sengaja menggunakan kata “menikmati” ketika saya menyebutkan, “Menikmati Persekutuan dengan Allah sebagai Pribadi dan dengan Jalan-JalanNya.” Kita cenderung lumpuh secara emosional—sebenarnya, kita semua. Kita tidak mengalami Allah dengan seluruh kapasitas emosional yang kita miliki. Bagaimana untuk mengubah semua itu? Salah satunya adalah dengan menghafalkan ekspresi emosional yang tertulis di dalam Alkitab, dan menyampaikan hal itu kepada Allah juga kepada orang lain sampai hal itu menjadi bagian dari diri kita sendiri. Misalnya, Mazmur 103:1, kita menyatakan, “Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku!” Ini bukanlah suatu ekspresi perasaan yang alami untuk beberapa orang. Namun, kalau kita mengingat hal ini dan ekspresi emosional lainnya yang ada di dalam Alkitab terus menerus, serta menyerukan hal itu sesering mungkin, sambil memohon kepada Allah agar emosi itu dapat menjadi nyata di dalam hati kita, kita pada akhirnya akan mampu bertumbuh dalam ekspresi dan perasaan tersebut. Itu akan menjadi bagian dari siapa diri kita. Kita akan menjadi semakin lengkap secara emosional, dan lebih mampu untuk menyampaikan pujian dan syukur kepada Allah dengan layak. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada beberapa alasan lain untuk mengingat Ayat Alkitab. Saya berharap agar dalam prakteknya, anda akan menemukan cara lain tersebut.&amp;lt;br&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Susanlim</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/Battling_the_Unbelief_of_Lust/id</id>
		<title>Battling the Unbelief of Lust/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/Battling_the_Unbelief_of_Lust/id"/>
				<updated>2008-11-06T17:49:43Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Susanlim: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|Berperang Melawan Nafsu}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''1 Tesalonika 4: 1-8'''&amp;lt;br&amp;gt; '''Definisi Nafsu Menurut Alkitab''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mari memulai dengan arti nafsu menurut Alkitab. Nafsu adalah hasrat atau keinginan seksual yang disertai kecenderungan untuk tidak menghormati objek seksualnya, serta mengabaikan Allah. Mari saya tunjukkan di mana definisi itu saya dapatkan.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Perbandingan Antar Terjemahan''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayat 4 dalam Alkitab versi RSV (Revised Standard Version), dialamatkan pada para lelaki di Tesalonika, dan menyatakan bahwa hendaklah setiap mereka mengetahui bagaimana caranya mengambil istri untuk dirinya sendiri dalam kekudusan dan penghormatan, bukan dalam hasrat dan nafsu yang dimiliki oleh mereka yang tidak mengenal Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi Alkitab versi NIV (New International Version) menyatakan, hendaklah setiap orang belajar mengendalikan tubuhnya sendiri, dalam cara yang kudus dan penuh penghormatan, bukan dengan nafsu, seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alkitab versi NASB (New American Standard Version) menyatakan hendaklah setiap orang mengetahui bagaimana mengendalikan bejananya sendiri dalam kekudusan dan penghormatan, bukan dengan nafsu, seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah. Menurut saya, Alkitab versi RSV lebih jelas menangkap arti dari nafsu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Kajian: 1) pararel dalam 1 Korintus 7:2; 2) arti dari ''ktasthai'' adalah secara menyeluruh “mengambil” atau “mendapatkan”, bukan “mengontrol” atau “memiliki”; “bejana” dalam hubungannya dengan “penghormatan” dalam 1 Petrus 2:7, dialamatkan pada istri; 4) heautou- “miliknya”- cenderung lebih empatik dan lebih cocok untuk tunangan atau istri daripada tubuh; 5) versi NIV dan NASB tidak masuk di akal, karena mereka menyatakan “belajar mengontrol tubuhmu... bukan dengan nafsu.” Anda bisa memilih seorang wanita dengan nafsu, tapi anda tidak bisa mengontrol tubuh anda dengan nafsu.] &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun daripada beragumen lebih lanjut mengenai hal itu, saya pikir saya dapat menunjukkan arti nafsu di sini dari seluruh terjemahan di atas.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Kebalikan Dari Kekudusan dan Penghormatan''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perhatikan bahwa ayat 4 dan 5 menyatakan bahwa kita harus melakukan suatu hal dalam satu cara khusus, dan bukan cara yang lain. Ambilah seorang istri (atau kendalikan tubuh/bejana mu) “dalam kekudusan dan penghormatan, BUKAN dengan nafsu.” Jadi nafsu adalah kebalikan dari kekudusan dan penghormatan. Dari sanalah saya mendapat definisi dari nafsu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keinginan seksual itu sendiri adalah suatu hal yang baik. Allah menciptakan itu sejak awal. Ada porsi dan tempat yang khusus dan sesuai untuk hal itu. Tapi hal itu diciptakan untuk diatur dan dikendalikan oleh 2 hal: penghormatan pada orang lain, dan kekudusan di hadapan Allah. Nafsu adalah bentuk dari keinginan seksual ketika tidak ada 2 hal tersebut di dalamnya.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Nafsu: Tidak Menghormati Objeknya''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ambil contoh mengenai penghormatan, misalnya. Allah menciptakan sebuah hubungan yang disebut dengan pernikahan. Di dalamnya, seorang laki-laki dan perempuan membuat perjanjian seumur hidup untuk saling menghormati satu sama lain dengan kesetiaan dan kasih. Keinginan seksual menjadi hamba dan bumbu penyedap dalam ikatan antar suami istri yang diikat oleh rasa saling menghormati. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh sebab itu, untuk mengatakan pada orang lain, aku mau kamu memuaskan keinginan seksualku, tapi aku tidak menghendaki kamu sebagai partner yang diikat dalam pernikahan, pada dasarnya berarti: Aku mau memakai tubuhmu untuk kepuasan seksualku, tapi aku tidak menghendaki kamu secara keseluruhan, sebagai seorang pribadi. Hal itu adalah perbuatan yang tidak menghormati seseorang, dan oleh karenanya, termasuk dalam kategori nafsu. Nafsu adalah keinginan seksual tanpa disertai adanya komitmen untuk menghormati orang lain.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Nafsu: Mengabaikan Allah''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi bukan hanya itu saja. Dalam Alkitab dikatakan: ambilah seorang istri (atau kendalikanlah tubuh/ bejana mu) “dalam kekudusan.. bukan dengan nafsu”. Kekudusan berkaitan dengan Allah – yaitu sesuatu yang diperuntukkan bagi Tuhan. Jadi ayat 5 berkata seperti ini: “Jangan dengan nafsu seperti mereka yang tidak mengenal Allah.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengenal Allah dan berkelakuan seperti seseorang yang mengenal Allah dapat menjaga kecenderungan keinginan seksual untuk beralih menjadi nafsu. Lihatlah pada ayat 8: “Karena itu siapa yang menolak ini bukanlah menolak manusia, melainkan menolak Allah yang telah memberikan juga Roh-Nya yang kudus kepada kamu.” Masalah mendasar dalam hal nafsu adalah sikap penghormatan kepada Allah. Kekudusan berarti hidup dalam penghormatan penuh pada Allah yang suci. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nafsu, adalah kebalikannya. Nafsu adalah keinginan seksual yang tidak diatur atau dikendalikan atau diarahkan dalam kerangka penghormatan terhadap Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah menciptakan seksualitas seseorang. Ia menciptakannya sebagai suatu hal yang baik dan indah. Ia menciptakannya demi kebaikan ciptaanNya. Hanya Dialah yang mempunyai hikmat dan hak untuk menunjukkan kepada kita bagaimana menggunakannya untuk kemuliaanNya dan untuk kebaikan kita sendiri. Nafsu adalah apa yang akan terjadi juga keinginan seksual tidak kita kendalikan dalam rangka penghormatan kepada Allah, sehingga kita menjadi cenderung mengabaikan Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesimpulannya, nafsu adalah hasrat atau keinginan seksual yang disertai kecenderungan untuk tidak menghormati objek seksualnya, serta mengabaikan Allah. Ini adalah penyimpangan dari suatu hal yang seharusnya baik, dengan cara mengabaikan komitmen yang kudus, dan penghormatan tertinggi kepada Allah. Apabila keinginan seksual anda tidak dikendalikan dalam kerangka penghargaan atau penghormatan kepada orang lain dan Allah, itu adalah nafsu&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Merenungkan Bahaya dari Nafsu''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah definisi dari nafsu. Jadi, masalah selanjutnya adalah, LALU KENAPA? Mengapa itu penting? Hal itu kan bukan dosa, apalagi kalau itu cuma berupa keinginan dan bukan tindakan, alias, dosa kecil kan? Apa tidak ada topik bahasan lain yang lebih penting dibahas, seperti masalah senjata nuklir dan keadilan sosial? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya kira setidaknya anda cukup familiar mendengar perkataan di atas keluar dari mulut beberapa orang, bukan? Mereka menyatakan, sikap dan perilaku seksual adalah suatu hal kecil yang relatif tidak perlu diperhatikan, dari kehidupan seseorang. Adapun hal yang penting adalah apakah anda misalnya memboikot sebuah perusahaan di Afrika Selatan dan menentang sistem pertahanan Star Wars. Melihat-lihat majalah Playboy itu kan tidak terlalu penting atau tidak masalah kalau kita melakukannya ketika kita sedang dalam perjalanan menuju diskusi perdamaian di Genewa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inilah cara penalaran orang-orang religius ketika mereka sedang menghindari pentingnya memberikan penghormatan tertinggi kepada Allah. Tapi bukan itu yang dikatakan oleh Allah. Apa sih pentingnya kehidupan seksual seseorang di mata Allah? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayat 6 menyatakan, “dan supaya dalam hal-hal ini orang jangan memperlakukan saudaranya dengan tidak baik atau memperdayakannya. Karena Tuhan adalah pembalas dari semuanya ini, seperti yang telah kami katakan dan tegaskan dahulu kepadamu.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini berarti konsekuensi atau akibat-akibat yang ditimbulkan oleh nafsu akan lebih buruk dari akibat-akibat yang ditimbulkan oleh perang nuklir. Adapun yang bisa dibinasakan oleh suatu perang nuklir hanyalah tubuh yang fana. Dan Yesus berkata, “Janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Aku akan menunjukkan kepada kamu siapakah yang harus kamu takuti. Takutilah Dia, yang setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, takutilah Dia!” (Lukas 12:4-5). Dengan perkataan lain, pembalasan dari Tuhan itu lebih menakutkan daripada pembinasaan yang bisa terjadi di bumi ini. Dan menurut 1 Tesalonika 4:6, pembalasan dari Allah akan turun atas mereka yang tidak mempedulikan peringatan yang berkaitan dengan nafsu.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Nafsu dan Konsekuensi Kekalnya''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bulan September ini saya berbicara di organisasi siswa di SMA Kristen Wheaton. Saya mengambil topik, “Sepuluh Cara (Metode) untuk Memerangi Nafsu”. Metode keenam adalah, “Merenungkan akibat kekal dari nafsu.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber dari pernyataan saya pada poin itu adalah Matius 5:28-29, ketika Yesus mengatakan, “Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. “ Saya menunjuk pada perkataan Yesus bahwa masalah surga dan neraka adalah hal yang dipertaruhkan (menjadi konsekuensi) dalam segala tindakan yang dilakukan oleh penglihatan dan pikiran-pikiran yang ada di dalam imaginasi kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada akhir pertemuan, salah satu siswa datang kepada saya dan bertanya, “Maksud anda, kita bisa kehilangan keselamatan kita?” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah respon yang sama seperti yang saya dapat beberapa tahun lalu ketika saya menegur seorang laki-laki dengan keras berkaitan dengan perzinahan yang dia lakukan pada saat itu. Saya mencoba untuk memahami situasi yang dihadapi olehnya, dan saya memohon dengan amat sangat supaya dia mau kembali pada istrinya. Lalu saya berkata, “Kamu tahu kalau Yesus berkata apabila kamu tidak melawan dosa ini dengan sangat serius sehingga seakan-akan kamu rela untuk mencungkil matamu sendiri, kamu bisa berakhir di neraka dan tersiksa di sana selama-lamanya.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia melihat kepada saya dengan ketidakpercayaan, seakan-akan dia belum pernah mendengar hal ini sebelumnya, dan berkata, “Maksud anda seseorang bisa kehilangan keselamatannya?” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi sekali lagi saya belajar dan terus belajar dari pengalaman pertama yang saya dapatkan secara langsung bahwa banyak orang Kristen yang menganggap keselamatan itu tidak berkaitan dengan kehidupan nyata, dan bahwa itu berarti pengabaian terhadap peringatan-peringatan yang terdapat dalam Alkitab, sehingga cenderung menempatkan orang berdosa yang mengaku dirinya seorang Kristen jauh dari jangkauan ancaman atau peringatan-peringatan yang ada di dalam Alkitab. Dan doktrin ini cenderung menenangkan ribuan orang, yang saat ini sedang berjalan menuju neraka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yesus berkata, kalau kamu tidak melawan nafsu, kamu tidak akan masuk ke surga. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal-hal yang dipertaruhkan di sini jauh lebih tinggi apabila dibandingkan dengan jika seluruh dunia diledakkan oleh ribuan bom. Kalau anda tidak melawan nafsu, anda tidak akan masuk ke surga (1 Petrus 2:11; Kolose 3:6; Galatia 5:21; 1 Korintus 6:10; Ibrani 12:14).&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Iman yang Mengalahkan Nafsu''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukankah kita semua sudah diselamatkan oleh iman- dengan percaya pada Yesus Kristus? Hal itu memang benar! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka yang berpegang teguh pada iman mereka akan diselamatkan (Matius 24:13; 10:22; 1 Korintus 15:3; Kolose 1:23; 2 Tesalonika 2:13). Bagaimana caranye untuk mempertahankan kehidupan kekal itu? Paulus memberikan jawaban dalam 1 Timotius 6:12—“Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal itu menuntun kita pada fokus kita pagi ini – untuk menunjukkan bahwa perjuangan melawan nafsu dan menuju kekudusan seksual adalah suatu pertandingan iman.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Mispersepsi Terbesar yang Harus Dimusnahkan''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mispersepsi terbesar yang hendak saya musnahkan kali ini adalah kesalahan yang menyatakan, bahwa iman kepada Allah dan perjuangan untuk mencapai kekudusan adalah dua hal yang berbeda. Iman mengantarkan anda ke surga dan kekudusan hidup akan membuat kita mendapatkan upah. Kita dibernarkan oleh iman, dan kita menyucikan diri kita lewat usaha-usaha yang kita lakukan. Anda memulai kehidupan kristiani anda dengan kuasa Roh Kudus, namun anda melakukannya dengan kekuatan daging anda. Ini adalah pesan penginjilan yang salah pada hari-hari ini. Perjuangan untuk menaati perintah Allah adalah suatu pilihan, kata mereka, karena hanya iman saja yang dibutuhkan untuk memperoleh keselamatan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sikap kita: perjuangan untuk menaati perintah Allah adalah suatu hal yang mutlak dibutuhkan dalam kerangka keselamatan, karena itu ADALAH pertandingan iman.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Injil yang Lebih Hebat''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya harap anda dapat melihat bahwa hal ini adalah suatu kabar Injil yang lebih hebat dari kabar lainnya. Ini adalah kabar Injil mengenai kemenangan Allah atas dosa, bukan sekedar toleransiNya terhadap dosa. Ini adalah Injil yang diberitakan dalam Roma 6:14: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia.” &lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;Dia mematahkan kuasa dosa&amp;lt;/blockquote&amp;gt;&amp;lt;blockquote&amp;gt;Dia membebaskan para tawanan&amp;lt;/blockquote&amp;gt;&amp;lt;blockquote&amp;gt;DarahNya bisa menyucikan kita &amp;lt;/blockquote&amp;gt;&amp;lt;blockquote&amp;gt;DarahNya disediakan bagi kita. &amp;lt;/blockquote&amp;gt; &lt;br /&gt;
Berbahagialah mereka yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Ini adalah perintah dan anugerah dari Allah. Semua hanya karena anugerah semata. Karena itulah satu-satunya pertandingan yang kita lakukan adalah pertandingan iman – pertandingan untuk menyandarkan diri sepenuhnya pada anugerah Allah—untuk sangat dipuaskan oleh kemuliaan Allah—bahwa godaan untuk berbuat dosa kehilangan kuasa atas kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertandingan atau perjuangan melawan nafsu adalah perjuangan melawan ketidakpercayaan, ketidak-berimanan. Ayat yang penting di sini adalah ayat ke 5 dan 8. Kita hanya punya waktu untuk melihat ayat ke 5. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Pengetahuan Akan Allah''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam ayat ke 5, Paulus mengatakan, “...bukan di dalam keinginan hawa nafsu, seperti yang dibuat oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah, “ Dapatkah anda melihat hal apa yang tersirat mengenai akar dari nafsu? Ketidak tahuan mengenai Allah adalah akar dari nafsu. Ambillah seorang istri (atau: kuasailah tubuhmu) bukan dengan nafsu karena itu adalah hal yang dilakukan oleh mereka yang tidak mengenal Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Paulus tidak bermaksud bahwa pengenalan akan Allah semata-mata akan mampu memerangi nafsu. Dalam Markus 1:24, Yesus hendak mengusir setan yang ada di dalam seorang laki-laki ketika roh kenajisan berseru kepadaNya, “Aku tahu siapa Engkau: Yang kudus dari Allah!” Dengan perkataan lain, setan dan kawan-kawannya mempunyai pengetahuan yang akurat mengenai Allah dan Yesus, tapi, bukan itu maksud pengenalan (pengetahuan) akan Allah yang dimaksud oleh Paulus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengenalan (pengetahuan) akan Allah yang dimaksud oleh Paulus di sini adalah jenis pengenalan yang dituliskan dalam 2 Korintus 4:6—“ terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus.” (lihat Galatia 4:8; 1 Korintus 2:14; 2 Petrus 1:3-4). Itu adalah pengetahuan dan pengenalan akan kebesaran, keagungan, kemuliaaan, anugerah, dan kekuatan Allah. Itu adalah pengenalan akan Allah yang membuat anda takjub dan merendahkan hati anda. Itu adalah pengenalan yang memenangkan dan menjaga anda. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah jenis pengenalan akan Allah yang tidak akan bisa kita peroleh hanya dengan menyanyikan baris reff pujian selama ribuan kali. Pengenalan ini seperti halnya yang dialami oleh Lidia ketika Allah membuka mata hatinya. Pada suatu titik, anda akan merasa dilimpahi oleh semua itu, dan tiba-tiba ada keinginan untuk memperoleh lebih dari itu. Itu adalah pengenalan yang kita sebut dengan iman—kepastian akan hal-hal yang kita harapkan, dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengenalan itu sungguh nyata, sangat berharga, dan sangat dapat memuaskan jiwa anda, sehingga segala pikiran, sikap, emosi, dan ketergantungan yang dapat mengancam pemahaman (pengenalan) kita terhadap Allah, akan dilawan dengan seluruh kekuatan spiritual yang ada. Ini adalah perjuangan iman yang membara dalam jiwa seseorang yang mengasihi Allah ketika nafsu mulai menggoda pikirannya untuk mengabaikan Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Orang yang Suci Hatinya akan Melihat Allah''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya akan menutup pembicaraan ini dengan sebuah ilustrasi dari sebuah artikel dalam Leadership (1982). Artikel itu tidak menunjukkan identitas penulis dengan jelas, tapi ditulis oleh seorang pengkotbah yang terikat dengan nafsu selama 10 tahun. Ia menceritakan kisah bagaimana akhirnya ia bisa terbebas dari hal itu. Saya akan menuliskan apa yang terdapat dalam paragraf kunci berikut ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia membaca buku karya Francois Mauriac, ''What I Believe ''(Apa yang Saya Yakini). Di dalamnya, Mauriac mengakui bagaimana rasa bersalah tidak cukup mampu untuk membebaskan dia dari nafsu. Dia menyimpulkan bahwa ada satu alasan kuat untuk hidup dalam kekudusan, yaitu hal yang Kristus katakan dalam Ucapan bahagia: “ Berbahagialah mereka yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.” &lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;Pemikiran tersebut menyadarkan saya seperti suara bel yang berdentang keras di lorong yang sunyi. Sejauh ini, tidak ada satupun hal menakutkan dan pendapat-pendapat negatif yang menentang nafsu mampu menyadarkan saya untuk berhenti... Namun inilah penjelasan yang memberitahukan pada saya mengenai hal apa yang akan terhilang dari saya apabila saya terus melayani nafsu saya: Saya membatasi keintiman pribadi saya dengan Allah. Kasih yang Ia berikan begitu besar sehingga kita butuh untuk disucikan dan dibersihkan sebelum kita bisa menampungnya. Mampukah Ia, mengantikan kehausan dan kelaparan yang tidak pernah mampu memuaskan saya? Apakah Air Hidup itu mampu memuaskan nafsu saya? Hal ini adalah pertaruhan iman. (Hal. 43-44). &amp;lt;/blockquote&amp;gt; &lt;br /&gt;
Itu bukan suatu taruhan. Kita tidak akan pernah kalah kalau kita beralih pada Allah. Ia menyadari hal ini dalam hidupnya sendiri, dan pelajaran yang ia terima sangat tepat: &lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;Cara untuk melawan nafsu adalah dengan memberi makan iman kita dengan pengetahuan dan pengenalan akan Allah yang Mulia. &amp;lt;/blockquote&amp;gt; &lt;br /&gt;
Apakah anda sudah mengenal Allah pada pagi ini? Apakah anda bertumbuh dari minggu ke minggu akan pengenalan akan kebesaran Allah? Apakah anda merenungkan FirmanNya siang dan malam? Dapatkan anda melihat gambaran AnakNya di dalam Injil? Apakah anda sudah membaca Alkitab untuk mengenal karakter dan jalan-jalanNya? Mampukah anda melihat segala hal di dalam hari anda sebagai ciptaanNya? Sudahkah anda meminta kepada Allah untuk memberikan hati yang peka untuk melihat kebesaran namaNya? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya mengajak anda untuk membuat komitmen sekarang, demi kepentingan jiwa anda sendiri, dan untuk kemuliaan Allah.&amp;lt;br&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Susanlim</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/Battling_the_Unbelief_of_Lust/id</id>
		<title>Battling the Unbelief of Lust/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/Battling_the_Unbelief_of_Lust/id"/>
				<updated>2008-11-06T17:25:33Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Susanlim: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|Berperang Melawan Nafsu}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Berperang Melawan Nafsu''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''1 Tesalonika 4: 1-8'''&amp;lt;br&amp;gt; '''Definisi Nafsu Menurut Alkitab''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mari memulai dengan arti nafsu menurut Alkitab. Nafsu adalah hasrat atau keinginan seksual yang disertai kecenderungan untuk tidak menghormati objek seksualnya, serta mengabaikan Allah. Mari saya tunjukkan di mana definisi itu saya dapatkan.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Perbandingan Antar Terjemahan''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayat 4 dalam Alkitab versi RSV (Revised Standard Version), dialamatkan pada para lelaki di Tesalonika, dan menyatakan bahwa hendaklah setiap mereka mengetahui bagaimana caranya mengambil istri untuk dirinya sendiri dalam kekudusan dan penghormatan, bukan dalam hasrat dan nafsu yang dimiliki oleh mereka yang tidak mengenal Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi Alkitab versi NIV (New International Version) menyatakan, hendaklah setiap orang belajar mengendalikan tubuhnya sendiri, dalam cara yang kudus dan penuh penghormatan, bukan dengan nafsu, seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alkitab versi NASB (New American Standard Version) menyatakan hendaklah setiap orang mengetahui bagaimana mengendalikan bejananya sendiri dalam kekudusan dan penghormatan, bukan dengan nafsu, seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah. Menurut saya, Alkitab versi RSV lebih jelas menangkap arti dari nafsu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Kajian: 1) pararel dalam 1 Korintus 7:2; 2) arti dari ''ktasthai'' adalah secara menyeluruh “mengambil” atau “mendapatkan”, bukan “mengontrol” atau “memiliki”; “bejana” dalam hubungannya dengan “penghormatan” dalam 1 Petrus 2:7, dialamatkan pada istri; 4) heautou- “miliknya”- cenderung lebih empatik dan lebih cocok untuk tunangan atau istri daripada tubuh; 5) versi NIV dan NASB tidak masuk di akal, karena mereka menyatakan “belajar mengontrol tubuhmu... bukan dengan nafsu.” Anda bisa memilih seorang wanita dengan nafsu, tapi anda tidak bisa mengontrol tubuh anda dengan nafsu.] &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun daripada beragumen lebih lanjut mengenai hal itu, saya pikir saya dapat menunjukkan arti nafsu di sini dari seluruh terjemahan di atas.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Kebalikan Dari Kekudusan dan Penghormatan''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perhatikan bahwa ayat 4 dan 5 menyatakan bahwa kita harus melakukan suatu hal dalam satu cara khusus, dan bukan cara yang lain. Ambilah seorang istri (atau kendalikan tubuh/bejana mu) “dalam kekudusan dan penghormatan, BUKAN dengan nafsu.” Jadi nafsu adalah kebalikan dari kekudusan dan penghormatan. Dari sanalah saya mendapat definisi dari nafsu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keinginan seksual itu sendiri adalah suatu hal yang baik. Allah menciptakan itu sejak awal. Ada porsi dan tempat yang khusus dan sesuai untuk hal itu. Tapi hal itu diciptakan untuk diatur dan dikendalikan oleh 2 hal: penghormatan pada orang lain, dan kekudusan di hadapan Allah. Nafsu adalah bentuk dari keinginan seksual ketika tidak ada 2 hal tersebut di dalamnya.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Nafsu: Tidak Menghormati Objeknya''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ambil contoh mengenai penghormatan, misalnya. Allah menciptakan sebuah hubungan yang disebut dengan pernikahan. Di dalamnya, seorang laki-laki dan perempuan membuat perjanjian seumur hidup untuk saling menghormati satu sama lain dengan kesetiaan dan kasih. Keinginan seksual menjadi hamba dan bumbu penyedap dalam ikatan antar suami istri yang diikat oleh rasa saling menghormati. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh sebab itu, untuk mengatakan pada orang lain, aku mau kamu memuaskan keinginan seksualku, tapi aku tidak menghendaki kamu sebagai partner yang diikat dalam pernikahan, pada dasarnya berarti: Aku mau memakai tubuhmu untuk kepuasan seksualku, tapi aku tidak menghendaki kamu secara keseluruhan, sebagai seorang pribadi. Hal itu adalah perbuatan yang tidak menghormati seseorang, dan oleh karenanya, termasuk dalam kategori nafsu. Nafsu adalah keinginan seksual tanpa disertai adanya komitmen untuk menghormati orang lain.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Nafsu: Mengabaikan Allah''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi bukan hanya itu saja. Dalam Alkitab dikatakan: ambilah seorang istri (atau kendalikanlah tubuh/ bejana mu) “dalam kekudusan.. bukan dengan nafsu”. Kekudusan berkaitan dengan Allah – yaitu sesuatu yang diperuntukkan bagi Tuhan. Jadi ayat 5 berkata seperti ini: “Jangan dengan nafsu seperti mereka yang tidak mengenal Allah.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengenal Allah dan berkelakuan seperti seseorang yang mengenal Allah dapat menjaga kecenderungan keinginan seksual untuk beralih menjadi nafsu. Lihatlah pada ayat 8: “Karena itu siapa yang menolak ini bukanlah menolak manusia, melainkan menolak Allah yang telah memberikan juga Roh-Nya yang kudus kepada kamu.” Masalah mendasar dalam hal nafsu adalah sikap penghormatan kepada Allah. Kekudusan berarti hidup dalam penghormatan penuh pada Allah yang suci. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nafsu, adalah kebalikannya. Nafsu adalah keinginan seksual yang tidak diatur atau dikendalikan atau diarahkan dalam kerangka penghormatan terhadap Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah menciptakan seksualitas seseorang. Ia menciptakannya sebagai suatu hal yang baik dan indah. Ia menciptakannya demi kebaikan ciptaanNya. Hanya Dialah yang mempunyai hikmat dan hak untuk menunjukkan kepada kita bagaimana menggunakannya untuk kemuliaanNya dan untuk kebaikan kita sendiri. Nafsu adalah apa yang akan terjadi juga keinginan seksual tidak kita kendalikan dalam rangka penghormatan kepada Allah, sehingga kita menjadi cenderung mengabaikan Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesimpulannya, nafsu adalah hasrat atau keinginan seksual yang disertai kecenderungan untuk tidak menghormati objek seksualnya, serta mengabaikan Allah. Ini adalah penyimpangan dari suatu hal yang seharusnya baik, dengan cara mengabaikan komitmen yang kudus, dan penghormatan tertinggi kepada Allah. Apabila keinginan seksual anda tidak dikendalikan dalam kerangka penghargaan atau penghormatan kepada orang lain dan Allah, itu adalah nafsu&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Merenungkan Bahaya dari Nafsu''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah definisi dari nafsu. Jadi, masalah selanjutnya adalah, LALU KENAPA? Mengapa itu penting? Hal itu kan bukan dosa, apalagi kalau itu cuma berupa keinginan dan bukan tindakan, alias, dosa kecil kan? Apa tidak ada topik bahasan lain yang lebih penting dibahas, seperti masalah senjata nuklir dan keadilan sosial? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya kira setidaknya anda cukup familiar mendengar perkataan di atas keluar dari mulut beberapa orang, bukan? Mereka menyatakan, sikap dan perilaku seksual adalah suatu hal kecil yang relatif tidak perlu diperhatikan, dari kehidupan seseorang. Adapun hal yang penting adalah apakah anda misalnya memboikot sebuah perusahaan di Afrika Selatan dan menentang sistem pertahanan Star Wars. Melihat-lihat majalah Playboy itu kan tidak terlalu penting atau tidak masalah kalau kita melakukannya ketika kita sedang dalam perjalanan menuju diskusi perdamaian di Genewa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inilah cara penalaran orang-orang religius ketika mereka sedang menghindari pentingnya memberikan penghormatan tertinggi kepada Allah. Tapi bukan itu yang dikatakan oleh Allah. Apa sih pentingnya kehidupan seksual seseorang di mata Allah? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayat 6 menyatakan, “dan supaya dalam hal-hal ini orang jangan memperlakukan saudaranya dengan tidak baik atau memperdayakannya. Karena Tuhan adalah pembalas dari semuanya ini, seperti yang telah kami katakan dan tegaskan dahulu kepadamu.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini berarti konsekuensi atau akibat-akibat yang ditimbulkan oleh nafsu akan lebih buruk dari akibat-akibat yang ditimbulkan oleh perang nuklir. Adapun yang bisa dibinasakan oleh suatu perang nuklir hanyalah tubuh yang fana. Dan Yesus berkata, “Janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Aku akan menunjukkan kepada kamu siapakah yang harus kamu takuti. Takutilah Dia, yang setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, takutilah Dia!” (Lukas 12:4-5). Dengan perkataan lain, pembalasan dari Tuhan itu lebih menakutkan daripada pembinasaan yang bisa terjadi di bumi ini. Dan menurut 1 Tesalonika 4:6, pembalasan dari Allah akan turun atas mereka yang tidak mempedulikan peringatan yang berkaitan dengan nafsu.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Nafsu dan Konsekuensi Kekalnya''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bulan September ini saya berbicara di organisasi siswa di SMA Kristen Wheaton. Saya mengambil topik, “Sepuluh Cara (Metode) untuk Memerangi Nafsu”. Metode keenam adalah, “Merenungkan akibat kekal dari nafsu.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber dari pernyataan saya pada poin itu adalah Matius 5:28-29, ketika Yesus mengatakan, “Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. “ Saya menunjuk pada perkataan Yesus bahwa masalah surga dan neraka adalah hal yang dipertaruhkan (menjadi konsekuensi) dalam segala tindakan yang dilakukan oleh penglihatan dan pikiran-pikiran yang ada di dalam imaginasi kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada akhir pertemuan, salah satu siswa datang kepada saya dan bertanya, “Maksud anda, kita bisa kehilangan keselamatan kita?” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah respon yang sama seperti yang saya dapat beberapa tahun lalu ketika saya menegur seorang laki-laki dengan keras berkaitan dengan perzinahan yang dia lakukan pada saat itu. Saya mencoba untuk memahami situasi yang dihadapi olehnya, dan saya memohon dengan amat sangat supaya dia mau kembali pada istrinya. Lalu saya berkata, “Kamu tahu kalau Yesus berkata apabila kamu tidak melawan dosa ini dengan sangat serius sehingga seakan-akan kamu rela untuk mencungkil matamu sendiri, kamu bisa berakhir di neraka dan tersiksa di sana selama-lamanya.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia melihat kepada saya dengan ketidakpercayaan, seakan-akan dia belum pernah mendengar hal ini sebelumnya, dan berkata, “Maksud anda seseorang bisa kehilangan keselamatannya?” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi sekali lagi saya belajar dan terus belajar dari pengalaman pertama yang saya dapatkan secara langsung bahwa banyak orang Kristen yang menganggap keselamatan itu tidak berkaitan dengan kehidupan nyata, dan bahwa itu berarti pengabaian terhadap peringatan-peringatan yang terdapat dalam Alkitab, sehingga cenderung menempatkan orang berdosa yang mengaku dirinya seorang Kristen jauh dari jangkauan ancaman atau peringatan-peringatan yang ada di dalam Alkitab. Dan doktrin ini cenderung menenangkan ribuan orang, yang saat ini sedang berjalan menuju neraka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yesus berkata, kalau kamu tidak melawan nafsu, kamu tidak akan masuk ke surga. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal-hal yang dipertaruhkan di sini jauh lebih tinggi apabila dibandingkan dengan jika seluruh dunia diledakkan oleh ribuan bom. Kalau anda tidak melawan nafsu, anda tidak akan masuk ke surga (1 Petrus 2:11; Kolose 3:6; Galatia 5:21; 1 Korintus 6:10; Ibrani 12:14).&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Iman yang Mengalahkan Nafsu''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukankah kita semua sudah diselamatkan oleh iman- dengan percaya pada Yesus Kristus? Hal itu memang benar! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka yang berpegang teguh pada iman mereka akan diselamatkan (Matius 24:13; 10:22; 1 Korintus 15:3; Kolose 1:23; 2 Tesalonika 2:13). Bagaimana caranye untuk mempertahankan kehidupan kekal itu? Paulus memberikan jawaban dalam 1 Timotius 6:12—“Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal itu menuntun kita pada fokus kita pagi ini – untuk menunjukkan bahwa perjuangan melawan nafsu dan menuju kekudusan seksual adalah suatu pertandingan iman.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Mispersepsi Terbesar yang Harus Dimusnahkan''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mispersepsi terbesar yang hendak saya musnahkan kali ini adalah kesalahan yang menyatakan, bahwa iman kepada Allah dan perjuangan untuk mencapai kekudusan adalah dua hal yang berbeda. Iman mengantarkan anda ke surga dan kekudusan hidup akan membuat kita mendapatkan upah. Kita dibernarkan oleh iman, dan kita menyucikan diri kita lewat usaha-usaha yang kita lakukan. Anda memulai kehidupan kristiani anda dengan kuasa Roh Kudus, namun anda melakukannya dengan kekuatan daging anda. Ini adalah pesan penginjilan yang salah pada hari-hari ini. Perjuangan untuk menaati perintah Allah adalah suatu pilihan, kata mereka, karena hanya iman saja yang dibutuhkan untuk memperoleh keselamatan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sikap kita: perjuangan untuk menaati perintah Allah adalah suatu hal yang mutlak dibutuhkan dalam kerangka keselamatan, karena itu ADALAH pertandingan iman.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Injil yang Lebih Hebat''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya harap anda dapat melihat bahwa hal ini adalah suatu kabar Injil yang lebih hebat dari kabar lainnya. Ini adalah kabar Injil mengenai kemenangan Allah atas dosa, bukan sekedar toleransiNya terhadap dosa. Ini adalah Injil yang diberitakan dalam Roma 6:14: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia.” &lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;Dia mematahkan kuasa dosa&amp;lt;/blockquote&amp;gt;&amp;lt;blockquote&amp;gt;Dia membebaskan para tawanan&amp;lt;/blockquote&amp;gt;&amp;lt;blockquote&amp;gt;DarahNya bisa menyucikan kita &amp;lt;/blockquote&amp;gt;&amp;lt;blockquote&amp;gt;DarahNya disediakan bagi kita. &amp;lt;/blockquote&amp;gt; &lt;br /&gt;
Berbahagialah mereka yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Ini adalah perintah dan anugerah dari Allah. Semua hanya karena anugerah semata. Karena itulah satu-satunya pertandingan yang kita lakukan adalah pertandingan iman – pertandingan untuk menyandarkan diri sepenuhnya pada anugerah Allah—untuk sangat dipuaskan oleh kemuliaan Allah—bahwa godaan untuk berbuat dosa kehilangan kuasa atas kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertandingan atau perjuangan melawan nafsu adalah perjuangan melawan ketidakpercayaan, ketidak-berimanan. Ayat yang penting di sini adalah ayat ke 5 dan 8. Kita hanya punya waktu untuk melihat ayat ke 5. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Pengetahuan Akan Allah''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam ayat ke 5, Paulus mengatakan, “...bukan di dalam keinginan hawa nafsu, seperti yang dibuat oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah, “ Dapatkah anda melihat hal apa yang tersirat mengenai akar dari nafsu? Ketidak tahuan mengenai Allah adalah akar dari nafsu. Ambillah seorang istri (atau: kuasailah tubuhmu) bukan dengan nafsu karena itu adalah hal yang dilakukan oleh mereka yang tidak mengenal Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Paulus tidak bermaksud bahwa pengenalan akan Allah semata-mata akan mampu memerangi nafsu. Dalam Markus 1:24, Yesus hendak mengusir setan yang ada di dalam seorang laki-laki ketika roh kenajisan berseru kepadaNya, “Aku tahu siapa Engkau: Yang kudus dari Allah!” Dengan perkataan lain, setan dan kawan-kawannya mempunyai pengetahuan yang akurat mengenai Allah dan Yesus, tapi, bukan itu maksud pengenalan (pengetahuan) akan Allah yang dimaksud oleh Paulus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengenalan (pengetahuan) akan Allah yang dimaksud oleh Paulus di sini adalah jenis pengenalan yang dituliskan dalam 2 Korintus 4:6—“ terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus.” (lihat Galatia 4:8; 1 Korintus 2:14; 2 Petrus 1:3-4). Itu adalah pengetahuan dan pengenalan akan kebesaran, keagungan, kemuliaaan, anugerah, dan kekuatan Allah. Itu adalah pengenalan akan Allah yang membuat anda takjub dan merendahkan hati anda. Itu adalah pengenalan yang memenangkan dan menjaga anda. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah jenis pengenalan akan Allah yang tidak akan bisa kita peroleh hanya dengan menyanyikan baris reff pujian selama ribuan kali. Pengenalan ini seperti halnya yang dialami oleh Lidia ketika Allah membuka mata hatinya. Pada suatu titik, anda akan merasa dilimpahi oleh semua itu, dan tiba-tiba ada keinginan untuk memperoleh lebih dari itu. Itu adalah pengenalan yang kita sebut dengan iman—kepastian akan hal-hal yang kita harapkan, dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengenalan itu sungguh nyata, sangat berharga, dan sangat dapat memuaskan jiwa anda, sehingga segala pikiran, sikap, emosi, dan ketergantungan yang dapat mengancam pemahaman (pengenalan) kita terhadap Allah, akan dilawan dengan seluruh kekuatan spiritual yang ada. Ini adalah perjuangan iman yang membara dalam jiwa seseorang yang mengasihi Allah ketika nafsu mulai menggoda pikirannya untuk mengabaikan Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Orang yang Suci Hatinya akan Melihat Allah''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya akan menutup pembicaraan ini dengan sebuah ilustrasi dari sebuah artikel dalam Leadership (1982). Artikel itu tidak menunjukkan identitas penulis dengan jelas, tapi ditulis oleh seorang pengkotbah yang terikat dengan nafsu selama 10 tahun. Ia menceritakan kisah bagaimana akhirnya ia bisa terbebas dari hal itu. Saya akan menuliskan apa yang terdapat dalam paragraf kunci berikut ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia membaca buku karya Francois Mauriac, ''What I Believe ''(Apa yang Saya Yakini). Di dalamnya, Mauriac mengakui bagaimana rasa bersalah tidak cukup mampu untuk membebaskan dia dari nafsu. Dia menyimpulkan bahwa ada satu alasan kuat untuk hidup dalam kekudusan, yaitu hal yang Kristus katakan dalam Ucapan bahagia: “ Berbahagialah mereka yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.” &lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;Pemikiran tersebut menyadarkan saya seperti suara bel yang berdentang keras di lorong yang sunyi. Sejauh ini, tidak ada satupun hal menakutkan dan pendapat-pendapat negatif yang menentang nafsu mampu menyadarkan saya untuk berhenti... Namun inilah penjelasan yang memberitahukan pada saya mengenai hal apa yang akan terhilang dari saya apabila saya terus melayani nafsu saya: Saya membatasi keintiman pribadi saya dengan Allah. Kasih yang Ia berikan begitu besar sehingga kita butuh untuk disucikan dan dibersihkan sebelum kita bisa menampungnya. Mampukah Ia, mengantikan kehausan dan kelaparan yang tidak pernah mampu memuaskan saya? Apakah Air Hidup itu mampu memuaskan nafsu saya? Hal ini adalah pertaruhan iman. (Hal. 43-44). &amp;lt;/blockquote&amp;gt; &lt;br /&gt;
Itu bukan suatu taruhan. Kita tidak akan pernah kalah kalau kita beralih pada Allah. Ia menyadari hal ini dalam hidupnya sendiri, dan pelajaran yang ia terima sangat tepat: &lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;Cara untuk melawan nafsu adalah dengan memberi makan iman kita dengan pengetahuan dan pengenalan akan Allah yang Mulia. &amp;lt;/blockquote&amp;gt; &lt;br /&gt;
Apakah anda sudah mengenal Allah pada pagi ini? Apakah anda bertumbuh dari minggu ke minggu akan pengenalan akan kebesaran Allah? Apakah anda merenungkan FirmanNya siang dan malam? Dapatkan anda melihat gambaran AnakNya di dalam Injil? Apakah anda sudah membaca Alkitab untuk mengenal karakter dan jalan-jalanNya? Mampukah anda melihat segala hal di dalam hari anda sebagai ciptaanNya? Sudahkah anda meminta kepada Allah untuk memberikan hati yang peka untuk melihat kebesaran namaNya? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya mengajak anda untuk membuat komitmen sekarang, demi kepentingan jiwa anda sendiri, dan untuk kemuliaan Allah.&amp;lt;br&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Susanlim</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/Battling_the_Unbelief_of_Lust/id</id>
		<title>Battling the Unbelief of Lust/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/Battling_the_Unbelief_of_Lust/id"/>
				<updated>2008-11-06T17:23:36Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Susanlim: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|Berperang Melawan Nafsu}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Berperang Melawan Nafsu''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''1 Tesalonika 4: 1-8'''&amp;lt;br&amp;gt; '''Definisi Nafsu Menurut Alkitab''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mari memulai dengan arti nafsu menurut Alkitab. Nafsu adalah hasrat atau keinginan seksual yang disertai kecenderungan untuk tidak menghormati objek seksualnya, serta mengabaikan Allah. Mari saya tunjukkan di mana definisi itu saya dapatkan.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Perbandingan Antar Terjemahan''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayat 4 dalam Alkitab versi RSV (Revised Standard Version), dialamatkan pada para lelaki di Tesalonika, dan menyatakan bahwa hendaklah setiap mereka mengetahui bagaimana caranya mengambil istri untuk dirinya sendiri dalam kekudusan dan penghormatan, bukan dalam hasrat dan nafsu yang dimiliki oleh mereka yang tidak mengenal Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi Alkitab versi NIV (New International Version) menyatakan, hendaklah setiap orang belajar mengendalikan tubuhnya sendiri, dalam cara yang kudus dan penuh penghormatan, bukan dengan nafsu, seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alkitab versi NASB (New American Standard Version) menyatakan hendaklah setiap orang mengetahui bagaimana mengendalikan bejananya sendiri dalam kekudusan dan penghormatan, bukan dengan nafsu, seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah. Menurut saya, Alkitab versi RSV lebih jelas menangkap arti dari nafsu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Kajian: 1) pararel dalam 1 Korintus 7:2; 2) arti dari ''ktasthai'' adalah secara menyeluruh “mengambil” atau “mendapatkan”, bukan “mengontrol” atau “memiliki”; “bejana” dalam hubungannya dengan “penghormatan” dalam 1 Petrus 2:7, dialamatkan pada istri; 4) heautou- “miliknya”- cenderung lebih empatik dan lebih cocok untuk tunangan atau istri daripada tubuh; 5) versi NIV dan NASB tidak masuk di akal, karena mereka menyatakan “belajar mengontrol tubuhmu... bukan dengan nafsu.” Anda bisa memilih seorang wanita dengan nafsu, tapi anda tidak bisa mengontrol tubuh anda dengan nafsu.] &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun daripada beragumen lebih lanjut mengenai hal itu, saya pikir saya dapat menunjukkan arti nafsu di sini dari seluruh terjemahan di atas.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Kebalikan Dari Kekudusan dan Penghormatan''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perhatikan bahwa ayat 4 dan 5 menyatakan bahwa kita harus melakukan suatu hal dalam satu cara khusus, dan bukan cara yang lain. Ambilah seorang istri (atau kendalikan tubuh/bejana mu) “dalam kekudusan dan penghormatan, BUKAN dengan nafsu.” Jadi nafsu adalah kebalikan dari kekudusan dan penghormatan. Dari sanalah saya mendapat definisi dari nafsu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keinginan seksual itu sendiri adalah suatu hal yang baik. Allah menciptakan itu sejak awal. Ada porsi dan tempat yang khusus dan sesuai untuk hal itu. Tapi hal itu diciptakan untuk diatur dan dikendalikan oleh 2 hal: penghormatan pada orang lain, dan kekudusan di hadapan Allah. Nafsu adalah bentuk dari keinginan seksual ketika tidak ada 2 hal tersebut di dalamnya.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Nafsu: Tidak Menghormati Objeknya''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ambil contoh mengenai penghormatan, misalnya. Allah menciptakan sebuah hubungan yang disebut dengan pernikahan. Di dalamnya, seorang laki-laki dan perempuan membuat perjanjian seumur hidup untuk saling menghormati satu sama lain dengan kesetiaan dan kasih. Keinginan seksual menjadi hamba dan bumbu penyedap dalam ikatan antar suami istri yang diikat oleh rasa saling menghormati. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh sebab itu, untuk mengatakan pada orang lain, aku mau kamu memuaskan keinginan seksualku, tapi aku tidak menghendaki kamu sebagai partner yang diikat dalam pernikahan, pada dasarnya berarti: Aku mau memakai tubuhmu untuk kepuasan seksualku, tapi aku tidak menghendaki kamu secara keseluruhan, sebagai seorang pribadi. Hal itu adalah perbuatan yang tidak menghormati seseorang, dan oleh karenanya, termasuk dalam kategori nafsu. Nafsu adalah keinginan seksual tanpa disertai adanya komitmen untuk menghormati orang lain.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Nafsu: Mengabaikan Allah''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi bukan hanya itu saja. Dalam Alkitab dikatakan: ambilah seorang istri (atau kendalikanlah tubuh/ bejana mu) “dalam kekudusan.. bukan dengan nafsu”. Kekudusan berkaitan dengan Allah – yaitu sesuatu yang diperuntukkan bagi Tuhan. Jadi ayat 5 berkata seperti ini: “Jangan dengan nafsu seperti mereka yang tidak mengenal Allah.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengenal Allah dan berkelakuan seperti seseorang yang mengenal Allah dapat menjaga kecenderungan keinginan seksual untuk beralih menjadi nafsu. Lihatlah pada ayat 8: “Karena itu siapa yang menolak ini bukanlah menolak manusia, melainkan menolak Allah yang telah memberikan juga Roh-Nya yang kudus kepada kamu.” Masalah mendasar dalam hal nafsu adalah sikap penghormatan kepada Allah. Kekudusan berarti hidup dalam penghormatan penuh pada Allah yang suci. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nafsu, adalah kebalikannya. Nafsu adalah keinginan seksual yang tidak diatur atau dikendalikan atau diarahkan dalam kerangka penghormatan terhadap Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah menciptakan seksualitas seseorang. Ia menciptakannya sebagai suatu hal yang baik dan indah. Ia menciptakannya demi kebaikan ciptaanNya. Hanya Dialah yang mempunyai hikmat dan hak untuk menunjukkan kepada kita bagaimana menggunakannya untuk kemuliaanNya dan untuk kebaikan kita sendiri. Nafsu adalah apa yang akan terjadi juga keinginan seksual tidak kita kendalikan dalam rangka penghormatan kepada Allah, sehingga kita menjadi cenderung mengabaikan Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesimpulannya, nafsu adalah hasrat atau keinginan seksual yang disertai kecenderungan untuk tidak menghormati objek seksualnya, serta mengabaikan Allah. Ini adalah penyimpangan dari suatu hal yang seharusnya baik, dengan cara mengabaikan komitmen yang kudus, dan penghormatan tertinggi kepada Allah. Apabila keinginan seksual anda tidak dikendalikan dalam kerangka penghargaan atau penghormatan kepada orang lain dan Allah, itu adalah nafsu&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Merenungkan Bahaya dari Nafsu''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah definisi dari nafsu. Jadi, masalah selanjutnya adalah, LALU KENAPA? Mengapa itu penting? Hal itu kan bukan dosa, apalagi kalau itu cuma berupa keinginan dan bukan tindakan, alias, dosa kecil kan? Apa tidak ada topik bahasan lain yang lebih penting dibahas, seperti masalah senjata nuklir dan keadilan sosial? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya kira setidaknya anda cukup familiar mendengar perkataan di atas keluar dari mulut beberapa orang, bukan? Mereka menyatakan, sikap dan perilaku seksual adalah suatu hal kecil yang relatif tidak perlu diperhatikan, dari kehidupan seseorang. Adapun hal yang penting adalah apakah anda misalnya memboikot sebuah perusahaan di Afrika Selatan dan menentang sistem pertahanan Star Wars. Melihat-lihat majalah Playboy itu kan tidak terlalu penting atau tidak masalah kalau kita melakukannya ketika kita sedang dalam perjalanan menuju diskusi perdamaian di Genewa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inilah cara penalaran orang-orang religius ketika mereka sedang menghindari pentingnya memberikan penghormatan tertinggi kepada Allah. Tapi bukan itu yang dikatakan oleh Allah. Apa sih pentingnya kehidupan seksual seseorang di mata Allah? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayat 6 menyatakan, “dan supaya dalam hal-hal ini orang jangan memperlakukan saudaranya dengan tidak baik atau memperdayakannya. Karena Tuhan adalah pembalas dari semuanya ini, seperti yang telah kami katakan dan tegaskan dahulu kepadamu.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini berarti konsekuensi atau akibat-akibat yang ditimbulkan oleh nafsu akan lebih buruk dari akibat-akibat yang ditimbulkan oleh perang nuklir. Adapun yang bisa dibinasakan oleh suatu perang nuklir hanyalah tubuh yang fana. Dan Yesus berkata, “Janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Aku akan menunjukkan kepada kamu siapakah yang harus kamu takuti. Takutilah Dia, yang setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, takutilah Dia!” (Lukas 12:4-5). Dengan perkataan lain, pembalasan dari Tuhan itu lebih menakutkan daripada pembinasaan yang bisa terjadi di bumi ini. Dan menurut 1 Tesalonika 4:6, pembalasan dari Allah akan turun atas mereka yang tidak mempedulikan peringatan yang berkaitan dengan nafsu.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Nafsu dan Konsekuensi Kekalnya''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bulan September ini saya berbicara di organisasi siswa di SMA Kristen Wheaton. Saya mengambil topik, “Sepuluh Cara untuk Memerangi Nafsu”. Metode keenam adalah, “Merenungkan akibat kekal dari nafsu.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber dari pernyataan saya pada poin itu adalah Matius 5:28-29, ketika Yesus mengatakan, “Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. “ Saya menunjuk pada perkataan Yesus bahwa masalah surga dan neraka adalah hal yang dipertaruhkan (menjadi konsekuensi) dalam segala tindakan yang dilakukan oleh penglihatan dan pikiran-pikiran yang ada di dalam imaginasi kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada akhir pertemuan, salah satu siswa datang kepada saya dan bertanya, “Maksud anda, kita bisa kehilangan keselamatan kita?” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah respon yang sama seperti yang saya dapat beberapa tahun lalu ketika saya menegur seorang laki-laki dengan keras berkaitan dengan perzinahan yang dia lakukan pada saat itu. Saya mencoba untuk memahami situasi yang dihadapi olehnya, dan saya memohon dengan amat sangat supaya dia mau kembali pada istrinya. Lalu saya berkata, “Kamu tahu kalau Yesus berkata apabila kamu tidak melawan dosa ini dengan sangat serius sehingga seakan-akan kamu rela untuk mencungkil matamu sendiri, kamu bisa berakhir di neraka dan tersiksa di sana selama-lamanya.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia melihat kepada saya dengan ketidakpercayaan, seakan-akan dia belum pernah mendengar hal ini sebelumnya, dan berkata, “Maksud anda seseorang bisa kehilangan keselamatannya?” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi sekali lagi saya belajar dan terus belajar dari pengalaman pertama yang saya dapatkan secara langsung bahwa banyak orang Kristen yang menganggap keselamatan itu tidak berkaitan dengan kehidupan nyata, dan bahwa itu berarti pengabaian terhadap peringatan-peringatan yang terdapat dalam Alkitab, sehingga cenderung menempatkan orang berdosa yang mengaku dirinya seorang Kristen jauh dari jangkauan ancaman atau peringatan-peringatan yang ada di dalam Alkitab. Dan doktrin ini cenderung menenangkan ribuan orang, yang saat ini sedang berjalan menuju neraka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yesus berkata, kalau kamu tidak melawan nafsu, kamu tidak akan masuk ke surga. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal-hal yang dipertaruhkan di sini jauh lebih tinggi apabila dibandingkan dengan jika seluruh dunia diledakkan oleh ribuan bom. Kalau anda tidak melawan nafsu, anda tidak akan masuk ke surga (1 Petrus 2:11; Kolose 3:6; Galatia 5:21; 1 Korintus 6:10; Ibrani 12:14).&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Iman yang Mengalahkan Nafsu''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukankah kita semua sudah diselamatkan oleh iman- dengan percaya pada Yesus Kristus? Hal itu memang benar! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka yang berpegang teguh pada iman mereka akan diselamatkan (Matius 24:13; 10:22; 1 Korintus 15:3; Kolose 1:23; 2 Tesalonika 2:13). Bagaimana caranye untuk mempertahankan kehidupan kekal itu? Paulus memberikan jawaban dalam 1 Timotius 6:12—“Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal itu menuntun kita pada fokus kita pagi ini – untuk menunjukkan bahwa perjuangan melawan nafsu dan menuju kekudusan seksual adalah suatu pertandingan iman.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Mispersepsi Terbesar yang Harus Dimusnahkan''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mispersepsi terbesar yang hendak saya musnahkan kali ini adalah kesalahan yang menyatakan, bahwa iman kepada Allah dan perjuangan untuk mencapai kekudusan adalah dua hal yang berbeda. Iman mengantarkan anda ke surga dan kekudusan hidup akan membuat kita mendapatkan upah. Kita dibernarkan oleh iman, dan kita menyucikan diri kita lewat usaha-usaha yang kita lakukan. Anda memulai kehidupan kristiani anda dengan kuasa Roh Kudus, namun anda melakukannya dengan kekuatan daging anda. Ini adalah pesan penginjilan yang salah pada hari-hari ini. Perjuangan untuk menaati perintah Allah adalah suatu pilihan, kata mereka, karena hanya iman saja yang dibutuhkan untuk memperoleh keselamatan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sikap kita: perjuangan untuk menaati perintah Allah adalah suatu hal yang mutlak dibutuhkan dalam kerangka keselamatan, karena itu ADALAH pertandingan iman.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Injil yang Lebih Hebat''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya harap anda dapat melihat bahwa hal ini adalah suatu kabar Injil yang lebih hebat dari kabar lainnya. Ini adalah kabar Injil mengenai kemenangan Allah atas dosa, bukan sekedar toleransiNya terhadap dosa. Ini adalah Injil yang diberitakan dalam Roma 6:14: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia.” &lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;Dia mematahkan kuasa dosa&amp;lt;/blockquote&amp;gt;&amp;lt;blockquote&amp;gt;Dia membebaskan para tawanan&amp;lt;/blockquote&amp;gt;&amp;lt;blockquote&amp;gt;DarahNya bisa menyucikan kita &amp;lt;/blockquote&amp;gt;&amp;lt;blockquote&amp;gt;DarahNya disediakan bagi kita. &amp;lt;/blockquote&amp;gt; &lt;br /&gt;
Berbahagialah mereka yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Ini adalah perintah dan anugerah dari Allah. Semua hanya karena anugerah semata. Karena itulah satu-satunya pertandingan yang kita lakukan adalah pertandingan iman – pertandingan untuk menyandarkan diri sepenuhnya pada anugerah Allah—untuk sangat dipuaskan oleh kemuliaan Allah—bahwa godaan untuk berbuat dosa kehilangan kuasa atas kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertandingan atau perjuangan melawan nafsu adalah perjuangan melawan ketidakpercayaan, ketidak-berimanan. Ayat yang penting di sini adalah ayat ke 5 dan 8. Kita hanya punya waktu untuk melihat ayat ke 5. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Pengetahuan Akan Allah''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam ayat ke 5, Paulus mengatakan, “...bukan di dalam keinginan hawa nafsu, seperti yang dibuat oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah, “ Dapatkah anda melihat hal apa yang tersirat mengenai akar dari nafsu? Ketidak tahuan mengenai Allah adalah akar dari nafsu. Ambillah seorang istri (atau: kuasailah tubuhmu) bukan dengan nafsu karena itu adalah hal yang dilakukan oleh mereka yang tidak mengenal Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Paulus tidak bermaksud bahwa pengenalan akan Allah semata-mata akan mampu memerangi nafsu. Dalam Markus 1:24, Yesus hendak mengusir setan yang ada di dalam seorang laki-laki ketika roh kenajisan berseru kepadaNya, “Aku tahu siapa Engkau: Yang kudus dari Allah!” Dengan perkataan lain, setan dan kawan-kawannya mempunyai pengetahuan yang akurat mengenai Allah dan Yesus, tapi, bukan itu maksud pengenalan (pengetahuan) akan Allah yang dimaksud oleh Paulus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengenalan (pengetahuan) akan Allah yang dimaksud oleh Paulus di sini adalah jenis pengenalan yang dituliskan dalam 2 Korintus 4:6—“ terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus.” (lihat Galatia 4:8; 1 Korintus 2:14; 2 Petrus 1:3-4). Itu adalah pengetahuan dan pengenalan akan kebesaran, keagungan, kemuliaaan, anugerah, dan kekuatan Allah. Itu adalah pengenalan akan Allah yang membuat anda takjub dan merendahkan hati anda. Itu adalah pengenalan yang memenangkan dan menjaga anda. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah jenis pengenalan akan Allah yang tidak akan bisa kita peroleh hanya dengan menyanyikan baris reff pujian selama ribuan kali. Pengenalan ini seperti halnya yang dialami oleh Lidia ketika Allah membuka mata hatinya. Pada suatu titik, anda akan merasa dilimpahi oleh semua itu, dan tiba-tiba ada keinginan untuk memperoleh lebih dari itu. Itu adalah pengenalan yang kita sebut dengan iman—kepastian akan hal-hal yang kita harapkan, dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengenalan itu sungguh nyata, sangat berharga, dan sangat dapat memuaskan jiwa anda, sehingga segala pikiran, sikap, emosi, dan ketergantungan yang dapat mengancam pemahaman (pengenalan) kita terhadap Allah, akan dilawan dengan seluruh kekuatan spiritual yang ada. Ini adalah perjuangan iman yang membara dalam jiwa seseorang yang mengasihi Allah ketika nafsu mulai menggoda pikirannya untuk mengabaikan Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Orang yang Suci Hatinya akan Melihat Allah''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya akan menutup pembicaraan ini dengan sebuah ilustrasi dari sebuah artikel dalam Leadership (1982). Artikel itu tidak menunjukkan identitas penulis dengan jelas, tapi ditulis oleh seorang pengkotbah yang terikat dengan nafsu selama 10 tahun. Ia menceritakan kisah bagaimana akhirnya ia bisa terbebas dari hal itu. Saya akan menuliskan apa yang terdapat dalam paragraf kunci berikut ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia membaca buku karya Francois Mauriac, ''What I Believe ''(Apa yang Saya Yakini). Di dalamnya, Mauriac mengakui bagaimana rasa bersalah tidak cukup mampu untuk membebaskan dia dari nafsu. Dia menyimpulkan bahwa ada satu alasan kuat untuk hidup dalam kekudusan, yaitu hal yang Kristus katakan dalam Ucapan bahagia: “ Berbahagialah mereka yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.” &lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;Pemikiran tersebut menyadarkan saya seperti suara bel yang berdentang keras di lorong yang sunyi. Sejauh ini, tidak ada satupun hal menakutkan dan pendapat-pendapat negatif yang menentang nafsu mampu menyadarkan saya untuk berhenti... Namun inilah penjelasan yang memberitahukan pada saya mengenai hal apa yang akan terhilang dari saya apabila saya terus melayani nafsu saya: Saya membatasi keintiman pribadi saya dengan Allah. Kasih yang Ia berikan begitu besar sehingga kita butuh untuk disucikan dan dibersihkan sebelum kita bisa menampungnya. Mampukah Ia, mengantikan kehausan dan kelaparan yang tidak pernah mampu memuaskan saya? Apakah Air Hidup itu mampu memuaskan nafsu saya? Hal ini adalah pertaruhan iman. (Hal. 43-44). &amp;lt;/blockquote&amp;gt; &lt;br /&gt;
Itu bukan suatu taruhan. Kita tidak akan pernah kalah kalau kita beralih pada Allah. Ia menyadari hal ini dalam hidupnya sendiri, dan pelajaran yang ia terima sangat tepat: &lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;Cara untuk melawan nafsu adalah dengan memberi makan iman kita dengan pengetahuan dan pengenalan akan Allah yang Mulia. &amp;lt;/blockquote&amp;gt; &lt;br /&gt;
Apakah anda sudah mengenal Allah pada pagi ini? Apakah anda bertumbuh dari minggu ke minggu akan pengenalan akan kebesaran Allah? Apakah anda merenungkan FirmanNya siang dan malam? Dapatkan anda melihat gambaran AnakNya di dalam Injil? Apakah anda sudah membaca Alkitab untuk mengenal karakter dan jalan-jalanNya? Mampukah anda melihat segala hal di dalam hari anda sebagai ciptaanNya? Sudahkah anda meminta kepada Allah untuk memberikan hati yang peka untuk melihat kebesaran namaNya? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya mengajak anda untuk membuat komitmen sekarang, demi kepentingan jiwa anda sendiri, dan untuk kemuliaan Allah.&amp;lt;br&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Susanlim</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/Battling_the_Unbelief_of_Lust/id</id>
		<title>Battling the Unbelief of Lust/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/Battling_the_Unbelief_of_Lust/id"/>
				<updated>2008-11-05T15:43:51Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Susanlim: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&amp;amp;nbsp;{{info|Berperang Melawan Nafsu}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Berperang Melawan Nafsu''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''1 Tesalonika 4: 1-8''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; '''Definisi Nafsu Menurut Alkitab''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mari memulai dengan arti nafsu menurut Alkitab. Nafsu adalah hasrat atau keinginan seksual yang disertai kecenderungan untuk tidak menghormati objek seksualnya, serta mengabaikan Allah. Mari saya tunjukkan di mana definisi itu saya dapatkan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Perbandingan Antar Terjemahan''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayat 4 dalam Alkitab versi RSV (Revised Standard Version), dialamatkan pada para lelaki di Tesalonika, dan menyatakan bahwa hendaklah setiap mereka mengetahui bagaimana caranya mengambil istri untuk dirinya sendiri dalam kekudusan dan penghormatan, bukan dalam hasrat dan nafsu yang dimiliki oleh mereka yang tidak mengenal Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi Alkitab versi NIV (New International Version) menyatakan, hendaklah setiap orang belajar mengendalikan tubuhnya sendiri, dalam cara yang kudus dan penuh penghormatan, bukan dengan nafsu, seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alkitab versi NASB (New American Standard Version) menyatakan hendaklah setiap orang mengetahui bagaimana mengendalikan bejananya sendiri dalam kekudusan dan penghormatan, bukan dengan nafsu, seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah. Menurut saya, Alkitab versi RSV lebih jelas menangkap arti dari nafsu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Kajian: 1) pararel dalam 1 Korintus 7:2; 2) arti dari ''ktasthai'' adalah secara menyeluruh “mengambil” atau “mendapatkan”, bukan “mengontrol” atau “memiliki”; “bejana” dalam hubungannya dengan “penghormatan” dalam 1 Petrus 2:7, dialamatkan pada istri; 4) heautou- “miliknya”- cenderung lebih empatik dan lebih cocok untuk tunangan atau istri daripada tubuh; 5) versi NIV dan NASB tidak masuk di akal, karena mereka menyatakan “belajar mengontrol tubuhmu... bukan dengan nafsu.” Anda bisa memilih seorang wanita dengan nafsu, tapi anda tidak bisa mengontrol tubuh anda dengan nafsu.] &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun daripada beragumen lebih lanjut mengenai hal itu, saya pikir saya dapat menunjukkan arti nafsu di sini dari seluruh terjemahan di atas. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Kebalikan Dari Kekudusan dan Penghormatan''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perhatikan bahwa ayat 4 dan 5 menyatakan bahwa kita harus melakukan suatu hal dalam satu cara khusus, dan bukan cara yang lain. Ambilah seorang istri (atau kendalikan tubuh/bejana mu) “dalam kekudusan dan penghormatan, BUKAN dengan nafsu.” Jadi nafsu adalah kebalikan dari kekudusan dan penghormatan. Dari sanalah saya mendapat definisi dari nafsu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keinginan seksual itu sendiri adalah suatu hal yang baik. Allah menciptakan itu sejak awal. Ada porsi dan tempat yang khusus dan sesuai untuk hal itu. Tapi hal itu diciptakan untuk diatur dan dikendalikan oleh 2 hal: penghormatan pada orang lain, dan kekudusan di hadapan Allah. Nafsu adalah bentuk dari keinginan seksual ketika tidak ada 2 hal tersebut di dalamnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Nafsu: Tidak Menghormati Objeknya''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ambil contoh mengenai penghormatan, misalnya. Allah menciptakan sebuah hubungan yang disebut dengan pernikahan. Di dalamnya, seorang laki-laki dan perempuan membuat perjanjian seumur hidup untuk saling menghormati satu sama lain dengan kesetiaan dan kasih. Keinginan seksual menjadi hamba dan bumbu penyedap dalam ikatan antar suami istri yang diikat oleh rasa saling menghormati. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh sebab itu, untuk mengatakan pada orang lain, aku mau kamu memuaskan keinginan seksualku, tapi aku tidak menghendaki kamu sebagai partner yang diikat dalam pernikahan, pada dasarnya berarti: Aku mau memakai tubuhmu untuk kepuasan seksualku, tapi aku tidak menghendaki kamu secara keseluruhan, sebagai seorang pribadi. Hal itu adalah perbuatan yang tidak menghormati seseorang, dan oleh karenanya, termasuk dalam kategori nafsu. Nafsu adalah keinginan seksual tanpa disertai adanya komitmen untuk menghormati orang lain. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Nafsu: Mengabaikan Allah''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi bukan hanya itu saja. Dalam Alkitab dikatakan: ambilah seorang istri (atau kendalikanlah tubuh/ bejana mu) “dalam kekudusan.. bukan dengan nafsu”. Kekudusan berkaitan dengan Allah – yaitu sesuatu yang diperuntukkan bagi Tuhan. Jadi ayat 5 berkata seperti ini: “Jangan dengan nafsu seperti mereka yang tidak mengenal Allah.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengenal Allah dan berkelakuan seperti seseorang yang mengenal Allah dapat menjaga kecenderungan keinginan seksual untuk beralih menjadi nafsu. Lihatlah pada ayat 8: “Karena itu siapa yang menolak ini bukanlah menolak manusia, melainkan menolak Allah yang telah memberikan juga Roh-Nya yang kudus kepada kamu.” Masalah mendasar dalam hal nafsu adalah sikap penghormatan kepada Allah. Kekudusan berarti hidup dalam penghormatan penuh pada Allah yang suci. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nafsu, adalah kebalikannya. Nafsu adalah keinginan seksual yang tidak diatur atau dikendalikan atau diarahkan dalam kerangka penghormatan terhadap Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah menciptakan seksualitas seseorang. Ia menciptakannya sebagai suatu hal yang baik dan indah. Ia menciptakannya demi kebaikan ciptaanNya. Hanya Dialah yang mempunyai hikmat dan hak untuk menunjukkan kepada kita bagaimana menggunakannya untuk kemuliaanNya dan untuk kebaikan kita sendiri. Nafsu adalah apa yang akan terjadi juga keinginan seksual tidak kita kendalikan dalam rangka penghormatan kepada Allah, sehingga kita menjadi cenderung mengabaikan Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesimpulannya, nafsu adalah hasrat atau keinginan seksual yang disertai kecenderungan untuk tidak menghormati objek seksualnya, serta mengabaikan Allah. Ini adalah penyimpangan dari suatu hal yang seharusnya baik, dengan cara mengabaikan komitmen yang kudus, dan penghormatan tertinggi kepada Allah. Apabila keinginan seksual anda tidak dikendalikan dalam kerangka penghargaan atau penghormatan kepada orang lain dan Allah, itu adalah nafsu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Merenungkan Bahaya dari Nafsu''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah definisi dari nafsu. Jadi, masalah selanjutnya adalah, LALU KENAPA? Mengapa itu penting? Hal itu kan bukan dosa, apalagi kalau itu cuma berupa keinginan dan bukan tindakan, alias, dosa kecil kan? Apa tidak ada topik bahasan lain yang lebih penting dibahas, seperti masalah senjata nuklir dan keadilan sosial? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya kira setidaknya anda cukup familiar mendengar perkataan di atas keluar dari mulut beberapa orang, bukan? Mereka menyatakan, sikap dan perilaku seksual adalah suatu hal kecil yang relatif tidak perlu diperhatikan, dari kehidupan seseorang. Adapun hal yang penting adalah apakah anda misalnya memboikot sebuah perusahaan di Afrika Selatan dan menentang sistem pertahanan Star Wars. Melihat-lihat majalah Playboy itu kan tidak terlalu penting atau tidak masalah kalau kita melakukannya ketika kita sedang dalam perjalanan menuju diskusi perdamaian di Genewa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inilah cara penalaran orang-orang religius ketika mereka sedang menghindari pentingnya memberikan penghormatan tertinggi kepada Allah. Tapi bukan itu yang dikatakan oleh Allah. Apa sih pentingnya kehidupan seksual seseorang di mata Allah? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayat 6 menyatakan, “dan supaya dalam hal-hal ini orang jangan memperlakukan saudaranya dengan tidak baik atau memperdayakannya. Karena Tuhan adalah pembalas dari semuanya ini, seperti yang telah kami katakan dan tegaskan dahulu kepadamu.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini berarti konsekuensi atau akibat-akibat yang ditimbulkan oleh nafsu akan lebih buruk dari akibat-akibat yang ditimbulkan oleh perang nuklir. Adapun yang bisa dibinasakan oleh suatu perang nuklir hanyalah tubuh yang fana. Dan Yesus berkata, “Janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Aku akan menunjukkan kepada kamu siapakah yang harus kamu takuti. Takutilah Dia, yang setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, takutilah Dia!” (Lukas 12:4-5). Dengan perkataan lain, pembalasan dari Tuhan itu lebih menakutkan daripada pembinasaan yang bisa terjadi di bumi ini. Dan menurut 1 Tesalonika 4:6, pembalasan dari Allah akan turun atas mereka yang tidak mempedulikan peringatan yang berkaitan dengan nafsu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Nafsu dan Konsekuensi Kekalnya''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bulan September ini saya berbicara di organisasi siswa di SMA Kristen Wheaton. Saya mengambil topik, “Sepuluh Cara untuk Memerangi Nafsu”. Metode keenam adalah, “Merenungkan akibat kekal dari nafsu.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber dari pernyataan saya pada poin itu adalah Matius 5:28-29, ketika Yesus mengatakan, “Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. “ Saya menunjuk pada perkataan Yesus bahwa masalah surga dan neraka adalah hal yang dipertaruhkan (menjadi konsekuensi) dalam segala tindakan yang dilakukan oleh penglihatan dan pikiran-pikiran yang ada di dalam imaginasi kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada akhir pertemuan, salah satu siswa datang kepada saya dan bertanya, “Maksud anda, kita bisa kehilangan keselamatan kita?” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah respon yang sama seperti yang saya dapat beberapa tahun lalu ketika saya menegur seorang laki-laki dengan keras berkaitan dengan perzinahan yang dia lakukan pada saat itu. Saya mencoba untuk memahami situasi yang dihadapi olehnya, dan saya memohon dengan amat sangat supaya dia mau kembali pada istrinya. Lalu saya berkata, “Kamu tahu kalau Yesus berkata apabila kamu tidak melawan dosa ini dengan sangat serius sehingga seakan-akan kamu rela untuk mencungkil matamu sendiri, kamu bisa berakhir di neraka dan tersiksa di sana selama-lamanya.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia melihat kepada saya dengan ketidakpercayaan, seakan-akan dia belum pernah mendengar hal ini sebelumnya, dan berkata, “Maksud anda seseorang bisa kehilangan keselamatannya?” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi sekali lagi saya belajar dan terus belajar dari pengalaman pertama yang saya dapatkan secara langsung bahwa banyak orang Kristen yang menganggap keselamatan itu tidak berkaitan dengan kehidupan nyata, dan bahwa itu berarti pengabaian terhadap peringatan-peringatan yang terdapat dalam Alkitab, sehingga cenderung menempatkan orang berdosa yang mengaku dirinya seorang Kristen jauh dari jangkauan ancaman atau peringatan-peringatan yang ada di dalam Alkitab. Dan doktrin ini cenderung menenangkan ribuan orang, yang saat ini sedang berjalan menuju neraka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yesus berkata, kalau kamu tidak melawan nafsu, kamu tidak akan masuk ke surga. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal-hal yang dipertaruhkan di sini jauh lebih tinggi apabila dibandingkan dengan jika seluruh dunia diledakkan oleh ribuan bom. Kalau anda tidak melawan nafsu, anda tidak akan masuk ke surga (1 Petrus 2:11; Kolose 3:6; Galatia 5:21; 1 Korintus 6:10; Ibrani 12:14). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Iman yang Mengalahkan Nafsu''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukankah kita semua sudah diselamatkan oleh iman- dengan percaya pada Yesus Kristus? Hal itu memang benar! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka yang berpegang teguh pada iman mereka akan diselamatkan (Matius 24:13; 10:22; 1 Korintus 15:3; Kolose 1:23; 2 Tesalonika 2:13). Bagaimana caranye untuk mempertahankan kehidupan kekal itu? Paulus memberikan jawaban dalam 1 Timotius 6:12—“Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal itu menuntun kita pada fokus kita pagi ini – untuk menunjukkan bahwa perjuangan melawan nafsu dan menuju kekudusan seksual adalah suatu pertandingan iman. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Mispersepsi Terbesar yang Harus Dimusnahkan''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mispersepsi terbesar yang hendak saya musnahkan kali ini adalah kesalahan yang menyatakan, bahwa iman kepada Allah dan perjuangan untuk mencapai kekudusan adalah dua hal yang berbeda. Iman mengantarkan anda ke surga dan kekudusan hidup akan membuat kita mendapatkan upah. Kita dibernarkan oleh iman, dan kita menyucikan diri kita lewat usaha-usaha yang kita lakukan. Anda memulai kehidupan kristiani anda dengan kuasa Roh Kudus, namun anda melakukannya dengan kekuatan daging anda. Ini adalah pesan penginjilan yang salah pada hari-hari ini. Perjuangan untuk menaati perintah Allah adalah suatu pilihan, kata mereka, karena hanya iman saja yang dibutuhkan untuk memperoleh keselamatan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sikap kita: perjuangan untuk menaati perintah Allah adalah suatu hal yang mutlak dibutuhkan dalam kerangka keselamatan, karena itu ADALAH pertandingan iman. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Injil yang Lebih Hebat''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya harap anda dapat melihat bahwa hal ini adalah suatu kabar Injil yang lebih hebat dari kabar lainnya. Ini adalah kabar Injil mengenai kemenangan Allah atas dosa, bukan sekedar toleransiNya terhadap dosa. Ini adalah Injil yang diberitakan dalam Roma 6:14: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia.” &lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;Dia mematahkan kuasa dosa Dia membebaskan para tawanan DarahNya bisa menyucikan kita DarahNya disediakan bagi kita. &amp;lt;/blockquote&amp;gt; &lt;br /&gt;
Berbahagialah mereka yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Ini adalah perintah dan anugerah dari Allah. Semua hanya karena anugerah semata. Karena itulah satu-satunya pertandingan yang kita lakukan adalah pertandingan iman – pertandingan untuk menyandarkan diri sepenuhnya pada anugerah Allah—untuk sangat dipuaskan oleh kemuliaan Allah—bahwa godaan untuk berbuat dosa kehilangan kuasa atas kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertandingan atau perjuangan melawan nafsu adalah perjuangan melawan ketidakpercayaan, ketidak-berimanan. Ayat yang penting di sini adalah ayat ke 5 dan 8. Kita hanya punya waktu untuk melihat ayat ke 5. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Pengetahuan Akan Allah''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam ayat ke 5, Paulus mengatakan, “...bukan di dalam keinginan hawa nafsu, seperti yang dibuat oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah, “ Dapatkah anda melihat hal apa yang tersirat mengenai akar dari nafsu? Ketidak tahuan mengenai Allah adalah akar dari nafsu. Ambillah seorang istri (atau: kuasailah tubuhmu) bukan dengan nafsu karena itu adalah hal yang dilakukan oleh mereka yang tidak mengenal Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Paulus tidak bermaksud bahwa pengenalan akan Allah semata-mata akan mampu memerangi nafsu. Dalam Markus 1:24, Yesus hendak mengusir setan yang ada di dalam seorang laki-laki ketika roh kenajisan berseru kepadaNya, “Aku tahu siapa Engkau: Yang kudus dari Allah!” Dengan perkataan lain, setan dan kawan-kawannya mempunyai pengetahuan yang akurat mengenai Allah dan Yesus, tapi, bukan itu maksud pengenalan (pengetahuan) akan Allah yang dimaksud oleh Paulus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengenalan (pengetahuan) akan Allah yang dimaksud oleh Paulus di sini adalah jenis pengenalan yang dituliskan dalam 2 Korintus 4:6—“ terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus.” (lihat Galatia 4:8; 1 Korintus 2:14; 2 Petrus 1:3-4). Itu adalah pengetahuan dan pengenalan akan kebesaran, keagungan, kemuliaaan, anugerah, dan kekuatan Allah. Itu adalah pengenalan akan Allah yang membuat anda takjub dan merendahkan hati anda. Itu adalah pengenalan yang memenangkan dan menjaga anda. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah jenis pengenalan akan Allah yang tidak akan bisa kita peroleh hanya dengan menyanyikan baris reff pujian selama ribuan kali. Pengenalan ini seperti halnya yang dialami oleh Lidia ketika Allah membuka mata hatinya. Pada suatu titik, anda akan merasa dilimpahi oleh semua itu, dan tiba-tiba ada keinginan untuk memperoleh lebih dari itu. Itu adalah pengenalan yang kita sebut dengan iman—kepastian akan hal-hal yang kita harapkan, dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengenalan itu sungguh nyata, sangat berharga, dan sangat dapat memuaskan jiwa anda, sehingga segala pikiran, sikap, emosi, dan ketergantungan yang dapat mengancam pemahaman (pengenalan) kita terhadap Allah, akan dilawan dengan seluruh kekuatan spiritual yang ada. Ini adalah perjuangan iman yang membara dalam jiwa seseorang yang mengasihi Allah ketika nafsu mulai menggoda pikirannya untuk mengabaikan Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Orang yang Suci Hatinya akan Melihat Allah''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya akan menutup pembicaraan ini dengan sebuah ilustrasi dari sebuah artikel dalam Leadership (1982). Artikel itu tidak menunjukkan identitas penulis dengan jelas, tapi ditulis oleh seorang pengkotbah yang terikat dengan nafsu selama 10 tahun. Ia menceritakan kisah bagaimana akhirnya ia bisa terbebas dari hal itu. Saya akan menuliskan apa yang terdapat dalam paragraf kunci berikut ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia membaca buku karya Francois Mauriac, ''What I Believe ''(Apa yang Saya Yakini). Di dalamnya, Mauriac mengakui bagaimana rasa bersalah tidak cukup mampu untuk membebaskan dia dari nafsu. Dia menyimpulkan bahwa ada satu alasan kuat untuk hidup dalam kekudusan, yaitu hal yang Kristus katakan dalam Ucapan bahagia: “ Berbahagialah mereka yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.” &lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;Pemikiran tersebut menyadarkan saya seperti suara bel yang berdentang keras di lorong yang sunyi. Sejauh ini, tidak ada satupun hal menakutkan dan pendapat-pendapat negatif yang menentang nafsu mampu menyadarkan saya untuk berhenti... Namun inilah penjelasan yang memberitahukan pada saya mengenai hal apa yang akan terhilang dari saya apabila saya terus melayani nafsu saya: Saya membatasi keintiman pribadi saya dengan Allah. Kasih yang Ia berikan begitu besar sehingga kita butuh untuk disucikan dan dibersihkan sebelum kita bisa menampungnya. Mampukah Ia, mengantikan kehausan dan kelaparan yang tidak pernah mampu memuaskan saya? Apakah Air Hidup itu mampu memuaskan nafsu saya? Hal ini adalah pertaruhan iman. (Hal. 43-44). &amp;lt;/blockquote&amp;gt; &lt;br /&gt;
Itu bukan suatu taruhan. Kita tidak akan pernah kalah kalau kita beralih pada Allah. Ia menyadari hal ini dalam hidupnya sendiri, dan pelajaran yang ia terima sangat tepat: &lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;&lt;br /&gt;
Cara untuk melawan nafsu adalah dengan memberi makan iman kita dengan pengetahuan dan pengenalan akan Allah yang Mulia.&lt;br /&gt;
&amp;lt;/blockquote&amp;gt;&lt;br /&gt;
Apakah anda sudah mengenal Allah pada pagi ini? Apakah anda bertumbuh dari minggu ke minggu akan pengenalan akan kebesaran Allah? Apakah anda merenungkan FirmanNya siang dan malam? Dapatkan anda melihat gambaran AnakNya di dalam Injil? Apakah anda sudah membaca Alkitab untuk mengenal karakter dan jalan-jalanNya? Mampukah anda melihat segala hal di dalam hari anda sebagai ciptaanNya? Sudahkah anda meminta kepada Allah untuk memberikan hati yang peka untuk melihat kebesaran namaNya? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya mengajak anda untuk membuat komitmen sekarang, demi kepentingan jiwa anda sendiri, dan untuk kemuliaan Allah.&amp;lt;br&amp;gt;&amp;lt;br&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Susanlim</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/Battling_the_Unbelief_of_Lust/id</id>
		<title>Battling the Unbelief of Lust/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/Battling_the_Unbelief_of_Lust/id"/>
				<updated>2008-11-05T15:42:54Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Susanlim: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&amp;amp;nbsp;{{info|Berperang Melawan Nafsu}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Berperang Melawan Nafsu''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''1 Tesalonika 4: 1-8''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; '''Definisi Nafsu Menurut Alkitab''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mari memulai dengan arti nafsu menurut Alkitab. Nafsu adalah hasrat atau keinginan seksual yang disertai kecenderungan untuk tidak menghormati objek seksualnya, serta mengabaikan Allah. Mari saya tunjukkan di mana definisi itu saya dapatkan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Perbandingan Antar Terjemahan''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayat 4 dalam Alkitab versi RSV (Revised Standard Version), dialamatkan pada para lelaki di Tesalonika, dan menyatakan bahwa hendaklah setiap mereka mengetahui bagaimana caranya mengambil istri untuk dirinya sendiri dalam kekudusan dan penghormatan, bukan dalam hasrat dan nafsu yang dimiliki oleh mereka yang tidak mengenal Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi Alkitab versi NIV (New International Version) menyatakan, hendaklah setiap orang belajar mengendalikan tubuhnya sendiri, dalam cara yang kudus dan penuh penghormatan, bukan dengan nafsu, seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alkitab versi NASB (New American Standard Version) menyatakan hendaklah setiap orang mengetahui bagaimana mengendalikan bejananya sendiri dalam kekudusan dan penghormatan, bukan dengan nafsu, seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah. Menurut saya, Alkitab versi RSV lebih jelas menangkap arti dari nafsu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Kajian: 1) pararel dalam 1 Korintus 7:2; 2) arti dari ''ktasthai'' adalah secara menyeluruh “mengambil” atau “mendapatkan”, bukan “mengontrol” atau “memiliki”; “bejana” dalam hubungannya dengan “penghormatan” dalam 1 Petrus 2:7, dialamatkan pada istri; 4) heautou- “miliknya”- cenderung lebih empatik dan lebih cocok untuk tunangan atau istri daripada tubuh; 5) versi NIV dan NASB tidak masuk di akal, karena mereka menyatakan “belajar mengontrol tubuhmu... bukan dengan nafsu.” Anda bisa memilih seorang wanita dengan nafsu, tapi anda tidak bisa mengontrol tubuh anda dengan nafsu.] &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun daripada beragumen lebih lanjut mengenai hal itu, saya pikir saya dapat menunjukkan arti nafsu di sini dari seluruh terjemahan di atas. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Kebalikan Dari Kekudusan dan Penghormatan''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perhatikan bahwa ayat 4 dan 5 menyatakan bahwa kita harus melakukan suatu hal dalam satu cara khusus, dan bukan cara yang lain. Ambilah seorang istri (atau kendalikan tubuh/bejana mu) “dalam kekudusan dan penghormatan, BUKAN dengan nafsu.” Jadi nafsu adalah kebalikan dari kekudusan dan penghormatan. Dari sanalah saya mendapat definisi dari nafsu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keinginan seksual itu sendiri adalah suatu hal yang baik. Allah menciptakan itu sejak awal. Ada porsi dan tempat yang khusus dan sesuai untuk hal itu. Tapi hal itu diciptakan untuk diatur dan dikendalikan oleh 2 hal: penghormatan pada orang lain, dan kekudusan di hadapan Allah. Nafsu adalah bentuk dari keinginan seksual ketika tidak ada 2 hal tersebut di dalamnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Nafsu: Tidak Menghormati Objeknya''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ambil contoh mengenai penghormatan, misalnya. Allah menciptakan sebuah hubungan yang disebut dengan pernikahan. Di dalamnya, seorang laki-laki dan perempuan membuat perjanjian seumur hidup untuk saling menghormati satu sama lain dengan kesetiaan dan kasih. Keinginan seksual menjadi hamba dan bumbu penyedap dalam ikatan antar suami istri yang diikat oleh rasa saling menghormati. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh sebab itu, untuk mengatakan pada orang lain, aku mau kamu memuaskan keinginan seksualku, tapi aku tidak menghendaki kamu sebagai partner yang diikat dalam pernikahan, pada dasarnya berarti: Aku mau memakai tubuhmu untuk kepuasan seksualku, tapi aku tidak menghendaki kamu secara keseluruhan, sebagai seorang pribadi. Hal itu adalah perbuatan yang tidak menghormati seseorang, dan oleh karenanya, termasuk dalam kategori nafsu. Nafsu adalah keinginan seksual tanpa disertai adanya komitmen untuk menghormati orang lain. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Nafsu: Mengabaikan Allah''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi bukan hanya itu saja. Dalam Alkitab dikatakan: ambilah seorang istri (atau kendalikanlah tubuh/ bejana mu) “dalam kekudusan.. bukan dengan nafsu”. Kekudusan berkaitan dengan Allah – yaitu sesuatu yang diperuntukkan bagi Tuhan. Jadi ayat 5 berkata seperti ini: “Jangan dengan nafsu seperti mereka yang tidak mengenal Allah.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengenal Allah dan berkelakuan seperti seseorang yang mengenal Allah dapat menjaga kecenderungan keinginan seksual untuk beralih menjadi nafsu. Lihatlah pada ayat 8: “Karena itu siapa yang menolak ini bukanlah menolak manusia, melainkan menolak Allah yang telah memberikan juga Roh-Nya yang kudus kepada kamu.” Masalah mendasar dalam hal nafsu adalah sikap penghormatan kepada Allah. Kekudusan berarti hidup dalam penghormatan penuh pada Allah yang suci. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nafsu, adalah kebalikannya. Nafsu adalah keinginan seksual yang tidak diatur atau dikendalikan atau diarahkan dalam kerangka penghormatan terhadap Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah menciptakan seksualitas seseorang. Ia menciptakannya sebagai suatu hal yang baik dan indah. Ia menciptakannya demi kebaikan ciptaanNya. Hanya Dialah yang mempunyai hikmat dan hak untuk menunjukkan kepada kita bagaimana menggunakannya untuk kemuliaanNya dan untuk kebaikan kita sendiri. Nafsu adalah apa yang akan terjadi juga keinginan seksual tidak kita kendalikan dalam rangka penghormatan kepada Allah, sehingga kita menjadi cenderung mengabaikan Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesimpulannya, nafsu adalah hasrat atau keinginan seksual yang disertai kecenderungan untuk tidak menghormati objek seksualnya, serta mengabaikan Allah. Ini adalah penyimpangan dari suatu hal yang seharusnya baik, dengan cara mengabaikan komitmen yang kudus, dan penghormatan tertinggi kepada Allah. Apabila keinginan seksual anda tidak dikendalikan dalam kerangka penghargaan atau penghormatan kepada orang lain dan Allah, itu adalah nafsu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Merenungkan Bahaya dari Nafsu''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah definisi dari nafsu. Jadi, masalah selanjutnya adalah, LALU KENAPA? Mengapa itu penting? Hal itu kan bukan dosa, apalagi kalau itu cuma berupa keinginan dan bukan tindakan, alias, dosa kecil kan? Apa tidak ada topik bahasan lain yang lebih penting dibahas, seperti masalah senjata nuklir dan keadilan sosial? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya kira setidaknya anda cukup familiar mendengar perkataan di atas keluar dari mulut beberapa orang, bukan? Mereka menyatakan, sikap dan perilaku seksual adalah suatu hal kecil yang relatif tidak perlu diperhatikan, dari kehidupan seseorang. Adapun hal yang penting adalah apakah anda misalnya memboikot sebuah perusahaan di Afrika Selatan dan menentang sistem pertahanan Star Wars. Melihat-lihat majalah Playboy itu kan tidak terlalu penting atau tidak masalah kalau kita melakukannya ketika kita sedang dalam perjalanan menuju diskusi perdamaian di Genewa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inilah cara penalaran orang-orang religius ketika mereka sedang menghindari pentingnya memberikan penghormatan tertinggi kepada Allah. Tapi bukan itu yang dikatakan oleh Allah. Apa sih pentingnya kehidupan seksual seseorang di mata Allah? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayat 6 menyatakan, “dan supaya dalam hal-hal ini orang jangan memperlakukan saudaranya dengan tidak baik atau memperdayakannya. Karena Tuhan adalah pembalas dari semuanya ini, seperti yang telah kami katakan dan tegaskan dahulu kepadamu.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini berarti konsekuensi atau akibat-akibat yang ditimbulkan oleh nafsu akan lebih buruk dari akibat-akibat yang ditimbulkan oleh perang nuklir. Adapun yang bisa dibinasakan oleh suatu perang nuklir hanyalah tubuh yang fana. Dan Yesus berkata, “Janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Aku akan menunjukkan kepada kamu siapakah yang harus kamu takuti. Takutilah Dia, yang setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, takutilah Dia!” (Lukas 12:4-5). Dengan perkataan lain, pembalasan dari Tuhan itu lebih menakutkan daripada pembinasaan yang bisa terjadi di bumi ini. Dan menurut 1 Tesalonika 4:6, pembalasan dari Allah akan turun atas mereka yang tidak mempedulikan peringatan yang berkaitan dengan nafsu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Nafsu dan Konsekuensi Kekalnya''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bulan September ini saya berbicara di organisasi siswa di SMA Kristen Wheaton. Saya mengambil topik, “Sepuluh Cara untuk Memerangi Nafsu”. Metode keenam adalah, “Merenungkan akibat kekal dari nafsu.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber dari pernyataan saya pada poin itu adalah Matius 5:28-29, ketika Yesus mengatakan, “Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. “ Saya menunjuk pada perkataan Yesus bahwa masalah surga dan neraka adalah hal yang dipertaruhkan (menjadi konsekuensi) dalam segala tindakan yang dilakukan oleh penglihatan dan pikiran-pikiran yang ada di dalam imaginasi kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada akhir pertemuan, salah satu siswa datang kepada saya dan bertanya, “Maksud anda, kita bisa kehilangan keselamatan kita?” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah respon yang sama seperti yang saya dapat beberapa tahun lalu ketika saya menegur seorang laki-laki dengan keras berkaitan dengan perzinahan yang dia lakukan pada saat itu. Saya mencoba untuk memahami situasi yang dihadapi olehnya, dan saya memohon dengan amat sangat supaya dia mau kembali pada istrinya. Lalu saya berkata, “Kamu tahu kalau Yesus berkata apabila kamu tidak melawan dosa ini dengan sangat serius sehingga seakan-akan kamu rela untuk mencungkil matamu sendiri, kamu bisa berakhir di neraka dan tersiksa di sana selama-lamanya.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia melihat kepada saya dengan ketidakpercayaan, seakan-akan dia belum pernah mendengar hal ini sebelumnya, dan berkata, “Maksud anda seseorang bisa kehilangan keselamatannya?” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi sekali lagi saya belajar dan terus belajar dari pengalaman pertama yang saya dapatkan secara langsung bahwa banyak orang Kristen yang menganggap keselamatan itu tidak berkaitan dengan kehidupan nyata, dan bahwa itu berarti pengabaian terhadap peringatan-peringatan yang terdapat dalam Alkitab, sehingga cenderung menempatkan orang berdosa yang mengaku dirinya seorang Kristen jauh dari jangkauan ancaman atau peringatan-peringatan yang ada di dalam Alkitab. Dan doktrin ini cenderung menenangkan ribuan orang, yang saat ini sedang berjalan menuju neraka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yesus berkata, kalau kamu tidak melawan nafsu, kamu tidak akan masuk ke surga. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal-hal yang dipertaruhkan di sini jauh lebih tinggi apabila dibandingkan dengan jika seluruh dunia diledakkan oleh ribuan bom. Kalau anda tidak melawan nafsu, anda tidak akan masuk ke surga (1 Petrus 2:11; Kolose 3:6; Galatia 5:21; 1 Korintus 6:10; Ibrani 12:14). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Iman yang Mengalahkan Nafsu''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukankah kita semua sudah diselamatkan oleh iman- dengan percaya pada Yesus Kristus? Hal itu memang benar! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka yang berpegang teguh pada iman mereka akan diselamatkan (Matius 24:13; 10:22; 1 Korintus 15:3; Kolose 1:23; 2 Tesalonika 2:13). Bagaimana caranye untuk mempertahankan kehidupan kekal itu? Paulus memberikan jawaban dalam 1 Timotius 6:12—“Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal itu menuntun kita pada fokus kita pagi ini – untuk menunjukkan bahwa perjuangan melawan nafsu dan menuju kekudusan seksual adalah suatu pertandingan iman. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Mispersepsi Terbesar yang Harus Dimusnahkan''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mispersepsi terbesar yang hendak saya musnahkan kali ini adalah kesalahan yang menyatakan, bahwa iman kepada Allah dan perjuangan untuk mencapai kekudusan adalah dua hal yang berbeda. Iman mengantarkan anda ke surga dan kekudusan hidup akan membuat kita mendapatkan upah. Kita dibernarkan oleh iman, dan kita menyucikan diri kita lewat usaha-usaha yang kita lakukan. Anda memulai kehidupan kristiani anda dengan kuasa Roh Kudus, namun anda melakukannya dengan kekuatan daging anda. Ini adalah pesan penginjilan yang salah pada hari-hari ini. Perjuangan untuk menaati perintah Allah adalah suatu pilihan, kata mereka, karena hanya iman saja yang dibutuhkan untuk memperoleh keselamatan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sikap kita: perjuangan untuk menaati perintah Allah adalah suatu hal yang mutlak dibutuhkan dalam kerangka keselamatan, karena itu ADALAH pertandingan iman. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Injil yang Lebih Hebat''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya harap anda dapat melihat bahwa hal ini adalah suatu kabar Injil yang lebih hebat dari kabar lainnya. Ini adalah kabar Injil mengenai kemenangan Allah atas dosa, bukan sekedar toleransiNya terhadap dosa. Ini adalah Injil yang diberitakan dalam Roma 6:14: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia.” &lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;Dia mematahkan kuasa dosa Dia membebaskan para tawanan DarahNya bisa menyucikan kita DarahNya disediakan bagi kita. &amp;lt;/blockquote&amp;gt; &lt;br /&gt;
Berbahagialah mereka yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Ini adalah perintah dan anugerah dari Allah. Semua hanya karena anugerah semata. Karena itulah satu-satunya pertandingan yang kita lakukan adalah pertandingan iman – pertandingan untuk menyandarkan diri sepenuhnya pada anugerah Allah—untuk sangat dipuaskan oleh kemuliaan Allah—bahwa godaan untuk berbuat dosa kehilangan kuasa atas kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertandingan atau perjuangan melawan nafsu adalah perjuangan melawan ketidakpercayaan, ketidak-berimanan. Ayat yang penting di sini adalah ayat ke 5 dan 8. Kita hanya punya waktu untuk melihat ayat ke 5. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Pengetahuan Akan Allah''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam ayat ke 5, Paulus mengatakan, “...bukan di dalam keinginan hawa nafsu, seperti yang dibuat oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah, “ Dapatkah anda melihat hal apa yang tersirat mengenai akar dari nafsu? Ketidak tahuan mengenai Allah adalah akar dari nafsu. Ambillah seorang istri (atau: kuasailah tubuhmu) bukan dengan nafsu karena itu adalah hal yang dilakukan oleh mereka yang tidak mengenal Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Paulus tidak bermaksud bahwa pengenalan akan Allah semata-mata akan mampu memerangi nafsu. Dalam Markus 1:24, Yesus hendak mengusir setan yang ada di dalam seorang laki-laki ketika roh kenajisan berseru kepadaNya, “Aku tahu siapa Engkau: Yang kudus dari Allah!” Dengan perkataan lain, setan dan kawan-kawannya mempunyai pengetahuan yang akurat mengenai Allah dan Yesus, tapi, bukan itu maksud pengenalan (pengetahuan) akan Allah yang dimaksud oleh Paulus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengenalan (pengetahuan) akan Allah yang dimaksud oleh Paulus di sini adalah jenis pengenalan yang dituliskan dalam 2 Korintus 4:6—“ terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus.” (lihat Galatia 4:8; 1 Korintus 2:14; 2 Petrus 1:3-4). Itu adalah pengetahuan dan pengenalan akan kebesaran, keagungan, kemuliaaan, anugerah, dan kekuatan Allah. Itu adalah pengenalan akan Allah yang membuat anda takjub dan merendahkan hati anda. Itu adalah pengenalan yang memenangkan dan menjaga anda. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah jenis pengenalan akan Allah yang tidak akan bisa kita peroleh hanya dengan menyanyikan baris reff pujian selama ribuan kali. Pengenalan ini seperti halnya yang dialami oleh Lidia ketika Allah membuka mata hatinya. Pada suatu titik, anda akan merasa dilimpahi oleh semua itu, dan tiba-tiba ada keinginan untuk memperoleh lebih dari itu. Itu adalah pengenalan yang kita sebut dengan iman—kepastian akan hal-hal yang kita harapkan, dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengenalan itu sungguh nyata, sangat berharga, dan sangat dapat memuaskan jiwa anda, sehingga segala pikiran, sikap, emosi, dan ketergantungan yang dapat mengancam pemahaman (pengenalan) kita terhadap Allah, akan dilawan dengan seluruh kekuatan spiritual yang ada. Ini adalah perjuangan iman yang membara dalam jiwa seseorang yang mengasihi Allah ketika nafsu mulai menggoda pikirannya untuk mengabaikan Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Orang yang Suci Hatinya akan Melihat Allah''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya akan menutup pembicaraan ini dengan sebuah ilustrasi dari sebuah artikel dalam Leadership (1982). Artikel itu tidak menunjukkan identitas penulis dengan jelas, tapi ditulis oleh seorang pengkotbah yang terikat dengan nafsu selama 10 tahun. Ia menceritakan kisah bagaimana akhirnya ia bisa terbebas dari hal itu. Saya akan menuliskan apa yang terdapat dalam paragraf kunci berikut ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia membaca buku karya Francois Mauriac, ''What I Believe ''(Apa yang Saya Yakini). Di dalamnya, Mauriac mengakui bagaimana rasa bersalah tidak cukup mampu untuk membebaskan dia dari nafsu. Dia menyimpulkan bahwa ada satu alasan kuat untuk hidup dalam kekudusan, yaitu hal yang Kristus katakan dalam Ucapan bahagia: “ Berbahagialah mereka yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.” &lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;Pemikiran tersebut menyadarkan saya seperti suara bel yang berdentang keras di lorong yang sunyi. Sejauh ini, tidak ada satupun hal menakutkan dan pendapat-pendapat negatif yang menentang nafsu mampu menyadarkan saya untuk berhenti... Namun inilah penjelasan yang memberitahukan pada saya mengenai hal apa yang akan terhilang dari saya apabila saya terus melayani nafsu saya: Saya membatasi keintiman pribadi saya dengan Allah. Kasih yang Ia berikan begitu besar sehingga kita butuh untuk disucikan dan dibersihkan sebelum kita bisa menampungnya. Mampukah Ia, mengantikan kehausan dan kelaparan yang tidak pernah mampu memuaskan saya? Apakah Air Hidup itu mampu memuaskan nafsu saya? Hal ini adalah pertaruhan iman. (Hal. 43-44). &amp;lt;/blockquote&amp;gt; &lt;br /&gt;
Itu bukan suatu taruhan. Kita tidak akan pernah kalah kalau kita beralih pada Allah. Ia menyadari hal ini dalam hidupnya sendiri, dan pelajaran yang ia terima sangat tepat: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara untuk melawan nafsu adalah dengan memberi makan iman kita dengan pengetahuan dan pengenalan akan Allah yang Mulia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah anda sudah mengenal Allah pada pagi ini? Apakah anda bertumbuh dari minggu ke minggu akan pengenalan akan kebesaran Allah? Apakah anda merenungkan FirmanNya siang dan malam? Dapatkan anda melihat gambaran AnakNya di dalam Injil? Apakah anda sudah membaca Alkitab untuk mengenal karakter dan jalan-jalanNya? Mampukah anda melihat segala hal di dalam hari anda sebagai ciptaanNya? Sudahkah anda meminta kepada Allah untuk memberikan hati yang peka untuk melihat kebesaran namaNya? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya mengajak anda untuk membuat komitmen sekarang, demi kepentingan jiwa anda sendiri, dan untuk kemuliaan Allah.&amp;lt;br&amp;gt;&amp;lt;br&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Susanlim</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/Battling_the_Unbelief_of_Lust/id</id>
		<title>Battling the Unbelief of Lust/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/Battling_the_Unbelief_of_Lust/id"/>
				<updated>2008-11-05T15:40:10Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Susanlim: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&amp;amp;nbsp;{{info|Berperang Melawan Nafsu}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Berperang Melawan Nafsu''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''1 Tesalonika 4: 1-8''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; '''Definisi Nafsu Menurut Alkitab''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mari memulai dengan arti nafsu menurut Alkitab. Nafsu adalah hasrat atau keinginan seksual yang disertai kecenderungan untuk tidak menghormati objek seksualnya, serta mengabaikan Allah. Mari saya tunjukkan di mana definisi itu saya dapatkan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Perbandingan Antar Terjemahan''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayat 4 dalam Alkitab versi RSV (Revised Standard Version), dialamatkan pada para lelaki di Tesalonika, dan menyatakan bahwa hendaklah setiap mereka mengetahui bagaimana caranya mengambil istri untuk dirinya sendiri dalam kekudusan dan penghormatan, bukan dalam hasrat dan nafsu yang dimiliki oleh mereka yang tidak mengenal Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi Alkitab versi NIV (New International Version) menyatakan, hendaklah setiap orang belajar mengendalikan tubuhnya sendiri, dalam cara yang kudus dan penuh penghormatan, bukan dengan nafsu, seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alkitab versi NASB (New American Standard Version) menyatakan hendaklah setiap orang mengetahui bagaimana mengendalikan bejananya sendiri dalam kekudusan dan penghormatan, bukan dengan nafsu, seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah. Menurut saya, Alkitab versi RSV lebih jelas menangkap arti dari nafsu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Kajian: 1) pararel dalam 1 Korintus 7:2; 2) arti dari ktasthai adalah secara menyeluruh “mengambil” atau “mendapatkan”, bukan “mengontrol” atau “memiliki”; “bejana” dalam hubungannya dengan “penghormatan” dalam 1 Petrus 2:7, dialamatkan pada istri; 4) heautou- “miliknya”- cenderung lebih empatik dan lebih cocok untuk tunangan atau istri daripada tubuh; 5) versi NIV dan NASB tidak masuk di akal, karena mereka menyatakan “belajar mengontrol tubuhmu... bukan dengan nafsu.” Anda bisa memilih seorang wanita dengan nafsu, tapi anda tidak bisa mengontrol tubuh anda dengan nafsu.] &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun daripada beragumen lebih lanjut mengenai hal itu, saya pikir saya dapat menunjukkan arti nafsu di sini dari seluruh terjemahan di atas. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Kebalikan Dari Kekudusan dan Penghormatan''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perhatikan bahwa ayat 4 dan 5 menyatakan bahwa kita harus melakukan suatu hal dalam satu cara khusus, dan bukan cara yang lain. Ambilah seorang istri (atau kendalikan tubuh/bejana mu) “dalam kekudusan dan penghormatan, BUKAN dengan nafsu.” Jadi nafsu adalah kebalikan dari kekudusan dan penghormatan. Dari sanalah saya mendapat definisi dari nafsu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keinginan seksual itu sendiri adalah suatu hal yang baik. Allah menciptakan itu sejak awal. Ada porsi dan tempat yang khusus dan sesuai untuk hal itu. Tapi hal itu diciptakan untuk diatur dan dikendalikan oleh 2 hal: penghormatan pada orang lain, dan kekudusan di hadapan Allah. Nafsu adalah bentuk dari keinginan seksual ketika tidak ada 2 hal tersebut di dalamnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Nafsu: Tidak Menghormati Objeknya''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ambil contoh mengenai penghormatan, misalnya. Allah menciptakan sebuah hubungan yang disebut dengan pernikahan. Di dalamnya, seorang laki-laki dan perempuan membuat perjanjian seumur hidup untuk saling menghormati satu sama lain dengan kesetiaan dan kasih. Keinginan seksual menjadi hamba dan bumbu penyedap dalam ikatan antar suami istri yang diikat oleh rasa saling menghormati. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh sebab itu, untuk mengatakan pada orang lain, aku mau kamu memuaskan keinginan seksualku, tapi aku tidak menghendaki kamu sebagai partner yang diikat dalam pernikahan, pada dasarnya berarti: Aku mau memakai tubuhmu untuk kepuasan seksualku, tapi aku tidak menghendaki kamu secara keseluruhan, sebagai seorang pribadi. Hal itu adalah perbuatan yang tidak menghormati seseorang, dan oleh karenanya, termasuk dalam kategori nafsu. Nafsu adalah keinginan seksual tanpa disertai adanya komitmen untuk menghormati orang lain. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Nafsu: Mengabaikan Allah''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi bukan hanya itu saja. Dalam Alkitab dikatakan: ambilah seorang istri (atau kendalikanlah tubuh/ bejana mu) “dalam kekudusan.. bukan dengan nafsu”. Kekudusan berkaitan dengan Allah – yaitu sesuatu yang diperuntukkan bagi Tuhan. Jadi ayat 5 berkata seperti ini: “Jangan dengan nafsu seperti mereka yang tidak mengenal Allah.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengenal Allah dan berkelakuan seperti seseorang yang mengenal Allah dapat menjaga kecenderungan keinginan seksual untuk beralih menjadi nafsu. Lihatlah pada ayat 8: “Karena itu siapa yang menolak ini bukanlah menolak manusia, melainkan menolak Allah yang telah memberikan juga Roh-Nya yang kudus kepada kamu.” Masalah mendasar dalam hal nafsu adalah sikap penghormatan kepada Allah. Kekudusan berarti hidup dalam penghormatan penuh pada Allah yang suci. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nafsu, adalah kebalikannya. Nafsu adalah keinginan seksual yang tidak diatur atau dikendalikan atau diarahkan dalam kerangka penghormatan terhadap Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah menciptakan seksualitas seseorang. Ia menciptakannya sebagai suatu hal yang baik dan indah. Ia menciptakannya demi kebaikan ciptaanNya. Hanya Dialah yang mempunyai hikmat dan hak untuk menunjukkan kepada kita bagaimana menggunakannya untuk kemuliaanNya dan untuk kebaikan kita sendiri. Nafsu adalah apa yang akan terjadi juga keinginan seksual tidak kita kendalikan dalam rangka penghormatan kepada Allah, sehingga kita menjadi cenderung mengabaikan Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesimpulannya, nafsu adalah hasrat atau keinginan seksual yang disertai kecenderungan untuk tidak menghormati objek seksualnya, serta mengabaikan Allah. Ini adalah penyimpangan dari suatu hal yang seharusnya baik, dengan cara mengabaikan komitmen yang kudus, dan penghormatan tertinggi kepada Allah. Apabila keinginan seksual anda tidak dikendalikan dalam kerangka penghargaan atau penghormatan kepada orang lain dan Allah, itu adalah nafsu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Merenungkan Bahaya dari Nafsu''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah definisi dari nafsu. Jadi, masalah selanjutnya adalah, LALU KENAPA? Mengapa itu penting? Hal itu kan bukan dosa, apalagi kalau itu cuma berupa keinginan dan bukan tindakan, alias, dosa kecil kan? Apa tidak ada topik bahasan lain yang lebih penting dibahas, seperti masalah senjata nuklir dan keadilan sosial? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya kira setidaknya anda cukup familiar mendengar perkataan di atas keluar dari mulut beberapa orang, bukan? Mereka menyatakan, sikap dan perilaku seksual adalah suatu hal kecil yang relatif tidak perlu diperhatikan, dari kehidupan seseorang. Adapun hal yang penting adalah apakah anda misalnya memboikot sebuah perusahaan di Afrika Selatan dan menentang sistem pertahanan Star Wars. Melihat-lihat majalah Playboy itu kan tidak terlalu penting atau tidak masalah kalau kita melakukannya ketika kita sedang dalam perjalanan menuju diskusi perdamaian di Genewa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inilah cara penalaran orang-orang religius ketika mereka sedang menghindari pentingnya memberikan penghormatan tertinggi kepada Allah. Tapi bukan itu yang dikatakan oleh Allah. Apa sih pentingnya kehidupan seksual seseorang di mata Allah? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayat 6 menyatakan, “dan supaya dalam hal-hal ini orang jangan memperlakukan saudaranya dengan tidak baik atau memperdayakannya. Karena Tuhan adalah pembalas dari semuanya ini, seperti yang telah kami katakan dan tegaskan dahulu kepadamu.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini berarti konsekuensi atau akibat-akibat yang ditimbulkan oleh nafsu akan lebih buruk dari akibat-akibat yang ditimbulkan oleh perang nuklir. Adapun yang bisa dibinasakan oleh suatu perang nuklir hanyalah tubuh yang fana. Dan Yesus berkata, “Janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Aku akan menunjukkan kepada kamu siapakah yang harus kamu takuti. Takutilah Dia, yang setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, takutilah Dia!” (Lukas 12:4-5). Dengan perkataan lain, pembalasan dari Tuhan itu lebih menakutkan daripada pembinasaan yang bisa terjadi di bumi ini. Dan menurut 1 Tesalonika 4:6, pembalasan dari Allah akan turun atas mereka yang tidak mempedulikan peringatan yang berkaitan dengan nafsu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Nafsu dan Konsekuensi Kekalnya''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bulan September ini saya berbicara di organisasi siswa di SMA Kristen Wheaton. Saya mengambil topik, “Sepuluh Cara untuk Memerangi Nafsu”. Metode keenam adalah, “Merenungkan akibat kekal dari nafsu.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber dari pernyataan saya pada poin itu adalah Matius 5:28-29, ketika Yesus mengatakan, “Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. “ Saya menunjuk pada perkataan Yesus bahwa masalah surga dan neraka adalah hal yang dipertaruhkan (menjadi konsekuensi) dalam segala tindakan yang dilakukan oleh penglihatan dan pikiran-pikiran yang ada di dalam imaginasi kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada akhir pertemuan, salah satu siswa datang kepada saya dan bertanya, “Maksud anda, kita bisa kehilangan keselamatan kita?” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah respon yang sama seperti yang saya dapat beberapa tahun lalu ketika saya menegur seorang laki-laki dengan keras berkaitan dengan perzinahan yang dia lakukan pada saat itu. Saya mencoba untuk memahami situasi yang dihadapi olehnya, dan saya memohon dengan amat sangat supaya dia mau kembali pada istrinya. Lalu saya berkata, “Kamu tahu kalau Yesus berkata apabila kamu tidak melawan dosa ini dengan sangat serius sehingga seakan-akan kamu rela untuk mencungkil matamu sendiri, kamu bisa berakhir di neraka dan tersiksa di sana selama-lamanya.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia melihat kepada saya dengan ketidakpercayaan, seakan-akan dia belum pernah mendengar hal ini sebelumnya, dan berkata, “Maksud anda seseorang bisa kehilangan keselamatannya?” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi sekali lagi saya belajar dan terus belajar dari pengalaman pertama yang saya dapatkan secara langsung bahwa banyak orang Kristen yang menganggap keselamatan itu tidak berkaitan dengan kehidupan nyata, dan bahwa itu berarti pengabaian terhadap peringatan-peringatan yang terdapat dalam Alkitab, sehingga cenderung menempatkan orang berdosa yang mengaku dirinya seorang Kristen jauh dari jangkauan ancaman atau peringatan-peringatan yang ada di dalam Alkitab. Dan doktrin ini cenderung menenangkan ribuan orang, yang saat ini sedang berjalan menuju neraka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yesus berkata, kalau kamu tidak melawan nafsu, kamu tidak akan masuk ke surga. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal-hal yang dipertaruhkan di sini jauh lebih tinggi apabila dibandingkan dengan jika seluruh dunia diledakkan oleh ribuan bom. Kalau anda tidak melawan nafsu, anda tidak akan masuk ke surga (1 Petrus 2:11; Kolose 3:6; Galatia 5:21; 1 Korintus 6:10; Ibrani 12:14). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Iman yang Mengalahkan Nafsu''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukankah kita semua sudah diselamatkan oleh iman- dengan percaya pada Yesus Kristus? Hal itu memang benar! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka yang berpegang teguh pada iman mereka akan diselamatkan (Matius 24:13; 10:22; 1 Korintus 15:3; Kolose 1:23; 2 Tesalonika 2:13). Bagaimana caranye untuk mempertahankan kehidupan kekal itu? Paulus memberikan jawaban dalam 1 Timotius 6:12—“Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal itu menuntun kita pada fokus kita pagi ini – untuk menunjukkan bahwa perjuangan melawan nafsu dan menuju kekudusan seksual adalah suatu pertandingan iman. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Mispersepsi Terbesar yang Harus Dimusnahkan''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mispersepsi terbesar yang hendak saya musnahkan kali ini adalah kesalahan yang menyatakan, bahwa iman kepada Allah dan perjuangan untuk mencapai kekudusan adalah dua hal yang berbeda. Iman mengantarkan anda ke surga dan kekudusan hidup akan membuat kita mendapatkan upah. Kita dibernarkan oleh iman, dan kita menyucikan diri kita lewat usaha-usaha yang kita lakukan. Anda memulai kehidupan kristiani anda dengan kuasa Roh Kudus, namun anda melakukannya dengan kekuatan daging anda. Ini adalah pesan penginjilan yang salah pada hari-hari ini. Perjuangan untuk menaati perintah Allah adalah suatu pilihan, kata mereka, karena hanya iman saja yang dibutuhkan untuk memperoleh keselamatan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sikap kita: perjuangan untuk menaati perintah Allah adalah suatu hal yang mutlak dibutuhkan dalam kerangka keselamatan, karena itu ADALAH pertandingan iman. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Injil yang Lebih Hebat''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya harap anda dapat melihat bahwa hal ini adalah suatu kabar Injil yang lebih hebat dari kabar lainnya. Ini adalah kabar Injil mengenai kemenangan Allah atas dosa, bukan sekedar toleransiNya terhadap dosa. Ini adalah Injil yang diberitakan dalam Roma 6:14: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia.” &lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;Dia mematahkan kuasa dosa Dia membebaskan para tawanan DarahNya bisa menyucikan kita DarahNya disediakan bagi kita. &amp;lt;/blockquote&amp;gt; &lt;br /&gt;
Berbahagialah mereka yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Ini adalah perintah dan anugerah dari Allah. Semua hanya karena anugerah semata. Karena itulah satu-satunya pertandingan yang kita lakukan adalah pertandingan iman – pertandingan untuk menyandarkan diri sepenuhnya pada anugerah Allah—untuk sangat dipuaskan oleh kemuliaan Allah—bahwa godaan untuk berbuat dosa kehilangan kuasa atas kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertandingan atau perjuangan melawan nafsu adalah perjuangan melawan ketidakpercayaan, ketidak-berimanan. Ayat yang penting di sini adalah ayat ke 5 dan 8. Kita hanya punya waktu untuk melihat ayat ke 5. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Pengetahuan Akan Allah''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam ayat ke 5, Paulus mengatakan, “...bukan di dalam keinginan hawa nafsu, seperti yang dibuat oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah, “ Dapatkah anda melihat hal apa yang tersirat mengenai akar dari nafsu? Ketidak tahuan mengenai Allah adalah akar dari nafsu. Ambillah seorang istri (atau: kuasailah tubuhmu) bukan dengan nafsu karena itu adalah hal yang dilakukan oleh mereka yang tidak mengenal Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Paulus tidak bermaksud bahwa pengenalan akan Allah semata-mata akan mampu memerangi nafsu. Dalam Markus 1:24, Yesus hendak mengusir setan yang ada di dalam seorang laki-laki ketika roh kenajisan berseru kepadaNya, “Aku tahu siapa Engkau: Yang kudus dari Allah!” Dengan perkataan lain, setan dan kawan-kawannya mempunyai pengetahuan yang akurat mengenai Allah dan Yesus, tapi, bukan itu maksud pengenalan (pengetahuan) akan Allah yang dimaksud oleh Paulus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengenalan (pengetahuan) akan Allah yang dimaksud oleh Paulus di sini adalah jenis pengenalan yang dituliskan dalam 2 Korintus 4:6—“ terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus.” (lihat Galatia 4:8; 1 Korintus 2:14; 2 Petrus 1:3-4). Itu adalah pengetahuan dan pengenalan akan kebesaran, keagungan, kemuliaaan, anugerah, dan kekuatan Allah. Itu adalah pengenalan akan Allah yang membuat anda takjub dan merendahkan hati anda. Itu adalah pengenalan yang memenangkan dan menjaga anda. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah jenis pengenalan akan Allah yang tidak akan bisa kita peroleh hanya dengan menyanyikan baris reff pujian selama ribuan kali. Pengenalan ini seperti halnya yang dialami oleh Lidia ketika Allah membuka mata hatinya. Pada suatu titik, anda akan merasa dilimpahi oleh semua itu, dan tiba-tiba ada keinginan untuk memperoleh lebih dari itu. Itu adalah pengenalan yang kita sebut dengan iman—kepastian akan hal-hal yang kita harapkan, dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengenalan itu sungguh nyata, sangat berharga, dan sangat dapat memuaskan jiwa anda, sehingga segala pikiran, sikap, emosi, dan ketergantungan yang dapat mengancam pemahaman (pengenalan) kita terhadap Allah, akan dilawan dengan seluruh kekuatan spiritual yang ada. Ini adalah perjuangan iman yang membara dalam jiwa seseorang yang mengasihi Allah ketika nafsu mulai menggoda pikirannya untuk mengabaikan Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Orang yang Suci Hatinya akan Melihat Allah''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya akan menutup pembicaraan ini dengan sebuah ilustrasi dari sebuah artikel dalam Leadership (1982). Artikel itu tidak menunjukkan identitas penulis dengan jelas, tapi ditulis oleh seorang pengkotbah yang terikat dengan nafsu selama 10 tahun. Ia menceritakan kisah bagaimana akhirnya ia bisa terbebas dari hal itu. Saya akan menuliskan apa yang terdapat dalam paragraf kunci berikut ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia membaca buku karya Francois Mauriac, What I Believe (Apa yang Saya Yakini). Di dalamnya, Mauriac mengakui bagaimana rasa bersalah tidak cukup mampu untuk membebaskan dia dari nafsu. Dia menyimpulkan bahwa ada satu alasan kuat untuk hidup dalam kekudusan, yaitu hal yang Kristus katakan dalam Ucapan bahagia: “ Berbahagialah mereka yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.” &lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;Pemikiran tersebut menyadarkan saya seperti suara bel yang berdentang keras di lorong yang sunyi. Sejauh ini, tidak ada satupun hal menakutkan dan pendapat-pendapat negatif yang menentang nafsu mampu menyadarkan saya untuk berhenti... Namun inilah penjelasan yang memberitahukan pada saya mengenai hal apa yang akan terhilang dari saya apabila saya terus melayani nafsu saya: Saya membatasi keintiman pribadi saya dengan Allah. Kasih yang Ia berikan begitu besar sehingga kita butuh untuk disucikan dan dibersihkan sebelum kita bisa menampungnya. Mampukah Ia, mengantikan kehausan dan kelaparan yang tidak pernah mampu memuaskan saya? Apakah Air Hidup itu mampu memuaskan nafsu saya? Hal ini adalah pertaruhan iman. (Hal. 43-44). &amp;lt;/blockquote&amp;gt; &lt;br /&gt;
Itu bukan suatu taruhan. Kita tidak akan pernah kalah kalau kita beralih pada Allah. Ia menyadari hal ini dalam hidupnya sendiri, dan pelajaran yang ia terima sangat tepat: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara untuk melawan nafsu adalah dengan memberi makan iman kita dengan pengetahuan dan pengenalan akan Allah yang Mulia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah anda sudah mengenal Allah pada pagi ini? Apakah anda bertumbuh dari minggu ke minggu akan pengenalan akan kebesaran Allah? Apakah anda merenungkan FirmanNya siang dan malam? Dapatkan anda melihat gambaran AnakNya di dalam Injil? Apakah anda sudah membaca Alkitab untuk mengenal karakter dan jalan-jalanNya? Mampukah anda melihat segala hal di dalam hari anda sebagai ciptaanNya? Sudahkah anda meminta kepada Allah untuk memberikan hati yang peka untuk melihat kebesaran namaNya? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya mengajak anda untuk membuat komitmen sekarang, demi kepentingan jiwa anda sendiri, dan untuk kemuliaan Allah.&amp;lt;br&amp;gt;&amp;lt;br&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Susanlim</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/Battling_the_Unbelief_of_Lust/id</id>
		<title>Battling the Unbelief of Lust/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/Battling_the_Unbelief_of_Lust/id"/>
				<updated>2008-11-05T10:43:51Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Susanlim: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&amp;amp;nbsp;{{info|Berperang Melawan Nafsu}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Berperang Melawan Nafsu''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''1 Tesalonika 4: 1-8''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; '''Definisi Nafsu Menurut Alkitab''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mari memulai dengan arti nafsu menurut Alkitab. Nafsu adalah hasrat atau keinginan seksual yang disertai kecenderungan untuk tidak menghormati objek seksualnya, serta mengabaikan Allah. Mari saya tunjukkan di mana definisi itu saya dapatkan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Perbandingan Antar Terjemahan''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayat 4 dalam Alkitab versi RSV (Revised Standard Version), dialamatkan pada para lelaki di Tesalonika, dan menyatakan bahwa hendaklah setiap mereka mengetahui bagaimana caranya mengambil istri untuk dirinya sendiri dalam kekudusan dan penghormatan, bukan dalam hasrat dan nafsu yang dimiliki oleh mereka yang tidak mengenal Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi Alkitab versi NIV (New International Version) menyatakan, hendaklah setiap orang belajar mengendalikan tubuhnya sendiri, dalam cara yang kudus dan penuh penghormatan, bukan dengan nafsu, seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alkitab versi NASB (New American Standard Version) menyatakan hendaklah setiap orang mengetahui bagaimana mengendalikan bejananya sendiri dalam kekudusan dan penghormatan, bukan dengan nafsu, seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah. Menurut saya, Alkitab versi RSV lebih jelas menangkap arti dari nafsu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Kajian: 1) pararel dalam 1 Korintus 7:2; 2) arti dari ktasthai adalah secara menyeluruh “mengambil” atau “mendapatkan”, bukan “mengontrol” atau “memiliki”; “bejana” dalam hubungannya dengan “penghormatan” dalam 1 Petrus 2:7, dialamatkan pada istri; 4) heautou- “miliknya”- cenderung lebih empatik dan lebih cocok untuk tunangan atau istri daripada tubuh; 5) versi NIV dan NASB tidak masuk di akal, karena mereka menyatakan “belajar mengontrol tubuhmu... bukan dengan nafsu.” Anda bisa memilih seorang wanita dengan nafsu, tapi anda tidak bisa mengontrol tubuh anda dengan nafsu.] &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun daripada beragumen lebih lanjut mengenai hal itu, saya pikir saya dapat menunjukkan arti nafsu di sini dari seluruh terjemahan di atas. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Kebalikan Dari Kekudusan dan Penghormatan''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perhatikan bahwa ayat 4 dan 5 menyatakan bahwa kita harus melakukan suatu hal dalam satu cara khusus, dan bukan cara yang lain. Ambilah seorang istri (atau kendalikan tubuh/bejana mu) “dalam kekudusan dan penghormatan, BUKAN dengan nafsu.” Jadi nafsu adalah kebalikan dari kekudusan dan penghormatan. Dari sanalah saya mendapat definisi dari nafsu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keinginan seksual itu sendiri adalah suatu hal yang baik. Allah menciptakan itu sejak awal. Ada porsi dan tempat yang khusus dan sesuai untuk hal itu. Tapi hal itu diciptakan untuk diatur dan dikendalikan oleh 2 hal: penghormatan pada orang lain, dan kekudusan di hadapan Allah. Nafsu adalah bentuk dari keinginan seksual ketika tidak ada 2 hal tersebut di dalamnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Nafsu: Tidak Menghormati Objeknya''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ambil contoh mengenai penghormatan, misalnya. Allah menciptakan sebuah hubungan yang disebut dengan pernikahan. Di dalamnya, seorang laki-laki dan perempuan membuat perjanjian seumur hidup untuk saling menghormati satu sama lain dengan kesetiaan dan kasih. Keinginan seksual menjadi hamba dan bumbu penyedap dalam ikatan antar suami istri yang diikat oleh rasa saling menghormati. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh sebab itu, untuk mengatakan pada orang lain, aku mau kamu memuaskan keinginan seksualku, tapi aku tidak menghendaki kamu sebagai partner yang diikat dalam pernikahan, pada dasarnya berarti: Aku mau memakai tubuhmu untuk kepuasan seksualku, tapi aku tidak menghendaki kamu secara keseluruhan, sebagai seorang pribadi. Hal itu adalah perbuatan yang tidak menghormati seseorang, dan oleh karenanya, termasuk dalam kategori nafsu. Nafsu adalah keinginan seksual tanpa disertai adanya komitmen untuk menghormati orang lain. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Nafsu: Mengabaikan Allah''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi bukan hanya itu saja. Dalam Alkitab dikatakan: ambilah seorang istri (atau kendalikanlah tubuh/ bejana mu) “dalam kekudusan.. bukan dengan nafsu”. Kekudusan berkaitan dengan Allah – yaitu sesuatu yang diperuntukkan bagi Tuhan. Jadi ayat 5 berkata seperti ini: “Jangan dengan nafsu seperti mereka yang tidak mengenal Allah.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengenal Allah dan berkelakuan seperti seseorang yang mengenal Allah dapat menjaga kecenderungan keinginan seksual untuk beralih menjadi nafsu. Lihatlah pada ayat 8: “Karena itu siapa yang menolak ini bukanlah menolak manusia, melainkan menolak Allah yang telah memberikan juga Roh-Nya yang kudus kepada kamu.” Masalah mendasar dalam hal nafsu adalah sikap penghormatan kepada Allah. Kekudusan berarti hidup dalam penghormatan penuh pada Allah yang suci. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nafsu, adalah kebalikannya. Nafsu adalah keinginan seksual yang tidak diatur atau dikendalikan atau diarahkan dalam kerangka penghormatan terhadap Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah menciptakan seksualitas seseorang. Ia menciptakannya sebagai suatu hal yang baik dan indah. Ia menciptakannya demi kebaikan ciptaanNya. Hanya Dialah yang mempunyai hikmat dan hak untuk menunjukkan kepada kita bagaimana menggunakannya untuk kemuliaanNya dan untuk kebaikan kita sendiri. Nafsu adalah apa yang akan terjadi juga keinginan seksual tidak kita kendalikan dalam rangka penghormatan kepada Allah, sehingga kita menjadi cenderung mengabaikan Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesimpulannya, nafsu adalah hasrat atau keinginan seksual yang disertai kecenderungan untuk tidak menghormati objek seksualnya, serta mengabaikan Allah. Ini adalah penyimpangan dari suatu hal yang seharusnya baik, dengan cara mengabaikan komitmen yang kudus, dan penghormatan tertinggi kepada Allah. Apabila keinginan seksual anda tidak dikendalikan dalam kerangka penghargaan atau penghormatan kepada orang lain dan Allah, itu adalah nafsu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Merenungkan Bahaya dari Nafsu''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah definisi dari nafsu. Jadi, masalah selanjutnya adalah, LALU KENAPA? Mengapa itu penting? Hal itu kan bukan dosa, apalagi kalau itu cuma berupa keinginan dan bukan tindakan, alias, dosa kecil kan? Apa tidak ada topik bahasan lain yang lebih penting dibahas, seperti masalah senjata nuklir dan keadilan sosial? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya kira setidaknya anda cukup familiar mendengar perkataan di atas keluar dari mulut beberapa orang, bukan? Mereka menyatakan, sikap dan perilaku seksual adalah suatu hal kecil yang relatif tidak perlu diperhatikan, dari kehidupan seseorang. Adapun hal yang penting adalah apakah anda misalnya memboikot sebuah perusahaan di Afrika Selatan dan menentang sistem pertahanan Star Wars. Melihat-lihat majalah Playboy itu kan tidak terlalu penting atau tidak masalah kalau kita melakukannya ketika kita sedang dalam perjalanan menuju diskusi perdamaian di Genewa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inilah cara penalaran orang-orang religius ketika mereka sedang menghindari pentingnya memberikan penghormatan tertinggi kepada Allah. Tapi bukan itu yang dikatakan oleh Allah. Apa sih pentingnya kehidupan seksual seseorang di mata Allah? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayat 6 menyatakan, “dan supaya dalam hal-hal ini orang jangan memperlakukan saudaranya dengan tidak baik atau memperdayakannya. Karena Tuhan adalah pembalas dari semuanya ini, seperti yang telah kami katakan dan tegaskan dahulu kepadamu.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini berarti konsekuensi atau akibat-akibat yang ditimbulkan oleh nafsu akan lebih buruk dari akibat-akibat yang ditimbulkan oleh perang nuklir. Adapun yang bisa dibinasakan oleh suatu perang nuklir hanyalah tubuh yang fana. Dan Yesus berkata, “Janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Aku akan menunjukkan kepada kamu siapakah yang harus kamu takuti. Takutilah Dia, yang setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, takutilah Dia!” (Lukas 12:4-5). Dengan perkataan lain, pembalasan dari Tuhan itu lebih menakutkan daripada pembinasaan yang bisa terjadi di bumi ini. Dan menurut 1 Tesalonika 4:6, pembalasan dari Allah akan turun atas mereka yang tidak mempedulikan peringatan yang berkaitan dengan nafsu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Nafsu dan Konsekuensi Kekalnya''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bulan September ini saya berbicara di organisasi siswa di SMA Kristen Wheaton. Saya mengambil topik, “Sepuluh Cara untuk Memerangi Nafsu”. Metode keenam adalah, “Merenungkan akibat kekal dari nafsu.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber dari pernyataan saya pada poin itu adalah Matius 5:28-29, ketika Yesus mengatakan, “Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. “ Saya menunjuk pada perkataan Yesus bahwa masalah surga dan neraka adalah hal yang dipertaruhkan (menjadi konsekuensi) dalam segala tindakan yang dilakukan oleh penglihatan dan pikiran-pikiran yang ada di dalam imaginasi kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada akhir pertemuan, salah satu siswa datang kepada saya dan bertanya, “Maksud anda, kita bisa kehilangan keselamatan kita?” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah respon yang sama seperti yang saya dapat beberapa tahun lalu ketika saya menegur seorang laki-laki dengan keras berkaitan dengan perzinahan yang dia lakukan pada saat itu. Saya mencoba untuk memahami situasi yang dihadapi olehnya, dan saya memohon dengan amat sangat supaya dia mau kembali pada istrinya. Lalu saya berkata, “Kamu tahu kalau Yesus berkata apabila kamu tidak melawan dosa ini dengan sangat serius sehingga seakan-akan kamu rela untuk mencungkil matamu sendiri, kamu bisa berakhir di neraka dan tersiksa di sana selama-lamanya.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia melihat kepada saya dengan ketidakpercayaan, seakan-akan dia belum pernah mendengar hal ini sebelumnya, dan berkata, “Maksud anda seseorang bisa kehilangan keselamatannya?” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi sekali lagi saya belajar dan terus belajar dari pengalaman pertama yang saya dapatkan secara langsung bahwa banyak orang Kristen yang menganggap keselamatan itu tidak berkaitan dengan kehidupan nyata, dan bahwa itu berarti pengabaian terhadap peringatan-peringatan yang terdapat dalam Alkitab, sehingga cenderung menempatkan orang berdosa yang mengaku dirinya seorang Kristen jauh dari jangkauan ancaman atau peringatan-peringatan yang ada di dalam Alkitab. Dan doktrin ini cenderung menenangkan ribuan orang, yang saat ini sedang berjalan menuju neraka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yesus berkata, kalau kamu tidak melawan nafsu, kamu tidak akan masuk ke surga. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal-hal yang dipertaruhkan di sini jauh lebih tinggi apabila dibandingkan dengan jika seluruh dunia diledakkan oleh ribuan bom. Kalau anda tidak melawan nafsu, anda tidak akan masuk ke surga (1 Petrus 2:11; Kolose 3:6; Galatia 5:21; 1 Korintus 6:10; Ibrani 12:14). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Iman yang Mengalahkan Nafsu''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukankah kita semua sudah diselamatkan oleh iman- dengan percaya pada Yesus Kristus? Hal itu memang benar! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka yang berpegang teguh pada iman mereka akan diselamatkan (Matius 24:13; 10:22; 1 Korintus 15:3; Kolose 1:23; 2 Tesalonika 2:13). Bagaimana caranye untuk mempertahankan kehidupan kekal itu? Paulus memberikan jawaban dalam 1 Timotius 6:12—“Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal itu menuntun kita pada fokus kita pagi ini – untuk menunjukkan bahwa perjuangan melawan nafsu dan menuju kekudusan seksual adalah suatu pertandingan iman. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Mispersepsi Terbesar yang Harus Dimusnahkan''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mispersepsi terbesar yang hendak saya musnahkan kali ini adalah kesalahan yang menyatakan, bahwa iman kepada Allah dan perjuangan untuk mencapai kekudusan adalah dua hal yang berbeda. Iman mengantarkan anda ke surga dan kekudusan hidup akan membuat kita mendapatkan upah. Kita dibernarkan oleh iman, dan kita menyucikan diri kita lewat usaha-usaha yang kita lakukan. Anda memulai kehidupan kristiani anda dengan kuasa Roh Kudus, namun anda melakukannya dengan kekuatan daging anda. Ini adalah pesan penginjilan yang salah pada hari-hari ini. Perjuangan untuk menaati perintah Allah adalah suatu pilihan, kata mereka, karena hanya iman saja yang dibutuhkan untuk memperoleh keselamatan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sikap kita: perjuangan untuk menaati perintah Allah adalah suatu hal yang mutlak dibutuhkan dalam kerangka keselamatan, karena itu ADALAH pertandingan iman. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Injil yang Lebih Hebat''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya harap anda dapat melihat bahwa hal ini adalah suatu kabar Injil yang lebih hebat dari kabar lainnya. Ini adalah kabar Injil mengenai kemenangan Allah atas dosa, bukan sekedar toleransiNya terhadap dosa. Ini adalah Injil yang diberitakan dalam Roma 6:14: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia.” &lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;Dia mematahkan kuasa dosa Dia membebaskan para tawanan DarahNya bisa menyucikan kita DarahNya disediakan bagi kita. &amp;lt;/blockquote&amp;gt; &lt;br /&gt;
Berbahagialah mereka yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Ini adalah perintah dan anugerah dari Allah. Semua hanya karena anugerah semata. Karena itulah satu-satunya pertandingan yang kita lakukan adalah pertandingan iman – pertandingan untuk menyandarkan diri sepenuhnya pada anugerah Allah—untuk sangat dipuaskan oleh kemuliaan Allah—bahwa godaan untuk berbuat dosa kehilangan kuasa atas kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertandingan atau perjuangan melawan nafsu adalah perjuangan melawan ketidakpercayaan, ketidak-berimanan. Ayat yang penting di sini adalah ayat ke 5 dan 8. Kita hanya punya waktu untuk melihat ayat ke 5. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Pengetahuan Akan Allah''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam ayat ke 5, Paulus mengatakan, “...bukan di dalam keinginan hawa nafsu, seperti yang dibuat oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah, “ Dapatkah anda melihat hal apa yang tersirat mengenai akar dari nafsu? Ketidak tahuan mengenai Allah adalah akar dari nafsu. Ambillah seorang istri (atau: kuasailah tubuhmu) bukan dengan nafsu karena itu adalah hal yang dilakukan oleh mereka yang tidak mengenal Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Paulus tidak bermaksud bahwa pengenalan akan Allah semata-mata akan mampu memerangi nafsu. Dalam Markus 1:24, Yesus hendak mengusir setan yang ada di dalam seorang laki-laki ketika roh kenajisan berseru kepadaNya, “Aku tahu siapa Engkau: Yang kudus dari Allah!” Dengan perkataan lain, setan dan kawan-kawannya mempunyai pengetahuan yang akurat mengenai Allah dan Yesus, tapi, bukan itu maksud pengenalan (pengetahuan) akan Allah yang dimaksud oleh Paulus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengenalan (pengetahuan) akan Allah yang dimaksud oleh Paulus di sini adalah jenis pengenalan yang dituliskan dalam 2 Korintus 4:6—“ terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus.” (lihat Galatia 4:8; 1 Korintus 2:14; 2 Petrus 1:3-4). Itu adalah pengetahuan dan pengenalan akan kebesaran, keagungan, kemuliaaan, anugerah, dan kekuatan Allah. Itu adalah pengenalan akan Allah yang membuat anda takjub dan merendahkan hati anda. Itu adalah pengenalan yang memenangkan dan menjaga anda. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah jenis pengenalan akan Allah yang tidak akan bisa kita peroleh hanya dengan menyanyikan baris reff pujian selama ribuan kali. Pengenalan ini seperti halnya yang dialami oleh Lidia ketika Allah membuka mata hatinya. Pada suatu titik, anda akan merasa dilimpahi oleh semua itu, dan tiba-tiba ada keinginan untuk memperoleh lebih dari itu. Itu adalah pengenalan yang kita sebut dengan iman—kepastian akan hal-hal yang kita harapkan, dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengenalan itu sungguh nyata, sangat berharga, dan sangat dapat memuaskan jiwa anda, sehingga segala pikiran, sikap, emosi, dan ketergantungan yang dapat mengancam pemahaman (pengenalan) kita terhadap Allah, akan dilawan dengan seluruh kekuatan spiritual yang ada. Ini adalah perjuangan iman yang membara dalam jiwa seseorang yang mengasihi Allah ketika nafsu mulai menggoda pikirannya untuk mengabaikan Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Orang yang Suci Hatinya akan Melihat Allah''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya akan menutup pembicaraan ini dengan sebuah ilustrasi dari sebuah artikel dalam Leadership (1982). Artikel itu tidak menunjukkan identitas penulis dengan jelas, tapi ditulis oleh seorang pengkotbah yang terikat dengan nafsu selama 10 tahun. Ia menceritakan kisah bagaimana akhirnya ia bisa terbebas dari hal itu. Saya akan menuliskan apa yang terdapat dalam paragraf kunci berikut ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia membaca buku karya Francois Mauriac, What I Believe (Apa yang Saya Yakini). Di dalamnya, Mauriac mengakui bagaimana rasa bersalah tidak cukup mampu untuk membebaskan dia dari nafsu. Dia menyimpulkan bahwa ada satu alasan kuat untuk hidup dalam kekudusan, yaitu hal yang Kristus katakan dalam Ucapan bahagia: “ Berbahagialah mereka yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.” &lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;Pemikiran tersebut menyadarkan saya seperti suara bel yang berdentang keras di lorong yang sunyi. Sejauh ini, tidak ada satupun hal menakutkan dan pendapat-pendapat negatif yang menentang nafsu mampu menyadarkan saya untuk berhenti... Namun inilah penjelasan yang memberitahukan pada saya mengenai hal apa yang akan terhilang dari saya apabila saya terus melayani nafsu saya: Saya membatasi keintiman pribadi saya dengan Allah. Kasih yang Ia berikan begitu besar sehingga kita butuh untuk disucikan dan dibersihkan sebelum kita bisa menampungnya. Mampukah Ia, mengantikan kehausan dan kelaparan yang tidak pernah mampu memuaskan saya? Apakah Air Hidup itu mampu memuaskan nafsu saya? Hal ini adalah pertaruhan iman. (Hal. 43-44). &amp;lt;/blockquote&amp;gt; &lt;br /&gt;
Itu bukan suatu taruhan. Kita tidak akan pernah kalah kalau kita beralih pada Allah. Ia menyadari hal ini dalam hidupnya sendiri, dan pelajaran yang ia terima sangat tepat: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara untuk melawan nafsu adalah dengan memberi makan iman kita dengan pengetahuan dan pengenalan akan Allah yang Mulia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah anda sudah mengenal Allah pada pagi ini? Apakah anda bertumbuh dari minggu ke minggu akan pengenalan akan kebesaran Allah? Apakah anda merenungkan FirmanNya siang dan malam? Dapatkan anda melihat gambaran AnakNya di dalam Injil? Apakah anda sudah membaca Alkitab untuk mengenal karakter dan jalan-jalanNya? Mampukah anda melihat segala hal di dalam hari anda sebagai ciptaanNya? Sudahkah anda meminta kepada Allah untuk memberikan hati yang peka untuk melihat kebesaran namaNya? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya mengajak anda untuk membuat komitmen sekarang, demi kepentingan jiwa anda sendiri, dan untuk kemuliaan Allah.&amp;lt;br&amp;gt;&amp;lt;br&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Susanlim</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://en.gospeltranslations.org/wiki/Battling_the_Unbelief_of_Lust/id</id>
		<title>Battling the Unbelief of Lust/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://en.gospeltranslations.org/wiki/Battling_the_Unbelief_of_Lust/id"/>
				<updated>2008-11-05T10:42:13Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Susanlim: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{InProcess|user=|date=}} {{info|Berperang Melawan Nafsu}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Berperang Melawan Nafsu''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''1 Tesalonika 4: 1-8''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; '''Definisi Nafsu Menurut Alkitab''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mari memulai dengan arti nafsu menurut Alkitab. Nafsu adalah hasrat atau keinginan seksual yang disertai kecenderungan untuk tidak menghormati objek seksualnya, serta mengabaikan Allah. Mari saya tunjukkan di mana definisi itu saya dapatkan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Perbandingan Antar Terjemahan''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayat 4 dalam Alkitab versi RSV (Revised Standard Version), dialamatkan pada para lelaki di Tesalonika, dan menyatakan bahwa hendaklah setiap mereka mengetahui bagaimana caranya mengambil istri untuk dirinya sendiri dalam kekudusan dan penghormatan, bukan dalam hasrat dan nafsu yang dimiliki oleh mereka yang tidak mengenal Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi Alkitab versi NIV (New International Version) menyatakan, hendaklah setiap orang belajar mengendalikan tubuhnya sendiri, dalam cara yang kudus dan penuh penghormatan, bukan dengan nafsu, seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alkitab versi NASB (New American Standard Version) menyatakan hendaklah setiap orang mengetahui bagaimana mengendalikan bejananya sendiri dalam kekudusan dan penghormatan, bukan dengan nafsu, seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah. Menurut saya, Alkitab versi RSV lebih jelas menangkap arti dari nafsu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Kajian: 1) pararel dalam 1 Korintus 7:2; 2) arti dari ktasthai adalah secara menyeluruh “mengambil” atau “mendapatkan”, bukan “mengontrol” atau “memiliki”; “bejana” dalam hubungannya dengan “penghormatan” dalam 1 Petrus 2:7, dialamatkan pada istri; 4) heautou- “miliknya”- cenderung lebih empatik dan lebih cocok untuk tunangan atau istri daripada tubuh; 5) versi NIV dan NASB tidak masuk di akal, karena mereka menyatakan “belajar mengontrol tubuhmu... bukan dengan nafsu.” Anda bisa memilih seorang wanita dengan nafsu, tapi anda tidak bisa mengontrol tubuh anda dengan nafsu.] &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun daripada beragumen lebih lanjut mengenai hal itu, saya pikir saya dapat menunjukkan arti nafsu di sini dari seluruh terjemahan di atas. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Kebalikan Dari Kekudusan dan Penghormatan''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perhatikan bahwa ayat 4 dan 5 menyatakan bahwa kita harus melakukan suatu hal dalam satu cara khusus, dan bukan cara yang lain. Ambilah seorang istri (atau kendalikan tubuh/bejana mu) “dalam kekudusan dan penghormatan, BUKAN dengan nafsu.” Jadi nafsu adalah kebalikan dari kekudusan dan penghormatan. Dari sanalah saya mendapat definisi dari nafsu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keinginan seksual itu sendiri adalah suatu hal yang baik. Allah menciptakan itu sejak awal. Ada porsi dan tempat yang khusus dan sesuai untuk hal itu. Tapi hal itu diciptakan untuk diatur dan dikendalikan oleh 2 hal: penghormatan pada orang lain, dan kekudusan di hadapan Allah. Nafsu adalah bentuk dari keinginan seksual ketika tidak ada 2 hal tersebut di dalamnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Nafsu: Tidak Menghormati Objeknya''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ambil contoh mengenai penghormatan, misalnya. Allah menciptakan sebuah hubungan yang disebut dengan pernikahan. Di dalamnya, seorang laki-laki dan perempuan membuat perjanjian seumur hidup untuk saling menghormati satu sama lain dengan kesetiaan dan kasih. Keinginan seksual menjadi hamba dan bumbu penyedap dalam ikatan antar suami istri yang diikat oleh rasa saling menghormati. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh sebab itu, untuk mengatakan pada orang lain, aku mau kamu memuaskan keinginan seksualku, tapi aku tidak menghendaki kamu sebagai partner yang diikat dalam pernikahan, pada dasarnya berarti: Aku mau memakai tubuhmu untuk kepuasan seksualku, tapi aku tidak menghendaki kamu secara keseluruhan, sebagai seorang pribadi. Hal itu adalah perbuatan yang tidak menghormati seseorang, dan oleh karenanya, termasuk dalam kategori nafsu. Nafsu adalah keinginan seksual tanpa disertai adanya komitmen untuk menghormati orang lain. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Nafsu: Mengabaikan Allah''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi bukan hanya itu saja. Dalam Alkitab dikatakan: ambilah seorang istri (atau kendalikanlah tubuh/ bejana mu) “dalam kekudusan.. bukan dengan nafsu”. Kekudusan berkaitan dengan Allah – yaitu sesuatu yang diperuntukkan bagi Tuhan. Jadi ayat 5 berkata seperti ini: “Jangan dengan nafsu seperti mereka yang tidak mengenal Allah.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengenal Allah dan berkelakuan seperti seseorang yang mengenal Allah dapat menjaga kecenderungan keinginan seksual untuk beralih menjadi nafsu. Lihatlah pada ayat 8: “Karena itu siapa yang menolak ini bukanlah menolak manusia, melainkan menolak Allah yang telah memberikan juga Roh-Nya yang kudus kepada kamu.” Masalah mendasar dalam hal nafsu adalah sikap penghormatan kepada Allah. Kekudusan berarti hidup dalam penghormatan penuh pada Allah yang suci. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nafsu, adalah kebalikannya. Nafsu adalah keinginan seksual yang tidak diatur atau dikendalikan atau diarahkan dalam kerangka penghormatan terhadap Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah menciptakan seksualitas seseorang. Ia menciptakannya sebagai suatu hal yang baik dan indah. Ia menciptakannya demi kebaikan ciptaanNya. Hanya Dialah yang mempunyai hikmat dan hak untuk menunjukkan kepada kita bagaimana menggunakannya untuk kemuliaanNya dan untuk kebaikan kita sendiri. Nafsu adalah apa yang akan terjadi juga keinginan seksual tidak kita kendalikan dalam rangka penghormatan kepada Allah, sehingga kita menjadi cenderung mengabaikan Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesimpulannya, nafsu adalah hasrat atau keinginan seksual yang disertai kecenderungan untuk tidak menghormati objek seksualnya, serta mengabaikan Allah. Ini adalah penyimpangan dari suatu hal yang seharusnya baik, dengan cara mengabaikan komitmen yang kudus, dan penghormatan tertinggi kepada Allah. Apabila keinginan seksual anda tidak dikendalikan dalam kerangka penghargaan atau penghormatan kepada orang lain dan Allah, itu adalah nafsu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Merenungkan Bahaya dari Nafsu''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah definisi dari nafsu. Jadi, masalah selanjutnya adalah, LALU KENAPA? Mengapa itu penting? Hal itu kan bukan dosa, apalagi kalau itu cuma berupa keinginan dan bukan tindakan, alias, dosa kecil kan? Apa tidak ada topik bahasan lain yang lebih penting dibahas, seperti masalah senjata nuklir dan keadilan sosial? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya kira setidaknya anda cukup familiar mendengar perkataan di atas keluar dari mulut beberapa orang, bukan? Mereka menyatakan, sikap dan perilaku seksual adalah suatu hal kecil yang relatif tidak perlu diperhatikan, dari kehidupan seseorang. Adapun hal yang penting adalah apakah anda misalnya memboikot sebuah perusahaan di Afrika Selatan dan menentang sistem pertahanan Star Wars. Melihat-lihat majalah Playboy itu kan tidak terlalu penting atau tidak masalah kalau kita melakukannya ketika kita sedang dalam perjalanan menuju diskusi perdamaian di Genewa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inilah cara penalaran orang-orang religius ketika mereka sedang menghindari pentingnya memberikan penghormatan tertinggi kepada Allah. Tapi bukan itu yang dikatakan oleh Allah. Apa sih pentingnya kehidupan seksual seseorang di mata Allah? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayat 6 menyatakan, “dan supaya dalam hal-hal ini orang jangan memperlakukan saudaranya dengan tidak baik atau memperdayakannya. Karena Tuhan adalah pembalas dari semuanya ini, seperti yang telah kami katakan dan tegaskan dahulu kepadamu.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini berarti konsekuensi atau akibat-akibat yang ditimbulkan oleh nafsu akan lebih buruk dari akibat-akibat yang ditimbulkan oleh perang nuklir. Adapun yang bisa dibinasakan oleh suatu perang nuklir hanyalah tubuh yang fana. Dan Yesus berkata, “Janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Aku akan menunjukkan kepada kamu siapakah yang harus kamu takuti. Takutilah Dia, yang setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, takutilah Dia!” (Lukas 12:4-5). Dengan perkataan lain, pembalasan dari Tuhan itu lebih menakutkan daripada pembinasaan yang bisa terjadi di bumi ini. Dan menurut 1 Tesalonika 4:6, pembalasan dari Allah akan turun atas mereka yang tidak mempedulikan peringatan yang berkaitan dengan nafsu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Nafsu dan Konsekuensi Kekalnya''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bulan September ini saya berbicara di organisasi siswa di SMA Kristen Wheaton. Saya mengambil topik, “Sepuluh Cara untuk Memerangi Nafsu”. Metode keenam adalah, “Merenungkan akibat kekal dari nafsu.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber dari pernyataan saya pada poin itu adalah Matius 5:28-29, ketika Yesus mengatakan, “Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. “ Saya menunjuk pada perkataan Yesus bahwa masalah surga dan neraka adalah hal yang dipertaruhkan (menjadi konsekuensi) dalam segala tindakan yang dilakukan oleh penglihatan dan pikiran-pikiran yang ada di dalam imaginasi kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada akhir pertemuan, salah satu siswa datang kepada saya dan bertanya, “Maksud anda, kita bisa kehilangan keselamatan kita?” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah respon yang sama seperti yang saya dapat beberapa tahun lalu ketika saya menegur seorang laki-laki dengan keras berkaitan dengan perzinahan yang dia lakukan pada saat itu. Saya mencoba untuk memahami situasi yang dihadapi olehnya, dan saya memohon dengan amat sangat supaya dia mau kembali pada istrinya. Lalu saya berkata, “Kamu tahu kalau Yesus berkata apabila kamu tidak melawan dosa ini dengan sangat serius sehingga seakan-akan kamu rela untuk mencungkil matamu sendiri, kamu bisa berakhir di neraka dan tersiksa di sana selama-lamanya.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia melihat kepada saya dengan ketidakpercayaan, seakan-akan dia belum pernah mendengar hal ini sebelumnya, dan berkata, “Maksud anda seseorang bisa kehilangan keselamatannya?” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi sekali lagi saya belajar dan terus belajar dari pengalaman pertama yang saya dapatkan secara langsung bahwa banyak orang Kristen yang menganggap keselamatan itu tidak berkaitan dengan kehidupan nyata, dan bahwa itu berarti pengabaian terhadap peringatan-peringatan yang terdapat dalam Alkitab, sehingga cenderung menempatkan orang berdosa yang mengaku dirinya seorang Kristen jauh dari jangkauan ancaman atau peringatan-peringatan yang ada di dalam Alkitab. Dan doktrin ini cenderung menenangkan ribuan orang, yang saat ini sedang berjalan menuju neraka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yesus berkata, kalau kamu tidak melawan nafsu, kamu tidak akan masuk ke surga. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal-hal yang dipertaruhkan di sini jauh lebih tinggi apabila dibandingkan dengan jika seluruh dunia diledakkan oleh ribuan bom. Kalau anda tidak melawan nafsu, anda tidak akan masuk ke surga (1 Petrus 2:11; Kolose 3:6; Galatia 5:21; 1 Korintus 6:10; Ibrani 12:14). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Iman yang Mengalahkan Nafsu''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukankah kita semua sudah diselamatkan oleh iman- dengan percaya pada Yesus Kristus? Hal itu memang benar! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka yang berpegang teguh pada iman mereka akan diselamatkan (Matius 24:13; 10:22; 1 Korintus 15:3; Kolose 1:23; 2 Tesalonika 2:13). Bagaimana caranye untuk mempertahankan kehidupan kekal itu? Paulus memberikan jawaban dalam 1 Timotius 6:12—“Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal itu menuntun kita pada fokus kita pagi ini – untuk menunjukkan bahwa perjuangan melawan nafsu dan menuju kekudusan seksual adalah suatu pertandingan iman. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Mispersepsi Terbesar yang Harus Dimusnahkan''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mispersepsi terbesar yang hendak saya musnahkan kali ini adalah kesalahan yang menyatakan, bahwa iman kepada Allah dan perjuangan untuk mencapai kekudusan adalah dua hal yang berbeda. Iman mengantarkan anda ke surga dan kekudusan hidup akan membuat kita mendapatkan upah. Kita dibernarkan oleh iman, dan kita menyucikan diri kita lewat usaha-usaha yang kita lakukan. Anda memulai kehidupan kristiani anda dengan kuasa Roh Kudus, namun anda melakukannya dengan kekuatan daging anda. Ini adalah pesan penginjilan yang salah pada hari-hari ini. Perjuangan untuk menaati perintah Allah adalah suatu pilihan, kata mereka, karena hanya iman saja yang dibutuhkan untuk memperoleh keselamatan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sikap kita: perjuangan untuk menaati perintah Allah adalah suatu hal yang mutlak dibutuhkan dalam kerangka keselamatan, karena itu ADALAH pertandingan iman. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Injil yang Lebih Hebat''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya harap anda dapat melihat bahwa hal ini adalah suatu kabar Injil yang lebih hebat dari kabar lainnya. Ini adalah kabar Injil mengenai kemenangan Allah atas dosa, bukan sekedar toleransiNya terhadap dosa. Ini adalah Injil yang diberitakan dalam Roma 6:14: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia.” &lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;Dia mematahkan kuasa dosa Dia membebaskan para tawanan DarahNya bisa menyucikan kita DarahNya disediakan bagi kita. &amp;lt;/blockquote&amp;gt; &lt;br /&gt;
Berbahagialah mereka yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Ini adalah perintah dan anugerah dari Allah. Semua hanya karena anugerah semata. Karena itulah satu-satunya pertandingan yang kita lakukan adalah pertandingan iman – pertandingan untuk menyandarkan diri sepenuhnya pada anugerah Allah—untuk sangat dipuaskan oleh kemuliaan Allah—bahwa godaan untuk berbuat dosa kehilangan kuasa atas kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertandingan atau perjuangan melawan nafsu adalah perjuangan melawan ketidakpercayaan, ketidak-berimanan. Ayat yang penting di sini adalah ayat ke 5 dan 8. Kita hanya punya waktu untuk melihat ayat ke 5. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Pengetahuan Akan Allah''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam ayat ke 5, Paulus mengatakan, “...bukan di dalam keinginan hawa nafsu, seperti yang dibuat oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah, “ Dapatkah anda melihat hal apa yang tersirat mengenai akar dari nafsu? Ketidak tahuan mengenai Allah adalah akar dari nafsu. Ambillah seorang istri (atau: kuasailah tubuhmu) bukan dengan nafsu karena itu adalah hal yang dilakukan oleh mereka yang tidak mengenal Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Paulus tidak bermaksud bahwa pengenalan akan Allah semata-mata akan mampu memerangi nafsu. Dalam Markus 1:24, Yesus hendak mengusir setan yang ada di dalam seorang laki-laki ketika roh kenajisan berseru kepadaNya, “Aku tahu siapa Engkau: Yang kudus dari Allah!” Dengan perkataan lain, setan dan kawan-kawannya mempunyai pengetahuan yang akurat mengenai Allah dan Yesus, tapi, bukan itu maksud pengenalan (pengetahuan) akan Allah yang dimaksud oleh Paulus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengenalan (pengetahuan) akan Allah yang dimaksud oleh Paulus di sini adalah jenis pengenalan yang dituliskan dalam 2 Korintus 4:6—“ terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus.” (lihat Galatia 4:8; 1 Korintus 2:14; 2 Petrus 1:3-4). Itu adalah pengetahuan dan pengenalan akan kebesaran, keagungan, kemuliaaan, anugerah, dan kekuatan Allah. Itu adalah pengenalan akan Allah yang membuat anda takjub dan merendahkan hati anda. Itu adalah pengenalan yang memenangkan dan menjaga anda. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah jenis pengenalan akan Allah yang tidak akan bisa kita peroleh hanya dengan menyanyikan baris reff pujian selama ribuan kali. Pengenalan ini seperti halnya yang dialami oleh Lidia ketika Allah membuka mata hatinya. Pada suatu titik, anda akan merasa dilimpahi oleh semua itu, dan tiba-tiba ada keinginan untuk memperoleh lebih dari itu. Itu adalah pengenalan yang kita sebut dengan iman—kepastian akan hal-hal yang kita harapkan, dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengenalan itu sungguh nyata, sangat berharga, dan sangat dapat memuaskan jiwa anda, sehingga segala pikiran, sikap, emosi, dan ketergantungan yang dapat mengancam pemahaman (pengenalan) kita terhadap Allah, akan dilawan dengan seluruh kekuatan spiritual yang ada. Ini adalah perjuangan iman yang membara dalam jiwa seseorang yang mengasihi Allah ketika nafsu mulai menggoda pikirannya untuk mengabaikan Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Orang yang Suci Hatinya akan Melihat Allah''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya akan menutup pembicaraan ini dengan sebuah ilustrasi dari sebuah artikel dalam Leadership (1982). Artikel itu tidak menunjukkan identitas penulis dengan jelas, tapi ditulis oleh seorang pengkotbah yang terikat dengan nafsu selama 10 tahun. Ia menceritakan kisah bagaimana akhirnya ia bisa terbebas dari hal itu. Saya akan menuliskan apa yang terdapat dalam paragraf kunci berikut ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia membaca buku karya Francois Mauriac, What I Believe (Apa yang Saya Yakini). Di dalamnya, Mauriac mengakui bagaimana rasa bersalah tidak cukup mampu untuk membebaskan dia dari nafsu. Dia menyimpulkan bahwa ada satu alasan kuat untuk hidup dalam kekudusan, yaitu hal yang Kristus katakan dalam Ucapan bahagia: “ Berbahagialah mereka yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.” &lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;Pemikiran tersebut menyadarkan saya seperti suara bel yang berdentang keras di lorong yang sunyi. Sejauh ini, tidak ada satupun hal menakutkan dan pendapat-pendapat negatif yang menentang nafsu mampu menyadarkan saya untuk berhenti... Namun inilah penjelasan yang memberitahukan pada saya mengenai hal apa yang akan terhilang dari saya apabila saya terus melayani nafsu saya: Saya membatasi keintiman pribadi saya dengan Allah. Kasih yang Ia berikan begitu besar sehingga kita butuh untuk disucikan dan dibersihkan sebelum kita bisa menampungnya. Mampukah Ia, mengantikan kehausan dan kelaparan yang tidak pernah mampu memuaskan saya? Apakah Air Hidup itu mampu memuaskan nafsu saya? Hal ini adalah pertaruhan iman. (Hal. 43-44). &amp;lt;/blockquote&amp;gt; &lt;br /&gt;
Itu bukan suatu taruhan. Kita tidak akan pernah kalah kalau kita beralih pada Allah. Ia menyadari hal ini dalam hidupnya sendiri, dan pelajaran yang ia terima sangat tepat: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara untuk melawan nafsu adalah dengan memberi makan iman kita dengan pengetahuan dan pengenalan akan Allah yang Mulia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah anda sudah mengenal Allah pada pagi ini? Apakah anda bertumbuh dari minggu ke minggu akan pengenalan akan kebesaran Allah? Apakah anda merenungkan FirmanNya siang dan malam? Dapatkan anda melihat gambaran AnakNya di dalam Injil? Apakah anda sudah membaca Alkitab untuk mengenal karakter dan jalan-jalanNya? Mampukah anda melihat segala hal di dalam hari anda sebagai ciptaanNya? Sudahkah anda meminta kepada Allah untuk memberikan hati yang peka untuk melihat kebesaran namaNya? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya mengajak anda untuk membuat komitmen sekarang, demi kepentingan jiwa anda sendiri, dan untuk kemuliaan Allah.&amp;lt;br&amp;gt;&amp;lt;br&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Susanlim</name></author>	</entry>

	</feed>